Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN KUNJUNGAN LAPANGAN

REKAYASA LINGKUNGAN
PDAM WAY RILAU BANDAR LAMPUNG

Disusun Oleh
ZAINA KHOERUNNISA NURUL FATH
1215011118

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015

I.

Latar Belakang
Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan formal sangatlah penting.
Apalagi pada saat ini, hampir semua standar pekerjaan diperlukan
sertifikasi formal. Padahal pada kenyataannya, sertifikasi formal belum
tentu menunjukkan pemahaman seseorang pada bidang tertentu.
Sebagai seorang calon engineer, tidak hanya pendidikan formal atau
pemahaman secara teorotis yang diperlukan. Namun pemahaman secara
teknis pun harus dikuasai. Untuk mendapatkan pemahaman teknis ini,
diperlukan pengalaman langsung di lapangan.
Maka dari itu, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas
Lampung mengadakan Kunjungan Lapangan. Khususnya pada mata kuliah
Rekayasa Lingkungan, yang didampingi oleh Dr. Gatot Eko Susilo, S.T.,
M.Sc., agar mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung terjun ke
lapangan untuk memahami tidak hanya secara teoritis namun juga
memahami secara teknis apa yang terjadi di lapangan.

II.

Tujuan
1. Untuk menambah pengetahuan tidak hanya secara teoritis namun juga
secara teknis.
2. Agar mahasiswa lebih paham apa yang dipelajari dan lebih terampil.
3. Membandingkan apa yang telah dipelajari di dalam kelas dengan yang
di pelajari pada kunjungan lapangan.

III.

IV.

Waktu dan Lokasi Kunjungan Lapangan


Hari/tanggal

: Jumat, 5 November 2015

Lokasi

: PDAM Way Rilau, Bandar Lampung

Hasil Kunjungan Lapangan


Pada kunjungan lapangan ke PDAM Way Rilau ini difokuskan pada proses
pengolahan asr bersih. Pengolahan air terjadi dalam suatu bangunan air
yang disebut Instalasi Pengolahan air yang memalui beberapa tahapan,
yaitu ;
1. Flokulator
Pada tahap ini terjadi beberapa proses yaitu sebagai berikut
a. Pengambilan Air Dari Sumbernya (Intake)
Sumber air yang digunakan pertama adalah air olahan,
kemudian dari mata air, dan dari sumur bor. Masuknya air dari
sungai memanfaatkan gaya gravitasi. Pengambilan air baku
dari mata air atau sungai dilengkapi dengan Bar Screen atau
jaring khusus yang bertujuan untuk menyaring benda terapung
sejenis

sampah agar

tidak

sampai

masuk

ke

intake.

Kapasitasnya berkisar 40 liter/detik. Sebab jika sampah sampai


masuk instalasi pengolahan akan mengganggu kerja pompa.
Beberapa lokasi intake pada sumber air yaitu intake sungai,
intake danau dan waduk, dan intake air tanah. Jenis-jenis
intake, yaitu intake tower, shore intake, intake crib, intake pipe
atau conduit, infiltration gallery, sumur dangkal dan sumur
dalam.

b. Prasedimentasi
Untuk sumber air baku yang karakteristik turbiditasnya tinggi,
butuh bangunan yang bentuknya hanya berupa bak sederhana
dan fungsinya untuk pengendapan partikel-partikel diskrit dan
berat seperti pasir dan lain-lain.
c. Koagulasi
Pada proses koagulasi, coagulan dicampur dengan air baku
selama beberapa saat hingga merata. Setelah pencampuran ini,
akan terjadi destabilisasi koloid yang ada pada air baku. Koloid
yang sudah kehilangan muatannya atau terdestabilisasi
mengalami saling tarik menarik sehingga cenderung untuk
membentuk

gumpalan

yang

lebih

besar. Faktor

yang

menentukan keberhasilan suatu proses koagulasi yaitu jenis


koagulan yang digunakan, dosis pembubuhan koagulan, dan
pengadukan dari bahan kimia. Kaporit yang digunakan adalah
3kg/600 liter setiap 8 jam.
d. Tahap Pembentukan Flok
Flok-flok kecil yang sudah terbentuk di koagulator diperbesar
disini. Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk flok yaitu
kekeruhan pada air baku, tipe dari suspended solids, pH,
alkalinitas, bahan koagulan yang dipakai, dan lamanya
pengadukan.

Untuk proses ini, kedalaman kolam yaitu 4 m sampai dasar. Kapasitas


air yang dapat ditampung adalah sekitar 225 l/d pada musim
penghujan. Dan kolam pengolahan air dibersihkan setiap 1 atau 2
bulan sekali.
2. Sedimentasi (Settler)
Sedimentasi adalah pemisahan partikel secara gravitasi setelah
endapan terbentuk dari proses koagulasi flokulasi. Pada bak
sedimentasi dilengkapi tube settler yang bertujuan mempercepat
proses pengendapan. Settler ini juga berfungsi agar sedimen yang
melayang tidak naik ke permukaan dan masuk ke gutter yang
mengarah ke bak selanjutnya (filtrasi).

gutter
setler

tempat
pembuangan

Gambar 1. Bak Sdimentasi (tampak samping)

3. Filtrasi Air
Penyaring yang digunakan adalah rapid sand filter (filter saringan
cepat). Sand filter jenis ini berupa bak yang beriisi pasir silica yang
berfungsi untuk menyaring flok halus dan kotoran lain yang lolos dari

klarifier (clearator). Air yang masuk ke filter ini telah dicampur


terlebih dahulu dengan klorin dan tawas. Media penyaring biasanya
lebih dari satu lapisan, yaitu pasir silica, gravel, nosel dan batu dengan
mesh tertentu. Air mengalir ke bawah melalui media tersebut. Zat-zat
padat yang tidak larut akan melekat pada media, sedangkan air yang
jernih akan terkumpul di bagian dasar dan mengalir keluar melalui
suatu pipa menuju reservoir.

buang lumpur

Gambar 2. Filtrasi pada Intake


4. Desinfektan
Proses ini disebut juga proses klorinasi yang merupakan pembubuhan
zat disenfektan (kaporit) dengan tujuan membunuh bakteri dan
mencegah adanya lumut yang mungkin ada di bak di reservoir,
jaringan pipa distribusi hingga sampai ke pelanggan. Kadar klor yg
diharapkan 0,1 sedangkan yang ada di reservoir.
5. Reservoir
Reservoir berfungsi sebagai tempat penampungan air bersih yang telah
disaring melalui filter, air ini sudah menjadi air yang bersih yang siap
digunakan dan harus dimasak terlebih dahulu untuk kemudian dapat
dijadikan air minum. Kedalaman bak ini mencapai 9 m sampai dasar.
Air bersih yang telah diolah harus dipastikan kualitasnya dengan
melakukan beberapa analisa atau tes terhadap parameter yang dianggap
penting sehingga air yang didistribusikan pada masyarakat memenuhi baku
mutu. Dan kehilangan air saat produksi tidak boleh melebihi 3% dari
seluruh jumlah produksi. Dan pada PDAM Way Rilau ini dilakukan
pengecekan kualitas air setiap 2 jam sekali. Analisa-analisa yang dilakukan
yaitu;

1. Comperator pH
a. Sampel dimasukkan dalam tabung reaksi sebanyak 10 ml
b. Sampel ditetesi dengan indikator Bromthymol Blue (BTB)
sebanyak 4-6tetes, lalau diaduk
c. Kemudian dinasukkan di sebelah kiri bagian dalam comperator
d. Dibandingkan warna sampel dengan warna standart pada
comperator dengan memutar roda standart comperator, apabila
warna tersebut telah sama lalu dibaca nilainya.
pH rata-rata yang tercatat untuk air yang berada di reservoir adalah
7,3.
2. Comperator Klor
a. Dimasukkan sampel ke dalam tabung sebanyak 10 ml
b. Ditetesi dengan indikator otolidine reagent sebanyak 4-6 tetes,
lalu diaduk
c. Tempatkan sampel pada sebelah kanan bagian dalam
comperator
d. Nilai sisa klor dihitung dengan membandingkan warna sampel
dengan warna standart yang sama
V.

Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
PDAM Way Rilau Bandar Lampung melakukan lima tahapan dalam
pembuatan air bersih, yaitu :
a. Flokulator
a) Pengambilan Air Dari Sumbernya (Intake)
b) Prasedimentasi
c) Koagulasi
d) Flokulator
b. Sedimentasi
c. Filtrasi
d. Desinfektan
e. Reservoir
PDAM Kabupaten Way Rilau Bandar Lampung berperan penting
untuk penyaluran air bersih ke masyarakat Bandar Lampung.

2. Saran
a. PDAM Way Rilau Bandar Lampung harus melakukan kontrol
sepenuhnya dalam proses penyaluran, seperti: mengontrol pipapipa, masih layak atau tidak, serta kendala-kendala lain yang
memnyebabkan ketidakpuasan masyarakat.
b. Kunjungan lapangan seperti ini sebaiknya diperbanyak, agar
pengetahuan lapangan yang didapat dapat lebih banyak. Karena
dalam satu kali kunjungan seerti ini, hanya dapat memfokuskan
pada satu permasalahan, sedangkan sebagai mahasiswa dan
calon engineer perlu pengetahuan lebih banyak mengenai
permasalahan yang ada di lapangan.