Anda di halaman 1dari 54

OTONOMI DAERAH DAN

PERIMBANGAN KEUANGAN
Kuliah II. Pembiayaan Pembangunan
I Nyoman Suluh Wijaya

Prinsip pembiayaan dalam otonomi


daerah (UU 33/2004)

Salah satu tujuan otonomi daerah: untuk


meningkatkan kesejahteraan rakyat daerah
dengan mendekatkan pelayanan publik di
daerah.
Daerah

Konsekuensi dari
penyerahan urusan pusat
ke daerah

Pusat

Perimbangan=pemerataan?

Money follows function

Landasan filosofi kewenangan


keuangan daerah

Spirit Desentralisasi, menekankan pada upaya


efisiensi dan efektivitas pengelolaan Sumber Daya
Daerah untuk meningkatkan pelayanan umum dan
kesejahteraan masyarakat di daerah
Spirit Good Governance yang mengedepankan
perlunya transparansi, akuntabilitas, dan
mendekatkan masyarakat terhadap pengambilan
keputusan.
Spirit UU Pemerintahan Daerah membawa konsekuensi
pada penyerahan urusan dan pendanaan (money
follows function);

Question mark

apakah kebijakan perimbangan keuangan antara


Pemerintah dan Pemerintah Daerah terkini, sudah
dilakukan secara proporsional, adil, demokratis dan
sesuai dengan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah?

Bagaimanakah sumber
pembiayaannya?
Perimbangan keuangan?
Bagaimanakah pembiayaan
direncanakan?
Bagaimana pengelolaan hasil
rencananya?
Bagaimana konfliknya?

Sumber Pendanaan dan Perimbangan Keuangan

Sumber pendanaan
Sumber pendapatan daerah berdasarkan konsep otonomi
(UU 33/2004 Perimbangan Keuangan Pusat Daerah)

Sumber pendapatan daerah


Sumber
Pendapatan
lain

Dana
daerah

Dana
Perimbangan

PAD

PAD (Pendapatan Asli


Daerah)
HANYA YANG DIATUR
OLEH UNDANG-UNDANG

Pajak

Pengelolaan
SDA (dipisah)

PAD

User Charges (Retribusi)

Sebagai sumber penerimaan tambahan, tujuan


utamanya adalah efisiensi dengan menyediakan
informasi atas permintaan bagi penyedia layanan
publik dan memastikan apa yang disediakan oleh
penyedia layanan publik minimal sebesar tambahan
biaya (Marginal Cost) bagi masyarakat.

Tambahan biaya
masyarakat

Layanan
Publik

Bentuk Retribusi

Retribusi perizinan tertentu (service fees)


seperti penerbitan surat izin(pernikahan, bisnis, kendaraan bermotor) dan
berbagai macam biaya yangditerapkan oleh pemerintah daerah untuk
meningkatkan pelayanan. Pemberlakuan biaya/tarif kepada masyarakat atas
sesuatu yang diperlukanoleh hukum tidak selalu rasional.
Retribusi jasa umum (Public Prices)
adalah penerimaan pemerintah daerah atas hasil penjualan barang-barang
privat dan jasa. Semua penjualan jasa yang disediakan di daerah untuk dapat
diidentifikasi secara pribadi dari biaya manfaat publik untuk memberikan tarif
atas fasilitashiburan/rekreasi. Biaya tersebut seharusnya diatur pada tingkat
kompetisi swasta, tanpa pajak dan subsidi, dimana itu merupakan cara yang
palingefisien dari pencapaian tujuan kebijakan publik, dan akan lebih baik lagi
jika pajak subsidi dihitung secara terpisah.

Retribusi jasa usaha (specific benefit charges)


secara teori, merupakancara untuk memperoleh keuntungan dari pembayar
pajak yang kontras seperti pajak bahan bakar minyak atau pajak Bumi dan
Bangunan.

Tax (pajak)

Property Taxes (Pajak Bumi dan Bangunan)


Excise Taxes (pajak cukai)
Pajak cukai berpotensi signifikan terhadap
sumber penerimaan daerah,terutama pada
alasan administrasi dan efisiensi, pajak
kendaraan.
Personal income Taxes(Pajak
Penghasilan)

Dana Perimbangan
Dana Alokasi
Umum (DAU)

Dana Alokasi
Khusus (DAK)

1. Penetapan daerah penghasil sumber daya alam oleh


Mendagri berdasarkan pertimbangan dari menteri
teknis terkait;
2. Dasar perhitungan bagian daerah dari Daerah
penghasil SDA ditetapkan oleh Menteri Teknis setelah
memperoleh pertimbangan Mendagri;
3. Formula dan penghitungan DAU ditetapkan sesuai UU;
4. Ketentuan mengenai DAK diatur dengan PP;
5. Pedoman penggunaan, supervisi, monitoring, dan
evaluasi dana perimbangan diatur dalam Peraturan
Mendagri

Dana Bagi
Hasil (SDA)

Dana hasil pendapatan lain

Hibah (barang atau uang


dan/atau jasa), dana darurat,
dan lain-lain pendapatan yang
ditetapkan pemerintah;
Dana darurat diberikan pada
daerah yg digolongkan
mengalami keadaan tertentu
(ditetapkan oleh peraturan
Presiden) dan krisis keuangan;

Tata cara pengajuan, evaluasi,


dan pengalokasian dana darurat
diatur dalam PP (Pasal 166 ayat
2).

Perimbangan Keuangan

KONSEP DASAR

UU No. 33 Th. 2004, tentang Perimbangan Keuangan adalah


suatu sistem pembagian keuangan yang adil, proporsional,
demokratis, transparan, dan bertanggung jawab dalam
rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi, dengan
mempertimbangkan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah.
pusat

Dana Bagi Hasil

Dana Bagi Khusus

Dana Alokasi Umum

daerah

Jumlah dana perimbangan


ditetapkan dalam APBN (UU No. 33
Th. 2004 Pasal 10 tentang Dana
Perimbangan: 273)

Dana Bagi Hasil


PENERIMAAN BEA
HAK ATAS TANAH &
BANGUNAN

PBB

KEHUTANAN
PAJAK
PENGHASILAN
SDA

PAJAK

PERTAMBANGAN
DAN ENERGI

APBN

Pembagian

(UU No. 33 Th. 53 2004 Pasal 11


tentang Dana Bagi Hasil: 273

Dana Alokasi Khusus

DAK dimaksudkan untuk membantu membiayai kegiatan-kegiatan


khusus di daerah tertentu yang merupakan urusan daerah dan
sesuai dengan prioritas nasional, khususnya untuk membiayai
kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat yang
belum mencapai standar tertentu atau untuk mendorong percepatan
pembangunan daerah (Penjelasan UU No. 33 Th. 2004 pasal 324).

UU No. 33 Th. 2004


pasal 324

Dana
Alokasi
Khusus

Percepatan pembangunan
daerah
Urusan daerah dalam
prioritas nasional
Dana administrasi
Dana proyek fisik
Biaya penelitian, pelatihan,
perjalanan pegawai

Dana Alokasi Umum

DAU bertujuan untuk pemerataan kemampuan


keuangan antar daerah melalui penerapan formula
yang mempertimbangkan kebutuhan dan potensi daerah.
DAU untuk 1 daerah (celah fiskal)

Kebutuhan Potensi

Pemerataan
Provinsi = 10%
Kota/Kabupaten = 90%

Besar- Kecilnya didasarkan pada


perbandingan antara Kebutuhan Potensi
(Penjelasan UU No. 33 Th. 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pusat dan Pemerintah Daerah: 324).

DAU =

DAU seluruh daerah x bobot daerah yang bersangkutan


bobot daerah yang bersangkutan

Pengeluaran Daerah

Prioritas belanja daerah


terkait dengan peningkatan
pelayanan dasar,pendidikan,
kesehatan, fasos dan fasum
yang layak, serta jaminan
sosial (pasal 167 ayat 1 dan
2 terkait dengan pasal 22);
Belanja KDH, Wakil KDH dan
belanja pimpinan dan
anggota DPRD berpedoman
pada PP (psl 168 ayat 1 dan
2).

Upaya Peningkatan Kapasitas Pendanaan


Insentif (ps.176)

Pengelolaan SDA

Kemudahan
investasi (ps.176)
Pembentukkan
BUMD (ps.177)

Secara garis besar pengelolaan SDA di


tingkat pemenintah daerah diatur dalam
pasal 178 ayat 1.2.3.dan4

Peningkatan
PAD

Perencanaan Pembiayaan

Fungsi APBD

Fungsi otorisasi bermakna bahwa anggaran daerah menjadi dasar untuk


merealisasi pendapatan dan belanja pada tahun bersangkutan. Tanpa
dianggarkan dalam APBD sebuah kegiatan tidak memiliki kekuatan untuk
dilaksanakan.
Fungsi perencanaan bermakna bahwa anggaran daerah menjadi pedoman bagi
manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
Fungsi pengawasan mengandung makna bahwa anggaran daerah menjadi
pedoman untuk menilai keberhasilan atau kegagalan penyelenggaraan
pemerintah daerah.
Fungsi alokasi mengandung makna bahwa anggaran daerah harus diarahkan untuk
menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran, dan pemborosan
sumberdaya, serta meningkatkan efisiensi dan efektifitas perekonomian daerah.
Fungsi distribusi memiliki makna bahwa kebijakan-kebijakan dalam penganggaran
daerah harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
Fungsi stabilitasi memliki makna bahwa anggaran daerah menjadi alat untuk
memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian
daerah.

Prinsip Penyusunan APBD

Partisipasi masyarakat
Transparansi dan akuntabilitas
Disiplin Anggaran
Keadilan Anggaran
Efisiensi dan Efektivitas
Taat Azas

Reformasi Penganggaran (1)

Reformasi Penganggaran (2)

Penganggaran berbasis kinerja

Syarat Penganggaran Berbasis Kinerja

Keterpaduan

Alur Perencanaan Pembiayaan

Isi Rencana Anggaran

Pembiayaan
Anggaran
Pendapatan

RAPBD

Anggaran
Belanja

Anggaran Belanja keperluan


penyelenggaraan tugas
pemerintahan
Pembiayaan penerimaan yang
perlu dibayar kembali dan/atau
pengeluaran yang akan diterima
kembali, baik pada tahun anggaran
yang bersangkutan maupun tahuntahun anggaran berikutnya.

Alokasi (dalam perencanaan)

Struktur Pembelanjaan

Belanja langsung adalah


belanja yang terkait langsung
dengan program/kegiatan
pemerintah daerah
Belanja tidak langsung
adalah belanja yang tidak
terkait langsung dengan
program dan kegiatan, mis:
gaji pegawai

Berapa Prosentase
Kesetimbangannya?

Contoh Struktur APBD

Operasionalisasi

Tugas Mahasiswa

Setiap mahasiswa diminta untuk menjelaskan setidaknya satu skema


pembiayaan pembangunan yang ada di kota/kabupaten:
Contoh: PNPM (dana mandiri)
Penjelasan melingkupi:

Sumber pendanaan
Kelembagaan
Sistem pengelolaan dan kontrol (pengawasan)
Opini tentang efektifitas dan kemungkinan pengembangan

Ditulis dalam bentuk:

Laporan ms-word (spasi 1; times news roman body:11/Title: 14


/chapter: 2/sub-chapter:11; margin (kiri/ kanan: 3/2) (atas/bawah
4/3)
powerpoint untuk dipresentasikan di minggu ketiga dan keempat
perkuliahan
Laporan

Miserable facts

Bagaimana kontrol
dibangun?

Beberapa konflik dasar


Perimbangan yang setimbang?

Fakta

Setimbang?

Berada dalam jumlah


rata-rata meskipun
APBN meningkat

Seknas Fitra, 2012

Prosentase ketergantungan daerah


terhadap dana perimbangan

Seknas Fitra, 2012

Dana perimbangan yang makin bervariasi

Jenis dana perimbangan semakin berkembang,


tidak memiliki landasan aturan, dan berpotensi
memperlebar kesenjangan antar daerah

Dana
Penyesuaian

2008-DISP (Dana
Infrastruktur Sarana
dan Prasarana)

2009-DPDF PPD (Dana


Penguatan Desentralisasi
Fiskal-Percepatan
Pembangunan Daerah)
2010-DPIPD (Dana Penguatan
Infrastruktur dan Prasarana
Daerah)
2011
7 jenis dana penyesuaian
Dana sektoral

Skema dana
perimbangan ini
tidak dikenal
dalam
UU33/2004

Kontrol????

Tidak tepat sasaran

Seknas Fitra, 2012

Selisih antara konsep dan praktek

Ketimpangan DAU thd PDRB daerah


variabel yang digunakan tidak mencerminkan
kebutuhan daerah. Kebutuhan fiskal suatu
daerah dalam formula DAU menggunakan
variabel jumlah penduduk, luas daratan, indeks
kemahalan konstruksi, indeks pembangunan
manusia dan PDRB per kapita.
Bagaimana dengan perbandingan
luas laut dan daratan?

Seknas Fitra, 2012

Dan masih banyak lagi

Ada alternatif pembiayaan daerah?

Contoh Kasus Sidoarjo


Peralihan
investasi

Diversifikasi
Retribusi dan
Pajak

Peningkatan
PAD

KOTRA
PRODUKTIF
DUNIA USAHA

Alternatif sumber

CSR (Corporate Social


Responsibility)

PAD Sidoarjo

PPP (Public Private


Partnership)

Obligasi Daerah

Obligasi Daerah adalah salah satu sumber pinjaman daerah jangka


menengah dan/atau jangka panjang yang bersumber dari Masyarakat.
Penerbitan Obligasi Daerah hanya dapat dilakukan di pasar modal
domestik dan dalam mata uang Rupiah;
Obligasi Daerah merupakan efek yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah
dan tidak dijamin oleh Pemerintah;
Pemerintah Daerah dapat menerbitkan Obligasi Daerah hanya untuk
membiayai kegiatan investasi sektor publik yang menghasilkan penerimaan
dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang menjadi urusan Pemerintah
Daerah. Dengan ketentuan tersebut, maka Obligasi Daerah yang diterbitkan
Pemerintah Daerah hanya jenis Obligasi Pendapatan (Revenue Bond);
Nilai Obligasi Daerah pada saat jatuh tempo sama dengan nilai Obligasi
Daerah pada saat diterbitkan. Dengan ketentuan ini maka Pemerintah
Daerah dilarang menerbitkan Obligasi Daerah dengan jenis index bond yaitu
Obligasi Daerah yang nilai jatuh temponya dinilai dengan index tertentu dari
nilai nominal.

Fakta dari penerbitan obligasi daerah


COMPLICATED

Kesiapan
fiskal
Persetujuan
DPR
Uji materi

Persetujuan
Pusat
Rencana
Obligasi
daerah

Peluang komplikasi Politik

Penerbit
an surat
Obligasi

Pinjaman Daerah

PP. No. 54 Tahun 2005: dasar pemberian pinjaman


adalah diukur dari kemampuan daerah itu sendiri
dalam menghimpun penerimaan selama periode
tertentu yang didasarkan atas jumlah penerimaan
asli daerah.
DSCR (Debt to Service Coverage Ratio) minimal sebesar
2,5

Secara Riil, pemasukan dari


PAD belum dapat diharapkan

PPP (Public Private Partnership


Inovasi, keuangan,
teknologi, efisiensi,
enterpreneurship,
tanggungjawab
sosial, lingkungan,
budaya

alternatif penyediaan
infrastruktur
Project baru,
kemudahan
investasi,
terbukanya pasar

CSR (Corporate Social Responsibility )

Bukan sumber penerimaan bagi APBD, namun berperan


mengurangi beban pemerintah daerah dalam pembiayaan
pembangunan
terintegrasi dengan pendekatan perencanaan
pembangunan yang bersifat bottom-up (bottom-up planning)
CSR harus mampu mengakomodasi kondisi dan karakteristik
pelaksanaan CSR yang berkembang di masyarakat

CSR (Corporate Social Responsibility )


Aktif

Pemerintah

Desa/Komunitas

Swasta

CSR
Desa/
Komunitas

Pasif

Pemerintah
Pemrograman,
pelaksanaan,
kontrol

Swasta

Sidoarjo

Melihat karakteristik ekonomi Kabupaten Sidoarjo


sebagai salah satu daerah di Jawa Timur yang
memiliki basis industri yang relatif kuat, yang
ditunjukkan dengan keberadaan jumlah industri
yang cukup banyak, maka potensi dana CSR yang
bisa dicapai cukup besar