Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Patah getas sebenarnya telah menjadi permasalahan sejak tahun 1900-an.
Kapal-kapal perang selama perang dunia kedua banyak mengalami retak bahkan
patah menjadi dua bagian yang mengakibatkan kerusakan total. Hampir semuanya
kerusakan ini terjadi pada musim dingin dan terjadi pada saat kapal berada di laut
bebas maupun ketika sedang berlabuh. Sejak saat itu perpatahan getas menjadi
perhatian utama. Penelitian pun gencar dilakukan untuk mencari penyebab
kegagalan tersebut dan menemukan cara-cara pencegahannya.
Akhirnya ditemukan bahwa penyebab kegagalan tersebut adalah karena
kegagalan getas baja lunak yang digunakan sebagai penyokong kapal. Terdapat
tiga buah faktor dasar yang mendukung terjadinya patah pembelahan getas. Ketiga
faktor tersebut adalah1:
1. Keadaan tegangan tiga sumbu
2. Suhu rendah
3. Laju regangan yang tinggi atau pembebanan yang tinggi atau laju
pembebanan yang cepat.
Ketiga faktor tersebut tidak perlu ada secara bersamaan pada waktu terjadi
patah getas. Sebagian besar peristiwa kegagalan getas disebabkan oleh keadaan
tegangan tiga sumbu, seperti terdapat pada takik, dan oleh sumbu rendah. Akan
tetapi, kedua penyebab tersebut akan lebih menonjol apabila terdapat

laju

pembebanan yang tinggi, untuk menentukan kepekaan bahan terhadap patah getas,
seringkali digunakan pengujian impak. Oleh karena itu, pada Laboratorium
Metalurgi dilakukanlah pengujian untuk mengetahui sifat perpatahan dari logam,
yaitu dengan uji impak

1.2 Tujuan Percobaan


Tujuan dilakukan percobaan ini adalah untuk mengetahui sifat perpatahan
(britteleness), yaitu ketangguhan suatu bahan atau sifat logam terhadap beban
kejut2.
1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah pada percobaan impak ini yaitu bahan yang
digunakan adalah jenis baja FL (Fast Long) dengan luas penampang 80 mm2,
kemudian dilakukan pengujian pada temperatur yang berbeda (27 dan 0 C).
1.4 Sistematika Penulisan
Penulisan laporan ini dibagi menjadi enam bab. Dimana BAB I menjelaskan
mengenai latar belakang, tujuan percobaan, batasan masalah, sistematika
penulisan. BAB II menjelaskan mengenai tinjauan pustaka yang berisi mengenai
teori singkat dari percobaan yang dilakukan, BAB III menjelaskan mengenai
metode penelitian, BAB IV menjelaskan mengenai data percobaan, BAB V
menjelaskan mengenai pembahasan dan BAB VI menjelaskan mengenai
kesimpulan dari percobaan. Selain itu juga di akhir laporan terdapat lampiran
yang memuat contoh perhitungan, jawaban pertanyaan dan tugas serta terdapat
juga blangko percobaan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Uji Impak
Suatu bahan memiliki katangguhan dan kekuatan tarik yang tinggi akan

tetapi sesuai untuk kondisi pembebanan kejut. Ketahanan pembebanan kejut


biasanya diukur dengan menggunakan metode izod atau charpy yang bertakik.
Ada tiga macam takiakan yang biasa digunakan dalam uji impak 1,yaitu:
1. Charpy takikan bentuk V (Charpy V-notch)
2. Charpy takikan bentuk U (Charpy unotch)
3. Charpy takikan bentuk lubang kunci (Charpy keyhole specimen)

Gambar 1. (a) Charpy takikan bentuk V (Charpy V-notch). (b) Charpy takikan
bentuk lubang kunci (Charpy keyhole specimen). (c) Charpy takikan
bentuk U (Charpy unotch)

Pada penelitia perpatahan getas logam telah menggunakan berbagai bentuk


benda uji untuk pengujian impak3 bertakik. Secara umum benda uji
dikelompokkan ke dalam dua golongan standar. Dikenal ada dua metoda
percobaan impak 1, yaitu;
1. Metode Izod
2. Metode Charpy
Beban pukulan yang berbentuk seperti bandul, diperoleh dari ayunan bandul
yang dilepaskan pada ketinggian tertentu, berat bandul dan panjang lengan sudah
ditentukan sebelumnya. Benda uji berukuran standar dengan penampang persegi
dipukul pada sisi belakang takik hingga patah, dari bentuk perpatahan yang terjadi
dapat diketahui sifat perpatahannya.
2.2

Metode Uji Impak


Untuk mengetahui sifat perpatahan,keuletan dan kegetasan suatu lmaterial,

dapat dilakukan suatu pengujian yaitu dengan uji impak. Umumnya pengujian ini
menggunakan benda uji yang bertakik. Berbagai jenis pengujian impak batang
bertakik telah digunakan untuk menentukan kecenderungan bahan untuk bersifat
getas. Dengan uji ini kita dapat mengetahui perbedaan sifat bahan yang tidak
teramati dalam uji tarik.
Hasil yang diperoleh dari pengujian tidak sekaligus memberikan besaran
rancangan yang dibutuhkan, karena tidak mungkin mengukur komponen tegangan
tiga sumbu pada takik. Para peneliti perpatahan getas logam telah menggunakan
berbagai bentuk benda uji untuk pengujian impak bertakik.
Uji impak termasuk uji mekanik dinamis, dilihat dari cara pengujiannya
yaitu dengan pemukulan secara tiba-tiba. Suatu material yang mendapat beban
statis seperti tarik, kekerasan, tekuk dan lain-lain, maka akan berbeda

karakteristiknya jika kita bandingkan dengan material

yang mendapat beban

dinamis.
Bila baja yang kualitasnya kurang baik atau perlakuan panasnya tidak
sempurna, maka dengan pengujian statis semacam tarik, kekerasan dan lain-lain,
masih mendapatkan angka yang baik, tetapi bila diuji dengan pukulan secara tibatiba seperti uji impak, maka akan menunjukkan angka yang rendah.
Bahan logam yang biasa diuji impak seperti ketel uap, hasil pengelasan,
pelat kapal, pipa gas dan minyak. Hal ini disebabkan bahan logam tersebut
dipakai dalam kondisi temperatur yang selalu berubah-ubah, sehingga
mengakibatkan bahan tersebut dapat mengalami kegetasan sehingga peka
terhadap beban kejut seperti pukulan dan tekanan yang tiba-tiba. Dengan
pengujian impak ini material bisa diketahui ketangguhannya. Dengan demikian,
dengan uji impak dapat mengetahui material logam tangguh atau tidak. Untuk
ketentuan spesimennya dibuat dengan ukuran tertentu dan diberi takikan dengan
tipe tertentu pula. Kemudian dipukul secara tiba-tiba sampai patah lalu mengukur
kerja pukulan dalam satuan joule (J)
Secara umum harga impak (HI) didefinisikan sebagai perbandingan antara
energi yang digunakan untuk mematahkan bahan (U) dengan luas penampang sisa
setelah diberi takikan. Dikenal ada dua metoda percobaan impak 1, yaitu;
1. Metoda Izod
Dengan batang impak kontiveler. Benda uji Izod lazim digunakan di
Inggris, namun saat ini jarang digunakan. Benda uji Izod mempunyai
penampang lintang bujursangkar atau lingkaran dan bertakik V di dekat
ujung yang dijepit.
2. Metoda Charpy
Batang impak biasa, banyak di gunakan di Amerika Serikat. Benda uji
Charpy mempunyai luas penampang lintang bujursangkar (10 x 10 mm)
dan mengandung takik V-45o, dengan jari-jari dasar 0,25 mm dan
kedalaman + 2 mm. Benda uji diletakan pada tumpuan dalam posisi
mendatar dan bagian yang tak bertakik diberi beban impak dengan ayunan

bandul (kecepatan impak sekitar 16 ft/detik). Benda uji akan melengkung


dan patah pada laju regangan yang tinggi, kira-kira 103 detik-1.
Perbedaan cara pembebanan antara metoda Izod dan Metoda Charpy,
ditunjukkan pada Gambar 2.

(a)

(b)
Gambar 2. Sketsa yang menggambarkan metode pembebanan pada uji impak (a)
uji impak dengan Charpy .(b) uji impak dengan Izod

Kendala plastis pada takik menghasilkan keadaan tegangan tiga sumbu.


Konsentrasi tegangan plastis maksimum diberikan oleh persamaan:
Ka = ( 1 + /2 /2).............................................................................................(1)
Di mana sudut antara sisi takik. Nilai relatif ketiga tegangan utama sangat
tergantung pada dimensi batang dan ukuran takik. Benda uji standar cukup tebal
untuk menjamin pembebanan regangan bidang yang tinggi. Dengan demikian,
benda uji takik V Charpy standar, memberikan kondisi yang baik bagi pengujian
patah getas. Oleh karena itu, pemakaian benda ini bukan standar harus dilakukan
dengan hati-hati.
Pada uji impak pengukura energi yang diserap untuk mematahkan benda uji.
Setelah benda uji patah, bandul berayun kembali. Makin besar energi yang
diserap, makin rendah ayunan kembali dari bandul. Energi perpatahan yang
diserap biasanya dinyatakan dalam joule atau foot-pound dan dibaca langsung
pada skala petunjuk (dial) yang telah dikalibrasi yang terdapat pada alat penguji.
Energi yang diperlukan untuk mematahkan benda uji Charpy sering kali
diberi tanda CV 25 ft-lb. Di Eropa hasil uji impak seringkali dinyatakan sebagai
energi yang diserap tiap satuan luas penampang lintang benda uji. Perlu diingat
bahwa energi perpatahan yang diukur dengan uji Charpy hanyalah energi relatif
dan tidak bisa digunakan secara langsung dalam persamaan perancangan.
Cara mengukur dari uji Charpy salain hasil dari alat uji,biasanya dilakukan
penelaahan permukaan patahan untuk menentukan jenis patahan yang terjadi;
patahan berserat (patahan geser), granular (patahan belah), atau campuran dari
keduanya. Bentuk patahan yang berbeda-beda ini dapat ditentukan dengan mudah,
walaupun pengamatan permukaan patahan tidak menggunakan perbesaran.
Sementara permukaan patahan ulet berserat yang berbentuk dimpel
menyerap cahaya serta penampilan yang buram. Biasanya dibuat suatu perkiraan
berapa persen (%) patahan permukaan yang terjadi berupa patahan belah atau
serat.
2.3

Angka Hasil Pukul Takik (Impact)

Angka pukul takik (impact) memiliki satuan joule yang didefinisikan


sebagai hasil bagi dari kerja pukul dalam Kgm terhadap luas penampang dalam
cm2 dari benda uji yang diukur dari luas penampang yang diberi takikan dalam
cm2. Metode pengujian yang dilakukan ada dua yaitu dengan metode charpy dan
metode izod. Dimana pada metode charpy spesimen posisinya horizontal dengan
takikan spesimen ditengah-tengah dan arah takikan berlawanan dengan palu
pemukulnya. Sedangkan metode izod posisi spesimennya vertical dengan takikan
menghadap palu pemukul.
Perlu menjadi perhatian bahwa selain pengaruh temperatur pengujian impact
juga sangat berpengaruh terhadap posisi pengambilan spesimen yaitu antara
perbedaan arah spesimen sangat berpengaruh terhadap nilai pengujian. masingmasing posisi pengambilan spesimen dan arah takikan mempunyai nilai yang
berlainan1.
2.4

Cara Pemukulan dengan Mesin Charpy


Spesimen diletakkan horizontal lalu bagian yang ditakik diletakkan tepat

ditengah-tengah dan arah pukulan berlawanan dengan palu pemukul serta


spesimen ditahan oleh dua penumpu kiri dan kanan dengan jarak 40 mm.
Kemudian palu dipukulkan tepat ditengah-tengah punggung yang ditakik. Angka
pengujian ini sangat berpengaruh terhadap ukuran benda uji, bentuk takikan dan
temperatur waktu pengujian. Bekas pukulan spesimen bisa langsung putus dan
menampakkan permukaan yang mengkilat, hal ini menunjukkan nilai impact
rendah, begitu juga sebaliknya jika spesimen tidak putus dan menunjukkan
patahannya buram dan berserabut, hal itu menunjukkan nilai kuat impactnya
tinggi disamping bisa melihat secara langsung angka impact pada mesin uji
impact.
2.5

Standar Spesimen Uji Impact


Untuk mendapatkan hasil yang menguatkan, maka batang uji harus

distandarisasi terlebih dahulu, baik ukuran dan tipe takikannya. Benda uji atau
spesimen harus sesuai dan dikerjakan seteliti mungkin dengan ketentuan

kehalusan tertentu. Bahkan selama preparasi spesimen uji impact, material tidak
boleh mengalami pengaruh deformasi, maupun pengaruh pengerjaan panas.
Dengan demikian kondisi temperatur pengerjaan preparasi harus dalam kondisi
dingin agar tidak mempengaruhi struktur mikro materialnya 1.
Ukuran dan tipe takikan yang digunakan untuk uji tumbuk atau uji pukul
takik atau uji impact. Beberapa tipe takikan spesimen uji impact metoda charpy
yaitu tipe (A, B dan C) dapat dilihat pada gambar 2. Pada gambar terlihat ada tiga
tipe spesimen yaitu : tipe A atau V (V Notch), tipe B atau lubang kunci (key notch)
dan tipe C atau U (U Notch).
Ukuran beberapa jenis spesimen uji impact dengan metode charpy bisa
disesuaikan dengan tebal yang akan diuji seperti pada Gambar 4.

Gambar 3. Ukuran beberapa jenis spesimen uji impact dengan metode charpy

10

Tipe dan ukuran spesimen metode izod yaitu tipe D dengan ukuran seperti
Gambar 5 standar spesimen uji impact metode charpy pada material. Cara
pengujian dengan metode izod sesuai dengan Gambar 5, benda uji atau spesimen
diklem tegak lurus tepat pada bagian yang ditakik yang kemudian dipukul dengan
palu dari bagian muka yang ditakik. Posisi spesimen uji impact dengan metode
izod, berikut usuran palu dan syarat-syarat yang harus dipenuhi saat melakukan
pengujian impact (sesuai standar ASTM).

Gambar 4. Standar Spesimen Metode Izod Tipe D

11

Gambar 5. Uji impact metode izod

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Diagram Alir Percobaan


BS 4360 A

Mengukur luas penampang dan


kedalaman takik
Meletakkan benda
uji pada tumpuan
Memasang benda uji
dengan skala 300 joule
Melepaskan bandul

Data

Energi
yang
diserap

Pembahasan
literatur
Kesimpulan

12

Gambar 6. Diagram alir percobaan

3.2 Alat dan Bahan


a. Benda uji
b. Mesin uji impak charpy

11

c. Penjepit spesimen
d. Bejana berisi es
e. Jangka sorong
3.3 Prosedur Percobaan
1. Buatlah benda uji dengan ukuran standar.
2. Ukur luas penampang dan kedalaman takik pada benda uji.
3. Pasang benda uji pada tumpuan. Perhatikan letak dan posisi takik.
4. Pasang Bandul pada posisi skala 300 Joule.
5. lepaskan bandul dan catat energi bandul yang diserap untuk mematahkan
benda uji.
6. Lakukan percobaan pada kondisi temperatur yang berbeda-beda, yaitu 5 C,
dan 25 C.
7. Amati dan gambar bentuk perpatahan yang terjadi.

13

BAB IV
HASIL PERCOBAAN

4.1 Tabel hasil Percobaan


METODE CHARPY

Beban

: 300 Joule

Tabel 1. Data hasil percobaan


No

Bahan

Suhu
C

Energi
(joule)

BS4360A

Luas
Penampang
(mm2)
80

25

65

Harga
Impak
(J/mm2)
0,8125

1.

Bentuk
%
patahan
39 %

2.

BS4360A

80

52

0,65

11%

3.

BS4360A

80

100

94

1,175

44%

14

BAB V
PEMBAHASAN
13

Uji impak merupakan salah satu metode yang digunakan untuk


mengetahui sifat suatu material. Pada percobaan yang telah dilakukan untuk jenis
baja face long pada temperatur 27 C, dengan luas penampang 80 mm 2. maka
besarnya energi bandul yang diserap untuk mematahkan material sebesar 85 Joule,
sedangkan jika dilakukan pengukuran dari bentuk patahannya maka dapat
disimpulkan bahwa material tersebut bersifat ulet (% patahannya sebesar 26 %).
Pada temperatur 5 C serta luas penampang 80 mm 2 , besarnya energi bandul yang
diserap untuk mematahkan material sebesar 53 Joule. Dan jika dilakukan
pengukuran dari bentuk patahannya maka dapat dikatakan bahwa material tersebut
bersifat ulet, yakni berdasarkan % patahannya sebesar 26 %.
Berdasarkan data dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat
digambarkan kurva peralihan sebagai berikut :

15

Gambar 7. Kurva peralihan

14

BAB VI
KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan uji impak yang telah dilakukan, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. Metode uji impak terbagi menjadi 2, yaitu metode charpy dan metode izot.
2. Fungsi dari uji impak yaitu untuk mengetahui sifat mekanik dari suatu
material.
3. semakin besar temperatur material pada luas penampang yang sama, maka
harga impaknya pun semakin besar serta energi bendul yang diserap untuk
mematahkan material face long.
4. material face long memiliki sifat yang ulet.

16

DAFTAR PUSTAKA
15

1.

ASM Hand book , Volume 8 Mechanical Testing.

2.

Tim Laboratorium Metalurgi, 2008, Buku panduan praktikum


laboratorium metalurgi II , Cilegon, Banten.

3.

www.google.com

17

Lampiran B. Jawaban Tugas Dan Pertanyaan


1. Grafik hubungan antara Harga Impact terhadap Temperatur

2.

Untuk menentukan daerah getas dan daerah lunak/ulet, dapat diketahui


setelah

suhu peralihan

ditentukan.

Dari

pembahasan

didapat

suhu

peralihannya adalah pada suhu yag lebih dari 5 0C yaitu sekitar 25 0C. Hal ini
berarti bahwa daerah getas terletak pada bagian bawah suhu peralihan dan
sebaliknya pada daerah lunak/ulet terletak pada bagian atas suhu peralihan.
Daerah getas dan ulet dapat dilihat dalam grafik diatas.
3.

Temperatur transisi atau suhu peralihan merupakan temperatur yang


menentukan perubahan sifat logam dari getas menjadi lunak/ulet. Dari grafik

18

pada kurva suhu peralihan diatas penentuan temperatur transisi dengan


menggunakan kriteria T3, yaitu nilai rata-rata bagian atas dan bawah. Dari
grafik telah ditentukan nilai temperatur peralihannya terjadi pada temperatur
diatas 5 0C yaitu sekitar 25 0C.

4.

Macam-macam takik uji impak dapat dibedakan menjadi 4 macam, yaitu :


a.

Tipe A atau tipe takikan V, takikan benda uji ini berbentuk huruf V
dengan membentuk lingkaran dibagian sudutnya. Tipe A ini merupakan
tipe takikan spesimen uji impak Charpy. Gambaran dari uji impak Charpy
ini dapat dilihat dibawah ini.

Gambar 8. Spesimen uji impak charpy tipe A


b.

Tipe B atau lubang anak kunci (key notch). Tipe ini juga
merupakan takiakan benda uji impak Charpy. Bentuk takikannya memang
menyerupai lubang anak kunci dengan gambarannya sebagi berikut:

19

Gambar 9. Spesimen uji impak charpy tipe B


c.

Tipe C atau tipe takikan U, tipe ini merupakan tipe takikan


spesimen uji impak Charpy. Takikan benda uji ini berbentuk huruf dengan
membentuk setengah lingkaran dibagian sudutnya, seperti yang terlihat
pada gambar berikut ini :

Gambar 10. Spesimen uji impak charpy tipe C


d.

Tipe D, tipe takikan ini merupakan tipe takikan spesimen benda uji
impak metode Izod, gambarannya adalah sebagai berikut :

Gambar 11. Spesimen uji impak izod tipe D


5. Gambar dan bentuk dimensi uji impak sebagai berikut :

20

ASTM E23 untuk Charpy

Gambar 12. ASTM E23 untuk charpy


Keterangan :

ASTM E23 untuk Izod

21

Gambar 13. ASTM E23 untuk izod


Keterangan :

6. Berikan 5 contoh kegunaan hasil uji impak dalam kehidupan sehari-hari!


a. Untuk mengukur ketangguhan bahan berkekuatan rendah seperti baja
konstruksi.
b. Untuk memperbandingkan pengaruh paduan terhadap ketangguhan takik.
c. Untuk memperbandingkan pengaruh perlakuan panas pada ketangguhan
bahan.
d. Untuk keperluan pengendalian kualitas bahan.
e. Untuk mengetahui ketangguhan bahan pada berbagai temperatur.
7. Bagaimana bentuk perpatahan dari material getas dan lunak?
i.

Bentuk perpatahan dari meterial getas adalah berbentuk


granular. Facet permukaan patahan belah datar memiliki daya pantul yang
tinggi serta penampilan yang berkilat.

ii.

Bentuk perpatahan dari meterial lunak adalah berserat yang

berbentuk dimpel menyerap cahaya serta penampilannya buram.

22

Lampiran C. Gambar Alat dan Bahan

Gambar 14. Mesin uji impak charpy

Anda mungkin juga menyukai