Anda di halaman 1dari 11

PENGINDERAAN JAUH SISTEM

TERMAL

KELOMPOK 4
STELLA L. TOBING

201364047

M. ASSIZ MAHU

201364042

ALDONAL LETERULU

201364049

WEHELMINA OPEM 201264041

Pendahuluan

Latar Belakang
Penginderaan jauh (atau disingkat inderaja) adalah pengukuran atau akuisisi data dari

sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat yang tidak secara fisik melakukan kontak dengan
objek tersebut atau pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah
alat dari jarak jauh, (misalnya dari pesawat, pesawat luar angkasa, satelit, kapal atau alat lain.
Inderaja berasal dari bahasa Inggris remote sensing, bahasa Perancis tldtection, bahasa
Jerman fernerkundung,bahasa

Portugis sensoriamento

remota, bahasa

Spanyol percepcion

remote dan bahasa Rusia distangtionaya. Pada masa modern, istilah penginderaan jauh mengacu
kepada teknik yang melibatkan instrumen di pesawat atau pesawat luar angkasa dan dibedakan
dengan penginderaan lainnya seperti penginderaan medis atau fotogrametri.
Dalam kerjanya penginderaan jauh terdiri atas beberapa komponen yaitu sistem tenaga,
atmosfer, interaksi antara tenaga dan objek, wahana dan sensor (sensor fotografik dan sensor
nonfotografik), perolehan data dan pengguna data. Pada makalah ini lebih membahas mengenai
penginderaan jauh nonfotografik sistem termal.
Penginderaan jauh sistem termal adalah penginderaan jauh yang memanfaatkan pancaran
suhu suatu benda. Semua benda memancarkan panas yang disebabkan oleh gerak acak
partikelnya. Gerak acak ini menyebabkan gesesarn antara partikel benda dan menimbulkan
peningkatan suhu sehingga permukaan benda itu memancarkan panasnya. Meskipun semua
benda di permukaan bumi memancarkan panas, jumlah panas yang dipancarkan tidak sama bagi
tiap benda. Jumlah panas yang dipancarkan oleh tiap benda dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu :
panjang gelombang yang digunakan untuk mengukur atau menginderanya, suhu permukaan
benda, dan nilai pencarannya. Dengan Sistem penginderaan jauh termal ini, maka perekaman
data dapat dilakukan baik pada siang maupun malam hari, dengan kondisi cuaca yang
memungkinkan.

Tujuan

Mahasiswa dapat menjelaskan dasar-dasar, keunggulan dan kelemahan, geometrik,


penafsiran citra dan pemanfaatan sistem termal.

Dasar-Dasar Sistem Termal

I. Tenaga
Dalam pengindraan jauh sistem termal harus ada tenaga untuk memantulkan atau
memancarkan objek di permukaan bumi. Tenaga yang digunakan adalah tenaga elektromagnetik,
dengan sumber utamanya adalah matahari.
1. Pancaran Tenaga Termal
a. Asas Pancaran Semua benda memancarkan panas yang disebabkan oleh gerak acak
partikelnya. Panas di dalam benda di sebut dengan tenaga kinetik (Tkin), sedang panas
yang dipancarkan disebut tenaga pancaran atau tenaga radiasi (Trad). Tenaga pancaran
suatu benda lebih kecil dibandingkan dengan tenaga kinetik. Tenaga elektromagnetik
yang dipancarkan oleh suatu benda disebut tenaga pancaran yang besarnya diukur dengan
Watt cm. Pada penginderaan jauh sistem termal, untuk mengukur atau merekam suhu
pancaran berbagai benda digunakan sensor dengan dua jendela atmosfer, yaitu pada
panjang gelombang 3,5-5,5 m dan 8-14 m. Pada panjang gelombang tersebut
hambatan atmosfer relatif kecil sehingga tenaga termal dapat melaluinya.
b. Perpindahan Panas Panas dapat berpindah tempat melalui tiga cara yaitu:

Konduksi, perpindahan panas melalui interaksi antara molekul benda, contoh: jika kita
merebus makanan.

Konveksi, perpindahan panas yang terjadi oleh benda panas yang berpindah tempat,
contoh: perpindahan panas pada air yang direbus

Radiasi, perpindahan panas dalam bentuk gelombang elektromagnetik, contoh: panas


matahari.

2. Variasi Pancaran Tenaga Termal

a. Panjang Gelombang Hukum pergeseran Wien menyatakan bahwa pancaran benda


berbanding terbalik dengan panjang gelombang. Puncak pancaran benda yang lebih panas
terjadi pada gelombang yang lebih pendek. Penginderaan jauh yang menggunakan
pencaran matahari (6000K) dapat memperoleh pancaran terbaiknya pada panjang
gelombang 0,55 m, sedangkan jika menggunakan tenaga pancaran bumi (300K) atau
tenaga termal akan memperoleh pancaran terbaik pada panjang gelombang 10 m.
b. Suhu Permukaan Benda Jumlah tenaga termal yang dipancarkan oleh tiap benda
berbanding lurus terhadap pangkat empat suhu absolutnya dan berbanding lurus pula
terhadap nilai pancarannya.

HukumStefan-Boltsmann;
W = eT
Keterangan:
W = jumlah tenaga termal yang dipancarkan oleh benda
= konstante Stefan Boltsmann
e = nilai pancaran benda
T = suhu absolut benda

Perubahan suhu benda dipengaruhi oleh sifat termal benda, yaitu:

Konduktivitas Termal: Tingkat penerusan panas melalui suatu benda yang diukur
dengan kal cm-1 det-1 oC. Contoh batuan bukan konduktor yang baik tetapi lebih baik dari
logam, daerah kota merupakan konduktor yang baik dari daerah desa.

Kapasitas Termal: Yaitu kemampuan benda untuk menyimpan panas. Hal ini perlu
dibedakan dengan suhu, untuk penjelasannya dengan membandingkan benda berupa tiga
bola berukuran sama degan suhu yang sama yaitu Riolit, Limestone dan Sandstone.
Setelah ketiga benda tersebut dipanaskan, kemudian diletakkan diatas parafin yng tebal

maka sandstone akan mencairkan parafin lebih lama. Sandstone mempunyai kapasitas
termal lebih tinggi.

Kebauran Termal: Kemampuan suatu benda untuk memindahkan panas matahari dari
permukaan benda itu kebagian dalamnya.

Ketahanan Termal: Ukuran tanggapan suatu benda terhadap perubahan suhu, diukur
didalam kal-2.det-1/2.oC-1. variasi suhu harian permukaan benda pada dasarnya mengikuti
variasi pemanasan oleh sinar matahari. Benda dengan ketahanan termal lebih besar ia
lebih tahan terhadap perubahan suhu, pada siang hari lebih dingin sedangkan pada malam
hari lebih panas.

c. Nilai Pancaran Berdasarkan hukum StefanBoltzmann bahwa jumlah tenaga pancaran


suatu benda dipengaruhi oleh nilai pancaran benda itu dan oleh suhu permukaannya.
3. Penginderaan Jauh dengan Tenaga Termal
Yang perlu dipahami dalam penginderaan jauh dengan tenaga termal ini yaitu :

Sifat termal obyek

Sifat pancaran obyek

Variasi suhu hariannya

II. Sensor
Didalam penginderaan jauh sistem termal suhu pancaran yang berasal dari obyek
dipermukaan bumi dan mencapai sensor termal direkam oleh sensor tersebut. Hasil
rekamannya dapat berupa citra maupun non-citra. Sehubungan dengan dua jenis citra
keluaran tersebut, sensor termal dibedakan atas dua jenis yaitu:
1. Sistem non-citra
Radiometer termal, ada dua jenis detector:

Detektor termal, untuk mengubah suhu dalam hubungannya dengan serapan tenaga yang
menggenainya.

Detektor kuantum, secara luas digunakan dalam penginderaan jauh sistem termal.

Sensor termal
Spektrometer termal, untuk mengindera obyek pada saluran sempit.
2. Sensor pembentukan citra
Sensor pembentukan citra inframerah termal meliputi:

Penyiam termal, dipergunakan dengan menggunakan pesawat udara (memiliki 1 detektor


termal)

Termal imager (vidicon IM), dilengkapi detector yang dapat disajikan seperti gambar TV,
cocok bagi penginderaan dari satelit.

Penyiam stationer, dioperasikan di dirgantara atau diantariksa.

Citra temperatur permukaan laut

Keunggulan dan Keterbatasan Sistem Termal

Keunggulan citra inframerah termal :

1. Perekaman tenaga termal dapat dilakukan pada siang hari dan malam hari.
2. Dapat merekam wujud tak tampak oleh mata sehingga menjadi gambaran yang cuku
jelas.
3. Keluarnya dapat berupa data non-citra, citra dan data digital.

Kelemahan citra inframerah termal :

1. Aspek geometri yang penyimpangannya lebi besar dari penyimpangan pada foto udara
2. Sifat termal yang lebih rumit dari sifat pantulan obyek.
3. Perolehan dan pemrosesan citra termal sangat mahal karena memiliki operasional dan
parameter teknis yang sangat teliti
4. Material detektor harus selalu dijaga suhunya secara ekstrim selama digunakan (karena
emisi radiasi mengindera sangat lemah)
5. Citra termal untuk pengukuran suhu air hanya pada bagian atas permuakaan air karena
panjang gelombang diserap sangat cepat
6. Sistem pencitraan inframerah termal terkenal sulit untuk dikalibrasikan karena perbedaan
temperature bisa sangat tak kentara dan interaksi dengan kelembaban atmosfer tidak
dapat diprediksi.
7. Citra termal sulit diinterpretasikan dibanding tipe citra lainnya

Geometrik Sistem Termal

Jika pemetaan diteliti dengan citra inframerah termal, maka data tersebut harus diregistrasi.
Distorsi geometri citra inframerah termal disebabkan oleh dua variasi, yaitu:
1. Variasi sistematik Variasi yang pasti terjadi dan dapat diperkirakan atau
diperhitungkan sebelumnya, meliputi :
a. Variasi skala tangensial
Terjadi pada arah garis penyiam, skala pada arah jalur terbang relatif konstan.
Disebabkan oleh kecepatan gerak penyiam tetap, kecepatan penyiam tidak tetap
Menyebabkan perubahan bentuk pada citra.
b. Variasi ukuran sel resolusi Sel resolusi semakin besar bila tempatnya semakin jauh
dari titik nadir.
c. Pergeseran relatif satu arah Bersifat radial terhadap titik prinsipal
2. Variasi acak Variasi yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya dan belum pasti
terjadi, meliputi:
a.

Distorsi oleh kedudukan pesawat terbang (pitch, roll, yaw)


b. Gangguan elektronik
c. Gangguan atmosfer
d. Efek perekaman

Penafsiran Citra Termal


Pada citra termal Rona dan warna merupakan unsur-unsur interpretasi primer, pada citra
apapun gambaran objek-objek mula-mula tampak dari rona-rona dan warna (karakteristik
spektral). Pada citra black/white tampak ronanya dan pada citra color tampak warnanya.. Dari
rona dan warna kemudian tampak karakteristik spasial (bentuk, ukuran, teksturt, pola, bayangan,
situs, & asosiasi). Benda tampak cerah pada citra dapat terjadi karena memang suhu permukaan
tinggi, tapi bisa suhunya lebih rendah tapi mepunyai nilai pancaran tinggi. Air pada siang hari
tampak gelap, di malam hari tampak lebih cerah.
Selain itu, ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam interpretasi citra inframerah termal:
1. Suhu pancaran obyek berbnding lurus terhadap pangkat 4 suhu kinetik.
2. Suhu pancaran obyek berbanding lurus terhadap nilai pancaran.
3. Rona obyek tergantung pada jam perekaman dan variasi suhu harian.
4. Ada kompresi skala tangensial cukup besar pada dua bagian tepi citra yang belum
direktifikasi.
Cara interpretasi inframerah termal sangat bergantung pada tujuan interpretasinya yaitu:
a. Mendeteksi beda suhu
Tujuh contoh deteksi obyek berdasarkan beda suhunya menurut Avery dan Berlin, yaitu untuk
mendeteksi:

Air dan tanah serta batuan

Vegetasi

Tanah lembab

Tanah diperkeras

Permukaan logam

Obyek bersuhu tinggi

Kesan hantu atau ghost

b. Menaksir suhu
Berbeda dengan deteksi obyek berdasarkan beda suhu pancarannya yang telah mencapai
ketelitian hasil cukup tinggi, ketelitian hasil penaksiran suhu kinetik masih rendah.

Pemanfaatan Sistem Termal

Bidang Penggunaan
Sasaran Penginderaan
Geologi
Jenis batuan, patahan dan lipatan, pegunungan dan dataran, gunung api
aktif, ekspresi permukaan aktivitas geotermal, deteksi gua di daerah
karst, kebakaran tambang batubara bawah tanah, pemetaan suhu
Pertanian

permukaan & ketahanan termal


Pemetaan sawah, jenis tanaman, penyakit tanaman, irigasi, jenis tanah,

Hidrologi

kelembaban tanah, sensus hewan


Mata air dingin/panas, geiser, pola aliran, kebocoran dam, batas air
tawar dan dingin, batas air dan es, pertemuan arus panas dan dingin,

Kekotaan

konsentrasi bahan organik


Kebocoran pipa gas bawah tanah, titik panas bangunan industri, model
penggunaan listrik, konservasi energi, penutup/penggunaan lahan,

Vegetasi
Meteorologi

pancaran panas bangunan


Evapotranspirasi, kebakaran hutan
Profil suhu, komponen atmosfir, sebaran suhu horizontal