Anda di halaman 1dari 19

A.

Definisi Polietilena
Polietilena adalah polimer yang terdiri dari rantai panjang monomer etilena dan merupakan
bahan thermoplastic sebagai bahan baku plastic. Polietilena dibentuk melalui polimerisasi
dari etena, seperti yang ditunjukkan gambar berikut :

Gambar 1. Polimerisasi Polietilena

Terdapat 2 jenis polietilena, yaitu polietilena dengan rantai liniear dan polietilena dengan
rantai bercabang.

Gambar 2. Polietilena rantai linear


Sumber : http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/makromolekul/sifat-%E2%80%93-sifatpolimer/

Gambar 3. Polietilena rantai bercabang


Sumber : http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/makromolekul/sifat-%E2%80%93-sifatpolimer/

B. Sifat Fisik Polietilena


Titik leleh polietilen sangat bervariasi bergantung pada tipe polietilena. Pada tingkat
komersil, polietilena berdensitas menengah dan tinggi, titik lelehnya berkisar 120 oC hingga
135oC. Titik leleh polietilena berdensitas rendah berkisar 105oC hingga 115oC.
1

Kebanyakan LDPE, MDPE, dan HDPE mempunyai tingkat resistansi kimia yang sangat

baik dan tidak larut pada temperatur ruang.


Polietilena umumnya bisa dilarutkan pada temperatur yang tinggi dalam hidrokarbon
aromatik seperti toluena atau xilena, atau larutan terklorinasi seperti trikloroetana atau
triklorobenzena .

C. Sejarah Pembuatan Polietilena


Polietilena pertama kali disintesis oleh ahli kimia Jerman bernama Hans von Pechmann
yang melakukannya secara tidak sengaja pada tahun 1899 ketika sedang memanaskan
diazometana.
Kegiatan sintesis polietilena secara industri pertama kali dilakukan, lagi-lagi, secara tidak
sengaja, oleh Eric Fawcett dan Reginald Gibson pada tahun 1933 di fasilitas ICI di
Northwich, Inggris. Ketika memperlakukan campuran etilena dan benzaldehida pada
tekanan yang sangat tinggi, mereka mendapatkan substansi yang sama seperti yang
didapatkan oleh Pechmann.
Kegiatan sintesis polietilena secara industri pertama kali dilakukan, lagi-lagi, secara tidak
sengaja, oleh Eric Fawcett dan Reginald Gibson pada tahun 1933 di fasilitas ICI di
Northwich, Inggris. Ketika memperlakukan campuran etilena dan benzaldehida pada
tekanan yang sangat tinggi, mereka mendapatkan substansi yang sama seperti yang
didapatkan oleh Pechmann. Reaksi diinisiasi oleh keberadaan oksigen dalam reaksi
sehingga sulit mereproduksinya pada saat itu. Namun, Michael Perrin, ahli kimia ICI
lainnya, berhasil mensintesisnya sesuai harapan pada tahun 1935, dan pada tahun 1939
industri LDPE pertama dimulai.

D. Klasifikasi Polietilena
Polietilena terdiri dari berbagai jenis berdasarkan kepadatan dan percabangan molekul.
Sifat mekanis dari polietilena bergantung pada tipe percabangan, struktur kristal, dan berat
molekulnya.
Klasifikasi Polietilena berdasarkan massa molekul
Polietilena bermassa molekul sangat tinggi (Ultra high molecular weight polyethylene)
(UHMWPE)
Massa molekul sangat tinggi hingga jutaan.
Membentuk struktur kristal yang tidak efisien.
2

Kepadatan lebih rendah dari HDPE.


Digunakan sebagai bahan onderil pada mesin pembawa kaleng dan botol, roda giig, bahan
anti peluru.
Polietilena bermassa molekul sangat rendah (Ultra low molecular weight polyethylene)
(ULMWPE atau PE-WAX)
Polietilena bermassa molekul tinggi (High molecular weight polyethylene) (HMWPE)
Klasifikasi Polietilena berdasarkan densitas
Tabel 1. Polietilen Berdasarkan Densitas
Jenis

Densitas [g/cm3]

Karakteristik

HDPE

>= 0.941

memiliki derajat rendah dalam percabangannya dan memiliki


kekuatan antar molekul yang sangat tinggi dan kekuatan tensil

MDPE

0.9260.940

ketahanan yang baik terhadap tekanan dan kejatuhan. Untuk


pipa gas

LDPE

0.9100.940

memiliki derajat tinggi terhadap percabangan rantai panjang dan


pendek, yang berarti tidak akan berubah menjadi struktur kristal.
Ini juga mengindikasikan bahwa LDPE memiliki kekuatan antar
molekul yang rendah

LLDPE

0.9150.925

polimer linier dengan percabangan rantai pendek dengan


jumlah yang cukup signifikan. kekuatan tensil yang lebih tinggi
dari LDPE, dan memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap
tekanan

VLDPE

0.8800.915

polimer linier dengan tingkat percabangan rantai pendek yang


sangat tinggi

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Polietilena

E. Kegunaan Polietilena
Polietilena digunakan pada berbagai benda untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti
Kantong palstik, botol plastik, film, cetakan
Pembungkus kabel modern
Pembungkus makanan beku
3

Berbagai turunan polietilena juga banyak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya

Tabel 2. Berbagai
turunan Polietilena dan
Turunannya. (lingkaran
merah)

Gambar 4. Aplikasi Polietilena

F. Reaksi Polimerisasi Polietilen


Polimerisasi adalah penggabungan molekul-molekul pendek atau monomer menjadi
molekul yang sangat panjang. Berdasarkan peristiwa yang terjadi selama reaksi, maka
polimerisasi dibagi menjadi tiga jenis yaitu: polimerisasi adisi dan polimer kondensasi.
Jenis polimerisasi yang terjadi pada pembentukan polietilen adalah polimerisasi adisi.
Polimerisasi adisi terjadi pada monomer-monomer yang sejenis dan mempunyai ikatan tak
jenuh (rangkap). Proses polimerisasi diawali dengan pembukaan ikatan rangkap dari setiap
4

monomernya, dilanjutkan dengan penggabungan monomer-monomernya membentuk


rantai yang lebih panjang dengan ikatan tunggal.
Mekanisme polimerisasi adisi dari pembentukan polietilena terdiri dari tiga tahap: Inisiasi,
Propagasi, dan Terminasi.
1. Inisiasi.
Untuk tahap pertama ini dimulai dari penguraian inisiator dan adisi molekul monomer pada
salah satu radikal bebas yang terbentuk. Bila kita nyatakan radikal bebas yang terbentuk
dari inisiator sebagai R, dan molekul monomer dinyatakan dengan CH2 = CH2, maka
tahap inisiasi dapat digambarkan sebagai berikut:

2. Propagasi
Dalam tahap ini terjadi reaksi adisi molekul monomer pada radikal monomer yang
terbentuk dalam tahap inisiasi

Bila proses dilanjutkan, akan terbentuk molekul polimer yang besar, dimana ikatan rangkap
C= C dalam monomer etilen akan berubah menjadi ikatan tunggal C C pada polimer
polietilen

3. Terminasi
Dapat terjadi melalui reaksi antara radikal polimer yang sedang tumbuh dengan radikal
mula-mula yang terbentuk dari inisiator atau antara radikal polimer yang sedang tumbuh
5

dengan radikal polimer lainnya, sehingga akan membentuk polimer dengan berat molekul
tinggi.

Pembuatan LDE, HDPE, LLDPE


LDPE dihasilkan dari gas etilen dengan proses bertekanan tinggi (1000-3000 bar) pada suhu 80300C.

HDPE dihasilkan dari gas etilen dengan proses bertekanan rendah (10-80 bar) pada suhu 70300C.

.
LLDPE dihasilkan dari gas etilen dengan proses bertekanan rendah (10-80 bar) pada suhu 70300C dengan tambahan monomer lain seperti butena, heksena, atau oktena.
Dengan butena:

Dengan heksena:

Dengan oktena:

Tabel 3. Perbandingan LDPE, HDPE, dan LLDPE


LDPE
etilena

Bahan baku

HDPE
etilena

LLDPE
etilena
+ butena/ heksena/
oktena

Struktur

Jenis rantai

cabang pendek &

cabang pendek

cabang pendek

Densitas (g/cm )
Tekanan operasi (bar)

panjang
0.9100.940
tinggi

>= 0.941
rendah

0.9150.925
rendah

Proses produksi

1000-3000
proses tekanan tinggi

10-80
solution, gas, slurry

10-80
solution, gas, slurry

Aplikasi

(ICI)
plastik
pembungkus
bahan pembuat
tas dan jaket
insulasi untuk
kabel
terpal

botol deterjen
botol susu
Tupperware
tangki
pipa

plastik

pembungkus
kantong plastic
pembungkus kabel

tegangan rendah
kursi plastic
ember
gelas dan piring
plastik

G. Proses Sintesis Polietilena di Industri


Sebagian besar proses produksi PE memiliki beberapa kesamaan umum. Kemiripan antara
proses tersebut mengikuti diagram polimerisasi olefin yang ditunjukkan pada diagram
dibawah ini:

Bahan baku dan aditif harus dimurnikan dan bahan katalis harus disiapkan terlebih dahulu.
Untuk kasus proses pada tekanan yang tinggi, gas harus dikompresi dalam beberapa tahap.
Polimerisasi terjadi baik di fase gas (fluidized bed atau CSTR), fase cair (suspensi atau
larutan), atau dalam tekanan tinggi. Polimerisasi adalah jantug proses, pada setiap satu
unit, hanya satu dari tiga proses digunakan. Polimer partikel ini kemudian dipisahkan dari
monomer dan pelarut, kemudian dibentuk pelet, dikeringkan dan dikirim. Monomer dan
pelarut di recovery kembali kedalam feed.
1. Polimerisasi Fase Gas
Proses polimerisasi fase gas pertama kali ditemukan oleh Union Carbide pada tahun 1977,
dan dipatenkan dengan nama Unipol process. Teknologi polimerisasi fase gas juga
dikembangkan oleh British Petroleum Company. Teknologi ini hemat secara ekonomi,
fleksibel, dan memiliki kisaran yang luas dalam penggunaan katalis padat [Kirk Othmer, et
al. 1998]. Berikut adalah diagram proses pembuatan polietilen dengan proses Unipol:

Gambar 5. Polimerisasi fasa gas ( Union Carbide)


Proses Unipol menggunakan reaktor fluidized bed dengan bentuk silinder dan ada bagian
yang mengembang dibagian atas reaktor untuk menurunkan kecepatan gas sehingga
memungkinkan entrained particles polymer jatuh kembali ke dalam unggun (bed).

Tinggi reaktor dapat mencapai 25 meter,

Reaktor beroperasi pada tekanan 1,5-2,5 MPa (15-25 atm)

Temperatur operasi 70 sampai 95 oC.

Gas ethylene, comonomer (1-butene) dan hidrogen dimasukkan ke dalam reaktor melalui
perforated distribution plate di bagian bawah reaktor yang sebelumnya telah melewati
tahapan pemurnian terlebih dahulu. Katalis diumpankan ke dalam reaktor melalui catalyst
feeder yang terletak disamping reaktor. Katalis padat yang digunakan adalah katalis TiCl 4
digabungkan dengan Co-catalyst TEAL (Try Ethyl Alumunium) sehingga membentuk katalis
Ziegler-Natta. Partikel katalis tinggal dalam reaktor selama 2.5 sampai 4 jam. Aliran Gas dari
bawah dan katalis dari samping akan menyebabkan terjadinya fluidisasi, sehingga diharapkan
akan terjadi reaksi polimerisasi yang akan membentuk resin polyethylene dalam bentuk yang
hamper eragam. Pada saat start-up digunakan benih resin untuk membantu mempercepat
proses polimerisasi, diharapkan dengan adanya benih resin tersebut proses fluidisasi dapat
berlangsung sempurna. Panas yang dihasilkan dari reaksi polimerisasi ditransfer ke dalam
Cycle Gas Cooler dengan bantuan air pendingin untuk menjaga kestabilan temperatur di
reaktor. Jika diperlukan, sebagian dari aliran Cycle Gas dibuang ke flare melalui Product
Purge Bin untuk menjaga kestabilan tekanan reaktor dapat juga ditambahkan condensing
agent untuk membantu transfer panas di Cooler. Kecepatan Superficial Cycle Gas yang
masuk ke dalam reaktor berkisar antara 0.68-0.72 m/s, kecepatan ini dianggap dapat
memfluidisasi resin dengan sempurna untuk membantu mempercepat proses polimerisasi.
Reaktor yang digunakan dilengkapi dengan dua sistem pengeluaran produk yang dapat
bekerja secara bergantian (Cross tie mode) dalam keadaan normal. Cara kerjanya berdasarkan
perbedaan ketinggian unggun di dalam reaktor pada Control Set Reactor. Karena setiap
terbentuk resin polyethylene baru, akan memberikan variabel naiknya ketinggian unggun
hingga ketinggian tertentu. Setelah Level Set mendeteksi ketinggian tertentu yang telah
ditetapkan dan ketinggian tersebut telah mencapai delay time yang telah ditetapkan biasanya
selama 5 detik, maka terjadi pengeluaran produk secara otomatis. Jika Level Set telah dicapai
namun delay time belum terpenuhi maka pengeluaran produk tidak akan terjadi. Resin
polyethylene yang berupa powder (= 500-900 m, tergantung tipe katalis yang digunakan)
dikeluarkan dari reaktor menuju Pruduct Chamber untuk selanjutnya ditranfer lagi ke
Product Blow Tank (PBT), dari PBT di transfer ke Pruduct Purge Bin (PPB). Keseluruhan
sistem pengeluaran sistem kemudian disebut Product Discharge System (PDS) [Kirk Othmer,
et al. 1998].

10

Pada proses Unipol, reaktor polimerisasi fluidized bed dioperasikan tanpa zona
pengurangan kecepatan atau cyclone untuk memisahkan partikel yang bagus dari gas,
ternyata memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan yang pertama adalah pembentukan
lembaran yang curam di dinding atau kerak pada zona transisi dapat dihilangkan. Hasilnya
akan mengurangi shutdown pada reaktor. Keuntungan yang kedua adalah kedalaman dari
area bed polimerisasi dapat divariasikan sehingga output reaktor dapat ditingkatkan dengan
kondisi operasi yang bagus pula.
Pada proses polimerisasi fase gas untuk teknologi BP (British Petroleum), katalis
Ziegler-Natta dan metallocene dimasukan dalam reaktor fluidized-bed. Pengendalian
terhadap sifat propertis produk, seperti titik lebur dan densitas dilakukan oleh komposisi gas
proses dan kondisi operasi. Reaktor didesain agar terjadi mixing yang sempurna dan
temperatur yang seragam.

Gambar 6.
polimerisasi fasa
gas (BP process)

Kondisi tekanan operasi pada bed adalah 20 bar

Temperatur operasi antara 75 sampai 100 C


Partikel polimer terbentuk di reaktor fluidized bed dimana campuran gas ethylene,
comonomer, hydrogen dan nitrogen terfluidiskan. Partikel polimer yang bagu akan
meninggalkan reaktor bersama gas yang tertangkap oleh cyclone, yang merupakan
keunikan dari proses BP, yang akan direcycle kembali kedalam reaktor. Cyclone berfungsi
juga untuk mencegah terkontaminasinya produk pada saat transisi. Gas yang tidak bereaksi
didinginkan dan dipisahkan dari berbagai cairan, dikompes kemudian dikembalikan
kedalam reaktor. Produk yang dihasilkan memiliki spesifikasi yaitu densitasnya 0,919
g/cm3, titik leleh 1,0 g/10 menit, dan ketebalan 0,038 mm. Polimer berbentuk powder yang
11

kemudian ditambahkan zat addiktif dan kemudian disimpan dalam storage [Petrochemical
Procesess. 2005].
2.

Polimerisasi Larutan
Proses larutan telah dikembangkan oleh beberapa perusahaan meliputi Du Pont, Dow, dan
Mitsui untuk membuat LLDPE. Keuntungannya adalah dapat dengan mudah menangani
banyak jenis dari comonomer dan densitas produk tergantung katalis yang dipakai.

Gambar 7. Polimerisasi larutan (Du Pont)

Penjelasan flowsheet proses Du Pont yaitu Ethylene dilarutkan dalam pelarut (diluent)
seperti heksana atau sikloheksana, kemudian dipompakan ke dalam reaktor pada tekanan
10 MPa. Tahapan reaksi merupakan proses adiabatis dan temperatur reaksinya adalah
sekitar 200-300 oC. Umpan mengandung ethylene sebesar 25 wt% dimana 95% terkonversi
menjadi polyethylene dalam reaktor. Waktu tinggal dalam reaktor selama 2 menit. Katalis
yang dipakai yaitu campuran dari VOCl3 dan TiCl4 diaktifasi oleh kokatalis alkylaluminum,
Larutan polyethylene yang meninggalkan reaktor diolah dengan zat deaktifasi dan
kemudian campurannya melewati alumina dimana residu dari katalis yang sudah
dideaktifasikan diadsorb. Pelarut dan comonomer yang tidak bereaksi diuapkan dalam
tahap depressurization. Setelah ekstrusi menjadi pellet, penghilangan pelarut dilakukan

12

dengan melewatkan aliran gas panas melewati tumpukan pellet. Kelemahan dari proses ini
yaitu terdapatnya tahapan penghilangan katalis sehingga memperbesar biaya proses.
3.

Polimerisasi Suspensi (slurry Polimeryzation)


Teknologi ini merupakan teknologi yang paling tua dalam pembuatan polyethylene. Philips
Petroleum Company telah mengembangkan proses slurry yang efisien untuk memproduksi
LLDPE. Reaktor dibangun menyerupai large folder loop yang mengandung serangkaian
pipa dengan diameter 0.5 sampai 1 meter.

Gambar 8. Polimerisasi suspensi (Phillips Petroleum)

Reaktor berbentuk double loop diisi dengan suatu pelarut ringan (biasanya isobutene), dan
mengelilingi loop dengan kecepatan tinggi secara kontinyu. Reaktor double loop bekerja
pada:

Tekanan 3,5 MN/m2

Temperatur 85 sampai 100C

Waktu tinggal rata-rata adalah 1,5 jam.


13

Katalis chromium/titanium.
Katalis disuspensikan oleh pelarut dan diumpankan ke dalam reaktor. Aliran campuran
mengandung ethylene dan comonomer (1-butene, 1-hexene, 1-oktene, atau 4-methyl-1pentene), dikombinasikan dengan diluent hasil recycle dan suspensi katalis, diumpankan ke
dalam reaktor. Dalam reaktor tersebut kopolimer etilen membentuk partikel-partikel yang
tumbuh berlainan disekitar partikel katalis.
Temperatur merupakan variabel operasi yang paling kritis dan harus selalu dikontrol
untuk menghindari terjadinya swelling (pengembangan) dari polimer. Setelah melewati
waktu tinggal antara 1.5 sampai 3 jam, resin mengendap secara singkat dalam tahap
pengendapan di tepi bawah loop dan dilepaskan menuju ke flash tank. Akhirnya pelarut dan
monomer yang terpisah masuk ke dalam sistem recovery pelarut untuk pemurnian dan
recycling.

H. Kebutuhan dan Kapasitas Produksi


Konsumsi poliolefin di dunia pada tahun 2009 adalah sebagai berikut:
Tabel 4. Konsumsi poliolefin di dunia pada tahun 2009
Jenis Poliolefin
LDPE
LLDPE
HDPE
PP

Persentase
16%
17%
27%
40%

I.

14

Global Polyolefin Consumption 2009

LDPE; 16%
PP; 40%

LLDPE; 17%

HDPE; 27%

Gambar 9. Konsumsi poliolefin di dunia pada tahun 2009


Sumber: Chemsystems. 2010. Global Polyolefins Market Dynamics

Penggunaan polietilen di dunia pada tahun 2010 adalah sebagai berikut:


Tabel 5. Penggunaan polietilen di dunia pada tahun 2010
Aplikasi
Fiber
Rotomolding
Raffia
Wire & Cable
Extrusion Coating
Pipe & Profile
Blow Molding
Injection Molding
Film & Sheet
Other

Persentase
1%
2%
2%
2%
3%
7%
12%
13%
51%
7%

15

World 2010 Total PE Demand by End Use


Other; 7%Fiber; 1%Rotomolding; 2% Raffia; 2%
Wire & Cable; 2%
Blow Molding;
Extrusion
Coating;12%
3%
Film & Sheet; 51%

Pipe & Profile; 7%


Injection Molding; 13%

Gambar 9. Penggunaan polietilen di dunia pada tahun 2010


Sumber: Rappaport, Howard. 2011. Ethylene & Polyethylene Global Overview

Produksi polietilen di Indonesia pada tahun 2011 adalah sebagai berikut:


Tabel 6. Produksi polietilen di Indonesia pada tahun 2011
Perusahaan
Chandra Asri
Titan Kimia
Impor

Persentase
55%
31%
14%

16

Produksi Polietilena di Indonesia (2011)


Impor; 14%

Titan Kimia; 31%

Chandra Asri; 55%

Gambar 10. Produksi polietilen di Indonesia pada tahun 2011


Sumber: Departemen Riset IFT

Diperlukannya impor polietilen disebabkan oleh kapasitas produksi dalam negeri


yang tidak mencukupi konsumsi masyarakat Indonesia, yaitu 800000 ton/tahun. PT.
Chandra Asri memproduksi polietilen sekitar 450000 ton/tahun, sementara PT. Titan
Kimia memproduksi polietilen sebesar 250000 ton/tahun. Rinciannya adalah sebagai
berikut:
Konsumsi
Produksi dalam negeri
Impor

Chandra Asri
Titan Kimia

800000 ton
450000 ton
250000 ton
100000 ton

Produk Polietilen Dalam Negeri


PT. Chandra Asri memasarkan produk polietilen-nya dengan merek ASRENE.
Jenis polietilen yang dihasilkan adalah LLDPE dan HDPE. Produk LLDPE dijual dalam
bentuk film dan injection. Produk HDPE dijual dalam bentuk blow molding, film, pipe,
injection, dan monofilament.
PT. Titan Kimia memasarkan produk polietilen-nya dengan merek TITANVENE.
Jenis polietilen yang dihasilkan adalah LLDPE dan HDPE. Produk LLDPE dijual dalam

17

bentuk film serta wire & cable. Produk HDPE dijual dalam bentuk blow molding, film,
pipe, dan tape/ filament.
Tabel 7. Produk polietilen dalam negeri
Perusahaan
Trademark Brand
Produk Polietilena
LLDPE

HDPE

Chandra Asri
ASRENE

Titan Kimia
TITANVENE

Film

Film

Injection
Blow molding

Wire & cable


Blow molding

Film

Film

Pipe

Pipe

Injection

Tape/filament

Monofilament

18

DAFTAR PUSTAKA
Anonym. Polietilena. http://id.wikipedia.org/wiki/Polietilena. (diakses tanggal 23 NOV 2015,
pukul 19.35 WIB).
Brydson, J.A. 1982. Plastics Materials. London: Butterworth Scientific.
Billmeyer, Fred. 1994. Textbook of Polymer Sciene. Singepore: John Wiley & Sons (SEA) pte.
Ltd
Chandra
Asri
Petrochemical.
Polyethylene
Products.
http://www.chandraasri.com/products_polyethylene.php (diakses 23 NOV 2015, 22.00 WIB)
Karina, Sandra. Butuh USD300 Juta Bangun Industri Hulu Polietilen.
http://techno.okezone.com/read/2010/11/22/320/395821/butuh-usd300-juta-bangun-industrihulu-polietilen (diakses 23 NOV 2015, 22.00 WIB)
Kementrian Perindustrian Republik Indonesia. Industri Petrokimia: Chandra Asri
Petrochemical Resmi Beroperasi. http://www.kemenperin.go.id/artikel/1470/IndustriPetrokimia:-Chandra-Asri-Petrochemical-Resmi-Beroperasi (diakses 23 NOV 2015, 22.00
WIB)
Lepoutre,
Priscilla.
The
Manufacture
of
Polyethylene.
ChemProcesses/polymers/10J.pdf (diakses 23 NOV 2015, 22.00 WIB)

http://nzic.org.nz/

Rachman, Vicky & Adi Teguh. Titan Kimia Anggarkan Belanja Modal US$ 7 Juta.
http://www.indonesiafinancetoday.com/read/6569/Titan-Kimia-Anggarkan-Belanja-ModalUS-7-Juta (diakses 23 NOV 2015, 22.00 WIB)
Siemens AG. 2007. Process Analytics in Polyethylene (PE) Plants. www.industry.usa.
siemens.com [diakses 23 NOV 2015, Pkl. 19.30]
Teguh, Adi & Rukmi Hapsari. Utilisasi Produksi Petrokimia Bisa Capai 90% di 2012.
http://www.indonesiafinancetoday.com/read/20616/Utilisasi-Produksi-Petrokimia-BisaCapai-90-di-2012 (diakses 23 NOV 2015, 22.00 WIB)
Titan Kimia Nusantara. Products. http://www.pttitan.com/Product/Products.asp (diakses 23
NOV 2015, 22.00 WIB)
Siemens AG. 2007. Process Analytics in Polyethylene (PE) Plants. www.industry.usa.
siemens.com [diakses 23 NOV 2015, Pkl. 19.30]
Zulfikar.
2010.
Sifat-sifat
Polimer.
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimiakesehatan/makromolekul/sifat-%E2%80%93-sifat-polimer/ (diakses 23 NOV 2015, pukul
18:34 WIB).

19