Anda di halaman 1dari 17

BAB VII

PERLINDUNGAN DAN PENCEGAHAN


BAHAYA KEBAKARAN

CAPAIAN PEMBELAJARAN :
Setelah menyelesaikan bab ini, mahasiswa diharapkan mampu :
1. Menjelaskan prinsip terjadinya kebakaran
2. Menjelaskan berbagai macam penyebab kebakaran.
3. Menjelaskan klasifikasi kebakaran di Indonesia
4. Menjelaskan berbagai tindakan pencegahan bahaya kebakaran
5. Menjelaskan tentang prinsip pemadaman kebakaran
6. Menjelaskan tentang berbagai media dan teknik pemadaman
7. Menjelaskan berbagai sarana pemadam kebakaran
7.1 Pendahuluan
Api sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia mulai dari untuk memasak, meleburkan
benda logam, api unggun dan sebagainya. Tetapi api dapat menjadi bencana bila sudah diluar
kendali manusia yakni bencana kebakaran. Sehingga ancaman bahaya kebakaran tergantung
dari terkendali atau tidaknya api yang menyala. Seringkali manusia menganggap remeh
potensi bahaya karena api. Padahal kebakaran bisa menimbulkan kerugian harta benda, luka
dan penderitaan yang luar biasa, bahkan kematian.
Kebakaran perusahaan adalah sesuatu hal yang tidak diinginkan oleh semua pihak. Bagi
tenaga kerja kebakaran perusahaan dapat merupakan penderitaan dan malapetaka karena bisa
mengalami cedera atau kehilangan pekerjaan. Bagi perusahaan kebakaran merupakan salah
satu penguras sumber daya industri bahkan dapat menjadi penyebab utama perusahaan
berhenti berbisnis. Kebakaran dapat merenggut kemampuan berproduksi perusahaan dan
perusahaan akan kehilangan pelanggan. Tidak ada pelanggan tidak ada bisnis.

Dengan

kebakaran jerih payah bertahun-tahun dapat hilang dalam waktu beberapa jam saja. Untuk
itulah pencegahan kebakaran memainkan peranan penting dalam menjaga kelangsungan
hidup perusahaan.

7.2 Terjadinya Kebakaran


Kebakaran tidak terjadi begitu saja. Kebakaran adalah reaksi kimia yang berlangsung cepat
dan memancarkan panas dan sinar. Kebakaran adalah salah satu bencana yang disebabkan
oleh api yang sifatnya terjadi tidak pada tempatnya dan sulit dikendalikan manusia. Agar
terjadi kebakaran diperlukan 3 unsur yang disebut segitiga api (fire triangle). Gambar segitiga
api ditunjukkan dalam diagram di Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Segitiga Api.


Agar api bisa menyala, tiga unsur tersebut harus ada pada saat yang sama dan pada proporsi
yang tepat. Salah satu unsur tidak ada maka kebakaran tidak akan terjadi. Unsur pertama dari
teori segitiga api adalah bahan bakar yaitu semua bahan apa saja yang mudah terbakar. Bahan
yang lebih mudah terbakar berarti mempunyai titik nyala yang lebih rendah. Titik nyala
adalah suatu temperatur terendah dari suatu bahan untuk dapat mengubah bentuk menjadi uap
dan akan menyala bila tersentuh api. Semakin rendah titik nyala suatu bahan, maka bahan
tersebut akan semakin mudah terbakar.
Dilihat dari wujudnya, bahan bakar dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu:
a. Bahan bakar dalam bentuk padat seperti arang, kayu, kertas, kain, plastik dan
sebagainya. Dalam bentuk padat semakin kecil bentuknya semakin mudah bahan
tersebut menyala.
b. Bahan bakar dalam bentuk cair seperti minyak tanah, minyak diesel, solar, bensin,
spiritus dan sebagainya. Dalam bentuk cair semakin rendah titik nyalanya semakin
mudahlah bahan tersebut menyala.
c. Bahan bakar dalam bentuk gas seperti elpiji, acetylene, butane dan sebagainya. Dalam
bentuk gas dengan konsentrasi yang diperlukan dalam batas penyalaannya.

Unsur kedua adalah oksigen yang terkandung dalam udara normal sebanyak 21%. Oksigen
pada umumnya terdapat dimana-mana. Oksigen juga dapat dilepaskan oleh zat kimia
pengoksidasi seperti pupuk nitrat. Karena oksigen sebenarnya adalah suatu gas pembakar
maka sangat menentukan kadar atau keaktifan pembakaran. Dalam keadaan normal bahan
bakar mudah bergabung dengan oksigen. Suatu tempat dinyatakan masih mempunyai
keaktifan pembakaran bila kadar oksigennya adalah 15% sedangkan pembakaran tidak akan
terjadi bila kadar oksigen di udara kurang dari 12%.
Unsur ketiga yang dapat menimbulkan kebakaran adalah panas. Suhu benda akan naik karena
panas sehingga akhirnya mencapai titik nyala. Proses oksidasi juga berlangsung lebih cepat.
Sumber panas merupakan penyulut awal terjadinya kebakaran. Menurut Zaini (1998) secara
garis besar sumber panas dibedakan menjadi 4 yaitu :
a.
b.
c.
d.

Mekanis
Elektris
Panas
Kimia

: gesekan.
: aliran listrik, busur listrik, listrik statis dan petir.
: matahari, nyala api, dan pemampatan.
: penyalaan spontan, reaksi kimia dan rekasi nuklir.

Jenis- jenis panas dan kejadian yang dapat dijumpai dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut.
Table 4.1. Jenis-jenis Sumber Panas dan Kejadian yang Dapat Dijumpai

Jenis Panas
Gesekan
Aliran Listrik

Contoh Pemakaian
Benturan 2 logam, Tabrakan mobil
Hubung singkat, Kabel dilalui arus listrik lebih

Busur Listrik

Las listrik, Peleburan logam

Listrik Statis

Saat mengisi bensin ke tangki

Petir

Lompatan listrik awan-bumi

Matahari

Dapat membakar tumbuhan kering

Nyala api

Korek api

Pemampatan

Terjadi dalam ruang bakar mesin disel

Penyalaa api

Bensin menyala sendiri pada suhu 253 C

Reaksi kimia

Reaksi yang bersifat menimbulkan panas

Rekasi Nuklir

Reactor nuklir, bom atom

7.3 Penyebab Kebakaran

Peristiwa kebakaran terjadi karena bermacam-macam sebab antara lain:


1. Kebakaran yang terjadi karena kelalaian
Kelalaian adalah suatu tindakan yang tidak disengaja. Hampir setiap peristiwa
kebakaran besar terjadi karena faktor kelalaian. Sebab-sebab kelalaian antara lain
karena kurangnya pengertian pencegahan bahaya kebakaran, kurang berhati-hati dalam
menggunakan alat atau bahan yang dapat menimbulkan api dan kurangnya kesadaran
pribadi atau tidak disiplin. Beberapa contoh perbuatan seperti merokok sambil tidurtiduran, mengisi minyak pada kompor yang sedang menyala, mengganti kawat sekering
dengan menggunakan kawat sembarangan dan lain-lain.
2. Kebakaran yang terjadi karena peristiwa alam
Banyak peristiwa alam yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran. Contohnya adalah
sinar matahari dapat menyebabkan kebakaran gudang yang mudah terbakar atau mudah
meledak, letusan gunung berapi dapat mengakibatkan kebakaran hutan atau tempattempat yang dilalui lava panas, gempa bumi dapat mengakibatkan konsleting listrik,
petir dapat menyebabkan kebakaran hutan atau rumah, angin topan dapat menyebabkan
konsleting kabel-kabel tegangan tinggi dan lain-lain.
3. Kebakaran yang terjadi karena penyalaan sendiri
Penyalaan sendiri sering terjadi pada gudang-gudang kimia atau tempat penyimpanan
kopra.
4. Kebakaran yang disebabkan oleh unsur kesengajaan
Peristiwa kebakaran yang disengaja pada umumnya mempunyai tujuan tertentu seperti
sabotase, mencari keuntungan pribadi, untuk menghilangkan jejak kejahatan dan lainlain.

Von Schwartz dalam Zaini (1998), seorang ahli fisika mengajukan daftar penyebab
kebakaran. Beliau mengelompokan menjadi 11 penyebab kebakaran yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Kontak langsung dengan bahan yang sedang terbakar


Pemakaian panas untuk waktu yang lama
Panas atau terbakar spontan
Ledakan atau penjalaran cepat
Petir
Debu yang dapat meledak
Bunga api ( listrik )
Reaksi kimia
Gesekan, tekanan, kejutan, atau gocangan
Sinar yang terfokus
Listrik statis

Sedangkan dinas pemadaman kebakaran di Indonesia mengelompokkan penyebab kebakaran


menjadi lima yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.

Hubung singkat listrik


Kompor minyak tanah
Rokok
Lampu
Lain-lain

7.4 Klasifikasi Kebakaran di Indonesia


Kebakaran dapat dipadamkan menggunakan bahan atau media pemadaman yang cocok. Agar
tidak salah memilih media pemadaman orang berusaha mengelompokkan jenis kebakaran
yang disebut Klasifikasi kebakaran. Klasifikasi dibuat berdasarkan jenis bahan yang terbakar.
Dengan mengetahui adanya klasifikasi kebakaran maka diharapkan pemadaman akan lebih
mudah, lebih tepat menggunakan APAR yang sesuai dengan klasifikasinya. Klasifikasi yang
sudah dibuat antara lain : klasifikasi U.L, klasifikasi Eropa, klasifikasi National Fire
Protection Assosiation (NFPA) dan klasifikasi US Coast Guard. Negara lain boleh mengikuti
salah satu klasifikasi diatas dan memberlakukannya.
Di Indonesia, klasifikasi kebakaran ditetapkan melalui peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi No. 04/MEN/1980 tanggal 14 April 1980 tentang syarat syarat pemasangan
dan pemeliharaan alat pemadam api ringan. Klasifikasinya adalah :
a. Kelas A, untuk bahan padat non logam. Kebakaran yang melibatkan benda padat, api
yang ditimbulkan bisa berbentuk bara. Benda padat tersebut biasanya berasal dari
bahan organik seperti: kertas, kayu, tekstil, plastik dan lain-lain.
b. Kelas B, untuk bahan cair dan gas seperti bensin, solar, minyak tanah dan lain-lain.
c. Kelas C, untuk instalasi listrik
d. Kelas D, untuk bahan logam, kebakaran yang melibatkan logam, magnesium, sodium,
titanium, zirconium.
Bila dibadingkan dengan klasifikasi yang telah ada, ternyata klasifikasi Indonesia berafiliasi
ke klasifikasi NFPA.

Dengan mengetahui adanya klasifikasi kebakaran maka nantinya

diharapkan pemadaman akan lebih mudah.


7.5. Pencegahan Bahaya Kebakaran
Pencegahan bahaya kebakaran berarti segala usaha yang dilakukan agar tidak terjadi
penyalaan api yang tidak terkendali. Untuk penyalaan api yang belum ada maka diusahakan

tidak terjadi penyalaan api terutama ditempat tertentu yang dianggap penting seperti di
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Sedangkan penyalaan api yang sudah ada
maka harus diusahakan jangan sampai api tersebut berkembang menjadi tidak terkendali.
Beberapa tindakan pencegahan kebakaran antara lain berupa pengadaan penyuluhan,
pendidikan dan pelatihan, mematuhi peraturan, menempatkan bahan yang mudah terbakar
harus aman/jauh dari ancaman api, pengadaan sarana pemadam kebakaran, pengadaan sarana
penyelamatan dan evakuasi, pengawasan terhadap peralatan yang menimbulkan api dan
sebagainya.
Sedangkan menurut Ridley (2008), beberapa contoh penyebab kebakaran dan tindakan
pencegahannya adalah sebagai berikut:
No Penyebab Kebakaran
1. Kebersihan tidak terjaga

Tindakan pencegahan
-. pembersihan teratur perlu dilakukan dengan membuang

2.

sampah ke tempat yang sesuai


-. jangan membebani sirkuit melebihi batas, pastikan

Kelistrikan

sekering
beroperasi pada arus yang tepat
-. menyediakan sistem pendingin yang memadai
-. jangan biarkan debu menumpuk pada perlengkapan listrik
3.
4.

Pipa pemanas

-. pastikan kontak listrik terjaga kebersihannya


-. pastikan seluruh material yang mudah terbatas disimpan

Pengelasan dan

jauh dari pipa


-. pindahkan material yang mudah terbakar dari area kerja

pemotongan dengan gas

-. memiliki alat pemadam api yang sesuai di dekatnya


-. menempatkan petugas pemadam kebakaran selama jam

5.
6.

Merokok

kerja dan setengah jam sesudahnya


-, melarang atau menyediakan ruang khusus merokok dengan

Minyak dan zat pelarut

asbak dan alat pemadam api di dekatnya


-. di simpan di luar ruang.
-. digunakan secukupnya untuk keperluan sehari atau satu
giliran kerja
-.

menggunakan

pemindahannya

wadah

anti

tumpah

pada

waktu

Tujuan utama tindakan pencegahan kebakaran pertama-tama adalah menyelamatkan nyawa


dengan mencegah munculnya api, namun jika api memang muncul prioritas berikutnya
adalah memastikan tata ruang gedung diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan
penghuninya untuk menyelamatkan diri, menghentikan penyebaran api dan karenanya
meminimalkan kerusakan dan kehancuran.
Pada setiap kejadian kebakaran, tindakan awal adalah sangat menentukan karena pada saat
api masih kecil dan masih mudah dikendalikan. Keterlambatan maupun kesalahan bertindak
dapat mengakibatkan hal-hal yang fatal. Untuk dapat bertindak cepat dan tepat diperlukan
pengetahuan tentang cara-cara pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran.

7.6. Prinsip Pemadaman Kebakaran


Prinsip pemadaman dengan cara menghilangkan salah satu unsur atau merusak keseimbangan
campuran dari unsur-unsur segitiga api. Menurut Zaini (1998), pada prinsipnya ada tiga cara
pemadaman kebakaran dan satu cara tambahan.
a. Membatasi bahan bakar
Membatasi bahan bakar berarti menggurangi hingga habis, mengambil atau
memindahkan.
Contoh : kebakaran pada pipa minyak (kebakaran kelas B). tutup keran (valve)
sehingga minyak tidak mengalir lagi melalui pipa yang terbakar. Api padam karena
tidak ada bahan bakar.
b. Mengurangi konsentrasi oksigen
Kebakaran bisa dipadamkan

dengan

cara

mengurangi,

memisahkan

atau

menghilangkan oksigen dari lokasi kebakaran.


Contoh : pemadaman memakai tabung gas asam arang (CO2), jumlah oksigen
dikurangi dengan cara diusir dari lokasi kebakaran. Api padam karena tidak ada
oksigen.
Cara lain yang masih mirip dengan cara ini adalah menyelimuti bahan bakar atau
smothering. Dengan adanya penyelimutan bahan bakar tidak dapat disentuh oleh
oksigen.
c. Mendinginkan
Mendinginkan adalah menurunkan panas. Akibatnya suhu benda terbakar turun sampai
di bawah titik nyala.

Contoh : kebakaran kelas A dan B pada umumnya bisa dipadamkan dengan air. Butirbutir air menyerap panas api dan sanggup menurunkan suhu bahan bakar sampai
dibawah titik nyala. Panas berkurang dan api padam.
d. Pemadaman tuntas
Memadamkan kebakaran harus sampai tuntas. Adanya kepulan asap menandakan masih
ada bara, hal ini bisa menimbulkan kebakaran lagi. Jangan beri kesempatan sedikitpun
pada api.

7.7 Media Pemadaman dan Teknik pemadamannya


Menurut Zaini (1998), media pemadaman adalah bahan yang dapat dipakai untuk
memadamkan kebakaran yaitu bisa berupa:
a. Media padat: pasir, tanah, tepung kimia.
b. Media cair: air, busa
c. Media gas: gas karbon dioksida, gas nitrogen.
Media pemadaman tertentu hanya cocok untuk kelas kebakaran tertentu. Setiap media
pemadaman menuntut teknik pemadaman yang berbeda agar pemadaman berhasil.
Sebelum melaksanakan pemadaman, hal-hal berikut ini perlu diperhatikan :
a. Mengetahui arah angin bertiup
Dalam setiap aksi pemadaman usahakan mencari posisi diatas angin. Posisi ini lebih
aman karena api tidak akan mengarah ke tempat kita. Posisi dibawah angin lebih panas
dan mengganggu tindakan pemadaman.
b. Bahan yang terbakar
Jenis bahan yang terbakar biasanya bisa dilihat dengan jelas. Disini yang dipentingkan
bukan penyebab kebakaran tetapi bahan apa yang sedang terbakar.
c. Kemungkinan berkembangnya kebakaran
Kebakaran kecil masih bisa berlanjut menjadi kebakaran besar. Ledakan bisa terjadi
bila api merembet ke tabung elpiji. Tiupan angin menyebabkan api semakin berkobar
dan menjalar ke bangunan lain.
d. Situasi kebakaran
Situasi yang buruk membuat semakin parah korban kebakaran. Mobil pemadam
kebakaran tidak bisa menjangkau karena lokasi sempit. Kerumunan orang yang ingin
melihat merupakan penghalang bagi petugas pemadam.

7.7.1 Media Padat

a. Pasir dan tanah


Pasir dan tanah sesuai kebakaran kecil seperti tumpahan atau ceceran minyak.
Teknik pemadamannya adalah :
a. Taburkan pasir atau tanah ke permukaan yang terbakar
b. Tutupi hingga seluruh permukaan
b. Tepung kimia
Tepung kimia cocok untuk pemadaman kebakaran dari berbagai sumber atau
kelas. Keunggulan tepung ini adalah tidak beracun dan tidak menghantarkan
listrik. Tetapi kelemahannya mengganggu pernapasan, menghalangi pandangan
dan merusak instalasi listrik. Sesuai dengan kelas kebakarannya, tepung kimia
dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu:
1. Tepung kimia biasa
Tepung jenis ini cocok untuk memadamkan kebakaran kelas B dan C.
2. Tepung kimia serba guna
Tepung ini mampu memadamkan kebakaran kelas A, B dan C. Media ini
cukup luas pemakaiannya. Rumah-rumah penduduk dianjurkan dilengkapi
dengan pemadam ini.
3. Tepung kimia khusus logam
Tepung kimia khusus logam hanya cocok untuk kebakaran kelas D.

Teknik pemadaman dengan menggunakan tepung kimia adalah :


1. Pemadaman dilakukan dari atas angin
2. Arahkan media ke pangkal api
3. Penyemprotan dilaksanakan dengan cara mengibas-ibaskan media hingga
menutupi seluruh permukaan yang terbakar
7.7.2 Media Cair
a. Air
Air paling banyak dipakai untuk memadamkan kebakaran bahan padat non logam
dan cair/gas. Air cocok untuk memadamkan material yang mengandung karbon
seperti: kertas, kayu, kain dan sebagainya. Air jangan digunakan pada kebakaran
listrik, minyak panas yang terbakar dan minyak yang terbakar diatas air. Cara
kerja air dalam pemadaman :
1. Mendinginkan
Air dapat menyerap panas dalam jumlah besar.
2. Menyelimuti
Uap air yang timbul dapat memisahkan oksigen dari bahan bakar.

Teknik pemadaman dengan menggunakan air, bisa melalui empat cara :

1. Air disiramkan secara langsung. Cara ini dilakukan untuk kebakaran kecil
kelas A
2. Air disemprotkan dalam bentuk jet sehingga bisa jarak jauh.
3. Air disemprotkan dalam bentuk tirai atau spray sebagai pelindung bagi
petugas dari panas api.
4. Air disemprotkan dalam bentuk kabut atau fog. Sesuai untuk kebakaran
kelas B.

Tidak semua kebakaran dapat dipadamkan dengan air, kasus kebakaran seperti
dibawah ini jangan dipadamkan dengan air :
1. Kebakaran listrik.
Orang yang mencoba memadamkan dengan air bisa terkena kejutan
listrik sebab air menghantarkan listrik
2. Minyak panas yang terbakar
Menyiramkan air secara langsung akan merubah air menjadi uap
secara cepat dan menimbulkan lidah api.
b. Busa
Busa merupakan gelembung cairan yang ringan dan selalu berada di permukaan
suatu benda. Sifat mengapung dan dingin dimanfaatkan untuk memadamkan
kebakaran. Busa sangat efektif untuk memadamkan kebakaran yang berasal dari
bahan hidrokarbon (minyak), alkohol, termasuk kebakaran kelas A dan B.
Kebakaran pada permukaan luas dan datar sangat sesuai menggunakan busa
seperti pada permukaan jalan.
Teknik pemadaman pada permukaan datar adalah:
1. Cari posisi diatas angin
2. Arahkan busa ke pangkal api
3. Tutupi seluruh permukaan dengan busa
7.7.3 Media Gas
Gas CO2 tidak berwarna, tidak berbau, tidak beracun, tidak menghatarkan listrik dan lebih
berat dari udara. Setelah dipakai, CO2 tidak meninggalkan bahan pencemar atau karat. Dalam
pemadaman, CO2 menyelimuti api (memisahkan oksigen) dan mendinginkan. CO2 kurang
sesuai untuk pemadaman di area terbuka.
Hubungan media pemadam tertentu dengan kelas kebakaran yang cocok ditunjukan dalam
Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Kelas Kebakaran dan Media Pemadam


KELAS
MEDIA PEMADAM

Pasir, Tanah

Tepung Kimia Biasa

Tepung Kimia Sederhana

Tepung Kimia Khusus logam

Air

Busa

CO2, N2

7.8 Sarana Pemadam Kebakaran


Sarana pemadam kebakaran adalah alat yang telah dipersiapkan untuk memadamkan
kebakaran dan dibedakan menjadi tiga
a) Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
Sebagian besar kebakaran berawal dari api yang sangat kecil. Pada kondisi ini
kebakaran masih dapat ditangani dan dipadamkan dengan mudah. Saat seperti itulah
dibutuhkan alat pemadam yang ringan dan praktis dipakai. Alat pemadam api ringan
(APAR) adalah alat pemadam yang dapat dibawa dan mampu dipakai oleh satu orang.
APAR berguna sekali untuk pemadaman awal dari segala situasi.
1). Jenis-jenis Apar
Apar dibuat amat beragam sehingga jenis APAR bisa ditinjau dari segi apa saja. Jenis
APAR berdasarkan beratnya dibedakan 2 yaitu :
a. APAR dengan berat kurang dari 25 kg sehingga mudah diangkat
b. APAR dengan berat lebih dari 25kg, dilengkapi dengan roda seperti ditunjukkan
dalam Gambar 4.2.

Gambar 4.2. Jenis-jenis APAR


Sedangkan jenis APAR ditinjau dari tenaga dorongnya yaitu :
a. Storage pressure, media disimpan dalam tabung dengan diberi tekanan.
b. Gas Cartridge, ke dalam tabung ditambahkan gas bertekanan untuk mendorong
media bila APAR dipakai. Gas yang dipakai umumnya CO2.
Keberadaan tenaga dorong ini bisa didalam tabung atau diluar tabung sehingga
konstruksi APAR juga berbeda-beda.
2). Teknik Pemadaman dengan APAR
Untuk menjamin pengamanan terhadap kebakaran, pengetahuan cara pemakaian atau
penerapan APAR sangat diperlukan. Berikut ini adalah teknik pemadaman dengan
APAR:
a. Turunkan APAR dari tempatnya
b. Cabut/lepaskan pen pengaman dan bebaskan selang
c. Uji di tempat dengan mengarahkan semburan ke atas agar tidak membahayakan
orang lain. Langkah ini tidak perlu dilakukan bila anda sudah dekat sekali dengan
tempat kebakaran
d. Menuju lokasi kebakaran. Ambil posisi di atas angin dan jarak sekitar 3 meter dari
api
e. Sikap posisi kuda-kuda. Arahkan alat penyembur ke pangkal api. Tekan tuas
penyemprot (handle) semprotkan APAR dengan cara dikibas-kibaskan/disapukan
ke arah kiri dan kanan sampai apinya padam seperti ditunjukkan dalam Gambar
4.3.

Gambar 4.3. Pemadaman dengan APAR


3). Cara Menempatkan APAR
Posisi meletakkan APAR sangat menentukan kecepatan pemadaman awal.
Menyimpan APAR ditempat tersembunyi akan sangat merugikan. Cara menempatkan
APAR yang benar adalah :
a. Tempatkan APAR pada tempat yang bisa cepat diambil bila terjadi kebakaran.
Bisa diletakkan dekat pintu atau tangga darurat.
b. Tempatkan APAR pada lokasi yang akan dilindungi
c. Tempatkan APAR sehingga mudah dilihat dari jauh oleh orang yang lewat. Warna
APAR yang menyolok juga membantu mempercepat menemukan APAR.
d. Usahakan kondisi sekitar tidak bersifat merusak sehingga APAR bisa tahan lama.
Jika terdapat kondisi luar yang bisa merusak seperti tetesan air, hujan, debu, sinar
matahari dan suhu panas, masukkan APAR ke dalam kotak tembus pandang yang
dirancang khusus sesuai dengan APAR yang bersangkutan.
e. Apabila lokasi yang dilindungi cukup luas, tempatkan APAR secara merata.
f. APAR bisa dipasang pada dinding atau tiang dengan ketentuan:
o Setinggi 120 cm dari puncak APAR ke lantai atau
o Setinggi 15 cm dari alas APAR ke lantai seperti dalam Gambar 4.4.

Gambar 4.4. Cara Menempatkan APAR


Contoh menempatkan APAR dapat dilihat pada tabel 4.3
Tabel 4.3 Contoh Menempatkan APAR
LOKASI

PENEMPATAN YANG BENAR

Dapur, Garasi

Dekat pintu

Mobil

Mudah dijangkau sopir, dibawah bangku

Kapal boat

Dekat pintu dan dekat sopir

4). Memilih APAR


APAR banyak dijual dengan bermacam- macam bentuk dan keampuhannya. Dasar
untuk memilih APAR :
a. Sesuai dengan kelas kebakaran yang akan dipadamkan
b. Tingkat keparahan yang mungkin terjadi
c. Orang yang akan memakai APAR
d. Kondisi daerah yang dilinmdungi datar atau bertingkat. Daerah yang datar dan
tersedia jalan sesuai untuk APAR beroda. Gedung bertingkat bisa memakai APAR
tanpa roda.
5). Kemampuan APAR
APAR mempuyai kemampuan yang berbeda dalam pemadaman. Kemampuan APAR
antara lain jarak semprot dan waktu semprot. Adanya tenaga dorong dalam APAR
menyebabkan media yang tersimpan bisa disemprotkan pada jarak yang cukup jauh.
APAR yang sudah lama sekali tidak dipakai tenaga dorongnya akan semakin
berkurang. Sedangkan waktu semprot adalah lamanya APAR dipakai untuk
pemadaman sampai habis medianya. Lama semprotan ini tergantung dari kapasitas
APAR itu sendiri. Kemampuan APAR secara lebih rinci bisa dilihat pada tabel 4.4.

Tabel 4.4 Kemampuan Berbagai Jenis APAR


JENIS APAR

Tepung Kimia
Air
Busa
CO2

KAPASITAS

0,5-22 kg
34-159 kg
5-19 liter
95-227 liter
6-9 kg
1-9 kg
23-45 kg

6). Pemeliharaan APAR

JARAK

WAKTU

SEMPROT

SEMPROT

(meter)
1,5-6
4,5 21
6 12
10 15
46
1 2,4
13

(detik)
8 30
20 150
30 180
90 180
28 65
2 30
10 30

KETERANGAN

Beroda
Beroda
Beroda

Yang perlu diperiksa pada APAR adalah jadwal pengisian kembali, besarnya tekanan,
selang, kerusakan fisik dan lain-lain. Pemeriksaan dilakukan minimal 6 bulan sekali
b) Sistem Pemadam Api Tetap
Untuk mencegah akibat yang fatal dari bahaya kebakaran, maka pada suatu bangunan
(hotel bertingkat, apartemen, kapal, gudang dan sebagainya)

atau ruangan yang

penting dipasang peralatan pemadam api tetap. Sistem pemadam api tetap adalah
peralatan untuk memadamkan api secara dini dan dipasang tetap pada bangunan.
APAR hanya dipakai untuk kebakaran awal. Untuk kebakaran yang sudah cukup
besar dibutuhkan alat pemadam yang bisa bereaksi cepat. Sistem ini tidak melibatkan
banyak orang.
Adapun cara kerja sistem pemadam api tetap melalui 3 tahap secara otomatis yaitu :
a. Tahap pendeteksian
Pada tahap awal, sistem selalu mendeteksi kehadiran api. Alat ini disebut sprinkler
head, selain mendeteksi juga membuka katup seperti dalam Gambar 4.5.

Gambar 4.5. Sprinkler


b. Tahap pemadaman
Pemadam tetap terdiri dari instalasi pipa yang berisi media pemadam. Media
pemadam yang dipakai tergantung kondisi gedung yang dilindungi bisa berupa air,
CO2, tepung kimia, busa atau lainnya. Begitu sprinkler head pecah, media
pemadam langsung menyembur keluar.
c. Tahap Peringatan
Sistem mengeluarkan tanda peringatan berupa suara atau sinar begitu ada aliran
media dalam pipa. Hal ini digunakan untuk memberikan peringatan kepada orang
disekitarnya.
c) Pemadam Api Bergerak
Kebakaran besar tidak bisa lagi diatasi dengan APAR dan sistem pemadam api tetap.
Jenis kebakaran ini memerlukan media pemadam lebih banyak dan bisa menuju lokasi
kebakaran. Peralatan semacam itu disebut pemadam api bergerak. Pemadam berupa

kendaraan yang dilengkapi dengan sirine dan alat-alat untuk keperluan pemadaman
seperti dalam Gambar 4.6.

Gambar 4.6. Mobil Pemadam Kebakaran


Kendaraan pemadam banyak diciptakan dengan kapasitas dan fungsi berbeda.
Berdasarkan kapasitasnya kendaraan pemadam bisa dibedakan menjadi 4 yaitu :
a. Kendaraan pemadam kecil, berupa kendaraan jenis jeep dengan kapasitas tangki
450 liter
b. Kendaraan pemadam menengah, juga berupa jeep dengan kapasitas tangki 6001000 liter
c. Kendaraan pemadam besar, berupa truk dengan kapasitas tangki 1500 4000 liter.
d. Kendaraan pemadam sangat besar, disebut tanker truck dengan kapasitas lebih
dari 10.000 liter.

Kendala memadamkan kebakaran menurut Zaini (1998) adalah sebagai berikut :


1. mobil pemadam terlambat datang karena jalan macet atau jalan sempit.
2. lokasi sempit atau semrawut misalnya pasar tradisional atau rumah kampung yang
sempit.
3. peralatan pemadam tidak berfungsi atau tidak sesuai.
4. adanya asap tebal dan hitam sehingga petugas akan kesulitan mengarahkan
semprotan air.
5. kurangnya sumber air untuk pemadaman. Pasokan air untuk kelanjutan
pemadaman bisa diperoleh dari hidran, sumur, sungai dan danau. Namun sumber
pasokan air tersebut belum tentu menyediakan air dalam jumlah yang memadai,
tidak bisa digunakan atau dimanfaatkan.
6. partisipasi masyarakat yang salah seperti memperlambat kerja petugas pemadam.
7.9. Kesimpulan
Kebakaran tidak dapat diprediksi kapan terjadi sehingga harus diantisipasi sejak dini.
Pertimbangan utama mengapa perlu upaya perlindungan dan pencegahan bahaya kebakaran

adalah karena adanya potensi bahaya kebakaran di semua tempat dan kebakaran merupakan
peristiwa yang selalu membawa kerugian. Dengan demikian usaha pencegahan harus
dilakukan oleh setiap individu dan unit kerja agar jumlah peristiwa kebakaran, penyebab
kebakaran dan jumlah kecelakaan dapat dikurangi sekecil mungkin. Pada prinsipnya usaha
perlindungan dan pencegahan bahaya kebakaran yang utama adalah penyelamatan jiwa
manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, 2011. Panduan Teknis Perawatan
Laboratorium Komputer & Multimedia. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Atas Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Dan
Kebudayaan
Ismail dkk, 2001. Prinsip-prinsip Dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PDK3),
Tembagapura : Departemen K3 PT Freeport Indonesia.
Ridley, John. 2008. Ikhtisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Edisi Ketiga. Alih Bahasa:
Soni Astranto, Jakarta : Penerbit Erlangga
Sumamur, 1985. Kesehatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Edisi Kedua. Jakarta :
Gunung Agung.
Tim Dosen Laboratorium Komputer, 2000. Keselamatan Kerja Laboratorium Komputer.
Surabaya : Program Studi Diploma Tiga Sistem Informasi Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Airlangga Surabaya.
Zaini, Muchamad, 1998. Panduan Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran. Jakarta: Abdi
Tandur.