Anda di halaman 1dari 22

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

TENTANG
SENTRA PENEGAKAN HUKUM TERPADU

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Umum
Dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 9 ayat (2) Kesepakatan
Bersama Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia, Kepolisian
Negara Republik Indonesia, dan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor:
15/NKB/BAWASLU/X/2015,

Nomor:

B/38/X/2015,

Nomor:

KEP-

153/A/JA/10/2015 tanggal 8 Oktober 2015 tentang Sentra Penegakan Hukum


Terpadu, maka perlu disusun Standar Operasional Prosedur Sentra Penegakan
Hukum Terpadu.
Standar Operasional Prosedur Sentra Penegakan Hukum Terpadu
merupakan pedoman pelaksanaan penanganan tindak pidana baik dalam
pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD, pemilihan umum Presiden
dan Wakil Presiden, serta pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan
Wakil Bupati serta Walikota dan Wakil Walikota.
Standar Operasional Prosedur Sentra Penegakan Hukum Terpadu
merupakan

serangkaian

petunjuk

tentang

cara

dan

urutan

kegiatan

penyelesaian Penanganan Tindak Pidana Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu


Presiden dan Wakil Presiden serta Tindak Pidana Pemilihan secara objektif,
cepat, sederhana, dan memenuhi rasa keadilan.

B.

Dasar
Kesepakatan Bersama Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia,
Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Kejaksaan Republik Indonesia
Nomor:

15/NKB/BAWASLU/X/2015,

Nomor:

B/38/X/2015,

Nomor:

KEP-

153/A/JA/10/2015 tanggal 8 Oktober 2015 tentang Sentra Penegakan Hukum


Terpadu

C.

Pengertian
1.

Pemilihan Umum yang selanjutnya disebut Pemilu adalah sarana


pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diselenggarakan secara langsung,
umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.

2.

Pemilu meliputi Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD, Pemilu Presiden
dan Wakil Presiden, dan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati
dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota.

3.

Tindak pidana Pemilu adalah tindak pidana pelanggaran dan/atau


kejahatan terhadap ketentuan tindak pidana Pemilu sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012;

4.

Pelanggaran pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden adalah


pelanggaran terhadap ketentuan pidana Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden yang penyelesaiannya dilaksanakan melalui pengadilan dalam
lingkungan peradilan umum sebagaimana diatur dalam Undang-undang
Nomor 42 Tahun 2008;

5.

Tindak pidana Pemilihan merupakan pelanggaran atau kejahatan


terhadap ketentuan Pemilihan sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 1 Tahun 2015 dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015

6.

Badan Pengawas Pemilu, selanjutnya disingkat Bawaslu, adalah lembaga


penyelenggara Pemilu yang bertugas mengawasi penyelenggaraan
Pemilu di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

7.

Badan Pengawas Pemilu Provinsi, selanjutnya disingkat Bawaslu


Provinsi, adalah badan yang dibentuk oleh Bawaslu yang bertugas
mengawasi penyelenggaraan Pemilu di wilayah provinsi.

8.

Panitia

Pengawas

Pemilu

Kabupaten/Kota,

selanjutnya

disingkat

Panwaslu Kabupaten/Kota, adalah panitia yang dibentuk oleh Bawaslu

Provinsi yang bertugas mengawasi penyelenggaraan Pemilu di wilayah


kabupaten/kota
9.

Pengawas

pemilu

adalah

Bawaslu,

Bawaslu

Provinsi,

Panwas

Kabupaten/Kota, Panwas Kecamatan, PPL, Pengawas Pemilu Luar


Negeri, dan Pengawas TPS.
10. Kepolisian Negara Republik Indonesia, merupakan alat negara yang
berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat,
menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan
pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan
dalam negeri
11.

Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan


menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna
menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang
diatur dalam undang-undang.

12. Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal mencari dan
menurut cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta
mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang
tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.
13. Penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat
pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undangundang untuk melakukan penyidikan.
14. Jaksa adalah pejabat fungsional yang diberikan wewenang oleh undangundang untuk bertindak sebagai penuntut umum dan pelaksana putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap serta
wewenang lain berdasarkan Undang-undang.
15. Penuntut Umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh undangundang untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan
hakim.
16. Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara
pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan menurut

cara yang diatur dalam Hukum Acara Pidana dengan permintaan supaya
diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan.
17. Temuan adalah hasil pengawasan Pengawas Pemilu yang mengandung
dugaan pelanggaran Tindak Pidana Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden serta Tindak Pidana Pemilihan.
18. Laporan adalah laporan yang disampaikan secara tertulis oleh pelapor
kepada Pengawas Pemilu tentang dugaan terjadinya pelanggaran Tindak
Pidana Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
serta Tindak Pidana Pemilihan.
19. Sentra Penegakan Hukum Terpadu yang selanjutnya disebut Sentra
Gakkumdu adalah forum yang terdiri dari unsur Badan Pengawas Pemilu
Republik

Indonesia,

Kepolisian

Negara

Republik

Indonesia,

dan

Kejaksaan Republik Indonesia yang bertugas menangani Tindak Pidana


Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan
Tindak Pidana Pemilihan.
20. Kajian awal adalah kajian yang dibuat oleh Pengawas Pemilu setelah
menerima Laporan dan/atau Temuan.
21. Rapat pembahasan yang selanjutnya disebut pembahasan adalah
kegiatan anggota sentra gakkumdu dalam rangka menindaklanjuti adanya
hasil kajian awal pengawas pemilu atas laporan dan/atau temuan yang
merupakan dugaan Tindak Pidana Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden dan Tindak Pidana Pemilihan.
22. Supervisi adalah kegiatan yang dilakukan oleh anggota Sentra Gakkumdu
Pusat untuk melakukan pengawasan terhadap Sentra Gakkumdu Provinsi
dan/atau Kabupaten/Kota.
23. Asistensi adalah kegiatan yang dilakukan oleh anggota Sentra Gakkumdu
Pusat untuk melakukan pendampingan terhadap penanganan perkara
yang menjadi perhatian publik dan/atau yang berpotensi terjadi konflik
sosial serta penanganannya berlarut-larut.

24. Evaluasi adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh anggota Sentra
Gakkumdu Pusat dan Sentra Gakkumdu Provinsi untuk melakukan
penilaian terhadap kegiatan Sentra Gakkumdu yang berada dibawahnya.

D.

Maksud dan Tujuan


1.

Maksud
Sebagai pedoman bagi Pengawas Pemilu, Polri, dan Kejaksaan RI dalam
pelaksanaan tugas untuk menangani dugaan Tindak Pidana Pemilu,
Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden serta Tindak
Pidana Pemilihan.

2. Tujuan
Mewujudkan Penanganan Tindak Pidana Pemilu, Pelanggaran Pidana
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden serta Tindak Pidana Pemilihan antara
Pengawas Pemilu, Polri, dan Kejaksaan RI secara objektif, cepat,
sederhana, dan memenuhi rasa keadilan;

E.

Ruang Lingkup
Ruang lingkup Standar Operasional Prosedur meliputi:
1. Kedudukan dan keanggotaan sentra gakkumdu;
2. tugas dan fungsi;
3. prosedur penanganan; dan
4. Penerusan laporan.

BAB II
KEDUDUKAN, KEANGGOTAAN, TUGAS DAN FUNGSI SENTRA GAKKUMDU

A.

Kedudukan Sentra Gakkumdu


1. Sentra Gakkumdu terdiri atas:
a. Sentra Gakkumdu Pusat;
b. Sentra Gakkumdu Provinsi; dan
c. Sentra Gakkumdu Kabupaten/Kota.
2. Sentra Gakkumdu Pusat berkedudukan di Bawaslu RI.
3. Sentra Gakkumdu Provinsi berkedudukan di Bawaslu Provinsi.
4. Sentra

Gakkumdu

Kabupaten/Kota

berkedudukan

di

Panwaslu

Kabupaten/Kota.

B.

Keanggotaan Sentra Gakkumdu


1. Anggota Sentra Gakkumdu dari setiap unsur pada setiap tingkatan
berjumlah paling banyak 3 (tiga) orang.
2. Penunjukan anggota Sentra Gakkumdu Pusat dilaksanakan oleh ketua
Sentra Gakkumdu dan penunjukan anggota Sentra Gakkumdu Provinsi dan
Kabupaten/ Kota dilaksanakan oleh pembina Sentra Gakkumdu.
3. Dalam keadaan tertentu tidak dapat ditunjuk Jaksa pada Seksi Tindak
Pidana Umum sebagai anggota dalam struktur keanggotaan Sentra
Gakkumdu Kabupaten/Kota maka Pembina dapat menunjuk Jaksa lain di
lingkungannya.
4. Dalam hal Provinsi yang belum terbentuk Polda dan/atau Kejaksaan Tinggi
maka struktur keanggotaan Sentra Gakkumdu adalah dari Polda dan/atau
Kejaksaan Tinggi dalam wilayah hukumnya
5. Dalam hal Kabupaten/Kota yang belum terbentuk Polres dan/atau
Kejaksaan Negeri maka struktur keanggotaan Sentra Gakkumdu adalah
dari

Polres/ta/tabes/tro

hukumnya.

dan/atau

Kejaksaan

Negeri

dalam

wilayah

6. Dalam hal Polres/ta/tabes/tro dan/ atau Kejaksaan Negeri yang letaknya


jauh/sulit dijangkau maka keanggotaan Sentra Gakkumdu dapat diambil dari
Polsek dan/atau Kacabjari setempat sesuai wilayah hukumnya.

C.

Tugas Sentra Gakkumdu


1.

Sentra Gakkumdu Pusat melaksanakan tugas sebagai berikut:


a. Melakukan koordinasi antara Bawaslu Republik Indonesia, Kepolisian
Negara Republik Indonesia dan Kejaksaan Republik Indonesia dalam
proses penanganan Tindak Pidana Pemilu, Pelanggaran Pidana
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan Tindak Pidana Pemilihan;
b. Melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik
Indonesia dalam proses penanganan tindak pidana Pemilu yang terjadi
di luar negeri;
c. Melakukan pelatihan serta bimbingan teknis dengan tujuan untuk
meningkatkan kemampuan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1) Workshop;
2) Seminar;
3) Lokakarya;
4) FGD (Focus Group Disscusion);
5) Talk show;
6) Rapat Koordinasi; dan
7) Rapat Kerja Teknis
Sasaran dari pelatihan serta bimbingan teknis adalah:
1) Anggota Sentra Gakkumdu;
2) Bawaslu Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota;
3) Anggota Polri yang mengemban fungsi penyidikan Tindak Pidana
Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
dan Tindak Pidana Pemilihan; dan

4) Jaksa yang mengemban fungsi penuntutan Tindak Pidana Pemilu,


Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan
Tindak Pidana Pemilihan;
Materi pelatihan serta bimbingan teknis terdiri atas:
1) Peraturan perundang-undangan dibidang Pemilu;
2) Tata

cara

menerima

laporan

atau

temuan,

pengkajian,

pembahasan, teknik klarifikasi dan penerusan laporan;


3) Tata cara penyidikan dan/atau penuntutan Tindak Pidana Pemilu,
Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan
Tindak Pidana Pemilihan; dan
4) Kesepakatan Bersama dan Standar Operasional Prosedur Sentra
Gakkumdu
Narasumber dapat berasal dari:
1) Bawaslu RI;
2) Kepolisian Negara RI;

3) Kejaksaan RI;
4) Akademisi; dan
5) Praktisi.

d. Melakukan supervisi dengan mekanisme sebagai berikut :


a) Berdasarkan hasil koordinasi anggota Sentra Gakkumdu Pusat;
b) Dilakukan oleh tim supervisi yang terdiri atas anggota Sentra
Gakkumdu Pusat; dan
c) Surat tugas pelaksanaan supervisi ditandatangani oleh ketua
Sentra Gakkumdu Pusat dari unsur Bawaslu Republik Indonesia.
e. Melakukan asistensi dengan mekanisme sebagai berikut :
a) Berdasarkan

permohonan

Kabupaten/Kota;

Sentra

Gakkumdu

Provinsi

dan

b) Berdasarkan hasil evaluasi dan koordinasi anggota Sentra


Gakkumdu Pusat;
c) Dilakukan oleh tim asistensi yang terdiri atas anggota Sentra
Gakkumdu Pusat;
d) Surat tugas pelaksanaan asistensi ditandatangani oleh ketua
Sentra Gakkumdu Pusat dari unsur Bawaslu Republik Indonesia.
f.

Melakukan evaluasi terhadap kegiatan Sentra Gakkumdu Provinsi dan


Kabupaten/Kota secara berkala.

2. Sentra Gakkumdu Provinsi melaksanakan tugas sebagai berikut:


a. Melakukan koordinasi antara Bawaslu Provinsi, Kepolisian Daerah dan
Kejaksaan Tinggi dalam pelaksanaan kegiatan Sentra Gakkumdu
Provinsi;
b. melakukan

evaluasi

terhadap

kegiatan

Sentra

Gakkumdu

Kabupaten/Kota secara berkala.


c. menyampaikan laporan pelaksanaan penanganan Tindak Pidana
Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan
Tindak Pidana Pemilihan kepada Sentra Gakkumdu Pusat.
d. Melakukan pelatihan serta bimbingan teknis dengan tujuan untuk
meningkatkan kemampuan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1) Workshop;
2) Seminar;
3) Lokakarya;
4) FGD (Focus Group Disscusion);
5) Talk show;
6) Rapat Koordinasi; dan
7) Rapat Kerja Teknis.
Sasaran dari pelatihan serta bimbingan teknis adalah:
1) Anggota Sentra Gakkumdu;

2) Panwaslu Kabupaten/Kota
3) Anggota Polri yang mengemban fungsi penyidikan Tindak Pidana
Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
dan Tindak Pidana Pemilihan; dan
4) Jaksa yang mengemban fungsi penuntutan Tindak Pidana Pemilu,

Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan


Tindak Pidana Pemilihan;
Materi pelatihan serta bimbingan teknis terdiri atas:
1) Peraturan perundang-undangan di bidang Pemilu;
2) Tata

cara

menerima

laporan

atau

temuan,

pengkajian,

pembahasan, teknik klarifikasi dan penerusan laporan;


3) Tata cara penyidikan dan/atau penuntutan Tindak Pidana Pemilu,
Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan
Tindak Pidana Pemilihan; dan
4) Kesepakatan Bersama dan Standar Operasional Prosedur Sentra
Gakkumdu.
Narasumber dapat berasal dari:
a) Pengawas Pemilu;
b) Kepolisian Negara RI;
c) Kejaksaan RI;
d) Akademisi; dan
e) Praktisi.
e. Menyampaikan laporan pelaksanaan penanganan Tindak Pidana
Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan
Tindak Pidana Pemilihan kepada Sentra Gakkumdu Pusat.
3. Sentra Gakkumdu Kabupaten/Kota melaksanakan tugas sebagai berikut:
a. Melakukan

koordinasi

antara

Panwaslu

Kabupaten/Kota,

Polres/ta/tabes/tro dan Kejaksaan Negeri/Kacabjari dalam proses

penanganan Tindak Pidana Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu


Presiden dan Wakil Presiden dan Tindak Pidana Pemilihan; dan
b. Menyampaikan laporan pelaksanaan penanganan Tindak Pidana
Pemilu kepada Sentra Gakkumdu Provinsi.
4.

Koordinasi anggota Sentra Gakkumdu, dilaksanakan untuk meningkatkan


efektifitas dan efisiensi dalam penanganan tindak pidana Pemilu,
Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan Tindak
Pidana Pemilihan yang dapat dilakukan dengan cara:
a. Langsung, dalam bentuk Rapat, Diskusi, dan Bentuk lainnya sesuai
dengan kesepakatan; atau
b. Tidak langsung, melalui Telepon, atau media elektronik lainnya.

D.

Fungsi Sentra Gakkumdu


a. sebagai forum koordinasi antara PARA PIHAK dalam proses
penanganan Tindak Pidana Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden dan Tindak Pidana Pemilihan;
b. pelaksanaan pola penanganan Tindak Pidana Pemilu, Pelanggaran
Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan Tindak Pidana
Pemilihan;
c. sebagai pusat data dan informasi Tindak Pidana Pemilu, Pelanggaran
Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan Tindak Pidana
Pemilihan;
d. pertukaran data dan/atau informasi yang berhubungan dengan dugaan
tindak pidana pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden dan Tindak Pidana Pemilihan melalui sarana surat, faximile,
email, telepon dan sarana komunikasi lain mencakup:
a) Dokumen,

data

dan/atau

informasi

lain

yang

diperoleh

berdasarkan laporan atau temuan terkait Tindak Pidana Pemilu,


Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan
Tindak Pidana Pemilihan;
b) Penanganan perkara dugaan tindak Tindak Pidana Pemilu,
Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan
Tindak

Pidana

penyidikan; dan

Pemilihan

yang

sedang

dalam

proses

c) Penanganan perkara dugaan tindak Tindak Pidana Pemilu,


Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan
Tindak

Pidana

Pemilihan

yang

sedang

dalam

proses

penuntutan;

BAB III
POLA PENANGANAN TINDAK PIDANA PEMILU, PELANGGARAN PIDANA
PEMILU PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN DAN TINDAK PIDANA PEMILIHAN

A.

Penerimaan, Pengkajian dan Penyampaian Laporan atau Temuan.


1. Penerimaan, Pengkajian Awal Laporan atau Temuan oleh Pengawas
Pemilu.
a. Pengawas Pemilu setelah menerima laporan dan/atau temuan adanya
dugaan Tindak Pidana Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden
dan Wakil Presiden dan Tindak Pidana Pemilihan, Pengawas Pemilu
melakukan pengkajian awal
b. Pengawas Pemilu dapat berkoordinasi dengan Sentra Gakkumdu
dalam melakukan pengkajian awal guna mendapat masukan terkait
dugaan Tindak Pidana Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden
dan Wakil Presiden dan Tindak Pidana Pemilihan.
c. Kajian awal yang kesimpulannya berisi tentang dugaan Tindak Pidana
Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden atau
Tindak Pidana Pemilihan disampaikan kepada Sentra Gakkumdu.
d. Kajian awal

dituangkan dalam Form Model K-A tercantum dalam

lampiran I yang formatnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari


SOP Sentra Gakkumdu.
2. Penyampaian Laporan atau Temuan kepada Sentra Gakkumdu.
a.

Pengawas Pemilu menyampaikan laporan atau temuan kepada


Sentra Gakkumdu dalam jangka waktu paling lama 1X24 jam
terhitung sejak diterimanya laporan atau temuan .

b.

Ketua

Sentra

Gakkumdu

dari

unsur

Pengawas

Pemilu

menyampaikan laporan atau temuan kepada Anggota Sentra


Gakkumdu dari unsur Polri dan Kejaksaan RI dengan menggunakan
Surat Penyampaian Laporan atau Temuan (Form Model SG-1)
c.

Form Model SG-1 dan SG-2 tercantum dalam Lampiran II dan III
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Standar Operasional
Prosedur tentang Sentra Gakkumdu. (dibahas Dibawah .........

d.

Penyampaian Form Model SG-1 wajib dilampiri dengan laporan atau


temuan dugaan Tindak Pidana Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden atau Tindak Pidana Pemilihan, dan
kajian awal (Form Model K-A) sebagai bahan pembahasan Sentra
Gakkumdu.

e.

Dalam keadaan tertentu, ketentuan sebagaimana dalam angka 2


huruf a dapat dikecualikan sepanjang tidak melampaui batas waktu
5 (lima) hari.

f.

Keadaan tertentu sebagaimana dimaksud pada huruf e adalah


keterbatasan fasilitas transportasi, keterbatasan komunikasi, letak
geogratfis yang berjauhan dan dalam keadaan kahar (force majour).

B. Pembahasan laporan atau temuan pada Sentra Gakkumdu.


1.

Pembahasan dalam Sentra Gakkumdu, dipimpin oleh anggota


Sentra Gakkumdu yang berasal dari unsur Pengawas Pemilu.

2.

Pimpinan membuka pembahasan dan menyampaikan materi


laporan atau temuan dan Kajian Awal.

3.

Peserta memberikan saran dan pendapat terhadap materi yang


disampaikan, antara lain :
a.

Penelitian tentang keterpenuhan syarat formil dan syarat materil


tehadap laporan atau temuan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan adalah:
1)

Syarat formil meliputi :


i.

pihak yang berhak melaporkan;

ii.

waktu pelaporan tidak melebihi ketentuan batas


waktu; dan

iii.

keabsahan laporan dan/atau temuan, yang meliputi:


1. kesesuaian tanda tangan dalam formulir
laporan dugaan pelanggaran dengan kartu
identitas; dan
2. tanggal dan waktu Pelaporan.

b)

2)

Syarat materiil meliputi :


(1)

identitas pelapor;

(2)

nama dan alamat terlapor;

(3)

peristiwa dan uraian kejadian;

(4)

waktu dan tempat kejadian;

(5)

saksi-saksi yang mengetahui peristiwa tersebut; dan

(6)

barang bukti yang mungkin diperoleh atau diketahui.

Menentukan

pasal

dan

unsur-unsur

pasal

yang

akan

diterapkan; dan
3)

menyarankan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam


rangka mencari alat bukti yang dilakukan dalam bentuk
koordinasi unsur Sentra Gakkumdu.

4.

Pelaksanaan keseluruhan pembahasan dicatat dan diarsipkan oleh


Sentra Gakkumdu dari unsur Pengawas Pemilu.

5.

Kesimpulan pembahasan Sentra Gakkumdu dapat berupa:


1) Laporan atau temuan memenuhi syarat formil dan materil
sebagai tindak pidana pemilu, pelanggaran pidana pemilu
Presiden dan Wakil Presiden atau Tindak Pidana Pemilihan;
2) Laporan atau temuan belum memenuhi syarat formil dan/atau
materil sebagai tindak pidana pemilu, pelanggaran pidana
pemilu Presiden dan Wakil Presiden atau Tindak Pidana
Pemilihan dan harus dilengkapi;
3) Bukan Tindak Pidana Pemilu, bukan Pelanggaran Pidana
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan bukan Tindak Pidana
Pemilihan; atau
4) Perbuatan melawan hukum lainnya.

5.

Penyusunan Rekomendasi Sentra Gakkumdu.

a. Rekomendasi Sentra Gakkumdu disusun berdasarkan kesimpulan


dalam pembahasan Sentra Gakkumdu.
b. Rekomendasi Sentra Gakkumdu berupa:
1) Dalam hal kesimpulan Sentra Gakkumdu berupa Tindak Pidana
Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
dan Tindak Pidana Pemilihan yang memenuhi syarat formil dan
materil maka Sentra Gakkumdu merekomendasikan kepada
Pengawas Pemilu untuk meneruskannya kepada Polri;
2) Dalam hal kesimpulan Sentra Gakkumdu berupa Tindak Pidana
Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
dan Tindak Pidana Pemilihan belum memenuhi syarat formil dan
materil maka Sentra Gakkumdu merekomendasikan kepada
Pengawas Pemilu untuk:
a) melengkapi administrasi;
b) mempersiapkan materi dalam klarifikasi;
c) menentukan dan mengklarifikasi saksi, terlapor, dan/atau
ahli; dan/atau
d) mengidentifikasi dan/atau mengumpulkan barang bukti; dan
e) Dalam hal pengumpulan alat bukti, pengawas pemilu bekerja
sama dengan Polri dan Kejaksaan RI.
3) Dalam hal kesimpulan Sentra Gakkumdu bukan merupakan
Tindak Pidana Pemilu, bukan Pelanggaran Pidana Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden atau bukan Tindak Pidana Pemilihan
maka Sentra Gakkumdu merekomendasikan kepada Pengawas
Pemilu untuk menghentikan proses tindak pidananya;
4) Dalam hal kesimpulan Sentra Gakkumdu berupa perbuatan
melawan

hukum

lainnya

maka

Sentra

merekomendasikan

kepada

Pengawas

Gakkumdu

Pemilu

guna

ditindaklanjuti sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

c. Rekomendasi dituangkan dalam Berita Acara Pembahasan Sentra


Gakkumdu (Form Model SG-3) dan ditandatangani oleh seluruh unsur
Sentra Gakkumdu yang hadir.
d. Form Model SG-3 tercantum dalam Lampiran III yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Standar operasional prosedur atau
Pedoman Kerja tentang Sentra Penegakan Hukum Terpadu ini.
C. Penyampaian Rekomendasi Sentra Gakkumdu.
a. Rekomendasi yang telah dituangkan dalam Form model SG-3
diarsipkan.
b. Rekomendasi disampaikan kepada seluruh unsur Sentra Gakkumdu;
c. Penyampaian rekomendasi dilaksanakan dalam jangka waktu paling
lama 1X24 jam terhitung sejak Berita Acara Pembahasan Sentra
Gakkumdu ditandatangani.
D.

Alur Pola Penaganan Tindak Pidana Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu,


Presiden dan Wakil Presiden atau Tindak Pidana Pemilihan.
Alur pola penanganan tindak pidana Pemilu tercantum dalam Lampiran IV yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Standar Operasional Prosedur ini.

BAB IV
PENERUSAN LAPORAN

A.

Waktu dan tempat Penerusan Laporan atau Temuan


1.

Laporan atau Temuan dugaan tindak pidana Pemilu diteruskan kepada


Kepolisian Negara Republik Indonesia paling lambat 1x 24 jam sejak
diputuskan oleh Pengawas Pemilu.

2.

Penerusan laporan atau temuan dugaan Tindak Pidana Pemilu,


Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden atau Tindak
Pidana Pemilihan tidak melebihi 5 (lima) hari waktu penanganan
pelanggaran pemilu.

3.

Penerusan laporan atau temuan dugaan Tindak Pidana Pemilu,


Pelanggaran Pidana Pemilu Presiden dan Wakil Presiden atau Tindak
Pidana Pemilihan oleh Pengawas Pemilu melalui Sentra Pelayanan
Kepolisian Terpadu.

B.

Berkas Penerusan
1.

Penerusan laporan dugaan Tindak Pidana Pemilu, Pelanggaran Pidana


Pemilu Presiden dan Wakil Presiden atau Tindak Pidana Pemilihan
dilampiri dengan berkas pelanggaran dan hasil kajian disertai minimal 2
(dua) alat bukti yang sah.

2.

Berkas pelanggaran dan hasil kajian dibuat sesuai Peraturan Badan


Pengawas Pemilu Republik Indonesia.

3.

Yang dimaksud dengan alat bukti yang sah adalah yang sesuai dengan
Pasal 184 KUHAP.

C. Publikasi
1. Sentra Gakkumdu dapat mempublikasikan kegiatannya kepada masyarakat
secara bersama-sama apabila diperlukan;
2. Dalam hal publikasi hasil kesimpulan Sentra Gakkumdu yang tidak
memenuhi unsur Tindak Pidana Pemilu, Pelanggaran Pidana Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden atau Tindak Pidana Pemilihan disampaikan
kepada masyarakat oleh semua unsur Sentra Gakkumdu secara bersamasama.

BAB V
PENUTUP

A.

Standar operasional prosedur ini dibuat sebagai petunjuk teknis pelaksanaan


tugas Sentra Gakkumdu.

B.

Perubahan terhadap Standar Operasional Prosedur ini, akan dirumuskan


kembali secara bersama-sama dan merupakan lampiran yang tidak
terpisahkan dari Standar operasional prosedur ini;

C.

Standar operasional prosedur ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan sesuai
dengan masa berlaku Kesepakatan Bersama Badan Pengawas Pemilihan
Umum Republik Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan
Kejaksaan Republik Indonesia Nomor: 15/NKB/BAWASLU/X/2015, Nomor:
B/38/X/2015, Nomor: KEP-153/A/JA/10/2015 tanggal 8 Oktober 2015 tentang
Sentra Penegakan Hukum Terpadu.

Demikian Standar operasional prosedur ini dibuat dengan semangat


kerjasama yang baik untuk dapat dipedomani dan dilaksanakan.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal

Oktober

2015

Koordinator Divisi Hukum dan


Penindakan Pelanggaran,

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri,

Jaksa Agung Muda Tindak


Pidana Umum,

Lampiran......
Alur Penanganan Tindak Pidana Pemilu pada Sentra Gakkumdu
Note: (Tugas) Mengambarkan alur/bagan untuk lampiran berdasarkan
SOP yang telah di buat.

1
PENERIMAAN
LAPORAN/TEMU
AN

2
KAJIAN AWAL
(dapat
berkoordinasi
dengan sentra
gakkumdu)

3
KOORDINASI PADA
SENTRA
GAKKUMDU
4
TINDAK LANJUT
SENTRA
GAKKUMDU

5
TINDAK LANJUT
PANITIA
PENGAWAS
PEMILU
6
KEPOLISIAN

7
KEJAKSAAN

8
PENGADILAN