Anda di halaman 1dari 24

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

BAB III
PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK
3.1 Sistem Perencanaan
Perencanaan merupakan pekerjaan awal yang sangat menentukan kesuksesan
suatu proyek. Dalam perencanaan salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah
kondisi proyek, baik kondisi tanah maupun lingkungan.
Kondisi jenis tanah pada proyek Art Deco Luxury Apartement ini, berupa tanah
lempung kelanauan dan pasir. Struktur tanah proyek berbukit bukit. Muka air tanah
berkisar - 2 m dari elevasi tanah existing. Pada umumnya, kedalaman tanah keras
tercapai pada kedalaman lebih dari 8 m dari elevasi muka tanah existing (tanah saat
dilakukan pengujian bor log) atau berjarak - 6 m dari elevasi basement 2. Di sekitar
proyek terdapat perumahan warga yang bersebelahan langsung dengan proyek.
Karena kedalaman tanah keras yang tidak terlalu dalam dari lantai basement 2 dan
kondisi proyek yang berada pada kondisi padat penduduk, maka Inti Solid Pratama
selaku konsultan perencana memutuskan menggunakan pondasi sumuran di daerah
tower dan pondasi borpile di daerah kolam renang. Untuk kontruksi bangunan ini
direncanakan menggunakan beton bertulang dengan tipe rangka tertutup.
Perencanaan dimensi pondasi dan banyaknya jumlah pondasi dilakukan untuk
mengetahui daya dukung yang dihasilkan dari pondasi

tersebut agar mampu

menahan beban yang akan diterima dari bangunan yang berada di atasnya. Untuk
menjamin keamanan pada gedung, perlu dilakukan perhitungan yang benar-benar
akurat agar mampu menahan beban yang akan diterima. Hal yang perlu diperhatikan
dan dihitung dalam pembuatan pondasi adalah :

20

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Beban yang akan diterima oleh pondasi.


Jenis tanah dan daya dukung tanah pada proyek yang akan dibangunan.
Waktu dan biaya pekerjaan.
Lokasi proyek tersebut.
Posisi pondasi dibuat pada lapisan tanah yang keras, hal ini dapat diketahui
melalui penyelidikan tanah yang terlebih dahulu diuji sebelum perencanaan. Di
proyek ini dilakukan pengeboran sebanyak 2 titik. Bor 1 pada as 4-5 dan Bor 2 pada
as 8-9 dengan elevasi sekitar -4.00 m dari titik 0.00. Hasil pengujian tanah berupa
bor log untuk lokasi proyek Art Deco Luxury Apartemen dapat dilihat pada Lampiran
2.1
Setelah pekerjaan sumuran selesai dilanjutkan dengan pekerjaan pile cap.
Dimensi pile cap yang digunakan berbeda-beda disesuaikan dengan ukuran sumuran.
Semakin besar sumuran maka semakin besar pula dimensi pile cap yang digunakan.
Untuk memperkaku struktur dibuat sloof untuk menyambung antara pile cap. Diatas
sloof dan pile cap terdapat plat lantai basement.
Inti solid Pratama selaku konsultan perencana masih bisa mengadakan revisirevisi dan perubahan perencanaan selama masa pelaksanaan. Pada awalnya
digunakan pondasi borpile diameter 800 mm untuk kolam renang. Namun, karena
kondisi tanah yang berupa lereng, maka sulit untuk melakukan pengeboran borpile
dengan alat yang terbatas. Perencana mengubah rencana awal dengan menambah
ruangan di bawah kolam renang yaitu ruang Ground Water Tank (GWT), sehingga
dapat digunakan pondasi sumuran karena jarak elevasi antara lantai GWT dan tanah
keras tidak terlalu jauh. Gambar potongan gedung pada awal perencanaan pondasi
dan Gambar potongan perubahan pondasi ke-2 dapat dilihat secara berturut turut
pada gambar 3.1 dan 3.2

21

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Kolam
renang
borpile

Gambar 3.1 Gambar potongan tower pada perencanaan pertama (pondasi borpile)

22

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Kolam
renan
g
Pondasi
sumuran

GWT

Gambar 3.2 Gambar potongan tower pada perencanaan yang ke-2 (pondasi sumuran)

3.2 Perencanaan Pondasi sumuran


23

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Pondasi yang digunakan pada akhirnya hanya berjenis pondasi sumuran saja.
Mutu beton yang digunakan adalah K-350 (fc = 29,05 MPa) dan Mutu baja U-39 (fy
= 390 MPa). Pada proyek Art Deco Luxury Apartement ini terdapat 5 jenis sumuran.
Rincian kedalaman, diameter bagian bawah galian yang diperlebar (gentongan) dan
diameter pondasi sumuran yang digunakan dapat dilihat pada tabel 3.1
Tabel 3.1 Diameter sumuran, gentongan dan kedalaman Pondasi sumuran
Jenis Sumuran
P1
P2
P5
P6
P7

Diameter (mm)
800
1000
1800
2000
2200

Length (mm)
6000
6000
6000
6000
6000

Diameter Gentongan (mm)


1120
1400
2520
2800
3080

Pada Zona tower proyek Art Deco Luxury Apartement

ini, jumlah

perencanaan total titik sumuran adalah sebanyak 63 titik dan pada area SPT sebanyak
15 titik.
Disebabkan penambahan pembebanan dengan adanya kantor dibawah kolam
renang dan alasan keamanan dan kemudahan para pekerja saat menggali, konsultan
perencana mengganti semua diameter pondasi P1 menjadi P2. Perubahan yang
terjadi, berdasarkan ukuran diameter pondasi dapat dilihat pada table 3.2, serta
gambar pondasi yang mengalami perubahan rencana ke-2 pada area tower dan GWT
dapat dilihat pada lampiran 3.1 dan 3.2. Gambar perubahan akhir pondasi pada area
tower dan GWT dapat dilihat pada lampiran 3.3 dan 3.4.

Tabel 3.2 Perubahan Jumlah Pondasi Awal dan Akhir Rencana


Jenis Sumuran
P1
P2
P5
P6
P7

24

Jumlah

Jumlah

Awal
23
8
11
13
13

Akhir
31
11
13
13

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

3.2.1

Pembesian Pondasi Sumuran


Sebelum dilakukan penulangan, penggalian disyaratkan mencapai
tanah keras. Hal tersebut dapat diketahui dengan pengujian mirip Standard
Penetration Test (SPT). Tulangan yang dipakai pada Sumuran di proyek Art
Deco Luxury Apartement adalah D13, D19 dan D25. Perencana merencanakan
tulangan pada sumuran dibuat menggantung atau tidak menyentuh tanah.
Jarak antara tanah dan tulangan yang menggantung adalah 20 cm. (Gambar
3.3).

Pile cap

Gentongan

Gambar3.3 Jarak besi dan tanah yang tergantung

Rincian perencanaan diameter tulangan berdasarkan jenis pondasi


pada tower Art Deco Luxury Apartement dapat dilihat pada tabel 3.3
Tabel 3.3 Tabel diameter tulangan pondasi
Jenis Sumuran
P2
P5
P6
P7

3.3 Perencanaan Pile Cap

25

Diameter tulangan
24D19, 14D13
48D25, 25D13
56D25,27 D13
64D25,30 D13

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Untuk pile cap di bagian ujung atau yang berdekatan dengan soldier pile, pile
cap dibuat miring berbentuk belah ketupat sedangkan untuk Pile cap pada bagian
tengan tower dibuat kotak seperti biasa,terlihat pada gambar 3.4

Gambar3.4 Gambar perbedaan bentuk pile cap di bagian ujung dan tengah tower

Dimensi pile cap pada proyek Art Deco Luxury Apartement ini bermacammacam mengikuti dimensi pondasi sumuran dan hasil perhitungan dari
konsultan perencana. Rincian perencanaan dimensi pile cap berdasarkan jenis
pondasi sumuran dapat dilihat pada tabel 3.4
Tabel 3.4 Tabel dimensi pile cap
Jenis Sumuran
P2
P5
P6
P7

Area Tower dan Area SPT


Dimensi (mm)
Tebal (mm)
1200x1200
600
2000x2000
800
2200x2200
1000
2400x2400
1200

Jumlah
31
11
13
13

.
3.3.1 Pembesian Pile cap

Pada bagian dasar Pile cap terdapat lapisan pasir padat 100 mm dan lantai
kerja 50 mm. Untuk lantai kerja digunakan campuran 1 cement : 7 pasir : 1 air.

26

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Design tulangan pile cap berbeda-beda untuk setiap tipe pondasi sumuran. Tulangan
yang digunakan pada pile cap yaitu D19 dan D16. Untuk ketebalan selimut pile cap
berdasarkan SNI-03-2847-2002 minimal 50 mm. Gambar perencanaan tulangan dapat
dilihat pada Lampiran 3.6
3.4 Perencanaan Sloof
Dimensi sloof yang digunakan di proyek ini adalah 30/60 dan 22/60. Untuk
sloof 30/60 digunakan untuk menyambungkan antara pile cap sedangankan 22/60
3.4.1

digunakan untuk penyambungan antara sloof.


Pembesian Sloof
Diameter tulanagn yang digunakan pada pekerjaain sloof adalah D10 , D13,
D19 dan D25 dengan fy= 390 Mpa. Untuk ketebalan selimut sloof berkisar 50 mm.
Gambar detail dari sloof dapat dilihat pada Gambar 3.5

Gambar 3.5 Gambar detail sloof 30/60 dan sloof 22/60

Ketentuan gambar pembengkokan tulangan kait pada sloof berdasarkan RKS dapat
dilihat dalam LAMPIRAN 3.5
3.5

Perencanaan Sub Soil Drainage


Di sepanjang as 3 sampai 8 dibuat saluran biotekstil atau sumur resapan di

bawah pelat lantai yang berfungsi untuk mengurangi gaya uplift pada pelat lantai
serta pemanfaatan air. Gambar biotekstil dapat dilihat pada Gambar3.6

27

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Gambar 3.6 Geotekstil

3.6 Perencanaan Plat Lantai


Ketebalan plat lantai pada proyek Art Deco Luxury Apartement ini berkisar 200 mm.

3.6.1 Pembesian Plat Lantai


Diameter tulangan yang digunakan pelat lantai adalah D13 dengan jarak antar
tulangan 150 mm. Menurut PBI 1971 untuk menjaga ukuran selimut beton atau
penutup beton, dipasang penahan jarak pada tulangan yang berupa beton (beton
decking) dengan luas maksimum 4 buah setiap m2.

3.7 Pengecoran Sumuran, Pile Cap, Sloof dan Pelat Lantai Basement
Pekerjaan pengecoran pada Art Deco Luxury Apartement menggunakan
ready mix concrete dari PT. Pionir beton sebagai penyuplai utama, dan PT. Adhimix
Beton sebagai penyuplai cadangan. Menurut RKS waktu maksimal untuk pengecoran
adalah 4 jam setelah ready mix diolah di batching plan dan ketinggian maksimum
pipa tremie dari tempat jatuh beton 2m. Untuk pondasi sumuran, pile cap , pelat lantai
basement dan sloof digunakan ready mix K-350.
3.8 Pengadaan alat
28

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

1. Tower crane (TC)


Dalam pelaksanaan pembangunan gedung bertingkat dibutuhkan alat bantu
dalam mobilisaasi. Pada proyek ini digunakan tower crane sebagai alat bantunya..
Panjang lengan tower crane (Jib) 40 m. Jarak lengan tersebut dianggap paling efektif
karena dapat menjangkau jarak terjauh dari tower, sedangkan jarak dari as tower
crane ke concrete tower weight adalah 16,12 m. Tower crane dibangun pada lahan
hijau atau diluar area pembangunan, bertujuan agar tidak menghambat pekerjaan
struktur dalam tower yang sedang berlangsung. Gambar-gamabar perencanaan
penempatan tower crane tampak dari atas, depan dan samping dapat dilihat pada
gambar 3.7, gambar 3.8 dan gambar 3.9, secara berurutan.

29

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Gambar 3.7 Denah penempatan Tower Crane

30

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Gambar 3.8 Tampak depan TC

Gambar 3.9 Tampak TC dari samping

31

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Pondasi yang digunakan oleh TC adalah jenis pondasi borpile dengan diameter 60cm.
Gambar tampak atas dan depan pondasi dapat dilihat pada Gambar 3.10 dan Gambar
3.11 secara berurutan.

Gambar 3.10 Tampak atas pondasi TC

Gambar 3.11 Gambar potongan pondasi TC

2. Truck Mixer
Truck mixer adalah alat transportasi pengangkut ready mix dari batching plan
menuju tempat pengecoran. Pada proyek ini ready mix telah diolah terlebih dahulu
di batching plan. Kapasitas truck mixer 3 m3 dan 7 m3 . Digunakan kapasitas 3 m3

32

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

bila volume pekerjaan dianggap kecil, sedangkan menggunakan 7 m3 bila volume


pekerjaan dianggap besar karena pengecoran diusahakan dilakukan terus menerus
atau tanpa henti. Penempatan truck mixer dapat dilihat di Gambar3.12

Gambar 3.12 Penempatan Truck Mixer

3. Bucket
Bucket adalah alat untuk mengangkut atau memindahkan adukan beton dari truk
mixer ke tempat pengecoran yang dialirkan melalui pipa tremie berdiameter 15 cm.
Kapasitas bucket yang terdapat di proyek Art Deco Luxury Apartement yaitu 0,8
m.Gambar bucket dapat dilihat pada Gambar 3.13

33

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Gambar 3.13 bucket

4. Concrete Pump
Concrete pump adalah sebuah mesin/alat yang digunakan untuk menyalurkan
adukan beton segar dari truck mixer ke tempat pengecoran yang letaknya sulit
dijangkau oleh truck mixer.Terdapat 2 jenis concrete pump yaitu mobile concrete
pump dan fixed concrete pump. Di proyek ini digunakan mobile concrete pump
disebabkan cara instalasi yang lebih mudah. Panjang lengan concrete pump dapat
mencapai 25 m. (Gambar 3.14)

Gambar 3.14 Gambar concrete pump

34

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

5. Mesin Penggetar Beton (Concrete Vibrator)


Concrete vibrator adalah alat untuk memadatkan adukan beton setelah adukan
dituangkan kedalam cetakan beton agar diperoleh beton yang tidak keropos dan
sesuai rencana. Menurut PBI 1971 beton untuk pekerjaan-pekerjaan struktur yang
kuat tekan karekteristik lebih dari 225 kg/cm 2, diperlukan alat vibrator. Dalam
penggunaan vibrator pada umumnya slump beton yang digunakan tidak lebih dari
12,5 cm . Vibrator yang digunakan di proyek ini adalah jenis STV concrete
Vibrator Shaft Model AD-46. Head diameter 45 mm, length of shaft 4 meter.

Gambar 3.15 Vibrator

6. Mesin Trowel
Untuk pekerjaan lantai basement digunakan mesin trowel untuk meratakan dan
menghaluskan permukaan lantai. Jenis trowel yang digunakan adalah MPT-36B.
Dimensi blade 345x205mm. Diameter trowel 910 mm. Kecepatan trowel 50-100
r.p.m.

35

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Gambar 3.16 Gambar mesin trowel

7. Theodolit
Theodolit adalah salah satu alat untuk mengukur tinggi tanah dengan sudut
mendatar dan tegak, selain itu theodolit dapat digunakan untuk mengetahui kesikuan
pile cap. Theodolit yang digunakan di proyek ini adalah tipe NE 102. Dipilih tipe NE
102 karena ringan dan pekerjaan yang dilakukan hanya mengukur kesikuan dan as
pile cap.

Gambar 3.17 Theodolit


8. Auto level
Auto level adalah alat untuk menentukan elevasi / tinggi atau beda tinggi suatu
lantai, balok, bangunan dan lain-lain yang membutuhkan elevasi berdasarkan
ketinggian titik yang diketahui. Auto level yang digunakan di proyek ini TOPCON
AT-G6

36

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Gambar 3.18 Auto level

9. Jack Hammer
Jack hammer adalah alat bantu untuk membor tanah keras, batu atau aspalt.
Jack hammer yang digunakan adalah BOSCH GSH5 . dengan rated speed 2850
r.p.m.
10. Excavator
Excavator adalah alat berat yang digunakan untuk mengeruk tanah.pada
proyek ini digunakan KOMATSU Hydraulic PC 200. Mempunyai operating weight
20010 kg, dengan bucket capacity 0,8 m3

Gambar 3.19 Excavator PC 200

11. Air Compressor


Air compressor adalah kompressor yang menyediakan udara pada tekanan
yang cukup, biasanya di proyek dipergunakan untuk membersihkan area sebelum
pengecoran. Pada proyek ini digunakan compressor AIRMAN PDS 175 Super Silent.
Tekananan 7 Bar/ 100 PSI(Gambar 3.20)

37

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Gambar 3.20 Air Compressor


3.9 Pengadaan Bahan
1. Bouwplank
Pada pekerjaan bouwplank digunakan kayu kelas III. Sisi atas dari papan
diserut sehingga didapatkan permukaan yang benar-benar rata. Sudut siku dicek
menggunakan alat ukur optis. Elevasi dari bouwplank dicek terhadap patok-patok
tetap dan selanjutnya akan menjadi ukuran untuk menentukan lantai bangunan.
2. Semen
Digunakan Portland cement jenis I menurut N.I.8. 1965, type I menurut
ASTM.C.150 dan menurut S.400

3. Agregat Halus
Agregat halus tidak mengandung lumpur lebih dari 5% dan tidak
mengandung bahan organis yang dibuktikan dengan percobaan warna dari AbremHarder.
4. Agregat Kasar
38

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Agregat bisa berupa kerikil maupun batu pecah dengan diameter butir lebih
besar dari 5 mm. Tidak mengandung lumpur lebih besar dari 1 % dan tidak
kehilangan berat lebih dari 50% dengan mesin Los Angelos.
5. Air
Air yang digunakan air tawar yang bersih dan tidak mengandung minyak,
garam, bahan-bahan organis atau bahan yang dapat merusak beton dan baja tulangan
6. Baja tulangan
Setiap jenis baja tulangan yang dihasilkan oleh pabrik yang terkenal dapat
dipakai asal mutu dijamin oleh pabrik pembuatnya dengan sertifikat (Lulus uji
pabrik). Baja tulangan yang akan digunakan di proyek ini adalah U-39 untuk tulangan
D>10 ulir dan U-24 untuk tulangan <10,serta bersih dari minyak dan karat.
7. Kawat Bendrat
Kawat bendrat yang digunakan harus terbuat dari baja lunak diameter 1mm
yang telah di pijarkan dahulu.

3.10 Pengawasan
Untuk menjaga mutu perlu diadakannya pengawasan. Pengawasan tersebut
berupa:
1. Pengujian slump
Pengujian slump bertujuan untuk mengetahui kadar kekentalan dari adukan
beton, dengan cara memeriksa tinggi slump-nya. Kekentalan adukan beton
disesuaikan dengan sistem transpotasi, kerapatan tulangan, cara pemadatan dan jenis

39

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

konstruksi. Menurut PBI 1971 aturan slump untuk beton segar seperti pada gambar
3.21

Gambar 3.21 Slump menurut PBI 1971


Namun pada proyek ini perencana memiliki rekomendasi slump sendiri.
Slump yang diijinkan pada proyek ini dapat dilihat dalam tabel 3.5 berikut.
Tabel 3.5 Sumber slump RKS

Konstruksi Beton
Pelat lantai basement, pile
cap , sloof
Pondasi sumuran

Slump (cm)
122cm
182cm

2. Pengujian kuat tekan


. Pengujian tekan beton dilakukan di Laboratorium yang terakreditasi.
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya kuat tekan beton. Kuat tekan
beton adalah besarnya beban per satuan luas, yang menyebabkan benda uji beton
hancur bila dibebani dengan gaya tekan tertentu oleh mesin tekan. Pembuatan benda

40

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

uji dilakukan sebanyak 3 buah silinder. Tiap silinder ini diuji kekuatan tekannya pada
umur 7 hari, 14 hari, dan 28 hari.

3. Pengujian kuat tarik baja


Mutu baja dibuktikan oleh hasil test laboratorium, Jumlah benda uji minimum
3 buah untuk setiap ukuran penampang dari tiap tahap pengiriman barang. Pengujian
dilakukan di Laboratorium yang terakreditasi. Perencanaan mutu tulangan dapat
dilihat pada table 3.6
Tabel 3.6 Tabel Mutu Baja
Jenis Tulangan

Mutu

D 10 mm

U-39 (fy = 390 Mpa)

< 10 mm

U-24 (Fy=240 Mpa)

4. Perawatan Beton

Untuk menghindari kekeringan yang menyebabkan retak pada beton,


kelembaban beton setelah dicor dijaga dengan cara dibasahi atau dengan alternative
lain.

5. Penyimpanan material
Mutu material merupakan salah satu yang menentukan kekuatan struktur.
Maka mutu material haruslah diperhatikan. Material disimpan sedemikian rupa agar
mutunya tidak menjadi berkurang. Penyimpanan hendaknya dilandasi dengan lantai
yang keras, bersih dan diberi atap agar tidak terkena hujan dan terik matahari secara

41

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

langsung. Cara penyusunan material disusun sedemikian rupa agar mudah bila
diadakan pemeriksaan sewaktu-waktu.
6. Perencanaan Waktu Pelaksanaan Konstruksi
Jangka waktu untuk pelaksanaan proyek Art Deco Luxury Apartemen adalah
450 hari terhitung dari tanggal 1 Mei 2015, tahap awal yang dilakukan adalah tahap
perencanaan yang kemudian direalisasikan dalam kurva S yang dapat di lihat dilihat
pada LAMPIRAN II.6
7. Perencanaan Sistem Management K3
Perencanaan K3 pada proyek Art Deco Luxury Apartemen ini berkaitan
dengan penyusunan Safety Plan. Safety Plan dibuat dengan mengikuti ketentuanketentuan yang dikeluarkan oleh Depnaker selaku instansi yang melakukan kontrol
terhadap hal ini. Safety Plan mencangkup antara lain penyusunan Safety
Management,indetifikasi bahaya kerja dan penanggulangannya, rencana penempatan
alat-alat pengaman seperti pagar, Railing serta rambu-rambu K3 serta rencana
penempatan alat-alat pemadam, dll.

Gambar 3.22 Papan Safety Plan

3.11

42

Evaluasi dan Koordinasi

BAB III PERENCANAAN PELAKSANAAN PROYEK

Dalam pelaksanaan suatu proyek akan selalu timbul masalah-masalah yang


dapat menghambat pelaksanaan pekerjaan, baik yang menyangkut masalah teknis
maupun masalah non teknis. Untuk itu diperlukan adanya evaluasi dan koordinasi
1

semua pihak yang menangani proyek dengan mengadakan rapat:


Rapat Koordinasi
Rapat ini dilaksanakan setiap hari kamis dalam 1 minggu, yang dihadiri oleh
owner, konsultan MK, konsultan perencana, dan kontraktor. Hal-hal yang dibahas

a
b
c
d

dalam rapat ini antara lain:


Menyangkut kemajuan pekerjaan yang telah dicapai
Hambatan-hambatan atau masalah yang mungkin dijumpai dalam pelaksanaan
Perubahan design struktur bila dikehendaki oleh owner.
Mengenai sasaran yang harus dicapai dalam jangka waktu yang telah ditetapkan
sebelumnya.

Rapat Teknis
Rapat ini dilaksanakan setiap hari selassa dalam 1 minggu yang dihadiri oleh

semua unsur yang terlibat dalam proyek. Dalam rapat ini membicarakan :
Evaluasi teknis masalah pelaksanaan di lapangan.
b Permasalahan-permasalahan yang ada di lapangan untuk kemudian dicarikan jalan
a

keluarnya yang terbaik secara bersama-sama.

43