Anda di halaman 1dari 42

TEKNIK ANESTESI DI RONGGA MULUT

Disusun Oleh:
1. Rhian Surya P
2. Yelli Sidabutar
3. Silvia Dwi Gina
4. Annisa Anggita P
5. Cindy Hulwani
6. Vanny Putri Natasha
7. Aisyah Humairah
8. Putri Bintang P
9. Ahdiat Sukmawan

(04101004018)
(04101004023)
(04121004016)
(04121004018)
(04121004023)
(04121004025)
(04121004026)
(04121004028)
(04121004030)

10. Putri Anggun (04121004031)


11. Debby Aprilia (04121004033)
12. Aisyah Rahmania (04121004034)
13. Gadis Pinandita (04121004037)
14. Afif R Thabrani (04121004044)
15. Yeza Safitri
(04121004045)
16. Ria Mayanti
(04121004056)
17. Catharine Swasti (04121004069)
18. Intan Ardita
(04121004071)

Dosen Pembimbing:
drg. Purwandito Pujoraharjo
drg. Valentino Haksajiwo, Sp. BM, M.Kes
drg. Ickman Setoaji Wibowo

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015
1. ANESTESI RAHANG ATAS

1.1. ANATOMI RAHANG ATAS


Tulang Maksila adalah tulang wajah pada manusia yang primitif yang
membagi wajah menjadi dua bagian yaitu orbita dan tulang rahang yang ada
dibawahnya. Tulang maksila akan menyokong gigi pada rahang atas, namun tidak
seperti mandibula (rahang bawah) yang bergerak pada saat pengunyahan, maksila
justru tidak bergerak. Tulang maksila terdiri atas dua buah maxilla yang menyatu di
tengah.1
Tampak Depan
1
2

3
4

7
6

Gambar 1. Tulang rahang atas tampak depan

Tulang maksila atau rahang atas ini merupakan salah satu batasan dari rongga
mulut.karena secara anatomis, yang dimaksud dengan rongga mulut (oral cavity)
adalah suatu rongga di kepala yang dibatasi oleh tulang rahang atas dan tulang
rahang bawah serta tulang-tulang lainnya bersama otot-otot dan jaringan lain yang
melekat pada tulang-tulang tersebut. Tulang maksila ini juga memberikan tempat
bagi gigi geligi rahang atas melalui procesuss alveolar, dimana fungsinya ialah
sebagai pendukung akar gigi. Tulang maksila juga membentuk kerangka bagian
anterior pipi, serta tulang maksila juga membatasi rongga mulut dan rongga hidung
melalui langit-langit keras (palatum durum).2,3
1. Processus Frontalis
Terletak pada bagian atas maksila berada diantara tulang hidung dengan tulang
lakrimalis. Prosesus frontal adalah pelat yang kuat, yang berproyeksi ke bagian
atas, medial, dan belakangdi sisi hidung, membentuk bagian dari batas
lateral.Permukaan medial yang merupakan bagian dari dinding lateral rongga
hidung, pada bagian atasnya adalah kasar, daerah tidak merata, yang
berartikulasi dengan ethmoid, menutup dalam selethmoidal anterior. Batas atas
berartikulasi dengan tulang frontal dan anterior dengan hidung, batas posterior
tebal, dan cekung ke dalam alur, yang berlanjut ke bawah dengan alur lakrimal
pada permukaan hidung tubuh.Tepi infraorbital meluas ke arah medial dan atas
untuk membentuk proses frontal rahang atas. Dari anterior ke lempengan
orbital, procesus frontalis memanjang di atas apertura piriformis lalu bertemu
dengan tulang nasal dan frontal. Pada bagian superior p.frontalis berartikulasi
membentuk jahitan bergerigi dengan dengan tulang frontal, bagian medial
dengan tulang hidung, dan bagian posterior dengan tulang lakrimal. P.frontalis
memiliki permukaan orbital yang halus yang membentuk puncak lakrimal
vertical anterior. Sedangkan posterior puncak lakrimal anterior adalah alur
yang membentuk kanal nasolacrimal.1,4
2. Sutura Frontomaxillaris
Perbatasan yang berupa jahitan antara tulang frontal dengan tulang maksila.
3. Sutura Nasomaxillaris
Batasan antara os.nasale dengan os.maksilae
4. Foramen Infraorbital
Bagian superior tulang rahang atas menebal pada inferior concavity yang
membentuk tepi infraorbital. Sekitar 5-7mm lebih rendah dari tepi infra orbita,

terletak foramen infraorbital, yang merupakan tempat dimana cabang infra


orbital dari nervus maxillaris dan arteri infra orbital dari arteri maxillaris
muncul pada wajah.2,5
5. Fossa Canina
Fosa canina yang merupakan lubang dalam bagian belakang, yang ditandai
oleh foramen infraorbitalis di bagian atas, tepi alveolaris di bagian bawah, dan
prosesus zigomatikum di bagian depan. Permukaan malar dari maxilla
berbentuk cekung disebut fossa caninus. Dari pandangan superior permukaan
malar bersambung dengan lempeng orbital dari maxilla yang membentuk dasar
orbital.
6. Sutura Intermaxillaris
Pertemuan antara dua maksila yg berada di central
7. Spina Nasalis Anterior
Tulang naso spinal anterior merupakan proyeksi tulang tajam yang berada garis
bawah aperture pada garis tengah.5
8. Processus Alveolaris
Terletak pada bagian inferior badan maksila, yang akan menyokong gigi geligi
pada soketnya. Proseus alveolar adalah bagian dari tulang yang paling tebal
dan menyerupai spons. Memiliki rongga yang dalam untuk penerimaan gigi.
Rahang atas masing-masing dapat berisi kuadran penuh dari 8 gigi permanen
atau 5 gigi sulung yang bervariasi dalam ukuran dan kedalaman sesuai dengan
gigi yang dikandungnya.5,7. Bahwa rongga untuk gigi taring adalah yang
terdalam, untuk geraham adalah yang terluas, dan dibagi lagi menjadi rongga
kecil oleh septa, sementara rongga untuk gigi seri tunggal tetapi dalam dan
sempit. Buccinator muncul dari permukaan luar dari prosesus ini. Ketika dua
maksila diartikulasikan dengan satu sama lain, proses alveolar mereka
bersama-sama membentuk lengkungan alveolar, pusat margin anterior
lengkungan ini bernama titik alveolar. Bentuk alveolus tersebut terkait dengan
tuntutan fungsional yakni penempatan gigi. Dasarnya, prosesus alveolar terdiri
dari dua plat paralel tulang kortikal, piring alveolar bukal dan palatal, antara
yang terletak soket gigi individu. antara masing-masing soket terdapat septa
interalveolar atau interdental. Lantai soket disebut fundus. Pada gigi dengan
akar ganda, soket dibagi oleh septa interradicular. Daerah apikal soket gigi
anterior yang terkait erat dengan fosa hidung, sedangkan yang dari gigi
posterior erat terkait dengan antra maksilaris.

Gambar 2. Tulang rahang atas tampak lateral

Gambar 3. Tulang rahang atas tampak lateral


a. Processus Frontalis, Crista Lacrimalis Anterior
Sebuah tonjolan vertikal pada processus frontalis rahang atas yang merupakan
bagian dari margin medial rongga mata
b. Foramen Infraorbitale
Berada di bawah tepi infraorbital, melalui tempat di mana cabang infra orbital
dari nervus maxillaris dan arteri infra orbital dari arteri maksilaris muncul pada
wajah.
Terdapat dua foramen infraorbital di bawah margo infraorbitalis sebagai tempat
lewatnya pembuluh darah dan saraf infraorbital.
c. Crista Zygomatioalveolaris
d. Fossa Canina
e. Incisura Nasalis
Sinonim untuk nasal notch. Merupkan takik diperbatasan medial anterior
rahang atas yang, dengan sesama, membentuk sebagian besar pembukaan
Piriform dari rongga hidung
f. Juga Alveolaris
Batas anterior kantong-kantong gigi yang menonjol.5
g. Facies Anterior
Facies anterior dari tulang dikelilingi dibagian atas oleh margo infraorbitalis
dibagian bawah oleh arcus alveolar maksila, di bagian medial oleh aperture
nasa dan sutura intermaxillaris dan dilateral oleh processus zygomaticus. Pada
permukaan ini melekat berbagai otot ekspresi dan membuka pada permukaan
ini kebawah garis median margo orbitalis adalah foramen infraorbitale yang
mengeluarkan cabang-cabang terminal dari m. nerves infraorbitalis dan
pembuluh darah, facies anterior biasanya memilika dua depresi dangkal yaitu
fossa prenasalis dan fossa canina.
h. Fossa prenasalis
Diatas soket gigi insisisvus dan dibawah tepi bawah cavum nasi dan dikelilingi
lateral oleh tuber canina yang dibentuk oleh dinding luar roket gigi caninus.5,6

i. Processus Alveolaris
j. Tuberositas Maksila
Tuberositas maksila adalah tulang keras, besar dan bulat pada permukaan luar
rahang atas.

Berlokasi di area gigi posterior, dibelakang gigi molar dan

ditutupi oleh jaringan

keras gusi. Masalah dapat dihasilkan pada bagian

mulut ini selama prosedur dental, seperti pencabutan gigi. Saraf alveolar
posterior superior biasanya menembus permukaan belakang tuberositas
maksila. Saraf alveolar superior adalah saraf

yang

menyebabkan

seseorang memiliki sensasi pada gigi molar kedua dan ketiga, serta disebagian
besar akar gigi molar pertama.
k. Processus Zygomaticus
Terletak pada bagian lateral maksila. Processus meluas baik dari permukaan
malar maupun permukaan infra temporal dari permukaan maksila. Menyerupai
segitiga kasar, terletak di sudut pemisahan anterior zigomatikum dan
permukaan orbital. Di depan ia merupakan bagian dari permukaan anterior, di
belakang, bentuknya cekung, dan merupakan bagian dari fossa infratemporal.
Di bagian atas ia kasar dan bergerigi untuk berartikulasi dengan tulang
zygomatik, sementara di bagian bawahnya terlihat perbatasan melengkung dan
menonjol yang menandai pembagian antara permukaan anterior dan
infratemporal.
l. Foramen Alveolar
Bukaan pada kanal gigi posterior pada permukaan infratemporal rahang atas.
m. Facies Infratemporalis
Menghadap fossa infratemporalis. Dipisahkan dari lamina lateralis processus
pteregoideius oleh fisura pterygomaxilaris dan melengkung dimedial untuk
membentuk batasan anterior fossa pteryogoplatina dari persendian tengkorak.
Fasies infratemporalis dipisahkan dari facies anterior oleh processus
zygomaticus dan krista tulang (key ridge). Diatas facies infratemporalis
berhubungan dgn facies orbitalis pada fisura optalamika inferior.M.
buccinatorius melekat pada permukaan posterior (diatas garis gusi) dan meluas
kedepan

dibawah

p.zygomaticus

kedaerah

premolar.

Permukaan

ini

mempunyai dua atau beberapa foramina kecil, foramen dari canals alveolaris
maxillae.
n. Sulcus Infraorbitalis

Sulcus infra orbitalis dimulai dari pertengahan fissura orbitalis inferior


menerus ke depan untuk membentuk canalis infra orbitalis dan berakhir
sebagai foramen infra orbital.
o. Facies Orbitalis
Yang rata membentuk dasar orbita dan atap sinus maksilaris. Bagian
posteriornya mempunyai sulkus yang disebut sebagai sulkus infraorbitalis yang
menuju ke kanalis infraorbital dan foramen infraorbital yang membuka pada
facies anterior
p. Margo Infraorbitalis
Setengah inferior dari orbital rim, atau batas bawah dari permukaan orbital,
dibentuk oleh maksila medial dan tulang lateral zigomatikum.
q. Incisura Lacrimalis
r. Margo Lacrimalis
Batas dari permukaan hidung pada tulang rahang yang berartikulasi dengan
tulang lakrimal.

Tampak Bawah

Gambar 4. Tulang rahang atas tampak bawah

Gambar 5. Tulang rahang atas tampak bawah


I.

Foramen Incisivum

Lubang yang dibentuk dari hasil penggabungan kedua maksila kearah


median, terletak dibelakang dekat gigi incisivus. Lubang ini merupakan
II.
III.

tempat masuknya arteri palatine major.


Sutura Palatina Mediana
Sambungan seperti jahitan pada garis median palatum.
Maxilla Processus Palatinus
Processus palatinus menonjol ke dalam dari antara processus alveolaris di
bagian bawah dan facies nasalis di bagian atas. Dengan bergabung terhadap
processus sisi lawannya, processus ini akan membentuk sebagian besar
palatum durum (langit-langit keras) yang memisahkan cavum oris dan cavum

IV.

nasi.
Sutura Palatina Tranversa
Garis penyatuan (sepeti jahitan)processus palatinus dari maxilla dengan

V.
VI.

horizontal plate dari tulang palatum.


Maxilla, Processus Zygomaticus
Spinae Palatinae
Berupa suatu tonjolan seperti duri pada palatum, terletak di sisi lateral dalam
dari tulang maxilla dan terdapat hanya di sisi kanan dan kiri. Terlihat pada

gambar, ada tiga spina dari masing-masing sisi.


VII. Maxilla, Processus Palatinus
VIII. Os Incisivum
Bersinonim dengan tulang premaxilla, tulang tempat melekatnya ke empat
gigi insisivus. Terletak dibagian depan tulang maxilla hingga pada batas
tempat gigi caninus.
IX.
Sutura Palatina Mediana
X.
Foramen Incisivum
XI.
Os Incisivum
XII. Sutura Incisiva
Sambungan seperti jahitan pada permukaan palatal maxilla, tempat dimana
tulang premaxilla bergabung dengan maxilla.
XIII. Sulci Palatini
Jamak dari sulcus palatine, merupakan sekumpulan alur dari permukaan
bawah processus palatinus maxilla sebagai tempat syaraf dan pembuluh
palatine.
Tampak Medial Kanan

Gambar 6. Tulang rahang atas tampak medial kanan

Gambar 7. Tulang rahang atas tampak medial kanan


A. Spina Nasalis Anterior
B. Canalis Incisivus
C. Hiatus Maxillaris
Bukaan besar menuju sinus maksilaris di permukaan nasal maksila (maxilla
facies nasalis).
D. Sinus Maxillaris
Pada gambar yaitu bagian tengah maksila yang berongga, sinus udara maksilla
atau antrum, terbagi secara longitudinal (membujur) oleh suatu septum (sekat).
Dinding medial sinus maksilaris akan membentuk sebagian dinding bagian
E.
F.
G.
H.

lateral hidung dan sebagiannya lagi dibentuk oleh aspek medial rahang.
Sutura Palatine Transverse
Maxilla, Processuss Palatinus
Spina Nasalis Anterior
Maxilla Facies Nasalis

Bersinonim dengan nasal surface of maxilla.Celah ini membentuk sebagian


dinding dari nasal lateral.Di depannya, terlihat adanya sulkus yang dalam
(sulcus lacrimalis) dengan hiatus maxillary di seberangnya.
I. Crista Conchalis
Berbentuk rigi/tepi yang horizontal memisahkan facies nasalis dari p.frontalis
menjadi bagian bawah yang berhubungan dengan meatus nasalis medius dan
superior. Pada crista

conchals ini melekat ujung anterior concha nasalis

inferior.
J. Sulcus Lacrimalis
Merupakan sebuah alur vertical yang halus dan dalam yang terletak didepan
antrum.Sulcus tersebut membentuk canalis nasolacrimalis bersama dengan
tepian paling rendah dari tulang lacrimal.
K. Margo Lacrimalis
Tampak Atas
M

R
O
Q

Gambar 8. Tulang rahang atas tampak atas


L. Sutura Palatina Transverse
M. Sinus Maxillarisn
N. Apertura Piriformis
Bersinonim dengan anterior nasal aperture, merupakan suatu area yang tipis
(sempit) terletak pada ujung anterior dari bukaan hidung.
O. Spina Nasalis Anterior

P. Foramen Incisivum

Q. Canalis Nasolacrimalis
Suatu saluran yang sempit yang membawa saluran nasolacrimal dari orbit ke
meatus inferior hidung.
PERSYARAFAN RAHANG ATAS23
Jalan Keluar : Foramen Rotundum

1.2.

CABANG MAXILLARIS MEMPERSARAFI :


1. Palatum
Membentuk atap mulut dan lantai cavum nasi
Terdiri dari :
Palatum durum (langit keras)
Palatum mole (langit lunak)
a. PALATUM DURUM
Terdapat tiga foramen:
Foramen incisivum pada bidang median ke arah anterior
foramina palatina major di bagian posterior dan
foramina palatina minor ke arah posterior
Bagian depan palatum:
N. Nasopalatinus (keluar dari foramen incisivum), mempersarafi gigi
anterior rahang atas
Bagian belakang palatum:
N. Palatinus Majus (keluar dari foramen palatina mayor),
mempersarafi gigi premolar dan molar rahang atas.
b. PALATUM MOLAE
N. Palatinus Minus (keluardari foramen palatina minus), mempersarafi
seluruh palatina mole.
2. Gigi dan Gingiva Rahang Atas
Permukaan labia dan buccal :
N. alveolaris superior posterior, medius dan anterior
Nervus alveolaris superior anterior, mempersarfi gingiva dan
gigi anterior
Nervus alveolaris superior media, mempersarafi gingiva dan
gigi premolar dan molar I bagian mesial

Nervus alveolaris superior posterior, mempersarafi gingiva

dan gigi molar I bagian distal, molar II dan molar III


Permukaan palatal:
N. palatinus major dan nasopalatinus
Bagian depan palatum:
N. Nasopalatinus (keluar dari foramen incisivum), mempersarafi
gingiva dan gigi anterior rahang atas
Bagian belakang palatum:
N. Palatinus Majus (keluar dari foramen palatina mayor),
mempersarafi gingiva dan gigi premolar dan molar rahang atas.

Gambar 9. Persyarafan rahang atas


1.3.
TEKNIK ANESTESI RAHANG ATAS
1.3.1. TEKNIK BLOK PALATUM
Sejumlah teknik injeksi berguna untuk memberikan anastesi yang adekuat pada
gigi dan jaringan lunak dan keras pada maksila. Pemilihan teknik yang spesifik
dan tepat harus ditentukan. Berikut beberapa teknik yang berguna dalam anestesi
rahang atas, antara lain :
a. Supraperiosteal (infiltrasi) direkomendasikan untuk tindakan perawatan yang
terbatas.
b. Injeksi ligamen periodontal (PDL/interligamentary) direkomendasikan
sebagai tambahan untuk teknik lain atau untuk tindakan perawatan yang
terbatas

c. Injeksi intraseptal direkomendasikan secara khusus untuk teknik bedah


periodontal.
d. Injeksi intraosseus direkomendasikan untuk gigi tunggal (khusus molar
mandibular)
e. Posterior superior alveolar nerve block direkomendasi untuk beberapa gigi
molar dalam satu kuadran.
f. Middle superior alveolar nerve block direkomendasikan untuk gigi premolar
dalam satu kuadran.
g. Anterior superior alveolar (infraorbital) nerve block direkomendasikan untuk
gigi anterior dalam satu kuadran.
h. Maxillary nerve block direkomenasikan untuk ekstensif daerah bukal, palatal,
dan pulpa dalam satu kuadran.
i. Greater palatine nerve block direkomendaksikan untuk palatum lunak dan
perawatan jaringan tulang distal terhadap kaninus dalam satu kuadran.
j. Nasopalatine nerve block direkomendasikan untuk palatum lunak dan
perawatan jaringan tulang dari kaninus ke kaninus secara bilateral.
Macam macam Teknik Anastesi Blok Palatum
A. Posterior Superior Alveolar Nerve Block
Syaraf yang dituju : Posterior superior alveolar nerve
Daerah baal
: M1, M2, M3, periodonsium bukalis RA. Akar
mesiobukal M1 tidak teranestesi.
Indikasi :
1. Perawatan yang melibatkan dua atau lebih molar maksila
2. Ketika injeksi supraperiosteal dikontraindikasi (misal dengan

infeksi atau inflamasi akut)


3. Ketika injeksi supraperiosteal tidak efektif.
Kontraindikasi :
1. Ketika resiko hemorrhage besar seperti dengan hemofilifa.
Teknik :
1. Posisi Maksila 45
2. Raba lipatan mukobukal tuberositas maksila (Tuberositas Block/
Zygomatic Block)
3. Foramen PSA 1/2 inci
Saraf yang dianastesi : Posterior superior alveolar dan batang
NB:
1. Hati-hati plexus venosus pterygoideus hematom.
2. Seluruh Molar teranestesi kecuali akar mesiobukal injeksi
supraperiosteal apeks.

B. Maxillary Nerve Block


Indikasi
1. Bedah pada area maksila yg luas
2. Infeksi yg luas
3. Diagnosis & perawatan neuralgia
Teknik Anestesi
1. Teknik tuberositas tinggi = blok PSA n
= blok PSA Nerve
Jarum diinjeksi sampai + 1,25 inci
Deponir Anestetikum 2 - 4 cc

2. Teknik kanalis palatinus mayor


= blok n palatinus mayor
Masuk dalam kanalis palatinus mayor
Injeksi sampai + 1,5 inci
Deponir 2 cc
Simptom
Suby: tingling & numbness, matirasa palatum bila diraba dgn lidah
Oby: instrumentasi

C. Greater Palatine Nerve Block


Syaraf yang dituju : anterior greater palatine nerve block
Daerah baal
: Posterior palatum
Indikasi :
1. Ketika anestesi jaringan lunak palatal diperlukan untuk terapi
restorasi pada lebih dari dua gigi.
2. Untuk kontrol nyeri selama prosedur pembedahan periodontal

atau mulut yang melibatkan jaringan palatum lunak dan keras.


Kontraindikasi :
1. Inflamasi atau infeksi pada bagian injeksi
2. Area perawatan yang lebih kecil (satu atau dua gigi)
Teknik
Foramen palatina mayor terletak sekitar 1 cm ke palattina di daeah
M2-M3 dan sekitar 0,5 cm di depan hamulus pterygoideus. Arah kanal
adalah 45 derajat ke dorsal dalam kaitannya dengan bidang oklusi. Jarum
ditekuk

dengan

hati-hati

dimasukkan

ke

dalam

foramen,

dan

memasukkan jarum perlahan-lahan, seluruh panjang jarum dapat


digunakan. Setelah aspirasi, setengah sampai satu cartridge dapat
diinjeksikan. Dalam 2-3 menit, setengah dari rahang atas akan dibius.

Gambar 10. Area target anastesi greater palatine nerve block


D. Nasopalatine Nerve Block
Syaraf yang dituju : greater palatine nerve block
Daerah baal
: jaringan lunak dan keras dari mesial premolar
kiri ke kanan (palatum keras bagian anterior).

Indikasi :
1. Ketika anestesi jaringan lunak palatal diperlukan untuk terapi
restorasi pada lebih dari dua gigi.
2. Untuk kontrol nyeri selama prosedur pembedahan periodontal

atau mulut yang melibatkan jaringan palatum lunak dan keras.


Kontraindikasi :
1. Inflamasi atau infeksi pada bagian injeksi
2. Area perawatan yang lebih kecil (satu atau dua gigi)
Teknik :
Obat bius dengan vasokonstriktor diberikan dengan cartridge syringe
reguler dengan jarum 25-gauge atau setidaknya 20 mm. Dengan mulut
terbuka, titik jarum ditempatkan tepat di papilla insisivus. Jarum
dimasukkan perlahan, sejajar dengan arah kontur tulang kortikal bukal.
Ini hampir vertikal pada beberapa pasien; untuk orang lain itu adalah
bagian punggung miring. Arah ini penting untuk menghindari jarum
terjebak dalam kanal atau setelah untuk menyisipkan karena karena tidak
dapat lagi mengikuti kanal. Setelah kira-kira 1 cm 1/3 cartridge
disuntikkan sangat lambat.

Gambar 11. Area target anastesi nasopalatine


1.3.2. TEKNIK INFILTRASI RAHANG ATAS
Anestesi infiltrasi atau yang lebih dikenal dengan anestesi supraperiosteal
adalah anestesi yang bertujuan untuk menimbulkan anestesi ujung saraf melalui
injeksi pada atau sekitar jaringan yang akan dianestesi sehingga mengakibatkan
hilangnya rasa dikulit dan jaringan yang terletak lebih dalam misalnya daerah
kecil di kulit atau gingiva (pencabutan gigi). Larutan anestesi lokal disuntikkan di
sekitar ujung-ujung saraf terminal sehingga efek anestesi hanya terbatas pada
tempat difusi cairan anestesi tepat pada area yang akan dilakukan instrumentasi
.12

a. Infiltasi lokal pada Membran Mukosa (submucosal injection)


Untuk menganestesi membran mukosa dan jaringan submukosa pada daerah
yang akan dilakukan tindakan, misalnya pada insisi mukosa atau
gingivektomi. Syaraf yang teranestesi adalah ujung sayaraf terminal, daerah
yang teanestesi terbatas pada tempat dimana larutan anestesi lokal
diinjeksikan. Jarum ditusukkan pada membran mukosa sedalam jaringan
submukosa kemudian cairan anestesi diinjeksikan perlahan-lahan.

Gambar 12. Lokasi anestesi infiltrasi pada membran mukosa

b. Anestesi Nervus Alveolaris Superior Posterior


Untuk molar ketiga, kedua dan akar distal dan palatal molar pertama. Titik
suntikan terletak pada lipatan mukobukal di atas gigi molar kedua atas,
gerakkan jarum ke arah distal dan superior kemudian suntikkan obat
anestesi 1-2 cc di atas apeks akar gigi molar ketiga13

Gambar 13. Lokasi anestesi infiltrasi nervus superior anterior12


Untuk melengkapi anestesi pada gigi molar pertama, dapat diberikan injeksi
supraperiosteal di atas apeks akar premolar kedua. Injeksi ini cukup untuk
prosedur operatif, sedangkan untuk ekstraksi atau bedah periodontal,
dilakukan penyuntikan pada nervi palatini minor sebagai tambahan13
c. Nervus Alveolaris Superior Medius
Untuk premolar pertama dan kedua, serta akar mesial gigi molar
pertama.Titik suntikan adalah lipatan mukobukal di atas gigi premolar
pertama. Jarum diarahkan ke suatu titik sedikit di atas apeks akar, kemudian
suntikkan obat anestesi perlahan-lahan sebanyak 1-2 cc. Agar akurat, raba
kontur tulang dengan hati-hati.13

Gambar 14. Lokasi anestesi infiltrasi nervus superior anterior12


Injeksi ini cukup untuk prosedur operatif, sedangkan untuk ekstraksi atau
bedah periodontal, dilakukan injeksi palatinal.13

d. Nervus Alveolaris Superior Anterior


Untuk keenam gigi anterior. Titik suntikan terletak pada lipatan mukolabial
sedikit mesial dari gigi kaninus. Jarum diarahkan ke apeks kaninus,
suntikkan obat di atas apeks akar gigi tersebut sebanyak 1-2 cc13

Gambar 15. Lokasi anestesi infiltrasi nervus superior anterior.12


Injeksi ini sudah cukup untuk prosedur operatif. Untuk ekstraksi atau bedah,
harus ditambahkan injeksi palatinal pada regio kaninus atau foramen
insisivus.13
2. ANESTESI RAHANG BAWAH
2.1. ANATOMI MANDIBULA
Mandibula

adalah

tulang

rahang

bawah

pada

manusia,

merupakan tulang terkuat dan terbesar pada tulang wajah dan


berfungsi sebagai tempat menempelnya gigi geligi 14. Mandibula
berhubungan dengan basis kranii dengan adanya temporomandibular joint dan disangga oleh otot otot pengunyahan 15.
Mandibula terdiri dari korpus berbentuk tapal kuda dan sepasang
ramus. Corpus mandibula bertemu dengan ramus masing masing
sisi pada angulus mandibula. Pada permukaan luar digaris tengah
corpus mandibula terdapat sebuah rigi yang menunjukkan garis
fusi dari kedua belahan selama perkembangan, yaitu simfisis
mandibula. Berbatas dengan garis tengah, permukaan anterior
terdapat tonjolan triangular, protuberansia mentale pada tulang
dagu. Bagian yang cekung kedalam dinamakan fossa mentalis,
terletak sebelah lateral pada daerah mentalis, terletak pada
permukaan lateral mandibula, pada bagian inferior premolar

kedua, batas tengah diantara bagian bawah tulang mandibula dan


ridge alveolar. Foramen mental dapat dilihat di bawah gigi
premolar kedua16,17.

Gambar 16. Mandibula dari aspek anterolateral superior18

Gambar 17. Mandibula dari aspek posterior kiri18

Gambar 18. Mandibula dari aspek oklusal5

2. PERSAYARAFAN RAHANG BAWAH


Nervus mandibularis disebut juga nervus maksilaris inferior,
menginervasi gigi dan gingiva rahang bawah, regio temporal,
auricular, bibir bagian bawah, bagian abwah wajah, musculus
mastikasi, dan membran mukosa lidah 2/3 anterior. Nervus
mandibularis adalah nervus terbesar dari ketiga divisi dan terdiri
atas dua radiks: mayor, radiks sensorik keluar dari sudut inferior
ganglion semilunar dan radiks motorik minor (bagian motorik dari
trigeminus) yang melewati di bawah ganglion dan bersatu dengan
radiks sensorik, langsung setelah keluar dari foramen ovale.
Selanjutnya,

di

bawah

basis

cranium,

nervus

tersebut

mengeluarkan dari sisi medial cabang recurrent (nervus spinosus)


dan

nervus

yang

mempersarafi

pterygoideus

internus

dan

kemudian terbagi menjadi dua cabang : anterior dan posterior.19

Gambar 19. Persyarafan rahang bawah


3. Nervus spinosus (cabang meningeal atau recurrent)
Memasuki cranium lewat foramen spinosum bersama dengan
arteri meningea media. Terbagi menjadi dua cabang, anterior
dan posterior yang berjalan bersama dengan divisi utama arteri
dan

menginervasi

menginervasi
mastoideus,

duramater,

lapisan
divisi

mukosa

anterior

cabang
yang

posterior

ada

berhubungan

juga

pada

cellula

dengan

cabang

meningea nervus maxillaris.


4. Nervus pterygoideus internus
Nervus ini merupakan cabang yang langsing yang memasuki
permukaan dalam otot, mempercabangkan dua filamen menuju
ganglion oticum.
Divisi anterior :
1 Nervus masseterica
Berjalan lateral di atas nervus pterygoideus externus, di depan
TMJ dan di belakang tendon temporalis, kemudian melewati
notch mandibularis bersama dengan arteri masseterica menuju
permukaan

dalam

musculus

masseter

yang

kemudian

mengalami ramifikasi pada border anteriornya. Nervus ini juga


menginervasi TMJ.
2 Nervus temporalis profundal
Berjumlah dua, anterior dan posterior. Mereka melewati bagian
atas nervus pterygoideus externus dan masuk ke permukaan
dalam musculus temporalis. Cabang posterior yang ukurannya
lebih kecil terletak pada bagian belakang fossa temporalis dan

kadang dipercabangkan dengan nervus massterica. Cabang


anterior kadang mempercabangkan nervus buccinator.
3 Nervus buccinator
Menginervasi kulit pada buccinator, musculus buccinator dan
membran mukosa yang melapisi permukaan dalamnya.
4 Nervus pterygoideus externus
Menginervasi musculus pterygoideus externus

Divisi posterior :
1 Nervus auricotemporalis
Biasanya

mempercabangkan

dua

radiks

diantara

arteri

meningea media ascendens. Nervus in berjalan di bawah nervus


pterygoideus externus menuju bagian medial dari ramus
mandibula. . Kemudian berjalan melingkar dengan artery
temporalis

superficialis

mandibula,

di

bawah

diantara
glandula

auricula
parotis,

dan
naik

condylus
ke

arcus

zygomaticus dan terbagi menjadi rami termporalis superfisialis.


2 Nervus lingualis
Menginervasi membran mukosa 2/3 anterior lidah. Awalnya
nervus ini terletak di bawah nervus pterygoideus internus lalu
menuju medial dan kemudian di bawah nervus alveolaris
inferior dan kadang bergabung dengan nervus pterygoideus
externus yang mungkin meng-cross arteri maxillaris internus.
Chorda tympani juga bergabung. Nervus ini kemudian lewat
diantara pterygoideus internus dan ramus mandibula dan lewat
secara oblik pada lidah pada musculus constrictor pharingis
superior dan styloglossus dan kemudian di anatara hyoglossus
dan bagian dalam glandula submaxillaris. Akhirnya bervus ini

berjalan melewatu ductus submaxillaris dan berakhir pada


ujung lidah.
3 Nervus alveolaris inferior
Merupakan cabang terbesar dari nervus mandibularis. Menurun
bersama dengan arteri alveolaris inferior. Awalnya terletak di
bawah pterygoideus externus lalu kemudian berjalan diantara
ligamen

sphenomandibula

foramen

mandibula.

dan

Nervus

ramus

ini

mandibula

kemudian

menuju

lewat

canalis

mandibularis, di bawah gigi-gigi lalu akhirnya muncul di


foramen mental dimana disana dikeluarkan cabang incisivus
dan mentalis.
Nervus mylohyoideus inervasi musculus mylohyoideus dan
musculus digastricus venter anterior
Nervus dentalis mensuplai gigi-gigi molar dan premolar
Nervus incisivus menginervasi gigi caninus dan incisivus
Nervus mentalis Inervasi kulit dagu dan membran mukosa
pada bibir bawah19,20
2.3. TEKNIK ANESTESI RAHANG BAWAH
2.3.1. TEKNIK BLOK MANDIBULA
Anestesi blok rahang bawah biasanya dilakukan apabila
kita memerlukan daerah yang teranestesi luas misalnya pada
waktu pencabutan gigi posterior rahang bawah atau pencabutan
beberapa gigi pada satu quadran. Saraf yang dituju pada
anestesi

blok

teknik

Gow-Gates

adalah

N.

Mandibularis

sedangkan pada Teknik Akinosi dan Teknik Fisher saraf yang


dituju adalah : N. Alveolaris inferior dan N. Lingualis Dengan
teknik Gow Gates daerah yang teranestesi adalah gigi mandibula
setengah

quadran,

mukoperiosteum

bukal

dan

membran

mukosa pada daerah penyuntikan, dua pertiga anterior lidah


dan dasar mulut, jaringan lunak lingual dan periosteum, korpus
mandibula dan bagian bawah ramus serta kulit diatas zigoma ,

bagian posterior pipi dan region temporal. Sedangkan daerah


yang teranestesi pada teknik Akinosi dan Teknik Fisher adalah
gigi-gigi mandibula setengah quadran, badan mandibula dan
ramus bagian bawah, mukoperiosteum bukal dan membrane
mukosa didepan foramen mentalis, dasar mulut dan dua pertiga
anterior lidah, jaringan lunak dan periosteum bagian lingual
mandibula. Karena N. Bukalis tidak teranestesi maka apabila
diperlukan , harus dilakukan penyuntikan tambahan sehingga
pasen menerima beban rasa sakit. Pada Teknik modifikasi Fisher
kita menambahkan satu posisi lagi sebelum jarum dicabut
sehingga tidak diperlukan penusukan ulang yang menambah
beban sakit pada pasien.
a. Anestesi blok teknik Gow-Gates :
Prosedur :
1. Posisi duduk pasien terlentang atau setengah terlentang.
2. Pasien diminta untuk membuka mulut lebar dan ekstensi
leher
3. Posisi operator :
a. Untuk

mandibula

sebelah

kanan,

operator

berdiri

pada posisi jam 8 menghadap pasien.


b. Untuk mandibula sebelah kiri, operator berdiri pada
posisi

jam

10 menghadap dalam arah yang sama

dengan pasien.
4. Tentukan patokan ekstra oral : intertragic notch dan sudut
mulut Daerah

sasaran:

daerah

medial

leher

kondilus,

sedikit dibawah insersi otot pterygoideus eksternus.


5. Operator membayangkan garis khayal yang dibentuk dari
intertragic notch ke sudut mulut pada sisi penyuntikan
untuk membantu melihat ketinggian penyuntikan secara
ekstra oral dengan meletakkan tutup jarum atau jari
telunjuk.

6. Jari

telunjuk

diletakkan

pada

coronoid

notch

untuk

membantu meregangkan jaringan .


7. Operator

menentukan

ketinggian

penyuntikan

dengan

patokan intra oral berdasarkan sudut mulut pada sisi


berlawanan dan tonjolan mesiopalatinal M2 maksila.
8. Daerah insersi jarum diberi topical antiseptik.
9. Spuit

diarahkan

mulut

pada

ke
sisi

sisi

penyuntikan

melalui

berlawanan, dibawah

sudut

tonjolan

mesiopalatinal M2 maksila, jarum diinsersikan kedalam


jaringan sedikit sebelah distal M2 maksila .
10. Jarum diluruskan kebidang perpanjangan garis melalui
sudut mulut ke intertragic notch pada sisi penyuntikan
kemudian disejajarkan dengan sudut telinga

kewajah

sehingga arah spuit bergeser ke gigi P pada sisi yang


berlawanan,

posisi

tersebut dapat

berubah

dari

sampai I bergantung pada derajat divergensi ramus


mandibula dari telingan ke sisi wajah.
11. Jarum

ditusukkan

perlahan-lahan

sampai

berkontak

dengan tulang leher kondilus, sampai kedalamam kirakira

25

mm.

Jika

jarum

belum

berkontak

dengan

tulang, maka jarum ditarik kembali per-lahan-lahan dan


arahnya

diulangi

sampai

berkontak dengan

Anestetikum tidak boleh dikeluarkan

tulang.

jika jarum tidak

kontak dengan tulang.


12. Jarum ditarik 1 mm, kemudian aspirasi, jika negatif
depositkan

anestetikum sebanyak 1,8 2 ml perlahan-

lahan.
13. Spuit ditarik dan pasien tetap membuka mulut selama 1
2 menit
14. Setelah 3 5 menit pasen akan merasa baal dan
perawatan boleh dilakukan.

b. Anestesi blok teknik Akinosi :


Teknik

ini

dilakukan

dengan

mulut

pasien

tertutup

sehingga baik digunakan pada pasien yang sulit atau sakit


pada waktu membuka mulut.
Prosedur :
1. Pasien duduk terlentang atau setengah terlentang
2. Posisi operator untuk rahang kanan atau kiri adalah
posisi jam delapan berhadapan dengan pasien.
3. Letakkan
koronoid,

jari

telunjuk

atau

ibu

menunjukkan jaringan

jari

pada

pada
bagian

tonjolan
medial

dari pinggiran ramus. Hal ini membantu menunjukkan


sisi injeksi dan mengurangi trauma selama injeksi jarum.
4. Gambaran anatomi :
- Mucogingival junction

dari molar kedua dan molar

ketiga maksila
- Tuberositas maksila
5. Daerah insersi jarum diberi antiseptic kalau perlu beri
topikal anestesi.
6. Pasien diminta mengoklusikan rahang,

otot pipi dan

pengunyahan rileks.
7. Jarum suntik diletakkan sejajar dengan bidang oklusal
maksila,
dari

jarum diinsersikan posterior dan sedikit lateral

mucogingival

junction molar kedua dan ketiga

maksila.
8. Arahkan ujung jarum menjauhi ramus mandibula dan
jarum dibelokkan mendekati ramus dan jarum akan tetap
didekat N. Alveolaris inferior.
9. Kedalaman jarum sekitar 25 mm diukur dari tuberositas
maksila.
10. Aspirasi, bila negatif depositkan anestetikum sebanyak 1,5
1,8 ml secara perlahan-lahan. Setelah selesai, spuit tarik
kembali. Kelumpuhan saraf motoris akan terjadi lebih cepat

daripada saraf sensoris. Pasien dengan trismus mulai


meningkat kemampuannya untuk membuka mulut.

c. Teknik Fisher :
Prosedur :
Posisi pasien duduk dengan setengah terlentang. Aplikasikan
antiseptic

didaerah

trigonum

retromolar.

Jari

telunjuk

diletakkan dibelakang gigi terakhir mandibula, geser kelateral


untuk meraba linea oblique eksterna.

Kemudian

telunjuk

digeser kemedian untuk mencari linea oblique interna, ujung


lengkung kuku berada di linea oblique interna dan permukaan
samping jari berada dibidang oklusal gigi rahang bawah.
Posisi I : Jarum diinsersikan dipertengahan lengkung kuku, dari
sisi rahang yang tidak dianestesi yaitu regio premolar.
Posisi II : Spuit digeser kesisi yang akan dianestesi, sejajar
dengan bidang
mm,

oklusal dan jarum

lakukan

aspirasi

bila

ditusukkan

sedalam

negatif keluarkan anestetikum

sebanyak 0,5 ml untuk menganestesi N. Lingualis.


Posisi III : Spuit digeser kearah posisi I tapi tidak penuh lalu
jarum
kira

ditusukkan sambil menyelusuri tulang sedalam kira10-15

mm.

Aspirasi dan bila negative keluarkan

anestetikum sebanyak 1 ml untuk menganestesi N. Alveolaris


inferior. Setelah selesai spuit ditarik kembali.
d. Teknik modifikasi Fisher :
Setelah kita melakukan posisi III, pada waktu menarik kembali
spuit sebelum jarum lepas dari
melewati
(kedaerah

linea

oblique

trigonum

mukosa

interna

retromolar),

,jarum

tepat
digeser

aspirasi

dan

setelah
kelateral
keluarkan

anestetikum

sebanyak

0,5

ml untuk menganestesi N.

Bukalis. Kemudian Spuit ditarik keluar.


Syaraf yang Dituju dan Daerah Baal pada Teknik Blok
Mandibula
Secara garis besar, terdapat beberapa jenis anestesi lokal
yang sering digunakan di mandibula, yaitu lingual nerve block,
incisive nerve block, mental nerve block, long buccal nerve block,
dan inferior alveolar nerve block. Nervus lingualis biasanya
diblokade di ruang pterygomandibular yang terletak pada
anteromedial syaraf alveolaris inferior mandibula, sekitar 1 cm
dari permukaan mukosa. Oleh karena itu, anestesi blok syaraf
lingualis bisa dilakukan sebelum atau sesudah anestesi blok
alveolaris inferior mandibula dilakukan. Incisive nerve block
merupakan salah satu pilihan pada anestesi lokal mandibula
yang terbatas pada gigi anterior. Anestesi blok syaraf insisivus
memberikan anestesi pulpa pada sekitar gigi anterior seperti
insisivus dan kaninus sampai foramen mental. Mental nerve
block bertujuan untuk menganestesi syaraf mental dan ujung
dari cabang syaraf inferior alveolar mandibula. Syaraf mental
terletak pada foramen mental yang berada di antara apikal
premolar satu dan premolar dua. Daerah yang dianestesi oleh
teknik ini adalah mukosa bukal bagian anterior, daerah foramen
mental sekitar gigi premolar dua, midline dan kulit dari bibir
bawah.
Long buccal nerve block atau sering disebut buccal nerve
block dan buccinators nerve block menganestesi nervus buccal
yang merupakan cabang dari syaraf mandibula bagian anterior.
Daerah yang dianestesi adalah jaringan lunak dan periosteum
bagian bukal sampai gigi molar mandibula. Anestesi ini sering
digunakan pada perawatan yang melibatkan daerah gigi molar.

Keuntungan dari teknik long buccal nerve block adalah mudah


dilakukan dan tingkat keberhasilannya tinggi.
Pada anestesi blok syaraf alveolaris inferior, terdapat tiga
metode yang sering digunakan, yaitu Inferior Alveolar Nervus
Block (IANB), Gow-Gates Technique, dan Akinosi Closed-Mouth
Mandibular Block. Inferior Alveolar Nervus Block (IANB) terdiri
dari dua metode, yaitu direct dan indirect. Metode indirect IANB
sering

disebut

dengan

metode

Fischer.

Berdasarkan

hasil

penelitian Sobhan Mishra yang membandingkan antara metode


direct

IANB

didapatkan

dan

Akinosi

bahwa

96%

Closed-Mouth
syaraf

Mandibular

inferior

alveolar

Block,
berhasil

dianestesi, dan 100% syaraf lingual dan bukal berhasil di


anestesi dengan sekali penyuntikan dengan metode direct IANB.
Sedangkan pada teknik Akinosi Closed-Mouth Mandibular Block,
84% syaraf inferior alveolar dan syaraf lingual berhasil di
anestesi dengan sekali penyuntikan, sedangkan 80% syaraf
bukal berhasil dianestesi dengan sekali penyuntikan.
Inferior Alveolar Nervus Block atau yang sering juga disebut
dengan blok mandibula merupakan metode anestesi lokal blok
mandibula yang sering digunakan di kedokteran gigi. Metode
Inferior Alveolar Nervus Block dibagi menjadi dua metode yaitu
direct IANB dan indirect IANB. Metode Indirect IANB sering juga
disebut dengan metode Fischer atau fissure 1-2-3 technique
dengan

penambahan

anestesi

syaraf

bukal.

Metode

ini

menganestesi nervus inferior alveolar, nervus incisive, nervus


mental, dan nervus lingual. Nervus buccal juga bisa ditambahkan
dalam beberapa prosedur yang melibatkan jaringan lunak di
daerah posterior bukal. Daerah yang dianestesi dengan metode
ini adalah gigi mandibula sampai ke midline, body of mandible,
bagian inferior dari ramus, mukoperiosteum bukal, membrane
mukosa anterior sampai daerah gigi molar satu mandibula, 2/3
anterior lidah dan dasar dari kavitas oral, jaringan lunak bagian

lingual dan periosteum, external oblique ridge, dan internal


oblique ridge.
Keberhasilan dari anestesi lokal blok mandibula metode Fischer
dapat diketahui dengan memeriksa keadaan bibir bagian bawah
dan lidah dari regio yang dianestesi. Jika terjadi pati rasa pada
daerah tersebut, maka dapat dijadikan indikator bahwa nervus
lingualis dan nervus mentalis yang merupakan cabang dari
nervus

inferior

alveolar

sudah

dianestesi

dengan

baik.

Keberhasilan dari anestesi lokal blok mandibula metode Fischer


juga dapat dilihat secara objektif pada pasien apabila selama
perawatan pasien tersebut tidak mengeluhkan rasa sakit.

3.2. TEKNIK INFILTRASI RAHANG BAWAH


Pada teknik infiltrasi, larutan anestesi didepositkan di dekat
serabut terminal dari saraf dan akan terifiltrasi di sepanjang
jaringan untuk mencapai serabut saraf dan menimbulkan efek
anestesi dari daerah terlokalisir yang disuplai oleh saraf tersebut.
Pada dasarnya,teknik infiltrasi RA dan RB adalah sama, hanya
saja syaraf yang dituju dan tempat insersi jarum berbeda. Teknik
infiltrasi dibagi menjadi:
a. Suntikan submukosa
Istilah ini diterapkan apabila larutan didepositkan tepat
dibalik

membran

mukosa.

Walaupun

menimbulkan anestesi pada pulpa gigi,

cenderung

tidak

suntikan ini sering

digunakan baik untuk menganestesi saraf bukal sebelum


pencabutan molar bawah atau operasi jaringan lunak.
Injeksi N. Buccal Longus:
a. Jarum: 1 7/8 inchi- 23 gauge- hub panjang, 1 7/8 inchi25 gauge- hub pendek
b. Anastetikum: cc

c. Teknik:
Sterilisasi area kerja dengan antiseptik (iodine) yang

diulas menggunakan kapas.


Insersikan jarum pada mucobuccal fold pada suatu

titik tepat di depan gigi molar pertama.


Perlahan-lahan tusukkan jarum sejajar dengan corpus
mandibula ke suatu titik sejauh molar ketiga. Bevel

jarum menghadap ke bawah.


Aspirasi. Bila negatif, deponirkan cairan anestesi
secara perlahan.

Gambar 20. Injeksi N. Buccal Longus


Injeksi N. Lingual
a. Jarum: 1 7/8 inchi- 23 gauge- hub panjang, 1 7/8 inchi25 gauge- hub pendek
b. Anastetikum: cc
c. Teknik:
Sterilisasi area kerja dengan antiseptik (iodine) yang

diulas menggunakan kapas.


Insersikan jarum pada mukoperiosteum

lingual

setinggi setengah panjang akar gigi yang akan

dianastesi.
Karena posisi dari gigi insisivus, sulit untuk mencapai
daerah ini dengan jarum yang lurus sehingga jarum
yang digunakan adalah jarum hub bengkok atau
jarum yang dibengkokan dengan cara menekannya

antara ibu jari dan jari lainnya.


Aspirasi. Bila negatif, deponirkan anastetikum secara
perlahan.

Gambar 21. Injeksi N. Lingualis


b. Suntikan Supraperiosteal
Pada beberapa daerah seperti maksila, bagian kortikal
bagian luar

dari

tulang alveolar biasanya tipis dan dapat

terperforasi oleh saluran vascular yang kecil. Pada daerah


dengan bagian kortikal luar dari tulang alveolar tipis dan
dapat terperforasi oleh saluran vascular yang kecil,
larutan

didepositkan

terinfiltrasi

melalui

di

luar

periosteum,

larutan

bila
akan

periosteum, bidang kortikal, dan tulang

edularis ke serabut saraf. Dengan cara ini anestetikum akan


berpenetrasi ke serabut sarat yang menginervasi gigi, alveolus
dan membran periodontal.
a. Jarum yang digunakan:1 7/8 inchi- 25 gauge- hub panjang,
1 inchi- 25 gauge- hub pendek, 1 inchi- 27 gauge- hub
pendek
b. Anastetikum: 1-2 cc
c. Teknik:
Sterilisasi area kerja dengan antiseptik (iodine) yang

diulas menggunakan kapas.


Dengan menggunakan kapas/kasa

yang

diantar

tariklah

mukosa

mulut

dan

jari,

diletakkan
mukosa

pipi/bibir ke arah atas untuk memperjelas daerah


lipatan mukobukal atau mukolabial. Garis tersebut bisa
lebih diperjelas

dengan

mengulaskan iodine

pada

jaringan tersebut. Membran mukosa akan berwarna


lebih gelap dibandingkan mukoperiosteum.

Insersikan jarum pada mucobuccal/muccolabial fold


sejajar bidang tulang ( 45 ) dengan mempertahankan

bevel ke arah tulang.


Tusuk jarum menelusuri periosteum sampai sejajar

dengan ujung apeks gigi.


Aspirasi. Bila tidak ada darah yang keluar (aspirasi
negatif), deponirkan larutan anastesi secara perlahan.

c.

Suntikan Intraseous
Pada teknik ini larutan didepositkan pada tulang medularis.

Prosedur ini sangat efektif apabila dilakukan


tulang

dan

jarum

yang

didesain

khusus

dengan
untuk

bur

tujuan

tersebut. Teknik suntikan intraseous akan memberikan efek


anestesi yang baik pada pulpa disertai gangguan

sensasi

jaringan lunak yang minimal. Walaupun demikian biasanya


tulang alveolar akan terkena trauma dan cenderung tejadi
rute

infeksi.

Prosedur

asepsis

yang tepat pada tahap ini

merupakan keharusan.
a. Anastetikum: 1/4 cc
b. Teknik:

Sterilisasi area kerja dengan antiseptik (iodine) yang

diulas menggunakan kapas.


Setelah suntikan supraperiosteal diberikan dengna cara
biasa, dibuat insisi kecil melalui mukoperiosteum pada
daerah

suntikan

yang

sudah

ditentukan

untuk

mendapat jalan masuk bagi bur dan reamer kecil.


Kemudian dibuat lubang melalui bidang kortikal

bagian luar tulang dengan bur intraosseal.


Lubang
harus
terletak
pada bagian apeks gigi

sehingga tidak mungkin merusak akar gigi geligi.


Jarum pendek dengan hubungan yang panjang

diinsersikan melalui lubang dan diteruskan ke tulang.


Aspirasi. Bila negatif, deponirkan anastetikum.

Larutan anestesi 0,25 cc didepositkan perlahan ke


ruang medularis dari tulang.

d.

Suntikan Intraseptal
Merupakan modifikasi dari

kadang-kadang

digunakan

sulit diperoleh atau bila


mungkin

digunakan.

suntikan

intraseous

yang

bila anestesi yang menyeluruh


teknik

supraperiosteal

Kadang-kadang

injesi

biasa

tidak
gagal

menganasatesi pulpa dan gigi sehingga diperlukan teknik ini.


Anastetikum akan langsung berkontak dengan serabut syaraf
pada saat megalir ke foramen apicis dentis dan mebran
periodontium. Digunakan untuk ekstraksi/ tindakan poreatif
pada gigi vital.
a. Jarum yang digunakan: 1 7/8 inchi- 25 gauge- hubungan
panjang, 1 inchi- 25 gauge- hubungan pendek
b. Anastetikum: 1/4 cc
c. Teknik:
Olesi gingiva dan gigi dengan antiseptik

untuk

mencegah infeksi
Lakukan anastesi supraperiosteal
Dengan bur interseptal steril, lubangilah jaringan tepat
dibawah papilla interdental dan tekanlah bur kuat-kuat

sampai tulang.
Haandpiece distabilisir dengan meletakkan ujung jari

ketiga dan keempat pada gigi di dekatnya.


Setelah selesai, kepala pasien difiksasi untuk mencegah

pergerakan mendadak, tangan operator distabilkan.


Dengan bur mengarah 45 terhadap sumbu panjang
gigi, pengeburan dilakukan menembus tulang kortikal
dan masuk ke tulang kanselus. Kedalaman dianggap
cukup bila sudah mencapai tulang kanselus yang

ditandai dengan perasan seperti menembus pulpa.


Lepaskan bur dan insersikan jarum pada arah yang

sama. Posisi operator tidak boleh berubah.


Aspirasi. Bila negatif, deponirkan anastetikum.

Deponirkan cc cairan anastesi secara perlahan ke


dalam tulang.

Gambar 22. Teknik Suntikan Intraseptal


Indikasi Anestesi Infiltrasi Rahang Bawah
a. Insisivus dan Kaninus
Teknik infiltrasi:
Supraperiosteal
Insisivus: Karena akar gigi insisivus bawah pendek, sehingga
jarum tidak boleh dinasukkan terlalu dalam karena cairan
anastesi akan terdeponir ke dalam m.mentalis dan anastesi
bisa gagal. Untuk anastesi keempat gigi anterior, injeksi
dilakukan di kedua sisi lateral dari garis tengah rahang.

Gambar 23. Teknik infiltrasi Supraperiosteal Insisivus


Kaninus: Seperti teknik biasa.
Intraosseal
Submukosa (N. Lingual)
b.
Premolar:
Teknik infiltrasi:
Supraperiosteal (per gigi)
Submukosa (N. Lingual)
Teknik Blok:
Blok mental (N. Mentalis)
c. Molar
Teknik infiltrasi:
Submukosa (N. Buccal Longus)
Teknik Blok:
Blok mandibula ( N. alveolar inferior dan N. Lingual)
Syaraf yang Dituju dan Daerah Baal pada Teknik Infiltrasi
Mandinbula
Anestesi infiltrasi digunakan untuk menunjukkan tempat dalam
jaringan dimana larutan anestesi didepositkan di dekat serabut
terminal dari saraf yang berhubungan dengan periosteum bukal
dan labial. Larutan anestesi didepositkan di dekat serabut
terminal dari saraf dan akan terinfiltrasi di sepanjang jaringan
untuk mencapai serabut saraf dan akan menimbulkan efek
anestesi dari daerah terlokalisir yang disuplai oleh saraf tersebut.

Gambar 24. Infiltrasi lokal dari larutan anestesi yang digunakan


menganestesi serabut saraf pada daerah yang kecil (daerah dalam
lingkaran) serta tidak mempengaruhi daerah saraf lainnya.

Daerah

yang

teranastesi

pada

anastesi

infiltrasi

hanya

terbatas pada ujung cabang saraf terminal tempat dimana bahan


anastesi dideponirkan. Jadi, apabila kita mendeponirkan larutan
anastesi pada sekitar gigi anterior, maka syaraf yang teranastesi
adalah ujung saraf terminal dari nervus mentalis. Jika kita
mendeponirkan larutan anastesi pada daerah mukosa di gigi
premolar atau molar maka syaraf yang teranastesi adalah nervus
alveolar inferior.21,22
d. KESIMPULAN
Tulang maksila merupakan salah satu batasan dari rongga mulut. Tulang
maksila membagi wajah manusia menjadi dua bagian yaitu orbita dan tulang
rahang yang ada dibawahnya. Tulang maksila memberikan tempat untuk gigi
geligi rahang atas melalui processus alveolar yang berfungsi untuk mendukung
akar gigi. Selain membatasi rongga mulut dan rongga hidung melalui palatum
durum, tulang maksila juga membentuk kerangga anterior pipi. Cabang maksilaris
mempersyarafi berbagai bagian pada rahang atas seperti palatum durum, palatum
molae, dan gigi geligi. Teknik blok palatum dapat diaplikasikan pada maksila.
Beberapa teknik yang berguna dalam anestesi maksila antara lain teknik
supraperiosteal (infiltrasi), injeksi ligament periodontal (PDL/interligamentary),
injeksi intraseptal, injeksi intraosseus, posterior superior alveolar nerve block,

middle superior alveolar nerve block, anterior superior alveolar (infraorbital)


nerve block.
Mandibula adalah tulang rahang bawah pada manusia dan
merupakan tulang terkuat dan terbesar pada tulang wajah dan
berfungsi sebagai tempat menempelnya gigi geligi. Mandibula
dipersyarafi oleh nervus mandibularis. Nervus mandibularis
disebut juga nervus maxillaris inferior, mengincervasi gigi dan
gingiva rahang bawah, kulit pada regio temporal, auricular, bibir
bagian bawah, bagian abwah wajah, musculus mastikasi, dan
membran mukosa lidah 2/3 anterior. Nervus mandibularis adalah
nervus terbesar dari ketiga divisi dan terdiri atas dua radiks:
mayor, radiks sensorik keluar dari sudut inferior ganglion
semilunar dan radiks motorik minor (bagian motorik dari
trigeminus) yang melewati di bawah ganglion dan bersatu
dengan radiks sensorik, langsung setelah keluar dari foramen
ovale. Selanjutnya, di bawah basis cranium, nervus tersebut
mengeluarkan

dari

sisi

medial

cabang

recurrent

(nervus

spinosus) dan nervus yang mempersarafi pterygoideus internus


dan kemudian terbagi menjadi dua cabang : anterior dan
posterior. Anestesi blok mandibula sering dilakukan apabila
memerlukan daerah yang teranestesi luas. Selain itu, teknik
infiltrasi juga dapat diaplikasikan pada rahang bawah. Pada
dasarnya memiliki prinsip yang sama, namun syaraf yang dituju
dan

tempat

insersi

jarum

berbeda.

Teknik

infiltrasi

yang

dilakukan pada rahang bawah adalah injeksi submukosa (n.


Buccal

longus,

n.

Lingual),

injeksi

supraperiosteal,

injeksi

intraosseous, dan injeksi intraseptal).


Teknik-teknik tersebut memiliki indikasi, kontraindikasi, prosedur anestesi,
dosis, syaraf yang dituju dan daerah baal tersendiri sehingga pemilihan teknik
yang spesifik dan tepat harus ditentukan sesuai dengan indikasi pasien.

DAFTAR PUSTAKA
1. Pearce, Evelyn C.Anatomi dan fisiologi untuk para medis. Jakarta: Gramedia;
2009
2. Berkovitz, Barry K. B, dkk. Master Dentistry Volume Three Oral Biology.
London: Churchill Livingstone; 2011
3. Wibowo, Daniel S. Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta: Grasindo; tanpa tahun
4. Faiz, Omar, Moffat, David. Anatomi At Glance. Indonesia: Erlangga; 2003
5. Paulsen F, Washke J. Sobotta, atlas anatomi manusia: kepala, leher dan
neuroanatomi. 23rd ed. Indonesia: EGC; 2010
6. Dixon, D.andrew. Buku Pintar Anatomi Kedokteran Gigi. Jakarta : EGC; 1993
7. Sloane E, ed. Anatomi dan Fisiologi untuk pemula. Jakarta : EGC; 2004
8. Eroschenko, P. Victor. DiFiores Atlas of Histology with Functional
Correlations. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2013
9. Sloane, Ethel. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC; 2004
10. Karmana, Oman. Cerdas Belajar Biologi. Indonesia: Grafindo; tanpa tahun
11. Wardi,dr. Diktat Anatomi PSKG: Head and Neck- Vascularisation and
Innervation. 2012
12. Benaifer D. Dubash, DMD; Adam T. Hershkin, DMD; Paul J. Seider, DMD;
Gregory M. Casey, DMD.Oral and Maxillofacial Regional Anesthesia.
Affiliation: St. Luke's-Roosevelt Hospital Center, Department of Oral and
Maxillofacial Surgery. 2006.
13. Petunjuk praktis anestesi lokal. Alih bahasa, Purwanto; editor edisi bahasa
Indonesia,Lilian Juwono. Jakarta: EGC, 1993
14. Thapliyal C. G, Sinha C. R, Menon C. P, Chakranarayan S. L. C. A.
(2007).

Management

of

Mandibular

Fractures.

http://medind.nic.in/maa/t08/i3/maat08i3p218.pdf.

last

Available

at

update

12

Desember 2010

15. Soepardi E A, Iskandar N. (2006). Buku ajar ilmu kesehatan Telinga


Hidung Tenggorokan Kepala Leher. Bab VII, hal 132-156. Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Indonesia. Jakarta.

16. Snell R. S. (2006) Anatomi Klinik untuk mahasiswa kedokteran. Edisi


6. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.
17. Tedyasihto, B. 2012, Buku Ajar Implantologi Mulut Teori dan
Praktek ,EGC, Jakarta.

18. Norton, Neil S., Ph.D. 2012. NETTERS HEAD AND NECK ANATOMY FOR
DENTISTRY 2nd Edition. Elsevier. Philadelphia

19. Bryce

DD,

2004,Trigeminal

Neuralgia.

http://

Facial-

neuralgia.org/ conditions
20. Peterson LJ, et all. 1998. Contemporary Oral and Maxillofacial
Surgery, 3rd ed. St Louis. Mosby. p. 696-709
21. Howe L Geoffrey,F.Ivor.Whitehead. Perkembangan anestesi lokal
pada kedokteran gigi,teknik dasar,komplikasi anestesi. Lilian
Yuwono.

Anestesi

lokal.

Jakarta.

Hipokrates;

1992.pp.15-

20.pp.46-68.pp.99-128.
22. Paulsen, F dan J. Waschke. Atlas Anatomi Manusia. EGC, 2013
(3): 87-94.
23. Stanley J. Nelson and Major M. Ash. Wheelers Dental Anatomy, Physiology,
and Occlusion. 9th Ed. Missouri : Saunders Elsevier. 2010:256-8