Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diabetes mellitus merupakan penyakit menahun yang ditandai dengan kadarglukosa
darah yang melebihi nilai normal. Apabila dibiarkan tidak terkendali,diabetus
mellitus dapat menimbulkan komplikasi yang berakibat fatal, misalnyaterjadi
penyakit jantung koroner, gagal ginjal, kebutaan dan lain-lain. Menurutdata stastistik
tahun 2010 dari WHO terdapat 220 juta penderita diabetes mellitusdi seluruh dunia.
Tahun 2030 jumlah penderita diabetes mellitus diperkirakanakan melonjak lagi
mencapai dua kali lipat dari jumlah sekarang. Saat ini penyakitdiabetes mellitus
banyak dijumpai penduduk Indonesia. Bahkan WHOmenyebutkan, jumlah penderita
diabetes mellitus di Indonesia menduduki rankingempat setelah India, China, dan
Amerika Serikat. Dokter memiliki peran yangsangat penting dalam keberhasilan
penatalaksanaan diabetes. Membantu penderitamenyesuaikan pola diet sebagaimana
yang disarankan ahli gizi, mencegah danmengendalikan komplikasi yang mungkin
timbul, mencegah dan mengendalikanefek samping obat, memberikan rekombinasi
penyesuaian rejimen dan dosis obatyang harus dikonsumsi penderita bersama-sama
dengan dokter yang merawatpenderita, yang kemungkinan dapat berubah dari waktu
ke waktu sesuai dengankondisi penderita, merupakan peran yang sangat sesuai
dengan kompetensi dantugas seorang dokter. Dokter dapat juga memberikan
tambahan ilmu pengetahuankepada penderita tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan kondisi danpengelolaan diabetes. Diabetes mellitus sendiri
didefinisikan sebagai suatupenyakit dan gangguan metabolisme kronis dengan multi
etilogi yang ditandaidengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan
metabolismekarbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi
insulin.Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau difisiensi
produkinsulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan
olehkurang reponsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin.
B. Rumusan Masalah
1) Definisi Diabetes Melitus?
1

2)
3)
4)
5)

Faktor Resiko Diabetes mellitus?


Penyebab dan Patofisiologi Diabetes Melitus?
Klasifikasi Diabetes Melitus?
Terapi Diabetes Melitus?

C. Tujuan
1) Mengetahui Definisi Diabetes Melitus
2) Mengetahui Faktor Resiko Diabetes Melitus
3) Mengetahui Penyebab Diabetes Melitus
4) Klasifikasi Diabetes Melitus
5) Terapi Diabetes Melitus
D. Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat membantu kita semua dalam memahami apa itu
penyakit Diabetes Melitus

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Diabetis melitus adalah gangguan metabolisme yang di tandai dengan hiperglikemia
yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein
yang di sebabkan oleh penurunan sekresi insulin atau penurunan sensitivitas insulin,
atau keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis mikrovaskuler, makrovaskuler
dan neuropati.
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat

kekurangan

insulin

baik

absolut

maupun

relatif

(Arjatmo,

2002

dalam

www.ilmukeperawatan.com).
Diabetes Melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan
insulin baik absolut maupun relatif (Noer, 2003 dalam www.trinoval.web.id).
Diabetes mellitus adalah penyakit dimana penderita tidak bisa mengontrol kadar gula
dalam tubuhnya. Tubuh akan selalu kekurangan ataupun kelebihan gula sehingga
mengganggu system kerja tubuh secara keseluruhan (FKUI, 2001 dalam
www.trinoval.web.id).
Diabetes mellitus adalah sekelompok kelainan yang ditandai oleh peningkatan kadar
glukosa darah (hiperglikemia). Mungkin terdapat penurunan dalam kemampuan
tubuh untuk berespon terhadap insulin dan atau penurunan atau tidak terdapatnya
pembentukan insulin oleh pancreas. Kondisi ini mengarah pada hiperglikemia, yang
dapat menyebabkan terjadinya komplikasi metabolic akut seperti ketoasidosis
diabetic. Hiperglikema jangka panjang dapat menunjang terjadinya komplikasi
mikrovaskular kronis (penyakit ginjal dan mata) serta komplikasi neuropati. Diabetes
juga berkaitan dengan kejadian penyakit makrovaskuler, termasuk infark miokard,
stroke, dan penyakit vaskuler perifer.(brunner and suddarth, 2002 : 109)
Seseorang yang kena diabetes tentunya mempunyai masalah tentang insulinnya.
Insulin merupakan hormone polipeptida yang terdiri dari 51 asam amino yang
tersusun dalam 2 rantai; rantai A terdiri dari 21 asam amino da rantai B mempunyai
30 asam amino. Antara rantai A dan B terdapat 2 gugus disulfide yaitu antara A-7
dengan B-7 dan A-20 dengan B-19. Selain itu masih erdapat gugus disulfida antara
asam amino ke-6 dan ke-11 pada rantai A.
Diabetes Digolongkan menjadi 3, yaitu :
1) Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM)

Merupakan diabetes tipe 1 yang insulin dependen, keadaan ini terjadi karena
defisiensi insulin , yang diakibatkan adanya kerusakan sel Beta pulau Langerhans.
Biasanya terjadi paa umur +- 15 tahun, dengan diikuti gejala hiperglikimia,
gangguan retina, ketoasidosis, gagal ginjal, aterosklerosis. Obat Antidiabetik Oral
(ADO) tidak dapat mengidnduksi sekresi insulin, sehingga pasien pasien harus
disuntik insulin. Penderita DM Tipe 1 biasanya memiliki tubuh yang kurus dan
cenderung berkembang menjadi diabetes ketoasidosis (DKA) karena insulin
sangat kurang disertai peningkatan hormon glukagonSejumlah 20-40% pasein
mengalami DKA setelah beberapa hari mengalami poliuria,polidispia,polifagia,
dan kehilingan bobor badan
2) Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM)
Disebut tipe 2, NDDM terjadi karena menurunnya produksi insulin yang disertai
menurunnya

respons

jaringan

terhadap

insulin

dengan

gejala

terdapat

hiperglikimia sedangkan ketoADOSIS TIDAK ADA. Pengobatan utama adalah


mengatur diet dan olahraga, obat obat hipoliglikimik oral diberikan bila
pengobatan lainnya gagal.Pasein dengan DM tipe 2 sering asimptomatik.
Munculnya komplikasi dapat mengindakasi bahwa pasein telah menderita DM
selama bertahun-tahun, umumnya muncul neuropati.Pada diagnosis umumnya
terdeteksi adanya letargi, poliuria, nokturia, dan polidispia, sedangkan penurunan
bobot badan secara signifikan jarang terjadi.
B. Faktor Resiko
1) Riwayat Keluarga
2) Obesitas Atau Kegemukan
3) Usia Yang Semakit Bertambah
4) Kurangnya Aktivitas Fisik
5) Suka Merokok
6) Suka Mengkonsumsi Makanan Berkolesterol Tinggi
7) Penderita Hipertensi Atau Tekenan Darah Tinggi
8) Masa Kehamilan
9) Ras Tertentu
10) Tekanan Stres Dalam Jangka Waktu Yang Lama
11) Sering Mengkonsumsi Obat-Obatan Kimia
C. Penyebab dan Patosiologi
4

1) Penyebab
Penyebabnya

adalah

kekurangan

hormone

insulin,

yang

berfungsi

memungkinkan glukosa masuk kedalam sel untuk dimetabolisir (dibakar) dan


demikian dimanfaatkan sebagai sumber energi. Akibatnya adalah glukosa
bertumpuk di dalam darah (hiperglikemia) dan akhirnya disekresikan lewat
kemih tanpa digunakan (glycosuria). Karena itu, produksi kemih sangat
meningkat dan penderita sering berkemih, merasa sangat haus, berat badan
menurun dan merasa lelah.
Penyebab lain adalah menurunnya kepekaan reseptor sel bagi insulin (resistensi
insulin) yang diakibatkan oleh makan yang terlalu banyak dan kegemukan
(overweight). Rata-rata 1,5 2 % dari seluruh penduduk dunia menderita
diabetes yang bersifat menurun (familial).di Indonesia penderita diabetes
diperkirakan 3 juta orang atau 1,5 % dari 200 juta penduduk, sedangkan dieropa
mencapai 3-5% ! pada lima tahun terakhir jumlah ini meningkat secara eksplosif,
yang disebabkan oleh meningkatnya peristiwa overweight dan obesitas terutama
didunia barat. Diperkirakan bahwa ditahun 2030 jumlsah penderita diabetes akan
meningkat sampai 336 juta jiwa, berarti k.l. 2 kali dari sekarang.
Penyakit diabetes bisa disebabkan oleh beberapa faktor pemicu, diantaranya :
a) Pola makan
Makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang dibutuhkan
oleh tubuh dapat memacu timbulnya diabetes mellitus. konsumsi makan
yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan sekresi insulin dalam jumlah
yang memadai dapat menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat dan
pastinya akan menyebabkan diabetes melitus.
b) Obesitas (kegemukan)
Orang gemuk dengan berat badan lebih dari 90 kg cenderung memiliki
peluang lebih besar untuk terkena penyakit diabetes militus. Sembilan dari
sepuluh orang gemuk berpotensi untuk terserang diabetes mellitus.
c) Faktor genetis

Diabetes mellitus dapat diwariskan dari orang tua kepada anak. Gen
penyebab diabetes mellitus akan dibawa oleh anak jika orang tuanya
menderita diabetes mellitus. Pewarisan gen ini dapat sampai ke cucunya
bahkan cicit walaupun resikonya sangat kecil.
d) Bahan-bahan kimia dan obat-obatan
Bahan-bahan kimia dapat mengiritasi pankreas yang menyebabkan radang
pankreas, radang pada pankreas akan mengakibatkan fungsi pankreas
menurun sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon untuk proses
metabolisme tubuh termasuk insulin. Segala jenis residu obat yang
terakumulasi dalam waktu yang lama dapat mengiritasi pankreas.
e) Penyakit dan infeksi pada pancreas
Infeksi mikroorganisme dan virus pada pankreas juga dapat menyebabkan
radang pankreas yang otomatis akan menyebabkan fungsi pankreas turun
sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon untuk proses metabolisme tubuh
termasuk insulin. Penyakit seperti kolesterol tinggi dan dislipidemia dapat
meningkatkan resiko terkema diabetes mellitus.
f)

Pola hidup
Pola hidup juga sangat mempengaruhi faktor penyebab diabetes mellitus.
Jika orang malas berolah raga memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena
penyakit diabetes mellitus karena olah raga berfungsi untuk membakar kalori
yang berlebihan di dalam tubuh. Kalori yang tertimbun di dalam tubuh
merupakan faktor utama penyebab diabetes mellitus selain disfungsi
pankreas. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di
negara-negara Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun ke depan.
Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di Hanoi, Vietnam,
berlipat ganda. Sebabnya? Di kota ini, masyarakatnya lebih memilih naik
motor dibanding bersepeda, kata Dr Gauden Galea, Penasihat WHO untuk
Penyakit Tidak Menular di Kawasan Pasifik Barat. Kesimpulannya, mereka
yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding
mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas lainnya.

g) Teh manis

Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula menyebabkan kadar gula


darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Segelas teh manis kirakira mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan). Kebutuhan kalori
wanita dewasa rata-rata adalah 1.900 kalori per hari (tergantung aktivitas).
Dari teh manis saja kita sudah dapat 1.000-1.200 kalori. Belum ditambah tiga
kali makan nasi beserta lauk pauk. Patut diduga kalau setiap hari kita
kelebihan kalori. Ujungnya: obesitas dan diabetes.
h) Gorengan
Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal
gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif,
seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab utama penyakit
kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner,
dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah dislipidemia. Dislipidemia
adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar
kolesterol total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar
HDL (kolesterol baik) dalam darah. Meningkatnya proporsi dislipidemia di
masyarakat disebabkan kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan rendah
serat dan tinggi lemak, termasuk gorengan.
i) Suka ngemil
Kita

mengira

dengan

membatasi

makan

siang

atau

malam

bisa

menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Karena belum kenyang, perut
diisi dengan sepotong atau dua potong camilan seperti biskuit dan keripik
kentang. Padahal, biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis lainnya
mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan yang
memadai. Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan glikemik
indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di dalamnya
mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah.
j) Kurang tidur
Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para
ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari
mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis.
Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang
7

sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar,
penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang
membuat kadar gula darah naik.
k) Sering stress
Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat
stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan
kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi untuk beraktivitas.
Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik.
Namun, kalau gula darah terus dipicu tinggi karena stres berkepanjangan
tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan.

l) Kecanduan rokok
Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria dan wanita
menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22
persen. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma disebabkan oleh
rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan
dan olahraga.
m) Menggunakan pil kontrasepsi
Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan
progestin, atau progestin saja. Pil kombinasi sering menyebabkan perubahan
kadar gula darah. Menurut dr Dyah Purnamasari S, Sp PD, dari Divisi
Metabolik Endokrinologi RSCM, kerja hormon pil kontrasepsi berlawanan
dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan, pankreas dipaksa bekerja
lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika terlalu lama dibiarkan, pankreas
menjadi letih dan tidak berfungsi dengan baik.
n) Keranjingan soda
Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses Health Study II terhadap
51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi
minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes melambung

tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi karena kandungan
pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak
membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk minum lebih banyak.
2) Patofisiologi
Dm tipe 1 insulin dependent diabetes mellitus (IDDM) terjadi pada 10% dari
semua kasus diabetes. Secara umum, DM tipe ini berkembang pada anak-anak
atau pada awal masa dewasa yang di sebabkan oleh kerusakan sel pankreas
akibat autoimun, sehingga terjadi defisiensi insulin absulot. Reaksi autoimun
umumnya terjadi setelah waktu yang panjang (9-13 tahun) yang di tandai oleh
adanya parameter-parameter system imun ketika terjadi kerusakan

sel .

Hiperglikemia terjadi bila 80%-90% dari sel rusak. Penyakit DM dapat


menjadi penyakit menahun dengan resiko komplikasi dan kematian. Faktorfaktor yang menyebabkan terjadinya autoimun tidak di ketahui, tetapi proses ini
di perantarai oleh makrofag dan limfosit T dengan auto antibody yang bersikulasi
ke berbagai antigen sel (misalnya antibody sel islet, antibody insulin.
DM tipe

2 non insulin dependent diabetes mellitus (NIDDM) terjadi pada

90%dari semua kasus diabetes dan biasanya di tandai dengan resistensi insulin
dan defesiensi insulin relatif. Resistensi insulin di tandai dengan peningkatan
lipolisis dan produksi asam lemak bebas, peningkatan produksi glukosa hepatik,
dan penurunan pengambilan glukosa pada otot skelet. Disfungsi sel
mengakibatkan gangguan pada pengontrolan glukosa darah. DM tipe 2 ini di
sebabkan karena gaya hidup si penderita diabetes (kelebihan kalori, kurangnya
olahraga, dan ozat besitas) di bandingkan pengaruh genetic.
Diabetes yang disebabkan oleh faktor lain (1-2% dari semua kasus diabetes)
termasuk gangguan endokrin (misalnya akromegali, sindrom cushing), diabetes
melitus gestational (DMG), penyakit pancreas ensokrin (pancreatitis), dan karena
obat (glukokortikoid, pentamidin, niasin, dan -interveron).
Gangguan glukosa puasa dan gangguan toleransi glukosa terjadi pada pasien
dengan kadar glukosa plasma lebih tinggi dari normal tetapi tidak termasuk
9

dalam DM. Gangguan ini merupakan faktor resiko untuk berkenbang menjadi
penyakit DM dan kardiovaskuler yang berhubungan dengan sindrom resistensi
insulin.
Komplikasi mikrovaskuler berupa retinopati, neuropati, dan nefropati sedangkan
komplikasi makrovaskuler berupa penyakit jantung koroner, stroke, dan penyakit
vaskuler periferal.

D. Klasifikasi
Klasifikasi dari jenis-jenis diabetes adalah sangat penting untuk antara lain penentuan
pengobatan dan prognosisnya. Untuk klasifikasi tepat dari jenis diabetes yang paling
terjadi pada pasein-pasein dengan hiperglikemia, dapat digunakan sebagai pedoman
BMI dan riwayat keluarganya. Untuk tujuan ini dapat dimanfaatkan sejenis flow chart
sederhana untuk diagnostik, klasifikasi dan terapi.
Diabetes dapat dibagi dalam 3 tipe,yakni tipe-1,tipe-2 dan tipe hamil :
1) Tipe 1, Jenis Remaja (IDDM)
Pada tipe ini terdapat dekstruksi dari sel beta pankreas, sehingga tidak
memproduksi insulin lagi dengan akibat akibat sel-sel tidak bisa menyerap glukosa
dari darah. Karena itu kadar glukosa darah meningkat diatas 10mmol/l. Yakni nilai
ambang ginjal, sehingga glokusa berlebihan dikeluarkan lewat urin bersama
banyak air (glycosuria) . Dibawah kadar tersebut glukosa ditahan oleh tubuli
ginjal.
Prevalansi Tipe 1 menghinggapi orang-orang dibawah usia 30 tahun dan paling
sering dimulai pada usia 10-13 tahun . Insidensinya dinegara barat telah berlipat
ganda dalam 20-30 tahun terakhir. Karena penderita senantiasamembutuhkan
insulin , Maka tipe 1 dahulu juga disebut IDDM (Insulin Dependent Diabetes
Mellitus).
Penyebabnya belum begitu jelas, tetapi terdapat indikasi kuat bahwa jenis ini
disebabkan oleh suatu infeksi virus yang menimbulkan reaksi auto-imun
berlebihan untuk menanggulangi virus. Akibatnya sel-sel pertahanan tubuh tidak
hanya membasmi virus. Akibatnya sel-sel pertahanan tubuh tidak hanya

10

membasmi virus, melainkan juga turut merusak atau

memusnahkan sel-sel

Langerhans. Dalam waktu satu tahun sesudah diagnosa ,80-90% penderita tipe 1
memperlihatkan antibodies sel-beta didalam darahnya. Pada tipe ini faktor
keturunan juga memegang peranan. Virus yang dicurigai adalah virus CoxsackieB , Epsetein-Barr,morbilli (menles) dan virus parotitis prevensi dan terapi .
Pengobatan satu-satunya terhadap tipe 1 merupakan penyakit auto-imun. Maka
imunosupresivase seperti azatioprin dan sikloporin, dapat menghambat jalannya
penyakit , tetapi hanya untuk sementara. Guna menangani gejala neuropati di
German digunakan obat komplementer asam liponat dengan sukses.
2) Tipe-2 Jenis Dewasa (NDDM)
Lazimnya mulai di atas 40 tahun dengan insidensi lebih besar pada orang gemuk
dan pada usia lebih lanjut. Mereka yag hidupnya makmur, makan terla,pau banyak
dan kurang gerak badan lebih besar lagi risikonya.
Prevalansi, menurut 5-10 % dari orang semakin muda dihinggapi penyakit ini.
Pada orang afrika terdapat 2 kali lebih banyajk pasien diabetes tipe 2 daripada
orang eropa, pada orang asia selatan bahkan rata rata 54-5 kali lebih banyak .
orang hindu dieropa ternyata sangat rentan untuk diabetes berhubung pola
genetisnya.
Mulainya DM2 sangat berangsur rangsur dengan keluhan ringan yang sering kali
tidak dikenali. Tipe 2 bersifat menyesatkanb karena dalam kebanyakan hal baru
menjadi manifest dengan tampilannya gejala stadium lanjut. Bahkan, bila sudah
terjadi komplikasi, mialnya infrak jantung atau gangguan penglihatan.
Penyebabnya, akibat proses semua, banyak penderita jenis ini mengalami
penyusuhan sel sel beta yang progsesif serta penumpukan amyloid disekitarnya.
Pada 2006 telah ditemukan enzim yang bertanggung jawab untuk perombakan
amyloid ini dan insulin. Sel sel beta yang tersisa pada umumnya masih aktif, tetapi
sekresi insulinnya semakin berkurang. Selain itu, kepekaan reseptornya juga
menurun. Hipofungsi sel beta ini bersama resistensi insulin yang meningkat
11

mengakibatkan gula gula darah menigkat mungkin juga sebabnya berkaitan


dengan suatu infeksi virus pada masa muda. Deperkirakan bahwa pada penderita
tanpa over weight resistensi insulin tidak memegang peranan.
Tipe 2 pada hakikatnya tidak tergantung dari insulin, maka dahulu juga disebut
NIDDM ( Non insulin dependet ) dan lazimnya dapat diobati dengan
antidiabetrika oral. Akan tetapi sejak 1997 semakin banyak penderita tipe 2 ini
terapi dengan unsulin sehingga menurunkan risiko komplikasi lambat. Oleh
karenanya perbedaan kedua nama tersebut tidak ada artinya lagi dan sudah
ditinggalkan.
Antidiabetika oral pada umumnya tidak menimbulkan kecenderungan acidosis.
Antara 70-80% daari msemua penderita diabetes termasuk jenis ini, pada mana
factor keturunan memegang peranan besar. Bila salah satu orang tua menderita
kencing manis, maka kemungkinan diturunkannya penyakit ini ke anak-anaknya
adalah 1:20.
Diagnosis dini. Tipe-2 umumnya baru didiagnosa pada stadium terlambat (lihat
diatas), padahal diagnosa dini adalah penting sekali untuk menghindarkan
komplikasi lambat. Maka bila terdapat gejala seperti haus yang hebat dengan
sering berkemih dan turunnya berat badan serta rasa letih, maka sebaiknya segera
mengkonsultasikan dokter untuk diperiksa terhadap penyakit gula. Karena lebih
dari separuh penderita diabetes juga mengidap hipertensi, maka sebaiknya
tekanan darah dimonitor secara teratur.
3) Diabetes kehamilan (GDM)
Pada wanita hamil dengan penyakit gula regulasi glukosa yang ketat adalah
penting sekali untuk menurunkan resiko akan keguguran spontan, cacat-cacat dan
overweight bayi atau kematian perinatal
E. Terapi

12

Tujuan utama terapi diabetes adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan
kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler
serta neuropatik. Tujuan teraupetik pada setiap jenis diabetes adalah mencapai kadar
glukosa darah normal tanpa terjadinya hipoglikemia dan gangguan serius pada pola
aktivitas klien.
1) Non Farmakologi
Ada lima komponen dalam penatalaksanaan diabetes:
a) Diet
Diet dengan mengurangi makanan makanan yang mengandung gula yang
banyak.
b) Latihan/Olahraga
Dengan banyak berolahraga tentunya akan membantu organ organ dalam
tubuh kita tetap sehat.
c) Pemantauan
Pemantauan sangat penting, karena tanpa pemantauan kita tidak mungkin tahu
apakah kita terkena diabetes mellitus atau tidak
d) Terapi
Melakukan terapi dengan cara medis tentunya sangat bermanfaat bagi para
penderita diabetes melitus
e) Pendidikan
2) Farmakologi
Untuk Terapi farmakologi Diabetes Melitus ini terdapat 2 cara yaitu dengan
Menggunakan Insulin dan menggunakan Antidiabetika Oral.
1. Insulin
a. Sintesis dan Kimia
Insulin merupakan hormone polipeptida yang terdiri dari 51 asam amino yang
tersusun dalam 2 rantai; rantai A terdiri dari 21 asam amino da rantai B
mempunyai 30 asam amino. Antara rantai A dan B terdapat 2 gugus disulfide
yaitu antara A-7 dengan B-7 dan A-20 dengan B-19. Selain itu masih erdapat
gugus disulfida antara asam amino ke-6 dan ke-11 pada rantai A.
Preparat insulin didapat dari ektraksi pancreas babi atau sapi, beupa Kristal
putih berbau. Struktur insulin berbagai spesies berbeda dari susunan asam
aminonya. Perbedaan tersebut tidak menyebabkan perbedaan bioteknik tetapi

13

menyebabkan perbedaan imunologik.Insulin disintesis oleh sel B pulau


Langerhans dari proinsullin. Proinsulin merupakan polipeptida rantai tunggal
dengan 86 asam amino . Proinsulin berubah menjadi insulin dengan
kehilangan 4 asam amino (31,32,64,65) dan lepasnya rantai asam amino dari
33 sampai 63 yang menjadi peptide penghubung (C-peptide=Connecting
peptide=peptide-C.) Rantai A mempunyai residu amino terminal glosin
sedang rantai B fenilalanin(gambar31-1).
Karena procine insulin paling mirip insulin manusia dengn bahan insulin
dibuat insulinsemisintetik. Di samping itu juga dapat disintesis insulin dengan
tekhnik rekombinan DNA yang merupakan analog insulib manusia.
b. Sekresi,Distribusi Dan Metabolisme
Proinsulin disintesis dalam elemen poliribosom reticulum endoplasmatik sel B
pancreas. Proinsulin menjadi insulin tersebt ditransfer ke kompleks Golgi, di
tempat inilah mulai terjadi perubahan proinsulin menjadi insulin dan ke
granula. Bila sel B. dari granula ini akan keluar sejumlah ekuimolar insulin
dari peptide-C kesirkulasi. Peptida C meski tidak mempunyai efek biologic
tetapi dapat digunakan sebagai marker adanya sekresi insulin.
Secara umum, setiap keadaan yang mengaktivitasi saraf adrenergic (seperti
hipoksia, hipotermia, operasi, luka bakar berat) menekan sekresi insulin
melalui perangsangan reseptor a2 adrenergik. Glukosa oral merupakan
stimulan paling kuat untuk sekresi insulin karna juga menyebabkan sekresi
hiormon saluran cerna dan stimulasi aktivitas vagal saat terjadi pencernaan
glukosa atau makanan. Beberapa hormone saluran cerna merangsang sekresi
insulin, yang paling kuat a.l. gastroinstestinal inhibitory peptide dan glucagonlike peptide-1. Kecuali itu gastrin, sekretin kolestosistokinin, Vasoaktive
intestinal peptide, gastrin-releseasing, peptide dan entero glucagon juga
merangsang sekresi insulin. Bila dirangsang oleh glukosa terjadi sekresi

14

insulin yang bifasik, fase 1 mencapai puncak; fase 2 mula kerja lambat tapi
masa kerja lama.
Mekanisme bagaimana glukosa oral dapat merangsang sekresi insulin dapat
dilihat pada gambar 31-2. Masuknya glukosa ke sel-b melalui glucose
transporter 2 (GLUT2), suatu transporter yang spesifik. Kemudian glukosa ini
mengalami fosforilisasi oleh glukokinase. Enzi mini terutama terdapat di
organ tempat terjadinya regulasi metabolisme glukosa seperti hepar atau sel b
pankreas.
Sekresi insulim sangat tergantung pada kadar Ca intrasel. Metabolisme
glukosa yang di induksi oleh ADP, dan hal ini menyebabkan menutupnya
kanal ion K yang sensitive ATP (ATP sensitive K channel) dan terjadi
depolirisasi sel b. Sebagai kompensasi terjadinya kanal aktivitasi Ca dan ion
ini akan masuk ke sel b. Selanjutnya Ca intrasel ini merangsang sekresi
insulin dari granulanya (gambar 31-PENGATURAN SEKRESI INSULIN.
Sekresi insulin diatur dengan ketat untuk mendapatkan kadar glukosa darah
yang stabil baik sesudah makan atau sebelum makan atau waktu puasa. Hal
ini dapat dicapai Karen a adanya koordinasi peran sebagai nutrient, hormone
saluran cerna,hormone pancreas dan neurotransmitter otonom. Glukosa,asam
amno,asam lemak dan benda keton akan merangsang sekresi insulin. Sel-sel
Langerhans dipersarafi saraf adrenergic dan kolinergik. Stimulasi reseptor a2
adrenergik menghambat sekresi insulin, sedang b2 adrenergik agonis dan
stimulasi saraf vagus akan merangsang sekresi.
c. Mekanisme Kerja
Mekanisme Kerja Insuli Di Sel
Target organ utama insulin adalah untuk mengatur kadar glukosa adalah
hepar, otot dan adipose.Peran utamanya a.l.,uptake,utilisasi, dan penyimpanan
nutrient di sel. Efek anabotik insulin meliputi stimulasi, utilisasi dan
penyimpanan glukosa,asam amino, asam lemak intrasel,sedangkan proses

15

katabolisme (pemecahan glikogen,lemak,dan protein ) dihambat. Semua efek


ini dilakukan stimulasi transport substrat dan ion ke dalam sel,menginduksi
translokasi protein,mengaktifan dan menonaktifkan enzim spesifik, merubah
jumlah protein dengan mempengaruhi kecepatan transkripsi gen dan transtasi
mRNA spesifik.
Regulasi Transport Glukosa
Stimulasi transport glukosa ke otot dan jaringan adipose hal yang krusial dan
respon fisiologik terhadap insulin.Glukosa masuk sel melalui salah satu jenis
glucose-transporter (GLUT), dan 5 dari GLUT ini (GLUT1 sampai GLUT5),
dan 5 dari difusi glukosa kedalam sel yang bersifat Na independent insulin
merangang

transport

glukosa

dengan

menginduksi

energy

untuk

mentranslokasi GLUT4 dan GLUT1 dari vesikel intrasel ke membrane


plasma. (gambar31-3). Efek ini bersifat reversible, GLUT kembali ke pool
intrasel sat insulin tidak bekerja lagi. Gangguan proses regulasi ini dapat
menjadi salah satu sebab DM tipe 2.
Insulin mempercepat masuknya glukosa ke sel otot rangka dan adipose.
Insulin masuk ke reseptor a di luar sel kemudian ke reseptor b di dalam sel.
Selanjutnya merangsang fosforilase intrasel yang kompleks, berakhir dengan
pembentukan transporter glukosa (GLUT4). Kemudian GLUT4 di translokasi
kan ke dinding sel, glukosa plasma masuk e sel melalui GLUT4. Dalam sel,
digunakan untuk metabolisme atau disimpan sebagai glikogen sebagai
glikogen atau trigiliserida.
Regulasi Metabolisme Glukosa
Konversi glukosa menjadi gluksa 6-fosfat (G6P) terjadi dengan bantuan
enzim heksoninase. Keempat heksoninase (I sampai IV), seperti juga GLUT,
terdistribusi di berbagai jaringan dan 2 diantaranya diregulasi insulin.
Heksokinase IV yang lebih dikenal sebagai glukonisase, tetapi ditemukan
berhubungan dengan GLUT2 di hepar dan sel b pankreas. Terdapat 1 gen

16

glukokinase, tetapi dengan ekson pertama dan promoter yang berbeda yang
digunakan pada 2 jenis jaringan tersebut. Gen glukkinase hepar diatur oleh
insulin. Heksokina sel II berada dimana terdapat GLUT4, yakni di otot skelet
dan jantung dan jaringan adipose. Seperti halnya GLUT4, heksokinase II
diregulasi pada proses trnskripsi oleh insulin.
d. Diabetes Melitus Dan Insulin
Diabetis Miletus
Diabetis miletus(DM) adalah suatu sindroma klinik yang ditandai oleh
poliuri,polidipsi, dan polifagi, disertai peningkatan kadar glukosa darah atau
hiperglikemia (glukosa puasa > 126 mg/dL atau postprandial > 200mg/dL).
Bila DM tidak segera di atasi akan terjadi gangguan metabolisme lemak dan
protein, dan resiko timbulnya gangguan mikrovaskular atau makrovaskular
meningkat.
Melihat dengan etiologinya DM dapat dibedakan menjadi: DM tipe 1,
addanya gangguan produksi insulin akibat penyakit autoimun dan idiopatik.
Tipe ini sering disebut Insulin Independent diabetis mellitus atau IDDM
karena pasien mutlak membutuhkan insulin. DM tipe 2, akibat resistensi
insulin atau gangguan sekresi insulin. Pada tipe 2 ini tidak selalu dibutuhkan
insulin, kadang-kadang cukup dengan diet dan antidiabetik oral. Karena tipe
ini juga disebut noninsulin dependent diabetis miletus atau NIDDM. Jenis
lain lagi misal: gestational diabetis miletus, DM pada kehamilan,; DM akibat
penyakit endokrin atau pankreas atau akibat penggunaan obat.
e. Terapi Insulin
Insulin masih merupakan obat utama untuk DM tipe 1 dan beberapa jenis DM
tipe 2, tetapi memang banyak pasien DM yang enggan disuntik, kecuali
dalam keadaan terpaksa. Karena terapi edukasi pasien DM sangat penting,
agar pasien sadar akan perlunya terapi insulin meski diberikan secara
suntikan. Suntikan insulin dapat dilakukan dengan berbagai cara, al.

17

intravena, intramuskuler, dan umumnya pada penggunaan jangga panjang


lebih lebih disukai pemberian subkutan (SK). Cara pemberian ini berbeda
dengan keadaan sekresi insulin secara fisiologik, al. setelah asupan makanan
kinetiknya tidak menunjukkan peningkatan dan penurunan sekresi insulin
yang cepat; pada pemberian subkutan insulin akan berdifusi kesirkulasi
perifer yang seharusnya langsung masuk ke sirkulasi portal, karenanya efek
langsung hormone ini pada hepar menjadi kurang. Meski demikian kalau cara
pemberian ini dilakukan dengan cermat, tujuan terapi akan tercapai.
Preparat insulin dapat dibedakan berdasarkan lama kerja (kerja cepat, edang,
dan panjang), seperti terlihat pada Tabel 31-1 atau dibedakan berdasarkan asal
spesiesnya (human dan porcine). Human insulin yang merupakan hasil
teknologi rekombinan DNA, dalam larutan yang cair lebih larut dari porcine
insulin, karena adanya treonin (ditempat ) dan mempunyai esktra gugus
hidroksil. Sekarang ini sebagian besar preparat insulin berada pada pH netral
sehingga lebih stabil dan dapat disimpan untuk beberapa hari pada suhu
ruangan.
Satuan Dosis
Dosis dan konsentrasi insulin dinyatakan dengan unit (U). Satu unit insulin
kira-kira sama dengan insulin yang dibutuhkan untuk menurunkan glukosa
puasa 45 mg/dL (2,5 mM) pada kelinci. Standar internasional yang berlaku
sekarang, kombinasi bovine dan porcine insulin yang homogen mengandung
25 dan 30 U/mg. Hampir semua preparat komersial insulin dipasarkan dalam
Bentuk Solusio Atau Suspense Dengan Kadar 100 U/Ml, Atau Sekitar 3.6mg
Insulin Per Milliliter (0,6mm).

f. Klasifikasi Insulin

18

Preparat dengan mula kerja cepat dan lama kerja singkat al. solusio regular
atau crystalline zincinsulin dalam bufer dengan pH netral. Jenis ini mula
kerjanya paling cepat dan lama kerjanya juga paling singkat (Tabel 31-1).
Umumnya disuntikan (IV atau IM) 30-45 menit sebelum makan. Setelah
pemberian IV glukosa darah akan cepat menurun mencapai nadir dalam
waktu 20-30 menit. Bila tidak ada infus insulin, hormon ini akan segera
menghilang, dan counter-regulatory hormones (glucagon, epinefrin, kortisol
dan hormone pertumbuhan) akan mengembalikan kadar glukosa keadaan
basal dalam waktu 2-3 jam. Tetapi pada pasien yang tidak mempunyai
mekanisme respon counter-regulatory ini (DM dengan neuropati otonomik),
glukosa plasma akan tetap rendah untuk beberapa jam setelah pemberian
bolus 0,15 U/kg, karena kerja insulin pada tingkat sel menjadi lebih lama dari
klirens plasmanya. Pemberian infus insulin IV bermanfaat pada ketoasidosis
atau pada keadaan dimana kebutuhan insulin dapat berubah dengan cepat
(missal: sebelum operasi,selama proses partus, atau pada situasi gawat
darurat). Padakeadaan stabil, umumnya dapat diberikan insulin regular
bersama preparat yang kerjanya panjang atau sedang, secara subkutan.
Pemberian subkutaneos infusion pumps hanya dapat dilakukan untuk insulin
dengan masa kerja singkat.
g. Indikasi Dan Tujuan Terapi
Insulin subkutan terutama diberikan pada DM tipe 1, DM tipe 2 yang tidak
dapat diatasi hanya dengan diet dan atau antidiabetik oral, pasien DM
pascapankreatektomi atau DM dengan kehamilan, DM dengan ketoasidosis,
koma nonketosis, atau komplikasi lain, sebelum tindakan operasi (DM tipe 1
dan 2). Tujuan pemberian insulin pada semua keadaan tersebut bukan saja
untukmenormalkan glukosa darah tetapi juga memperbaiki semua aspek
metabolism, dan yang terakhir inilah umumnya yang sukar dicapai. Hasil
terapi yang optimal membutuhkan pendekatan dokter pada pasien dan
keluarganya, agar ada koordinasi antara diet, latihan fisik, dan pemberian
insulin.Keadaan mendekati normoglisemia dicapai pada DM dengan multipel

19

dosis harian insulin atau dengan infusion pump therapy, yang tujuannya
mencapai glukosa darah puasa antara 90-120 mg/dL (5-6,7 mM), glukosa 2
jam posprandial kurang dari 150 mg/dL (8,3 mM), HbA1c kurang dari 7%
(atau 6,5%). Pada pasien yang kurang disiplin atau kurang patuh terhadap
terapi, mungkin perlu dicapai nilai glukosa darah puasayang lebih tinggi(140
mg/dL atau 7,8 mM) dan postprandial 200 sampai 250 mg/dL atau 11,1
sampai 13,9 mM.
Kebutuhan Insulin Harian
Produksi insulin pada orang normal, sehat yang kurus, antara 18-40 U per
hari atau 0,2-0,5 U/kg berat badan per hari, dan hamper 50% disekresi pada
keadaan basal, 50% yang lain karena adanya asupan makanan. Sekresi basal
insulin sekitar 0,5-1 U /jam; setelah asupan glukosa oral dalam jumlah besar,
sekresi meningkat menjadi 6 U/jam. Pada orang non diabetic dengan obesitas
dan resisten insulin, sekresi meningkat 4 x lipat atau lebih tinggi.
Pada berbagai populasi pasien DM tipe 1, rata-rata dosis insulin yang
dibutuhkan berkisar antara 0,6-0,7 U/kg berat badan per hari, sedangkan
pasien obesitas membutuhkan dosis lebih tinggi (2 U/kg berat badan per hari)
karena adanya resistensi jaringan perifer terhadap insulin.
h. Efek Samping
Hipoglikemia
Hipogikemiamerupakan efek samping yang paling sering terjadi dan terjadi
akibat dosis insulin yang terlalu besar, tidak tepatnya waktu makan dengan
waktu tercapainya kadar puncak insulin, atau karena adanya faktor yang
dapat meningkatkan sesitivitas terhadap insulin, misal insufisiensi adrenal
atau pitutari, ataupun akibat kerja fisik yang berlebihan.

Reaksi Alergi Dan Resistensi

20

Penggunaan insulin rekombinan dan insulin yang lebih murni, telah dapat
menurunkan insiden reaksi alergi dan resistensi. Meski demikian kadangkadang reaksi tersebut masih dapat terjadi akibat adanya bekuan atau
terjadinya denaturasi preparat insulin, atau kontaminan, atau akibat pasien
sensitif terhadap senyawa yang yditambahkan pada proses formulasi preparat
insulin (misal: Zn, protamine, fenol, dll). Reaksi alergi lokal pada kulit
yang sering terjadi akibat IgE atau resisten akibat timbulnya antibody IgG.
Sebaliknya bila ini terjadi dilakukan pemeriksaan kadar antibody insulinspecific IgG dan IgE, untuk mengetahui penyebab reaksi yang terjadi. Test
kulit juga dapat dilakukan, meski banyak pasien yang menunjukkan test
insulin intradermal positif tetapi tidak menunjukkan reaksi efek samping dari
insulin.
Efek amping lain yaitu edema, rasa kembung di abdomen dan gangguan
virus, timbul pada banyak pasien DM dengan hiperglikimia hebat atau
ketoasidosis yang sedang diterapi dengan insulin dan ini berhubungan dengan
peningkatan berat badan sekitat 0,5 sampai 2,5 kg. Umumnya edema akan
menghilang dalam beberapa hari atau minggu kecuali bilaada gangguang
fungsi jantung atau ginjal .edema ini terjadi akibat retensi Na+ atau
peningkatan permiabilitas kapiler akibat control metabolic yang tidak
adekuat.
i. Interaksi
Beberapa hormone bersifat antagonis terhadap efek hepoglikemik insulin, al.
hormone pertumbuhan, kortikotropin, glukokortikoid, tiroid, estrogen,
progestin dan glukagon. Adrenalin menghambat sekresi insulin dan
merangsang

glikogenolisis.

Peningkatan

kadar

hormon

ini

perlu

diperhitungkan dalam terapi insulin. Salisilat meningkatkan sekresi insulin,


mungkin menyebabkan hipoglikemia. Hipoglikema cenderung terjadi pada
pasien dengan penghambat adrenoseptor akibat penghambatan efek
katekolamin pada gluconeogenesis dan glikogenolisis, obat ini juga

21

mengaburkan takikardia akibat hipoglikemia. Potensiasi efek hipoglikemik


insulin terjadi dengan penghambat MAO, streroid anabolic dan fenfluramin.
a) Antidibetik Oral
1. Sulfunilurea
Obat Golongan Sulfonylurea terdapat dalam 2 generasi
Generasi I = Tolbutamid, Asetoheksamid, Tolazamid, Klorpropamid.
Generasi II = Gliburid, glipizid, 200X lebih kuat dari generasi I,
Glibenklamid/Glimipirid, merupakan sulfonylurea pertama yang dapat
dikombinasi dengan insulin.
Obat Golongan ini digunakan Untuk menurunkan glukosa darah, obat
ini merangsang sel beta dari pankreas untuk memproduksi lebih
banyak insulin. Jadi syarat pemakaian obat ini adalah apabila
pankreas masih baik untuk membentuk insulin, sehingga obat ini
hanya bisa dipakai pada diabetes tipe
Mekanisme Kerja : Golongan obat ini sering disebut sebagai insulin
secretagogues, kerjanya merangsang sekresi insulin dari granul sel sel
B Langerhans pancreas. Rangsangannya melalui interaksi dengan ATP
sensitive K channel pada membrane sel B yang menimbulkan
depolarisasi membrane dan keadaan ini akan membuka kanal Ca.
Dengan terbukanya kanal Cam aka ion Ca++ akan termasuk ke sel B,
merangsang granula yang berisi insulin dan kana terjadi sekresi insulin
dengan peptide C, kecuali itu sulfonylurea dapat mengurangi klirens
insulin di hepar.
Farmakokinetik :Berbagai sulfonilurea mempunyai sifat kinetik
berbeda, tetapi absorbsi melalui saluran cerna cukup efektif. Makanan
dan keadaan hiperglikemia dapat mengurangi absorbsi. Untuk
mencapai kadar optimal di plasma, sulfonylurea dengan masa paruh
pendek akan lebih efektif bila di minum 30 menit sebelum makan.
22

Dalam plasma sekitar 90%- 99% terikat protein plasma terutama


albumin ; ikatan ini paling kecil untuk klorpropamid dan paling besar
untuk gliburid.
Masa paruh dan metabolism sulfonilurea generasi I sangat bervariasi.
Masa paruh asetoheksamid pendek tetapi metabolit aktifnya, 1hidroksi-heksamid masa paruhnya lebih panjang, sekitar 4-5 jam, sama
dengan tolbutamid dan tolazamid. Sebaiknya sediaan ini diberikan
dengan dosis terbagi. Sekitar 10% dari metabolitnya diekskresi melalui
empedu dan keluar bersama tinja.
Klorpropamid dalam darah terikat albumin, masa paruhnya panjang,
24-48 jam, efeknya masih terlihat beberapa hari setelah obat
dihentikan. Metabolismenya di hepar tidak lengkap, 20% diekskresi
utuh di urin.
Mulai kerja tolbutamid cepat, masa paruhnya sekitar 4-7 jam. Dalam
darah 91%-96% tolbutamid terikat protein plasma, dan dihepar diubah
menjadi karboksitolbutamid. Ekskresinya melalui ginjal.
Tolazamid, absorpsinya lebih lambat dari yang lain; efeknya pada
glukosa darah belum nyata untuk beberapa jam setelah obat diberikan.
Masa

paruh

sekitar

jam,

dihepar

diubah

menjadi

p-

karboksitolazamid, 4-hidroksimetiltolazamid dan senyawa lain, yang


diantaranya memiliki sifat hipoglikemik cukup kuat.
Sulfonilurean generasi II, umumnya potensi hipoglikemiknya hampir
100x lebih besar
Dari generasi I. meski masa-paruhnya pendek, hanya sekitar 3-5 jam,
efek hipoglikemiknya berlangsung 12-24 jam, sering cukup diberikan

23

satu kali sehari. Alasan mengapa masa paruh yang pendek ini,
memeberikan efek hipoglikemik panjang, belum diketahui.
Glipizid, absorbsinya lengkap, masa-paruhnya 3-4 jam. Dalam darah
98% terikat protein plasma, potensinya 100x lebih kuat dari
tolbutamid, tetapi efek hipoglikemik maksimalnya mirip dengan
sulfonylurea lain. Metabolismenya di hepar, menjadi metabolit yang
tidak aktif, sekitar 10% diekskresi melalui ginjal dalam keadaan utuh.
Gliburid (glibenklamid), potensinya 200x lebih kuat dari tolbutamid,
masa paruhnya sekita 4 jam. Metabolismenya dihepar, pada
pemberian dosis tunggal hanya 25% metabolitnya di ekskresi melalui
urin, sisanya melalui empedu. Pada penggunaan dapat terjadi
kegagalan primer dan sekunder, dengan seluruh kegagalan kira-kira
21% selama 1

1
2 tahun.

Karena semua sulfonylurea dimetabolisme dihepar dan di ekskresi


melalui ginjal, sediaan ini tidak boleh diberikan pada pasien gangguan
fungsi hepar atau ginjal yang berat.
Efek Samping : Sulfonylurea bisa menyebabkan hipoglikemia,
terutama bila dipakai dalam 3 4 bulan pertama pengobatan akibat
perubahan diet dan pasien mulai sadar berolahraga serta minum obat.
Apabila ada gangguan fungsi ginjal atau hati, dosis perlu diperhatikan
karena lebih mudah timbul hipoglikemia. Namun secara umum obat
ini baik untuk menurunkan glukosa darah.

24

a. Biguanidid
Sebenarnya dikenal 3 jenis ADO dari golongan biguanid yaitu
Fenformin, Buformin dan Metformin. Tetapi yang pertama telah
ditarik dri peredaran karena sering menyebabkan asidosis laktat.
Sekarang yang banyak digunakan adalah Metformin. Obat
biguanides memperbaiki kerja insulin dalam tubuh, dengan cara
mengurangi resistensi insulin. Pada diabetes tipe 2, terjadi
pembentukan glukosa oleh hati yang melebihi normal. Biguanides
menghambat proses ini, sehingga kebutuhan insulin untuk
mengangkut glukosa dari darah masuk ke sel berkurang, dan
glukosa darah menjadi turun.
Mekanisme Kerja : Mekkanisme kerjanya lain dengan sulfunilurea,
Biguanid tidak bekerja melalui perangsangan insuin, tetapi
langsung pada target organ. Obat ini tidak menurunkan glukosa
pada orang normal, tetapi berpotensiasi dengan insulin. Pada
penderita diabetes gemuk penggunaan biguanid menurunkan berat
badan tetapi tidak pada orang normal. Penderita yang gagal
diberikan Sulfonilurea masih bisa diberikan Biguanid.
Efek Samping: Metformin biasanya jarang memberikan efek
samping. Tetapi pada beberapa orang bisa timbul keluhan terutama
pada saluran cerna, misalnya :
Gangguan pengecapan
Nafsu makan menurun
Mual, muntah
b. Penghambat Enzim a-Glikosidase
Mekanisme Kerja :Obat golongan ini penghambat enzim @glikosidase ini dapat memperlambat absorbs polisakarida(Starch),
Dekstrin dan disakaridadi intestine. Dengan menghambat kerja

25

enzim a-glikosidase di brush border intestine, dapat mencegah


peningkatan glokusa plasma pada orang normal dan pasien DM.
karena terjadinya tidak mempengaruhi sekresi insuin maka tidak
akan menyebabkan efek samping hipoglikomia . Akarbose dapat
digunakan sebagai monoterapi dan pada DM usia lanjut atau DM
yang glokusa postprandialnya sangat tinggi. Diklinik sering sering
digunakan bersama antidiabetik oral lain dan atau insulin.
Obat golongan ini diberikan pada waktu mulai makan dan absorbis
sangat lambat. Obat golongan ini bekerja di usus, menghambat
enzim di saluran cerna, sehingga pemecahan karbohidrat menjadi
glukosa atau pencernaan karbohidrat di usus menjadi berkurang.
Hasil akhir dari pemakaian obat ini adalah penyerapan glukosa ke
darah menjadi lambat, dan glukosa darah sesudah makan tidak
cepat naik.
Efek Samping
Obat ini umumnya aman dan efektif, namun ada efek samping yang
kadang mengganggu, yaitu perut kembung, terasa banyak gas,
banyak kentut, bahkan diare. Keluhan ini biasanya timbul pada
awal pemakaian obat, yang kemudian berangsur bisa berkurang
c. Meglitinides
Repaglinid dan nateglinid merupakan golongan meglitinid,
mekanisme kerjanya sama dengan sulfonylurea tetapi struktur
kimianya sangat berbeda. Golonga AOD ini merangsang insulin
dengan menutup kanal K yang ATP-independet di Sel B
pancreas.Pada pemberian oral aborbsinya cepat dan kadar
puncaknya dicapai dalam waktu 1 jam. Masa paruhnya 1 jam
karenanya harus diberikan beberapa kali sehari, sebelum makan.
Metabolisme utamanyta diheppar dan metabolitnya tidak aktif

26

sekitar 10% DIMETABOLISME DIGINJAL. Pada pasien dengan


gangguan fungsi hepar atau ginjal harusnyya diberikan hati hati.
Golongan Obat ini menyebabkan pelepasan insulin dari pankreas
secara cepat dan dalam waktu singkat.Termasuk golongan obat ini
adalah Repaglinide (Novonorm) dan Nateglinide (Starlix). Efek
Samping Meskipun sama seperti sulfonylurea, efek samping
hipoglikemia boleh dikatakan jarang terjadi, hal ini disebabkan oleh
efek rangsangan pelepasan insulin hanya terjadi pada saat glukosa
darah tinggi.
d. Thiazolidinediones
Obat ini baik bagi penderita diabetes tipe 2 dengan resistensi
insulin, karena bekerja dengan merangsang jaringan tubuh menjadi
lebih sensitif terhadap insulin, sehingga insulin bisa bekerja dengan
lebih baik, glukosa darahpun akan lebih banyak diangkut masuk ke
dalam sel, dan kadar glukosa darah akan turun. Selain itu, obat
thiazolidinediones

juga

menjaga

hati

agar

tidak

banyak

memproduksi glukosa. Efek menguntungkan lainnya adalah obat ini


biasa menurunkan trigliserida darah.
Efek Samping
Beberapa efek merugikan yang mungkin timbul adalah bengkak,
berat badan naik, dan rasa capai. Efek serius yang jarang terjadi
adalah gangguan hati.

BAB III
PENUTUP

27

A. Kesimpulan
Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang di tandai dengan
hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat,
lemak, dan protein yang di sebabkan oleh penurunan sekresi insulin atau penurunan
sensitivitas insulin, atau keduanya

dan menyebabkan komplikasi kronis

mikrovaskuler, makrovaskuler dan neuropati.


Untuk Terapi Pengobatan Diabetes Melitus dilakukan 2 cara yaitu dengan Non
Farmakologi dan Farmakologi. Untuk Farmakologi dibagi kembali menjadi 2 cara
yaitu Dengan Insulin dan Pemberian AntiDiabetik Oral.

DAFTAR PUSTAKA
Arif, Azalia Dkk. 2014. Cara Mudah Belajar Farmakologi. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia: Jakarta.
Mahar Mardjono. 2005. Farmakologi dan Terapi. Departemen Farmakologi dan
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : 2007.
Elin Yunlinah Dkk. 2008. Iso Farmakologi. Isfi: Jakarta

28