Anda di halaman 1dari 21

TUGAS ELEKTIF BEDAH MULUT

INJEKSI ANASTESI

OLEH:
Kelompok B1
Suci Dwi Puspita
Dewi Putri Utami
Helsi Nadia Riani
Hendrik Redhian
Hesti Rahmiati
Repika Ayu Yulanda
Priskilla Rahmiati
Margaret Yunita

04121004005
04121004001
04121004043
04121004007
04121004054
04121004057
04121004046
04121004049

Erni Haryanti
Falensia Octaria
Anna Pratiwi
Rismaulina S
Evi Novianti
Catherine Videllia
Yurika Handayani

04121004002
04121004006
04121004010
04121004011
04121004051
04121004053
04121004013

Dosen Pembimbing: drg. Purwandito Pujoraharjo, MM

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015
INJEKSI ANASTESI

1. DEFINISI
Anestesi adalah langkah awal yang wajib dilakukan sebelum seseorang menjalani
prosedur pembedahan.
Anestesi diberikan untuk memblokir sementara sensasi rasa sehingga memungkinkan
pasien menjalani operasi dan prosedur kesehatan lainnya tanpa rasa sakit.
Anestesi harus diberikan secara hati-hati karena bekerja pada sistem saraf pusat pasien.
Oleh karena itu, dosis yang tidak benar akan mengganggu kerja seluruh sistem saraf pusat.
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, disuntikkan secara merobek
jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Pemberian injeksi merupakan
prosedur invasif yang harus dilakukan dengan menggunakan teknik steril. Karakteristik
jaringan mempengaruhi kecepatan penyerapan obat dan kerja obat,oleh karenanya sebelum
menyuntik obat harus diketahui volume obat yang akan diberikan, karakteristik obat dan
letak atau anatomi tempat yang akan disuntik
2. TUJUAN
Mempercepat proses penyerapan (absorbsi) obat untuk mendapatkan efek obat yang cepat.
3. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT INJEKSI
Pemberian obat secara injeksi dapat berfungsi sebagaimana mestinya, maka kita harus
memperhatikan beberapa hal berikut ini :
a)
b)
c)
d)
e)

Jenis spuit dan jarum yang digunakan


Jenis dan dosis obat yang diinjeksikan
Tempat injeksi
Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi
Kondisi/penyakit klien

4. CARA MENCEGAH INFEKSI SELAMA INJEKSI

Salah satu efek yang bisa ditimbulkan dari pemberian obat secara injeksi adalah dapat
menimbulkan infeksi. Adapun cara-cara yang dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi
selama injeksi dilakukan yaitu :

Untuk mencegah kontaminasi larutan, isap obat dari ampul dengan cepat. Jangan

biarkan ampul dalam keadaan terbuka.


Untuk mencegah kontaminasi jarum, cegah jarum menyentuh daerah yang
terkontaminasi (misalnya, sisi luar ampul atau vial, permukaan luar tutup jarum,

tangan perawat, bagian atas wadah obat, permukaan meja)


Untuk mencegah spuit terkontaminasi, jangan sentuh badan penghisap (plunger)
atau bagian dalam karet (barrel). Jaga bagian ujung spuit tetap tertutup penutup atau

jarum.
Untuk menyiapkan kulit, cuci kulit yang kotor karena kotoran, drainase atau feses
dengan sabun dan air, lalu keringkan. Lakukan gerakan mengusap dan melingkar
ketika membersihkan luka menggunakan swab antiseptik. Usap dari tengah dan
bergerak keluar dalam jarak dua inci.

Tindakan Pencegahan
a. Mencuci Tangan
Hal-hal yang digunakan saat mencuci tangan:
1. Dekontaminasi tangan rutin dengan sabun dan air mengalir
2. Desinfeksi kulit (hibiscrub, handyclean)
Mencuci tangan harus dilakukan pada waktu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Sebelum dan sesudah melakukan tindakan


Setelah kontak dengan cairan tubuh
Setelah memegang alat yang terkontaminasi ( jarum, cucian )
Sebelum dan sesudah kontak dengan pasien di ruang isolasi
Setelah menggunakan kamar mandi
Sebelum melayani makan dan minum
Pada saat akan tugas dan akhir tugas

Gambar1. cara mencuci tangan


b. Pemakaian sarung tangan
Sarung tangan dapat mencegah penularan patogen melalui cara kontak langsung
maupun tidak langsung. Berikut alasan untuk mengenakan sarung tangan:
1. Mengurangi kontak langsung tenaga kesehatan dengan organisme infeksius yang
menginfeksi pasien
2. Mengurangi kemungkinan tenaga kesehatan akan memindahkan mereka sendiri ke
pasien
3. Mengurangi kemungkinan pekerja kesehatan menjadi tempat kolonisasi sementara
mikroorganisme yang dapat dipindahkan kepada pasien lain.
Contoh-contoh sarung tangan yang sering digunakan untuk melindungi diri dari kuman
patogen:
1. Sarung tangan steril
2. Sarung tangan DTT
3. Sarung tangan bersih
4. Sarung tangan rumah tangga
c. Memakai perlengkapan perlindungan
Perlengkapan perlindungan yang sering dipakai adalah kaca mata dan masker.
Dipakai pada prosedur invasive yang dapat menimbulkan adanya droplet dari darah atau
cairan tubuh lainnya. Kaca mata dipakai untuk mencegah droplet mengiritasi mata. Masker
digunakan untuk menghindari terhirupnya mikroorganisme dan mencegah penularan
patogen.

d. Pemakaian Gwon
Alasan mengenakan gwon adalah mencegah agar pakain tidak kotor selama kontak
dengan pasien. Gwon melindungi petugas kesehatan kontak dengan bahan dan darah atau
cairan dari tubuh pasien yang terinfeksi.
e. Menerapkan Teknik Aseptik
Bertujuan untuk membasmi sejumlah mikroorganisme pada permukaan hidup (kulit
dan jaringan) dan obyek mati (alat-alat bedah dan barang-barang yang lain).
f. Memproses Alat Bekas Pakai
Alat dan instrument yang telah dipakai harus disterilkan kembali agar
mikroorganisme patogen yang menempel pada alat dan instrument tidak menjadi penyebab
penularan ke pasien lain pada saat alat dan instrument akan digunakan kembali.Ada tiga
proses/langkah pokok yang dilakukan:

Melakukan dekontaminasi merupakan langkah untuk menangani peralatan,


perlengkapan, sarung tangan atau benda-benda lain yang terkontaminasi.
Dekontaminasi adalah tindakan yang dilakukan untuk memastikan bahwa petugas
kesehatan dapat menangani secara aman berbagai benda yang terkontaminasi darah

atau cairan tubuh lainnya.


Cuci dan bilas gunakan detergen atau sikat, pakai sarung tangan tebal. Kuman

akan hilang 80 % dengan sabun/detergen dan hanya hilang 50 % tanpa sabun.


DTT dan sterilisasi setelah alat dicuci bersih dan dikeringkan lakukan DTT atau
sterilisasi sebelum digunakan kembali.
a.
DTT dilakukan dengan cara: merebus selama 20 menit dalam panci tertutup
b.

lalu merendam dengan bahan kimia selama 20 menit (larutan klorin 0,1 %)
Sterilisasi dilakukan dengan otoklaf (1200 C) selama 30 menit jika
terbungkus dan cukup 20 menit jika tidak terbungkus. Sedangkan metode
panas kering (1700 C) selama 60 menit.

g. Menangani Peralatan Tajam Dengan Aman

1. Hati-hati saat melakukan penjahitan agar tidak tertusuk jarum secara tidak sengaja
2. Jangan menutup kembali, memelengkungkan, mematahkan atau melepaskan jarum
yang akan dibuang
3. Buang benda-benda tajam dalam wadah anti bocor dan segel dengan perekat jika
sudah dua pertiga penuh wadah benda tajam tadi harus dibakar dalam insinerator.
4. Jika tidak dapat dibakar dalam insinerator maka jarum harus dibilas 3x dengan
larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi. Tutup lagi ujung jarum dengan
penutupnya menggunakan tehnik satu tangan (one hand tehnik) lalu ditanam dalam
tanah.
5. Tempat sampah hitam sampah tidak kontaminasi
6. Tempat sampah kuning sampah terkontaminasi
h. Penanganan Sampah/Limbah
Adapun tujuan penanganan sampah/limbah adalah sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.

Melindungi petugas pembuangan sampah dari perlukaan


Melindungi penyebaran infeksi terhadap para petugas kesehatan
Mencegah penularan infeksi terhadap para petugas kesehatan
Mencegah penularan infeksi pada masyarakat sekitarnya
Membuang bahan-bahan berbahaya (bahan toksik dan radioaktif) dengan aman

5. MACAM-MACAM CARA PEMBERIAN INJEKSI

(Gambar 2.Macam-Macam Pemberian Anastesi)


A. Injeksi Intra Dermal / Intra Cutan (IC) :
Adalah memasukkan sejumlah zat/cairan ke lapisan di antara kulit dengan jarum suntik.
Cairan yang disuntikkan biasanya dalam jumlah yang sangat kecil 0,1-0,5 cc. Obat yang
sering diberikan dengan cara injeksi intradermal adalah kostrikosteroid dan tes mantoux.
Indikasi
1.
2.
3.
4.

Pasien yang membutuhkan tes alergi (mantoux tes).


Pasien yang akan melakukan vaksinasi.
Menegakkan diagnosa penyakit.
Sebelum memasukkan obat.

Kontraindikasi
1. Pasien yang mengalami infeksi pada kulit.
2. Pasien dengan kulit terluka.
3. Pasien yang sudah dilakukan skin tes.
Prosedur
1. Bersihkan daerah penyuntikkan dengan kapas alkohol
2. Regangkan daerah kulit yang akan disuntik, lalu tusukkan ujung jarum suntik dalam
posisi 10 , posisi lubang jarum mengarah ke permukaan atas.

3. Lalu posisi jarum disejajarkan kulit sampai jarum menembus lapisan antara stratum
corneum. Panjang jarum yang masuk tidak perlu seluruhnya ditusukkan tapi
disesuaikan dengan kebutuhan.
4. Jika sudah yakin bahwa jarum sudah berada di antara lapisan kulit, larutan dalam
syringe boleh diinjeksikan.
5. Jika posisi injeksi sudah benar, maka permukaan kulit akan tampak menggembung,
seperti tanda fluktuasi.
6. Setelah semua larutan diinjeksikan, jarum dicabut perlahan-lahan dan kulit daerah
bekas tusukan dihapus dengan menggunakan kapas alkohol.
B. Injeksi Subkutan (SC)
Adalah memasukkan sejumlah zat/cairan ke bawah kulit dengan jarum suntik. Cairan
yang disuntikkan biasanya dalam jumlah kecil.
Indikasi
1.
2.

Dilkakukan pada pasien yang tidak sadar


Pasien yang tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan

3.

obat secara oral


Tidak alergi

Kontra Indikasi
1.
2.
3.
4.

Luka
Berbulu
Alergi
Infeksi kulit

Lokasi Penyuntikan
1.
2.

Paha bawah bagian depan


Perut, bagian bawah umbilicus

Prosedur
1.
2.

Bersihkan kulit tempat akan dilakukan penyuntikan dengan kapas alkohol


Pegang daerah kulit yanga kan disuntik, kemudian tusukkan ujung jarum suntik
dalam posisi miring 45

3.
4.

Jika jarum sudah masuk semuanya, lepaskan pegangan tangan anda


Jika yakin bahwa jarum sudah masuk di ruang subcutaneus, larutan dalam syringe

5.

boleh diinjeksikan
Setelah larutan semuanya sudah diinjeksikan, jarum dicabut perlahan-lahan dan
kulit daerah bekas tusukam ditekan denganmenggunakan kapas alkohol.

C. Injeksi Intra Vena (IV)


Adalah memasukkan sejumlah zat/cairan ke dalam sistem peredaran darah melalui vena
dengan jarum suntik. Efek zat akan sangat cepat menyebar ke seluruh bagian tubuh
penderita, karena langsung masuk ke pembuluh darah.
Lokasi penyuntikan
1.
2.
3.
4.

V. mediana cubiti
V. basilica
V. antebrachial medianus
V. cephalica

Indikasi
1.

Pasien yang membutuhkan, agar obat yang di berikan dapat di berikan dengan

2.
3.
4.
5.
6.

cepat.
Pasien yang terus menerus muntah muntah
Pasien yang tidak di perkenankan memasukkan apapun juga lewat mulutnya.
Typoid
Sesak nafas
Epilepsi atau kejang kejang

Kontraindikasi
1.
2.

Pasien alergi terhadap obat (misalnya mengigil, urticaria, shock, collaps dll)
Pada bekas suntikan dapat terjadi apses, nekrose atau hematoma

Prosedur
1.
2.
3.

Palpasi daerah lengan atau fossa cubiti untuk menetukan lokasi dan memilih vena.
Pasang manset tourniquet sekeliking lengan atas.
Bersihkan kulit tempat menyuntik dengan kapas alkohol.

4.

Lokasi penyuntikan ditahan dengan ibu jari penyuntik, kemudian mulai tusukkan

5.
6.

jarum suntik syringe secara hati-hati.


Tusukkan jarum syringe secara miring sambil menyususr vena yang akan ditusuk.
Tarik perlahan pendorong syringe dan lakukan aspirasi untuk memeriksa apakah
jarum syringe yang kita tusukkan sudah benar masuk ke pembuluh vena atau
belum. Jika tampak darah, berarti jarum sudah menembus vena. Jika masih belum

7.

tampak darah, susuri sampai berhasil.


Jika sudah tampak darah, lepaskan tourniquet lalu injeksikan cairan dalam syringe

8.

dengan cara menekan pendorong syringe secara perlahan.


Setelah cairan dalam syringe sudah habis, cabut jarum perlahan kemudian kulit
bekas tusukan tekan dengan hati-hati dengan kapas alkohol, kemudian boleh
ditutup dengan plester.

D. Injeksi Intramuscular (IM) :


Adalah memasukkan sejumlah zat/cairan ke dalam otot dengan jarum suntik. Cairan
yang digunakan biasanya dalam jumlah kecil, antara 0,5-10 cc. Obat yang sering
diinjeksikan cara im : metoclopramide, codein, suntikan KB dan macam-macam vaksin.

Indikasi
1. Pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan

untuk diberika obat secara oral


2. Bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, benjolan tulang, otot atau saraf besar
dibawahnya
Kontra indikasi
1.
2.
3.
4.
5.

Infeksi
Lesi kulit
Jaringan parut
Benjolan tulang
Otot atau saraf besar dibawahnya

Lokasi penyuntikan

1.
2.
3.

Daerah glutea : penderita dipersilahkan berbaring


Daerah deltoid : penderita boleh berdiri atau duduk
Daerah paha : penderita boleh berbaring atau duduk.

Prosedur
1.
2.

Bersihkan kulit tempat menyuntik dengan kapas alkohol


Pegang daerah kulit dan otot yang akan disuntik kemudian tusukkan jarum suntik

3.
4.

dalam posisi 90 atau tegak lurus, tindakannya harus tepat dan cepat
Setelah jarum sepenuhnya masuk, lepaskan pegangan tangan anda
Tarik perlahan pendorong syringe dan lakukan aspirasi untuk memeriksa apakah
jarum syringe yang ditusukkan masuk ke pembuluh darah atau tidak. Jika tampak
darah, jarum segera dicabut dan daerah bekas tusukan ditekan dengan kapas
alkohol. Lalu lakukan injeksi di lokasi lain dengan menggunakan jarum baru.

6. PERALATAN
SPUIT
A. Definisi
Spuit (syringe) adalah satu dari tiga komponen penting peralatan anastesi local (selain
jarum suntik dan cartridge tabung silinder yang berisi bahan anastetikum). Spuit merupakan
sebuah alat yang memindahkan bahan anastetikum dari cartridge ke tubuh pasien melalui
jarum suntik.

Gambar 3. Components of a standard local anesthetic syringe. A. Needle adaptor; B.


Syringe barrel; C. Harpoon; D. Piston; E. Guide gearing; F. Spring; G. Finger grip; H.
Thumb ring

B. Macam-Macam/Tipe

Terdapat tujuh macam spuit yang digunakan untuk anastesi local dalam dunia
kedokteran gigi, yaitu sebagai berikut :
1. Non-disposable
Breech-loading, metallic, cartridge-type, aspirating
Breech-loading, plastic, cartridge-type, aspirating
Breech-loading, metallic, cartridge-type, self-aspirating
Pressure
Jet injector
2. Disposable
3. safety syringe
C. Indikasi
1. Non-disposable
Non-disposable spuit merupakan spuit yang dapat dipakai beberapa kali setelah
disterilkan terlebih dahulu.
a. Breech-loading, metallic, cartridge-type, aspirating
Breech-loading memiliki arti bahwa cartridge dapat dimasukkan ke dalam
spuit. Metallic berarti spuit terbuat dari bahan logam. Beberapa logam yang
sering dipakai adalah chrome-plated brass dan stainless stell. Cartridge-type
artinya spuit berbentuk cartridge, yaitu berbentuk tabung silinder. Aspirating
berarti spuit memiliki suatu alat seperti tip atau harpoon yang melekat pada
piston dan digunakan untuk penetrasi karet tebal atau silicone rubber pada
ujung yang berlawanan dari cartridge (dari jarum). Secara ringkas, spuit ini
dapat melakukan aspirasi sebelum bahan anastetikum dideposit.

Gambar 4. Breech-loading, metallic, cartridge-type, aspirating

b. Breech-loading, plastic, cartridge-type, aspirating


Spuit ini hampir sama dengan Breech-loading, metallic, cartridge-type,
aspirating spuit, hanya saja spuit ini terbuat dari bahan plastic yang dapat
disterilkan dengan autoclave atau menggunakan bahan kimia.

Gambar 4. Breech-loading, plastic, cartridge-type, aspirating

c. Breech-loading, metallic, cartridge-type, self-aspirating


Spuit ini menggunakan elastisitas dari diafragma karet pada cartrudge
anastesi untuk memperoleh tekanan negative pada saat aspirasi.

Gambar 5. Breech-loading, metallic, cartridge-type, self-aspirating

d. Pressure
Indikasi : injeksi periodontal ligament atau injeksi intraligament.
e. Jet injector
Indikasi : anastesi mukosa pada palatum dan injeksi supraperiosteal.

Gambar 6. A. Pressure syringe; B. Jet injector

2. Disposable
Disposable spuit adalah spuit yang hanya dapat digunakan untuk satu kali
pemakaian.

Indikasi : anastesi intramuscular, anastesi intravena, dan anastesi intraoral.

Gambar 7. Disposable syringe

3. Safety syringe
Spuit ini dapat meminimalisasi resiko luka pada operator yang disebabkan oleh
tertusuk jarum suntik yang telah terkontaminasi setelah injeksi dilakukan kepada pasien.

Gambar 8. Safety syringe

JARUM SUNTIK
A. Definisi
Jarum suntik merupakan alat yang berfungsi meyalurkan anastetikum dari
dental catridge ke jaringan sekitar yang berada di ujung jarum suntik. Jarum suntik
terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
a. Bevel, merupakan bagian ujung dari jarum suntik. Biasanya pabrik
membagi ukurannya menjadi long, medium, dan short.
b. Shank atau shaft, terdiri dari diameter jarum suntik dan panjang shank

yaitu dari ujung ke hub.


c. Hub, bagian plastik atau logam yang menghubungkan antara jarum
suntik dengan syringe.
d. Syringe-penetrating end.

Gambar 9. Komponen jarum suntik


B. Macam- macam jarum suntik
Berdasarkan bahan
Stainless steel
Platinum atau campuran Iridium-Platinum
Campuran Ruthenium-Platinum
Jarum suntik yang terbuat dari stainless steel lebih direkomendasikan dan
sebaiknya penggunaan jarum suntik yang berulang harus dihindari.

Berdasarkan bentuk ujung jarum dan ukuran jarum


Bevel merupakan ujung dari jarum. Bevel dibuat oleh pabrik dalam bentuk
panjang , medium, dan pendek. Semakin besar sudut bevel dengan sumbu
panjang jarum, semakin besar derajat defleksi (pembelokkan) ketika jarum
melewati jaringan lunak mulut. Sebuah jarum yang ujungnya berada di tengah
panjang sumbu (misalnya The Huber point, the Truject Needle) akan
membelokkan ke tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan jarum dengan
bentuk ujung yang miring. Beberapa pabrik jarum dental menempatkan
indikator pada plastik atau metal hub untuk membantu dokter memposisikan
ujung jarum selama insersi dan injeksi obat.

Gambar 10. A. sebuah ujung jarum non-defleksi yang terletak di tengah shaft
sehingga meminimalkan deflesi(pembelokkan) ketika jarum berpenetrasi ke
dalam jaringan lunak. B. Jarum dental konvensional. Ujung jarum terletak di
tepi bawah shaft jarum, sehingga menghasilkan defleksi ketika jarum melewati
jaringan lunak.
Sedangkan ukuran jarum, semakin kecil nomornya maka semakin besar diameter
jarum suntik tersebut. Ukuran 30 memiliki diameter lubang jarum suntik lebih kecil
dibandingkan ukuran 25. Ada asumsi bahwa dengan menggunakan jarum suntik
berdiameter kecil akan mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh pasien.
Diameter jarum yang lebih besar (ukuran 25) memiliki perbedaan yang khas
dibandingkan dengan jarum ukuran kecil, antara lain adalah penyimpangan atau
pembelokkan yang terjadi saat melewati jaringan sangat kecil. Ini akan menghasilkan
keakuratan sehingga diharapkan injeksi sukses terutama untuk injeksi pada jaringan yang
dalam misalnya alveolar inferior, Gow Gates ,mandibular, Akinosi mandibular dan blok
nervus infraorbital. Selain itu, untuk daerah yang memiliki kemungkinan aspirasi positif
juga disarankan untuk menggunakan jarum suntik berdiameter besar (misalnya ukuran
25).

Berdasarkan fungsi

1. Alat suntik yang dipakai berulang-ulang (Nondisposible Syringes) :


a. Breech-loading , logam, tipe karpul, aspirasi.
b. Breech-loading , plastik, tipe karpul, aspirasi.
c. Breech-loading , logam, tipe karpul, aspirasi sendiri.
d. Alat suntik dengan tekanan untuk penyuntikan jaringan
periodontal ( pressure syringe )
e. Alat suntik tanpa jarum ( jet injector ).
2.

Alat suntik sekali pakai ( disposible syringes ).

3.

Alat suntik safety

4. Alat suntik sistim komputer

Gambar 11. Breech-loading , logam, tipe karpul, aspirasi

Gambar 12. Breech-loading , logam, tipe karpul, aspirasi sendiri

Gambar 13. pressure syringe

Gambar 14. Alat suntik tanpa jarum (jet injector)

Gambar 15. Alat suntik sekali pakai (disposible syringes)

Gambar 16. Alat suntik safety

Gambar 17. Alat suntik sistim komputer

Kesimpulan
Anestesi diberikan untuk memblokir sementara sensasi rasa sehingga memungkinkan
pasien menjalani operasi dan prosedur kesehatan lainnya tanpa rasa sakit.
Anestesi harus diberikan secara hati-hati karena bekerja pada sistem saraf pusat pasien.
Oleh karena itu, dosis yang tidak benar akan mengganggu kerja seluruh sistem saraf pusat.
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, disuntikkan secara merobek
jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Tujuan dari injeksi
mempercepat proses penyerapan (absorbsi) obat untuk mendapatkan efek obat yang cepat.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan saat injeksi. Pemberian injeksi bervariasi
antara lain cutan, subcutan, intravena, dan intramuscular. Serta terdapat berbagai
karakteristik dari spuit maupun jarum suntik. Selain itu yang paling penting adalah terdapat
cara pencegahan infeksi selama injeksi yang harus diperhatikan.

Daftar Pustaka
Fragiskos D. Fragiskos. 2007. Oral surgery. Hiedelberg : Springer, halaman 9.
Idayanti. Hubungan pengetahuan dan sikap perawat terhadap penerapan standar
operasional

prosedur teknik menyuntik dalam upaya pencegahan infeksi di RSUD

Arifin Achmad, Pekan Baru. Tesis. Medan: Universitas Sumatera Utara. 2008.
Mallamed ,S.F. 2011Handbook of Local Anesthesia. Edisi VI. St. Louis,Missouri. Elsevier
Mosby.