Anda di halaman 1dari 39

UPRAVENTRIKULA

TAKIKARDI
dr. Vanny Gitanisa

RS . ISLAM SAMARINDA

Identitas Pasien

Nama
: Nn. A
Usia : 21 th
Pekerjaan : Mahasiswi
Alamat
: Kota Bangun
Agama
: Islam
Tgl Masuk RS: 20 desember 2015
17. 30 WITA

ANAMNESA
Keluha
n
Utama

Rasa Berdebar debar


disertai dengan nyeri
dada sebelah kiri sejak
4 jam SMRS

Riwayat
Penyakit
Sekarang

Pasien tiba
tiba merasakan
debar debar,
yang disertai
dengan nyeri
dada sebelah
kiri dan tidak
menjalar.

Tidak disertai
dengan sesak
napas.
Disertai dengan
nyeri ulu hati
dan tersa mual
tanpa muntah.

Riwayat
Penyaki
t
Dahulu

disangkal

Riwayat
Penyaki
t
Keluarg
a
disangkal

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Sakit Sedang, tampak
lemah
Kesadaran/GCS: Compos Mentis / GCS 456
Tanda Vital :
Tekanan darah
: 90/60 mmHg
Nadi
: 184 kali/menit
Suhu
: 36.7 C
Pernafasan
: 28 kali/menit

PEMERIKSAAN FISIK
Kepala : Normocephali, deformitas (-)
Mata
: Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/THT: Normotia, normosepta, faring tidak hiperemis,
tonsil T1-T1
Leher : Kelenjar tiroid dan KGB tidak teraba
membesar
Jantung : Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop
(-)
Paru
: Suara nafas vesikuler pada kedua lapang
paru, ronki (-),wheezing (-)
Abdomen: Datar,supel,bising usus (+)normal, nyeri
tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

Ekstremitas: Akral hangat, edema


(-), crt <2

PEMERIKSAAN PENUNJANG
EKG

Pemeriksaan Laboratorium
DARAH RUTIN
20 Desember 2015
Tes
Hasil
Rujukan
Hemoglobin

15,0

11-17 g/dl

Leukosit

10,6

4-12 x (103/uL)

Eritrosit

4,91

(4-6)x106/mm3

Hematokrit

44,1

35-55%

MCV

89,8

80-100 fl

MCH

30,5

26-34 pg

MCHC

34,0

31-36 g/dl

Trombosit

343

(150-400)x103/mm3

DIAGNOSIS

SUPRAVENTRIKULAR
TAKIKARDI

TATALAKSANA
IGD
Konsul dr. F, Sp.JP
IVFD RL 25 tpm
Inj. Cordarone bolus
amp I.V
Lanjutkan cordarone
amp dalam PB D5%
selama 10 menit
Inj. Ranitidin 1amp I.V

RUANG
AN

20 Desember 2015
Inj. Cordarone Stop
Miniten 1x2,5 mg Per
Oral
Rencana Echocardiograf
21 Desember 2015
Boleh Pulang
Rencana echocardiograf
Kontrol

UPRAVENTRIKULA
TAKIKARDI

Supraventrikular takikardi (SVT) adalah


satu jenis takidisritmia yang ditandai
dengan perubahan laju jantung yang
mendadak bertambah cepat berkisar
antara 150 kali/menit sampai 250
kali/menit.

Etiologi
SVT dipicu oleh mekanisme reentry. Hal ini
dapat disebabkan oleh denyut atrium prematur
atau denyut ektopik ventrikel. Pemicu lainnya
termasuk hipertiroidisme dan stimulan (seperti :
kafein, obat-obatan, dan alkohol).

Elektrofisiologi
Gangguan irama jantung secara elektrofisiologi
disebabkan oleh :
Gangguan pembentukan rangsang
Gangguan konduksi
Gangguan pembentukan rangsang dan
konduksi

Gangguan pembentukan rangsang


Gangguan ini dapat terjadi secara aktif atau
pasif.
Aktif
irama ektopik
Pasif
escape rhythm

Gangguan pembentukan rangsang dapat


menyebabkan
Escape beat (denyut pengganti)
Active ectopic firing
Reentry terjadi bila pada sebagian otot
jantung mengalami blokade unidirectional.

Gangguan konduksi atau


blokade

Blokade mengakibatkan tidak adanya aliran


rangsang yang sampai ke bagian miokard
yang seharusnya menerima rangsang untuk
dimulainya kontraksi.
Blokade ini dapat terjadi pada tiap bagian
sistem hantaran rangsang.

Gangguan pembentukan rangsang


dan konduksi
Gangguan irama jantung dapat terjadi
sebagai akibat gangguan pembentukan
rangsang bersama gangguan hantaran
rangsang.

Manifestasi klinis

Palpitasi
Dizziness
Sesak napas
Sinkop
Nyeri dada
Kelelahan
Diaforesis
Mual

Diagnosis
Anamnesis
Dalam menganamesis pasien dengan
SVT, klinisi harus mengetahui durasi dan
frekuensi episode SVT, onset, penyakit
jantung sebelumnya, dan hal-hal yang
dapat memicu terjadinya SVT (alkohol,
kafein, pergerakan yang tiba-tiba, stres
emosional, kelelahan, dan pengobatan).

Pemeriksaan fisik
- Nadi : Takikardi
- Respirasi : normal atau takipneu pada pasien
gangguan hemodinamik
- Tensi : hipotensi pada pasien gangguan
hemodinamik
- Leher : Pulsasi vena jugularis dapat terlihat

- Toraks : jantung :
auskultasi : Crackles dapat terdengar
pada gagal jantung, S3 dapat dijumpai.

Pada pemeriksaan fisik pada saat episode


dapat menunjukkan frog sign (penonjolan
vena jugularis, gelombang yang timbul
akibat kontraksi atrium terhadap katup
trikuspid yang tertutup).

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Evaluasi enzim jantung
Kadar elektrolit
Tingkat Digoxin

Elektrokardiografi (EKG)
Presentasi EKG pada pasien dengan
SVT biasanya terdapat QRS kompleks
yang sempit (QRS interval kurang dari
120msec), tetapi beberapa kasus
dapat dijumpai QRS kompleks yang
lebar jika berhubungan dengan pre
existing or rate related bundle branch
block.

Rontgen toraks
Rontgen toraks untuk menilai adanya
edema paru dan kardiomegali.

Ekokardiografi
Dipertimbangkan pada pasien untuk
memeriksa adanya gangguan
struktural jantung walaupun hal ini
jarang ditemukan. Kebanyakan pasien
normal.

Diagnosis banding

Atrial fibrillation
Atrial flutter
Atrial tachycardia
Sinus tachycardia
Ventricular tachycardia

Penatalaksanaan
Adenosine
Dosis adenosine yang diberikan 6-12 mg
secara IV.
Efek samping khas adenosin termasuk
flushing, nyeri dada, dan dizziness.
Efek ini bersifat sementara karena adenosin
memiliki waktu paruh yang sangat pendek
10-20 detik .

Verapamil dan Diltiazem


Verapamil dan Diltiazem adalah obat golongan
Ca channel blocker.
Ca channel blocker :
membantu untuk mempertahankan irama
sinus setelah penghentian SVT
Mengendalikan laju ventrikel pada pasien
dengan takiaritmia atrial.

Dosis

Verapamil yang diberikan 5-10 mg IV atau


diltiazem 0,25 0,35 mg/kgbb IV. Keduanya
diberikan saat Adenosine dan manufer vagal
gagal.

Kardioversi listrik
Metode yang paling efektif untuk
memulihkan irama sinus.
Kardioversi Synchronized mulai 50J dapat
digunakan pada pasien yang hipotensi,
edema paru, nyeri dada dengan iskemia,
atau pada pasien dengan kondisi yang
tidak stabil.

Komplikasi

Gagal jantung
Edema paru
Iskemia miokard
Infark miokard sekunder untuk detak
jantung meningkat pada pasien dengan
fungsi ventrikel kiri yang buruk.
Sinkop atau dibutuhkan kardioversi.

Prognosis
Prognosis pada SVT tergantung pada
penyakit jantung struktural yang
mendasari.
Pasien dengan struktural jantung yang
normal memiliki prognosis yang sangat
baik .

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai