Anda di halaman 1dari 69

OVARIOHYSTERECTOMY

Definisi

adalah prosedur pembedahan untuk membuang uterus secara


keseluruhan berserta adnexa, cornua dan ovarium.

Uterus dibuang bersama-sama dengan ovarium untuk mencegah terjadinya


penyakit-penyakit uterus di kemudian hari.

Prosedur pembedahan ini sering

dilakukan pada anjing dan kucing dibanding dengan hewan lain.

Gambar 1. Organ Reproduksi Anjing Betina

Indikasi

1. Sterilisasi sexual yang biasa disebut spaying (pengebirian atau pemandulan


hewan betina).

Pada anjing dan kucing betina normal, tujuan utamanya

adalah mencegah estrus dan problem yang menyertainya yang dikaitkan


dengan discharge berdarah (pada anjing), kegaduhan karena hewan jantan
yang berdatangan untuk kawin, kebuntingan, kecelakaan perkawinan, dan
anak anjing/kucing yang tidak diinginkan.
2. Penyakit ovarium dan uterus yaitu :
Ketidakseimbangan endokrin (hormon), infeksi, luka, cysta, neoplasma dan
anomali kongenital (cacat bawaan/sejak lahir).
Gangguan endokrin (ketidakseimbangan hormon) dikaitkan dengan berbagai
manifestasi klinik seperti : sterilitas, lesi kulit (dermatosis tertentu), tumor
kelenjar mammae, pseudocyesis (pseudopregnancy atau bunting semu/palsu),
nymphomania dsb.
Penyakit-penyakit uterus yang memerlukan ovariohysterectomy antara lain
adalah : metritis, pyometra, hyperplasia endometrium, luka/trauma/kerusakan,
torsio

uteri,

prolapsus

uteri,

dystocia

yang

tidak

ditangani

(diabaikan/dibiarkan), dan cacat bawaan (abnormalitas kongenital).


Indikasi lainnya untuk ovariohysterectomy adalah fistula perianal, hyperplasia
vagina, diabetes, epilepsi dll.
Umur dan waktu untuk ovariohysterectomy :
Dapat dilakukan pada hampir semua umur dan semua fase siklus
reproduksi, tetapi yang paling baik dilakukan pada waktu sebelum pubertas dan
selama fase anestrus. Umumnya umur 4-6 bulan dianggap waktu yang paling
baik untuk maksud spaying, karena hewan telah dapat dianestesi dengan relatif
aman. Beberapa dokter hewan memilih menunggu sampai betina melewati satu

periode estrus sebelum spaying, karena mereka yakin bahwa hal ini akan
menjadikan

hewan

betina

tumbuh

berkembang

lebih

tampak

bersifat

kebetinaannya dibanding yang dilakukan sebelum pubertas.


Pembedahan paling berbahaya dilakukan pada saat estrus dan pregnansi
(bunting), serta pada betina tua yang gemuk (obesitas). Pada anjing betina
dewasa waktu yang paling tepat untuk melakukan spaying adalah 3-4 bulan
setelah estrus. Setelah melahirkan, operasi harus segera dilaksanakan segera
setelah anak anjing disapih dan laktasi telah berhenti, kira-kira 6-8 minggu
setelah melahirkan. Kebuntingan (gestation) tidak merubah siklus estrus yang
pada anjing biasanya tiap 6 bulan.
Terdapat korelasi antara waktu ovariohysterectomy dengan kejadian tumor
mammae. Apabila dilakukan sebelum siklus birahi pertama akan menurunkan
kejadian tumor mammae sampai mencapai kurang dari 5%.

Bila dilakukan

setelah siklus birahi pertama, resiko tumor mammae mencapai 8%, dan spaying
setelah siklus birahi kedua hanya akan menurunkan kejadian tumor mammae
sampai 26%. Apabila ovariohysterectomy dilakukan pada saat anjing berumur 1,5
2 tahun maka tidak menurunkan resiko terjadinya tumor mammae.
Tempat Insisi untuk Laparotomy
1. Laparotomy garis tengah caudal : daerahnya dimulai dari umbilicus
sampai

tepi pubis.

Insisi ini yang biasa dilakukan untuk

ovariohysterectomy dan sectio caesaria baik pada kucing maupun pada


anjing.
2. Laparotomy flank (legok lapar/fossa sublumbar) : daerah insisinya
sedikit di bawah dan cranial dari sudut ileum atau satu jari dibelakang
rusuk terakhir dan satu jari di bawah procesus transversus os lumbal;
panjang insisi kira-kira 2-3 cm dapat diperlebar sesuai kebutuhannya.
Prosedur ini biasanya dilakukan pada kucing, baik untuk maksud
ovariohysterectomy, ovariectomy, maupun sectio caesaria, sedangkan
pada anjing dapat untuk ovariectomy dan sectio caesaria.

Persiapan untuk Insisi garis tengah caudal dan Anestesi


Hewan dipuasakan kira-kira 12 jam, dilakukan pemeriksaan fisik secara
teliti untuk memastikan apakah hewan mempunyai resiko pembedahan yang
sesuai. Bila diperlukan dilakukan enema (clysma).
Anestesi dilaksanakan dengan anestesia umum dengan menggunakan
tehnik (obat) anestesia umum yang paling biasa kita lakukan. Harus lebih hatihati pada kasus penyakit dan hewan tua daripada prosedur untuk sterilisasi sexual
hewan normal.
Setelah hewan teranestesi,kandung kemih dikosongkan dan dinding
abdomen ventral dipersiapkan dengan cara yang semestinya untuk dilakukan
laparotomy garis tengah caudal.

Preparasi kulit (pencukuran dan asepsis)

daerah abdomen mulai dari pubis sampai arcus costae dan diperluas kiri kanan
sampai kelenjar mammae (pada kasus penyakit lebih diperluas lagi sampai
melewati kelenjar mammae).

Pasien pada posisi rebah dorsal (dorsal

recumbency) dengan kaki-kakinya diikatkan dengan cukup kuat pada meja


operasi untuk mempertahankan posisi tubuh; peregangan yang berlebihan harus
dihindari, misalnya peregangan otot abdomen akan mempersulit pembedahan.
Dilakukan draping dari umbilikus sampai tepi pelvis (kira-kira 5 cm dari pubis).
Bila memungkinkan meja opersi dapat dimiringkan sedikit (sampai 45 derajad)
dengan demikian kepala lebih rendah sehingga isi abdomen (viscera) akan pindah
ke depan karena gaya gravitasi ke arah cranial. Hal ini selain mempermudah
pembedahan juga mengurangi kemungkinan saliva masuk jalan pernafasan.
Tehnik Pembedahan
Dibuat insisi (irisan/sayatan) garis tengah (linea mediana) abdomen
mulai dari kira-kira 1 cm di belakang umbilikus ke arah caudal secukupnya
(sepanjang kira-kira 5 cm). Struktur yang terinsisi meliputi kulit, subkutan, linea
alba, ligamentum falciformis (bila ada), dan peritoneum. Pada hewan gemuk atau
yang uterusnya mengalami pembesaran (karena penyakit) dapat diperlukan insisi
yang lebih panjang (sampai 10 cm).

Jika masih mengalami kesulitan dalam

mengeluarkan organ reproduksi, insisi abdomen dapat diperpanjang. Ke dalam


rongga abdomen dimasukkan kait ovariohysterectomy (spay hook) secara hati-hati
ke sepanjang dinding

abdomen kiri dimana terletak cornua uteri kiri dan

ligamentum suspesorium, dengan ujung mengarah cranial sejauh mungkin sampai


mencapai daerah spina. Ujung spay hook kemudian diputar dengan arah yang
berlawanan kemudian diangkat (ditarik ke atas) dengan gerakan mengait atau
mengeduk

(pengangkatan

bagian

kiri

insisi

dinding

abdomen

dengan

menggunakan jari, pinset atau Allis forceps akan mempermudah manipulasi)


(gambar 3. 1.). Bila tindakan kita tepat maka yang terkait adalah ligamentum
suspensorium dan cornua uteri kiri (gambar 3.2.). Struktur lain yang mungkin
terkait adalah omentum, mesenterium, ligamentum vesica urinaria, usus atau
ureter. Jadi harus benar-benar diidentifikasi. Bila yang terkait bukan ligamentum
suspensorium atau cornua uteri kiri, maka tindakan tadi kita ulangi lagi sampai
berhasil.

Bila kita tidak mempunyai spay hook, maka dilakukan identifikasi

bifurkasio uterus yang terletak di bawah (proksimal) vesica urinaria bagian dorsal,
kemudian ditelusuri ke arah cranial cornua kiri sampai ditemukan ovarium kiri.
Dengan menggunakan jari dibuat lubang pada ligamentum dan diperlebar
sepanjang cornua (jangan terlalu dekat dengan pembuluh uteri) (gambar 3.3. dan
3.4.). Dengan hemostat (arteri klem) ligamentum ovarium dijepit (di sebelah
bawah/proksimal ovarium) dan ligamentum penggantung ovarium dilepas dengan
tekanan jari. Lemak dan jaringan ikat sekeliling ovarium dilepas, kecuali yang
ada pembuluh darahnya (gambar 3.5).

Bila ligamentum suspensorium telah

dipisahkan maka ovarium dapat diangkat. Bagian atas/caudal ovarium atau tepat
di bawah/proksimal ovarium diklem (Gambar 3.6.). Dilakukan ligasi/ikatan di
bawah klem yang terletak paling jauh dari ovarium menggunakan benang
absorbable (catgut chromic). Ikatan ini sebaiknya sedekat mungkin dengan klem
melalui bagian tengah pedicle dan pertama disimpulkan bagian sisi yang
mengandung pembuluh darah dan kemudian diikatkan keseluruh pedicle dan
disimpulkan disisi yang berlawanan (lihat gambar 4. 10.; 4.11.; 4.12.), ikatan
tersebut disebut ikatan transfiksasi (gambar 2).

Gambar 2. Tehnik ikatan transfiksasi pada pembuluh darah


Bagian atas klem bawah tersebut kemudian dipotong dan dipastikan tidak ada
perdarahan serta serta semua jaringan ovarium terbuang.

Klem dilepas dan

potongan jaringan dibiarkan masuk rongga abdomen. Atau sebelum klem dilepas,
kita pegang dulu pedicle di bawah klem dengan menggunakan pinset, kemudian
klem dilepas (lihat gambar 4. 13.). Setelah dipastikan tidak ada perdarahan,
potongan jaringan

(pedicle) dibiarkan masuk ke dalam rongga abdomen.

Ovarium kiri yang telah terpotong kemudian ditarik ke arah caudal sampai
bifurkasio uteri terlihat dan cornua kanan ditarik ke luar dari insisi dan dipegang
dengan kedua tangan dibuat lubang pada ligamentum penggantungnya (lihat
gambar 4. 14.; 4. 15.; dan 4.16.), kemudian dilakukan prosedur yang sama seperti
pada ovarium kiri.

Gambar 3. Tehnik Operasi Ovariohysterectomy (pengangkatan ovarium)

Gambar 4. Tehnik Operasi Ovariohysterctomy (lanjutan)

Cara lain untuk melakukan ikatan pada ovarium adalah the three forceps
tie. Forceps dibagian proksimal (dekat dinding abdomen) membentuk alur untuk
ikatan (ligasi); forceps di bagian tengah memberikan pegangan di bagian ujung
untuk ligasi; sedangkan forceps distal mencegah darah mengalir kembali dari
pembuluh yang terpotong (gambar 3.7).
Selanjutnya kedua ovarium dan cornua diangkat sampai bifurkasio terlihat.
Ligamentum yang lebar dipotong kira-kira dipertengahan diantara pertautannya
dengan menggunakan gunting, hati-hati terhadap pembuluh darah dekat uterus.
Corpus uteri dikeluarkan dari abdomen untuk diligasi.

Bila tidak dapat

dikeluarkan, operator dapat memperpanjang insisi abdomen ke arah caudal atau


dengan cara menegangkan hewan dengan cara memiringkan meja operasi
sehingga bagian caudal lebih rendah, dimana hal ini akan merelaksasi dinding
ventral abdomen sehingga corpus uteri dapat dikeluarkan dari bidang insisi.
Corpus uteri diklem di depan cervix dan dilakukan ligasi di caudal klem pada
pembuluh darah di sisi kiri dan kanan corpus uteri; corpus uteri diligasi dengan
cara pertama benang dijahitkan ke bagian tengah corpus kemudian disimpulkan
dibagian sisinya dan benang diligasi pada seluruh corpus dan disimpulkan di sisi
yang lainya (gambar 5. 17 sampai dengan 5. 23).

10

Gambar 5. Tehnik Operasi Ovariohysterectomy (pengangkatan corpus uterus)


Sebelum uterus dipotong, sebuah klem dipasang di depan dan berdekatan dengan
klem pertama (caudal), kemudian dilakukan eksisi di antara kedua klem tersebut.
Klem dilepas dan diperiksa terhadap adanya perdarahan. Bila telah tidak ada
perdarahan, sisa potongan corpus uteri dimasukkan ke dalam rongga abdomen.
Ligasi uterus dapat juga dengan metode the three forceps tie (gambar 6)

11

Gambar 6. Tehnik Pengangkatan Corpus Uterus dengan Metode Three Forceps


Tie
Bila pada kasus penyakit (metritis purulenta/pyometra), dua forceps crile
atau hemostat

besar dipasang melintang pada corpus uteri untuk mencegah

keluarnya pus. Setelah meligasi pembuluh darah uterus dipotong diantara kedua
forceps. Ujung yang terpotong kemudian dibersihkan dengan tampon dan dijahit
dengan benang absorbable menggunakan metode cushing dengan tehnik parkerkerr atau lambert (gambar 7).

Gambar 7. Tehnik Parker-kerr untuk Menutup Corpus Uterus

12

Pasien umur tua dapat mempunyai resiko pembedahan yang jelek karena
penyakit hati, jantung dan ginjal, dan mereka tidak tahan terhadap shock
dibanding dengan hewan yang lebih muda. Evaluasi kondisi fisik secara teliti,
termasuk pemeriksaan laboratorium, diindikasikan sebelum melaksanakan operasi
pada hewan tua.
Kompliksi Ovariohysterectomy
Komplikasi ovariohysterectomy meliputi : perdarahan, infeksi, dehisensi
luka, estrus berulang, pseudoestrus, problem pasca bedah yang berkaitan dengan
anestesi dan shock.
Perdarahan (hemorrhagea) biasanya akibat dari ligasi yang kurang
sempurna dan tidak benar. Kesalahan umum yang mengakibatkan perdarahan
adalah :
1. Pecahnya (ruptura) pembuluh darah arteri ovarica karena traksi/tarikan
yang berlebihan.
2. Ligasi arteri disertai traksi (elastisitas dan pulsasi pembuluh darah dapat
menyebabkan terlepasnya ligasi).
3. Kegagalan mempererat ligasi secara cukup kuat.
4. Terlalu banyak jaringan yang diligasi.
5. Benang untuk ligasi yang ukurannya kurang mencukupi.
6. Kegagalan dalam menyertakan arteri di dalam ligasi.
7. Ujung potongan yang terlalu dekat dengan ligasi.
Tanpa memandang apa penyebabnya, perdarahan harus ditanggulangi.
Adalah bencana bila kita menganut pendapat yang salah bahwa perdarahan di
dalam rongga abdomen merupakan autotransfusi.

Insisi abdomen dibuka

kembali lebih lebar dan dilakukan pencarian pembuluh darah yang bocor. Ujung
potongan uterus biasanya bertempat di bagian dorsal leher vesica urinaria; dan
ujung potongan ovarium terletak di dekat bagian caudal kutub setiap gijal.

13

Infeksi biasanya tidak terjadi bila operasi dilaksanakan secara aseptik.


Infeksi yang terjadi dapat menyebabkan terjadinya peritonitis.
Dehisensi luka insisi abdomen biasanya diikuti dengan hernia omentum
atau prolapsus viscera (visceroptosis).

Hal ini karena kegagalan proses

kesembuhan luka selama minggu pertama pasca bedah. Protusio omentum dapat
terjadi pada hari ke 4 atau ke 5 setelah operasi dan segera diikuti oleh protusio
usus. Hal ini sering terjadi pada hewan gemuk dengan kontaminasi luka operasi.
Pembuangan ovarium yang kurang sempurna dapat menyebabkan anjing
menunjukkan gejala estrus.

Bila sedikit tersisa jaringan ovarium, ini akan

meneruskan fungsinya dan estrus akan terjadi pada interval yang normal.
Pengambilan sisa jaringan ovarium adalah satu-satunya cara yang memuaskan
untuk mengkoreksi kesalahan ini.

Operasi harus dilakukan saat estrus karena

pada saat ini jaringan ovarium dapat diidentifikasi lebih mudah.


dipersiapkan,

rongga

abdomen

dibuka

seperti

yang

dijelaskan

Hewan
untuk

ovariohysterectomy. Daerah caudal ginjal dicari untuk menemukan sisa jaringan


ovarium. Bila telah diidentifikasi, jaringan dijepit dengan forceps, diligasi dan
dieksisi. Bagian abdomen yang diinsisi ditutup dengan cara yang semestinya.
Pseudoestrus adalah tertariknya hewan jantan pada betina yang
ovariumnya telah dibuang. Kondisi ini dikaitkan dengan adanya vulvitis khronis
disertai discharge yang mengotori daerah perianal.

Betina biasanya menolak

pejantan. Pengobatan ditujukan untuk menyembuhkan vulvitis tersebut.


Karena ovarium merupakan kelenjar endokrin, maka spaying akan
mempengaruhi metabolisme tanpa memandang kapan operasi dilakukan. Gejala
paling umum yang dikaitkan dengan defisiensi endokrin ovarium adalah obesitas
dan vulvitis, kasus ini cukup sering dan banyak dijumpai.

Obesitas dapat

dikontrol dengan diet dan exercise yang sesuai. Vulvitis dan inkontenensia urin
biasanya berespon baik dengan pemberian preparat estrogen. Inkontinensia urin
dapat terjadi karena adhesi atau terbentuknya jaringan granulasi antara potongan
uterus dan vesica urinaria sehingga terjadi gangguan fungsi sphincter.

14

Terjadi perubahan tingkah laku betina yang dilakukan spaying dimana


hewan menjadi lebih jinak, stamina menurun dan ketertarikan pada hal-hal baru
berkurang yang disebut dengan eunuchoid syndrome.
Ovariohysterectomy Melalui Insisi Flank pada Kucing
Operasi ini biasanya dilaksanakan melalui insisi kecil pada legok lapar kiri
(flank/fossa sublumbar sinistra) (Gambar 8). Kucing pada posisi rebah lateral
dextra, dengan anestesia umum, kaki-kakinya difiksasi dengan diikatkan pada
meja operasi. Kandung kemih harus dikosongkan dengan tekanan manual, dan
jangan lupa untuk memeriksa dan menetukan bahwa kucingnya benarbenar betina.
Tempat insisi laparotomy sedikit di bawah dan sedikit di cranial dari sudut
ileum externa (jangan sampai keliru dengan trochanter mayor femur) atau sebagai
patokan satu jari di belakang rusuk terakhir dan satu jari di bawah procesus
transversus os lumbal.

Gambar 8. Daerah Insisi Flank pada Kucing untuk Prosedur Ovariohysterectomy

15

Cornua uteri kadang-kadang terdapat berdempetan dengan insisi, tetapi


pada sebagian besar ovariohysterectomy, cornua harus dicari. Ini mudah dicapai
dengan mengidentifikasi lemak sublumbar dan kemudian secara hati-hati ditarik
keluar insisi dan pada waktu yang bersamaan menarik ke atas ketika itu cornua
uteri akan ikut tertarik ke dalam insisi. Lemak fossa sublumbar adalah solid
(tebal) dan berwarna gelap, sedangkan lemak omentum tipis, konsistensinya
seperti renda dan banyak vaskularisasi.
Keterangan gambar 9
A. Kulit di bawah sudut ileum externa diinsisi dan sebagian lemak subkutan
dibuang.
B. Aponeurosis yang tipis dari musculus obliqus abdominis externus
dikuakkan, dan m. obliqus abdominis internus yang tebal ditusuk dengan
skalpel.
C. Tusukan diperlebar dengan pinset dan pastikan peritoneum yang tipis juga
kena.

Gambar 9A. B dan C. Tehnik Ovariohysterectomy Melalui Flank

16

D. Cornua uteri kiri ditarik melalui insisi dan ligamentum suspensorium


yang tipis dirobek dengan jari. Tarikan selanjutnya akan memperlihatkan
ovarium kiri.
E. Pedicle ovarium diklem ganda.

Pada kucing muda pedicle dirobek/

diputus dengan tarikan (traksi). Pada kucing dewasa, atau yang dalam
permulaan atau akhir estrus, akan lebih aman untuk meligasi (mengikat)
pedicle seperti yang dijelaskan sebelumnya (ovariohysterectomy melalui
insisi garis tengah abdomen).
F.

Cornua uteri bawah (kanan) ditarik pada perbatasan corpus uteri dengan
tarikan pada pertautan cornua. Ovarium bawah (kanan) ditarik keluar
insisi, tetapi ini lebih sulit, dan membutuhkan tarikan agak kuat dari pada
untuk ovarium atas (kiri).

Gambar 9D. E dan F. Tehnik Ovariohysterectomy Melalui Flank

17

G/H.

Operasi diselesaikan dengan mengklem ganda corpus uteri di depan


cervix, dan dilakukan ligasi di caudal klem bawah. Pengekleman
corpus uteri pada kucing dewasa dapat mengakibatkan amputasi
(terpotong) keseluruhannya, karena jaringannya cenderung agak
rapuh. Pada keadaan ini corpus uteri harus difiksasi dan diligasi tanpa
lebih dulu diklem.

I.

Jahitan penutup insisi abdomen dibuat dengan jahitan sederhana


terputus pada m. obliqus abdominis internus, dan kadangkala 2-3
jahitan pada aponeurosis m. obliqus abdominis externus menggunakan
benang absorbable.

J.

Kulit ditutup dengan jahitan sederhana terputus menggunakan benang


non-absorbable.

Gambar 9G. H, I dan J.


Tehnik Ovariohysterectomy Melalui
Flank

18

SECTIO CAESARIA (Caesar Snee/Laparohysterotomy/Hysterotomy)


Indikasi :
Pengeluaran fetus dengan histerotomi diindikasikan bila distokia tidak
dapat ditangani dengan metode konservatif. Operasi ini adalah relatif aman untuk
induk dan menjamin persentase tinggi fetus yang hidup bila dikerjakan pada
waktu yang tepat. Indikasi utama cesarean section adalah inertia uteri dan
berbagai type dystocia obstruktif. Indikasi yang kurang sering meliputi ruptura
uterus, pregnancy toxemia (keracunan kebuntingan), dan luka perforasi uterus
gravid.
Induk dipersiapkan untuk operasi sesegera mungkin bila diindikasikan.
Waktu adalah penting bila dikehendaki anak diselamatkan.

Pada beberapa

keadaan, operasi harus segera dilakukan karena usaha terakhir setelah pemberian
ecbolic (obat-obatan untuk mengkontraksi uterus) dan tarik paksa (extraction
force) tidak berhasil.

Prognosis untuk intervensi bedah menjadi kurang baik

setelah usaha dalam waktu lama untuk mengeluarkan anak melalui jalan kelahiran
gagal. Bila proses melahirkan telah berlangsung selama 24 jam atau lebih, maka
kematian fetus biasanya menunjukkan emphysematous, terjadi devitalisasi
uterus, dan gejala toxemia.

Pada beberapa kasus prognosis sectio caesaria

adalah jelek maka untuk menyelamatkan induk pilihan terbaik adalah membuang
seluruh uterus yang gravid.
Sectio caesaria juga diindikasikan sebagai suatu tindakan pencegahan
(profilaksis) bila kondisi anatomi dan patologi menghalangi kelahiran normal,
atau tindakan bedah jelas paling aman untuk induk dan anak

Induk harus

diobservasi dengan seksama terhadap gejala awal melahirkan. Bila sectio caesaria
dilaksanakan terlalu awal dari umur kelahiran normal maka bahaya perdarahan
dari pertautan plasenta akan meningkat, involusi uterus terhambat, dan induk tidak
mengeluarkan air susu bagi anaknya.

19

Persiapan Pasien :
Bila induk kelelahan karena proses melahirkan yang gagal dalam waktu
lama maka harus diinfus intravena dengan dextrose 5% dalam saline atau
larutan Ringers sebelum pembedahan dimulai. Juga diindikasikan pemberian
antibiotika dan kortikosteroid.
Anesthesia : Dengan anestesia epidural atau anestesia umum.
Anestetika

yang digunakan harus memberikan kondisi pengoperasian

yang sesuai dengan angka mortalitas anak dan induk yang minimal. Sejumlah
faktor harus dipertimbangkan. Status fisiologis induk pada waktu melahirkan
secara material dirubah dengan adanya uterus gravid. Bila jaringan besar vaskuler
uterus gravid secara tiba-tiba dihilangkan dari tonus symphatic misalkan oleh
epidural

anestesia, maka akan mengakibatkan tekanan darah turun.

Derajat

hipotensi akan menjadi kritis pada hewan yang dehidrasi (hypovolemia) atau
kegagalan dalam mengkompensasi peningkatan denyut jantung.
Terbatasnya gerakan diafragma dan terganggunya fungsi normal respirasi
pada saat melahirkan akan menyebabkan dyspneu (sesak nafas). Oleh karena itu
diperlukan mengkontrol ventilasi selama anestesia.
Posisi rebah dorsal dapat menyebabkan supine hypotensive syndrome
karena tekanan uterus gravid pada vena cava caudal akan mengurangi darah
balik vena (venous return) ke jantung juga curah jantung (cardiac output). Bila
sectio caesaria dilaksanakan dengan insisi garis tengah maka posisinya tidak rebah
dorsal sesungguhnya tetapi dimiringkan 10 20 derajad rebah lateral dextra. Hal
ini akan menjamin bahwa berat uterus tidak pada vena cava caudalis.
Sectio caesaria biasanya dilakukan sebagai prosedur emergency (gawat
darurat) karena dystocia foetal atau maternal. Kondisi induk seringkali tidak
optimal karena proses melahirkan yang lama, dan kondisi foetus yang tidak
diketahui. Adanya toxemia disertai fetus emphysematous dan devitalisasi uterus
maka penanganannya harus serupan dengan kasus pyometra. Resiko lambung
penuh makanan dan induksi anestesia yang kurang hati-hati dapat menyebabkan
muntah (vomit) atau regurgitasi yang diikuti dengan aspirasi.

20

Aspek penting lainnya adalah pengaruh obat terhadap fetus dan uterus.
Obat anestesi yang mencapai otak induk juga akan mencapai fetus pada waktu
yang sama.

Narkotik, transquilizer, dan anestetetika umum kadar tinggi dapat

melewati barrier plasenta, sedangkan muscle relaxant tidak dapat. Hasil akhir
efek obat terhadap fetus tergantung pada farmakologi dasar obat.
Tanpa memandang jenis anestesi, waktu antara induksi dan dimulainya
pembedahan waktunya harus singkat, dan hewan harus dipersiapkan ketika masih
sadar. Anestesia yang lama dan hipotensi mengakibatkan gangguan pada fetus
karena overdosis obat.
Tehnik Pembedahan :
Laparotomy dilaksanakan melalui insisi garis tengah abdomen oleh karena
itu hewan dalam posisi rebah dorsal dimiringkan kekanan 10-20 derajad.
Keuntungannya lebih mudah mengeluarkan uterus, perdarahan dan kerusakan
jaringan relatif sedikit, dan sedikit kemungkinan pembentukan parut luka. Pada
permulaan operasi dapat diberikan preparat pituitrin posterior 5 10 unit
intramuskuler untuk mempercepat involusi dan mengurangi perdarahan pada
bagian pertautan plasenta ketika dipisahkan. Laparotomy dapat pula dilakukan
pada legok lapar (flank/fossa sublumbar). Keuntungannya induk dapat menyusui
anaknya tanpa gangguan.
Setelah dilakukan draping dengan multiple drape dibuat insisi garis tengah
yang cukup panjang untuk mengeluarkan uterus. Insisi dimulai dari cartilago
xiphodeus sampai tepi pubis (gambar 10.1 ), tepi insisi kemudian dipasangi
drape (draping incision/towelling-in). Kedua cornua dan corpus uteri ditarik
keluar, dibuat insisi longitudinal sepanjang kira-kira 5 cm yang cukup lebar untuk
mengeluarkan fetus pada permukaan corpus dorsal mulai dari caudal menuju ke
bifurkasio uteri (gambar 10.2.). Fetus dikeluarkan satu persatu. Fetus yang
terdekat dengan insisi ditarik keluar, atau mendorong keluar insisi dengan cara
mendorong melalui permukaan luar uterus (gambar 10.3.).

Selaput amnion

dibuka sebelum plasenta dipishkan dari uterus, dengan menggunakan jari atau
gunting fetus dikeluarkan (gambar 10. 4. dan 10.5.). Corda umbilicalis (umbilical

21

cord) diklem ganda dengan arteri klem berjarak 2-3 cm dari dinding abdomen dan
lalu dipotong dengan torsio (puntiran) atau dengan skalpel di antara dua klem
(gambar 10.6). Anak hewan baru lahir diserahkan dengan klem masih terpasang
di umbilical cord pada perawat untuk dibersihkan dan dikeringkan dengan
handuk, selanjutnya ditempatkan pada kotak yang hangat.
Placenta dapat dengan mudah ditarik pelan-pelan dari uterus dengan klem
yang masih terpasang di potongan umbilical cord dan perdarahan yang terjadi
hanya sedikit sekali (gambar 10.7). Sisa fetus lainnya dikeluarkan satu persatu
dengan cara yang sama. Pastikan bahwa semua fetus telah dikeluarkan. Bekas
insisi uterus ditutup dengan sebuah jahitan menerus Cushing atau Lambert,
menggunakan benang absorbable dengan jarum berpenampang bulat (gambar
10.8).

Permukaan uterus dibersihkan dengan tampon yang dibasahi dengan

larutan saline isotonik hangat; draping insisi diambil dan uterus dimasukkan
kedalam rongga abdomen. Bila rongga abdomen tanpa sengaja terkontaminasi
oleh cairan fetus yang mati atau cairan uterus maka harus diinstilasikan
kedalamnya larutan encer potassium penicillin 500.000 unit atau lebih. Insisi
abdomen ditutup dengan cara yang semestinya.

22

Gambar 10. Tehnik Sectio Caesaria pada Anjing

23

Perawatan anak hewan setelah dilahirkan


Anak-anak hewan

setelah dilahirkan harus segera dibersihkan dan

dikeringkan. Saluran nafas atas dibersihkan dari lendir dan cairan, terutama mulut
dan hidungnya dan badannya dikeringkan. Pengeringan dilakukan dengan cara
menggosok agak keras dengan handuk untuk menstimulasi sirkulasi dan respirasi.
Respirasi anak hewan baru lahir distimulasi baik oleh jilatan induk maupun
pengeringan dengan handuk oleh perawat. Bila saluran nafas tersumbat oleh
lendir atau cairan dapat dibersihkan dengan memegang hewan di atas kepalanya
dengan jari telunjuk disekitar lengan (ekstrimitas anterior) kemudian diayunkan
kebawah dengan harapan cairan/lendir dapat terbuang dengan gaya centrifugal
(gambar 11.1 dan 11.2). Anak anjing yang lemah atau respirasinya lemah dapat
distimulasi dengan injeksi 0,1 ml Coramine/Nikethamide, Doxapram, atau
Metrazol ke dalam vena umbilicalis menggunakan jarum suntik ukuran kecil
(gambar 11.3.). Klem dilepaskan dan diperiksa terhadap adanya perdarahan, bila
diinginkan umbilical cord dapat diligasi. Hewan yang lemah dapat ditempatkan
pada kotak hangat yang berisi oksigen murni. Semua anaknya harus diperiksa
terhadap adanya anomali congenital (gambar 11. 4.).

24

Gambar 11. Perawatan Anak Hewan Setelah Dilahirkan

25

Perawatan induk post-operasi


Tergantung pada kondisi induk, dapat diindikasikan pemberian infus
larutan Dextrose 5% dalam Saline atau larutan Ringers dan penicillin atau
antibiotika lainnya. Bila kondisi pasien jelek dapat diperlukan tranfusi darah atau
pemberian preparat kortikosteroid.
Perdarahan uterus yang berlebih-lebihan setelah operasi sectio caesaria,
biasanya menunjukkan bahwa uterus gagal berkontraksi. Bila pemberian pituitrin
gagal maka dapat diberikan calcium gluconat intravena. Bila metode lainnya
gagal untuk mengkontrol perdarahan setelah melahirkan (post-parturient
haemorrhagea), dianjurkan pemberian ergonovine maleate 0,125-0,25 mg per 2030 lb berat badan. Segera setelah induk sanggup untuk merawat anaknya, maka
anak-anaknya harus diberikan pada induknya karena mereka memerlukan
makanan dan perawatan dan hal ini akan menstimulasi uterus berkontraksi.
Bila induk dalam kondisi baik, maka dapat segera dibawa pulang dengan
klien (pemilik) diberi petunjuk perawatan dan kemungkinan komplikasinya.
Induk hewan tidak diperbolehkan untuk berlompatan.

Jahitan kulit diambil

setelah 10 hari.
Jumlah sectio caesaria yang dapat dilakukan pada satu induk yang sama
tergantung apakah terjadi adhesi dalam rongga peritoneum (abdomen). Setelah 3
kali sectio caesaria, pembedahan sangat sulit dan jumlah anak biasanya menurun.
Bila terjadi adhesi peritoneum yang ekstensif ini akan menghalangi
penarikan/pengeluaran uterus dari rongga abdomen, viscera sekitarnya harus
dilindungi dengan handuk steril dan uterus dibuka di dalam rongga abdomen.
Setelah fetus yang mengobstruksi dapat diambil, dimungkinkan untuk
mengangkat uterus melalui insisi abdomen guna mengeluarkan fetus lainnya.
Ada kemungkinan klien meminta induk untuk dilakukan spaying pada saat
dilakukan sectio caesaria. Walaupun hal ini dapat dikerjakan dengan berhasil,
tetapi ini akan meningkatkan resiko shock pembedahan, dan dapat diperlukan
transfusi darah dan pemberian kortekosteroid.

26

Flank Laparotomy untuk Sectio Caesaria


Cara ini dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan antara lain adalah :
1.

Cornua uteri secara langsung dapat dicapai dengan mudah, karena setelah
dinding abdomen dibuka cornua uteri langsung terlihat.

2.

Kemungkinan terjadinya hernia kecil sekali

3.

Adanya kesulitan pelaksanaan prosedur pembedahan garis tengah (linea


mediana/mid-line), sehingga dipilih cara ini.

Misalnya adanya tumor

diantara mammae kiri dan kanan pada sisi operasi.


4.

Kemungkinan terjadinya infeksi juga sedikit, karena anjing akan


berbaring pada sisi yang tidak dioperasi serta gangguan oleh anak anjing
relatif sedikit ketika menyusui.

Kerugian metode flank laparotomy


1. Waktu pelaksanaan prosedur pembedahan relatif lebih lama dibandingkan
dengan metode garis tengah.
2. Banyak merusak jaringan, pembuluh darah serta serabut syaraf, sehingga
pelaksanaannya harus benar-benar berhati-hati
3. meninggalkan bekas yang kurang menyenangkan (terutama anjing bulu
pendek) sehingga pemilik anjing relatif tidak menyukai cara ini. Jadi
metode ini sebaiknya untuk anjing bulu panjang sehingga bekas luka dapat
ditutupi oleh bulu sekitarnya.
4. Bila terjadi infeksi atau perdarahan maka eksudat/darah akan tertimbun
dalam rongga abdomen.
Prosedur bedah Flank Laparotomy untuk sectio caesaria :
Persiapan sebagaimana mestinya
Posisi rebah lateral dextra
Irisan pada flank kiri sepanjang kira-kira 9 12 cm (gambar 12)

27

Gambar 12. Daerah Insisi Flank Laparotomy untuk Sectio Caesaria

Irisan tegak lurus processus transversus dimulai dari arcus costalis yang
letaknya

sama jauhnya dari mammae yang besar dengan proc.

Transversus tersebut
Letak irisan adalah tepat diatas cornua yang gravid
Pada waktu melakukan irisan kulit dan lemak subkutan, 2-3 pembuluh
darah kecil dapat terpotong, perdarahan lebih baik diligasi daripada dijepit
dengan arteri klem.

Di bawah lemak terlihat m. obliqus abdominis

externus. Muskulus ini sebagian besar tampak musculeus (berdaging),


kecuali bagian caudal yang tampak sebagian aponeurosa. Di bawah
muskulus ini mungkin terdapat sejumlah lemak, dan dibawahnya terdapat
aponeurosa m. obliqus abdominis internus. Untuk mengiris muskulus
terakhir ini harus hati-hati karena dibawahnya langsung didapatkan m.
transversus abdominis.

Di bawah m. transversus abdominis terdapat

pembuluh darah besar dan 2-3 syaraf lumbalis yang besar akan dijumpai
selama irisan ini. Sebelum mengiris m. transversus abdominis terlebih
dahulu harus dilakukan ligasi pembuluh darah di atas dan di bawah irisan
guna mengurangi perdarahan. Setelah mengiris m.transversus abdominis
di bawahnya langsung terdapat peritoneum. Karena tipisnya peritoneum
ini dapat terpotong bersama-sama m. transversus abdominis. Prosedur
selanjutnya seperti sectio caesaria melalui insisi garis tengah

28

EPISIOTOMY dan EPISIOSTOMY


DEFINISI : adalah prosedur bedah untuk memperlebar celah vulva baik secara
temporer/sementara Episiotomy atau permanen Episiostomy.
Prosedur bedah ini meliputi insisi garis tengah mulai dari comissura vulva dorsal
mengarah ke anus
INDIKASI : Untuk mendapatkan jalan masuk yang lebih baik ke vestibulae dan
vagina untuk :
1. ekstirpasio/pembuangan tumor di daerah vagina.
2. hyperplasia mukosa vagina.
3. koreksi atau amputasi prolapsus vagina
4. koreksi cacat bawaan/kongenital.
5. kateterisasi berulang (repeated catheterization).
6. membantu pemeriksaan saluran genital .
7. penanganan distokia/mempermudah partus bila foetusnya besar.
8. mempermudah coitus yang mengalami kesulitan.
Persiapan Operasi :
Lapangan operasi dipersiapkan dengan cara yang semestinya (aseptik),
vestibulae dan vagina dicuci dengan larutan antiseptik yang sesuai (antiseptik
ringan seperti Boorwater 3% atau Zephiran Chloride 1:5000). Hewan
ditempatkan pada meja operasi dengan rebah ventral (sternal) dengan
kantung pasir di bawah pelvis atau meja operasi dimiringkan lebih rendah di
bagian kepala pasien guna mempermudah kerja operator. Untuk menghindari
kontaminasi feses dapat dilakukan enema/clysma sebelum operasi atau dibuat
jahitan purse-string sekeliling anus (mucodermal junction) untuk mencegah
defekasi. Dipasangkan catheter urethra steril untuk betina (ini untuk
membantu prosedur bedah yang ekstensif dan yang berkaitan dengan
orificium urethra).

29

Anesthesi dapat secara lokal (infiltrasi dengan lidokain HCl 2%), epidural
(lidokain 2% 1ml per 5 lb BB diinjeksikan pada ruang lumbosacral) atau
general tergantung operator dan kondisi pasien.
Tehnik Pembedahan :
Sebanyak dua buah Doyen Intestinal Forceps atau Bainbridge Forceps
yang lurus/lengkung (non-traumatik) dipasang berdampingan di sisi kanan dan
kiri garis tengah (raphe mediana), dengan satu rahang penjepit di dalam dan
satunya di luar vagina. Forceps ini bertindak sebagai penuntun dan membantu
mengkontrol perdarahan, tetapi dapat menginduksi nekrosis bila dipasang
terlalu erat. Dengan menggunakan skalpel dibuat irisan diantara kedua forceps
(commissura dorsal celah vagina) yang kemudian ditinggalkan di tempat (tidak
diambil) untuk mengkontrol perdarahan hingga operasi selesai (gambar 13.1).
Insisi dapat pula menggunakan gunting dengan menempatkan salah satu rahang
gunting di dalam vulva dan rahang lainnya di luar pada garis tengah perineum ,
hati-hati jangan sampai muskulus sphincter anal teriris. Tepi insisi kemudian dapat
dikuakkan

(retraksi) untuk memberikan exposure (bukaan) (gambar 13.2).

Setelah prosedur bedah yang diindikasikan selesai dilaksanakan, klem (forcep)


dilepaskan, dinding vagina direkonstruksi dengan dua lapis jahitan; jahitan lapis
pertama pada mukosa vagina dengan pola jahitan sederhana terputus
menggunakan benang absorbable (catgut chromic 2-0 atau 3-00) (gambar 13.3);
diikuti dengan pola jahitan sederhana terputus pada kulit dengan benang nonabsorbable 2-0 atau 3-0

prosedur ini berarti kita melakukan episiotomy

(gambar 13.4.). Bila dikehendaki episiostomy yaitu tetap meninggalkan bukaan


vestibulovagina yang telah dilebarkan secara permanen, maka lapisan mukosa
harus dijahitkan pada kulit dengan benang non-absorbable 3-0 atau 4-0 (gambar
13.5). Pada akhir operasi jahitan purse-string diambil dari sekeliling anus.

30

Gambar 13. Tehnik Episiotomy

31

Catatan : episiotomy mediana ini sering/selalu dilaksanakan pada manusia ketika


partus.
Tehnik yang kurang baik dalam menjahit insisi, misalnya penempatan jahitan
yang kurang akurat , tekanan jahitan yang berlebihan (terlalu erat membuat
simpul), atau menggunakan metode jahitan through-and- through, adalah
penyebab utama rasa nyeri dan tidak enak setelah operasi. Celah vulva yang
dilebarkan secara permanen (episiotomy) akan merubah flora vestibula dan
vagina, dan merupakan predisposisi terjadinya infeksi saluran kemih.
TERAPI KONSERVATIF PROLAPSUS VAGINA
Terdapat dua macam prolapsus vagina : prolapsus vagina sebenarnya (true)
dimana seluruh dinding vagina dieversikan, dan hyperplasia lantai vagina
dimana vagina ventral yang edematous dieversikan.
INDIKASI : prolapsus vagina dengan nekrosis yang minimal pada permukaan
mukosa.
TEHNIK BEDAH :
1. Potongan

longitudinal/sagital

pelvis

betina

yang

memperlihatkan

hubungan anatomi (gambar 14.1.).


2. Gambaran diagnosis prolapsus vagina dengan karakteristik DO-NUT
bulatan dengan lubang di tengah (gambar 14. 2). Daerah tersebut dicuci
secara menyeluruh dan tempatkan pasien dengan posisi yang semestinya.
3. Pada beberapa kasus ukuran massa prolapsus dapat diperkecil dengan
manipulasi digital/jari dan beberapa tusukan jarum untuk mengeluarkan
cairan (gambar 14.3). Cara lain yang lebih mudah untuk mengecilkan
massa yang prolapsus adalah menggunakan prinsip osmosis. Cairan yang
ada di dalam sel vagina yang prolapsus biasanya menggembung karena
edema, jadi kalau kita beri bubuk garam atau gula pasir di atas massa yang
prolapsus itu, akan mengakibatkan keluarnya air dari dalam sel melaruti

32

garam atau gula pasir tersebut, sehingga ukuran prolapsus mengkerut


menjadi lebih kecil.
4. Gambar 14. 4, memperlihatkan es batu pada napan (baki) dan tampon
yang dapat digunakan sebagau kompress dingin.
5. Kompress dingin diberikan dengan tekanan yang kuat (gambar 14.5.).
6. Masukkan massa prolapsus yang telah mengecil ke dalam rongga pelvis
dengan manipulasi digital.

Gambar 14. Terapi Konservatif Prolapsus Vagina

33

Catatan : Terapi konservatif harus dicoba

sebelum melakukan metode

pembedahan yang lebih drastis (episiotomy/amputasi prolapsus) asalkan hanya


terdapat sedikit trauma atau gangren. Seperti pada prolapsus lainnya,
penyebabnya harus dikoreksi sebelum hasilnya dapat memuaskan.
AMPUTASI (RESEKSI) PROLAPSUS VAGINA
Indikasi : Prolapsus dengan trauma dan nekrosis selaput mukosa vagina.
Tehnik Bedah :
1. Pasien dipersiapkan untuk prosedur pembedahan dan ditempatkan pada
posisi rebah ventral dengan bagian belakang lebih ditinggikan (gambar
16.2.). Perhatikan potongan sagital/longitudinal hubungan anatomi yang
terkait (gambar 16.1.).

Gambar 15. Skema Amputasi Prolapsus Vagina

2. Dilakukan episiotomy untuk memperoleh jalan masuk daerah pembedahan


yang lebih baik (lihat bab Episiotomy). Pasangkan catheter betina dari
logam atau plastik melalui orificium/meatus urethra dan masuk ke dalam
vesica urinaria (gambar 16.3.).
3. Tempatkan jahitan mattress catgut 2-0 sekeliling bagian prolapsus yang
masih sehat, hati-hati jangan sampai mengenai urethra (gambar 16. 4).

34

4. Potong massa vagina yang prolapsus dengan gunting kira-kira 1 cm dari


garis jahitan (gambar 16.5.)
5. Tutup celah antara lapisan mukosa dengan serosa menggunakan pola
jahitan sederhana terputus dengan benang catgut 3-0 (gambar 16. 6.).
Kembalikan bagian tadi pada rongga pelvis dengan manipulasi digital dan
tutup insisi episiotomy dengan cara yang semestinya.
Catatan :
Tehnik ini serupa dengan prosedur bedah untuk mengkoreksi prolapsus rektum.

Gambar 16. Tehnik Amputasi Prolapsus Vagina

35

HYPERPLASIA MUKOSA VAGINA - RESEKSI SUBMUKOSA VAGINA


Hyperplasia lantai vagina lebih sering terjadi dari pada prolapsus vagina
sebenarnya. Kondisi ini dapat diidentifikasi oleh adanya massa berbentuk bulatan
yang menyembul dari vulva tapi di bagian tengahnya tidak terdapat lubang seperti
pada prolapsus vagina.
TEHNIK PEMBEDAHAN
1. Gambar 17 A dan 18.1, menunjukkan diagnosis yang jelas dari massa
yang menyembul menggantung berasal dari lantai vagina tanpa lubang
DO-NUT di tengahnya seperti pada prolapsus vagina.

Gambar 17.A. Gambar skematis Hyperplasia Mukosa Vagina

2. Anestesi, persiapan, dan posisi pembedahan sama seperti pada operasi


prolapsus vagina yang sebenarnya. Anus harus ditutup dengan jahitan
purse-string, catether betina dipasangkan ke dalam buli-buli (vesica
urinaria) untuk menjaga urethra (gambar 18.2.).

36

3. Dilakukan episiotomy untuk memperoleh jalan masuk yang lebih lebar ke


vagina (gambar 18.3.).

Setelah episiotomy massa yang oedematous

seluruhnya harus terexpose.


4. Dengan menggunakan skalpel dibuat insisi berbentuk ellips yang dimulai
dari batas cranial massa (mukosa yang menggembung) sejauh mungkin
yang dapat dicapai pada garis tengahnya (midline) dilanjutkan ke arah
lateral,

kearah bawah mengarah ke garis tengah ventral dari massa

(gambar 17.B.). Insisi harus sedalam mukosa dan kira-kira seluas massa
tersebut. Setelah insisi mukosa harus di pisahkan dari submukosa (gambar
18.4.).

Gambar 17.B. Insisi Mukosa


Vagina berbentuk ellips

5. Karena perdarahan kapiler yang banyak maka lebih baik sebelum insisi
diselesaikan dan sebelum massa diambil (terpotong) insisi ditutup secara
langsung di bagian belakang (commisura dorsal luka) ketika insisi
diteruskan ke arah caudal dengan jahitan sederhana terputus benang
absorbable (catgut 0 atau 00) jarum jahit tajam lengkung untuk menutup
tepi insisi mukosa (gambar 18.5.). Bila jahitan tidak dilakukan saat itu,
selain banyaknya perdarahan kapiler juga tarikan ke arah cranial oleh

37

uterus maupun vagina menjadikan jahitan pertama sulit dilakukan ketika


seluruh massa terpotong.
6. Insisi dilanjutkan ke arah ventral sampai bertemu pada bagian dorsal
orificium urethra. Potong massa dengan menggunakan gunting (gambar
17.C.; 18.5. dan 18.6.).

Perdarahan dikontrol dengan hemostat (arteri

klem) dan atau penekanan dengan tampon.


Gambar 17.C. Insisi Mukosa Vagina di
perdalam ke arah ventral

7. Lanjutkan penjahitan dengan catgut 0 atau 00 sampai seluruh insisi


tertutup dan dibiarkan masuk menempati posisi normalnya (gambar 17.D
dan 18.7).

38

Gambar 17.D. Penjahitan Mukosa


Vagina

8. Catheter dapat diambil secara hati-hati jangan sampai melukai urethra.


9. Penjahitan insisi episiotomy mengakhiri operasi ini dan jangan lupa
melepas jahitan purse-string sekeliling anus (gambar 17.E. dan 18.8.).

Gambar 17. E. Penjahitan Insisi


Episiotomy

39

Catatan :
Prosedur ini sebenarnya suatu amputasi bagian hipertrofi pada cara mengeksisi
neoplasma; lengkap dengan insisi bentuk ellips dan pembuangan (pemotongan)
massa secara preparasi tajam (sharp dissection). Perdarahn sulit untuk dikontrol
(dikendalikan), bahkan dengan hemostat, ligasi dan kompresi sekalipun dan inilah
satu-satunya faktor yang menjadikan operasi ini sulit.

Gambar 18. Tehnik Reseksi Submukosa Vagina

40

PHIMOSIS
Definisi : penis tidak dapat dikeluarkan melalui orificium (ring/cincin/lubang)
preputium yang lebih kecil/sempit dari normal.
Phimosis dapat karena kongenital atau perolehan (acquired). Phimosis
perolehan dapat disebabkan oleh : inflamasi (keradangan), edema, neoplasia, dan
kontriksi sikatriks (parut luka) setelah kesembuhan luka. Kondisi primer ini harus
dikoreksi : inflamasi diobati dengan cara yang semestinya; neoplasia dieksisi.
Walaupun dianjurkan untuk mengkontrol infeksi sebelum pembedahan, eksisi
kecil bagian dorsal preputium akan memberikan perbaikan segera.

Daerah

preputium direseksi untuk mengkoreksi secara permanen striktura preputium.


Koreksi bedah phimosis
Setelah diinduksi anestesia umum, kulit dipersiapkan untuk prosedur
pembedahan dan rongga preputium diirigasi dengan larutan antiseptik ringan.
Eksisi triangular (segitiga) dibuat dengan apex (puncak) segitiga terletak di bagian
caudal dan dasar segitiga sepanjang batas orifisium preputium. Lebarnya dasar
dan tingginya apex tergantung besar/ukuran hewan, derajad stenosis, dan jarak
penis dari orifisium preputialis. Sebanyak mungkin jaringan harus dibuang tetapi
harus dipastikan bahwa penis akan tetap tertutupi oleh preputium. Eksisi dapat
dibuat baik pada permukaan dorsal atau ventral. Eksisi ventral hanya dibuat bila
terdapat kulit berlebih dan eksisi segitiga dapat mempunyai dasar yang luas,
membuang sebagian besar preputium bagian cranial. Bila penis terletak dekat
orifisium, lebih baik dieksisi bagian dorsal, dan dasar segitiganya akan lebih
sempit.

Perdarahan pembuluh darah harus diligasi, dan luka dijahit dengan

mengaposisikan mukosa preputium (lapisan parietal) pada kulit yang berdekatan


dengan jahitan sederhana terputus menggunakan benang silk atau nylon (non
absorbable). Metode bedah standar untuk mengkoreksi phimosis yang kita pilih

41

lebih baik menggunakan tehnik pembedahan untuk paraphimosis yang akan


dijelaskan lebih lanjut.
PARAPHIMOSIS

Definisi :

bila penis protusio dari preputium dan tidak dapat ditarik masuk
kembali ke dalam preputium.

Hal ini biasanya berkaitan dengan phimosis. Hewan ini biasanya mempunyai
orifisium preputium lebih kecil dari normal. Pada saat akan kawin, penis dapat
diprotusiokan dalam keadaan semi ereksi tanpa kesulitan, tetapi karena lubang
preputium lebih kecil dari normal maka setelah ereksi penuh tidak dapat
(kesulitan) ditarik masuk kembali ke dalam preputium. Paraphimosis dapat juga
terjadi bila penis secara normal dapat ditarik kembali tetapi bulu sepanjang penis
(kulit preputium inversi) ikut masuk ke dalam orifisium preputium menghalangi
retraksi keseluruhannya.

Bila glans penis di luar preputium dan terkontriksi

preputium yang teretraksi hal ini terjadi di belakang bulbus glandis yang tetap
ereksi akan menjadi kongesti dan pucat (gambar 19.A). Cincin (ring/lubang)
preputium menjadi bengkak dan mengkontriksi lebih erat, dan dalam waktu yang
lebih lama bila kondisi ini menetap, akan terjadi kontriksi yang lebih erat sampai
glans menjadi nekrotik dan urethra terobstruksi.
Terapi :
1. Reposisi manual paraphimosis :
Bulu preputium sekitar orifisium dibuang (dicukur), penis diperiksa
terhadap adanya luka dan fraktur os penis. Penis dan preputium dibersihkan
dengan dicuci menggunakan antiseptika ringan dan diirigasi dengan larutan saline.
Kongesti dan edema dapat dikurangi dengan menggunakan handuk yang dibasahi
dengan larutan saline dingin yang ditempelkan dengan sedikit tekanan secara terus

42

menerus. Lubricant (pelumas) diberikan pada permukaan penis dan di bawah ring
(cincin) preputium yang kontriksi. Penis didorong ke belakang dan pada waktu
yang bersamaan preputium ditarik ke depan. Bila tindakan ini gagal, biasanya
bila kondisi telah persisten selama lebih dari beberapa jam maka preputium harus
diinsisi.
2. Koreksi bedah paraphimosis (lihat gambar 19) :
A.

Tepi cranial preputium tersangkut di caudal bulbus glandis. Dibuat insisi


longitudinal pada preputium ventral melalui kulit, jaringan subkutan dan
lapisan parietal (mukosa). Ini akan membebaskan penis yang terkontriksi
dan masuk kembali ke dalam preputium.

B.

Kulit dijahit pada lapisan parietal di sepanjang tepi preputium.

C.

Jahitan ditempatkan sedemikian rupa sehingga kulit dan lapisan parietal


bertemu (aposisi).

D.

Perlebaran lubang preputium yang permanen menjadikan penis dapat masuk


dan keluar secara bebas.

Bila penis telah nekrosis atau terjadi kerusakan permanen pada urethra, maka
penis harus diamputasi.
Priapisme : penis ereksi secara persisten tanpa kegiatan seksual.
Hal ini patologik, dan penis yang protusio (menjulur keluar preputium)
dapat menjadi kering dan kongesti. Perbedaannya dengan paraphimosis adalah
penis dapat segera dikembalikan masuk preputium secara manual karena orifisium
preputiumnya normal.
Penyebabnya adalah lesi (kerusakan) pada spinal cord yang kadangkadang disertai dengan konstipasi atau infeksi saluran urogenital.
Terapi harus ditujukan menghilangkan causa primernya; beberap kasus
terjadi kesembuhan secara spontan (dengan sendirinya). Penis harus dicuci dan
dibersihkan dengan larutan saline dan disalep untuk memacu aliran darah dan

43

mencegah terbentuknya thrombus. Bila telah terjadi kerusakan (nekrosis/gangren)


maka penis harus diamputasi sebagian.

Gambar 19. Koreksi Bedah Paraphimosis

44

CYSTOTOMY dan CYSTECTOMY

Definisi :
Cystotomy

: adalah prosedur bedah dengan melakukan insisi untuk membuka


vesica urinaria.

Cystectomy : adalah prosedur bedah dengan melakukan eksisi sebagian vesica


urinaria.
Indikasi

: Indikasi yang paling umum untuk cystotomy pada hewan kecil


adalah kalkuli sistik (cystic calculi, cystic lithiasis, calculi
vesica-urinaria, batu buli-buli, batu kandung kemih).
Indikasi lainnya adalah neoplasma, divertikulum, ruptura
traumatika, cystitis haemorrhagica unresponsive.

Cystic calculi dapat diklasifikasikan oleh komposisi mineralnya sebagai


primer atau sekunder. Calculi primer biasanya terbentuk dalam urine asam tanpa
adanya infeksi. Calculi primer yaitu calculi cystein, urat dan oksalat. Calculi
sekunder biasanya terbentuk dalam urine basa (alkalis) karena adanya infeksi.
Calculi sekunder yaitu calculi phosphat dan calculi campuran.
Diagnosis :
Gejala

klinik kalkuli sistik adalah peningkatan frekuensi

berkemih

(urinasi), hematuria, dan stranguria, kadang-kadang berlanjut pada obstruksi


urethra kompleta (sempurna) bila tidak ada urine yang dikeluarkan.

Pada

pemeriksaan fisik, calculi dapat dipalpasi dalam buli-buli (vesica-urinaria) atau


urethra, dan dimungkinkan melalui rectum.
dengan pemeriksaan radiografi.

Diagnosis harus dikonfirmasikan

Calculi (batu) phosphat dan oksalat adalah

kalkuli yang paling radiopaque. Calculi cysteine kurang radiopaque, sedangkan


calculi urat dapat radiopaque atau radiolucent.

Oleh karena itu mungkin

diperlukan contrast cystography untuk meneguhkan (mengkonfirmasikan)


diagnosis. Radigrafi juga dapat menunjukkan adanya penebalan dinding vesicaurinaria.

45

Anamnesa yang baik, gejala klinik, dan contrast cystography perlu untuk
membedakan dari neoplasia, cystitis khronik, atau diverticulum pada vesicaurinaria.
Sebelum cystotomy dilaksanakan, sampel darah harus dikirim ke
laboratorium pemeriksaan darah lengkap dan penentuan nilai BUN (Blood Urea
Nitrogen).
Tehnik Operasi :
Setelah diinduksi dengan anestesi umum, harus dilakukan pemberian infus
cairan secara intravena. Pada anjing jantan, dan kadang-kala pada betina, harus
dilakukan

catheterisasi

untuk

memeriksa

adanya

obstruksi

urethra,

mengosongkan urin dalam vesica urinaria untuk menghindari kontaminasi rongga


abdomen (peritoneum) oleh urin ketika vesica urinaria dibuka.

Kebanyakan

sumbatan terjadi baik di proksimal os penis atau pada archus ischiadicus.

Bila

terdapat obstruksi sempurna (completa) atau parsial, diusahakan untuk


membebaskan (mengeluarkan) calculi dengan flushing (irigasi) larutan saline (PZ,
NaCl fisiologis) melalui catheter, sementara itu dengan hati-hati dilakukan
penekanan di sekeliling catheter dan ujung penis pada orificium urethra externa.
Bila tekanan menjadi terlalu kuat di dalam urethra, tekanan pada orificium urethra
externa harus diturunkan.

Flushing tersebut akan mendilatasi dan melumasi

(melicinkan) urethra di atas obstruksi. Obstruksi akan terdorong masuk ke vesicaurinaria atau keluar dari penis ketika catheter dicabut. Dengan metode flushing
ini, urethro(s)tomy dapat dihindari, dan calculi diambil dengan cara insisi
cystotomy.

Bila obstruksi tidak dapat dihilangkan maka harus dilakukan

urethro(s)tomy.
Dilakukan pemasangan catheter steril yang diberi pelicin, dan semua urine
harus dibuang. Hewan diletakkan pada posisi rebah dorsal, dicukur (clipping),
dan daerah pembedahan dipersiapkan secara aseptik. Handuk dan drape besar
harus digunakan untuk menutupi hewan.
Pada hewan betina, dilakukan insisi kulit garis tengah abdomen posterior
(lihat gambar 20.A.). Pada jantan dibuat insisi garis tengah dan ketika sampai

46

ujung preputium (penis) sedikit belok ke lateral preputium (lihat gambar 20.B.
dan 20. C., dan bab laparotomy garis tengah pada anjing jantan). Dengan hati-hati
dilakukan ligasi(pengikatan) dan pemotongan pembuluh darah epigastrica
superficialis caudalisdan menginsisi cukup jauh ke lateral untuk menghindari
terinsisinya preputium. Selanjutnya preputium dapat direfleksikan (disingkapkan)
dan insisi garis tengah dilanjutkan melalui linea alba.

Gambar 20. A.

Daerah Insisi Kulit Garis Tengah Abdomen Posterior pada Betina

B/C. Daerah Insisi Kulit Garis Tengah Abdomen Posterior pada jantan

Setelah abdomen dibuka, vesica urinaria dipegang dengan tampon basah


dan diangkat ke lubang insisi abdomen. Ketika vesica urinaria telah dikeluarkan,
dilakukan jahitran sementara (stay suture) menggunakan benang catgut chromic
2-0 atau 3-0 pada apex vesica urinaria untuk mencegah tertarik masuk ke dalam
rongga abdomen. Vesica urinaria diisolasi dengan sekelilingnya diberi handuk
halus (drap) basah yang steril (packing off) untuk mencegah kontaminasi. Dengan
menggunakan stay suture, vesica-urinaria direfleksikan (disingkapkan) ke arah

47

posterior sehingga dapat dibuat insisi pada permukaan dorsal vesica urinaria
(lihat gambar 21 .A.).

Sebelum pembedahan dimulai, vesica-urinaria harus

diperiksa secara menyeluruh.

Gambar 21. A.

Tehnik Operasi Cystotomy (Insisi pada Permukaan Dorsal Vesica


Urinaria)

Bila terdapat luka-luka (lesi-lesi) vesica-urinaria tetapi tidak ruptura dapat


dilakukan satu atau lebih jahitan untuk menginversi daerah lesi. Bila mukosanya
menonjol (protusio) melalui lapisan muskuler vesica-urinaria, ini dapat ditekan
masuk ke dalam luka dan lapisan muskuler dan serosa dijahit dengan jahitan
inverting. Bila terdapat protusio mukosa vesica-urinaria yang berlebih-lebihan
ini mungkin perlu membuang (mengeksisi) bagian tersebut sebelum menutup
luka. Bila area yang mengalami trauma (ruda paksa) menjadi nekrotik, mungkin
dibutuhkan untuk membuang sebagian dinding vesica urinaria. Sebuah insisi
dengan ukuran yang sesuai dibuat ke dalam lumen vesica urinaria. Panjang insisi

48

tergantung ukuran calculi atau neoplasma yang akan diambil, atau area dinding
vesica urinaria yang akan direseksi.
Pertama-tama dibuat insisi kecil pada daerah non vaskuler, sedapat
mungkin pada pertengahan vesica-urinaria (gambar 21.A.), sisa urine dibuang
dengan aspirasi alat suntik (spuit) atau dengan alat penghisap (suction), guna
menghindari kontaminasi urin pada rongga abdomen.

Insisi vesica urinaria

diperlebar dengan hati-hati untuk menghindari ureter (Gambar 21.B.). Tepi insisi
dapat diretraksi (dikuakkan) dengan forceps Babcock guna mendapatkan ruang
yang lebih luas untuk manipulasi dan juga akan membantu immobilsasi (fiksasi)
vesica urinaria. Calculi dapat dikeluarkan dari vesica urinaria dengan sendok
(curet) atau satu persatu dikeluarkan dengan dijepit forceps, dan diambil sampel
direct swab pada vesica urinaria untuk culture (biakkan). Calculi dismpan untuk
dianalisis. Mukosa vesica urinaria diperiksa terhadapnya adanya tumor, ulcera
atau kelainan lainnya, dan bila ada harus dieksisi.

Gambar 21B. Tehnik Operasi Cystotomy (pelebaran insisi pada vesica urinaria
sampai ditemukan calculi)

49

Selanjutnya vesica urinaria dieksplorasi dengan jari untuk mendeteksi


dan mengambil batu-batu yang masih tersisa; dengan hati-hati orificium urethra
interna dicari.
Sebuah catheter steril dilewatkan dari vesica urinaria ke urethra dan
dilakukan flushing menggunakan larutan saline steril untuk memastikan bahwa
tidak terdapat calculi di dalam urethra. Pada jantan yang biasnya terdapat calculi
pada urethra, perlu untuk melewatkan catheter steril melalui penis agar supaya
calculi ikut terhanyut (flush out) ( gambar 21.C.). Dibutuhkan beberapa kali
flushing dari vesica-urinaria, penis atau papilla urethra pada vagina.

Gambar 21 C. Tehnik Operasi Cystotomy (pemasangan catether pada vesica


urinaria untuk prosedur flushing)

Sebelum vesica urinaria ditutup dengan jahitan, perdarahan dikontrol dan


vesica urinaria di flushing dengan larutan saline dingin, kemudian ke dalam vesica
urinaria diinstilasikan larutan antibiotika. Vesica urinaria ditutup dengan 2 lapis
jahitan menerus (continuous) dengan cat gut chromic 2-0 atau 3-0. Jahitan lapis
pertama menggunakan metode cushing dan jahitan lapis kedua dengan metode
lambert (gambar 21.D.), ujung jahitan disimpulkan pada ujung bebas jahitan lapis

50

pertama.

Jahitan hrus dilakukan secara hati-hati sehingga benang jahit tidak

menembus (penetrasi) mukosa vesica-urinaria karena dapat bertindak sebagai


nidus untuk pembentukan calculi di masa yang akan datang.

Gambar 21D. Tehnik Penutupan/penjahitan Vesica Urinaria


A.

Pola jahitan Cushing

B/C.

Pola jahitan Lambert

Terdapat beberapa metode lainnya untuk menjahit insisi vesica urinaria,


antara lain adalah :
1.

lapisan mukosa dijahit dengan jahitan sederhana terputus dengan catgut


chromiuc 3-0 dengan simpul di dalam lumen vesica urinaria (jahitan lapis
pertama); lapisan serosa dan muskularis ditutup dengan jahitan menerus
(continuous) menggunakan metode jahitan Lambert atau Cushing (jahitan
lapis kedua).

2.

Lapisan mukosa dan sebagian muskularis dijahit dengan cutgut 3-0 jarum
lengkung atraumatik dengan pola jahitan terputus atau menerus (jahitan

51

lapis pertama).

Jahitan lapis kedua pada serosa dan sebagian kecil

muskularis (gambar 22. A.).

Gambar 22.A. Metode Alternatif Penjahitan Vesica Urinaria


3.

Lapisan mukosa ditutup dengan jahitan mattress menerus sehingga tepi


mukosa eversi menjauhi lumen vesica-urinaria (jahitan lapis pertama). Hal
ini untuk menghindari tepi mukosa menonjol (protusio) ke dalam lumen
vesica urinaria, yang dapat bertindak sebagai focus pembentukan calculi
selanjutnya . Jahitan lapis ke-dua pada serosa dan muskulus detrusor vesica
urinaria dengan benang catgut chromic 2-0 atau 3-0 pola jahitan sederhana
terputus (gambar 22.B.).

Gambar 22.B. Metode Alternatif Penjahitan Vesica Urinaria

52

4.

Jahitan lapis pertama menggunakan benang catgut chromic 4-0 dengan pola
jahitan sederhana terputus melalui tiga lapisan muskuler dinding vesicaurinaria dan lapisan submukosa (tidak boleh sampai menembus mukosa).
Karena adanya benang jahit di dalam lumen vesica-urinaria merupakan
nidus untuk pembentukan calculi selanjutnya. Jahitan lapis kedua dengan
benang catgut chromic digunakan untuk mengaposisikan jaringan serosa,
dengan pola jahitan terputus atau menerus (gambar 22.C.).

Gambar 22.C. Metode Alternatif Penjahitan Vesica Urinaria

Jahitan sementara (stay suture) diambil dan vesica-urinaria dikembalikan


dalam rongga abdomen pada posisi normal. Drap sekeliling (packing off) diambil
dan rongga abdomen diirigasi (flushing)

dengan larutan hangat Saline atau

Lactate Ringers.
Linea alba ditutup dengan jahitan sederhana terputus (simple interrupted)
dengan benang catgut chromic 2-0 atau 3-0 atau benang logam anti karat
(stainless-steel suture). Jaringan subkutan ditutup dengan benang catgut chromic
2-0 pola jahitan menerus (continuous). Pada jantan, harus hati-hati menjahitkan
preputium pada fascia otot yang terletak di bawahnya. Kulit ditutup dengan pola
jahitan terputus menggunakan benang non-absorbable.

53

Perawatan Post Operatif


Karena treatment calculi hanya dimulai dengan membuangnya dari vesicaurinaria, maka terapi jangka panjang diperlukan untuk mencegah kambuh
kembali. Semua calculi harus dianalisis. Dilakukan biakan (culture) dan test
sensivitas pada bahan yang diperoleh dari swabs vesica-urinaria.
Antibiotika tr. Urinaria yang sesuai harus diberikan dan jahitan kulit
dibuka 10-14 hari post-operasi. Pada saat ini hasil analisis calculi, culture, dan
test sensitivitas dapat digunakan untuk menuliskan resep (menetapkan) terapi
jangka panjang.
Calculi phosphat adalah calculi yang paling sering dijumpai pada hewan
kecil. Karena biasanya dikaitkan dengan infeksi dan urin alkalis, maka tujuan
terapi adalah mengkontrol infeksi dan mengasamkan urin.
Antibiotika tr. Urinaria yang spesifik harus diberikan minimum 3 minggu
post operasi. Hasil yang baik adalah menggunakan sulfasoxisol (20 mg/lb berat
badan

peroral),

chloramphenicol

(25-50

mg/lb

berat

badan

peroral),

nitrofurantoin (2 mg/lb berat badan peroral), kanamycin (2,5 mg/lb berat badan
diberikan secara subkutan atau intramuskuler), gentamycin (2 mg/lb berat badan
subkutan atau intramuskuler), ampicillin (30-60 mg/kg berat badan per hari,
peroral). Urinalisis dan culture harus diperoleh pada interval 3 minggu untuk
menentukan respon pada terapi.

Antibiotika harus digunakan dalam periode

jangka panjang bila terdapat infeksi yang resisten.


Urin dapat diasamkan dengan pemberian setiap hari dengan ammonium
chloride (0,3 1,3 gram untuk jangka waktu pendek), methionin (0,5 1 gram),
atau vitamin C (250 mg per 15 30 lb berat badan). Ketika infeksi telah
terkontrol maka biasanya pH urin kembali normal, walaupun demikian tetap harus
terus ditambahi pengasam (acidifiers). Kertas pH dapat digunakan oleh client
(pemilik hewan) dalam memeriksa urin sehingga pengobatan medik dapat diatur
untuk mendapatkan kurang lebih pH 6.

54

Sodium chloride harus ditambahkan pada dietnya untuk menginduksi


polyuria dan polydipsia. Juga didorong untuk sering berkemih. Makanan yang
mengakibatkan pembentukan urin alkalis harus dihindari.
Cystinuria adalah gangguan metabolik dimana kadar tinggi asam amino
cystine diekskresikan dalam urin. Mekanisme pembentukan batu yang pasti tidak
diketahui, tetapi terdapat adanya kecepatan tinggi kambuh kembali tanpa
dilakukan terapi. Terapi dengan sodium bicarbonate untuk mengalkaliskan urin
di atas pH 7,5 dan diet rendah protein hewan harus dicoba pada hewan yang
menderita serangan pertama dengan calculi cystine.

Bila calculi ini kambuh

kembali, D-penicillamine (cuprimin) dapat digunakan dengan keberhasilan yang


tinggi; 15 mg/lb berat badan perhari dalam dosis terbagi selama hidup hewan.
Tetapi, obat ini selain mahal juga toksik. Obat ini sering menyebabkan vomit
yang dapat dicegah dengan pemberiannya sebelum makan dan dimulai dengan
dosis minimum perhari dan secara perlahan ditingkatkan sampai mencapai dosis
total perhari selama 3-4 minggu. Garam harus diberikan untuk menginduksi
polydipsia dan polyuria, dan juga diberikan pyridoxine, karena D-penicillamine
meningkatkan kebutuhan untuk vitamin ini pada manusia.
Calculi urat terjadi terutama pada anjing jenis Dalmatian yang
merupakan gangguan

metabolik heriditer yang memberikan asam urat kadar

tinggi diekskresikan dalam urin. Ion ammonium dan hidrogen juga berperan
dalam pembentukan batu urat. Allopurinol merupakan obat yang paling berhasil
untuk mengkontrol pembentukan batu ini.

Dosis perhari yang dianjurkan

bervariasi, tetapi rat-rata 5-10 mg/kg berat badan digunakan untuk jangka waktu
tidak terbatas. Harus diberi pakan diet rendah purine, terutama rendah daging
tetapi tinggi sayuran. Tidak ada rekomendasi yang spesifik untuk pengobatan
calculi oxalat.

55

URETHROTOMY dan URETHROSTOMY

Obstruksi urethra pada anjing jantan dapat disebabkan oleh berbagai


sebab, tetapi penyebab yang paling sering adalah batu urethra (calculi urethra,
urethra lithiasis). Penyebab lainnya adalah striktura (penyempitan) akibat dari
kerusakan traumatik, prosedur pembedahan yang pernah dilakukan sebelumnya,
keradangan, dan neoplasma yang dapat menyebabkan obstruksi parsial sampai
obstruksi total (completa) pada ujung urethra.

Tetapi hal tersebut biasanya

sebagai problem yang ringan dibandingkan dengan kesulitan-kesulitan yang


disebabkan oleh calculi urethra.

Pengobatan yang utama ditujukan untuk

pembuangan calculi tersebut. Terapi post opersi harus diberikan untuk mencegah
pembentukan calculi selanjutnya (lihat bab cystotomy).
Bila telah didiagnosa obstruksi urethra, dan penyebabnya telah ditentukan,
maka harus dibuat keputusan metode apakah yang paling baik untuk
menanganinya.
Calculi urethra berasal dari vesica urinaria yang biasanya kecil-kecil dan
berjumlah banyak.

Pada sebagian besar kasus, gejala klinik baru menjadi

nyata/jelas bila calculi tersangkut pada urethra pada bagian ujung caudal os penis
atau di daerah perineum pada level archus ischiadicus, yang menyebabkan
obstruksi parsial atau total/kompleta aliran urin.
Gejala klinik yang ditimbulkan adalah anuria atau dysuria, tenesmus,
distensi abdomen, palpasi abdomen menunjukkan adanya distensi kandung kemih
yang sangat keras, dan pada kasus lanjut dapat terjadi uremia. Usaha untuk
memasukkan catether biasanya tidak berhasil karena catether berhenti pada ujung
caudal os penis (obstruksi bawah) atau archus ischiadiscus (obstruksi atas)
tempat calculi tersangkut. Penggunaan sonde logam yang dimasukkan ke urethra
akan bertemu dengan kebuntuan pada daerah obstruksi dan memberikan kesan
sangat jelas dari logam yang bertemu batu.
Urethra pada semua spesies hewan jantan mempunyai perubahan yang
tajam pada archus ischiadicus. Urethra muncul dari dasar pelvis bagian posterior

56

dan berlanjut menuju ke arah bawah dinding abdomen. Pada archus ischiadicus,
urethra terletak di dalam muskulus ischio-cavernosus dan bulbo-cavernosus.
Kombinasi

perubahan

arah

bersama-sama

dengan

dukungan

muskulus

menjadikan predisposisi archus ischiadicus sebagai tempat untuk obstruksi oleh


calculi kecil yang dihanyutkan dari vesica urinaria. Pada anjing jantan, bagian
ujung urethra berjalan di bawah alur longitudinal pada os penis, dan pada bagian
inilah yang paling umum terjadi obstruksi urethra. Urethra pada arcus ischiadicus
relatif tertanam sangat dalam pada jaringan, sebaliknya di belakang/bawah/ujung
os penis urethra terletak sangat superficialis (gambar 23).

Gambar 23. Skema Tempat Predileksi Calculi pada Saluran perkemihan Hewan
Jantan

Terapi obstruksi urethra


Bila terdapat calculi, diusahakan sesegera mungkin untuk menghilangkan
obstruksi, karena bila terlalu lama akan mengakibatkan uremia dan berakhir
dengan kematian. Pada semua kasus urolithiasis, urin harus dibiakkan (culture)
dan dilakukan test sensitivitas antibakterial.

Obat relaxant otot polos atau

57

spasmolitik (antispasmodik) dapat memberikan relaksasi yang cukup supaya batu


dapat dikeluarkan. Mungkin dapat pula dicoba dengan menggunakan forceps
alligator yang dimasukkan ke dalam urethra untuk memegang dan mengeluarkan
calculi, atau batu dipecah terlebih dahulu baru dikeluarkan. Dapat pula dicoba
dengan memasukkan catether kecil untuk melewati calculi atau untuk mendorong
calculi secara retrograde flushing masuk kembali ke dalam kandung kemih untuk
selanjutnya dilakukan cystotomy untuk mengambil calculi.
Dianjurkan dilakukan terapi dengan (uro) hydropropulsion dengan
prinsip : mengembungkan dan medilatasi urethra oleh tekanan cairan sehingga
batu dapat tertarik keluar urethra atau terdorong masuk ke dalam vesica urinaria
(gambar 24). Cara hydropropulsion adalah memasukkan catether atau kanula
puting susu (teat canula) yang diberi pelumas ke dalam lubang urethra, dan
urethra pada bagian archus ischiadicus dibuntu dengan penekanan jari atau jari
telunjuk asisten operator dimasukkan rectal untuk membuntu urethra dengan
penekanan. Akibatnya terdapat suatu sistem tertutup pada bagian urethra yang
terobstruksi batu.

Kemudian disemprotkan

saline (garam fisiologis) melalui

catether/teat canula pada bagian distal urethra ditekan untuk menggembungkan/


mendistensikan urethra. Pelepasan tekanan secara mendadak diharapkan dapat
mendorong calculi bersamaan dengan pelepasan tekanan. Bila telah terjadi aliran
urin, kateter dapat tetap ditinggalkan di tempat sampai gejala uremia hilang.
Bila calculi tidak dapat dikeluarkan secara konservatif tadi, maka calculi
harus dibuang dengan urethrotomy.

Tetapi lebih baik kita menghindari

urethrotomy sedapat mungkin karena komplikasi pembentukan striktura post


operasi.
Istilah terapi konservatif (tanpa operasi) untuk mengeluarkan calculi dari
urethra adalah litholapaxy atau lithotrity.

58

Gambar 24. Membuang batu urethra dengan (uro)hydropropulsion.


Keterangan :
1.

Calculi urethra berasal dari vesica urinaria tersangkut di posterior os penis

2. Dilatasi lumen urethra karena injeksi cairan saline; tekanan jari telunjuk pada
urethra bagian symphisis pelvis dan penis menghasilkan sistem tertutup.
3. Penis dibebaskan dari tekanan secara mendadak dan calculi akan ikut keluar
bersama cairan saline tadi.
4. Jari yang menekan symphysis pelvis (atau di archus ischiadicus) dibebaskan
secara mendadak dan cairan saline steril yang telah diinjeksikan akan
mendorong calculi masuk ke dalam vesica urinaria.

59

Persiapan Operasi
Prosedur urethrotomy biasanya dilakukan setelah lokasi obstruksi
(stenosis) ditentukan. Pencukuran lapangan operasi disesuaikan dengan lokasi
obstruksi. Hemogram, kadar BUN dan creatinine diperiksa untuk menentukan
kondisi uremia. Pasien biasanya diinduksi dengan anestesia umum (general) atau
epidural.
Tehnik Operasi
Tehnik urethrotomy untuk obstruksi bawah atau atas pada prinsipnya
adalah sama.
1. Lihat gambar 25.1. Dua tempat yang paling umum tersangkutnya calculi
diperlihatkan pada gambar 25.1a. dan 25.1b.
2. Hewan diletakkan pada posisi rebah dorsal (dorsal recumbency). Masukkan
catether untuk hewan jantan (diberi pelicin) atau sonde logam sejauh mungkin
sampai bertemu dengan kebuntuan (tempat obstruksi) (gambar 25.2).
3. Dibuat insisi kulit pada garis tengah ventral sepanjang 2-3 cm di preputium di
atas tempat obstruksi, tepat di posterior os penis atau caudal bulbus penis dan
anterior scrotum (obstruksi bawah/urethrotomy prepubic) (gambar 25.3a).
Pangkal penis dijepit di antara ibu jari dan telunjuk tangan kiri operator untuk
memudahkan insisi dan preparasi urethra.

Bila calculi tersangkut di daerah

archus ischiadicus (obstruksi atas), insisi dibuat antara skrotum dan anus
(gambar 25. 3b.).
4. Gunakan pinset tertutup untuk menguakkan (retraksi) insisi atau gunakan jari,
dan preparasi tajam (insisi) dilanjutkan dengan skalpel pada jaringan
subkutan. Muskulus retractor penis yang tipis diidentifikasi, diisolasi dan
dikuakkan ke arah lateral sehingga urethra dapat terlihat dan dapat dikuakkan
ke arah lateral sehingga urethra dapat terlihat dan dapat dipalpasi yang
seluruhnya dikelilingi oleh corpus cavernosus urethra.

Urethra kadang-

kadang sulit diidentifikasi, tetapi bila tidak ada perdarahan pada insisi dan
dilakukan preparasi secara hati-hati pada garis tengah, tidak akan dijumpai
kesulitan yang berarti untuk menemukan urethra. Palpasi catether atau batu

60

akan membantu preparasi (dissection). Setelah identifikasi urethra ditentukan,


dibuat insisi sepanjang 1-2 cm (gambar 25.4.).
5. Calculi diambil dengan pinset (forceps), gunakan catether untuk membantu
mengeluarkan lainnya di bagian distal insisi (gambar 25.5.).
6. Gunakan sonde pada bagian proksimal urethra dan keluarkan calculi lainnya
yang terdapat di sana (gambar 25.6.)
7.

Lanjutkan melewatkan catether untuk mengetahui apakah urethra masih


buntu atau tidak. Selanjutnya urethra di cuci dengan larutan saline. Insisi
tidak dijahit, tetapi dibiarkan tetap terbuka sampai sembuh dengan granulasi
(gambar 25.7.).
Post operasi, catether dapat dipasang selama 1-2 hari, tetapi ini biasanya tidak

diperlukan dan juga menimbulkan rasa tidak enak pada pasien. Daerah insisi dan
sekitarnya dibersihkan setiap hari dengan sabun dan air untuk menghilangkan
penimbunan (akumulasi) urin dan eksudat. Setelah dikeringkan dengan handuk,
pada kulit diberi salep (petrolatum) untuk mencegah kerusakan karena iritasi urin.
Tindakan ini dihentikan bila hewan telah mulai berkemih (kencing) dengan cara
yang normal.
Pada periode post operasi tak jarang dijumpai adanya perdarahan sporadik.
Hal ini dapat terjadi setiap waktu atau pada akhir berkemih (urinasi).

Keadaan

ini biasanya karena adanya kerusakan ringan pembedahan pada jaringan


cavernosus yang berdarah sebagai respon terhadap stimuli. Keadaan ini akan
berhenti dengan sendirinya (spontan) setelah satu minggu. Bila perdarahannya
berat maka dianjurkan insisi urethrotomy dijahit.
Urethra dapat sembuh sempurna dan memperbaiki diri (restorasi) bila
insisi tetap terbuka; urinasi akan melalui baik lubang urethra maupun orificium
urethra, yang terjadi kira-kira dalam waktu 7-10 hari. Insisi pada urethra dan
kulit dapat ditutup dengan jahitan bila dikehendaki, tetapi stenosis lebih
dimungkinkan terjadi dan oleh karena itu tidak dianjurkan untuk dijahit.

61

Gambar 25. Tehnik Operasi Urethrotomy

62

Metode lainnya memilih menjahit insisi urethrotomy karena adanya


perdarahan yang berlebihan.

Catether dipasang untuk membantu penjahitan.

Corpus spongiosum dan bila mungkin mukosa urethra dijahit dengan catgut
chromic 4-0 jarum lengkung atraumatik. Penjahitan dilakukan dengan hati-hati
untuk mendapatkan aposisi yang baik.

Bila corpus spongiosum telah dijahit

biasanya perdarahan akan berhenti. Kulit dijahit dengan benang non-absorbable


(gambar 26).

Gambar 26 : Urethrotomy prepubic (caudal os penis)


Atas

: urethra diinsisi dan catether dapat terlihat di lumen urethra

Bawah : urethra ditutup dengan jahitan sederhana terputus. Fascia


subcutaneus dan kulit ditutup sebagian.

63

URETHROSTOMY

Urethrostomy adalah pembuatan lubang permanen pada urethra. Pada


anjing jantan terdapat 3 macam urethrostomy yang biasa dilakukan : prepubic,
scrotal dan perineal.

Kita sedapat mungkin menghindari melakukan

urethrostomy atau urethrotomy karena sejumlah komplikasi yang terjadi.


Indikasi :
1. Pengambilan calculi urethra yang tidak dapat diambil dengan flushing
retrograde pada urethra.
2. Striktura lubang uretra akibat dari tindakan urethrotomy sebelumnya atau lesi
traumatik pada urethra.
3.

Pencegahan obstruksi urethra pada anjing yang pembentukan batunya cepat


dan tidak dapat dikontrol dengan pengobatan medik.
Urethrostomy lebih disukai daripada urethrotomy karena pada prosedur

urethrotomy umumnya mengakibatkan striktura pada urethra.


Urethrostomy Prepubic
Prosedur ini dilakukan untuk obstruksi karena calculi urethra, tanpa
memandang lokasi obstruksi, ketika calculi tidak dapat diambil dengan flushing.
Bila obstruksi pada archus ischiadicus, urethrostomy prepubic dapat dilakukan
dan calculi dapat diambil sewaktu flushing melalui insisi dengan menjepitnya
menggunakan forceps alligator.

Urethrostomy perineal dapat menyebabkan

keradangan skrotum karena iritasi urin post-operasi.


Tehnik Pembedahan :
Sama seperti yang telah dijelaskan pada prosedur urethrotomy, setelah
calculi diambil dan urethra diirigasi, mukosa urethra dijahit pada kulit
menggunakan benang non-absorbable 4-0 (nylon) dengan pola jahitan sederhana

64

terputus, melalui tepi mukosa urethra yang terinsisi, corpus cavernosus urethra,
dan kulit (gambar 27). Panjang lubang urethrostomy kira-kira 1,5-2 cm. Satu
jahitan harus ditempatkan di bagian posterior insisi untuk membuat lubang yang
bulat. Ini akan membantu mencegah kulit tumbuh diatas lubang urethrostomy.
Perdarahan dari corpus cavernosum urethra dapat profuse (banyak), tetapi
biasanya dapat dikontrol dengan tekanan menggunakan tampon yang dibasahi
dengan epinephrine dan penjahitan.

Gambar 27. Urethrostomy prepubic. Jahitan melalui tepi mukosa urethra yang
diinsisi, corpus cavernosus urethra, dan kulit.

Urethrostomy Scrotal
Prosedur ini dilakukan pada hewan yang menderita obstruksi urethra
yang disebabkan oleh striktura akibat dari insisi urethrotomy sebelumnya dan
karena traumatik.

Prosedur ini juga berguna untuk hewan yang mengalami

pembentukan batu yang cepat dan kegagalan dalam pengobatan medik. Prosedur
ini akan mencegah dilakukannya urethrotomy berulang karena calculi akan dapat
lewat melalui lubang urethrostomy dan tidak tersangkut di os penis. Keuntungan
urethrostomy scrotal adalah :
1. Urethra lebih superficial pada scrotum dibandingkan bagian lainnya
sehingga operasi lebih muda dikerjakan dari pada urethrotomy

65

2. Urethra pada skrotum sedikit dikelilingi jaringan cavernosus dibanding


bagian lainnya, sehingga perdarahan lebih sedikit.
3. Urethra pada skrotum adalah lebar sehingga batu dapat lewat lebih mudah
Tehnik Pembedahan :
Dilakukan anestesia umum, dan hewan ditempatkan pada posisi rebah
dorsal.

Skrotum dan daerah sekitarnya dicukur dan dipersiapkan untuk

pembedahan. Insisi kulit dibuat ellips sekeliling skrotum (gambar 28.a.). Insisi
harus dilakukan pada bagian lateral untuk memberikan kulit cukup dijahitkan
pada mukosa urethra tanpa tegangan yang berlebihan. Kulit skrotum dibuang dan
dilakukan kastrasi sebagaimana mestinya (gambar 28.B.).

Setelah kastrasi

jaringan ikat di atas urethra diinsisi dan muskulus retractor penis diidentifikasi
dan dikuakkan ke arah lateral (gambar 28.C.). Penguakkan (retraksi) muskulus ini
ke lateral akan menampakkan urethra bagian ventral yang tampak sebagai
jaringan putih mengkilat diantara jaringan cavernosus (gambar 28.D.). Urethra
diinsisi sepanjang 3-4 cm dari bagiannya yang paling ventral ke arah dorsal
sekitar archus ischiadicus (gambar 28.E. dan 28.E.). Mukosa urethra tampak
berwarna merah muda (pink), dan mengkilat. Dua jahitan sementara (stay suture)
ditempatkan pada tepi urethra lateral. Jahitan insisi urethrostomy dimulai pada
insisi urethra posterior untuk menjamin bentuk lubang urethra cukup bulat
(gambar 28. F.). Tepi kulit lateral dijahit pada urethra dengan menggunakan
benang non-absorbable (Nylon) 4-0 atau 5-0 dengan pola jahitan sederhana
terputus (gambar 28.G.). Hanya sebagian kecil saja dari kulit dan mukosa pada
setiap jahitan. Kulit skrotum tidak boleh dieksisi terlalu berlebihan, karena harus
dihindari tarikan (tegangan) jahitan insisi urethrostomy.

66

Gambar 28. Urethrostomy scrotal.


A. insisi kulit. B. pembuangan kulit skrotum dan kastrasi. C. Insisi jaringan ikat
yang terletak di atas urethra. D. Retraksi (penguakan) musculus retractor penis
dan penampakan (exposure) bagian ventral dari urethra. E. Insisi Urethra. E
pemasangan catether. F. urethra. G. jahitan tepi kulit lateral ke urethra. H.
penjahitan telah sempurna (selesai).

67

Urethrostomy Perineal
Prosedur ini dapat dilaksanakan pada anjing, tetapi ini tidak dianjurkan
karena kemungkinan komplikasi post-operasi.
Tehnik Pembedahan
Anestesia umum diberikan, catether dimasukkan sejauh mungkin ke dalam
urethra, hewan ditempatkan pada posisi rebah ventral dengan bagian belakang
ditinggikan. Anus dijahit dengan jahitan purse-string. Daerah perineal dicukur
dan dipersiapkan untuk prosedur pembedahan.
Insisi kulit pada garis tengah sepanjang 2-3 cm di bagian dorsal dari
skrotum (gambar 29.A.). Jaringan subkutan di atas urethra yang terletak sangat
dalam pada garis tengah dikelilingi oleh musculus bulbocavernosus, diinsisi.
Urethra dapat diidentifikasi dengan palpasi pada catether yang telah dipasang
sebelumnya (gambar 29.B.).

Urethra dan jaringan cavernosus sekelilingnya

dikeluarkan melalui insisi dengan hati-hati dipegng dengan Allis forceps atau stay
suture.

Serabut otot bulbocavernosus dipisahkan secara longitudinal diatas

urethra dan urethra diinsisi di atas catether (gambar 29. C. dan 29.D). Jahitan
sederhana terputus dengan benang nylon 4-0 ditempatkan pada mukosa urethra
dan tepi kulit untuk membuat lubang urethra (gambar 29.E.).

68

Gambar 29. Urethrostomy Perineal


A. Insisi kulit (tanda panah), B. posisi ujung catether urethra, C.
isolasi dan immobilisasi penis, D. insisi urethra, E. penjahitan
untuk membuat lubang urethrostomy.

69

Perawatan Post-operatif
Cystotomy

harus

dilakukan

setelah

tindakan

urethrostomy

atau

urethrotomy bila batu telah diflushing masuk ke dalam vesica urinaria atau telah
ada batu sebelumnya. Perawatan semua urethrostomy pada dasarnya adalah sama.
Hewan dipasangai Ellizabeth collar sedikitnya selama 3 hari post operasi supaya
jahitan luka tidak dijilati atau dirusak. Antibiotika tr. Urinaria diberikan selama 710 hari. Dapat diberikan relaxant otot polos misalnya jenotone (amino promazine
fumarate 0,25 mg/lb BB setiap 12 jam) bila hewan menunjukkan gejala nyeri.
Bila terjadi keradangan yang berlebihan dapat diberikan salep antibiotika
cortikosteroid. Selanjutnya diberikan terapi untuk mencegah pembentukan batu
kembali.
Komplikasi
Sejumlah

komplikasi

dapat

terjadi

setelah

urethrotomy

maupun

urethrostomy. Bila prosedur pembedahan kurang benar dilaksanakan, ekstravasasi


urin ke dalam jaringan sekitarnya dan skrotum akan mengakibatkan edema dan
inflamasi. Bila hal ini terjadi, maka harus dipasangi catether selama 3-4 hari.
Biasanya perdarahan akan terjadi sampai 10 hari post operasi. Transquilizer
sistemik dan estrogen sintetik seperti diethylstilbestrol akan membantu untuk
mengkontrol perdarahan post-operasi.
Striktura yang diakibatkan oleh prosedur urethro(s)tomy sebelumnya
selalu merupakan masalah. Bila hal ini terjadi, diindikasikan dilakukan jenis
(metode) urethrostomy lainnya.