Anda di halaman 1dari 70

STANDAR PEMBIAYAAN

SEKOLAH DAN MBS

KONSEP PEMBIAYAAN

PENDIDIKAN

Konsep-Konsep Pembiayaan Pendidikan


Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi,
yang diukur dalam satuan uang, yang telah
terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi
untuk tujuan tertentu.
Konsep biaya dalam bidang pendidikan
memberikan pandangan bahwa lembaga
pendidikan merupakan produsen jasa
pendidikan keahlian, keterampilan, ilmu
pengetahuan, karakter dan nilai-nilai yang
dimiliki seorang lulusan.

Lanjutan
Lembaga pendidikan memperoleh input berupa

sumber daya manusia yang kemudian diproses


melalui kegiatan pendidikan dan keterampilan
untuk menghasilkan output yang mampu bersaing
serta dapat memenuhi kebutuhan dunia kerja.
Ada 4 unsur pokok dalam definisi biaya:
1. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi.
2. Diukur dalam satuan uang.
3. Yang telah terjadi atau yang secara potensial
akan terjadi.
4. Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.

Lanjutan
Biaya operasional pendidikan adalah bagian dari

dana pendidikan yang diperlukan untuk membiayai


kegiatan operasi satuan pendidikan agar kegiatan
pendidikan dapat berlangsung sesuai standar
nasional pendidikan secara teratur dan
berkelanjutan yang terdiri atas biaya operasi
kepersonaliaan dan biaya operasi non
kepersonaliaan.
Efektifitas merupakan sebuah fenomena yang
mengandung banyak segi, sehingga sedikit sekali
orang yang dapat memaksimalkan keefektivitasan
sesuai dengan keefektivitasan itu sendiri

Lanjutan
Keefektifan merupakan derajat di mana sebuah organisasi

mencapai tujuannya.
Anwar mengemukakan bahwa efektivitas sebagai konsep
kausal secara esensial, di mana
hubungan maksud-hingga-tujuan (means-to-end
relationship) serupa dengan hubungan sebab-akibat (causeeffect relationship), terdapat tiga komponen utama yang
harus diperhatikan dalam studi tentang efektivitas organisasi
pendidikan, yaitu: (1) cakupan pengaruh; (2) kesempatan
aksi yang digunakan untuk mencapai pengaruh tertentu
(ditandai sebagai mode pendidikan); dan (3) fungsi-fungsi
dan mekanisme yang mendasari yang menjelaskan mengapa
tindakan tertentu mendorong ke arah pencapain-pengaruh.

Lanjutan
Dari definisi tersebut dapatlah dipahami bahwa

efektifitas organisasi merupakan kemampuan organisasi


untuk merealisasikan berbagai tujuan dan
kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan
dan mampu bertahan agar tetap eksis/hidup. Sehingga
organisasi dikatakan efektif jika organisasi tersebut
mampu menciptakan suasana kerja dimana para pekerja
tidak hanya melaksanakan tugas yang telah dibebankan
kepadanya, tetapi juga membuat suasana supaya
pekerja lebih bertanggung jawab, bertindak secara
kreatif demi peningkatan efisiensi dalam mencapai
tujuan.

Lanjutan
Lembaga pendidikan yang efektif adalah lembaga

pendidikan yang menetapkan keberhasilan pada input,


proses, output, dan outcome yang ditandai dengan
berkualitasnya indikator-indikator tersebut.
Efisiensi menurut Mulyadi mengacu pada ukuran
penggunaan daya yang langka oleh organisasi. Efisiensi juga
ditekankan pada perbandingan antara input/sumber daya
dengan out put. Sehingga suatu kegiatan dikatakan efisien
bila tujuan dapat dicapai secara optimal dengan penggunaan
atau pemakaian sumber daya yang minimal. Efisiensi dengan
demikian merupakan perbandingan antara input dengan out
put, tenaga dengan hasil, perbelanjaan dan masukan, serta
biaya dengan kesenangan yang dihasilkan.

Lanjutan
Dalam dunia pendidikan dapat diartikan sebagai kegairahan atau

motivasi belajar yang tinggi, semangat kerja yang besar,


kepercayaan berbagai pihak, dan pembiayaan, waktu, dan tenaga
sekecil mungkin tetapi hasil yang didapatkan maksimal.
Diatas telah dikemukakan bahwa efisiensi diklasifikasikan menjadi
(1) efisiensi internal dan (2) efisiensi eksternal. Dalam kajian
sistem pendidikan, dengan diberlakukannya school based
management diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan
melalui perbaikan serta peningkatan efisiensi internal pendidikan
melalui inovasi manajemen serta pembelajaran yang
menyertainya, seperti peningkatan peran dewan sekolah,
penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),dan
sekarang yang masih hangat adalah pemberlakuan Kurikulum
2013.

Lanjutan
Sementara itu efisiensi eksternal merujuk pada hubungan antara

keuntungan kumulatif yang diperoleh dari sistem lebih dari satu


periode tertentu dan input-input yang sesuai digunakan dalam
menghasilkan keuntungan.
Dalam dunia pendidikan, upaya dalam rangka meningkatkan
efisiensi pendidikan dalam konteks peningkatan mutu, paling
tidak dapat ditentukan oleh dua hal, yakni manajemen
pendidikan yang profesional dan partisipasi dalam pengelolaan
pendidikan yang meluas. Dalam hal ini, analisis terhadap efisiensi
pendidikan juga dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu
pendekatan dengan tidak memperhatikan secara terinci unsurunsur biaya yang digunakan dalam proses pendidikan (agregate
approach), serta pendekatan yang memperhitungkan kontribusi
biaya secara terperinci dalam proses pendidikan untuk
menghasilkan keluaran (ingredient approach).

Manajemen Pembiayaan
Pendidikan
Pembiayaan Dalam Pengembangan

Pendidikan.Pendidikan merupakan salah satu faktor


penting untuk miningkatkan Sumber Daya Manusia
(SDM) yang berkualitas. Dalam UUD 1945 pasal 31
Tiap-tiap warga negara berhak mendapat
pengajaran. Hal ini membuktikan adanya langkah
pemerataan pendidikan bagi seluruh warga negara
Indonesia. Kenyataannya, tidak semua orang dapat
memperoleh pendidikan yang selayaknya,
dikarenakan berbagai faktor termasuk mahalnya
biaya pendidikan yang harus dikeluarkan.

Lanjutan
Kondisi inilah kemudian mendorong dimasukannya

klausal tentang pendidikan dalam amandemen UUD


1945. Konstitusi mengamanatkan kewajiban pemerintah
untuk mengalokasikan biaya pendidikan 20% dari APBN
maupun APBD agar masyarakat dapat memperoleh
pelayanan pendidikan. Ketentuan ini memberikan
jaminan bahwa ada alokasi dana yang secara pasti
digunakan untuk penyelenggaraan pendidikan. Namun,
dalam pelaksanaanya pemerintah belum punya
kapasitas finansial yang memadai, sehingga alokasi
dana tersebut dicicil dengan komitmen peningkatan
alokasi tiap tahunnya.

Peningkatan kualitas pendidikan diharapkan dapat

menghasilkan manfaat berupa peningkatan kualitas


SDM. Menurut Horngren, Human Capital yang berupa
kemampuan dan kecakapan yang diperoleh melalui
Pendidikan, belajar sendiri, belajar sambil bekerja
memerlukan biaya yang dikeluarkan oleh yang
bersangkutan.
Perolehan ketrampilan dan kemampuan akan
menghasilkan tingkat balik Rate of Return yang sangat
tinggi terhadap penghasilan seseorang. Berdasarkan
pendekatan Human Kapital ada hubungan Lenier antara
Investment Pendidikan dengan Higher Productivity dan
Higher Learning.

Lanjutan
Manusia sebagai modal dasar yang di Infestasikan akan

menghasilkan manusia terdidik yang produktif dan


meningkatnya penghasilan sebagai akibat dari kualitas
kerja yang ditampilkan oleh manusia terdidik
tersebut,dengan demikian manusia yang memperoleh
penghasilan lebih besar dia akan membayar pajak
dalam jumlah yang besar dengan demikian dengan
sendirinya dapat meningkatkan pendapatan negara.
Peningkatan ketrampilan yang dapat menghasilkan
tenaga kerja yang produktivitasnya tinggi dapat
dilakukan melalui Pendidikan yang dalam
pembiayaannya menggunakan efesiensi Internal dan
Eksternal.

Lanjutan
Untuk dapat tercapai tujuan pendidikan yang

optimal, maka salah satunya hal paling penting


adalah mengelola biaya dengan baik sesuai dengan
kebutuhan dana yang diperlukan. Administrasi
pembiayaan minimal mencakup perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan. Penyaluran
anggaran perlu dilakukan secara strategis dan
intergratif antara stakeholder agar mewujutkan
kondisi ini, perlu dibangun rasa saling percaya, baik
internal pemerintah maupun antara pemerintah
dengan masyarakat dan masyarakat dengan
masyarakat itu sendiri dapat ditumbuhkan.

Strategi Sekolah Dalam


Menggalang Dana Pendidikan
Permasalahan pembiayaan pendidikan di

negeri ini merupakan permasalahan klasik


yang tak berujung. Dana bantuan operasional
sekolah (BOS) Rp 397.000 per siswa SD per
tahun di Kabupaten ( Rp.400.000 di Kota ) dan
Rp 570.000 per siswa SMP per tahun di
Kabupaten ( Rp 570.000 di Kota ) yang
diberikan ke sekolah sesuai jumlah siswa
setiap 3 bulan sebenarnya belum mencukupi
bagi sekolah yang memiliki siswa kurang dari
700 orang.

Lanjutan
Karena jumlah mata pelajaran yang harus diajarkan sama saja dengan

sekolah yang siswanya banyak. Hal ini terkait dengan jumlah guru yang
harus dibayar honornya bagi sekolah swasta, atau biaya operasional
sekolah negeri maupun swasta. Banyak sekolah yang hanya
mengandalkan dana BOS sehingga sering kali memungut biaya dari
orangtua siswa. Akibatnya, hampir setiap saat ditemui protes terkait
urusan biaya sekolah. Anak putus sekolah meskipun berusaha
diminimalisir, di berbagai daerah sebenarnya ada yang tidak terpantau.
Sumber-sumber dana pendidikan antara lain meliputi :
1. Anggaran rutin ( DIPA );
2. Anggaran pembangunan ( DAK );
3. Dana Penunjang Pendidikan ( DPP );
4. Dana Komite Sekolah/Madrasah
5. Donatur; dan lain-lain yang dianggap sah oleh semua pihak yang
terkait.

Lanjutan

Pendanaan pendidikan pada dasarnya

bersumber dari pemerintah, orang tua


dan masyarakat (pasal 33 No. 2 tahun
1989).
Jika ditinjau berdasarkan UU No 20/2003
tentang Sisdiknas, ( Pasal 46 Ayat 1 ).
Pendanaan pendidikan menjadi tanggung
jawab bersama antara Pemerintah,
Pemerintah Daerah, dan masyarakat.

Lanjutan
Namun persoalannya, masyarakat ternyata tidak memiliki aset

kekayaan memadai untuk ikut serta membiayai pendidikan yang


layak. Hal ini salah satunya disebabkan faktor kemiskinan dan
kesejahteraan hidup yang tetap saja menjadi persoalan pelik.
Mengacu pada Pasal 31 Ayat 1 UUD 1945, beberapa pihak
menganggap telah terjadi pelanggaran konstitusi. Pemerintah
dinilai melanggar konstitusi jika berlepas tangan terhadap biaya
pendidikan warga negaranya. Tampaknya diperlukan penjelasan
terkait ketentuan-ketentuan dalam Pasal 31 UUD 1945. Kewajiban
pemerintah membiayai pendidikan cenderung tidak sampai
perguruan tinggi dan hanya membiayai pendidikan dasar warga
negaranya (Pasal 31 Ayat 2). Malah anggaran pendidikan sebesar
minimal 20 persen pun sebenarnya tak mungkin untuk mencukupi
biaya pendidikan setiap warga negaranya hingga merampungkan
jenjang pendidikan tinggi

Lanjutan
Merujuk hasil sebuah pengamatan, terdapat empat model

pembiayaan pendidikan di dunia selama ini :


Pertama, subsidi penuh dari jenjang pendidikan rendah
(SD) hingga pendidikan tinggi (S 3).
Kedua, mirip model pertama, masa gratis untuk
pendidikan tinggi diberikan sampai usia tertentu.
Ketiga, masa gratis hanya sampai SMA dan di perguruan
tinggi tetap membayar SPP walau masih disubsidi.
Keempat, semua jenjang pendidikan membiayai dirinya
sendiri. Dana diperoleh dari kerja sama dengan industri
atau perbankan, membentuk komunitas alumni atau murni
semua diperoleh dari siswa/mahasiswanya.

Lanjutan
B.KLASIFIKASI DANA PENDIDIKAN
1.DANA LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG
Dana langsung ialah dana yang langsung digunakan untuk
operasional sekolah dan langsung dikeluarkan untuk kepentingan
pelaksanaan proses belajar-mengajar ,terdiri atas dana
pembangunan dan dana rutin.
Dana tidak langsung ialah dana berupa keuntungan yang hilang
dalam bentuk kesempatan yang hilang yang dikorbankan oleh
peserta didik selama mengikuti kegiatan belajar mengajar.Dana
tidak langsung juga menyangkut dana yang menunjang siswa untuk
dapat hadir di sekolah,yang meliputi biaya hidup,transportasi,dan
dana lainnya.Dana tidak langsung sulit dihitung karena tidak ada
catatan resmi.Berdasarkan alasan praktis biaya ini tidak turut
dihitung dalam perencanaan oleh para administrator,perencana,dan
pembuat keputusan.

Lanjutan
Dana pembangunan ialah dana yang

digunakan untuk pembelian tanah bangunan


ruang kelas,perpustakaan ,lapangan olah
raga,kontruksi bangunan,serta penggantian
dan perbaikan.Untuk menghitung besarnya
dana pembangunan digunakan konsep
capital cost per student place.Dana
pembangunan ini,terdiri atas tiga
kelompok,yaitu untuk siswa di sekolah,asrama
siswa,dan tempat tinggal guru.

Lanjutan
Dana rutin ialah dana yang digunakan untuk

membiayai kegiatan operasional pendidikan


selama satu tahun anggaran.Dana rutin
digunakan untuk menunjang pelaksanaan
program belajar mengajar,pembayaran gaji
guru dan personil sekolah,administrasi
kantor,pemeliharaan serta perawatan sarana
dan prasarana.Untuk menghitung dana rutin
yang dibutuhkan oleh seorang siswa per
tahun di sekolah digunakaten analisis unit
cost.

Lanjutan
Nilai unit cost merupakan nilai satuan biaya

yang dikeluarkan untuk memberikan


pelayanan kepada seorang siswa per tahun
dalam suatu jenjang pendidikan.
Menghitung unit cost per siswa menurut
Nanang Fatah (200:26 )adalah membagi
jumlah dana yang tersedia dalam program
anggaran dengan jumlah kredit yang diambil
siswa per tahun dari program tersebut

Lanjutan
Biaya program pengajaran per jam menurut

( Thomas,1985) ditentukan oleh (1) gaji guru


dan tenaga administrasi;(2) dana ruang; (3)
dana perlengkapan dan alat; (4) dana bahan
pelajaran.
Pembayaran gaji guru,kepala sekolah,dan

para pegawai dalam manajemen berbasis


sekolah seharusnya ditentukan atas
pangkat,jabatan,pendidikan,dan masa
kerja.Di samping itu,perlu dipertimbangkan
masalah kreativitas dan prestasi kerjanya

Lanjutan
2.DANA MASYARAKAT DAN DANA PRIBADI
Dana masyarakat ialah dana yang dikeluarkan
masyarakat untuk kepentingan pendidikan,baik yang
dikeluarkan secara langsung maupun tidak
langsung,berupa uang sekolah,uang buku,dan dana
lainnya.
Dana tidak langsung seperti pajak dan restribusi,di dalam
dana masyarakat termasuk dana pribadi,yaitu dana yang
berasal dari rumah tangga termasuk kesempatan yang
hilang.Dana pribadi ialah dana langsung yang
dikeluarkan dalam bentuk uang sekolah,uang
kuliah,pembelian buku,dan dana hidup setiap siswa.

Lanjutan
C.MANAJEMEN KEUANGAN SEKOLAH
Keuangan dan pembiayaan merupakan salah satu sumber daya yang
secara langsung menunjang efektivitas dan efisiensi pengelolaan
pendidikan
Manajemen keuangan meliputi perencanaan finansial ,pelaksanaan
dan evaluasi.Jones (1985) mengemukakan financial planning is
called budgeting merupakan kegiatan mengkoordinasi semua
sumber daya yang tersedia untuk mencapai sasaran yang
diinginkan secara sistematis tampa terjadi efek samping yang
merugikan.Implementation involves accounting atau pelaksanaan
anggaran ialah kegiatan berdasarkan rencana yang telah dibuat
dan kemungkinan terjadi penyesuain bila diperlukan.Evaluasi
merupakan proses penilaian terhadap pencapaian tujuan.

Lanjutan
Komponen utama manajemen keuangan

meliputi prosedur anggaran,investasi,dan


pemeriksaan.Bertolak dari pengertian
,tahapan(fungsi ,dan komponen manajemen
keuangan,dalam proses manajemen keuangan
sekolah diperlukan strategi pengelolaan yang
efektif dan efisien.

1.Pengelolaan Dana Sekolah


Sekolah merupakan sistem yang terdiri atas serangkaian
komponen yang saling terkait,dan membutuhkan
masukan dari lingkungan untuk melakukan proses
transformasi serta mengeluarkan hasil.Kebutuhan akan
masukan dan keluaran merupakan kenyataan yang tidak
dapat dipungkiri dari ketergantungan sekolah terhadap
masyarakat dan lingkungannya.Masukan terhadap sistem
sekolah mencakup perangkat lunak,keras,dan manusia
yang selaras dengan perkembangan lingkungan.Hal
tersebut memberikan konsekuensi terhadap proses
transformasi dalam sistem sesuai dengan tuntutan
lingkungan terhadap keluaran.

Lanjutan
Rowe(1990) mengungkapkan tiga langkah

utama pendekatan strategis dalam konteks


manajemen,yaitu (strategic planning)sebagai
dokumen formal,(2) strategic manajement
sebagai upaya untuk mengelola proses
perubahan,dan (3) strategic thinking sebagai
kerangka dasar untuk merumuskan tujuan
dan hasil yang dicapai secara
berkesinambungan.

Kerangka manjemen strategis,seperti yang dikemukakan

Rowe meliputi perencanaan strategis,struktur


organisasi ,kontrol strategis ,dan kebutuhan
sumber.Manajemen strategis merupakan proses
perencanaan dan pengelolaan terhadap keempat gugus
komponen tersebut.Keempat gugus tersebut bertumpu
pada perencanaan strategis,sebab pada pase ini
dilakukan analisis terhadap tantangan dan peluang
eksternal,serta kekuatan dan kelemahan internal
organisasi.Manajemen strategis berfungsi mengarahkan
operasi internal organisasi berupa alokasi sumber daya
manusia,sarana fisik dan keuangan ,untuk mewujudkan
interaksi optimal dengan lingkungan sekitarnya.

Strategi sekolah dalam menggali dana

pendidikan secara administratif sangat tepat


karena berkaitan dengan bagaimana seorang
kepala sekolah melakukan upaya-upaya
pengelolaan sumber daya dan sumber dana
yang terdapat di dalam lingkungan
sekolah.Dalam MBS strategi tersebut dapat
direalisasikan melalui penyelenggaraan
berbagai kegiatan berikut:

Lanjutan
1.Melakukan analisis internal dan eksternal terhadap berbagai
potensi sumber dana ;
2.Mengidentifikasi,mengelompokkan dan memperkirakan
sumber-sumber dana yang dapat digali dan dikembangkan;
3.Menetapkan sumber-sumber dana melalui:
a.Musyawarah dengan orang tua siswa baru,pada awal tahun
ajaran ;
b. Musyawarah dengan para guru untuk mengembangkan
koperasi sekolah,
c.Menggalang partisipasi masyarakat melalui dewan sekolah,dan
d..Meyelenggarakan kegiatan olah raga dan kesenian peserta
didik untuk mengumpulkan dana dengan memanfaatkan
fasilitas sekolah.

Perencanaan Pengelolaan Dana


Perencanaan dalam manjemen keuangan ialah kegiatan

merencanakan sumber dana untuk menunjang kegiatan


pendidikan dan tercapainya tujuan pendidikan di sekolah.
Gordon mengemukakan perencanaan penyusunan anggaran
pendidikan dalam dua pendekatan yang umum digunakan,yaitu
pendekatan tradisional dan Planning Programming Budgeting
System(PPBS).
The Tradisional Aproach Stages: (1)As certain teacher needs in
the areas of supplies,book,etc;(2)Determine the meritsof teacher
budget requests on the basis os perceived need;(3)Estimate the
cost catagories of need,e.g.instructrion supplies,book,etc,PPBS
Stagers:(1)Asseses educational needs;(2)Define educational
objectives;(3) Determine programs and cost-estimate the
resource needed to carry out programs;(4)Organize the budget
around program areas and objectives.

Lanjutan
Ada dua bagian dalam penganggaran,yaitu perkiraan pendapatan

dan pengeluaran.Prakiraan dan penyajian pendapatan harus


dapat dipertanggungjawabkan sehingga dapat direalisasikan.
Dalam kaitannya dengan penyusunan anggaran,Lipham (1985)
mengemukakan tiga cara pandang,yaitu 1) Comparative
Approach;penganggaran yang dllakukan dengan membandingkan
besarnya penerimaan dan pengeluaran untuk setiap mata untuk
setiap tahun;(2) The Planning Programming Budgeting Evalution
System (PPBES);Penganggaran yang berorientasi pada rencana
dan sasaran program secara khusus dan umum.Pendekatan ini
analisis dana pelaksanaan,serta penilaian PPBES didasarkan atas
zero-based budgeting; 3)functional approach; penganggaran
dalam bentuk gabungan antar unsur PPBES dengan comparative
approach.

Proses Penyusunan Anggaran


Format yang digunakan untuk menyusun

Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja


Sekolah(RAPBS) meliputi (1) sumber
pendapatan antara lain DPP,OPF,dan BP3;(2)
pengeluaran untuk kegiatan belajarmengajar,pengadaan dan pemeliharaan
sarana prasarana,pengembangan sumber
belajar dan alat pelajaran,serta honorarium
dan kesejahteraan.

Dalam kaitannya dengan proses penyusunan

anggaran ini,Lipham(1985) mengungkapkan


empat fase kegiatan pokok sebagai berikut:
a. Merencanakan anggaran,yaitu kegiatan
mengidentifikasi tujuan,menentukan
prioritas,menjabarkan tujuan ke dalam
penampilan operasional yang dapat
diukur,menganalisis alternatif pencapaian
tujuan dengan analisis cost efectiveness,dan
membuat rekomendasi alternatif pendekatan
untuk mencapai sasaran.

b.Mempersiapkan anggaran,yaitu menyesuaikan


kegiatan dengan mekanisme anggaran yang
berlaku,bentuknya,distribusi ,dan sasaran program
pengajaran perlu dirumuskan dengan
jelas.Melakukan inventarisasi kelengkapan peralatan
dan bahan-bahan yang telah tersedia.
c. Mengelola pelaksanaan anggaran,yaitu
mempersiapkan pembukuan,melakukan
pembelanjaan dan membuat transaksi,membuat
perhitungan,mengawasi pelaksanaan sesuai dengan
prosedur kerja yang berlaku,serta membuat laporan
dan pertanggung jawaban keuangan.

d. Menilai pelaksanaan anggaran,yaitu

menilai pelaksanaan proses belajar


mengajar,menilai bagaimana pencapaian
sasaran program,serta membuat rekomendasi
untuk perbaikan anggaran yang akan datang.
Dalam kaitannya dengan perencanaan dan
pembiayaan MBS perlu dilakukan hal-hal
sebagai berikut:

Lanjutan
a.Mengamati beberapa aturan dan prosedur yang
tidak efektif sesuai dengan perkembangan
kebutuhan masyarakat akan pendidikan.
b.Melakukan perbaikan terhadap peraturan dan
input lain yang relevan,dengan merancang
pengembangan sistem secara efektif.
c.Melakukan pengawasan dan penilaian terhadap
proses dan hasil MBS secara terusmenerus dan
berkesenimbungan sebagai bahan perencanaan
tahap berikutnya.

Lanjutan
Berdasarkan hal tersebut dapat dikemukakan

bahwa MBS dapat diimplementasikan secara efektif


dan berjalan lancar apabila didukung oleh beberapa
sumber yang essensial,seperti: a) sumber daya
manusia yang kompeten dan mempunyai wawasan
luas serta tepat waktu sesuai dengan dinamika
sosial masyarakat;b) tersedianya informasi yang
akurat dan tepat waktu untuk menunjang
pembuatan keputusan;c) menggunakan manajemen
dan teknologi yang tepat dalam perencanaan;d)
tersedianya dana yang memadai untuk menunjang
pelaksanaan

Lanjutan
4.Penyusunan Rencana Anggaran Pengeluaran Belanja Sekolah
(RAPBS)
Pelaksanaan penyusunan Rencana Anggaran Pengeluaran Belanja
Sekolah(RAPBS) di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional tampaknya
memadukan antara pengaturan pemerintah pusat dan sekolah.
Dalam hal ini ada beberapa anggaran yang telah ditetapkan oleh peraturan
pemerintah yang intinya pihak sekolah tidak dapat mengubah dari
petunjuk penggunaan atau pengeluarannya dan sekolah hanya bertindak
sebagai pelaksana pengguna dalam tingkat mikro kelembagaan.Dengan
demikian,pola pengelolaan anggaran belanja sekolah,terbatas pada
pengelolaan tingkat operasional.Salah satu kebijakan tingkat sekolah
adalah adanya pencarian tambahan dana dari partisipasi
masyarakat,selanjutnya cara pengelolaannya dipadukan sesuai tatanan
yang lajim sesuai dengan peraturan yang berlaku.Namun demikian,sesuai
dengan semangat MBS sekolah memiliki kewenangan dan keleluasaan yang
sangat lebar dalam kaitannya dengan pengelolaan dana untuk mencapai
efektivitas pencapaian tujuan sekolah.

Lanjutan
Untuk mengefektifkan pembuatan anggaran belanja sekolah

yang sangat bertanggung jawab sebagai pelaksana adalah


kepala sekolah.Kepala sekolah harus mampu
mengembangkan sejumlah dimensi perbuatan
administratif .Kemampuan untuk menerjemahkan program
pendidikan ke dalam ekuevalensi keuangan merupakan hal
penting dalam penyusunan anggaran belanja.Kegiatan
membuat anggaran belanja bukan pekerjaan rutin atau
mekanisme melibatkan pertimbangan tentang maksudmaksud dasar dari pendidikan dan program.Berdasarkan
perspektif tersebut pembuatan anggaran belanja dapat
membuka jalan bagi pengembangan dan penjelasan konsepkonsep tentang tujuan-tujuan pendidikan yang
diinginkan,dan merancang cara-cara bagi pencapaiannya.

Lanjutan
Dalam manajemen berbasis sekolah

penyusunan anggaran pendapatan dan


belanja sekolah dilaksanakan oleh kepala
sekolah dibantu para wakilnya yang
ditetapkan oleh kebijakan sekolah serta
dewan sekolah di bawah pengawasan
pemerintah.
5.Proses Pengaturan
Dalam garis besarnya pengaturan keuangan
di sekolah
meliputipenerimaan,penggunaan,dan
pertangungjawaban.

Lanjutan
a.Penerimaan
Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan
dalam melaksanakan tugasnya menerima
dana dari berbagai sumber.Penerimaan dana
dari berbagai sumber tersebut perlu dikelola
dengan baik dan benar.

Lanjutan
Dalam buku pedoman rencana,program dan penganggaran

dikemukakan bahwa sumber dana pendidikan antara lain


meliputi anggaran rutin(DIK);anggaran pembangunan
(DIP);dana penunjang pendidikan(DPP);Dana
BP3;donator;dan lain-lain yang dianggap sah oleh semua
pihak terkait.Pendanaan pendidikan pada dasarnya
bersumber dari pemerintah,orang tua,dan masyarakat,
(Pasal 33 No.2 Tahun 1989).Di samping itu,sejalan dengan
semangat manajemen berbasis sekolah,sekolah dapat
menggali dan mencari sumber-sumber dana dari pihak
masyarakat,baik secara perorangan maupun secara
melembaga,baik di dalam maupun di luar negeri,sejalan
dengan semangat globalisasi.

Lanjutan
b.Penggunaan
Dana yang diperoleh dari berbagai sumber perlu digunakan untuk
kepentingan sekolah,khususnya kegiatan belajar mengajar secara efektif
dan efisien.Sehubungan dengan itu,setiap perolehan
dana,pengeluarannya harus didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan yang
telah disesuaikan dengan rencana anggaran pembiayaan sekolah(RAPBS).
c.Pertanggungjawaban
Dalam implementasi manajemen berbasis sekolah,setiap akhir tahun
anggaran sekolah dituntut untuk mempertanggungjawabkan setiap dana
yang dikeluarkan selama tahun anggaran.Pertanggungjawaban ini
dilakukan di dalam rapat dewan sekolah,yang diikuti komponen
sekolah,komponen masyarakat dan pemerintah daerah.
Pertanggungjawaban keuangan sekolah menyangkut seluruh pengeluaran
dana sekolah dalam kaitannya dengan apa yang telah dicapai sesuai
dengan tujuan yang telah ditetapkan.Proses ini juga disebut evaluasi
ataupun evaluation involves auditing.

Lanjutan
Pertanggungjawaban (auditing)menurut

Cormark(1970) auditing is verification,Auditing is


determining that what is being performed is
appropriate for the task.Auditing merupakan
pembuktian dan penentuan bahwa apa yang
dimaksud sesuai dengan yang
dilaksanakan,sedangkan apa yang dilaksanakan
sesuai dengan tugas.Proses ini menyangkut
pertanggungjawaban penerimaan ,penyimpanan,dan
pembayaran atau penyerahan dana kepada pihakpihak yang berhak.

Lanjutan
Manajemen Keuangan Sekolah Dalam

Konteks MBS
1.Pengertian dan Tujuan MBS
Pengertian MBS
Istilah manajemen berbasis sekolah merupakan
terjemahan dari school-based management.
MBS merupakan paradigma baru pendidikan,
yang memberikan otonomi luas pada tingkat
sekolah ( pelibatan masyarakat ) dalam
kerangka kebijakan pendidikan nasional.

Lanjutan
Menurut Edmond yang dikutip Suryosubroto merupakan

alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih


menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah.
Nurcholis mengatakan Manajemen berbasis sekolah (MBS)
adalah bentuk alternatif sekolah sebagai hasil dari
desentralisasi pendidikan.
Secara umum, manajemen peningkatan mutu berbasis
sekolah (MPMBS) dapat diartikan sebagai model manajemen
yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan
mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang
melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru,
siswa, kepala sekolah, karyawan, orang tua siswa, dan
masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan
kebijakan pendidikan nasional.

Lanjutan
Lebih lanjut istilah manajemen sekolah

acapkali disandingkan dengan istilah


administrasi sekolah. Berkaitan dengan itu,
terdapat tiga pandangan berbeda; pertama,
mengartikan administrasi lebih luas dari pada
manajemen (manajemen merupakan inti dari
administrasi); kedua, melihat manajemen
lebih luas dari pada administrasi (administrasi
merupakan inti dari manajemen); dan ketiga
yang menganggap bahwa manajemen identik
dengan administrasi.

Lanjutan
Dalam hal ini, istilah manajemen diartikan sama dengan

istilah administrasi atau pengelolaan, yaitu segala usaha


bersama untuk mendayagunakan sumber-sumber, baik
personal maupun material, secara efektif dan efisien
guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di
sekolah secara optimal. Pengertian manajemen menurut
Hasibuan merupakan ilmu dan seni mengatur proses
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber
lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan
tertentu. Definisi manajemen tersebut menjelaskan
pada kita bahwa untuk mencapai tujuan tertentu, maka
kita tidak bergerak sendiri, tetapi membutuhkan orang
lain untuk bekerja sama dengan baik.

Lanjutan
Berdasarkan fungsi pokoknya, istilah manajemen

dan administrasi mempunyai fungsi yang sama,


yaitu: merencanakan (planning), mengorganisasikan
(organizing), mengarahkan (directing),
mengkoordinasikan (coordinating), mengawasi
(controlling), dan mengevaluasi (evaluation).
Menurut Gaffar (1989) mengemukakan bahwa
manajemen pendidikan mengandung arti sebagai
suatu proses kerja sama yang sistematik, sistemik,
dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan
pendidikan nasional.

Tujuan MBS
1Meningkatkan mutu pendidikan melalui
kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola
dan memberdayakan sumber daya yang tersedia;
2.Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan
masyarakat dalam penyelenggaraanpendidikan
melalui pengambilan keputusan bersama;
3.Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada
orang tua, masyarakat, dan pemerintah tentang
mutu sekolahnya; dan
4.Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah
tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.

Lanjutan
Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan inti

dari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi


serta memberikan beberapa keuntungan berikut:
a.Kebijaksanaan dan kewenangan sekolah membawa
pengaruh langsung kepada peserta didik, orang tua, dan
guru.
b.Bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal.
c.Efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti
kehadiran, hasil belajar,tingkat pengulangan, tingkat putus
sekolah, moral guru, dan iklim sekolah.
d.Adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan,
memberdayakan guru, manajemen sekolah, rancangan
ulang sekolah, dan perubahan perencanaan

Lanjutan
Manfaat MBS
1.Dengan kondisi setempat, sekolah dapat meningkatkan
kesejahteraan guru sehinggadapat lebih berkonsentrasi
pada tugasnya;
2.Keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam
menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi, mendorong
profesionalisme kepala sekolah, dalam peranannya sebagai
manajer maupun pemimpin sekolah;
3.Guru didorong untuk berinovasi;
4.Rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat
meningkat dan menjamin layananpendidikan sesuai
dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta.

Prinsip Prinsip MBS


Pada dasarnya terdapat empat prinsip MBS yaitu

otonomi sekolah, fleksibilitas, partisipasi untuk


mencapai sasaran mutu sekolah,dan demokrasi
pendidikan.
Otonomi dapat diartikan sebagai kemandirian yaitu
kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya
sendiri (pengelolaan mandiri).
Fleksibilitas dapat diartikan sebagai keluwesankeluwesan yang diberikan kepada sekolah untuk
mengelola, memanfaatkan, dan memberdayakan
sumber daya sekolah seoptimal mungkin untuk
meningkatkan mutu sekolah.

Lanjutan
Peningkatan partisipasi , yang dimaksud

adalah penciptaan lingkungan yang terbuka


dan demokratik.
Peningkatan partisipasi warga sekolah dan
masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah
akan mampu menciptakan: (a) keterbukaan
(transparansi); (b) kerja sama yang kuat; (c)
akuntabilitas; dan (d) demokrasi pendidikan.

Lanjutan
Menurut Nurkholis (2003:52) terdapat

empat prinsip untuk mengelola sekolah


dengan menggunakan MBS, yaitu prinsip
ekuifinalitas, prinsip desentralisasi, prinsip
sistem pengelolaan mandiri, dan prinsip
inisiatif sumber daya manusia.
3.Karakteristik MBS
Menurut Nurkholis (2003:56), MBS memiliki
8 karakteristik.

Pertama, sekolah dengan MBS memiliki misi atau cita-

cita menjalankan sekolah untuk mewakili sekelompok


harapan bersama, keyakinan dan nilai-nilai sekolah,
membimbing warga sekolah di dalam aktivitas
pendidikan dan memberi arah kerja.
Kedua, aktivitas pendidikan dijalankan berdasarkan
karakteristik kebutuhan dan situasi sekolah.
Ketiga, terjadinya proses perubahan strategi
manajemen yang menyangkut hakikat manusia,
organisasi sekolah, gaya pengambilan keputusan,
gaya kepemimpinan, penggunaan kekuasaan, dan
keterampilan-keterampilan manajemen

Lanjutan
Keempat, keleluasaan dan kewenangan dalam

pengelolaan sumber daya yang efektif untuk


mencapai tujuan pendidikan, guna
memecahkan masalah-masalah pendidikan
yang dihadapi, baik tenaga kependidikan,
keuangan dan sebagainya.
Kelima, MBS menuntut peran aktif sekolah,
adiministrator sekolah, guru, orang tua, dan
pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan di
sekolah.

Lanjutan
Keenam, MBS menekankan hubungan antarmanusia

yang cenderung terbuka, bekerja sama, semangat


tim, dan komitmen yang saling menguntungkan.
Oleh karena itu, iklmi orgnanisasi cenderung
mengarah ke tipe komitmen sehingga efektivitas
sekolah dapat tercapai.
Ketujuh, peran administrator sangat penting dalam
kerangka MBS, termasuk di dalamnya kualitas yang
dimiliki administrator.
Kedelapan, dalam MBS, efektivitas sekolah dinilai
menurut indikator multitingkat dan multisegi.

Lanjutan
Sedangkan menurut MPMBS, karakteristik

MPMBS dikategorikan menjadi input, proses,


dan output (Depdiknas, 2002). Selanjutnya,
uraian singkat berikut dimulai dari output dan
diakhiri input, mengingat output memiliki
tingkat kepentingan tertinggi, sedang proses
memiliki tingkat kepentingan satu tingkat
lebih rendah dari output, dan input memiliki
tingkat kepentingan dua tingkat lebih rendah
dari output.

Output yang diharapkan


Output sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses

pembelajaran dan manajemen sekolah.


Pada umumnya, output dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu
output berupa prestasi akademik (academic achievement) dan
output berupa prestasi non-akademik (non-academic achievement).
Output prestasi akademik misalnya, NEM, lomba karya ilmiah
remaja, lomba (Bahasa Inggris, Matematika, Fisika), cara-cara
berpikir (kritis, kreatif/ divergen, nalar, rasional, induktif, deduktif,
dan ilmiah).
Output non-akademik, misalnya keingintahuan yang tinggi, harga
diri, kejujuran, kerja sama yang baik, rasa kasih sayang yang tinggi
terhadap sesama, solidaritas yang tinggi, toleransi, kedisiplinan,
kerajinan, prestasi olah raga, kesenian, dan kepramukaan.

Lanjutan
2.Proses
Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik proses sebagai berikut:
a. Proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi
b. Kepemimpinan sekolah yang kuat
c. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib
d. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif
e. Sekolah memiliki budaya mutu
f. Sekolah memiliki teamwork yang kompak, cerdas, dan dinamis
g. Sekolah memiliki kewenangan (kemandirian)
h. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat
i. Sekolah memiliki keterbukaan (transparansi) manajemen
j. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah (psikologis dan pisik)
30
k. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan
l. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan
m. Memiliki komunikasi yang baik
n. Sekolah memiliki akuntabilitas
o. Sekolah memiliki kemampuan menjaga sustainabilitas atau keberlanjutan.

lanjutan
3. Input pendidikan
Beberapa karakteristik MBS ditinjau dari
aspek input pendidikan adalah (a) memiliki
kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu yang
jelas; (b) sumber daya tersedia dan siap; (c)
staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi;
(d) memiliki harapan prestasi yang tinggi; (e)
fokus pada pelanggan (khususnya siswa);
serta (f) input manajemen.

Pengelolaan Pembiayaan
Sekolah dalam Konteks MBS
Lembaga pendidikan dalam melaksanakan

tugasnya menerima dana dari berbagai


sumber.
Sumber-sumber dana pendidikan antara lain
meliputi: Anggaran rutin (DIK); Anggaran
pembangunan (DIP); Dana Penunjang
Pendidikan (DPP); Dana BP3; Donatur; dan
lain-lain yang dianggap sah oleh semua pihak
yang terkait. Pendanaan pendidikan pada
dasarnya bersumber dari pemerintah, orang
tua dan masyarakat (pasal 33 No. 2 tahun
1989).

Lanjutan
Sejalan dengan adanya Manajemen Berbasis Sekolah

(MBS), sekolah dapat menggali dan mencari sumbersumber dana dari pihak masyarakat, baik secara
perorangan maupun secara melembaga, baik di dalam
maupun di luar negeri, sejalan dengan semangat
globalisasi.
Dana yang diperoleh dari berbagai sumber itu perlu
digunakan untuk kepentingan sekolah, khususnya
kegiatan belajar mengajar secara efektif dan efisien.
Sehubungan dengan itu, setiap perolehan dana,
pengeluarannya harus didasarkan pada kebutuhankebutuhan yang telah disesuaikan dengan rencana
anggaran pembiayaan sekolah (RAPBS).

Lanjutan
Terdapat 3 (tiga) model alokasi dana: (i) dana

dekonsentrasi; (ii) dana yang langsung ke


kabupaten/kota; dan (iii) dana yang langsung
ke sekolah. Dana dekonsentrasi diberikan oleh
pemerintah pusat kepada Gubernur sebagai
wakil pemerintah pusat. Dana yang langsung
ke kabupaten/kota disebut Dana Alokasi
Umum (DAU). DAU merupakan transfer yang
bersifat umum (block grant) untuk mengatasi
masalah ketimpangan horizontal (antar
daerah).

Lanjutan
Tujuannya adalah untuk mencapai

keseimbangan kemampuan keuangan antar


daerah (Lampiran Keputusan Presiden RI No.
1/2003). Melalui sistem block grant,
pemerintah daerah diberi keleluasaan
mengelola dana tersebut dalam hal besarnya
dana yang dialokasikan untuk setiap sektor,
termasuk sektor pendidikan. Hal ini cenderung
mengakibatkan munculnya perbedaan pola
dalam penggunaan DAU oleh kabupaten/kota,
tergantung pada anggaran masing-masing
yang ada.

Lanjutan