Anda di halaman 1dari 10

ETIKA AKUNTANSI DALAM BISNIS

Pendahuluan
Seiring dengan laju perekonomian dunia yang semakin cepat dan diberlakukannya
sistem perdagangan bebas dimana batas kita dan batas dunia akan semakin kabur, hal ini
jelas membuat semua kegiatan perekonomian saling berpacu satu sama lain untuk
mendapatkan kesempatan dan keuntungan. Biasanya, untuk mendapatkan kesempatan
dan keuntungan tersebut, secara tidak langsung akan memaksa orang untuk menghalalkan
segala cara dengan mengindahkan pihak yang dirugikan atau tidak. Dengan kondisi
seperti ini, pelaku bisnis kita jelas akan semakin berpacu dengan waktu serta negaranegara lainnya agar terwujud suatu tatanan perekonomian yang saling menguntungkan.
Namun perlu kita pertanyakan bagaimana jadinya jika pelaku bisnis dihinggapi kehendak
saling menindas agar memperoleh tingkat keuntungan yang berlipat ganda. Inilah yang
merupakan tantangan bagi etika bisnis sehingga etika dalam berbisnis itu menjadi salah
satu komponen yang amat penting untuk membentuk budaya berbisnis yang baik bagi
pelakunya.
Pembahasan
Etika Bisnis
Menurut Husein Umar dalam bukunya yang berjudul Metode Riset Bisnis,
terdapat sebuah model bisnis yaitu
Pada hakikatnya, transaksi-transaksi bisnis dilakukan di pasar (P1)
antara konsumen dan produsen (P2). Proses transaksi antara P1 dan

P2 dipengaruhi secara langsung maupun tidak langsung oleh


persaingan dan aspek eksternal lainnya (P3) (Umar, 2002)

Yang dimaksud pasar dalam kalimat di atas adalah kondisi pasar dimana ada permintaan
dan penawaran. Pasar disini berperan cukup penting karena tidak ada bisnis yang dapat
berjalan tanpa adanya permintaan dari produsen. Selain itu, peran konsumen dan
produsen juga dapat mempengaruhi jalannya suatu bisnis. Konsumen dan produsen harus
sama-sama mempunyai etika bisnis agar tujuan dari bisnis dapat terlaksana. Contohnya,
sebagai seorang konsumen, ia harus tau bagaimana etika membeli barang atau jasa yang
benar dan mengetahui bagaimana tekhnik membayar atas barang atau jasa yang ia
gunakan. Terkadang ada tekhnik pembayaran yang dilakukan langsung dan adapula yang
menggunakan system mundur atau utang. Sedangkan sebagai seorang produsen, ia harus
menjadi sosok yang jujur dan komunikatif. Produsen harus jujur dan terbuka mengenai
barang yang ditawarkan kepada konsumen. Produsen juga harus komunikatif untuk
memasarkan barangnya terhadap konsumen. Pada saat bertransaksi, keduanya juga harus
menunjukkan timbal balik yang baik agar proses transaksi dapat berjalan dengan lancar.
Lalu selanjutnya adalah proses transaksi oleh kedua pihak tersebut dapat dipengaruhi
secara langsung dan tidak langsung oleh persaingan dan aspek eksternal lainnya. Bisnis
yang sehat adalah bisnis yang dijalankan dengan bersaing secara sehat pula. Adanya
perkembangan zaman dan aktivitas perekonomian di Indonesia dan Internasional
memacu adanya persaingan yang sangat ketat sehingga para pelaku bisnis pasti mulai
memikirkan strategi bisnis untuk dapat bertahan dalam garis bisnis yang bersaing. Tetapi
dampak positif dari adanya persaingan bisnis ini adalah dapat memacu berkembangnya
bisnis di Indonesia juga secara internasional. Selain persaingan, aspek lainnya yang
mempengaruhi proses transaksi bisnis adalah perkembangan teknologi, aspek sumber
daya manusia, aspek manajemen, serta aspek keuangan dan akuntansi. Semua aspek yang
disebutkan tersebut dapat mempengaruhi proses transaksi juga bisnis secara luas. Etika
Bisnis dapat menjadi standar dan pedoman bagi seluruh karyawan termasuk manajemen

dan menjadikannya sebagai pedoman untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari dengan


dilandasi moral yang luhur, jujur, transparan dan sikap yang professional (Ellicia, 2012)

Etika Akuntansi dalam Bisnis


Setelah membahas tentang etika dalam bisnis di atas, produsen dapat
didefinisikan sebagai pihak yang memproduksi suatu barang atau hanya menjual saja.
Dalam arti yang lebih luas lagi, menurut kami produsen dapat diartikan sebagai pihak
yang menjalankan bisnis dengan mempunyai tujuan daripada bisnis tersebut atau pelaku
bisnis. Di Indonesia, etika akuntan menjadi isu yang sangat menarik. Tanpa etika, profesi
akuntansi tidak akan ada karena fungsi akuntansi adalah penyedia informasi untuk proses
pembuatan keputusan bisnis oleh para pelaku bisnis. Disamping itu, profesi akuntansi
mendapat sorotan yang cukup tajam dari masyarakat. Hal ini seiring dengan terjadinya
beberapa pelanggaran etika yang dilakukan oleh akuntan, baik akuntan publik, akuntan
intern perusahaan maupun akuntan pemerintah. (Martadi, 2006). Dalam menjalankan
profesinya seorang akuntan di Indonesia diatur oleh suatu kode etik profesi dengan nama
kode etik Ikatan Akuntan Indonesia. Kode etik Ikatan Akuntan Indonesia merupakan
tatanan etika dan prinsip moral yang memberikan pedoman kepada akuntan untuk
berhubungan dengan klien, sesama anggota profesi dan juga dengan masyarakat. Selain
dengan kode etik akuntan juga merupakan alat atau sarana untuk klien, pemakai laporan
keuangan atau masyarakat pada umumnya, tentang kualitas atau mutu jasa yang
diberikannya karena melalui serangkaian pertimbangan etika sebagaimana yang diatur
dalam kode etik profesi. Akuntansi sebagai profesi memiliki kewajiban untuk
mengabaikan kepentingan pribadi dan mengikuti etika profesi yang telah ditetapkan.
Kewajiban akuntan sebagai profesional mempunyai tiga kewajiban yaitu; kompetensi,
objektif dan mengutamakan integritas. Kasus enron, xerok, merck, vivendi universal dan
bebarapa kasus serupa lainnya telah membuktikan bahwa etika sangat diperlukan dalam

bisnis. Tanpa etika di dalam bisnis, maka perdaganan tidak akan berfungsi dengan baik.
Kita harus mengakui bahwa akuntansi adalah bisnis, dan tanggung jawab utama dari
bisnis adalah memaksimalkan keuntungan atau nilai shareholder. Tetapi kalau hal ini
dilakukan tanpa memperhatikan etika, maka hasilnya sangat merugikan. Banyak orang
yang menjalankan bisnis tetapi tetap berpandangan bahwa, bisnis tidak memerlukan
etika.
Di Indonesia dan internasional, terdapat banyak pelaku bisnis yang juga ikut
dalam menignkatakan perekonomian. Pelaku bisnis dapat terbagi menjadi pelaku individu
dan badan. Perusahaan-perusahaan yang diyakini terus tumbuh dengan pesat sebagai
pelaku bisnis pun terus memicu adanya persaingan dan juga tentunya menghasilkan
keuantungan yang tidak sedikit. Hubungannya dengan akuntansi (akuntan dalam
perusahaan), pertanggungjawaban keuangannya telah menggunakan akuntansi sebagai
medianya yaitu sebagai pertanggungjawaban kepada pemilik modal. Seperti yang kita
ketahui, struktur perusahaan pasti modalnya terdiri atas modal perusahaan dan modal dari
investor. Sehingga dalam menyajikan laporan keuangan, manajemen perusahaan
menggunakan akuntansi sebagai alat pertanggungjawaban kepada para pemilik modal.
Dari hal ini saja, dapat kita telaah bahwa orientasi perusahaan akan lebih konsen pada
pemilik modal sehingga dapat mengakibatkan pengekploitasian sumber daya alam dan
sumber daya manusia yang tidak terkendali sehingga dapat mengakibatkan kerusakan
lingkungan yang akhirnya mengganggu kehidupan manusia. Hal tersebut didukung oleh
pernyataan yang dipaparkan oleh Galtung dan Ikeda (1995) yang dikutip oleh Michele
Chwastiak di dalam jurnalnya:
Kapitalisme yang hanya berorientasi pada laba material, telah
merusak keseimbangan kehidupan dengan cara menstimulasi
pengembangan potensi ekonomi yang dimiliki manusia secara
berlebihan yang tidak member kontribusi bagi peningkatan
kemakmuran mereka tetapi justru menjadikan mereka mengalami
penurunan kondisi social (Chwastiak, 1999)

Di dalam akuntansi konvensional, pusat perhatian yang dilayani memang terpusat pada
stockholders dan bondholders sedangkan pihak lain sering diabaikan. Sedangkan di era
sekarang ini, perusahaan dituntut agar tidak hanya mementingkan kepentingan
manajemen, investor dan kreditor tetapi juga karyawan, konsumen, dan masyarakat. Di
sampan itu, perusahaan juga dituntut untuk memberikan informasi yang transparan,
menjadi organisasi yang akuntabel, serta mempunyai tata kelola perusahaan (good
corporate governance) yang bagus. Sebagai perusahaan yang menjalankan kegiatan
bisnisnya, para investor pasti menginginkan keuntungan yang besar dengan
menghalalkan segala cara. Menghasilkan keuntungan yang besar tidak berarti perusahaan
akan membayar pajak sesuai dengan porsi keuntungan yang dihasilkannya. Perusahaanperusahaan yang di dalamnya pasti mempunyai para ahli akuntansi di bagian
keuangannya pasti pernah melakukan earning management atau income smoothies.
Dalam jurnalnya, Tatang Ari menyebutkan;
.istilah manajemen laba muncul sebagai konsekuensi dari upayaupaya manajer atau pembuat laporan keuangan untuk melakukan
manajemen informasi akuntansi, khususnya laba (earnings), demi
kepentingan pribadi dan/atau perusahaan (Juniarti, 2000)

Tujuan dari tindakan-tindakan ini tentu agar laporan keuangan yang disajikan
menunjukkan angka yang cantik dan sudah diatur sedemikian rupa sehingga didapati
besarnya baiya pajak yang dibayarkan atas besarnya penghasilan perusahaan tidak terlalu
besar. Tentu saja hal ini merupakan keinginan para investor sehingga tindakan akuntansi
tersebut sering dilakukan bahkan menjadi suatu hal yang biasa di dalam perusahaan.
Tetapi earnings management tidak selalu bertujuan negatif yang merugikan karena tidak
selamanya hal ini berorientasi pada manajemen laba.
Secara teoritis ada banyak cara atau metode yang dapat ditempuh oleh
manajer (pembuat laporan keuangan) untuk mempengaruhi laba yang

dilaporkan (reported earnings) yang memang memungkinkan ditinjau


dari teori akuntansi positif (positive accounting theory) (Juniarti, 2000)

Teori akuntansi positif yang dimaksud pada pernyataan di atas adalah bahwa
manajer memiliki dorongan untuk dapat memaksimalkan kesejahteraannya. Seperti yang
kita ketahui, kepentingan manajer dan pemilik kepentingan pada perusahaan atau
investor, mempunyai kepentingan yang berbeda. Di sinilah letak ketidakseimbangan
dalam menyusun strategi bisnis suatu perusahaan.
Tidak jarang juga saat auditor memeriksa laporan keuangan perusahaan, para ahli
akuntansi sudah mengolah angka-angka dalam laporan keuangan perusahaan tersebut
demi tujuan mendapatkan opini wajar dari auditor dan agar kinerja perusahaan dinilai
sudah bagus dan sesuai dengan SPI. Kongkalikong pun sering terjadi antara auditor dan
pihak perusahaan demi terwujudnya keinginan para pemegang kepentingan di
perusahaan. Sehingga terkadang hal seperti itu menjadi hal yang sudah beretika menurut
perusahaan karena dari segi para pemilik kepentingan hal itu wajar demi kepentingan
mereka, tetapi secara kacamata normal, hal tersebut bukan merupakan suatu tindakan
yang etis di dunia bisnis.
Kesimpulan
Etika Bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku
karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan
pelanggan/mitra kerja, pemegang saham, masyarakat. Etika Akuntansi dalam bisnis yaitu
Akuntansi sebagai profesi memiliki kewajiban untuk mengabaikan kepentingan pribadi
dan mengikuti etika profesi yang telah ditetapkan. Kewajiban akuntan sebagai
profesional mempunyai tiga kewajiban yaitu; kompetensi, objektif dan mengutamakan
integritas.

KASUS
Kredit Macet Rp 52 Miliar, Akuntan Publik Diduga Terlibat

Seorang akuntan publik yang membuat laporan keuangan perusahaan Raden


Motor untuk mendapatkan pinjaman modal senilai Rp 52 miliar dari BRI Cabang Jambi
pada 2009, diduga terlibat kasus korupsi dalam kredit macet. Hal ini terungkap setelah
pihak Kejati Jambi mengungkap kasus dugaan korupsi tersebut pada kredit macet untuk
pengembangan usaha di bidang otomotif tersebut. Fitri Susanti, kuasa hukum tersangka
Effendi Syam, pegawai BRI yang terlibat kasus itu, Selasa (18/5/2010) mengatakan,
setelah kliennya diperiksa dan dikonfrontir keterangannya dengan para saksi, terungkap
ada dugaan kuat keterlibatan dari Biasa Sitepu sebagai akuntan publik dalam kasus ini.
Hasil pemeriksaan dan konfrontir keterangan tersangka dengan saksi Biasa Sitepu
terungkap ada kesalahan dalam laporan keuangan perusahaan Raden Motor dalam
mengajukan pinjaman ke BRI. Ada empat kegiatan data laporan keuangan yang tidak
dibuat dalam laporan tersebut oleh akuntan publik, sehingga terjadilah kesalahan dalam
proses kredit dan ditemukan dugaan korupsinya. Ada empat kegiatan laporan keuangan
milik Raden Motor yang tidak masuk dalam laporan keuangan yang diajukan ke BRI,
sehingga menjadi temuan dan kejanggalan pihak kejaksaan dalam mengungkap kasus
kredit macet tersebut, tegas Fitri. Keterangan dan fakta tersebut terungkap setelah
tersangka Effendi Syam diperiksa dan dikonfrontir keterangannya dengan saksi Biasa
Sitepu sebagai akuntan publik dalam kasus tersebut di Kejati Jambi. Semestinya data
laporan keuangan Raden Motor yang diajukan ke BRI saat itu harus lengkap, namun
dalam laporan keuangan yang diberikan tersangka Zein Muhamad sebagai pimpinan
Raden Motor ada data yang diduga tidak dibuat semestinya dan tidak lengkap oleh
akuntan publik. Tersangka Effendi Syam melalui kuasa hukumnya berharap pihak
penyidik Kejati Jambi dapat menjalankan pemeriksaan dan mengungkap kasus dengan

adil dan menetapkan siapa saja yang juga terlibat dalam kasus kredit macet senilai Rp 52
miliar, sehingga terungkap kasus korupsinya. Sementara itu pihak penyidik Kejaksaan
yang memeriksa kasus ini belum mau memberikan komentar banyak atas temuan
keterangan hasil konfrontir tersangka Effendi Syam dengan saksi Biasa Sitepu sebagai
akuntan publik tersebut. Kasus kredit macet yang menjadi perkara tindak pidana korupsi
itu terungkap setelah kejaksaan mendapatkan laporan adanya penyalahgunaan kredit yang
diajukan tersangka Zein Muhamad sebagai pimpinan Raden Motor. Dalam kasus ini
pihak Kejati Jambi baru menetapkan dua orang tersangka, pertama Zein Muhamad
sebagai pimpinan Raden Motor yang mengajukan pinjaman dan tersangka Effedi Syam
dari BRI yang saat itu menjabat sebagai pejabat penilai pengajuan kredit.
Solusi :
Dalam kasus ini, seorang akuntan publik (Biasa Sitepu) sudah melanggar prinsip kode
etik yang ditetapkan oleh KAP ( Kantor Akuntan Publik ). Biasa Sitepu telah melanggar
beberapa prinsip kode etik diantaranya yaitu :
1. Prinsip tanggung jawab : Dalam melaksanakan tugasnya dia (Biasa Sitepu) tidak
mempertimbangkan moral dan profesionalismenya sebagai seorang akuntan sehingga
dapat menimbulkan berbagai kecurangan dan membuat ketidakpercayaan terhadap
masyarakat.
2. Prinsip integritas : Awalnya dia tidak mengakui kecurangan yang dia lakukan hingga
akhirnya diperiksa dan dikonfrontir keterangannya dengan para saksi.
3. Prinsip obyektivitas : Dia telah bersikap tidak jujur, mudah dipengaruhi oleh pihak
lain.
4. Prinsip perilaku profesional : Dia tidak konsisten dalam menjalankan tugasnya sebagai
akuntan publik telah melanggar etika profesi.

5. Prinsip standar teknis : Dia tidak mengikuti undang-undang yang berlaku sehingga
tidak menunjukkan sikap profesionalnya sesuai standar teknis dan standar profesional
yang relevan.
Solusi yang tepat untuk kasus kredit macet adalah seharusnya perusahaan Raden Motor
membuat laporan keuangan yang diajukan ke BRI harus lengkap dan tersangka Effedi
Syam dari BRI yang saat itu menjabat sebagai pejabat penilai pengajuan kredit, harus
teliti dalam melakukan pengajuan kredit terhadap Zein Muhamad, dan Biasa Sitepu
selaku seorang akuntan public harus bertindak professional dalam tugasnya apabila ada
keganjalan dalam laporan keuangan perusahaan Raden Motor beliau harus mengakuinya,
sebagai seorang akuntan public Biasa Sitepu telah melanggar etika profesi dan tidak
mengikuti undang-undang yang berlaku

REFRENSI

Chwastiak, M. (1999). Critical Perspective on Accounting. Deconstructing the PincipalAgent Model: A View From , 425-441. Retrieved November 01, 2014, from
Googlescholar.
Ellicia, N. (2012, Oktober 06). Akuntansi Ekonomi. Retrieved November 01, 2014, from
Perilaku Etika Dalam Bisnis.
Juniarti. (2000). Earnings Management. Jurnal Akuntansi dan Keuangan . Retrieved
November 01, 2014, from Googlescholar.
Martadi, I. F. (2006, Agustus 26). PERSEPSI AKUNTAN, MAHASISWA AKUTANSI,
DAN KARYAWAN BAGIAN AKUNTANSI DIPANDANG DARI SEGI GENDER
TERHDAPA ETIKA BISNIS DAN ETIKA PROFESI. Retrieved November 01, 2014, from
Googlescholar.
Umar, H. (2002). Metode Riset bisnis. In H. Umar, Metode Riset Bisnis (p. 336). Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.