Anda di halaman 1dari 42

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Air Buangan
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001, air
limbah adalah sisa dari suatu usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair.
Air buangan domestik adalah air buangan yang berasal dari usaha dan atau
kegiatan permukiman (real estate), rumah makan (restaurant), perkantoran,
perniagaan, apartemen dan asrama (KepMenLH Nomor 112 Tahun 2003).
2.2 Sumber Air Buangan
Sumber air buangan dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu (Metcalf and
Eddy, 2003):
1. Domestik
Sumber domestik berasal dari rumah tangga, pusat perdagangan, perkantoran
dan fasilitas lainnya.
2. Industri
Sumber industri berasal dari limbah industri dengan karakteristik khusus
tergantung jenis industrinya.
3. Infiltrasi
Sumber infiltrasi berasal dari air hujan yang melimpas di atas permukaan
tanah dan meresap ke dalam tanah sebagai akibat terjadinya hujan di sekitar
daerah pelayanan dan sepanjang perpipaan.
4. Limpasan air
Sumber limpasan air merupakan hasil dari runoff yang berasal dari hujan dan
salju.
2.3 Sistem Pengelolaan Air Buangan
Sistem pengelolaan air buangan terbagi dua yaitu sistem sanitasi setempat (onsite)
dan sistem sanitasi terpusat (offsite). Pengelolaan air buangan pada sistem onsite

merupakan tanggung jawab pribadi, sedangkan untuk sistem offsite merupakan


pengelolaan air buangan yang dikumpulkan melalui jaringan penyaluran air
buangan ke unit pengolahan air buangan dalam sebuah zona layanan.
2.3.1 Sistem Sanitasi Setempat
Sistem sanitasi setempat (onsite sanitation) adalah sistem pengelolaan air buangan
dimana air buangan tersebut langsung diolah secara individual. Sistem ini dipakai
bila syarat-syarat teknis lokasi dapat dipenuhi.
Pada penerapan sistem setempat ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi (DPU,
1989), antara lain :
-

Kepadatan penduduk < 200 jiwa/ha.


Kepadatan penduduk 200 500 jiwa /ha masih mungkin dengan syarat

penduduk tidak menggunakan air tanah.


Tersedia truk tinja untuk penyedotan.

Kelebihan sistem ini adalah :


-

Biaya pembuatan relatif murah.


Bisa dibuat oleh setiap sektor ataupun pribadi
Teknologi dan sistem pembuangannya cukup sederhana.
Operasi dan pemeliharaan merupakan tanggung jawab pribadi.

Disamping itu, kekurangan sistem ini adalah :


-

Umumnya tidak disediakan untuk air bekas seperti dari dapur, mandi dan

cuci.
Mencemari air tanah bila syarat-syarat teknis pembuatan dan pemeliharaan
tidak dilakukan sesuai aturannya.

Beberapa contoh fasilitas setempat antara lain :


a.

Cubluk

Pit privy atau cubluk merupakan sistem pembuangan tinja yang paling sederhana.
Terdiri atas lubang yang digali secara manual dengan dilengkapi dinding rembes
air yang dapat terbuat dari pasangan batu bata berongga, anyaman bambu, dan
lain-lain. Cubluk biasanya berbentuk bulat atau kotak, dengan potongan melintang
sekitar 0,5 1 m2 dengan kedalaman 1 3 m. Hanya sedikit air yang digunakan
untuk menggelontorkan tinja ke dalam cubluk. Cubluk ini biasanya didesain untuk
waktu 5 10 tahun.
II-2

Cubluk terbagi atas beberapa jenis, yaitu :


1. Cubluk Tunggal
Cubluk tunggal merupakan jenis cubluk yang mempunyai satu sumuran untuk
menampung tinja. Persyaratan dari cubluk tunggal dapat dilihat sebagai berikut:
-

Muka air tanah lebih dari 1 m di bawah dasar cubluk.


Penduduk mampu membangunnya.
Cocok untuk daerah dengan kepadatan < 200 jiwa/ha.
Pemakaian dihentikan setelah terisi 75% dan menunggu paling sedikit 1
tahun untuk digunakan kembali.

2. Cubluk Kembar
Cubluk kembar merupakan jenis cubluk yang memiliki dua sumuran untuk
menampung tinja, akan tetapi penggunaannya hanya satu sumuran, dan satu lagi
disediakan jika yang satunya sudah mencapai 75%.
-

Muka air tanah lebih dari 2 m di bawah dasar cubluk.


Cocok untuk daerah dengan kepadatan < 50 jiwa/ha.
Lokasi pemukiman tidak dilengkapi jalan raya untuk kendaraan roda 4.

Pemakaian lubang cubluk pertama dihentikan setelah terisi 75 %


danselanjutnya lubang cubluk kedua dapat difungsikan. Jika lubang cubluk
kedua telah terisi 75 %, maka lumpur tinja yang ada di lubang pertama
dapat dikosongkan secara manual dan dapat digunakan untuk pupuk
tanaman. Setelah itu lubang cubluk dapat difungsikan kembali.

b. Beerput
Sistem ini merupakan gabungan antara bak septik dan peresapan. Oleh karena itu
bentuknya hampir sama seperti sumur peresapan.
Persyaratan yang harus dipenuhi oleh sistem beerput antara lain :
-

Tinggi air pada sumur beerput pada musim kemarau tidak kurang dari 1,2

m dari dasar.
Jarak dengan sumur minimal 8 m.
Volume air dalam sumuran harus lebih besar dari 1m3.

Apabila sumur tersebut dibuat bulat, maka diameternya tidak boleh kurang
dari 1 m dan apabila dibuat segi empat maka sisinya harus lebih besar dari
0,9m.

c. Septic tank
II-3

Septic tank merupakan suatu bak tertutup yang berfungsi sebagai bangunan
pengendap untuk menampung kotoran padat agar mengalami pengolahan biologis
oleh bakteri anaerob dalam jangka waktu tertentu. Untuk menjaga operasi yang
baik, sebuah septic tank harus hampir terpenuhi dengan cairan, oleh karena itu
septic tank harus kedap air.
Prinsip operasi septic tank dilengkapi sarana pengolahan efluen berupa bidang
resapan atau sumur resapan. Septic tank dengan peresapan merupakan jenis
fasilitas pengolahan air buangan rumah tangga yang paling banyak digunakan di
Indonesia. Pada umumnya diterapkan di daerah perumahan yang berpenghasilan
menengah ke atas, perkantoran, perdagangan serta pelayanan umum.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan septic tank adalah :
-

Diterapkan di daerah dengan kepadatan penduduk < 500 jiwa/ha.


Kecepatan daya resap tanah > 0,0146 cm/menit dan < 1,25 cm/menit.
Dapat dijangkau oleh truk penyedot tinja.
Tersedia lahan untuk bidang peresapan.

2.3.2 Sistem Sanitasi Terpusat


Sistem sanitasi terpusat (offsite sanitation) merupakan sistem yang pembuangan
air rumah tangga (mandi, cuci, dapur dan limbah kotoran) disalurkan keluar dari
lokasi pekarangan masing-masing rumah ke saluran pengumpul air buangan dan
selanjutnya disalurkan secara terpusat ke bangunan pengolahan air buangan
sebelum di buang ke badan air penerima. Sistem penyaluran air buangan dapat
dilakukan secara terpisah, tercampur, maupun kombinasi antara saluran air
buangan dengan saluran air hujan (Masduki, 2000).

2.3.2.1 Sistem Penyaluran Terpisah


Sistem ini dikenal dengan full sewerage, dimana air buangan domestik dan air
hujan dialirkan secara terpisah melalui saluran yang berbeda. Sistem ini
digunakan dengan pertimbangan antara lain:
-

Periode musim hujan dan kemarau lama.

II-4

Kuantitas aliran yang jauh berbeda antara air hujan dan air buangan

domestik.
Air buangan umumnya memerlukan pengolahan terlebih dahulu,

sedangkan air hujan harus secepatnya dibuang ke badan air penerima.


Fluktuasi debit (air buangan domestik dan limpasan air hujan) pada musim

kemarau dan musim hujan relatif besar.


Saluran air buangan dalam jaringan riol tertutup, sedangkan air hujan
dapat berupa polongan (conduit) atau berupa parit terbuka (ditch).

Kelebihan sistem ini adalah masing-masing sistem saluran mempunyai dimensi


yang relatif kecil sehingga memudahkan dalam konstruksi serta operasi dan
pemeliharaannya. Kelemahan dari sistem ini adalah memerlukan tempat luas
untuk jaringan masing-masing sistem saluran.
Beberapa alternatif dari sistem penyaluran air buangan secara terpisah adalah
sebagai berikut :
1.

Sistem Penyaluran Konvensional

Merupakan suatu jaringan perpipaan yang membawa air buangan ke suatu tempat
yang berupa bangunan pengolahan atau tempat pembuangan air seperti badan air.
Sistem ini terdiri dari jaringan persil, pipa servis, pipa lateral, dan pipa induk yang
melayani penduduk untuk suatu daerah pelayanan yang cukup luas. Setiap
jaringan pipa dilengkapi dengan lubang periksa (manhole) yang ditempatkan pada
lokasi-lokasi tertentu. Apabila kedalaman pipa tersebut mencapai 7 m, maka air
buangan harus dinaikkan dengan pompa dan selanjutnya dialirkan secara gravitasi
ke lokasi pengolahan dengan mengandalkan kecepatan untuk membersihkan diri.
Untuk membangun sistem penyaluran secara konvensional diperlukan biaya yang
tinggi sehingga sistem ini hanya cocok bila masyarakat menginginkan dan mampu
untuk membiayai pengoperasian dan pemeliharaannya, serta tidak ada pilihan lain.
Daerah yang cocok untuk penerapan sistem ini antara lain (DPU, 1989) :
-

Daerah yang sudah memiliki sistem jaringan saluran konvensional atau

dekat dengan daerah yang memiliki sistem ini.


Daerah yang memiliki kepekaan lingkungan tinggi, misalnya daerah

pariwisata.
Lokasi pemukiman baru dimana penduduknya berpenghasilan cukup
tinggi dan mampu membiayai operasi dan pemeliharaan sistem tersebut.
II-5

Di pusat kota dimana terdapat gedung-gedung bertingkat yang apabila


tidak dibangun jaringan saluran, akan diperlukan lahan untuk pembuangan

dan pengolahan sendiri.


Di pusat kota dimana kepadatan penduduk sudah melampaui 300 jiwa/ha
dan umumnya penduduk menggunakan air tanah, serta lahan untuk
pembuatan sistem setempat sangat sulit dan permeabilitas tanah buruk.

Gambar 2.1 Layout Pipa Sistem Penyaluran Konvensional (International Source Book On
Environmentally Sound Technologies for Wastewater and Stormwater Management, 2007)

2.

Sistem Shallow Sewer

Shallow sewerage disebut juga sebagai simplified sewerage atau condominial


sewerage (Mara, 1996). Sistem ini telah banyak diterapkan di Brazil, negaranegara Amerika Selatan dan beberapa negara Asia.
Pada intinya sistem ini sama dengan sistem konvensional yaitu menyalurkan air
buangan domestik baik padatan maupun cairan. Berbeda dengan sistem
konvensional, sistem ini mengangkut air buangan dalam skala kecil dan pipa
dipasang dengan kemiringan lebih landai. Peletakan sistem ini biasanya
II-6

diterapkan pada blok-blok rumah. Untuk mengangkut air buangan diperlukan air
pembilas.
(A)

(B)

Gambar 2.2 Contoh Layout Saluran Shallow Sewerage pada Perumahan Tak Teratur (A)
dan Teratur (B) (Mara, 1996)

Layout saluran Shallow Sewerage pada gambar A merupakan contoh penerapan

pada perumahan yang tidak teratur, dimana pipa-pipa pelayanan menjangkau


seluruh rumah yang dilayani sehingga pipa tersebut berkelok-kelok. Gambar B
merupakan contoh penerapan pada perumahan yang teratur, dimana pipa-pipa
yang melayani perumahan cendrung lurus dan teratur.
Biaya pembuatan shallow sewerage lebih murah bila dibandingkan dengan
penyaluran secara konvensional dan bahkan mungkin lebih murah daripada sistem
sanitasi setempat (Gambar 2.2). Biaya untuk sistem ini dapat mencapai 30-50%
dari biaya sistem penyaluran konvensional (UNEP, 2007) disebabkan oleh
penggalian yang dangkal, pipa yang digunakan berdiameter kecil dan unit
pengawasan yang sederhana dalam tempat manhole yang tidak besar.
Gambar 2.3 Biaya ShallowSewerage di Natal, Brazil (Mara, 1996)

II-7

Gambar 2.3 di atas memperlihatkan biaya untuk sistem shallow sewerage


berdasarkan tingkat kepadatan penduduk di Natal, Brazil. Biaya yang dibutuhkan
untuk sistem shallow sewerage lebih murah dibandingkan dengan sistem
konvensional. Sistem shallow sewerage juga lebih murah dibandingkan dengan
sistem onsite untuk kepadatan penduduk lebih dari 200 orang/Ha.
Sistem ini lebih cocok sebagai jaringan sekunder di daerah perkampungan dengan
kepadatan tinggi dan tidak dilewati oleh kendaraan berat. Sistem ini melayani air
buangan dari kamar mandi, cucian, pipa servis, pipa lateral, tanpa pipa induk dan
dilengkapi dengan pengolahan sederhana.
3. Sistem Small Bore Sewer
Saluran pada sistem riol ukuran kecil (small bore sewer) ini dirancang hanya
untuk menerima bagian-bagian cair dari air buangan kamar mandi, cuci, dapur dan
efluen dari tangki septik, sehingga salurannya harus bebas zat padat. Saluran tidak
dirancang untuk Self cleansing, dari segi ekonomis sistem ini lebih murah
dibandingkan dengan sistem konvensional.
Daerah pelayanannya sistem ini relatif lebih kecil, pipa yang dipasang hanya pipa
persil dan servis menuju lokasi pembuangan akhir. Pipa lateral dan pipa induk
tidakdiperlukan, kecuali untuk beberapa daerah perencanaan dengan kepadatan

II-8

penduduk sangat tinggi dan timbulan air buangan yang sangat besar. Sistem ini
dilengkapidengan instalasi pengolahan sederhana.
Syarat yang harus dipenuhi untuk penerapan sistem ini :
-

Memerlukan tangki septik yang berfungsi untuk memisahkan padatan dan

cairan;
Diameter pipa minimal 50 mm karena tidak membawa padatan;

Aliran yang terjadi dapat bervariasi;

Aliran yang terjadi dalam pipa tidak harus memenuhi kecepatan Self
cleansing karena tidak harus membawa padatan;

Kecepatan maksimum 3 m/detik.

Gambar 2.4 Skema SmallBoreSewer (TAG UNDP, 1985)

Kondisi kawasan yang cocok menerapkan Small bore sewer adalah di daerah
dengan kepadatan penduduk > 200 jiwa/ha, kemiringan tanah cenderung datar <
2% dan umumnya sudah memiliki septic tank akan tetapi tidak ada lahan untuk
membuat bidang resapan atau bidang resapannya tidak efektif karena
permeabilitas tanah tidak memenuhi syarat.
Kelebihan Sistem Riol Ukuran Kecil :
-

Cocok untuk daerah dengan kerapatan penduduk sedang sampai tinggi


terutama daerah yang telah menggunakan tangki septik tapi tanah
sekitarnya sudah tidak mampu lagi menyerap effluen tangki septik;

Biaya pemeliharaan relatif murah;

Mengurangi kebutuhan air, karena saluran tidak mengalirkan padatan;

Mengurangi kebutuhan pengolahan misalnya screening;

II-9

Biasanya dibutuhkan di daerah yang tidak mempunyai lahan untuk bidang


resapan atau permeabilitas tanahnya jelek.

Kekurangan Sistem Riol Ukuran Kecil :


-

Memerlukan lahan untuk tangki pemisah padatan dengan cairan air


buangan.

Memungkinkan untuk terjadi clogging karena diameter pipa yang kecil,


karena saluran hanya menerima air buangan tanpa padatan, maka
rancangannya sangat berbeda dari konvensional.

Small bore sewer mempunyai daerah pelayanan relatif lebih kecil


dibandingkan dengan jaringan saluran secara konvensional.

2.3.2.2 Sistem Penyaluran Tercampur


Pada sistem ini, air buangan disalurkan bersama dengan limpasan air hujan
dalamsatu saluran tertutup. Dasar pertimbangan diterapkan sistem ini antara lain :
-

Debit air hujan dan air buangan secara umum relatif kecil sehingga dapat
disatukan.

Fluktuasi curah hujan dari tahun ke tahun relatif kecil.

Kelebihan sistem ini adalah hanya diperlukannya satu jaringan sistem penyaluran
air buangan, sehingga dalam operasi dan pemeliharaannya lebih ekonomis. Selain
itu terjadi pengurangan konsentrasi pencemar air buangan karena adanya
pengenceran dari air hujan. Kelemahannya adalah diperlukannya perhitungan
debit air hujan dan air buangan yang cermat. Selain itu karena salurannya tertutup,
maka diperlukan ukuran riol berdiameter besar serta luas lahan yang cukup luas
untuk menempatkan instalasi pengolahan air buangan.
2.3.2.3 Sistem Kombinasi
Sistem ini dikenal dengan istilah interceptor dimana air buangan dan air
hujandisalurkan bersama-sama sampai tempat tertentu baik melalui saluran
terbukamaupun saluran tertutup tetapi sebelum mencapai lokasi instalasi
pengolahanantara air buangan dan air hujan dipisahkan melalui bangunan
regulator.

II-10

Air buangan dimasukkan ke saluran pipa induk untuk disalurkan ke lokasi


pembuangan akhir, sedangkan air hujan langsung dialirkan ke badan air penerima.
Pada musim kemarau air buangan akan masuk seluruhnya ke pipa induk dan tidak
akan mencemari badan air. Sistem ini diterapkan pada:
-

Daerah yang dilalui sungai yang airnya dimanfaatkan untuk memenuhi


kebutuhan tertentu, misalnya sebagai bahan baku penyediaan air
bersihsehingga penting untuk dilindungi dari pencemaran.

Daerah yang untuk program jangka panjang direncanakan akan diterapkan


sistem saluran secara konvensional. Karena itu pada tahap awal dapat
dibangun saluran pipa induk yang untuk sementara dapat dimanfaatkan
sebagai saluran air hujan.

2.4 Jenis Saluran


Jenis saluran pengumpul dapat dikategorikan sebagai berikut (Masduki, 2000):
1. Pipa persil
Yaitu pipa yang ada di pekarangan rumah / tanah milik. Pipa ini merupakan
sambungan dari plambing rumah. Diameter pipa persil 100 150 mm atau
sekurang-kurangnya sama dengan diameter akhir plambing rumah.
2. Pipa service / pelayanan
Merupakan sambungan dari sistem persil dan biasanya berada di jalan. Kapasitas
ideal yang ditampung adalah 50 rumah. Kemiringan saluran 0,51%. Diameter
paling sedikit 150 mm dengan lebar galian pemasangannya minimum 0,45 m
dengan kedalaman benam awal paling sedikit 0,6 m. Ada dua sistem:
-

Sistem brandgang

Sistem jalur riol diarahkan ke belakang rumah menuju brandgang, dimana riol
service penerima diletakkan.
-

Sistem trotoir

Semua lajur riol persil diarahkan ke depan rumah menuju trotoir, dimana riol
service penerima diletakkan.

II-11

3. Pipa lateral
Yaitu pipa yang menerima aliran air buangan dari sistem pipa service
untukdialirkan ke pipa cabang/ terletak memanjang di sepanjang jalan sekitar
daerah pelayanan. Diameternya sama dengan 200 mm.
4. Pipa cabang
Yaitu pipa yang menerima aliran air buangan dari sistem pipa lateral untuk
dialirkan ke pipa induk.
5. Pipa induk
Yaitu pipa yang menerima aliran air buangan dari sistem pipa cabang untuk
dialirkan ke badan air penerima (akhir dari sistem penyaluran air buangan).
2.5 Pola Jaringan Saluran
Sistem jaringan riol mayor dimulai dari pipa cabang sampai pipa induk. Pola
jaringan riol mayor mengikuti pola sistem riol keseluruhannya. Ada empat pola
jaringan riol mayor, yaitu :
1. Pola Interceptor
Merupakan pola sistem campuran terkontrol, dimana sejumlah tertentu air hujan
dimasukkan ke dalam pipa riol hulu dengan kontrol debit. Ketika pemasukan air
hujan terjadi, pipa riol hulu penuh dan bertekanan sampai pipa riol interceptor.
Riol biasanya dipasang sejajar dengan sungai besar dan berakhir di IPAL.
2. Pola Zona / Wilayah
Merupakan pola yang diterapkan di daerah pelayanan yang terbagi-bagi oleh
sungai, sehingga pipa perlintasannya tidak mungkin atau sangat mahal untuk
dibangun. Pada akhir pipa induknya dibuat IPAL.
3. Pola Kipas
Merupakan pola yang diterapkan di daerah pelayanan yang terletak pada suatu
lembah. Pengumpulan aliran dapat melalui lebih dari dua cabang saluran yang
kemudian menyatu dalam pipa utama menuju satu IPAL.

II-12

4. Pola Radial
Merupakan pola yang menerapkan pengumpulan aliran dilakukan ke segala arah
luar dimulai dari daerah tertinggi. Jalur yang ditempuh pendek-pendek sehingga
diperlukan banyak IPAL. Pola ini diterapkan pada daerah bukit.
Dalam desain seluruh sistem jaringan pipa riol, diperlukan pengetahuan hidrolika
untuk menghitung ukuran pipa yang diperlukan. Untuk lebih jelasnya, pola
jaringan riol ini dapat dilihat pada Gambar 2.6

1. Pola Interceptor

3. Pola Zona/Wilayah

2. Pola Kipas

4. Pola Radial

Gambar 2.6 Pola Jaringan Riol (Masduki, 2000)

2.6 Bentuk dan Bahan Saluran


2.6.1 Bentuk Saluran
Pertimbangan dalam pemilihan bentuk saluran adalah :
-

Segi hidrolis pengaliran untuk menjamin pengaliran air buangan,


kedalaman berenang minimum dan kecepatan pada aliran minimum harus
terpenuhi.

Segi konstruksi.

Ketersediaan tempat bagi penanaman saluran.

Segi ekonomis dan teknis, termasuk kemudahan memperoleh materialnya.


II-13

Bentuk saluran yang banyak digunakan dalam jaringan pengumpul air buangan
adalah bulat lingkaran dan bulat telur.
1. Bulat lingkaran
Bentuk saluran ini banyak dipakai pada kondisi debit konstan dengan saluran
tertutup dimana :
-

Kondisi kecepatan maksimum tercapai saat d = 0,815 D

Kondisi debit maksimum tercapai saat d = 0,925 D

Biasanya pipa persil dan pipa service berbentuk bulat lingkaran

Gambar 2.7 Pipa Bulat Lingkaran (Henny Wardhani, 2003)

2. Bulat telur
Bentuk saluran ini biasa dipakai pada kondisi debit tidak konstan dengan saluran
tertutup dimana :
-

Kondisi kecepatan maksimum tercapai saat d = 0,89 D

Kondisi debit maksimum tercapai saat d = 0,94 D

Umumnya pipa bulat telur ini digunakan untuk pipa lateral, cabang, dan induk.

Gambar 2.8 Pipa Bulat Telur (Henny Wardhani, 2003)

II-14

Dari segi hidrolis, bentuk bulat telur ini memberikan keuntungan :


-

Kedalaman renang aliran lebih terjamin.

Dapat mengatasi fluktuasi aliran dengan baik.

Sedangkan kerugiannya :
-

Sukar diperoleh

Pemasangan lebih rumit dan lebih lama, mempunyai resiko tidak kedap
yang lebih tinggi setelah penyambungan.

Harga pipa lebih mahal.

Satuan panjang pipa bulat telur lebih pendek daripada pipa bulat lingkaran,
sehingga pemasangan tidak efisien.

2.6.2 Bahan Saluran

Bahan pipa yang biasanya digunakan (Masduki, 2000) adalah :

1. Pipa Beton

Pipa beton dapat dibuat setempat dari bahan campuran semen, pasir, dan
kerikil. Kualitasnya perlu diperhatikan secara khusus, terutama terhadap
asam sehingga dinding pipa bagian dalam diberi lapisan email. Kualitas
pipa beton coran lebih jelek daripada cast concrete centrifugal,karena cast
concrete resisten terhadap korosi, lebih mulus, dan lebih kedap. Pipa beton
dapat dibuat dari berbagai macam ukuran dan kekuatan yang diperlukan.
Untuk saluran dengan ukuran sedang ke besar (lebih dari 24 inchi),
biasanya digunakan reinforce concrete karena lebih ekonomis.

2. Pipa Keramik Tanah Liat

Sudah dipakai sejak zaman Babilonia, ukurannya berkisar antara 18 24


inchi (450 600 mm). Terbuat dari tanah liat atau lempung yang setelah
dicetak dikeringkan dengan cara dibakar. Pipa ini sangat resisten terhdap
korosi, tidak membutuhkan pelapisan khusus sebagai pelindung dari asam.
Kekurangannya adalah panjangnya yang biasanya pendek-pendek, mudah
patah dalam transit dan penanganan.

3. Pipa Semen Asbes

Sangat tahan terhadap korosi oleh asam, buangan yang sangat septik, dan
tanah dengan alkalinitas yang sangat tinggi. Keuntungan yang lainnya
adalah biaya yang rendah, sambungan yang kedap air, infiltrasi rendah,
karakteristik aliran yang baik, ringan, mudah dalam penanganan, serta
mudah dalam pemotongan dan pemasangan untuk sambungan. Pipa ini
dibuat dengan panjang yang lebih dari pipa lainnya sehingga jarang
membutuhkan sambungan. Terbuat dari bahan serat asbes, semen, dan
silika dalam tekanan yang tinggi. Kekurangannya adalah harganya lebih
mahal daripada pipa beton dan verified clay pipa, serta tidak mudah
dipindahkan. Selain itu, debu asbes dapat menyebabkan asbestosis.

4. Pipa Plastik

Pipa plastik umumnya digunakan karena ringan, mudah dalam


pemasangan dan penanganan. Kelebihannya adalah terbebas dari korosi,
resistensi yang baik terhadap shock, fleksibel, karakteristik aliran sangat
baik, ringan sehingga mudah dalam transportasi dan penanganan, serta
lebih panjang sehingga mengurangi jumlah sambungan. Selain itu
pemasangan sambungan rumah lebih mudah dan tanpa peralatan khusus.

5. Pipa Besi Tuang

Keuntungan dari penggunaan pipa jenis ini adalah umur yang panjang,

karakteristik aliran yang baik, dapat toleran terhadap tekanan dalam yang tinggi
dan muatan luar yang besar, juga resisten terhadap korosi pada hampir semua
jenis tanah. Pipa ini terlalu mahal jika digunakan untuk sewer, bahkan untuk
negara-negara industri sekalipun.
-

6. Pipa Kayu

Dapat terbuat dari kayu gelondongan ataupun bambu, jika materi lain tidak

tersedia. Sambungannya sukar untuk dibuat kedap air. Ukurannya terbatas,


karakteristik aliran yang buruk, kurang seragam, dan tidak dijamin
kelangsungannya untuk kondisi-kondisi khusus.
-

G. Pipa Fiber Glass

Kelebihan pipa Fiber Glassantara lain (Hardjosuprapto 2000):


Tahan terhadap asam
Bersifat elastis
Diameter besar

Cocok untuk pipa induk

Kelemahan pipa Fiber Glassadalah harganya mahal.

Pipa saluran air buangan memiliki koefisien kekasaran manning yang

beragam tergantung jenis pipa yang digunakan. Harga koefisien manning dari
berbagai bahan pipa dapat dilihat pada Tabel 2.1.
-

Tabel 2.1 Harga Koefisien Manning dari Berbagai Bahan Pipa

Bahan

Koef. Kekasaran Manning

o
1
2
3
4
5
6
7
-

Pipa semen-asbes

0,011 0,015

Bata

0,012 0,018

Pipa beton

0,011 0,015

Beton kasar

0,015 0,020

Pipa baja gelombang

0,022 0,026

Pipa plastik (PVC)

0,011 0,015

Pipa keramik

0,011 0,015

Sumber: Hardjosuprapto, 2000

2.7 Penempatan dan Pemasangan Saluran


-

Ada beberapa cara untuk menempatkan saluran (DPU, 1986), yaitu:

1. Penempatan saluran pada sisi jalan dengan elevasi yang lebih tinggi yaitu bila
jalan-jalan dengan rumah atau bangunan di satu sisi lebih tinggi dari sisi lain.

2. Di tepi jalan, sebaiknya di bawah trotoir atau tanggul jalan untuk menjaga
kemungkinan dilakukan penggalian di kemudian hari untuk perbaikan.
3. Penempatan di tengah, bawah jalan, bila jalan tidak terlalu lebar dan
penerimaan air buangan dari dua arah yaitu kanan dan kiri jalan.
4. Saluran bisa diletakkan di kedua sisi jalan, bila di sebelah kanan dan kiri jalan
terdapat banyak sekali rumah atau bangunan.
5. Penempatan saluran bisa di tengah jalan bila jalan tersebut mempunyai
jumlah rumah atau bangunan sama banyak di kedua sisinya dan mempunyai
elevasi lebih tinggi daripada jalanan.
-

Agar lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.9:

Gambar 2.9 Penempatan dan Pemasangan Saluran (DPU, 1986)

2.8 Kedalaman Saluran


-

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memasang pipa :


-

Diusahakan sedangkal mungkin agar lebih ekonomis.

Menjaga pola aliran gravitasi.

Dapat mengantisipasi sambungan di masa depan.


Kedalaman maksimum pipa lateral, pipa cabang, dan terutama pipa induk

ditetapkan sebesar 7 m dari permukaan tanah (Masduki, 2000). Bila kedalaman


maksimumnya lebih dari 7 m, harus dilakukan pemompaan untuk mendapatkan
aliran secara gravitasi.
2.9 Kemiringan Saluran
-

Kemiringan pipa riol ditentukan agar memperoleh kecepatan swabersih

(Masduki, 2000). Dalam hal ini unsur penting yang harus diketahui diantaranya
adalah fluktuasi debit, kandungan benda padat, BOD dan Sulfat. Untuk teknologi

smallboresewer, batas kecepatan pembersihan sendiri tidak ada. Hal ini


disebabkan air buangan yang mengalir dalam pipa tidak mengandung padatan atau
solid, karena telah disisihkan dalam tangki interseptor. Padatan yang ada dalam
aliran air buangan pada small bore sewer hanya berupa partikel-partikel kecil
seperti pasir. Berdasarkan kondisi di atas, maka batas kecepatan pada debit puncak
yang ditetapkan untuk aliran dalam pipa pada sistem ini adalah 0,3 m/detik.
Diasumsikan pada kecepatan 0,3 m/detik, partikel atau pasir tidak akan
mengendap.
Kemiringan pipa riol dapat didekati dengan persamaan (Metcalf and Eddy,

1981) sebagai berikut :

-......................................................................................................
2.1
-

Sedangkan untuk conventional sewer dan shallowsewerage, kemiringan

saluran mempertimbangkan dua unsur penting yang perlu dipakai sebagai


pengendali atau kontrol (Paintal, 1977), yaitu :
-

Kontrol Sulfida, berdasarkan Palmeroy Indeks, Z = 7500


-..........................................................................................

.............................................................2.2
-

Kontrol endapan, berdasarkan gaya geser kritis (c) yang dianjurkan


(Paintal,1977), c bernilai 0,33 0,38 kg/m2
-.................................................................................................

.............................2.3

Dimana :

= Kemiringan pipa riol (m/m)

= Gaya geser kritis (kg/m2)

Rm

= Jari-jari hidrolis saat debit minimum (m)

Rf

= Jari-jari hidrolis saat aliran penuh (m)

Qpb

= Debit maksimum musim basah (l/detik)

= Keliling basah pada saat debit maksimum (m)

= Lebar basah pada saat debit maksimum (m)

= Palmeroy Indeks = 7500

EBOD

= BOD Efektif = BOD5 X 1,07(T-20)

Dari kedua

persamaan tersebut, dipilih harga S terbesar.


2.10 Beban di Atas Saluran
-

Setiap saluran yang dibenam di bawah lajur jalan akan menerima beban.

Besarnya beban pada saluran dipengaruhi oleh (Masduki, 2000) :


-

Beban tanah penimbun.

Kedalaman benam saluran atau pipa.

Lebar galian.

Volume beban bergerak di atas pipa.

Ada dua beban yang harus diperhitungkan, yaitu :

1. Beban diam (Wd)

Beban yang diterima saluran akibat timbunan tanah diatasnya. Dapat

dihitung dengan bantuan formula Martson yang ditulis sebagai berikut:


-..............................................................................................................
...................................................................... 2.4

dimana:

Cd

= koefisien pembebanan

= berat jenis tanah penimbun

Bd

= lebar galian saluran

Wd

= beban vertikal

2. Beban bergerak (Wm)

Beban bergerak dalam prakteknya dihitung sebagai prosentase dari beban


-

Diameter Manhole (mm)

150
200
500
1000
2000
> 2000

Jarak Manhole (m)

25-50
50-100
100-125
125-150
150-200
>200

diam. Total pembebanan yang diterima saluran (Wt) adalah :


-......................................................................................................
............................................................................................................... 2.5

2.11 Perlengkapan Saluran


-

Perlengkapan saluran air buangan adalah semua bangunan yang ikut

menunjang kelancaran penyaluran air buangan selama pengalirannya. Adapun


perlengkapan-perlengkapan yang umum digunakan adalah sebagai berikut
(Masduki, 2000):
-

2.11.1 Manhole

Fungsi manhole pada air buangan adalah :


-

Pembersihan, pemeliharaan, perbaikan dan pemeriksaan saluran.

Mempertemukan beberapa cabang saluran baik yang mempunyai


ketinggian sama maupun tidak sama.

Manhole ditempatkan pada :


-

Jarak tertentu pada pipa lurus, tergantung diameter pipa. Penempatan


manhole pada pipa lurus dapat dilihat pada tabel berikut :
-

Tabel 2.2 Penempatan Manhole Pada Pipa Lurus

Sumber: Masduki, 2000

Di setiap perubahan kemiringan pipa, diameter dan perubahan arah aliran


baik vertikal maupun horizontal.

Di setiap pertemuan atau percabangan saluran.


Di setiap titik masuk dan titik keluar bangunan lain.

Manhole biasanya berbentuk lingkaran dengan dimensi didalamnya


sehingga pengawasan dan pembersihan dapat dilakukan tanpa kesulitan.
Diameter minimum di dalam adalah 4 ft (1,2 m) dengan tutup 2 ft (0,6 m).
-

Tabel 2.3 Ukuran Diameter Menurut Kedalaman

Kedalaman Saluran (m)


-

< 0,8
0,8-2,5
> 2,5

Diameter Manhole (mm)


-

0,75
1-1,2
1,2-1,8

Sumber: DPU, 1986

Dimensi pondasi, dinding, dan komponen lain dari manhole tergantung


dari kedalaman, kondisi tanah, muatan dan materi yang digunakan.
Dinding manhole setidaknya mempunyai tebal 5-9 inchi (125 - 225 mm),
tergantung dari material yang digunakan. Untuk deep manhole atau
kondisi tanah yang khusus, dibutuhkan dinding yang lebih tebal. Dasar
manhole biasanya dibuat dari beton dan sedikit dimiringkan menjadi
saluran terbuka. Sisi pada saluran berbentuk U harus cukup tinggi untuk
mencegah overflow dari air buangan pada lantai yang miring pada
manhole.

Materi yang biasa digunakan untuk membuat dinding manhole adalah batu
bata, blok beton solid, beton coran, dan precast concrete rings. Pada
bagian ujung atas dari dinding beton biasanya dibuat dari precastconcrete.
Hal ini untuk memungkinkan satu ujung dari tutup diletakkan langsung di
atas dinding manhole, sehingga meningkatkan aksesibilitas.

Pemeliharaan dan perawatan merupakan faktor penting yang harus


dimasukkan dalam proses perancangan manhole. Pengawasan harus
dilakukan agar manhole tidak dapat dimasuki anak-anak dan orang lain
yang tidak berkepentingan. Kotak manhole dan tutup harus dibuat dari
materi-materi yang kuat seperti reinforce- concrete atau cast iron dengan
berat 200 300 kg untuk menahan beban lalu lintas jalan dan mencegah
gangguan dari orang-orang yang tidak berkepentingan. Tutup biasanya
mempunyai pori-pori yang berfungsi untuk ventilasi dan melepaskan gas-

gas yang terakumulasi. Tapi jika tutup manhole akan terendamoleh run off,
sebaiknya tidak menggunakan tutup berpori dan harus jelas-jelas terlihat
sehingga dapat dibedakan. Jika terjadi perbedaan penempatanantara
manhole dan pipa saluran yang tersambungkan, maka dapat digunakan
flexible joint untuk membantu mencegah pipa patah ataupun kebocoran
padasambungan.
-

Faktor pemilihan manhole (Masduki, 2000) adalah sebagai berikut :

Mudah diperbaiki atau diganti jika rusak akibat lalu lintas.


Kuat menahan beban lain.
Tersedia di pasaran.
Dapat berfungsi sebagai ventilasi.

Persyaratan manhole :

Bersifat padat dan kokoh.


Kuat menahan gaya-gaya dari luar.
Accessibility tinggi, tangga dari bahan anti korosi.
Dinding terbuat dari beton atau pasangan batu bata atau batu kali. Jika

diameternya lebih dari 2,5 m, konstruksinya beton bertulang.


Bagian atas dinding manhole sebagai peletakan tutup manhole merupakan
konstruksi yang fleksibel, agar dapat selalu disesuaikan dengan
levelpermukaan jalan yang mungkin berubah.

Cleanout dan manhole diperlukan untuk membersihkan dan menjaga


sewer. Cleanout disarankan pada manhole karena flushing hidrolis cukup
untuk membersihkan saluran dari timbunan organic solid, kecuali pada
sambungan utama, karena mahal dan sumber infiltrasi inflow dan pasir.
Cleanout ditempatkanpada seluruh upstream, interseksi jalur saluran,
perubahan arah utama, titiktertinggi dan interval 150 200 m pada bagian
datar yang panjang.

2.11.2 Drop Manhole

Drop manhole digunakan apabila saluran yang datang (biasanya lateral),


memasuki manhole pada titik dengan ketinggian lebih dari 2 ft (0,6 m) di
atas saluran selanjutnya. Tujuan digunakannya drop manhole adalah untuk
menghindari penceburan atau splashing air buangan yang dapat merusak
saluran akibat penggerusan dan pelepasan H2S.

Dua jenis drop manhole yang sering digunakan :


a. Tipe Z (pipa drop 900)

b. Tipe Y (pipa drop 450)

Dua jenis drop manhole ini dapat dilihat pada gambar 3.11.

(A)

(B)

Sumber: Masduki, 2000

Gambar 2.10 Manhole Riol Tipikal (A) dan Drop Manhole (B)
-

2.11.3 Belokan

Pembuatan belokan harus teliti karena pada belokan dapat terjadi


kehilangan energi yang cukup besar. Persyaratan yang perlu diperhatikan :

Tidak boleh ada perubahan penampang melintang saluran.


Dinding saluran selicin mungkin.
Bentuk saluran harus seragam, baik radius maupun kemiringan saluran.
Pembuatan manhole untuk mempermudah pemeriksaan terhadap clogging.
Radius lengkung belokan yang sangat pendek perlu dihindari agar
kehilanganenergi aliran dapat ditekan sekecil mungkin. Untuk mengatasi
masalah iniperlu, ditentukan batas bentuk radius lengkungan dari pusat
adalah lebih dari 3 kali diameter saluran.

2.11.4 Sambungan dan Transmisi Sambungan

Sambungan berfungsi untuk menyambungkan satu atau lebih saluran


cabang atau pada titik temu dengan saluran induk. Sambungan ini
dilengkapi dengan manhole agar memudahkan pemeliharaan, karena
lumpur selalu terakumulasi pada sambungan sehingga dapat
mengakibatkan penyumbatan. Transmisi berfungsi untuk menyambung

saluran bila terjadi perubahan diameterdan kemiringan. Transmisi ini juga


dilengkapi dengan manhole.
-

Kriteria yang harus dipenuhi oleh keduanya :

Dinding saluran harus selicin mungkin.


Kecepatan aliran dari setiap saluran harus seragam.
Pada sambungan diusahakan agar terjadi perubahan arah aliran jangan
terlalu tajam dan sudut pertemuan antara saluran cabang dan saluran induk
kurang dari 450.

2.11.5 Terminal Cleanout

Terminal cleanout ini berfungsi untuk memasukkan alat pembersih ke


dalam saluran dan untuk memasukkan air ke dalam saluran dalam rangka
membersihkan saluran tersebut.

2.11.6 Stasiun Pompa

Sumur pompa (lift station) dibutuhkan dalam situasi dimana posisi tangki
berada di bawah saluran, serta pada situasi dimana penggalian lebih dalam
akan lebihmahal daripada menyediakan lift station. Stasiun pompa
(Gambar 2.11) dirancang sederhana dengan pompa bertekanan dan
berkapasitas rendah serta tahan korosi.

Jumlah dan lokasi stasiun pompa biasanya ditentukan dari perbandingan


biaya konstruksi dan operasi serta perawatan, dengan biaya konstruksi dan
perawatan saluran berdiameter besar dan dangkal.

Gambar 2.11 Stasiun Pompa (Mara, 1996)

2.11.7 Ventilasi

Ventilasi saluran air buangan diperlukan untuk (Metcalf and Eddy, 1981) :

Untuk mengeluarkan gas yang berbau yang terkumpul pada saluran.


Mencegah timbulnya H2S sebagai hasil proses dekomposisi zat organik di

dalam saluran.
Ruangan penampang air penggelontor (berhubungan dengan ujung atau
permulaan saluran pembuangan air kotor). Karena permulaan ini terletak
paling atas, maka terdapat gas-gas yang berbau yang dapat masuk ke
tempat penampungan air penggelontor. Oleh karena itu harus diberi tempat

untuk mengeluarkan gas-gas itu yaitu ventilasi.


Ventilasi diperlukan apabila waktu detensi air buangan dalam saluran lebih
dari 18 jam.

2.11.8 Bangunan Penggelontor

Bangunan penggelontor berfungsi untuk mencegah pengendapan kotoran


dalam saluran, mencegah pembusukkan kotoran dalam saluran, dan
menjaga kedalaman air pada saluran.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan pada bangunan penggelontor ini


adalah, air penggelontor harus bersih tidak mengandung lumpur, pasir, dan
tidak asam, basa atau asin, selain itu air penggelontor tidak boleh
mengotori saluran.

2.11.8.1 Jenis Penggelontoran

Berdasarkan kontinuitasnya, penggelontoran dibagi menjadi dua:


1. Sistem Kontinu

Penggelontoran dengan sistem kontinu, adalah sistem dimana


penggelontoran dilakukan secara terus menerus dengan debit konstan.
Dalam perencanaan dimensi saluran, tambahan debit air buangan dari
penggelontoran harus diperhitungkan, dengan menggunakan sistem
kontinu maka kedalaman renang selalu tercapai, kecepatan aliran dapat
diatur, syarat pengaliran dapat terpenuhi, tidak memerlukan bangunan
penggelontor di sepanjang jalur pipa, tetapi cukup berupa bangunan pada

awal saluran atau dapat berupa terminal cleanout yang dihubungkan


dengan pipa transmisi air penggelontor. Selain itu, kelebihan dari
penggunaan sistem kontinu ini adalah kemungkinan saluran tersumbat
kecil, dapat terjadi pengenceran air buangan, serta pengoperasiannya
mudah. Kekurangannya yaitu debit penggelontoran yang konstan
memerlukan dimensi saluran lebih besar, sehingga menjadi penambahan
beban hidrolis pada IPAL.
-

2. Sistem Periodik

Dalam sistem periodik, penggelontoran dilakukan secara berkala pada


kondisi aliran minimum. Penggelontoran dilakukan minimal sekali dalam
sehari. Dengan sistem periodik, penggelontoran dapat diatur sewaktu
diperlukan, debit penggelontoran akan sesuai dengan kebutuhan. Dimensi
saluran relatif tidak besar karena debit gelontor tidak diperhitungkan.
Penggunaan sistem penggelontoran secara periodik, akan menyebabkan
lebih banyaknya unit bangunan penggelontor di sepanjang saluran, selain
itu ada kemungkinan pula saluran tersumbat oleh kotoran yang tertinggal.

2.11.8.2 Volume Air Penggelontor

Volume air gelontor tergantung pada:

Diameter saluran yang digelontor


Panjang pipa yang digelontor
Kedalaman minimum aliran pada pipa yang digelontor

Untuk perencanaan penggelontoran sistem kontinu perhitungannya


dilakukan bersama dengan perhitungan dimensi penyaluran air buangan,
sedangkan untuk sistem periodik perhitungan perencanaannya sebagai

berikut :
V gelontor = tg x Qg
Keterangan :
V gelontor
= volume air gelontor (m3)
tg
= waktu gelontor (dt)
Qg
= debit air gelontor (m3/dt)
2.11.8.3 Alternatif Sumber Air Penggelontor

Air penggelontor dapat berasal dari berbagai sumber seperti dari air
buangan dalam pipa riol itu sendiri atau air dari luar seperti air tanah, air
hujan, air PDAM, air sungai, danau, dan sebagainya. Air penggelontor

yang dari luar harus tawar (bukan air asin/laut), untuk menghindari
terjadinya penambahan kadar endapan/suspensi atau kadar kekerasan dan
kontaminan yang lebih besar. (Masduki, 2000)
2.12 Proyeksi Penduduk
-

Beberapa metode statistik yang dapat digunakan dalam menentukan

proyeksi jumlah penduduk antara lain (Soewarno, 1995):


1. Metode aritmatika;
2. Metode eksponensial;
3. Metode geometri dan;
4. Metode logaritma.
-

2.12.1 Metode Aritmatika


Metode ini digunakan jika data berkala menunjukkan jumlah penambahan
yang relatif sama setiap tahunnya. Persamaan umumnya adalah
(Soewarno, 1995):

.......... 2.6
Y = a + bx
Keterangan:
Y

=
-

=
-

=
- -

Nilai variabel berdasarkan garis regresi, populasi ke

n
Bilangan independen, bilangan yang dihitung dari

tahun awal
Konstanta
Koefisien arah garis (gradien) regresi linier

=
-

.......... 2.7

a
-

Ya X

X
b

X Yi Y
i

Keterangan :
Y
= Rata-rata penduduk

X
Xi

Yi

= Rata-rata tahun
= Jumlah penduduk pada tahun ke-i
=

Tahun ke-i

......... 2.8

2.12.2 Metode Geometri


Metode geometri berdasarkan pada rasio pertambahan penduduk rata-rata
tahunan. Metode ini sering digunakan untuk meramalkan data yang

perkembangannya melaju sangat cepat. Persamaan umumnya adalah:


Y = a.Xb
.......... 2.9
Persamaan diatas dapat dikembalikan kepada model linier dengan
mengambil logaritma (Ln), dimana:

log Y = log

a + b.log X
-

.......... 2.10
log a =

Log Y bLog X

.......... 2.11

logY

logY log Y logX

2 1/2

2 1/2

logY log Y
log X logX log X

log Y logX i log X


i

2 1/2

.... 2.12

2.12.3 Metode Eksponensial

Metode eksponensial menggambarkan pertambahan penduduk yang terjadi


secara sedikit demi sedikit pada sepanjang tahun. Metode eksponensial
berbeda dengan metode geometri yang mengasumsikan bahwa
pertambahan penduduk hanya terjadi pada satu saat selama kurun waktu

tertentu.
Persamaan umumnya adalah (Soewarno, 1995):
Y = a ebx

......... 2.13
-

Dengan mengambil anti logaritma ln Y = ln a + bx


Y = Exp (ln a + bx)
Dimana persamaan tersebut linier dalam X dan Ln Y.

.......... 2.14

lna ln Y i b X

...........2.15

X X lnY ln Y lnY ln Y
b
X X lnY ln Y X X
2

2 1/2

2 1/2

2 1/2

.......2.16

Keterangan :
Y

Jumlah penduduk

=
-

Jumlah tahun dari tahun 1 sampai tahun ke-n

=
-

Jumlah data

=
-

2.12.4 Metode Logaritma

Metode logaritma berdasarkan proyeksi dengan tingkat pertumbuhan yang


tetap. Metode ini umumnya dapat diterapkan pada wilayah dimana pada
tahun-tahun awal observasi pertambahan absolut penduduknyasedikit dan
menjadi semakin banyak pada tahun-tahun akhir.

Persamaan umumnya adalah:

Y ab X

.........2.17
-

Persamaan diatas dapat dikembalikan kepada model linier dengan


mengambil logaritma (Ln).

dimana:

Y=a+

b . Ln X

.........2.18

a Y blog X i

.........2.19

Y Y logX log X Y Y
b
Y Y logX log X logX log X
2 1/2

1/2

2 1/2

........2.20

Keterangan:

Nilai variabel Y berdasarkan garis regresi,populasi ke-

=
-

n
Bilangan independen, bilangan yang dihitung dari

=
-

tahun awal
Konstanta

=
-

Koefisien arah garis (gradien) regresi linier

=
-

2.12.5 Pemilihan Metode Proyeksi

Pemilihan proyeksi penduduk berdasarkan pada nilai deviasi standar.


Deviasi standar atau simpangan baku merupakan ukuran penyebaran yang
paling sering digunakan dalam melakukan proyeksi penduduk(Harinaldi,
2005).

1.
2.
-

Pemilihan metode proyeksi yang paling tepat jika memiliki:


Nilai S yang paling kecil;
Nilai r yang paling mendekati 1 atau 1.
Persamaan Standar Deviasi (S):

(x

Sx

i 1

.........2.21

- x)

n 1

Persamaan Koefisien Korelasi (r):


.........2.22
^

r 1

( y y) 2
(y y) 2

Keterangan:
xi
= P P
^

= P = Jumlah penduduk awal


= Pr = Jumlah penduduk rata-rata
y
= P = Jumlah penduduk yang akan dicari
2.13 Ekivalensi Penduduk
Debit air buangan total kota dapat diketahui setelah diketahui jumlah

populasi dan jumlah pemakaian air bersih. Debit air buangan dari kegiatan
non domestik seperti komersil, rumah sakit, institusi dan sebagainya dapat
diketahui dengan menggunakan ekivalensi penduduk. Ekivalensi
penduduk dari berbagai jenis kegiatan dapat dilihat pada Tabel 2.4.

N
-

Tabel 2.4 Ekivalensi penduduk dari berbagai jenis kegiatan

Ke
giatan

1
- -

RumahBiasa

Rumah Mewah

1
-

Apartemen

1,

67
-

RumahSusun

0,

67
-

Puskesmas

0,

02
-

RumahSakitMewah

6,

67
-

7 ah
- -

RumahSakitMeneng
RumahSakitUmum

SofyanM
Noerlambang

SofyanM
Noerlambang

SofyanM
Noerlambang

SNI037065-2005

SNI037065-2005

SNI037065-2005

SNI037065-2005

SNI037065-2005

SNI037065-2005

2,
-

SD

83
0,

SLTP

27
-

0,

33
-

SofyanM
Noerlambang

67
-

StudyJICA1990

1,
-

Acuan

iPE

2
-

Nila

SLTA

0,
53

N
-

Ke
giatan

PerguruanTinggi

0,

53
-

Ruko

0,

67
-

Kantor

1
-

33
-

Stasiun

1
-

SNI037065-2005

SNI 03 70652005

SNI 03 7065-

0,
-

2005
-

SNI 03 7065-

0,
-

Acuan

iPE

1
-

Nila

02
-

Restoran

2005
-

SNI 03 7065-

0,

2005

11
-

Sumber: Departemen Pekerjaan Umum-Direktorat Jendral Cipta Karya

2.14 Debit Air Buangan

2.14.1 Domestik Rata-rata

Dalam menentukan besarnya debit air buangan domestik di suatu daerah


ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain :

Jumlah penduduk.
Jenis pemakaian air bersih.
Standar pemakaian air bersih.
Faktor reduksi pemakaian air bersih menjadi menjadi air buangan.

Penentuan debit air buangan domestik diperoleh dari besarnya pemakaian


air bersih dengan memperhitungkan faktor kehilangan air (Metcalf and
Eddy, 1991), sehingga dirumuskan sebagai berikut :

...................................................2.23
Dimana:
-

Qrata = Debit air domestik rata-rata (l/detik)


Qam

= Kebutuhan rata-rata air minum (l/detik)

2.14.2 Debit Infiltrasi

Pada pengaliran air buangan, air yang masuk ke dalam jalur perpipaan
juga akan bertambah, yaitu air yang berasal dari infiltrasi tanah, air
hujan,dan air permukaan.

Debit infiltrasi air tanah berkisar 1-3 l/detik/1000 m panjang pipa, resapan
air tanah ke dalam sistem diperhitungkan dengan persamaan (Masduki,
2000) :

dimana:

...................................................................2.24
Qinf = debit tambahan dari infiltrasi limpasan air hujan

(l/detik)
-

= panjang lajur pipa (m)

qinf

= debit satuan infiltrasi dalam pipa.Harganya antara

1-3 l/detik/km dari debit, diambil 2 l/detik/km


-

2.14.3 Debit Harian Maksimum

Besarnya harga debit harian maksimum (Qmd) bervariasi antara 1,1 1,25
dar debit rata-rata air buangan (DPU, 1986). Rumus yang digunakan
adalah (Masduki, 2000):

dimana:

............................................................. 2.25
Qmd = Debit air buangan maksimum dalam 1 hari

(l/detik)
-

fmd

= Faktor debit hari maksimum = 1,1-1,25

Qrata = Debit rata-rata air buangan (l/detik)

Sistem small bore sewer mempunyai debit maksimum (Qmax) sama besar
dengan debit rata-rata (Qr). Hal ini disebabkan adanya tangki interseptor
yang berfungsi juga sebagai penyeimbang aliran yang masuk ke saluran
menjadi aliran rata-rata.

2.14.4 Debit Puncak

Aliran air buangan yang masuk ke saluran akan berkurang dalam tangki.
Besarnya pengurangan ini merupakan fungsi dari luas permukaan cairan
tangki dan lamanya waktu pembuangan ke dalam tangki. Berdasarkan

penelitian yang ada, besarnya faktor puncak (fp) mencapai 1,2- 2 (Otis dan
Mara, 1986). Rumus yang digunakan adalah (Masduki, 2000):
-

dimana:
-

.....................................................................2.26
Qp
= Debit puncak (l/detik)
fp

= Faktor puncak = 1,2-2

Dalam perencanaan ini digunakan faktor puncak 1,5 karena merupakan


nilai yang dianjurkan untuk desain (Mara, 1996).

2.14.5 Debit Minimum

Perhitungan debit minimum dari air buangan diperlukan dalam


perencanaan penyaluran dan instalasi pengolahan air buangan, karena pada
kondisi ini aliran akan menjadi kecil. Hal ini dapat menimbulkan pengaruh
pada saluran air buangan yaitu :

Aliran menjadi lambat dan memungkinkan terjadinya pengendapan

partikel di dalam saluran.


Adanya pengendapan dan aliran yang lambat akan menimbulkan
pembusukan zat-zat organik yang terdapat di dalam air buangan tersebut

oleh aktivitas bakteri.


Perlu atau tidaknya suatu bangunan penggelontor dengan mengetahui
kondisi aliran minimum.

Debit minimum diperoleh dari persamaan :

......................................................2.27
dimana :
-

Qmin = Debit hari minimum (l/detik)


fmin

= Faktor debit hari minimum = 0,3-0,5

2.14.6 Debit Perencanaan

Dalam desain penyaluran dan instalasi pengolahan air buangan debit


perencanaan yang merupakan akumulasi debit puncak dengan debit
infiltrasi (Masduki, 2000) :

........................................................2.28

2.14.7 Prinsip-Prinsip Hidrolika

Prinsip-prinsip hidrolika yang digunakan (Masduki, 2000) adalah :

A. Persamaan Kontinuitas
Dalam aliran tunak bertekanan, persamaan kontinuitas adalah sebagai
berikut :

Q = A1 x V1 = A2 x V2 = tetap.........................................2.29

B. Persamaan Manning
Persamaan Manning ini paling umum dan cocok dipakai dalam pipa riol
aliran terbuka atau aliran penuh.

.............................................................2.30
Untuk menghitung diameter pipa yang diperlukan, digunakan Peramaan
Manning yang diturunkan hingga diperoleh persamaan :

2.15

.......................................................2.31
Pengaliran Air Buangan

2.15.1. Faktor-Faktor Pengaliran Air Buangan

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar air buangan di dalam salur
an dapatmengalir dengan lancar menuju Instalasi Pengolahan Air Buangan
adalah :

Kemiringan saluran (S).


Luas penampang melintang saluran (A).
Kekasaran dari permukaan dalam saluran (n).
Kondisi pengaliran berdasarkan bentuk penampang saluran.
Ada atau tidaknya rintangan-rintangan, belokan-belokan.
Karakteristik, spesifik gravity dan viskositas dari cairan.

2.15.2. Jenis Pengaliran

Di dalam penyaluran air buangan dikenal dua jenis aliran, yaitu :

1. Pengaliran yang mengalami tekanan.

Yaitu pengaliran yang terjadi dalam pipa akibat adanya pemompaan (tek
ananhidrolis) di dalam saluran tertutup, karena muka air tidak berhubung
an secarabebas dengan tekanan atmosfer.

Kondisi aliran bertekanan ini hanya boleh diterapkan bila keadaan


memaksa, misalnya pada instalasi pemompaan yang berguna untuk
meningkatkan kembali head tekanan akibat kehilangan energi.

Kekurangan pengaliran yang mengalami tekanan adalah dapat


menyebabkan pipa saluran penuh berisi air buangan yang mengakibatkan
kondisi anaerob terjadi. Kondisi anaerob akan menghasilkan senyawasenyawa yang berbahaya seperti H2S (Sulfida) dan CH4 (Metan) akibat
proses penguraian.

2. Pengaliran bersifat terbuka dalam saluran tertutup.

Yaitu pengaliran secara gravitasi, karena permukaan air buangan pada


saluran berhubungan dengan udara bebas.

2.15.3. Syarat Pengaliran di Dalam Saluran

Syarat pengaliran yang harus diperhatikan pada perencanaan jaringan


pengaliran air buangan adalah sebagai berikut :

Pengaliran air buangan harus secara gravitasi.


Aliran harus dapat membawa material yang ada di dalam saluran meskipun

pada saat kondisi debit minimum.


Dianjurkan dapat membersihkan saluran sendiri (Self cleansing), dengan
kecepatan yang disyaratkan atau dengan kecepatan yang tidak

menimbulkan kerusakan pada permukaan saluran.


Pengaliran dapat mensirkulasikan udara atau gas-gas sehingga tidak

terakumulasi dalam saluran.


Waktu detensi air buangan di dalam saluran tidak boleh melebihi 18 jam.
Ketentuan ini didasarkan pada karakteristik mikroorganisme pereduksi
yang dapat melangsungkan dekomposisi sehingga senyawa-senyawa dalam
air buangan dapat menjadi senyawa septik.

2.15.4. Kecepatan Aliran

Persyaratan bagi kecepatan yang mengalir dalam perpipaan air buangan


adalah sebagai berikut:

Tidak menimbulkan penggerusan pada dinding pipa (abrasi).


Tidak menimbulkan pengendapan atau pergerakan pada dasar saluran.
Tidak menimbulkan gas H2S.

Batas kecepatan aliran (Masduki, 2000) pada saat debit puncak (Qp) adala
h:

1. Kecepatan maksimum pada saat debit puncak.

Aliran mengandung pasir atau padatan dengan konsentrasi tinggi,Vmax =


2,0 m/detik.

Aliran mengandung pasir atau padatan dengan konsentrasi rendah, Vmax


= 3,0 m/detik.

2. Kecepatan minimum pada debit puncak.


-

Aliran yang mengandung padatan, Vmin = 0,9 m/detik (daerah tropis).

Aliran yang mengandung pasir berdiameter kecil, Vmin = 0,3 m/detik.

2.13.5 Kedalaman Aliran

Kedalaman aliran sangat berpengaruh terhadap kelancaran aliran, karena

hal ini menentukan terangkat tidaknya partikel atau padatan yang ada di dalam air
buangan. Untuk sistem small bore sewer, batasan kedalaman tidak ada karena
padatan atau pertikel yang terdapat dalam aliran sangat kecil sehingga tidak
membutuhkan kedalaman berenang minimum. Untuk conventional sewer
ditetapkan batasan kedalaman berenang 5 cm. Jika kedalaman ini tidak tercapai
pada saat Qmin maka saluran perlu digelontor.
-

Penetapan kedalaman maksimum diambil rasio kedalaman berenang

banding diameter pipa adalah 0,8, karena pada batas tersebut kecepatan aliran
adalah maksimum (Masduki, 2000). Sehingga dalam perencanaan diusahakan
pada saat debit puncak kedalaman maksimum ini dapat tercapai.
-

Tabel 2.4 dibawah ini merupakan tabel anjuran penggunaan metode

pengelolaan air buangan dan kriteria pemilihan sistem berdasarkan kepadatan


penduduk dan suplai air bersih suatu kawasan.
-

Tabel 2.4 Kriteria Pemilihan Sistem dan Metodenya

Kepadata

No
-

n
(jiwa/Ha)

Suplai
Air Ber

Met
ode

sih
-

-1.

Rendah
(<150)

Rendah
(<30%)

ite sanitatio

Prib
adi

-2.

Sedang
(150-300)

Rendah
(<30%)

n
-

Mene

n
Masy

arakat
berpe

ndapa
-

tan
renda

h
Masy

arakat
berpe

iaya
penge
lolaa

Ber
sama

n
kecil

kan b

Ons

ite sanitatio

Pence

ndapa
-

n
fasilit

- 3.

Tinggi
(300-500)

Rendah
(<30%)

Ons

sedan

iaya
penga

daan
fasilit

Ko
munal

g
Masy

arakat
berpe

kan b

ite sanitatio
n

Mene

ndapa
-

tan
renda

h
Masy

arakat
berpe

as
Sangat
Tinggi (>500)
4.

Ons

ite sanitatio
-

Rendah
(<30%)

n
-

Laha
n terb

den

ndapa

atas

gan kakus u

tan
renda

h
Masy

arakat
berpe

mum
--5.

Rendah
(0-150)

Sedang
- (30-

Ons

ite sanitatio

60%)

n ada

n
-

Prib

Laha

adi

,
pence

ndapa

mara
-

n
belu

tan
renda
h-

as
-

Keter
anga

mara

n
Ons

Alasa

tan
sedan
g

Kepadata

No
-

n
(jiwa/Ha)

Suplai
Air Ber

Met

ode

sih

Alasa

Keter
anga

m ad
-6.

Sedang
(150-300)

Sedang
- (3060%)

n ada

Ons

ite sanitatio

,
menc

egah
pence

n
-

prib

a
Laha

adi/komunal

mara

Masy

arakat
berpe
ndapa

n
-

Ons

ite sanitatio
- 7-

Tinggi
(300-500)

Sedang
- (3060%)

hinda

n
-

den

mara

an dan
supl

n
sekita

rnya
-

8 Tinggi (>500)

Sedang
(3060%)

arakat
berpe
ndapa

tan
sedan
g, ma

mpu
bayar

Masy

arakat
berpe

den

gan kakus u

mum
-

t
tidak
mam

dan

offsite sanita

pu
mem

bayar
retrib

tion
-

Masy
araka

Masy

Ons

ite sanitatio

Sangat

ri
pence

gan pengalir

ai air

- -

Meng

tan
sedan

den

gan suplai a

ndapa
-

tan
renda
h

usi

ir
-9-

Rendah
(0-150)

Besar
(>60%)

Ons

ite sanitatio
n
-

Prib
adi

Laha

Masy

arakat
berpe

n ada

ndapa
-

tan
tinggi

Kepadata

No
-

n
(jiwa/Ha)

Suplai
Air Ber

Met
ode

sih
-

Sedang
(150-300)

Besar
(>60%)

offs

den

gan sewera

Lingk

n
teratu

n
Masy

arakat
berpe
ndapa

ge

Keter
anga

unga

n
-

Alasa
n

ite sanitatio
-10

tan
sedan
gtinggi

offs

ite sanitatio
- 11

Tinggi
(300-500)

Besar
(>60%)

n
-

kima

Masy

n
teratu

arakat
berpe

r, lah

den

gan sewera

Pemu

ge

an
untuk
e
Laha
n sed

- -

Sangat

12 Tinggi (>500)

Besar
(>60%)

offs

ite sanitatio
n

ang,
tidak

aman
untuk
onsit
e

Sumber: Dirjen Cipta Karya, 1993


-

onsit
-

ndapa
tan
sedan
g

Masy

arakat
berpe
ndapa

tan
sedan
g