Anda di halaman 1dari 157

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) sebagai salah satu indikator utama pembangunan
sektor kesehatan internasional dan juga di Indonesia. AKI dan AKB masih
terbilang tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara lain, bahkan jika
dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN. Di dunia ini setiap
menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait karena
kehamilan dan persalinannya. Dengan kata lain, 1400 perempuan setiap hari atau
lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan
persalinan. (WHO, 2013). Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu
indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan.
AKI juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan
pembangunan milenium ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target
yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai risiko jumlah
kematian ibu. Tinggi rendahnya AKI di suatu wilayah dijadikan sebagai indikator
yang menggambarkan besarnya masalah kesehatan, kualitas pelayanan kesehatan
dan sumber daya di suatu wilayah (Kementerian Kesehatan RI, 2013).Salah satu
hasil Konvensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2000
menghasilkan

adanya

Komitmen

Internasional

untuk

mencapai

Tujuan

Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/MDGs) pada tahun


2015. Yaitu untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk dunia dengan delapan
sasaran MDGs. Dimana sasaran keempat dan kelima terkait langsung dengan

kesehatan ibu, bayi baru lahir, bayi dan balita. Tujuan keempat MDGs mengenai
penurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) dan angka kematian balita. MDGs
mentargetkan pengurangan hasil pencapaian tahun 1990 menjadi 2/3 pada tahun
2015. Artinya kita harus menurunkan AKB dari 97/1000 Kelahiran Hidup (KH)
menjadi 32/1000 KH pada tahun 2015. Target tersebut tampaknya masih sulit
dicapai karena Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2013 sebesar 56/1000 KH.
Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesda) menunjukan penyebab
kematian bayi 0-6 hari adalah gangguan pernafasan (35,9%), prematuritas
(32,4%) dan sepsis (12%). Penyebab kematian bayi 7-28 hari yaitu sepsis
(20,5%), malformasi kongenital (18,1%) dan pneumonia (15,4%). Penyebab
kematian bayi 29 hari-11 bulan yaitu Diare (31,4%), pneumonia (23,8%) dan
meningitis/ensefalitis (9,3%). (WHO, 2013).
1
Tujuan kelima MDGs adalah menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI)
melahirkan hingga 3/4-nya dari angka pada tahun 1990. Dengan asumsi bahwa
rasio tahun 1990 sekitar 450/100.000 KH. Maka target MDGs tahun 2015 adalah
110/100.000 KH. Target tersebut tampaknya masih sulit dicapai, karena AKI pada
tahun 2013 sebesar 359/100.000 KH. Angka tersebut bisa jauh lebih tinggi,
terutama di daerah-daerah yang lebih miskin dan terpencil. Sebab di daerah
terpencil akses pelayanan kesehatan masih rendah. Berbagai potensi kematian bisa
dicegah apabila para ibu memperoleh perawatan yang tepat sewaktu persalinan.
Kenyataannya, sekitar 69,3% persalinan di Indonesia berlangsung di rumah.
Padahal Peraturan Kementerian Kesehatan mensyaratkan bahwa persalinan harus
dilakukan di pelayanan kesehatan. Sedangkan penyebab langsung kematian ibu
adalah pendarahan 40-60%, preeklamsi dan eklamsi 20-30%, infeksi 20-30%,

sedangkan penyebab tidak langsung salah satunya adalah 35% ibu hamil
menderita anemia (WHO, 2013).
Capaian pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dinilai dengan menggunakan
indikator Cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 adalah jumlah ibu hamil yang telah
memperoleh

pelayanan

antenatal

pertama

kali

oleh

tenaga

kesehatan,

dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu
satu tahun. Sedangkan Cakupan K4 adalah jumlah ibu hamil yang telah
memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar paling sedikit 4 kali sesuai
jadwal yang dianjurkan, dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah
kerja pada kurun waktu satu tahun. Indikator tersebut memperlihatkan akses
pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil dan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam
memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan.
Cakupan K1 selalu mengalami peningkatan, kecuali di tahun 2013 dimana
angkanya mengalami penurunan dari 96,84% pada tahun 2012 menjadi 95,25%
pada tahun 2013. Hal itu sedikit berbeda dengan cakupan K4 yang pernah
mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari 80,26% pada 2007 menjadi
86,04% pada 2008, namun setelah itu mengalami penurunan menjadi 84,54% di
tahun berikutnya. Kemudian setelah terus mengalami kenaikan, cakupan K4
kembali menurun pada 2013 menjadi 86,85% dari 90,18% pada tahun sebelumnya
(Kemenkes,2013)Dines Kesehatan Kota Bandar Lampung, dalam upaya untuk
menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi, peran serta bidan di
masyarakat sangat diperlukan terutama dalam menekan Angka Kematian Ibu
(AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) serta peningkatan taraf hidup kesehatan
masyarakat. Hal tersebut seiring dengan komitmen Pemerintah Kota Tangerang

dalam memberikan pelayanan di bidang kesehatan dan juga mendukung


percepatan program Millennium Development Goals (MDGs). Dan AKI dan AKB
berkait erat dengan program keluarga berencana (KB). Program KB kurang
didukung pemerintah daerah. Upaya (penurunan) AKI dan AKB menjadi utang
program kita mengingat MDG akan berakhir tahun 2015.
Selain itu, di Provinsi Lampung hasil evaluasi target pencapaian Millennium
Development Goals (MDGs), hingga tahun 2013 Angka Kematian Ibu (AKI) dan
Angka Kematian Bayi (AKB) di Provinsi Lampung masih tinggi. Berdasarkan
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2013. AKI Lampung
mencapai 115,8/100.000 kelahiran hidup dan AKB mencapai 300/100.000
kelahiran hidup. Sedangkan target MDGs 2015 adalah AKI 102 per 100ribu
kelahiran hidup dan AKB 23 per 1000 kelahiran hidup. Artinya perlu usaha yang
ekstra untuk menurunkan AKI dan AKB, khususnya kematian Ibu yang masih
sangat jauh dari target MDGs.
Angka Kematian Bayi (AKB) di Bandar Lampung berdasarkan hasil Survey
Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002 2013 trendnya
menunjukkan kecenderungan menurun yaitu dari 55 per 1000 KH tahun 2002
menjadi 30 per 1000 KH tahun 2013. Angka ini bila dibandingkan dengan target
dari MDGs tahun 2015 sebesar 32 per 1.000 Kelahiran Hidup, maka masih perlu
kerja keras untuk mencapainya. Bila dilihat berdasarkan laporan tahun 2013 dari
Kabupaten Kota terlihat bahwa AKB (perinatal, neonatal dan bayi) sebesar 7/1000
Kelahiran Hidup. Angka Kematian Bayi berdasarkan laporan ini tidak dapat
dibandingkan karena tidak menggambarkan kejadian kematian di populasi (data
hanya dari fasilitas pelayanan kesehatan), sehingga tetap mempergunakan data

dari hasil survey dalam hal ini SDKI yang dilakukan setiap lima tahun. Kematian
bayi terbesar terjadi pada masa bayi perinatal (0-6 hari), diikuti kematian pada
masa bayi neonatal (7 28 hari) dan masa bayi (>28 hari - < 1 tahun). Penyebab
kematian bayi perinatal dan neonatal di Provinsi Lampung tahun 2013 pada dua
terbesar disebabkan oleh BBLR dan Asfiksia. Berdasarkan laporan Puskesmas
Way Kandis selama tahun 2014 AKI adalah 26/100.000 Kelahiran Hidup
sedangkan AKB sebanyak 1/1000 Kelahiran Hidup. Cakupan kelahiran yang
ditiolong tahun 2014 oleh tenaga kesehatan sebesar 97,1 % Kelahiran Hidup. Dan
cakupan K1 tahun 2014 di Puskesmas Way Kandis yaitu 99,8% Kehamilan, dan
cakupan K4 yaitu 91,4% Kehamilan. Dan didapatkan hasil laporan K4 Puskesmas
Way Kandis sebanyak 34 % ibu hamil mengalami anemia.
Oleh karena itu, kita sebagai tenaga kesehatan sudah harus menekankan
angka kematian ibu dan bayi yang dapat dicegah melalui kegiatan yang efektif,
seperti pemeriksaan kehamilan yang rutindan berkualitas, kehadiran tenaga
kesehatan yang terampil pada saat persalinan serta pemberian gizi yang memadai
pada ibu hamil, menyusui dan balita. Berbagai perbaikan harus dilakukan
semaksimal mungkin dalam menurunkan AKI dan AKB dengan meningkatkan
pelayanan

kesehatan

,khususnya

pelayanan

asuhan

kebidanan

secara

komprehensif yang berfokus pada asuhan sayang ibu dan bayi yang sesuai dengan
pelayanan

kebidanan.Standar antenatal yang telah ditetapkan saat ini adalah

pelayanan 10 T yaitu yang terdiri dari timbang berat badan dan tinggi badan,
pemeriksaan tekanan darah, nilai status gizi, ukur tinggi fundus uteri, tentukan
presentasi janin dan denyut jantung janin(DJJ), pemberian imunisasi TT atau
skrining TT telah dilakukan lengkap, tes laboratorium, tata laksana kasus bila

diperlukan, dan temu wicara.BPM Theresia Suwarni Amd.Keb merupakan salah


satu BPM di daerah kota bandar Lampung. Pada tahun 2015 ini di BPM Theresia
Suwarni Amd.Keb selama sebulan terakhir terdapat jumlah kunjungan rutin ibu
hamil yang memeriksakan kehamilan sebanyak 13 orang, dari kehamilan tersebut
terdapat kehamilan dengan trimester I sebanyak 7 orang ibu hamil, trimester II
terdapat 3 orang ibu hamil dan trimester III terdapat 3 ibu hamil. Salah satu klien
yang rutin melakukan pemeriksaan kehamilan di BPM Theresia Suwarni
Amd.Keb adalah Ny.M

dengan usia kehamilan 36 minggu. Maka penulis

bermaksud memberikan Asuhan Kebidanan kepada Ny.M secara berkelanjutan


dimulai dari kehamilan, persalinan,nifas ,hingga keluarga berencana (KB).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan laporan PWS-KIA Puskesmas Way Kandis diketahui bahwa pada
tahun 2014 cakupan K1 sebesar 99,8 % atau 1052 dari 1055 ibu hamil dan K4
sebesar 91,4% atau 964 dari 1055 ibu hamil. Dan didapatkan hasil laporan K4
Puskesmas Way Kandis sebanyak 34% atau 358 dari 1055 ibu hamil mengalami
anemia.Anemia pada ibu hamil adalah kondisi dimana sel darah merah menurun
atau menurunya kadar hemoglobin, sehingga kapasitas daya angkut oksigen untuk
kebutuhan organ vital pada ibu dan janin menjadi berkurang.
Ny.M berusia 34 tahun sedang hamil anak keduanya,selama kehamilanya
Ny.M melakukan pemeriksaan kehamilan di BPM Theresia Suwarni Amd,Keb
Sebanyak 3 kali,dan tidak pernah mengalami keluhan yang membahayakan
selama kehamilan ini, setelah dilakukannya pemeriksaan Hb dengan hasil 9,0gr%
terhadap Ny.M di BPM Theresia Suwarni .Berdasarkan dari uraian di atas,maka
penulis tertarik untuk

memberikanAsuhan Kebidanan secara Komprehensif

sesuai dengan asuhan kebidanan berkelanjutan terhadap Ny.M dalam masa


kehamilan, bersalin, nifas, bayi baru lahir dan KB.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif dari masa
kehamilan 35 minggu atau 37 secara kontinyu pada ibu dalam masa
kehamilan, persalinan, nifas, sampai dengan keluarga berencana (KB).
Dengan

melakukan

pendekatan

Manajemen

Kebidanan

yang

di

dokumentasikan bentuk SOAP.


2. Tujuan Khusus
a. Mampu melaksanakan pengkajian pada Ny.M dalam masa kehamilan,
persalinan, nifas, dan keluarga berencana (KB) di BPM Theresia
Suwarni Amd.Keb tahun 2015.
b. Mampu menetapkan diagnosa masalah kebidanan sesuai dengan
prioritas pada Ny.M dalam masa kehamilan, bersalin nifas, dan
keluarga berencana (KB) di BPM Theresia Suwarni Amd.Keb
c. Mampu melaksanakan identifikasi tindakan segera secara kontinyu
pada Ny M dalam masa kehamilan, bersalin, nifas dan keluarga
berencana (KB ) di BPM Theresia Suwarni Amd.Keb tahun 2015.
d. Merencanakan asuhan kebidanan secara berkelanjutan pada Ny.M
dalam masa kehamilan, nifas, dan keluarga berencana (KB) di BPM
Theresia Suwarni Amd.Keb tahun 2015
e. Melaksanakan asuhan kebidanan secara berkelanjutan

pada Ny.M

dalam masa kehamilan, persalinan, nifas, dan keluarga berencana


(KB) di BPM Theresia Suwarni Amd.Keb tahun 2015.
f. Mampu melaksanakan evaluasi hasil asuhan secara kontinyu pada
Ny.M dalam masa kehamilan, persalinan, nifas, dan keluarga
berencana (KB) di BPM Theresia Suwarni Amd.Keb tahun 2015.

g. Mampu mendokumentasikan hasil asuhan kebidanan secara kontinyu


pada Ny. M dan dalam masa kehamilan, persalinan, nifas, dan keluarga
berencana (KB) di BPM Theresia Suwarni Amd.Keb tahun 2015.
D. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Dapat dijadikan sebagai masukan untuk pengembangan materi yang telah
dilakukan baik dalam peroses perkuliahan maupun peraktik lapangan agar
mampu menerapkan secara langsung dan berkesinambungan pada ibu
hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, dan keluarga berencana (KB) dengan
pendekatan manajemen kebidanan yang sesuai dengan standar pelayanan
kebidanan
2. Manfaat Praktis
a.
Bagi Penulis
Dapat mempraktekkan teori yang didapat secara langsung di lapangan
dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas dan
keluarga berencana (KB)

b.

Bagi Lahan Peraktik


Sebagai masukan untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan
kebidanan terutama asuhan pada ibu hamil, bersalin, nifas, dan
keluarga berencana (KB).

c.

Bagi Klien Asuhan


Sebagai informasi dan motivasi bagi klien, bahwa perhatian
pemeriksaan dan pemantauan kesehatan sangat penting khususnya
asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas, dan keluarga
berencana (KB).

E. Ruang Lingkup
1. Sasaran
Asuhan Kebidanan pada Ny. M, meliputi Asuhan Kebidanan pada masa
kehamilan, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir, dan keluarga berencana
(KB).
2. Tempat
Asuhan Kebidanan pada Ny. M, dilakukan di BPM Theresia Suwarni
Amd.Keb. Desa Pematang Wangi Kec.Tanjung Seneng Bandar Lampung

3. Waktu
Studi kasus ini dilaksanakan selama 9 minggu mulai dari 23 Maret 2015
sampai dengan Mei

2015. Pada tanggal 10,17,25 Maret dilakukan

pemeriksaan kehamilan dengan tafsiran persalinan 8 april 2015.Dengan


jadwal peraktik 6 hari/ minggu (Hari Senin-Sabtu)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A Kehamilan Normal
1 Definisi kehamilan normal
Kehamilan merupakan fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan
ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi Bila dihitung dari saat
fertilisasi sampai lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu
40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender inernasional
(Prawirohardjo, 2010). Kehamilan merupakan fertilisasi atau penyatuan dari
spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila
dihitung dari saat fertilisasi sampai lahirnya bayi, kehamilan normal akan

berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan menurut kalender
internasional (Prawirohardjo, 2010)
Menurut

Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan

didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan
dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. (Sarwono Prawirohardjo, 2011). Dari
beberapa definisi tersebut, maka disimpulkan kehamilan adalah penyatuan dari
spermatozoa dan ovum yang baru terjadi bila ovum dibuahi dan pembuahan ovum
akhirnya berkembang sampai menjadi fetus yang aterm dimulai dan konsepsi
sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari dihitung dari hari
pertama haid terakhir.

B Klasifikasi
Kehamilan

diklasifikasikan

dalam

Prawirohardjo, 2011.

trimester

menurut

Sarwono

11

1. Trimester kesatu, dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan (0-12 minggu).


2. Trimester kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan (13-27 minggu).
3. Trimester ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (28-40 minggu)
1. Tanda dan Gejala Kehamilan
a. Payudara membesar, lembut, dan terasa nyeri
Hal ini sering menjadi pertanda fisik paling umum di awal kehamilan.
Payudara akan membesar, menjadi lebih lembut, dan nyeri saat ditekan
adalah perubahan alami sebagai persiapan untuk menyusui. Banyak
wanita yang menyadari kehamilannya berdasarkan pertanda awal
ini.Payudara membesar karena meningkatnya produksi hormon

esterogen dan progesteron. Rasa nyeri saat ditekan pada payudara dan
puting biasanya terjadi pada kehamilan pertama, namun juga bisa
terjadi pada kehamilan-kehamilan berikutnya.
b. Kelelahan dan merasakan kantuk yang berlebihan
Perasaan sangat lelah dan mengantuk biasanya akan dialami di awal
kehamilan. Pada saat itu, tubuh wanita akan bekerja sangat keras
menghadapi perubahan yang terjadi, seperti produksi hormon yang
meningkat, kerja jantung memompa dan mengalirkan darah menjadi
lebih kuat, dan aktivitas organ vital lainnya, untuk menunjang
kebutuhan janin baru. Meningkatnya produksi hormon progesteron
menyebabkan perasaan sangat-lelah dan mengantuk di masa awal
kehamilan.
c. Bercak darah atau flek, serta kram
Bercak darah atau flek disebabkan oleh implantasi. Pendarahan akibat
implantasi (implantaion bleeding) terjadi saat embrio menempel pada
dinding rahim, yang biasanya terjadi 10-14 hari setelah pembuahan.
Pendarahan akibat implantasi biasanya sangat sedikit atau hanya
berupa bercak yang sangat kecil. Keluarnya bercak darah juga diikuti
dengan kram di perut. Kondisi ini terjadi karena rahim mulai
berkembang untuk menyediakan ruang bagi embrio dan janin.Kedua
hal tersebut di atas sering dianggap sebagai menstruasi hingga wanita
tersebut menyadari kehamilannya.

d. Morning Sickness: mual dan muntah


Sebagian besar wanita mengalami gejala ini di saat kehamilan. Rasa
mual tidak selalu diikuti dengan muntah. Morning sickness biasanya
terjadi antara minggu keempat dan kedelapan, walaupun beberapa
orang mengalaminya lebih cepat, yaitu sekita minggu kedua setelah
pembuahan.Walaupun disebut dengan istilah morning sickness,
gejalanya bisa muncul kapan saja, entah itu pagi, siang ataupun malam.
Gejala mual dan muntah disebabkan oleh meningkatnya hormon
esterogen yang diproduksi oleh janin dan placenta. Aktivitas-aktivitas
hormonal tersebut akan menyebabkan efek tertentu di perut dan
mengakibatkan rasa mual.Selain itu, rasa mual juga sangat mudah
muncul karena terpicu oleh hal-hal biasa di lingkungan sekitar, seperti
kopi, makanan pedas, aroma-aroma tertentu, dan produk sehari-sehari
lainnya.
e. Frekuensi urinasi atau buang air kecil meningkat
Kegiatan berlari ke kamar mandi akan sering dialami wanita hamil
selama trisemester awal kehamilannya. Perkembangan embrio atau
janin menyebabkan frekuensi buang air kecil meningkat. Peningkatan
urinasi ini biasanya terjadi pada trisemester pertama dan trisemester
ketiga.
2

Perubahan fisiologis selama kehamilan

a
1

Perubahan fisiologis pada sistem reproduksi


Badan uterus

Desidua
Setelah tertanamnya blastosit, terjadi penebalan dan peningkatan
vaskularitas lapisan uterus atau desidua.

Miometrium
Diawal kehamilan, pertumbuhan uterus terjadi akibat hiperplasia
(peningkatan jumlah akibat pembelahan) dan hipertrofi (peningkatan

ukuran) sel miometrium dibawah pengaruh estrogen.


Perimetrium
Lipatan ganda perimetrium (ligamen lebar) menggantung dari tuba
uterina dan memanjang sampai kedinding lateral pelvis, menjadi lebih
panjang dan lebih luas sejalan dengan meningkatnya tekanan pada
lapisan ini saat uterus membesar dan menonjol keluar dari pelvis.
Lipatan anterior dan posterior terbuka sehingga tidak lagi berdekatan
dan dapat mengakomodasi pembesaran uterus, uteri dan vena
ovarium.
d

Suplai darah
Akibat peningkatan curah jantung, aliran darah uterus meningkat
secara progresif hampir sepuluh kali lipat, dari sekitar 50 ml/menit
pada usia gestasi 10 minggu mencapai maksimal 450-700 ml/menit
pada kehamilan cukup bulan. Delapan puluh persen darah tersebut

diperfusikan ke miometrium.
2 Perubahan bentuk dan ukuran uterus
a Usia kehamilan 12 minggu
Pada usia kehamilan 12 minggu, uterus berukuran kira-kira seperti
buah jeruk besar. Uterus tidak lagi teranteversi dan antefleksi serta
menonjol keluar dari pelvis dan menjadi tegak lurus. Fundus dapat
b

dipalpasi pada abdomen diatas simpisis pubis.


Usia kehamilan 16 minggu

Pada usia kehamilan 16 minggu, janin sudah cukup besar untuk


menekan ismus, menyebabkannya tidak berlipat sehingga bentuk
c

uterus menjadi lebihbulat.


Usia kehamilan 20 minggu
Pada usia kehamilan 20 minggu, fundus uterus dapat dipalpasi sejajar
umbilikus. Sejak usia gestasi ini hingga cukup bulan, bentuk uterus
menjadi lebih silindris atau ovoid dan fundusnya berbentuk kubah
yang lebih tebal dan lebih bulat.

Usia kehamilan 30 minggu


Segmen bawah uterus masih belum lengkap, tetapi dapat didefinisikan
sebagai bagian yang terdapat diantara garis pelengkap kantong

uterovesikal peritoneum secara superior dan os internal secara inferior.


Usia kehamilan 38 minggu
Pada usia kehamilan 38 minggu, uterus sejajar dengan sifisternum.
Tuba uterina tampak agak terdorong ke dalam di atas bagian tengah

uterus.
3 Vagina
Selama kehamilan lapisan otot mengalami hipertofi dan estrogen
menyebabkan epitelium vagina menjadi lebih tebal dan vaskular. Warna
ungu pada vagina kemungkinan disebabkan oleh hiperemia. Perubahan
komposisi jaringan ikat yang mengelilinginya meningkatkan elastisitas
vagina dan membuatnya lebih mudah mengalami dilatasi ketika bayi lahir.
a.Perubahan sistem kardiovaskuler
1 Jantung
Jantung membesar sekitar 12% antara awal dan akhir kehamilan.
Sebagian distensi bilik jantung terjadi karena peningkatan hipertrofi
miometrium, tetapi sebagian besar terjadi karena peningkatan
pengisian diastolik (terutama di ventrikel kiri) bersamaan dengan
peningkatan volume darah.

a) Curah jantung
Peningkatan curah jantung pada kehamilan terjadi antara 35
hingga 50%, dari rata-rata 5 L/menit sebelum kehamilan menjadi
sekitar 7 L/menit pada minggu ke 20, kemudian perubahan yang
terjadi setelah itu tidak begitu drastis.
2 Darah
a) Tekanan darah
Curah jantung meningkat, tetapi

tekanan

darah

arteri

menurunhingga 10%, hal ini terjadi karena tahanan aliran


memang harus diturunkan.
b) Aliran darah
Aliran darah pada ekstremitas bawah melambat pada akhir
kehamilan. Aliran balik vena yang buruk dan peningkatan tekanan
darah pada tungkai menyebabkan meningkatnya distensibilitas
dan tekanan vena tungkai, vena, rektum dan pelvis, menyebabkan
edema dependen, varises pada vena tungkai dan vulva, dan
hemoroid.
c) Volume darah
Dua komponen utama darah-plasma dan sel darah merah
mengalami serangkaian adaptasi dramatik. Volume darah
maternal total meningkat 30-50% pada kehamilan tunggal dengan
rata-rata peningkatan tersebut 33%.
d) Metabolisme zat besi
Peningkatan massa sel darah merah dan kebutuhan janin yang
sedang berkembang serta plasenta menyebabkan peningkatan
kebutuhan zat besi selama kehamilan, yang disertai dengan
beberapa peningkatan absorbsinya. Kebutuhan zat besi meningkat
dari 2 mg menjadi 4 mg per hari.

e) Protein plasma
Kandungan protein serum total menurun selama trimester pertama
dan tetap rendah selama kehamilan. Konsenterasi albumin
menurun dengan cukup tiba-tiba di awal kehamilan, kemudian
lebih lambat hingga akhir kehamilan.
f) Faktor pembekuan
Peningkatan kecenderungan pembekuan

disebabkan

oleh

berkurangnya aktivitas fibrinolitik plasma dan meningkatnya


b

produk degradasi fibrin yang bersirkulasi didalam plasma.


Perubahan sistem pernafasan
Sebagian besar perubahan pada subdivisi volume paru terjadi akibat
perubahan anatomi toraks selama kehamilan. Akibat pembesaran uterus,
diafragma terdorong ke atas sebanyak 4 cm, dan tulang iga juga bergeser

ke atas.
Perubahan sistem perkemihan
Perubahan anatomis yang sangat besar terjadi pada ginjal dan ureter.
Ginjal mengalami panambahan berat dan panjang sebesar 1 cm. Di
bawah pengaruh progesteron, kaliks dan pelvis renal mengalami dilatasi.
Ureter juga mengalami dilatasi dan memanjang, serta membentuk kurva

dengan berbagai ukuran.


Perubahan sistem pencernaan
Meskipun banyak wanita yang mengalami mual di awal kehamilan, ada
juga yang mengalami peningkatan nafsu makan dengan asupan makanan

harian meningkat hingga 200 kkal.


Perubahan rangka
Postur biasanya mengalami perubahan

untuk

mengompensasi

pembesaran uterus, terutama jika tonus otot abdomen buruk. Lordosis


progresif menggeser pusat, gravitasi ibu ke belakang tungkai. Terdapat
juga peningkatan mobilitas sendi sakroiliaka dan sakrokoksigeal yang
berperan dalam perubahan postur maternal yang dapat menyebabkan

nyeri punggung bagian bawah diakhir kehamilan terutama pada wanita


f

multipara.
Perubahan kulit
Hiperpigmentasi lebih nyata terlihat pada wanita berkulit gelap dan lebih
terlihat di area seperti areola, perinium, umbilikus, aksila dan paha

bagian dalam.
Perubahan payudara
Akibat peningkatan suplai darah dan stimulasi oleh sekresi estrogen dan
progesteron dari kedua korpus luteum dan plasenta, terjadi perubahan
besar pada payudara selama kehamilan, dan terbentuk duktus dan sel

asini yang baru.


(Fraser, Cooper, 2010)
3 Kebutuhan Kesehatan Ibu
1. Kebutuhan Gizi Ibu Hamil
Status gizi merupakan hal yang penting diperhatikan selama masa
kehamilan karena faktor gizi sangat berpengaruh terhadap status
kesehatan ibu guna pertumbuhan dan perkembangan janin. Menurut
Hendrawan Nasedul yang dikutip oleh Mitayani (2010).
Adapun faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam meningkatkan
kebutuhan gizi pada ibu hamil adalah (Aritonang, 2010):
1) Buruknya status gizi ibu
2) Usia ibu yang masih sangat muda
3) Kehamilan kembar
4) Jarak kehamilan yang rapat
5) Tingkat aktivitas fisik yang tinggi
6) Penyakit-penyakit tertentu yang menyebabkan malabsorbsi
7) Konsumsi rokok dan alkohol
8) Konsumsi obat legal (antibiotik dan phenytoin) maupun obat ilegal
(narkoba).
9) berat badan ibu lebih kurang 1 kg yang hampir seluruhnya
merupaka kenaikan berat badan ibu.
2. Energi

Seorang wanita selama kehamilan memiliki kebutuhan energi yang


meningkat. tambahan kalori dibutuhkan sebagai cadangan lemak serta
untuk proses metabolisme jaringan baru (Mitayani, 2010).
3. Protein
Pada saat hamil terjadi peningkatan kebutuhan protein yang disebabkan
oleh peningkatan volume darah dan pertumbuhan jaringan baru
(Aritonang, 2010) Menurut Aritonang (2010)
4. Vitamin dan Mineral
Bagi pertumbuhan janin yang baik dibutuhkan berbagai vitamin dan
mineral seperti vitamin C, asam folat, zat besi, kalsium, dan zink. Angka
kecukupan gizi yang dianjurkan oleh Widyakarya Pangan dan Gizi 2010
untuk tambahan gizi ibu hamil
5. Zat Besi
Selama hamil, zat besi banyak dibutuhkan untuk mensuplai pertumbuhan
janin dan plasenta serta meningkatkan jumlah sel darah merah ibu. Zat
besi merupakan senyawa yang digunakan untuk memproduksi hemoglobin
yang berfungsi untuk :
1) Mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh
2) Sintesis enzim yang terkait besi
3) Penggunaan oksigen untuk produksi energi sel (Aritonang, 2010).
menyatakan total besi yang diperlukan selama hamil adalah 1040 mg.
Dari jumlah ini, 200 mg Fe tertahan oleh tubuh ketika melahirkan dan 840
mg sisanya hilang. Sebanyak 300 mg ditransfer ke janin dengan rincian
50-75 mg untuk pembentukan plasenta, 450 mg untuk menambah jumlah
sel darah merah, dan 200 mg lenyap ketika melahirkan.

Dengan demikian, angka kecukupan gizi yang dianjurkan bagi ibu hamil
trimester ketiga adalah 39 mg/hari. Menurut Aritonang (2010), ada dua

bentuk besi yang terdapat dalam pangan, yaitu besi heme yang terdapat
dalam produk-produk hewani dan besi nonheme yang terdapat dalam
produk-produk nabati. Makanan dari produk hewani seperti hati, ikan dan
daging yang harganya relatif mahal dan belum sepenuhnya terjangkau oleh
kebanyakan masyarakat Indonesia. Selain sumber hewani, ada juga
makanan nabati yang kaya akan zat besi seperti singkong, kangkung, dan
sayuran berwarna hijau lainnya

Menurut Aritonang (2010), makanan-

makanan yang dapat meningkatkan absorpsi besi selama hamil diantaranya


sebagai berikut :
a) Konsumsi makanan yang dapat meningkatkan absorpsi besi, yaitu
daging, sayur, dan buah yang kaya vitamin C.
b) Menghindari penghambat (inhibitor) absorpsi besi seperti teh dan
kopi.Kebutuhan akan zat besi yang besar terutama pada kehamilan
yang menginjak usia trimester ketiga tidak akan mungkin tercukupi
hanya melalui diet. Oleh karenaitu, suplementasi zat besi sangat
penting sekali, bahkan kepada ibu hamil status gizinya sudah baik.
6. Asam Folat
Asam folat berperan dalam berbagai proses metabolik seperti metabolism
beberapa asam amino, sintesis purin, dan timidilat sebagai senyawa penting
dalam sintesis asam nukleat (Aritonang, 2010).
Kekurangan asam folat berkaitan dengan tingginya insiden komplikasi
kehamilan seperti aborsi spontan, toxemia, prematur, pendeknya usia
kehamilan dan hemorrhage (pendarahan), (Aritonang, 2010).
7. Kalsium
Ibu hamil dan bayi membutuhkan kalsium untuk menunjang perrtumbuhan
tulang dan gigi serta persendian janin. Selain itu kalsium juga digunakan
untuk membantu pembuluh darah berkontrkasi dan berdilatasi.

2. Pola makan ibu hamil


1) Oleh karena itu ibu hamil harus memiliki pola makan yang baik
diantaranya harus memenuhi sumber karbohidrat, protein, lemak, serta
vitamin dan mineral demi tercapainya kesehatan ibu dan bayi. Senada
dengan hal itu, Husada (2010) juga menyatakan bahwa salah satu pedoman
pola makan sehat adalah makanan triguna, yaitu:
a) Mengandung zat tenaga seperti beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi
jalar, roti, dan mie yang mengandung karbohidrat serta minyak dan
lemak yang mengandung lemak.
b) Mengandung zat pembangun yang berguna untuk pertumbuhan dan
mengganti jaringan yang rusak. Bahan makanan sumber zat
pembangun yang berasal dari hewan mengandung protein hewani
adalah telur, ikan, ayam, daging, kerang, udang, kepiting, susu, serta
hasil olahannya. Sedangkan jenis makanan yang mengandung protein
nabati berasal dari tumbuh-tumbuhan adalah kacang tanah, kacang
merah, kacang ijo, kacang kedelai dan hasil olahannya seperti tempe,
tahu, dan lain sebagainya.
c) Mengandung zat pengatur yang berguna untuk mengatur semua fungsi
tubuh dan melindungi tubuh dari penyakit. Bahan makanan sumber zat
pengatur adalahsemua jenis sayur-sayuran dan buah-buahan. Bahan
4

makanan ini mengandung berbagai macam vitamin dan mineral.


Pengkajian
1) Anamnesa identitas istri dan suami: nama, umur, agama,pekerjaan
alamat dan sebagainya.
2) Anamnesa Umum:

a) Tentang keluhan-keluhan, nafsu makan, tidur, miksi, defekasi,


perkawinan, dan sebagainya.
b)Tentang haid, kapan mendapat haid terakhir (HT). Bila hari pertama
haid terakhir diketahui, maka dapat dijabarkan taksiran persalinan
memakai rumus Naegel: hari + 7 hari 3 bulan, dan tahun +1
c) Tentang kehamilan, persalinan, keguguran, dan kehamilan ektopik
atau kehamilan mola sebelumnya (Mochtar, 1998)
3) Riwayat Medis
Selama kehamilan, baik ibu maupun janin, dapat mengalami penyakit
tertentu atau penyakit yang berubah akibat kehamilan; jika tidak
diobati, kemungkinan dapat menimbulkankonsekuensi yang seriu bagi
kesehatan ibu.

4) Riwayat Keluarga
Penyakit tertentu dapat terjadi secara genetik atau berkaitan dengan
keluarga atau etnisitas, dan beberapa diantaranya berkaitan dengan
lingkungan fisik atau sosial tempat keluarga tersebut tinggal.
b. Pemeriksaan Fisik
Sebelum melakuka pemeriksaan fisik pada ibu hamil, persetujuan dan
kenyamanan harus menjadi pertimbangan utama. Pengkajian biokimia
yang canggih dan pemeriksaan ultrasound dapat meningkatkan hasil
observasi klinik.

1) Berat Badan
Ibu yang menurut kategori BMI berada pada rentang obesitas lebih
beresiko mengalami komplikasi kehamilan. Komplikasi tersebut
antara lain diabetes gestasional, hipertensi akibat kehamilan,dan
distosia bahu. Terdapat juga kesulitan dalam memalpasi bagian
tubuh janin dan menentukan presentasi, posisi, atau engagement
janin.
Semua Ibu harus ditimbang berat badannya, tetapi jika berada
dalam rentang BMI normal, tidak terdapat data yang cukup untuk
mengatakan bahwa penimbangan berat badan secara rutin
merupakan predikator yang baik dari pertumbuhan janin (hiyyten,
1990). Ibu yang kelebihan atau kekurang berat badan harus
dipantau secara cermat dan diberikan konseling mengenai nutrisi.

2) Tekanan Darah
Tekanandarah diukur untuk memastikan kenormalan dan sebagai
dasar untuk pemantauan tekanan darah selama kehamilan. Tekanan
sistolik dapat mengalami peningkatan palsu jika ibu merasa cemas
atau gelisah. Kandung kemih yang penuh juga dapat meningkatkan
tekanan darah. Tekanan darah harus diukur ketika ibu dalam
keadaan relaks. Ibu harus duduk dengan nyaman atau terlentang
dalam keadaan lateral untuk pengukuran tekanan darah. Tekanan
arteri brakial paling tinggi dalam keadaan duduk dan rendah pada

keadaan terlentang. Tekanan darah yang kuat diperlukan untuk


perfusi plasenta, tetapi tekanan sistolik 140 mmHg atau tekanan
diastolik 90 mmHg pada kunjungan pertama merupakan indikasi
adanya hipertensi dan memerlukan pemantauan yang cermat
selama kehamilan, baik oleh bidan maupun dokter obstetri.
c. Pemeriksaan Kebidanan
1) Inspeksi :
a) Muka

: adakah cloasma gravidarum, oedem

b) Mata

: simetris, konjungtiva pucat atau tidak,


sclera ikterik atau tidak, reflek pupil
dan fungsi penglihatan

c) Hidung

: simetris, apakah terdapat secret, polip,


peradangan

d) Mulut

: kebersihannya, stomatitis, carries


gigi

e) Telinga

: simetris, apakah ada serumen,


peradangan fungsi pendengaran

f) Leher

: apakah ada pembesaran vena


jugularis, dan kelenjar thyroid

g) Dada
Payudara

: simetris,
: keadaan puting

susu,kebersihan,

adakah benjolan abnormal dan nyeri tekan,


pengeluaran colostrum
h) Abdomen

: adakah bekas luka operasi,

pembesaran rahim sesuai atau tidak


dengan usiakehamilan, striae
gravidarum, pigmentasi linea alba dll.
i) Vulva

: Kebersihanya, adakah varises,


oedem, perineum terdapat luka
parut, dan hemoroid pada anus.

j) Ekstremitas atas dan ekstremitas bawah : simetris, oedem,


varises, fungsi keduanya.
2) Palpasi :
a) Leopold 1
(1) Kaki penderita dibengkokkan pada lutut dan lipat paha,
(2) Pemeriksa berdiri disebelah kanan penderita
(3) Rahim dibawa ketengah
(4) Tentukan Tinggi Fundus Uteri
(5) Tentukan bagian apa yang terdapat di fundus
(6) Hubungan antara Tinggi Fundus Uteri dan umur Kehamilan
b) Leopold II
(1) Kedua tangan pindah meraba kesamping
(2) Tentukan dimana letak punggung dan ekstermitas bayi
c) Leopold III
Goyangkan pada bagian bawah, apakah maasih biasa
digoyangkan atau tidak serta ditentukan bagian apa yang berada
dibawah.
d) Leopold IV

(1) Dengan Kedua tangan, tentukan bagian apa yang berada


dibawah.
(2) Tentukan apakah bagian bawah sudah masuk kedalam PAP
atau belum, dan berapa masuknya bagian bawah kedalam
rongga panggul.
(3) Jika kedua tangan convergent, berarti hanya bagian kecil
dari kepala yang turun dalam rongga
(4) Jika kedua tangan sejajar maka hanya sebagian dari bagian
kepala yang masuk ke dalm rongga panggul
(5) Jika kedua tangan divergent, maka bagian terbesar dari
kepala telah masuk kedalam rongga panggul
3) Auskultasi

(1) Biasanya dilakukan dengan stetoscop


(2) Biasanya yang didengar adalah DJJ, bising usus, paru-

paru

dan jantung.
d. Pemeriksaan panggul
Keadaan panggul terutama penting pada primigravida, karena
panggulnya belum pernah di uji dalam persalinan, sebalik nya pada
multigravida anamnesa mengenai persalinan yang gampang dapat
memberikan keterangan yang berharga mengenai keadaan panggul.
Yang diperiksa ialah :
1) Conjugata diagonalis
2) Apakah linea innominata teraba seluruhnya atau hanya sebagaian

3) Keadaan sacrum apakah concaaf dalam arah atas bawah dan dari
kiri ke kanan.
4) Apakah spinae ischiadicae menonjol
5) Keadaan os pubis adakah exostose
6) Keadaan arcus pubis.
(Obstetri Fisiologi fakultas kedokteran Universitas Padjadjaran
Bandung,1983)
e. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan Hb
Normalnya pada ibu hamil 11 gr%
2) Pemeriksaan protein urine
Normalnya adalah negatif
3) Pemeriksaan glukosa pada urine
Normalnya adalah negatif

Dignosis Kehamilan
Diagnosis kehamilan didasarkan atas gejala dan tanda-tanda tertentu yang
diperoleh melalui riwayat dan ditemukan pada pemeriksaan, serta pada
hasil-hasil uji laboratorium. Gejala dan tanda-tanda kehamilan tersebut
digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Tanda Tidak Pasti/ Tanda Presumtif
a. Amenore (Tidak datang bulanSetelah ovum dikeluarkan dari folikel
deGraf matang di ovarium, maka folikel ini akan berubah menjadi
korpus luteum yang berperan dalam siklus menstruasi dan

mengalami degenerasi setelah terjadinya menstruasi. Bila ovum


dibuahi oleh spermatozoa maka korpus luteum akan dipertahankan
oleh korionik gonadotropin yang dihasilkan oleh sinsiotrofoblas di
sekitar blastokis menjadi korpus luteus kehamilan. Kehamilan
menyebabkan

dinding

dalam

uterus

(endometrium)

tidak

dilepaskan sehingga amenore dianggap sebagai tanda kehamilan,


namun tidak datang haid dapat juga terjadi pada wanita dengan
penyakit

kronik,

tumor

hipofise,

perubahan

faktor-faktor

lingkungan, malnutrisi dan (yang paling sering) gangguan


emosional terutama pada mereka yang tidak ingin hamil atau
malahan mereka yang sangat ingin hamil (dikenal dengan
pseudocyesis atau hamil semu.
b. Mual dan Muntah (emesis)
Pengaruh estrogen dan progesterone menyebabkan pengeluaran asam
lambung yang berlebihan. Mual dan muntah terutama pada pagi hari
yang dissebut morning sickness. Akibat mual dan muntah dapat
mengurangi nafsu makan. Mual dan muntah tidak dapat dikatakan
sebagai tanda pasti kehamilan karena penyakit metabolik lain dapat
pula menimbulkan gejala yang serupa. Emesis pada kehamilan
digolongkan normal apabila terjadinya tidak lebih dari trimester
pertama.
c. Payudara tegang.
Konsentrasi tinggi estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh
plasenta

menimbulkan

perubahan pada

payudara

(tegang

dan

membesar) serta somatomatrofin menimbulkan defosit lemak, air,


garam pada payudara. Namun payudara yang tegang dan membesar

juga dapat terjadi pada wanita pengguna kontrasepsi hormonal,


penderita tumor otak atau ovarium, pengguna rutin obat penenang, dan
hamil semu (pseudocyesis).
d. Pigmentasi Kulit
Efek stimulasi melanosit yang dipicu oleh peningkatan hormon
estrogen dan progesteron menyebabkan pigmentasi kulit pada area
wajah (dahi, hidung, pipi, dan leher) yang disebut dengan chloasma
gravidarum. Pada dinding perut dinamakan (striae lividae, striae nigra,
linea alba makin hitam), dan sekitar payudara (hiperpigmentasi areola
mamae). Area atau daerah kulit yang mengalami hiperpigmentasi akan
kembali menjadi normal setelah kehamilan berakhir. Pengecualian
terjadi pada striae dimana area hiperpigmentasi akan memudar tetapi
guratan pada kulit akan menetap dan berwarna putih keperakan.
e. Rasa lelah (fatigue)
Kondisi ini disebabkan oleh menurunnya Basal Metabolic Rate (BMR)
dalam trimester pertama kehamilan.
f. Sering Miksi
Desakan uterus yang semakin

besar

mengarah

kedepan

menyebabkankandung kemih cepat terasa penuh dan sering miksi.


g. Konstipasi dan Obstipasi
Pengaruh progesteron dapat menghambat peristaltik usus menyebabkan
kesulitan dalam buang air besar. Konstipasi juga dapat disebabkan pola
makan.
2. Tanda Kemungkinan Hamil
a. Rahim membesar

Terjadi perubahan bentuk, besar dan konsistensi rahim. Pada


pemeriksaan dalam dapat diraba bahwa uterus membesar dan makin
lama makin bundar bentuknya.
b. Reaksi Kehamilan Positif
Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui kadar hormone
hCG (chorionic gonadotropin) dalam urine.
c. Tanda Piscasecks
Yaitu pembesaran uterus kesalah satu arah sehingga menonjol jelas
kearah pembesaran tersebut.
d. Goodell sign
Jika dilakukan pemeriksaan palpasi diperut dengan cara menggoyanggoyangkan disalah satu sisi, maka akan terasa pantulan disisi lain
(tanda hegar). Konsistensi rahin dalam kehamilan berubah menjadi
lunak, terutama daerah ismus.
e. Braton Hicks
Bila uterus dirangsang akan mudah berkonsentrasi.
f. Tanda Chadwiks
Yaitu dinding vagina yang mengalami kongesti, atau warna kebirubiruan .
3. Tanda Pasti Hamil
Digunakan untuk menegakkan diagnosa pada kehamilan.
a. Terasa gerakan janin
Pada primigravida mulai terasa pada usia kehamilan 18 minggu dan
multigravida terasa pada usia kehamilan 16 minggu.
b. Teraba bagian-bagian janin
Yaitu pemeriksaan dengan cara palpasi menurut Leopold pada akhir
trimester ke II
c. DJJ (Denyut jantung Janin), dapat didengar dengan:
1. Fetal electrocardiograph pada kehamilan 12 minggu
2. System Doppler pada kehamilan 12 minggu
3. Stetoskop linec pada kehamilan 18-20 minggu.

d. Pada pemeriksan dengan USG dapat terlihat gambaran janin berupa


kantong janin, panjang janin, dan diameter biparietalis hingga dapat
diperkirakan tuanya kehamilan
6

Pertambahan Berat Badan Ibu Hamil


Berat badan ibu hamil akan bertambah sesuai dengan usia kehamilan
karena pertumbuhan janin menurut Salmah, 2010
Table 1. Pertambahan Berat Badan Ibu Hamil
Usia
Kehamilan

0-12 Minggu
(Trimester I)
13-27 Minggu
(Trimester II)
28-40 Minggu
(Trimester III)

Rata-Rata
Berat Badan
Janin
15 Gram

Rata-Rata
Panjang
Badan Janin
6,5 Cm

750 Gram

30 Cm

3200 Gram

50 Cm

Pertambahan Berat Badan


Normal Ibu
1 Kg Dari Berat Badan
Sebelum Hamil
6 Kg Dari Berat Badan
Trimester I
4 Kg Dari Berat Badan
Trimester II

Jika pertambahan berat badan ibu lebih dari pertambahan berat badan normal,
ibu dapat melakukan diet. Kebutuhan nutrisi ibu dan janin terpenuhi dengan
mengkonsumsi:
a. Roti, sereal, kentang dan nasi. Makanan ini bagian utama dari diet karena
mengandung karbohidrat, protein nabatidan vitamin B, makanan rendah
lemak sangat baik untuk ibu hamil.
b. Gandum mengandung lebih banyak vitamin dan mineral, zat besi dan
asam folat adalah pilihan yang baik selama kehamilan.
c. Daging, ikan, ayam, telur, kacang-kacangan merupakan sumber utama
protein hewani, vitamin dan mineral yang baik.
d. Konsumsi juga ikan sarden atau salmon setiap minggu untuk
mendapatkan omega 3 yang baik untuk perkembangan otak janin.
e. Susu adalah minuman yang mengandung kalsium tinggi yang baik untuk
pertumbuhan tulang janin dan merupakan sumber protein yang baik.
7

Tujuan Antenatal care (10T)

Dalam melakukan pemeriksaan antenatal, tenaga kesehatan harus


memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai standar terdiri dari:
1) Ukur Berat badan dan Tinggi Badan ( T1 ). Dalam keadaan normal
kenaikan berat badan ibu dari sebelu hamil dihitung dari TM I sampai
TM III yang berkisar anatar 9-13,9 kg dan kenaikan berat badan setiap
minggu yang tergolong normal adalah 0,4 - 0,5 kg tiap minggu mulai
TM II. Pengukuran tinggi badan ibu hamil dilakukan untuk
mendeteksi

faktor

resiko

terhadap

kehamilan

yang

sering

berhubungan dengan keadaan rongga panggul.


2) Ukur Tekanan Darah ( T2). Tekanan darah yang normal 110/80 140/90 mmH g, bila melebihi 140/90 mmHg perlu diwaspadai adanya
Preeklampsi.
3) Nilai status gizi (T3). Ukur lingkar lengan atas
4) Ukur Tinggi Fundus Uteri ( T4 ) Tujuan pemeriksaan TFU
menggunakan tehnik Mc. Donald adalah menentukan umur kehamilan
berdasarkan minggu dan hasilnya bisa di bandingkan dengan hasil
anamnesis hari pertama haid terakhir (HPHT) dan kapan gerakan janin
mulai dirasakan. TFU yang normal harus sama dengan UK dalam
minggu yang dicantumkan dalam HPHT

Judul Table 2.
Ukuran Fundus Uteri sesuai Usia Kehamilan
Usia Kehamilan sesuai minggu
22 28 Minggu
28 Minggu
30 Minggu
32 Minggu
34 Minggu
36 Minggu
40 Minggu

Jarak dari simfisis


24-25 cm
26,7 cm
29,5 30 cm
31 cm
32 cm
33 cm
37,7 cm

5)Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ) (T5)


6)Pemberian Imunisasi TT ( T6) Imunisasi Tetanus Toxoid harus segera di
berikan pada saat seorang wanita hamil melakukan kunjungan yang pertama
dan dilakukan pada minggu ke-4.
Judul Table 3
Interval dan Lama Perlindungan Tetanus Toxoid
Selang Waktu
minimal pemberian
Imunisasi TT

Imunisasi TT
TT1

TT2
TT3
TT4
TT5

1 bulan setelah TT1


6 bulan setelah TT2
12 Bulan setelah TT3
12 Bulan setelah TT4

Lama Perlindungan
Langkah awal pembentukan
kekebalan tubuh terhadap
penyakit Tetanus
3 Tahun
6 Tahun
10 Tahun
25 Tahun

7) Pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama kehamilan ( T7 )


8) Tes laboratorium rutin kusus .Pemeriksaan Hb ( T8 ) Pemeriksaan Hb
pada Bumil harus dilakukan pada kunjungan pertama dan minggu ke 28.
bila kadar Hb < 11 gr% Bumil dinyatakan Anemia, maka harus diberi
suplemen 60 mg Fe dan 0,5 mg As. Folat hingga Hb menjadi 11 gr% atau
lebih.
9) Tata laksana kasus ( T9 )

10) Temu wicara / Konseling ( T10 ).Termasuk perencanaan persalianan dan


pencegahan komplikasi serta KB pasca persalinan
(Depkes RI,2010)
KIE Efektif
KIE efektif dilakukan pada setiap kunjungan antenatal yang meliputi:
1

Kesehatan ibu
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memeriksakan kehamilannya secara
rutin ke tenaga kesehatan dan menganjurkan ibu hamil agar beristirahat
yang cukup selama kehamilannya (sekitar 9-10 jam per hari) dan tidak

bekerja berat.
Perilaku hidup bersih dan sehat
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan badan selama
kehamilan misalnya mencuci tangan sebelum makan, mandi 2 kali sehari
dengan menggunakan sabun, menggosok gigi setelah sarapan dan sebelum

tidur serta melakukan olah raga ringan.


3 Peran suami atau keluarga dalam kehamilan dan perencanaan persalinan
Setiap ibu hamil perlu mendapatkan dukungan dari keluarga terutama
suami dalam kehamilannya. Suami, keluarga atau masyarakat perlu
menyiapkan biaya persalinan, kebutuhan bayi, transportasi rujukan dan
calon donor darah. Hal ini penting apabila terjadi komplikasi kehamilan,
4

persalinan, dan nifas agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan.


Tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas serta kesiapan
menghadapi komplikasiSetiap ibu hamil diperkenalkan mengenai tandatanda bahaya baik selama kehamilan, persalinan, dan nifas misalnya
perdarahan pada hamil muda maupun hamil tua, keluar cairan berbau pada
jalan lahir saat nifas, dsb. Mengenal tanda-tanda bahaya ini penting agar

ibu hamil segera mencari pertolongan ke tenaga kesehtan kesehatan.


Asupan gizi seimbang

Selama hamil, ibu dianjurkan untuk mendapatkan asupan makanan yang


cukup dengan pola gizi yang seimbang karena hal ini penting untuk proses
tumbuh kembang janin dan derajat kesehatan ibu. Misalnya ibu hamil
disarankan minum tablet tambah darah secara rutin untuk mencegah
6

anemia pada kehamilannya.


Gejala penyakit menular dan tidak menular
Setiap ibu hamil harus tahu mengenai gejala-gejala penyakit menular
(misalnya penyakit IMS,Tuberkulosis) dan penyakit tidak menular
(misalnya hipertensi) karena dapat mempengaruhi pada kesehatan ibu dan

janinnya.
Penawaran untuk melakukan konseling dan testing HIV di daerah tertentu
(risiko tinggi)Konseling HIV menjadi salah satu komponen standar dari
pelayanan kesehatan ibu dan anak. Ibu hamil diberikan penjelasan tentang
risiko penularan HIV dari ibu ke janinnya, dan kesempatan untuk
menetapkan sendiri keputusannya untuk menjalani tes HIV atau tidak.
Apabila ibu hamil tersebut HIV,positif maka dicegah agar tidak terjadi
penularan HIV dari ibu ke janin, namun sebaliknya apabila ibu hamil
tersebut HIV negatif maka diberikan bimbingan untuk tetap HIV

negatifselama kehamilannya, menyusui dan seterusnya.


Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusifSetiap ibu hamil
dianjurkan untuk memberikan ASI kepada bayinya segera setelah bayi
lahir karena ASI mengandung zat kekebalan tubuh yang penting untuk

kesehatan bayi. Pemberian ASI dilanjutkan sampai bayi berusia 6 bulan.


KB paska persalinan Ibu hamil diberikan pengarahan tentang pentingnya
ikut KB setelah persalinan untuk menjarangkan kehamilan.

B. Persalinan Normal

Definisi persalinan normal


Persalinan adalah proses pengeluaran konsepsi (janin dan Uri) yang telah

cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau malalui
jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri).(Manuaba 1998).
Persalinan adalah proses bergeraknya janin, plasenta dan membran keluar
dari uterus dan saluran lahir. Persalinan merupakan rangkaian koordinasi
kontraksi uterus tidak disadari yang menghasilkan affacemen dan dilatasi serviks
dan usaha keras yang disadari menghasilkan persalinan. (Bobak, 2000)
Persalinan ialah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran
bayi yang cukup bulan (37-42 minggu) disusul dengan pengeluaran placenta dan
selaput janin dari tubuh ibu. Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir
dengan pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses inidimulai dengan kontraksi
persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif pada serviks, dan
diakhiri dengan pelahiran plasenta. (Varney, 2004)
a. Kala I persalinan
Kala I persalinan dibagi ke dalam dua urutan fase, yaitu :
1) Fase laten
Fase laten adalah periode waktu dari awal persalinan hingga ke titik ketika
pembukaan mulai berjalan secara progresif, yang umumnya dimulai sejak
kontraksi mulai muncul hingga pembukaan 3-4 cm atau permulaan fase aktif.
Selama fase laten bagian presentasi mengalami penurunan sedikit hingga tidak
sama sekali. (Varney, 2004)
Fase laten sebelum kala I aktif dan dapat berlangsung 6-8 jam pada ibu
primigravida untuk dilatasi serviks dari 0 cm hingga 3-4 cm dan kanal serviks
memendek dari 3 cm menjadi kurang dari 0,5 cm. (Fraser, Cooper, 2009)
2) Fase aktif

Fase aktif adalah periode waktu dari awal kemajuan aktif pembukaan
hingga pembukaan menjadi komplit dan mencakup fase transisi. Pembukaan
umumnya dimulai dari 3-4 cm (atau pada akhir fase laten) hingga 10 cm (atau
akhir kala I persalinan). Penurunan bagian presentasi janin yang progresif terjadi
selama akhir fase aktif dan selama kala II persalinan. (Varney, 2004)
Kala I aktif adalah saat ketika serviks mengalami dilatasi yang lebih cepat.
Saat ini dimulai ketika serviks berdilatasi 3-4 cm dan jika terdapat kontraksi
ritmik, kala I aktif ini akan selesai jika serviks sudah mengalami dilatasi penuh
(10 cm). (Fraser, Cooper, 2009)
3) Fase transisi
Selama fase transisi, wanita mengakhiri kala I persalinan pada saat hampir
memasuki dan sedang mempersiapkan diri untuk kala II persalinan. Sejumlah
besar tanda dan gejala, termasuk perubahan perilaku telah diidentifikasi sebagai
petunjuk transisi ini. (Varney, 2004)
Fase transisi sekitar 8 cm adalah kala persalinan ketika serviks berdilatasi
dari sekitar 8 cm sampai dilatasi penuh (atau hingga kontraksi ekspulsif yang
terjadi pada kala II mulai dirasakan oleh ibu), sering kali intensitas aktivitas uterus
berhenti sejenak pada saat ini. (Fraser, Cooper, 2009)

b. Kala II persalinan
Kala II adalah saat keluarnya janin. Dimulai saat serviks sudah berdilatasi
penuh dan ibu merasakan dorongan untuk mengejan untuk mengeluarkan bayinya.
Kala II ini berakhir saat bayi lahir. (Fraser, Cooper, 2009). Kala II persalinan
adalah kala pengeluaran janin. Ini ditandai dengan pembukaan serviks secara
lengkap (10 cm) hingga lahirnya bayi. (Bobak, 2000)

Tiga fase pada kala II yaitu :


a

Fase 1, periode tenang


Dari dilatasi lengkap sampai desakan untuk mengejan atau awitan usaha
mengejan yang sering dan berirama.
Fase II, mengejan aktif
Dari awitan upaya mengejan yang berirama atau desakan untuk
mendorong sampai bagian presentasi tidak lagi mundur diantara usaha

mengejan (crowning).
Fase III, perineal
Dari crowning bagian presentasi sampai pelahiran semua tubuh bayi.

(Varney, 2004)
Tanda-Tanda Persalinan
a

Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi

yang semakin pendek.


Dapat terjadi pengeluaran pembawa tanda yaitu :
1 Pengeluaran lender
2 Lendir bercampur darah
c Dapat disertai ketuban pecah
d Pada pemeriksaan dalam, dijumpai perubahan serviks.
1 Perlunakan serviks
2 Pendataran serviks
3 Terjadi pembukaan serviks
b

Faktor Faktor Penting dalam Persalinan


a

Power
1 His (kontraksi otot rahim)
2 Kontraksi otot dinding perut
3 Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan
4 Ketegangan dan kontraksi ligamentum retundum
b Pasanger
Janin dan plasenta
c Passage
Jalan lahir lunak dan jalan lahir tulang (Rustam Muchtar, 1998)
c. Kala III persalinan
Kala III persalinan dimulai saat proses pelahiran bayi selesai dan berakhir
dengan lahirnya plasenta. Kala III persalinan berlangsung rata-rata antara 5
dan 10 menit, akan tetapi kisaran normal kala III sampai 30 menit. Risiko

perdarahan meningkat apabila kala III lebih lama dari 30 menit, terutama
antara 30 sampai 60 menit. (Varney, 2004)
Rentang kala III persalinan adalah dari lahirnya bayi sampai lahirnya
plasenta. Tujuan penanganan kala III adalah pelepasan dan pengeluaran
plasenta yang dilakukan dengan cara yang paling mudah dan dengan jalan
yang paling aman. (Bobak, 2000)
Kala III persalinan terdiri atas dua fase berurutan, yaitu pelepasan plasenta
dan pengeluaran plasenta. Pelepasan dan pengeluaran terjadi karena
kontraksi, yang mulai terjadi lagi setelah terhenti singkat setelah kelahiran
bayi. Setelah plasenta lahir, uterus yang kosong berkontraksi dengan
sendirinya dan tetap berkontraksi jika tonus otot baik. Apabila tonus otot
tidak baik, seorang wanita akan mengalami peningkatan aliran lokhia dan
kontraksi uterus berulang sewaktu uterus relaksasi. Hal ini dapat
menyebabkan nyeri setelah melahirkan. (Varney, 2004)
Tanda-tanda pelepasan plasenta :
a

Rahim naik, disebabkan karena plasenta yang telah lepas jatuh kedalam

b
c
d

segmen bawah rahim atau bagian atas vagina dan mengangkat vagina
Bagian tali pusat yang lahir menjadi lebih panjang
Rahim menjadi lebih bundar bentuknya dan menjadi lebih keras
Keluarnya darah dengan tiba-tiba

(Obstetri Fisiologi UNPAD, 1983)


d. Kala IV persalinan
Kala IV adalah masa 2 jam setelah plasenta lahir. Dalam kala IV ini ibu
masih membutuhkan pengawasan yang intensif karena kemungkinan
perdarahan yang disebabkan oleh atonia uteri masih mengancam, maka ibu
belum boleh dipindahkan ke kamarnya dan tidak boleh ditinggalkan oleh
bidan. Tugas bidan dalam kala IV adalah mengawasi perdarahan post

partum, menjahit robekan perinium dan memeriksa bayi. (Obstetri


Fisiologi UNPAD, 1983)
Selama kala IV persalinan, bidan memiliki tanggung jawab untuk
melaksanakan :
a Evaluasi kontraktilitas uterus dan perdarahan
b Inspeksi dan evaluasi serviks, vagina dan perinium
c Inspeksi dan evaluasi plasenta, membran dan tali pusat
d Pengkajian dan penjahitan setiap laserasi atau episiotomi
e Evaluasi tanda-tanda vital dan perubahan fisiologis

yang

mengindikasikan pemulihan
(Varney, 2004)
Pada pengawasan perdarahan postpartum, yang harus diawasi adalah :
a Setelah plasenta lahir, hendaknya plasenta diperiksa dengan teliti
b
c
d
e
2

apakah lengkap atau tidak


Darah yang keluar dari jalan lahir
Fundus uteri
Kontraksi rahim
Keadaan umum ibu
Etiologi Persalinan

Apa yang menyebabkan terjadinya persalinan belum diketahui benar, yang


ada hanyalah merupakan teori-teori yang kompleks antara lain
dikemukakan faktor-faktor humoral, struktur rahim, sirkulasi rahim,
pengaruh tekanan pada syaraf, dan nutrisi.
a. Teori-teori yang menyebabkan terjadinya persalinan menurut buku
(Mochtar Rustam, MPH, Sinopsis Obstetri Jilid I, 1998). yaitu :

1) Teori Penurunan Hormon


1-2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormon
estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja sebagai penanang

otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan


pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesteron.
2) Teori Plasenta Menjadi Tua
Akan menyebabkan turunnya kadar estrgen dan progesteron yang
menyebabkan

kekejangan

pembuluh

darah.

Hal

ini

akan

menimbulkan kontraksi.
b. Teori Distensi Rahim
Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemia
otot-otot rahim, sehingga menganggu sirkulasi utero-plasenter.
c. Teori Iritasi Mekanik
Dibelakang serviks terletak ganlion servikale (fleksus frankenhauses)
bila ganglion ini digeser dan ditekan. Misalnya oleh kepala janin akan
timbul kontruksi uterus.
d. Induksi Partus (Induction of Labour)
Partus dapat pula ditimbulkan dengan jalan :
1) Gagang laminaria
Beberapa laminaria dimasukkan dalam kanan servikalis dengan
tujuan merangsang plensus fraknehauser.
2) Amniotomi : pemecahan ketuban
3) Oksitosin drips : pemberian oksitosin menurut tetesan per infus

Mekanisme persalinan
Karena bentuk lorong panggul yang tidak teratur dan dimensi-dimensi
kepala janin matur yang relatif besar, jelas bahwa tidak semua diameter
kepala dapat melewati semua diameter panggul. Yang terjadi adalah

diperlukan suatu proses adaptasi atau akomodasi bagian-bagian kepala


yang

bersangkutan

terhadap

berbagai

segmen

panggul

untuk

menyelesaikan kelahiran. Perubahan-perubahan posisi dibagian presentasi


ini merupakan mekanisme persalinan. (Cunningham, 1995)
Mekanisme persalinan adalah gerakan posisi yang dilakukan janin untuk
menyesuaikan diri terhadap pelvis ibu. Gerakan ini diperlukan karena
diameter terbesar janin harus sejajar dengan diameter terbesar pelvis ibu
agar janin yang cukup bulan dapat melewati pelvis dan kemudian bayi
dapat dilahirkan. (Varney, 2004)
Gerakan utama pada mekanisme persalinan ialah :
a

Turunnya Kepala
Turunnya kepala dapat dibagi dalam :
1 Masuknya kepala dalam PAP
Pada primigravida masuknya kepala pada bulan terakhir kehamilan
sedangkan pada multigravida pada permulaan persalinan. Masuknya
kepala dalam PAP biasanya dengan sutura sagitalis melintang dan
fleksi ringan.
a

Synclitismus
Jika sutura sagitalis ditengah-tengah antara simpisis dan
promontorium. Pada synclitismus os perietal depan sama

tingginya dengan os pariental belakang.


Asynclitismus
Jika sutura sagitalis agak ke depan mendekati sympisis atau agak
ke belakang mendekati promotorium.
1 Asynclitismus Posterior
Jika sutura sagitalis mendekati sympisis dan os pariental
2

belakang lebih rendah dari depan.


Asynclitismus anterior
Jika sutura sagitalis mendekati promontorium dan os
pariental depan lebih rendah dari belakang.

Majunya kepala
Pada primigravida terjadi setelah kepala masuk ke dalam rongga
panggul dan biasanya baru mulai pada kala II. Pada multipara
sebaliknya majunya kepala dan masuknya kepala dalam rongga panggul
terjadi bersamaan. Majunya kepala ini bersamaan dengan gerakangerakan yang lain, yaitu fleksi, putaran paksi dalam dan ekstensi yang
menyebabkan majunya kepala, yaitu tekanan cairan intrauterine,
tekanan langsung oleh fundus pada bokong, kekuatan mengejan dan
melurusnya badan anak oleh perubahan bentuk rahim.
b

Fleksi
Dengan majunya kepala biasanya fleksi bertambah hingga UUK jelas
lebih rendah dari UUB. Keuntungan bertambahnya fleksi ukuran kepala
yang lebih kecil melalui jalan lahir diameter suboccipito bregmatica
(9,5 cm) menggantikan suboccipito frontalis (11 cm) fleksi ini
disebabkan karena anak didorong maju dan mendapat tahanan dari

pinggir atas panggul, cervix, dinding panggul dasar panggul.


Putaran Paksi Dalam
Yang dimaksud dengan putaran paksi dalam ialah pemutaran dari
bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian
depan memutar ke depan ke bawah symphysis. Presentasi belakang
kepala bagian yang terendah ialah daerah ubun-ubun kecil dan bagian
inilah yang akan memutar ke depan ke bawah symphysis. Putaran paksi
dalam merupakan suatu usaha untuk menyampaikan posisi kepala
dengan bentuk jalan lahir, khususnya bidang tengah dan pintu bawah
panggul. Putaran paksi dalam ini bersamaan dengan majunya kepala

dan sebelum kepala sampai ke hodge III. Sebab sebab putaran paksi
dalam yaitu :
1 Pada letak fleksi, bagian belakang kepala merupakan bagian
2

terendah dari kepala.


Bagian terendah dari kepala ini mencapai tahapan yang paling
sedikit terdapat setelah depan atas dimana terdapat hiatus genitalis

antara inlevator ani kiri dan kanan


Ukuran terbesar dari bidang tengah panggul ialah diameter
anteroposterior

Ekstensi
Setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai dari dasar panggul,
terjadilah extensi atau defleksi dari kepala hal ini disebabkan sumbu
jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarh ke depan dan atas. Pada
kepala bekerja dua kekuatan, yang satu mendesak ke bawah dan
tahanan dasar panggul yang menolak ke atas. Dimana suboccipiit
menjadi pusat pemutaran (hypomochson) maka lahirlah berturut-turut

UUB, dahi, hidung mulut dan dagu dengan gerakan extensi.


Putaran Paksi Luar
Gerakan yang terakhir adalah putaran paksi luar yang sebenarnya
disebabkan karena ukuran bahu (diameter bisacromial) menempatkan
diri dalam diameter anteroposterior dari pintu bawah panggul.

Expulsi
Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai dibawah symphysis dan
menjadi hypomochlion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian bahu
depan menyusul dan selanjutnya seluruh badna anak lahir searah
dengan paksi jalan lahir. (Obstetri Fisiologi UNPAD, 1983)
4. Gejala / Tanda Tanda Persalinan

Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita


memasuki bulanya / mingguan / harinya yang disebut kala pendahuluan
(preparotory stage of labor).
a. Tanda-tanda permulaan persalinan menurut buku (Mochtar Rustam,
MPH, Sinopsis Obstetri Jilid I 1998) sebagai berikut :
1) Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki
pintu atau panggul terutama pada primigravida pad amulti begitu
kentara.
2) Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
3) Perasaan sering-sering atau susah

kencing (polaisuria) karena

kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.


4) Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksikontraksi lemah dari uterus, kadang-kadang disebut False labor
pains.
5) Serviks menjadi lembek, mulai mendatar, dan sekresinya bertambah
bisa bercampur darah (bloody show).
b. Tanda-Tanda Inpartu menurut (Mochtar Rustam, MPH, Sinopsis Obstetri
Jilid I, 1998):
1) Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.
2) Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena
robekan-robekan kecil pada serviks.
3) Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
4) pada pemeriksaan dalam serviks mendatar dan perbukaan telah ada.
5.Penatalaksanaan Persalinan

a.

Kala I
Pengkajian Awal
1) Lihat
a) Tanda-tanda perdarahan, mekoneum atau bagian organ yang
lahir
b) Tanda-tanda bekas operasi sesar terdahulu.
c) Ibu yang warna kulitnya kuning atau kepucatan
2) Tanya
a) Kapan tanggal perkiraan kelahiran
b) Menentukan ibu sudah waktunya melahirkan atau belum
3) Periksa
a) Tanda-tanda penting untuk hipertensi
b) Detak jantung janin untuk bradikardi
(Prawirohardjo,2006)
Tabel 4
Asuhan yang diberikan pada Kala I

Tindakan
Deskripsi dan Keterangan
Menghadirkan
orang
yang Dukungan yang diberikan :
dianggap penting oleh ibu a. Mengusap keringat
seperti : suami, keluarga pasien / b. Menemani jalan-jalan (mobilisasi)
teman dekat :
c. Memberikan minum
d. Merubah posisi
e. Memijat / menggosok pinggang
Mengatur aktivitas dan posisi a. Ibu boleh melakukan aktivitas sesuai
ibu
dengan kesanggupannya.
b. Posisi sesuai dengan keinginannya ibu
tapi tidak dianjurkan posisi tidur
terlentang
Membimbing ibu untuk rileks Ibu meminta menarik napas panjang, tahan
sewaktu ada his
napas sebenar kemudian dilepaskan dengan
cara meniup sewaktu his.
Menjagai privasi ibu
Menggunakan penutup / tirai, tidak

menghadirkan
orang
lain
tanpa
sepengetahuan dan seizin pasien / ibu
Penjelasan tentang kemajuan Menjelaskan perubahan yang terjadi dalam
persalinan
tubuh ibu, serta prosedur yang akan
dilaksanakan dan hasil hasil pemeriksaan.
Menjaga kebersihan diri
Membolehkan
ibu
untuk
mandi.
Menganjurkan ibu membasuk sekitar
kemaluannya setelah BAK/BAB.
Mengetahui rasa panas
a. Gunakan kipas angin / AC dalam kamar
b. Menggunakna kipas biasa
c. Menganjurkan ibu untuk mandi
Masase
Jika ibu suka lakukan masase pada pinggang
atua mengusap perut dengan lembut
Pemberian cukup minum
Untuk memenuhi kebutuhan energi dan
mencegah dehidrasi
Mempertahankan
kandung Sarankan ibu untuk berkemih sesering
kemih tetap kosong
mungkin
Sentuhan
Disesuaikan
dengan
keinginan
ibu,
memberikan sentuhan pada salah satu
bagian tubuh yang bertujun untuk
menguraikan rasa kesendirian ibu selama
proses persalinan.
(Prawirohardjo, 2006

6. Diagnosa
Tabel 5
Diagnosa Kala I
Katagori
Sudah dalam persalinan (inpartu)

Kemajuan persalinan
Persalinan bermasalah
Kegawatdaruratan

Keterangan
Ada tanda-tanda persalinan:
- Pembukaan serviks > 3 cm.
- His adekuat (teratur, minimal 2
kali dalam 10 menit selama 40
detik)
- Lendir darah dari vagina
Kemajuan berjalan sesuai dengan
partograf
Kemajuan berjalan tidak sesuai
dengan partograf , melewati garis
waspadai
Seperti :
- Eklamsia
- Perdarahan
- Gawat janin

(Prawirohardjo,2006)
b.

Kala II
Selama Kala II, petugas harus terus memantau :
1) Tenaga, atau usaha mengedan dan kontraksi uterus
2) Janin yang penurunan presentasi janin, dan kembali normalnya
detak jantung bayi setelah kontraksi.

3) Kondisi ibu.
Tabel 6
Asuhan yang diberikan pada Kala II
Tindakan

Deskripsi dan Keterangan

Memberikan dukungan terus a. Mendampingi ibu agar merasa nyaman (keluarga)


menerus kepada ibu
b. Menawarkan minum, mengipasi dan memijat
Menjaga kebersihan diri
a. Ibu tetap dijaga kebersihannya agar terhindar dari infeksi.
b. Bila ada darah lendir atau cairan ketuban segera
dibersihkan
Mengipasi dan masase
Menambah kenyamanan bagi ibu
Memberikan dukungan mental Untuk mengurangi kecemasan dan ketakutan ibu, dengan
cara :
a. Menjaga privasi ibu
b. Penjelasan tentang proses dan kemajuan persalinan
c. Penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan dan
keterlibatan ibu
Mengatur posisi ibu
Dalam memimpin mengedan dapat dilihat posisi sebagai
berikut :
a. Jongkok
b. Menungging
c. Tidur miring

d. Setengah duduk
Posisi tegak ada kaitannya dengan berkurangnya rasa nyeri,
mudah mengedan, kurangnya trauma vagina, dan perinium
dan infeksi.
Menjaga kandung kemih tetap Anjurkan ibu untuk BAK sesering mungkin. Kandung kemih
kosong
yang penuh dapat menghalangi turunnya kepala ke dalam
rongga panggul.
Memberikan cukup minum
Memberi tenaga dan mencegah dehidrasi
Memimpin mengedan
Pimpin ibu mengedan selama his, anjurkan pada ibu untuk
mengambil nafas
Bernafas selama persalinan
Minta ibu bernafas selagi kontraksi ketika kepala akan lahir.
Untuk menjaga agar perineum meregang pelan dan
mengontrol lahirnya kepala sesat mencegah raegakan
Pemantauan DJJ
Periksa DJJ setelah setiap kontraksi untuk memastikan janin
tidak mengalami bradikardi (< 120). Selama mengedan yang
lama, akan terjadi pengurangan aliran darah O2ke janin
Melahirkan bayi
1. Menolong kelahiran kepala
2. Periksa tali pusat
3. Melahirkan bahu dan anggota seluruhnya
Bayi dikeringkan dan
Setelah bayi lahir segera dikeringkan dan diselimuti dengan
dihangatkan dari kepala
menggunakann handuk / sejenisnya, letakkan pad aperut ibu
sampai seluruh tubuh
dan berikan bayi untuk menetek.
Merangsang bayi
1. Biasakan dengan melakukan pengeringan cukup
memberikan rangsangan pada bayi.
2. Dilakukan dengan cara mengusap-usap pada bagian
punggung atau menepuk telak kaki bayi.
(Prawirohardjo,

2009)

4) Diagnosa
Persalinan kala II ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam
untuk memastikan pembukaan sudah lengkap atau kepala janin sudah tampak
divulva dengan diameter 5-6cm.
Tabel 7
Diagnosa Kala II
Katagori

Keterangan

Kala II berjalan dengan baik


Ada kemajuan penurunan kepala bayi
Kondisi kegawatdaruratan pada Kala Kondisi
kegawatdaruratan
II
membutuhkan
perubahan
dalam
penatalaksanaan atau tindakan segera.
Contoh kondisi tersebut termasuk :
- Eklamsia
- Kegawatdaruratan bayi
- Penurunan kepala terhenti
- Kelelahan ibu
(Prawirohardjo,2006)
c. Kala III
Pengkajian Awal
1) Palpasi uterus untuk menentukan apakah ada bayi yang kedua : jika
ada, tunggu sampai bayi ke-2 lahir.
2) Menilai apakah BBL dalam keadaan stabil, jika tidak, rawat bayi
segera.

Tabel 8
Asuhan yang diberikan pada Kala III
Tindakan
Deskripsi dan Keterangan
Jepit dan gunting tali pusat Dengan menjepit tali pusat sedini mungkin akan
sedini mungkin
memulai pelepasan plasenta

Memberikan oksitoksin

Oksotosin merangsang uterus berkontraksi yang


juga mempercepat pelepasan plasenta :
a. Oksotosin 10 U IM diberikan ketika
kelahiran bahu depan bayi jika p etugas > 1
dan pasti hanya ada bayi tunggal.
b. Oksotosin diberikan dalam 2 menit setelah
kelahiran jika hanya 1 orang petugas dan
hanay ada bayi tunggal
c. Oksotosin 10 IM dapat diulangi 15 menit
jika masih belum lahir.
d. Jika oksotosin tidak tersedia, rangsangan
putting payudara ibu atau berikan ASI pada
bayi guna menghashilkan oksitosin alamiah
Melakukan penegangan tali PTT mempercepat kelahiran plasenta begitu
pusat terkendali atau PTT sudah terlepas :
(Controlled Cord Traction)
a. Satu tangan diletakkan pada corpus uteri
tepat di atas simpisis pubis. Selama kontraksi
tangan mendorong uteri dengan gerakna
dosro cranial-kearah belakang dan kearah
kepala ibu.
b. Tangan yang satu memegang tali pusat dekat
pembukaan vagina dan melakukan tarikan
tali pusat yang terus menerus dalam tegangan
yang sama dengan tangan ke uterus selama
kontraksi.
PTT
dilakukan
hanya
selama
uterus
berkontraksi.Tangan pada uterus merasakan
kontraksi, ibu dapat juga memberitahu petugas
ketika ia merasakan kontraksi.
Massase Fundus
Segera setelah plasenta dan selaputnya
dilahirkan, massase fundus agar menimbulkan
kontraksi. Hal ini dapat mengurangi pengeluaran
darah dan mencegah perdarahan post partum.
Jaka uerus tidak berkontraksi kuat selama 10-15
detik atau jika perdarahan hebat terjadi, mulailah
segera melakukan kompresi bimanual. Jika
atonia uteri tidak teratasi dalam waktu 1-2 menit,
ikuti protokol untuk perdarahan post partum.
(Prawirohardjo,2006: 116-117)

1) Diagnosa
Tabel 9
Diagnosa Kala III
Katagori

Keterangan

Kehamilan
tunggal

dengan

janin

normal

Bayi normal

Persalinan spontan melalui


vagina pada bayi tunggal
Cukup bulan

Tidak
ada
tanda-tanda
kesulitan pernafasan
- APGAR > 8 pada menit ke 5
- Tanda-tanda vital stabil
- Berat badan 2500gr
Seperti :
- Berat badan 2500gr
- Asfiksia
- APGAR < 7 pada menit ke 5
- Cacat lahir

Bayi dengan penyulit

(Prawirohardjo,2006)
2) Evaluasi
b)

Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum


juga lahir dalam waktu 30 menit:
(1) Periksa kandung kemih dan lakukan katerisasi jika
kandung kemih penuh
(2) Periksa adanya tanda-tanda pelepasan plasenta
(3) Berikan oksitosin 10 U IM dosis kedua, dalam jarak waktu
15menit dari pemberian oksitosin dosis pertam
(4) Siapkan rujukan jika tidak ada tanda-tanda pelepasan
plasenta.

c)

Jika manajemen aktif tidak dilakukan (seperti jika


penyulit pada bayi baru lahir dengan hanya seorang petugas
terlatih) maka:
(1) Periksa tanda-tanda pelepasan plasenta fisiologis dan
melakukan PTT untuk melahirkan plasenta berikut selaput
ketuban

(2) Melakukan massase uterus hingga uterus mengeras


(3) Memberikan oksitosin 10 U IM setelah plassenta lahir
(Prawirohardjo,2006)

d. Kala IV
Tabel 10
Asuhan yang diberikan pada Kala IV
Tindakan

Deskripsi dan Keterangan

Ikat tali pusat

Pemeriksaan fundus
masase
Nutrisi dan hidrasi

dan

Bersihkan ibu
Istirahat
Peningkatan
dan bayi

hubungan

ibu

Memulai menyusui
Menolong
mandi

ibu

ke

kamar

Mengajari ibu dan anggota


keluarga

(Prawirohardjo,2006)

Jika petugas sendirin dan sedang melakukan


management aktif kala III tali pusat diklem,
gunting dan berikan oksitosin. Segera setelah
placenta dan selaputnya lahir lakukan masase
fundus agar berkontraksi baru tali pusat diikat
dan klem di lepas.
Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama
dan setiap 20-30 menit selama jam ke-2
Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah
dehidrasi. Tawarkan ibu makanan dan minuman
yang disukai
Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian ibu
yang bersih dan kering
Biarkan ibu beristirahat. Ia telah bekerja keras
melahirkan bayinya. Bantu ibu pada posisi yang
nyaman
Biarkan bayi berada pada ibu untuk
meningkatkan hubungan ibu dan bayi, sebagai
permulaan dengan menyusui bayinya.
Bayi sangat siap segera setelah kelahiran. Hal ini
sangat tepat untuk memulai memberikan ASI,
menyusui juga membantu uterus berkontraksi.
Ibu boleh bangun ke kamar mandi, pastikan ibu
dibantu dan selamat karena ibu masih dalam
keadaan lemah atau pusing setelah persalinan.
Pastikan ibu sudah BAK dalam 3 jam post
partum
Ajari ibu / anggota keluarga tentang :
a. Bagaimana
memeriksa
fundus
dan
menimbulkan kontraksi.
b. Tanda-tanda bahaya bagi ibu dan bayi.

Tabel 11
Diagnosa Kala IV
Katagori
Involusi normal

Kala IV dengan penyulit

Keterangan
Tonus: uterus tetap berkontraksi
Posisi: fundus uteri di atau
dibawah umblikus
Perdarahan: tidak berlebihan
Cairan: tidak berbau
Sub-involusi: uterus tidak keras,
posisi diatas umbilikus
Perdarahan: atonia, laserasi,
bagian
plasenta
tertinggal/
membran yang lain.

(Prawirohardjo,2006)

C Nifas Normal
1 Definisi
Masa nifas atau puerperium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta
sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. Pelayanan pasca persalinan
harus terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan
bayi, yang meliputi upaya pencegahan, deteksi dini dan pengobatan
komplikasi dan penyakit yang mungkin terjadi serta penyediaan pelayanan
pemberian ASI, cara menjarangkan kehamilan, imunisasi dan nutrisi bagi
ibu. (Prawirohardjo, 2010)
2 Perubahan fisiologis masa nifas
a Perubahan sistem reproduksi dan sistem-sistem yang berhubungan
1 Perubahan corpus uterine
a Involusi uterine

Pemulihan uterus pada ukuran dan kondisi normal setelah


kelahiran bayi diketahui sebagai involusi. Pada akhir kala III dari
persalinan uterus berada pada garis tengah, kira-kira 2 cm di
bawah

umbilikus,

dengan

fundus

menetap

pada

sakral

promontarium. Dalam 12 jam setelah persalinan, fundus berada


kurang lebih 1 cm di atas umbilikus. Dari waktu ini, involusi
uterus berlangsung sangat cepat, memperbaiki keadaan uterine
dan mendukung tinggi fundus untuk turun kira-kira 1 sampai 2
cm setiap 24 jam. Enam hari setelah postpartum normalnya harus
berjarak setengah dari simpisis pubis dan umbilikus. Uterus harus
tidak teraba lagi pada abdominal setelah 9 hari postpartum. Uterus
jika penuh bisa memiliki berat 11 kali dari berat sebelum
kehamilan, dengan cepat mengalami involusi sampai kira-kira
500 gr 1 minggu setelah kelahiran dan 350 gr 2 minggu setelah
kelahiran. Seminggu setelah persalinan, uterus terletak pada
pelvis kembali. Pada 6 minggu beratnya 50 sampai 60 gr.
b Kontraksi uterine
Intensitas kontraksi uterine meningkat secara bermakna segera
setelah kelahiran bayi, yang merupakan respon untuk segera
mengurangi jumlah volume intra uterine. Selama 1 atau 2 jam
pertama postpartum, aktifitas uterin menurun dengan halus dan
dengan progresif dan stabil. Kontraksi uterin mempunyai peran
untuk keseimbangan oleh penekanan intra mural pembuluhc

pembuluh darah.
Tempat pelepasan plasenta

Segera setelah plasenta dan membran-membran dikeluarkan


terjadi kontriksi vaskular dan trombus untuk menutupi tempat
tumbuhnya plasenta dengan suatu nodul-nodul yang ireguler dan
area elevasi. Pelepasan jaringan-jaringan yang nekrose diikuti
dengan pertumbuhan endometrium untuk mencegah terjadinya
scar. Proses yang unik ini adalah karakteristik penyembuhan luka
2

yang normal.
Perubahan vagina dan perinium
Penurunan kadar estrogen pada postpartum bertanggung jawab
terhadap penipisan mukosa vagina. Dinding vagina yang membesar
secara berangsur-angsur ukurannya akan kembali seperti sebelum

kehamilan dalam waktu 6 sampai 8 minggu setelah persalinan.


Perubahan dinding abdominal blood
Hari pertama setelah persalinan, otot-otot abdominal tidak dapat
menahan isi abdomen. Abdomen menonjol dan memberikan bentuk
seperti masih hamil. Selama 2 minggu pertama setelah persalinan
dinding abdominal berelaksasi. Dibutuhkan waktu kira-kira 6

minggu sebelum dinding abdominal kembali seperti semula.


Perubahan payudara
Konsenterasi hormon-hormon yang di stimulasikan pada payudara
berkembang selama kehamilan (estrogen, progesteron, gonadotropin,
prolaktin, kortisol dan insulin) menurun dengan cepat setelah
persalinan. Perlu waktu untuk mengembalikan keadaan hormonhormon ini pada keadaan seperti sebelum hamil tergantung pada

apakah dia menyusui bayinya.


b Perubahan sistem endokrin
1 Hormon plasenta
Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan, plasenta
lactogen tidak dapat dideteksi dalam 24 jam. Human Chorionic

Gonadotropin turun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3


jam hingga hari ke -7 sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke3 post partum.
2

Hormon pituitary
Prolaktin darah meningkat dengan cepat, pada wanita tidak
menyusui menurun diam waktu 2 minggu. FSH dan LH meningkat
pada fase konsentrasi folikuler pada minggu ke-3, dan LH tetap

rDyahnya hingga ovulasi terjadi


Hipotalamik-pituitary-ovarium
Untuk wanita post partum yang menyusui tidak menyusui akan
mempengaruhi lamanya ia mendapat menstruasi. Sering kali
menstruasi pertama bersifat anovulasi yang dikarenakan rDyahnya
kadar estrogen dan progesterone. Diantaranya wanita laktasi sekitar
12% memperoleh menstruasi selama 6 minggu dan 42% setelah 12
minggu. Diantara yang tidak laktasi 40% menstruasi selama 6
minggu, 62% setelah 12 minggu dan 90% setelah 24 minggu. Untuk
wanita laktasi 80% menstruasi pertama anovulasi dan untuk wanita
yang tidak laktasi 20% siklus pertama anovulasi. Variabel yang
mempengaruhi

siklus

menstruasi

mungkin

disebabkan

oleh

rangsangan hisap yang berbeda pada tiap individu. Pemberian


minuman susu formula sebagai pemdamping ASI dan menyusui
kurang dari 6 kali/hari akan ikut berpengaruh. Setelah bersalin kadar
oksitosin dan prolaktinakan meningkat sehingga pada ovarium akan
terjadi

penurunan

hormon

estrogen

dan

progesteron

yang

menyebabkan terjadinya penurunan FSH dan LH pada kelenjar


hipofise.
c

Perubahan sistem kardiovaskuler


Pada kehamilan terdapat aliran darah dari ibu ke janin melalui plasenta,
dan setelah plasenta lahir aliran darah ini akan terhenti. Sehingga
volume darah ibu akan meningkat, menyebabkan bertambahnya beban
jantung ibu. Hal ini diatasi oleh jantung dengan proses hemokonsentrasi
ampal perlahan-lahan volume darah kembali normal seperti sedia kala.
Juga demikian halnya pada pembuluh darah akan kembali keukuran

semula.
d Perubahan sistem urinary
Fungsi ginjal normal dalam beberapa bulan setelah persalinan,
diaforesis terjadi pada malam hari ke 2-3 persalinan sebagai mekanisme
untuk mengurangi tahan cairan pada kehamilan. Distensi kandung
kemih segera terjadi sebagai akibat pengambalian metabolisme cairan
pada kehamilan dan dimobilisasi pada eliminasi akhir produk
katabolisme protein. Kontraksi kandung kemih sering kali pulih dalam
2-7 hari persalinan dengan penggosongan kandung kemihnya adekuat.
Pelvis ginjal dan ureter yang teregang dan berdilatasi setelah persalinan
sehingga akan menyebabkan kesulitan untuk kencing akibatnya terjadi
overdistensi dari kandung kemih, pelvik ginjal dan ureter dipengaruhi
oleh progesterone yang mengarah pada dilatasi dan statis urine, ini akan
menyebabkan peningkatan resiko infeksi selama kehamilan. Efek
progesteron akan menghilang setelah kelahiran plasenta. Selama
persalinan kandung kemih akan naik ke dalam abdomen dengan
memperlonggar ureter sedikit demi sedikit sehingga sering kali ureter

mengalami memar. Ureter yang memar akan menyebabkan nyeri


kencing dan kandung kemih mudah membesar. Penggosongan yang
tidak sempurna dan adanya sisa urine yang berlebihan akan
menyebabkan gangguan pada ginjal, kecuali bila diambil langkahlangkah untuk mempengaruhi ibu dalam melakukan buang air kencing
sehinggq efek dari trauma selama persalinan pada kandung kemih dan
e

ureter akan menghilang.


Perubahan sistem muskuloskeletal
Stabilisasi secara sempurna terjadi pada 6-8 minggu setelah persalinan
sebagai upaya relaksasi yang disebabkan pembesaran uterus selama
kehamilan.

3. Perubahan-perubahan Fisik pada Ibu Post Partum


a. Perubahan Sistem Reproduksi
1) Uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga
akhirnya kembali seperti sebelum hamil

Tabel 12
Tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa involusi
Involusi

Tinggi Fundus Uteri

Berat Uterus

Bayi lahir
Uri lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu

Setinggi pusat
2 jari bawah pusat
Pertengahan pusat simfisis
Tidak teraba di atas simfisis
Bertambah kecil
Sebesar normal

1000 gram
750 gram
500 gram
350 gram
50 gram
30 gram

Segera setelah persalinan bekas implantasi plasenta berupa luka kasar dan
menonjol kedalam cavum uteri. Penonjolan tersebut diameternya kira-kira 7,5

cm, sesudah 2 minggu diameternya berkurang menjadi 3,5 cm. Pada minggu
ke-6 mengecil lagi sampai 2,4 cm dan akhirnya akan pulih kembali. Di
samping itu, dari cavum uteri keluar cairan sekret yang disebut lochia.
Lokhea mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari
dalam uterus.lokhea mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat
organisme berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada vagina
normal. Lokhea mempunyai bau amis (anyir) meskipun tidak teralu
menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. Lokhea yang
berbau tidak sedap menandakan adanya infeksi. Lokhea mengalami
perubahan karena proses involusi. Pengeluaran lokhea dapat dibagi
berdasarkan waktu dan warnanya, seperti berikut ini:

Tabel 13
Pengeluaran Lokhea

Lokhea
Rubra

Waktu
1-3 hari

Warna

ciri-ciri

Merah kehitaman

Terdiri dari darah segar,


jaringan
sisa
plasenta,
dinding rahim,lemak bayi,
lanugo dan sisa mekonium.
Sanguino 4-7 hari
Merah kecoklatan Sisa darah bercampur lendir
leta
dan berlendir
Serosa
7-14 hari
Kuning
Lebih sedikit darah dan
kecoklatan
lebih banyak serum,juga
terdiri dari leukosit dan
robekan
atau
laserasi
plasenta.
Alba
>14
hari Putih
Mengandung
leukosit,sel
berlangsung 2 - 6
desidua
dan
sel
minggu postpartum
epitel,selaput lendir serviks
dan serabut jaringan yang
mati.
Lokhea
Terjadi infeksi keluar cairan
purulenta
seperti nanah berbau busuk
Lokiasta
Pengeluaran lokhea tidak
sis
lancar
Lokhea rubra yang menetap pada awal periode postpartum menunjukkan
adanya perdarahan postpartum sekunder yang mungkin disebabkan oleh
tertinggalnya selaput plasenta. Lokhea serosa atau alba yang berlanjut bisa
menandakan adanya endometritis,terutama jika disertai demam,rasa sakit
atau nyeri tekan pada abdomen.
2)

Cerviks

Segera setelah post partum bentuk servik agak menganga seperti corong.
Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi,
sedangkan servik uteri tidak berkontraksi, sehingga seolah-olah pada
perbatasan antara korpus dan servik uteri terbentuk semacam cincin. Servik
mengalami involusi bersama uterus. Setelah persalinan, ostium eksterna
dapat dimasuki oleh 2 hingga 3 jari tangan, setelah 6 minggu persalinan
serviks menutup. (Anggraini, 2010)

3) Vagina dan perineum


Segera setelah pelahiran, vagina tetap terbuka lebar, mungkin mengalami
beberapa derajat edema dan memar dan celah pada introitus. Setelah satu
hingga dua hari pertama pasca partum,tonus otot vagina kembali, celah
vagina tidak lebar dan vagina tidak lagi edema. Sekarang vagina menjadi
berdinding lunak, lebih besar dari biasanya, dan umumnya longgar. (Varney,
2010).
4) Rahim
Setelah melahirkan rahim akan berkontraksi (gerakan meremas) untuk
merapatkan dinding rahim sehinggga tidk terjadi perdarahan, kontraksi
inilah yang menimbulkan rasa mulas pada perut ibu. Berangsur-angsur
rahim akan mengecil seperti sebelum hamil, sesaat setelah melahirkan
normalnya rahim akan terasa keras setinggi 2 jari dibawah pusar, 2 pekan
setelah melahirkan rahim sudah tak teraba, 6 pekan akan pulih seperti
semula.
5) Perubahan Sistem Pencernaan
Perubahan hormon dan gerak tubuh yang kurang menyebabkan menurunnya
fungsi usus, seingga ibu tidak merasa ingin atau sulit BAB. Kerapkali
diperlukan eaktu 3-4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun
kadar progesteron menurun setelah melahirkan, namun asupan makanan
juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari, gerak tubuh
berkurang dan usus bagia bawah sering kosong jika sebelum melahirkan
diberikan enema. (Anggraini, 2010)
6) Perubahan sistem Perkemihan

Pelvis renalis dan ureter, yang meregang dan dilatasi selama kehamilan,
kembali normal pada akhir minggu keempat pascapartum. Segera setelah
pascapartum kandung kemih,edema,mengalami kongesti dan hipotonik,
yang dapat menyebabkan overdistensi, pengosongan yang tidak lengkap dan
residu urine yang berlebihan. Diuresis mulai segera setelah melahirkan dan
berakhir hingga hari kelima pascapartum. Haluaran urine mungkin lebih
dari 3000 mL perhari. (Varney,2008)
7) Perubahan hematologis
Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma
serta faktor-faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama post
partum kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah lebih
mengental dengan peningkatan viskositas sehingga peningkatan faktor
pembekuan darah.
Leukositosis yang meningkat dimana jumlah sel darah putih dapat mencapai
12.000 selama persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa hari pertama dari
masa post partum. Jumlah sel darah putih tersebut masih bisa naik lagi
sampai 22.000 atau 30.000 tapa adanya kondisi patologis jika wanita
tersebut mengalami persalinan lama. Jumlah Hemoglobine, hematokrit dan
eriytrosit akan sangat bervariasi pada masa awal-awal post partumsebagai
akibat dari volume darah, volume plasenta dan tingkat volume sel darah
yang berubah-ubah.
Semua tingkatan ini akan dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi wanita
tersebut. Kira-kira kelahiran dan masa post partum terjadi kehilangan darah

sekitar 200 200 ml selama persalinan. Penurunan volume dan peningkatan


sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hemotokrit dan
hemoglobine pada hari ke 3 7 persalinan dan akan kembali normal dalam
4 5 minggu post partum. (Anggraini, 2010).
8) Perubahan sitem endokrin
a) Hormon Plasenta
Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan, plasenta
lactogen tidak dapat dideteksi dalam 24 jam. Human Chorionic
Gonadotropin turun dengan cepat dan menetap sampai 10 % dalam 3
jam hingga hari ke-7 sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke-3
post partum.
b) Hormon Pituitary
Prolaktin darah meningkat dengan cepat, pada wanita tidak menyusui
menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH meningkat pada fase
konsentrasi folikuler pada minggu ke-3, dan LH tetap rendah hingga
ovulasi terjadi.
c) Hipotalamik-Pituitary-Ovarium
Untuk wanita post partum yang menyusui tidak menyusui akan
mempengaruhi lamanya ia mendapat menstruasi. Sering kali
menstruasi pertama bersifat anovulasi yang dikarenakan rendahnya
kadar estrogen dan progesterone. Diantaranya wanita laktasi sekitar 12
% memperoleh menstruasi selama 6 minggu dan 42 % setelah 12
minggu. Diantara yang tidak laktasi 40 % menstruasi selama 6
minggu, 62 % setelah 12 minggu dan 90 % setelah 24 minggu. Untuk

wanita laktasi 80 % menstruasi pertama anovulasi dan untuk wanita


yang tidak laktasi 20 % siklus pertama anovulasi. (Anggraini, 2010).
9)Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Pada kehamilan terdapat aliran darah dari ibu ke janin melalui plasenta,
dan setelah plasenta lahir aliran darah ini akan terhenti. Sehingga volume
darah ibu akan meningkat, menyebabkan bertambahnya beban jantung ibu.
Hal ini diatasi oleh jantung dengan proses hemokonsentrasi sampai
perlahan-lahan volume darah kembali normal seperti sediakala. Juga
demikian halnya pada pembuluh darah akan kembalai keukuran semula.
10) Perubahan sistem gastrointestinal
Penggosongan usus spontan terhambat 2 3 hari karena penurunan
kontraksi otot, pembengkakan perineal yang disebabkan oleh episiotomi,
luka dan haemoroid.
11) Perubahan sistem muskuloskletal
Stabilisasi secara sempurna terjadi pada 6 8 minggu setelah persalinan
sebagai upaya relaksasi yang disebabkan pembesaran uterus selama
kehamilan.
12) Perubahan tanda-tanda vital
a) Suhu Badan
Satu hari (24jam) postpartum suhu badan akan naik sedikit (37,5 0C380C) sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan
dan kelelahan. Apabila keadaan normal suhu badan menjadi biasa.
Biasanya pada hari ketiga suhu badan naik lagi karena adanya
pembentukkan ASI.

b) Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali permenit. Sehabis
melahirkan biasanya denyut nada akan lebih cepat. Setiap denyut
nadi yang melebihi 100 adalah abnormal dan hal ini mungkin
disebabkan oleh infeksi atau perdarahan postpartum yang tertunda.
c) Tekanan darah
Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah
setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi
pada

postpartum

dapat

menandakan

terjadinya

preeklampsi

postpartum.
d) Pernafasan
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan
denyut nadi. Bila suhu dan denyut nadi tidak normal, pernafasan
juga akan mengikutinya. (Anggraini, 2010).
4. Perubahan Psikologis Pada Ibu Post Partum
Masa dewasa merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola
kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Orang dewasa khususnya
seorang wanita diharapkan memainkan peranan baru seperti peran sebagai
seorang istri, orang tua (ibu), berkarier dan mengembangkan sikap-sikap
baru, keinginan-keinginan dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas baru
ini. Penyesuaian diri ini menjadi periode ini suatu periode khusus dan sulit
dari rentang kehidupan seorang wanita.
Perlu diingat bahwa setiap wanita membutuhkan kasih sayang, pengakuan
dari manusia lain serta butuh dikenal, butuh dihargai, butuh diperhatikan

dan butuh mendapat dukungan dari orang lain, keluarga dan teman
terutama setelah melahirkan dimana pada periode ini cukup sering seorang
ibu menunjukan depresi ringan beberapa hari setelah melahirkan. Depresi
ringan setelah melahirkan tersebut merupakan akibat dari beberapa faktor
penyebab yang paling sering adalah:
a. Kekecewaan emosional yang mengikuti rasa puas dan takut yang
dialami kebanyakan wanita selama kehamilan dan persalinan karena
adanya perubahan peran.
b. Rasa sakit yang timbul pada masa nifas awal.
c. Kelelahan karena kurang tidur selam persalinan dan post partum.
d. Kecemasan pada kemampuan untuk merawat bayinya setelah
meninggalkan rumah sakit
e. Rasa takut menjadi tidak menarik lagi bagi suaminya (body image).
f. Riwayat perkawinan yang abnormal.
g. Riwayat kelahiran mati atau cacat.
Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dalam melewati
periode ini, bidan sebagai provider harus bertindak bijaksana, dapat
menunjukan rasa empati, menghargai dan menghormati setiap ibi
bagaimana adanya, misalnya memperhatikan dengan memberi ucapan
selamat atas kelahiran bayinya yang dapat memberikan perasaan
senang pada ibu.
Dalam memberikan dukungan dan suport bidan dapat melibatkan suami,
keluarga dan teman di dalam melaksanakan asuhan sehingga akan
melahirkan hubungan antar manusia yang baik, antar petugas dengan

klien, dan antar klien sendiri. Dengan adanya a good human realitionship
diharapkan akan memenuhi kebutuhan psikologis ibu setelah melahirkan
anak.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Reva Rubin mengenai
perubahan pada masa post partum terdapat 3 fase, yaitu :
a. Fase Taking In
Sebagai suatu masa ketergantungan dengan ciri-ciri membutuhkan
tidur

yang

cukup,

nafsu

makan

meningkat

berharap

untuk

menceritakan pengalaman partusnya dan bersikap sebagai penerima


menunggu apa yang disarankan dan apa yang diberikan.
b. Fase Taking Hold
Terlihat sebagai suatu usaha terhadap pelepasan diri dengan ciri-ciri
bertindak sebagai pengatur bergerak untuk bekerja, kecemasan makin
kuat, perubahan mood mulai terjadi dan susah mengerjakan tugas
keibuan.
c. Fase Letting Go
Periode terjadi biasanya setelah pulang kerumah dan sangat
dipengaruhi oleh waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarga.
Pada masa ini ibu mengambil tugas atau tangung jawab terhadap
perawatan bayi sehingga ia harus beradaptasi terhadap kebutuhan bayi
yang menyebabkan berkurangnya hak ibu, kebebasan dan hubungan
sosial. Pada umumnya depresi post partum terjadi pada periode ini.
(Anggraini, 2010)
5. Diagnosa

Untuk menentukan hal-hal berikut:


a. Apakah masa nifas berlangsung normal atau tidak (seperti involusi
uterus, pengeluaran lokhea dan pengeluaran ASI serta perubahan sistem
tubuh, termasuk keadaan psikologis)?
b. Adakah keadaan darurat pada ibu (seperti perdarhan, kejang dan
panas)?
c. Adakah

penyulit/masalah

dengan

ibu

yang

memerlukan

perawatan/rujukan (seperti abses pada payudara)?


d. Apakah kondisi normala atau tidak (seperti bernafas, refleks, masih
menyusu melalui penilaian APGAR, keadaan gawat darurat pada bayi
seperti panas, kejang, asfiksia, hipotermi dan perdarahan)?
e. Adakah bayi dalam keadaan gawat darurat (seperti demam, kejang,
asfiksia, hipotermi, perdarahan pada pusat)?
f. Adakah bayi bermasalah perlu dirujuk untuk penanganan lebih lanjut
(seperti: kelainan/cacat, BBLR)? (Prawirohardjo,2006)
6. Kunjungan pada ibu nifas
Paling sedikit 4x kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu
dan bayi yang baru lahir, mencegah dan medeteksi, menangani masalahmasalah yang terjadi.

Tabel 14
Kunjungan Pada Ibu Nifas
Kunjungan

Waktu

Tujuan

1.

6-8 jam setelah


persalinan

2.

6 hari setelah
persalinan

3.

2 minggu
setelah
persalinan

6 minggu
setelah
persalinan
(Anggraini,2010)

a. Mencegah perdarahan masa nifas karena


atonia uteri
b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain
pendarahan.
c. Memberi konseling pada ibu dan keluarga
bagaimana mencegah perdarahan masa
nifas karena atonia uteri.
d. Pemberian ASI awal.
e. Melakukan hubungan antara ibu dan
bayinya.
f. Menjaga bayi tetap hangat dengan cara
mencegah hipotermi.
g. Jika petugas menolong persalinan dirumah,
ia harus tetap mengawasi ibu dan BBL
untuk 2 jam pertama post partum dan
sampai keadaan stabil.
a. Memastikan involusi uterus berjalan normal
uterus berkontraksi, fundus di bawah
umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal
dan tidak ada bau.
b. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi
atau perdarahan abnormal.
c. Memastikan ibu mendapat cukup makanan
cairan dan istirahat.
d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan
tidak memperlihatkan tanda-tanda.
e. Memberikan konseling pada ibu dan
keluarga mengenai asuhan pada bayi, tali
pusat, menjaga bayi tetap hangat dan
merawat bayi sehari-hari.
- Sama seperti di atas (6 hari setelah
persalinan)
- Menanyakan pada ibu tentang penyakitpenyakit yang ia atau bayi alami.
- Memberikan konseling KB secara dini.

7. Penatalaksanaan Ibu Nifas


a. Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat gabung)

b. Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kemaluan dengan


sabun dan air. Pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah
di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan kebelakang, baru kemudian
membersihkan

daerah

sekitar

anus.

Nasihatkan

ibu

untuk

membersihkan diri setiap kali selesai buan gair kecil atau besar.
c. Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan
sesudah membersihkan daerah kemaluannya.
d. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut setidaknya dua kali sehari.
Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik, dan
dikeringkan dibawah matahari atau disetrika.
e. Anjurkan ibu untuk beristirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang
berlebihan dan sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan rumah tangga
biasa perlahan-lahan, serta tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur
f. Bantu ibu untuk mulai membiasakan menyusui dan anjurkan
pemberian ASI sesuai dengan permintaan.
g. Anjurkan ibu dan keluarganya tentang nutrisi dan istirahat yang cukup
setelah melahirkan. Dan minum sedikitnya 3 liter air putih setiap hari
(anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui)
h. pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama
40 hari pasca bersalin dan minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar
bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI
i. Diskusikan pentingnya mengembalikan otot-otot perut dan panggul
kembali normal. Ibu akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan otot
perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung

j. Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat


membantu seperti,
1) Dengan tidur telentang dengan lengan disamping, menarik otot
perut selagi menarik nafas, tahan nafas kedalam dan angkat dagu ke
dada: tahan satu hitungan sampai 5. Rileks dan ulangi 10 kali
2) Untuk memperkuat otot tonus otot vagina (latihan kegel).
k. Berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan dengan otot-otot,
pantat dan pinggul dan tahan sampai 5 hitungan. Kendurkan dan ulangi
latihan sebanyak 5 kali
l. Anjurkan ibu menjaga payudara tetap bersih dan kering, menggunakan
BH yang menyokong payudara
m. Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada
sekitar puting susu setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap
dilakukan dimulai dari puting susu yang tidak lecet.
n. Ajarkan ibu dan anggota keluarganya tentang gejala dan tanda bahaya
yang mungkin terjadi dan anjurkan mereka untuk mencari pertolongan
jika timbul masalah atau rasa khawatir.
(Yanti, 2011)

f. Mekanisme menyusui
a.

Reflek mencari ( rooting reflek)

Payudara ibu yang menempel pada pipi atau daerah sekeliling mulut
merupakan rangsangan yang menimbulkan reflek mencari pada bayi.
Keadaan ini menyebabkan kepala bayi berputar menuju puting susu yang
menempel tadi diikuti dengan membuka mulut dan kemudian puting susu
ditarik masuk ke dalam mulut.
b.

Reflek menghisap (sucking reflek)


Puting susu yang sudah masuk ke dalam mulut dengan bantuan lidah
ditarik lebih jauh dan rahang menekan kalang payudara di belakang
puting susu yang pada saat itu sudah terletak pada langit- langit keras.
Tekanan bibir dan gerakan rahang yang terjadi secara berirama membuat
gusi akan menjepit kalang payudara dan sinus laktiferus sehingga air
susu akan mengalir ke puting susu, selanjutnya bagian belakang lidah
menekan puting susu pada langit-langit yang mengakibatkan air susu
keluar dari puting susu.

c.

Refleks menelan
Pada saat air susu keluar ari puting susu, akan disusul dengan gerakan
menghisap yang ditimbulkan oleh otot-otot pipi sehingga pengeluaran air
susu akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan masuk
ke lambung.

g. Manfaat pemberian ASI

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi baru lahir segera sampai berumur
sedikitnya 2 tahun akan memberikan banyak manfaat, baik untuk bayi, ibu
maupun masyarakat pada umumnya.
a.

Manfaat bagi bayi


Kandungan gizi paling sempurna untuk pertumbuhan bayi dan
perkembanan kecerdasannya, pertumbuhan sel otak secara optimal, mudah
dicerna, penyerapan lebih sempurna, mengandung zat anti diare, protein
ASI adalah spesifik spesies sehingga jarang menyebabkan alergi untuk
manusia,

membantu pertumbuhan gigi, mengandung zat antibodi

mencegah infeksi, merangsang pertumbuhan sistem kekebalan tubuh, dan


mempererat ikatan batin ibu dan bayi.
b.

Bagi ibu
Manfaat untuk ibu yakni : mudah, murah, praktis, mempercepat involusi
uterus, mengurangi perdarahan, mencegah kehamilan, meningkatkan rasa
kasih sayang, mengurangi penyakit kanker.

c.

Bagi keluarga
1) Mudah dalam proses pemberiannya
2) Mengurangi biaya rumah tangga
3) Bayi yang mendapat ASI jarang sakit, sehingga dapat menghemat
biaya untuk berobat.

d.

Cara Menyusui yang Benar

Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada


puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai
desinfektan dan menjaga kelembapan puting susu.
1) Bayi diletakkan menghadap perut ibu/payudara.
2) Ibu duduk atau berbaring santai.

Bila duduk lebih baik

menggunakan kursi yang rendah agar kaki ibu tidak bergantung


dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi.
3) Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada
lengkung siku ibu dan bokong bayi ditahan dengan telapak tangan
ibu.
4) Satu tangan bayi diletakkan dibelakang badan ibu, dan satunya di
depan.
5) Perut bayi menempel badan ibu, kepala bayi menghadap payudara
(tidak hanya membelokkan kepala bayi).
6) Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
7) Ibu menatap bayi dengan kasih sayang
8) Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari yang lain
menopang di bawah . Jangan menekan putting susu dan areolanya
saja.
9) Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (Rooting reflek)
dengan cara: menyentuh pipi dengan puting susu atau menyentuh
sisi mulut bayi.
10) Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat didekatkan ke
payudara ibu dengan puting serta areola dimasukkan ke mulut bayi.

11) Usahakan sebagian besar areola dapat masuk ke dalam mulut bayi,
sehingga puting susu berada di bawah langit- langit dan lidah bayi
akan menekan ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang
terletak di bawah areola.
12) Setelah bayi mulai menghisap, payudara tidak perlu dipegang atau
disangga lagi.
13)

Cara pengamatan teknik menyusui yang benar


a) Bayi tampak tenang
b) Badan bayi menempel pada perut
c) Mulut bayi terbuka lebar
d) Dagu bayi menempel pada payudara ibu
e) Sebagian areola masuk ke dalam mulut bayi, areola bagian
bawah lebih banyak yang masuk.
f) Bayi dapat menghisap kuat dengan irama perlahan
g) Puting susu ibu tidak terasa nyeri
h) Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
i) Kepala agak menengadah
2. Masalah menyusui pada masa nifas dini
a.

Puting susu nyeri


Umumnya ibu akan merasa nyeri pada waktu awal menyusui.
Perasaan sakit ini akan berkurang setelah ASI keluar. Bila posisi mulut
bayi dan putting susu ibu benar, perasaan nyeri akan segera hilang.
Cara menangani :
1) Pastikan posisi menyusui sudah benar

2) Mulailah menyusu pada puting susu tidak sakit, guna membantu


mengurangi sakit pada puting susu yang sakit
3) Segera setelah minum, keluarkan sedikit ASI, oleskan di puting
susu dan biarkan payudara terbuka untuk beberapa waktu sampai
puting susu kering
b.

Puting susu lecet


Puting susu terasa nyeri bila tidak ditangani dengan benar akan
menjadi lecet. Umumnya menyusui akan menyakitkan dan kadangkadang mengeluarkan darah. Puting susu lecet dapat disebabkan oleh
posisi menyusui yang salah, tapi dapat pula disebabkan oleh thrush
atau dermatitis.
Cara menangani :
1) Cari penyebab puting lecet (posisi menyusui salah, cavdidiasis
atau dermatitis)
2) Obati penyebab puting lecet terutama perhatikan posisi menyusui
3) Kerjakan semua cara-cara menangani susu nyeri diatas tadi
4) Ibu dapat terus memberikan ASInya pada keadaan luka tidak
begitu sakit
5) Olesi puting susu dengan ASI,jangan memberikan obat lain,
seperti krim, salep, dan lain-lain
6) Puting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu
kurang lebih 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam
waktu sekitar 2x24 jam

7) Selama

puting

susu

diistirahatkan,

sebaiknya

ASI

tetap

dikeluarkan dengan tangan, dan tidak dianjurkan dengan alat


pompa karena nyeri
8) Bila sangat menyakitkan, berhenti menyusui pada payudara yang
sakit untuk sementara untuk memberi kesempatan lukanya
menyembuh
9) Keluarkan ASI dari payudara yang sakit dengan tangan (jangan
dengan pompa ASI) untuk tetap mempertahankan kelancaran
bentuk ASI
10) Berikan

ASI

perah

dengan

sendok

atau

gelas.

Jangan

menggunakan dot
11) Setelah terasa membaik, mulai menyusui kembali mula-mula
dengan waktu yang singkat
12) Bila lecet tidak sembuh dalam 1 minggu rujuk ke puskesmas
c.

Payudara bengkak
Pada hari-hari pertama (sekitar 2-4 jam), payudara sering terasa penuh
dan nyeri disebabka bertambahnya aliran darah ke payudara
bersamaan denganASI mulai di produksi dalam jumlah banyak.
Penyebab bengkak :
1) Posisi bayi dan putting susu ibu salah
2) Produksi ASI berlebihan
3) Terlambat menyusui
4) Pengeluaran ASI yang jarang
5) Waktu menyusui yang terbatas

Penyebab payudara penuh dengan payudara bengkak adalah :


1) Payudara penuh : rasa berat pada payudara, panas, dan keras.bila
diperiksa ASI keluar, dan tidak ada demam
2) Payudara bengkak : payudara oedema, sakit, puting susu kencang,
kulit mengkilat walupun tidak merah, dan bila diperiksa/diisap
ASI tidak keluarCara mengatasinya :
3) Susui bayi secara on demand
4) Bila bayi sukar menghisap, keluarkan ASI dengan bantuan tangan
atau pompa ASI yang efektif
5) Sebelum menyusui untuk merangsang refleks oksitosin dapat
dilakukan: kompres hangat untuk mengurangi rasa sakit, masase
payudara, massase leher dan punggung
6) Setelah menyusui, kompres air dingin untuk mengurangi oedema.
d.

Mastitis atau abses payudara


Mastitis adalah peradangan pada payudara. Payudara menjadi merah,
suhu tubuh meningkat. Didalam terasa ada masa padat, dan diluarnya
kulit menjadi merah. Kejadian ini terjadi pada masa nifas 1-3 minggu
setelah persalinan diakibatkan oleh sumbatan saluran susu yang
berlanjut. Keadaan ini disebabkan kurang nya ASI diisap/dikeluarkan
atau penghisapan yang tak efektif. Dapat juga karena kebiasaan
menekan payudara dengan jari atau karena tekanan baju/BH.
Tindakan yang dapat dilakukan :
1) Kompres hangat/panas dan pemijatan

2) Rangsangan oksitosin, dimulai pada payudara yang tidak sakit


yaitu stimulasi puting susu, pijat leher dan punggung, dll.
3) Pemberian antibiotik : flucloxacilin atau erythromycin selama 7-10
hari
4) Bila perlu bisa diberikan istirahat total dan obat untuk penghilang
nyeri
5) Kalau terjadi abses sebaiknya tidak disusukan karena mungkin
perlu tindakan bedah.
D Keluarga Berencana
1. Definisi
Keluarga berencana (KB) merupakan salah satu aspek penting ke arah
pemahaman tentang berbagai alat/cara kontrasepsi yang tersedia.
Selanjutnya, pengetahuan tersebut akan berpengaruh kepada pemakaian
alat/cara kontrasepsi yang tepat dan efektif. Pengetahuan responden
mengenai metode kontrasepsi diperoleh dengan cara menanyakan semua
jenis alat atau cara kontrasepsi yang pernah didengar untuk menunda atau
menghindari terjadinya kehamilan dan kelahiran.
a. Tujuan Keluarga Berencana
Tujuan umum keluarga berencana adalah membentuk keluarga kecil
sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara
pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan
sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan lain
meliputi

pengaturan

kelahiran,

pendewasaan

usia

perkawinan,

peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga (Anggraini, 2011)

Kesimpulan tujuan dari program KB menurut (Anggraini,2011:49)


adalah:
1) Memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak, keluarga dan
bangsa.
2) Mengurangi angka kelahiran untuk menaikkan taraf hidup rakyat
dan bangsa
3) Memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan KR
yang berkualitas, termasuk mengurangi angka kematian ibu, bayi
dan anak.
4) Penanggulangan masalah kesehatan reproduksi
Tujuan KB berdasar RENSTRA 2005-2009 meliputi:
a. Keluarga dengan anak ideal
b. Keluarga sehat
c. Keluarga berpendidikan
d. Keluarga sejahtera
e. Keluarga berketahanan
f. Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya
g. Penduduk tumbuh seimbang (Anggraini, 2011).
b. Macam-Macam Alat Kontrasepsi
Ada berbagai macam alat kontrasepsi Menurut Saifuddin (2010)
pembagian cara kontrasepsi, yaitu:
a.

Kontrasepsi kombinasi
1) Suntik kombinasi
2) Pil kombinasi

b.

Kontrasepsi progestin
1)
2)
3)
4)

Suntik progestin
Pil progestin
Implant
IUD dengan progestin

c.

Metode Amenorhea Laktasi (MAL)

d.

Metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA)

e.

Senggama terputus

f.

Metode Barier
1) Kondom
2) Diafragma
3) Spermisida

g.

Intrauterine Devices (IUD/AKDR)

h.

Kontrasepsi Mantap
1) Medis Operatif Pria (Vasektomi)
2) Medis Operatif Wanita (Tubektomi)

Macam-Macam Alat Kontrasepsi untuk Ibu Menyusui


a. Kontrasepsi Suntikan Progestin
Kontrasepsi suntikan adalah cara untuk mencegah kehamilan dengan
melalui suntukan hormonal (Anggraini, 2011)
Tersedia dua jenis suntikan yang hanya mengandung progestin yaitu Depo
Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) dan Depo Nerosisteron Enantat
(Depo Noristerat) (Anggraini,2011)
1) Cara Kerja KB Suntik Progestin
a) Menghalangi ovulasi (masa subur)
b) Mengubah lendir serviks menjadi kental sehingga menurunkan
kemampuan penetrasi sperma
c) Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan tropi
d) Menghambat transportasi gamet oleh tuba (Anggraini,2011).

2) Keuntungan KB Suntik Progestin


a)
b)
c)
d)

Sangat efektif
Pencegaha kehamilan jangka panjang
Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
Tidak mengandung estrogen sehingga tidak memiliki dampak

e)
f)
g)
h)
i)
j)

serius terhadap penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah.


Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI
Dapat digunakan oleh perempuan berusia > 35 tahun
Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
Menurunkan kejadian kanker payudara
Mencegah beberapa penyebab radang panggul
Menurunkan krisis anemia bulan sabit (Anggraini, 2011).

3) Kerugian KB Suntik Progestin


a) Sering ditemukan gangguan haid
b) Klien sangat bergantung pada tempat pelayanan kesehatan
c) Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan
berikutnya
d) Permasalahan berat badan
e) Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular
seksual, hepatitis B dan infeksi HIV
f) Terlambat kembalinya kesuburan setelah penghentian pemakaian
g) Pada penggunaan jangka panjang dapat menurunkan kepadatan
tulang, kekeringan pada vagina, penurunan libido, gangguan
emosi, sakit kepala, nervositas, jerawat (Anggraini, 2011).
h) Setelah 7 hari setelah suntikan pertama tidak boleh melakukan
hubungan seksual (Dewi, 2011)
4) Indikasi KB Suntik Progestin
a) Usia reproduksi
b) Nulipara yang telah memiliki anak
c) Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan yang memiliki
d)
e)
f)
g)
h)

efektivitas tinggi
Setelah melahirkan dan menyusui
Setelah abortus atau keguguran
Tekanan darah tinggi dan gangguan pembekuan darah
Menggunakan obat epilepsi atau obat tuberkulosisi
Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi

i) Anemia difesiensi besi


j) Mendekati usia menopause yang tidak mau atau tidak boleh
menggunakan pil kombinasi (Anggraini, 2011)
5) Kontraindikasi KB Suntik Progestin
a)
b)
c)
d)

Hamil atau dicurigai hamil


Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
Tidak bisa menerima gangguan haid
Diabetes militus disertai komplikasi (Anggraini, 2011)

b. Kontrasepsi Suntikan Progestin


1) Mini Pil
Mini pil adalah pil kontrasepsi yang mengandung progestin saja
tanpa estrogen. Dosis progestinnya kecil 0,5 mg atau kurang
(Anggraini, 2011).
2) Cara Kerja
a)
b)
c)
d)
e)

Mencegah terjadinya ovulasi pada beberapa siklus


Perubahan motibilitas tuba sehingga fertilisasi terganggu
Perubaha dalam endometrium
Perubahan lendir serviks
Perubahan dalam fungsi korpus luteum (Anggraini, 2011).

3) Cara Penggunaan
a) Mulai hari 1-5 haid
b) Diminum setiap hari pada saat yang sama
c) Bila anda minum pil terlambat lebih dari 3 jam, minumlah pil
tesebut begitu diingat, dan gunakan metode pelindung selama 48
jam
d) Bila anda lipa 1-2 pil, minumlah segerap pil yang terlupa dan
minumlah pil pelindung selama 1 bulan
e) Bila tidak haid, mulailah paket baru sehari setelah paket terakhir
habis (Dewi, 2011)
4) Keuntungan

a) Sangat efektif
b) Tidak mengganggu hubungan seksual
c) Tidak mempengaruhi ASI karena kadar gestagen dalam air susu
d)
e)
f)
g)

ibu sangat rendah


Kesuburan cepat kembali
Nyaman dan mudah digunakan
Dapat dihentikan setiap saat
Tidak mengandung estrogen (Anggraini, 2011).

5) Kerugian
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Hampir 30-60% mengalami gangguan haid


Peningkatan/penurunan berat badan
Harus digunakan setiap hari dan pada waktu yang sama
Bila lupa satu pil saja, kegagalan menjadi lebih besar
Payudara menjadi tegang, mual, pusing, dermatis
Resiko kehamilan ektopik cukup tinggi
Efektivitas menjadi rendah bila digunakan bersamaan dengan

obat epilepsi da tuberkulosis


h) Tidak meilindungi diri dari infeksi menlar seksual atau
HIV/AIDS (Anggraini, 2011).
6) Indikasi
a) Usia reproduksi
b) Menginginkan metode kontrasepsi yang sangat efektif selama
periode menyusui
c) Pasca keguguran
d) Mempunyai tekanan darah tinggi atau dengan masalah
pembekuan darah
e) Tidak boleh atau senang menggunakan estrogen (Anggraini,
2011).
7) Kontraindikasi
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Hamil atau dicurigai hamil


Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
Tidak bisa menerima gangguan haid
Menggunakan obat tuberkulosis atau obat epilepsi
Kanker payudara atau riwayat kanker payudara
Sering lupa menggunakan pil
Mioma uterus

h) Riwayat stroke (Anggraini, 2011)


c. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Menurut (Anggraini, 2011:156) AKDR/IUD/Spiral adalah suatu benda
kecil dari plastik yang lentur, kebanyakan memiliki lilitan tembaga
(Copper, Cuprum, Cu), namun ada juga yang tidak berlogam dan ada
juga yang mengandung hormon. Alat ini dimasukkan kedalam rahim
melalui vagina dan kebanyakan memiliki benang.
AKDR memiliki beberapa jenis, yaitu CuT-380A, Nova T, Lippes
Lopps (Dewi, 2011).
1) Keuntungan
a) Efektivitasnya tinggi.
b) AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan.
c) Metode jangka panjang.
d) Sangat efektif karena tidak perlu mengingat-ingat.
e) Tidak mempengaruhi hubungan seksual.
f) Meningkatkan keamanan seksual karena tidak perlu takut
untuk hamil.
g) Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuTh)
i)
j)
k)
l)
2) Kerugian
a)
b)
c)
d)
e)

380A).
Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.
Dapat dipasang segera setlah melahirkan atau sesudah abortus.
Dapat digunakan sampai menepouse.
Tidak ada interaksi dengan obat-obat.
Mencegah kehamilan ektopik (Anggraini, 2011).
Perubahan siklus haid.
Haid lebih lama dan banyak.
Perdarahan.
Saat haid lebih sakit.
Merasakan sakit dan kejang selama 3-5 hari setelah

pemasangan.
f) Perdarahn berat

ketika

haid

atau

memungkinkan anemia.
g) Perforasi dinding uterus.
h) Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.

diantaranya

yang

i) Tidak baik digunakan pada perempuan IMS termasuk


HIV/AIDS.
j) Tidak baik digunakan pada perempuan IMS atau suka berganti
pasangan.
k) Penyakit radang panggul sering terjadi sesudah pasien IMS
memakai AKDR (Anggraini, 2011).
3) Kontraindikasi
a) Kehamilan.
b) Penyakit inflamasi pelvik (PID).
c) Karsinoma serviks atau uterus.
d) Riwayat atau penyakit katup jantung.
e) Miomata, malformasi kongenital, atau anomali perkembangan
f)
g)
h)
i)
j)
k)
l)
m)

yang dapat mempengaruhi rongga uterus.


Alergi terhadap tembaga.
Ukuran uterus berada diluar batas.
Resiko tinggi penyakit menular seksual.
Riwayat kehamilan ektopik.
Servisitis atau vaginitis akut.
Peningkata kerentanan terhadap infeksi.
Penyakit hati akut.
Dicurigai terkena arsinoma payudara (hanya untuk AKDR

hormonal).
n) Trombosis vena dalam/embolisme paru (hanya untuk AKDR
hormonal).
o) Sakit kepal

migrain

(hanya

untuk AKDR

hormonal)

(Anggraini, 2011).
d. Implan/Susuk
Implan ini merupakan kontrasepsi jenis lain yang bersifat hormonal,
dan dimasukkan ke bawah kulit. Susuk atau implan merupakan salah
satu metode kontrasepsi berjang waktu 2-5 tahun (Anggraini, 2011)
1)

Keuntungan
a) Daya guna tinggi
b) Perlindungan jangka panjang
c) Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan

d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)
l)
m)
n)
o)
p)

Tidak memerlukan pemeriksaan dalam


Bebas dari pengaruh estrogen
Tidak mengganggu senggama
Tidak mengganggu ASI
Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan
Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan
Cara penggunaannya mudah
Bersifat efektif dan tidak merepotkan klien
Ekonomis
Proses penggunaannya mudah
Tingkat proteksi yang berkesinambungan
Menyenangkan dan tidak mengganggu aktivitas normal
Bersifat nyaman dan tidak menonjol (Anggraini,2011)

2)

Kerugian
a) Tidak memberikan efek protektif terhadap infeksi menular
seksual
b) Membutuhkan teknik pembedahan minor untuk insersi dan
pencabutan
c) Akseptor

tidak

dapat

menghentikan

sendiri

pemakaian

kontrasepsi ini
d) Dapat mempengaruhi penurunan dan kenaikan berat badan
e) Memliki resiko infeksi, hematoma dan perdarahan
f) Secara kosmetik implan dapat terlihat dari luar
g) Pada kebanyakan pasien dapat menyebabkan perubahan daur
haid
h) Timbulnya keluhan seperti nyeri kepala, perubahaan perasaan,
nyeri payudara, perasaan mual, pusing kepala, dermatitis atau
jerawat (Anggraini, 2011)
3)

Indikasi
a) Usia reproduksi

b) Menghendaki kontrasepsi yang memiliki efektivitas tinggi dan


menghendaki pencegahan kehamilan jangka panjang
c) Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi
d) Pasca persalinan dan pasca keguguran
e) Riwayat kehamilan ektopik
f) Tekanan darah tinggi dan gangguan pembekuan darah
g) Tidak

boleh

menggunakan

kontrasepsi

hormonal

yang

mengandung estrogen
h) Sering lupa menggunakan pil
4)

Kontraindikasi
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Hamil atau diduga hamil


Perdarahan yang belum jelas penyebabnya
Benjolan/kanker payudara atau riwayat kanker payudara
Tidak dapat menerima perubahan pola haid yang terjadi
Mioma uterus
Gangguan toleransi glukosa (Anggraini,2011)

Macam-macam kontrasepsi
Ada begitu banyak alat kontrasepsi. Secara garis besar, kontrasepsi itu
dibagi dalam tiga bagian besar. Yaitu kontrasepsi mekanik, hormonal,
dan kontrasepsi mantap.

Kondom
Dulu kondom terbuat dari kulit atau usus binatang. Setiap akan
digunakan direndam dulu. Kemudian terbuat dari linen. Kini kondom
terbuat dari bahan karet yang tipis dan elastis. Bentuknya seperti
kantong. Fungsi kondom sebenarnya untuk menampung sperma
sehingga tidak masuk ke dalam vagina. Perlindungan tersebut efektif 90
persen. Terlebih jika dipakai bersama dengan spermisida (pembunuh

sperma). Kondom harganya murah, mudah didapat, tidak perlu resep


dokter, tidak perlu pengawasan dan juga bisa mencegah penularan
penyakit kelamin. Tapi tidak selalu cocok terutama jika pemakai alergi
terhadap bahan karet. Dan mungkin saja terjadi kebocoran, karena
b

bahannya yang sangat tipis.


Diafragma
Kontrasepsi wanita yang mirip kondom. Bentuknya seperti topi yang
menutupi mulut rahim. Terbuat dari bahan karet dan agak tebal.
Kontrasepsi ini dimasukkan ke dalam vagina, semacam sekat yang
dapat mencegah masuknya sperma ke dalam rahim. Diafragma
digunakan jika akan berhubungan seksual. Setelah itu bisa dilepas lagi
atau tetap pada tempatnya. Karena bahannya lebih tebal dari kondom,

kontrasepsi ini tidak mungkin bocor.


Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
Alat Kontrasepsi dalam Rahim/AKDR/IUD lebih dikenal dengan nama
spiral. Berbentuk alat kecil dan banyak macamnya. Ada yang terbuat
dari plastik seperti bentuk huruf S (Lippes Loop). Ada pula yang terbuat
dari logam tembaga berbentuk seperti angka tujuh (Copper Seven) dan
mirip huruf T (Copper T). Selain itu, ada berbentuk sepatu kuda
(Multiload). Alat kontrasepsi ini dimasukkan ke dalam rahim oleh
dokter dengan bantuan alat. Benda asing dalam rahim ini akan
menimbulkan reaksi yang dapat mencegah bersarangnya sel telur yang
telah dibuahi di dalam rahim. Alat ini bisa bertahan dalam rahim selama
2-5 tahun, tergantung jenisnya dan dapat dibuka sebelum waktunya jika
ibu ingin hamil lagi. Sebagai pemakai, ibu bisa memeriksa sendiri

keberadaan alat tersebut. Caranya dengan meraba benang alat


kontrasepsi tersebut di mulut rahim.
Ibu yang telah melakukan pemasangan kontrasepsi ini harus melakukan
pemeriksaan ulang. Apakah itu 2 minggu sekali, 1-2 bulan sekali, atau
setiap enam bulan sampai satu tahun setelah pemasangan. Pemakaian
kontrasepsi tanpa bahan aktif Copper dapat terus berlangsung sampai
menjelang menopause. Sedangkan kontrasepsi dengan bahan aktif
Copper, 3-4 tahun harus diganti. Yang perlu diingat kontrasepsi ini
bukanlah alat yang sempurna. Masih ada kekurangannya. Misalnya,
kehamilan bisa tetap terjadi, perdarahan, atau infeksi. Mungkin akibat
benang dari alat tersebut dapat merangsang mulut rahim sehingga
menimbulkan perlukaan dan menganggu dalam hubungan seksual.
Pemakaian AKDR juga membuat kita lebih mudah keputihan. Karena
itu sebaiknya kontrasepsi ini tidak digunakan jika terdapat infeksi
genetalia atau perdarahan yang tidak jelas. Keuntungannya, alat ini bisa
dipakai untuk jangka panjang. Bahkan sama sekali tidak menganggu
d

produksi ASI, jika ibu sedang mmenyusui.


Spermisida
Kontrasepsi ini merupakan senyawa kimia yang dapat melumpuhkan
sampai membunuh sperma. Bentuknya bisa busa, jeli, krim, tablet
vagina, tablet, atau aerosol. Sebelum melakukan hubungan seksual, alat
ini dimasukkan ke dalam vagina. Setelah kira-kira 5-10 menit hubungan
seksual dapat dilakukan. Penggunaan spermisida ini kurang efektif bila
tidak dikombinasi dengan alat lain, seperti kondom atau diafragma.
Selain itu, pemakaiannya agak merepotkan menjelang hubungan
senggama. Pasangan pun sulit mencapai kepuasan.

Pil atau Tablet


Pil bertujuan meningkatkan efektifitas, mengurangi efek samping, dan
meminimalkan keluhan. Sebagian besar wanita dapat menerima
kontrasepsi ini tanpa kesulitan. Di Indonesia, jenis ini menduduki
jumlah kedua terbanyak dipakai setelah suntikan. Pil ini tersedia dalam
berbagai variasi. Ada yang hanya mengandung hormon progesteron
saja, ada pula kombinasi antara hormon progesteron dan estrogen.
Cara menggunakannya, diminum setiap hari secara teratur. Ada dua
cara meminumnya yaitu sistem 28 dan sistem 22/21. Untuk sistem 28,
pil diminum terus tanpa pernah berhenti (21 tablet pil kombinasi dan 7
tablet plasebo). Sedangkan sistem 22/21, minum pil terus-menerus,
kemudian dihentikan selama 7-8 hari untuk mendapat kesempatan
menstruasi. Jadi, dibuat dengan pola pengaturan haid (sekuensial).
Pada setiap pil terdapat perbandingan kekuatan estrogenik atau
progesterogenik, melalui penilaian pola menstruasi. Wanita yang
menstruasi kurang dari 4 hari memerlukan pil KB dengan efek estrogen
tinggi. Sedangkan wanita dengan haid lebih dari 6 hari memerlukan pil
dengan efek estrogen rendah.
Sifat khas

kontrasepsi

hormonal

yang berkomponen

estrogen

menyebabkan mudah tersinggung, tegang, berat badan bertambah,


menimbulkan nyeri kepala, perdarahan banyak saat menstruasi,
Sedangkan yang berkomponen progesteron menyebabkan payudara
tegang, menstruasi berkurang, kaki dan tangan sering kram, liang
senggama kering.

Penggunaan pil secara teratur dan dalam waktu panjang dapat menekan
fungsi ovarium. Kerugian lainnya, mungkin berat badan bertambah,
juga rasa mual sampai muntah, pusing, mudah lupa, dan ada bercak di
kulit wajah seperti vlek hitam. Juga dapat mempengaruhi fungsi hati
dan ginjal. Kecuali itu, kandungan hormon estrogen dapat mengganggu
produksi ASI.
Keuntungannya, pil ini dapat meningkatkan libido, sekaligus untuk
pengobatan penyakit endometriosis. Haid menjadi teratur, mengurangi
nyeri haid, dan mengatur keluarnya darah haid. Efektifitas penggunaan
pil ini 95-98 persen. Jadi, ada sekitar 7 wanita yang hamil dari 1.000
f

pasangan dalam setahun.


Suntikan
Kontrasepsi suntikan mengandung hormon sintetik. Penyuntikan ini
dilakukan 2-3 kali dalam sebulan. Suntikan setiap 3 bulan
(Depoprovera), setiap 10 minggu (Norigest), dan setiap bulan
(Cyclofem). Salah satu keuntungan suntikan adalah tidak mengganggu
produksi ASI. Pemakaian hormon ini juga bisa mengurangi rasa nyeri
dan darah haid yang keluar.
Sayangnya, bisa membuat badan jadi gemuk karena nafsu makan
meningkat. Kemudian lapisan dari lendir rahim menjadi tipis sehingga
haid sedikit, bercak atau tidak haid sama sekali. Perdarahan tidak
menentu. Tingkat kegagalannya hanya 3-5 wanita hamil dari setiap

1.000 pasangan dalam setahun.


Susuk
Disebut alat kontrasepsi bawah kulit, karena dipasang di bawah kulit
pada lengan kiri atas. Bentuknya semacam tabung-tabung kecil atau

pembungkus silastik (plastik berongga) dan ukurannya sebesar batang


korek api. Susuk dipasang seperti kipas dengan enam buah kapsul. Kini
sedang diuji coba susuk satu kapsulimplanon). Di dalamnya berisi zat
aktif berupa hormon atau Levonorgestrel. Susuk tersebut akan
mengeluarkan hormon tersebut sedikit demi sedikit. Jadi, konsep
kerjanya menghalangi terjadinya ovulasi dan menghalangi migrasi
sperma.
Pemakaian susuk dapat diganti setiap 5 tahun (Norplant) dan 3 tahun
(Implanon). Sekarang ada pula yang diganti setiap tahun. Penggunaan
kontrasepsi ini biayanya ringan. Pencabutan bisa dilakukan sebelum
waktunya jika memang ingin hamil lagi. Efektifitasnya, dari 10.000
pasangan, ada 4 wanita yang hamil dalam setahun.
Efek sampingnya berupa gangguan menstruasi, haid tidak teratur,
bercak atau tidak haid sama sekali. Kecuali itu bisa menyebabkan
kegemukan, ketegangan payudara, dan liang senggama terasa kering.
Kendala lainnya dalam pencabutan susuk yaitu sulit dikeluarkan karena
mungkin waktu pemasangannya terlalu dalam. Hal tersebut dapat
h

menimbulkan infeksi.
Kontrasepsi mantap
Dipilih dengan alasan sudah merasa cukup dengan jumlah anak yang
dimiliki. Caranya, suami-istri dioperasi (vasektomi untuk pria dan
tubektomi untuk wanita). Tindakan dilakukan pada saluran bibit pada
pria dan saluran telur pada wanita, sehingga pasangan tersebut tidak
akan mendapat keturunan lagi.
(Miskuri, 2013)

BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL
TERHADAP NY.M
DENGAN

G 2 P1 A 0

HAMIL 36 MINGGU

DI BPM THERESIA SUWARNI Amd.Keb


Anamnesa

: Arista Suningsih

Tanggal

: 10 maret 2015

Waktu

: 16.00 WIB

SUBJEKTIF (S)
I.

Identitas
Istri

Suami

Nama
Umur
Agama
Suku/Bangsa
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat

: Ny M
Tn.A
: 34 th
35 th
: Islam
Islam
: Jawa/Indonesia
Jawa/Indonesia
: SMP
SMP
: IRT
Wiraswasta
: Jl.Pulau Damar no.5 Way Kandis Desa Umbul Senen

Anamnesa
1. Alasan kunjungan : Ibu mengatakan ingin melakukan kunjungan rutin dan
ingin mengetahui kesehatan ibu dan janinnya .
G P A
2. Riwayat kehamilan
: 2 1 0
2.1 Riwayat Menstruasi
Menarche
: 15 tahun 106
Siklus
: 28 hari
Lama
: 7 hari
Dismenorhoe
: Tidak
Sifat darah
: Cair dan ada gumpalan darah
Banyaknya
: 2-3 kali ganti pembalut setiap hari
HPHT
: 1 -7- 2014
TP
: 8 -4- 2015
Usia kehamilan
: 36 minggu
2.2 Tanda- tanda kehamilan
Tanda pasti hamil
Terasa gerakan janin : Ya
DJJ

: Terdengar mulai dari kehamilan 16 minggu

Tanda Mungkin
Tes kehamilan

: Positif (+)

Rahim membesar

: Tidak

Tanda tidak pasti


Amenorea
:Ya
Mual- Muntah
:Ya
2.3 Gerakan fetus dirasakan 10 kali dalam 24 jam terakhir
2.4 Keluhan yang dirasakan
Rasa lelah
: Tidak
Mual-mual
: Tidak
Malas beraktifitas
: Tidak
Panas menggigil
: Tidak

Sakit kepala
: Tidak
Penglihatan kabur
: Tidak
Rasa nyeri/ panas saat BAK
: Tidak
Rasa gatal pada vulva/vagina dan sekitarnya : Tidak
Nyeri pada vagina/kemerahan pada vagina : Tidak
Nyeri /kemerahan padasekitar vagina
: Tidak
2.5 Diet/Makanan
Sebelum hamil
Pola makan sehari-hari
: 3 kali sehari, dengan porsi sedang
Jenis makanan sehari-hari
: Nasi, sayur, lauk pauk dan buah
Selama hamil
Pola makan dalam sehari-hari: 3-4 kali sehari, dengan porsi lebih banyak
Jenis makanan sehari-hari

: Nasi, sayur, lauk pauk buah dan susu

2.6 Pola eliminasi


Sebelum hamil
BAK
Warna
BAB
Konsistensi
Warna

: 5-6 kali sehari


: Jernih kekuningan
: 1 kali sehari
: Lembek
: Coklat kekuningan

Saat hamil
BAK
: 8-10kali sehari
Warna
: Jernih kekuningan
BAB
: 1 kali sehari
Konsistensi : Lembek
Warna
: Coklat kekuningan
2.7 Aktivitas sehari-hari
Sebelum hamil
Pola istirahat dan tidur
Seksualitas
Pekerjaan

: 8-9 jam
: 1-2 kali per minggu
: Mengerjakan pekerjaan rumah

Saat hamil
Pola istirahat dan tidur
: 9-10 jam
Seksualitas
: 1 kali per minggu
Pekerjaan
: Mengerjakan pekerjaan rumah
2.8 Imunisasi
TT1 :Ya,dilakukan pada usia kehamilan 16 minggu
TT2 :Ya,dilakukan pada usia kehamilan 20 minggu

2.9 Kontrasepsi terakhir yang pernah digunakan sebelumnya : KB PIL


3. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
No

Tahun
partus

Tempat
partus

Usia
kehamilan

Jenis
partus

2007

BPS

38 minggu Spont
an

Kelainan
Anak
Hamil partu Nifas L/ BB
PB
s
P
P 4000
49
gr
cm

4. Riwayat kesehatan
4.1 Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita
Jantung
:Tidak
Hipertensi
:Tidak
Diabetes Melitus
:Tidak
Asma
:Tidak
Hepar
:Tidak
Anemia berat
:Tidak
PMS dan HIV/AIDS
:Tidak
4.2 Perilaku kesehatan
Penggunaan alkohol atau sejenisnya
: Tidak
Mengkonsumsi jamu
: Tidak
Merokok
: Tidak
Personal hygiene
: Baik
5. Riwayat sosial
5.1 Kehamilan ini direncanakan
: Ya
5.2 Status perkawinan
: Menikah, jumlah
1 kali
5.3 Pengambil keputusan dalam keluarga
: Suami
5.4 Susunan keluarga yang tinggal dirumah

1.

Jenis
Kelamin
L

2.

No

Umur
30tahu
n
7
tahun

Hubungan

Pendidikan

pekerjaan

Suami

SMA

Wiraswasta

Anak

SD

Pelajar

Ket.

Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan persalinan dan nifas:


Tidak ada
6. Riwayat kesehatan keluarga :
Keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular dan keturunan

Ket

IMD

OBJEKTIF (O)
A. Pemeriksaan umum
Keadaan umum
Kesadaran
Keadaan emosional
TTV

: Baik
: Compos mentis
: Stabil
: TD : 110/70 mmHg
N

BB sebelum hamil
TB
LILA

: 82x/menit

: 50 kg
: 162 cm
: 25 cm

R
T

: 22 x/menit
: 36,7

BB sekarang : 62kg
Kenaikan BB : 12 kg

B. Pemeriksaan fisik
1. Kepala
1.1Rambut
: Kebersihan

: Bersih dan rapih


Warna
: Hitam
Kekuatan akar
: Baik, tidak rontok
1.2Wajah
: Tidak pucat, tidak ada oedema, tidak ada closma
1.3mata
: Kelopak mata
: Tidak ada oedema
Konjungtiva
: Pucat( anemis)
Skelera
: Putih (an ikterik)
1.4Hidung
: Simetris
: Ya
Pengeluaran
: Tidak ada
Polip
: Tidak ada
Cuping hidung
: Tidak ada
1.5Telinga
: Simetris
: Ya
Keadaan
: Bersih
Pengeluaran
: Tidak ada
Kelainan
: Tidak ada
1.6Mulut dan gigi: Bibir
: Lembab, tidak pecah-pecah
Lidah
: Bersih, warna kemerahan,
tidak pucat
Gigi
: Tidak ada caries
Gusi
: Tidak ada pembengkakan
2. leher
2.1Kelenjar Thyroid
: Tidak ada pembesaran
2.2Kelenjar Linfe
: Tidak ada pembengkakan
2.3Vena Jugularis
: Tidak ada bendungan
3. Dada
3.1Jantung
: Normal dan tidak ada kelainan bunyi jantung
3.2Paru-paru
: Normal, tidak ada suara whezing dan ronchi
3.3Payudara

: Pembesaran

: Ya
Simetris
Puting susu
Pengeluaran ASI
Rasa nyeri

: Ya kanan dan kiri


: Menonjol
: Ya
: Tidak ada

Benjolan
Hiperpigmentasi
4. Abdomen
4.1Bekas luka operasi
4.2Pembesaran
4.3Benjolan
4.4Tumor
4.5Posisi uterus

: Tidak ada
: Ya areola mamae

: Tidak
: Ya
: Tidak ada
: Tidak ada
: Normal

Palpasi
Leopold I

: TFU 3 jari di bawah prosesus xiphodeus (Px)


Pada bagian fundus teraba bagian besar bulat dan tidak
melenting(bokong)

Leopold II

: Pada bagian kiri perut ibu teraba bagian keras, lurus,


seperti papan (punggung janin).Pada bagian kanan perut
ibu teraba bagian-bagian kecil janin (ekstremitas)

Leopold III

: Pada bagian bawah perut ibu teraba bagian bulat,


Melentingdan keras serta (kepala).Kepala belum masuk
PAP

Leopold IV

: Konvergen

Mc.Donald

: 31cm

DJJ

: (+) frekuensi 148 kali/menit

Punctum maksimum : Berada di 3 jari dibawah pusat sebelah kiri ibu


TBJ(rumus Jhonson-Tausak) = (MD-n) x 155 gram
= (31 cm-13)x155 gram
= 2790 gram

5. Punggung dan pinggang

Posisi punggung
Nyeri pinggang

: Lordosis
: Tidak ada, ibu tidak merasa kesakitan sewaktu
dilakukan ketukan pada punggung

6. Ekstremitas
Ekstremitas atas
Oedema
Kemerahan
Varises
Pergerakan

: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Baik, dapat menggenggam melipat dan
bergerak bebas

Ekstremitas bawah
Oedema
Kemerahan
Varises
Pergerakan

: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Baik, mampu berjalan tanpa bantuan

Reflek patela

: (+) kanan dan kiri

7. Anogenital
Perineum
Vulva dan vagina
Pengeluaran pervaginam
Kelenjar bartoline
Anus
4

: Utuh
: Tidak ada Varises
: Tidak ada
: Tidak ada pembengkakan
: Tidak ada haemoroid

Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium
HB
: 9,0gr %
Protein
:Glukosa : -

ANALISA(A)
G 2 P1 A 0

Diagnosa ibu

Diagnosa janin

: Tunggal, hidup intrauterin, presentasi kepala

Masalah

: Anemia Ringan

PELAKSANAAN (P)

hamil 36 minggu

1. Menjelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan, yaitu tanda-tanda vital dalam
keadaan normal, keadaan janin baik, janin tunggal dengan presentasi kepala.
2. Memberitahu ibu bahwa kadar Hb ibu 9,0 gr% yang termasuk anemia ringan
dan menganjurkan pada ibu untuk istirahat yang cukup serta mengkonsumsi
makanan yang bergizi yang mengandung zat besi (seperti sayur-sayuran hijau
daun bayam,daun katu,kacang-kacangan,buah-buahan segar,telur, ikan, daging
roti, dan susu dengan pola makan sebagai berikut). Pagi nasi/roti 1 porsi, ikan
atau daging 1 potong ukuran sedang,tempe/tahu 1 potong, sayur 1 mangkuk
sedang.Siang nasi 1 porsi, ikan /telur 1 potong ukuran sedang, kacangkacangan 1 mangkuk kecil, sayuran 1 mangkuk sedang, buah 1 potong.
Malam nasi 1 porsi, telur/ikan 1potong ukuran sedang, tempe/tahu 1 potong,
sayuran 1 manggkuk sedang, buah 1 buah/potong.
3. Memberitahu ibu risiko-risiko yang mungkin terjadi dengan kada Hb
rendah/anemia ringan, diantaranya :Ibu mudah lelah, Perdarahan dalam
keadaan gawat darurat,Tenaga mengedan dalam persalinan lemah,dan apabila
anemia bertambah parah dapat mengalami shock dalam keadaan gawat
darurat.
4. Menjelaskan ibu tentang tanda-tanda bahaya kehamilan :
Perdarahan pervaginam,sakit kepala hebat,penglihatan kabur,bengkak diwajah
jari tengah,gerakan janin tidak teraba dan nyeri perut yang hebat.
5. Menjelaskan kepada ibu tentang tanda-tanda persalinan, sakit pada panggul
dan tulang belakang, keluarnya lendir bercampur darah, kontraksi dan
pecahnya air ketuban.
6. Menganjurkan ibu untuk merencanakan persalinannya seperti, penolong
persalinan. Tempat persalinan, pendamping persalinan lainnya.
7. Mengajarkan ibu senam hamil minggu ke 36 dengan gerakan sebagai berikut:

a. Duduk bersila dan kedua tumit bertemu sedekat mungkin dengan


selangkangan. Dengan bantuan berat badan, tekan kedua lutut dengan
telapak tangan 4x8 hitungan.
b. Berpegangan pada sesuatu yang berat dalam (meja, kursi, dan lainnya).
Kemudian berjongkok sampai tumit tanpa mengangkat tumit, kemudian
kembali keposisi berdiri lakukan 4x8 hitungan.
c. Latihan nafas saat mulai kerja dipembukan jalan lahir (mulas-mulas)
diulangi lagi panting quick breat lakukan 4x8 hitungan.
d. Latihan mengejan
Posisi tidur terlentang dengan bantal agar tinggi sebelum melakukan
gerakan mengejan tarik nafas dulu, ditahan di daerah dada, diikuti lutut
ditekuk dibuka kesamping dan kedua tangan memegang pergelangan kaki,
angkat kepala dengan mendorong kepala kearah jalan lahir. Gerakan ini
dipertahankan sampai tidak kuat lagi. Kemudian nafas dikeluarkan lewat
mulut secara tiba-tiba.
8. Memberikan ibu vitamin C 50 mg, tablet Fe 60 mg, kalsium 500 mg dan
menganjurkan pada ibu untuk diminum 1x1 hari
9. Menganjurkan pada ibu untuk melakukan kunjungan ulang 1 minggu
berikutnya atau apabila ada keluhan pada tanggal 17 maret 2015

Kunjungan Ulang (Minggu ke 2)


Anamnesa Oleh

: Arista Suningsih

Tanggal

: 17 Maret 2015

Subjektif (S)
Ibu merasa cemas karena sering BAK
Objektif (O)
A. Pemeriksaan umum
Keadaan umum
Kesadaran
Keadaan emosional
TTV

: Baik
: Compos mentis
: Stabil
: TD : 110/80 mmHg
N

BB sebelum hamil
TB
LILA

: 82x/menit

: 50 kg
: 162 cm
: 25 cm

: 22 x/menit
: 36,7

BB sekarang : 62kg
Kenaikan BB : 12 kg

Palpasi
Leopold I

: TFU 3 jari di bawah prosesus xiphodeus (Px)


Pada

bagian

fundus

teraba

besar

bulat

dan

tidak

melenting(bokong)
Leopold II

: Pada bagian kiri perut ibu teraba bagian keras, lurus, seperti

papan (punggung janin).Pada bagian kanan perut ibu teraba


bagian-bagian kecil janin (ekstremitas)

Leopold III

: Pada bagian bawah perut ibu teraba bagian bulat, melenting


dan keras serta (kepala).Kepala belum masuk PAP

Leopold IV

: Konvergen

Mc.Donald

: 31 cm

DJJ

: (+) frekuensi 148 kali/menit

Punctum maksimum : Berada di 3 jari dibawah pusat sebelah kiri ibu


TBJ (rumus Jhonson-Tausak)

= (MD-n) x 155 gram


= (31-13) x 155 gram
= 2790 gram

ANALISA (A)
G 2 P1 A 0

Diagnosa ibu

hamil 37 minggu

Diagnosa janin

: Tunggal, hidup intrauterin, presentasi kepala

PELAKSANAN(P)
1. Menjelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan, yaitu tanda-tanda vital dalam
keadaan normal, keadaan janin baik, janin tunggal dengan presentasi kepala
2. Memberitahu ibu bahwa kondisi sering BAK adalah normal dikarnakan pada
ibu hamil trimester III, disebabkan karena turunya bagian bawah janin
sehingga kandung kemih meningkat .
3. Menganjurkan pada ibu untuk istirahat yang cukup serta

mengkonsumsi

makanan yang bergizi yang mengandung zat besi (seperti sayur-sayuran hijau

daun bayam,daun katu, kacang-kacangan, buah-buahan segar, telur, ikan,


daging, roti, dan susu.
4. Menjelaskan ibu tentang tanda-tanda persalinan yaitu sakit pada panggul dan
tulang belakang, keluar lendir bercampur darah, dan adanya kontraksi.
5. Mengajarkan ibu untuk melakukan perwatan payudara yang bertujuan untuk
menjaga kebersihan payudara terutama puting susu, menguatkan dan
melenturkan puting susu agar memudahkan bayi menyusui, merangsang
kelenjar air susu sehingga produksi ASI lancar dan banyak.
6. Memberikan ibu vitamin C 50 mg, tablet Fe 60 mg, dan menganjurkan pada
ibu untuk diminum 1x1 hari
7. Menganjurkan pada ibu untuk melakukan kunjungan ulang 1 minggu
berikutnya atau apabila ada keluhan pada tanggal 24 maret 2015

Kunjungan Ulang (Minggu ke 3)


Anamnesa Oleh : Arista Suningsih

Tanggal

: 25 Maret 2015

Subjektif (S)
Alasan kunjungan : Ibu mengatakan ingin melakukan kunjungan ulang untuk
memeriksakan keadaan ibu dan kandunganya
Objektif (O)
A. Pemeriksaan umum
Keadaan umum
Kesadaran
Keadaan emosional
TTV
BB sebelum hamil
TB
LILA

: Baik
: Compos mentis
: Stabil
: TD : 110/80 mmHg

: 78x/menit

: 50 kg
: 162 cm
: 25 cm

: 22 x/menit
: 36, 0

BB sekarang : 63kg
Kenaikan BB : 13 kg

Palpasi
Leopold I

: TFU 3 jari di bawah prosesus xiphodeus (Px)


Pada

bagian

fundus

teraba

besar

bulat

dan

tidak

melenting(bokong)
Leopold II

: Pada bagian kiri perut ibu teraba bagian keras, lurus, seperti
papan (punggung janin).Pada bagian kanan perut ibu teraba
bagian-bagian kecil janin (ekstremitas)

Leopold III

: Pada bagian bawah perut ibu teraba bagian bulat, melenting


dan keras serta sukar digerakkan (kepala).Kepala masuk PAP

Leopold IV

: Divergen

Penurunan

: 3/5

Mc.Donald

: 31 cm

DJJ

: (+) frekuensi 128 kali/menit

Punctum maksimum : Berada di 3 jari dibawah pusat sebelah kiri ibu


TBJ(rumus Jhonson-Tausak)

= (MD-n) x 155 gram


= (31-12) x 155 gram

= 2945 gram
ANALISA (A)
G 2 P1 A 0

Diagnosa ibu

hamil 38 minggu

Diagnosa janin

: Tunggal, hidup intrauterin, presentasi kepala

PELAKSANAN(P)
1. Menjelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan, yaitu tanda-tanda vital dalam
keadaan normal, keadaan janin baik, janin tunggal dengan presentasi kepala
2. Mengingatkan ibu kembali tentang tanda-tanda persalinan yaitu sakit
pinggang hingga menjalar ke perut bagian bawah, keluar lendir bercampur
darah,dan adanya kontraksi.
3. Memberitahu ibu kembali apabila sudah ada tanda-tanda persalinan,suami atau
keluarga dapat segera membawa ibu hamil ke fasilitas pelayanan kesehatan
4. Mengingatkan ibu kembali tentang pentingnya perawatan payudara
yaitu:kebersihan payudara terutama puting susu lebih terjaga,menguatkan dan
melenturkan puting susu agar memudahkan bayi menyusui ,merangsang
kelenjar air susu sehingga produksi ASI lancar dan banyak.
5. Mengingatkan ibu dan keluarga kembali tentang hal-hal yang perlu di
persiapkan menjelang persalinan,yaitu:rencana tempat bersalin,tabunagn untuk
biaya persalian,suami,keluarga,dan masyarakat menyiapkan kendaraan jika
sewaktu-waktu diperlukan,dan persiapan orang yang bersedia menjadi donor
darah jika sewaktu-waktu diperlukan .

6. Memberikan ibu vitamin B complex, tablet Fe 60 mg, kalsium 500 mg dan


menganjurkan pada ibu untuk diminum 1x1 hari
7. Menganjurkan pada ibu untuk melakukan kunjungan ulang 1 minggu
berikutnya atau apabila ada keluhan

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN


TERHADAP NY. M
DI BPM THERESIA SUWARNI Amd.Keb

Anamnesa

: Arista Suningsih

Tanggal

: 12 April 2015

Waktu

: 01.30 WIB

Kala I (Pukul 01.30 03.00 WIB )


I. SUBJEKTIF (S)

1. Keluhan utama

: Ibu mengatakan bahwa ia merasakan nyeri


pinggang hingga menjalar ke perut bagian bawah
dari pukul 17.00 Wib.
2. Riwayat keluhan utama : Ibu G2P1A0 hamil 40 minggu 4 hari datang pukul
01.30 WIB Ibu mengatakan bahwa sejak pukul
17.00 WIB sudah merasakan kencang-kencang
dan sakit pada pinggang yang menjalar ke perut
bagian bawah dan mengeluarkan lendir
bercampur darah pukul 01.00 wib
3. Riwayat kehamilan saat ini :
HPHT
: 1 Juli 2014
TP
: 8 April 2015
Usia kehamilan
: 40 Minggu 4 Hari
II. OBJEKTIF (O)
A. PEMERIKSAAN UMUM
1. Keadaan umum
2. Kesadaran
3. Keadaan emosional
4. TTV
: TD
N
5. Tinggi badan
BB sekarang
BB sebelum hamil
Kenaikan BB
LILA
B. PEMERIKSAAN FISIK
1.Palpasi
Leopold I

Leopold II

Leopold III
Leopold IV

: Baik
: Compos mentis
: Stabil
: 110 / 70 mmhg
: 80 x / menit
: 162 cm
: 63 kg
: 50kg
: 13 kg
: 25 cm

R : 20 x / menit
T : 36, 2 c

: TFU berada pada pertengahan pusat (px)


Pada bagian fundus teraba bagian lunak,
besar dan tidak melenting ( bokong ).
: Pada bagian kiri perut ibu teraba tahanan
datar danmemanjang ( punggung ). Pada
bagian kanan perut ibu teraba bagian
bagian kecil janin.
: pada bagian bawah ibu teraba satu bagian
bulat, keras,( kepala ) dan melenting sukar
digerakkan. Kepala sudah masuk PAP.
: divergen

Penurunan
Mc. Donald
HIS
DJJ

: 2/5
: 31 cm
: frekuensi 4x dalam 10 menit, lamanya 40
detik
: (+) frekuensi 128 kali/menit

Punctum maksimum

: Berada di 3 jari dibawah pusat sebelah


kiri ibu

TBJ(rumus Jhonson-Tausak)

= (MD-n) x 155 gram


= (31-11) x 155 gram

= 3100 gram
1. Pemeriksaan anogenital
a.
Anogenital (inspeksi)
Perineum
: tidak ada luka parut
Vulva / vagina
: tidak ada varices dan tidak ada luka
b.
Pemeriksaan dalam
(Dilakukan pukul 01.30 WIB, atas indikasi untuk mengetahui inpartu
atau belum)
Dinding vagina
Portio

III.

: normal tidak ada sistokel dan rektokel


:Arah
: searah jalan lahir
Konsistensi : lunak
Pembukaan : 8 cm
Pendataran : 80%
Ketuban
: (+)
Penunjuk
: UUK
Posisi
: UUK Kiri depan
Penurunan
: H III
Molase
: tidak ada

ANALISA MASALAH (A)


Diagnosa ibu

: ibu G2P1A0 hamil 40 minggu 4 hari inpartu kala I fase aktif

Diagnosa janin : janin tunggal, hidup intrauterin, presentasi kepala


IV.

PENATALAKSANAAN
1. Menjelaskan kepada ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan, bahwa
TD: 110/70 mmHg, Pernafasan: 20 x/menit, Nadi : 80 x/menit, dan Suhu :
36,2 . Berat janin dalam batas normal dan janin yang dikandung sehat,

letak janin normal dan DJJ : 148 x/menit. Dan ibu sudah memasuki tahapan
persalinan, dengan bukaan 8 cm.
2. Melakukan Infomed consent kepada ibu dan keluarga untuk menyetujui
tindakan yang akan dilakukan.
3. Memenuhi kebutuhan cairan ibu, dengan memberikan ibu minum teh manis
hangat diantara kontraksi agar memiliki tenaga untuk mengedan.
4. Menghadirkan orang terdekat yaitu suami untuk mendampingi ibu selama
proses persalinan.
5. Mengobservasi kemajuan

persalinan

dengan

menggunakan

partograf

(terlampir).
6. Memberikan kesempatan pada ibu untuk memilih posisi yang aman dan
nyaman selama persalinan.
7. Mengajarkan pada ibu cara mengedan yang baik dan benar sewaktu ada his,
yaitu mengaitkan kaki dengan kedua siku, dekatkan paha ke perut, mata
membuka dan melihat ke arah perut, dagu mnyentuh dada, mulut dikatupkan
serta mengedan dengan tidak bersuara. Anjurkan ibu untuk beristirahat saat
tidak ada kontraksi.
8. Mempersiapkan alat-alat persalinan yaitu :
a.
Partus set : 2 klem tali pusat, gunting tali pusat, gunting episiotomi,
kocher, kateter nelaton, benang tali pusat, 2 pasang handscoon, dan kassa
b.

steril.
Heating set, anrtara lain nald pouder, benang chromic, jarum jahit
perineum, 1 pasang handscoon, gunting, pinset anatomi, spuit 10 ml

c.
d.

steril, 1 ampul lidocain.


Termometer, tensimeter, fetoskope, pita pengukur,dan jam tangan.
Obat-obatan, yaitu oksitosin 10 IU,lidokain 1%, epineprin, cairan infus,

e.
f.

metil ergometrin maleat.


Perlengkapan perlindungan diri (APD)
Perlengkapan ibu dan bayi, yaitu baju bersih, bedong, baju anak,kaus
tangan dan kaki

Kala II ( pukul 03.00 03.15 WIB )


I. SUBJEKTIF (S)
1. Ibu mengatakan perutnya terasa mulas dan nyeri pinggang yang menjalar
ke perut bagian bawah yang semakin sering.
2. Ibu mengatakan ingin mengedan dan seperti ingin BAB keras.
3. Terlhat tanda persalinan kala Iiyaiu perineum menonjol, anus
menggembang, vulva membuka, dan adanya doronagan meneran
II. OBJEKTIF (O)
A.Pemeriksaan Umum
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Keadaan emosional

: Stabil

TTV

TD : 100/70 mmHg
N : 80x/menit

: 20x/menit

: 36,2 C

Jumlah perdarahan kala I = 10 cc


HIS

: (+) frekuensi 4-5x/10 menit, lamanya 45 detik

DJJ

: (+) frekuensi 148x/menit

B.Periksa Anogenital
Atas indikasi

: Terdapat tanda-tanda kala II, memastikan pembukaan


lengkap

Pukul

: 03.00 wib
Dinding vagina

: tidak ada sistokel dan rektokel

Pembukaan

: lengkap

Ketuban

: (-)

Presentasi

: Kepala

Penunjuk

: UUK

III.

IV.

Posisi

: UUK

Penurunan

: Hodge IV

Molase

: Tidak ada

ANALISA MASALAH (A)


Diagnosa ibu

: ibu G2P1A0 hamil 40 minggu 4 hari inpartu kala II

Diagnosa janin

: Janin tunggal, hidup intrauterin, presentasi kepala

PENATALAKSANAAN
1. Memberikan dukungan moral pada ibu dengan dengan didampingi oleh
suami..
2. Memberi Ibu minum teh manis hangat, saat tidak ada his agar tidak dehidrasi,
dan memiliki tenaga untuk meneran kembali.
3. Mendekatkan alat pertolongan persalinan (partus set).
4. Melakukan pertolongan persalinan sesuai dengan APN, yaitu mendekatkan
partus set dan resusitasi set,memakai alat perlindungan diri dan mencuci
tangan 7 langkah.
5. Melakukan pertolongan persalinan
Lakukan pengecekan tanda gejala kala II yaitu: dorongan meneran,tekanan
pada anus,perineum menonjol, dan vulva membuka. Jika kepala bayi telah
tampak di vulva dengan diameter 5-6 cm. Letakkan handuk bersih diatas
perut ibu dan meletakkan 1/3 kain bersih dibawah bokong ibu.Lalu pimpin
ibu mengedan setiap ada HIS. Setelah nampak kepala bayi keluar-masuk di
vulva, dan setelak kepla bayi tidak keluar-masuk maka lakukan:
1) Letakkan tangan kiri diatas vulva untuk mencegah supaya kepala bayi
tidak melakukan defleksi secara maksimal dan tangan kanan pada
perineum untuk menahan agar tidak terjadi robekan pada perineum.

2) Setelah kepala bayi lahir, usap wajah bayi dengan menggunakan kasa
untuk membersihkan mata, hidung, dan mulut dari darah ataupun
lendir.
3) Memeriksa adanya lilitan taili pusat, ternyata tidak ada lilitan tali
pusat.
Melahirkan bahu dan seluruh tubuh bayi
1) Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara
spontan.
2) Tempatkan telapak tangan pada sisi kepala bayi secara biparietal,
dengan tangan berada di atas dan tangan kiri di bagian bawah kepala
bayi.
3) Melakukan penarikan kearah bawah untuk melahirkan bahu anterior
dan tarikan keatas untuk melahirkan bahu posterior.
4) Selipkan satu tangan ke bahu dan lengan bayi bagian belakang sambil
menyangga kepala dan selipkan satu tangan lain ke punggung untuk
melahirkan tubuh bayi seutuhnya (sanggah-susur). Bayi lahir spontan
03.15 WIB.
5) Letakkan bayi diatas perut ibu Untuk dilakukan IMD
Kala III ( Pukul 03.15 03.30 WIB )
I. SUBJEKTIF (S)
1. Ibu mengatakan lemas setelah melahirkan
2. Ibu mengatakan perutnya terasa mulas
II. OBJEKTIF (O)
Keadaan umum
Kesadaran
Keadaan emosional
TTV
:
TD
N
Perdarahan kala II

: Baik
: Compos mentis
: Stabil
: 110/70 mmHg
: 80x/menit
: 20 cc

R
T

: 20x/menit
: 36,2 C

Keadaan uterus
TFU
Kontraksi
Palpasi
Vesika urinaria
Keadaan bayi

: Sepusat
: Baik
:Tidak ada janin kedua
: Kosong
: Bayi lahir menangis spontan, tonus otot aktif,
warna kulit kemerahan, jenis kelamin Perempuan,
berat badan 3100 gram, panjang badan 48 cm,
lingkar dada 33 cm, lingkar kepala 35 cm, anus
(+), dan tidak cacat.

III.
IV.

ANALISA MASALAH (A)


Diagnosa : ibu P2A0 dalam kala III persalinan
PENATALAKSANAAN
1. Melakukan palpasi abdomen untuk mengetahui kemungkinan adanya janin
kedua.
2. Melakukan manajemen aktif kala III,yaitu penyuntikan oksitosin 10 IU secara
IM pada 1/3 paha bagian depan kanan ibu.
3. Memindahkan klem ke depan vulva dengan jarak 5-10 cm jika talipusat
memanjang.
4. Melakukan peregangan talipusat terkendali dengan tangan kanan, sedangkan
tangan kiri melakukan dorso kranial hingga plasenta nampak didepan
introitus vagina. Saat plasenta nampak,lakukan pemutaran searah jarum jam
agar selaput dan kotiledon tidak ada yang tertinggal lalu tangkap plasenta,
dan letakkan di tempat yang datar. Plasenta lahir lengkap pukul 03.30 WIB.
5. Melakukan massase uterus 15 kali selama 15 detik segera setelah plasenta
lahir.
6. Memeriksa kelengkapan plasenta dan robekan pada introitus vagina dan
perineum.

7. Memantau perdarahan kala III sebanyak 100 cc.


KALA IV (PUKUL 03.30 05.30 WIB )
I. SUBJEKTIF (S)
1. Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas dan pegal-pegal setelah
melahirkan
II. OBJEKTIF (O)
1. Keadaan umum
2. TTV
: TD
N
3.Perdarahan kala III

: Baik
: 110/70 mmHg
: 84x/menit

R
T

: 24x/menit
: 36,2 C

: 100 cc

4.Keadaan uterus
TFU
Kontraksi

: 2 jari dibawah pusat


: Baik

5.Perineum

: Tidak ada laserasi

6.Kandung kemih

: Kosong

7.Plasenta

: Diameter
Berat
Tebal
Panjang tali pusat
Insersi tali pusat

III.
IV.

: 20 cm
:
:
:
:

500 gram
2 cm
50 cm
Sentralis

ANALISA MASALAH (A)


Diagnosa : Ibu P2A0 dalam kala IV persalinan
PENATALAKSANAAN
1. Membersihkan tubuh ibu dari lendir bercampur darah serta membantu
mengganti pakaian ibu.

2. Menjelaskan kepada ibu bahwa kondisi rasa mulas yang dialami ibu adalah
normal, rasa mulas timbul dikarenakan pergerakan otot-otot uterus yang
berkontraksi atau kontraksi yang mencegah terjadinya perdarahan.
3. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik.
4. Mengajarkan kepada ibu dan keluarga cara memeriksa kontraksi uterus dan
massase uterus, yaitu dengan cara tangan ibu di letakkan di atas fundus uterus
dan melakukan gerakan memutar searah jarum jam sampai rahim teraba
keras, untuk mencegah perdarahan pasca persalinan memantau TTV dan
kandung kemih, dan pemantauan telah dilakukan setiap 15 menit pada 1 jam
pertama pasca persalinan serta setiap 30 menit pada 1 jam kedua pasca
persalinan
Jam
ke

Waktu

TD

Suhu

TFU

Kontra
ksi

Kandun
g kemih

perdara
han

110/70
2 jari dibawah
36,2C
Baik
Kosong
30cc
mmHg
pusat
110/70
2 jari dibawah
04.00
Baik
Kosong
15cc
mmHg
pusat
1
110/70
2 jari dibawah
04.15
Baik
Kosong
15cc
mmHg
pusat
110/70
2 jari dibawah
04.30
Baik
Kosong
10cc
mmHg
pusat
110/80
2 jari dibawah
05.00
36,1oC
Baik
Kosong
10cc
mmHg
pusat
2
110/80
2 jari dibawah
05.30
Baik
Kosong
10cc
mmHg
pusat
5. Memindahkan ibu ke ruang perawatan setelah 2 jam pasca persalinan.
6. Memberikan Obat setelah pasca persalinan yaitu :
1). Flamigra
2 x sehari 1 tablet
(dengan tiap kaplet mengandung kalium diklofenak 50 mg)
2). Floxigra
2 x sehari 1 tablet
(Tiap kaplet mengandung Ciprofloxasin 250 mg)
3). Fondazen
1x sehari 1 tablet (Tiap kaplet mengandung zat besi)
4). Vitamin A 1 kapsul
7. Menganjurkan ibu untuk melakukan mobilisasi dini (3 jam pasca persalinan).
miring ke kiri-kanan, menggerakan kaki, duduk, dan berdiri dari tempat tidur.
03.45

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS


TERHADAP NY.M
DI BPM THERESIA SUWARNI Amd.Keb
AnamnesaOleh

: Arista Suningsih

Tanggal

: 12 April2015

Waktu

: 10.30 WIB

I. SUBJEKTIF ( S )
1. Keluhan utama
:
- Ibu mengatakan telah melahirkan 6 jam yang lalu dan mengeluh
perutnya terasa mulas
2. Riwayat kehamilan ini

P2 A 0

a.

PA

b.

ANC

c.

Imunisasi

: Delapan kali
TT 2
:

d.
Penyakit kehamilan
3. Riwayat persalinan ini
a. Tempat melahirkan
b.
Penolong
c. Jenis persalinan
d.
Komplikasi
e. Lama persalinan

f.

: Tidak ada
: BPM Theresia Suwarni
: Bidan
: Spontan
: Tidak ada

Kala I

: 1 jam 30 menit

Kala II

15 menit

Kala III

15 menit

Kala IV

: 2 jam

Jumlah

: 3 jam 60 menit

Jumlah perdarahan

: 220 cc

Bayi

: Jenis kelamin

: Perempuan

i.

j.
k.

Berat badan
Panjang badan
Plasenta : Diameter
Berat
Tebal
Tali pusat
Perineum : Tidak ada laserasi
BAK
: 3-4 kali sehari
BAB
: 1 kali sehari

II. OBJEKTIF ( O )
Pemeriksaanumum
Keadaanumum
Kesadaran
Keadaanemosional
TTV
TFU

: 3100 gram
: 48 cm
: 20 cm
: 500 gram
: 2 cm
: 50 cm

: Baik
: Compos mentis
: Stabil
: TD : 110/70mmhg
N
: 84x/mnt

R : 23x/mnt
T : 36,4C

: 2 Jari dibawah pusat

Pengeluaran pervaginam : Lochea Rubra

Pemeriksaan Fisik
1. Kepala
Rambut
Muka
Hidung
Telinga
Mulut dan Bibir

: Kebersihan
Warna
Kekuatan akar
: Kelopak mata
Konjungtiva
Sklera
: Kebersihan
Polip
: Kebersihan
Simetris
: Bibir
Lidah
Gigi
Gusi

2. Leher
Kelenjar Thyroid
Kelenjar getah bening
Vena jugularis
3. Dada
Jantung

: Ya, tidak ada ketombe


: Hitam
: Baik, tidak rontok
: Tidak ada oedema
: Merah muda( an anemis )
: Putih( an ikhterik )
: Ya
: Tidak ada
: Ya
: Ya
: Normal, tidak pecah-pecah
: Bersih
: Tidak ada caries
: Tidak ada pembengkakan
: Tidak ada pembesaran
: Tidak ada pembesaran
: Tidak ada bendungan

: Normal, bunyi lup-dup

Paru-paru
Payudara

: Pembesaran
Putting susu
Pengeluaran
Simetris
Benjolan
Rasa nyeri
Hiperpigmentasi
Kemerahan

4. Abdomen
Bekas luka operasi
Konsistensi uterus
Benjolan
Pembesaran
Kandung kemih
Kontraksi
5. Punggung dan pinggang
6. Anogenital
Vulva
Perineum
Pengeluaran pervaginam
7. Ekstremitas
Atas
: Oedema
Kemerahan
Bawah

: Oedema

: Normal, tidak ada wheezing dan


ronchi
: Ya, ada
: Menonjol
: Ada, kolostrum
: Ya, kanan dan kiri
: Tidak ada
: Tidak ada
: Ada, aerola mamae
: Tidak ada

: Tidak ada
: Keras, bulat
: Tidak ada
: Normal, TFU 2 jari dibawah pusat
: Kosong
: Baik
: Posisi punggung
Nyeri pinggang
Nyeri ketuk pinggang

: Lordosis
: Tidak
: Tidak

: Tidak ada varises dan luka parut


: Utuh,tidak ada laserasi
: Lochea Rubra
: Tidak Ada
: Tidak Ada
: Tidak Ada

Kemerahan : Tidak Ada


Reflek Patella : (+) kanan dan kiri
ANALISA( A )
Diagnosa

: Ibu P2A0 Postpartum hari pertama

PELAKSANAAN ( P )
1

Menjelaskan kepada ibu bahwa rasa mulas yang dirasakan disebabkan

kontraksi rahim yang kembali seperti sebelum hamil.


Memberikan ibu therapy obat oral yaitu Flamigra 2 x sehari 1 tablet (dengan
tiap kaplet mengandung kalium diklofenak 50 mg) , Floxigra 2 x sehari 1

(Tiap kaplet mengandung Ciprofloxasin 250 mg),Fondazen 1x sehari 1 tablet


3
4

(tiap kaplet mengandung zat besi ), vitamin A 1 kapsul 200.000 IU


Memberikan ibu makan makanan yang bergizi yaitu : 1 porsi nasi (250 gram),
1 mangkuk sayur katu( 150 gram), 1 potong ayam goreng (200 gram) dan
1gelas teh manis hangat
Menganjurkan ibu untuk mobilisai dini setelah 8 jam pasca persalinan yaitu
dengan miring ke kiri-kanan, menggerakan kaki, duduk, berdiri atau turun dari

tempat tidur
Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu kurang lebih 1-2 jam

disiang hari dan kurang lebih 8 jam di malam hari


Memberikan motivasi pada ibu untuk memberikan ASI ekslusif pada bayinya

Catatan Perkembangan Masa Nifas


No
1
2
3
4

Keterangan
Keluhan
Keadaan Umum
Keadaan
Emosional

Hari ke-1
Mulas
Baik
Stabil

Hari ke-2
Mulas
Baik

Hari ke-3
Mulas
Baik

8
9

10

Kesadaran
TTV TD:
N :
R :
T :
Mammae
Pembesaran
Putting susu
Benjolan
Rasa Nyeri
Pengeluaran
Abdomen
Luka bekas
operasi
TFU

Composmenti
s
110/70
mmHG
84x/menit
23x/menit
36,4c
Ya, ada
Menonjol
Tidak ada
Tidak ada
Kolostrum

Composmentis
110/70 mmHG
86x/menit
20x/menit
36,8c

Composmentis
120/70
84x/menit
22x/menit
37,5c

Ya, ada
Menonjol
Tidak ada
Tidak ada
ASI

Ya, ada
Menonjol
Tidak ada
Tidak ada
ASI

Tidak ada
Tidak ada
3 jari bawah 3 jari bawah
pusat
pusat

Anogenital
Perineum
Lochea
Mobilisasi

Tidak ada
2 jari bawah
pusat
Utuh
Utuh
Rubra
Rubra
Berjalan
Miring kanan
dan
kiri,
duduk

BAK
BAB

3-5 kali sehari


1 kali sehari

3-5 kali sehari


1 kali sehari

Kunjungan Ulang Nifas Hari ke 6


Oleh
Tanggal
Pukul

: Arista Suningsih
: 18 April 2015
: 10.00 WIB

SUBJEKTIF (S)

Utuh
Sanguinolenta
Berjalan

3-5 kali sehari


1 kali sehari

- Ibu mengatakan tidak ada keluhan pada dirinya dan bayinya


- Ibu mengatakan bayinya menghisap dengan kuat
OBJEKTIF (O)
1

Pemeriksaan Umum
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Composmentis

Keadaan emosional

: Stabil

Tanda-tanda vital

: TD : 110/70 mmhg
N : 84 x/menit

R : 21 x / menit
T : 36,2 c

TB

: 162 cm

BB

: 62 kg

Pemeriksaan Fisik
Payudara
Rasa nyeri

: Pengeluaran asi
: Ada
: Tidak ada nyeri tekan dan nyeri raba

Uterus

: Kontraksi baik

TFU

: 3 jari dibawah Pusat

Anogenital
Vulva

: Normal tidak ada infeksi

Pengeluaran lochea

: Sanguinolenta (merah kecoklatan)

ANALISA (A)
Diagnosa
PENATALAKSANAAN (P)

: Ibu P2A0 Postpartum hari 6

1.

Memberitahu ibu bahwa kondisi nya saat ini dalam batas normal yang
ditandai dengan: TTV :
N

TD
: 110/70 mmhg
R : 21 x / menit
: 84 x/menit
T : 36,2 c

TFU
2.

: 3 jari dibawah pusat

Mengajarkan ibu merawat bayi baru lahir seperti merawat tali pusat
dengan cara: Gunakan kasa steril untuk membersihkan tali pusat dan rutinlah
mengganti kain kasa steril pada tali pusat bayi setiap kali selesai mandi
Menjelaskan tanda -tanda bahaya pada ibu nifas seperti: Perdarahan

3.

postpartum,lochea berbau busuk, nyeri pada perut, pusing dan lemas


berlebihan, suhu tubuh >38C,sakit kepala hebat,pembengkakan wajah,tangan
dan kaki, payudara merah, panas terasa sakit, nyeri berkemih, dan kehilangan
nafsu makan dalam waktu lama
Memberitahu ibu tanda-tanda bayi sakitseperti : lemah dan malas

4.

bergerak,malas menyusu, lebih banyak tidur ketimbang biasanya,serta rewel


dan susah ditenangkan
Memberi motivasi pada ibu untuk memberi ASI eksklusif pada bayi.

5.

Kunjungan Ulang Nifas Hari Ke 14


Tanggal

: 25 April 2015

Waktu

: 16.00 wib

I. SUBJEKTIF ( S )
1. Ibu mengatakan ASI nya sudah keluar banyak
2. Ibu mengatakan bayinya menghisap dengan kuat
II. OBJEKTIF ( O )
Pemeriksaanumum
Keadaanumum
Kesadaran
Keadaanemosional

: Baik
: Compos mentis
: Stabil

TTV

: TD
N

:110/70mmhg
: 84x/mnt

R : 23x/mnt
T : 36,4C

Payudara : Pembesaran : Ada


Putting susu : Menonjol
Benjolan

: Tidak ada

Pengeluaran : ASI
Rasa nyeri

: Baik

Kontraksi uterus

: Baik

TFU

: Tidak teraba

Anogenital

: Vulva : Normal tidak ada infeksi

Pengeluaran lochea

: Serosa (berwarna kuning tidak berdarah lagi)

III.

ANALISA( A )
Diagnosa : Ibu P2A0 postpartum hari ke-14

IV.

PENATALAKSANAAN
1. Mengajarkan ibu merawat bayi baru lahir
2. Menjelaskan tanda tanda bahaya pada ibu nifas seperti:seperti:
Perdarahan postpartum, lochea berbau busuk, nyeri pada perut, pusing
dan lemas

berlebihan, suhu tubuh >38C, sakit kepala hebat,

pembengkakan wajah, tangan dan kaki, payudarah merah, panas terasa


sakit,nyeri berkemih,dan kehilangan nafsu makan dalam waktu lama
3. Menjalaskan pada ibu tanda-tanda bayi sakit seperti: lemah dan
lemas,malas bergerak, malas menyusu, lebih banyak tidur ketimbang
biasanya, serta rewel dan susah ditenangkan.
4. Menganjurkan ibu makan-makanan yang bergizi seperti sayur-sayuran
hijau katu dan bayam, telur, ikan, tempe, tahu, ayam, daging dan susu.
5. Memberi motivasi pada ibu untuk memberi ASI eksklusif pada bayinya

6. Memberikan konseling KB menggunakan lembar alat bantu pengambilan


keputusan Ber-KB (ABPK)

Kunjungan Nifas Ulang Hari Ke-40

Tanggal

: 23 Mei 2015

Waktu

: 16.00 wib

I. SUBJEKTIF ( S )
1. Ibu mengatakan tidak ada keluhan dan keadaanya semakin membaik
2. Ibu mengatakan ASInya lancar
II. OBJEKTIF ( O )
Pemeriksaan umum
Keadaan umum
Kesadaran
Keadaan emosional
TTV
: TD
N

: baik
: compos mentis
: stabil
: 110/70mmhg
: 84x/mnt

Payudara : pembesaran : ada


Putting susu : menonjol
Benjolan

: tidak ada

Pengeluaran : ASI

R: 23x/mnt
T: 36,4C

Kontraksi uterus

: baik

TFU

: tidak teraba

Pengeluaran Vaginam

: lochea alba

Anogenital

: Normal,tidak ada infeksi

Eliminasi

: vulva

:BAK
BAB

:5-6 kali sehari


:1 kali sehari

III.

ANALISA ( A )
Diagnosa : ibu P2A0 postpartum hari ke 40

IV.

PENATALAKSANAAN
1. Melakukan pemeriksaan peurperium pada ibu dengan memeeriksa tandatanda vital,kontraksi uterus,TFU dan pengeluaran lochea
2. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi sesuai
denagn menu makanan yang seimbang yang meliputi karbohidrat, protein,
vitamin, dan meneral serta anjurkan ibu untuk mengkonsumsi susu karena
ibu membutuhkan banyak nutrisi lebih banyak dari biasanya untuk dirinya
dan bayinya
3. Menganjurkan ibu untuk tetap memperhatikan istirahatnya agar stamina
ibu tetap terjaga
4. Menjelaskan pada ibu tentang pentingnya menjaga kebersihan diri,
terutama rutin untuk mengganti pembalut, rutin untuk mandi, menjaga
kebersihan diri terutama kulit rambut dan kuku ,rutin mencuci tangan
setelah beraktivitas terutama sebelum dan sesudah kontak dengan bayi
5. Menganjurkan ibu untuk rutin memeriksaan keadaan kesehatan dirinya
dan bayinya di pelayanan kesehatan terdekat
6. Memberi motivasi pada ibu untuk memberi ASI eksklusif pada bayinya

ASUHAN KEBIDANAN
PADA AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN TERHADAP NY M
DI BPM THERESIA,Amd.Keb

Anamnesa oleh

: Arista Suningsih

Tanggal

: 28 April 2015

Waktu

: 17.00 WIB

SUBJEKTIF (S)
A. Anamnesa
Pasien datang dengan alasan ingin mendapatkan pelayanan KB suntik 3
bulan
B. Riwayat menstruasi
Menarche
Siklus
Lama
Dismenorhoe
Sifat darah
Banyaknya

: 13 tahun
: 28 hari, teratur
: 7 hari
: Tidak
: Cair kadang disertai gumpalan darah
: 2 3 kali ganti pembalut

C. Riwayat sosial
1 Status perkawinan
Menikah
: 1 kali
Lama pernikahan : 8 tahun

2. Susunan keluarga yang tinggal serumah


No
1
2
3

Jeniskelamin
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki

Umur
35 tahun
34 tahun
7 tahun

Hubungan
Suami
Istri
Anak

Pendidikan
SMP
SMP
SD

Pekerjaan
Wiraswasta
Wiraswasta
Siswa

Ket
-

3. Riwayat kehamilan persalinan dan nifas yang lalu


No

Tahun
partus

Tempat
partus

Usia
kehamilan

Jenis
partus

2007

BPS

38 minggu Spont
an

Kelainan
Anak
Hamil partu Nifas L/ BB
PB
s
P
L 4000
49
gr
cm

4. Riwayat keluarga berencana


Alat kontrasepsi yang digunakan sebelumnya : KB PIL
Lama pemakaian alat kontrasepsi
: 3 tahun
Keluhan selama pemakaian
: Tidak ada
Alat kontrasepsi yang ingin digunakan sekarang : Suntik 3 Bulan
5. Riwayat Kesehatan Ibu
Riwayat kesehatan sekarang atau yang pernah diderita
Jantung
: Tidak
Hipertensi
: Tidak
Diabetes mellitus
: Tidak
Asma
: Tidak
Hepar
: Tidak
Anemia
: Tidak
PMS dan HIV/AIDS
: Tidak

6. Riwayat kesehatan keluarga


Ibu megatakan bahwa dalam silsilah keluarganya tidak ada yang
menderita penyakit keturunan ataupun menular.
7. Perilaku kesehatan
Pengunaan alkohol
: Tidak pernah
Mengkomsumsi jamu-jamuan : Tidak pernah
Merokok
: Tidak pernah
8. Pola eliminasi
BAB

: 1x sehari

warna

: Kuning

konsistensi

: Lembek

BAK

: 3-4x sehari

Warna

: Kuning jernih

Ket

IMD

Konsistensi

: Cair

9. Aktifitas sehari-hari
Pola istirahat dan tidur

: Tidur siang 1 jam, malam 6-8 jam

Seksualitas

: Sesuai kebutuhan

Pekerjaan

: Ibu melakukan pekerjaan rumah


Tangga Seperti memasak, mencuci,
menyapu dan mengosok baju

10. Personal hygiene dan kebersihan


Kebersihan mandi

: 2x sehari menggunakan sabun

Sikat gigi

: 3x sehari

Kebersihan rambut

: 2x sehari

OBJEKTIF(O)
A. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Composmentis

Keadaan emosional

: Stabil

TTV

: TD : 110/70mmHg
N : 82x/menit

TB

: 155cm

BB

: 59kg

R : 23x/menit
T : 36,5 c

B. PEMERIKSAAN FISIK
1. Kepala

2. Mata

: Kebersihan

: Bersih, tidak berketombe

Warna

: Hitam

Kekuatan akar

: Baik dan tidak rontok

: Kelopak mata
Konjung tiva

: Tidak ada oedema


: Merah muda

Sklera
3. Hidung

4. Telinga

: Lubang

: Ya, simetris

Pengeluaran

: Tidak ada

Polip

: Tidak ada

Cuping hidung

: Tidak ada

: Simetris

: Ya

Keadaan

: Bersih

Pengeluaran

: Tidak ada

Kelainan

: Tidak ada

5. Mulut dan gigi : Bibir

6. Leher

: Putih (an ikhterik)

: Merah muda

Ludah

: Bersih, warna kemerahan

Gigi

: Tidak ada caries

Gusi

: Tidak ada pembengkakan

: Kelenjar thyroid

: Tidak ada pembesaran

Kelenjar limfe

: Tidak ada pembengkakan

Vena juguralis

: Tidak ada bendungan

7. Dada
Jantung

: Normal, bunyi lup dup tidak ada bunyi mur-mur

Paru-paru

: Normal, tidak ada bunyi wheezing dan ronci

Payudara

: Pembesaran

Simetris

: Ya, kanan dan kiri

: Tidak ada

Putting susu

: Menonjol

Rasa nyeri

: Tidak ada

Benjolan

: Tidak ada

Bekas luka oprasi

: Tidak ada

Pembesaran

: Tidak ada

Benjolan

: Tidak ada

: Oedema

: Tidak ada

: Pengerakan

: Aktif dan bergerak bebas

: Oedema

: Tidak ada

8. Abdomen

9. Ekstremitas
Atas
Bawah

Varises

: Tidak ada

Pengerakan

: Aktif dan bergerak bebas

Reflex patella

: (+) kanan dan kiri

ANALISA (A)
Diagnosa : Ibu P2A0 akseptor KB suntik 3 bulan

PENATALAKSANAAN (P)
1. Memberitahu ibu bahwa hasil pemeriksaan dalam batas normal yang ditandai
dengan :
TD : 110/ 70mmhg

R : 23x/menit

T : 36,5 C

: 82x/menit

2. Memberikan konseling tentang kb suntik 3 bulan (depoprovera) yang


mengandung Depo medroksiprogesteron asetat dan beritahu tentang efek
samping yang ditimbulkan
a. Menyiapkan alat dan obat : - Kapas alkohol
- Spuit
- Depoprovera
- Menyiapkan depoprovera dalam spuit
3. Memberikan injeksi Depoprovera pada 1/3 bokong dari spina illiaca anterior
superior secara IM
4. Menganjurkan ibu untuk melakukan suntik ulang pada tanggal 22 juli 2015

BAB IV
PEMBAHASAN KASUS

KEHAMILAN
a Pemeriksaan ANC Kunjungan 1

Pada tanggal 10 Maret 2015 pukul 16.00 wib, Ny. M datang ke Klinik
Bidan T, untuk memeriksakan kehamilannya. Dan petugas melakukan pengkajian
identitas pasien. Dari hasil pengkajian yang didapat Ny. M usia 34 tahun, Ibu telah
melakukan pemeriksaan kehamilannya selama kehamilan sebanyak 6 kali, yaitu
pada trimester 1 sebanyak 1 kali, trimester 2 sebanyak 2 kali, dan trimester 3
sebanyak 3 kali. Dan ini merupakan kunjungan berkelanjutan. Dari hasil
anamnesa yang telah dilakukan terhadap Ny.M. Sesuai dengan teori minimal
pemeriksaan kehamilan berkualitas pada trimester 1 sebanyak 1 kali umur
kehamilan 0-12 minggu, trimester 2 sebanyak 2 kali umur kehamilan 13-27
minggu, trimester 3 sebanyak 1 kali umur kehamilan 28-40 minggu
(prawiroharjo, 2011).

Berarti Ny. M telah mengikuti standar pelayanan kesehatan pemeriksaan


kehamilan.dalam pemeriksaan kehamilan selain kualitas pemeriksaan kehamilan
Ny. M juga mendapatkan pemeriksaan kehamilan yaitu standar 10 T yang terdiri
dari timbang berat badan dan tinggi badan, pemeriksaan tekanan darah, nilai
status gizi, ukur tinggi fundus uteri, tentukan presentasi janin dan denyut jantung
janin(DJJ),

pemberian imunisasi TT1 dan TT2 telah di berikan pada usia

kehamilan 16 minggu dan 20 minggu, tes laboratorium, tata laksana kasus bila
diperlukan, dan temu wicara
.
Selama kehamilan ini ibu mengalami kenaikan berat badan sebanyak 12 kg,
yaitu berat badan sebelum hamil 50 kg, dan berat badan saat usia kehamilan 36
minggu menjadi 62 kg. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa berat
badan ibu hamil akan bertambah antara 6,5-16,5 kg (Prawiroharjo 2009)
Tekanan darah Ny. M yaitu 110/70 mmHg dan masih dalam batas normal
yaitu 110/70mmHg 130/90mmHg apabila terjadi kenaikan tekanan darah
(hipertensi) atau penurunan tekanan darah (hipotensi), hal ini patut diwaspadai
karena dapat berdampak buruk bagi ibu dan janin apabila tidak ditangani dengan
baik (Prawiroharjo 2009).
Ukuran lila Ny. M adalah 25 cm hal ini termasuk dalam kategori normal
karena lila ibu hamil adalah 23,5 (Depkes,2009), mengukur lila untuk
mengetahui status gizi ibu yang berhubungan dengan pertumbuhan janin agar
tidak BBLR.
Pada pemeriksaan objektif tidak ditemukan kelainan didapatkan tinggi
fundus uteri Ny.M adalah 31 cm.termasuk didalamya pemeriksaan leopold dimana

leopold 1 didapatkan hasil TFU 3 jari di bawah px.pada bagian fundus teraba satu
bagian besar,lunak dan tidak melenting (bokong). Leopold II didapatkan hasil
pada bagian kiri ibu teraba bagian datar,keras dan memanjang seperti papan
(punggung janin),dan pagi bagian kanan perut ibu teraba bagian-bagian kecil janin
(Ekstrimitas).Leopold III pada bagian bawah perut ibu teraba satu bagian keras
bulat dan melenting (kepala),kepala belum masuk PAP. Leopld IV didapatkan
hasil konvergen. DJJ 148 x/ menit,dimana DJJ normal dikatakan normal yaitu
120-160 denyut jantung janin (Riyan Thasalim,2011)..
Pada Ny. M dilakukan tes Hb, hasilnya Hb Ny. M 9,0 gr % dan termasuk
anemia ringan.Hypervolomia merupakan hasil dari peningkatan volume plasma
dan eretrosit( sel darah merah) yang berada dalam tubuh tetapi peningkatan ini
tidak seimbang yaitu volume plasma peningktan jauh lebih besar sehingga
memberi efek yaitu konsentrasi Hemoglobin berkurang dari 12 g/100 ml
(Sarwono, 2002 hal 450-451).
Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar Hemoglobin dalam darah berkurang
dari 12gr% (Wiknjosastro,2002).Sedangkan anemiadalam kehamilan adalah
kondisi ibu dalam kadar Hemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III
atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002).Anemia adalah kondisi
dimana sel darah merah menurun atau menurunya Hemoglobin sehingga kapasitas
daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital ibu pada janin dapat
berkurang.Selama kehamilan indikasi Anemia adalahjika konsentrasi hemoglobin
kurang dari 10,5 sampai dengan 11 gr/dl (Varney H,2006).
Apabila anemia pada ibu semakin berat maka dapat mengakibatkan perdarahan
post partum,persalinan sulit dan lama, serta masalah masalah lain. Gizi kurang

pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu antara lain.
Anemia, perdarahan, berat badan ibu tidak bertambahsecara normal dan terkena
penyakit infeksi sehingga akan meningkatkan kematian ibu. Pengaruh gizi kurang
terhadap proses persalian dan menggakibatkan persalinan sulit dan lama.
pe5salian prematur/sebelum waktunya,perdarahan post partum,serta persalinan
dengan tindakan oprasi cesar cendrung meningkat (Weni, 2010).
Tablet penambah darah dapat diberikan sesegera mungkin setelah rasa mual
hilang yaitu satu tablet sehari. Pada trimester 1 Ny.M sudah mendapatkan tablet
Fe 60 tablet, pada trimester II dan III Ny.M mendapatkan 30 tablet.Ny.M
meminum tablet Fe 1 kali sehari sebelum tidur atau sesuai dengan anjuran yang
diberikan.
Pemberian imunisasi TT menurut teori (Saifuddin, 2009) menyatakan selama
kehamilan yaitu sebanyak 2 kali imunisasi TT, TT1 yaitu pada usia kehamilan 16
minggu dan imunisasi TT2 yaitu 4 minggu dari TT yang pertama.
Diagnosa yang dapat ditegakkan adalah Ny. M umur 34 tahun G2P1A0hamil
36 minggu , janin hidup tunggal intra uterin, puki, presentasi kepala,keadaan ibu
dan janin baik. Hal ini sesuai dengan teori bahwa diagnosis kehamilan yang
ditegakkan harus sesuai dengan data subjektif dan pemeriksaan objektif (Sarwono,
2010 : 213). Asuhan pelaksanaan yang diberikan seperti menginformasikan pada
ibu tentang hasil pemeriksaan. Hal ini bertujuan untuk menciptakan hubungan
saling percaya antara keluarga Ny.M dengan tenaga kesehatan (Ika Pantikawati,
2010: 110-113)
Memberitahu

kepada

Ny.M

untuk

menjaga

pola

nutrisi

dengan

mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang seperti makan-makanan yang

mengandung karbohidrat(nasi,umbi-umbi, jagung) protein (telur, ikan, ayam, tahu,


tempe, daging), kalsium (ikanteri, keju, susu) vitamin dan mineral lainnya
(sayuran dan buah-buahan) asam folat(bayam dan hati ayam) dan minum minimal
8 gelas/hari agar pertumbuhan janin optimal,menurut teori (Vivian, 2011). Tujuan
asuhan yang penulis berikan untuk mempertahankan kesehatan, pertumbuhan
janin,

cadangan

laktasi

dan

proses

penyembuhan

setelah

persalinan

(postpartum).Menjelaskan kepada Ny.M tanda-tanda persalinan, mulas teratur,


keluar lendircampur darah, mulas yang semakin lama semakin sering
(Rohani,2011:14). Menganjurkan ibu untuk tetap minum tablet Fe 11 yang
diberikan dan diminum setelah makan malam atau sebelum tidur malam. Hal ini
dikatakan baik, karena menurut teori pemberian tablet Fe pada ibu hamil adalah
untuk mencegah defisiensi zat besi anemia pada ibu hamil bukan menaikkan kadar
hemoglobin (Yeyeh dkk,2013:7).
Recana dan pelaksanaan yang dilakukan, yaitu memberitahu ibu tentang
bahaya pada kehamilan seperti perdarahan pervaginam, sakit kepala yang
hebat,penglihatan kabur, bengkak di wajah dan jari tangan, gerak janin tidak
terasa,dan nyeri perut yang hebat. Membuat rencana persalinan, termasuk
menentukan penolong dan tempat persalinan ( tenaga kesehatan), menyiapkan
transportasi,pendamping saat nanti persalinan,menyiapkan biaya untuk persalinan,
menentukan seseorang untuk membuat keputusan kedua bila suami tidak adadi
tempat,membuat rencana atau pola menbung.Sesuai dengan teor pada trimester III
ibu dan keluarga harus merencanakan persiapan persalian apabila kemungkinan
terjadi keadaan darurat

(Hyre,2003), Memberitahu ibu untuk melakukan

kunjungan ulang 1 minggu kemudian atau apabila ada keluhanmenurut teori

Vivian, 2011:156 kunjungan ulang dilakukan untuk mendeteksi komplikasikomplikasi mempersiapan kelahiran dan kegawatdaruratan.
b.Pemeriksaan ANC Kunjungan 2
Saat ini pada tanggal 17 Maret 2015 usia kehamilan 37 minggu , Ny.M
mengeluh sering pegal dibagian punggung, menurut teori Ai Yeyeh 2009: 121
pegal dibagian punggung merupakan ketidaknyamanan fisiologis yang terjadi
pada usia kehamilan trimester III yang disebabkan oleh progesterone dan relaksin
(yang melunakkan jaringan ikat) dan postur tubuh yang berubah serta
meningkatkan beban berat yang dibawa dalam rahim. Menurut (Ari Sulistyawati,
2011:124)

cara mengatasinya dengan cara gunakan posisi tubuh yang baik,

gunakan bra yang menopang dengan ukuran tepat, gunakan kasur yang keras dan
gunakan bantal ketika tidur untuk meluruskan punggung. Ny.M mengerti dan akan
melakukan saran yang penulis berikan.
Selama kehamilan ini ibu mengalami kenaikan berat badan sebanyak 12 kg,
yaitu berat badan sebelum hamil 50 kg, dan berat badan saat usia kehamilan 36
minggu menjadi 62 kg. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa berat
badan ibu hamil akan bertambah antara 6,5-16,5 kg (Prawiroharjo 2009)
Tekanan darah Ny. M yaitu 110/70 mmHg dan masih dalam batas normal
yaitu 110/70mmHg 130/90mmHg apabila terjadi kenaikan tekanan darah
(hipertensi) atau penurunan tekanan darah (hipotensi), hal ini patut diwaspadai
karena dapat berdampak buruk bagi ibu dan janin apabila tidak ditangani dengan
baik (Prawiroharjo 2009).

Ukuran lila Ny. M adalah 25 cm hal ini termasuk dalam kategori normal
karena lila ibu hamil adalah 23,5 (Depkes,2009), mengukur lila untuk
mengetahui status gizi ibu yang berhubungan dengan pertumbuhan janin agar
tidak BBLR.
Pada pemeriksaan objektif tidak ditemukan kelainan, termaksud didalamnya
pemeriksaan abdomen,didapatkan tinggi fundusuteri Ny.M adalah 31 cm. dimana
didapatkan Leopold I teraba bulat, lunak, tidak melenting, Leopold II bagian kiri
perut ibu teraba bagian datar keras dan memanjang seperti papan (punggung
janin),pada bagian kanan perut ibu teraba bagian-bagian ekstermitas, kiri. Leopold
III

didapatkan

pada

bagian

bawah

perut

ibu

teraba

bulat,

keras,

melenting(kepala).Belum masuk PAP. Leopold IV Divergen, DJJ 148 x/menit,


dimana DJJ dikatakan normal yaitu 120-160 denyut per menit (Vivian. 2012 :
155).
Diagnosa yang dapat ditegakkan adalah Ny. M umur 34 tahun G2P1A0 hamil
37minggu, janin hidup tunggal intra uterin, puki, presentasi kepala, keadaan ibu
dan janin baik. Hal ini sesuai dengan teori bahwa diagnosis kehamilan yang
ditegakkan harus sesuai dengan data subjektif dan pemeriksaan objektif (Sarwono,
2010 : 213).
Asuhan pelaksanaan yang diberikan seperti mengjelaskan pada ibu tentang
hasil pemeriksaan. Hal ini bertujuan untuk menciptakan hubungan saling percaya
antara keluarga Ny.M dengan tenaga kesehatan (Ika Pantikawati, 2010: 110-113).
Menjelaskan kepada ibu mengenai tanda dan bahaya pada masa kehamilan seperti
demam tinggi, pandangan kabur, pergerakan janin berkurang atau tidak dirasakan
lagi, perdarahan pervaginam dan bengkak dikaki, tangan seta dan wajah (Vivian,

2011: 134) Apabila ibu meraskan salah satunya ibu harus segera ke pelayanan
kesehatan terdekat.
Menjelaskan kepada ibu mengenai tanda-tanda persalinan seperti mulas yang
sering dan teratur, keluar lendir bercampur darah dan keluar air-air yang tidak
tertahan dari vagina (Rohani, 2011:14) Apabila ibu merasakan salah satunya maka
ibu harus segera ke pelayanan kesehatan terdekat. Menjelaskan kepada ibu untuk
mengatur pola makan, istirahatnya, jika ibu kurang tidur pada malam hari.
Menjelaskan untuk mengkomsumsi air putih untuk mencegah terjadinya dehidrasi
kepada ibu.
Menganjurkan ibu untuk tetap minum tablet Fe 11 yang diberikan dan
diminum setelah makan malam atau sebelum tidur malam. Hal ini dikatakan baik,
karena menurut teori pemberian tablet Fe pada ibu hamil adalah untuk mencegah
defisiensi zat besi anemia pada ibu hamil bukan menaikkan kadar haemoglobin
(Yeyeh dkk,2013:7).

b.Pemeriksaan ANC Kunjungan ke Tiga


Pemeriksaan selanjutnya pada tanggal 25 Maret 2015 Hasil pemeriksaan
ibu dalam keadaan baik dan nyeri punggung yang dialami telah berkurang. Berat
badan Ny. M saat ini 63 kg, sebelum hamil Ny. M mengatakan berat badannya 50
kg, Ny. M mengalami peningkatan berat badan sebanyak 13 kg, menit
Tekanan darah Ny. M yaitu 110/80 mmHg dan masih dalam batas normal
yaitu 110/80mmHg 130/90mmHg apabila terjadi kenaikan tekanan darah
(hipertensi) atau penurunan tekanan darah (hipotensi), hal ini patut diwaspadai

karena dapat berdampak buruk bagi ibu dan janin apabila tidak ditangani dengan
baik (Prawiroharjo 2009).
Ukuran lila Ny. M adalah 25 cm hal ini termasuk dalam kategori normal
karena lila ibu hamil adalah 23,5 (Depkes,2009), mengukur lila untuk
mengetahui status gizi ibu yang berhubungan dengan pertumbuhan janin agar
tidak BBLR..
Pada pemeriksaan objektif tidak ditemukan kelainan didapatkan tinggi
fundus uteri Ny.M adalah 31 cm.termasuk didalamya pemeriksaan leopold dimana
leopold 1 didapatkan hasil TFU 3 jari di bawah px.pada bagian fundus teraba satu
bagian besar,lunak dan tidak melenting (bokong). Leopold II didapatkan hasil
pada bagian kiri ibu teraba bagian datar,keras dan memanjang seperti papan
(punggung janin),dan pagi bagian kanan perut ibu teraba bagian-bagian kecil janin
(Ekstrimitas).Leopold III pada bagian bawah perut ibu teraba satu bagian keras
bulat dan melenting sukar digerakkan (kepala),kepala sudah masuk PAP. Leopld
IV didapatkan hasil divergen. DJJ 128 x/ menit,dimana DJJ normal dikatakan
normal yaitu 120-160 denyut jantung janin (Riyan Thasalim,2011).
Asuhan pelaksanaan yang diberikan seperti mengjelaskan pada ibu tentang
hasil pemeriksaan. Hal ini bertujuan untuk menciptakan hubungan saling percaya
antara keluarga Ny.M dengan tenaga kesehatan (Ika Pantikawati, 2010: 110-113).
Menjelaskan kepada ibu mengenai tanda dan bahaya pada masa kehamilan seperti
demam tinggi, pandangan kabur, pergerakan janin berkurang atau tidak dirasakan
lagi, perdarahan pervaginam dan bengkak dikaki, tangan seta dan wajah (Vivian,
2011: 134) Apabila ibu meraskan salah satunya ibu harus segera ke pelayanan
kesehatan terdekat.

Menjelaskan kepada ibu mengenai tanda-tanda persalinan seperti mulas yang


sering dan teratur, keluar lendir bercampur darah dan keluar air-air yang tidak
tertahan dari vagina (Rohani, 2011:14) Apabila ibu merasakan salah satunya maka
ibu harus segera ke pelayanan kesehatan terdekat. Menjelaskan kepada ibu untuk
mengatur pola makan, istirahatnya, jika ibu kurang tidur pada malam hari.
Menjelaskan untuk mengkomsumsi air putih untuk mencegah terjadinya dehidrasi
kepada ibu.
Menganjurkan ibu untuk tetap minum tablet Fe 11 yang diberikan dan
diminum setelah makan malam atau sebelum tidur malam. Hal ini dikatakan baik,
karena menurut teori pemberian tablet Fe pada ibu hamil adalah untuk mencegah
defisiensi zat besi anemia pada ibu hamil bukan menaikkan kadar haemoglobin
(Yeyeh dkk,2013:7).

B.PERSALINAN

1.Kala I
Pada tanggal 12 April 2015 pukul 01.30 WIB, Ny M datang ke BPM
mengatakan mulas-mulas sejak pukul 17.00 WIB dan keluar lendir-lendir
bercampur darah pada ukul 01.00 Wib Ny.M dilakukan pemeriksaan TTV: TD:
110/80 mmHg, N:80x/menit,R:20x/menit, T : 36,2 C,. Berdasarkan HPHT Ny.
M datang pada usia kehamilan 40 minggu 4 hari dengan TFU ( Pertegahan
Pusat px) 31 cm, sehingga taksiran berat janin menurut TBJ rumus JhonsonTausak (3.100 gram ) . Menurut teori (Saifuddin, 2009) persalinan normal adalah
proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42
minggu) dan menurut (Prawirohardjo, 2009) .Berat janin yang lahir normal antara
2500-4000 gram. Pada kasus ini usia kehamilan NyM yaitu 40 Minggu 4 hari
(Aterm) dan tafsiran berat janin Ny M 3100 gram (Normal), jadi tidak ada
kesenjangan antara teori dan kasus.
Dari data yang didapat maka dapat ditegakan diagnosa Ny. M (34 tahun) G2P1A0
hamil 40 minggu 4 hari inpartu kala 1 fase aktif , janin tunggal, hidup intrauterine,
presentasi kepala. Sesuai dengan teori Varney bahwa diagnosa ditegakan oleh
penulis berdasarkan pada data subjektif dan objektif di atas. Dari data di atas
dapat disimpulkan bahwa Ny. M dapat bersalin dengan persalinan normal spontan
pervaginam.Berdasarkan data dan diagnosa tidak terdapat masalah pada Ny. M
Sesuai dengan teori Varney bahwa antisipasi masalah ditegakan bila terdapat data
yang mendukung. Tindakan segera tidak dilakukan karena tidak ada kondisi yang
mendukung tindakan segera. Asuhan pelaksanaan yang diberikan seperti
menjelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan. Hal ini bertujuan untuk
menciptakan hubungan saling percaya antara keluarga Ny.M dengan tenaga
kesehatan (Ika Pantikawati, 2010: 110-113)
Memberi penjelasan pada ibu tentang keadaan ibu dan janinnya maka ibu
dapat mengetahui keadaan diri dan janinnya baik, sehingga dapat mengurangi
kecemasan ibu. Menganjurkan Ny.M untuk tidur dengan posisi miring menurut

Ai Yeyeh, 2009: 95) posisi miring dapat membantu bayi melakukan rotasi dan

peregangan minimal pada perineum, meningkatkan perfusi plasenta dan mencegah


sindrom hipotensif

terlentang

pemendekan persalinan dan menurunkan

persalinan insiden abnormalitas denyut jantung janin (DJJ).


Mengajurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yaitu makan/minum
secukupnya, untuk itu perlu menyiapkan minuman (air mineral,air teh manis
hangat) disamping tempat tidur (Dr. Avie 2013: 83). Dimana asupan cairan
dibutuhkan karena ibu akan mudah mengalami dehidrasi selama persalinan dan
kelahiran, serta untuk mempertahankan kondisi optimal pada ibu dan bayinya
(Yeyeh, 2009: 92). Memberitahu atau memberi dukungan kepada ibu bahwa ibu
dapat melewati persalinan dengan aman menurut (Yeyeh, 2009: 91 ). Wanita yang
memperoleh dukungan emosional selama persalinan akan mengalami waktu
persalinan yang lebih pendek, intervensi medis yang lebih sedikit dan hasil
persalinan yang lebih baik.
2.Kala II
Pada tanggal 12 Apil 2015 pukul 03.00 WIB ibu mengatakan mulesnya
bertambah kuat dan semakin sering, ibu ingin mengedan dan seperti ingin buang
air besar serta ibu juga merasa seperti keluar cairan dari jalan lahirnya. Hal ini
menandakan kepala janin sudah masuk ke rongga panggul yang secara reflektoris
menimbulkan perasaan sakit disebabkan oleh peregangan vagina, jaringan dalam
panggul dan perineum (Wiknjosastro, 2007:113).
Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan didapatkan keadaan umum ibu
tampak kesakitan, His :5x10menit lamanya 45 detik, DJJ :142x/ menit, terlihat
tanda gejala kala II yaitu adanya tekanan pada anus, dorongan ibu ingin meneran,

perenium menonjol, vulva-vagina membuka, pada pemeriksaan dalam teraba


pembukaan lengkap, portio tidak teraba, ketuban pecah spontan warna jernih,
penurunan HIV.
Dari data subjektif dan objektif di atas dapat ditegakkan diagnosa
berdasarkan manajemen Varney yaitu Ny. M inpartu kala II. Dari data di atas
dibutuhkan perencanaan dan pelaksanaan sesuai kebutuhan pasien, dengan
menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu dan pendamping bahwa pembukaan
sudah lengkap dan ingin meneran. Penolong mendekatkan alat dan mengajurkan
ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yaitu makan/minum secukupnya, untuk itu
perlu menyiapkan minuman (air mineral,air teh hangat, air madu, sari kurma,)
disamping tempat tidur (Dr. Avie 2013: 83). Dimana asupan cairan dibutuhkan
karena ibu akan mudah mengalami dehidrasi selama persalinan dan kelahiran,
serta untuk mempertahankan kondisi optimal pada ibu dan bayinya (Yeyeh, 2009:
92).
Mengajarkan ibu teknik meneran yang baik dan benar yaitu gigi bertemu
gigi, dagu menempel dada, pandangan mata keperut, dan jangan mengangkat
bokong, menurut (APN 2012: 81). Cara meneran mengikuti dorongan alamiah
selama kontraksi, beritahukan untuk tidak menahan nafas saat meneran, minta
untuk berhenti meneran dan beristirahat diantara kontraksi. Minta ibu untuk tidak
mengangkat bokong saat meneran. Memakai alat pelindung diri dimana menurut
(APN, 2012: 14). Tujuan nya untuk pencegahan infeksi dari komponen-komponen
lain dalam asuhan persalinan dan kelahiran bayi.

Menolong persalinan atau kelahiran bayi dengan mengobservasi HIS dan


DJJ apabila mules hilang. Memimpin ibu meneran saat ada HIS yang kuat dan
istirahat apabila HIS melemah. Mempersiapkan pertolongan persalinan ketika
kepala bayi terlihat 5-6 cm di vulva mulailah menolong persalinan. Tangan kanan
menahan perineum dengan duk steril supaya tidak terjadi robekan perineum yang
tidak teratur serta robekan hingga anus dan tangan kiri menahan lembut kepala.
Setelah bayi keluar, lalu membersihkan bagian muka dan memeriksa lilitan tali
pusat. Kepala melakukan putar paksi luar, dengan pegangan biparietal tarik curam
ke bawah melahirkan bahu depan, tarik ke atas lahirlah bahu belakang, kemudian
melakukan sanggah susur dan keluarlah tubuh bayi, dan kemudian diletakkan
diatas kain, menghisap lendir dengan bola karet sambil melihat tonus otot, warna
kulit, menangis kuat kemudian menjepit, mengikat, lalu memotong tali pusat,
megeringkan bayi langsung dilakukan IMD (APN, 2012: 83-85). Evaluasi kala II
berlangsung 15 menit, bayi lahir spontan pada pukul 03.15 WIB, bayi menangis
kuat, tonus otot baik, warna kulit kemerahan, jenis kelamin perempuan, BB:3100
gram, PB:48cm, LK:35, LD: 33 ,cacat( - ), anus (+), bayi ditempatkan di dekat
ibu, dan segera dilakukan IMD. IMD dilakukan menurut (Indrayani 2012 ).
Bertujuan untuk mencari putting susu ibunya sendiri dimana manfaatnya,
membantu meningkatkan daya tahan tubuh bayi terhadap penyakit-penyakit yang
beresiko kematian tinggi.
3.Kala III
Pada pukul 03.15 WIB didapatkan data subjektif, ibu merasa senang
dengan kelahiran bayinya, ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas. Hal ini
disebabkan karena rahim berkontraksi untuk pengeluaran plasenta dari dinding

rahim. Pada hasil pemeriksaan keadaan umum ibu baik, keadaan composmentis,
kandung kemih kosong, kontraksi uterus baik (keras), TFU sepusat, dan ada
semburan darah, serta tali pusat memanjang. Hal ini merupakan hal yang
fisiologis dimana pada kala III ini merupakan tanda-tanda pelepasan plasenta yang
harus ada (Asuhan Persalinan Normal, 2012:91).
Dari data subjektif dan objektif di atas dapat ditegakkan diagnosa
berdasarkan manajemen Varney yaitu Ny. M

inpartu kala III. Ibu tidak

mempunyai masalah, Sesuai dengan teori Varney tidak ada masalah potensial dan
tindakan segera tidak dilakukan karena tidak ada kondisi pasien yang mendukung
tindakan segera.Dari data yang didapat maka dilakukan perencanaan dan
melakukan pelaksanaan dengan melakukan palpasi apakah ada janin ganda dan
simfisis fubis untuk memeriksa kandung kemih, lalu memberikan suntikan
oksitosin 1 ampul / unit secara IM pada 1 menit pertama setelah bayi lahir
rasionalnya merangsang uterus berkontraksi yang juga mempercepat pelepasan
plasenta (Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2006: ).
Pada pukul 03.15 WIB melakukan peregangan tali pusat terkendali (PTT) untuk
mengeluarkan plasenta dan melakukan masase fundus, ini sesuai dengan
manajemen aktif kala III.
Kemudian dilakukan evaluasi, lama kala III 15 menit, normal berdasarkan
teori bahwa lama kala III yaitu 5-30 menit (Sumarah,2009:4-8). Plasenta lahir
pukul 03.30 wib, berat plasenta 500 gram, panjang tali pusat 50cm, tebal 2
cm, diameter 15 cm, selaput plasenta utuh, kotiledon lengkap, kontraksi uterus
baik, TFU 2 jari dibawah pusat, insersi tali pusat sentralis, perdarahan 100 cc.

Perdarahan normal sesuai denagan teori bahwa jika dikatakan perdarahan


postpartum apabila melebihi 500 ml seletah bayi lahir (APN, 2010:92-95).
4.Kala IV
Pada pukul 03.30 WIB Ibu mengatakan perutnya terasa mulas, terasa haus
ingin minum, lelah dan ingin tidur serta merasa tidak nyaman karena pakaian
kotor dan basah. Dari hasil pemeriksaan keadaan umum ibu baik, kesadaran
composmentis, kontraksi uterus baik, TFU 2 jari di bawah pusat dan kandung
kemih kosong, hal ini fisiologis, tidak ada kesenjangan antara teori dan kondisi,
dari data di atas ditegakan diagnosa dengan manajemen Varney Ny. M P2A0 kala
IV. Pukul 03.30 WIB TD: 110/70 mmHg, TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi
baik, kandung kemih kosong. Pukul 03.45 WIB dilakukan kembali pemeriksaan
TD 110/70 mmHg karena. setelah 15 menit kemudian pukul 04.00 WIB, TD
110/70 mmHg. Setelah 2 jam postpartum tekanan darah normal 110/80 mmHg.
Dari data subjektif dan objektif di atas dapat ditegakkan diagnosa
berdasarkan manajemen Varney yaitu Ny. M P2A0 kala IV. Ibu tidak mempunyai
masalah. Sesuai dengan teori tidak ada masalah potensial dan tindakan segera
tidak dilakukan karena tidak ada kondisi pasien yang mendukung tindakan
segera.Dari data diatas maka asuhan yang dapat diberikan, yaitu menjelaskan
kepada ibu bahwa plasenta

sudah lahir dan sekarang

ibu dalam 2 jam

pemantauan.
Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan menurut
(Vivian, 2011). Sumber pembangun protein diperlukan untuk pertumbuhan dan
pergantian sel-sel rusak atau mati, sumber protein dapat diperoleh dari protein
hewani( ikan, udang, kerang, daging ayam, dll) protein nabati ( kacang tanah,

kacang merah dan kacang-kacangan lainnya) ibu nifas memerlukan tambahan 20


gr protein diatas kebutuhan normal ketika menyusui.
Menjelaskan tentang mobilisasi dini 2 jam post partum miring ke kiri dan
ke kanan di atas tempat tidur untuk memperlancar peredaran darah dan mencegah
tromboflebitis. Menganjurkan ibu untuk mengenali tanda bahaya nifas seperti
pusing yang hebat, nyeri ulu hati, perdarahan yang hebat, menurut (Yeyeh, 2009:
154 ), jika ibu melihat hal-hal berikut ini atau memperhatikan bahwa ada sesuatu
yang tidak beres atau melihat salah satu dari hal-hal tersebut maka ibu perlu
menemui bidan untuk dilakukan tindakan segera.

C.Masa Nifas (PNC)


1.Post Partum 6 Jam
Pada tanggal 12 April 2015 pukul 10.30 WIB, ibu mengatakan merasa
mulas pada perutnya. Dari hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan pada Ny. M
tidak ditemukan suatu kelainan pada masa nifas dimana hasil yang diperoleh
merupakan hasil yang normal seperti TD 110/70 mmHg, nadi 84x/menit,
pernafasan 23x/menit, suhu 36,4 OC, kontraksi uterus baik, TFU 2 jari di bawah
pusat, kontraksi baik.

Berdasarkan dari data di atas ditegakkan diagnosa berdasarkan manajemen


Varney yaitu Ny.M P2A0 6 jam post partum. Dari data tersebut tidak ditemukan
suatu masalah pada Ny. M. Sesuai dengan teori Varney bahwa masalah potensial
ditegakkan bila terdapat data yang mendukung dan tindakan segera tidak
dilakukan karena tidak ada kondisi pasien tidak mendukung. Maka dibuat rencana
yang sudah dilakukan pada pukul 10.30 WIB yang sesuai dengan kebutuhan klien
seperti menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu, Hal itu bertujuan untuk
menciptakan hubungan saling percaya antara keluarga dan tenaga kesehatan ( Ika,
Pantikawati, 2010: 110 )
Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan diet nasi, sayuran, lauk
pauk, buah-buahan dengan porsi 2 x lebih banyak dari biasa. Nasi (500 gr),
sayuran 1 mangkuk (400 gr), lauk (250 gr/potong) , buah-buahan (200 gr).
Memberitahu ibu untuk memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan tanpa makanan
tambahan.

2.Post Partum 1 hari


Pada tanggal 12 April 2015 Ny.M mengatakan perutnya kadang masih
terasa mulas dan bayinya sudah mendapatkan ASI yang cukup. Dari hasil
pemeriksaan objektif tidak ditemukan kelainan pada ibu nifas hari ke 1 yang di
dapat hasil K/U ibu baik, TTV yaitu TD : 110/70 mmHg, Nadi 84x/menit, RR:
23x/menit, S:36,40C. Kontraksi uterus baik, TFU 2 jari di bawah pusat,
perdarahan normal, lochea rubra.Berdasarkan data subjektif dan objektif diatas

maka ditegakkan diagnosa Ny.M P2A0, post partum hari ke 1. Tidak ditemukan
masalah dalam masa nifas Ny.M.
Menjelaskan kepada ibu dan keluarga bahwa saat ini ibu dalam keadaan
baik. Menganjurkkan ibu untuk terus menerus memberikan ASI pada bayinya
sesuai dengan kebutuhan dengan posisi yang bener karena gerakan isapan bayi
yang berirama dan mengahasilkan rangsangan saraf akan memacu sekesi ASI
lebih banyak dan dapat mencegah Ikterik pada bayi dan meberikan ASI eksklusif
sampai 6 bulan. Menjelaskan kembali tentang bahaya nifas dengan keluar darah
banyak, pusing yang hebat, demam tinggi .Menjelaskan kembali kepada ibu agar
selalu memberi ASI ke bayinya dengan kedua payudaranya.Memberitahu kepada
ibu untuk melakukan kunjungan ulang pada tanggal 18 April 2015
3.Post Partum 6 Hari
Pada tanggal 18 Apri 2015 Ny.M melakukan kunjungan ke BPM Theresia.
Dari hasil pemeriksaan objektif tidak ditemukan kelainan pada ibu nifas hari ke 6
yang di dapat hasil K/u ibu baik, TTV yaitu TD : 110/70 mmHg, Nadi 84x/menit,
RR:21x/menit, S:36,20C. Pengeluaran lochea Sanguinolenta(Merah Kecoktan),
menurut Rustam Mochtar, 2012 lochea Sanguinolenta berlangsung dari hari ke-3
sampai hari ke-7 post partum. Hal tersebut adalah normal dan sesuai dengan teori.
tidak terdapat tanda-tanda infeksi, anogenitalia bersih, dan tidak berbau
menyengat. Berdasarkan data subjektif dan objektif diatas maka ditegakkan
diagnosa Ny.M P2A0 nifas hari ke 6. Tidak ditemukan masalah dalam masa nifas
Ny.M. Menjelaskan kepada ibu bahwa ibu dalam keadaan baik. (ibu sudah
mengetahui hasil pemeriksaan). Menganjurkan ibu kembali 1 minggu lagi untuk
atau kunjungan ulang bila ada keluhan.

4.Post Partum 14 Hari.


Pada tanggal 25 April 2015 bidan melakukan kunjungan ke rumah pasien,
bidan melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital yaitu: TD:110/70 mmhg, N:
84x/menit, T:36,4 C, RR: 23x/menit. Pengeluaran lochea serosa(berwarna
kuning), menurut Rustam Mochtar, 2012 lochea serosa berlangsung dari hari ke 7
-14 Post partum. Hal tersebut adalah normal dan sesuai dengan teori. tidak
terdapat tanda-tanda infeksi, anogenitalia bersih, dan tidak berbau menyengat.
Berdasarkan data subjektif dan objektif diatas maka ditegakkan diagnosa Ny.M
P2A0 nifas hari ke 14. Tidak ditemukan masalah dalam masa nifas Ny.M.
Menjelaskan kepada ibu bahwa ibu dalam keadaan baik. (ibu sudah mengetahui
hasil pemeriksaan)
Menjelaskan tentang ASI ekslusif selama bayi sampai usia 6 bulan, ASI
sudah dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, ASI juga sangat baik untuk daya
tahan tubuh bayi, meningkatkan kecerdasan, menyusui dapat menjalin kasih
sayang ibu dan bayi, melindungi bayi dari alergi, terkadang bayi rewel membuat
ibu khawatir bayi kekurangan asupan nutrisi dari ASI, namun sampai usia 6 bulan
ASI sudah dapat memenuhi semua kebutuhan nutrisi bayi dan cukup untuk
pertumbuhan dan perkembangan bayi.
Konseling menjelaskan tentang macam macam KB seperti ada IUD,
implant, pil, steril, alamiah, dan suntik. KB IUD yaitu KB yang dimasukkan
kedalam rahim yang megandung tembaga, Kontrasepsi ini sangat efektif
digunakan bagi ibu yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi yang mengandung
hormonal, Implant adalah kontrasepsi yang dimasukkan kedalam bawah kulit,
yang memiliki keefektivitasan yang cukup tinggi, KB pil biasanya ibu akan

mendapat haid teratur dan mengurangi desminore, KB steril mempunyai


efektivitas yang sangat tinggi, kontrasepsi yang hanya dilakukan atau dipasang
sekali, KB alamiah tidak ada efek samping namun keefektifan dari metode
kontrasepsi alamiah sangat kecil karena perlu kemauan dan kedisiplinan yang
kuat, KB suntik tingkat keefektivitasannya tinggi, tidak menggagu pengeluaran
pengeluaran ASI.Mengatakan pada ibu bahwa akan akan dilakukan pemeriksaan
nifas lagi pada 4 minggu lagi.
5.Post Partum 40 hari
Pada tanggal 23 Mei 2015 Ny.M datang ke BPM mengatakan tidak ada
keluhan.

Bidan

melakukan

pemeriksaan

tanda-tanda

vital

yaitu:

TD:110/70mmHg, N:84x/menit, RR:24x/menit, S:36,4C. Pengeluaran lochea alba,


menurut Sitti Saleha, 2009 lochea alba berlangsung dari hari ke-14 sampai 40 hari
post partum. Berdasarkan data subjektif dan objektif diatas maka ditegakkan
diagnosa Ny. M P2A0 nifas hari ke 40. Tidak ditemukan masalah dalam masa nifas
Ny.D. Menjelaskan kepada ibu bahwa ibu dalam keadaan baik.
Menjelaskan kembali tentang ASI ekslusif selama bayi sampai usia 6
bulan, ASI sudah dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, ASI juga sangat baik
untuk daya tahan tubuh bayi, meningkatkan kecerdasan, menyusui dapat menjalin
kasih sayang ibu dan bayi, melindungi bayi dari alergi, terkadang bayi rewel
membuat ibu khawatir bayi kekurangan asupan nutrisi dari ASI, namun sampai
usia 6 bulan ASI sudah dapat memenuhi semua kebutuhan nutrisi bayi dan cukup
untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi

D.Keluarga Berencana
Ibu P2A0 datang ke BPM Theresia,Amd.Keb tanggal 28 april 2015. Ibu
memiliki riwayat persalinan yang pertama pada tahun 2007 dan yang kedua pada
tahun 2015. Riwayat menstruasi ibu yaitu menarche 13 tahun, siklus 28 hari,
lamanya 6-7 hari, tidak Disminorhoe, sifat darah cair, banyaknya 2-3 kali ganti
pembalut. Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit seperti jantung,
DM<hipertensi, asma, kanker/tumor. Pada pemeriksaan didapatkan hasil TD
110/70 mmHg, nadi 82x/menit, pernafasan 23x/menit, suhu 36,5 0C. Kemudian
menjelaskan tentang KB suntik 3 bulan yaitu meliputi keuntungan, kerugian, serta
efek samping yang mungkin terjadi. Hal ini sesuai dengan langkah SATU TUJU.
KB suntik 3 bulan tidak akan mempengaruhi produksi ASI , jadi baik digunakan
oleh ibu yang masih menyusui. Penulis melakukan penyuntikan secara
intramuscular pada daerah bokong, 1/3 spina iliaka anterior-sacrum. Penulis
memberitahu kepada ibu untuk kunjungan ulang berikutnya pada tanggal 22 juli
2015.

DAFTAR PUSTAKA

Arisman.2004.Buku Ajaran Ilmu Gizi, Jakarta; EGC


Anggraini,Yetti. 2011. Asuhan Kebidanan Masa Nifas dan Kb. Yogyakarta;
Pustaka Rihana
Bobak (2000). Buku Ajaran Keperawatan Maternitas edisi 4. Jakarta; EGC
Cunningham, F . G. 2006. Obstetri Williams . Jakarta ; EGC
Fraser, M Cooper.2009. Buku Ajaran Bidan Myles edisi 14. Jakarta; EGC
Depkes RI.2013. Millenium Development Goals
Helen, Varney, 2004. Asuhan Kebidanan Penerbit Buku Kedokteran. Yayasan
Bina Pustaka
Helen, Varney,dkk. 2010. Buku Saku Bidan. Jakarta; EGC
Manuaba, Dkk. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Kb. Jakarta;
EGC
Manuaba..1998. Obsetri Penerbit Fakultas Kedokteran Airlangga.Yayasan Bina
Pustaka

Manuaba IBG, Manuaba IAC, Manuaba IBF. Ilmu Kebidanan penyakit


kandungan dan KB untuk pendidikan bidan edisi 2. Jakarta:EGC ;2010
Mochtar Rustam, MPH.1998. Sinopsis Obstetri Jilid 1 .Jakarta; EGC
Prawiharjo Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan, Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono
Prawiharjo
Prawiharjo Sarwono.2011.Ilmu Kebidanan, Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Prawihardjo
Profil Kesehatan Provinsi Lampung tahun 2013
Syaifuddin, A. B.2009. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo
Oxorn Harry,William R.Forte.Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi
Persalinan .Yayasan Bina Pustaka
DAFTAR ISI

Halaman judul...............................................................................................i
Kata pengantar.............................................................................................ii
Daftar isi.......................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................1
A. Tujuan.................................................................................................1
B. Manfaat...............................................................................................2
C. Alokasi Waktu dan Tempat Praktik....................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................3
A.
B.
C.
D.
E.

Kehamilan...........................................................................................3
Persalinan..........................................................................................43
Bayi Baru Lahir................................................................................77
Nifas..................................................................................................93
Keluarga Berencana........................................................................118

BAB III ASUHAN KEBIDANAN...........................................................161

A. Asuhan kebidanan pada ibu hamil terhadap Ny. M Di Bpm Theresia


Suwarni Bulan Maret 2015.............................................................161
B. Asuhan kebidanan komprehensif pada ibu bersalin terhadap Ny. A Di Bpm
Theresia Suwarnia Bulan April 2015..............................................124
C. Asuhan kebidanan komprehensif pada ibu nifas terhadap Ny.A Di
Bpm Theresia Suwarni April 2015.................................................138
D. Asuhan kebidanan komprehensif pada keluarga berencana terhadap
Ny. A Di Bpm Theresia Suwarni Bulan April 2015......................148
BAB IV PEMBAHASAN.........................................................................154
A.
B.
C.
D.

Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ibu Hamil........................154


Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ibu Bersalin....................156
Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ibu Nifas.........................159
Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Keluarga Berencana........161

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN....................................................257


A.
Kesimpulan.....................................................................................257
B.
Saran...............................................................................................257
DAFTAR PUSTAKA