Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Leher merupakan bagian tubuh yang terbuka dan karena itulah

pembengkakan pada daerah leher ini mudah dikenali oleh penderita atau dideteksi
selama pemeriksaan rutin. Untuk tujuan diskriptif, leher dibagimenjadi dua bagian
oleh garis tengah vertikal dan setiap sisinya dibagi menjadi segitiga anterior dan
posterior oleh otot sternokleidomastoideus, sebagian besar masa yang tampak
seperti tonjolan terjadi pada segitiga servikal anterior. Beberapa kelainan, seperti
kista bronkial, kista duktus tiroglosus atau kista palatum sering terjadi.1.2
Benjolan dileher dapat sebagai kelaianan primer maupun sebagai
manifestasi penyakit lain yang dapat mengenai kelenjar leher (limfadenopati) atau
jaringan lain. Lebih dari 75 buah kelenjar terdapat dikanan kiri leher dan masingmasing merupakanaliran tertentu di daerah leher dan kepala seperti rongga mulut,
lidah, tonsil, nasofaring,hidung, telinga , laring, maupun dari daerah leher sendiri
seperti tiroid dan kelenjar liur mayor maupun minor. Kelainan lain kemungkinan
suatu kelainan bawaan seperti limfangioma (higroma kistik), kista dermoid, sisa
duktus tiroglosus, kista branchial dan karsinoma bronkogenik dan laringokel.2,3
Aparatus brankial pertama kali dikemukakan oleh VonBaer, kelainan yang
terjadi pada perkembangan brankial kemudian diuraikan oleh Von Ascherson pada
tahun 1832. Ascherson berpendapat bahwa kista brankial adalah kista yang
dihasilkan oleh kegagalan hilangnya celah brankial. Pada tahun 1864, Heusinger
memperkenalkanistilah fistula brankial.4,5
Fistula dan kista celah brankial menunjukkan sekitar 20 % massa leher
yang seringterjadi pada anak-anak. Dari beberapa kasus, 2/3 pasien kista ini
terlihat pada umur di bawah 30 tahun. Kista yang bersifat bilateral sekitar 1 %
dari kasus, tanpa adanyakecendrungan ke salah satu sisi (kanan atau kiri) di mana
biasanya berkembang.Biasanya kista ini berlokasi di region cervikalis, parotis dan

mediastinum.6,7
Benjolan pada leher umumnya timbul pada anak-anak tetapi multiplisitas
danlokasinya biasanya khas. Penelitian klinis pada anak-anak dapat sangat sulit
karena kistacelah brankial dapat menyerupai nodus limfatikus, bahkan dapat
timbul dan berlanjut pada penyakit radang saluran pernafasan atas.1,3
Pada adolesen dan dewasa muda, kista celah brankial mungkin
merupakan penyebab tersering bagi pembengkakan ovoid, soliter, rata dan besar
di lateral leher.Biasanya lebih besar dari nodus limfatikus dan mula-mula timbul
ditrigonumkarotikum,

tepat

diliputi

tepi

anterior

muskulus

sternokleidomastoideus. Seperti kista duktus tiroglossus, ia sering membesar dan


menjadi sangat nyeri tekan pada infeksi saluran pernapasan atas. Beberapa kista
celah brankial terletak lebih tinggi (di ekor parotis). Biasanya tidak disertai
dengan abnormalitas lain pada sistem brankial.3
Oleh karena itu, penulis menyusun referat ini untuk mengembangkan
pendekatanrasional terhadap massa pada leher, khususnya kelainan brankial,
sehingga diharapkandapat secara tepat dalam penatalaksanaan.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anantomi dan Embriologi
Pada masa embrio awal tidak ada leher yang jelas, memisah kan toraks
dari kepala.Leher dibentuk seperti jantung, dimana berasal dari di bawah foregut ,
yang bermigrasi ke rongga toraks dan aparatus brankial berkembang menjadi
bentuk yang sekarang.Migrasi dari jantung merupakan sebab mengapa beberapa
struktur dari leher bermigrasi terakhir. Pada masa embrio awal terdapat beberapa
tonjolan sepanjang tepi dari foregut yang juga dapat dilihat dari luar. Tonjolan ini
adalah aparatus brankialis.1,8
Meskipun secara filogenik terdapat enam arkus brankialis, arkus kelima
tidak pernah berkembang pada manusia, dan hanya membentuk ligementum
arteriosum. Hanya empat arkus yang dapat dilihat dari luar. Setiap arkus brankialis
mempunyaisepotong kartilago, yang berhubungan denga kartilago ini adalah
arteri, saraf, dan beberapa mesenkim yang akan membentuk otot. Di belakang
setiap arkus terdapat alur eksternal yang terdiri dari ektordermal dan kantong yang
berisi endodermal. Daerahdiantara ektodermal dan endodermal dikenal dengan
lempeng akhir.1,8

Gambar 2.2 perkembangan aparatus brankial

Bagian dari struktur yang disebut dibawah berkembang menjadi struktur

dewasa yang tetap. Bagian yang seharusnya hilang dapat menetap dan membentuk
struktur yang abnormal pada dewasa. Menetapnya bagian aparatus brankialis
abnormal dapat menimbulkan bermacam kista, sinus, dan fistula. Menetapnya
ektodermal dari arkus brankialis pertama dapat menyebabkan kista atau sinus
yang terletak sejajar dan bahkan dapat memperbanyak pada saluran telinga luar.
Jenis

yang

berbeda

dari

menetapnya bagian

aparatus

brankialis

dapat

menimbulkan kista, sinus atau fistula yang terletak pada satu garis bagian dalam
telinga luar melalui kelenjar parotis sampai pada sudut mandibula di depan otot
sternokleidomastoideus. Seperti sisa arkus pertama dapat melalui di depan di
belakang, bahkan melalui cabang saraf fasialis.1,8,9

Gambar 2.3 derivat dari aparatus brankial

Ektodermal dan endodermal dari arkus kedua dan ketiga dapat juga
menimbulkan kista, sinus, dan fistula. Normal muara dari arkus kedua, ketiga dan
keempat

diliputioleh

pertumbuhan

dari

daerah

yang

disebut

tonjolan

epiperikardial. Saraf pada daerah ini adalah asesorius spinalis, dan mesenkimnya
membentuk otot sternokleidomasteideusdan trapesius. Tonjolan epikardial
menyatu dengan arkus brankialis kedua, menutupi muara alur brankialis kedua,
ketiga dan keempat sebagai kista ektodermal, sinus servikalis dari His, yang
normalnya menghilang. Juga otot lidah yang berasal dari miotomi post-brankialis,
bermigrasi ke dasar mulut, melalui belakang derivat brankialis. Oleh karena itu
muara derivat brankialis persisten terletak di depan otot sternokleidomastoideus

dan salurannya melalui bagia atas saraf hipoglosus. Oleh karena itu kuat diduga
sacara tepat garis dari kista, sinus, dan fistula brankialis kedua dan ketiga.1,8,9,10
Fistula bronkialis kedua terbuka di depan otot sternokleidomastoideus,
masuk keleher di depan arteri karotis komunis dan interna, biasanya di antara
arteri karotis interna dan eksterna, kemudian di atas gloso faringeus dan
hipoglosus ke arah tonsila. Fistula brankialis ketiga terbuka di depan otot
sternokleidomastoideus, melalui bagian belakang arteri karotis komunis dan
interna dan si atas saraf hipoglosus tetapi di bawah saraf glosofaringeus dan
stilofaringeus, masuk ke faring di atas daerah yang dipersarafi oleh saraf laringeus
superior. Tanda-tanda sisa kantong brankialis keempat dapat menetap sebagai
saluran dari faring bagian bawah sampai daerah tiroid dan kadang-kadang dapat
menyebabkan tiroiditis supuratif.1,8,9

Trakea bercabang dua setinggi torakal empat menjadi bronkus utama


kanan dan kiri. Sekat dari percabangan itu disebut karina. Karina letaknya lebih
ke kiri darigaris median, sehingga lumen bronkus utama kanan lebih luas dari
bronkus utama kiri. Lumen bronkus utama kanan pada potongan melintang
seperempat lebih kuas dari bronkus utama kiri. Bronkus utama kanan lebih
pendek dari bronkus utama kiri, panjangnya pada orang dewasa 2,5 cm dan
mempunyai 6-8 cincin tulang rawan. Panjang bronkus utama kiri kira-kira 5 cm
dan mempunyai cincin tulangrawan sebanyak 9-12 buah. Bronkus utama kanan
membentuk sudut 25 derajat kekanan dari garis tengah, sedangkan bronkus utama
kiri membuat sudut 45 derajatke kiri dari garis tengah. Dengan demikian bronkus

utama kanan hampir membentuk garis lurus dengan trakea, sehingga benda
asing eksogen yang

masuk ke dalam bronkus akan lebih mudah masuk ke

dalam lumen bronkus utama kanan dibandingkan bronkus utama kiri (pada orang
yang sedang berdiri). Faktor lain yang mempermudah masuknya benda asing ke
dalam bronkus utama kanan ialah kerja otot trakea yang mendorong benda asing
itu ke kanan.Selain itu udara inspirasi ke dalam bronkus utama kanan lebih besar
dibandingkandengan udara inspirasi ke bronkus utama kiri. Dinding bronkus
terdiri dari cincin tulang rawan. Sebetulnya tidak semua cincin itu merupakan
cincin penuh. Di bagian posterior pada umumnya terdiri dari membran. Oleh
karena itu pada waktu inspirasi lumen bronkus berbentuk bulat sedangkan pada
waktu ekspirasi lumen berbentuk ginjal. Makin ke distal cincing tulang rawan
bronkus makin hilang, sehingga di bronkus terminal dan alveolus sudah tidak
ada cincin tulang rawanlagi dan otot dinding bronkus relatif makin lebih
penting.Ukuran traktus trakeobronkial pada orang dewasa, pria dan wanita,
serta pada anak-anak dan bayi berlainan. Ukuran ini berlainan pada cadaver dan
orang yang masih hidup. Pada tindakan bronkoskopi untuk mengetahui jarak
dari suatulokasi diukur dari baris gigi depan atas.2
2.2 Definisi
Kista brankial merupakan sisa aparatus brankial janin yang tertinggal
dimana struktur leher berasal. Kista brankial dilapisi oleh campuran epitel
skuamosa dan epitel respiratorius serta dikelilingi oleh dinding jaringan limfoid,
sehingga mungkinterjadi kekacauan histologi.1,3,9,10
Sebagian besar kista celah brankial (berkembang dari arkus kedua, ketiga
dan keempat) biasanya terdapat sebagai tonjolan atau muara saluran sinus
sepanjang batasanterior otot sternokleidomastoideus. Saluran interna atau muara
kista terletak padaderivatif embriologik sulkus faringeal yang sama, misalnya
tonsil (arkus kedua), atau sinus piriformis (arkus ketiga dan keempat). Letak
saluran kista juga ditentukan oleh hubungan embriologik arkusnya dengan derivat
arkus yang terletak proksimal dan kaudal terhadap arkus.12,13

2.3 Etiologi
Penyebab masih belum diketaghui secara jelas. Namun ada factor-faktor
pendukungyang menyebabkan munculnya cysta bronkogenik antara lain sebagai
berikut :
1. Kongenital
2. Akibat benturan pada daerah thorak
3. Pengosumsian bahan-bahan kimia yang memicu terbentuknya kanker
(kistadapat didefinisikan sebagai awal mula terbentuknya kanker), missal :
asbes,nikotin dll
4. Infeksi dari penyakit lain terutama pada system pernafasan
2.4 Klasifikasi
Kista brankial diklasifikasikan ke dalam empat tipe:
I.

Kista celah brankial pertama (First Branchial Cleft Cyst )


Kista celah brankial pertama dibagi menjadi tipe I dan tipe II. Kista tipe

I berlokasi dekat kanalis auditorius eksterna. Umumnya, kista ini berada di


inferior dan posterior dari tragus, tetapi bisa saja berada di glandula parotis atau
angulusmandibula. Kista ini sangat sulit dibedakan dengan massa padat parotis
dalam pemeriksaan

klinis. Kista

tipe

II

berhubungan

dengan

glandula

submandibula atauditemukan di anterior trigonum cervikalis.12,13,14


II.

Kista celah brankial kedua (Second Branchial Cleft Cyst )


Kista celah brankial kedua dilaporkan sebanyak 90% dari kelainan

brankialis.Kebanyakan, kista ini di temukan sepanjang pinggir anterior sepertiga


atas otot sternokleidomastoideus. Bagaimanapun, kista ini bisa terlihat dimanapun
sepanjang saluran fistula brankialis kedua, yang berjalan dari kulit lateral leher, di
antara arteri karotis eksterna dan interna, dan sampai tonsil palatine. Oleh karena
itu, kista celah brankial

sebagai

diagnosa pembanding dari massa

parafaringeal.12,15
III.

Kista celah brankial ketiga (Third Branchial Cleft Cyst )

Kista celah brankial ketiga dan keempat jarang terjadi. Kista celah brankial
ketiga terlihat di anterior otot sternokleidomastoideus dan di leher lebih rendah
dibandingkan kista celah brankial pertama dan kedua. Kista ini berada lebih
dalam kelengkunagan derivatif ketiga (misalnya nervus glosofaringeal dan arteri
carotisinterna) dan superficial ke lengkungan derivatif keempat (misalnya nervus
vagus). Kelainan ini berakhir di faring

pada

membran tirohioid atau sinus

piriformis.13,16,17
IV.

.Kista celah brankial keempat ( Fourth Branchial Cleft Cyst )


Kista celah brankial keempat memiliki manifestasi klinis yang sama

dengan kista celah brankial ketiga. Biasanya didapatkan pada anak-anak dan
dewasa muda yang sering ditemukan sebagai abses leher lateral yang telah
resisten terhadap pengobatan antibiotik. Seperti yang dilaporkan oleh Godin dkk,
93 % kista celah brankial berlokasi di cervikalis lateral sinistra di trigonum
cervikalis.17

Gambar 2.6 A. Pembukaan kista celah brankial di sisi leher oleh saluran fistula.
B. fistula dan kista celah brankial di depan otot sternokleidomastoideus. C. kista
celah brankial menuju faring pada permukaan tonsil palatine.
2.5 Diagnosa dan pemeriksaan
2.5.1 Anamnesa dan pemeriksaan fisik
Untuk mendiagnosa berbagai massa pada leher dimulai dengan anamnesa
yang teliti. Serang kaian pertanyaan-pertanyaan logik dapat mempersempit

10

kemungkinan diagnostik secara cepat dan pemeriksaan dan penatalaksanaan


selanjutnya. Pertanyaan- pertanyaan dan artinya terdapat dibawah ini.1
1. .Berapa umur penderita? Lesi kongenital jauh lebih sering terjadi pada
inividu yang lebih muda, sedangkan lesi keganasan lebih sering pada yang
lebih tua. Kista celah brankial biasanya terdapat di antara 20 sampai 30
tahun. Pada anamnesa dapat diketahui kista merupakan bawaan sejak
lahir.1,12
2. .Apakah massa tumbuh dengan cepat? Tidak adanya tanda-tanda infeksi,
lesi kegansan (limfoma, kanker metastase) jauh lebih mungkin mengalami
pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan massa yang jinak. Kista celah
brankial membesarnya lambat yang terletak pada leher lateral.1,13.
3. Apakah terdapat tanda-tanda infeksi atau peradangan? Sementara massa
di leher dapat menjadi infeksi, massa-massa tersebut yang tampak
meradang atau terinfeksi jauh lebih mungkin menunjukkan massa yang
jinak. Kista celah brankial merupakan massa jinak kongenital. Seperti
kista duktus tiroglossus, ia sering membesar dan menjadi sangat nyeri
tekan pada infeksi saluran pernapasan atas. Kista celah brankial sering
ditemukan sebagai abses leher lateral.1,4,9
4. Dimanakah

letak

massa

pada

leher? Letak massa sebaiknya

digambarkan secara teliti dengan istilah-istilah berikut: Apakah massa


tersebut terletak pada garis tengah atau lateral?1
5. .Apakah massa kistik atau padat? Massa kistik seringkali merupakan lesi
kongenital seperti kista celah brankial dan kista duktus tiroglosus.1,5,12
6. Apakah terdapat tanda-tanda sumber infeksi atau keganasan di tempat
lain pada kepala dan leher?1
Pemeriksaan fisik dapat dimulai dengan inspeksi leher untuk melihat

11

adanya benjolan yang nyata. Benjolan ini kadang-kadang lebih baik dilihat dari
pada diraba. Suruh pasien menelan dan perhatikan gerakan kartilago tiroidea dan
ada atau tidaknya gerakan massa yang dapat ditemukan. Benjolan lateral bukan
kelenjar limfe

mencakupan eurisma arteri karotis, higroma kistik dan kista

celah brankial. Aneurisma akan berdenyut. Higroma kistik terutama ditemukan


pada anak-anak dan tampak terang padat ransluminasi. Kista celah brankial
biasanya timbul pada orang dewasa sebagai pembengkakan kistik yang keras di
bawah otot sternokleidomastoideus, dekat angulusmandibula.9,10,18
Palpasi suatu massa dilakukan untuk menentukan letak, konsistensi,
ukuran dan

mobilitasnya. Kelenjar limfe dapat terpisah-pisah atau menyatu,

seperti karet atau keras seperti batu, bebas atau melekat, tidak nyeri atau nyeri
tekan. Sedikit banyaknya fluktuansi massa kistik pada leher, tergantung pada
tebal dinding kista, viskositas didalamnya, dan tekanan dalam kista. Demikian
pula pada transluminasi memberikan hasil yang berbeda-beda pula.18
Auskultasi hanya dilakukan jika diperlukan saja. Bila pasien berusia lebih
dari 50tahun, dengarlah di atas tiap sinus karotikus kemungkinan adanya aliran
turbulensi pada pembuluh darah atau bising karotis.18
2.5.2Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostik
untuk massa leher dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok
1. Pemeriksaan yang memberikan keterangan tentang sifat-sifat fisik
yang

khas

atau

letak massa (pemeriksaan tidak langsung).

Ultrasonografi, CT scan, MRI scan, dan angiografi merupakan contoh


pemeriksaan tidak langsung.1
a. Ultrasonografi membedakan lesi padat dari lesi kistik dan sebaiknya
digunakan

pada

keadaan

yang

jarang

di mana hanya ada

keterangan yang dibutuhkan.1


b. Angiografi berguna untuk menilai

pembuluh darah, aliran darah

spesifik dari massa, atau keadaan arteri karotis tetapi memberikan sedikit

12

keterangan tentangsifat-sifat fisik yang khas dari masa tersebut.1


c. CT scan dan/atauMRI scan berguna dalam memberikan keterangan
mengenai sifat-sifat yang khas maupun pembuluh darah massa dan di
samping itu juga menjelaskan
yang

hubungannya dengan struktur-struktur

berdekatan. Karena itu, pemeriksaan tersebut

pemeriksaan tidak langsung yang sangat berguna dan

merupakan
paling

sering

diminta.
d. X-raydengan menggunakan kontras untuk mengidentifikasi fistula.15

Gambar2.7 X-ray dengan menggunakan kontras untuk mengidentifikasi


fistula. A. Anteroposterior; B. Lateral

Gambar 2.8 proyeksi MRI kista celah brankial. A. Korona; B. Aksial; C. Sagital

Gambar 2.9 CT Scan yang


menunjukkan adanya kista celah
brankial kanan
2. Pemeriksaan yang mencari diagnosis histologik (pemeriksaan langsung).
Pemeriksaan langsung melibatkan pemriksaan histologik jaringan dari

13

massa. Jaringan ini dapat diperoleh

pada satu dari tiga jalan yang

berbeda: (1) Aspirasi jarum halus ( Fine needle aspiration/FNA), (2)


biopsi jarum, atau (3) biopsy terbuka.1
FNA melibatkan pemasukan jarum kecil (ukuran 23 sampai 25) yang
dilekatkan pada spuit ke dalam massa untuk memperoleh sel-sel yang cukup
untuk pemeriksaan sitologik. Metode biopsi jarum yang besar (yang memperoleh
inti jaringan) dan pembedahan teknik biopsi terbuka lebih invasif dan mempunyai
risiko penyebaran keganasan yang lebih tinggi dan menimbulkan komplikasi
penatalaksaan selanjutnya.12
2.6 Penatalaksaan
Pengobatan terdiri dari pengangkatan pembedahan yang sempurna dari
kista dan salurannya (pembedahan eksisi). Jika terdapat infeksi atau peradangan,
sebaiknya diobati

dan dibiarkan

sampai tenang sebelum

dilakukan

pengangkatan. Insisi dan drainase sebaiknya dihindari. Insisi dan drainase karena
salah didiagnosis sebagai abses adenitis servikalis mengakibatkan drainase
persisten dan menyulitkan usaha pengangkatan menyeluruh nantinya. Terapi
elektif kista celah brankial dengan eksisi teliti, dan mempertahankan struktur di
sekitarnya. Nervus hipoglosus dan asesorius terletak sangat dekat dengan dinding
kista.1,8,9,12
Pembedahan eksisi dengan melakukan cervikotomi transversal dengan
anastesi umum adalah pilihan pengobatan dengan prognosa yang baik. Untuk
membantu pembedahan dapat disuntikkan larutan methylene blue

ke dalam

saluran sebelum operasi sehingga jaringan yang berwarna bisa digunakan sebagai
petunjuk

panjang

dan

luasnya kista/fistula. Zat warna itu mungkin tidak

memasuki seluruh cabang-cabang yang lebih kecil sehingga diperlukan ketelitian


selama diseksi untuk saluran-saluran kecil yang tidak berwarna. Beberapa ahli
bedah yang berpengalaman dalam menangani penyakit ini merasa bahwa
penyuntikan zat warna harus ditinggalkan karena penyebaranzat

warna ke

14

sekitarnya akan mengorbankan jaringan sehat dengan sia-sia.8,9,12


Cara lain ialah dengan fistulografi, yaitu dengan cara memasukkan
zat kontras kedalam muara fistel, lalu dilakukan pemeriksaan radiologic. Pada
pemeriksaan

fistulografi tidak

menggambarkan

jalur

traktus

yang

sebenarnya karena infeksi yang berulang menimbulkan tersumbatnya traktus


oleh jaringan fibrosis. Identifikasi, selama operasi, arteri karotis eksterna dan
interna, nervus
dihindari

vagus, hipoglosus, glosofaringeal,laringeal superior harus

sehingga

tidak

mencederai

struktur

tersebut.Komplikasi

ditimbulkan dapat berupa perdarahan, kekambuhan, pembentukan

yang

jaringan

fibrotic atau keloid, dan paralisis nervus kranial.9,12


2.7

Prognosis
Kista celah brankial umumnya memiliki prognosis yang baik jika

kista/fistula ini ditanggulangi secara terampil dan cermat maka hasilnya akan
memuaskan dan kecil kemungkinan untuk residif.12

BAB III
KESIMPULAN

15

Benjolan pada leher dapat berupa kelainan bawaan, peradangan, tumor


jinak dan tumor ganas serta metastase dari penyakit lain. Kelainan bawaan
dapat berupa higromakistik, kista dermoid, sisa duktus tiroglosus, karsinoma
bronkogenik, laringokel, dan

kista celah brankial.

Kista selah brankial

merupakan 20 % massa yang sering terjadi pada anak-anak. Kista celah brankial
pada anak sulit dinilai karena menyerupai

noduslimfatikus

sehingga sering

ditemukan pada dewasa muda sebagai benjolan yang telah dialami sejak lahir.
Kista celah brankial merupakan massa yang licin, tidak begitu nyeri,
membesarnya lambat yang terletak di lateral leher. Kista ini biasanya terdapat
di antara usia 20-30tahun. Kista ini berjalan sepanjang bagian anterior dari otot
sternokleidomastoideus.Kista ini biasanya dijumpai sebagai abses adenitis
servikalis karena telah mengalami peradangan. Kista celah brankial memiliki
empat tipe. Kista celah brankial keduamerupakan

jenis yang

paling sering

terjadi.
Pengobatan terdiri dari pengangkatan pembedahan yang sempurna dari
kista tdansalurannya. Jika terdapat infeksi atau peradangan, sebaiknya diobati dan
dibiarkan sampai tenang sebelum pengangkatan. Identifikasi, selama operasi,
arteri karotiseksterna dan interna, nervus vagus, hipoglosus, glosofaringeal,
laringeal superior harus dihindari sehingga tidak mencederai struktur tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

16

1. Adams GL, Boies LR, Higler PA.BOIES Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6.
Jakarta.Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1997
2. Yunizaf, M. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung dan
Tenggorokan.Edisi 6. Soepardi, EA., Iskandar, N. Editor. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta.2007. pp. 259-265
3. Pearson BW. Penyakit Telinga, Hidung, dan Tenggorokan. Jakarta.
Penerbit Buku Kedokteran EGC; Hal: 374-377. 1986
4. Anjaneyulu C, Sharan CJ.Complete Branchial Fistula.Bahrain Medical
Bulletin;25(4); December 2003
5. Gore D, Masson A.Anomaly of First Branchial Cleft.Annals of Surgery.
August1959
6. Mitroi M, Dumitrescu D, Simionescu C, et al.Management of Second
Branchial Cleft Anomalies. Romanian Journal of Morphology and
Embryology; 49(1): p69-74.2008
7. Park.
Second
Branchial
CleftCyst.Visitorsare.
Available
http://pediatricimaging.wikispace.com.Accessed on Oktober 2013.

at

8. Sadler TW. The Ninth Edition of Langmans Medical Embryology. Lange.


Available at http://www.lww.com. Accessed on November 2010.
9. 9.Lalwani AK.Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology Head and
Neck Surgery. McGraw-Hill Lange. 2007
10. Healy GB .Otolaryngology Basic Science and Clinical Review. Thieme;
p207-211.2005
11. Snell RS. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Bagian 3.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; Hal: 220-223. 2003

12. Thomaidis V, Seretis K, Tamiolakis, et al. Branchial Cyst A Report of 4


Cases. ActaDermatoven APA; 15(2): p85-89. 2006

17

13. Anniko M, Sprekelson MB, Bonkowsky V, et al.Otorhinolaryngology


Head and Neck Surgery. European Manual of Medicine. p613-615. 2006
14. Ada M, Korkut N, Giivenc MG, et al.Unusual Extension of the First
Branchial Cleft Anomaly. Eur Arch Otorhinolaryngol; 263: p263-266.
2006
15. Gold BM. Second Branchial Cleft Cyst and Fistula. AJR 134: p10671069. 1980
16. Aneeza WH, Mazita A, Marina MB, et al.Complete Congenital Third
Branchial Fistula:does the Theorical Course Apply?.Singapore Medical
Journal; 51(7):p122-125. 2010
17. Hamoir M, Rombaux P, Cornu AS, et al.Congenital Fistula of the Fourth
Branchial Pouch. Eur Arch Otorhinolaryngol; 255: p322-324. 2008
18. Burnside JW, McGlynn TJ. Diagnosis Fisik Edisi 7. Jakarta. Penerbit
KedokteranEGC.1995