Anda di halaman 1dari 44

KREDIT MACET DAN PENYELESAIANNYA

MAKALAH
Diajukkan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Manajemen Perbankan
Semester IV Tahun Akademik 2012 2013
PUJASTINI DEWI NUR AZIZAH
D1. 1101290
MANAJEMEN C

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI SEBELAS APRIL SUMEDANG


TAHUN 2012 2013
Jalan Angkrek Situ No. 19 Sumedang Telp. (0261) 205524
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, bahwasanya makalah yang berjudul
KREDIT MACET DAN PENYELESAIANNYA telah selesai sebagaimana mestinya,
guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen Perbankan, Semeter IV Jurusan
Manajemen C di lingkungan STIE Sebelas April Sumedang.
Dalam penyusunan makalah ini tentu penulis mendapatkan kesulitan-kesulitan. Namun berkat
bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil, sehingga kesulitan-kesulitan tersebut
dapat teratasi.
Maka dari itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak yang telah
memberikan dukungan baik moril maupun materil kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, sehingga demi
kesempurnaannya penulis menerima kritik dan saran yang sifatnya membangun. Namun
besar harapan penulis agar makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan bagi
pembaca pada umumnya.

Sumedang, Maret 2013

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

ii

BAB I. PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

B.

Rumusan Masalah

C.

Tujuan Penulisan

D.

Manfaat Penulisan

1
1
1
1
2

BAB II. PEMBAHASAN

A.

Pengertian Umum Kredit

B.

Pengertian Kredit Macet

C.

Faktor faktor Penyebab Munculnya Kredit Bermasalah

D. Indikasi Kredit Macet

E.

Mengurangi atau Mencegah Kemungkinan Kredit Macet

F.

Cara Penyelesaian Kredit Macet

BAB III. PENUTUP

11

A. Kesimpulan

11

B. Saran

11

DAFTAR PUSTAKA

12

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bank sebagai lembaga keuangan, disamping memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran
dan peredaran uang, usaha pokok bisnisnya adalah memberikan pelayanan kredit kepada para
nasabahnya.
Sejak terjadinya Paket Juni 83 pada masa perkembangan industri perbankan, yaitu
perbankan menghapus pagu kredit, menentukan sendiri suku bunga dalam rangka
meningkatkan mobilisasi dana dari masyarakat, dan mengurangi ketergantungan dari BI,
bank dari berbagai jenis kepemilikannya dapat memberikan keleluasaan kredit kepada
nasabahnya. Sehingga masyarakat berbondong bondong mendatangi bank dengan harapan
mendapat pinjaman modal untuk membangun usaha atau bisnis, ataupun meningkatkan usaha
yang sudah ada.
Setelah kredit yang merajalela di masyarakat khususnya di lingkungan pengusaha menengah
ke atas, banyak bank yang menyimpang dari aturan dalam pemberian kredit karena
persaingan yang ketat dalam penarikan nasabah. Selain itu banyak kelalaian yang dilakukan
bank dalam menganalisis pemberian kredit, dan pemberian jumlah pinjaman yang tidak
sesuai dengan kemampuan nasabah bank, sehingga terjadilah kredit macet pada nasabah.

Dengan demikian diperlukan cara penyelesaian kredit macet yang akan dibahas dalam
makalah ini.
B. Rumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang di atas, maka timbul masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan kredit macet?
2. Faktor faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya kredit macet?
3. Bagaimana cara penyelesaian kredit macet?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah :
1. Mengetahui apa yang dimaksud kredit macet.
2. Mengetahui faktor faktor penyebab kredit macet.
3. Mengetahui bagaimana cara penyelesaian kredit macet.
D. Manfaat Penulisan
Makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat berupa :
1. Pengetahuan tentang kredit macet dan penyelesaiannya.
2. Wawasan dan pengalaman dalam penyusunan makalah.
3. Bahan wacana bagi para pembaca.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Umum Kredit
Dalam UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan, disebutkan bahwa kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat
dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara
bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah
jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Sampai saat ini pendapatan bunga sebagai hasil dari pemberian kredit, masih merupakan
kontribusi terbesar pada pendapatan bank secara keseluruhan, baik bank-bank di Indonesia
maupun kebanyakan bank-bank di dunia. Berdasarkan statistik Bank Indonesia bulan Juni
1992, 80% dari total aset perbankan Indonesia adalah berupa kredit yang disalurkan baik
kepada sektor perdagangan maupun industri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
penyaluran kredit merupakan kegiatan utama suatu bank. Di lain pihak, penyaluran kredit
mengandung resiko bisnis terbesar dalam dunia perbankan. Oleh karena itu, pengelolaan
kredit merupakan kegiatan yang sangat penting untuk diperhatikan oleh setiap bank.
B. Pengertan Kredit Macet
Dalam paket kebijakan deregulasi bulan Mei tahun 1993 (PAKMEI 1993), di Indonesia
dikenal dua golongan kredit bank, yaitu kredit lancar dan kredit bermasalah. Di mana kredit

bermasalah digolongkan menjadi tiga, yaitu kredit kurang lancar, kredit diragukan, dan kredit
macet. Kredit macet inilah yang sangat dikhawatirkan oleh setiap bank, karena akan
mengganggu kondisi keuangan bank, bahkan dapat mengakibatkan berhentinya kegiatan
usaha bank.
Kredit macet atau problem loan adalah kredit yang mengalami kesulitan pelunasan akibat
adanya faktor-faktor atau unsur kesengajaan atau karena kondisi di luar kemampuan debitur.
(Siamat, 1993, hal: 220).
Suatu kredit digolongkan ke dalam kredit macet bilamana: (Sutojo, 1997, hal: 331)
1.

Tidak dapat memenuhi kriteria kredit lancar, kredit kurang lancar dan kredit diragukan;

atau
2.

Dapat memenuhi kriteria kredit diragukan, tetapi setelah jangka waktu 21 bulan

semenjak masa penggolongan kredit diragukan, belum terjadi pelunasan pinjaman, atau usaha
penyelamatan kredit; atau
3.

Penyelesaian pembayaran kembali kredit yang bersangkutan, telah diserahkan kepada

pengadilan negeri atau Badan Urusan Piutang Negara (BUPN), atau telah diajukan
permintaan ganti rugi kepada perusahaan asuransi kredit.

Sejak krisis keuangan yang berlanjut dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak
tahun 1997, penyelesaian kredit macet bank-bank di Indonesia ditangani oleh Badan
Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).
Berkaitan dengan kasus kredit macet di Indonesia Menko Ekuin, Kwik Kian Gie mengatakan
bahwa sampai saat ini jumlahnya sudah mencapai Rp 600 trilyun (InfoBank, Edisi Nomor
245, Januari 2000, hal:14). Menurut hemat kami hal ini tampaknya lebih disebabkan karena
faktor kesengajaan. Betapa tidak, sebagian besar dana kredit yang dimiliki bank disalurkan
kepada debitur kelompok usahanya sendiri, yang disebut perusahaan terafiliasi. Dimana
dalam penyalurannya kurang atau mungkin tidak didasarkan pada studi kelayakan (feasibility
study), dan bahkan besarnya kredit yang mereka ajukan jumlahnya telah di mark up terlebih
dahulu. Sebagai contoh adalah Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) dan Bank Umum
Nasional (BUN), yang masing-masing secara berurutan menyalurkan 90,7% dan 78,4%
(Kwik Kian Gie, 1999, hal: 124) untuk kepentingan kelompok usahanya sendiri.
C. Faktor faktor Penyebab Munculnya Kredit Macet

Munculnya kredit bermasalah termasuk di dalamnya kredit macet, pada dasarnya tidak terjadi
secara tiba-tiba, melainkan melalui suatu proses. Terjadinya kredit macet dapat disebabkan
baik oleh pihak kreditur (bank) maupun debitur. Faktor-faktor penyebab yang merupakan
kesalahan pihak kreditur adalah:
1. Keteledoran bank mematuhi peraturan pemberian kredit yang telah digariskan;
2. Terlalu mudah memberikan kredit, yang disebabkan karena tidak ada patokan yang jelas
tentang standar kelayakan permintaan kredit yang diajukan;
3. Konsentrasi dana kredit pada sekelompok debitur atau sektor usaha yang beresiko tinggi;
4. Kurang memadainya jumlah eksekutif dan staf bagian kredit yang berpengalaman;
5. Lemahnya bimbingan dan pengawasan pimpinan kepada para eksekutif dan staf bagian
kredit;
6. Jumlah pemberian kredit yang melampaui batas kemampuan bank;
7. Lemahnya kemampuan bank mendeteksi kemungkinan timbulnya kredit bermasalah,
termasuk mendeteksi arah perkembangan arus kas (cash flow) debitur lama.
8. Tidak mampu bersaing, sehingga terpaksa menerima debitur yang kurang bermutu.
(Sutojo, 1999, hal: 216)
Sedang faktor-faktor penyebab kredit macet yang diakibatkan karena kesalahan pihak debitur
antara lain:
1. Menurunnya kondisi usaha bisnis perusahaan, yang disebabkan merosotnya kondisi
ekonomi umum dan/atau bidang usaha dimana mereka beroperasi;
2. Adanya salah urus dalam pengelolaan usaha bisnis perusahaan, atau karena kurang
berpengalaman dalam bidang usaha yang mereka tangani;
3. Problem keluarga, misalnya perceraian, kematian, sakit yang berkepanjangan, atau
pemborosan dana oleh salah satu atau beberapa orang anggota keluarga debitur;
4. Kegagalan debitur pada bidang usaha atau perusahaan mereka yang lain;
5. Kesulitan likuiditas keuangan yang serius;
6. Munculnya kejadian di luar kekuasaan debitur, misalnya perang dan bencana alam;
7. Watak buruk debitur (yang dari semula memang telah merencanakan tidak akan
mengembalikan kredit). (Sutojo, 1999, hal: 334)
D. Indikasi Kredit Macet

Untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya kredit bermasalah atau kredit macet sedini
mungkin, dapat dilakukan dengan memperhatikan gejala-gejala sebagai berikut: (Siamat,
1993, hal: 220-221)
1. Terjadinya penundaan yang tidak normal dalam penerimaan laporan keuangan,
pembayaran cicilan atau dokumen lainnya;
2. Adanya penyelidikan yang tidak terduga dari lembaga-lembaga keuangan lainnya
mengenai nasabah tersebut;
3. Keluarnya anggota eksekutif perusahaan;
4. Terjadi perubahan kegiatan usaha misalnya masuknya pesaing baru atau produk baru
yang sejenis;
5. Meningkatnya penggunaan fasilitas overdraft;
6. Perusahaan nasabah mengalami kekacauan;
7. Ditemukannya kegiatan ilegal atas usaha nasabah;
8. Permintaan tambahan kredit;
9. Permohonan perpanjangan atau penjadwalan kembali kredit;
10. Usaha nasabah yang terlalu ekspansif;
11. Kreditur lain melakukan proteksi atas kredit yang diberikan dengan meminta tambahan
jaminan atau melakukan pengikatan notaris atas barang jaminan.
Dengan mencermati gejala-gejala terjadinya kredit macet tersebut, maka bukanlah sesuatu
yang mustahil untuk mencegah terjadinya kredit macet, atau paling tidak dapat
mengurangi/menekan sekecil mungkin kasus-kasus kredit macet yang ada.
E. Mengurangi atau Mencegah Kemungkinan Kredit Macet
Setiap penyaluran kredit oleh bank tentu mengandung resiko, karena adanya keterbatasan
kemampuan manusia dalam memprediksi masa yang akan datang. Apalagi dalam situasi dan
kondisi lingkungan yang cepat berubah dan penuh ketidakpastian seperti sekarang ini.
Beberapa hal penting yang harus dilakukan oleh bank dalam menekan atau mengurangi
seminimal mungkin resiko pemberian kreditnya, adalah:
1. Penilaian/Analisis terhadap Permohonan Kredit
Setiap permohonan kredit yang diajukan oleh calon debitur, tentu harus dilakukan penilaian
secara seksama oleh pejabat bank. Terlebih lagi untuk pemberian kredit jangka panjang,
seperti kredit investasi misalnya. Mengingat semakin lama jangka waktu kredit, maka

semakin tinggi faktor ketidakpastiannya, sehingga semakin besar pula resiko yang dihadapi
bank.
Dalam penilaian kredit, ada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan yaitu prinsip 5 C + 1C,
yang meliputi:
a) Character
Character atau watak debitur sangat menentukan kemauan untuk membayar kembali kredit
yang telah diterimanya. Namun demikian, untuk mengetahui character seseorang itu tidak
mudah. Oleh karena itu, penilaian atas character debitur perlu dilakukan secara hati-hati dan
secermat mungkin. Informasi dari keluarga dan teman-teman dekat dari debitur, serta
informasi dari bank pemberi kredit sebelumnya adalah sangat penting. Untuk mengetahui dan
memperoleh gambaran yang jelas tentang watak calon debitur ini, dapat dilakukan usahausaha seperti: melakukan interview langsung terhadap calon debitur; meneliti daftar riwayat
hidupnya, mengetahui reputasi calon debitur berdasarkan informasi dari lingkungan
usahanya, serta meneliti kegiatan dan pengalaman-pengalaman usahanya.
b) Capacity
Capacity mengandung arti kemampuan calon debitur dalam mengelola usahanya. Dengan
demikian, capacity berkaitan erat dengan kemampuan calon debitur dalam melunasi
kreditnya. Unsur-unsur yang dinilai untuk mengetahui kemampuan calon debitur antara lain
meliputi penilaian terhadap:
1) Proyeksi arus kas;
2) Proyeksi laporan keuangan;
3) Pusat informasi krdit;
4) Kemampuan manajemen;
5) Kemampuan pemasaran;
6) Kemampuan teknis;
7) Kewajiban kewajiban pada pihak lainnya.
c) Capital
Informasi mengenai besar kecilnya modal (capital) perusahaan calon debitur adalah sangat
penting bagi bank. Modal yang dimaksudkan disini adalah modal sendiri (networth) atau nilai
kekayaan bersih yang dimiliki perusahaan, yang merupakan selisih antara total aktiva dengan
total kewajiban (utang). Semakin besar modal yang dimiliki perusahaan merupakan cerminan
keberhasilan perusahaan di masa lalu, dan ini tentunya semakin baik dihadapan bank.
Mengingat kredit bank hanya merupakan pelengkap atau tambahan bagi pembiayaan kegiatan
operasional perusahaan. Posisi modal suatu perusahaan dapat dianalisis dari laporan

keuangannya. Untuk mendapatkan gambaran yang lengkap tentang modal perusahaan, maka
bank harus melakukan analisis terhadap laporan keuangan perusahaan selama paling tidak
tiga tahun periode akuntansi sebelumnya.
d) Collateral
Collateral (jaminan kredit) merupakan setiap aktiva atau barang-barang yang diserahkan
debitur sebagai jaminan atas kredit yang diperoleh dari bank. Manfaat jaminan ini bagi bank
adalah sangat penting, sebagai back up atas kredit yang diberikan kepada debitur. Tujuannya
adalah agar bank dapat memperoleh pelunasan kembali atas kredit yang diberikan kepada
debitur, apabila kelak debitur tidak mampu melunasi kreditnya atau pun ingkar janji (wan
prestasi). Atas jaminan yang diberikan oleh debitur, maka perlu diperhatikan cara
pengikatannya sesuai dengan hukum yang berlaku, untuk menghindari sengketa yang
kemungkinan muncul di kemudian hari.
e) Conditions
Yang dimaksud conditions disini adalah keadaan perekonomian secara umum dimana
perusahaan tersebut beroperasi. Kondisi perekonomian sangat menentukan keberhasilan
maupun kegagalan suatu perusahaan. Oleh karena itu, bank atau dalam hal ini analis kredit,
harus mempertimbangkan keadaan perekonomian, dan proyeksi perekonomian selama jangka
waktu kredit yang diberikan.
f)

Constraint

Dalam pemberian kredit, bank perlu juga mengetahui dan mempertimbangkan hambatan
(constraint) yang mungkin muncul di lapangan. Bank perlu mengetahui tanggapan
masyarakat setempat terhadap rencana investasi yang akan dilakukan oleh calon debiturnya,
karena bisa saja masyarakat setempat menolak rencana investasi tersebut. Sebagai contoh
seorang debitur mengajukan kredit untuk membangun sebuah peternakan babi misalnya. Nah,
pihak bank perlu mengetahui bagaimana tanggapan masyarakat setempat, apakah menerima
atau menolak kehadiran peternakan tersebut.
2. Pemantauan Penggunaan Kredit
Setelah bank memutuskan untuk memberikan kredit kepada debiturnya, bukan berarti bahwa
tugas bank sebagai perantara keuangan selesai sampai di situ, melainkan itulah awal mula
tugas bank yang sesungguhnya dalam penyaluran kredit. Bank senantiasa harus memantau
kredit yang telah disalurkannya. Apakah debitur benar-benar menggunakan kreditnya sesuai
dengan permohonan semula, atau digunakan untuk keperluan lain? Bagaimana perkembangan
dan prospek usaha debitur? Bagaimana keadaan perekonomian nasional secara keseluruhan,
kondusif atau tidak bagi perkembangan usaha debitur? Dan pertanyaan-pertanyaan lain

berkaitan dengan prospek kredit yang telah disalurkan oleh bank. Pertanyaan-pertanyaan ini
penting dijawab, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan tersendat atau macetnya kredit
yang telah disalurkan bank.
3. Jaminan Kredit
Jaminan kredit (collateral) atau agunan sebenarnya tidaklah mutlak sifatnya, tetapi perlu,
guna mengantisipasi kemungkinan tidak tertagihnya kredit yang disalurkan bank. Di samping
status dan kondisi jaminan, yang tidak kalah penting untuk diperhatikan oleh bank adalah
dalam cara pengikatannya. Pengikatan jaminan kredit ini harus sesuai dengan ketentuan
hukum yang berlaku. Hal ini berkaitan dengan eksekusi jaminan, apabila kelak debitur ingkar
janji (wan prestasi) atau tidak mampu melunasi kreditnya.
F. Cara penyelesaian Kredit Macet
Untuk menyelesaikan dan menyelamatkan kredit yang dikategorikan macet, dapat ditempuh
usaha-usaha sebagai berikut: (Siamat, 1993, hal 222-223)
1. Rescheduling (Penjadwalan Ulang)
Yaitu perubahan syarat kredit hanya menyangkut jadwal pembayaran dan atau jangka waktu
termasuk masa tenggang (grace period) dan perubahan besarnya angsuran kredit. Tentu tidak
kepada semua debitur dapat diberikan kebijakan ini oleh bank, melainkan hanya kepada
debitur yang menunjukkan itikad dan karakter yang jujur dan memiliki kemauan untuk
membayar atau melunasi kredit (willingness to pay). Di samping itu, usaha debitur juga tidak
memerlukan tambahan dana atau likuiditas.
2. Reconditioning (Persyaratan Ulang)
Yaitu perubahan sebagian atau seluruh syarat-syarat kredit yang tidak terbatas pada
perubahan jadwal pembayaran, jangka waktu, tingkat suku bunga, penundaan pembayaran
sebagian atau seluruh bunga dan persyaratan lainnya. Perubahan syarat kredit tersebut tidak
termasuk penambahan dana atau injeksi dan konversi sebagian atau seluruh kredit menjadi
equity perusahaan. Debitur yang bersifat jujur, terbuka dan cooperative yang usahanya
sedang mengalami kesulitan keuangan dan diperkirakan masih dapat beroperasi dengan
menguntungkan, kreditnya dapat dipertimbangkan untuk dilakukan persyaratan ulang.
3. Restructuring (Penataan Ulang)
Yaitu perubahan syarat kredit yang menyangkut:
a) Penambahan dana bank, atau
b) Konversi seluruh atau sebagian tunggakan bunga menjadi poko kresit baru, atau

c) Konversi seluruh atau sebagian dari kredit menjadi penyertaan bank atau mengambil
partner yang lain untuk menambah penyertaan.
4. Liquidation (Liquidasi)
Yaitu penjualan barang-barang yang dijadikan jaminan dalam rangka pelunasan utang.
Pelaksanaan likuidasi ini dilakukan terhadap kategori kredit yang memang benar-benar
menurut bank sudah tidak dapat lagi dibantu untuk disehatkan kembali atau usaha nasabah
yang sudah tidak memiliki prospek untuk dikembangkan. Proses likuidasi ini dapat dilakukan
dengan menyerahkan penjualan barang tersebut kepada nasabah yang bersangkutan. Sedang
bagi bank-bank umum milik negara, proses penjualan barang jaminan dan aset bank dapat
diserahkan kepada BPPN, untuk selanjutnya dilakukan eksekusi atau pelelangan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kredit macet atau problem loan adalah kredit yang mengalami kesulitan pelunasan akibat
adanya faktor-faktor atau unsur kesengajaan atau karena kondisi di luar kemampuan debitur.
Faktor faktor penyebab dari kredit macet itu sendiri dapat disebabkan oleh pihak kreditur
(bank) ataupun debitur (nasabah). Kesalahan dari pihak kreditur seperti : keteledoran bank
mematuhi peraturan pemberian kredit yang telah digariskan; terlalu mudah memberikan
kredit, yang disebabkan karena tidak ada patokan yang jelas tentang standar kelayakan
permintaan kredit yang diajukan; konsentrasi dana kredit pada sekelompok debitur atau
sektor usaha yang beresiko tinggi; dan lain lain. Sedangkan faktor yang disebabkan oleh
debitur diantaranya : menurunnya kondisi usaha bisnis perusahaan, yang disebabkan
merosotnya kondisi ekonomi umum dan/atau bidang usaha dimana mereka beroperasi;
adanya salah urus dalam pengelolaan usaha bisnis perusahaan, atau karena kurang
berpengalaman dalam bidang usaha yang mereka tangani; problem keluarga, misalnya

perceraian, kematian, sakit yang berkepanjangan, atau pemborosan dana oleh salah satu
atau beberapa orang anggota keluarga debitur; dan sebagainya.
Untuk menyelesaikan dan menyelamatkan kredit yang dikategorikan macet, dapat ditempuh
usaha-usaha sebagai berikut :
1. Rescheduling (Penjadwalan Ulang)
2. Reconditioning (Persyaratan Ulang)
3. Restructuring (Penataan Ulang)
4. Liquidation (Liquidasi)
A. Saran
Dengan adanya pengalaman perbankan dalam masalah perkreditan diantaranya kredit macet,
bank sebaiknya lebih hati hati dan selektif dalam pemberian kredit kepada nasabah, dan
disertai pengamatan jaminan kredit yang sesuai dari nasabah agar dapat meminimalisasi
adanya kredit macet dan menghindarkan bank dari kepailitan.
Analisis Penanggulangan Kredit Bermasalah Pada PT. Bank Tabungan Negara
(Persero) Tbk. Cabang Makassar

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kredit bagi suatu bank merupakan aset bank yang diberikan kepada masyarakat.
Keberadaan kredit merupakan pendapatan terbesar bagi bank dibandingkan dengan
sumber pendapatan lain. Dengan diberikannya kredit kepada masyarakat bank juga akan
mendapat pendapatan lain seperti provisi kredit dan pendapatan administrasi kredit. Oleh
karena itu, pengelolaan kredit sangatlah penting bagi industri perbankan. Disamping kredit
memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pendapatan bank, di sisi lain kredit juga
rawan akan gagalnya pengembalian sebagian kredit yang diberikan dan menjadi kredit
bermasalah sehinga mempengaruhi pendapatan bank. Hal tersebut biasa terjadi dalam
bisnis perbankan dimana hampir mustahil bahwa semua kredit yang disalurkan akan 100%
berjalan lancar sehingga sedikit atau banyak bank akan menghadapi kredit bermasalah (non
performing loan/NPL).
1
1

Menurut pendapat Djohan Suryana, secara umum gejala-gejala kenapa kredit bank banyak
yang macet antara lain kesalahan dalam rencana investasi, cash flow yang tidak seimbang,
beberapa kali memperpanjang jatuh tempo kredit yang seharusnya sudah dilunasi, dan
manajemen perusahaan yang tidak berjalan sesuai fungsinya.
Terhadap kredit bermasalah yang timbul tersebut diperlukan penanganan yang segera oleh
pihak bank agar tidak berkelanjutan menjadi kredit macet yang jika persentasenya terus
meningkat akan dapat mempengaruhi tingkat kesehatan bank khususnya Kredit
Kepemilikan Rumah(KPR) yang merupakan salah satu jenis kredit yang banyak dikeluarkan
oleh PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Cabang Makassar.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka penulis mengangkat judul
dalam penulisan skripsi ini yaitu: Analisis Penanggulangan Kredit Bermasalah Pada PT.
Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Cabang Makassar.
B. Masalah Pokok
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka masalah pokok yang
timbul dalam penelitian adalah :
Bagaimana tindakan penanggulangan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) yang bermasalah
pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Cabang Makassar?
C. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah pokok di atas, maka tujuan penelitian adalah: Untuk mengetahui
tindakan penanggulangan Kredit Kepemilikan Rumah yang (KPR) yang bermasalah pada
PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Cabang Makassar.
2. Kegunaan Penelitian
Kegunaan Penelitian dimaksudkan yaitu:
1) Sebagai bahan masukan dan informasi mengenai langkah-langkah penanggulangan
kredit bermasalah kepada pihak bank dalam menentukan arah kebijakan di masa yang akan
datang.
2) Sebagai bahan acuan dan bahan pustaka bagi pihak-pihak yang ingin melakukan
penelitian lanjutan terkait dengan objek yang sama.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Bank
Frianto Pandia dalam bukunya Lembaga Keuangan (2005:10) menuliskan bahwa bank
adalah suatu badan usaha yang bertujuan memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas
pembayaran dan peredaran uang. Lalu menurut Kasmir dalam bukunya Dasar-Dasar

Perbankan (2008:2) secara sederhana bank diartikan sebagai lembaga keuangan yang
kegiatan usahanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali
dana tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa-jasa bank lainnya.
Kemudian menurut Undang-Undang RI No.10 Tahun 1998 Tanggal 10 November 1998
tentang perbankan yaitu :
Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau
bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
B. Pengertian Dan Jenis Kredit
4
Menurut Kasmir dalam bukunya Dasar-Dasar Perbankan (2008:101),dalam bahasa latin
kredit disebut credere yang artinya percaya. Maksudnya si pemberi kredit percaya
kepada si penerima kredit bahwa kredit yang disalurkannya pasti akan dikembalikan sesuai
perjanjian. Sedangkan bagi si penerima kredit berarti menerima kepercayaan, sehingga
mempunyai kewajiban untuk membayar kembali pinjaman tersebut sesuai dengan jangka
waktunya. Oleh karena itu, untuk meyakinkan bank bahwa si nasabah benar-benar dapat
dipercaya, maka sebelum kredit diberikan terlebih dahulu bank mengadakan analisis kredit.
Pengertian kredit menurut Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 adalah
penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan
persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang
mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan
pemberian bunga..
Dalam praktiknya kredit yang diberikan bank umum dan bank perkreditan rakyat untuk
masyarakat terdiri dari berbagai jenis. Secara umum jenis-jenis kredit dapat dilihat dari
berbagai segi antara lain :
1) Dilihat dari segi kegunaan
a. Kredit investasi, merupakan kredit jangka panjang yang biasanya digunakan untuk
keperluan perluasan usaha atau membangun proyek/pabrik baru atau untuk keperluan
rehabilitasi.
b. Kredit modal kerja, merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan meningkatkan
produksi dalam operasionalnya.
2)

Dilihat dari segi tujuan kredit

a. Kredit produktif, merupakan kredit yang digunakan untuk peningkatan usaha atau
produksi atau investasi
b. Kredit konsumtif, merupakan kredit yang digunakan untuk dikonsumsi secara pribadi.

c. Kredit perdagangan, merupakan kredit yang diberikan kepada pedagang untuk


membiayai aktivitas perdagangannya seperti untuk membeli barang dagangan yang
pembayaranya diharapkan dari hasil penjualan barang dagangan tersebut.
3) Dilihat dari segi jangka waktu
a. Kredit jangka pendek, merupakan kredit yang memiliki jangka waktu kurang dari 1 tahun
atau paling lama 1 tahun dan biasanya digunakan untuk keperluan modal kerja.
b. Kredit jangka menengah, merupakan kredit yang memiliki jangka waktu berkisar antara 1
tahun sampai dengan 3 tahun dan biasanya kredit ini digunakan untuk melakukan investasi.
c. Kredit jangka panjang, merupakan kredit yang masa pengembaliannya paling panjang
yaitu di atas 3 tahun atau 5 tahun. Biasanya kredit ini untuk investasi jangka panjang seperti
perkebunan karet, kelapa sawit, atau manufaktur atau untuk kredit konsumtif seperti
perumahan.
4) Dilihat dari segi jaminan
a. Kredit dengan jaminan, merupakan kredit yang diberikan dengan suatu jaminan dapat
berbentuk barang berwujud atau tidak berwujud. Artinya setiap kredit yang dikeluarkan akan
dilindungi minimal senilai jaminan atau untuk kredit tertentu jaminan harus melebihi jumlah
kredit yang diajukan si calon debitur.
b. Kredit tanpa jaminan, merupakan kredit yang diberikan tanpa jaminan barang. Kredit
jenis ini diberikan dengan prospek usaha, character, serta loyalitas atau nama baik si calon
debitur selama berhubungan dengan bank atau pihak lain.
5) Dilihat dari segi sektor usaha
a. Kredit Pertanian, adalah kredit yang dibiayai untuk sektor perkebunan atau pertanian.
b. Kredit Peternakan, adalah kredit yang diberikan untuk sektor peternakan.
c. Kredit Industri, adalah kredit yang diberikan untuk membiayai industri baik industri kecil,
menengah, atau industri besar.
d. Kredit Pertambangan, adalah kredit yang diberikan untuk usaha tambang.
e. Kredit Pendidikan, adalah kredit yang diberikan untuk membangun sarana dan
prasarana pendidikan atau dapat pula berupa kredit untuk mahasiswa.
C. Fungsi Kredit
Pemberian suatu fasilitas kredit mempunyai beberapa tujuan yang hendak dicapai yang
tentunya tergantung dari tujuan bank itu sendiri. Tujuan pemberian kredit juga tidak akan
terlepas dari misi bank tersebut didirikan.
Fungsi kredit dewasa ini menurut H. Rachmat Firdaus dalam bukunya Manajemen
Perkreditan (2004:5) adalah pemenuhan jasa melayani kebutuhan masyarakat (to serve the
society) dalam rangka mendorong dan melancarkan perdagangan, produksi, jasa-jasa dan
bahkan konsumsi yang kesemuanya itu pada akhirnya ditujukan untuk menaikkan taraf
hidup rakyat banyak.

Fungsi kredit menurut Malayu S.P Hasibuan, dalam bukunya Dasar-Dasar Perbankan
(2007:88) adalah:
1.

Menjadi motivatior dan dinamisator peningkatan kegiatan perdagangan dan

perekonomian.
2.

Memperluas lapangan kerja bagi masyarakat.

3.

Memperlancar arus barang dan arus uang.

4.

Meningkatkan hubungan internasional.

5.

Meningkatkan produktivitas dana yang ada.

6.

Meningkatkan daya guna (utility) barang.

7.

Meningkatkan kegairahan berusaha masyarakat.

8.

Memperbesar modal kerja perusahaan.

9.

Meningkatkan income per capita (IPC) masyarakat.

10. Mengubah cara berfikir/bertindak masyarakat untuk leih ekonomis.


D. Prinsip-Prinsip Pemberian Kredit
Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam setiap pemberian kredit diperlukan adanya
pertimbangan serta kehati-hatian agar kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam
kredit benar-benar terwujud sehingga kredit yang diberikan dapat mengenai sasarannya dan
terjaminnya pengembalian kredit tepat pada waktunya sesuai perjanjian.
Menurut Sutarno dalam bukunya Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank (2004:93),
prinsip-prinsip pemberian kredit yaitu:
Prinsip-Prinsip 5C
1) Character (Watak/Kepribadian)
Adalah sifat dasar yang ada dalam hati seseorang. Watak dapat berupa baik dan jelek
bahkan ada yang terletak diantara baik dan jelek. Watak merupakan bahan pertimbangan
untuk mengetahui resiko. Tidak mudah untuk menentukan watak seorang debitur apalagi
debitur yang baru pertama kali mengajukan permohonan kredit.
2) Capacity (Kemampuan)
Seorang debitur yang mempunyai watak baik selalu akan memikirkan mengenai
pembayaran kembali hutangnya sesuai waktu yang ditentukan. Untuk dapat memenuhi
kewajiban pembayaran debitur harus memiliki kemampuan yang memadahi yang berasal
dari pendapatan pribadi jika debitur perorangan atau pendapatan perusahaan bila debitur
berbentuk badan usaha.
3) Capital (Modal)
Seseorang atau badan usaha yang akan menjalankan usaha atau bisnis sangat
memerlukan modal untuk memperlancar kegiatan bisnisnya. Seorang yang akan
mengajukan permohonan kredit baik untuk kepentingan produktif atau konsumtif harus
memiliki modal. Misalnya orang yang akan mengajukan kredit kepemilikan rumah (KPR)

untuk membeli sebuah rumah pemohon kredit harus memiliki modal untuk membayar uang
muka. Uang muka itulah sebagai modal sendiri yang dimiliki pemohon kredit sedangkan
kredit sebagai tambahan.
4) Condition of economy (Kondisi perekonomian)
Kondisi ekonomi adalah situasi ekonomi pada waktu dan jangka waktu tertentu dimana
kredit itu diberikan oleh bank kepada pemohon. Apakah kondisi ekonomi pada kurun waktu
kredit dapat mempengaruhi usaha dan pendapatan pemohon kredit untuk melunasi
utangnya.
5) Collateral (Jaminan atau agunan)
Jaminan berarti harta kekayaan yang dapat diikat sebagai jaminan guna menjamin
kepastian pelunasan hutang jika dikemudian hari debitur tidak melunasi hutangnya dengan
jalan menjual jaminan dan mengambil pelunasan dari penjualan harta kekayaan yang
menjadi jaminan itu.
Selanjutnya menurut Malayu S.P Hasibuan, dalam bukunya Dasar-Dasar Perbankan
(2007:106), prinsip-prinsip pemberian kredit :
Prinsip-Prinsip 7P
1) Personality (Kepribadian)
Adalah sifat dan perilaku yang dimiliki calon debitur dipergunakan sebagai dasar
pertimbangan pemberian kredit. Jika kepribadiannya baik kredit dapat diberikan dan
sebaliknya. Alasannya adalah karena kepribadian yang baik akan berusaha membayar
pinjamannya sedangkan kepribadian yang jelek akan sulit membayar pinjamannya.
2) Party (Golongan)
Adalah mengklasifikasikan nasabah ke dalam golongan-golongan tertentu berdasarkan
modal, karakter, dan loyalitasnya dimana setiap klasifikasi nasabah akan mendapatkan
fasilitas yang berbeda dari bank.
3) Purpose (Tujuan)
Adalah tujuan dan penggunaan kredit oleh calon debitur apakah untuk kegiatan konsumtif
atau sebagai modal kerja. Jadi, analis kredit harus mengetahui secara pasti tujuan dan
penggunaan kredit yang akan diberikan.
4) Prospect (Kemungkinan)
Adalah prospek perusahaan di masa datang, apakah akan menguntungkan atau merugikan.
Oleh karena itu analis kredit harus mampu mengestimasi masa depan perusahaan calon
debitur agar pengembalian kredit menjadi lancer.
5) Payment (Pembayaran)
Adalah mengetahui bagaimana pembayaran kembali kredit yang diberikan. Hal ini dapat
diketahui jika analis kredit memperhitungkan kelancaran penjualan dan pendapatan calon
debitur sehingga dapat diperkirakan kemampuannya untuk membayar kembali kredit.

6) Profitability (Kemampuan)
Adalah untuk mengetahui bagaimana kemampuan nasabah mendapatkan laba. Profitability
diukur per periode, apakah konstan atau meningkat dengan adanya pemberian kredit.
7) Protection (Perlindungan)
Bertujuan agar usaha dan jaminan mendapatkan perlidungan. Perlindungan dapat berupa
jaminan barang, jaminan orang, atau jaminan asuransi.
E.

Tahap-Tahap Pemberian Kredit

Adapun tahap-tahap pemberian kredit menurut H.Rachmat Firdaus (2003:91) adalah


sebagai berikut :
1) Persiapan kredit
Adalah kegiatan tahap permulaan dengan maksud untuk saling mengetahui informasi dasar
antara calon debitur dengan bank. Biasanya dilakukan melalui wawancara. Informasi umum
yang dikemukakan oleh bank antara lain tentang tatacara pengajuan kredit serta syaratsyarat untuk memperoleh fasilitas kredit. Dari pihak calon debitur diharapkan adanya
informasi secara garis besar tentang keadaan usaha, surat-surat perusahaan, dan jaminan
yang diberikan.
2) Tahap Analisis Kredit
Dalam tahap ini diadakan penilaian yang mendalam tentang keadaan usaha atau proyek
pemohon kredit. Penilaian tersebut meliputi berbagai aspek pada umumnya terdiri dari
aspek management dan organisasi, aspek pemasaran, aspek teknis, aspek yuridis/hukum,
dan aspek sosial ekonomi.
3) Tahap Keputusan Kredit
Atas dasar laporan hasil analis kredit maka pihak bank melalui pemutus kredit, memutuskan
apakah permohonan kredit tersebut layak untuk diberi kredit atau tidak.
4) Tahap Pelaksanaan dan Administrasi/Tata Usaha Kredit
Setelah calon peminjam mempelajari dan menyetujui isi keputusan kredit serta bank telah
menerima dan meneliti semua persyaratan kredit dari calon peminjam maka kedua belah
pihak menandatangani perjanjian kredit serta syarat-syarat umum pemberian kredit.
F.

Pengertian Kredit Kepemilikan Rumah (KPR)

Memiliki rumah sendiri kini bukan lagi sesuatu yang sulit, karena ada fasilitas kredit
pemilikan rumah yang diberikan oleh kalangan perbankan yang biasa disebut Kredit
Pemilikan Rumah (KPR).
Menurut Sumber Bank Indonesia dalam websitenya (2011),pengertian KPR adalah adalah
suatu fasilitas kredit yang diberikan oleh perbankan kepada para nasabah perorangan yang
akan membeli atau memperbaiki rumah. Di Indonesia, saat ini dikenal ada 2 jenis KPR:
1. KPR Subsidi

Yaitu suatu kredit yang diperuntukan kepada masyarakat berpenghasilan menengah ke


bawah dalam rangka memenuhi kebutuhan perumahan atau perbaikan rumah yang telah
dimiliki. Bentuk subsidi yang diberikan berupa : Subsidi meringankan kredit dan subsidi
menambah dana pembangunan atau perbaikan rumah. Kredit subsidi ini diatur tersendiri
oleh Pemerintah, sehingga tidak setiap masyarakat yang mengajukan kredit dapat diberikan
fasilitas ini. Secara umum batasan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam memberikan
subsidi adalah penghasilan pemohon dan maksimum kredit yang diberikan.
2. KPR Non Subsidi
Yaitu suatu KPR yang diperuntukan bagi seluruh masyarakat. Ketentuan KPR ditetapkan
oleh bank, sehingga penentuan besarnya kredit maupun suku bunga dilakukan sesuai
kebijakan bank yang bersangkutan.
G. Kredit Bermasalah (Non Performing Loan)
a)

Kolektibilitas Kredit

Bank Indonesia melalui Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia nomor 31/147/KEP/DIR
tanggal 12 November 1998 memberikan penggolongan mengenai kualitas kredit apakah
kredit yang diberikan bank termasuk kredit performing loan (kredit tidak bermasalah) atau
non performing loan (kredit bermasalah). Kualitas kredit dapat digolongakan sebagai
berikut :
-

Lancar.

Dalam perhatian khusus.

Kurang lancar.

Diragukan.

Macet.

Sutarno dalam bukunya Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank (2003: 264) kredit
yang termasuk dalam kategori lancar dan dalam perhatian khusus dinilai sebagai kredit
yang performing loan, sedangkan kredit yang termasuk kategori kurang lancar, diragukan
dan macet dinilai sebagai kredit non performing loan. Untuk menetukan suatu kualitas kredit
masuk lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet, dapat dinilai
dari tiga aspek yaitu :
-

Prospek usaha.

Kondisi keuangan dengan penekanan arus kas.

Kemampuan membayar.

Selanjutnya menurut Sigit Triandaru dalam buku Bank dan Lembaga Keuangan Lain (2006:
118), untuk menentukan berkualitas atau tidaknya suatu kredit diberikan ukuran-ukuran
tertentu. Bank Indonesia menggolongkan kualitas kredit menurut ketentuan sebagai berikut :
1)

Lancar (pas), adalah kredit yang memenuhi kriteria:

Industri atau kegiatan usaha memiliki potensi pertumbuhan yang baik.

Perolehan laba tinggi dan stabil.

Pembayaran tepat waktu,perkembangan rekening baik dan tidak ada tunggakan serta

sesuai persyaratan kredit.


2)

Dalam Perhatian Khusus (special mention), adalah kredit yang memenuhi kriteria:

Industri atau kegiatan usaha memiliki potensi pertumbuhan yang terbatas.

Perolehan laba cukup lancar baik, namun memiliki potensi menurun.

Terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/ atau bunga sampai 90 hari (3 bulan).

3)
-

Kurang Lancar (substandard), adalah kredit yang memenuhi kriteria:


Industri atau kegiatan usaha menunjukkan potensi pertumbuhan yang sangat terbatas

atau tidak mengalami pertunbuhan.


-

Perolehan laba rendah.

Terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/ atau bunga yang telah melampaui 90 hari

sampai dengan 180 hari (6 bulan).


4) Diragukan (doubtful), adalah kredit yang memenuhi kriteria:
-

Industri atau kegiatan usaha menurun.

Laba sangat kecil dan negatif.

Kerugian operasional dibiayai dengan penjualan aset.

Terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/ atau bunga yang telah melampaui 180

hari sampai dengan 270 hari (9 bulan).


5) Macet (loss), adalah kredit yang memenuhi kriteria:
-

Kelangsungan usaha sangat diragukan, industri mengalami penurunan dan sulit untuk

pulih kembali, kemungkinan besar kegiatan usaha akan terhenti.


-

Mengalami kerugian yang besar.

Debitur tidak mampu memenuhi seluruh kewajiban dan kegiatan usaha tidak dapat

dipertahankan.
-

Terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/ atau bunga yang telah melampaui 270

hari (9 bulan lebih).


b)

Pengertian,Penyebab,dan Gejala Kredit Bermasalah

Kredit bermasalah adalah suatu keadaan dimana nasabah sudah tidak sanggup membayar
sebagian atau seluruh kewajibannya kepada bank seperti yang telah diperjanjikan. Hal ini
terutama disebabkan oleh kegagalan pihak debitur memenuhi kewajibannya untuk
membayar angsuran pokok kredit beserta bunga yang telah disepakati kedua belah pihak
dalam perjanjian kredit.
Selanjutnya menurut Kasmir dalam bukunya Dasar-Dasar Perbankan (2002:128), dalam
praktiknya kemacetan suatu kredit disebabkan oleh 2 unsur sebagai berikut:

1)

Dari pihak perbankan


Artinya dalam melakukan analisisnya, pihak analis kurang teliti sehingga apa yang

seharusnya terjadi, tidak diprediksi sebelumnya atau mungkin salah melakukan perhitungan.
Dapat pula terjadi akibat kolusi dari pihak analis kredit dengan pihak debitur sehingga dalam
analisisnya dilakukan secara subyektif dan akal-akalan.
2)

Dari pihak nasabah


Dari pihak nasabah kemacetan kredit dapat disebabkan oleh 2 hal yaitu:

Adanya unsur kesengajaan. Dalam hal ini nasabah sengaja untuk tidak bermaksud

membayar kewajibannya. Dapat dikatakan tidak adanya unsur ketidakmauan untuk


membayar walaupun sebenarnya nasabah mampu.
-

Adanya unsur tidak sengaja. Artinya si debitur mau membayar akan tetapi tidak

mampu. Sebagai contoh kredit yang dibiayai mengalami musibah seperti kebakaran,
kebanjiran, kegagalan dalam bidang usaha, sakit yang berkepanjangan,kematian, sehingga
kemampuan untuk membayar kredit tidak ada.
Sebagian besar kredit bermasalah tidak muncul secara tiba-tiba. Hal ini disebabkan karena
pada dasarnya kasus kredit bermasalah merupakan satu proses. Banyak gejala tidak
menguntungkan yang menjurus kepada kasus kredit bermasalah, sebenarnya telah
bermunculan jauh sebelum kasus itu sendiri muncul di permukaan. Apabila gejala tersebut
dapat dideteksi dengan tepat dan ditangani secara profesional sedini mungkin, ada harapan
kredit yang bersangkutan dapat ditolong. Gejala-gejala yang muncul sebagai tanda akan
terjadinya kredit bermasalah yaitu :
-

Penyimpangan dari berbagai ketentuan dalam perjanjian kredit.

Penurunan kondisi keuangan perusahaan.

Frekuensi pergantian pimpinan dan tenaga inti.

Penyajian bahan masukan secara tidak benar.

Menurunnya sikap kooperatif debitur.

Penurunan nilai jaminan yang disediakan.

Problem keuangan atau pribadi.

H. Penanggulangan Kredit Bermasalah


a)

Pencegahan Kredit Bermasalah

Hal yang paling mendasar untuk mencegah timbulnya kredit bermasalah atau kredit macet
adalah setelah pencairan kredit dimana bila kredit dicairkan bukan berarti masalah selesai
justru sebaliknya, masalah akan dihadapi sampai lunasnya pemberian kredit tersebut. Oleh
karena itu calon debitur harus dimonitor agar dalam penggunaan uang tidak melenceng dari
rencana semula sesuai dengan perjanjian kredit. Menurut Nurcahyo, The Global Source for

Summaries and Reviews(2009), langkah-langkah yang praktis untuk mencegah timbulnya


kredit bermasalah adalah :
-

Monitor atau kunjungi debitur pada periode tertentu atau secara teratur.

Mengikuti prosedur pemberian kredit secara benar.

Bila merasa ditekan oleh debitur maka serahkan ke petugas yang lain.

Jangan ragu-ragu untuk menolak permohonan kredit bila memang tidak layak untuk

diberikan kredit.
-

Melengkapi lebih dahulu dokumen yang kurang sebelum kredit dicairkan.

Memantau perkembangan pembayaran angsuran tiap bulan, bila terjadi

keterlambatan segera dicari penyebabnya.


-

Meminta laporan keuangan setiap 3 bulan sekali untuk debitur besar atau yang

memiliki usaha.
-

Apabila debitur dalam angsuran pembayaran setiap bulan sering mengalami

keterlambatan, harus cukup waspada dan perlu monitor lebih aktif.


b)

Jangan mencairkan kredit hanya melihat kecukupan besarnya jaminan.


Penyelamatan Kredit Bermasalah

Penyelamatan adalah suatu langkah penyelesaian kredit bermasalah melalui perundingan


kembali antara kreditur dan debitur dengan memperingan syarat-syarat pengembalian kredit
sehigga dengan memperingan syarat-syarat kredit tersebut diharaokan debitur memiliki
kemampuan untuk menyelesaikan kredit itu. Jadi tahap penyelamatan kredit ini belum
memanfaatkan lembaga hukum karena debitur masih kooperatif dan dari prospek usaha
masih feasible. Penyelesaian kredit ini dinamakan penyelesaian melalui restrukturisasi
kredit. Langkah penyelesaian melalui restrukturisasi kredit ini diperlukan syarat paling utama
yaitu adanya kemauan dan etikad baik dan kooperatif dari debitur serta bersedia mengikuti
syarat- syarat yang ditentukan bank karena dalam penyelesaian kredit melalui restrukturisasi
lebih banyak negosiasi dan solusi yang ditawarkan bank untuk menentukan syarat dan
ketentuan restrukturisasi. Menurut Lukman Dendawijaya dalam bukunya Manajemen
Perbankan (2005:83) dalam usaha mengatasi timbulnya kredit bermasalah pihak bank dapat
melakukan beberapa tindakan penyelamatan sebagai berikut :
1)

Rescheduling

Rescheduling (penjadwalan kembali) merupakan upaya pertama dari pihak bank untuk
menyelamatkan kredit yang diberikannya kepada debitur. Cara ini dilakukan jika ternyata
pihak debitur (berdasarkan penelitian dan perhitungan yang dilakukan account officer bank)
tidak mampu untuk memenuhi kewajibannya dalam hal pembayaran kembali angsuran
pokok maupun bunga kredit.
Rescheduling adalah penjadwalan kembali sebagian atau seluruh kewajiban debitur.
Misalnya, angsuran pokok pinjaman (pokok kredit) yang semula dijadwalkan akan selesai

dalam jangka waktu 4 tahun diubah jadwalnya sedemikian rupa sehingga pelunasan kredit
akan memakan waktu 5 tahun. Hal tersebut disesuaikan dengan proyeksi arus kas (cash
flow) yang bersumber dari kemampuan usaha debitur yang sedang mengalami kesulitan.
Dalam jadwal baru yang disepakati bersama, bisa berbentuk :
a)

Jadwal angsuran per triwulan diubah menjadi per semester atau jadwal angsuran

bulanan diubah menjadi angsuran triwulan sehingga seluruh pelunasan pokok pinjaman
menjadi lebih panjang waktunya.
b)

Besarnya angsuran pokok pinjaman diperkecil dengan jangka waktu angsuran yang

sama sehingga pelunasan pokok pinjaman secara keseluruhan menjadi lebih lama.
c)

Kombinasi dari perubahan jangka waktu beserta besarnya tiap angsuran pokok yang

pada akhirnya akan menyebabkan perpanjangan waktu pelunasan pokok kredit.


2)

Reconditioning

Reconditioning merupakan usaha pihak bank untuk menyelamatkan kredit yang


diberikannya dengan cara mengubah sebagian atau seluruh kondisi (persyaratan) yang
semula disepakati bersama pihak debitur dan dituangkan dalam perjanjian kredit WK.
Perubahan kondisi kredit dibuat dengan memperhatikan masalah-masalah yang dihadapi
oleh debitur dalam pelaksanaan proyek atau bisnisnya.
Persayaratan yang diubah tersebut antara lain sebagai berikut:
a)

Tingkat bunga kredit, misalnya dari sebesar 24% p.a. diturunkan menjadi 21% p.a.

b)

Persyaratan untuk pencairan kredit, misalnya ditetapkan sebelum dilakukan pencairan

kredit (loan disbursement), antara lain harus direkrut beberapa tenaga ahli asing yang akan
melaksanakan proyek, tetapi karena kondisi proyek serta pembiayaan tidak memungkinkan,
persyaratan tersebut diperlunak atau bahkan ditiadakan sama sekali.
c)

Jaminan kredit (agunan), beberapa jaminan yang semula harus diberikan/diserahkan

debitur kepada bank terpaksa tidak bisa terlaksana karena beberapa alasan, misalnya tanah
yang akan dijaminkan ternyata bermasalah dalam hal keabsahan sertifikat maupun berupa
tanah yang masih dipersengketakan dengan pihak ketiga.
d)

Jenis serta besarnya beberapa fee yang harus dibayar debitur kepada bank, misalnya

dalam kasus yang terjadi pada kredit sindikasi (kredit yang diberikan kepada satu debitur
oleh beberapa bank secara bersama-sama dalam satu perjanjian kredit).
e)

Manajemen proyek atau bisnis yang dibiayai bank berdasarkan analisis yang dilakukan

bank maupun atas nasihat dari konsultan yang ditunjuk bank. Hal ini terpaksa dilakukan
untuk mengamankan jalannya poyek dan merupakan persyaratan baru atau persyaratan
tambahan yang diminta oleh bank yang harus dipenuhi debitur dalam rangka penyelamatan
proyek.
f)

Kombinasi dari beberapa perubahan tersebut di atas.

3)

Restructuring

Restructuring atau restrukturisasi adalah usaha penyelamatan kredit yang terpaksa harus
dilakukan bank dengan cara mengubah komposisi pembiayaan yang mendasari pemberian
kredit. Pembiayaan suatu proyek atau bisnis tidak seluruhnya berasal dari modal (dana)
sendiri, tetapi sebagian besar dibiayai dengan kredit yang diperoleh dari bank.
Sebagai contoh, suatu proyek dibiayai dengan struktur pembiayaan, yakni pinjaman bank
(debt) 60% dan modal nasabah (equity) sebesar 40% sehingga debt to equity ratio adalah
60:40. Kemudian, karena kesulitan yang dialami nasabah dalam melaksanakan proyek atau
bisnisnya, nasabah tidak mampu membayar angsuran pokok pinjaman maupun bunga
kredit, misalnya bunga yang dibebankan dirasakan terlalu berat sehingga harga pokok
produksinya tinggi dan produknya tidak dapat dipasarkan karena menghadapi persaingan
yang berat di pasar.
Salah satu cara menanggulangi kesulitan nasabah tersebut adalah dengan mengubah
struktur pembiayaan bagi proyeknya. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa alternatif
sebagai berikut :
a)

Bank memberikan tambahan kredit sehingga debt to equity(DIE ratio) berubah menjadi

65%:35%. Penambahan kredit ini tentunya akan menambah beban bagi debitur.
b)

Nasabah menambah porsi equity-nya sehingga DIE ratio menjadi 55%:45%. Akan tetapi

masih dipertanyakan apakah nasabah memiliki dana yang cukup untuk melaksanakan
penambahan equity tersebut.
c)

Equity ditambah sehingga DIE ratio berubah menjadi 55%:45%. Penambahan equity

tersebut bukan berasal dari modal nasabah, melainkan dari fresh capital yang diberikan oleh
bank. Dalam kasus ini, bank diperkenankan ikut menjadi pemegang saham dari perusahaan
milik debitur karena dalam rangka rescue program. Menurut Undang-Undang No.7 Tahun
1992 tentang Perbankan, sebenarnya bank dilarang ikut dalam penyertaan saham pada
perusahaan nasabah, kecuali dalam proses penyelamatan kredit..
4)

Eksekusi

Jika semua usaha penyelamatan seperti diuraikan di atas sudah dicoba, namun nasabah
masih juga tidak mampu memenuhi kewajibannya terhadap bank, maka jalan terakhir
adalah bank melakukan eksekusi melalui berbagai cara, antara lain:
a) Menyerahkan kewajiban kepada BUPN (Badan Urusan Piutang Negara).
b) Menyerahkan perkara ke pengadilan negeri (perkara perdata).
I. Kerangka Pikir
Bank adalah suatu badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup
rakyat banyak. Bank juga mengeluarkan berbagai macam jenis kredit. Salah satunya yaitu
Kredit Kepemilikan Rumah (KPR), yang merupakan suatu fasilitas kredit yang diberikan oleh
perbankan kepada para nasabah perorangan yang akan membeli atau memperbaiki rumah.

Kredit bermasalah selalu ada dalam kegiatan perkreditan bank karena bank tidak mungkin
menghindarkan adanya kredit bermasalah. Bank hanya berusaha menekan seminimal
mungkin besarnya kredit bermasalah agar tidak melebihi ketentuan Bank Indonesia sebagai
pengawas perbankan. Untuk itu bank melakukan tindakan-tindakan penyelamatan kredit
yaitu Reshceduling, Reconditioning, Restrukturisasi, dan Eksekusi.
Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran yang telah diuraikan diatas, dapat dirangkum
dalam skema sebagai berikut:
PT. Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk Cabang Makassar
Gambar bagan alur kerangka pikir
Kredit Kepemilikan Rumah (KPR)

Penanggulangan Kredit Bermasalah


1. Rescheduling
2. Reconditioning
3. Restrukturisasi
4. Eksekusi
Kredit Bermasalah

J. Hipotesis
Untuk menjawab masalah pokok serta tujuan dari penelitian ini maka dikemukakan
hipotesis sebagai jawaban sementara yaitu, Diduga bahwa:.

Untuk menanggulangi Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) bermasalah yang timbul,pihak PT.
Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk Cabang Makassar mempergunakan model
penyelamatan kredit melalui Rescheduling, Reconditioning, Restructuring, dan Eksekusi.

BAB III
METODE PENELITIAN
A.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada PT.Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Makassar
yang beralamat di Jl. Kajaolalido No. 4 Makassar 90111 Tlp. (0411) 316011. Dan penelitian
ini dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan.
B. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.

Penelitian Pustaka (Library Research) yaitu pengumpulan data teoritis dengan cara

menelaah berbagai buku literatur dan bahan pustaka lainnya yang berkaitan dengan
masalah yang dibahas.
2.

Penelitian Lapang (Field Research) yaitu pengumpulan data lapang dengan cara

sebagai berikut :
a.

Observasi, yaitu melakukan pengamatan secara langsung pada obyek penelitian dan

mengumpulkan data yang diperoleh dari perusahaan yang diteliti.


b.

Wawancara, yaitu melakukan tanya jawab dengan pimpinan dan karyawan perusahaan

yang diteliti, dalam mendapatkan data yang diperlukan.

29

C.

Jenis Dan Sumber Data

1.

Jenis Data

a. Data kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari bank dalam bentuk informasi baik secara
lisan maupun secara tertulis seperti data SOP penanggulangan kredit bermasalah
khususnya KPR.

b.

Data kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari pihak bank berupa angka-angka

seperti data nilai pencapaian NPL perusahaan yang diteliti.


2.

Sumber Data

a. Data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari perusahaan berdasarkan
hasil observasi dan wawancara dengan pimpinan dan karyawan.
b.

Data sekunder, yaitu penelitian kepustakaan yang dilakukan dengan cara mencari

dan mengumpulkan bahan pustaka yang berhubungan dengan judul dan pokok
permasalahannya.
D.

Definisi Operasional
1.

Penanggulangan adalah upaya yang dilaksanakan untuk

mencegah dan

menyelamatkan kredit bermasalah.


2. Kredit bermasalah adalah suatu keadaan dimana nasabah sudah tidak sanggup
membayar sebagian atau seluruh kewajibannya kepada bank seperti yang telah
diperjanjikan.
3. Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) adalah suatu fasilitas kredit yang diberikan oleh
perbankan kepada para nasabah perorangan yang akan membeli atau memperbaiki rumah.
4.

Penyelamatan adalah suatu langkah penyelesaian kredit bermasalah melalui

perundingan kembali antara kreditur dan debitur dengan memperingan syarat-syarat


pengembalian kredit sehingga dengan memperingan syarat-syarat kredit tersebut
diharapkan debitur memiliki kemampuan untuk menyelesaikan kredit itu.
5. Langkah penanggulangan kredit bermasalah melalui tindakan penyelamatan yaitu melalui
proses :
a) Rescheduling.
b) Restructuring.
c) Reconditioning.
d) Eksekusi.
E.

Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :


Analisis deskriptif, digunakan untuk menjelaskan tindakan penanggulangan Kredit
Kepemilikan Rumah (KPR) yang bermasalah.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Sejarah Singkat PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.


Bank Tabungan Negara (BTN) sepanjang perjalanannya dalam mengukir sejarah dengan
segala prestasi yang dimilikinya telah membuktikan perannya dalam menghubungkan
kegemaran masyarakat Indonesia untuk menabung. Dengan semua usahanya maka BTN
telah mengambil peran dalam usaha pembangunan di segala bidang di seluruh tanah air
tercinta, INDONESIA. Perjalanan panjang yang pada akhirnya membawa misi yang harus
diemban, yaitu sebagai bank penyedia dana untuk tumbuhnya pembangunan perumahan
nasional dengan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) telah membawa BTN sebagai bank
satu-satunya yang besar melalui tugas mulia itu.
33
Sejarah telah mencatat bahwa tumbuhnya bank-bank pemerintah di Indonesia ini tidak
terlepas dari masa perjuangan negara Indonesia dalam melepaskan diri dari penjajahan.
Dua masa penjajahan yang masih sangat jelas kita ingat adalah masa penjajahan Belanda
dan Jepang. BTN sebagai salah satu bagian yang tak terpisahkan dari bank milik
pemerintah pun tidak lepas dari masa perjuangan itu.
BTN lahir pada masa yang cukup sulit. Lahirnya BTN juga mempunyai sejarah yang cukup
panjang dalam memperjuangkan keberadaanya. Perjuangan BTN telah dimulai sejak
Belanda menginjakkan kakinya pertama kali di Indonesia. Puncak dari perjuangan itu adalah
pada tahun 1897, dimana pada saat itu dikenal sebagai masa keramat. Para pelaku dalam
pengembangan BTN pada saat itu yakin bahwa tahun itulah sebagai puncak daripada cikal
bakal pendirian BTN. Hal ini didasari oleh adanya Koninklijk Besluit No. 27 di Hindia Belanda
atau dalam istilah Indonesia istilah ini lebih familiar dikenal dengan nama surat keputusan
yang menyatakan adanya pendirian POSTSPAARBANK.
Postpaarbank ini berkedudukan di Batavia, yang saat ini lebih dikenal masyarakat dengan
nama Jakarta sebagai ibu kota Indonesia. Pendirian Pospaarbank tersebut mempunyai
tujuan antara lain untuk mendidik masyarakat pada saat itu agar gemar menabung.
Sekaligus melalui pendirian Postpaarbank ini mulailah diperkenalkan lembaga perbankan
secara luas, meskipun tentunya sistem perbankan yang ada pada saat itu tidak sama dan
jauh dari sempurna bila dibandingkan dengan sistem perbankan saat ini.
Masa penjajahan di Indonesia yang cukup lama telah membuat hampir di seluruh aspek
kehidupan di Indonesia tidak mempunyai bentuk kemurnian atau keaslian hasil produk
pribumi. Tidak saja dari bentuk bangunan, nama-nama jalan ataupun kantor pemerintahan
saat itu pada umumnya dirubah menjadi nama atau istilah beraksen Belanda.
Postpaarbank merupakan nama pertama kali bagi BTN yang diberikan oleh pemerintah
Hindia Belanda kepada Indonesia pada saat itu. Postpaarbank yang mempunyai tugas
utama untuk mengajak masyarakat Indonesia gemar menabung dalam perjalannya tampak

jelas berupaya secara sungguh-sungguh untuk mewujudkan tugas tersebut. Sebelum


masuknya Postpaarbank di Indonesia, masyarakat Indonesia termasuk pada kelompok
masyarakat yang tidak gemar menabung. Bahkan tradisi yang ada pada saat itu adalah
adanya kebiasaan untuk menyimpan uang didalam rumah yang pada umumnya disimpan
dibawah bantal. Ajakan Postpaarbank tersebut merupakan awal yang baik dalam
pertumbuhan sekaligus sebagai kontrol arus uang yang beredar dalam masyarakat pada
saat itu
Hingga penghujung tahun 1931 peranan Pospaarbank dalam penghimpunan dana
masyarakat terus menunjukkan adanya peningkatan yang sangat baik. Hal ini terbukti
dengan semakin banyaknya minat masyarakat pada saat itu untuk menaruh atau
menyimpan uangnya di bank. Sampai dengan akhir tahun 1939, Postpaarbank telah
berhasil menghimpun dana masyarakat sebesar Rp. 54 juta. Sebuah jumlah yang sangat
besar pada masa itu.
Prestasi yang berhasil dicapai oleh Postpaarbank tersebut sebetulnya sejalan dengan
kebijakan sitem desentralisasi yang dilaksanakan pada saat itu. Sejarah keberhasilan
Postpaarbank tersebut akhirnya membawa dampak positif dengan mulai dibukanya 4 kantor
cabang Postpaarbank masing-masing di Makasar, Surabaya, Jakarta dan Medan.
B. Struktur Organisasi PT. Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk Cabang Makassar
Setiap perusahaan diharuskan mempunyai struktur organisasi yang dapat menggambarkan
hubungan antara personal didalam lingkup perusahaan lengkap dengan tanggung jawab
dan wewenang masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar masing-masing sadar akan
tanggung jawab dengan kedudukannya agar tidak tumpang tindih tugas dan tanggung jawab
antar personil yang dapat menimbulkan konflik dalam organisasi. Struktur organisasi yang
baik dan serasi dapat menjamin terjadinya suatu kerja sama yang baik antar karyawan
sehingga tujuan terus dapat tergapai dengan sempurna.
Sebagai salah satu perusahaan yang berbadan hukum , PT. Bank Tabungan Negara
(Persero) Tbk Cabang Makassar membutuhkan adanya koordinasi pendayagunaan
personalia. Hal ini dapat tergapai dengan baik jika ditunjuk dengan adanya pendelegasian
wewenang terhadap fungsionaris yang dituangkan dalam struktur organisasi PT. Bank
Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Makassar yang tidak bersifat permanen, tetapi
akan ditinjau kembali pada saat pergantian masa jabatan Direksi perusahaan. Struktur
organisasi harus luwes dalam menunjang pelaksanaan kebijakan dan strategi usaha yang
ditetapkan oleh pimpinan perusahaan.
Struktur organisasi untuk tiap-tiap kelas kantor cabang pun berbeda. PT. Bank Tabungan
Negara (Persero) Tbk Cabang Makassar merupakan kantor cabang kelas I. Untuk itu
struktur organisasi PT. Bank Tabungan Negara (Persero) kantor cabang kelas I dapat dilihat
pada halaman berikut:

C. Fungsi dan Tanggung Jawab Kantor Cabang


Fungsi dan tanggung jawab kantor cabang dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari adalah
sebagai berikut :
Branch Manager (Kepala Cabang)
Bertanggung jawab kepada Direksi, dengan fungsi pokok melaksanakan penyelenggaraan
usaha Bank di wilayah kantor cabang.
Deputi Branch Manager (Wakil Kepala Cabang)
Bertanggung jawab kepada kepala cabang, dengan fungsi pokok membantu Kepala Cabang
dalam pengelolaan kegiatan usaha bank khususnya mengenai tugas-tugas yang
dilaksanakan oleh unit kerja/seksi.
Asistant Branch Manager Ratail Service (Pejabat Pembantu Pimpinan Cabang Bidang
Pelayanan Retail)
Bertanggung jawab kepada kepala cabang, dengan fungsi pokok membantu kepala cabang
dalam melaksanakan pengelolaan dana bank di kantor cabang, yang meliput pengumpulan
dan penanaman dana agar dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin sesuai dengan usaha
bank. Seksi ini membawahi Unit pelayanan Nasabah (Costumer Service, Marketing, Teller
Service). Unit pelayanan Kredit (Loan Service), yang merupakan garis terdepan pelayanan
nasabah (Front Liner).
Asistant Branch Manager Loan Recovery (Pejabat Pembantu Pimpinan Cabang Bidang
Pengawasan dan Pembinaan Kredit)
Bertanggung jawab kepada kepala cabang, dengan fungsi pokok membantu kepala cabang
dalam melakukan pengawasan dan pembinaan kredt, termasuk penyelesaian kredit.
Loan Administration Section
Bertanggung jawab kepada wakil kepala cabang, dengan fungsi pokok sebagai unit
penilaian dan administrasi kredit termasuk bertanggung jawab atas administrasi dokumen
dan barang jaminan.
Administration Branch Manager
Bertanggung jawab langsung kepada kepala cabang, dengan tugas pokok menangani
kegiatan administrasi kantor, pelaporan, pembukuan, pemeriksaan, control dan kearsipan.
General Branch Manager Administration Section
Bertanggung jawab kepada wakil kepala cabang, dengan fungsi pokok sebagai Unit
Supporting Kantor Cabang dan pengelolaan sumber daya manusia (SDM) kantor cabang.
Transaction and Processing Section
Bertanggung jawab kepada wakil kepala cabang, dengan tugas utama bertanggung jawab
dalam mengelola data transaksi kantor cabang.

Loan Service Section


Sebagai salah satu seksi garis depan (Front Liner) bertanggung jawab kepada ABM Retail
Service dengan fungsi utama pengelolaan penyaluran kredit kantor cabang.
Teller Service Section
Bertanggung jawab kepada ABM Retail Service sebagai unit pelayanan transaksi nasabah
dan debitur (Front Liner).
D. Tingkat Non Performing Loan (NPL) Dari KPR PT. Bank Tabungan Negara (Persero)
Tbk. Cabang Makassar Tahun 2008-2010
NPL KPR TAHUN 2008 (per 6 bulan)
Bulan
NPL (%)

JULI

DESEMBER

2.63

2.38

38,810,748,710.85
35,902,145,717.70
OUST. (Rp)
Sumber data : PT : Bank Tabungan Negara Cab. Makassar
Berdasarkan tabel NPL KPR BTN pada tahun 2008 di atas menunjukkan penurunan dari per
enam bulan, yang pada bulan juli total NPLnya sebesar 2.63% sedang pada bulan
desember total NPLnya sebesar 2,38% sehingga selisihnya sebesar 0.25% atau total NPL
sebesar 5.01% pada tahun 2008.
NPL KPR TAHUN 2009 (per 6 bulan)
Bulan
NPL (%)

JULI

DESEMBER

4.52

3.14

62,970,748,833.80
49,566,449,083.85
OUST. (Rp)
Sumber data : PT : Bank Tabungan Negara Cab. Makassar
Berdasarkan tabel NPL KPR BTN pada tahun 2009 di atas menunjukkan penurunan dari per
enam bulan, yang pada bulan juli total NPLnya sebesar 4.52% sedang pada bulan
desember total NPLnya sebesar 3.14 % sehingga selisihnya sebesar 1.38% atau total NPL
sebesar 7.66% pada tahun 2009.
NPL KPR TAHUN 2010 (per 6 bulan)
Bulan
NPL (%)

JULI

DESEMBER

4.12

3.35

73,239,648,410.42
64,979978,364.71
OUST. (Rp)
Sumber data : PT : Bank Tabungan Negara Cab. Makassar
Berdasarkan tabel NPL KPR BTN pada tahun 2010 di atas menunjukkan penurunan dari per
enam bulan, yang pada bulan juli total NPLnya sebesar 4.12% sedang pada bulan

desember total NPLnya sebesar 3,35 % sehingga selisihnya sebesar 0.77% atau total NPL
sebesar 7.47% pada tahun 2010.
Dari data-data pada tabel di atas, bila dibandingkan posisi tahun 2008 sampai dengan posisi
2010, terjadi peningkatan NPL sebesar 2.46% dari 5.01% menjadi 7.47%, dengan
peningkatan jumlah outstanding NPL dengan outstanding Rp. 63,506,732,245.58,-.
E. Bentuk Tindakan Penanggulangan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) Yang
Bermasalah Pada PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Makassar
Kredit bermasalah adalah semua kredit yang memiliki resiko tinggi karena debitur telah gagal
atau menghadapi masalah dalam memenuhi kewajiban yang telah ditentukan. Kredit
bermasalah dapat diartikan suatu keadaan kredit dimana debitur sudah tidak sanggup
membayar sebagian atau keseluruhan kewajibannya kepada bank seperti yang telah
diperjanjikan, atau telah ada suatu indikasi potensial bahwa sebagian maupun keseluruhan
kewajibannya tidak akan mampu dilunasi debitur.
Berdasarkan tingkat risiko, Kredit Dalam Pengawasan Khusus (KDPK) dibedakan menjadi:
(1) Kredit dengan kolektibilitas dalam perhatian khusus (special mention), dan
(2) Kredit bermasalah dengan kolektibilitas kurang lancar, diragukan dan macet (nonperforming loan).
Deteksi atas kredit bermasalah, khususnya KPR dapat dilakukan secara sistematis dengan
mengembangkan sistem pengenalan dini yaitu berupa daftar kejadian atau gejala yang
diperkirakan dapat menyebabkan suatu pinjaman berkembang menjadi kredit bermasalah.
Karena setelah pelaksanaan realisasi kredit dan berjalannya waktu, kualitas suatu kredit
dapat berubah dari kolektibilitas lancar menjadi kredit yang perlu perhatian khusus, kredit
kurang lancar, kredit diragukan, atau bahkan kredit macet.
Pendekatan praktis yang dilakukan oleh pihak BTN KC Makassar dalam melakukan pengelolaan
kredit bermasalah adalah dengan secara dini mendeteksi potensi timbulnya kredit bermasalah
sehingga makin banyak peluang alternatif koreksi bagi pihak BTN KC Makassar dalam
mencegah timbulnya kerugian sebagai akibat pemberian kredit yang akan mempengaruhi
kualitas dari Aktiva Produktif.
Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan upaya-upaya untuk penyelamatan dan/
atau penyelesaian kredit bermasalah tersebut di atas khususnya KPR pihak BTN KC
Makassar melakukan upaya restrukturisasi dan penyelesaian,pola-pola restrukturisasi kredit
adalah sebagai berikut :
1. Penjadwalan Ulang (PUL)
Penjadwalan Ulang (untuk selanjutnya disingkat PUL) adalah penetapan kembali jangka
waktu kredit dan jumlah angsuran bulanan atas sisa kredit dan/atau penetapan pembayaran
angsuran atas tunggakan yang ada dari kredit bermasalah dan/atau mempunyai potensi
bermasalah yang meliputi Penjadwalan Ulang Sisa Pinjaman (PUSP) dan Penjadwalan

Ulang Sisa Tunggakan (PUST). Biasanya diberikan kepada debitur yang bermasalah dan
menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan kredit.
Kebijakan :
a. Penjadwalan Ulang Sisa Pinjaman (PUSP)
Jumlah sisa pokok kredit dijadwalkan kembali masa angsurannya.
PUSP I = masa angsuran tetap sama dengan ketentuan pada Perjanjian Kredit (sehingga
nilai angsurannya menjadi lebih besar).
PUSP II = masa angsuran ditambah sehingga menjadi lebih panjang dari ketentuan
sebelumnya (untuk menekan nilai angsuran agar tidak terlalu besar).
b. Penjadwalan Ulang Sisa Tunggakan (PUST)
Sisa tunggakan kewajiban (tunggakan pokok dan tunggakan bunga) yang ada dijadwalkan
kembali dan dibayar secara angsuran, sedangkan sisa saldo pinjaman pokok kredit tetap
berjalan sesuai Perjanjian Kredit, sehingga debitur mempunyai 2 macam angsuran :
angsuran regular dan angsuran tunggakan.
Untuk PUSP, tunggakan bunga dan denda harus dilunasi oleh debitur, sedangkan untuk
PUST, denda harus dilunasi oleh debitur. Dimungkinkan dapat diberikan keringanan/diskon
tunggakan bunga dan/atau denda sesuai ketentuan yang berlaku, sepanjang debitur
melunasi seluruh tunggakan dan/atau denda setelah diperhitungkan dengan
keringanan/diskon yang diberikan.
2. Penundaan Pembayaran Kewajiban Kredit ( Grace Periode )
Merupakan keringanan yang diberikan kepada debitur dengan cara menunda pembayaran
atas sejumlah kewajiban kredit untuk jangka waktu tertentu, sesuai hasil analisa
kemampuan debitur.
Biasanya diberikan kepada debitur yang masih mempunyai itikad baik, namun mengalami
penurunan kemampuan membayar kewajiban kredit karena adanya musibah, misal:
pemutusan hubungan kerja, bencana alam, kerusuhan, dan atau sesuai kebijakan yang
ditetapkan oleh bank.
Kebijakan :
a. Grace Periode Angsuran
Adalah penundaan pembayaran angsuran dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan hasil
analisa kemampuan debitur. Pada saat berakhirnya masa Grace Periode (jatuh tempo),
terhadap akumulasi angsuran yang ditunda dimungkinkan dilakukan pembayaran dengan
alternative sebagai berikut :
1. Dibayar sekaligus oleh debitur pada saat jatuh tempo masa Grace Periode.
2. Dilakukan penjadwalan ulang terhadap sisa pokok kredit (PUSP), sedangkan akumulasi
bunga dilunasi pada saat jatuh tempo masa Grace Periode.
3. Dilakukan penjadwalan ulang terhadap angsuran yang ditunda, seperti PUST.

b. Grace Periode Pokok Kredit


Adalah penundaan pembayaran angsuran pokok kredit dalam jangka waktu tertentu sesuai
dengan hasil analisa kemampuan debitur, sedangkan bunga berjalan tetap dibayar.
Pada saat berakhirnya masa Grace Periode (jatuh tempo), akumulasi pokok kredit yang
ditunda dimungkinkan dilakukan pembayaran dengan alternative sebagai berikut :
1. Dilakukan pembayaran tunai sekaligus oleh Debitur.
2. Dilakukan penjadwalan pembayaran terhadap sisa pokok (PUSP).
c. Grace Periode Bunga Kredit
Adalah penundaan pembayaran bunga kredit dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan
hasil analisa kemampuan debitur, sedangkan pokok kredit jatuh tempo tetap dibayar tepat
waktu setiap bulannya.
Pada saat jatuh tempo masa Grace Periode, akumulasi bunga kredit yang ditunda dilakukan
pembayaran dengan alternative sebagai berikut:
1. Dilakukan pembayaran tunai oleh debitur.
2. Dilakukan penjadwalan ulang terhadap bunga kredit yang ditunda seperti halnya PUST,
sesuai dengan hasil analisa kemampuan debitur.
3. Grace Periode dapat diberikan dengan syarat tidak ada tunggakan bunga atau denda.
4. Apabila terdapat tunggakan bunga atau denda, maka harus dilunasi terlebih dahulu.
5. Dalam hal debitur tidak mampu melunasi tunggakan bunga dan denda dapat diberikan
diskon tunggakan bunga dan denda sesuai ketentuan yang berlaku, dan atas sisa
tunggakan bunga dan denda setelah diberikan diskon harus dilunasi.

3. Alih Debitur
Adalah merupakan pengalihan seluruh hutang/kewajiban debitur (berikut asset) kepada
pihak lain yang memenuhi ketentuan bank yang berlaku.
Biasanya diberikan kepada debitur yang mengalami kesulitan untuk melanjutkan
pembayaran angsuran dan untuk mengatasinya debitur yang bersangkutan menginginkan
dan/ atau menyetujui untuk mengalihkan kewajibannya sebagai debitur KPR kepada pihak
lain (calon debitur baru). Selain itu, diberikan kepada debitur sulit dihubungi/tidak menghuni
dan telah dinyatakan raib oleh Pengadilan Negeri dan telah ada calon debitur pengganti
atau dimungkinkan bank dapat melakukan alih debitur tanpa sepengetahuan dan
menghadirkan debitur lama dengan Akta Kuasa Menjual sepanjang Notaris/PPAT bersedia.
Kebijakan :
1. Dalam hal debitur lama dinyatakan raib, maka bank mewakili debitur dimaksud untuk
manandatangani akta-akta yang meliputi :

a. Perjanjian Kredit baru dengan debitur baru/pengganti, sehingga muncul nomor debitur
yang baru.
b. Akta Notaris tentang Akta Pengakuan Hutang yang dibuat debitur baru.
c. Akta Notaris tentang Akta Kuasa Menjual.
d. Akta SKMHT yang dibuat debitur baru.
e. Akta Jual Beli.
f. Akta Pengalihan Hutang dan Jaminan
(sebagai kuasa Debitur lama) setelah ada keputusan dari Pengadilan Negeri atau tanpa
keputusan Pengadilan Negeri dengan syarat harus ada Keputusan dari Pengadilan Negeri
namun dimungkinkan bank dapat langsung melakukan Alih Debitur dengan mengacu pada
Surat Edaran Direksi perihal Petunjuk Penyelesaian Agunan Kredit Yang
Ditelantarkan/Rumah Kosong.
2. Setelah penandatanganan akta-akta tersebut di atas maka seluruh kewajiban (pokok,
tunggakan pokok, tunggakan bunga, dan tunggakan denda) debitur lama beralih ke debitur
baru.
3. Apabila suku bunga kredit debitur lama merupakan suku bunga subsidi, maka suku
bunga kredit yang diberlakukan/dikenakan kepada debitur baru adalah sesuai ketentuan
bank yang berlaku berdasarkan hasil analisa kemampuan debitur/penghasilan.
4. Pengurangan Tunggakan Bunga Dan/Atau Denda
Pengurangan tunggakan bunga adalah pemberlakuan kewajiban pembayaran di bawah
jumlah yang seharusnya atas sejumlah nilai total pembayaran tunggakan bunga yang belum
dipenuhi.
Pengurangan denda adalah pemberlakuan kewajiban pembayaran di bawah jumlah yang
seharusnya atas sejumlah nilai total pembayaran denda yang belum dipenuhi.
Biasanya diberikan kepada debitur yang masih mempunyai itikad baik, namun tidak memiliki
kemampuan untuk membayar seluruh tunggakan, sehingga perlu adanya keringanan
berupa pengurangan tunggakan bunga dan/atau denda.
Kebijakan :
1. Nilai/besarnya keringanan tunggakan bunga/dan atau denda yang dapat diberikan
kepada debitur yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana kriteria di atas mengacu pada
pilar Kemauan (P1) dan Kemampuan (P2).
2. Penentuan nilai atau besarnya prosentase diskon dengan mengacu pada table sebagai
berikut :
No.

Rasio

Rasio Umur

Besarnya Diskon

Pembayaran/Maks.

Tgk/Umur

(Maksimal)

Tunggakan

Tunggakan

Bunga

Denda

50% - 100%
< 50%

25%
30%

50%
60%

50% - 100%

35%

70%

Kredit

Kredit

1
2

< 50 %
< 50%

50% s/d 100%

4
50% s/d 100%
< 50%
40%
5
>100 %
50% - 100%
45%
6
>100%
< 50%
50%
Sumber data : PT : Bank Tabungan Negara Cab. Makassar

80%
90%
100%

3. Apabila berdasarkan hasil analisa kemampuan debitur dan potensi nilai recovery yang
akan diterima bank, debitur dapat diberikan diskon tunggakan bunga dan/atau denda
melebihi perhitungan di atas, maka dapat diberikan diskon maksimal sebesar kewenangan
memutus Pejabat Pemutus sebagaimana diatur dalam Peraturan Direksi tersendiri.
4. Kewenangan memutus pemberian diskon tunggakan bunga dan/atau denda sesuai
ketentuan yang berlaku.
5. Untuk kasus force majeur, misal bencana alam, kebakaran, PHK massal, besarnya
diskon tunggakan bunga dan denda dapat diberikan maksimal, sesuai kewenangan Kepala
Cabang yang berlaku.
6. Jika keringanan tunggakan bunga dan/atau denda yang diajukan oleh debitur melebihi
kewenangan Kepala Cabang, sepanjang Kantor Cabang meyakini bahwa debitur tidak
punya kemampuan untuk membayar sesuai kewenangan Kepala Cabang, maka Kantor
Cabang dapat mengajukan ke Kantor Pusat.
5. Pengambilalihan Aset Debitur (Set Off)
Adalah pengalihan/konversi kredit (aktiva produktif) menjadi aktiva agunan yang diambil alih
atau aktiva lain-lain.
Biasanya diberikan kepada debitur yang sudah tidak ada tetapi nilai agunan/asset masih
dapat melunasi seluruh kewajiban kredit.rus
Kebijakan :
1. Penjualan agunan yang di set off sesuai Undang-Undang Perbankan No. 10 tahun 1998
tentang Perubahan atas Undang-Undang No.7 tahun 1992 (Pasal 12A) serta
Perubahannya, harus dicairkan selamba-lambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) tahun,
sehingga terhadap agunan tersebut harus diyakini prospek pasarnya.
2. Set Off harus dilengkapi dengan akta penyerahan dan surat kuasa menjual dari debitur
kepada bank.
3. Pemberian kebijakan ini merupakan wewenang direksi, untuk itu Kantor Cabang agar
menyampaikan usulan/rekomendasinya kepada kantor Pusat C.q. DRPK.
6. Penurunan Suku Bunga Kredit

Adalah pemberlakuan suku bunga kredit di bawah suku bunga yang berlaku.Biasanya
diberikan kepada debitur yang kooperatif dan nyata-nyata mempunyai itikad baik untuk
memenuhi kewajibannya pada bank, namun belum memiliki kemampuan yang memadai
dalam memenuhi kewajibannya sesuai dengan tingkat suku bunga yang berlaku.
Kebijakan :
Kebijakan pemberian penurunan suku bunga kredit merupakan kewenangan Direksi yang
diajukan oleh Kantor Cabang secara kasus per kasus ke Kantor Pusat dengan
mempertimbangkan kemampuan debitur dan analisa cost and benefit bagi bank.
7. Pengurangan Tunggakan Pokok Kredit
Adalah keringanan yang diberikan kepada debitur untuk membayar tunggakan pokok kredit
kurang dari/lebih kecil dari tunggakan pokok kredit yang seharusnya dibayar.
Biasanya diberikan kepada debitur kooperatif dan mempunyai itikad baik untuk memenuhi
kewajibannya namun debitur belum memiliki kemampuan yang memadai. Selain itu debitur
memiliki track record/kinerja kredit yang baik, misal : rasio pembayaran angsuran terhadap
total kewajiban angsuran atau menunggaknya debitur bukan dikarenakan karakter debitur.
Kebijakan :
1. Pengurangan tunggakan pokok kredit hanya diberikan apabila debitur melunasi seluruh
tunggakan pokok kredit yang tersisa dan meneruskan membayar angsuran secara rutin atas
sisa kreditnya.
2. Pengurangan tunggakan pokok kredit hanya dapat diberikan setelah mendapat
persetujuan pemilik (pemegang saham).
Apabila upaya restrukturisasi di atas tidak berhasil maka pihak BTN KC Makassar
melakukan upaya Penyelesaian Kredit dengan pola-pola sebagai berikut :
1. Pelunasan Dengan Pengurangan Tunggakan Bunga Dan/Atau Denda
Pengertian:
Pelunasan adalah pembayaran seluruh kewajiban debitur kepada bank yang dilakukan
secara seketika.Pengurangan tunggakan bunga adalah pemberlakuan kewajiban
pembayaran di bawah jumlah yang seharusnya atas sejumlah nilai total pembayaran
tunggakan bunga yang belum dipenuhi.
Pengurangan denda adalah pemberlakuan kewajiban pembayaran di bawah jumlah yang
seharusnya atas jumlah nilai total pembayaran denda yang belum dipenuhi.
Biasanya diberikan kepada debitur yang mempunyai itikad baik namun tidak memiliki
kemampuan untuk membayar seluruh tunggakan, sehingga perlu adanya keringanan
berupa pengurangan tunggakan dan/atau denda.
Kebijakan :
1. Penentuan nilai atau besarnya prosentase diskon dengan mengacu pada table sebagai
berikut :

Rasio Nilai

Besarnya Diskon

Pasar Wajar

(Maksimal)

Agunan/Sisa

Tunggakan

Tunggakan

Pokok Kredit

Bunga

Denda

< 50 %

100%

100%

50%-135%

50%

75%

>135%

25%

50%

Sumber data : PT : Bank Tabungan Negara Cab. Makassar


2. Dalam pengajuan permohonan kepada Kepala/Pimpinan Cabang, rasio kemauan dan
kemampuan tetap disampaikan oleh Analis sebagai bahan pertimbangan pengambil
keputusan.
3. Apabila berdasarkan hasil analisa kemampuan debitur dan potensi nilai recovery yang
akan diterima oleh bank debitur dapat diberikan diskon tunggakan bunga dan/atau denda
melebihi perhitungan di atas maka dapat diberikan diskon maksimal sebesar kewenangan
memutus dari masing-masing Pejabat Pemutus.
4. Untuk kasus force majeur, misal bencana alam, kebakaran, PHK missal, besarya diskon
tunggakan bunga dan denda dapat diberikan maksimal.
5. Jika keringanan tunggakan bunga dan/atau denda yang diajukan oleh debitur melebihi
kewenangan Kantor Cabang, sepanjang diyakini bahwa debitur tidak punya kemampuan
untuk membayar maka Kantor Cabang dapat mengajukan ke kantor pusat secara kasus per
kasus.
2. Subrogasi
Adalah penggantian kedudukan pihak BTN KC Makassar sebagai kreditur kepada pihak
Ketiga berdasarkan Akta Notaris atau bawah tangan, sehubungan pihak Ketiga membayar
seluruh hutang debitur kepada BTN.
Biasanya diberikan kepada debitur yang sudah tidak memilki kemampuan dan tidak
menunjukkan itikad baik dalam menyelesaikan kewajibannya.
Kebijakan :
1. Penetapan Nilai Subrogasi ditetapkan sama dengan nilai seluruh kewajiban debitur yaitu
sebesar saldo posisi terakhir ditambah denda. Dan bilamana calon kreditur pengganti tidak
dapat memenuhi nilai tersebut maka nilai Subrogasi dapat diberikan keringanan denda.
2. Dilakukannya Subrogasi dengan menggunakan Akta Kuasa Menjual selama
Notaris/PPAT bersedia dengan syarat adanya surat keterangan dari Pejabat setempat
(RT/RW lokasi agunan/lokasi alamat debitur) bahwa debitur tidak dapat ditemukan,dan juga
diumumkan di media massa/elektronik mengenai rencana penjualan agunan.
3. Penjualan Agunan

Adalah kesepakatan antara pihak BTN dengan debitur bahwa untuk pelunasan kredit
ditempuh dengan cara penjualan tunai atas agunan kredit.
Kebijakan :
1. Apabila debitur masih dapat dihubungi maka penetapan Harga Jual diserahkan kepada
debitur sepanjang nilai seluruh kewajibannya dapat dipenuhi.
2. Debitur di dalam memenuhi kewajibannya sehubungan dengan adanya penjualan tunai
dimungkinkan untuk diberikan keringanan tunggakan bunga dan denda dengan mengacu
kepada ketentuan yang berlaku.
4. Penyelesaian Kredit Melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang
(KPKNL)
Sebelum proses Lelang Hak Tanggungan dilakukan oleh KPKNL, terlebih dahulu
Kreditur memenuhi beberapa Persyaratan yang telah di atur dalam Pasal 5 dan Pasal 6 ayat
(5) PERDIRJEN 03/2010, yaitu :
1. Salinan Perjanjian Kredit
2. Salinan Sertifikat Hak Tanggungan (SHT) dan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT)
3. Fotocopy Sertifikat Hak Atas Tanah yang dibebani Hak Tanggungan
4. Foto copy perincian hutang Debitur
5. Foto copy Surat peringatan / Penyataan dari Kreditur yang menyatakan bahwa debitur
wanprestasi
6. Foto copy surat pemberitahuan rencana pelaksanaan Lelang kepada Debitur
7. Daftar barang yang akan di Lelang
8. Surat permohonan Lelang dari kreditur kepada KPKNL
9. Surat keputusan penunjukan penjual
Persyaratan diatas wajib dipenuhi oleh Kreditur sebelum pelaksanaan Lelang dilaksanakan,
jika salah satu syarat tidak dipenuhi maka Lelang dianggap batal demi Hukum.
Setelah persyaratan Lelang dipenuhi oleh Kreditur, maka selanjutnya KPKNL akan
menetapkan hari dan waktu Lelang. Adapun proses penyelesaian debitur wanprestasi
secara Lelang adalah sebagai berikut :
1. Kreditur mengumumkan objek yang kan diLelang kepada masyarakat umum
sebanyak dua kali melalui selebaran dan media cetak dengan selang waktu 15 hari.
2. Dalam pengumuman tersebut dicantumkan harga limit Lelang dan uang jaminan
penawaran Lelang.
3. Uang jaminan penawaran Lelang ditetapkan minimal 20% atau sama dengan harga
limit Lelang (Vide pasal 32 PMK 93/2010)
4. Uang jaminan penawaran Lelang paling lambat disetor peserta Lelang ke rekening
KPKNL 1 hari sebelum pelaksanaan Lelang

5. Kreditur / Penjual dapat melakukan pembatalan Lelang terhadap objek Lelang


sebelum pelaksanaan Lelang dilakukan jika debitur menyelesaikan tunggakan kredit dan
atau melakukan pelunasan kredit (Vide pasal 24-28 PMK 93/2010)
6. Penjual, Pejabat Lelang dan Peserta harus hadir di tempat Lelang pada saat
pelaksanaan Lelang.
7. Peserta yang mengajukan penawaran tertinggi di sahkan sebagai pemenang
Lelang/Pembeli
8. Pemenang Lelang harus melunasi harga Lelang paling lambat 3 hari kerja setelah
ditetapkan sebagai pemenang Lelang
9. KPKNL wajib menyerahkan risalah Lelang sebagai bukti kepada pemenang Lelang
setelah harga Lelang dilunasi
10. KPKNL menyetor hasil bersih Lelang kepada Kreditur untuk penyelesaian kredit
atas Agunan yang telah terjual / laku Lelang
11. Debitur yang Agunannya telah terjual wajib secara suka rela melakukan
pengosongan dan meninggalkan Agunan tersebut
12. Bagi debitur yang tidak beritikad baik mengosongkan Agunan maka kreditur
bersama KPKNL dan pemenang Lelang dapat mengajukan permohonan eksekusi kepada
pengadilan Negeri Setempat
Semua proses diatas hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 hari sehingga sangat
efektif aman dan Legal secara hukum diterapkan di Bank BTN KC. Makassar dalam rangka
penyelesaian debitur Wanprestasi (debitur macet). Jika dibandingkan dengan metode
penjualan Agunan debitur macet dengan surat kuasa menjual dan metode buy back.
Pihak BTN KC Makassar selalu mengupayakan suatu kredit macet dapat diselesaikan dengan
terlebih dahulu melakukan penyelamatan kredit melalui restrukturisasi karena hal ini dinilai lebih
menguntungkan pihak bank daripada bentuk penyelesaian yang lainnya. Dengan dilakukannya
restrukturisasi dan berhasil, maka akan mampu membuat kolektibilitas suatu kredit menjadi
membaik dan itu berarti akan mengurangi persentase NPL di BTN KC Makassar yang secara
otomatis akan menurunkan PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif). Pada saat NPL
(Non-performing Loan) terbentuk bank harus menagihkan biaya cadangan khusus yang
dibentuk berupa PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif) untuk mengantisipasi
potensi kerugian bank dan pada saat NPL (Non-performing Loan) berubah menjadi kredit
dengan kolektibilitas yang lebih baik, biaya PPAP menjadi berkurang dan keuntungan bank
menjadi bertambah.
Biaya Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif setelah dikurangi nilai agunan
sebagaimana ditentukan oleh Bank Indonesia dengan SK Direksi Bank Indonesia
No.31/147/KEP/DIR tanggal 12 Nopember 1998 adalah sebagai berikut :
a.

1% dari aktiva produktif dengan kolektibilitas kredit Lancar.

b.

5% dari aktiva produktif dengan kolektibilitas kredit Dalam Perhatian Khusus.

c.

15% dari aktiva produktif dengan kolektibilitas Kurang Lancar.

d.

50% dari aktiva produktif dengan kolektibilitas Diragukan.

e.

100% dari aktiva produktif dengan kolektibilitas Macet.

Sedangkan penyelesaian kredit yang dilakukan melalui Parate Eksekusi yang dilaksanakan
Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) adalah merupakan upaya terakhir
yang dilakukan oleh pihak BTN KC Makassar apabila kredit bermasalah tidak dapat
diselesaikan dengan penyelamatan kredit melalui restrukturisasi.
Dari hasil pembahasan di atas dapat kita lihat penyelesaian terhadap kredit bermasalah yang
dilakukan oleh pihak BTN KC Makassar adalah bersifat non litigasi yaitu penyelesaian melalui
organisasi intern bank (restrukturisasi) dan penyelesaian melalui saluran hukum (dilakukan oleh
KPKNL).
Penyelesaian melalui jalur litigasi jarang bahkan tidak pernah dipergunakan karena dinilai
tidak menguntungkan baik pihak bank maupun pihak debitur oleh sebab biaya untuk proses
litigasi cukup tinggi, membutuhkan waktu cukup lama, dan preventif untuk kelengkapan berkas.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.

KESIMPULAN

Dari pembahasan hasil penelitian yang telah diuraikan maka dapat disimpulkan hal-hal
sebagai berikut :
1. Penaggulangan kredit bermasalah khususnya KPR telah dilakukan oleh PT. Bank
Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Makassar secara maksimal dan prosedural
melalui tahapan-tahapan yang cukup panjang sesuai dengan peraturan intern yaitu melalui
upaya Restrukturisasi Kredit dengan pola-pola sebagai berikut :
a.

Penjadwalan Ulang (PUL).

b.

Penundaan Pembayaran Kewajiban Kredit ( Grace Periode ).

c.

Alih Debitur.

d.

Pengurangan Tunggakan Bunga Dan/Atau Denda.

e.

Pengambilalihan Aset Debitur (Set Off).

f.
Penurunan Suku Bunga Kredit.
g.
2.

Pengurangan Tunggakan Pokok Kredit.

63
Apabila upaya restrukturisasi di atas tidak berhasil, maka pihak PT. Bank Tabungan Negara
(Persero) Tbk Cabang Makassar melakukan upaya Penyelesaian Kredit yang pola-polanya
adalah sebagai berikut :
a.
Pelunasan Dengan Pengurangan Tunggakan Bunga Dan/Atasu Denda.
b.

Subrogasi.

c.

Penjualan Agunan.

d.

Penyelesaian Kredit Melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara Dan Lelang (KPKNL).

B. SARAN
Pelaksanaan penyelesaian kredit yang dilaksanakan PT. Bank Tabungan Negara (Persero)
Tbk Cabang Makassar khususnya dalam pelaksanaan restrukturisasi harus benar-benar
mengikuti ketentuan dan melaksanakannya sehingga tidak perlu adanya restrukturisasi
kedua untuk satu hutang dari debitur yang sama.

DAFTAR PUSTAKA
Frianto Pandia. 2005., Lembaga Keuangan, PT.Rineka Cipta, Jakarta.
Kasmir. 2008., Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, PT.Rajagrafindo Persada, Jakarta.
Lukman Dendawijaya. 2005., Manajemen Perbankan, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Malayu SP Hasibuan. 2007., Dasar-Dasar Perbankan, Bumi Aksara, Jakarta.

Martono. 2002., Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Ekonisia, Yogyakarta.


Sigit Triandaru. 2006., Bank dan Lembaga Lain, Salemba Empat, Yogyakarta.
Sutarno . 2003,. Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank , Alfabeta, Bandung.
Rachmat Firdaus. 2004., Manajemen Perkreditan, Alfabeta, Bandung.
Rimsky Judisseno. 2005., Sistem Moneter dan Perbankan di Indonesia, Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
PT. Bank Tabungan Negara (Persero). 2007., Penambahan Lampiran Standard Operating
Procedures, Jakarta.

Coplenk. 2010., Tips Mencegah Kredit Macet. (http://arsasi.wordpress.com, diakses 28 Juni


2011).
Basidl Syafii. 2010., Manajemen Kredit Macet Pada Perbankan di Indonesia.
(http://blog.beswandjarum.com, diakses 28 Juni 2011).
Deddy Edward Tanjung. 2009., Cara Mencegah dan Mengatasi Kredit Bermasalah.
(http://usaha-ukm.blog.com, diakses 28 Juni 2011).
Nurcahyo. 2009., Mencegah Timbulnya Kredit Macet. (http://jhthamrin.blogspot.com/2009/04/non-performing-loan.html, diakses 28 Juni 2011).

Bank Indonesia. 2011. Perumahan KPR., (http://www.marketingsakti.com/live.chatsession.html, diakses 25 Juli 2011).