Anda di halaman 1dari 35

REFERAT

ULKUS KORNEA

Oleh :
Mulyani
201410401011023

Pembimbing
dr. Ilhamiyati, SpM

SMF ILMU KESEHATAN MATA


RSU HAJI SURABAYA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014

LEMBAR PENGESAHAN
REFERAT

ULKUS KORNEA

Makalah dengan judul Ulkus Kornea telah diperiksa dan disetujui sebagai salah
satu tugas dalam rangka menyelesaikan studi kepaniteraan Dokter Muda di bagian
Ilmu Kesehatan Mata

Surabaya, 5 Desember 2014


Pembimbing

dr. Ilhamiyati, SpM

DAFTAR ISI
Halaman Judul ...................................................................................................

Lembar Pengesahan ...........................................................................................

Daftar Isi ............................................................................................................

Kata Pengantar ..................................................................................................

Bab 1 Pendahuluan ............................................................................................

Bab 2 Tinjauan Pustaka......................................................................................

2.1 Anatomi dan Fisiologi Kornea ............................................................

2.2 Definisi ................................................................................................

2.3 Epidemiologi .......................................................................................

2.4 Etiologi dan Klasifikasi .......................................................................

2.5 Patofisiologi ........................................................................................

2.6 Manifestasi Klinis ............................................................................... 13


2.7 Diagnosis ........... ................................................................................. 14
2.8 Penatalaksanaan ........... ...................................................................... 15
2.9 Komplikasi .......... ............................................................................... 19
2.10 Pencegahan ........... ............................................................................. 19
2.11 Prognosis .......... ................................................................................. 20
2.12 Ulkus Kornea karena Bakteri ............................................................. 21
2.13 Ulkus Kornea karena Jamur ............................................................... 24
2.14 Ulkus Kornea karena Virus ................................................................ 27
Bab 3 Ringkasan ................................................................................................ 33
Daftar Pustaka .................................................................................................... 34

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT,
atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul
Ulkus Kornea. Penyusunan tugas ini merupakan salah satu tugas yang penulis
laksanakan selama mengikuti kepaniteraan di SMF Ilmu kesehatan Mata RSU
Haji Surabaya.
Penulis mengucapkan terima kepada dr. Ilhamiyati SpM selaku dokter
pembimbing dalam penyelesaian tugas referat ini, terima kasih atas bimbingan
dan waktunya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini.
Akhirnya, penulis berharap semoga referat ini dapat memberikan manfaat
pada pembaca. Penulis menyadari bahwa penyusunan tugas ini masih jauh dari
kesempurnaan. Dalam kesempatan ini penulis mengharapkan kritik dan saran
yang dapat membangun demi kesempurnaan laporan ini.

Surabaya, 5 Desember 2014

BAB I
PENDAHULUAN

Ulkus kornea adalah penyakit yang mengancam penglihatan, dimana


angka kejadian ulkus kornea berubah-ubah di seluruh dunia. Perbedaan dalam
angka kejadian infeksi keratitis disebabkan oleh banyak faktor seperti geografi,
tingkat pertumbuhan negara, faktor predisposisi yang menonjol dan tipe infeksi
yang secara umum ada dalam suatu komunitas. Bagaimanapun, perubahan dalam
angka kejadian infeksi keratitis telah dilaporkan dalam sebuah penelitian terhadap
perbedaan keratitis di banyak negara adalah sama dalam tingkat pertumbuhan
negara, geografi, tipe yang paling umum dari infeksi kornea dan adanya faktor
predisposisi. (1)
Predisposisi terjadinya ulkus kornea antara lain terjadi karena trauma,
pemakaian lensa kontak, sindroma mata kering, imunosupresif dll. Ulkus kornea
merupakan penyebab utama kebutaan di dunia. Sekitar 10% kasus kebutaan
adalah karena ulkus kornea. Berdasarkan kepustakaan di india utara, laki-laki
lebih banyak menderita ulkus kornea, yaitu sebanyak 65.4%. Hal ini mungkin
disebabkan karena banyaknya kegiatan kaum laki-laki sehari-hari sehingga
meningkatkan resiko terjadinya trauma termasuk trauma kornea. (2)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi dan Fisiologi Kornea


Kornea merupakan membran yang transparan berbentuk bulat dan melekat
pada limbus di sklera (seperti kaca pada jam tangan). Fungsi kornea sebagai
pelindung mata dan sebagai jendela bagi sinar yang masuk ke dalam mata, sampai
ke retina. Kornea merupakan batas depan dari bola mata yang memiliki tebal
sentral 0,54 mm, perifer 0,65 mm dengan diameter 11,5 mm pada orang dewasa
dan memiliki kekuatan refraksi sebesar 43 dioptri. (3)
Sifat transparan kornea dapat dipertahankan pada keadaan struktur
histologis yang teratur, avaskuler, deturgescence (dehidrasi relatif), hal ini oleh
karena barier oleh epitelium dan endotelium, penguapan oleh epitelium, pompa
aktif bikarbonat oleh endotelium. Epitelium bersifat fat soluble, stroma bersifat
water soluble. Akibatnya, obat mata baru dapat menembus kornea jika
mempunyai 2 fase (bi phasic), yaitu fase fat soluble dan fase water soluble.
Kornea mendapatkan sumber nutrisi dari: limbus, humor akuos, tear film (lapisan
air mata), dan atmosfer (khusus oksigen). (3)
Kornea menjadi bagian paling depan dari bola mata, karenanya sangat
rentan terhadap infeksi. Pada saat yang sama kornea dilindungi dari infeksi oleh
mekanisme pertahanan normal yang terdapat pada air mata dalam bentuk lisozim,
betalysin, dan protein pelindung lainnya. Oleh karena itu, ulkus kornea dapat
berkembang ketika salah satu mekanisme pertahanan mata terganggu, atau

terdapat penyakit mata, atau daya tahan tubuh terganggu, atau terdapat organisme
yang dapat merusak kornea. (6)

2.2 Definisi
Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian jaringan kornea yang ditandai
dengan adanya peradangan dengan atau tanpa disertai hipopion. (1,2)

2.3 Epidemiologi
Penelitian yang dilaksanakan selama 2 tahun di bagian mata Rumah Sakit
Pravara India, melibatkan 62 koresponden, menunjukkan bahwa laki-laki lebih
banyak menderita ulkus yaitu sebanyak 36 orang laki-laki dan 26 orang
perempuan dengan penyebab tersering ulkus kornea adalah karena jamur
(35.48%), bakteri (32.25%), jamur dan bakteri (17.74%) dan sisanya tidak
disebabkan oleh jamur dan bakteri (14.53%). (2)
Pola dan penyebab dari timbulnya ulkus kornea berbeda tiap daerah, oleh
karena itu mencari penyebab dari timbulnya ulkus kornea sangatlah penting untuk
dapat menegakkan diagnosis dan terapi ulkus kornea, sehingga morbiditasnya
dapat diturunkan secara signifikan. (2)
Predisposisi terjadinya ulkus kornea antara lain terjadi karena trauma,
pemakaian lensa kontak, sindroma mata kering, imunosupresif dll. Ulkus kornea
merupakan penyebab utama kebutaan di dunia. Sekitar 10% kasus kebutaan
adalah karena ulkus kornea. (4)

2.4 Etiologi dan Klasifikasi


Penyakit kornea adalah penyakit mata yang serius karena menyebabkan
gangguan tajam penglihatan, bahkan dapat menyebabkan kebutaan. Ulkus kornea
merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan
kornea. Ulkus biasanya terbentuk akibat infeksi oleh bakteri (misalnya
stafilokokus, pseudomonas, atau pneumokokus), jamur, virus (misalnya herpes)
atau protozoa, selain itu ulkus kornea disebabkan reaksi toksik, degenerasi, alergi
dan penyakit kolagen vaskuler. Kekurangan vitamin A atau protein, mata kering
(karena kelopak mata tidak menutup secara sempurna dan melembabkan kornea).
Faktor resiko terbentuknya antara lain adalah cedera mata, ada benda asing di
mata, dan iritasi akibat lensa kontak. (5)
Ulkus kornea berdasarkan etiologi dibagi menjadi :
1.

Ulkus kornea infeksi


a. Bakteri
b. Virus
c. Jamur
d. Klamidia
e. Protozoa
f. Spirochaetes

2.

Ulkus kornea alergi


a. Phlyctenular
b. Vernal
c. Atopik

3.

Ulkus kornea tropik


a. Eksposure
b. Neuroparalitik
c. Keratomalasia
d. Ulkus ateromatous

4.

Ulkus kornea yang berhubungan dengan penyakit kulit dan membran mukosa.

5.

Ulkus kornea yang berhubungan dengan kelainan sistemik jaringan kolagen

6.

Trauma

7.

Idiopatik
a. Ulkus mooren
b. Keratokonjungtivitis limbus superior
c. Keratitis Thygeson pungtata superfisial (6)
Pada referat ini, penyebab ulkus kornea tidak dijelaskan seluruhnya, hanya

dibatasi ulkus kornea karena infeksi ( bakteri, virus, jamur). Ulkus kornea karena
bakteri umumnya disebabkan oleh streptokokus alfa hemolitik, stafilokokus
aureus, pseudomonas aeroginosa dan pneumokokus. Ulkus kornea karena jamur
umunya disebabkan oleh candida dan fusarium, sedangkan ulkus kornea karena
virus umumnya disebebkan oleh herpes zoster dan herpes simpleks.

2.5 Patofisiologi
Ketika epitel kornea rusak, terjadi perubahan patologis melalui empat
tahap, yaitu infiltrasi, ulserasi, regresi dan sikatrik. Terbentuknya ulkus kornea
tergantung pada penyebab infeksi, mekanisme pertahanan inang dan terapi yang

didapat. Secara umum, proses pembentukan ulkus kornea melalui bentuk ulkus
terlokalisir, dan ulkus kornea perforasi. (6)
A. Ulkus Kornea Terlokalisir
Patologi ulkus kornea terlokalisir dibagi dalam 4 tahap, yaitu :
1. Tahap Infiltrasi Progresif
Karakteristik dari tingkat ini adalah infiltrasi sel sel PMN dan
atau limfosit ke dalam epitel dari sirkulasi perifer. Selanjutnya dapat
terjadi nekrosis dari jaringan yang terlibat bergantung virulensi agen dan
pertahanan tubuh host. (Lihat gambar 1. A)
2. Tahap Ulserasi Aktif
Ulserasi aktif merupakan hasil dari nekrois dan pengelupasan
epitel, membran Bowman, dan stroma yang terlibat. Selama fase ulserasi
aktif terjadi hiperemia yang mengakibatkan akumulasi eksudat purulen di
kornea. Jika organisme penyebab virulensinya tinggi atau pertahanan
tubuh host lemah akan terjadi penetrasi yang lebih dalam selama fase
ulserasi aktif. (lihat gambar 1. B)
3. Tahap Regresi
Regresi ditimbulkan oleh sistem pertahanan natural (antibodi
humoral dan pertahanan seluler) dan terapi yang memperbesar respon host
normal. Garis batas yang merupakan kumpulan leukosit mulai timbul di
sekitar ulkus, lekosit ini menetralisir bahkan memfagosit organisme debris
seluler.

Proses

ini

disertai

vaskularisasi

superfisial

yang

yang

meningkatkan respon imun humoral dan seluler. Ulkus mulai menyembuh


dan epitel mulai tumbuh dari tepi ulkus. (lihat gambar 1. C)

10

4. Tahap Pemulihan
Pada fase ini penyembuhan berlanjut dengn epitelisasi progresif
yang membentuk sebuah penutup permanen. Di bawah epitel baru
terbentuk jaringan fibrosa yang sebagain berasal dari fibroblas kornea dan
sebagian lagi berasal dari sel endotel pembuluh darah baru. Stroma
menebal dan mendorong permukaan epitel ke anterior. Derajat sikatrik
bervariasi, jika ulkus sangat superfisial dan hanya melibatkan epitel maka
akan menyembuh sempurna tanpa bekas. Jika ulkus melibatkan memran
Bowman dan sedikit lamela stroma superficial maka akan terbentuk
sikatrik yang disebut nebula. Apabila ulkus melibatkan hingga lebih dari
sepertiga stroma akan membentuk makuladan leukoma. (lihat gambar.
1. D ) (6)

Gambar 1. Ulkus Kornea Terlokalisir


11

B. Ulkus Kornea Perforasi


Ulkus kornea dengan perforasi terjadi jika proses ulserasi berlanjut lebih
dalam dan mencapai membran Descemet, membran ini akan mengeras dan
membengkak ke luar menjadi desmatokel. Pada fase ini semua pengerahan tenaga
pada pasien seperti saat batuk, bersin, dll. akan membuat perforasi. Segera setelah
terjadi perforasi cairan aqueous akan keluar, tekanan intra okuler akan turun dan
diafragma iris-lensa akan lepas. (6)

Gambar 2. Ulkus kornea berlubang dengan turunnya kandungan selaput iris: A,


penggambaran diagram; B, foto klinis.
C. Pengelupasan Ulkus Kornea dan Pembentukan Stafiloma
Ketika agen virulensi meningkat dan daya tahan tubuh turun, seluruh
kornea dapat terkelupas kecuali batas lingkaran yang sempit dan seluruh iris yang
mengalami prolaps akan muncul.

12

Iris menjadi meradang dan eksudat memblok pupil dan menutupi


permukaan iris, sehingga akan terbentuk kornea palsu, selanjutnya eksudat akan
membentuk jaringan fibrosa yang mana konjungtiva atau epitel kornea cepat
mengalami pertumbuhan sehingga lama kelamaan akan terbentuk pseudokornea,
karena pseudokornea tipis dan tidak dapat menahan tekanan intraokuli, sehingga
terbentuk tonjolan dan jaringan iris dapat terlihat. Tonjolan ini disebut stafiloma.
Tepi dari jaringan bekas luka pada stafiloma memiliki luas dan ketebalan yang
berbeda beda, menghasilkan permukaan yang terlobulasi, sering menghitam
dengan jaringan iris yang menyerupai anggur hitam, oleh sebab itu disebut
sebagai stafiloma. (6)

2.6 Manifestasi Klinis


Gejala klinis pada ulkus kornea secara umum dapat berupa :
a. Gejala Subjektif

Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva

Sekret mukopurulen

Merasa ada benda asing di mata

Pandangan kabur

Mata berair

Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus

Silau

Nyeri

13

Infiltrat yang steril dapat menimbulkan sedikit nyeri, jika ulkus


terdapat pada perifer kornea dan tidak disertai dengan robekan lapisan
epitel kornea.

b. Gejala Objektif

Injeksi siliar

Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan adanya infiltrat

Hipopion (6)

2.7 Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium.
Anamnesis

pasien

penting

pada

penyakit

kornea,

sering

dapat

diungkapkan adanya riwayat trauma, benda asing, abrasi, adanya riwayat penyakit
kornea yang bermanfaat, misalnya keratitis akibat infeksi virus herpes simplek
yang sering kambuh. Hendaknya pula ditanyakan riwayat pemakaian obat topikal
oleh pasien seperti kortikosteroid yang merupakan predisposisi bagi penyakit
bakteri, fungi, virus terutama keratitis herpes simplek. Juga mungkin terjadi
imunosupresi akibat penyakit sistemik seperti diabetes, AIDS, keganasan, selain
oleh terapi imunosupresi khusus. (10)
Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala obyektif berupa adanya injeksi
siliar, kornea edema, terdapat infiltrat, hilangnya jaringan kornea. Pada kasus
berat dapat terjadi iritis yang disertai dengan hipopion. (6)

14

Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti :


1. Ketajaman penglihatan
2. Tes refraksi
3. Tes air mata
4. Pemeriksaan slit-lamp
5. Keratometri (pengukuran kornea)
6. Respon reflek pupil
7. Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi.
8. Pada pewarnaan akan tampak defek epitel pada kornea yang dilihat dengan
cobalt blue light (5)
9. Goresan ulkus untuk analisa atau kultur (pulasan gram, giemsa atau KOH).
Pada jamur dilakukan pemeriksaan kerokan kornea dengan spatula kimura dari
dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop dilakukan pewarnaan KOH, gram
atau Giemsa. Lebih baik lagi dengan biopsi jaringan kornea dan diwarnai
dengan periodic acid Schiff. Selanjutnya dilakukan kultur dengan agar
sabouraud atau agar ekstrak maltosa. (10)

2.8 Penatalaksanaan
Ulkus kornea adalah keadan darurat yang harus segera ditangani oleh
spesialis mata agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea. Pengobatan
pada ulkus kornea tergantung penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang
mengandung antibiotik, anti virus, anti jamur, sikloplegik dan mengurangi reaksi
peradangan dengann steroid. Pasien dirawat bila mengancam perforasi, pasien

15

tidak dapat memberi obat sendiri, tidak terdapat reaksi obat dan perlunya obat
sistemik. (10)
Secara umum penatalaksanaan ulkus kornea adalah :
1.

Penatalaksanaan medikamentosa
a. Antibiotik
b. Anti virus
c. Anti jamur
d. Obat Siklopegik
Dianjurkan salep mata atau tetes mata atropin 1% untuk
mengurangi nyeri karena spasme siliar dan untuk mencegah pembentukan
sinekia posterior karena iridosiklitis sekunder. Atropin juga meningkatkan
suplai darah ke uvea anterior dengan mengembalikan tekanan di arteri
siliaris anterior sehingga membawa lebih banyak antibodi di aqueous
humour, juga mengurangi eksudat dengan menurunkan permeabilitas
vaskular dan hiperemi. Siklopegik lain yang dapat digunakan ialah tetes
mata homatropin 2%. (1,2,4) Kebanyakan dipakai sulfas atropine karena
bekerja lama 1-2 minggu. Efek kerja sulfas atropine :
-

Sedatif, menghilangkan rasa sakit.

Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang.

Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil.


Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya akomodsi
sehingga mata dalan keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya M.
konstriktor pupil, terjadi midriasis sehinggga sinekia posterior yang

16

telah ada dapat dilepas dan mencegah pembentukan sinekia posterior


yang baru. (10)
e. Obat analgesik sistemik dan anti inflamasi
Paracetamol and ibuprofen dapat menghilangkan rasa sakit dan
mengurangi edem.4 Atau dapat pula diberikan tetes mata pantokain atau
tetrakain. (10)
f. Vitamin
Vitamins (A, B-complex dan C) membantu mempercepat
penyembuhan ulkus. (6)
g. Pada ulkus-ulkus yang disebabkan kuman yang virulen, yang tidak
sembuh dengan pengobatan biasa, dapat diberikan vaksin tifoid 0,1 cc
atau 10 cc susu steril yang disuntikkan intravena dan hasilnya cukup baik.
Dengan penyuntikan ini suhu badan akan naik, tetapi jangan sampai
melebihi

39,5C.

Akibat

kenaikan

suhu

tubuh

ini

diharapkan

bertambahnya antibodi dalam badan dan menjadi lekas sembuh.


h. Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan. Lesi
kornea sekecil apapun harus diperhatikan dan diobati sebaik-baiknya.
Konjungtuvitis, dakriosistitis harus diobati dengan baik. Infeksi lokal
pada hidung, telinga, tenggorok, gigi atau tempat lain harus segera
dihilangkan. (6)
2.

Penatalaksanaan non medikamentosa


-

Konsumsi makanan yang bergizi, udara yang baik, lingkungan yang


sehat.

Penggunaan kaca mata gelaap untuk mengurangi fotofobia.

17

3.

Sebaiknya mata yang sakit tidak dibebat. (5)

Penatalaksanaan Bedah
a. Kauterisasi
-

Dengan zat kimia : Iodine, larutan murni asam karbolik, larutan


murni trikloralasetat

Dengan panas (heat cauterisasion) : memakai elektrokauter atau


termophore. Dengan instrumen ini dengan ujung alatnya yang
mengandung panas disentuhkan pada pinggir ulkus sampai berwarna
keputih-putihan.(10)

b. Debridement mekanik
Debridement mekanik dilakukan untuk menghilangkan material
nekrosis dengan mengerok dasar ulkus dengan spatula dengan bantuan
anestesi lokal. Debridement ini dapat mempercepat penyembuhan.
c. Flap Konjungtiva
Kornea ditutup dengan flap konjungtiva sebagian atau seluruhnya
unyuk menyokong jaringan yang lemah. (6)
d. Keratoplasti
Keratoplasti adalah jalan terakhir jika penatalaksanaan diatas tidak
berhasil. Indikasi keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu
penglihatan, kekeruhan kornea yang menyebabkan kemunduran tajam
penglihatan, serta memenuhi beberapa kriteria yaitu :
-

Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita

Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita.

Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia. (5)

18

2.9 Komplikasi
Komplikasi yang paling sering timbul berupa :
1. Komplikasi paling serius ialah perforasi kornea dengan infeksi sekunder
2. Perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan panopthalmitis
3. Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat Prolaps iris
4. Sikatrik kornea
5. Katarak sekunder
6. Glaukoma sekunder (7)

2.10 Pencegahan
Trauma yang kecil dapat menyebabkan luka pada kornea dan berlanjut
menjadi ulkus bahkan kebutaan. Untuk itu diperlukan pencegahan antara lain
sebagai berikut :
1. Menggunakan pelindung mata apabila bekerja di tempat yang terekspos
partikel kecil yang dapat masuk ke mata.
2. Menggunakan air mata buatan untuk mata kering atau jika kelopak mata tidak
dapat menutup sempurna.
3. Berhati hati jika menggunakan lensa kontak :
a. Selalu mencuci tangan sebelum memegang lensa kontak
b. Melepas lensa kontak setiap malam dan membersihkan lensa kontak
dengan hati hati dengan pembersih khusus
c. Jangan pernah tidur dengan menggunakan lensa kontak
d. Menyimpan lensa kontak di tempat khusus dengan direndam larutan
desinfektan semalaman

19

e. Segera melepas lensa kontak jika mata teriritasi dan tidak memakainya
hinggga kondisi mata membaik
f. Membersihkan tempat penyimpanan lensa kontak secara reguler. (8)

2.11 Prognosis
Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat
lambatnya mendapat pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya, dan ada
tidaknya komplikasi yang timbul. Ulkus kornea yang luas memerlukan waktu
penyembuhan yang lama, karena jaringan kornea bersifat avaskular. Semakin
tinggi tingkat keparahan dan lambatnya mendapat pertolongan serta timbulnya
komplikasi, maka prognosisnya menjadi lebih buruk.
Penyembuhan yang lama mungkin juga dipengaruhi ketaatan penggunaan obat.
Dalam hal ini, apabila tidak ada ketaatan penggunaan obat terjadi pada
penggunaan antibiotika maka dapat menimbulkan resistensi.
Ulkus kornea harus membaik setiap harinya dan harus disembuhkan dengan
pemberian terapi yang tepat. Ulkus kornea dapat sembuh dengan dua metode;
migrasi sekeliling sel epitel yang dilanjutkan dengan mitosis sel dan pembentukan
pembuluh darah dari konjungtiva. Ulkus superfisial yang kecil dapat sembuh
dengan cepat melalui metode yang pertama, tetapi pada ulkus yang besar, perlu
adanya suplai darah agar leukosit dan fibroblas dapat membentuk jaringan
granulasi dan kemudian sikatrik. (9)

20

2.12 Ulkus Kornea karena Bakteri


1)

Ulkus Streptokokus
Khas sebagai ulcus yang menjalar dari tepi ke arah tengah kornea
(serpinginous). Ulkus bewarna kuning keabu-abuan berbentuk cakram
dengan tepi ulkus yang menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan
menyebabkan perforasi kornea, karena eksotoksin yang dihasilkan oleh
streptokok pneumonia.

2) Ulkus Stafilokokus
Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna putik kekuningan
disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epitel. Apabila tidak
diobati secara adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai edema
stroma dan infiltrasi sel leukosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus
seringkali indolen yaitu reaksi radangnya minimal. (10)

Gambar 3. Ulkus stafilokokus dengan abses intrastromal


3) Ulkus Pseudomonas
Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah sentral kornea. ulkus
sentral ini dapat menyebar ke samping dan ke dalam kornea.
Penyerbukan ke dalam dapat mengakibatkan perforasi kornea dalam
waktu 48 jam. gambaran berupa ulkus yang berwarna abu-abu dengan
kotoran yang dikeluarkan berwarna kehijauan. Kadang-kadang bentuk

21

ulkus ini seperti cincin. Dalam bilik mata depan dapat terlihat hipopion
yang banyak.(10)

Gambar 4. Ulkus kornea bakteri


tanpa hipopion

Gambar 5. Ulkus kornea dengan


hipopion

4) Ulkus Pneumokokus
Terlihat sebagai bentuk ulkus kornea sentral yang dalam. Tepi
ulkus akan terlihat menyebar ke arah satu jurusan sehingga memberikan
gambaran karakteristik yang disebut Ulkus Serpen. Ulkus terlihat dengan
infiltrasi sel yang penuh dan berwarna kekuning-kuningan. Penyebaran
ulkus sangat cepat dan sering terlihat ulkus yang menggaung dan di daerah
ini terdapat banyak kuman. Ulkus ini selalu di temukan hipopion yang
tidak selamanya sebanding dengan beratnya ulkus yang terlihat.diagnosa
lebih pasti bila ditemukan dakriosistitis. (10)

Gambar 6. Ulkus kornea pneumokokus

22

Penatalaksanaan ulkus kornea karena bakteri dapat diberikan secara


topikal atau sistemik.
a. Antibiotik topikal
Terapi inisial (sebelum didapatkan hasil kultur dan tes sensitivitas)
hendaknya diberikan antibiotik spektrum luas. Dianjurkan tetes mata
gentamycin (14 mg/ml) atau tobramycin (14mg/ml) bersama dengan
cephazoline (50mg/ml), setiap setengah hingga satu jam untuk beberapa hari
pertama kemudian dikurangi menjadi per dua jam . Setelah respon yang
diinginkan tercapai, tetes mata dapat diganti dengan Ciprofloxacin (0.3%),
Ofloxacin (0.3%), atau Gatifloxacin (0.3%).
b. Antibiotik sistemik
Biasanya

tidak

diperlukan.

Akan

tetapi,

cephalosporine

dan

aminoglycoside atau oral ciprofloxacin (750 mg dua kali sehari) dapat


diberikan pada kasus berat dengan perforasi atau jika sklera ikut terkena.

Tabel 1. Penatalaksanaan keratitis bakteri

23

2.13 Ulkus Kornea karena Jamur


Mata dapat tidak memberikan gejala selama beberapa hari sampai
beberapa minggu sesudah trauma yang dapat menimbulkan infeksi jamur
ini. Pada permukaan lesi terlihat bercak putih dengan warna keabu-abuan
yang agak kering. Tepi lesi berbatas tegas irregular dan terlihat penyebaran
seperti bulu pada bagian epitel yang baik. Terlihat suatu daerah tempat asal
penyebaran

di

bagian

sentral

sehingga

terdapat

satelit-satelit

disekitarnya..Tukak kadang-kadang dalam, seperti tukak yang disebabkan


bakteri. Pada infeksi kandida bentuk tukak lonjong dengan permukaan naik.
Dapat terjadi neovaskularisasi akibat rangsangan radang serta terdapat
injeksi siliar disertai hipopion. (10)

Gambar 5. Ulkus kornea jamur

Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat


komersial yang tersedia. Berdasarkan jenis keratomitosis yang dihadapi bisa
dibagi :
1) Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya : topikal amphotericin
B 1, 2, 5 mg/ml, Thiomerosal 10 mg/ml, Natamicin 10 mg/ml, golongan
Imidazole
2) Jamur berfilamen : topikal amphotericin B, thiomerosal, Natamicin,
Imidazol

24

3) Ragi (yeast) : amphotericin B, Natamicin, Imidazol


4) Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa, berbagai jenis anti
biotik.

Tabel 2. Penatalaksanaan keratitis jamur

25

Ulkus Bakteri

Ulkus jamur

Riwayat dari trauma, pemakaian lensa Terkena tumbuh-tumbuhan.


kontak.
Sakit, merah, berair, penurunan visus.

Pekerjaannya

berhubungan

dengan

agricultural.
Edema pada kelopak dan secret purulen Sakit dan kemerahan mirip seperti ulkus
dari ulkus Neisseria gonorrhea, eksudat bakteri, namun edema kelopak minimal.
hijau kebiruan pada infeksi Pseudomonas
aeruginosa.
Berbetuk bulat biasa terdapat di tengah Infeksi

awalnya

menyerupai

ulkus

atau di paracentral dari kornea, sisa dari dendritik pada herpes simpleks, feathery
kornea biasa bersih dan hipopion bisa ada border,
bisa tidak ada.

lesi

satelit,

immune

ring,

hipopion yang tidak sama rata.

Pada ulkus pneumokokus terdapat pola Permukaannya

meninggi

dengan

serpiginosa, hipopion sama rata, sering infiltrate yang putih susu bisa basah
berhubungan dengan dakriosistisis.

maupun kering.

Ulkus karena pseudomonas bisa terdapat


edema

kornea

progresivitas

yang

yang

berat

cepat

dengan

dan

bisa

menimbulkan perforasi dalam 2-3 hari.


Ulkus karena Moraxella dan Nocardia
perkembangannya lambat terutama pada
orang dengan gangguan imunitas.
Tabel 3. Perbedaan ulkus bakteri dan ulkus jamur (11)

26

2.14 Ulkus Kornea karena Virus


1) Ulkus Kornea Herpes Zoster
Biasanya diawali rasa sakit pada kulit dengan perasaan lesu. Gejala
ini timbul satu 1-3 hari sebelum timbulnya gejala kulit. Pada mata ditemukan
vesikel dan edem palpebra, konjungtiva hiperemis, kornea keruh akibat
terdapatnya infiltrat subepitel dan stroma. Infiltrat dapat berbentuk dendrit
yang bentuknya berbeda dengan dendrit herpes simplex. Dendrit herpes
zoster berwarna abu-abu kotor dengan fluoresin yang lemah. Kornea hipestesi
tetapi dengan rasa sakit keadaan yang berat pada kornea biasanya disertai
dengan infeksi sekunder. (10)

Gambar 6. Macam keratitis herpes zoster : A. keratitis epitelial pungtata, B.


ulkus epitelial mikrodendritik, C. keratitis nummular, D. keratitis disciform.

27

2) Ulkus Kornea Herpes Simpleks


Infeksi primer yang disebabkan oleh virus herpes simplex dapat
terjadi tanpa gejala klinik. Biasanya gejala dini dimulai dengan tanda injeksi
siliar yang kuat disertai terdapatnya suatu dataran sel di permukaan epitel
kornea disusul dengan bentuk dendrit atau bintang infiltrasi. terdapat hipertesi
pada kornea secara lokal kemudian menyeluruh. Terdapat pembesaran
kelenjar preaurikel. Bentuk dendrit herpes simplex kecil, ulceratif, jelas
diwarnai dengan fluoresin dengan benjolan diujungnya. (10)
Infeksi mata oleh herpes simplex virus (HSV) terjadi dalam dua
bentuk, yaitu primer dan kambuhan. Infeksi primer terjadi akibat kontak
langsung dengan penderita herpes simpleks, misalnya bayi baru lahir akibat
kontak langsung dengan jalan lahir ibu yang terkontaminasi virus herpes
simpleks. Kontak dapat pula terjadi secara oral, seksual atau melalui media
lain seperti obat-obat mata, handuk, tangan penderita dan lain-lain.
Sedangkan infeksi rekuren merupakan infeksi primer yang telah sembuh dan
kambuh kembali akibat rangsangan nonspesifik seperti demam, paparan yang
berlebihan terhaap sinar ultraviolet, trauma, menstruasi, stres psikis,
penggunaan obat-obat kortikosteroid baik lokal maupun sistemik.

A. Herpes Simpleks Primer

1. Lesi kulit
2. Konjungtivitis folikuler akut
3. Kornea

Keratitis pungtata epitelial kecil

Keratitis pungtata epitelial besar

Keratitis dendritik
B. Herpes Simpleks Kambuhan
1.

Keratitis epitelial aktif


28

2.

Keratitis pungtata epitelial


Keratitis dendritik
Keratitis geografikal
Keratitis stromal

Keratitis disciform
Keratitis nekrotik stromal diffuse
3.

Keratitis tropik

4.

Iridosiliatis herpetik

1. Keratitis Epitelial Aktif

Keratitis epitelial pungtata. Awal mula luka epithelial pada herpes


kambuhan mirip dengan herpes primer, baik pada keratitis epitelial
pungtata kecil maupun besar, dapat memberikan gejala photophobia,

lakrimasi, nyeri. (lihat gambar 7 A)


Ulkus dendritik. Ulkus dendritik adalah jenis ulkus pada keratitis
epitelial kambuhan. lesi tidak rata, berbentuk cabang yang berkelokkelok. Cabangnya secara umum menonjol pada bagian ujungnya.
Dasar dari bintik ulkus dengan fluorescein dan sel yang mengandung
virus terlihat pada pemeriksaan rose Bengal. (lihat gambar 7 B dan

C)
Ulkus geografikal. Terkadang, cabang dari ulkus dendritik
membesar dan bergabung untuk membentuk ulkus epithelial yang
lebih besar dengan sebuah susunan geographical atau amoeboid,
kerena itulah namanya ulkus geografik. Kegunaan steroids pada
ulkus dendrit mempercepat pembentukan ulkus geografik. (lihat
gambar 7 D)

29

2. Keratitis Stroma
(a) Keratitis Disciform
Patogenesis ini berkaitan dengan lambatnya reaksi hipersensitifitas
terhadap antigen HSV dimana terjadi radang stromal tingkat rendah dan
kerusakan dibawah endothelium. Akibat kerusakan endothelial pada
edema kornea terkait masuknya cairan mata. Keratitis disciform
digolongkan berdasarkan potongan fokal berbentuk disk pada edema
stromal tanpa nekrosis, lipatan pada membrane descemet, lapisan
endapan keratik, jaringan stromal infiltrat (jaringan imun Wessley) bisa
mengelilingi edema stromal. Ini menandakan pertemuan antara antigen
virus dan antibody, sensasi kornea berkurang, tekanan intraokuler bisa
meningkat meskipun hanya sebatas uveitis anterior. Pada kasus yang
berat, uveitis anterior bisa ditandai, terkadang lesi epithelial bisa
dihubungkan dengan keratitis disciform. (6)
(b) Keratitis Nekrotik Stroma Difusa
Keratitis nekrotik stroma difusa adalah jenis keratitis intersisial
yang disebabkan oleh invasi virus yang aktif dan destruksi jaringan.
Gejala berupa nyeri, photopobia dan mata merah ditandai dengan
munculnya necrotic, blothy, cheesy white infiltrates yang terletak
dibawah ulkus epitel atau muncul dengan bebas dibawah epithelium
yang utuh. Ini bisa dihubungkan dengan iritis ringan dan keratitis
presipitat. (6)
Pengobatan ini serupa dengan keratitis disiform tetapi hasilnya
seringkali tidak memuaskan. Keratoplasti sebaiknya dilakukan sampai

30

membaik dengan sedikit atau tanpa pengobatan steroid selama beberapa


bulan. (6)
3. Keratitis Metaherpetik
Keratitis metaherpetik bukanlah penyakit yang disebabkan oleh
virus yang aktif, melainkan penyembuhan (mirip dengan pengikisan
trauma yang berulang) yang terjadi pada tempat terjadinya ulkus herpes
sebelumnya.

Gambar 7. Lesi keratitis herpes simpleks kambuhan : A. keratitis epitelial


pungtata, B & C. ulkus dendritik, D. ulkus geografi, dan E. Keratitis
disciform
Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik diberikan streroid
lokal untuk mengurangi gejala, sikloplegik, antibiotik spektrum luas untuk
infeksi sekunder analgetik bila terdapat indikasi.
Untuk herpes simplex diberikan pengobatan IDU, ARA-A, PAA,
interferon inducer. Perban tidak seharusnya dilakukan pada lesi infeksi
supuratif karena dapat menghalangi pengaliran sekret infeksi tersebut dan

31

memberikan

media

yang

baik

terhadap

perkembangbiakan

kuman

penyebabnya.

Tabel 4. Penatalaksanaan keratitis virus

32

BAB III
RINGKASAN

Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian jaringan kornea yang ditandai


dengan adanya peradangan dengan atau tanpa disertai hipopion. (1,2)
Penyebab ulkus kornea antara lain karena infeksi bakteri, infeksi jamur,
infeksi virus, defisiensi vitamin A, lagophtalmus akibat parese N. VII dan N.III,
trauma yang merusak epitel kornea (10), idiopatik , misal ulkus Mooren (6)
Gejala klinis pada ulkus kornea secara umum dapat berupa eritema pada
kelopak mata dan konjungtiva, sekret mukopurulen, merasa ada benda asing di
mata, pandangan kabur, mata berair, bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus,
silau, nyeri, infiltrat yang steril dapat menimbulkan sedikit nyeri, jika ulkus
terdapat pada perifer kornea dan tidak disertai dengan robekan lapisan epitel
kornea., injeksi siliar, hilangnya sebagian jaringan kornea, dan adanya infiltrat,
hipopion (6).
Pengobatan pada ulkus kornea tergantung penyebabnya, diberikan obat
tetes mata yang mengandung antibiotik, anti virus, anti jamur, sikloplegik dan
mengurangi reaksi peradangan dengann steroid. (10)

33

DAFTAR PUSTAKA

1. YW Ibrahim, DL Boase, IA Cree. 2012. Incidence of Infectious Corneal


Ulcers, Portsmouth Study, UK. J Clinic Experiment Ophthalmol., p 1-4.
2. Gaurav SS et al. 2013. Clinical Study of Causative Microbial Agent of
Supurative Keratitis Cases in Rural Area. International Journal of Medical
Research & Health Sciences., p 59-62.
3. Budiono Sjamsu. 2013. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Mata. Surabaya, Airlangga
University Press (AUP). Hal: 119-121.
4. Ninama G et al. 2012. Antibiotic Sensitivity Pattern of Causative Bacterial
Pathogens Responsible for Corneal Ulcer. NJIRM., p 76-79.
5. Olver, J dan Cassidy, L. 2005. Ophthalmology at A Glance. Massachusetts :
Blackwell Science.
6. Khurana A.K. 2007. Comprehensive Ophthalmology, 4th edition. New Age
International (P) Ltd., p 89-126.
7. Lopez,

Fernando

Murillo.

2010.

Corneal

http://emedicine.medscape.com/article/1195680-overview

ulcer

(diakses

22

november 2014)
8. Dahl,

Andrew

A.

2007.

Corneal

http://www.emedicinehealth.com/corneal_ulcer/article_em.htm

Ulcer
(diakses

22

november 2014)
9. Suharjo, Fatah Widido. 2007. Tingkat keparahan Ulkus Kornea di RS Sarjito
Sebagai Tempat Pelayanan Mata Tertier. http:// http://www.tempo.co.id.
(diakses 26 Oktober 2011)

34

10. Biswell Roderick. 2012. Kornea. In: Oftalmologi Umum Vaughan DG and
Asbury T. Edisi 17.Jakarta, penerbit buku kedokteran EGC. Hal: 125-136.
11. WHO. 2004. Guidelines for the management of corneal ulcer at primary,
secondary & tertiary care health facilities in the south east asia region., p 11.

35