Anda di halaman 1dari 152

LAPORAN PRAKTIKUM

Pengindraan Jauh Dan Interpretasi Citra

Oleh:
Gita Purwati

(1313034041)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUG
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah, serta
bimbingan-Nya sehingga penulis dapat memenuhi tugas dalam membuat "Laporan
Praktikum Pengindraan Jauh Dan Interpretasi Citra.
Laporan Praktikum ini merupakan Tugas akhir yang dibuat untuk memenuhi tugas mata
kuliah Pengindraan Jauh Dan Interpretasi Citra.
Dalam menyelesaikan tugas ini banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, baik
secara langsung maupun tidak langsung.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam penyelesaian Tugas
ini.
Kami menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna.
Saran dan kritik yang membangun sangat di harapkan untuk menyempurnakan tugas
Pengindraan Jauh Dan Interpretasi Citra ini. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca
umumnya dan khususnya, agar dapat mengetahui berbagai hal mengenai Pengindraan
Jauh Dan Interpretasi Citra.
Bandar Lampung,
2016

Penyusun

Januari

DAFTAR ISI

Kata Pengantar............................................................................................................................
Daftar Isi.....................................................................................................................................
Pendahuluan................................................................................................................................
Praktikum Acara 1 : Identifikasi Penutup Lahan Pada Citra Secara
Visual Menggunakan Unsur-Unsur Interpretasi.........................................
Praktikum Acara 2 : Interpretasi Bentuklahan pada Citra Penginderaan
Jauh..........................................................................................................
Praktikum Acara 3 : Interpretasi Kerapatan Vegetasi pada Citra
Penginderaan Jauh....................................................................................
Praktikum Acara 4 : Interpretasi Penggunaan Lahan pada Citra
Penginderaan Jauh....................................................................................
Praktikum Acara 5 : Pengantar Pemrosesan Citra Digital (PCD).............................................
Praktikum Acara 6 : Pra-Pemrosesan Citra (Koreksi Geometrik dan
Koreksi Radiometrik)...............................................................................
Praktikum Acara 7 : Klasifikasi NDVI untuk Analisis Kerapatan
Vegetasi....................................................................................................
Praktikum Acara 8 : Klasifikasi Citra Digital untuk Identifikasi
Penutup Lahan .........................................................................................

Daftar Pustaka

......................................................................................................................

PENDAHULUAN
Penginderaan jauh adalah ilmu pengetahuan dan seni untuk memperoleh informasi
tentang obyek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh
menggunakan piranti/alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah, atau fenomena
yang dikaji (Lillesand, et al, 2007). Definisi lain mengatakan bahwa penginderaan jauh
merupakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni perolehan informasi obyek dari suatu
jarak yang jauh (Aronoff, 2005). Dari dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa
penginderaan jauh merupakan ilmu, seni, dan teknologi yang dapat digunakan
untukmengidentifkasi dan menganalisis obyek dan fenomena yang ada di muka bumi
untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.
Kata kunci dari penginderaan jauh adalah tanpa kontak langsung atau dari jarak yang
jauh untuk melihat suatu obyek atau fenomena. Dengan kata lain dalam penginderaan
jauh dibutuhkan suatu alat yang dapat merekam obyek atau fenomena yang ada di muka
bumi untuk kemudian digunakan oleh peneliti dalam mengamati obyek atau fenomena
tersebut. Alat yang digunakan untuk merekam ini selanjutnya dikenal dengan istilah
sensor, sedangkan hasil rekamannya disebut dengan istilah citra penginderaan jauh.
Kegiatan dari seorang peneliti dalam mengkaji citra penginderaan jauh dengan maksud
untuk mengidentifikasi obyek yang tergambar atau terekam pada citra, dan menilai arti
pentingnya obyek tersebut dinamakan interpretasi atau penafsiran citra (Purwadhi,
2001).

Secara teknik interpretasi citra dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu interpretasi
manual dan interpetasi digital. Penyebutan kata manual dan digital disini tidak
dimaksudkan untuk membedakan antara digunakan atau tidaknya perangkat keras
(komputer) dan perangkat lunak (program) dalam interpretasi namun lebih kepada
perbedaan dalam proses pengenalan obyek yang tergambar pada citra penginderaan
jauh. Menurut Purwadhi (2001) interpretasi citra secara manual merupakan proses
interpretasi citra yang mendasarkan pada pengenalan ciri (karakteristik) obyek
secarakeruangan (spasial). Biasanya proses pengenalan ciri obyek yang tergambar pada
citra dilakukan dengan bantuan unsur-unsur interpretasi berupa rona, warna, bentuk,
ukuran, tekstur, pola, bayangan, tinggi, situs, dan asosiasi. Unsur-unsur interpretasi ini
dikenal juga dengan istilah kunci interpretasi, dimana dalam penggunaannya dapat
disusun secara hirarki sesuai dengan tingkat kesulitan dalam pengenalan suatu obyek
yang tergambar pada citra. Hirarki kunci interpretasi tersebut dapat dilihat pada Gambar
1.

RONA
WARNA
BENTUK
UKURAN TEKSTUR

POLA
BAYANGAN

SITUS

TINGGI

ASOSIASI

Tingkat
Kerumitan

Gambar 1. Susunan Hirarki Unsur/Kunci Interpretasi Citra


Interpretasi manual ini sering disebut juga dengan interpretasi visual karena mengacu
para proses pengenalan obyek berdasarkan pada visualisasi atau gambaran obyek di
muka bumi yang terlihat oleh mata seorang interpreter. Interpretasi manual biasanya
dilakukan terhadap citra foto (foto udara, foto satelit) atau citra non non-fotografi yang
sudah dikonveri ke dalam bentuk foto (gambar/piktorial), baik foto cetakmaupun foto
digital berformat JPG.
Interpretasi manual dapat dilakukan secara langsung maupun dengan bantuan alat
berupa stereoskop. Stereoskop (Gambar 2) merupakan sebuah alat yang dapat
memunculkan gambar dalam bentuk tiga dimensi (3D) dari dua buah foto udara dua
dimensi (2D) yang bertampalan. Yang dimaksud bertampalan adalah dua buah foto
udara yang merekam daerah yang sama namun dari sudut perekaman yang berbeda.
Secara lebih jelas, definisi dari daerah yang bertampalan tersebut dapat dilihat pada
Gambar 3. Selain menggunakan stereoskop interpretasi manual juga dapat dilakukan
dengan bantuan komputer dan perangkat lunak melalui proses digitasi layar.

Gambar 2. Stereoskop cermin untuk mengamati dua foto udara


yang bertampalan

Daerah
bertampalan

Gambar 3. Daerah yang bertampalan pada dua foto udara yang berurutan
Interpretasi citra secara digital adalah proses interpretasi yang dilakukan dengan
bantuan komputer dan perangkat lunak dimana yang digunakan dalam pengenalan ciri
atau karakteristik obyek yang terekam pada citra adalah informasi spektral obyek.
Interpretasi secara digital ini hanya dapat dilakukan pada citra non-fotografi yang masih
berbentuk digital asli atau belum dikonversi menjadi gambar/foto. Hal ini disebabkan
karena dasar dari interpretasi citra secara digital ini adalah klasifikasi pixel berdasarkan
nilai spektralnya dan dapat dilakukan dengan cara statistik (Purwadhi, 2001). Setiap
kelas kelompok pixel ini akan dicari kaitannya terhadap obyek atau gejala di muka
bumi.
Modul Praktikum Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra ini terdiri dari delapan (8)
acara praktikum mencakup kegiatan interpretasi citra secara manual hingga interpretasi
citra secara digital. Interpretasi citra secara manual akan dilakukan dengan tanpa alat
maupun dengan alat berupa stereoskop untuk mengidentifikasi obyek-obyek yang
tampak pada citra foto dan citra satelit yang telah dikonversi dalam bentuk JPG.
Sedangkan interpretasi citra secara digital akan dilakukan dengan bantuan komputer dan
perangkat lunak (ENVI) untuk pemrosesan citra mulai dari bagaimana menampilkan
citra, penajaman citra dengan penyusunan citra komposit, pengenalan obyek berbasis

nilai pixel, koreksi geometrik dan radiometrik, hingga klasifikasi citra digital (digital
image classification).

LAPORAN PRAKTIKUM 1

Identifikasi Penutup Lahan pada Citra Secara Visual


Menggunakan Unsur-Unsur Interpretasi

Oleh:

Gita Purwati

(1313034041)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUG
2016

LAPORAN 1
Identifikasi Penutup Lahan pada Citra Secara Visual
Menggunakan Unsur-Unsur Interpretasi

1. Tujuan
Melakukan identifikasi jenis tutupan lahan pada citra secara visual menggunakan
unsur-unsur interpretasi
2. Alat dan Bahan

Stereoskop
Spidol OHP
Kertas Transparan
Penggaris
Selotip

Alat yang digunakan meliputi:

Bahan yang digunakan meliputi:

Citra Satelit/Foto Udara

3. Tinjauan Pustaka

Istilah penggunaan lahan (land use), berbeda dengan istilah penutup lahan (land
cover). Penggunaan lahan biasanya meliputi segala jenis kenampakan dan sudah
dikaitkan dengan aktivitas manusia dalam memanfaatkan lahan, sedangkan
penutup lahan mencakup segala jenis kenampakan yang ada di permukaan bumi
yang ada pada lahan tertentu. Penggunaan lahan merupakan aspek penting
karena penggunaan lahan mencerminkan tingkat peradaban manusia yang
menghuninya(Rizki Oktaviani).

Townshend dan Justice (1981) juga memiliki pendapat mengenai penutupan


lahan, yaitu penutupan lahan adalah perwujudan secara fisik (visual) dari
vegetasi, benda alam, dan unsur-unsur budaya yang ada di permukaan bumi
tanpa memperhatikan kegiatan manusia terhadap obyek tersebut. Sedangkan
Barret dan Curtis, tahun 1982, mengatakan bahwa permukaan bumi sebagian
terdiri dari kenampakan alamiah (penutupan lahan) seperti vegetasi, salju, dan
lain sebagainya. Dan sebagian lagi berupa kenampakan hasil aktivitas manusia
(penggunaan lahan).
Interpretasi penggunaan lahan dari foto udara ini dimaksudkan untuk
memudahkan deliniasi. Untuk dapat mempercepat hasil inventarisasi dengan
hasil yang cukup baik, digunakan pemanfaatan data penginderaan jauh, karena
dari data penginderaan jauh memungkinkan diperoleh informasi tentang
penggunaan lahan secara rinci.selain itu, adanya perrubahan pemanfaatan lahan
kota yang cepat dapat pula dimonitor dari data penginderaan jauh.
Penggunaan lahan mencerminkan sejauh mana usaha atau campur tangan
manusia

dalam

memanfaatkan

dan

mengelola

lingkungannya.

Data

penggunaan/tutupan lahan ini dapat disadap dari foto udara secara relatif mudah,
dan perubahannya dapat diketahui dari foto udara multitemporal. Teknik
interpretasi foto udara termasuk di dalam sistem penginderaan jauh. (Lillesand
dan Kiefer, 1997).
Interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra
dengan maksud untuk menidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek
tersebut (Estes dan Simonett, 1975). Interpretasi citra dan fotogametri
berhubungan sangat erat, meskipun keduanya tidaklah sama. Bedanya
fotogametri berkepentingan dengan geometri obyek, sedangkan interpretasi citra
berurusan dengan manfaat, penggunaan, asal-usul, ataupun identitas obyek yang
bersangkutan (Glossary of the Mapping Sciences, 1994).
Proses di dalam interpretasi citra, penafsir citra mengkaji citra sekaligus
berupaya melalui proses penalaran untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan

menilai arti pentingnya obyek yang tergambar pada citra. Sehingga penafsir citra
berupaya

untuk

mengenali

obyek

yang

tergambar

pada

citra

dan

menterjemahkannya ke dalam disiplin ilmu tertentu seperti geologi, geografi,


ekologi, dan disiplin ilmu lainnya (Sutanto, 1986).
Rangkaian kegiatan yang diperlukan di dalam pengenalan obyek yang tergambar
pada

citra

yaitu

deteksi,

identifikasi,

dan

analisis....(Lintz

Jr.

dan

Simonett,1976). Deteksi berarti penentuan ada atau tidak adanya sesuatu obyek
pada citra. Ia merupakan tahap awal dalam interpretasi citra. Keterangan yang
didapat pada tahap deteksi bersfat global. Keterangan yang didapat pada tahap
interpretasi selanjutnya, yaitu pada tahap identifikasi, bersifat setengah rinci.
Keterangan rinci diperoleh dari tahap akhir interpretasi, yaitu tahap analisis
(Lintz dan Simonett, 1976).
Pengenalan

obyek

adalah

bagian

penting

dalam

upaya

untuk

menginterpretasikan citra. Tidak mungkin dilakukan analisis memecahkan


masalah yang sedang dihadapi, jika tidak mengenali identitas dan jenis obyek
yang tergambar pada citra. Prinsip pengenalan obyek pada citra mendasarkan
atas penyidikan karakteristiknya atau atributnya pada citra. Karakteristik obyek
yang tergambar pada citra dan digunakan untuk mengenali obyek disebut unsur
interpretasi citra (Sutanto, 1986).
Menurut Sutanto (1986), karakteristik penting dari obyek pada citra yang
digunakan sebagai interpretasi citra terdiri dari delapan unsur. Kedelapan unsur
tersebut

ialah

warna (color)/rona (tone),

bayangan(shadow),

tekstur (texture),

bentuk (shape),

pola (pattern),

ukuran (size),

situs (site),

dan

asosiasi (association). Di antara kedelapan unsur tersebut, warna/rona


merupakan hal yang paling dominan, dan langsung mempengaruhi pengguna
citra dalam memulai interpretasi. Sebenarnya, seluruh unsur interpretasi tersebut
dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenjang dalam piramida unsur-unsur
interpretasi. Jenjang paling bawah terdapat unsur-unsur elementer yang dengan
mudah dapat langsung dikenali pada citra, yaitu warna/rona, bentuk, dan

bayangan. Pada jenjang berikutnya terdapat unsur-unsur yang membutuhkan


pemahaman lebih mendalam tentang konfigurasi obyek dalam ruang, yaitu
ukuran, tekstur dan pola. Sementara pada jenjang paling atas merupakan unsurunsur pengenal utama dan seringkali menjadi faktor kunci dalam interpretasi,
namun sekaligus paling sulit dideskripsikan, yaitu situs dan asosiasi.
Latihan di laboratorium dan lapangan sekaligus, sangat diperlukan untuk dapat
membangun pemahaman tentang unsur-unsur interpretasi secara utuh dan
lengkap. Observasi lapangan dengan panduan foto akan dapat membantu caloncalon penafsir untuk dapat memahami arti setiap unsur interpretasi dan
kenyataan kenampakannya di lapangan. Melalui latihan lapangan secara
langsung, akan dapat diketahui unsur-unsur interpretasi apa saja yang paling
berperan dalam membentuk kunci interpretasi. Kunci intepretasi adalah
karakteristik atau kombinasi karakteristik (dalam hal ini diwakili oleh unsurunsur interpretasi) yang memungkinkan suatu obyek pada citra dapat dikenali
(Sabins, 1997).
Foto pankromatik adalah citra foto dari udara yang dibuat dengan menggunakan
seluruh spectrum tampak mata mulai dari warna merah hingga ungu. Foto udara
ini sering disebut foto udara konvensional. Ciri foto pankromatik adalah pada
warna objek sama dengan kesamaan mata manusia, sehingga baik untuk
mendeteksi pencemaran air, kerusakan banjir, penyebarab air tanah, dan air
permukaan.
Pada foto pankromatik, rona pada objek serupa dengan warna objek aslinya,
karena kepekaan film sama dengan kepekaan mata manusia, resolusi spasialnya
halus, stabilitas dimensional tinggi, dan foto pankromatik hitam putih telah lama
dikembangkan sehingga orang telah terbiasa menggunakannya.
A. Dasar interpretasi citra pengindraan jauh.
a. interpretasi secara manual

interpretasi citra merupakan pekerjaan yang menjawab pertanyaan bagaimana


cara mempergunakan atau cara menganalisi data pengindraan jauh, agar dapat
digunakan untuk keperluan daerah. Interpretasi citra telah diungkapkan dalam
batasan merupakankegiatan mengidentifikasi obyek melalui citra pengindraan
jauh. Kegiatan ini merupakan bagian terpenting bagian terpenting didalam
pengindraan jauh karena tanpa diknali obyek yang tergambar pada citra
pengindraan jauh, maka kita tidak dapat melakukan kegiatan apa-apa terhadap
citra tersebut. Interpretasi citra pengindraan jauh dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu interpretasi secara manual dan digital.
Interpretasi citra secara manual Interpretasi citra merupakan suatu kegiatan
untuk menentukan bentuk dan sifat obyek yang tampak pada citra, berikut
deskripsinya.interpretasi citra dan fotogrametri berhubungan erat, meskipun
keduanya tidak sama. Bedanya, fotogrametri berkepentingan dengan geometri
obyek, sedangkan interpretasi citra berurusan dengan manfaat, penggunaan,
asal-usul, ataupun identitas obyek yang bersangkutan (Glossary of the Mapping
Science, 1994).
Lillesand dan Kiefer (1994) dan juga Sutanto (1986) menyebutkan 8 unsur
interpretasi yang di gunakan secara konvergen untuk dapat mengenali suatu
obyek yang ada pada citra, kedelapan unsur tersebut ialah warna/rona, bentuk,
ukuran, bayangan, tekstur, pola, situs dan asosiasi. Diantara ke delapan unsur
tersebut, warna/rona merupakan hal yang paling dominan dan langsung
mempengaruhi pengguna citra dalam memulai interpretasi. Sebenarnya seluruh
unsur interpretasi ini dapat di kelompokkan ke dalam 3 jenjang dalam piramida
unsur-unsur interpretasi. Pada jenjang paling bawah terdapat unsur-unsur
elementer yang dengan mudah dapat dikenali pada citra, yaitu warna/rona,
bentuk, dan bayangan. Pada jenjang berikutnya terletak ukuran, tekstur dan pola,
yang membutuhkan pemahaman lebih mendalam tentang konfigurasi obyek
dalam ruang. Pada jenjang paling atas terdapat situs dan asosiasi, yang
merupakan unsur-unsur pengenal utama dan seringkali menjadi faktor kunci
dalam interpretasi, namun sekaligus paling sulit untuk dideskripsikan.

Interpretasi citra merupakan suatu kegiatan untuk menentukan bentuk dan sifat
obyek yang tampak pada citra, berikut deskripsinya. Interpretasi citra dapat
dilakukan secara manual atau visual, dan dapat pula secara digital. Interpretasi
citra secara visual sering di sebut dengan interpretasi fotografik, sekalipun citra
yang di gunakan bukan citra foto, melainkan citra non foto yang telah tercetak
(hard copy). Sebutan interpretasi fotografik sering di berikan pada Interpretasi
visual citra non foto, karena banyak produk tercetak citra non foto di masa lalu
(bahkan sampai sekarang) di wujudkan dalam bentuk film ataupun citra tercetak
di atas kertas foto, dengan proses reproduksi fotografik. Hal ini dapat dilakukan
karena proses pencetakan oleh komputer pengolahan citra non foto dilakukan
dengan printer khusus yang disebut film writer, dan hasil cetakanya menyerupai
slide (diapositif) berukuran besar (lebih kurang hingga ukuran karto). Istilah
Interpretasi fotografik juga diberikan pada berbagai kegiatan interpretasi visual
citra-citra non foto, karena prinsip-prinsip interpretasi yang digunakan tidak jauh
berbeda dari prinsip-prinsip interpretasi foto udara.
b. interpretasi citra secara digital.
Interpretasi secara digital adalah evaluasi kuantitatif tentang informasi spektral
yang disajikan pada citra. Dasar interpretasi citra digital berupa klasifikasi citra
pixel berdasarkan nilai spektralnya dan dapat dilakukan dengan cara statistik.
Dalam pengklasifikasian citra secara digital, mempunyai tujuan khusus untuk
mengkategorikan secara otomatis setiap pixel yang mempunyai informasi
spektral yang sama dengan mengikutkan pengenalan pola spektral, pengenalan
pola spasial dan pengenalan pola temporal yang akhirnya membentuk kelas atau
tema keruangan (spasial) tertentu.
c. unsur unsur interpretasi citra
Pengenalan obyek merupakan bagian paling vital dalam interpretasi citra. Foto
udara sebagai citra tertua di dalam penginderaan jauh memiliki unsur interpretasi
yang paling lengkap dibandingkan unsur interpretaasi pada citra lainnya.
(Sutanto, 1994:121).

1.Rona dan Warna


Rona ialah tingkat kegelapan atau tingkat kecerahan obyek pada citra,
sedangkan warna ialah wujud yang tampak oleh mata dengan menggunakan
spektrum sempit, lebih sempit dari spektrum tampak.

Pada foto hitam putih rona yang ada biasanya adalah hitam, putih atau
kelabu . Tingkat kecerahannya tergantung pada keadaan cuaca saat
pengambilan objek, arah datangnya sinar matahari, waktu pengambilan
gambar (pagi, siang atau sore) dan sebagainya.

Pada foto udara berwarna, rona sangat dipengaruhi oleh spektrum


gelombang elektromagnetik yang digunakan, misalnya menggunakan
spektrum ultra violet, spektrum tampak, spektrum infra merah dan
sebagainya. Perbedaan penggunaan spektrum gelombang tersebut
mengakibatkan rona yang berbeda-beda. Selain itu karakter pemantulan
objek terhadap spektrum gelombang yang digunakan juga mempengaruhi
warna dan rona pada foto udara berwarna

2. bentuk
Bentuk-bentuk atau gambar yang terdapat pada foto udara merupakan
konfigurasi atau kerangka suatu objek. Bentuk merupakan ciri yang jelas,
sehingga banyak objek yang dapat dikenali hanya berdasarkan bentuknya
saja.Contoh: 1) Gedung sekolah pada umumnya berbentuk huruf I, L, U atau
empat persegi panjang.2) Gunung api, biasanya berbentuk kerucut.
3.Ukuran
merupakan ciri objek yang antara lain berupa jarak, luas, tinggi lereng dan
volume. Ukuran objek pada citra berupa skala, karena itu dalam memanfaatkan
ukuran sebagai interpretasi citra, harus selalu diingat skalanya.Contoh:
Lapangan olah raga sepakbola dicirikan oleh bentuk (segi empat) dan ukuran
yang tetap, yakni sekitar (80 m 100 m).

4.Tekstur
Tekstur adalah frekwensi perubahan rona pada citra. Ada juga yang mengatakan
bahwa tekstur adalah pengulangan pada rona kelompok objek yang terlalu kecil
untuk dibedakan secara individual. Tekstur dinyatakan dengan: kasar, halus, dan
sedang. Misalnya: Hutan bertekstur kasar, belukar bertekstur sedang dan semak
bertekstur halus.
5.Pola
Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang menandai bagi banyak objek
bentukan manusia dan bagi beberapa objek alamiah.
Contoh: Pola aliran sungai menandai struktur geologis. Pola aliran trelis
menandai struktur lipatan. Permukiman transmigrasi dikenali dengan pola yang
teratur, yaitu ukuran rumah dan jaraknya seragam, dan selalu menghadap ke
jalan. Kebun karet, kebun kelapa, kebun kopi mudah dibedakan dari hutan atau
vegetasi lainnya dengan polanya yang teratur, yaitu dari pola serta jarak
tanamnya
6.Bayangan
Bayangan bersifat menyembunyikan detail atau objek yang berada di daerah
gelap. Meskipun demikian, bayangan juga dapat merupakan kunci pengenalan
yang penting bagi beberapa objek yang justru dengan adanya bayangan menjadi
lebih jelas.
Contoh: Lereng terjal tampak lebih jelas dengan adanya bayangan, begitu juga
cerobong asap dan menara, tampak lebih jelas dengan adanya bayangan. Fotofoto yang sangat condong biasanya memperlihatkan bayangan objek yang
tergambar dengan jelas, sedangkan pada foto tegak hal ini tidak terlalu
mencolok, terutama jika pengambilan gambarnya dilakukan pada tengah hari.

7.Situs
Situs adalah letak suatu objek terhadap objek lain di sekitarnya. Misalnya
permukiman pada umumnya memanjang pada pinggir beting pantai, tanggul
alam atau sepanjang tepi jalan. Juga persawahan, banyak terdapat di daerah
dataran rendah, dan sebagainya.
8.Asosiasi
Asosiasi adalah keterkaitan antara objek yang satu dengan objek yang lainnya.
Contoh: Stasiun kereta api berasosiasi dengan jalan kereta api yang jumlahnya
lebih dari satu (bercabang).
9.Konvergensi Bukti
Konvergensi bukti ialah penggunaan beberapa unsur interpretasi citra sehingga
lingkupnya menjadi semakin menyempit ke arah satu kesimpulan tertentu.
1. Contoh Interpretasi Citra:
Pabrik dapat dikenali dengan bentuknya yang serba lurus dan ukurannya yang
besar:
(a) jauh lebih besar dari ukuran rumah mukim pada umumnya. Pabrik itu
berasosiasi dengan lori yang tampak pada foto dengan bentuk empat persegi
panjang dan ronanya kelabu, mengelompok dalam jumlah besar.
(b). Lori pada umumnya digunakan untuk mengangkut tebu dari sawah ke
pabrik gula. Oleh karena itulah maka pabrik itu diinterpretasikan sebagai pabrik
gula. Pada saat pemotretannya, pabrik itu sedang aktif menggiling tebu. Hal ini
dapat diketahui dari asapnya yang mengepul tebal dan tertiup angin ke arah barat
daya. Pola perumahan yang teratur dan letaknya yang berdekatan dengan pabrik
gula mengisyaratkan bahwa perumahan itu merupakan perumahan karyawan
pabrik gula
(c).Atap pabrik gula maupun atap perumahan karyawannya yang berona cerah
mengisyaratkan bahwa bangunannya merupakan bangunan baru. Hal ini

diperkuat oleh kenyataan bahwa pohon-pohonan di sekitar rumah tersebut baru


mulai tumbuh. Tanaman pada
bertekstur halus, tanaman tebu
yang tampak pada tepi kanan dan tepi atas foto bertekstur sedang,
tanaman pekarangan
dan kebun kelapa bertekstur kasar.
Di samping bertekstur sedang, tanaman tebu juga ditandai dengan tekstur yang
seragam untuk daerah cukup luas. Hal ini disebabkan karena penggarapannya
dan penanaman dapat dilakukan secara serentak. Bagi tekstur tanaman lain pada
sawah yang diusahakan oleh petani, teksturnya berbeda dari petak yang satu ke
petak lainnya.Pada (d) terdapat pohon kelapa yang dapat dikenali berdasarkan
tajuknya yang berbentuk bintang. Berbeda dengan bagian lain yang tanaman
pekarangannya berupa campuran berbagai jenis pohon, pada bagian (d) ini yang
dominan adalah pohon kelapa. Bayangan juga merupakan salah satu unsur
interpretasi citra yang penting. Di dalam contoh ini, bayangan dapat digunakan
untuk mengetahui beda tinggi relatif antara tanaman tebu dan tanaman
pekarangan. Tinggi pohon kelapa tampak sekitar 5 6 kali tinggi tanaman tebu.
2. teknik interpretasi citra
Teknik adalah alat khusus untuk melaksanakan metode. Teknik dapat pula
diartikan sebagai cara melakukan sesuatu secara ilmiah. Teknik interpretasi citra
dimaksudkan sebagai alat atau cara khusus untuk melaksanakan metode
penginderaan jauh. Teknik juga merupakan cara untuk melaksanakan sesuatu
secara ilmiah. Sesuatu itu tidak lain ialah interpretasi citra. Bahwa interpretasi
citra dilakukan secara ilmiah, kiranya tidak perlu diragukan lagi. Interpretasi
citra dilakukan dengan metode dan teknik tertentu, berlandaskan teori tertentu
pula. Mungkin kadang-kadang ada orang yang menyebutnya sebagai dugaan,
akan tetapi berupa dugaan ilmiah (scientificguess)

Teknik interprestasi citra antara lain :

1) data acuan

2) kunci interprestasi citra


3) penangan data
4) penangan streoskopik
5) metode pengkajian
6) penerapan konsep multi
Berikut penjelasannya:
1.data acuan
Citra menyajikan gambaran lengkap yang mirip wujud dan letak sebenarnya.
Kemiripan ujud ini memudahkan pengenalannya pada citra, sedang kelengkapan
gambarannya memungkinkan penggunaannya oleh beragam pakar untuk
beragam keperluan. Meskipun demikian, masih diperlukan data lain untuk lebih
meyakinkan hasil interpretasi dan untuk menambah data yang diperlukan, tetapi
tidak diperoleh dari citra. Data ini disebut data acuan yang dapat berupa pustaka,
pengkuran, analisis laboratorium, peta, kerja lapangan, foto terrestrial maupun
foto udara selain citra yang digunakan. Data acuan dapat berupa tabel statistik
tentang meteorologi atau tentang penggunaan lahan yang dikumpulkan oleh
perorangan maupun oleh instansi pemerintah.
Penggunaan data acuan yang ada akan meningkatkan ketelitian hasil interpretasi
yang akan memperjelas lingkup, tujuan, dan masalah sehubungan dengan proyek
tertentu.Meskipun citra menyajikan gambaran lengkap, pada umumnya masih
diperlukan pekerjaan medan yang dimaksudkan untuk menguji atau meyakinkan
kebenaran hasil interpretasi citra bagi obyek yang perlu diuji. Pekerjaan ini
disebut uji medan (field check) yang terutama digunakan di beberapa tempat
yang interpretasinya meragukan. Karena uji medan dapat dilakukan pada
tempat-tempat yang mudah dicapai untuk mewakili perujudan sama yang
terletak di tempat yang jauh dari jalan, untuk obyek yang tidak meragukan
interpretasinya pun sebaiknya dilakukan pula kebenarannya. Karena dapat
diambil tempat yang mudah dicapai, pekerjaan ini pada umumnya tidak
menambah waktu, tenaga, dan biaya yang berarti, akan tetapi keandalan hasil

interpretasinya

jadi

meningkat

cukup

berarti.

Jumlah pekerjaan medan yang diperlukan di dalam interpretasi citra


sangat beraneka dan bergantung pada
(a) kualitas citra yang meliputi skala, resolusi, dan informasi yang harus
diinterpretasi,
(b) jenis analisis atau interpretasinya,
(c) tingkat ketelitian yang diharapkan, baik yang menyangkut penarikan garis
batas atau delineasi maupun klasifikasinya,
(d) pengalaman penafsir citra dan pengetahuannya tentang sensor, daerah, dan
obyek yang harus diinterpretasi,
(e) kondisi medan dan kemudahan mencapai daerah, yang untuk alasan tertentu
ada daerah yang tidak dapat dijangkau untuk uji medan, dan
(f) ketersediaan data acuan Untuk verifikasi hasil interpretasi citra sering harus
dilakukan

cara

sampling

dalam

pekerjaan

medan.

Untuk

ini

perlu

dipertimbangkan sampling mana yang terbaik dan kemudian merancang strategi


sampling yang cocok.
Pada umumnya dipilih sampling multitingkat untuk perkiraan tepat terhadap
parameter lingkungan.Seperti pekerjaan medan yang dimaksudkan untuk
maksud ganda, data acuan pun bermanfaat ganda pula yaitu untuk
membantu proses interpretasi dan analisis, dan
verifikasi hasil interpretasi dan analisis.
Van der Meer (1965; dalam Sutanto, 1992) menyatakan pentingnya uji medan.
Pekerjaan pemetaan tanah memerlukan penentuan jenis tanah di tiap tempat dan
delineasi batasnya. Penentuan jenis tanah meliputi 15% - 20% volume
pekerjaan, sedang delineasi jenis tanah meliputi 80% - 85% volume pekerjaan.
Penentuan jenis tanah tetap dilakukan di medan dan di laboratorium, tetapi
delineasi batas jenis tanahnya dapat dilakukan pada foto udara berdasarkan pada

agihan lereng, vegetasi, dan perujudan lain yang sering erat kaitannya dengan
pola agihan jenis tanah.
Contoh lain, di dalam pemetaan penggunaan lahan pun diperlukan gabungan
antara interpretasi citra dan pekerjaan terrestrial. Untuk ketelitiannya, tidak ada
cara yang menyamai apalagi melebihi pekerjaan terrestrial. Perlu dicamkan
bahwa yang dimaksud dengan pekerjaan terrestrial di dalam pemetaan
penggunaan lahan yaitu pekerjaan medan untuk mengidentifikasi jenis
penggunaan

lahan,

mengukur

lokasi,

bentangan,

luasnya

serta

menggambarkannya pada peta dasar yang andal ketelitiannya. Masalah akan


segera timbul bagi wilayah seperti Indonesia yaitu tidak tersedianya peta andal
untuk tiap daerah, dan tidak dimungkinkannya untuk menjangkau tiap jenis
penggunaan lahan, mengukurnya, dan memasukannya ke dalam peta untuk
daerah kita yang luas ini. Pekerjaan itu mungkin memerlukan waktu beberapa
dasawarsa untuk menyelesaikannya bila seluruh armada yang bersangkutan
dikerahkan ke medan.
Waktunya terlalu lama di samping biayanya yang sangat tinggi. Pekerjaan ini
dapat dipercepat dengan mendeteksi tiap jenis penggunaan lahan berdasarkan
citra. Untuk meyakinkan kebenaran hasil interpretasinya, diterjunkan sebagian
kecil armada pemetaan penggunaan lahan ke beberapa tempat. Paduan pekerjaan
medan dan interpretasi citra ini akan mempercepat pemetaan penggunaan lahan
dan menyusutkan biaya pelaksanaannya.

2.kunci interprestasi citra


Kunci interpretasi citra pada umumnya berupa potongan citra yang telah
diinterpretasi serta diyakinkan kebenarannya, dan diberi keterangan seperlunya.
Keterangan ini meliputi jenis obyek yang digambarkan, unsur interpretasinya,
dan keterangan tentang citra yang menyangkut jenis, skala, saat perekaman, dan
lokasi daerahnya. Kunci interpretasi citra dimaksudkan sebagai pedoman dalam
melaksanakan interpretasi citra, dapat berupa kunci interpretasi citra secara

individual maupun berupa kumpulannya. Kunci interpretasi citra dibedakan atas


dasar ruang lingkupnya dan atas dasar lainnya.
a.Atas

dasar

ruang

lingkupnyaBerda sarkan

ruang

lingkupnya,

kunci

interpretasi citra dibedakan menjadi empat jenis, yaitu:


Kunci individual (item key), yaitu kunci interpretasi citra yang
digunakan untuk obyek atau kondisi individual. Misalnya kunci
interpretasi untuk tanaman karet.
Kunci subyek (subject key), yaitu himpunan kunci individual yang
digunakan untuk identifikasi obyek-obyek atau kondisi penting dalam
suatu subyek atau kategori tertentu.Misalnya kunci interpretasi untuk
tanaman perkebunan.
Kunci regional (regional key), yaitu himpunan kunci individual atau
kunci subyek untuk identifikasi obyek-obyek atau kondisi suatu wilayah
tertentu. Wilayah ini dapat berupa daerah aliran sungai, wilayah
administratif atau wilayah lainnya.
Kunci analog (anlogues key) ialah kunci subyek atau kunci regional
untuk daerah yang terjangkau secara terrestrial tetapi dipersiapkan untuk
daerah lain yang tak terjangkau secara terrestrial. Misalnya digunakan
kunci interpretasi hutan Kalimantan untuk interpretasi hutandi Irian Jaya.
Cara ini tidak dianjurkan, kecuali di dalam keadaan darurat.
b. Atas Dasar Lainnya Di samping berdasarkan linmgkupnya, kunci interpretasi
citra sering dibedakan dengan beraneka dasar.
Salah satu dasar pembeda lainnya ialah pada karaktedasar atau karakter
intrinsiknya. Berdasarkan karakter intrinsiknya ini maka kunci interpretasi citra
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
Kunci langsung (direct key), yaitu kunci interpretasi citra yang disiapkan
untuk obyek atau kondisi yang tampak langsung pada citra, misalnya
bentuk lahan dan pola aliran permukaan.

Kunci asosiatif (associative key), yaitu kunci interpretasi citra yang


terutama digunakan untuk deduksi informasi yang tidak tampak langsung
pada citra, misalnya tingkat erosi dan kepadatan penduduk.Kunci
interpretasi citra sebaiknya digunakan untuk daerah tertentu saja, yaitu
yang dibuat untuk daerah A tidak seyogyanya diterapkan begitu saja
untuk daerah B kecuali untuk kunci analog.
3.penanganan data
Citra dapat berbentuk kertas cetakan atau transparansi yang juga semakin
banyak digunakan. Transparansi dapat berujud lembaran tunggal maupun
gulungan. Dalam menanganinya perlu berhati-hati jangan sampai menimbulkan
goresan atau bahkan penghapusan padanya. Untuk transparansi gulungan lebih
mudah penanganannya, akan tetapi terhadap yang lembaran perlu lebih berhatihati, baik lembaran transparansi maupun lembaran kertas cetak.
Banyak citra beragam jenis, skala, atau saat perekaman digunakan secara
bersamaan untuk meningkatkan hasil interpretasinya. Dengan demikian sering
banyak citra yang dihadapi oleh penafsir citra. Penafsir citra yang
berpengalaman pun belum tentu memperhatikan cara penanganan data, karena ia
mungkin lebih tertarik pada interpretasinya. Hal demikian tentu saja tidak baik
untuk kemudahan dalam menyimpan dan mencari kembali, dan untuk keawetan
citra.Cara sederhana untuk mengatur citra dengan baik ialah
menyusun citra tiap satuan perekaman atau pemotretan secara numerik
dan menghadap ke atas,
mengurutkan tumpukan citra sesuai dengan urutan interpretasi yang akan
dilaksanakan dan meletakkan kertas penyekat di antaranya,
meletakkan

tumpukan

citra

sedemikian

sehingga

jalur

terbang

membentang dari kiri ke kanan terhadap arah pengamat, sedapat


mungkin dengan arah bayangan mengarah ke pengamat,

meletakkan citra yang akan digunakan sebagai pembanding sebelahmenyebelah dengan yang akan diinterpretasi, dan (5) pada saat citra
dikaji, tumpukan menghadap ke bawah dalam urutannya (Sutanto, 1992).

4.penanganan streoskop
Pengamatan stereoskopik pada pasangan citra yang bertampalan dapat
menimbulkan gambaran tiga dimensional bagi jenis citra tertentu. Citra yang
telah lama dikembangkan untuk pengamatan stereoskopik ialah foto udara. Citra
jenis ini dapat digunakan untuk mengukur beda tinggi dan tinggi obyek bila
diketahui tinggi salah satu titik yang tergambar pada foto. Disamping itu juga
dapat diukur lerengnya. Perujudan tiga dimensional ini memungkinkan
penggunaan foto udara untuk membuat peta kontur. Disamping foto udara, dari
pasangan citra radar atau citra lain yang bertampalan juga dapat ditimbulkan
perujudan tiga dimensional bila diamati dengan stereoskop.
Syarat pengamatan stereoskopik antara lain adanya daerah yang bertampalan
dan adanya paralaks pada daerah yang bertampalan. Paralaks ialah perubahan
letak obyek pada citra terhadap titik atau sistem acuan. Pada umumnya
disebabkan oleh perubahan letak titik pengamatan (Wolf, 1983). Titik
pengmatan ini berupa tempat pemotretan. Pertampalan pada foto udara berupa
pertampalan depan (endlap) dan pertampalan samping (sidelap). Paralaks yang
terjadi karena titik pengamatan 1 dan 2 disebut paralaks x, yaitu paralaks sejajar
jalur terbang. Paralaks lainnya ialah paralaks y, yaitu paralaks yang tegak lurus
paralaks x dan disebabkan oleh perubahan tempat kedudukan pada jalur terbang
yang berdampingan.
Pada citra radar mulai dikembangkan pengamatan stereoskopik yang
mendasarkan pada paralaks y. Pada citra Landsat juga terjadi pertampalan
samping dan oleh karenanya terjadi paralaks y. Pertampalan samping ini
besarnya beraneka, sesuai dengan letak lintangnya. Pada ekuator maka
pertampalan sampingnya 14%, sedangkan pada lintang 80 U dan 80 S
meningkat menjadi 85% (Paine, 1981). Pertampalan ini belum dikembangkan

untuk pengamatan stereoskopik. Pada citra SPOT yang satelitnya diorbitkan


tahun 1986, dikembangkan pengamatan stereoskopik berdasarkan paralaks y.
Karena obyek tampak dengan perujudan tiga dimensional, pengenalannya pada
citra lebih mudah dilaksanakan. Di samping itu, pengenalan obyek juga
dipermudah oleh dua hal, yaitu:
a. pembesaran tegak yang memperjelas relief, dan
b. pembesaran (tegak dan mendatar) bila digunakan binokuler dalam
pengamatannya.
Tanpa

binokuler,

seluruh

daerah

pertampalan

dapat

diamati

secara

stereoskopik.Dengan menggunakan binokuler, obyek diperbesar, tetapi luas


daerah pengamatan menyusut. Luas daerah pengamatan berbanding terbalik
terhadap kuadrat pembesarannya. Bagi pembesaran tiga kali luas daerah
pengamatannya menyusut menjadi sepersembilan luas daerah pertampalan.
5.metode pengkajian
Pekerjaan interpretasi citra dimulai dari pengakajian terhadap semua obyek yang
sesuai dengan tujuannya. Meskipun demikian, banyak penafsir citra yang lebih
suka mulai dengan menyiam seluruh atau sebagian besar daerah yang dikaji,
kemudian dilakukan seleksi dan kajian terhadap obyek yang dikehendaki.
Para penafsir citra umumnya sependapat bahwa interpretasi citra sebaiknya
mengikuti metodik tertentu, yaitu mulai dari pertimbangan umum yang
dilanjutkan ke arah obyek khusus atau dari yang diketahui ke arah yang belum
diketahui. Pekerjaan metodik dan interpretasi dari perujudan yang diketahui atau
mudah diketahui ke perujudan baru yang belum diketahui atau sukar diketahui
merupakan aksioma dalam kegiatan ilmiah. Perujudan umum dapat pula
diartikan perujudan regional, sedang perujudan khusus dapat diartikan perujudan
lokal. Pengkajian dari umum ke arah khusus dapat dilakukan bila tak ada bias
antara perujudan umum dan perujudan khusus.

Pada dasarnya ada dua metode pengkajian secara umum, yaitu:


a.Fishing expedition
Citra menyajikan gambaran lengkap obyek di permukaan bumi. Sebagai
akibatnya maka bagi penafsir citra yang kurang berpengalaman sering
mengambil data yang lebih banyak dari yang diperlukan. Hal ini disebabkan
karena penafsir citra mengamati seluruh citra dan mengambil datanya seperti
orang mencari ikan di dalam air, yaitu menjelajah seluruh daerah. Penggunaan
metode ini berarti pengamatan seluruh obyek yang tergambar pada seluruh citra.
b.Logical search
Penafsir citra mengamati citra secara menyeluruh tetapi secara selektif hanya
mengambil data yang relevan terhadap tujuan interpretasinya. Dengan kata lain
diartikan bahwa penafsir citra hanya mengkaji obyek atau daerah secara selektif.
Contoh, eksplorasi deposit minyak bumi hanya dicari di daerah endapan marin,
khususnya yang berupa daerah berstruktur lipatan.
Objek pada citra lebih mudah dikenali pada citra multispektral maupun
multisaluran dengan spektrum elektromagnetik yang dirinci menjadi spektrum
sempit. Hal ini disebabkan karena pada spektrum semput tertentumaka
karakterristik objek sering lebih menonjol bedanya terhadap karakteristik
spektral objek pada saluran sempit lainnya maupun terhadap spektrum lebar.
Rincian spektrum ini dapat dilakukan pada spektrum tertentu seperti pada
spektrum ultraviolet, pada spektrum tampak pada spektrum unframerah, atau
pada spektrum gelombang mikro. Dan dapat pula berupa rincian lebih satu
spektrum, misalkan spektrum tampak dan spektrum inframerah pantulan atau
spektrum tampak dan spektrum inframerah termal. Citra yang dibuat
berdasarkan rincian yang dibuat berdasarkan rincian lebih dari satu spektrum
disebut citra multispektra (multispektral).
Manfaat lain citra multispektral ialah dilakukannya penajaman warna (color
enhancedapment) dari tiga citra multispektral hitam putih yang semula belum

dapat dikenali. Kemudian dapat dikenali karena diujudkan dengan warna yang
bedanya terhadap objek lain dipertajam. Hasil akhirnya berupa citra paduan
warna.
Penajaman warna dapat dilakukan dengan cara pemprosesan penajaman sebagi
berikut (Barrett dan Curtis 1976)

Memilih tiga negatif pada beda ronanya paling besar, misalnya dari
empat negatif N1, N2, N3, dan N4 dipilih N1, N2, dan N4

Mencetak tiga negatif tersebut menjadi film positif. Dengan demikian


maka dari N1 dihasilkan film positif P1 dan negatif duplikatnya yaitu
N1. Sejalan dengan ini dihasilkan pula P2, P3, N2 dan N3

Mencetak hasil antara (intermediate) berdasarkan film positif dan


negatif yang ditumpang- tindihkan. Positif dan negatif ini harus
berbeda panjang gelombang.

Tiap hasil antara kemudian dicetak secara aditif dengan menggunakan


sebuah filter aditif sehingga tiap citra hanya dilangsungkan ke satu
lapis warna pada film berwarna yaitulapis magenta, lapis kuning, atau
lapisan cyan. Citra yang dihasilkan berupa transparansi dengan warna
derivatny. Transparansi ini digunakan untuk pengamatan.

Proses penajaman warna merupakan proses yang sederhana dan memperlukan


waktu yang banyak. Proses ini mahal dan tidak mudah untuk memilih paduan
citra yang membuah penajaman optimal dan memberikan hasil maksimum pada
tahapan interpretasi. Dalam hal ini akan lebih menguntungkan bila pembagian
paduan citra dapat langsung diamati pada layar yaitu dengan cara pengamatan
warna aditif.
Pengamatan warna aditif (additivdengae color viewer) dilakukan dengan alat
yang disebut pengamatan warna aditif (additivdengae color viewer). Warna
aditif yaitu warna biru, hijau, dan merah. Bila panduannya berdasarkan dua
warna aditif maka yang terbentuk adalah warnakomplementer yaitu warna
kuning (merah+hijau). Warna cyan (hijau+biru), dan warna magenta

(biru+merah). Warna komplementer juga disebut dengan jalan substraksi satu


warna aditif terhadap sinar putih (Paine 1981)
Alat pengamatan warna aditif dirancang untuk interprentasi citra multispektral.
Alat ini pada dasarnya terdiri dari 4 proyektor yang masing-masing diarahkan.
Bagi tiap citra (chip) multispejtral yang diamati dengan alat pengamatan warna
aditif ini tersedia dua sektrup penggerak yaitu masing-masing untuk penggerak
chip sepanjang x dan sepanjang sumbu y. Dengan demikian maka semua chip
yang diamati dapat disetel tumpang tindih secara tepat, proses ini disebut
regestrasi.
Pada data digital, tiap pixel (unit terkecil yang terekam oleh sensor) mempunyai
nilai digital tertentu. Tiap objek memiliki nilai spektrum tertentu dan nilai
spektrum tersebut berbeda pada panjang gelombang yang berbeda. Bila nilai
spektrum tiap objek digambarkan dengan dua saluran sebagi absis ordinatnya
misalkan saluran 5 MSS sebagai ordinat Landsat dan saluran 7 sebagai
absisnya maka nilai spektral tiap objek cendrung untuk mengelompokkan pada
bagian kiri bawah karena nilai spektralnya yang sangat rendah pada saluran 7
dan rendah pada saluran 5. Vegetasi mengelompok pada bagian kanan bawah
karena nilai spektralnya yang sangat tinggi pada saluran 7 dan relatif rendah
pada saluran 5.
4. Langkah Kerja
1) Siapkan citra satelit/foto udara yang akan diintepretasi.
2) Letakkan citra satelit/foto udara tersebut di atas meja praktikum
3) Letakkan selembar kertas transparan di atas citra satelit/foto udara
tersebut.
4) Lakukan identifikasi/interpretasi obyek penutup lahan yang tampak pada
citra satelit/foto udara tersebut dengan menggunakan spidol OHP.
5) Gunakan unsur-unsur interpretasi dalam melakukan idenfitikasi setiap
kenampakan penutup lahan.

Jika bahan yang digunakan adalah foto udara yang bertampalan, maka ikutilah
langkah-langkah berikut:

1) Siapkan alat stereoskop di meja praktikum.


2) Letakkan dua buah foto udara bertampalan di bawah stereoskop.
3) Sesuaikan jarak antara kedua foto udara tersebut agar kenampakan tiga
dimensi terlihat jelas melalui stereoskop. Gunakan selotip untuk
menahan agar foto udara tidak bergerak pada saat akan digunakan.
4) Letakkan kertas transparan di atas foto udara sebelah kanan.
5) Lakukan identifikasi/interpretasi penutup lahan yang tampak pada foto
tersebut menggunakan spidol OHP.

5. Hasil Praktikum
Peta Tutupan Lahan

6. Pembahasan
Dari uaraian diatas dapat dilihst bahwa praktikum 1 ini membahas tentang
Identifikasi Penutup Lahan pada Citra Secara Visual Menggunakan Unsur Unsur
Interpretasi, Dimana pada praktikum pertama ini yaitu menggunakan citra penutup

lahan bagian kota bandar lampung yang telah disiapkan sebelumnya atau foto udara
yang akan di interpretasi, dalam melakukan interpretasi citra satelit ini foto udara
diletakkan di atas meja guna melihat objek yang terdapat pada Citra dengan
menggunakan stereoskop Sebelum melakukan interpretasi secara manual, didalam Citra
tersebut terlihat bahwa objek yang dominan yaitu bangunan atau pemukiman dimana
pada pemukiman tersebut ditandai dengan warna merah atau gambar segitiga berwarna
merah.
Pada objek yang dominan kedua yaiti vegetasi dimana pada vegetasi ini ditandai dengan
gambar rumput berwarna hijau, vegetasi pada citra ini memperlihatkan bahwa citra ini
memiliki persebaran vegetasi yang cukup banyak. Kemudian pada objek ketiga yaitu
lahan kosong atau lahan terbuka, yaitu ditandai dengan warna biru dengan garis-garis
dimana pada objek lahan kosong atau lahan terbuka ini merupakan objek yang agak
sedikit dibandingkan dengan objek pemukiman dan objek vegetasi.
Pada objek jalan dapat dilihat pada citra yaitu berwarna hitam. Didalam
menginterpretasi citra ini sangat dibutuhkan ketelitian dan pemahaman khusus, agar
dapat mengetahui objek-objek tersebut. Contohnya, Lereng terjal tampak lebih jelas
dengan adanya bayangan hal ini di masukkan kedalam objek vegetasi kemudian begitu
juga cerobong asap dan menara, tampak lebih jelas dengan adanya bayangan hal ini
dimasukkan kedalam objek pemukiman.
7. Kesimpulan
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa pada citra bandar lampung diatas yaitu
menganalisis berbagai objek yang terdapat pada citra. Dimana didalam citra tersebut
terdapat empat objek yaitu pemukiman ditandai dengan warna merah, vegetasi dengan
warna hijau, lahan kosong berwarna biru dan jalan berwana hitam.
8. Daftar pustaka
http://geolaela.blogspot.co.id/2014/06/diary-gua.html
http://suryadarmayudistirapenginderaanjauh.blogspot.co.id/

LAPORAN PRAKTIKUM 2
Interpretasi Bentuklahan pada Citra Penginderaan Jauh

Oleh:

Gita Purwati

(1313034041)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUG
2016

PRAKTIKUM 2

Interpretasi Bentuklahan pada Citra Penginderaan Jauh

1. Tujuan
Melakukan interpretasi bentuklahan pada citra secara visual.
2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan meliputi:

Stereoskop
Spidol OHP
Kertas Transparan
Penggaris
Selotip
Perangkat Komputer
Program ArcGIS

Bahan

yang

digunakan

meliputi:
-

Citra Satelit/Foto Udara

3. Tinjauan Pustaka
Bentuklahan (landform) merupakan bagian dari permukaan bumi yang
mempunyai bentuk khas sebagai akibat pengaruh dari proses, struktur geologi,
dan batuan selama periode waktu tertentu. Oleh karena itu bentuklahan
ditentukan oleh faktor-faktor topografi, struktur gelogi, batuan, dan proses
eksogen.
Dilihat dari genesisnya (kontrol utama pembentuknya ), bentuk lahan dapat
dibedakan menjadi :
Bentuk asal struktural
Bentuk asal vulkanik
Bentuk asal fluvial
Bnetuk asal marine
Bnetuk asal pelarutan karst
Bnetuk asal Aeolen / Glasial
Bentuk asal denudasional

Bentuk Lahan Asal Struktural


Bentuk lahan struktural terbentuk karena adanya proses endogen atau
proses tektonik, yang berupa pengangkatan, perlipatan, dan pensesaran.
Gaya (tektonik) ini bersifat konstruktif (membangun), dan pada awalnya
hampir semua bentuk lahan muka bumi ini dibentuk oleh control
struktural.
Pada awalnya struktural antiklin akan memberikan kenampakan cekung,
dan structural horizontal nampak datar. Umumnya, suatu bentuk lahan
structural masih dapat dikenali, jika penyebaran structural geologinya
dapat dicerminkan dari penyebaran reliefnya.

Bentuk Lahan Asal Vulkanik

Volkanisme adalah berbagai fenomena yang berkaitan dengan gerakan


magma yang bergerak naik ke permukaan bumi. Akibat dari proses ini
terjadi berbagai bentuk lahan yang secara umum disebut bentuk lahan
vulkanik.
Umumnya suatu bentuk lahan volkanik pada suatu wilayah kompleks
gunung api lebih ditekankan pada aspek yang menyangkut aktifitas
kegunungapian, seperti : kepundan, kerucut semburan, medan-medan
lahar, dan sebagainya. Tetapi ada juga beberapa bentukan yang berada
terpisah dari kompleks gunung api misalnya dikes, slock, dan
sebagainya.

Bentuk Lahan Asal Fluvial


Bentukan asal fluvial berkaitan erat dengan aktifitas sungai dan air
permukaan yang berupa pengikisan, pengangkutan, dan jenis buangan
pada daerah dataran rendah seperi lembah, ledok, dan dataran alluvial.
Proses penimbunan bersifat meratakan pada daerah-daerah ledok,
sehingga umumnya bentuk lahan asal fluvial mempunyai relief yang rata
atau datar. Material penyusun satuan betuk lahan fluvial berupa hasil
rombakan dan daerah perbukitan denudasional disekitarnya, berukuran
halus sampai kasar, yang lazim disebut sebagai alluvial. Karena
umumnya reliefnya datar dan litologi alluvial, maka kenampakan suatu
bentuk lahan fluvial lebih ditekankan pada genesis yang berkaitan
dengan kegiatan utama sungai yakni erosi, pengangkutan, dan
penimbunan.

Bentuk Lahan Asal Marine


Aktifitas marine yang utama adalah abrasi, sedimentasi, pasang-surut,
dan pertemuan terumbu karang. Bentuk lahan yang dihasilkan oleh
aktifitas marine berada di kawasan pesisir yang terhampar sejajar garis

pantai. Pengaruh marine dapat mencapai puluhan kilometer kearah darat,


tetapi terkadang hanya beberapa ratus meter saja.
Sejauh mana efektifitas proses abrasi, sedimentasi, dan pertumbuhan
terumbu pada pesisir ini, tergantung dari kondisi pesisirnya. Proses lain
yang sering mempengaruhi kawasan pesisir lainnya, misalnya : tektonik
masa

lalu,

berupa

gunung

api,

perubahan

muka

air

laut

(transgresi/regresi) dan litologi penyusun.

Bentuk Lahan Asal Pelarutan (Karst)


Bentuk lahan karst dihasilkan oleh proses pelarutan pada batuan yang
mudah larut. Menurut Jennings (1971), karst adalah suatu kawasan yang
mempunyai karekteristik relief dan drainase yang khas, yang disebabkan
keterlarutan batuannya yang tinggi. Dengan demikian Karst tidak selalu
pada Batugamping, meskipun hampir semua topografi karst tersusu oleh
batugamping.

Bentuk Lahan Asal Glasial


Bentukan ini tidak berkembang di Indonesia yangb beriklim tropis ini,
kecuali sedikit di Puncak Gunung Jaya Wijaya, Irian. Bentuk lahan asal
glacial dihasilkan oleh aktifitas es/gletser yang menghasilkan suatu
bentang alam.

Bentuk Lahan Asal Aeolean (Angin)


Gerakan udara atau angin dapat membentuk medan yang khas dan
berbeda dari bentukan proses lainnya. Endapan angin terbentuk oleh
pengikisan, pengangkatan, dan pengendapan material lepas oleh angin.
Endapan angin secara umum dibedakan menjadi gumuk pasir dan
endapan
Medan

debu
aeolean

dapat

terbentuk

(LOESS).
jika

memenuhi

syarat-syarat:

Tersedia material berukuran pasir halus-halus sampai debu dalam

jumlah

banyak

Adanya periode kering yang panjang disertai angin yang mampu


mengangkut

dan

mengendapkan

bahan

tersebut.

Gerakan angin tidak terhalang oleh vegetasi atau obyek lainnya.

Bentuk Lahan Asal Denudasional


Proses denudasional (penelanjangan) merupakan kesatuan dari proses
pelapukan

gerakan

tanah

erosi

dan

kemudian

diakhiri

proses

pengendapan. Semua proses pada batuan baik secara fisik maupun kimia
dan biologi sehingga batuan menjadi desintegrasi dan dekomposisi.
Batuan yang lapuk menjadi soil yang berupa fragmen, kemudian oleh
aktifitas erosi soil dan abrasi, tersangkut ke daerah yang lebih landai
menuju

lereng

yang

kemudian

terendapkan.

Pada bentuk lahan asal denudasional, maka parameter utamanya adalah


erosi atau tingkat. Derajat erosi ditentukan oleh : jenis batuannya,
vegetasi, dan relief.
4.
1)
2)
3)
4)

Langkah Kerja
Siapkan citra satelit/foto udara yang akan diintepretasi.
Letakkan citra satelit/foto udara tersebut di atas meja praktikum
Letakkan selembar kertas transparan di atas citra satelit/foto udara tersebut.
Lakukan identifikasi/interpretasi bentuklahan yang tampak pada citra

satelit/foto udara tersebut dengan menggunakan spidol OHP.


5) Bedakan menjadi beberapa jenis bentuklahan sesuai dengan klasifikasi dari
Verstappen (1983) sebagai berikut:
Kode

BentukLahan Asal

Kode

Proses
V
St
F
So
D

Vulkanik
Struktural
Fluvial
Solusional
Denudasional

BentukLahan Asal
Proses

E
M
G
O
A

Eolin
Marin
Glasial
Organik
Antropogenik

1) Jika interpretasi visual dilakukan melalui digitasi layar, maka ikuti langkahlangkah berikut:
2) Buka program ArcGIS.
3) Buka file citra yang akan diinterpretasi.
4) Buatlah file shapefile (.shp) baru

dengan

bentuk

polygondengan

namaBentuklahan.shp
5) Lakukan digitasi layar untuk membedakan masing-masing bentuklahan yang
ada pada citra tersebut.
6) Isilah atribut untuk memberikan keterangan pada masing-masing polygon
bentuklahan sesuai dengan tabel di atas.
7) Simpan hasil akhir dan buatlah layout peta bentuklahan yang diperoleh.

5. Hasil Praktikum
Peta Bentuklahan

6. Pembahasan
Pada praktikum kedua ini yaitu membahas tentang Interpretasi Bentuk
Lahan pada Citra Pengindraan Jauh. Pada citra landsat 457 sebagian kota

Bandar lampung diatas dapat dilihat bahwa persebaran bentuk diantaranya


yaitu dapat dilihat persebaran bentuk lahan:
denudasional yaitu ditandai dengan warna biru muda, bentuk lahan
ini tersebar hampir dominan pada citra landsat tersebut, dimana
proses denudasional ini sendiri yaitu sangat dipengaruhi oleh tipe
material mudah lapuk, kemiringan lereng, curah hujan dan suhu
udara serta sinar matahari, dan aliran-aliran yang relatif tidak
kontinyu, karakteristik yang terlihat pada citra sebelumnya umumnya
topografi agak kasar sampai kasar sesuai tingkat dedudasinya,relef
agak miring,sampai miring, pola tidak teratur, banyak lembahlembah, serta kenampakan longsor llahan lebih sering dijumpai.
Umumnya bentuk lahan ini terdapat pada daerah dengan topografi
perbukitan atau gunung dengan batuan yang lunak. Warna pada
denudasional ini umumnya kuning kecoklatan.
Kemudian pada bentuklahan antropogenik dapat dilihat dengan
warna pink atau merah jambu, pada bentuk lahan ini hanya terdapat
sedikit pada citra. Umumnya antropogenik ini merupakan kelompok
besar

satuan

akibat

aktivitas

manusia

seperti

waduk,kota,pelabuhan,dll.
Pada bentuk lahan Fluvial dapat dilihat pada citra yaitu ditandai
dengan warna biru tua. Pada citra ini bentuk lahan fluvial agak
dominan setelah bentuk lahan denudasional, bentuk lahan fluvial
yaitu semua proses yang terjadi dialam, baik fisika, maupun kimia
yang mengakibatkan adanya perubahan bentuk permukaan bumi,
yang disebabkan oleh aksi air permukaan.
Selain itu bentuk lahan marin yaitu ditandai dengan warna biru agak
kemuda-mudaan yang tersebar di sepanjang pinggiran pantai hal ini
disebabkan karena bentuk lahan marin ini sendiri yaitu bentuk lahan
yang terbentuk oleh kerja air laut atau akibat gelombang dan arus.
Wilayah ini yaitu daerah pertemuan antara daratan dan laut, kearah
daratan meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air

yang masih terpengaruh sifat-sifat laut, seperti pasang surut, angin


laut, dan perembasan air asin.
Sedangkan pada bentuk lahan struktural yaitu ditandai dengan warna
birulaut yaitu hanya sedikit yang terdapat pada citra. Struktural ini
sendiri yaitu terbentuk karena adanya proses endogen atau proses
tektonik, yang berupa pengangkatan, perlipatan, dan pensesaran, gaya
tektonik ini bersifat konstruktif atau membangun, dan pada awalnya
hampir semua bentuk lahan muka bumi ini dibentuk oleh control
struktural.
umumnya, suatu bentuk lahan struktural masih dapat dikenali, jika
penyebaran struktur geologinya dapat dicerminkan dari penyebaran
reliefnya.
Kemudian pada bentuk lahan selanjutnya yaitu, vulkanik yaitu
ditandai dengan warna merah, pada bentuk lahan vulkanik ini yaitu
hasil kegiatan gunung berapi baik yang tersusun dari bahan gunung
api yang sudah keluar kepermukaan bumi maupun yang membeku
dalam permukaan bumi oleh karena itu ditandai dengan warna merah
agar dapat dengan mudah mengenalinya pada citra landsat.
7. Kesimpulan
dari citra landsat 457 sebagian bandar lampung dan dari uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa pada peta tersebut menjelaskan peta bentuk lahan,
dimana didalamnya terdapat berbagai macam bentuk lahan dan berbagai
karakteristiknya diantaranya terdapat bentuk lahan antropogenik yang
ditandai dengan warna merah jambu, denudasional ditandai dengan warna
biru muda, fluvial ditandai dengan warna biru tua, marin ditandai dengan
warna biru agak kemuda-mudaan yang terbentang disepanjang pesisir pantai,
struktural ditandai dengan warna biru laut dan yang terakhir yaitu bentuk
lahan vulkanik yang merupakan akibat dari proses kegiatan gunung berapi
yang ditadai dengan warna merah.
8. Daftar Pustaka
http://ariefnurhidayat46.blogspot.co.id/2015/05/interpretasi-citra-satelituntuk.html

https://erwinredusir.wordpress.com/2012/08/01/bentuk-lahan-berdasarkanproses-

pembentukannya/

LAPORAN PRAKTIKUM 3
Interpretasi Kerapatan Vegetasi pada Citra Penginderaan Jauh

Oleh:

Gita Purwati

(1313034041)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUG
2016

PRAKTIKUM 3
Interpretasi Kerapatan Vegetasi pada Citra Penginderaan Jauh

1. Tujuan
Melakukan interpretasi kerapatan vegetasi pada citra secara visual.
2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan meliputi:


Stereoskop
Spidol OHP
Kertas Transparan
Penggaris
Selotip
Perangkat Komputer
Program ArcGIS

Bahan

yang

digunakan

meliputi:
-

Citra Satelit/Foto Udara

3. Tinjauan Pustaka

Analisis vegetasi merupakan cara yang dilakukan untuk mengetahui seberapa


besar sebaran berbagai spesies dalam suatu area melaui pengamatan langsung.
Dilakukan dengan membuat plot dan mengamati morfologi serta identifikasi
vegetasi yang ada.
Kehadiran vegetasi pada suatu landscape akan memberikan dampak positif bagi
keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Secara umum peranan
vegetasi dalam suatu ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon
dioksida dan oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis
tanah, pengaturan tata air tanah dan lain-lain. Meskipun secara umum kehadiran
vegetasi pada suatu area memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya
bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada
daerah itu. Sebagai contoh vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi
tanah, tetapi besarnya tergantung struktur dan komposisi tumbuhan yang
menyusun formasi vegetasi daerah tersebut.
Dalam komunitas vegetasi, tumbuhan yang mempunyai hubungan di antara
mereka, mungkin pohon, semak, rumput, lumut kerak dan Thallophyta, tumbuhtumbuhan ini lebih kurang menempati strata atau lapisan dari atas ke bawah
secara horizontal, ini disebut stratifikasi. Individu yang menempati lapisan yang
berlainan menunjukkan perbedaan-perbedaan bentuk pertumbuhan, setiap
lapisan komunitas kadang-kadang meliputi klas-klas morfologi individu yang
berbeda seperti, strata yang paling tinggi merupakan kanopi pohon-pohon atau
liana. Untuk tujuan ini, tumbuh-tumbuhan mempunyai klas morfologi yang
berbeda yang terbentuk dalam sinusie misalnya pohon dalam sinusie pohon,
epifit dalam sinusie epifit dan sebagainya (Hadisubroto, 1989).
4. Langkah Kerja
1) Siapkan citra satelit/foto udara yang akan diintepretasi.
2) Letakkan citra satelit/foto udara tersebut di atas meja praktikum

3) Letakkan selembar kertas transparan di atas citra satelit/foto udara


tersebut.
4) Lakukan identifikasi/interpretasi kerapatan vegetasi yang tampak pada
citra satelit/foto udara tersebut dengan menggunakan spidol OHP.
5) Bedakan menjadi lima (5) kelas kerapatan vegetasi sebagai berikut:
Kode

Keterangan Kelas Kerapatan


Vegetasi

SR
R
S
J
SJ

Sangat Rapat
Rapat
Sedang
Jarang
Sangat Jarang

Jika interpretasi visual dilakukan melalui digitasi layar, maka ikuti langkahlangkah berikut:
1) Buka program ArcGIS.
2) Buka file citra yang akan diinterpretasi.
3) Buatlah file shapefile (.shp) baru dengan bentuk polygon dengan nama
Kerapatan_Vegetasi.shp
4) Lakukan digitasi layar untuk membedakan masing-masing kelas
kerapatan vegetasi yang ada pada citra tersebut.
5) Isilah atribut untuk memberikan keterangan pada masing-masing
polygon kerapatan vegetasi sesuai dengan tabel di atas.
6) Simpan hasil akhir dan buatlah layout peta kerapatan vegetasi yang
diperoleh.

5. Hasil Praktikum
Peta Kerapatan Vegetasi.

6. Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu membahas tentang Interpretasi Kerapatan
Vegetasi pada Citra Pengindraan Jauh. Dalam praktikum ini citra yang
dipakai yaitu peta kerapatan vegetasi sungai kapuas dikalimantan barat,
dapat dilihat pada hasil peta kerapatan vegetasi terdapat induk sungai yaitu
sungai kapuas dan anak-anak sungai yang ditandai dengan warna biru,sungai
kapuas ini sendiri merupakan jenis sungai yang debit airnya sepanjang tahun,
relatif tetap yaitu jenis sungai permanen. Kemudian terdapat jalan yang
ditandai dengan warna merah dan berbagai macam kerapatan vegetasi.yaitu
kerapatan vegetasi jarang,sangat jarang,sedang, rapat , dan sangat rapat. Pada
macam-macam warna hijau

pada peta menunjukkan bahwa kerapatan

vegetasi dimulai dari warna hijau tua sampai hijau yang sangat muda untuk
mempermudah mengetahui objek kerapatan vegetasi tersebut. jika pada
warna hijau tua itu mencirika kerapatan vegetasi sangat rapat, dapat dilihat
pada peta bahwa kerapatan vegetasinya tersebar atau menyebar pada peta
tersebut, kemudian pada warna hijau tua kedua yaitu mencirikan kerapatan
vegetasi rapat dimana pada kerapatan vegetasi ini tersebar pulanpada peta
sungai kapuas tersebut, dan warna selanjutnya yaitu warna hijau yang
mencirikan kerapatan vegetasi sedang, dapat dilihat bahwa kerapatan
vegetasi sedang ini hampir menyebar di seluruh peta tersebut dan lebih
dominan vegetasi sedang ini dibandingkan dengan jenis vegetasi-vegetasi
yang lainnya. sedangkan pada warna hijau muda lebih cenderung ke
kerapatan vegetasi jarang yang lebih dominan ke arah timur atau disebelah
kanan pada peta sedangkan pada warna hijau sangat muda yaitu mencirikan
kerapatan egetasi sangat jarang. Dan adapula jaringan jalan yang ditandai
dengan garis berwarna merah, dimana jaringan jalan ini pun lebih dominan
di sebelah kanan pada peta kerapatan vegetasi sungai kapuas kemudian pada
sungai yaitu dicirikan dengan garis berwarna biru dimana terdapat sungai
induk itu sendiri dan dapat dilihat bahwa anak anak sungai lebih dominan
pada bagian barat sungai kapuas atau disebelah kirinya di bandingkan
dengan bagian timur atau sebelah kanan.
7. Kesimpulan

Dari hasil dan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pada peta
kerapatan vegetasi sungai kapuas kalimantan barat meganalisis
berbagai macam objek dimama diantaranya yaitu mulai dari kerapatan
vegetasi sangat rapat yang dicirikan dengan warna hijau tua, kerapatan
vegetasi hijau agak tua yaitu kerapatan vegetasi rapat,kemudian
kerapatan vegetasi sedang dengan warna hijau,kerapatan vegetasi
jarang dengan warna hijau muda dan kerapatan vegetasi hijau sangat
muda yaitu kerapatan vegetasi sangat jarang. Dan ada pula jaringan
jalan dengan tanda garis berwarna merah dan sungai induk atau pun
anak sungai yang dicirikan dengan warna biru pada kerapatan vegetasi
sungaikapuas kalimantan barat.
8. Daftar Pustaka
http://imma-kwacy.blogspot.co.id/2013/03/analisis-vegetasi.html

LAPORAN PRAKTIKUM 4
Interpretasi Penggunaan Lahan pada Citra Penginderaan Jauh

Oleh:

Gita Purwati

(1313034041)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUG
2016

PRAKTIKUM 4
Interpretasi Penggunaan Lahan pada Citra Penginderaan Jauh

1. Tujuan
Melakukan interpretasi penggunaan lahan pada citra secara visual.
2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan meliputi:
-

Stereoskop
Spidol OHP
Kertas Transparan
Penggaris
Selotip
Perangkat Komputer
Program ArcGIS

Bahan

yang

digunakan

meliputi:
-

Citra Satelit/Foto Udara

4. Tinjauan Pustaka

A. Interpretasi Citra Untuk Pemetaan Penggunaan Lahan

Penginderaan Jauh Dan Interpretasi Citra

Sumber energi Energi melewati atmosfer Obyek permukaan Sensor dan wahana
e. Ground station f. Analisis citra g. Aplikasi penginderaan jauh didefinisikan
sebagai ilmu (dan juga seni sampai pada luasan tertentu) yang mempelajari
bagaimana cara memperoleh informasi tentang suatu obyek di permukaan bumi
tanpa ada kontak langsung dengan obyek tersebut. Perolehan informasi ini
dilakukan dengan cara mengindra dan merekam energi dari suatu sumber energi
yang terpantulkan atau terpancarkan oleh obyek di permukaan bumi, untuk
kemudian diproses, dianalisis dan diaplikasikan untuk kepentingan tertentu
(CCRS, 1999)

Energi Dan Sumber Energi

Energi yang digunakan dalam penginderaan jauh adalah radiasi elektromagnetik.


Sumbernya dapat berupa sumber alami maupun buatan

Sumber alami

adalah matahari (passive remote sensing), sedangkan sumber buatan adalah


berupa pembangkit sinyal (ampli/antenna) yang dipasang pada suatu wahana
(active remote sensing)

Sumber Energi Gelombang Em

Penginderaan Jauh Pasif Menggunanakan matahari sebagai sumber gelombang


EM 2. Penginderaan Jauh Aktif Mempunyai sumber energi sendiri untuk
menghasilkan gelombang EM

Interaksi Dengan Atmosfir

Perambatan gelombang elektromagnetik dari matahari ke bumi mengalami


penyebaran (scattering), yang disebabkan oleh partikelpartikel dalam atmosfir.
Perhatikan pada siang hari langit menjadi biru dan pada matahari terbit atau

tenggelam, langit menjadi kemerahan. Hal ini disebabkan adanya scattering yang
disebabkan oleh partikel-partikel dalam atmosfir

Interaksi Dengan Target

Energi yang tidak terserap dan tersebar pada atmosfir dapat mencapai
permukaan bumi Energi yang mencapai target (I) akan terbagi lagi menjadi
energi yang ditransmisikan (T) diserap target (A)) dan energi yang dipantulkan
(R). Energi yang dipantulkan merupakan perhatian yang utama dalam remote
sensing Pantulan Sempurna (Specular) Pantulan segala arah Diffuse).
B. Pemetaan Penggunaan Lahan
Inventarisasi penggunaan lahan penting dilakukan untuk mengetahui apakah
pemetaan lahan yang dilakukan oleh aktivitas manusia sesuai dengan potensi
ataupun daya dukungnya. Penggunaan lahan yang sesuai memperoleh hasil yang
baik, tetapi lambat laun hasil yang diperoleh akan menurun sejalan dengan
menurunnya potensi dan daya dukung lahan tersebut. Integrasi teknologi
penginderaan jauh merupakan salah satu bentuk yang potensial dalam penyusunan
arahan fungsi penggunaan lahan.Dasar penggunaan lahan dapat dikembangkan
untuk berbagai kepentingan penelitian, perencanaan, dan pengembangan
wilayah.Contohnya penggunaan lahan untuk usaha pertanian atau budidaya
permukiman.
C. Penentuan Arahan Lahan
Penentuan batas-batas keserasian sumberdaya air merupakan salah satu aspek
utama dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai bahan
pertimbangan penyusunan konsep tata ruang kawasan.Ketetapan penataan tata
ruang didasarkan pada tiga faktor yaitu lereng lapangan, jenis tanah menurut
kepekaannya terhadap erosi dan intensitas hujan harian wilayah yang
bersangkutan.Masing-masing faktor ditampilkan dalam tiap-tiap unit lahan untuk
mendapatkan angka skor yang secara makro dipergunakan untuk menetapkan
arahan penggunaan lahan sebagai kawasan lindung, kawasan penyangga, kawasan
budidaya atau kawasan pemukiman.Aplikasi GIS dapat menyajikan Peta Arahan

Penggunaan Lahan yang dibuat dari komposit Peta Kelerengan, Peta Jenis Tanah
dan Peta Curah Hujan. Dari ketiga peta ini dipilih masing-masing data atributnya
yang akan digunakan sebagai dasar dalam membuat peta baru (Peta Arahan).
D. Penggunaan Lahan Pertanian
Dalam usaha memelihara konsistensi penggunaan lahan sebagai areal pertanian
maka diperlukan suatu sistem monitoring yang mampu mengamati, menganalisa,
menyajikan serta membuat model-model keputusan sehingga aktifitas pertanian
yang berkelanjutan tetap terjaga. Teknologi penginderaan jauh merupakan salah
satu teknologi pendekatan terintegrasi yang dapat memodelkan masalah-masalah
pertanian kaitannya dengan usaha menjaga konsistensi penggunaan lahan
(monitoring), proteksi stabilitas lingkungan (analisis degradasi lahan dan
identifikasi sumber air) dan analisa keruangan (basis data spasial).
E. Penggunaan Lahan Kehutanan
Bidang kehutanan berkenaan dengan pengelolaan hutan untuk kayu termasuk
perencanaan pengambilan hasil kayu, pemantauan penebangan dan penghutanan
kembali, pengelolaan dan pencacahan margasatwa, inventarisasi dan pemantauan
sumber daya hutan, rekreasi, dan pengawasan kebakaran. Kondisi fisik hutan
sangat rentan terhadap bahaya kebakaran maka penggunaan citra inframerah akan
sangat membantu dalam penyediaan data dan informasi dalam rangka monitoring
perubahan temperatur secara kontinu dengan aspek geografis yang cukup memadai
sehingga implementasi di lapangan dapat dilakukan dengan sangat mudah dan
cepat.
F. Penggunaan Lahan Perkebunan
Manfaat dari menggunakan RS dan teknologi GIS tergantung pada tingkat
keberhasilan penerapannya untuk menyelesaikan masalah spasial.Secara umum,
manfaat ini dapat dibagi menjadi empat kategori seperti efisiensi ilmiah, teknologi,
metodologi, dan ekonomi. Efisiensi ilmiah penginderaan jauh data juga termasuk
memperoleh fakta-fakta baru untuk menguatkan dan klarifikasi sebelumnya dikenal

kuantitatif, data kualitatif yang dipelajari. Teknologi efisiensi berarti peningkatan


produktivitas kerja (terutama lapangan pekerjaan yang paling mahal), membuat
norma-norma untuk lapangan dan mempercepat proses pemetaan kebun,
mengurangi volume lapangan, memperpendek waktu yang diperlukan untuk survei
dan mengurangi jumlah karyawan yang terlibat monitoring kebun.
Berdasarkan manfaat dan aplikasi remote sensing dan GIS, sektor perkebunana
telah mengadopsi pendekatan ini untuk mempelajari kerugian yang disebabkan
faktor lingkungan karena berbagai alasan.Meskipun kebun menderita berbagai
kerugian penyebab utama adalah kerusakan berat akibat serangan Helopeltis.Jadi
dalam proyek ini inisiatif telah dilakukan untuk mempelajari kesehatan tanaman
perkebunan menggunakan analisis tekstur dan bagaimana kesehatan tenaman
perkebunan tersebut mempengaruhi hasilnya.
Berikut ini contoh pemanfaatan interpretasi citra satelit penginderaan jauh untuk
penggunaan lahan dengan objek kajian Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang.
Peta hasil interpretasi citra SPOT5 tanggal perekaman 29 Juli 2005 disini adalah Peta
Penggunaan Lahan Kecamatan Pedurungan Kota Semarang Tahun 2005 dengan skala
1 : 50.000.
Di peta ini tergambarkan berbagai penggunaan lahan yang ada di Kecamatan
Pedurungan, Kota Semarang. Beberapa penggunaan lahan di Kecamatan Pedurungan
sebagai berikut ;
Jenis Penggunaan Lahan
Pemukiman

Ciri-ciri Interpretasi
Bentuk persegi ataupun limas, rona cerah, pola teratur,

Kebun

tekstur kasar, dan asosiasi dengan jalan


Tekstur kasar, rona gelap, pola terputus-putus dan situs

Sawah
Industri

dengan sungai
Rona cerah, tekstur halus, dan situs dengan sungai
Bentuk persegi panjang, warna coklat kekuningan, rona

Jalan

terang, ukuran besar, tekstur kasar


Bentuk memanjang, ukuran cukup lebar, warna hitam,
rona gelap, pola teratur, dan berasosiasi dengan

Pepohonan/ Hutan

pemukiman
Bentuk agak membulat, tekstur kasar, pola tidak teratur,
warna hijau tua, dan rona cerah

Sunga

Bentuk memanjang, ukuran lebar, warna biru tua, rona terang, situs dengan

sungai, dan asosiasi dengan pemukiman


Dari interpretasi citra satelit tersebut, dapat diketahui berbagai jenis penggunaan
lahan di Kecamatan Pedurungan. Penggunaan lahan paling besar adalah untuk
pemukiman. Penyebaran wilayah pemukiman terjadi pada Kecamatan
Pedurungan sebelah barat, dan wilayah sebelah timur banyak di gunakan sebagai
daerah industri, sawah, dan perkebunan, serta sebelah utara banyak ditumbuhi
pepohonan. Luasnya areal pemukiman dikarenakan di Kecamatan Pedurungan
terdapat areal pemukiman sehingga memiliki tingkat hunian yang tinggi. Selain
itu, karena merupakan salah satu bagian dari wilayah perkotaan, Kecamatan
Pedurungan tentu saja memiliki tingkat aksesibilitas dan konektivitas yang baik,
sehingga menarik minat untuk dijadikan wilayah pemukiman. Penggunaan lahan
untuk pemukiman ini diproyeksikan semakin meningkat karena sektor industri
yang semakin berkembang.
Sementara itu, sektor industri dapat berkembang karena Kecamatan Pedurungan
memiliki aksesibilitas dan konektivitas yang baik sehingga memudahkan
mobilitas barang dan jasa. Meskipun penggunaan lahan untuk industri tidak
terlalu luas, namun dapat memberikan dampak yang besar, terutama dalam
pembangunan di wilayah Kecamatan Pedurungan. Adanya penggunaan lahan
untuk persawahan lebih disebabkan oleh adanya aliran sungai, sehingga
memudahkan untuk sistem pengairan. Meskipun sangat potensial dan produktif
untuk sektor ini, namun areal persawahan tidaklah luas karena tergusur oleh
perluasan lahan untuk pemukiman dan industri.
Demikian halnya dengan perkebunan, juga semakin tergusur karena perluasan
lahan untuk pemukiman dan industri, meskipun sebenarnya lahan ini mampu
untuk produktif. Sedangkan adanya pepohonan/ hutan merupakan salah satu
bentuk pengelolan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Hal ini dikarenakan Kecamatan
Pedurungan masih termasuk Kota Semarang, sehingga adanya pepohonan

merupakan kebutuhan untuk kegiatan rekreasi masyarakat setempat maupun


untuk stabilitas iklim mikro wilayah tersebut.
Pola penggunaan lahan di atas muka bumi mencerminkan tingkat dan orientasi
kehidupan masyarakat di wilayah itu. Akan banyak sekali kebutuhan akan lahan
di Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. Yang rencannya kedepannya
menjadi perluasan daerah perekonomian Kota Semarang dan akan banyak sekali
perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Pedurungan. Perubahan penggunaan
lahan selain dampak dari perluasan daerah perekonomian Kota Semarang juga
karena perkembangan penduduk yang semakin bertambah. Penambahan
bangunan perekonomian, pemukiman, sarana dan prasarana penunjang sangat
diperlukan. Namun pembangunan tersebut harus tetap memikirkan dampak
lingkungan dari setiap perubahan penggunaan lahan.

5.
1
2
3
4

Langkah Kerja
Siapkan citra satelit/foto udara yang akan diintepretasi.
Letakkan citra satelit/foto udara tersebut di atas meja praktikum
Letakkan selembar kertas transparan di atas citra satelit/foto udara tersebut.
Lakukan identifikasi/interpretasi penggunaan lahan yang tampak pada citra

satelit/foto udara tersebut dengan menggunakan spidol OHP.


Bedakan penggunaan lahan yang ada pada citra sesuai dengan klasifikasi
penggunaan lahan menurut Malingreau ( ) jenjang tiga (III) seperti yang
dapat dilihat pada Tabel berikut:

Jenjang I

Jenjang II

Jenjang III

Jenjang IV

Simbo
l

1 Daerah
2 Bervegetasi

Daerah
Pertanian

1. Sawah Irigasi

Si

2. Sawah Tadah

St

Hujan
3. Sawah Lebak

Sl

4. Sawah pasang

Sp

surut
5. Ladang/Tegal
6. Perkebunan

L
- Cengkeh

- Coklat

Co

- Karet

- Kelapa

Ke

- Kelapa Sawit

Ks

- Kopi

Ko

- Panili

- Tebu

- Teh

Te

- Tembakau

Tm

7. Perkebunaan

Kc

Campuran
8. Tanaman

Te

Campuran
Bukan
Daerah
Pertanian

1.

Huatan lahan
kering

- Hutan bambu

Hb

- Hutan

Hc

campuran
- Hutan jati

Hj

- Hutan pinus

Hp

- Hutan lainnya

Hl

2.

Hutan lahan
basah

- Hutan bakau

Hm

- Hutan

Hc

campuran
- Hutan nipah

Hn

- Hutan sagu

Hs

3.

Belukar

4.

Semak

5.

Padang Rumput

Pr

6.

Savana

Sa

7.

Padang alang-

Pa

alang
8.
Daerah

C.

tak bervegetasi

Permukiman dan
lahan
pertanian

bukan

Rumput rawa

Rr

Bukan1. Lahan terbuka

Lb

daerah

2. Lahar dan Lava

Ll

pertanian

3. Beting Pantai

Bp

4. Gosong sungai

Gs

5. Gumuk pasir

Gp

Daerah

1. Permukiman

Kp

tanpa

2. Industri

In

liputan

3. Jaringan jalan

vegetasi

4. Jaringan jalan
KA
5. Jaringan listrik
tegangan tinggi
6. Pelabuhan udara
7. Pelabuhan laut

Perairan

E. Tubuh

1. Danau

perairan

2. Waduk

3. Tambak ikan

Ti

4. Tambak garam

Tg

5. Rawa

6. Sungai
7. Anjir pelayaran
8. Saluran irigasi
9. Terumbu karang
10. Gosong pantai
Sumber: Malingreau, J.P. Rosalia Christiani, 1981 dalam Suharyadi (2001)

Jika interpretasi visual dilakukan melalui digitasi layar, maka ikuti langkahlangkah berikut:
1
2
3

Buka program ArcGIS.


Buka file citra yang akan diinterpretasi.
Buatlah file shapefile (.shp) baru dengan bentuk polygon dengan nama

Penggunaan_Lahan.shp
Lakukan digitasi layar untuk membedakan masing-masing penggunaan lahan

yang ada pada citra tersebut.


Isilah atribut untuk memberikan keterangan pada masing-masing polygon

penggunaan lahan sesuai dengan tabel di atas.


Simpan hasil akhir dan buatlah layout peta penggunaan lahan yang
diperoleh.

Hasil Praktikum

Peta Penggunaan Lahan.

Pembahasan

Pada praktikum kali ini yaitu membahas tentang peta penggunaan lahan peta atau
Citra landsat yang diambil dari sebagian kota Jogjakarta dapat dilihat pada peta
di mana Di dalam peta ini terdapat beberapa objek yang di interpretasi seperti
pada jalan itu didirikan dengan berwarna biru jaringan jalan ini tersebar mulai
dari pemukiman pemukiman maupun non pemukiman sedangkan pada jaringan
jalan kereta api dicirikan dengan berwarna hitam dan pada lahan terbuka
dicirikan dengan warna kuning dimana lahan terbuka ini terdapat 10 titik pada
peta sedangkan non pemukiman dicirikan dengan warna kuning kehijau-hijauan
danau berwarna pink adalah pabrik sedangkan pemukiman dicirikan dengan
warna krim dimana pemukiman ini yang paling dominan pada peta penggunaan
lahan sebagian kota Jogjakarta dan sawah tadah hujan dicirikan dengan
berwarna hijau pedagang Stadion hanya memiliki satu titik yaitu yang berwarna
biru muda stasiun kereta api hanya satu titik yang dicirikan dengan berwarna
merah Sungai yaitu berwarna biru laut, di dalam menganalisis peta penggunaan
lahan sebagian kota Jogjakarta ini sangat diperlukan ketelitian karena antara
pemukiman dan pemukiman pabrik Stadion dan sebagainya hampir memiliki ciri
yang sama Oleh karena itu untuk mengetahui perbedaan diantaranya harus di
lakukan penglihatan atau analisa secara teliti dan benar jika tidak maka analisa
yang digunakan atau objek yang ditentukan akan salah seperti Contohnya yaitu
pemukiman seperti hotel-hotel dan sebagainya akan masuk kepada objek
pemukiman dan sebagainya.
9

Kesimpulan
Dari hasil dan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa peta penggunaan
lahan sebagian kota Jogjakarta memiliki 10 titik objek di mana di
antaranya yaitu jalan dicirikan dengan berwarna biru jaringanjaringan kereta api warna hitam dan lahan terbuka berwarna kuning
sedangkan permukiman berwarna kuning kehijau-hijauan dan pabrik
dicirikan dengan berwarna merah muda atau Pink Steven pemukiman
dicirikan berwarna krem yaitu objek paling dominan di sebagian kota
Jogjakarta ini sedangkan sawah tadah hujan berwarna hijau dan

Stadion berwarna biru muda sedangkan stasiun kereta api hanya satu
titik yaitu berwarna merah dan sungai berwarna biru.
10 Daftar Pustaka.
http://www.slideshare.net/bramantiyomarjuki/interpretasi-citra-untukpemetaan-penggunaan-lahan
http://referensigeography.blogspot.co.id/2013/05/penginderaan-jauh-untukpenggunaan-lahan.html

LAPORAN PRAKTIKUM 5
Pengantar Pemrosesan Citra Digital (PCD)

Oleh:

Gita Purwati

(1313034041)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUG
2016

PRAKTIKUM 5
Pengantar Pemrosesan Citra Digital (PCD)

1 Tujuan
1) Mempraktekkan penggunaan perangkat lunak (software) PCD untuk
membuka dan menampilkan citra satelit serta melakukan proses konversi
citra.
2) Melakukan identifikasi obyek pada citra berdasarkan nilai/karakteristik
spektralnya.
3) Melakukan penajaman citra dengan penyusunan citra komposit warna.
2

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan meliputi:

Perangkat Komputer
Program ENVi 5.0

Bahan yang digunakan meliputi:

Citra Satelit Landsat 8

Tinjauan Pustaka

ENVI (The Environment For Visualizing Images) merupakan suatu image


processing system yang revolusioner yang dibuat oleh Research System, Inc
(RSI). Dari permulaannya ENVI dirancang untuk kebutuhan yang banyak dan
spesifik untuk mereka yang secara teratur menggunakan data penginderaan jauh
dari satelit dan pesawat terbang. ENVI menyediakan data visualisasi yang
menyuluruh dan analisis untuk citra dalam berbagai ukuran dan tipe, semuanya
dalam suatu lingkungan yang mudah dioperasikan dan inovatif untuk digunakan.
Beberapa keuntungan dari penggunaan ENVI
Satu dari kekuatan ENVI adalah pendekataan yang unik dalam pengolahan
citra, mengkombinasikan teknik file-based dan band-based dengan fungsi yang
interaktif. Ketika file data input dibuka, band (saluran) dari citra disimpan dalam
sebuah daftar, dimana semua saluran bisa diakses oleh semua fungsi system. Jika
multiple files dibuka, saluran dalam tipe data yang terpisah dapat diproses
sebagai sebuah grup. ENVI menampilkan saluran tersebut dalam 8 atau 24 bit.
Grup tampilan ENVI terdiri dari Image window, Zoom window, dan Scroll
window, semuanya bisa diubah ukurannya. ENVI menyediakan penggunanya
dengan banyak kemampuan analisis yang interaktif dan unik, diakses dalam
window tersebut. Kemampuan multiple dynamic overlay ENVI, memberikan
kemudahan membandingkan citra dalam multiple displays.
time dan spatial/spectralprofiling dari multiband dandata hyperspectral memberi
kan pengguna cara baru dalam melihat data dengan dimensi tinggi. ENVI
juga menyediakan tools interaktif untuk melihat dan menganalisis data vektor dan
atribut Sistem Informasi Geografis (SIG). Kemampuan standar seperti perentangan
kontras dan scatter plots dua dimensi adalah beberapa saja dari fungsi interaktif
yang tersedia untuk pengguna ENVI.
ENVI mempunyai antarmuka visual yang baik serta menggabungkan
secara komprehensif dengan algoritma pemrosesannya. ENVI memasukan semua

fungsi dasar pengolahan citra dalam antarmuka pengguna grafis yang mudah.
Beberapa dari fungsi tersebut antar lain transformasi data, filtering, klasifikasi,
registrasi dan koreksi geometri, analisis spektral, dan radar. ENVI tidak
membatasi jumlah saluran yang dapat diproses, sehingga data multispektral atau
hiperspektral dapat digunakan.
ENVI dapat digunakan dalam area masalah pengolahan citra pada umumnya
seperti input dari tipe data yang tidak standar, menampilkan dan menganalisis
citra berukuran besar, dan ekstensi untuk kemampuan analisis (ada fungsi plugin). Perangkat lunak memasukan perlengkapan untuk pengolahan citra dalam
berbagai disiplin, dan mempunyai fleksibilitas untuk mengijinkan implementasi
strategi analisis yang berbeda dari biasanya.
ENVI + IDL, ENVI, dan IDL
ENVI dibuat dalam bahasa Interactive Data Language (IDL),
bahasa pemrograman yang cukup ampuh dalam mengintegrasikan pengolahan
citra. Fleksibilitas ENVI menggunakan kemampuan dari IDL, IDL harus ada
untuk menjalankan ENV.
Gambaran fungsi-fungsi ENVI
ENVI menyederhanakan pengolahan yang interaktfi dan komprehensif untuk
data set multi saluran yang besar, mengubah ukuran citra, mengeplot spektral
dan library-nya, kemampuan menampilkan secara fleksibel dan geografis.
Pengolahan Citra
Kegunaan umum fungsi pengolahan citra termasuk transformasi data seperti
transformasi principalcomponent, bandratio, huesaturationvalue (HSV), perenta
ngan, indeks vegetasi. Fungsi filtering termasuk convolution kernels untuk low
pass, high

pass, median, directional,

lainnya yang bisa kustomisasi.


Pengolahan Data Hiperspektral

dan

penajaman

tepi,

serta

filtering

ENVI menyediakan

perlengkapan untuk

memproses

data

hiperspektral,

termasuk perangkat pemetaan special yang digunakan oleh endmember citra


atau library untuk linear spectral unmixing dan matched filtering. Pixel Purity
IndexTM (PPITM) mengijinkan pengguna untuk mencari nilai spektral yang paling
murni dalam citra untuk menentukan spectral endmembers. n-Dimensional
visulizer yang

unik

menampilkan scatter

dalam

ENVI

membentuk

animasi

plots dalam n-dimensions. Spectral

yang

interaktif

Feature FittingTM dari

data hiperspektral ke library spectra membantu dalam mengidentifikasi batuan,


mineral, vegetasi, dan material lainnya. Spectral Analyst digunakan untuk
mengidentifikasi material berdasarkan perbandingan dari spectral libraries.
Fungsi Band Math dan Spectral Math yang fleksibel memudahkan
pengguna untuk memasukan ekspresi matematika sesuai yang dibutuhkan.
Pengolahan SAR (Citra Radar)
ENVI juga memiliki kemampuan untuk pengolahan citra Radar
secara komprehensif seperti antenna pattern correction, slant-to-ground range
correction, adaptive dan texture filters, sampai dengan polarimetric analysis.
Pemetaan
ENVI pada akhirnya menyediakan perlengkapan untuk menghasilkan peta akhir,
seperti konversi data ke format vektor SIG, layout peta.
ENVI menggunakan Graphical User Interface (GUI). ENVI menggunakan
format data raster dan Ascii (text) sebagai header file. Data raster disimpan
sebagai 'binary stream of bytes' berupa format Band Sequential (BSQ), Band
Interleaved by Pixel (BIP) dan Band Interleaved by Line (BIL). ENVI juga
mendukung berbagai tipe format lainnya seperti : byte, integer, long integer,
floating-point, double-precision, complex dan double-precision complex.
ENVI memiliki tiga jendela utama yaitu The Main Display Window yaitu untuk
menampilkan semua tampilan citra dalarn full resolution yang dibatasi oleh
kotak pada scroll, The Scroll Window yaitu untuk menampilkan seluruh citra

pada file, dan The Zoom Window yaitu untuk menampilkan perbesaran dari main
display window yang dibatasi oleh kotak pada window. ENVI memiliki beberapa
menu utama diantaranya adalah : File Management, Display
Management, Interactive Display Functions, Basic
Tools, Classification, Transform, Filters, Spectral Tools, Map Tools, Vector
Tools, Topographic Tools, Radar Tools.

Fungsi-Fungsi Pada Menu Envi :


1.

File Management

Menu File pada menu utama ENVI digunakan untuk membaca file ke dalam
ENVI, menetapkan pilihan, untuk keluar dari ENVI, dan fungsi manajemen
program & file lain.
2.

Display Management

Window menu untuk mengendalikan display dan plot window ENVI, termasuk
memulai

window

(jendela)

baru,

memaksimalkan

ukuran

jendela,

menghubungkan display window, dan menutup jendela. Available Bands


List dan Available

Vectors

List untuk

menampilkan

bands

dan

layer

vektor. Window menu juga digunakan untuk menampilan informasi lokasi


kursor dan nilai piksel pada citra yang ditampilkan.
3.

Interactive Display Functions

Lima menu nampak secara keseluruhan pada Main Image window: File,
Overlay, Enhance, Tools dan Window. Menu ini secara bersama bernama
Display menu bar. Display menu bar digunakan untuk mengakses operasi umum
dan fungsi-fungsi interaktif.
4.

Basic Tools

Menggunakan menu Basic Tools untuk mengakses berbagai fungsi dasar ENVI.
Fungsi ini biasanya bermanfaat mengetahui tipe spesifik dari citra yang akan
dianalisis. Fungsi seperti Region of Interest dapat digunakan pada multiple
displays, sedangkan fungsi seperti Band Math menawarkan kemampuan proses
umum citra. Fungsi Stretch Data adalah suatu contoh dari suatu fungsi yang
menawarkan file-to-file contrast stretching.
5.

Classification

ENVI

menyediakan Kmeans dan Isodata untuk

metode

klasifikasi unsupervised. Klasifikasi supervised meliputi metode yang sederhana


seperti parallelpiped, minimum distance, maximum likelihood, dan mahalonibis,
sampai

dengan Binary Encoding, Neural

Net,

dan Spectral

Angle

Mapper (SAM). Post klasifikasi termasuk clump, sieve, combine classes, dan
perangkat tampilan klasifikasi yang interaktif.
Menggunakan menu Classification untuk mengakses fungsi klasifikasi ENVI.
Fungsi ini meliputi supervised dan unsupervised classification, collecting
endmembers,

classifying

previous

rule

images, menghitung class

statistics dan confusion matrices, penerapan mayoritas dan analisis minoritas ke


klasifikasi citra, clumping dan sieving classes, mengkombinasikan kelas, overlay
kelas pada citra gray scale, menghitung daerah penyangga/buffer, menghitung
segmentasi, dan pengeksporan kelas ke layer vektor.
6.

Transform

Menggunakan menu Transforms untuk mengakses fungsi transformasi.


Transforms adalah operasi pengolahan citra yang mengubah data ke data space
yang lain, pada umumnya dengan menerapkan sebuah fungsi linear. Tujuan
umum perubahan bentuk akan meningkatkan presentasi informasi. Citra yang
telah diubah biasanya lebih mudah ditafsirkan (mudah diinterpretasi) dibanding
data asli.
7.

Filters

Menggunakan menu Filter untuk melaksanakan Convolution, Morphological,


Texture, Adaptive, dan FFT Filtering. Filtering secara khas digunakan untuk
meningkatkan

gambaran

citra

dengan

pemindahan spatial

frequencies tertentu. Spatial frequency menguraikan variasi terang, atau DN,


dengan jarak, dan citra berisi banyak spatial frequency berbeda. Sebagai contoh,
memindahkan variasi frekwensi tinggi di dalam suatu citra menghasilkan suatu
keluaran citra yang lebih lembut.
8.

Spectral Tools

Menggunakan menu Spectral untuk mengakses tool khusus untuk meneliti citra
multispectral

dan

hyperspectral

dan

tipe

data

spektral

lain.

Tool

meliputi building, resampling, dan viewing spectral libraries; mengekstraksi


irisan/slices

spektral;

melakukan/menyelenggarakan

spectral

math;

menentukan spectral end members; visualisasi data spektral di (dalam) n


dimensi; penggolongan spektral; spektral linier yang tidak mencampur; matched
filtering; continuum removal; dan Spectral Feature Fitting.
9.

Map Tools

Menggunakan

menu

Map

untuk

mengakses

registrasi

citra,

orthorectification, koreksi geometris, dan mosaicking. Juga menggunakan menu


Map untuk mengakses tool untuk mengkonversi koordinat peta dan memetakan
proyeksi, untuk membangun proyeksi, untuk mengkonversi ASCII koordinat,
dan untuk mengakses suatu utiliti GPS-LINK.
10.

Vector Tools

Menggunakan menu Vector untuk membuka file vektor, menciptakan file vektor,
mengatur file vektor, mengkonversi citra raster layer vektor, mengkonversi
grid irregular points, dan mengkonversi ENVI Vector File ( EVF), annotation
file ( ANN), dan region of interest ( ROI) ke format DXF.
11.

Topographic Tools

Menggunakan menu Topographic untuk mebuka, menganalisis, dan hasil


keluaran dari data ketinggian topografis digital. Menggunakan Modeling
Topografis untuk mengkalkulasi suatu gambaran relief, slope, aspek/arah, dan
berbagai lengkungan/curvature dari data topografis.
12.

Radar Tools

Menggunakan menu Radar untuk mengakses tool standard dan advanced untuk
analisa deteksi citra radar dan advance SAR system seperti JPL fully
polarimetric AIRSAR dan SIR-C system. ENVI dapat memproses ERS-1, JERS1, RADARSAT, SIR-C, XSAR, dan AIRSAR data dan SAR dataset. Sebagai
tambahan, ENVI dirancang untuk menangani data radar yang didistribusikan
dalam CEOS format, dan bisa menangani data dari sistem radar lainnya.

Tabel Spesifikasi ENVI


N
o
1

Spesifikasi

Uraian

Keterangan

Nama Software

ENVI

Merupakan salah satu

(The Enviroment for


Visualizing Images)
2

Versi/Release

4.2

software pengolahan citra


digital yang dibuat oleh
RSI
Versi yang terbaru adalah
versi 4.2

Diluncurkan tahun

2005

Tahun diluncurkannya
software ENVI Versi 4.0.2

Vendor/Pembuat

Research System, Inc


(RSI)

Perusahaan pembuat
software Image
Processing

berasal dari

Amerika Serikat.

Minimum Hardware

Software ini menggunakan

Processor

Pentium x86

RAM

64 MB

VGA Card

32 bit

Free space

400 MB harddisk

spesifikasi hardware yang


cukup besar karena data
yang dapat diolah
merupakan data yang
kompleks baik data raster
maupun vector. Semakin
tinggi kapasitas hardware
yang ada maka akan lebih
mempercepat dalam proses
pada saat analisis.

Operating System

Windows 98, NT 4.0,

Software ini dapat

2000, XP, Linux

beroperasi di berbagai
macam sistem windows
minimal windows 98.

Kategori Software

GIS
- Viewer

Software GIS ini termasuk


viewer karena kurang
memiliki fasilitas lengkap
dalam pengolahan data
SIG..
Image processing software
ini termasuk profesional

IP
- Profesional

Struktur Data/File

Raster dan vektor

dengan fasilitas pengolahan


data digital yang lengkap.

Mampu menampilkan data


baik dari format raster
maupun vektor. Sangat

banyak mendukung format


data raster seperti *.tiff dll.
Format data vektor yang
didukung antara lain
format data ArcView yaitu
*.shp.
9

Format Data/File

*.evf

*.evf merupakan format


data vektor asli yang ada
pada ENVI.
*.hdr (header) merupakan

*.hdr

jenis format data untuk


membuka data raster.

10

Fasilitas pada Software


Inti (core)

Input + editing

Citra dengan format

Input data yang ada yaitu

data baik raster

dapat menggunakan citra

maupun vektor

baik berupa data raster


maupun data vektor.

Processing

Koreksi geometrik
dan radiometrik,
transformasi,
pemfilteran,
perhitungan statistik,
klasifikasi supervised
dan unsupervised
Print, export file,

Proses dalam ENVI


menggunakan formulaformula tertentu sehingga
dapat menghasilkan data
yang akurat.

layout

Output dapat berupa print


citra, layout dan eksport
file.

11

Output (layout)

Fasilitas paket program

IDL 6.2

Merupakan bahasa

yang terintegrasi dengan

pemrograman yang

software inti

digunakan untuk membuat


suatu project pada ENVI.

12

Format I/O data

Input :

Data raster baik

Format input data yang

format data asli dari

mendukung software ENVI

satelit, software IP,

sangat banyak berupa

software GIS serta

format raster dan format

software grafis

vektor.

lainnya. Data vektor


dapat berupa *.evf,
*.shp, *.mif, *.dgn,
*.dxf, *e00, *.ddf dan
*dlg.

Output:

*.ENVI standar
*.ENVI meta
*.ERDAS IMAGINE
*.PCI
*.ArcView raster
*.ASCII

Format output data


didukung beberapa
software IP maupun GIS
lainnya seperti ERDAS,
PCI, ArcView, dan ER
Mapper.

*.ER Mapper
*.JPEG2000
*.NITF
*.TIFF/GeoTIFF
*.ESRI GRID
13

Fasilitas khusus/fasilitas

Radar tools

lainnya

Tools standard dan


advanced untuk analisa
deteksi citra radar
Analisis dengan meng

Analisis hiperspektral

gunakan beberapa bahkan


puluhan saluran.

Langkah Kerja

Buka aplikasi ENVI 5.0

Maka hasilnya seperti berikut ini :

Kemudian klik open pada menu toolbar seperti gambar dibawah ini :

Kemudian buka file citra landsat 8 pada data D kemudian klik folder praktikum PJ dan
ke folder L8

Pilih file citra landsat 8 dengan format tiff (band 1 band 11)kemudian klik open.

Maka hasilnya akan tampak seperti ini.

Kemudian amati kenampakan pada masing2 band (band 1- band 11) tadi Dan catat
perbedaanya
Sesuaikan dengan karakteristik masing masing band seperti yang dapat dilihat pada
tabel berikut:
Lakukan penggabungan pada beberapa band agar kita dapat membuat citra komposit
warna citra landsat 8 tersebut dengan mengklik toolbox => layar managenent => layer
stacking seperti pada gambar dibawah ini.

Kemudian klik import file .

Dan masukkan band 1,2,3,4,5,6,7,9. Lalu ok

12.lakukan recorders files agar band urut mulai dari band 1-9 lalu ok.

Isikan informasi koordinat UTM, datum => WGS-84 dan zona 48 Menjadi S.
Kemudian pada bagian enter output file name klik choose lalu masukkan kedalam folder
kita dan beri nama file output citra tersebut

Lalu akan muncul seperti gambar dibawah ini.

Kemudian buatlah beberapa citra komposit warna sesuai dengan tabel berikut ini.
Untuk membuat citra komposit warna dengan mengklik file => data manager => band
selection

Lalu pilih citra L.12345679

Isikan band-band sesuai dengan tabel citra komposit warna, kemudian klik load data

Maka hasilnya akan seperti gambar dibawah ini.

Simpan hasil masing-masing citra komposit dengan format JPEG


Untuk menyimpan citra dengan ,mengklik file chip view to => file

lalu pilih JPEG. Simpan file pada folder kita kemudian klik ok.

lakukan hal yang sama pada citra-citra komposit yang lainnya.

6 Hasil Praktikum
1 Citra satelit Landsat 8 Gabungan Band 1,2,3,4,5,6,7, dan 9 dengan format
BIL atau ENVI Standar.
a Band 1

Band 2

Band 3

Band 4

Band 5

Band 6

Band 7

Band 8

Band 9

Band 10

Band 11

Tabel hasil pengamatan obyek dan nilai spektralnya masing-masing.

Band
Tanah
1

Terlihat
sedikit
warnanya

Kenampakan Hasil Pengamatan


Air
Vegetasi
Kawasan
Terlihat
itu berwarna
abu-abu

hampir sama gelap

Terlihat

Terbangun
Terlihat

berwarna

dengan

gelap dengan warna


tetapi dengan

dengan

lebih

jelas warna

warna

dibandingkan

vegetasi

dengan

paling
Domina

abu

abuikan

yang dengan
pemukiman
karena

warna tanah

warnanya

yang hampir

hampir sama

sama dengan

dengan

warna air

warna
pemukiman
Kurang jelas Terlihat

Sedikit

Sedikit

berwarna

terlihat abu- karena

berwarna

abu-abu

abu

gelap

tetapi

gelap berwarna

abu-abu

sangat gelap

objeknya
lebih

semua
hampir sama

jelas

dengan

dibandingkan

warna

dengan

pemukiman

Berwarna

warna tanah
Warna abu- Warna

Abu-abu

abu

cerah abu gelap

terlihat jelas

cerah

Tetapi

lebih

dibandingkan

Lihat

lebih

jelas

yaitu

abu- Sedikit

jelas

dengan

dibandingkan

sebelumnya

dengan bend

itu berwarna

abu-abu

dengan
warna

abu-

abu cerah
5
6
7
8
9
10
11
3

Berbagai jenis citra komposit warna dengan format .JPG

dan

Citra komposit 432

Citra komposit 543

Citra komposit 562

Citra komposit 564

Citra komposit 652

Citra komposit 654

Citra komposit 753

Citra komposit 754

Citra komposit 764

Citra komposit 765

Pembahasan

Aplikasi
Natural colour

Kombinasi band
432

Hasil Pengamatan
Pada citra 432 terdapat
vegetasi yang berwarna
hijau dengan tanah
berwarna coklat dan air
atau sungai berwarna

False Color/Urban

764

coklat tua.
Pada kombinasi band 764
ini sangat terlihat bahwa
vegetasi berwarna hijau
atau pada kombinasi
band ini yang paling
dominan sedangkan air
atau Sungai terlihat
berwarna biru dan tanah

Color Infrared

543

(vegetatin)

berwarna coklat
Pada kombinasi Band
543 sangat terlihat bahwa
warna merah tua
mencirikan kerapatan
vegetasi kemudian ada
juga yang berwarna
merah muda sedangkan

Agri culture

652

air terlihat hijau


Kode kombinasi ban ini
dikirimkan dengan
warna hijau muda
sedangkan air atau
sungai dan danau
berwarna biru dengan
panah berwarna merah

Atmoshpheric

765

Penetration

muda atau pink


Pada kombinasi band ini
harga tas yg terlihat
warna biru atau yang
paling dominan
sedangkan warna air
berwarna hitam dan
tanah terlihat berwarna

Healthy Vegetation

562

kuning kehijauan
Pada kombinasi bahan
ini terlihat vegetasi
berwarna kuning
sedangkan air berwarna
biru tua dan tanah

Land/Water

564

terlihat berwarna hijau


Pada kombinasi bahan
ini terlihat vegetasi itu
berwarna kuning
kemasan sampai dengan
kuning kecoklatan dan
kuning kehijau-hijauan
sedangkan airnya
tampak berwarna biru
tua dan tanah terlihat

Natural With
athmoshpheric Removal

753

hijau
Pada kombinasi bahan
ini vegetasi terlihat
berwarna hijau
sedangkan warna air
yaitu berwarna biru tua
dan tanah berwarna
merah muda atau pinK

ShortWave Infrared

754

Pada kombinasi band ini


Rona vegetasi terlihat
berwarna hijau muda
sedangkan air berwarna
biru cerah dan tanah
berwarna merah muda

Vegetation Analyzis

654

atau pink keunguan


Kombinasi band ini
terlihat vegetasi
berwarna hijau muda
sedangkan air berwarna
biru tua tanah berwarna
merah muda kekuning
Kuningan

Kesimpulan

Daftar pustaka
http://anakremote.blogspot.co.id/2013/04/envi_6772.html

LAPORAN PRAKTIKUM 6 dan 7


Koreksi Geometrik dan Koreksi Radiometrik dan Klasifikasi NDVI untuk Analisis
Kerapatan Vegetasi

Oleh:

Gita Purwati

(1313034041)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUG
2016
LAPORAN PRAKTIKUM 6 dan 7
Koreksi Geometrik dan Koreksi Radiometrik dan Klasifikasi NDVI untuk Analisis
Kerapatan Vegetasi

1 Tujuan
1) Melakukan koreksi geometrik pada citra Landsat 8
2) Melakukan koreksi radiometrik pada citra Landsat 8
3) Melakukan analisis kerapatan vegetasi dengan klasifikasi Normal Difference
Vegetation Index (NDVI) menggunakan Citra Landsat 8.
2

Alat dan Bahan

Perangkat Komputer
Program ENVi 5.0

Alat yang digunakan meliputi:

Bahan yang digunakan meliputi:

Citra Satelit Landsat 8

3. Tinjauan Pustaka

Teknologi Penginderaan Jauh


Sebuah platform PJ dirancang sesuai dengan beberapa tujuan khusus. Tipe sensor dan
kemampuannya, platform, penerima data, pengiriman dan pemrosesan harus dipilih dan
dirancang sesuai dengan tujuan tersebut dan beberapa faktor lain seperti biaya, waktu
dsb.
a. Resolusi Sensor
Rancangan dan penempatan sebuah sensor terutama ditentukan oleh karakteristik
khusus dari target yang ingin dipelajari dan informasi yang diinginkan dari target
tersebut. Setiap aplikasi penginderaan jauh mempunyai kebutuhan khusus mengenai
luas cakupan area, frekuensi pengukuran dan tipe energy akan dideteksi. Oleh karena
itu, sebuah sensor harus mampu memberikan resolusi spasial, spectral dan temporal
yang sesuai dengan kebutuhan aplikasi.

Resolusi Spasial

Menunjukan level dari detail yang ditangkap oleh sensor. Semakin detail sebuah studi
semakin tinggi resolusi spasial yang diperlukan. Sebagai ilustrasi, pemetaan
penggunaan lahan memerlukan resolusi spasial lebih tinggi daripada pengamatan cuaca
berskala besar.

Resolusi Spektral

Menunjukan lebar kisaran dari masing-masing band spectral yang diukur oleh sensor.
Untuk mendeteksi kerusakan tanaman dibutuhkan sensor dengan kisaran band yang
sempit pada bagian merah.

Resolusi Temporal

Menunjukan interval waktu antar pengukuran. Untuk memonitor perkembangan badai,


diperlukan pengukuran setiap beberapa menit. Produksi tanaman membutuhkan
pengukuran setiap musim, sedangkan pemetaan geologi hanya membutuhkan sekali
pengukuran.
Platform

Ground-Based Platforms

sensor diletakkan di atas permukaan bumi dan tidak berpindah-pindah. Sensornya


biasanya sudah baku seperti pengukur suhu, angin, pH air, intensitas gempa dll.
Biasanya sensor ini diletakkan di atas bangunan tinggi seperti menara.

Aerial platforms

biasanya diletakkan pada sayap pesawat terbang, meskipun platform airborne lain
seperti balon udara, helikopter dan roket juga bisa digunakan. Digunakan untuk
mengumpulkan citra yang sangat detail dari permukaan bumi dan hanya ditargetkan ke
lokasi tertentu. Dimulai sejak awal 1900-an.

Satellite Platforms

sejak awal 1960 an sensor mulai diletakkan pada satelit yang diposisikan pada orbit
bumi dan teknologinya berkembang pesat sampai sekarang. Banyak studi yang dulunya
tidak mungkin menjadi mungkin.

Pada ground-based platforms, pengiriman menggunakan sistem komunikasi groundbased seperti radio, transmisi microwave atau computer network. Bisa juga data
disimpan pada platform untuk kemudian diambil secara manual. Pada aerial Platforms,
data biasanya disimpan on board dan diambil setelah pesawat mendarat. Dalam hal
satellite Platforms, data dikirim ke bumi yaitu kepada sebuah stasiun penerima.
Berbagai cara transmisi yang dilakukan:

Kombinasi dari cara-cara tersebut. Data diterima oleh stasiun penerima dalam bentuk
format digital mentah. Kemudian data tersebut akan diproses untuk pengkoreksian
sistematik, geometrik dan atmosferik dan dikonversi menjadi format standard. Data
kemudian disimpan dalam tape, disk atau CD. Data biasanya disimpan di stasiun
penerima dan pemproses, sedangkan perpustakaan lengkap dari data biasanya dikelola
oleh pemerintah ataupun perusahaan komersial yang berkepentingan.)
Energi elektromagnetik adalah sebuah komponen utama dari kebanyakan system
penginderaan jauh untuk lingkungan hidup, yaitu sebagai medium untuk pengirim
informasi dari target kepada sensor. Energy elektromagnetik merambah dalam
gelombang

dengan

beberapa

karakter

yang

bisa

diukur,

yaitu:

panjang

gelombang/wavelength, frekuensi, amplitudo, kecepatan. Amplitudo adalah tinggi


gelombang, sedangkan panjang gelombang adalah jarak antara dua puncak.
Frekuensi adalah jumlah gelombang yang melalui suatu titik dalam satu satuan waktu.
Frekuensi tergantung dari kecepatan merambahnya gelombang. Karena kecepatan
energy elektromagnetik adalah konstan (kecepatan cahaya), panjang gelombang dan
frekuensi berbanding terbalik. Semakin panjang suatu gelombang, semakin rendah
frekuensinya, dan semakin pendek suatu gelombang semakin tinggi frekuensinya.
Energy elektromagnetik dipancarkan atau dilepaskan oleh semua masa di alam semesta
pada level yang berbeda-beda. Semakin tinggi level energy dalam suatu sumber energy,
semakin rendah panjang gelombang dari energy yang dihasilkan, dan semakin tinggi
frekuensinya.

Perbedaan

karakteristik

energy

gelombang

di

gunakan

untuk

mengelompokan energy elektromagnetik.

Spektrum Elektromagnetik
Susunan semua bentuk gelombang elektromagnetik berdasarkan panjang gelombang
dan frekuensinya disebut spectrum elektromagnetik. Gambar spectrum elektromagnetik
di bawah disusun berdasarkan panjang gelombang (diukur dalam satuan _m) mencakup

kisaran energi yang sangat rendah, dengan panjang gelombang tinggi dan frekuensi
rendah, seperti gelombang radio sampai ke energi yang sangat tinggi, dengan panjang
gelombang rendah dan frekuensi tinggi seperti radiasi X-ray dan Gamma Ray.
Interaksi Energi
Gelombang elektromagnetik (EM) yang dihasilkan matahari dipancarkan (radiated) dan
masuk ke dalam atmosfer bumi. Interaksi antara radiasi dengan partikel atmosfer bisa
berupa penyerapan (absorption), pemencaran (scattering) atau pemantulan kembali
(reflectance).Sebagian besar radiasi dengan energi tinggi diserap oleh atmosfer dan
tidak pernah mencapai permukaan bumi. Bagian energi yang bisa menembus atmosfer
adalah yang transmitted. Semua masa dengan suhu lebih tinggi dari 0 Kelvin (-273 C)
mengeluarkan (emit) radiasi EM.
Sensor
Radiometer yang dibawa oleh pesawat terbang atau satelit mengamati bumi dan
mengukur level radiasi yang dipantulkan atau dipancarkan dari benda-benda yang ada di
permukaan bumi atau pada atmosfer. Karena masing-masing jenis permukaan bumi dan
tipe partikel pada atmosfer mempunyai karakteristik spectral yang khusus (atau spectral
signature) maka data ini bisa dipakai untuk menyediakan informasi mengenai sifat
target. Pada permukaan yang rata, hampir semua energi dipantulkan dari permukaan
pada suatu arah, sedangkan pada permukaan kasar, energi dipantulkan hampir merata ke
semua arah. Pada umumnya permukaan bumi berkisar diantara ke dua ekstrim tersebut,
tergantung pada kekasaran permukaan.
Contoh yang lebih spesifik adalah pemantulan radiasi EM dari daun dan air. Sifat
klorofil adalah menyerap sebagian besar rasdiasi dengan panjang gelombang merah dan
biru dan memantulkan panjang gelombang hijau dan near IR. Sedangkan air menyerap
radiasi dengan panjang gelombang nampak tinggi dan near IR lebih banyak daripada
radiasi nampak dengan panjang gelombang pendek (biru)
Pengetahuan mengenai perbedaan spectral signature dari berbagai bentuk permukaan
bumi memungkinkan kita untuk menginterpretasikan citra. Ada dua tipe deteksi yang

dilakukan oleh sensor, yaitu deteksi pasif dan aktif. Banyak bentuk penginderaan jauh
yang menggunakan deteksi pasif, dimana sensor mengukur level energi yang secara
alami dipancarkan, dipantulkan, atau dikirimkan oleh target. Sensor ini hanya bisa
bekerja apabila terdapat sumber energi yang alami, pada umumnya sumber radiasi
adalah matahari, sedangkan pada malam hari atau apabila permukaan bumi tertutup
awan, debu asap dan partikel atmosfer lain, pengambilan data dengan cara deteksi pasif
tidak bisa dilakukan dengan baik. Contoh sensor pasif yang paling dikenal adalah sensor
utama pada satelit Landsat, Thematic Mapper, yang mempunyai 7 band atau channel.
Band 1 (0,45 0,52 m ; biru) berguna untuk membedakan kejernihan air dan juga
membedakan antara tanah dengan tanaman.
Band 2 (0,52 0,60 m ; hijau) berguna untuk mendeteksi tanaman.
Band 3 (0,63 0,69 m, merah) band yang paling berguna untuk membedakan tipe
tanaman, lebih daripada band 1 dan 2.
Band 4 (0,76 0,90 m ; reflected IR) berguna untuk meneliti biomas tanaman , dan
juga membedakan batas tanah tanaman dan daratan-air.
Band 5 (1,55 1,75 m ; reflected IR) menunjukkan kandungan air tanaman dan tanah,
berguna untuk membedakan tipe tanaman dan kesehatan tanaman. Juga digunakan
untuk membedakan antara awan, salju dan es.
Band 6 (10,4 12,5 m ; thermal IR) berguna untuk mencari lokasi kegiatan
geothermal, mengukur tingakt stress tanaman, kebakaran, dan kelembaban tanah.
Band 7 (2,08 2,35 m ; reflected IR) berhubungan dengan mineral, rasio antara band 5
dan 7 berguna untuk mendeteksi batuan dan deposit mineral
Sedangkan pada deteksi aktif, penginderaan jauh menyediakan sendiri sumber energi
untuk menyinari target dan menggunakan sensor untuk mengukur refleksi energi oleh
target dengan menghitung sudut refleksi atau waktu yang diperlukan untuk
mengembalikan energi. Keuntungan menggunakan deteksi aktif adalah pengukuran bisa

dilakukan kapan saja. Akan tetapi sistem aktif ini memerlukan energi yang cukup besar
untuk menyinari target.
Citra
Pengertian Citra
Citra merupakan salah satu dari beragam hasil proses penginderaan jauh. Definisi citra
banyak dikemukakan oleh para ahli, salah satu di antaranya pengertian tentang citra
menurut Hornby (1974; dalam Sutanto, 1992) yang dapat ditelaah menjadi lima, berikut
ini tiga di antaranya:

Likeness or copy of someone or something, especially one made in


wood, stone, etc.

Mental pictures or idea, concept of something or someone.

Reflection seen in a mirror or through the lens of a camera.

Citra penginderaan jauh termasuk dalam pengertian yang ke-tiga menurut Hornby. Citra
merupakan gambaran yang terekam oleh kamera atau sensor lainnya. Simonett et al.
(1983) mengutarakan dua pengertian tentang citra yaitu:

The counterpart of an object produced by the reflection or refraction of


light when focused by a lens or a mirror.

The recorded representation (commonly as a photo image) of object


produced by optical, electro-optical, optical mechanical, or electrical
means. It is generally used when the EMR emitted or reflected from a
scene is not directly recorded on film.

Di dalam Bahasa Inggris ada dua istilah yang masing-masing diterjemahkan dengan
citra, yaitu image dan imagery. Berikut ini dikemukakan batasan kedua istilah tersebut
menurut Ford (1979; dalam Sutanto, 1992).

Image is representation of an object or scene; an image is usually a map,


picture, or photograph.

Imagery is visual representation of energy recorded by remote sensing


instrument.

Bila kita berpegang pada batasan ini maka penggunaan istilah image bagi citra
penginderaan jauh tidak salah, akan tetapi penggunaan istilah imagery akan lebih benar.
Berbagai pustaka dalam bahasa Inggris, baik istilah image maupun imagery sama-sama
sering digunakan.
Jenis-jenis Citra
Citra Foto
adalah gambaran suatu gejala di permukaan bumi sebagai hasil pemotretan/perekaman
menggunakan kamera.
Cita foto dibedakan atas dasar spektrum elektromagnetik yang digunakan, posisi
sumbukamera, sudut lipatan kamera, jenis kamera, warna yang digunakan, dan sistem
wahananya.

Citra foto berdasarkan warna yang digunakan

Citra Foto Warna Asli

Analisis Citra
Setelah data dikumpulkan dan dikirimkan ke stasiun penerima, data tersebut harus
diproses dan diubah ke dalam format yang bisa diinterpretasi oleh peneliti. Untuk itu
data harus diproses, ditajamkan dan dimanipulasi. Teknik-teknik tersebut disebut
pengolahan citra.
Mengubah Data Menjadi Citra
Data citra satelit dikirim ke stasiun penerima dalam bentuk format digital mentah
merupakan sekumpulan data numerik. Unit terkecil dari data digital adalah bit, yaitu
angka biner, 0 atau 1. Kumpulan dari data sejumlah 8 bit data adalah sebuah unit data
yang disebut byte, dengan nilai dari 0 255. Dalam hal citra digital nilai level energi
dituliskan dalam satuan byte. Kumpulan byte ini dengan struktur tertentu bisa dibaca
oleh software dan disebut citra digital 8-bit. Analisa data penginderaan jauh

memerlukan data rujukan seperti peta tematik, data statistik dan data lapangan. Hasil
nalisa yang diperoleh berupa informasi mengenai bentang lahan, jenis penutup lahan,
kondisi lokasi dan kondisi sumberdaya lokasi. Informasi tersebut bagi para pengguna
dapat dimanfaatkan untuk membantu dalam proses pengambilan keputusan dalam
mengembangkan daerah tersebut. Keseluruhan proses pmulai dari pengambilan data,
analisis data hingga penggunaan data tersebut disebut Sistem Penginderaan Jauh
(Purwadhi, 2001).
Karakteristik Citra
Pixel
Pixel (picture element) adalah sebuah titik yang merupakan elemen paling kecil pada
citra satelit. Angka numerik (1 byte) dari pixel disebut digital number (DN). DN bisa
ditampilkan dalam warna kelabu, berkisar antara putih dan hitam (gray scale),
tergantung level energi yang terdeteksi. Pixel yang disusun dalam order yang benar akan
membentuk sebuah citra. Kebanyakan citra satelit yang belum diproses disimpan dalam
bentuk gray scale, yang merupakan skala warna dari hitam ke putih dengan derajat
keabuan yang bervariasi. Untuk PJ, skala yang dipakai adalah 256 shade gray scale,
dimana nilai 0 menggambarkan hitam, nilai 255 putih. Dua gambar di bawah ini
menunjukkan derajat keabuan dan hubungan antara DN dan derajat keabuan yang
menyusun sebuah citra.
Untuk citra multispectral, masing masing pixel mempunyai beberapa DN, sesuai dengan
jumlah band yang dimiliki. Sebagai contoh, untuk Landsat 7, masing-masing pixel
mempunyai 7 DN dari 7 band yang dimiliki. Citra bisa ditampilkan untuk masingmasing band dalam bentuk hitam dan putih maupun kombinasi 3 band sekaligus, yang
disebut color composites. Gambar di bawah ini menunjukkan composite dari beberapa
band dari potongan Landat 7 dan pixel yang menyusunnya.
Contrast
Contrast adalah perbedaan antara brightness relatif antara sebuah benda dengan
sekelilingnya pada citra. Sebuah bentuk tertentu mudah terdeteksi apabila pada sebuah

citra contrast antara bentuk tersebut dengan backgroundnya tinggi. Teknik pengolahan
citra bisa dipakai untuk mempertajam contrast. Citra, sebagai dataset, bisa dimanipulasi
menggunakan algorithm (persamaan matematis).
Manipulasi bisa merupakan pengkoreksian error, pemetaan kembali data terhadap suatu
referensi geografi tertentu, ataupun mengekstrak informasi yang tidak langsung terlihat
dari data. Data dari dua citra atau lebih pada lokasi yang sama bisa dikombinasikan
secara matematis untuk membuat composite dari beberapa dataset. Produk data ini,
disebut derived products, bisa dihasilkan dengan beberapa penghitungan matematis atas
data numerik mentah (DN).
Resolusi
Resolusi dari sebuah citra adalah karakteristik yang menunjukkan level kedetailan yang
dimiliki oleh sebuah citra. Resolusi didefinisikan sebagai area dari permukaan bumi
yang diwakili oleh sebuah pixel sebagai elemen terkecil dari sebuah citra. Pada citra
satelit pemantau cuaca yang mempunyai resolusi 1 km, masing-masing pixel mewakili
rata-rata nilai brightness dari sebuah area berukuran 11 km. Bentuk yang lebih kecil
dari 1 km susah dikenali melalui image dengan resolusi 1 km. Landsat 7 menghasilkan
citra dengan resolusi 30 meter, sehingga jauh lebih banyak detail yang bisa dilihat
dibandingkan pada citra satelit dengan resolusi 1 km. Resolusi adalah hal penting yang
perlu dipertimbangkan dalam rangka pemilihan citra yang akan digunakan terutama
dalam hal aplikasi, waktu, biaya, ketersediaan citra dan fasilitas komputasi. Gambar
berikut menunjukkan perbandingan dari 3 resolusi citra yang berbeda.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas citra dalam hal hambatan-hambatan
untuk melakukan interpretasi dan klasifikasi yang diperlukan. Beberapa faktor penting,
terutama untuk aplikasi kehutanan tropis adalah:Tutupan awan. Terutama untuk sensor
pasif, awan bisa menutupi bentuk-bentuk yang berada di bawah atau di dekatnya,
sehingga interpretasi tidak dimungkinkan, Masalah ini sangat sering dijumpai di daerah
tropis, dan mungkin diatasi dengan mengkombinasikan citra dari sensor pasif (misalnya
Landsat) dengan citra dari sensor aktif (misalnya Radarsat) untuk keduanya saling
melengkapi.

Bayangan topografis. Metode pengkoreksian yang ada untuk menghilangkan pengaruh


topografi pada radiometri belum terlalu maju perkembangannya.Pengaruh atmosferik.
Pengaruh atmosferik, terutama ozon, uap air dan aerosol sangat mengganggu pada band
nampak dan infrared. Penelitian akademis untuk mengatasi hal ini masih aktif
dilakukan.
Derajat kedetailan dari peta tutupan lahan yang ingin dihasilkan. Semakin detail peta
yang ingin dihasilkan, semakin rendah akurasi dari klasifikasi. Hal ini salah satunya bisa
diperbaiki dengan adanya resolusi spectral dan spasial dari citra komersial yang
tersedia.Setelah citra dipilih dan diperoleh, langkah-langkah pemrosesan tidak terlalu
tergantung sistem sensor dan juga software pengolahan citra yang dipakai. Berikut ini
akan kami sampaikan dengan singkat beberapa langkah yang umum dilakukan, akan
tetapi detail dari teknik dan ketrampilan menggunakan hanya bisa diperoleh dengan
praktek langsung dengan menggunakan sebuah citra dan software pengolahan citra
tertentu. Langkah-langkah dalam pengolahan citra:
Mengukur kualitas data dengan descriptive statistics atau dengan
tampilan citra.
Mengkoreksi kesalahan, baik radiometric (atmospheric atau sensor)
maupun geometric.
Menajamkan citra baik untuk analisa digital maupun visual.
Melakukan survei lapangan.
Mengambil sifat tertentu dari citra dengan proses klasifikasi dan
pengukuran akurasi dari hasil klasifikasi.
Memasukkan hasil olahan ke dalam SIG sebagai input data.
Menginterpretasikan hasil.
Mengamati citra pada layar adalah proses yang paling efektif dalam mengidentifikasi
masalah yang ada pada citra, misalnya tutupan awan, kabut, dan kesalahan sensor. Citra
bisa ditampilkan oleh sebuah komputer, baik per satu band dalam hitam dan putih
maupun dalam kombinasi tiga band, yang disebut komposit warna. Mata manusia hanya
bisa membedakan 16 derajat keabuan dalam sebuah citra, tetapi bisa membedakan

berjuta juta warna yang berbeda. Oleh karena itu, teknik perbaikan/enhancement citra
yang paling sering digunakan adalah memberi warna tertentu kepada nilai DN tertentu
(atau kisaran dari DN tertentu) sehingga meningkatkan kontras antara nilai DN tertentu
dengan pixel di sekelilingnya pada suatu citra.
Sebuah citra true color adalah citra dimana warna yang diberikan kepada nilai-nilai DN
mewakili kisaran spektral sebenarnya dari warna-warna yang digunakan pada citra.
False color adalah teknik dimana warna-warna yang diberikan kepada DN tidak sama
dengan kisaran spektral dari warna-warna yang dipilih. Teknik ini memungkinkan kita
untuk memberi penekanan pada bentuk-bentuk tertentu yang ingin kita pelajari
menggunakan skema pewarnaan tertentu. Pada contoh dari false color di bawah ini yang
dibuat dengan komposit 432 dari citra Landsat 7, vegetasi muda, yang memantulkan
near IR, terlihat merah terang. Kegiatan pertanian yang terkonsentrasi akan mudah
dideteksi dengan adanya warna merah terang.
Kalau kita buat plot antara DN dan derajat keabuan untuk setiap pixel, garis yang
terbentuk menggambarkan bentuk hubungan antara keduanya. Hubungan linier (seperti
contoh di bawah ini) menunjukkan bahwa DN dan juga keabuan tersebar merata dalam
kisaran nilai 0-255 pada citra
Permasalahan dengan hubungan linier seperti ini adalah bahwa nilai DN dari bentukbentuk yang ingin kita tonjolkan mungkin terkonsentrasi pada kisaran kecil, sehingga
derajat keabuan yang diberikan kepada nilai DN di luar daerah yang ingin kita tonjolkan
sebenarnya tidak terpakai. Untuk memperbaiki kontras dari bagian citra yang kita
inginkan kita bisa memakai kurva perbaikan yang didefinisikan secara matematis.
Kurva ini akan menyebarkan ulang nilai derajat keabuan yang paling sering dipakai
sehingga menonjolkan kisaran DN tertentu.
Pemakaian kurva untuk menonjolkan bentuk tertentu dan juga pemilihan 3 band dari
sebuah citra multispektral untuk dikombinasikan dalam sebuah citra komposit
memerlukan pengalaman dan trial and error, karena setiap aplikasi perlu menekankan
bentuk yang berbeda dalam sebuah citra.

Sebelum sebuah citra bisa dianalisa, biasanya diperlukan beberapa langkah pemrosesan
awal. Koreksi radiometric adalah salah satu dari langkah awal ini, dimana efek
kesalahan sensor dan faktor lingkungan dihilangkan. Biasanya koreksi ini mengubah
nilai DN yang terkena efek atmosferik. Data tambahan yang dikumpulkan pada waktu
yang bersamaan dengan diambilnya citra bisa dipakai sebagai alat kalibrasi dalam
melakukan koreksi radiometric. Selain itu koreksi geometric juga sangat penting dalam
langkah awal pemrosesan. Metode ini mengkoreksi kesalahan yang disebabkan oleh
geometri dari kelengkungan permukaan bumi dan pergerakan satelit. Koreksi geometric
adalah proses dimana titik-titik pada citra diletakkan pada titik-titik yang sama pada
peta atau citra lain yang sudah dikoreksi. Tujuan dari koreksi geometri adalah untuk
meletakkan elemen citra pada posisi planimetric (x dan y) yang seharusnya.
Satu langkah pemrosesan penting yang paling sering dilakukan pada pengolahan citra
adalah klasifikasi, dimana sekumpulan pixel dikelompokkan menjadi kelas-kelas
berdasarkan karakteristik tertentu dari masing-masing kelas. Terutama untuk proses
klasifikasi, survei lapangan sangat diperlukan. Pada umumnya hasil klasifikasi inilah
yang akan menjadi input yang sangat berharga bagi SIG untuk diolah dan diinterpretasi
bersama layer-layer data yang lain.
Interpretasi Citra
Menurut Este dan Simonett, 1975: Interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto
udara atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi objek dan menilai arti
pentingnya objek tersebut. Jadi di dalam interpretasi citra, penafsir mengkaji citra dan
berupaya mengenali objek melalui tahapan kegiatan, yaitu:

deteksi

identifikasi

analisis

Setelah melalui tahapan tersebut, citra dapat diterjemahkan dan digunakan ke dalam
berbagai kepentingan seperti dalam: geografi, geologi, lingkungan hidup, dan
sebagainya.

Pada dasarnya kegiatan interpretasi citra terdiri dari 2 proses, yaitu melalui pengenalan
objek melalui proses deteksi dan penilaian atas fungsi objek.
o Pengenalan objek melalui proses deteksi yaitu pengamatan atas adanya
suatu objek, berarti penentuan ada atau tidaknya sesuatu pada citra atau
upaya untuk mengetahui benda dan gejala di sekitar kita dengan
menggunakan alat pengindera (sensor). Untuk mendeteksi benda dan
gejala di sekitar kita, penginderaannya tidak dilakukan secara langsung
atas benda, melainkan dengan mengkaji hasil rekaman dari foto udara
atau satelit.
o Identifikasi, ada 3 (tiga) ciri utama benda yang tergambar pada citra
berdasarkan ciri yang terekam oleh sensor yaitu sebagai berikut:
Spektoral ialah ciri yang dihasilkan oleh interaksi antara tenaga elektromagnetik dan
benda yang dinyatakan dengan rona dan warna.
Spatial ialah ciri yang terkait dengan ruang yang meliputi bentuk, ukuran, bayangan,
pola, tekstur, situs, dan asosiasi.
Temporal ialah ciri yang terkait dengan umur benda atau saat perekaman.
Penilaian atas fungsi objek dan kaitan antar objek dengan cara menginterpretasi dan
menganalisis citra yang hasilnya berupa klasifikasi yang menuju ke arah teorisasi dan
akhirnya dapat ditarik kesimpulan dari penilaian tersebut. Pada tahapan ini, interpretasi
dilakukan oleh seorang yang sangat ahli pada bidangnya, karena hasilnya sangat
tergantung pada kemampuan penafsir citra.
Menurut Prof. Dr. Sutanto, pada dasarnya interpretasi citra terdiri dari dua kegiatan
utama, yaitu perekaman data dari citra dan penggunaan data tersebut untuk tujuan
tertentu.
Perekaman data dari citra berupa pengenalan objek dan unsur yang tergambar pada citra
serta penyajiannya ke dalam bentuk tabel, grafik atau peta tematik. Urutan kegiatan
dimulai dari menguraikan atau memisahkan objek yang rona atau warnanya berbeda dan
selanjutnya ditarik garis batas/delineasi bagi objek yang rona dan warnanya sama.

Dalam menginterpretasi citra, pengenalan objek merupakan bagian yang sangat penting,
karena tanpa pengenalan identitas dan jenis objek, maka objek yang tergambar pada
citra tidak mungkin dianalisis. Prinsip pengenalan objek pada citra didasarkan pada
penyelidikan karakteristiknya pada citra. Karakteristik yang tergambar pada citra dan
digunakan untuk mengenali objek disebut unsur interpretasi citra.
Interpretasi Citra
Menurut Este dan Simonett, 1975: Interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto
udara atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi objek dan menilai arti
pentingnya objek tersebut. Jadi di dalam interpretasi citra, penafsir mengkaji citra dan
berupaya mengenali objek melalui tahapan kegiatan, yaitu:

deteksi

identifikasi

analisis

Setelah melalui tahapan tersebut, citra dapat diterjemahkan dan digunakan ke dalam
berbagai kepentingan seperti dalam: geografi, geologi, lingkungan hidup, dan
sebagainya.
Pada dasarnya kegiatan interpretasi citra terdiri dari 2 proses, yaitu melalui pengenalan
objek melalui proses deteksi dan penilaian atas fungsi objek.
a. Pengenalan objek melalui proses deteksi yaitu pengamatan atas adanya
suatu objek, berarti penentuan ada atau tidaknya sesuatu pada citra atau
upaya untuk mengetahui benda dan gejala di sekitar kita dengan
menggunakan alat pengindera (sensor). Untuk mendeteksi benda dan
gejala di sekitar kita, penginderaannya tidak dilakukan secara langsung
atas benda, melainkan dengan mengkaji hasil rekaman dari foto udara
atau satelit.
b. Identifikasi, ada 3 (tiga) ciri utama benda yang tergambar pada citra
berdasarkan ciri yang terekam oleh sensor yaitu sebagai berikut:
Spektoral ialah ciri yang dihasilkan oleh interaksi antara tenaga elektromagnetik dan
benda yang dinyatakan dengan rona dan warna.

Spatial ialah ciri yang terkait dengan ruang yang meliputi bentuk, ukuran, bayangan,
pola, tekstur, situs, dan asosiasi.
Temporal ialah ciri yang terkait dengan umur benda atau saat perekaman.

Pemanfaatan Citra
Bidang Kehutanan
Bidang kehutanan berkenaan dengan pengelolaan hutan untuk kayu termasuk
perencanaan pengambilan hasil kayu, pemantauan penebangan dan penghutanan
kembali, pengelolaan dan pencacahan margasatwa, inventarisasi dan pemantauan
sumber daya hutan, rekreasi, dan pengawasan kebakaran. Kondisi fisik hutan sangat
rentan terhadap bahaya kebakaran maka penggunaan citra inframerah akan sangat
membantu dalam penyediaan data dan informasi dalam rangka monitoring perubahan
temperatur secara kontinu dengan aspek geografis yang cukup memadai sehingga
implementasi di lapangan dapat dilakukan dengan sangat mudah dan cepat.
Bidang Penggunaan Lahan
Inventarisasi penggunaan lahan penting dilakukan untuk mengetahui apakah pemetaan
lahan yang dilakukan oleh aktivitas manusia sesuai dengan potensi ataupun daya
dukungnya. Penggunaan lahan yang sesuai memperoleh hasil yang baik, tetapi lambat
laun hasil yang diperoleh akan menurun sejalan dengan menurunnya potensi dan daya
dukung lahan tersebut. Integrasi tekn ologi penginderaan jauh merupakan salah satu
bentuk yang potensial dalam penyusunan arahan fungsi penggunaan lahan. Dasar
penggunaan lahan dapat dikembangkan untuk berbagai kepentingan penelitian,
perencanaan, dan pengembangan wilayah. Contohnya penggunaan lahan untuk usaha
pertanian atau budidaya permukiman.
Bidang Pembuatan Peta
Peta citra merupakan citra yang telah bereferensi geografis sehingga dapat dianggap
sebagai peta. Informasi spasial yang disajikan dalam peta citra merupakan data raster

yang bersumber dari hasil perekaman citra satelit sumber alam secara kontinu. Peta
citra memberikan semua informasi yang terekam pada bumi tanpa adanya generalisasi.
Peranan peta citra (space map) dimasa mendatang akan menjadi penting sebagai upaya
untuk mempercepat ketersediaan dan penentuan kebutuhan peta dasar yang memang
belum dapat meliput seluruh wilayah nasional pada skala global dengan informasi
terbaru (up to date). Peta citra mempunyai keunggulan informasi terhadap peta biasa.
Hal ini disebabkan karena citra merupakan gambaran nyata di permukaan bumi,
sedangkan peta biasa dibuat berdasarkan generalisasi dan seleksi bentang alam ataupun
buatan manusia. Contohnya peta dasar dan peta tanah.
Bidang Meteorologi (Meteosat, Tiros, Dan Noaa)
Manfaat penginderaan jauh di bidang meteorologi adalah sebagai berikut.
Mengamati iklim suatu daerah melalui pengamatan tingkat perawanan dan kandungan
air dalam udara.Membantu analisis cuaca dan peramalan/prediksi dengan cara
menentukan daerah tekanan tinggi dan tekanan rendah serta daerah hujan badai dan
siklon.
Mengamati sistem/pola angin permukaan.
Melakukan pemodelan meteorologi dan set data klimatologi.
Bidang Oseanografi (Seasat)
Manfaat penginderaan jauh di bidang oseanografi (kelautan) adalah sebagai
berikut.
Mengamati sifat fisis laut, seperti suhu permukaan, arus permukaan, dan
salinitas sinar tampak (0-200 m).
Mengamati pasang surut dan gelombang laut (tinggi, arah, dan frekwensi).
Mencari lokasi upwelling, singking dan distribusi suhu permukaan.
Melakukan studi perubahan pantai, erosi, dan sedimentasi (LANDSAT dan
SPOT).
Bidang Hidrologi (Landsat/Ers, Spot)

Manfaat penginderaan jauh di bidang hidrologi adalah sebagai berikut.


Pemantauan daerah aliran sungai dan konservasi sungai.
Pemetaan sungai dan studi sedimentasi sungai.
Pemantauan luas daerah intensitas banjir.
Bidang Geofisika Bumi Padat, Geologi, Geodesi, Dan Lingkungan (Landsat, Geosat)
Manfaat penginderaan jauh di bidang geofisika, geologi, dan geodesi adalah sebagai
berikut.
Melakukan pemetaan permukaan, di samping pemotretan dengan pesawat terbang dan
menggunakan aplikasi GIS.
Menentukan struktur geologi dan macam batuan.
Melakukan pemantauan daerah bencana (kebakaran), pemantauan aktivitas
gunung berapi, dan pemantauan persebaran debu vulkanik.
Melakukan pemantauan distribusi sumber daya alam, seperti hutan (lokasi,
macam, kepadatan, dan perusakan), bahan tambang (uranium, emas, minyak
bumi, dan batu bara).
Melakukan pemantauan pencemaran laut dan lapisan minyak di laut.
Melakukan pemantauan pencemaran udara dan pencemaran laut. (Dra. Sri
Hartati Soenarmo MSP, 1993)

Citra Landsat
Pengertian citra landsat
Satelit Landsat merupakan salah satu satelit sumber daya bumi yang dikembangkan oleh
NASA dan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat. Satelit ini terbagi dalam dua
generasi yakni generasi pertama dan generasi kedua. Generasi pertama adalah satelit
Landsat 1 sampai Landsat 3, generasi ini merupakan satelit percobaan (eksperimental)
sedangkan satelit generasi kedua (Landsat 4 dan Landsat 5) merupakan satelit
operasional (Lindgren, 1985), sedangkan Short (1982) menamakan sebagai satelit

penelitian dan pengembangan (Sutanto, 1994). Satelit generasi pertama memiliki dua
jenis sensor, yaitu penyiam multi spektral (MSS) dengan empat saluran dan tiga kamera
RBV (Return Beam Vidicon).
Satelit generasi kedua adalah satelit membawa dua jenis sensor yaitu sensor MSS dan
sensor Thematic Mapper (TM). Perubahan tinggi orbit menjadi 705 km dari permukaan
bumi berakibat pada peningkatan resolusi spasial menjadi 30 x30 meter untuk TM1
TM5 dan TM7 , TM 6 menjadi 120 x 120 meter. Resolusi temporal menjadi 16 hari dan
perubahan data dari 6 bits (64 tingkatan warna) menjadi 8 bits (256 tingkatan warna).
Kelebihan sensor TM adalah menggunakan tujuh saluran, enam saluran terutama
dititikberatkan untuk studi vegetasi dan satu saluran untuk studi geologi tabel (2.1)
Terakhir kalinya akhir era 2000- an NASA menambahkan penajaman sensor band
pankromatik yang ditingkatkan resolusi spasialnya menjadi 15m x 15m sehingga
dengan kombinasi didapatkan citra komposit dengan resolusi 15m x 15 m.
Saluran Citra Landsat TM

Kisaran
Saluran Gelombang (m)

Kegunaan Utama
Penetrasi tubuh air, analisis penggunaan lahan, tanah,

0,45 0,52

dan vegetasi. Pembedaan vegetasi dan lahan.


Pengamatan puncak pantulan vegetasi pada saluran
hijau yang terletak diantara dua saluran penyerapan.
Pengamatan ini dimaksudkan untuk membedakan jenis
vegetasi dan untuk membedakan tanaman sehat

0,52 0,60

terhadap tanaman yang tidak sehat

0,63 0,69

Saluran terpenting untuk membedakan jenis vegetasi.


Saluran ini terletak pada salah satu daerah penyerapan

klorofil
Saluran yang peka terhadap biomasa vegetasi. Juga
untuk
4

0,76 0,90

identifikasi

jenis

tanaman.

Memudahkan

pembedaan tanah dan tanaman serta lahan dan air.


Saluran penting untuk pembedaan jenis tanaman,
kandungan air pada tanaman, kondisi kelembapan

1,55 1,75

tanah.
Untuk membedakan formasi batuan dan untuk

2,08 2,35

pemetaan hidrotermal.
Klasifikasi vegetasi, analisis gangguan vegetasi.
Pembedaan kelembapan tanah, dan keperluan lain

10,40 12,50

yang berhubungan dengan gejala termal.

Pankromatik

Studi kota, penajaman batas linier, analisis tata ruang

Saluran Citra Landsat TM


Sumber : Lillesand dan Kiefer, 1979 dengan modifikasi)

Karakteristik Data Landsat TM


Data Landsat TM (Thematic Mapper) diperoleh pada tujuh saluran spektral yaitu tiga
saluran tampak, satu saluran inframerah dekat, dua saluran inframerah tengah, dan satu
saluran inframerah thermal. Lokasi dan lebar dari ketujuh saluran ini ditentukan dengan
mempertimbangkan kepekaannya terhadap fenomena alami tertentu dan untuk menekan
sekecil mungkin pelemahan energi permukaan bumi oleh kondisi atmosfer bumi.

Jensen (1986) mengemumakan bahwa kebanyakan saluran TM dipilih setelah analisis


nilai lebihnya dalam pemisahan vegetasi, pengukuran kelembaban tumbuhan dan tanah,
pembedaan awan dan salju, dan identifikasi perubahan hidrothermal pada tipe-tipe
batuan tertentu.
Data TM mempunyai proyeksi tanah IFOV (instantaneous field of view) atau ukuran
daerah yang diliput dari setiap piksel atau sering disebut resolusi spasial. Resolusi
spasial untuk keenam saluran spektral sebesar 30 meter, sedangkan resolusi spasial
untuk saluran inframerah thermal adalah 120 m (Jensen,1986).
Keunggulan Landsat TM
Keunggulan Landsat-TM dalam memberikan informasi tentang potensi hutan mangrove
menurut Dirgahayu, dkk (2000:4) adalah sebagai berikut:
o Dapat melihat adanya kecenderungan kerusakan hutan mangrove dalam
kaitannya dengan perkembangan areal perladangan dan pertambakan.
o Dapat mendeteksi dan memantau kondisi objek vegetasi.
o Data kanal (saluran) 2, 3, 4 dan 5 Lansat-TM mempunyai kepekaan yang
tinggi terhadap kondisi pertumbuhan dan perkembangan vegetasi,
termasuk vegetasi hutan mangrove.
Pengenalan vegetasi tersebut dilakukan dengan analisis terhadap pantulan dari daun.
Besarnya radiasi yang dipantulkan dari daun tergantung pada beberapa faktor seperti
fisiologi daun, pigmentasi daun, jenis tanah dan lain-lain.
Pada daerah panjang gelombang sinar tampak (0,4 0,7 m) pigmen daun/klorofil
mempunyai daya penyerapan yang tinggi, sedangkan pada daerah panjang gelombang
infra merah dekat (0,7 1,3 m) mempunyai daya pemantulan yang tinggi. Selain
unsur-unsur tersebut, pada dasarnya daun banyak mengandung air, daya penyerapan air
oleh daun paling tinggi berada pada daerah panjang gelombang infra merah tengah (1,3
3,0 m).
Satelit penginderaan jauh yang sering digunakan adalah untuk melihat penutupan lahan
adalah satelit Landsat. Citra landsat komposit warna cocok digunakan untuk menduga

cakupan lahan dan penggunaannnya. Salah satu sensor dari satelit landsat adalah sensor
TM (Thematic Mapper), yang memiliki resolusi spasial 30 x 30 meter dengan
karakteristik tertentu.
Klasifikasi citra menurut Lillesand dan Kiefer (1990), dibagi ke dalam dua klasifikasi
yaitu klasifikasi terbimbing (supervised classification) dan klasifikasi tidak terbimbing
(unsupervised classification). Proses pengklasifikasian klasifikasi terbimbing dilakukan
dengan prosedur pengenalan pola spektral dengan memilih kelompok atau kelas-kelas
informasi yang diinginkan dan selanjutnya memilih contoh-contoh kelas (training area)
yang mewakili setiap kelompok, kemudian dilakukan perhitungan statistik terhadap
contoh-contoh kelas yang digunakan sebagai dasar klasifikasi.

Pada klasifikasi tidak terbimbing, pengklasifikasian dimulai dengan pemeriksaan


seluruh pixel dan membagi kedalam kelas-kelas berdasarkan pada pengelompokkan
nilai-nilai citra seperti apa adanya. Hasil dari pengklasifikasian ini disebut kelas-kelas
spektral. Kelas-kelas spektral tersebut kemudian dibandingkan dengan kelas-kelas data
referensi untuk menentukan identitas dan nilai informasi kelas spektral tersebut.

Pemanfaatan citra landsat telah banyak digunakan untuk beberapa kegiatan survai
maupun

penelitian,antaralaingeologi,pertambangan

,geomorfologi,hidrologi,dan kehutanan.Dalamsetiap

perekaman,citra

landsat

mempunyai cakupan area 185Km x 185Km,sehingga aspek dari objek tertentu yang
cukup luas dapat diidentifikasi tanpa menjelajah seluruh daerah yang disurvai atau yang
diteliti.Dengan demikian,metode ini dapat menghemat waktu maupun biaya dalam
pelaksanaanya dibidang cara konvensional survai secara tristris di lapangan (Wahyunto
et al., 1995).

Citra satelit dianalisis berdasarkan perbedaan warna,pola,dan tekstur yang nampak pada
citra satelit berwarna dan ditekankan pada pengenalan jenis Vegetasi, tanaman dan tipe
penggunaan lahan.
Setiap

warna

dalam

citra

satelit

memberikan

makna tertentu.Warna hijau

mengidentifikasi adanya vegetasi makin hijau warnanya berarti vegetasi makin lebat
(hutan).Warna biru menunjukan adanya kenampakan air,dan semakin biru atau biru
kehitaman berarti wilayah tersebut tergenang (water body).Bila warna biru ada kesan
petak-petak yang ukurannya lebih besar dan lokasiny adekat dengan garis pantai berarti
areal tersebut dalah arealtambak.Unsur pola dan site\lokasi dapat digunakan untuk
dapoat mengenal jenis pengunaan lahan dan tanaman vegetasi yang tumbuh didaerah
tersebut.Sebagai contoh bila ada kenampakan hijau (warna) pada wilayah berpetakpetak (pola) yang lokasinya diwilayah dataran (lokasi),hal yang itu mengidentifikasi
adanya lahan sawah yang ditanamipadi.Warna hijau (vegetasi) pada wilayah bervola
aliran radial sentrivugal menunjkan adnya vegetasi atau tanaman tahunan atau hutan
yang tumbuh didaerah berlereng (berbukit-bergunung).
Kajian Penggunaan Lahan
1.

Pengertian

Lahan menurut FAO (1977) adalah suatu daerah permukaan bumi yang ciri-cirinya
(chracteristics) mencakup semua pengenal (atributes) yang bersifat cukup mantap atau
yang dapat diduga bersifat mendaur dari biosfer, atmosfer, tanah, geologi, hidrologi,
populasi tumbuhan dan hewan, serta hasil kegiatan manusia pada masa lampau dan
masa kini, sepanjang pengenal-pengenal tadi berpengaruh murad (significant) atas
penggunaan lahan pada waktu sekarang dan pada waktu mendatang.
Lahan merupakan persatuan sejumlah komponen yang berpotensi sumberdaya. Potensi
lahan ditentukan oleh potensi sumberdaya masing-masing yang menjadi komponennya,
baik potensi bawaan maupun potensi yang berkembang dari nasabah salingtindak
(interactive relationship) dan nasabah kompensatif (compensatory relationship) antar
sumberdaya.

Lahan bermatra (dimension) ruang karena merupakan bentangan muka bumi dan ciricirinya mengubah (vary) dari tapak (site) ke tapak. Lahan juga bermatra waktu karena
ciri-cirinya mengubah menuruti proses interaktif dan kompensatif antar komponenkomponennya dank arena sifat mendaur pengenal beberapa komponennya. Maka lahan
dapat disebut suatu system ruang.
Istilah lahan digunakan berkenaan dengan permukaan bumi beserta segenap
karakteristik-karakteristik yang ada padanya dan penting bagi perikehidupan manusia
(Christian dan Stewart, 1968). Secara lebih rinci, istilah lahan atau land dapat
didefinisikan sebagai suatu wilayah di permukaan bumi, mencakup semua komponen
biosfer yang dapat dianggap tetap atau bersifat siklis yang berada di atas dan di bawah
wilayah tersebut, termasuk atmosfer, tanah, batuan induk, relief, hidrologi, tumbuhan
dan hewan, serta segala akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia di masa lalu
dan sekarang; yang kesemuanya itu berpengaruh terhadap penggunaan lahan oleh
manusia pada saat sekarang dan di masa mendatang (Brinkman dan Smyth, 1973; dan
FAO, 1976).
Lahan dapat dipandang sebagai suatu sistem yang tersusun atas komponen struktural
yang sering disebut karakteristik lahan, dan komponen fungsional yang sering
disebut kualitas lahan. Kualitas lahan ini pada hakekatnya merupakan sekelompok
unsur-unsur lahan (complex attributes) yang menentukan tingkat kemampuan dan
kesesuaian lahan (FAO, 1976).
Lahan sebagai suatu sistem mempunyai komponen- komponen yang terorganisir
secara spesifik dan perilakunya menuju kepada sasaran-sasaran tertentu. Komponenkomponen lahan ini dapat dipandang sebagai sumberdaya dalam hubung- annya dengan
aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Penggunaan

lahan

(land

use)

adalah modifikasi yang

dilakukan

oleh manusia terhadap lingkunganhidup menjadi lingkunganterbangun seperti lapangan,


pertanian, dan permukiman. Penggunaan lahan didefinisikan sebagai jumlah dari
pengaturan, aktivitas, dan input yang dilakukan manusia pada tanah tertentu (FAO,
1997a; FAO/UNEP, 1999). Penggunaan lahan memiliki efek sampingyang buruk

seperti pembabatan

hutan, erosi, degradasi

tanah,

pembentukan gurun,

dan

meningkatnya kadar garam pada tanah.

Klasifikasi Lahan
Lahan Potensial
Lahan potensial adalah lahan yang nilai ekonomi tinggi, dalam arti sempit. Lahan
potensial selalu dikaitkan dengan produksi pertanian, yaitu lahan yang dapat
memberikan hasil pertanian yang tinggi walaupun dengan biaya pengelolaan yang
rendah.
Tapi dalam arti luas, lahan potensial dikaitkan dengan fungsinya bagi kehidupan
manusia, yaitu lahan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Sehingga potensial tidaknya suatu lahan diukur sampai sejauh
mana lahan tersebut memberikan manfaat secara optimal bagi kehidupan manusia.
Sebagai contoh suatu lahan tidak potensial untuk lahan pertanian tetapi potensial untuk
pemukiman, pariwisata, atau kegiatan lainnya.
Lahan Kritis
Menurut Wahono (2002 : 3), lahan kritis adalah lahan yang sudah tidak berfungsi lagi
sebagai pengatur media pengatur tata air, unsur produksi pertanian, maupun unsur
perlindungan alam dan lingkungannya.
Lahan kritis merupakan suatu lahan yang kondisi tanahnya telah mengalami atau dalam
proses kerusakan fisik, kimia atau biologi yang akhirnya membahayakan fungsi
hidrologi, orologi, produksi pertanian, pemukiman dan kehidupan sosial ekonomi di
sekitar daerah pengaruhnya (Ade Iwan Setiawan, 1996 : 19).

Pengklasifikasian suatu lahan merupakan pengelompokkan lahan yang memiliki faktorfaktor pembatas permanen yang sama. Dalam pengklasifikasian, lahan dikelompokkan
menjadi delapan kelas kemampuan lahan. Garis besar dari pengklasifikasian tersebut
adalah :

Kelas I, merupakan lahan untuk segala jenis penggunaan tanpa


memerlukan tindakan pengawetan tanah yang spesifik. Tanah pada
kelas ini tidak memiliki penghambat atau ancaman kerusakan,
sehingga dapat ditanam dengan tanaman semusim dengan aman.
Tindakan pemupukkan dan pemeliharaan sangat diperlukan untuk
mempertahankan kesuburan dan produktivitasnya. Lahan ini
dicirikan dengan lereng yang datar, bahaya erosi yang sangat kecil,
solum tanah dalam, drainase baik, mudah untuk diolah, dapat
menahan air dengan baik, responsif terhadap pemupukkan, tidak
terancam banjir, iklim mikro yang sesuai dengan pertumbuhan
tanaman.

Kelas II, merupakan lahan yang sesuai untuk segala jenis


penggunaan pertanian dengan sedikit hambatan dan ancaman
kerusakan. Jika digarap untuk tanaman semusim, maka perlu
diadakan

tindakan

rotation dengan

konservasi

penutup

tanah,

seperti strip
guludan

cropping, crop
(galengan),

dan

pemupukkan. Ciri-ciri dari lahan kelas ini adalah lereng landai,


kepekaan erosi sedang, tekstur tanah halus, solum tanah agak
dalam, struktur tanah kurang baik, salinitas ringan sampai sedang,
kadang terjadi banjir, drainase sedang, iklim mikro agak kurang
untuk tanaman.

Kelas III, merupakan lahan yang dapat digunakan untuk berbagai


jenis usaha pertanian dengan hambatan dan ancaman yang lebih
besar dari pada lahan kelas II. Penggunaan lahan kelas ini
memerlukan usaha-usaha pengawetan seperti perbaikan drainase,
strip cropping, crop rotation, terrasering, pemupukkan, dll. Ciri-

ciri lahan kelas ini adalah lereng bergelombang atau miring,


drainase buruk, solum tanah sedang, permeabilitas tanah bagian
bawah lambat, peka terhadap erosi, kapasitas menahan air rendah,
kesuburan tanah rendah, sering terjadi banjir, lapisan cadas
dangkal, salinitas sedang, hambatan iklim agak besar.

Kelas IV, merupakan lahan yang memiliki faktor penghambat lebih


besar dibandingkan dengan lahan kelas III. Faktor penghambat
pada lahan kelas ini adalah lereng yang miring atau berbukit (15%30%), kepekaan erosi besar, solum tanah dangkal, kapasitas
menahan air rendah, drainase jelek, salinitas tinggi, iklim
kurang menguntungkan.bila lahan ini akan digunakan untuk
tanaman semusim, maka perlu dibuatkan teras-teras, saluran
drainase, crop rotation dengan penutup tanah.

Kelas V, merupakan lahan yang tidak sesuai untuk tanaman


semusim. Ciri-ciri lahan ini adalah lereng datar atau cekung, sering
tergenang dan banjir, berbatu-batu, pada sistem perakaran
tumbuhan

sering

ditemui catclay,

cocoknya

untuk

hutan

produksi,

berawa-rawa.
hutan

Lahan

lindung,

ini

padang

penggembalaan, atau suaka alam.

Kelas VI, merupakan lahan yang tidak sesuai untuk pertanian.


Penggunaannya terbatas untuk padang penggembalaan, hutan
produksi, hutan lindung, atau cagar alam. Ciri-ciri lahan kelas ini
adalah lereng agak curam (30%-45%), ancaman erosi berat, solum
tanah sangat dangkal, berbatu-batu, iklim tidak sesuai. Pengelolaan
lahan ini dapat dapat diusahakan dengan cara pembuatan teras
bangku, strip cropping, penutupan tanah dengan rumput perlu
selalu diusahakan.

Kelas VII, merupakan lahan yang tidak sesuai untuk pertanian. Jika
ingin dipaksakan harus digunakan teras bangku yang ditunjang
dengan cara-cara vegetatif untuk konservasi. Ciri-ciri lahan kelas

ini adalah lereng curam (45%-65%), tererosi berat, solum tanah


sangat dangkal, dan berbatu-batu.

Kelas VII, merupakan lahan yang sangat tidak cocok untuk


pertanian. Lahan ini harus senantiasa didiamkan dalam keadaann
alami. Lahan kelas ini sangat berguna untuk hutan lindung, cagar
alam, atau tempat rekreasi. Ciri-ciri lahan kelas ini adalah lereng
yang sangat curam (>65%), berbatu-batu, kapasitas menahan air
sangat rendah, solum tanah sangat dangkal, sering terlihat adanya
singkapan batuan, kadang-kadang seperti padang pasir berbatu
(Jamulya dan Sunarto, 1991).

Kemiringan lereng, panjang lereng, dan bentuk lereng semuanya akan mempengaruhi
besarnya erosi dan aliran permukaan. Kemiringan lereng dapat dilihat dari peta
topografi dan peta tanah. Kemiringan suatu lereng dikelompokkan sebagai berikut :

Datar 0 3%

Landai atau berombak 3% 8%

Agak miring atau bergelombang 8% 15%

Miring atau berbukit 15% 30%

Agak curam 30% 45%

Curam 45% 65%

Sangat curam lebih dari 65%

Interpretasi Objek Penggunaan Lahan


Istilah lahan digunakan berkenaan dengan permukaan bumi beserta segenap
karakteristik-karakteristik yang ada padanya dan penting bagi perikehidupan manusia
(Christian dan Stewart, 1968). Secara lebih rinci, istilah lahan atau land dapat
didefinisikan sebagai suatu wilayah di permukaan bumi, mencakup semua komponen

biosfer yang dapat dianggap tetap atau bersifat siklis yang berada di atas dan di bawah
wilayah tersebut, termasuk atmosfer, tanah, batuan induk, relief, hidrologi, tumbuhan
dan hewan, serta segala akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia di masa lalu dan
sekarang; yang kesemuanya itu berpengaruh terhadap penggunaan lahan oleh manusia
pada saat sekarang dan di masa mendatang (Brinkman dan Smyth, 1973; dan FAO,
1976).
Lahan dapat dipandang sebagai suatu sistem yang tersusun atas (i) komponen struktural
yang sering disebut karakteristik lahan, dan (ii) komponen fungsional yang sering
disebut kualitas lahan. Kualitas lahan ini pada hakekatnya merupakan sekelompok
unsur-unsur lahan (complex attribute) yang menentukan tingkat kemampuan dan
kesesuaian lahan (FAO, 1976).
Pola pengggunaan lahan di daerah pantai Jawa Barat terutama dipengaruhi oleh keadaan
tanah, persediaan air dataran rendah dan letak ketinggian dari permukaan laut.
Berdasarkan pengaruh keadaan tanah dan air tersebut daerah pantai Jawa Barat di bagi
dalam 9 (sembilan) macam pola penggunaan lahan utama yaitu:
a) Sawah Dua Musim
Penggunaan lahan sawah dua kali setahun merupakan lahan yang dapat ditanami padi
dua kali setahun, kelompok pengguna lahan ini dapat dijumpai pada daerah datar
sepanjang pantai Jawa Barat. Pada umumnya sawah yang berada di dataran rendah
belakang pantai tersebut dapat ditanami sepanjang tahun tanpa tergantung curah hujan,
karena didukung sumber air dari sistem pengairan teknis dengan suplai yang cukup dan
teratur dari beberapa sungai utama, diantaranya pengairan Tarum Timur dari S. Citarum,
S. Cimanuk dan beberapa sungai lainnya yang debitnya cukup. Pola penggunaan sawah
dua kali setahun ini pada umumnya telah diusahakan secara intensif dengan teknologi
maju, seperti teknologi penggunaan paket A, B, C, dan D pada program Supra Insus
dengan pola tanam, padi-padi, palawija/bera selain tanaman padi utama. Pada beberapa
tempat pola penggunaan ini menjalani pergiliran dengan tebu, dan kadang-kadang
setelah tanaman padi ditanami dengan sayuran seperti bawang merah, cabe, ketimun
dan sebagainya.

b) Sawah Satu Musim


Pola pengggunaan sawah satu kali setahun ini dijumpai pada daerah datar, berombak,
bergelombang bahkan sampai pada wilayah berbukit dengan adanya sistem terasering
dan pengairan yang teratur. Kelompok penggunaan lahan ini terdapat di daerah sebelah
atas/hulu dengan pola penggunaan sawah dua musim atau pada wilayah-wilayah
perbukitan yang penyebarannya terpencar-pencar, tergantung adanya sumber air.
Disamping itu sumber air pola sawah satu kali setahun ini juga tergantung pada curah
hujan.
Pola tanam adalah padi, palawija/sayuran atau bera. Tanaman padi pada umumnya
ditanam pada musim penghujan setelah itu lahan diberakan atau ditanam
palawija/sayuran seperti jagung, ketela pohon, kedelai, ketela rambat, cabe, kol, seledri
dan lain sebagainya. Umumnya tindakan pemupukan pada semua jenis tanaman ini
sudah dilakukan
c) Tegalan
Tegalan disini adalah usahatani lahan kering dengan tanaman semusim. Pada umumnya
pola penggunaan tegalan dimasukkan pada daerah-daerah yang tidak mendapat
pengairan secara teratur atau sumber air tergantung pada curah hujan. Kelompok
pengguna ini terpencar-pencar di daerah berombak sampai daerah berbukit, baik pada
lahan hak milik yang terpencar-pencar maupun pada lahan kawasan hutan yang
pengelolaannya mendapat izin dari PT. Perhutani. Pola penggunaan tegalan ini pada
umumnya telah diusahakan secara intensif menggunakan pupuk, pemberantasan hama
dan tumpang sari, dengan pola tanam, palawija-palawija/sayuran-bera dengan tanaman
utama jagung, ketela rambat, ketela pohon, cabe, dan lain sebagainya.
d) Kebun Campuran
Tipe penggunaan ini umumnya dicirikan oleh adanya tanaman keras seperti kelapa,
bambu dan lainnya sebagainya, atau berupa tanaman buah-buahan seperti mangga,
durian, nangka, pisang, melinjo, pepaya dan lain-lain. Tanaman ini ditanam secara
bersama-sama dengan pola pertanaman yang kurang teratur. Penyebarannya cukup

merata di seluruh daerah pantai utara Jawa Barat, umumnya menempati daerah
sepanjang jaringan jalan-jalan desa atau berkelompok pada daerah-daerah dekat
pemukiman/pekarangan pendudukan setempat.
e) Rumput/Semak
Tipe penggunaan lahan ini terdapat di daerah-daerah yang kurang produktif lagi bagi
lahan pertanian dan dicirikan dengan banyaknya tumbuhan perdu dan rumput-rumputan
seperti keliara, alang-alang atau tanaman kayu-kayuan yang berdiameter kurang dari 5
cm.
f)

Belukar

Belukar merupakan pertumbuhan tahap pertama kearah pembentukan hutan kembali.


Pada umumnya belukar dicirikan oleh vegetasi yang rapat, yang terdiri dari kayukayuan muda berdiameter 5-30 cm, sedikit bercampur dengan semak dan rumputrumputan. Semakin lama kayu-kayuan tersebut menjadi dominan, sedangkan vegetasi
semak dan rumput-rumputan menjadi kurang. Kelompok pengguna ini dijumpai pada
wilayah bekas perladangan atau tegalan yang ditinggalkan, yang dijumpai hampir
disemua tempat secara terpencar-pencar dengan luasan yang relativesempit. Kelompok
vegetasi yang terdapat pada belukar ini antara lain terdiri dari kaliara, puspa, jeunjing,
herendong, paku-pakuan dan sebagainya.
g) Tambak
Hampir disepanjang pantai di Jawa Barat terdapat tambak yang dibangun dikawasan
bekas hutan mangrove. Tambak-tambak yang ada sebagian besar tambak tradisional
dan beberapa merupakan tambak semi-intensif/intensif yang umumnya dimiliki oleh
perusahaan. Tambak-tambak intensif umumnya merupakan modifikasi dari tambaktambak tradisional sebelumnya. Seiring dengan pesatnya pembangunan tambak maka
semakin banyak juga lahan hutanmangrove yang dikonversi menjadi tambak. Saat ini
diperkirakan luas green belt kurang dari 5 % dari yang seharusnya. Akibat intensifnya
pembukaan lahan untuk tambak, dampak negatif-pun justru dirasakan oleh usaha
tambak itu sendiri. Sejak tahun 1990-an produksi udang justru mengalami penurunan.

Jenis ikan yang diusahakan antara lain : bandeng dan udang yang merupakan sumber
devisa. Penggunaan lahan ini meyebar hampir di seluruh pantai di Jawa Barat.
h) Rawa dan Kolam
Tipe penggunaan lahan ini terpencar-pencar menempati daerah pantai utara dengan
luasan yang sempit-sempit. Kelompok vegetasi umumnya umumya tumbuh dalam
lingkungan yang selalu tergenang air antara lain : purun, mendong (walini). Walaupun
lahan ini tidak diusahakan secara intensif tetapi dapat memberikan hasil tambahan bagi
penduduk sekitarnya disamping usaha pertanian, yaitu dengan memanfaatkan ikan-ikan
rawa seperti gabus dan lain-lain. Pola penggunaan rawa di daerah rawa seperti gabus
dan lain-lain. Tipe penggunaan yang lebih intensif usaha perikanan yang dilakukan
oleh penduduk setempat, terutama pada daerah datar yang sumber air tawarnya cukup
banyak. Usaha ini sebagian besar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan
sebagian untuk dijual dan dapat memberikan hasil tambahan yang cukup berarti
disamping usaha pertanian lainnya.
4.Langkah Kerja
Buka aplikasi ENVI 5.0

Maka hasilnya seperti berikut ini :

Kemudian klik open pada menu toolbar seperti gambar dibawah ini :

Pilih citra landsate 8 hasil penggabungan band 12345679

Kemudian klik statistics => compute statistics

Maka akan muncul kotak dialog baru lalu klik L.12345679 lalu klik ok.

Maka akan muncul seperti gambar dibawah ini:

Maka akan muncul kurva pantulan

Jika hasil perhitungan statistic menunjukkan nilai minimal tiap band tidak nol maka
perlu dilakukan koreksi radio metriks namun jika nilai minimum tiap band suidah nol
maka koreksi radio metrik tidak perlu dilakukan dan citra siap untuk diproses lebih
lanjut.

Lalu klik file => save result to text file.

Lalu choose untuk menyimpan kefolder kita. Kemudian klik ok.

Lalu klik spectral => vegetation => NDVI

Lalu klik 2 kali pada NDVI lalu pilih L.12345679 kemudian klik ok,

Kemudian ubah NDVI calculation parameter ganti NDVI band => red: 4 dan near IR: 5.
Kemudian enter output file name pilih choose dan isikan nama file citra hasil klasifikasi
NDVI kemudian ok.

Maka akan diperoleh kenampakan citra baru hasil klasifikasi NDVI seperti pada gambar
berikut :

kemudian klik statistics pada toolbox kemudian compute statistik.

maka muncul seperti gambar dibawah inikemudian pilih komposit warna, lalu klik ok.

citra hasil klasifikasi NDVI akan memiliki nilai spektral dengan range -1 sampai dengan
1, dimana semakin mendekati angka 1 berarti vegetasinya semakin rapat.

kemudian gunakan clasificatin lalu raster color slices pada toolbox seperti gambar
dibawah ini

kemudian pilih file hasil analisis NDVI sebagai input file

setelah muncul jendela raster color slices, hapus terlebih dahulu semua kelas fengan klik
tombol clear color slices.

dan akan muncul seperti gambar dibawahini

kemudian buatlah 5 kelas kerapatan baru dengan klik tombol new default color. Da
ubah number slices menjadi 5 kemudian klik ok.

maka akanmuncul seperti dibawah ini

lihat hasil density slices jika hasilnya kurang baik atau kurang refresentatif , lakukan
proses color slices ulang dengan mengubah nilai histogram minimal dan
maksimalnya sesuai dengan sebaran nilai spektral hasil analisis NDVI

simpan hasil akhir kelas kerapatan vegetasi terbaik yang diperoleh.

5.Hasil Praktikum
Hasil praktikum adalah Citra Landsat 8 yang telah terkoreksi geometrik dan
radiometrik.

Hasil praktikum berupa file citra hasil klasifikasi NDVI yang menunjukkan peta
kelas kerapatan vegetasi (5 kelas kerapatan).

6.Pembahasan
7.Kesimpulan
8.daftar Pustaka

https://chaderinsaputra.wordpress.com/2012/06/05/laporan-penginderaan-jauh/
http://anakremote.blogspot.co.id/2013/04/envi_6772.html