Anda di halaman 1dari 57

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................. i
BAB 1 PENDAHULUAN.............................................................................................. 1
A.

Latar belakang....................................................................................... 1

B.

Rumusan Masalah..................................................................................... 1

C.

Tujuan...................................................................................................... 2

1.

Tujuan Umum.......................................................................................... 2

2.

Tujuan Khusus...................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN TEORI....................................................................................... 3


A.

DEFINISI LUKA BAKAR.............................................................................. 3

B.

PENYEBAB LUKA BAKAR.............................................................................. 3

C.

PATOFISIOLOGI......................................................................................... 6

D.

FATHWAY................................................................................................... 10

E.

TANDA DAN GEJALA.................................................................................. 12

F.

PEMERIKSAAN PENUNJANG........................................................................17

G.

KOMPLIKASI............................................................................................. 19

H.

PENANGANAN............................................................................................. 20

I.

ASUHAN KEPERAWATAN LUKA BAKAR........................................................29

BAB III PENUTUP................................................................................................ 58


A.

Kesimpulan............................................................................................. 58

B.

Saran...................................................................................................... 58

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 59

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Luka
para

bakar

dokter.

merupakan
Luka

bakar

cedera
berat

yang

cukup

menyebabkan

sering

dihadapi

morbiditas

dan

derajat cacat yang relatif tinggi dibandinqkan dengan cedera


oleh sebab lain. Biaya yang dibutuhkan untuk penanganannya Pun
tinggi.
Di Amerika Serikat, kurang lebih 250.000 orang mengalami
luka-

bakar

penderita
sekitar

setiap

luka
210

tahunnya.

bakar

Dari

membutuhkan

penderita

luka

angka

tersebut,

tindakan

bakar

112.000

emergensi,

meninggal

dan

dunia.

Di

Indonesia, belum ada angka pasti mengenai luka hakar, tetapi


dengan bertambahnya jumlah penduduk serta industri, angka luka
bakar tersebut makin meningkat.
Luka bakar menyebabkan hilangnya integritas kulit dan juga
menimbulkan

efek

sistemik

biasanya

dinyatakan

kedalaman

luka

bakar.

yang

dengan

sangat

derajat

Beratnya

luka

kompleks.
yang

Luka

bakar

ditentukan

oleh

bergantung

pada

dalam,

luas, dan letak luka. Selain beratnya luka bakar, umur dan
keadaan kesehatan penderita sebelumnya merupakan faktor yang
sangat mempengaruhi prognosis.
B. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.

Untuk
Untuk
Untuk
Untuk

mengetahui
mengetahui
mengetahui
mengetahui

pengertian Luka bakar?


etiologi Luka bakar?
tanda dan Luka bakar?
patofisiologi dan fathway Luka bakar?
1

5. Untuk mengetahu asuhan keperawatan Luka bakar?


C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk
mendukung

kegiatan

khususnya

pada

belajar-mengajar

mata

kuliah

jurusan

keperawatan

keperawatan

Advance

nursing

practice.
2. Tujuan Khusus
Tujuan

khusus

mahasiswa

penulis

mengetahui

dalam

menyusun

Pengertian,

makalah

etiologi,

ini

agar

tanda

dan

gejala, patofisiologi dan fathway, dan asuhan keperawatan


luka bakar

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. DEFINISI LUKA BAKAR
Luka bakar adalah trauma pada kulit yang disebabkan oleh
panas atau suhu tinggi.
2

Luka bakar merupakan luka yang unik diantara bentuk-bentuk


luka

lainnya

karena

luka

tersebut

meliputi

sejumlah

besar

jaringan mati (eskar) yang tetap berada pada tempatnya pada


jangka waktu yang lama. Dengan cepat luka bakar akan didiami
oleh bakteri pathogen; mengalami eksudasi dengan perembesan
sejumlah besar air, protein, serta elektrolit; dan sering kali
memerlukan

pencangkokan

kulit

dari

bagian

tubuh

yang

lain

untuk menghasilkan penutupan luka yang permanen.


B. PENYEBAB LUKA BAKAR
Berbagai

faktor

dapat

menjadi

penyebab

luka

bakar.

Beratnya luka bakar juga dipengaruhi oleh cara dan lamanya


kontak dengan sumber panas (misal suhu benda yang membakar,
jenis pakaian yang terbakar, sumber panas: api, air panas dan
minyak panas), listrik, zat kimia, radiasi, kondisi ruangan
saat terjadi kebakaran dan ruangan yang tertutup. Luka bakar
dikategorikan menurut mekanisme injurinya meliputi :
1. Luka bakar suhu tinggi (Thermal Burn)
Luka

bakar

thermal

(panas)

disebabkan

oleh

karena

terpapar atau kontak dengan api, cairan panas atau objekobjek panas lainnya. ( gas, cairan, bahan padat/solid )
Luasnya
(suhu)

cedera
dan

adalah

durasi

akibat

dari

intensitas

panas

pemajanan.

2. Luka bakar listrik


Luka
yang

bakar

electric

digerakan

melalui

tubuh.

lamanya

kontak,

(listrik)

dari

energi

Berat

ringannya

tingginya

disebabkan

listrik

yang

luka

voltage

dan

oleh

dihantarkan

dipengaruhi
cara

panas

oleh

gelombang
3

elektrik

itu

sampai

diklasifikasikan

mengenai

berdasarkan

tubuh.Cedera

tipe

dan

listrik

kekuatan

arus

listriknya. Tipe arus, antara lain arus bolak-balik (AC)


yang dtemukan dirumah tangga (voltase 110 atau 220) dan
arus

searah

bedah

(DC)

elektro.

kontraksi

ditemukan

Kontak

otot,

melepaskan

yang

yang

sumber

dengan

diaki

AC

menyebabkan

listrik

mobil

cenderung
korban

tersebut.

dan

alat

menyebbkn

sulit

Kontak

untuk

dengan

DC

cenderung menyebabkan kontraksi otot tunggal yang keras.


Kontak dengan AC cenderung lebih berbahaya daripada kontak
dengan

DC.

Kekuatan

arus

dibagi

menjadi

dua

kategori.

Voltase tinggi, 1000 volt atau lebih, dan voltse rendah


dibawah

1000

volt.

Voltase

tinggi

biasanya

menyebabkan

lebih banyak destruksi jaringan.


3. Luka bakar kimiawi
Luka

bakar

kimiawi

terjadi

ketika

substansi

kimia

beraksi dengan kulit, menyebabkan reaksi kimia. Beberapa


absorbasi

dapat

terjadi

dan

dapat

menyebabkan

reaksi

sismatik. Hasilnya dapat dikaitkan dengan empat hal: tipe


kimiawi

(asam,

alkali,

atau

subtansi

organik),

lama

pemajanan, konsentrasi zat, dan jumlah zat. Reaksi kimia


dan cedera dihilangkan dari kulit. Semakin dini tindakan,
semakin sedikit kerusakannya. Luka bakar asam menyebabkan
nekrosis koagulasi dan pengendapan protein yang membatasi
luasnya kerusakan jaringan. Luka bakar alkali menyebabkan
kerusakan lebih banyak dari pada luka bakar asam karna zat
ini

menyebabkan

denaturasi

nekrosis

protein,

dan

yang

mencair

menghilangkan

pada

jaringan,

lapisan

jaringan,
4

yang

memungkinkan

semakin

parah.

penyebaran

Subtansi

luas

organik

akibatnya

luka

menyebabkan

bakar

kerusakan

kutaneus dan dapat di absorpsi, yang menyebabkan kerusakan


hati

dan

ginjal.

15

zat

kimia

tertentu

seperti

asam

hidrofluorat dapat menembus ke jaringa subkutan dan dapat


menyebabkan

kerusakan

selama

beberapa

hari

setelah

pemajanan.
4. Luka Bakar Radiasi (Radiasi Injury)
Luka

bakar

radiasi

disebabkan

oleh

terpapar

dengan

sumber radioaktif. Tipe injuri ini seringkali berhubungan


dengan

penggunaan

sumber

radiasi

radiasi

untuk

ion

pada

keperluan

industri

terapeutik

atau
pada

dari
dunia

kedokteran. Terbakar oleh sinar matahari akibat terpapar


yang

terlalu

lama

juga

merupakan

salah

satu

tipe

luka

bakar radiasi.
Penyebab
langsung

luka

yang

bakar

dapat

yang

dipicu

tersering
atau

adalah

diperparah

terbakar
dengan

api

adanya

cairan yang mudah terbakar seperti bensin, gas kompor rumah


tangga, cairan dari tabung pemantik api, yang akan menyebabkan
luka bakar pada seluruh atau sebagian tebal kulit. Pada anak,
kurang lebih 60% luka bakar disebabkan oleh air panas yang
teriadi pada kecelakaan rumah tangga, dan umumnya merupakan
luka

bakar

superfisial,

tetapi

dapat

juga

mengenai

seluruh

ketebalan kulit (derajat tiga).


Penyebab

luka

bakar

lainnya

adalah

pajanan

suhu

tinggi

dari matahari, listrik, maupun bahan kimia. Bahan kimia ini


bisa

berupa

asam

atau

basa

kuat.

Asam

nekrosis koagulasi, denaturasi protein, dan

kuat

menyebabkan

rasa nyeri yang


5

hebat. Asam hidroklorida mampu menenebus jaringan sampai ke


dalam dan menyebabkan toksisitas sistemik yang fatal, bahkan
pada luka yang kecil sekalipun. Alkali atau basa kuat yang
banyak terdapat dalam rumah tangga antara lain cairan pemutih
pakaian

(bleaching),

berbagai

cairan

pembersih,

dll.

Luka

bakar yang disebabkan oleh basa kuat akan menyebabkan jaringan


mengalami
Kemampuan
daripada
mengalami

nekrosis
alkali
asam,

yang

menembus
kerusakan

dehidrasi

dan

mencair
jaringan

(liquefactive

necrosis).

lebih

dalam

lebih

kuat

jaringan

lebih

berat

karena

sel

terjadi

denaturasi

protein

dan

kolagen. Rasa sakit baru timbul belakangan sehingga penderita


sering terlambat datang untuk berobat dan kerusakan jaringan
sudah meluas.
C. PATOFISIOLOGI
Kulit adalah organ terluar tubuh manusia dengan luas 0,025
m2 pada anak baru lahir sampai 1 m2 pada orang dewasa. Apabila
kulit terbakar atau terpajan suhu tinggi, pembuluh kapiler di
bawahnya, area sekitarnya dan Area yang jauh sekali pun akan
rusak den menyebabkan permeabilitasnya meningkat. Terjadilah
kebocoran cairan intrakapilar ke inrerstisial sehingga terjadi
ude dan bula yang mengandung banyak elektrolit. Rusaknya Kulit
akibat luka bakar akan mengakibatkan hilangnya fungsi kulit
sebagai barier dan penahan penguapan.
Kedua

penyebab

berkurangnya

cairan

di

atas

dengan

intravaskular.

Pada

cepat
luka

menyebabkan
bakar

yang

luasnya kurang dari 20%,mekanisme kompensasi tubuh masih bisa


mengatasinya. Bila kulit yang terbakar luas (lebih dari 20%).
Dapat

terjedi

syok

hipovolemik

disertai

gejala

yang

khas,
6

seperti gelisah, pucat. Dinqin, berkeringat, nadi kecil dan


cepat,

tekanan

Pembengkakan

darah

menurun,

terjadi

dan

Perlahan,

produksi

maksimal

urin

berkuranq.

terjadi

setelah

delapan jam.
Pembuluh

kapiler

yang

terpajan

suhu

tinggi

rusak

dan

permeabilitas meninggi. Sel darah yang ada di dalamnya ikut


rusak sehingga dapat terjadi anemia.
Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi
di wajah, dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena
gas, asap, atau uap panas yang terhirup.

Udem laring yang

ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan napas dengan


gejala sesak napas, takipnea, stridor, suara parau, dan dahak
berwarna gelap akibat jelaga.
Dapat

juga

terjadi

keracunan

gas

co

atau

gas

beracun

lainnya. Karbonmonoksida sangat kuat terikat dengan hemoglobin


sehingga hemoglobin tidak mampu lagi mengikat oksigen tanda
keracunan

ringan

yaitu

lemas,

bingung,

pusing

mual,

dan

muntah, pada keracunan yang berat terjadi koma. Bila lebih 60%
hemoglobin terikat co, penderita dapat meninggal.
Setelah 12-24 jam permeabilitas kapiler mulai membaik dan
terjadi mobilisasi serta penyerapan kembali cairan dari ruang
interstisial

ke

pembuluh

darah

yang

ditandai

dengan

meningkatnya diuresis.
Luka bakar umumnya tidak steril. Kontaminasi pada kulit
mati yang merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan kuman,
akan

mempermudah

infeksi.

Infeksi

ini

sulit

diatasi

karena

daerahnya tidak tercapai oleh pembuluh kapiler yang mengalami


tromosis. Padahal pembuluh ini membawa system pertahanan tubuh
7

atau

antibiotic.

selain

berasal

kontaminsasi

Kuman
dari

kuman

penyebab

kulit

infeksi

penderita

saluran

napas

pada

luka

sendiri,

atas

dan

dan

bakar,

juga

dari

kontaminsai

kuman di lingkungan rumah sakit. Infeksi nosokomial biasanya


sangat berbahaya karena kumannya banyak yang sudah resisten
terhadap berbagai antibiotik.
Pada awalnya, infeksi biasanya disebabkan oleh kaukus gan
positif
nafas,

yang

berasal

tetapi

negatif.

dari

kemudian

Pseudomonas

kulit

dapat

sendiri
terjadi

aeruginosa

atau

dari

invasi

yang

dapat

saluran

kuman

gram

menghasilkan

eksotoksin protese dan toksin lain yang berbahaya, terkenal


sangat

agresif

dalam

invasinya

pada

luka

bakar.

Infeksi

pseudomonas dapat dilihat dari warna hijau pada kasa penutup


luka bakar. Kuman memproduksi enzim penghancur keropeng yang
bersama

dengan

eksudasi

oleh

jaringan

granulasi

membentuk

nanah.
Infeksi ringan dan noninvasif(tidak dalam) ditandai dengan
keropeng yang mudah lepas dengan nanah yang banyak. Infeksi
yang

invasi

perubahan

ditandai

jaringan

dengan

di

tepi

keropeng
keropeng

yang
yang

kering

dengan

mula-mula

sehat

menjadi nekrotik; akibatnya, luka bakar yang mula-mula derajat


dua menjadi derajat tiga, infeksi kuman menimbulkan vaskulitis
pada

pembuluh

kapiler

di

jaringan

yang

terbakar

dan

menimbulkan trombosis.
Bila penderita dapat mengatasi infeksi, luka bakar derajat
dua

dapat

Penyembuhan

sembuh
ini

dengan

dimulai

meninggalkan
dai

sisa

cacat

elemen

berupa

epitel

yang

parut.
masih

vital, misalnya dek kelenjar sebasea, sel asal, sel kelenjar


8

keringat, atau sel pangkal rambut. Luka bakar derajat dua yang
dalam mungkin meninggalakan parut hipertrofi yang nyeri gatal,
gatal, dan secara estetik sangat jelek.
Luka bakar derajat tiga yang dibiarkan sembuh sendiri akan
mengalami kontraktur. Bila ini terjadi di persendian, fungsi
sendi dapat berkurang atau hilang.
Pada luka bakar berat dapat di temukan ileus paralitik.
Pada fase akut, peristalsis usus menurun atau berhenti karena
syok.

Juga

peristaltik

dapat

menurun

karena

kekurangan

ion

kalium.
Stres atau beban faal serta hipoperfusi daerah splanghikus
pada penderita luka bakar berat dapat menyebabkan terjadinya
tukak di mukosa lambung atau duodenum dengan gejala yang sama
dengan gejala tuak petik. Kelainan ini dikenal dengan sebagai
tuak

curling

ini

adalah

penyulit

perdarahan

yang

tampil

sebagai hematemesis dan atau melena.


Fase

permulaan

luka

bakar

merupakan

fase

katabolisme

sehingga keseimbangan protein menjadi negatif. Protein tubuh


banyak hilang karena eksudasi, metabolisme tinggi, dan mudah
terjadi infeksi. Penguapan berlebihan dari kulit yang rusak
juga

mengeluarkan

kalori

tambahan.

Tenaga

yang

diperlukan

tubuh pada fase ini terutama di dapat dari pembakaran protein


dari otot skelet. Oleh karena itu, penderita menjadi sangat
kurus,

otot

mengecil,

dan

berat

badan

menurun.

Kecacatan

akibat luka bakar bisa sangat hebat, terutama bis mengenai


wajah. Penderita mungkin mengalami beban kejiwaan berat akibat
cat

tersebut,

sampai

bisa

menimbulkan

gangguan

jiwa

yang

disebut schizoprenia postburn.


9

D. FATHWAY
2Thermal

Radiasi

Chemical

Electrical

Voltase
Tinggi >
1000 Watt

Koagulasi
sel
Denaturasi
protein/ ionisasi
sel
Destruksi
Jaringan
Saluran
3 Keracunan
gas CO
4 Kerusakan
mukosa
5 saluran
napas
Oedema
laring
Obstruksi
6 jalan napas
Inflamasi
jalan napas
Pengeluaran
secret
7Penumpukan
secret
Bersihan jalan
napas tidak

Masuk
jantung

Lisis Sel

Kerusakanpertukara
n gas
Konsentrasi
CO dalam Hb
meningkat
Hb tidak
dapat
mengikat

Kelemaha
n fisik

Intoleransi
Aktivitas
Hipotermi

Afterload
Kehilangan
barrier kulit

Proses
inflamasi
(Respon

Hipoksia

Nekrosis
Jantung

Jaringan kulit
terbuka

Pembuluh
darah
terbuka

Suplai O2 ke
jaringan

Gangguan
perfusi
jaringan

Kulit

Kerusakan
Integritas
Kulit

Resiko
Respon
sistemik

Respo
n pada
Hipotal
amus

Gangguan
Termoregula
si

Metabolisme
Respon stress
Penurunan
Penurunan
aliran
Hormon
Gastrointestinal
Kekurangan
massif, aktivitas
Peristaltik
darah ke
Usus
Penurunan
Curah
Hipovolemia
Syok luka bakar
Kortikoadrenal
menurun
Konstipasi
Vasokontriksi
Volume
Cairan
system
sarafSaluran Gastrointestinal
Jantung
pelepasan Saluran

Peningkatan
respon nyeri

Gangguan
rasa
nyaman

Jaringan
saraf
terbuka

Penguata
n
meningk

Vasodilatasi
pembuluh darah
kapiler

Ekstravasi/perpindah
an natrium, H2O,
dan protein dari
ruang intravaskuler
ke ruang intersisial 10

Tekanan onkotik
turun
hipovelemia

Kekurangan volume
cairan

Penurunan aliran
darah ke
gastrointestinal
Metabolisme
gastrointestinal
menurun
Penurunan
peristaltik
usus

Syok luka
bakar

Respons stres masif,


aktivitas System saraf
simpatis

Hormon kortikoadrenal
pelepasan
ketokolaminan
Vasokontriksi perifer

Penurunan curah
jantung

konstipasi

11

E. TANDA DAN GEJALA


1. Kedalaman Luka Bakar
Kedalaman luka bakar ditentukan oleh tingginya suhu dan
lamanya

pajanan

suhu

tinggi.

Selain

api

yang

langsung

menjilat tuhuh, baju yang ikut terbakar juga memperdalam


luka bakar. Bahan baju yang paling aman adalah yang terbuat
dari

bulu

domba

(wol).Bahan

sintetis,

seperti

nilon

dan

dakron, selain mudah terbakar juga mudah lumer oleh suhu


tinggi, lalu menjadi lengket sehingga memperberat kedalaman
luka bakar.
Luka bakar derajat 1 dinamakan superficial burn atau
luka bakar permukaan.Luka bakar ini tidak terlalu serius dan
hanya

mengenai

lapisan

kulit

bagian

atas,

tetapi

sering

disertai pembentukan vesikel atau gelembung berisi cairan .


Luka

bakar

derajat

satu

hanya

mengenai

epidermis

dan

biasanya sembuh dalam 5-7 hari; misalnya tersengat matahari.


Luka tampak sebagai eritema dengah keluhan rasa nyeri atau
hipersensitivitas setempat.
Luka bakar derajat 2 dinamakan partial thickness burn
atau luka bakar parsial. Luka bakar derajat dua mencapai
kedalaman dermis, tetapi masih ada elemen epitel sehat yang
tersisa. Elemen epitel tersebut, misalnya sel epitel basal,
kelenjar

sebasea,

kelenjar

keringat,

dan

pangkal

rambut.

Dengan adanya sisa sel epitel ini, luka dapat sembuh sendiri
dalam dua sampai tiga minggu. Gejala yang timbul adalah
nyeri,

gelembung,

atau

bula

berisi

cairan

eksudat

yang

12

keluar

dari

pembuluh

karena

permeabilitas

dindingnya

meningkat.
Luka bakar derajat 3 dinamakan full thickness burn.
Luka bakar ini mengenai seluruh ketebalan kulit. Struktur di
bawah

kulitpun

sering

mengalami

kerusakan.

Sekalipun

demikian kulit tidak lenyap, musnah, atau hilang atau hilang


tetapi

rusak.

Luka

bakar

derajat

tiga

meliputi

seluruh

kedalaman kulit dan mungkin subkutis, atau organ yang lebih


dalam.

Tidak

ada

lagi

elemen

epitel

hidup

tersisa

yang

memungkinkan penyembuhan dari dasar luka biasanya diikuti


dengan terbentuknya eskar yang merupakan jaringan nekrosis
akibat denaturasi protein jaringan kulit. Oleh karena itu,
untuk mendapatkan kesembuhan harus dilakukan skin grafting.
Kulit

tampak

pucat

abu-abu

gelap

atau

hitam,

dengan

permukaan lebih rendah dari jaringan sekeliling yang masih


sehat. Tidak ada bula dan tidak terasa nyeri.
Orang

yang

mengalami

luka

bakar

derajat

terlihat

hitam, seperti arang,dan nekrotik,Derajat empat yaitu luka


bakar yang merusak tulang, otot, dan jaringan dalam, serta
luka bakar akibat sengatan arus listrik yang menyebabkan
robeknya
kombinasi

jaringan.
dari

Sebagian

ketiga

besar

derajat

luka
di

bakar

merupakan

atas.Pada

bagian

pinggir,sering terjadi luka bakar superficial,sedangkan pada


pusatnya,pada tempat terjadinya kontak,timbul parsial atau
full thickness burn.

13

2.Luas Luka Bakar


Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9
yang

terkenal

dengan

nama

rule

of

nine atau rule

of

wallace yaitu:

Bagian tubuh

1 th

5 th

Dewasa

Kepala leher

18%

14%

9%

Ekstrimitas atas (kanan dan

18%

18%

18 %

Badan depan

18%

18%

18%

Badan belakang

18%

18%

18%

Ektrimitas bawah (kanan dan

32%

32%

36%

1%

1%

1%

kiri)

kiri)
Genetalia
3.Beratnya Luka Bakar
Dalam menentukan berat luka bakar adalah berdasarkan
pada luas ukuran dan kedalaman. Ada terdapat tiga kategori
dalam menentukan berat luka bakar; mayor, modrat, minor.
14

a. Luka bakar mayor


Terdapat satu atau lebih kriteria :
1) Luka bakar derajat III lebih dari 10% luas permukaan
tubuh
2) Luka bakar derajat dua lebih dari 25% luas permukaan
tubuh pada orang dewasa dan lebih dari 20% pada anak
anak.
3) Luka

bakar

terdapat

pada

tangan,

muka,

kaki,

atau

genetalia.
4) Luka bakar dengan komplikasi fraktur, atau gangguan
pernapasan.
5) Luka bakar elektrik.

b. Luka bakar Moderat


1) Luka bakar 2% sampai 10% luas permukaan tubuh.
2) Luka bakar derajat II 15% sampai 25% luas permukaan
tubuh pada orang dewasa dan lebih dari 10% samapi 20%
pada anak.

c. Luka bakar minor


1) Luka bakar derajat III kurang dari 2% luas permukaan
tubuh.
2) Luka bakar derajat II kurang dari 15% luas permukaan
tubuh pada orang dewasa dan lebih dari 10% pada anak.
3) Dalam

melakukan

pengkajian

yang

pertimbangan secara khusus adalah

harus

menjadi

lokasi luka bakar :

muka, tangan, kaki, dan genetalia karena kemungkinan


hilangnya fungsi.

15

Luka

bakar

ditentukan

biasanya

oleh

dinyatakan

kedalaman

luka

dengan

bakar.

derajat

Walaupun

yang

demikian,

beratnya luka bergantung pada dalam, luas, dan letak luka


Umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya akan sangat
memengaruhi prognosis.
Selain

dalam

dan

luasnya

luka

bakar,

prognosis

dan

penanganan ditentukan oleh letak luka, usia, dan keadaan


kesehatan

penderita.

Perawatan

daerah

perineum,

ketiak,

leher, dan tangan sulit, antara lain karena mudah mengalami


kontraktur. Bayi dan orang usia lanjut daya kompensasinya
lebih

rendah,

maka

bila

terbakar

digolongkan

ke

dalam

golongan berat.
4. FASE LUKA BAKAR
a. Fase akut.
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase
awal

penderita

(jalan

akan

nafas),

circulation

mengalami

brething

(sirkulasi).

ancaman

(mekanisme
Gnagguan

gangguan

airway

bernafas),

airway

tidak

dan
hanya

dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar,


namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan
akibat

cedera

inhalasi

dalam

48-72

jam

pasca

trauma.

Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat


pada fase akut.
Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak
sistemik.

16

b. Fase sub akut.


Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang
terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat
kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan:
1) Proses inflamasi dan infeksi.
2) Problempenuutpan luka dengan titik perhatian pada luka
telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada
struktur atau organ organ fungsional.
3) Keadaan hipermetabolisme.
c. Fase lanjut.
Fase

lanjut

akan

berlangsung

hingga

terjadinya

maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organorgan

fungsional.

Problem

yang

muncul

pada

fase

ini

adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, kleoid,


gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan

yang

dapat

dilakukan

untuk

menunjang

diagnose

hemokonsentrasi

sehubung

adalah:
1. Hitung darah lengkap
Peningkatan
dengan

MHT

awal

perpindahan

menurunnya

Hb

dan

menunjukan
atau

Ht

kehilngan

dapat

cairan.

terjadi

Selanjutnya

sehubungan

dengan

kerusakan oleh panas terhadap endothelium pembuluh darah.


2. Sel darah putih
Leukosit dapat terjadi sehubungan dengan kehilangan sel pada
sisi luka dan respon inflamasi terhadap cidera.
17

3. GDA
Dasar penting untuk kecurigaan cidera inhalasi.
4. CO Hbg
Peningkatan lebih dari 15 % mengindikasikan keracunan CO
cidera inhalasi.
5. Elektrolit serum:
Kalium dapat meningkat pada awal sehubungan dengan cidera
jaringan/kerusakan SDm dan penurunan fungsi ginjal.
6. Natrium urine random
Lebih

besar

resusitasi

dari

cairan,

20

MEqL

kurang

dari

mengindikasikan
10

MEq/L

kelebihan

menduga

ketidak

adekuatan resusitasi cairan.


7. Glukosa serum
Rasio albumin/globulin mungkin terbalik sehubungan dengan
kehilangan protein pada edema cairan.
8. Albumin serum
Peningkatan glukosa serum menunjukan respon stress.
9. BUN kreatinin
Peningkatan BUN menujukan penuruna fungsi- fungai ginjal.
10.

Urine

Adanya

albumin,

Hb

dan

mioglobulin

menunjukan

kerusakan

jaringan dalam dan kehilangan protein.


11.

Foto roentgen dada

Dapat tampak normal pada pansca luka bakar dini meskipun


dengan

cidera

inhalasi,

namun

cidera

inhalasi

yang

sesungguhnya akan ada pada saat progresif tanpa foto dada.


18

12.

Bronkopi serat optic

Berguna dalam diagnosa luas cidera inhalasi, hasil dapat


meliputi

edema,

perdarahan

dan/

tukak

pada

saluran

pernafasan atas
13.

Loop aliran volume

Memberikan pengkajian non invasive terhadap efek / luasnya


cidera inhalasi
14.

Scan paru

Mungkin dilakukan untuk menentukan luasnya xidera inhalasi


15.

EKG

Tanda iskemia miokardiak disritmia dapat terjadi pada luka


bakar listrik
16. Foto grafi luka bakar
Memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar selanjutnya
G. KOMPLIKASI
1. Infeksi
Infeksi

merupakan

masalah

utama.

Bila

infeksi

berat,

maka penderita dapat mengalami sepsis. Berikan antibiotika


berspektrum

luas,

Kortikosteroid
imunosupresif

bila

perlu

jangan
(menekan

dalam

diberikan
daya

tahan),

bentuk

kombinasi.

karena

bersifat

kecuali

pada

keadaan

tertentu, misalnya pda edema larings berat demi kepentingan


penyelamatan jiwa penderita.
2. Curlings ulcer (ulkus Curling)

19

Ini merupakan komplikasi serius, biasanya muncul pada


hari ke 510. Terjadi ulkus pada duodenum atau lambung,
kadang-kadang dijumpai hematemesis. Antasida harus diberikan
secara rutin pada penderita luka bakar sedang hingga berat.
Pada endoskopi 75% penderita luka bakar menunjukkan ulkus di
duodenum.
3. Gangguan Jalan nafas
Paling

dini

muncul

dibandingkan

komplikasi

lainnya,

muncul pada hari pertama. Terjadi karena inhalasi, aspirasi,


edema paru dan infeksi. Penanganan dengan jalan membersihkan
jalan

nafas,

memberikan

oksigen,

trakeostomi,

pemberian

kortikosteroid dosis tinggi dan antibiotika.


4. Konvulsi
Komplikasi
konvulsi.
elektrolit,

Hal

yang

sering

ini

hipoksia,

terjadi

disebabkan
infeksi,

pada
oleh

anak-anak

adalah

ketidakseimbangan

obat-obatan

(penisilin,

aminofilin, difenhidramin) dan 33% oleh sebab yang tak di


ketahui.
5. Kontraktur
Merupakan gangguan fungsi pergerakan.
6. Ganguan Kosmetik akibat jaringan parut
H. PENANGANAN
Tiga hal yang sangat penting pada penanganan luka bakar, yaitu:
1. Burn Shock
Timbul dalam 48 jam: merupakan suatu jenis yang berbeda
dari shock hemorhagik/ neurologik. Pengertian burn shock

20

sendiri sebenarnya masih kabur dan belum pasti, aspek-aspek


penting dalam burn shock:
a. Hipokalemia
b. Kekurangan elektrolit dan protein
c. Nyeri
2. Infeksi
Dalam fase kedua ini ada bahaya-bahaya berupa:
a. Bila proses supuratif berlangsung untuk beberapa waktu
lamanya, ditakuti terjadi amiloidosis.
b. Osteoforosis karena alat-alat tidak dipakai.
c. Stase

urin

yang

dapat

menimbulkan

batu-batu

dalam

traktus urinarius. Dekat akhir fase burn shock dapat


timbul curlings ulcers (lambung, duodenum, dan jejenum)
3. Rehabilitasi
Seringkali

luka

kadang-kadang

hebat

bakar

meninggalkan

sekali,

sehingga

kontraktur
penting

yang
sekali

tindakan rehabilitasi. Bertujuan untuk mengembalikan bentuk


dan

fungsi.

Luka

bakar

yang

perlu

rehabilitasi

terutama

luka bakar yang terdapat di daerah persendian.


a. Dilakukan

seawal

mungkin

untuk

mencegah

timbulnya

kontraktur
b. Terapi posisi
Prinsip Terapi pada luka bakar
1. Menghentikan sumber pejanan panas
a. Membuka baju
b. Menutupi bagian yang terbakar
2. Rawat luka
a. Mendinginkan dan membersihak luka pada satu jam pertama
21

b. Menyirami luka dengan air mengalir selama minimal 15


menit
c. Pemberian antiseptik dan antibiotik topikal
d. Antiseptik

biasanya

digunakan

betadine

atau

nitras-

argenti 0,5% setiap 2 jam


e. Antibiotik

topikal

bentuk

yang

digunakan

biasanya

berbentuk larutan, salep atau krim (Zilfer Sulfadizin


1%) dioleskan tanpa pembalut dan dapat dibersihkan dan
diganti tiap hari
3. Menentukan luas dan dalamnya luka bakar
Berdasarkan luas dan dalamnya luka bakar maka dilanjutkan
dengan pemberian terapi cairannya.
Pemberian Terapi Cairan
Menurut

Karakata,

dan

Bachsinar,

B.,1996,

cara

pemberian

cairan pada luka bakar sebagai berikut:


1.

Formula EVANS
Dalam 24 jam I. Berikan :
NaCl 0.9%

: 1 x BB x % luka bakar.

Koloid
: 1 x BB x % luka bakar.
Dalam 8 jam pertama, jumlah cairan yang diberikan sebesar
setengah

dari

kebutuhan

total.

Dalam

16

jam

kedua,

diberikan sisa kebutuhan total.


Dalam 24 jam II. Berikan :
NaCl 0.9%

: 1 x BB x % luka bakar.

Koloid

: 1 x BB x % luka bakar.

Cairan diberikan dalam tetes merata. Cara menghitung tetes,


dipakai rumus :

g
=

P
Qx3

22

Keterangan

: g

= jumlah tetes per menit

= jumlah cairan dalam cc

= jam yang diperkirakan

BB = berat badan penderita (dalam kg).


IWL = (Insensible water lost) adalah kehilangan setiap
hari yang tidak kita sadari. Kehilangan air dengan cara
ini berlangsung lewat keringat dan pernapasan. Rata-rata
IWL pada orang dewasa 2000 cc/hari. Pada pemberian cairan
yang tepat, akan dicapai produksi urin 50 cc/jam.
Pada anak-anak, pemberian Dekstrosa 5% sebagai pengganti
IWL berdasarkan berat badannya. Untuk berat badan <10 kg
penggantian IWL sebesar 100 ml/kgBB, berat badan 10-20
kg: 50 ml/kgBB, dan berat badan >20 kg: 25 ml/kgBB
2. Formula BROOKE
Dalam 24 jam I. Berikan :
Koloid

: 0,5 x BB x % luka bakar.

Ringer laktat
: 1,5 x BB x % luka bakar.
24 am II. Berikan :
24 jam II Berikan:
Koloid

: 0,25 x BB x % luka bakar.

Ringer laktat

: 0,75 x BB x % luka bakar.

3. Formula BAXTER (1971)


Paling banyak saat ini, praktis dan mudah. Pada cara ini
hanya diberikan cairan Ringer laktat.
Dalam 24 jam I. Berikan :
Ringer laktat

: 4 x BB x % luka bakar.
23

Setengah dari jumlah kebutuhan cairan total diberikan dalam


8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya.
Dalam 24 jam II. Berikan :
Ringer laktat

: 4 x BB x % luka bakar.

Kebutuhan total cairan pada hari kedua sama dengan hari


pertama, hanya cara pemberiannya berbeda. Pada hari kedua
cairan diberikan sedemikian rupa, sehingga produksi urin
sekitar 50-100 ml/jam.
Jumlah cairan dan elektrolit yang diberikan dalam 48 jam
pertama (24 jam I + 24 jam II) tidak banyak berbeda antara
formula satu dengan lainnya. Miliekivalen Natrium rata-rata
normal sekitar 0,5-0,6 mEq/kgBB/%luka bakar.
Jumlah Produksi Urin Normal.
Penting

diketahui

sebagai

acuan

untuk

mengetahui

apakah

pengobatan cairan memadai atau tidak.


Produksi Urin Normal

Bayi

<

tahun)

Anak
tahun)

(>

Berat / usia
<3 kg

Produksi urin
8 10 ml/jam

4 5 kg (0-3 bulan)

10 15 ml/jam

4 7 kg (4-6 bulan)

15 20 ml/jam

8 9 ka (7-12 bulan)
1

5 tahun

20 25 ml/jam
20 25 ml/jam

25 30 ml/jam

10 tahun

11 12 tahun

30 40 ml/jam

13 15 tahun

40 50 ml/jam

> 15 tahun

50 100 ml/jam
24

Dewasa

> 50 ml/jam

Medika Mentosa Luka Bakar


1.

Hari Pertama
a. Pemberian Analgetik
Analgetik yang baik adalah dari jenis morfin
b. Pemberian ATS
Biasanya

diulangni

tetapi

jangan

lewat

setelah

12

hari karena dalam waktu 14 hari tubuh sudah membentuk


antibodi terhadap kuman tersebut, sehingga penyuntikan
ATS

dapat

menyebabkan

timbulnya

reaksi

serum.

Untuk

profilaksis diberikan dalam bentuk toksoid.


Untuk memperoleh kekebalan yang cukup, diberikan sebagai
berikut:
1) Mula-mula toksoid dan ATS
2) Sepuluh hari kemudian toksoid
3) Diulang lagi toksoid
c. Antasida
Diberikan untuk pencegahan timbulnya curlings ulcers
(lambung, duodenum dan jejenum) yang dapat timbul dekat
akhir fase burn shock.
d. Perawatan lukanya sendiri dapat dilakukan dengan 2 macam
cara yaitu
1) Cara dibalut (occlusive dresing). Kerugiannya yaitu
bila

terjadi

infeksi

pada

luka

diketahui

lambat/

tidak segera.

25

2) Cara terbuka
Luka

dibiarkan

terbuka

sehingga

terkena

udara

(exposed to air), untuk mencegah infeksi dibaringkan


pada tempat tidur yang baik dan bersih dan diberi
kelambu yang bersih juga. Bula yang utuh dibiarkan
tetapi

bulla

yang

sudah

pecah

dibuka

sama

sekali

karena lipatan kulit disudut bulla merupakan tempat


yang baik sekali baik kuman-kuman. Apabila luka-luka
kotor

maka

digosok

dibersihkan

keras-keras)

memberikan

rasa

yang

dengan

hati-hati

dan

bila

amat

sakit

(jangan

pembresihan
dilakukan

luka
dengan

narkose. Keuntungan cara terbuka dengan cara tertutup


adalah:
a) Luka tidak sembab (kering)
b) Tidak ada jaringan granulasi yang berlebihan
c) Bila infeksi segera terlihat
Kemungkinan infeksi memang lebih besar, karena itu
penting

sekali

perawatan

yang

bersih

dan

dijaga

darah

mulai

sampai timbul sepsis (Schwart, 2000)


2. Hari Kedua
a. Pemberian antibiotik sistemik
Pada

hari

membaik

dan

kedua

permeabilitas

terjadi

mobilitas

pembuluh
dan

penyerapan

cairan

edema ke pembuluh darah ini ditandai dengan meningkatnya


diuresis.
b. Evaluasi luka bakar

26

Diuresis, minimal 30 cc/ jam, kecuali untuk penderita


gagal

ginjal,

diabetes

melitus

dan

gagal

jantung

diuresis 15 cc/ jam sudah dianggap cukup


c. Fisioterapi
Fisioterapi

adalah

terapi

pergerakan-pergerakan

fisik

normal

yang

suatu

meliputi

ekstremitas,

fisioterapi terutama dilakukan bila luka bakar mengenai


daerah persendian, tujuan dari fisioterapi segera dan
aktif ini adalah untuk mencegah terjadinya kontraktur,
fisioterapi segera dan aktif ini adalah untuk mencegah
terjadinya
gerakan

kontraktur,

normal

permukannya
mungkin

yang

terkena

dan

fisioterapi
dilakukan

luka

maka

dilakukan

meliputi

oleh

persendian

dilaksanakan

secara

gerakanyang

semaksimal

bertahap

sehingga

morbiditas penderita dapat dikurangi.


d. Skin Grafting
Sesudah timbul jaringan granulasi pada luka-luka bakar
dilakukan
luas

dan

skin
tidak

grafting,
adanya

terutama

bila

pulau-pulau

luka

epitel

bakarnya
(sisanya

folikel rambut). Kadang-kadang dalam stadium awal sudah


dilakukan skin grafting, yaitu luka-luka bakar ditutupi
dengan kulit kemudian dibalut dengan maksud agar tidak
terjadi kehilangan cairan yang terlalu banyak melalui
luka-luka

bakar

dibiarkan

luka

tersebut.
dirawat

Tetapi

terbuka

lebih
dulu

dianjurkan,

baru

kemudian

dilihat apakah perlu dilakukan grafting.


e. Nutrisi
1.

Minuman
27

a) Segera setelah peristaltik normal


b) Sebanyak 25 ml/Kg/BB/ hari
c) Sampai diuresis minimal 30 ml/ jam
2. Makanan
a) Segera setelah dapat minum tanpa kesulitan
b) Sedapat mungkin 2.500 3.000 kalori/ hari
c) Sedapat

munkin

mengandung

100-150

grm

protein/

hari
f. Suplemen
1. Vitamin A, B dan D
2. Vitamin

C 500 mg

Menurut

teori,

mempercepat

kandungan

kesembuhan

luka

albumin

yang

operasi

dan

tinggi
luka

bisa

bakar.

Albumin juga berperan mengikat obat-obatan yang tidak


mudah larut, seperti aspirin, antikoagulan koumarin, dan
obat

tidur.

Selain

mengobati

luka

bakar

dan

luka

pascaoperasi, albumin bisa digunakan untuk menghindari


timbulnya
faktor

sembap

pembekuan

paru-paru
darah

dan

ginjal,

(Pamuji,

serta

dan

carrier

Hidayat,

R.,

2003).
Menurut
biokimia
yang

Eddy

difakultas

menemukan

kandungan

Suprayitno

ekstrak

selaku

perikanan,

kadar
ikan

albumin
gabus.

guru

besar

Universitas
cukup
Dengan

ilmu

Brawijaya

tinggi
meminum

dalam
ekstrak

ikan gabus, pasien hanya membutuhkan 24 kilogram ikan


gabus untuk menyembuhkan luka operasi atau luka bakar.
Malah, menurut Eddy, luka dapat sembuh tiga hari lebih
cepat ketimbang menggunakan serum albumin. Hal ini Eddy
28

terinspirasi dari orang-orang Cina yang mengobati luka


bakar dengan memakan ikan gabus (Pamuji, H dan Hidayat,
R., 2003).

I. ASUHAN KEPERAWATAN LUKA BAKAR.


1. PENGKAJIAN
a. Anamnesa
1) Identitas
2) Identitas klien
a) Nama

b) Umur

Umur seseorang tidak hanya mempengaruhi hebatnya


luka bakar akan tetapi anak dibawah umur 2 tahun
dan

dewasa

diatsa

80

tahun

memiliki

penilaian

tinggi terhadap jumlah kematian.

b. Keluhan utama
Keluhan utama yang dirasakan oleh klien luka bakar adalah
nyeri, sesak nafas. Nyeri dapat disebabkan karena iritasi
terhadap saraf. Dalam melakukan pengkajian nyeri harus

29

diperhatikan paliatif, severe, time, quality (p,q,r,s,t).


sesak nafas yang timbul beberapa jam / hari setelah klien
mengalami

luka

bakardan

disebabkan

karena

pelebaran

pembuluh darah sehingga timbul penyumbatan saluran nafas


bagian

atas,

bila

edema

paru

berakibat

sampai

pada

penurunan ekspansi paru.

c. Riwayat Kesehatan
2) Riwayat penyakit sekarang
Gambaran keadaan klien mulai tarjadinya luka bakar,
penyabeb
dilakuakn

lamanya
serta

kontak,

pertolongan

keluhan

klien

pertama

selama

yang

menjalan

perawatan ketika dilakukan pengkajian. Apabila dirawat


meliputi

beberapa

fase

fase

emergency

(48

jam

pertama terjadi perubahan pola bak), fase akut (48 jam


pertama beberapa hari / bulan ), fase rehabilitatif
(menjelang klien pulang).
3) Riwayat penyakit masa lalu
Merupakan
diderita

riwayat
oleh

klien

penyakit
sebelum

yang

mungkin

mengalami

luka

pernah
bakar.

Resiko kematian akan meningkat jika klien mempunyai


riwayat penyakit kardiovaskuler, paru, DM, neurologis,
atau penyalagunaan obat dan alkohol.
4) Riwayat penyakit keluarga
Merupakan
penyakit

gambaran
yang

keadaan

berhubungan

kesehatan
dengan

keluarga

kesehatan

dan

klien,

meliputi: jumlah anggota keluarga, kebiasaan keluarga

30

mencari

pertolongan,

tanggapan

keluarga

mengenai

masalah kesehatan, serta kemungkinan penyakit turunan.


d. Pola ADL (Activity Daily Living)
1) Aktifitas/istirahat:
tahanan;

Tanda:

keterbatasan

Penurunan

rentang

gerak

kekuatan,

pada

area

yang

sakit; gangguan massa otot, perubahan tonus.


2) Sirkulasi: Tanda (dengan cedera luka bakar lebih dari
20% APTT): hipotensi (syok); penurunan nadi perifer
distal

pada

ekstremitas

yang

cedera;

vasokontriksi

perifer umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan


dingin

(syok

listrik);

(syok/ansietas/nyeri);

takikardia

disritmia

(syok

listrik);

pembentukan oedema jaringan (semua luka bakar).


3) Eliminasi: Tanda: haluaran urine menurun/tak ada selama
fase

darurat;

terjadi

warna

mioglobin,

dalam;

diuresis

mobilisasi
bising

hitam

mengindikasikan
(setelah

cairan

usus/tak

mungkin

ke

bila

kerusakan

otot

kebocoran

dalam

ada;

kemerahan

kapiler

sirkulasi);

khususnya

pada

dan

penurunan

luka

bakar

kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan


motilitas/peristaltik gastrik.
4) Makanan/cairan: Tanda: oedema jaringan umum; anoreksia;
mual/muntah.
5) Neurosensori:

Gejala:

area

batas;

kesemutan,

Tanda:

perubahan orientasi; afek, perilaku; penurunan refleks


tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas; aktifitas
kejang

(syok

retinal;

listrik);

penurunan

laserasi

ketajaman

korneal;

kerusakan

penglihatan

(syok
31

listrik);

ruptur

membran

timpanik

(syok

listrik);

paralisis (cedera listrik pada aliran saraf).


6) Nyeri/kenyamanan:
Gejala:

Berbagai

pertama

secara

nyeri;

contoh

eksteren

luka

sensitif

bakar

untuk

derajat

disentuh;

ditekan; gerakan udara dan perubahan suhu; luka bakar


ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri; smentara
respon

pada

tergantung

luka

pada

bakar

ketebalan

keutuhan

ujung

derajat

saraf;

luka

kedua
bakar

derajat tiga tidak nyeri.


7) Pernafasan:
terpajan
serak;

Gejala:

lama

batuk

ketidakmampuan

terkurung

(kemungkinan
mengii;
menelan

dalam

cedera

partikel

ruang

inhalasi).

karbon

sekresi

tertutup;

oral

dalam
dan

Tanda:
sputum;

sianosis;

indikasi cedera inhalasi. Pengembangan torak mungkin


terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada; jalan
nafas atau stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan
laringospasme,

oedema

laringeal);

bunyi

nafas:

gemericik (oedema paru); stridor (oedema laringeal);


sekret jalan nafas dalam (ronkhi).
8) Keamanan:
Tanda:
a) Kulit umum: destruksi jaringan dalam mungkin tidak
terbukti selama 3-5 hari sehubungan dengan proses
trobus
Area

mikrovaskuler
kulit

tak

terbakar

pada

beberapa

mungkin

luka.

dingin/lembab,

pucat, dengan pengisian kapiler lambat pada adanya

32

penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan


cairan/status syok.
b) Cedera

api:

terdapat

area

cedera

sehubunagn

dengan

variase

dihasilkan

bekuan

terbakar.

campuran

intensitas
Bulu

dalam

panas

hidung

yang

gosong;

mukosa hidung dan mulut kering; merah; lepuh pada


faring

posterior;

oedema

lingkar

mulut

dan

atau

lingkar nasal.
c) Cedera kimia: tampak luka bervariasi sesuai agen
penyebab.

Kulit

mungkin

coklat

kekuningan

dengan

tekstur seperti kulit samak halus; lepuh; ulkus;


nekrosis; atau jarinagn parut tebal. Cedera secara
mum ebih dalam dari tampaknya secara perkutan dan
kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam
setelah cedera.
d) Cedera listrik: cedera kutaneus eksternal biasanya
lebih sedikit di bawah nekrosis. Penampilan luka
bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/keluar
(eksplosif), luka bakar dari gerakan aliran pada
proksimal

tubuh

sehubungan

tertutup

dan

dengan

luka

pakaian

bakar

termal

terbakar.

Adanya fraktur/dislokasi (jatuh, kecelakaan sepeda


motor, kontraksi otot tetanik sehubungan dengan syok
listrik).
e. Riwayat psikososial
Pada klien dengan luka bakar sering muncul masalah konsep
diri

body

image

yang

disebabkan

karena

fungsi

kulit

sebagai kosmetik mengalami gangguan perubahan. Selain itu


33

juga

luka

bakar

juga

membutuhkan

perawatan

yang

laam

sehingga mengganggu klien dalam melakukan aktifitas. Hal


ini menumbuhkan stress, rasa cemas, dan takut.
f. Pemeriksaan kulit
Merupakan
bakar

pemeriksaan

(luas

dan

pada

darah

kedalaman

yang

mengalami

luka). Prinsip

luka

pengukuran

persentase luas uka bakar menurut kaidah 9 (rule of nine


lund and Browder) sebagai berikut :

Bagian

1 th

5 th

Dewasa

18%

14%

9%

18%

18%

18 %

Badan depan

18%

18%

18%

Badan

18%

18%

18%

32%

32%

36%

tubuh
Kepala
leher
Ekstrimitas
atas (kanan
dan kiri)

belakang
Ektrimitas

34

bawah
(kanan

dan

kiri)
Genetalia

1%

1%

1%

2. Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan
keracunan karbon monogsida, inhalasi asap dan obstruksi
saluran nafas atas.
2. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan
dengan edema dan efek inhalasi asap .
3. Perfusi jaringan tidak efektif berhubungan dengan
penurunan suplai O2 ke jaringan

dan interupsi aliran

darah arteri / vena.


4. Resiko

kekurangan

volume

cairan

berhubungan

dengan

peningkatan permeabilitas kapiler dan kehilangan cairan


akibat evaporasi dari daerah luka bakar.
5. Diangnosa keperawatan: hipotermia yang berhubungan dengan
gangguan mikro sirkulasi kulit dan luka yang terbuka.
6. Diangnos keperawatan: nyeri yang berhubungan dengan
cedera jaringan dan syaraf serta dampak emosional cedera.
7. Resiko infeksi berhubungan dengan kehilangan barrier
kulit dan terganggunya respon imun.
8. Kerusakan integritas kulit b/d kerusakan permukaan kulit
sekunder destruksi lapisan kulit.
9. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan
ketahanan dan kekuatan otot.
10.
Konstipasi berhubungan dengan Penurunan peristaltic
usus akibat penurunan aliran darah ke gastrointestinal.

35

11.

Penurunan Curah Jantung berhubungan dengan

hipovelemia dan peningkatan afterload akibat disfungsi


konduksi listrik
4. Diagnosis Keperawatan
Berdasarkan

data-data

hasil

pengkajian,

diagnosis

keperawatan yang menjadi prioritas dalam asuhan keperawatan


di ruang rawat darurat pada cedera luka bakar, meliputi halhal berikut ini.
1. Aktual/risiko
karbon

gangguan

monoksida,

pertukaran

inhalasi

asap

gas

dan

b.d.

keracunan

obstruksi

saluran

napas atas.
2. Aktual/risiko

bersihan

jalan

napas

tidak

efektif

b.d.

edema dan efek dari inhalasi asap.


3. Aktual/risiko
b.d.

ketidakseimbangan

peningkatan

permeabilitas

cairan

dan

elektrolit

kapiler

dan

kehilangan

cairan akibat evaporasi dari daerah luka bakar.


4. Aktual/risiko

hipotermia

b.d.

gangguan

mikrosirkulasi

kulit dan luka yang terbuka.


5. Nyeri

b.d.

hipoksia

jaringan,

cedera

jaringan,

serta

saraf dan dampak emosional dari luka bakar.


5. Rencana Keperawatan
Tujuan utama fase darurat/resusitasi dalam perawatan luka
bakar mencakup
pemeliharaan
oksigenasi

saluran

jaringan;

elektrolit
pemeliharaan

yang
suhu

napas

yang

pencapaian

paten,

ventilasi,

keseimbangan

cairan

optimal

dan

perfusi

organorgan

tubuh

yang

normal;

rasa

nyeri

dan
serta

vital;
serta

36

ansietas

yang

minimal;

dan

tidak

adanya

komplikasi

yang

potensial.
N

Diagnosa

Tujuan

Intervensi

Rasional

O
1

Aktuak atau

Dalam waktu

1. Kaji faktor

Pemeriksaan untuk

resiko

1x 24jam

penyebab gangguan

mengkaji pertukaran

gangguan

gangguan

pertukaran gas.

gas yang adekuat dan

petukaran

pertukaran

bersihan saluran

gas b.d

gas teratasi

napas merupakan

keracunakn

Kriteria hsil

aktivitas keperawatan

kkarbon

yang esensial.

monoksida

1. Pasien

Frekuensi, kualitas,

in,inhalasi

tidak sedak

dan

asap dan

nafas

dalamnya respirasi

obstrubsi

2. RR dalam

harus dicatat. Paru-

saluran

rentanng

paru diauskultasi

nafas atas

nomal sesuai

untuk mendeteksi

vaktor usia

suara tambahan

3.

(abnormal). Di

pemeriksaan

samping pengkajian

gas arteri pH

keperawatan terhadap

7,40+-

status respirasi,

0,005,HCO3

oksimeter denyut nadi

24+- 2mEq/L,

dapat digunakan untuk

an paCO, 40

memantau

mmHg

kadar oksigen dalam


darah arterial.
Pemakaian oksimeter
denyut nadi pada
pasien luka bakar
memiliki kekurangan,
yaitu perfusi
jaringan yang buruk,
serta edema
mempersulit pemeriksa
untuk mendapatkan
signal yang akurat,
37

dan oksimeter tidak


dapat membedakan
karboksil hemoglobin
2. monitor TTV

dengan oksihemoglobin
Perubahan TTV akan
memberikan dampak
pada risiko
asidosis yang
bertambah berat dan
berindikasi pada
intervensi untuk
secepatnya melakukan

Beri oksigen

koreksi asidosis.
Terapi pemeliharaan

4l/menit dengan

untuk kebutuhan

metode kanul atau

asupan oksigenasi.

sungkup non
rebreathing
Istirahatkan

Posisi fowler akan

pasien dengan

meningkatkan ekspansi

posisi fowler.

paru optimal.
Istirahat akan
mengurangi kerja
jantung, meningkatkan
dan menurunkan

Ukur intake dan

tekanan darah.
Penurunan curah

output.

jantung,
mengakibatkan
gangguan
perfusi ginjal,
retensi atrium/air
dan penurunan urine

Manajemen

output.
Lingkungan tenang

lingkungan:

akan menurunkan

lingkungan tenang

stimulus nyeri

dan

eksternal dan

batasi pengunjung.

pembatasan pengunjung
38

akan membantu
meningkatkan kondisi
O, ruangan yang akan
berkurang apabila
banyak pengunjung
yang berada di
kolaborasi

ruangan.
jika penyebab masalah

Berikan

adalah masukan

bikarbonat.

klorida, maka
pengobatannya adalah
ditujukan pada
menghilangkan

Pantau data

sumber klorida.
Tujuan intervensi

laboratorium

keperawatan pada

analisis gas darah

asidosis metabolik

berkelanjutan

adalah meningkatkan
pH sistemik sampai ke
batas yang aman, dan
menanggulangi sebabsebab asidosis yang
mendasarinya. Dengan
monitoring perubahan
dari analisa gas
darah berguna untuk
menghindari
komplikasi yang tidak

diharapkan.
Deteksi awal untuk

Aktual/resi

Dalam waktu 1

Kaji dan monitor

ko bersihan

X 24Jam

jalan napas.

jalan nafas

paskah bedah

intervensi

tidak

hati,

selanjutnya.Salah

efektif b.d

kebersihan

satu cara untuk

edema dan

jalan nafas

mengetahui apakah

efek dari

pasien tetap

pasien bernapas

inflasi

optimal

atau tidak adalah

asap.

Kriteria

dengan menempatkan

interpretasi

39

evaluasi:
1. Jalan

telapak tangan di
atas hidung dan mulut

nafas

pasien untuk

bersih,

merasakan hembusan

tidak

napas. Gerakan toraks

adanya

dan diafragma tidak

obstruk

selalu menandakan

si pada

nasien bernaoas.

jalan
nafas.
2. Suara
nafas
normal
tidak
ada
bunyi
nafas
tambaha
n
seperti
stridor
.
3. Tidak
adanya
penggun
aan oto
bantu
nafas.
4. RR
dalam
rentang
normal
sesuai
tingkat
usia,
misalny
a pada
40

dewasa
1220X/men
it
1.

Tempatkan

2. Untuk memudahkan

pasien di

dalam melakukan

bagian

monitoring status

resusitasi

kardiorespirasi
dan intervensi

3. Beri oksigen

kedaruratan.
3. Pemberian oksigen

4m/menit dengan

dilakukan pada fase

metode kanul atau

awal pascabedah.

sungkup non-

Pemenuhan oksigen

rebreathing.

dapat membantu
meningkatkan
PaO, di cairan otak
yang akan memengaruhi

4. Lakukan

pengaturan pernafasan
4. Tindakan perawatan

tindakan

pulmoner yang

kedaruratan

agresif, termasuk

jalan napas

tindakan membalikkan

agresif

tubuh pasien,
mendorong
pasien untuk batuk
serta bernapas dalam,
memulai
inspirasi kuat yang
periodik dengan
spirometri, dan
mengeluarkan timbunan
sekret melalui
pengisapan trakea
jika diperlukan.
Semuanya ini
merupakan tindakan
yang penting terutama
41

pada pasien luka


bakar dengan
cedera inhalasi.
Pengaturan posisi
tubuh pasien untuk
mengurangi kerja
pernapasan, menirrgkatkan ekspansi
dada yang maksimal,
dan pemberian oksigen
yang
dilembapkan atau
pelaksanaan ventilasi
mekanis dapat
menurunkan lebih
lanjut stres
metabolik dan
memastikan
oksigenasi jaringan
yang'adekuat. Asepsis
dipertahankan
melalui perawatan
untuk menghindari
kontaminasi
pada traktus
respiratorius dan
mencegah infeksi yang
meninskatkan
kebutuhan oksisen
3

Aktual/resi

Bersihkan sekresi

rnetabolik.
Kesulitan pernapasan

ko bersihan

pada jalan napas

dapat terjadi akibat

jalan nafas

dan lakukan

sekresi lendir

tidak

suctioning apabila

yang berlebihan.

efektif b.d

kemampuan

Membalikkan pasien

edema dan

mengevakuasi

dari satu sisi ke

efek dari

sekret

sisi lainnya

inflasi

tidak efektif.

memungkinkan cairan
42

asap.

yang terkumpul untuk


keluar dari sisi
mulut. |ika gigi
pasien mengatup,
mulut
dapat dibuka secara
manual, tetapi hatihati dengan spatel
lidah yang dibungkus
kasa.
Mukus yang menyumbat
faring atau trakea
diisap
dengan ujung pengisap
faringeal atau
kateter nasal yang
dimasukkan ke dalam
nasofaring atau
Instruksikan

orofaring.
Pada pasien luka

pasien untuk

bakar disertai

pernapasan dalam

inhalasi asap dengan

dan

tingkat toleransi

melakukan batuk

yang baik, maka

efektif.

pernapasan diafragma
dapat meningkatkan
ekspansi paru. Untuk
memperbesar
ekspansi dada dan
pertukaran gas,
beragam tindakan
seperti meminta
pasien unfuk menguap
atau dengan
melakukan inspirasi
makimal.
Batuk juga didorong
untuk melonggarkan
43

sumbatan
Evaluasi dan

mukus.
Apabila tingkat

monitor

toleransi pasien

keberhasilan

tidak optimal, maka

intervensi

lakukan kolaborasi

pembersihan jalan

dengan tim medis

napas.

untuk segera
dilakukan terapi
endoskopik atau
pemasangan tamponade

Aktual/resi

Tujuan: dalam

Intervensi

balon.
Parameter dalam

ko

waktu 1X24

pemenuhan cairan:

menentukan intervensi

ketidakseim

jam tidak

. Identifikasi

kedaruratan.

bangan

terjadi

faktor penyebab,

Perpindahan dan

cairan dan

ketidakseimba

awitan (onset),

kehilangan cairan

elektrolit

ngan cairan

spesifikasi usia,

yang cepat selama

b.d

dan

luas luka bakar,

periode awal pasca-

peningkatan

elektrolit

kedalaman luka

luka bakar

permeabilit

Kriteria

bakar, dan adanya

mengharuskan Perawat

as kapiler

hasil:

riwayat penyakit

untuk memeriksa

lain.

tanda-tanda vital dan

dan

1. Pasien

kehilangan

tidak

urine output

cairan

mengelu

dengan sering di

akibat

samping menilai

evaporasi

pusing

tekanan vena sentral,

dari luka

ttv

tekanan arteri

bakar.

dalam

pulmonalis, serta

batas

curah jantung pada

normal,

pasien

kesadar

luka bakar yang

an

sakitnya berat.

optimal

Pemberian cairan

, urine

infrrs

> 600

dilakukan menurut

ml/hari

Program medis. Volume

cairan yang '


44

2. Membran

diinfuskan harus

mukosa

sebanding dengan

lembap,

volume urine ouq)ut'

turgor

Pencatatan intake dan

kulit

output cairan yang

normal,

cermat serta

CRT <3

berat badan pasien

detik.

juga diperlukan'

3. Keluhan

Kadar elektrolit

diare,

serum

mual,

harus dipantau.

dan

Perawat biasanya

muntah

merupakan Petugas

berkura

pertama untuk

ng.

mengenali terjadinya

Laboratorium

ketidalaeimbangan

: nilai

cairan dan

elektrolit

elektrolit.

normal,
analisis gas
darah normal.
Kolaborasi skor

Menentukan jumlah

dehidrasi

cairan yang akan


diberikan sesuai
dengan derajat
dehidrasi dari

Lakukan pemasangan

individu
Apabila kondisi diare

IVFD (Intravenous

dan muntah berlanjut

fluida drop)

maka
lakukan pemasangan
IVFD. Pemberian
cairan intravena
disesuaikan dengan
derajat dehidrasi.
Pemberian 1-2 L
cairan Ringer Laktat
secara tetesan cePat
45

sebagai kompensasi
awal hidrasi cairan
diberikan untuk
mencegah syok
hipovolemik (lihat
intervensi
kedaruratan
syok hipovolemik).
Dokumentasi dengan

Sebagai evaluasi

akurat tentang

Penting dari

intake dan output

intervensi hidrasi

diare

dan mencegah
terjadinya over

Intervensi pada

hidrasi.
Untuk mendeteksi

Penurunan kadar

adanya kondisi

elektrolit.

hiponatremi dan

. Evaluasi kadar

hipokalemi sekunder

elektrolit serum.

dari hilangnya
elektrolit dari

Dokumentasikan

plasma'
Perubahan klinik

perubahan klinik

seperti Penurunan

dan

urine outPut

laporkan dengan

secara akut perlu

tim medis.

diberitahu kepada tim


medis untuk
mendapatkan
intervensi
selanjutnya dan
menurunkan
risiko tirjadinya

Monitor khusus

asidosis metabolik
Individu lansia dapat

ketidakseimbangan

dengan cepat

elektrolit

mengalami dehidrasi

pada lansia.

dan menderita kadar

46

kalium rendah
(hipokalemia)
sebagai akibat diare.
Individu lansia yang
menggunakan digitalis
harus waspada
terhadap cePatnya
dehidrasi dan
hipokalemia pada
4

Aktual/resi

Dalam waktu

Kaji

diare.
Semakin tinggi

ko

1X 24 jam

derajat,

derajat,

hipotermia

fase kritis

kondisi

dan luas dari luka

b.d

NET tidak

kedalaman,

bakar

gangguan

mengalami

dan luasnya

maka risiko hipotermi

mikrosirkul

hipotermi

lesi

akan lebih tinggi'

asi kulit

Kriteria

Penderita luka bakar

dan luka

hasil:

luas cenderung untuk

yang
terbuka

1. Suhu

kedalaman,

menggigil'

tubuh

Dehidrasi dapat

dalam

semakin berat jika

rentang

daerah kulit yang

normal

rusak

36-37

terkena aliran udara

0C

hangat yang terus-

2. CRT <3

menerus'

Detik
3. Akral
hangat
sesuaikan kamar

Pasien biasanya

dalam kondisi

sensitif terhadap

tidak terlalu

perubahan suhu kamar.

hangat dan tidak

Tindakan yang

terlalu dingin.

diimplementasikan
pada pasien luka
bakar, seperti
pemakaian selimut
katun, lampu
47

penghangat
Yang dipasang pada
langit-langit kamar
atau alat
.
Pelindung panas
sangat berguna untuk
mempertahankan
kenyamanan dan suhu
Lakukan intervensi

tubuh pasien
Untuk mengurangi

perawatan luka

gejala menggigil dan

dengan cepat

kehilangan- panas,
perawat harus bekerja
dengan cepat dan
efisien ketika luka
yang lebar harus
dibuka bagi perawatan
luka. Suhu tubuh
oasien dipantau

Evaluasi suhu

dengan cermat.
Intervensi penting

tubuh, menggigil,

untuk mencegah

atau minta pasien

hipotermi yang lebih

untuk melaporkan

berat.

apabila merasa
5

Nyeri b.d

Dalam waktu

kedinginan
Kaji nyeri dengan

hipoksia

1x24 jam

pendekatan PQRST.

jaringan,ce

nyeri

mengetahui sejauh

dera

berkurang

mana intervensi yang

jaringan

/hilang atau

diperlukan dan

serta saraf

teradaptasi

sebagai evaluasi

dan dampak

Kriteria

keberhasilan dari

emosional

evaluasi:

intervensi manajemen

dari luka
bakar

1. Suara

Menjadi parameter
dasar untuk

nyeri

subjekt

keperawatan.

if

Gejala kegelisahan
48

melapor

dan ansietas sering

kan

dikaitkan dengan

nyeri

rasa nyeri sebenarnya

berkura

yaitu dapat berasal

ng atau

dari keadaan

dapat

hipoksia. Oleh karena

diadapt

itu, pengkajian

asi.

status respirasi yang

Skala

saksama sangat

nyeri

penting sebelum

0-1 (0-

pemberian analgetik

4)

yang dapat menyupresi

2. Dapat

sistem pernapasan

mengide

dalam periode awal

ntifika

pasca-luka bakar.

si
aktivit
as yang
meningk
atkan
atau
menurun
kan
nyeri.
3. Pasien
tidak
gelisah
Jelaskan dan bantu

Pendekatan dengan

pasien dengan

menggunakan relaksasi

tindakan pereda

dan

nyeri

nonfarmakologi

nonfarmakologi dan

lainnya telah

noninvasif.

menunjukkan
keefektifan dalam

Lakukan manajemen

mengurangi nyeri.
Posisi fisiologis

nyeri keperawatan:

akan meningkatkan

. Atur posisi

asupan O, ke jaringan
49

fisiologis.

yang mengalami
peradangan.
Pengaturan posisi
idealnya
adalah pada arah yang
berlawanan dengan
letak dari lesi.
Bagian tubuh yang
mengalami inflamasi
lokal dilakukan
imobilisasi untuk
menurunkan respons
peradangan dan
meningkatkan

Istirahat klien

kesembuhan.
Istirahat diperlukan
selama fase akut.
Kondisi ini akan
meningkatkan suplai
darah pada jaringan
yang mengalami

Ajarkan teknik

peradangan.
Meningkatkan asupan

relaksasi

O, sehingga akan

pernapasan dalam.

menurunkan
nyeri sekunder dari

Ajarkan teknik

peradangan.
Distraksi (pengalihan

distraksi pada

perhatian) dapat

saat nyeri'

menurunkan
stimulus internal
dengan mekanisme
peningkatan
produksi endorfin dan
enkefalin yang dapat
memblok
reseptor nyeri untuk
tidak dikhimkan ke
50

korteks serebri
sehingga menurunkan
Kolaborasi dengan

persepsi nyeri.
Analgetik memblok

dokter untuk

lintasan nyeri

pemberian

sehingga nyeri akan

analgetik preparat

berkurang.

morfi n.

Penyuntikan intravena
preparat morfin atau
analgetik opioid
lainnya biasanya
diprogramkan untuk
mengurangi nyeri.
Namun, pemberian
dengan dosis
yang tinggi perlu
dihindari dalam fase
darurat karena
terdapatnya bahaya
supresi PernaPasan
Pada pasien yang
dirawat dengan
ventilatasi
nonmekanis dan
kemungkinan
tersamarnya gejala
yang lain. Cara
penyuntikan subkutan
dan intramuskular
tidak digunakan
karena gangguan
sirkulasi pada
jaringan yang cedera
membuat absorpsi
preparat tersebut
tidak bisa
diperkirakan'
Pemberian
51

intiavena preparat
sedatif mungkin
diperlukan pula.
Obat-obat pereda
nyeri yang memadai
harus disediakan
dalam perawatan
pasien dengan Iuka
bakar yang akut
karena obat-obat
tersebut bukan hanya
untuk menjamin
kenyamanan pasien,
tetapi juga untuk
mengurangi
kebutuhan oksigen
jaringan akibat
respons nyeri
fisiologik
Oleh karena
intensitasnya, nyeri
yang berhubungan
dengan luka bakar
tidak mungkin bisa
dihilangkan sama
Kecemasan

Dalam waktu

Kaji kondisi

sekali.
Normalnya, pasien

b.d kondisi

1X24 jam

fisikdan emosional

luka bakar dan

penyakit,

kecemasan

pasien dan

keluarganya akan

kerusakan

pasien

keluarga dari

mengalami stres

luas pada

berkurang

adanya luka bakar

emosional dan

jaringan

Kriteria

yang dialami.

ansietas yang hebat.

kulit

Hasil

Kendati demikian,

1. Pasien

tingkat ansietas yang

menyata

tinggi pada

kan

pasien luka bakar

kecemas

fase darurat harus

an

dihindari dengan
52

berkura

dua alasan: (1)

ng,

ansietas akan

mengena

meningkatkan rasa

nyeri

perasaa

fisik dan psikologik

nnya,

yang berkaitan dengan

dapat

luka bakar

mengide

dan (2) tingkat

ntifika

ansietas yang tinggi

si

lebih lanjut akan

penyeba

meningkatkan stres

b atau

fisiologik yang

factor

merugikan pasien.

yang

Pengkajian dengan

memenga

penuh kewaspadaan

ruhinya

terhadap

dinamika keluarga,

koopera

strategi koping dan

tif

tingkat ansietas

terhada

dapat memfasilitasi

penl'usunan rencana

tindaka

intervensi yang

n dan

disesuaikan menurut

wajah

kebutuhan masing-

rileks.
Hindari

masing
Konfrontasi dapat

konfrontasi.

meningkatkan rasa
marah, menurunkan
keria sama dan
munqkin memperlambat

Mulai melakukan

penyembuhan.
Selama periode

tindakan untuk

darurat, dukungan

mengurangi

emosional dan

kecemasan. Beri

yang sederhana

lingkungan yang

tentang Prosedur

tenang dan

penanganan,

suasana penuh

serta perawatan
53

istirahat.

pasien harus
diberikan. Namun,
karena
prioritas utama dalam
periode ini adalah
stabilisasi kondisi
fisik pasien, maka
intervensi
psikososial merupakan
tindakan yang
terbatas dalam
pemberian dukungan
bagi pasien dan
keluarganya untuk
melewati fase inisial
syok luka bakar.
Peredaan rasa nyeri
yang adekuat akan
membantu mengurangi
tingkat ansietas dan
meningkatkan
kemampuan koping.
iika pasien tetap
terlihat sangat cemas
dan agitatif sesudah
dilakukan intervensi
psikologik,
pemberian obat-obat
antiansietas dapat
dipertimbangkan
oleh tim medis yang
merawat pasien.
Mengurangi rangsangan
eksternal yang tidak

Beri kesempatan

perlu
Dapat menghilangkan

kepada pasien

ketegangan terhadap

untuk

kekhawatiran yang
54

mengungkapkan

tidak diekspresikan.

ansietasnya
Kolaborasi:

Meningkatkan

berikan anticemas

relaksasi dan

sesuai

menurunkan kecemasan.

indikasi,contohnya
diazepam

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Luka bakar adalah trauma pada kulit yang disebabkan oleh panas
atau suhu tinggi, Berbagai faktor dapat menjadi penyebab luka
bakar, Luka bakar suhu tinggi, Luka bakar listrik, Luka bakar
kimiawi, Luka Bakar Radiasi (Radiasi Injury)

B. Saran
Untuk askep luka bakar akan sangat penting diperhatikan akibat
dari luka bakar, apabila tidak ditangani secara tepat. Dan untu
penatalaksanaannya yaitu denga antibiotic dan yang penting juga
yaitu nutrisi yg diberikan kepada klien.

55

DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin, Arif dan Sari, Kumala.2012. Asuhan keperawatan gangguan
system integument. Jakarta: salemba medika
Kidd, Pamela S.2010. PEDOMAN KEPERAWATAN EMERGENSI.Jakarta:EGC
http://www.slideshare.net/BudiSutaryanto/askep-luka-bakar-asli

56