Anda di halaman 1dari 8

KONSEP KEWAJIBAN

TEORI AKUNTANSI

Di susun oleh :
LIVENO RESGI SIRAIT (13021034)
TRI WULANDARI (13021043)

UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG

KEWAJIBAN
Menurut FASB : Kewajiban adalah pengorbanan manfaat ekonomik masa datang yang cukup
pasti yang timbul dari keharusan sekarang suatu kesatuan usaha untuk mentransferk aset atau
menyediakan / menyerahkan jasa kepada kesatuan lain dimasa datang sebagai akibat
transaksi atau kejadian masa lalu.
Definisi FASB digunakan sebagai basis pembahasan karena definisi tersebut cukup lengkap
secara semantic. Artinya definisi tersebut telah mencakupi berbagai gagasan atau kata kunci
yang terkandung dalam beberapa definisi kewajiban oleh sumber sumber lain.
Secara umum dapat dikatakan bahwa kewajiban mempunyai tiga karakteristik utama yaitu :
1.

Pengorbanan Manfaat Ekonomik

Untuk dapat disebut sebagai kewajiban, suatu objek harus memuat suatu tugas atau tanggung
jawab kepada pihak lain yang mengharuskan kesatuan usaha untuk melunasi, menunaikan
atau melaksanakan dengan cara mengorbankan manfaat ekonomik yang cukup pasti dimasa
datang. Pengorbanan manfaat ekonomik diwujudkan dalam bentuk transfer atau penggunaan
aset kesatuan usaha.
Transfer manfaat ekonomik kepada pemilik (pemegang saham) tidak termasuk dalam
pengertian pengorbanan sumber ekonomik masa datang yang membentuk kewajiban karena
untuk menjadi kewajiban pengorbanan tersebut harus bersifat memaksa dan bukan atas dasar
kebijakan atau keleluasaan manajemen untuk memutuskan baik dalam hal jumlah rupiah
maupun dalam saat transfer.
Secara umum, keharusan mengorbankan sumber ekonomik masa datang tidak dapat menjadi
kewajiban kalau keharusan tersebut bersifat terbuka atau tidak pasti. Kesatuan usaha tidak
mempunyai keharusan untuk mentransfer aset ke pemilik kecuali dalam hal kesatuan usaha
dilikuidasi. Walaupun secara konseptual ekuitas juga merupakan kewajiban bagi perusahaan,
pengorbanan sumber ekonomiknya tidak cukup pasti baik dalam jumlah maupun saat
sehingga kewajiban harus dibedakan dan dilaporkan secara terpisah dengan ekuitas.
2.

Keharusan Sekarang

Untuk dapat disebut sebagai kewajiban, suatu pengorbanan ekonomik masa datang harus
timbul akibat keharusan sekarang. Pengertian sekarang dalam hal ini mengacu pada dua hal
: waktu dan adanya. Waktu yang dimaksud adalah tanggal pelaporan (neraca). Artinya : pada
tanggal neraca kalau perlu atau kalau dipaksakan secara yuridis, etis, atau rasional
pengorbanan sumber ekonomik harus dipenuhi karena keharusan itu telah ada.
Keharusan kewajiban mencakupi keharusan kontraktual, keharusan konstruktif atau
bentukan, keharusan demi keadilan dan keharusan bergantung atau bersyarat.

Keharusan Kontraktual
Keharusan yang timbul akibat perjanjian atau peraturan hukum yang di dalam nya kewajiban
bagi suatu kesatuan udaha di nyatakan secara eksplit atau implicit dan mengikat.
Contoh : utang pajak, utang bunga, utang usaha, utang wesel, dan utang obligasi
Keharusan Konstruktif
Keharusan yang timbul akibat kebijakan kesatuan usaha dalam rangka menjalankan dan
memajukan usahanya untuk memenuhi apa yang disebut praktik usaha yang baik atau etika
bisnis dan bukan untuk memenuhi kewajiban yuridis.
Contoh : servis gratis sepeda motor yang dijanjikan oleh dealer sepeda motor, pengembalian
uang untuk barang yang ternyata cacat atau rusak, dan tunjangan hari raya
Keharusan Demi Keadilan
Keharusan yang ada sekarang yang menimbulkan kewajiban bagi perusahaan semata mata
karena panggilan etis atau moral daripada karena peraturan hukum atau praktik bisnis yang
sehat.
Contoh : kewajiban memberikan donasi untuk badan amal tiap akhir tahun dan kewajiban
member hadiah kepada penduduk yang tinggal di sekitar pabrik karena ketidaknyamanan
yang ditimbulkannya.
Keharusan Bergantung atau bersyarat
Keharusan yang pemenuhannya tidak pasti karena bergantung pada kejadian masa datang
atau terpenuhinya syarat syarat tertentu dimana datang.
3.

Akibat Transaksi atau Kejadian Masa Lalu

Sama seperti definisi aset, criteria ini sebenarnya menyempurkan criteria keharusan sekarang
dan sekaligus sebagai tes pertama pengakuan suatu pos sebagai kewajiban tetapi tidak cukup
untuk mengakui secara resmi dalam system pembukuan. Untuk mengakui sebagai kewajiban,
selain definisi, criteria yang lain seoerti keterukuran, keberpautan, dan keterandalan juga
harus dipenuhi. Transaksi atau kejadian masa lalu adalah criteria untuk memenuhi definisi
tetapi bukan criteria untuk pengakuan. Jadi, adanya pengorbanan manfaat ekonomik masa
datang tidak cukup untuk mengakui suatu objek ke dalam kewajiban kesatuan usaha untuk
dilaporkan via statemen keuangan.
Karakteristik Pendukung
FASB menyebutkan beberapa karakteristik pendukung yaitu :
1. Keharusan membayar kas
Pelunasan kewajiban pada umumnya dilakukan dengan pembayaran kas.

Esensi kewajiban lebih terletak pada pengorbanan manfaat ekonomik masa datang daripada
terjadinya pengeluaran kas. Adanya pengeluaran kas merupakan hal penting untuk
mengaplikasikan definisi kewajiban karena dua hal :
a.

Sebagai bukti adanya suatu kewajiban

b.

Sebagai pengukur atribut atau besarnya kewajiban yang cukup objektif


2. Identitas terbayar jelas

Bila identitas terbayar sudah jelas, hal tersebut hanya menguatkan bahwa kewajiban memang
ada tetapi untuk menjadi kewajiban identitas terbayar tidak harus dapat ditentukan pada saat
keharusan terjadi.
Jadi, yang penting adalah bahwa keharusan sekarang pengorbanan sumber ekonomik dimasa
datang telah ada dan bukan siapa yang harus dilunasi atau dibayar. Akan tetapi, pada saat
pelunasan kewajiban, terbayar dengan sendirinya harus teridentifikasi.
3. Berkekuatan hukum
Keharusan melakukan pengorbanan manfaat ekonomik masa deatang tidak harus timbul dari
desakan pihak eksternal tetapi dari minat atau kebijakan internal manajemen. Itulah sebabnya
kewajiban mencakupi pengorbanan sumber ekonomik masa depan yang timbul akibat
keharusan konstruktif dan demi keadilan. Main pihak lain seperti utang usaha tidak harus di
dukung oleh dokumen yang berkekuatan hukum atau mempunyai daya paksa secara hukum
untuk memenuhi definisi kewajiban. Akan tetapi, demi keadilam dan kewajaran, perusahaan
harus membayar utang usaha tersebut. Pendapatan sewa tak terhak, laba kotor tangguhan, dan
beberapa pos lain yang timbuk dalam penyesuaian akhir tahun memenuhi criteria sebagai
kewajiban meskipun tidak dilandasi oleh daya paksa secara hukum dan bahkan bukan
merupakan keharusan pengorbanan sumber ekonomik. Itulah sebabnya, definisi kewajiban
APB memasukkan beberapa pos kredit tangguhan yang non keharusan sebagai kewajiban.
Laba kotor tangguhan adalah contoh kredit tangguhan yang bukan keharusan. Pos kredit
tangguhan yang merupakan keharusan misalnya adalah kredit pajak tangguhan.
Pengakuan
Pada prinsipnya, kewajiban diakui pada saat keharusan telah mengikat akibat transaksi yang
sebelumnya telah terjadi. Mengikatnya suatu keharusan harus dievaluasi atas dasar kaidah
pengakuan (recognition rules). kriteria pengakuan lebih berkaitan dengan pedoman umum
dalam rangka memenuhi karakteristik kualitatif informasi sehingga elemen statemen
keuangan hanya dapat diakui bila kriteria definisi, keberpautan, keterandalan, dan
keterukuran dipenuhi. Kriteria umum ini tidak operasional sehingga diperlukan kaidah
pengakuan sebagai penjabaran teknis kriteria pengakuan umum. Dalam hal kewajiban, kaidah
pengakuan berkaitan dengan saat atau apa yang menandai bahwa kewajiban dapan diakui
(dibukukan). Empat kaidah pengakuan untuk menandai pengakuan kewajiban yaitu:

1. Ketersediaan dasar hukum


Kaidah ini terkait dengan kualitas keterandalan dan keberpautan informasi. Faktur pembelian
(invoice) dan tanda penerimaan barang (receiving report) merupakan dasar hukum yang
cukup meyakinkan untuk mengakui kewajiban. Telah disebutkan bahwa ketersediaan dasar
hukum yang menimbulkan daya paksa hanya merupakan karateristik pendukung definisi
kewajiban. Jadi, kaidah ini tidak mutlak sehingga kewajiban juga dapat diakui bila terdapat
bukti substantif adanya keharusan konstruktif atau demi keadilan.

2. Keterterapan konsep dasar


Kaidah ini merupakan penjabaran teknis kriteria keterandalan. Keadaan-keadaan tertentu
yang menjadikan konsep konservatisma terterapkan dapat memicu pengakuan kewajiban.
Implikasi dianutnya konsep konservatisma adalah rugi dapat segera diakui tetapi tidak
demikian dengan untung. Ini berarti kewajiban dapat diakui segera sedangkan aset tidak.

3. Ketertentuan substansi ekonomik transaksi


Kaidah ini berkaitan dengan masalah relevansi informasi. Utang sewaguna (lease obligations)
dapat diakui pada saat transaksi meskipun tidak ada transfer hak milik dalam transaksi
sewaguna tersebut. Dalam hal ini, kewajiban dapat atau bahkan harus diakui kalau secara
substantif sewaguna tersebut sebenarnya adalah pembelian angsuran (yaitu memenuhi salah
satu kriteria kapitalisasi).

4. Keterukuran nilai kewajiban


Keterukuran merupakan salah satu syarat untuk mencapai kualitas keterandalan informasi.
Definisi kewajiban mengandung kata cukup pasti (probable) yang mengacu tidak hanya pada
terjadinya pengorbanan sumber ekonomik masa datang tetapi juga pada jumlah rupiahnya.
Saat-saat mengakui kewajiban yaitu:
a.
Pada saat penandatanganan kontrak bila pada saat itu hak dan kewajiban telah
mengikat. Dalam hal kontrak eksekutori, pengakuan menunggu sampai salah satu pihak
memanfaatkan/ menguasai manfaat yang diperjanjikan atau memenuhi kewajibannya (to
perform).
b.
Bersamaan dengan pengakuan biaya bila barang dan jasa yang menjadi biaya belum
dicatat sebagai aset sebelumnya.
c.
Bersamaan dengan pengakuan aset. Kewajiban timbul ketika hak untuk menggunakan
barang dan jasa diperoleh.

d.
Pada akhirnya periode karena penggunaan asas akrual melalui proses penyesuaian.
Pengakuan ini menimbulkan pos utang atau kewajiban akrual (accrued liabilities).
Pengukuran
Pengakuan dilakukan setelah suatu kewajiban terukur dengan cukup pasti. Penentuan kos
kewajiban pada saat terjadi paralel dengan pengukuran asset. Terjadinya kewajiban pada
umumnya disertai dengan pemerolehan asset atau timbulmnya biaya. Pemerolehan asset
dapat berupa penguasaan barang dagangannya atau asset nonmoneter lainnya yang terjadi
dari transaksi pembelian. Pemerolehan asset dapat juga berupa kas yang terjadi dari transaksi
peminjaman (penerbitan obligasi) atau penerimaan uang muka untuk barang atau jasa. Oleh
karena itu pengukur yang paling objektif untuk menentuka kos kewajiban pada saat
terjadinya adalah penghargaan sepakatan (meansured considerations) dalam transaksitransaksi tersebut dan bukan jumlah rupiah pengorbanan ekonomik masa datang. Hal ini
berlaku khususnya untuk kewajiban jangka panjang.
Untuk kewajiban jangka pendek, kos penundaan dianggap tidak cukup material sehingga
jumlah rupiah kewajiban yang diakui akan sama denga jumlah rupiah pengorbanan sumber
ekonimik (kas) masa datang. Dengan kata lain, untuk kewajiban jangka pendek, kos
pendanaan (financing cost) atau kos penundaan (bunga sebagai nilai waktu uang) dianggap
material.
Penghargaan sepakatan suatu kewajiban merefleksi nilai setara tunai atau nilai sekarang
(current value) kewajiban yaitu jumlah rupiah pengorbanan sumber ekonomik seandainya
kewajiban dilunasi pada saat terjadinya. Dengan demikian, bisnis pencatatan kewajiban
adalah nilai setara tunai bukan nilai nominal utang.
Penilaian
Kalau pengukuran mengacu pada penentuan nilai keharusan sekarang (the value of current
obligation) pada saat terjadinya, penilaian mengacu pada penentuan nilai keharusan sekarang
pada setiap saat antara terjadinya kewajiban sampai dilunasinya kewajiban. Makin mendekati
saat jatuh tempo, nilai kewajiban akan makin mendekati nilai nominal (face value)
kewajiban.
Penilaian kewajiban pada saat tertentu adalah penentuan jumlah rupiah yang harus
dikorbankan seandainya pada saat tersebut kewajiban harus dilunasi. Dengan kata lain,
penilaian adalah penentuan nilai sekarang kewajiban. Untuk kewajiban moneter, nilai
sekarangnya biasanya ditentukan atas dasar aliran kas keluar dimasa dtang didiskonan dengan
tingkat bunga pasar sebagai tarif diskon.
Pelunasan
Pelunasan adalah tindakan atau upaya yang segaja dilakukan oleh kesatuan usaha untuk
memenuhi (to satisfy) kewajiban pada saatnya dan dalam kondisi normal usaha (in due
course of business) sehingga bebas dari kewajiban tersebut. Pelunasan biasanya merupakan
pemenuhan secara langsung kepada pihak yang berpiutang. Pelunasan menjadikan kewajiban

tersebut hapus, tiada, atau lenyap (extinguished) secara langsung (kewajiban langsung
didebit).
Perlunasan secara langsung disebut juga perlunasan secara yudiris karena kewajiban kepada
pihak yang berpiutang secara yudiris hapus melalui transaksi langsung yang benar-benar
terjadi. Perlunasan secara tidak langsung terjadi apabila kesatuan usaha melakukan tindakan
yang mengarah ke perlunasan misalnya dengan pembentukan dan khusus untuk perlunasan
(sinking fund) baik dikelola sendiri atau melalui wali amanat (trust agency). Pembentukan
atau penyisihan dana semacam ini menjadikan kesatuan usaha secara substantif menempati
keadaan yang disebut pembatalan atau pembebasan secara substansif (in substance
defeasance).
Masalah akuntansi ysng berkaitan dengan perlunasan langsung maupun tidak langsung adalah
penentuan kapan kewajiban telah dapat dikatakan hapus atau lenyap sehingga jumlah
rupiahnya dapat diakui dari sistem pembukuan. FSAB memberikan pedoman tentang saat
pelenyapan (extiguishment) kewajiban. Pada mulanya FSAB menentukan criteria lenyapan
suatu kewajiban sebagai berikut:
a.
Debitor membayar/melunasi kreditor dan bebas dari semua keharusan yang berkaitan
dengan utang.
b.
Debitor telah dibebaskan secara hukum dari statusnya sebagai penanggung utang utama
baik oleh keputusan pengadilan maupun oleh kreditor dan dapat dipastikan bahwa debitor
tidak akan diharuskan untuk melakukan pembayaran dimasa datang yang berkaitan dengan
utang dengan penjaminan dalam bentuk apapun.
c.
Debitor menaruh kas atau asset lainnya yang tidak dapat ditarik kembali dalam suatu
perwalian yang semata-mata digunakan untuk perlunasan pembayaran bunga serta pokok
suatu pinjaman tertentu dan sangat kecil kemungkinan bagi debitor untuk diharuskan lagi
melakukan pembayaran dimasa dtang yang berkaitan dengan pinjaman tersebut.
FSAB menetapkan bahwa suatu kewajiban dapat dikatakan lenyap kalau salah satu dari
kondisi berikut dipenuhi:
a.
Debobitor membayar kreditor dan terbebaskan dari keharusan yang melekat pada
kewajiban. Membayar kreditor mencakupi penyerahan kas, asset financial lain, barang, atau
jasa atau penebusan sekuritas utang oleh debitor untuk menghapus utang atau untuk
menahannya sebagai utang obligasi treasuri.
b.
Debitor telah dibebaskan secara hukum dari statusnya sebagai penanggung utang utama
baik oleh keputusan pengadilan maupun kreditor.
Penyajian
Secara umum, kewajiban disajikan dalam neraca atas dasar urutan kelancarannya sejalan
dengan penyajian aset. PSAK No. 1 (pasal 39) menggariskan bahwa aset lancer disajikan urut
menurut urutan likuidiats sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh tempo. Ini

berarti kewajiban jangka pendek disajikan lebih dahulu daripada kewajiban jangka panjang.
Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pembaca untuk mengevaluasi likuiditas perusahaan.
PSAK No. 1 menentukan bahwa semua kewajiban yang tidak memenuhi criteria
sebagai kewajiban jangka pendek harus diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang.
Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek bila (paragraph 44) :
a.

Diperkirkan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal opersi perusahaan

b.

Jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca

Suatu kewajiban tetap dapat diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang bila
kewajiban tersebut tidak akan dilunasi tetapi didanai kembali atau diperbarui. Paragraf 47
menyebutkan bahwa kewajiban berbunga jangka panjang tetap diklasifikasikan sebagai
kewajiban jangka panjang, walaupun kewajiban tersebut akan jatuh tempo dalam jangka
waktu dua belas bulan sejak tanggal neraca, apabila :
a.

Kesepakatan awal perjanjian pinjaman untuk jangka waktu lebih dari dua belas bulan

b.
Perusahaan bermaksud membiayai kembali kewajibannya dengan pendanaan jangka
pnjang