Anda di halaman 1dari 47

DANA PINJAMAN

HUTANG LUAR NEGERI


OBLIGASI

Dasar Hukum

UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;


UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah;
PP Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan
Penerimaan Hibah
PP Nomor 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah;
Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas
No. 005/M.PPN/06/2006 tentang Tatacara Perencanaan dan Pengajuan Usulan
serta Penilaian Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri;
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 45/PMK.02/2006 tentang Pedoman
Pelaksanaan dan Mekanisme Pemantauan Defisit Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah dan Pinjaman Daerah;
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK.07/2006 tentang Tatacara
Penerbitan, Pertanggungjawaban, dan Publikasi Informasi Obligasi Daerah.

Prinsip Pinjaman Daerah


Luar
Negeri

Pihak lain

Tidak boleh langsung


Pemerintah
daerah

RESOURCES

Swasta

XX

PAD

Tidak bisa
digunakan sebagai
jaminan

Aset

1. Inisiatif Pemda untuk urusan


kewenangan Pemda
2. Berdasar kesepakatan
3. Sebagai sumber APBD, penutup
defisit anggaran perjanjian

Masyarakat

Persyaratan Peminjaman (1)


60%
Sisa Peminjaman
Daerah

Pinjaman
yang
akan
ditarik

PDRB

atau

<

75%

Jangka Panjang

Penerimaan
APBD tahun
sebelumnya

PAD Keseluruhan (DAK + Dana Darurat + Dana


Pinjaman Lama + Penerimaan Lain dengan penggunaan
terbatas)
Ditentukan Mentri Keuangan
(paling lambat Agustus)

Persyaratan Peminjaman (2)


Rasio kemampuan pengembalian hutang
(Debt Services Coverage Ratio)

DCSR

(PAD + (DBH - DBHDR) + DAU) BW 2,5


Angsuran pokok pinjaman + bunga + biaya lain
Dana Bagi Hasil
Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi
Dana Alokasi Umum
Belanja Wajib

Persyaratan Peminjaman (3)


Khusus jangka pendek: telah dianggarkan, mendesak
Persetujuan dari DPRD
Bebas tunggakan untuk peminjaman ke pemerintah
pusat

Pinjaman menurut Jangka Waktu dan


Pemanfaatannya
Pendek

paling lama 1 (satu) tahun anggaran


harus dilunasi dalam tahun anggaran yang
berkenaan

jangka waktu lebih dari satu tahun anggaran


harus dilunasi dalam kurun waktu yang tidak
Menengah melebihi sisa masa jabatan kepala daerah yang
bersangkutan

Panjang

harus dilunasi pada tahun anggaran berikutnya


sesuai dengan persyaratan perjanjian pinjaman
yang bersangkutan

hanya untuk
menutup
kekurangan arus
kas
pelayanan publik
(tidak
menghasilkan
penerimaan)

investasi
prasarana
dan/atau sarana
dalam
penyediaan
pelayanan publik

Khusus Pinjaman Jangka Panjang


Sarana-Prasarana yang dibiayai:
menghasilkan penerimaan langsung,
menghasilkan penerimaan tidak
langsung,
memberikan manfaat ekonomi dan
sosial

KHUSUS OBLIGASI
JANGKA PANJANG
kegiatan investasi prasarana dan/atau sarana pelayanan
publik yang menghasilkan penerimaan bagi APBD
(diperoleh dari pungutan atas penggunaan prasarana
dan/atau sarana tersebut)

Prosedur Pengajuan Pinjaman Daerah (1)


Pinjaman dari dana Pemerintah
Kepala Daerah

Mentri Keuangan

Mentri Dalam Negeri

Usulan Pinjaman
Dana Penerusan
Pinjaman Dalam Negeri

Daftar Kegiatan Prioritas


yang dapat dibiayai

Dana Penerusan
Pinjaman Luar Negeri

Daftar Rencana Pinjaman


LN jangka menengah

1. Lap. Keuangan 3
thn
2. APBD tahun
berjalan
3. DCSR
4. Rencana Pinjaman
5. Surat Persetujuan
DPRD

Penilaian
Persetujuan

Kontrak

Pertimbangan

Prosedur Pengajuan Pinjaman Daerah (2)


Dana selain dana Pemerintah
Pemda

Mentri Keuangan

Mentri D. Negeri

Kreditur

Usulan

Penilaian

Pemilihan persyaratan

Pengajuan syarat
Persetujuan

Jangka Pendek

Kontrak
Pertimbangan

Laporan Rencana
Pinjaman Jangka
Menengah/panjang

Penilaian

Usulan
Pengajuan syarat

Pemilihan persyaratan

Jangka Panjang

1.
2.
3.
4.

Lap. Keuangan 3 thn


APBD
DCSR
Rencana Peminjaman

Persetujuan
Kontrak

Prinsip Pelaporan Pinjaman


Mentri
Keuangan /
Mendagri

Pemerintah
Daerah
Pencatatan dalam APBD
dan lembar Daerah

Pinjaman Luar Negeri


Pinjaman LN: setiap penerimaan negara baik
dalam bentuk devisa dan atau devisa yang
dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan
atau dalam bentuk jasa yang diperoleh dari
pemberi pinjaman luar negeri yang harus dibayar
kembali dengan persyaratan tertentu
Hibah: setiap penerimaan negara baik dalam
bentuk devisa dan atau devisa yang dirupiahkan
maupun dalam bentuk barang dan atau dalam
bentuk jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan
yang diperoleh dari pemberi hibah luar negeri
yang tidak perlu dibayar kembali

PPLN
Kemanfaatan Hutang Luar Negeri:
membiayai defisit APBN
membiayai kegiatan prioritas
Kementerian/Lembaga
mengelola portofolio utang
diteruspinjamkan kepada Pemerintah Daerah /
BUMD
diteruspinjamkan kepada BUMN
dihibahkan kepada Pemerintah Daerah / BUMD.

Jenis Pinjaman di Indonesia


Public Debt
Berdasarkan Private Debt
Penerima

Sumber
dananya

Multilateral
Bilateral
Sindikasi

Concessional Loan
Semi Concessional Loan
Persyaratan Commercial Loan

Multilateral

Exp: World Bank, Islamic Bank, etc

Bilateral

CGI atau secara langsung

Sindikasi

Jenis Pinjaman Berdasarkan Kegunaan


Pinjaman Tunai

Pinjaman
Kegiatan

Berupa devisa/rupiah untuk menutup defisit


anggaran APBN dan pengelolaan portfolio utang

Pinjaman untuk membiayai kegiatan tertentu

Bentuk Praktisnya: pinjaman program, stand by loan, pembiayaan likuiditas jangka


pendek, pembiayaan kontinjensi, pembiayaan untuk permodalan, dan lain-lain, yang
pencairannya bersifat tunai

Bentuk Praktisnya: berupa pinjaman proyek, credit line, dan lain-lain, yang
pencairannya terkait dengan kegiatan

Jenis pinjaman dan kegunaannya


Kegiatan bagian dari program yang
dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja pada
satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian
sasaran terukur untuk menghasilkan keluaran
dalam bentuk barang/jasa
Pengelolaan Portfolio kegiatan dalam rangka
mencapai komposisi utang yang optimal baik dari
sisi instrumen, mata uang, tingkat bunga, jenis
suku bunga, sumber, dalam upaya untuk
meminimalkan biaya utang pada tingkat risiko
yang terkendali

Eligibilitas
Pinjaman

Jangka Panjang, syarat


ringan dan rasional
Tidak disertai ikatan politik
dan saling menguntungkan
Jumlah pinjaman dan
persyaratannya sesuai
setimbang

ELIGIBLE
LOAN

Prosedur penggunaan dan


penarikan tidak terlalu ketat

Kreditor bereputasi baik


Diversifikasi
Untuk proyek
pengembangan industri dan
lapangan kerja
Tidak memunculkan
dominasi impor
barang/sumber daya

Jalur Mendapatkan Bantuan Luar


Negeri oleh Daerah
Penerusan Pinjaman
Luar Negeri Pemerintah
Mekanisme
Pinjaman Daerah
KREDITUR
LN

PEMDA

OBLIGASI

Elemen Penentuan Batas Pinjaman LN


Daerah
Batas Maksimal
Kumulatif hutang
Kebutuhan Riil
Pembiayaan

Resiko Hutang

Kapasitas sumber
pinjaman

Rencana
Batas
Maksimal
Mentri Keuangan +
(Gubernur BI)

Alat Pengendali
Pinjaman LN

Kemampuan
Pembayaran Hutang

Beban tertanggung selain nilai hutang

Bunga Pinjaman, merupakan biaya bunga atas fasilitas pinjaman luar


negeri yang telah disediakan yang telah ditarik (disburshed loan). Besarnya
bunga pinjaman telah ditetapkan dalam perjanjian pinjaman (loan
agreement) tergantung pada jenis pinjaman, yaitu pinjaman lunak, semi
lunak, komersial.
Commitment Fee, yaitu fee yang dibayarkan kepada pemberi pinjaman
(lender) atas komitmen pinjaman yang telah diberikan dan telah
dituangkan dalam loan agreement. Besarnya commitment fee dihitung
berdasarkan plafond pinjaman yang belum ditarik (undisburshed loan).
Administration Fee,
Front End Fee,
Agent Fee, adalah fee yang dibayarkan kepada agen yang ditunjuk oleh
Pemerintah RI dalam rangka perolehan pinjaman sindikasi. Agen tersebut
berfungsi sebagai penghubung antara Pemerintah RI dengan seluruh
member dapam kredit sindikasi.

Restrukturisasi
Penyesuaian atau penyusunan kembali struktur hutang yang
mencerminkan kesempatan kepada debitur merencanakan
pemenuhan kewajiban keuangannya
Penyusunan kembali struktur hutang didasarkan pada
keputusan manajemen keuangan sukarela, misalnya untuk
mengubah hutang jangka pendek menjadi jangka panjang.
(Sumber:
http://id.shvoong.com/businessmanagement/accounting/219445
7-pengertian-restrukturisasi-hutang/#ixzz2hVvie28i)

OBLIGASI
Obligasi adalah surat utang dengan jangka waktu
tertentu dan suku bunga / bagi hasil tertentu
Obligasi dibagi ke dalam unit - unit, dimana
setiap unit nilainya ditentukan

Bagian dari efek


Efek adalah surat berharga, yaitu surat
pengakuan utang, surat berharga komersial ,
saham, obligasi, tanda bukti utang, unit
penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak
berjangka atas Efek, dan setiap derivatif dari
efek

Elemen Obligasi

Pembagian Unit dengan nilai nominal (par/ face


value / principle amount / maturity value)

Sumber
pembayaran

suku bunga yang tertera pada


sertifikat obligasi dan harus
dibayarkan oleh emiten obligasi

Jangka Waktu:
Biasanya 3 tahun masa
berlaku perjanjian
penyertaan modal

Jenis OBLIGASI (1)


Berdasarkan ada/tidaknya jaminan aset

Secure
Bond

Adanya jaminan aset


tertentu

Unsecure Tidak didukung dengan


adanya aset tertentu
Bond

Jenis OBLIGASI (2)


Berdasarkan tanggal jatuh tempo

Term Bond

Satu tanggal jatuh tempo

Serial Bond

Beberapa tanggal jatuh


tempo

Callable
Bond

Bisa ditarik sebelum jatuh


tempo

Jenis OBLIGASI (3)


Berdasarkan alat penukarnya
Convertible
Bond

Obligasi yang dapat ditukarkan dengan


produk securitas yang lain, mis: saham

Commodity
Backed

Dapat dilunasi dengan komoditas

Deep discount
Bond

Obligasi yang tidak memberikan bunga

Jenis OBLIGASI (4)


Berdasarkan bunga yang dibayarkan

Income
Bond

Tidak memberikan bunga,


kecuali ada keuntungan

Revenue
Bond

Bunganya dibayarkan dari


sumber tertentu

HARGA OBLIGASI
Harga obligasi adalah suatu harga apabila kita ingin
membeli atau menjual obligasi di pasar modal baik
melalui transaksi bursa.
Beberapa hal yang mempengaruhi harga obligasi
adalah :
Nominal, yaitu harga obligasi sebagaimana pada waktu
penerbitan.
Tingkat bunga, yaitu tingkat bunga yang umum berlaku
dalam masyarakat sebagai pembanding kupon (bunga)
obligasi.
Periode pembayaran bunga, yaitu periode waktu dimana
penerbit melakukan pembayaran kupo . Biasanya 3
bulanan atau 6 bulanan.
Jangka waktu jatuh tempo yaitu jangka waktu sejak
obligasi diterbitkan sampai dilunasi oleh penerbitnya.

HARGA OBLIGASI

1. Par (nilai Pari): Harga Obligasi sama dengan nilai nominal


Misal: Obligasi dengan nilai nominal Rp 50 juta dijual pada harga 100%, maka nilai
obligasi tersebut adalah 100% x Rp 50 juta = Rp 50 juta.
2. at premium (dengan Premi): Harga Obligasi lebih besar dari nilai nominal
Misal: Obligasi dengan nilai nominal RP 50 juta dijual dengan harga 102%, maka
nilai obligasi adalah 102% x Rp 50 juta = Rp 51 juta.
3. at discount (dengan Discount): Harga Obligasi lebih kecil dari nilai nominal
Misal: Obligasi dengan nilai nominal Rp 50 juta dijual dengan harga 98%, maka nilai
dari obligasi adalah 98% x Rp 50 juta = Rp 49 juta

Peringkat Obligasi
Peringkat

Rating

AAA

terbaik

Institusi Penilai
(Indonesia)

AA
A

PT PEFINDO
PT Kasnic Credit
Rating

BBB

BB
B
CCC

Junk bond

Faktor Penentu

Track record keuangan dan


proyeksi kemampuan
pembayaran utang
Kelayakan proyek untuk
dibiayai oleh Obligasi
Daerah
Usulan rencana
penjaminan
Proses pengadaan
kontraktor dan pemasok

Dasar hukum

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal;


Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah;
Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah;
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK.07/2006 tentang Tata Cara
Penerbitan,Pertanggungjawaban dan Publikasi Informasi Obligasi Daerah
Paket Peraturan Ketua Bapepam dan LK terkait Penawaran Umum Obligasi Daerah,
yaitu:
a. Peraturan Nomor VIII.G.14 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan Daerah,
b. Peraturan Nomor VIII.G.15 tentang Pedoman Penyusunan Comfort Letter Dalam Rangka
Penawaran Umum Obligasi Daerah,
c. Peraturan Nomor VIII.G.16 tentang Pedoman Penyusunan Surat Pernyataan Kepala Daerah di
Bidang Akuntansi Dalam Rangka Penawaran Umum Obligasi Daerah,
d. Peraturan Nomor IX.C.12 tentang Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi Pernyataan Pendaftaran
Dalam Rangka Penawaran Umum Obligasi Daerah,
e. Peraturan Nomor IX.C.13 tentang Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi Prospektus Dalam Rangka
Penawaran Umum Obligasi Daerah, dan
f. Peraturan Nomor IX.C.14 tentang Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi Prospektus

Keputusan Direksi PT Bursa Efek Surabaya No. SK-010 /Dir/BES/V/2007 tentang


Peraturan Pencatatan Obligasi Daerah.

Latar Belakang trend OBLIGASI


Pemerintah di Indonesia
Cash Flow Pembiayaan Pembangunan 2007-2011

Total Utang Pemerintah

Sumber : DJPU Kementerian Keuangan yang diolah.

Khusus untuk Obligasi Pemerintah


Debitur

Proyek/BARANG JAMINAN

Inisiatif proyek dan


pembiayaan

Domestik Stock Exchange

OBLIGASI /GOVERNMENT
BOND (5 tahun/rupiah)

Kreditur

Yang boleh dibiayai dengan OBLIGASI

layanan air minum;


penanganan limbah dan persampahan;
transportasi;
rumah sakit;
pasar tradisional;
tempat perbelanjaan;
pusat hiburan;
wilayah wisata dan pelestarian alam;
terminal dan sub terminal;
perumahan dan rumah susun;
pelabuhan lokal dan regional.

Pihak yang terkait

Dokumen Persyaratan
Studi Kelayakan Kegiatan yang telah dinilai oleh penilai
(Appraisal);
Kerangka Acuan Kegiatan (KAK);
Perda APBD tahun yang bersangkutan dan 3 tahun
sebelumnya;
Perhitungan tentang kemampuan keuangan daerah
dalam memenuhi kewajiban
pembayaran kembali obligasi daerah/ proyeksi Debt
Service Coverage Ratio
(DSCR)
Surat persetujuan prinsip DPRD.

penerbitan Obligasi Daerah dilakukan


melalui penetapan Peraturan Daerah
Diperlukan untuk mengatur:
ketentuan mengenai jumlah Obligasi Daerah
nilai nominal Obligasi Daerah
penggunaan dana Obligasi Daerah

Penerbitan OBLIGASI DAERAH

Penata-keuangan pasca penawaran

Terima kasih