Anda di halaman 1dari 8

1.

Kelumpuhan L M N akibat lesi di motoneuron


Jika motoneuron mengalami gangguan yang membahayakan kehi- dupannya, maka
timbuilah aktivitas yang membangkitkan gerak otot halus. Gerak otot yang sangat halus, yang
dikenal sebagai fibrilasi, tidak dapat dideteksi secara visual. Hanya dengan rekaman alat
elektromiograf, eksistensinya dapat diungkapkan. Gerak otot halus yang dapat dilihat dengan
mata tanpa menggunakan alat, dikenal sebagai fasikulasi. Gejala ini merupakan ungkapan
bahwa motoneuron berada dalam keadaan kurang sehat. Dalam pada itu, motoneuron masih
dapat digalakkan, namun sudah menunjukkan kepekaan yang berlebihan.
Motoneuron-motoneuron berkelompok di kornu anterius dan dapat mengalami gangguan
secara selektif atau terlibat dalam satu lesi bersama dengan bangunan di sekitarnya, sehingga
di dalam klinik dikenal sindrom lesi di kornu anterius, sindrom lesi yang selektif merusak
motoneuron dan jaras kortikospinal, sindrom lesi yang merusak motoneuron dan funikulus
anterolateralis dan sindrom lesi di substansia grisea seritralis.
a. Sindrom lesi di kornu anterius
Penyakit yang disebabkan oieh lesi yang khusus merusak motoneuron, ialah
poliomielitis anterior akut. pada umumnya kelompok motoneuron di segmen-segmen
intumesensia servikalis atau lumbalis merupakan substrat tujuan infeksi viral tipe I
(Brunhilde), tipe II (Lansing) dan tipe III (Leon)
Melalui makanan atau kontak langsung virus tersebut dapat melaku- kan invasi, sehingga
menimbulkan sindrom infeksi umum, yang terdiri atas gejala-gejala demam, lesu, sakit
kepala, berkeringat banyak, anorek- si, sedikit sakit kerongkongan, muntah, diare dan nyeri
otot. Tahap kelumpuhan bermula pada akhir tahap nyeri muskular. Anggota gerak yang
ailanda kelumpuhan LMN adalah ekstremitas, yang pada masa sebelum timbul gejala-gejala
prodromal, paling giat bergerak. Korban poliomielitis anterior akut adalah terutama anakanak.

Di samping proses infeksi, lesi vaskular akibat arteriosklerosis dan sifilis


meningovaskular dapat menduduki kornu anterius. Kelumpuhan LMN yang timbul tidak
berbeda dengan kelumpuhan akibat poliomielitis itu. Tanpa prodromal yang khas bagi
penyakit infeksi, kelumpuhan LMN akibat lesi vaskular itu bermanifestasi secara mendadak,
terutama pada orang-orang kauih tua dan jompo.

b. Sindrom.lesiyang selektif rnerusak motoneuron dan jaras kortikospinal


Karena sebab yang belum diketahui, motoneuron trunkus serebri dan medula spinalis dalam
kombinasi dengan serabut-serabut kortiko- bulbar/kortikospinal dapat berdegenerasi. Beberapa
patogenesis yang mungkin telah dikemukakan, yaitu: (a) poliomielitis yang kronik, (b) penyakit
keturunan, (c) 'slow viral infection1 dan (d) akibat toksin yang berlokasi di substansia grisea
sentralis.
Kerusakan yang sistematik melanda kornu anterius dan jaras kor- tikobulbar/kortikospinal,
menimbulkan kelumpuhan yang disertai tan- da-tanda LMN dan UMN secara berbauran.
Terutama pada tahap dini kombinasi tersebut tampak dengan jelas. Atrofi dan fasikulasi pada
otot-otot tenar, hipotenar dan interosea berkombinasi dengan hipere- fleksi dan adanya refleks
patologik. Tetapi pada tahap lanjut tanda-tanda UMN akan lenyap dan hanya tanda-tanda LMN
saja yang tertinggal. Di batarig otak. inti-inti saraf otak motorik terkpna proses degeneratif itu
juga, sehingga lidah dan otot-otot penelan lumpuh secara bilateral. Atrofi dan fasikulasi tampak
pada lidah dengan jelas. Namun demikian refleks maseter dapat meninggi dan 'forced crying dan
'forced laughing' dapat disaksikan. Di Amerika Serikat sindrom terlukis di atas dinamakan
'amyotrophic lateral sclerosis', tetapi kalangan Inggris menyebutnya 'motoneurone disease

c. Sindrom lesi tunggal di pusat substansia grisea


Lesi tunggal, yang berupa lubang di pusat substansia griseasentralis, sekali-sekali dapat
dijumpai. Itulah yang dinamakan siringomielia (gam- bar 23). Lubang itu dapat terjadi karena
suatu gangguan pada waktu kanalis sentralis dibentuk; atau karena terjadi penyusupan

spongioblas di kanalis sentralis pada tahap embricnal; atau karena terjadi perdarahan pada tahap
embrional. Pada mulanya lubang itu tentu kecil dan meluas ke tepi secara berangsur-angsur.
Seluruh substansia grisea sentralis dapat musna h, berikut dengan masa putih yang dikenai
sebagai komisura alba ventralis. Funikulus dorsalis yang membatasi substansia grisea sentralis
dari dorsal tidak pernah terdesak oleh lubang patologik itu. Tergantung pada luas lubang dalam
orientasi rostrokaudal, maka kornu anterius dan kornu laterale berikut serabut-serabut
spinotalamik (yang membentuk komisura alba ventralis) dapat terusak sepanjang satu atau dua
segmen. Dalam hal itu terjadi kelumpuhan LMN (akibat runtuhnya motoneuron), adanya
disosiasi sensibilitas (akibat hancurnya serabtft-serabut spinotalamik di komisura alba ventralis)
dan hiiangnya reaksi neurovege- o tatif (akibat musnahnya neuron-neuron di kornu laterale) pada
bagian tubuh yang merupakan kawasan sensorik dan motorik segmen-segmen yang diduduki
siringomielia. Oleh kar ena la se ring berlokasi di intume- sensia servikalis, maka daerah tubuh
yang terkena ialah kedua lengan. Dalam hal itu diternukan kelumpuhan LMN yang melanda otototot tenar, hipotenar dan interosea. Kulit yang menutupi otot-otot tersebut menunjukkan disosiasi
sensibilitas dan gangguan neurovegetatif. Sebagai tanda perluasan lubang patologik itu dapat
diternukan fasikulasi di otot-otot bahu, lengan bawah dan lengan atas. Gambaran penyakit itu
dikenai sebagai sindrom siringomielia. Suatu fumor yang berkembang di substansia grisea
sentralis dan lambat laun merusak kornu anterius, kornu laterale dan komisura alba ventralis
memperlihatkan gambaran penyakit yang menyerupai sindrom siringomielia. Tumor tersebut
biasa- nya berasal dari ependim, sehingga dinamakan ependimoma.
Biasanya siringomielia itu kempis, sehingga pada segmen yang terkena, medula spinalis
memperlihatkan atrofia. Tetapi lubang patologik itu dapat mengandung cairan serebrospinalis
bagaikan kista. Penim- bunan cairan itu dapat berlangsung secara progresif, sehingga tekanan
terhadap substansia alba di sekelilingnya mengganggu fungsi funikulus posterolateralis (yang
mengandung serabut-serabut kortikospinal) dan funikulus anterolateralis (yang mengandung
serabut-serabut spinotalamik). Siringomielia yang merupakan kista penuh dengan cairan dan
menekan kepada sekelilingnya dinamakan hidromielia, yang pada hala- man 37 telah disinggung
sehubung dengan sindrom kompresi medula spinalis.

2.

Kelumpuhan LMN akibat lesi di radiks ventralis

Radiks ventralis merupakan berkas akson-akson motoneuron. Di situ dapat terjadi


peradangan sebagai komplikasi radang selaput araknoid (= araknoiditis). Juga proses
imunopatologik dapat melanda semua radiks ventralis sepanjang medula spinalis berikut dengan
segenap radiks dorsalis. Selanjutnya, radiks ventralis dapat mengaiami gangguan setem- pat,
misalnya: penekanan akibat nukleus pulposus yang menjebol ke dalam ruang kanalis vertebralis
atau penekanan oleh eksostosis atau neoplasma.

a. Keluhan akibat kerusakan pada seluruh radiks ventralis


Keluhan LMN yang disebabkan oleh kerusakan pada radiks ventralis dicirikan oleh
adanya fibrilasi. Sebenarnya fenomen elektromiografik itu mengungkapkan keadaan otot yang
mengalami denervasi. Infeksi memngokokus,
infeksi virus, sifilis atau pun trauroa pada. medula spinalis, dapat menimbulkan
perlekatan-perlekatan selaput araknoid, yang dinamakan araknoiditis adhesif. Di negara-negara
tropik penyebabnya adalah infeksi tuberkulosis, Pada tempat-ternpat tertentu perlekatan pasca
infeksi itu dapat menjirat radiks ventralis (dan stkaligus radiks dorsalis). Karena tidak segenap
radiks ventralis terkena jiratan, namun kebanyakan yang berkelompokkan saja, maka radiksradiks yang di intumesensia servikalis dan intumesensia lumbosakralis saja yang paling umum
dilanda proses perlekafan pasca infeksi. Oleh karena itu kelumpuhan LMN paling sering
dijumpai pada otot-otot anggota gerak, berikut kelompok otot di sekitar persendian bahu dan
pinggul. Gejala- gejala gangguan sensorik dan neurovegetatif dapat melengkapi gambaran
penyakit kelumpuhan LMN tersebut, yang dalam keseluruhannya dikenai sebagai radikulitis
akibat araknoiditis. Kebanyakan kasus radi- kulitis terjadi di tingkat intumesensia lumbosakral,
sehingga kedua tung- kai lumpuh, -mungkin tidak sama beratnya-, dengan memperlihatkan ciriciri LMN berikut dengan fibrilasi (hasil rekaman dengan elektromio- graf). Kelumpuhan tersebut

bergandengan dengan adanya defisit sensorik pada kedua tungkai dan sering pula dilengkapi
dengan gangguan miksi dan defekasi.
Kerusakan pada radiks ventralis (dan dorsalis) yang reversibel dan menyeluruh dapat terjadi.
Kerusakan itu merupakan perwujudan reaksi imunopatologik. Walaupun segenap radiks
(ventralis/dorsalis) terkena, namun yang berada di intumesensia servikalis dan lumbosakralis
paling berat mengaiami kerusakan. Keadaan patologik itu dikenai sebagai poliradikulopatia atau
polineuritis post infeksiosa. Di dalam klinik ia dikenai sebagai sindrom Guillair.-Barre (Strohl),
dan manifestasi klinis- nya ialah sebagai berikut. Sebelum kelumpuhan timbul, terdapat anamnese yang khas, yaitu infeksi traktus respiratorius bagian atas. Di antara masa tersebut dan
mulatimbulnya kelumpuhan, terdapat masa bebas gejala penyakit, yang berkisar antara beberapa
hari sampai beberapa (3 - 4) minggu. Kelumpuhan timbul pada keempat anggota gerak dan pada
umumnya bermula di bagian distal tungkai dan kemudian melanda otot-otot tungkai proksimal.
Lagi pula kelumpuhan meluas ke bagian tubuh atas, terutama ke otot-otot kedua lengan, bahkan
leher dan wajah serta otot-otot penelan dan bulbar lainnya. Maka dari itu sindrom ini dikenai
juga sebagai paralisis asendens. Keterlibatan radik dorsalis dapat diketahui oleh adanya
parestesia di daerah'yang dilanda kelumpuhan asendens itu. Mula terasanya dan perluasan ke
atasnya berjalan seiring dengan perjalanan kelumpuhan asendens. Pada tahap permulaan, gangguan miksi dan defekasi dapat juga menjadi ciri penyakit tersebut.
Kelainan yang diternukan dalam likuor menunjang sekali anggapan, bahwa proses
imunopatologik mendasari sindrom ini. Adapun kelainan itu ialah meningkatnya kadar protein,
yang tidak bergandengan dengan peningkatan jumlah sel. Kelainan ini menyimpang dari
ungkapan likuor yang mengarah kepada proses infeksi, pada mana peningkatan protein
bergandengan dengan kenaikan jumlah sel. Oleh karena itu, maka kelainan tersebut dinamakan
'disosiasi sito-albuminik': Lagi pula jenis- jenis immunoglobulin di dalam serum ternyata
meninggi.
3. Kelumpuhan akibat kerusakan pada pleksus brakialis
Radiks ventralis dan radiks dorsalis bergabung di foramen intervertebral, sehingga menjadi
satu berkas, yang dikenai sebagai saraf spinal. Sesuai dengan foramen intervertebrale yang

dilewatinya, ia dinamakan n.spinalis servikalis, n.spinalis torakalis dan seterusnya. Di tingkat


tora- kal dan lumbal atas saraf spinal langsung berlanjut sebagai saraf perifer. Tetapi di tingkat
intumesensia servikalis dan lumbosakralis saraf spinal menghubungi satu dengan lain melalui
percabangan anastomoses ma- sing-masing, sehingga membentuk anyaman, yang dinamakan
pleksus servikalis dan pleksus brakialis (gambar 24). Kemudian, anyaman sera- but saraf di
pleksus brakialis itu berlanjut ke kawasan bahu dan ketiak sebagai 3 berkas yang dikenai sebagai
fasikulus dan merupakan induk saraf perifer bagi lengan. Berlatarbelakang pada organisasi
struktural tersebut di atas, maka kelumpuhan yang melanda lengan dapat dibeda- bedakan dalam
kelumpuhan lengan akibat lesi di pleksus brakialis atau di fasikulus atau pun di saraf perifer.
Kelumpuhan akibat lesi di pleksus brakialis dapat disebabkan oleh lesi yang merusak secara
menyelunth atau setempat. Proses degeneratif herediter, toksik, neoplasmatik atau infeksi dapat
merusak secara meye- luruh. Lesi yang menduduki sebagian dari pleksus brakiaiis biasanya
berupa trauma, penekanan dan penarikan setempat.
Pada sindrom pleksus brakialis akibat proses difus di seluruh pleksus brakialis terdapat
kelumpuhan LMN dengan fibrilasi dan nyeri spontan, yang dapat bergandengan dengan
hipalgesia atau dengan parestesia. Walaupun terdapat manifestasi yang menyeluruh pada lengan
dan bahu, pada umumnya gejala-gejala abnormal yang berat terdapat di kawasan motorik dan
sensorik C.5 dan C.6 saja. Saraf perifer yang terutama disusun oleh serabut-serabut radiks
ventralis dan dorsalis C.5 dan C.6 itu, ialah n.frenikus, n.torakalis longus, n.supraskapularis,
n.skapularis dorsalis dan n.ulnaris.
Sejak zaman neurologi klasik telah dikenal 2 sindrom kelumpuhan akibat lesi setempat di
pleksus brakialis. Yang pertama ialah kelupuhan akibat lesi di bagian atas pleksus brakialis,
yang menghasilkan sindrom kelumpuhan Erb-Duchenne. Dan yang kedua ialah kelupuhan yang
disebabkan oleh lesi di bagian bawah pleksus brakiaiis, yang di dalam klinik dikenal sebagai
sindrom kelumpuhan Klumpe.
Kebanyakan penderita dengan kelumpuhan Erb-Duchenne adalah bayi. Dalam hal itu
lesinya disebabkan oleh penarikan kepala bayi waktu dilahirkan, pada mana salah satu bahu
tidak dapat dikeluarkan. Kelumpuhan Erb-Duchenne yang dijumpai pada penderita dewasa atau

anak- anak, biasanya akibat jatuh pada bahu dengan kepala terlampau mene- kuk ke samping,
sehingga pleksus brakialis mengalami penarikan yang hebat, terutama pada bagian atasnya.
Kelumpuhan melanda m.supraspi- natus, m.infraspinatus, m.subskapularis, m.teres mayor,
m.biseps brakialis, m.brakialis dan m.brakioradialis. Oleh karena itu, maka lengan bergantung
lemas dalam sikap endorotasi pada sendi bahu dengan siku lurus dan lengan bawah dalam sikap
pronasi. Pada umumnya gerakan tangan di sendi pergelangan tangan masih utuh dan gerakan
jari-jari tangan tidak terganggu.
Kelumpuhan Klumpke juga dapat dijumpai pada neonatus atau anak-anak dan orang
dewasa. Jika bayi yang terkena, maka faktor etiologinya trauma lahir. Karena kepala bayi sukar
dikeluarkan, maka penarikan pada bahu dilakukan. Akibatnya ialah serabut-serabut radiks T.l
dan C.8 mengalami kerusakan. Lesi seperti itu dapat terjadi pula karena jatuh dari tempat yang
tinggi, lalu untuk menyelematkan diri si korban kecelakaan menangkap cabang batang pohon,
sehigga dengan demikian bahunya tertarik secara berlebihan. Karena itu semua ekstensor dari
jari-jari tangan lumpuh dan tangan juga tidak dapat ditekukkan di sendi pergelangan tangan.
Defisit sensorik dapat ditemu- kan pada daerah sempit pada kulit yang memanjang pada
sampinglilnar dari pergelangan tangan sampai pertengahan lengan bawah.
4. Kelumpuhan akibat lesi di pleksus lumbosakralis
Anyaman pleksus lumbosakralis (gambar 25) lebih sederharia dari pada anyaman pleksus
brakialis, oleh karena semua saraf perifer bagi tungkai merupakan lanjutan langsungnva.
Kelumpuhan akibat lesi se- tempat di pleksus-lumbosakralis sukar dibedakan dari kelumpuhan
akibat lesi di bagian proksimal n.femoralis, n.obturatorius, dan n.iskiadi- kus, sihingga
pembahasannya dirujukkan pada fasal yang bersangkutan.
Oleh karena manifestasi sensorik akibat lesi di pleksus lurribosakra- lis lebih menonjoi
ketimbang maniferstasi motoriknya, maka gambaran penyakitnya akan dibahas dalam fasal
mengenai gangguan sensorik akibat lesi di pleksus lumbosakralis.
5. Kelumpuhan akibat lesi di fasikulus

Berbeda dengan penataan pleksus lumbosakralis adalah pleksus brakialis, yang tidak
langsung bercabang-cabang untuk membentuk ber- bagai saraf perifer, melainkan menyusun 3
berkas dulu sebelum menge- luarkan semua saraf perifer yang mengurusi motorik dan sensorik
lengan berikut jari-jari tangan. Ketiga berkas itu dikenal sebagai fasikulus lateralis, posterior
dan medialis sesuai dengan topografinya terhadap a.aksilaris (gambar 24). Fasikulus posterior
merupakan induk n.radialis dan fasikulus medialis menjadi pangkal n. ulnaris, sedangkan
n.media- nus disusun oleh serabut-serabut yang berasal dari fasikulus lateralis.
Lesi di fasikulus lateralis dapat terjadi akibat dislokasi tulang humerus ke lateral dan
menimbulkan kelumpuhan LMN pada otot-otot biseps brakial, korakobrakial dan lain-lain otot
yang disarafi oleh n.medianus, kecuali otot-otot intrinsik tangan.
Kerusakan pada fasikulus posterior jarang terjadi. Jika karena sebab yang tidak dapat
dipastikan lesi itu toh terjadi, maka kelumpuhan LMN dan defisit sensorik dapat dijumpai pada
kawasan n.radialis.
Lesi pada fasikulus medialis disebabkan oleh dislokasi humerus ke arah subkorakoid,
sehingga menimbulkan kelumpuhan LMN dan defisit sensorik di kawasan motorik dan sensorik
n.ulnaris. Paralisis LMN akibat lesi di pleksus dan fasikulus tidak banyak berbeda dengan
kelumpuhan yang terjadi akibat lesi di n.radialis, n.ulnaris atau n.medianus. Selain data
anamnestik dan hasil pemeriksaan sensorik, masih ada satu gejala penting, yang dapat
mengungkapk'an lokalisasi lesi di pleksus atau di fasikulus, yaitu sindrom Horner. Sindrom ini
terdiri atas miosis, endoftalmus, ptosis dan anhidrosis hemifasialis, yang jarang timbul secara
lengkap. Yang hampir selamanya dijumpai ialah ptosis, miosis dan anhidrosis hemifasialis.
Sindrom Horner berkorelasi dengan lesi di pleksus brakialis, merigingat sindrom Horner itu
dihasilkan oleh terputusnya hubungan ortosimpatetik dari ganglion servikale superius yang
terletak di daerah pleksus brakialis. ,
Proses neoplasmatik yang berada di kutub paru-paru dapat menimbulkan kelumpuhan pada
otot-otot bahu dan lengan yang disertai sindrom Horner pada sisi ipsilateral.