Anda di halaman 1dari 8

PENGUJIAN TURBIN PELTON

1. PENDAHULUAN
Turbin adalah mesin penggerak, dimana energi fluida kerja dipergunakan
langsung untuk memutar roda turbin. Putaran turbin akan mennghasilkan daya,
besarnya putaran roda turbin tergantung dari beberapa faktor seperti :
a. kecepatan atau tekanan air yang diperoleh dari letak ketinggian air (H).
b. bentuk / jumlah sudu dan jarak radius roda turbin serta jarak nosel kesudu.
Daya yang dihasilkan turbin yang berkenaan dengan faktor-faktor tersebut diatas
dapat disebut sebagai prestasi mesin turbin, untuk mengetahui seberapa besar prestasi
turbin perlu dilakukan pengujian. Hal ini menjadi sangat penting karena turbin itu
sendiri nantinya akan digunakan untuk berbagai keperluan, seperti misalnya
:generator pembangkit listrik, pompa, baling-baling dan sebagainya.
Proses untuk mendapatkan suatu prestasi turbin tersebut dapat diwujudkan
dengan telah dirancang dan dibuatnya suatu alat praktikum turbin pelton dalam skala
laboratorium uji prestasi mesin Institut Teknologi Indonesia. Seperti layaknya turbin
sesungguhnya secara umum dan khususnya pada alat yang digunakan sebagai sarana
praktikum, maka perlu dilakukan suatu pengujian untuk mendapatkan unjuk kerja atau
prestasi dan kapasitasnya. Berdasarkan hasil pengujian akan diperoleh gambaran yang
pasti apakah alat tersebut sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan.

2.TEORI DASAR
Turbin Impuls atau turbin tekanan sama dengan yang dirancang dan
dikembangkan pertama kali oleh Lester A. Pelton (1829-1908), sehingga dinamakan
Turbin Pelton.
Turbin Pelton juga dikenal sebagai turbin pancaran bebas, karena aliran yang
keluar dari nosel, tekanan yang keluar adalah sama dengan tekanan atmosfir
sekitarnya. Semua energi ketinggian tempat (H) dan tekanan ketika masuk ke sudu
turbin diubah menjadi energi kecepatan. Pancaran air yang keluar dari nosel akan
mengenai bagian tengah penampang suda yang berbentuk cawan-belah elips. Bentuk

cawan demikian dimaksudkan agar bias membalikkan pancaran air dengan baik dan
membebaskan sudu-sudu dari gaya samping.
Dengan mengatur pancaran air yang diperoleh akibat ketinggian tempat (H)
dan tekanan air yang tertentu (gbr 1), maka akan didapatkan putaran roda turbin
dengan kecepatan (u). Dengan kata lain, berputarnya roda turbin dengan kecepatan ini
adalah akibat adanya suatu gaya (F) yang bekerja pada roda turbin tersebut yang
disebabkan oleh kecepatan semburan air (Vj) melalui nosel.
Besarnya Gaya (F) yang diberikan kepada turbin pelton melalui sumbu roda
secara teoritis dapat dituliskan dalam bentuk persamaan sebagai berikut :
F = Q (Vj-u) (1-cos )

....................

(2.1)
Hubungan besarnya gaya (F) yang diberikan pada sudu turbin dengan
kecepatan linier roda turbin (u), akan diperoleh suatu daya teoritis turbin yang
diturunkan dalam bentuk persamaan :
Nt = F . u = .Q.u (Vj-u) (1-cos)

(2.2)
Dengan :
Nt

= daya teoritis yang diberikan pada roda turbin pelton [N]

= gaya air yang diberikan pada roda turbin pelton (N)

= massa jenis air (g/cm3)

= debit air (liter/menit)

Vj

= kecepatan semburan air (m/det)

= kecepatan linier roda turbin (m/det)

Cos = sudut ember [1650]


Dari persamaan diatas adalah Vj (kecepatan semburan air) kalau noselnya sempurna
maka seluruh ketinggian (Head) diubah menjadi kecepatan semburan air.Namun pada
kenyataanya ada kerugian pada nosel sebesar 2 sampai 8 % yang digunakkan oleh
koefisien kecepatan (Cv) sehingga :

Vj

Cv [2gh]1/2

........................

(2.2)
Dengan :
Vj =

kecepatan semburan air [m/det]

Cv = koefisien kecepatan 0,92-0,98


H

= tinggi air jatuh head [m]

Daya yang diberikan pada turbin pelton


Nt =

F .u

(2.3)
Dengan :
Nt = daya teoritis [kW]
F = gaya air yang diberikan pada turbin pelton [N]
U = kecepatan linier roda turbin pelton [m/det]
Sedangkan kecepatan linier roda turbin (u) seperti yang terlihat pada gambar
1. ditulis dalam bentuk persamaan :
U = 2 n r

(2.4)
Dengan :
N = putaran roda turbin [rpm]
r

= jari-jari orda turbin [m]

r = 0,170 m

Menurut persamaan (2.1) daya teoritis suatu turbin impuls merupakan fungsi
parabolic dari kepesatan sudu dan mencapai maksimum bila dNp/du = 0, atau :
u = 2 n r = Vj
(2.5)

Ciri lain dari turbin Pelton adalah layaknya turbin impuls, maka turbin ini mempunyai
hulu (head) yang tinggi namun mempunyai kecepatan spesifik ( nq) yang relative
rendah. Kecepatan inilah yang menjadi dasar untuk menentukan besaran-besaran
selanjutnya dalam merancang turbin pelton.
2.1 DAYA POROS
Dalam sub bab diatas telah disebutkan tentang daya turbin secara teoritis
(pers.2.2), daya yang dihasilkan dari persamaan tersebut dapat dikatakan sebagai input
dari suatu proses. Jika daya turbin tadi dihubungkan pada suatu system aplikasi maka
daya turbin akan berubah menjadi daya poros output, daya poros terjadi karena
adanya beban dari system aplikasi. Daya poros ditulis dalam bentuk persamaan
sebagai berikut :
Np = Mt .

(2.6)
Dengan :
Np = daya poros turbin [kW]
Mt = momen punter [Nm]
= kecepatan sudut [rad/det]
= 2 n/ 60

3. METODA PENGUJIAN
3.1 SISTEM PENGUJIAN
Dalam bab sebelumnya dikemukakan bahwa turbin pelton merupakan turbin
air jenis impuls yang memanfaatkan air sebagai fluida kerjanya, fluida ini akan
menimbulkan suatu besaran daya setelah memutarkan sudu-sudu roda turbin dengan
kecepatan tertentu.

Untuk mengetahui seberapa besar daya efisiensi atau prestasi yang dihasilkan
dari perputaran roda mesin turbin yang dipengaruhi oleh laju aliran fluida, maka telah
dibuat suatu alat turbin pelton dalam skala laboratorium, seperti yang kita ketahui

nilai akhir yang kita peroleh adalah nilai momen puntir (torsi). Mulai dari power
supply sampai Cyclo converter yang berfungsi merubah kecepatan putaran motor
pompa air sentrifugal, dan juga panel tampilan RPM dan temperatur. Selanjutnya
pompa air akan menghisap air dari bak air dalam jumlah tertentu yang terbaca melalui
Rotatometer. Pancaran air yang keluar dari nosel akan mengenai sudu roda turbin
yang akan menghasilkan perputaran, proses pengambilan data dimulai dari dengan
mencatat semua variable yang diperlukan, misalnya kecepatan awal roda turbin
hingga berputar, temperature awal dan akhir dari dynamometer. Setelah semua dicatat
proses pengujian dimuai dari mengaktifkan dan menggunakan unit rem disk dengan
tekanan tertentu, sehingga poros turbin tidak sampai berhenti. Hal ini dimaksudkan
untuk mendapatkan harga kecepatan akhir dari roda untuk mengetahui efisiensi kerja
daya poros turbin tersebut.
3.2 SPESIFIKASI ALAT
Perwujudan rancangan dari Turbin Pelton dapat dilihat pada gambar 3 dan 4.

Gambar 2. Blok diagram system pengujian turbin pelton.

Gambar 3. Unit pengujian system tubin pelton.

4. PENGUJIAN DAN ANALISA


4.1 PENGUJIAN
Pengujian dilakukan sebanyak 11 kali, dengan memberikan pengaaturan
tekanan air seperti prosedur kerja yang telah dirancang dalam prinsip kerja alat
tersebut. Proses pengujian dilakukan dengan dari 2,0 sampai 3,0 kg/cm2 yang
menghasilkan kecepatan aliran fluida atau kapasitas air sebesar 1,75 m3/det x 10-3
sampai 2,36 m3/det x 10-3.
Variabel utama yang digunakan sebagai data antara lain adalah harga
kecepatan awal dan akhir dari roda turbin, selanjutnya debit air yang terbaca pada
rotameter dalam liter/menit, tekanan air dalam satuan kg/cm2. Temperatur masuk dan
keluar dalam derajat Celcius, yang terakhir adalah gaya yang diperoleh dari
pengereman yang dilakukan.

Gambar 3. Sistem Pengereman turbin pelton skala laboratorium.

3.1 langkah-langkah percobaan


a. hubungkan kabel daya pada jala-jala listrik yang telah disediakan .
b. hidupkan inverter dan atur putaran pompa.
c. Tentukan tekanan air dari pompa.
d. Lakukan pengukuran momen puntir dengan dynamometer.

4.PERHITUNGAN-PERHITUNGAN
# Daya teoritis : Nt
u

= kecepatan linier roda turbin [m/det]

= 2 n r

= putaran roda turbin [rpm] dengan Takometer

= jari-jari roda turbin [m]

Q = debit air [liter/menit] dengan Rotatometer


Vj

= kecepatan semburan air [meter/detik]

Vj

= Cv (2gh)1/2

= P2 P1 / pg

P1

= tekenan air pada udara sekitarnya

P2

= tekanan air pada pompa (panel indikator)

= massa jenis air [g/cm3]

= gaya gravitasi [m/detik]

# Daya poros : Np
Np = Mt 2 n/ 60
Dimana :
Mt = Momen puntir Dinamometer [Nm]
Mt = F . L

Dengan :
F = gaya pada beban [N]
L = Panjang lengan dynamometer (0,125)
n = putaran poros [rpm]

# Efisiensi turbin : t
t = Np / Nt

5. TUGAS-TUGAS

Hitung daya turbin Nt [kW]

Hitung daya poros turbin Np [kW]

Hitung efisiensi turbin [nr]

Buat grafik Np vs Debit air

Buat grafik Np vs Tekanan air

Buat grafik efisiensi turbin