Anda di halaman 1dari 11

TUGAS PEDODONSIA 5

Kebiasaan Buruk Menggigit Bibir (Lip Biting)

Disusun Oleh:
1. Apriko Merza
2. Msy. Nurul Qomariah
3. Zara Alviometha Putri
4. Yenni Amalia Bahar
5. Putri Gusti Hakiki
6. Diana Aprilia
7. Mayang Pamudya
8. Regina Desi S.
9. Keitria Twinsananda
10. Tri Susanti
11. Hanny Fatiningtyas

(04111004001)
(04111004002)
(04111004003)
(04111004004)
(04111004005)
(04111004006)
(04111004007)
(04111004008)
(04111004009)
(04101004052)
(04101004078)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014

Kebiasaan Buruk Menggigit Bibir (Lip Biting)


Kebiasaan buruk dapat terjadi pada anak dalam masa pertumbuhan dan
perkembangan. Kebiasaan buruk tersebut antara lain menghisap jari, bernafas
1

melalui mulut, menghisap dan menggigit bibir, memajukan rahang ke depan,


mendorong lidah, atau menggigit kuku. Kebiasaan tersebut lebih dikenal sebagai
oral habit.
Oral habit biasanya bersifat sementara dan hilang dengan sendirinya pada
usia sekitar 3-4 tahun. Oral habit tidak akan menyebabkan masalah yang berarti
pada rongga mulut pada saat itu, karena pada dasarnya tubuh dapat memberikan
respon terhadap rangsangan-rangsangan dari luar semenjak dalam kandungan.
Respon tersebut merupakan pertanda bahwa perkembangan psikologis anak sudah
dimulai, yang terlihat dari tingkah laku spontan atau reaksi berulang. 1,2
Permasalahan akan muncul ketika oral habit tersebut terus berlanjut hingga anak
mulai memasuki usia sekolah dimana kebiasaan ini terus dilakukan karena orang
tua yang kurang memperhatikan anaknya.3
A.

Definisi Mengigit Bibir (Lip Biting)


Lip biting merupakan kebiasaan buruk menggigit bibir yang sering

dilakukan oleh anak-anak baik disadari atau tidak disadari. Lip biting sering
dikaitkan dengan cheek biting, yang merupakan suatu kebiasaan umum.4 Menurut
Fukumitsu (2003), lip biting/lip sucking merupakan pengganti kebiasaan
menghisap jari. Kebiasaan ini juga dapat terjadi dalam bentuk lip wetting. Banyak
orang menggigit atau menjilat bibir mereka ketika mereka gugup atau
berkonsentrasi pada sesuatu. Dalam kebanyakan kasus, tindakan ini tidak
berbahaya. Namun, beberapa orang melakukannya cukup sering sehingga dapat
menyebabkan cedera.4
Sindrom lip biting adalah kebiasaan kronis (jangka panjang) yang dapat
menyebabkan bibir kering, mengelupas dan sakit. Banyak orang dengan masalah
ini bisa melukai bibir mereka tanpa menyadarinya - misalnya, ketika mereka stres
atau cemas.4

Gambar 1. Kedua bibir bawah dan atas digigit oleh edge insisal gigi insisivus
atas dan bawah.5
B.

Epidemiologi
Studi epidemiologi yang dilakukan oleh Shetty SR et al.6 pada 4.590 anak-

anak sekolah bertujuan untuk menemukan prevalensi kebiasaan buruk di


Mangalore dalam kaitannya dengan usia, jenis kelamin dan untuk menemukan
korelasi antara kebiasaan dan status maloklusi. Hasil studi menunjukkan terdapat
6% untuk kasus menggigit

bibir/pipi, 12.7% menggigit kuku dan 9.8 %

menggigit pensil.6
Menurut survei ke-3 National Health and Nutrition Examination
(NHANES), iritasi mekanik dari kebiasaan menggigit bibir dan pipi menempati
urutan

ke-3 dalam menimbulkan penyakit mulut, yaitu sebesar 3,05 % dari

17.235 responden dewasa di Amerika Serikat.

C.

Etiologi Lip Biting


Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan kebiasaan menggigit bibir,
yaitu7:
a)

Kemunduran mental, psikologis, gangguan karakter, sindrom genetik,


dan neuropati sensori kongenital.

b)

Stres.
Cobalah untuk mencari tahu apa yang mungkin membuat anak stres dan
bantu mereka untuk menghadapinya. Dalam hal ini orang tua harus
berperan aktif mencari tahu tentang sebab-sebab kebiasaan menggigit
bibir pada anaknya. Berikan kesempatan anak untuk berbicara mengenai
hal-hal yang mungkin mengkhawatirkan mereka, melakukan kontak
mata, dan aktif mendengarkan.

c)

Variasi atau sebagai pengganti dari kebiasaan mengisap ibu jari atau jari.
Hal ini dilakukan untuk memuaskan insting mengisap si anak karena
mengisap memiliki efek menyenangkan, menenangkan, dan sering
membantu anak untuk bisa tertidur.

d)

Lip biting dalam beberapa kasus merupakan suatu aktivitas kompensasi


yang timbul karena overjet berlebihan sehingga menimbulkan kesulitan
menutup bibir pada saat deglutisi.7

D.

Gambaran Klinis5
Gambaran klinis dari kebiasaan menggigit bibir berupa :

Adanya abrasi pada bibir


Indentasi/ lekukan insisivus pada bibir
Luka pada bibir
Maloklusi klas II Angle divisi I
Stress emosional
Pipi flabby (kendur)

Gambar 2. Bibir atas dari pasien muda ini menunjukkan area putih tidak
beraturan dengan erosi mukosa yang kecil. Pasien mengaku memiliki
kebiasaan lip biting dan lip chewing pada bibir atas dan bibir bawah5
E.

Dampak kebiasaan menggigit bibir (Lip Biting)


Kebiasaan mengisap atau menggigit bibir bawah akan mengakibatkan

hipertonicity otot-otot mentalis. Kebiasaan buruk dapat menjadi faktor utama atau

merupakan faktor yang kedua. Pasien dengan kebiasaan menggigit bibir dapat
menunjukkan hal sebagai berikut8,9:
1.

Bergesernya gigi insisivus maksila ke arah labial.

2.

Kolapsnya gigi insisivus mandibula.

3.

Peningkatan overjet
Kebiasaan

mengisap

atau

menggigit

bibir

bawah

akan

mengakibatkan overjet yang besar, dengan gigi anterior maksila condong


ke labial dan gigi anterior mandibula condong ke lingual.8,10 Overjet, juga
disebut tonggos adalah jarak horizontal antara gigi-gigi insisivus maksila
dan mandibula pada keadaan oklusi, diukur pada ujung insisivus atas.10
Nilai normal dari overjet adalah 2-4 mm.

Gambar 3. Overjet insisal. (a) Hubungan overjet yang ideal (b) Posisi
insisal edge to edge (c) Overjet terbalik10
Pada anak-anak yang memiliki kebiasaan menggigit bibir dengan
overjet yang besar memiliki kesulitan penelanan akibat tidak adanya
anterior lip seal.9 Hal ini disebabkan kondisi bibir atas yang inkompeten,
sehingga anak terbiasa menempatkan bibir bawah di lingual gigi anterior
maksila untuk mendapatkan anterior lip seal.9

Hal itu menyebabkan

muskulus mentalis memanjang untuk menarik bibir bawah ke atas,


sehingga terjadi hiperaktivitas muskulus mentalis.
4. Adanya area kemerahan dan iritasi dibawah vermillion border dan
biasanya terlihat pada bibir bawah.
5. Diastema anterior rahang atas.
6. Crowding gigi anterior rahang bawah.
7. Pendalaman sulkus mentolabialis.
Dampak pada bibir yang digigit diantaranya9:
(1) Vermilion border hipertrofi.
(2) Kemerahan di bagian bawah vermillion border.
(3) Bibir menjadi lembek/lunak.
(4) Kadang terdapat herpes kronis dengan area iritasi dan bibir pecah-pecah.
F. Penatalaksanaan Kebiasaan Menggigit Bibir (Lip Biting)
Singh (2007)8 menjelaskan bahwa ada 3 hal yang harus dipertimbangkan
dalam menentukan penatalaksanaan oral habit yaitu, (1) kondisi emosional anak
di dalam keluarga dan lingkungan sekitar, (2) usia, (3) potensi munculnya
maloklusi akibat kebiasaan tersebut. Hal yang harus diingat bahwa tidak
dianjurkan melakukan intervensi aktif sebelum anak berusia 3 tahun dengan cara
melarang kebiasaan yang dilakukan. Lebih baik dilakukan modifikasi pola hidup
sehari-hari.8 Prosedur menghilangkan oral habit pada anak sangat tergantung pada
pola perilaku dan kebiasaan dengan melibatkan8:
1. Metode Psikologis
Hal pertama yang dipertimbangkan dalam penggunaan metode ini adalah
durasi, frekuensi dan perkembangan osteogenik, sifat herediter dan status
6

kesehatan anak. Metode ini hanya dapat dilakukan jika anak siap secara psikologis
dan ingin menghilangkan oral habitnya. Orangtua sebaiknya bersikap kooperatif
dengan cara mengatur rentang waktu keberhasilan anak dalam menghilangkan
oral habit, tidak mengkritik anak jika oral habit terus berlanjut, dan memberikan
suatu penghargaan kecil jika anak tidak lagi melakukan oral habits tersebut.
2. Metode Ekstra-Oral
Metode ekstra oral seperti memberikan penghargaan kepada anak karena
bisa mengurangi oral habit sehingga membuat anak merasa termotivasi untuk bisa
menghilangkan oral habit secara total, dan orangtua tidak boleh bersikap
perfeksionis kepada anak.
3. Metode Intra-Oral
Metode ini berupa alat ortodontik yang direkomendasikan dan dibuat oleh
dokter gigi kemudian diaplikasikan didalam mulut anak dengan atau tanpa ijin
anak tersebut.8
Manajemen lip biting meliputi :
1. Konseling pasien beserta orangtuanya dan lakukan modifikasi pola hidup
sehari-hari.
2. Terapi miofungsional (mioterapi)
Memanjangkan

bibir

atas

menutupi

insisivus

rahang

atas

dan

menumpangkan bibir bawah dengan tekanan di atas bibir atas.


3. Terapi dengan menggunakan alat tiup.
4. Lip Bumper
Lip bumper adalah busur lepasan yang disisipkan ke dalam tube tambahan
yang dikombinasi dengan kawat orthodonsia berupa klamer adams untuk
retensi pada gigi-gigi molar pertama bawah. Bagian labial anterior dari busur
tersebut mempunyai bumper akrilik yang bertumpu tepat di depan gigi-gigi
7

insisivus rahang bawah. Pengurangan jarak gigit dapat dilakukan dengan


pemasangan piranti orthodonsi lain berupa busur labial di rahang atas. Lip
bumper tidak disolder ke band molar dan dapat dilepas.11
Lip bumper merupakan suatu pilihan yang tepat. Pemakaian lip bumper
dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada pemakainya dan bukan hal mudah
bagi anak-anak untuk menghilangkan kebiasaan buruk tersebut. Maka dari itu,
sekali lagi dikatakan, diperlukan motivasi yang kuat pada penderita dan orang
tuanya. 11

Fungsi dari lip bumper11:


a) Menghilangkan kebiasaan buruk, seperti:

Mengisap atau menggigit bibir bawah

Mengisap ibu jari

b) Untuk melebarkan lengkung gigi baik pada rahang atas ataupun pada
rahang bawah, menambah panjang dan lebar lengkung rahang untuk
mendapatkan ruang bagi gigi-gigi permanen yang erupsi dan mengatasi
gigi-gigi yang berjejal.
c) Menghindarkan tekanan otot bibir dan mengurangi hipertonicity otot
mentalis.
d) Mengurangi overjet.
e) Mempertahankan molar agar tidak bergeser ke mesial.

Cara menggunakan lip bumper yaitu11:


Kedua gigi molar I rahang bawah dipasang molar band, kemudian bagian-

bagian lip bumper dipasang 2-3 mm di anterior gigi insisivus rahang bawah
dan 4-5 mm di lateral gigi posterior/segmen bukal. Lip bumper dicekatkan pada
molar tube yang ada pada molar band untuk mencegah pasien melepasnya dan
kontrol disarankan 1 minggu sekali untuk dilepas dan dibersihkan. Lip bumper
disesuaikan secara berurutan untuk mengembalikan gigi ke posisi yang
diharapkan. Biasanya, setelah 3 bulan kebiasan menggigit/ menghisap bibir
bawah akan hilang.11

Inklinasi labial gigi insisivus rahang bawah dan overjet akan terkoreksi
karena pengurangan tegangan muskulus labialis inferior dan muskulus mentalis
sebagai respon tidak adanya lawan tekanan dari lidah. Gigi molar pertama
rahang bawah akan bergeser tegak lurus karena transmisi tekanan labial pada
molar tubes yang ada pada alat. 11
Setelah penggunaan lip bumper appliance, jarak interkaninus rahang
bawah akan berkurang, lebar intermolar tidak berubah, dan panjang lengkung
akan bertambah. Penurunan jarak interkaninus rahang bawah disebabkan
karena gigi kaninus rahang bawah bergerak ke anterior. Peningkatan panjang
lengkung disebabkan karena proklinasi gigi insisivus rahang bawah dan
pergerakan gigi molar pertama rahang bawah. 11

Gambar 4. Lip bumper appliance

5.

Metal Button
Metal button diaplikasikan
pada permukaan lingual dari gigi
anterior rahang atas. Button harus dipasang tanpa mengganggu kontak
oklusi dan pasien harus menjaga oral hygiene dengan baik. Untuk pasien
yang memiliki kebiasaan menggigit/mengisap bibir yang berat, button
dipasang pada seluruh gigi anterior rahang atas. Tetapi jika menggunakan
alat ini, alat lain seperti oral screen, lingual arches with soldered cribs, dan
lip bumper tidak dapat digunakan.11

Gambar 5. Lingual Button

Daftar Pustaka
1. Barber, K. T. and L. S. Luke. 1982. Pediatric Dentistry: Postgraduate
Dental Handbook. Vol 17. Washington: Gardner. F. A.
10

2. Cameron, A. 1998. Handbook of Pediatric Dentistry. Sydney: Mosby


International Limited
3. Finn, S. B. 2003. Clinical Pedodontics. 4th Ed. Philadelphia: W. B.
Saunders Company, Co
4. Peter A. Reichart, Hans Peter Philipsen. 2000. Oral Pathology. New York:
Thieme
5. Basavaraj Subhashchandra Phulari. 2011. Orthodontics: Principles and
Practice. New Delhi: Jaypee Medical Ltd.
6. SR Shetty. Oral habits in children--a prevalence study. J Calif Dent Assoc
2011; 39, 9: 656-659
7. McDonald, R.E. Avery, D.R. Dentistry For The Child And Adolescent
Fifth Edition. C.V. Mosby Company
8. Singh G. 2007. Textbook of Orthodontics. 2nd Ed. Jaypee Brothers Medical
Puliblisher (P) Ltd.: India. p. 581-2.
9. Rao A. 2008, Principles and Practice of Pedodontics, 2nd edition, Jaypee
Brothers Medical Publishers (P) Ltd, New Delhi, hal. 148.
10. Foster, T.D. Buku Ajar Orthodonsia Edisi III. 1997. Jakarta: EGC.
11. Germe D, Taner TU. 2005. Lower Lip Sucking Habit Treated with a Lip
Bumper Appliance. The Angl Orthodont: 75(6): 1071-6

11