Anda di halaman 1dari 5

IV.

8 PENGATURAN SEKUNDER PADA GOVERNOR


Gambar IV .24 Pengaturan untuk menaikanfrekuensi system .
Gambar IV.24 merupakan lanjutan dari gambar IV.14 yaitu setelah tercapai
keseimbangan dititik 3 dengan frekuensi F dilakukan pengaturan sekunder dengan
merubah posisi speed changer (titik B pada gambar IV.7) dan lihat juga gambar
IV.9). Pengaturan sekunder ini berarti penggeseran garis ststisme system sejajar
keatas seperti terlihat pada gambar IV.11 . Frekuensi cenderung menuju titik 4 A
tetapi karena beban naik dengan naiknya frekuensi menurut garis beban maka
keseimbangan baru mencapai dititik 4 dengan frekuensi F 0 dan beban sebesar P
4

pada gambar IV.24.

Hal ini menyangkut penentuan unit unit pembangkit yang akan


dilakukan
dalam
pengaturan
frekuensi
system
serta
penentuan
participantion faktornya. Participant factor ini tergantung kepada syarat
syarat bmekanin dari unit pembangkit khususnya yang menyangkut
kecepatan perubahan (MW/menit).
Untuk system Jawa saat ini dengan mengetahui beban puncak 2196
MW daya pengaturan ini adalah kira kira 200 Mw/Herts. Dengan mengetahui
daya maka pengaturan system F yaitu penyimpangan frekuensi terhadap
sebesar P = Kf F. Dimana Kr adalah konstanta dan P yang diperlukan
pada program unitr unit pembangkit.
Dalam Praktek begitu frekuensi naik maka beban juga akan naik
khususnya yang memerlukan motor listrik listrik. Jika pengaturan sekunder
system berlangsung cukup lama maka pengaruh kenaikan beban akibat
frekuensi akan berpengaruh juga seperti pada gambar IV.24
Gambar IV.25 Pengaturan sekunderyang diikuti dengan perubahan
beaban system.
Frekuensi dinaikan dari titik 1 ke titik 2 dan menyebabkan beban naik
sedangkan penurunan frekuensi akan berada di titik 3 dan naik lagi di titik 4
dan seterusnya sampai ke titik 7.

IV.9 PENGATURAN FREKUENSI DAN BEBAN (LOAD FREQUENCY


CONTROL)
Gambar IV.26 menggambarkan perubahan dua buah system A dan b
yang dihubungkan satu sama lain oleh 3 buah tie line. Setiap system

merupakan kesatuan yang terintegated taka da masalah pengukuran dalam


pengawasan. Sedangkan 3 buah lines yang menghububgkan kedua system A
dan B relative lemah dan beban perlu diawasi. Maka timbul masalah
frekuensi dan system dan diperlikan Load Frequncy Control (LFC).

Gambar IV.26 Dua buah system A dan B yang dihubungkan oleh 3 buah tie
lines
Dalam LFC ada dua kebesaran fisik yang diamati yaitu frekuensi system dan
beban(MW) dari tie lines. Koreksi yang dinyatakan oleh persamaan :
P = K1 (P0-P1) + Kf (F0-F)
Dimana :
P = daya tambahan/pengurangan yang dibangkitkan system
F0 = Frekuensi system yang diinginkan
F = Frekuensi sessungguhnya system
P0 = jumlah transfer daya yang diinginkan (mw)
P1 = jumlah transfer daya yang sesungguhnya (MW)
K1= konstatnta pengaturan sekunder (MW/Hertz)
Kr = Konstatnta pengaturan sekunder 9MW/Hertz
Maka diperoleh persamaan :
P = Cr K1 (P0 P1) + Kr (F0 F) + Ci (P0-P1) + Kr (F0-F) dt
Dimana
Cr = adalah konstanta kepekaan yang dinginkan dari LFC terhadap besarnya
frekuensi
Ci = adalah konstanta kepekaan yang diinginkan dari LFC terhadap
akumulasi penyimpangan f rekuensi daya tie lines

Apabila dalam sistim tidak ada masalah pengawasan maka konstanta


K1 diambil = 0 seehingga hanya ada pengaturan frekuensi saja. Nilai P0

dapat berubah ubah setap waktu sessuai jadwal transfer daya yang
dikehendakinya pada tie lines. Nilai F0 tak akan pernah berubah biasanya
hanya bersifat darurat. Proses LFC dalam praktek dilakukan oleh on lne
computer yang bekerja mengkoordinir frekuensi serta beban tie lines dalam
setiap 4 8 detik.

Gambar IV.27 Bagian unit pembangkit yang berpartisipasi dalam program


LFC.
Selang daya yang disediakan untuk berpartipasi dalam program LFC adalah
sebesar P1 an letak antara nilai P1 diantara P maks dan P min.
Sedangkan nilai P0 terletak ditengah tengah antara P maks dan Pmin
Sehingga P maks = P0 + PT dan P min
Daya yang dibangkitkanb oleh unit pembangkit misalnya P1 dan P2 .N yang
disebut Nieveau dan Lel keikut sertaan pembangkit dalam program LFC nilai
diantara + 1 dan 1:
P1 = P0 + N1P1
P2 = P0 + N2P1
Diman N mempunyai bilangn positif dan N2 bilangan negative bahwa P2 <
P0

IV. PELEPASAN BEBAN ( LOAD SHEDDING)


Jika terdapat gangguan dalam system yang menyebabkan daya
tersedia tidqak dapat melayani beban karena ada pembangkit yang besar
jauh (trip), maka untuk menghindarkan system collapsed perlu dilakukan
pelepasan bebean. Karena frekuensi dapat menurun secara cepat.
Hal ini dapat digambarkan dalam gambar IV.28 pada saaat t = tA pada
pembangkit yang frekuensinya menurun.

Gambar IV.28 Perubahan frekuensi sebagai fungsi waktu dengan adanya


pelepasan beban.

Turunya frekuensi dapat menurut garis 1, garis 2, atau garis 3. Makin


besar unit pembangkit yang jatuh makin cepat frekuensi menurun. Keceptan
menurunya frekuensi juga tergantung pada besar kecilnya inesia system.
Makin besar inersia system makin kokoh sistemnya , makin lambta turunya
frekuensi.
Setelah Pelepasan beban tingkat kedua frekuensi system tidak lagi
menurun tapi menunjukan gejala baik yaitu kambali nmeuju titik D naiknya
Frekuensi C menuju D disebabkan karena daya yang tersedia makin besar.
Periode sebelum governor melakukan pengaturan primer disebut periode
transein dan berlangsung selama kira kira 4 detik. Kemampuan governor
melakukan pengaturan primer berdasarkan besarnya spinning reserve yang
masih dalam system.
Dalam praktek pelepasan beban dilakukan dengan memasang R pada feeder
distribusi yang dipilih menurut kondisi setempat. Jumlah harusnya sedikit
cukup melepas beban sebesar unit terbesar sisem.

IV.11 MACAM MACAM CADANGKAN PEMBANGKITAN


Selisih antar kebutuhan daya dalam system dengan daya yang suap
dibangkitkan dalam system merupakan cadangan pembangkitan dalam
system. Cadangan pembangkit yaitu :
a. Cadangan Berputar (Spinning Reserve)
Adalah cadangan daya pembangkitan yang terdapat pada unit unit
pembangkit yang berprasi parallel dengan system
b. Cadangan Panas ( Hot Reserve)
Adalah cadangan daya pembangkit yang terdapat pada pembangkit
siap operasi dan gelah dalam kondisi untuk dapat segerqa parqaqlel
dengan system.
c. Cadangan Dingin (Cold Reserve)
Adalah cadangan daya pembangkit yang terdapat pada unit unit
pembangkit yang siap operasi tapi dalam keadaan berhenti/dingin.

IV.12 CONTOH CONTOH SOAL UNTUK KEAADAAN STATIS


1. Sebuah system tenaga listrik terdiri dari dua subsistem A dan B
A terdiri dari tiga unit pembangkit masing masing Kn = 10 MW/Herts
K12 = 20 MW/Hertz dan K13 = 30 MW/ Hertz. Subsistem B terdiri dari

unit pembangkit masing masing mempunyai statisme Kf4 = 20


MW/Hertz dan Kf5 = 20 MW/Hertz
Sub A dan B dihubungkunkan oleh tipe tie lines dalam system A dan
beban sebesar 10 MW perubahan apa yang terjasidan seberapa beasr
perubahan ini.
Jawaban;
Statisme = Kf1 + Kf2 +Kf3 + Kf4 + Kf5 = 100 MW/Hertz.
Karena ada tambahan daya 10 MW maka terjadi penurunan frekuensi
dalam system sebesar 10/100 = 0,1 Hertz
Sub B Kfb = Kf4 + Kf5 = 40 MW
P + Kf F = 0
P = - Kf3 F = -40 x 0,1 = -40 Mw
Menyebabkan : P = - Kf3 . f = -60x 0,1 = MW
Apabila dikeendaki maka transfer daya melalui tipe tie line tak pernah
berubah maka pengaturan sekunder di subsistem B sebesar 4MW.

IV.14 PERHITUNGAN PENURUNAN FREKUENSI KARENA


GANGGUAN UNIT PEMBANGKIT
Respon dari Governor tidak diperhitungkan agar didapat hasil
perhitungan agar didapat hasil perhitungan yang lebih aman karena
perhitungan penuruna frekuensi sebagai akibat akibat tripnya salah
satu unit pembangkit dimaksudkan untuk merencanakan pelepasan
beban dengan menggunakan Under Frequncy relay (UFR) untuk
menghindarkan gangguan (semi) total dalam system yang disebabkan
terlalu banyak unit pembangkit
yang ikut tripnkarena kelebihan
beban. Keadaan seimbang dalam system PG = Beban PB .