Anda di halaman 1dari 23

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS HIDUP IBU DAN STATUS

GIZI ANAK USIA 6-12 TAHUN DI SDN REJODANI


SARIHARJO NGAGLIK SLEMAN
SKRIPSI

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan


Mencapai Derajat Sarjana Kedokteran

Diajukan Oleh:
Muslih Setia Ardi Cahyana
J500090034

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat
(Supariasa, 2012). Gizi merupakan salah satu masalah kesehatan di berbagai
negara, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Namun masalah
gizi bukan hanya berdampak pada kesehatan saja, akan tetapi berdampak pula
pada pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dimasa yang akan
datang.
Munthofiah (2008) yang dikutip dari Soekirman (2001) status gizi anak
merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia (SDM).
Sehingga anak yang memiliki status gizi baik merupakan aset dan investasi
SDM dimasa mendatang, namun sebaliknya anak yang memiliki status gizi
kurang merupakan permasalahan terhadap sumber daya manusia dimasa
mendatang. Sehingga kualitas sumber daya manusia sangat ditentukan oleh
kualitas gizi pada anak.
Riset Kesehatan Dasar (2010) menyebutkan secara nasional prevalensi
anak pendek untuk ketiga kelompok masih tinggi, yaitu di atas 30%, tertinggi
pada kelompok anak 6-12 tahun (35,8%), dan terendah pada kelompok umur
16-18 tahun (31,2%). Prevalensi kurus pada kelompok anak 6-12 tahun
adalah 12,2 % terdiri dari 4,6 % sangat kurus dan 7,6 % kurus dan 13-15
tahun adalah sekitar 11 persen, sedangkan pada kelompok anak 16-18 tahun
adalah 8,9 persen.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) prevalensi status gizi umur 6-12
tahun menurut tinggi badan di bagi umur (TB/U) adalah sangat pendek 6,8
%, pendek 16,3 %, normal 76,9 %, sedangkan menurut indeks masa tubuh
(IMT) di bagi umur adalah sangat kurus 2,7 %, kurus 5,6 %, normal 83,5 %
dan gemuk 7,8 % (Rikesdas, 2010)

Dalam upaya meningkatkan perbaikan gizi masyarakat di Indonesia dapat


dilakukan melalui beberapa hal. Salah satunya adalah meningkatkan kualitas
hidup ibu, dimana kualitas hidup ini menurut WHOQOL - BREF terbagi
menjadi empat domain, antara lain : kesehatan fisik, kesehatan psikologi,
hubungan sosial dan lingkungan (Sutikno, 2011). WHO meneliti tentang
pengembangan penilaian kualitas hidup ini oleh karena beberapa alasan yaitu
semakin meningkatnya mekanistik di bidang kedokteran hanya peduli dengan
pemberantasan penyakit dan gejalanya saja, tanpa memperhatikan kualitas
hidup seseorang yang menekankan pada aspek kesehatan dan kesejahteraan
seseorang untuk menuju hidup yang lebih baik. Dari hasil penelitian yang
dilakukan di kota Porto Alegre di dapatkan bahwa ibu yang memiliki kualitas
hidup rendah ada kemungkinan sebesar 5,4 % anak-anaknya beresiko
mengalami gizi buruk, sehingga kualitas hidup ibu diharapkan penting bagi
kesehatan anak salah satunya dengan asupan gizi untuk menuju status gizi
yang baik (Feijo et all, 2011).
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, peneliti ingin meneliti
tentang hubungan antara kualitas hidup ibu dengan status gizi pada anak usia
6 sampai 12 tahun di SDN Rejodani Sariharjo Ngaglik Sleman.
B. Rumusan masalah
Adakah hubungan antara kualitas hidup ibu dengan status gizi pada anak usia
6 sampai 12 tahun di SDN Rejodani Sariharjo Ngaglik Sleman?
C. Tujuan penelitian
Untuk mengetahui hubungan antara kualitas hidup ibu dengan status gizi pada
anak usia 6 sampai 12 tahun di SDN Rejodani Sariharjo Ngaglik Sleman.

D. Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan ibu tentang kualitas


hidup khususnya di bidang kesehatan masyarakat dan kesehatan anak.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi institusi pendidikan, sebagai bahan untuk menambah bahan
pustaka serta meningkakan pengetahuan dan wawasan mahasiswa serta
pembaca pada umumnya tentang gizi anak.
b. Bagi orang tua khususnya ibu, memperoleh informasi mengenai
kualitas hidup untuk meningkatkan status gizi anak secara optimal.
c. Bagi peneliti, dapat mengetahui permasalahan gizi anak sehingga dapat
memberikan informasi pada orang tua terutama ibu dalam pemberian
makanan sesuai dengan umur anak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Kualitas Hidup
a. Definisi

Menurut Calman yang dikutip oleh Hermann (1993)


mengungkapkan bahwa konsep dari kualitas hidup adalah bagaimana
perbedaan antara keinginan yang ada dibandingkan perasaan yang
ada sekarang, definisi ini dikenal dengan sebutan Calmans Gap.
Calman mengungkapkan pentingnya mengetahui perbedaan antara
perasaan yang ada dengan keinginan yang sebenarnya, dicontohkan
dengan membandingkan suatu keadaan antara dimana seseorang
berada dengan di mana seseorang ingin berada. Jika perbedaan
antara kedua keadaan ini lebar, ketidakcocokan ini menunjukkan
bahwa kualitas hidup seseorang tersebut rendah. Sedangkan kualitas
hidup tinggi jika perbedaan yang ada antara keduanya kecil
(Silitonga, 2007).
Definisi kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan dapat
diartikan sebagai respon emosi dari penderita terhadap aktivitas
sosial, emosional, pekerjaan dan hubungan antar keluarga, rasa
senang atau bahagia, adanya kesesuaian antara harapan dan
kenyataan yang ada, adanya kepuasan dalam melakukan fungsi fisik,
sosial dan emosional serta kemampuan mengadakan sosialisasi
dengan orang lain (Silitonga, 2007)
b. Ruang Lingkup
Pada tahun 1991 bagian kesehatan mental WHO memulai program
organisasi kualitas kehidupan dunia (WHOQOL). Tujuan dari
program ini adalah untuk mengambangkan suatu instrumen penilaian
kualitas hidup yang dapat dipakai secara nasional dan secara antar
budaya. Instrumen WHOQOL BREF ini telah dikembangkan secara
kolaborasi dalam sejumlah pusat dunia. Secara umum terdapat 4
bidang (domains) yang dipakai untuk mengukur kualitas hidup
berdasarkan kuesioner yang dikembangkan oleh WHO (World Health
Organization), bidang tersebut adalah sebagai berikut :
1) Kesehatan fisik (physical health)

Penyakit, kegelisahan tidur dan beristirahat, energi dan kelelahan,


mobilitas, aktivitas sehari-hari, ketergantungan pada obat dan
bantuan medis, kapasitas pekerjaan.
2) Kesehatan psikologis (psychological health) :
Perasaan positif, berfikir, belajar, mengingat dan konsentrasi, self
esteem, penampilan dan gambaran jasmani, perasaan negatif,
kepercayaan individu.
3) Hubungan sosial (sosial relationship) :
Hubungan pribadi, dukungan sosial, aktivitas sosial.
4) Lingkungan (environment) :
Kebebasan, keselamatan fisisk dan keamanan, lingkungan rumah,
sumber keuangan, kesehatan dan kepedulian sosial, peluang untuk
memperoleh ketrampilan, informasi baru, keikutsertaan dan
peluang untuk berekreasi, aktivitas dilingkungan, transportasi
(Sutikno, 2011).
c. Pengukuran
Pengukuran

kualitas

hidup

menggunakan

standar

kuesioner

WHOQOL BREF yang terdiri dari 26 item pertanyaan dan


mencakup empat aspek.
2. Status Gizi
a. Pengertian Status Gizi Anak
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi
makanan dan penggunaan zat-zat gizi, dibedakan atas gizi buruk,
kurang, baik, dan lebih (Almatsier, 2010).
b. Gizi yang dibutuhkan Anak
Gizi merupakan unsur yang penting dalam pemenuhan kebutuhan
nutrisi,

mengingat

zat

gizi

berfungsi

menghasilkan

energi,

membangun dan memilihara jaringan, serta mengatur proses-proses


kehidupan dalam tubuh, selain itu gizi berhubungan

dengan

perkembangan otak, kemampuan belajar dan produktivitas kerja.

Zat gizi yang dibutuhkan tubuh seperti karbohidrat, protein,


lemak, vitamin, dan mineral. Dalam makanan ada 5 kelompok zat
gizi (Waryana, 2010), antara lain yaitu :
1) Karbohidrat (Hidrat Arang)
Karbohidrat merupakan sumber energi yang sangat diperlukan
oleh tubuh dalam melakukan berbagai aktivitas kehidupan.
Kalori dalam makanan diperoleh dari nutrien lemak, protein dan
karbohidrat. Setiap 1 gram lemak menghasilkan 9 kalori, protein
4 kalori, dan karbohidrat 4 kalori (Waryana, 2010)
2) Protein
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan
bagian terbesar tubuh sesudah air. Protein memepunyai fungsi
khas yang tidak dapat digantikan oleh zat lain, yaitu membangun
serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh (Almatsier, 2010)
3) Lemak
Lemak merupakan zat gizi yang terdiri dari molekul karbon (C),
Hidrogen (H) dan Oksigen (O) yang mempunyai sifat dapat larut
pada zat pelarut tertentu. Lemak berfungsi sebagai sumber
energidan cadangan energi, selain itu lemak juga berfungsi
memebantu transportasi dan absorsi vitamin A, D, E dan K, dan
sebagai bantalan organ tubuh tertentu (Sulistyoningsih,2011).
4) Vitamin
Vitamin adalah zat-zat organik kompleks yang dibutuhkan dalam
jumlah kecil dan pada umumnya tidak dapat dibentuk oleh tubuh.
Vitamin termasuk kelompok zat pengatur pertumbuhan dan
pemeliharaan kehidupan (Almatsier, 2010).
5) Mineral
Mineral merupakan bagian tubuh yang memegang peranan dalam
pemeliharaan fungsi tubuh, baik pada tingkat sel, jaringan, organ,
maupun fungsi organ secara keseluruhan.
Mengkonsumsi air minum, hendaknya tidak kurang dari dua liter atau
setara dengan delapan gelas setiap hari. Mengkonsumsi cukup air
dapat mencegah terjadinya dehidrasi atau kekeurangan cairan tubuh,
dan dapat menurunkan resiko penyakit batu ginjal (Sulistyoningsih,
2011).

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi anak


1) Faktor langsung
a) Asupan makanan
Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi
seseorang. Pada anak yang mendapatkan makanan tidak
cukup baik dapat menyebabkan daya tahan tubuhnya
melemah dan mudah terserang penyakit sehingga dapat
memepengaruhi status gizi (Waryana, 2010).
b) Penyakit infeksi
Terdapat pengaruh yang cukup besar dari penyakit
infeksi terhadap keadaan gizi seseorang. Penyakit infeksi
tersebut antara lain seperti diare dan demam, penyakit
tersebut dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan,
dimana makanan yang dikonsumsi menjadi berkurang,
sehingga dapat menyebabakan terjadinya gangguan pada
status gizi (Waryana, 2010).
2) Faktor tidak langsung
a)
Ketahanan pangan
Ketahanan makanan adalah kemampuan keluarga untuk
memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarga
dalam jumlah yang cukup dan baik mutunya (Waryana,
b)

2010).
Pola pengasuhan anak
Pola pengasuhan anak adalah kemampuan keluarga
untuk menyediakan wakyunya, perhatian dan dukungan
terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara

c)

optimal baik fisik, mental, dan sosial (Waryana, 2010).


Pelayanan kesehatan dan Kesehatan lingkungan
Tersedianya air bersih dan sarana pelayanan kesehatan
dasar yang terjangkau oleh seluruh keluarga. Berkunjung ke
pusat pelayanan kesehatan dan mendapat pemantauan status

gizi atau pertumbuhan (Waryana, 2010).


d. Peranan gizi
Peranan gizi bagi anak sekolah terdiri beberapa aspek yaitu:
1) Aspek gizi dalam pertumbuhan fisik
Tumbuh kembang sel jaringan tubuh melalui tiga tahapan :

a) Tahap pembelahan sel yang umumnya berlangsung dengan


cepat dan tahap ini disebut tahap hyperplasia.
b) Tahap tumbuhnya sel-sel sehingga mencapai ukuran tertentu
disebut tahap hypertrophy
c) Tahap maturity adalah sel jaringan yang telah mencapai
ukuran

normal,

pematangan

selanjutnya

sehingga

akan

masing-masing

memasuki
sel

itu

tahap
dapat

melaksanakan fungsinya (Waryana, 2010)


2) Aspek gizi dalam pertumbuhan otak dan kecerdasan
Hubungan antara tumbuh kembang otak, tingkat kecerdasan dan
keadaan gizi anak pada usia awal kehidupannya banyak menarik
perhatian para ahli gizi dan kesehatan. Otak merupakan jaringan
tubuh yang sangat sempurna struktur dan fungsinya, akan tetapi
daya kerja otak dan kebugarannya sangat dipengaruhi oleh
kecukupan pasokan zat gizi yang diperlukan untuk terlaksananya
berbagai fungsi otak.
3) Aspek gizi dalam produktifitas kerja
Untuk menghasilkan energi, manusia harus menyerap energi dari
luar yaitu makanan. Dengan demikian apabila energi yang
diperoleh dari makanan tidak cukup, maka orang akan bekerja
dibawah kapasitas seharusnya.
4) Aspek gizi dan daya tahan tubuh terhadap infeksi
Penyakit infeksi yang menyerang anak menyebabkan gizi anak
menjadi buruk. Memburuknya keadaan gizi anak akibat infeksi
dan beberapa hal, antara lain :
a) Turunnya nafsu makan anak akibat rasa tidak nyaman yang
dialami sehingga masukan gizi berkurang
b) Penyakit infeksi sering dibarengi dengan diare dan muntah
yang menyebabkan penderita kehilangan cairan dan zat gizi
c)

seperti berbagai mineral dan sebagainya


Naiknya metabolisme basal akibat demam menyebabkan
termobilisasinya

cadangan

energi

dalam

tubuh.

Penghancuran jaringan tubuh oleh bibit penyakit juga akan


semakin banyak dan untuk menggantinya diperlukan
masukan protein yang lebih banyak (Waryana, 2010).

e. Penilaian status gizi anak


1) Penilaian status gizi secara langsung
a) Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh
manusia.

Ditinjau

dari

sudut

pandang

gizi,

maka

antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam


pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari
berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri
digunakan untuk melihat ketidak seimbangan asupan
protein dan energi. Ketidak seimbangan ini dapat terlihat
pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh
seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh (Supariasa,
2012).
Status Gizi anak umur 6-18 tahun dikelompokan
menjadi tiga kelompok umur yaitu 6-12 tahun, 13-15 tahun
dan 16-18 tahun. Indikator status gizi yang digunakan
untuk kelompok umur ini didasarkan pada pengukurran
antropometri berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) yang
disajikan dalam bentuk tinggi badan menurut umur (TB/U)
dan Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U). Indeks
massa tubuh anak dihitung berdasarkan rumus berikut:
Berat badan (kg)
IMT =
Tinggi badan (m)x Tinggi badan (m)

Dengan menggunakan baku antropometri anak 5-19


tahun WHO 2007 dihitung nilai Z_score TB/U dan IMT/U
masing-masing anak. Selanjutnya berdasarkan nilai Z_score
ini status gizi anak dikategorikan sebagai berikut:
Berdasarkan indikator TB/U:
Tabel 1. Kategori Status Gizi Anak berdasarkan Nilai Z-Skor

Nilai Z-Skor
(Standar deviasi)

Kategori

Z -2SD

Normal

-2SD > Z -3SD

Pendek

< -3SD

Sangat pendek

Berdasarkan indikator IMT/U:


Tabel 2. Kategori Status Gizi Anak berdasarkan Nilai Z-Skor
Nilai Z-Skor
Kategori
(Standar deviasi)
Z +2SD

Gizi lebih

+2SD > Z -2SD

Gizi baik

-2SD > Z -3SD

Gizi kurang

< - 3SD

Gizi buruk
(Rikesdas, 2010)

b) Klinis
Pemeriksaan klinis didasarkan atas peruahan-perubahan yang
terjadi dan dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal
ini dapat dilihat pada jarian epitel seperti kulit, mata, rambut
dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan
c)

permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid (Supariasa, 2012).


Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan
spesimen yang diuji secara laboratorium yang dilakukan pada
berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang
digunakan antara lain: darah, urin, tinja dan juga beberapa
jaringan tubuh seperti hati dan otot. Pemeriksaan ini gunakan

untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi


keadaan malnutrisi yang lebih parah (Supariasa, 2012).
d) Biofisik
Penilaian status gizi secara biofisik adalah metode penentuan
status gizi dengan melihat kemampuan fungsi dan melihat
perubahan struktur dari jaringan. Biofisik digunakan dalam
situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik, cara
yang digunakan adalah tes adaptasi gelap (Supariasa, 2012).
2) Penilaian status gizi secara tidak langsung
a) Survei Konsumsi Makanan
Survai konsumsi makanan adalah metode penentuan status
gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis
zat gizi yang dikonsumsi. Survai ini dapat digunakan untuk
mengidentifikasiakn kelebihan dan kekurangan zat gizi
(Supariasa, 2012).
b) Statistik Vital
Pengukuran dengan

statistik

vital

adalah

dengan

menganalisis dan beberapa statistik kesehatan seperti angka


kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian
akibat penyebab tertentu dan data lain yang berhubungan
dengan gizi (Supariasa, 2012).
3. Anak Usia 6 - 12 Tahun
a. Pengertian
Anak usia 6 12 tahun dalam hubungannya dengan proses belajar
mengajar

(pendidikan)

pentahapan

perkembangannya

disebut

sebagai masa usia sekolah dasar. Masa usia sekolah dasar disebut
sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah, pada masa
ini secara relatif, anak-anak lebih mudah dididik daripada masa
sebelum dan sesudahnya (Yusuf, 2008).
Sedangkan menurut Comenius dalam Susanto (2011) memandang
untuk anak-anak usia 6 12 tahun dari sudut pandang pendidikan
sebagai jenjang sekolah bahasa ibu (scola pernaculan)
b. Fase dan Sifat

Menurut Yusuf (2008), masa usia sekolah dasar diperinci menjadi 2


fase, yaitu:
1) Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar (6 9 tahun)
Beberapa sifat anak-anak pada masa ini antara lain:
a) Adanya hubungan positif yang tinggi antara keadaan jasmani
dengan prestasi.
b) Sikap tunduk keada peraturan-perturan permainan yang
tradisional.
c) Adanya kecenderungan memuji diri sendiri
d) Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak yang
lain
e) Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu
dianggap tidak penting.
f) Pada masa ini anak menghendaki nilai (angka rapor) yang
baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas
diberi nilai baik atau tidak.
2) Masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar (10 12 tahun)
Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini antara lain:
a) Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang
konkret, hal ini menimbulkan adanya kecenderungan untuk
membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang praktis.
b) Amat realistik, ingin mengetahui, ingin belajar.
c) Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal dan
mata pelajaran khusus.
d) Sampai kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan guru
atau orang-orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas
dan memenuhi keinginannya.
e) Pada masa ini, anak memandang nilai (angka rapor) sebagai
ukuran yang tepat (sebaik-baiknya) mengena prestasi
sekolah.
f) Anak-anak pada usia ini gemar membentuk kelompok sebaya
biasanya untuk dapat bermain bersama.

c. Kebutuhan Dasar Anak

Menurut Tanuwidjaya (2008) kebutuhan dasar anak untuk


tumbuh kembang secara garis besar dikelompokkan kedalam 3
kelompok, yaitu :
1) Kebutuhan fisi biomedis (ASUH)
Yaitu kebutuhan akan nutrisi yang adekuat dan seimbang.
Nutrisi adalah termasuk pembangun tubuh yang mempunyai
pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan.
2) Kebutuhan akan kasih sayang/emosi (ASIH)
Yaitu kebutuhan terhadap emosi, meliputi : kasih sayang orang
tua, rasa aman harga diri, mandiri dan dorongan
3) Kebutuhan latihan/rangsangan/bermain (ASAH)
Merupakan cikal bakal proses pembelajaran anak yaitu
pendidikan dan pelatihan.
4. Hubungan Antara Kualitas Hidup Ibu dan Status Gizi Anak
Menurut Gibson dalam Waryana (2010) menyatakan bahwa status
gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan hasil akhir dari
keseimbangan antara zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dan
utilisasinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi anak adalah
konsumsi makanan dan kesehatan yang di pengaruhi oleh zat gizi dalam
makanan, lingkungan fisik dan sosial, pemeliharaan kesehatan,
kebiasaan makan dan daya beli keluarga (Soetjiningsih, 2012).
Peran keluarga, khususnya ibu dalam mempersiapkan makanan
untuk suaminya dan anaknya adalah sangat penting untuk menuju status
gizi yang baik pula.
Rosulullah pernah bersabda Setiap orang dari kamu adalah
pemimpin dan setiap kamu bertanggung jawab terhadap apa yang dia
pimpin. Imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap
mereka; suami adalah pemimpin keluarganya dan bertanggung jawab
pada keluarganya, wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan
bertanggung jawab untuk itu; pelayan adalah pemimpin bagi kekayaan
majikannya dan bertanggung jawab untuk itu.(HR. Bukhari, 392).

Dalam hadist ini menunjukkan besarnya peran dari ibu untuk


bertanggung jawab dalam rumah tangga dan menunjukkan dari kualitas
hidup ibu untuk mengatur rumah tangganya, terutama untuk memenuhi
kebutuhan fisik biomedis (asuh) bagi anak. Yaitu kebutuhan akan nutrisi
yang adekuat dan seimbang. Karena nutrisi adalah termasuk pembangun
tubuh

yang

mempunyai

pengaruh

terhadap

pertumbuhan

dan

perkembangan, sehingga semakin baik kualitas hidup ibu, maka


pengasuhan terhadap anak akan semakin baik pula.

B. Kerangka Teori
1)
2)
3)
4)

Kesehatan Fisik
Kesehatan Psikologis
Lingkungan
Hubungan Sosial

Kualitas Hidup Ibu


baik

buruk

Asah

Asih

Asuh

Asupan nutrisi /
gizi
Baik

Buruk
Status Gizi Anak
Sekolah

Keterangan

:
:

diteliti

tidak diteliti

C. Hipotesis

Terdapat hubungan antara Kualitas Hidup Ibu dengan Status Gizi Anak
Usia 6-12 tahun di SD Rejodani Sariharjo Ngaglik Sleman.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan
pendekatan (cross-sectional).
B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di SDN Rejodani Sariharjo Ngaglik Sleman


C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak
berusia 6-12 tahun yang ada di SDN Rejodani Sariharjo Ngaglik Sleman.
2. a. Sampel

Sampel penelitian adalah sebagian dari ibu yang memiliki anak berusia
6-12 tahun yang ada di SDN Rejodani Sariharjo Ngaglik Sleman. Cara
pengambilan sampel yaitu dengan cara simple random sampling yaitu
pengambilan sampel berdasarkan secara acak.
b. Besar Sampel
Rumus besar sampel penelitian analitik kategori tidak berpasangan
adalah:

D. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak usia 6-12 tahun di
SDN Rejodani Sariharjo Ngaglik Sleman dengan memenuhi kriteria inklusi
dan ekslusi sebagai berikut:
1.

Kriteria inklusi
a. Ibu yang memiliki anak usia 6-12 tahun
b. Ibu dan anak dalam keadaan sehat
c. Bersedia menjadi subjek penelitian
d. Hadir di sekolah saat penelitian
2. Kriteria eksklusi
a. Subjek tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian
b. Anak yang sedang sakit atau sedang terinfeksi suatu penyakit
E. Variabel Peneltian
1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kualitas hidup Ibu
2. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah status gizi anak usia 6-12
tahun di SDN Rejodani Sariharjo Ngaglik Sleman.
F. Definisi Operasional
Definisi operasional dalam penelitian ini adalah :
1. Kualitas hidup Ibu
a. Definisi
Kualitas hidup menurut Calman yang dikutip oleh Hermann (1993)
mengungkapkan bahwa konsep dari kualitas hidup adalah bagaimana
perbedaan antara keinginan yang ada dibandingkan perasaan yang ada
sekarang (Silitonga, 2007)
b. Cara pengukuran :
1) WHOQOL BREF
Merupakan salah satu alat ukur untuk mengukur kualitas hidup,
secara umum kualitas hidup dipengaruhi oleh empat aspek, yaitu :
kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan
(Sutikno, 2001)
Indeks WHOQOL yang diperoleh dari pertanyaan yang menilai
pikiran,

dari

responden

tentang

kehidupanya

dan

situasi

kehidupannya, kepuasan dirinya sendiri dan kesehatannya,


kemampuan melaksanakan aktivitas sehari-hari, hubungan dengan
orang lain, kondisi kehidupannya dan seluruh kehidupannya.
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah berasal dari

pikiran responden tentang segala standar hidup, harapan,


kesenangan dan perhatian pada empat minggu terakhir. Jawaban
kuisioner tersebut menggunakan skala Likert kemudian dilakukan
scoring pada tiap domain, lalu skor tersebut di jumlahkan, setelah
itu ditransformasikan ke tabel menjadi skala 0 100, nilai 0 untuk
kualitas hidup terburuk dan nilai 100 untuk kualitas hidup terbaik
(Sutikno, 2011)
c. Skala pengukuran : ordinal
2. Status gizi anak
a. Definisi
Status gizi adalah adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi
makanan dan penggunaan zat-zat gizi, dibedakan atas gizi buruk,
kurang, baik, dan lebih (Almatsier, 2010).
b. Cara pengukuran :
Status Gizi anak umur 6-12 tahun menggunakan pengukuran
antropometri berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) yang disajikan
dalam bentuk Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U). Indeks
massa tubuh anak dihitung berdasarkan rumus berikut:
Dengan menggunakan baku antropometri anak 5-19 tahun WHO 2007
dihitung nilai Z_score IMT/U masing-masing anak. Selanjutnya
berdasarkan nilai Z_score ini status gizi anak dikategorikan sebagai
berikut:

Berdasarkan indikator IMT/U:


Tabel 2. Kategori Status Gizi Anak berdasarkan Nilai Z-Skor
Nilai Z-Skor
Kategori
(Standar deviasi)
Z +2SD

Gizi lebih

+2SD > Z -2SD

Gizi baik

-2SD > Z -3SD

Gizi kurang

< - 3SD

Gizi buruk
(Rikesdas, 2010)

c. Skala pengukuran : ordinal


G. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitan adalah alat yang digunakan untuk pengumpulan data
dalam penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah
timbangan untuk mengetahui berat badan anak, mikrotoise (meteran) untuk
mengetahui tinggi badan anak dan kuisioner tentang kualitas hidup yang diisi
oleh ibu anak untuk mengetahui informasi yang diketahui.
H. Jenis dan Cara Pengumpulan Data
1. Jenis data
Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer, yang
diperoleh dari hasil penimbangan dari anak dan hasil pengisian kuesioner
oleh ibu anak, meliputi kualitas hidup ibu.
2. Cara pengumpulan data
Data diperoleh dari anak dan ibu anak yang datang ke SDN Rejodani
Sariharjo Ngaglik Sleman. Pengumpulan data dilakukan dalam dua tahap.
Tahap pertama untuk mengumpulkan data berat badan, tinggi badan dan
umur anak dengan malakukan penimbangan. Tahap kedua mengumpulkan
data tentang kualitas hidup ibu yang diperoleh dari kuisioner tentang
kualitas hidup dari WHO.
I.

Kerangka Penelitian
Status Gizi Anak

Kualitas Hidup
Ibu

Antropometri BB,TB dan Umur

Diukur dengan
kuisioner
(WHOQOL-BREF)
Baik

baku antropometri anak 5-19 tahun


WHO 2007 dihitung nilai Z_score
IMT/U

Buruk

Status Gizi
Lebih

Baik

Kurang

Buruk

J.

Hubungan kualitas hidup ibu dengan anak usia 6-12


tahun
di SDN
Rejodani Sariharjo Ngaglik Sleman.
Pengolahan dan
Analisis
Data
Pengolahan dan analisis data hasil penelitian dengan menggunakan
program komputer perangkat lunak SPSS 17for windows.
1. Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
2. Analisis data untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel
bebas dengan variable terikat. Variabel bebas dan variable terikat pada
penelitian ini mempunyai skala kategorik dan peneliti mempunyai tujuan
untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan
variabel terikat maka analisis data menggunakan uji Chi-Square (dengan
= 0,05) (Dahlan, 2009).

Kegiatan

Penyusunan
proposal
Ujian
proposal
Revisi
proposal
Pengumpulan
data
Pengolahan
& analisis
data
Penyusunan
skripsi
Ujian skripsi
Perbaikan
skripsi

Bulan
April

Bulan
Mei

Bulan
Juni

Bulan
Agustus

Bulan
Juli

Bulan
Agustus

Bulan
September

Bulan
Oktober

Bulan
November

Bula
Dese

K. Jadwal Penelitian

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier S., 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. 2010. Riset Kesehatan Dasar 2010. Jakarta.
Feijo, F.M. et al. 2011. Associao entre a qualidade de vida das mes e o estado
nutricional de seus filhos (Association between mothers quality of life and
infants nutritional status). Rev Bras Epidemiol. 14(4). pp 633-641.
Minarto. 2011. Anak Dengan Gizi Baik Menjadi Aset dan Investasi Bangsa Di
Masa Depan. www.depkes.go.id (online, diakses tanggal 4 April 2012)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta
Munthofiah S., 2008. Hubungan Antara Pengetahuan , Sikap dan prilaku ibu
Dengan Status Gizi Anak Balita. Universitas sebelas Maret. Tesis
Sari L, A., 2011. Anak Dengan Gizi Baik Menjadi Aset dan Investasi Bangsa Di
Masa Depan. www.depkes.go.id (online, diakses tanggal 4 April 2012)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta

Silitonga R. 2007. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kualitas Hidup


Penderita Penyakit Parkinson di Polikllinik Saraf RS DR Kariadi.
Universitas Diponegoro. Tesis
Soetjiningsih. 2012. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC pp 14.
Sulistyoningsih H., 2011. Gizi Untuk Kesehatan Ibu dan Anak. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Susanto. A. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini: Pengantar Dalam Berbagai
Aspeknya. Jakarta: Kencana.
Supariasa I,D,N., Bakri B., & Fajar B., 2012. Penilaan Status Gizi. Jakarta: EGC.

Tanuwidjaya, S. 2008. Konsep Umum Tumbuh dan Kembang dalam Buku Ajar 1
Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Edisi 1. Jakarta: Sagung Seto

Waryana, 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Rihama.


Yusuf, S. 2008. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Anda mungkin juga menyukai