Anda di halaman 1dari 14

A.

Pengertian Kredit Macet


Menurut asal mula kata kredit dari kata Credere yang artinya adalah kepercayaan, maksudnya
adalah apabila seseorang memperoleh kredit maka berarti mereka memperolah kepercayaan.
Sedangkan bagi si pemberi kredit artinya memberikan kepercayaan kepada seseorang bahwa
uang yang dipinjamkan pasti kembali. Pengertian kredit menurut Undang-Undang Perbankan
Nomor 10 tahun 1998 adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan
itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain
yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan
pemberian bunga.
Kredit dapat pula diartikan penyediaan uang atau tagihan berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan pinjam meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan peminjam melunasi
utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga,imbalan atau pembagian hasil
keuntungan. Fungsi kredit antara lain meningkatkan daya guna uang dan barang,meningkatkan
peredaran dan lalu lintas uang,alat stabilitas moneter,sarana pemerataan pendapatan,memperluas
hubungan internasional, dan meningkatkan kegiatan berusaha.
Sedangkan kredit macet adalah suatu keadaan dimana nasabah sudah tidak sanggup membayar
sebagian atau seluruh kewajibannya kepada bank seperti yang telah diperjanjikan.

MENCERMATI pidato Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Pertemuan Tahunan Perbankan
Jumat 10 Januari 2003 yang lalu, perlu mendapat perhatian kita bersama bahwa permasalahan
restrukturisasi perbankan selama tahun ini masih akan menghadapi tiga permasalahan penting.
Tiga permasalahan penting tersebut yaitu penanggulangan kredit macet atau Non-Performing
Loans (NPL); ekspansi kredit yang masih kecil; dan rasio kecukupan modal (CAR) yang masih
rentan. Pada hakikatnya, ketiga hal ini sangatlah berkaitan erat satu sama lain bahkan tidak
terpisahkan.
KITA semua sepakat bahwa peranan industri perbankan sangat lah penting dalam pemulihan
ekonomi negara.
Karena itulah biaya terbesar yang harus ditanggung pembayar pajak adalah biaya penyelamatan
industri perbankan dalam bentuk rekapitalisasi. Kredit macet/NPL berpengaruh pada
pertumbuhan kredit.
Sebagaimana data Bank Indonesia yang diterbitkan pada evaluasi perbankan tahun 2002 tanggal
9 Januari 2003 yang lalu, rasio NPL gross (sebelum dikurangi pencadangan modal) perbankan
nasional pada 2002 masih sebesar 10,2 persen.
Tingkat kredit macet yang masih tinggi ini, jika tidak tertanggulangi tentunya akan memakan
modal perbankan sehingga menurunkan tingkat kecukupan modalnya (CAR), yang pada akhir
2002 rata-rata berada pada 22,8 persen.
Hal ini akan berpotensi kembali mengganggu kesehatan perbankan, dan pada gilirannya
membatasi ekspansi kredit.
Penundaan pemberlakuan batas maksimal NPL neto 5 persen dari akhir Desember 2002 menjadi
akhir Semester I 2003, menunjukkan masih sulitnya perbankan nasional mencapai persyaratan
ini.
Dikabarkan masih ada 64 bank (45 persen) dari 141 bank yang memiliki rasio NPL neto di atas 5
persen pada akhir 2002.
Pengelolaan dan penanggulangan kredit macet perlu mendapatkan perhatian lebih serius karena
masalah ini menjadi akar dari masalah-masalah lainnya.
Selama masalah kredit macet ini belum dibenahi, bank-bank masih akan menghadapi risiko
kredit yang tinggi, yang pada gilirannya menghambat ekspansi kredit bank itu sendiri.

B. Jenis kredit
a.Kredit Investasi
Kredit jangka menengah dan panjang untuk investasi barang modal seperti pembangunan
pabrik,pembelian mesin.
b.Kredit Modal Kerja
Kredit jangka pendek atau menengah yang diberikan untuk pembiayaan/pembelian bahan baku
produksi.
c.Kredit Konsumsi
Kredit untuk perorangan untuk pembiayaan barang-barang pribadi seperti rumah (KPR-Kredit
Pemilikan Rumah), kendaraan (KKB-Kredit Kendaraan Bermotor), lain-lain seperti Kredit tanpa
agunan.
d.Kredit Usaha Tanpa Bunga dan Tanpa Agunan
Kredit ini disediakan khusus untuk usaha kecil dan menengah. Kredit semacam ini sangat
meringankan bagi pengusaha namun tahapan seleksi pencairannya sangat ketat, seperti Kredit
Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit InDelSa.

C. Penyebab Kredit Macet


a. Error Omission
Timbulnya kredit macet yang ditimbulkan oleh adanya unsur kesengajaan untuk melanggar
kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan.
b. Error Commusion
Timbulnya kredit macet karena memanfaatkan lemahnya peraturan atau ketentuan yaitu memang
belum ada atau sudah ada, tetapi tidak jelas. Kredit-kredit yang disalurkannya jika banyak yang
macet akan menimbulkan kerugian yang besar. Kerugian yang besar ini akan menghambat
operasi perusahaan. Dan supaya kegiatan perbankan tidak terganggu, maka nanti Pemerintah
juga yang harus memberi injeksi modal. Artinya, rakyat juga yang harus menanggung beban
yang ditimbulkan oleh kredit macet itu. Selain itu, bank-bank. Pemerintah hingga kini masih
dominan dalam jumlah asset terhadap keseluruhan aset perbankan nasional. Biasanya di saat

kredit macet terjadi dan dilakukan pemeriksaan, maka persoalannya tidak akan lepas dari EO dan
EC atau bahkan karena dua-duanya. Berdasarkan pengalaman kasus-kasus perbankan nasional
yang berkaitan dengan kredit macet menimbulkan semacam persepsi yang cenderung menjadi
suatu mitos yang masih dianut, antara lain adalah:
1) Bahwa bank tidak mengalami kerugian akibat resiko kredit. Atas pemahaman ini, maka
merupakan kesalahan sekaligus kejahatan besar apabila pada sebuah bank tercatat adanya
kredit macet. Padahal risiko kredit jelas merupakan risiko yang selalu ada dan tidak bisa
dihindari.
2) Dalam setiap kasus kredit macet, maka selalu diartikan itu karena terjadi kolusi dan atau
korupsi apakah oleh pihak oknum bankir ataupun oknum nasabahnya. Hal tersebut bisa saja
terjadi, tetapi tidak semua kredit macet karena kolusi dan korupsi.
3) Dalam setiap penanganan kredit macet selalu mengutamakan pendekatan sapu jagat di
mana going concern baik bank dan perusahaannya menjadi diabaikan. Kalau kredit macet itu
karena ulah oknumnya, maka bukan berarti bank ataupun perusahaannya harus dimatiin. Bank
yang tercemar akan menimbulkan efek domino berupa terjadi krisis kepercayaaan terhadap
industri perbankan. Efek domino itu sering negatif melalui pencairan dana dan melarikannya ke
luar negeri.
4) Ada kecenderungan kajian atas kredit macet mengabaikan term of reference masa lalu. Kredit
yang diputus tahun 2000, misalnya, dan kemudian macet tahun 2004, maka berusahalah dikaji
atas dasar term of reference pada tahun 2000. Misalnya, hal-hal yang berkaitan dengan asumsi.
Dengan pedekatan term of reference, biasanya akan diketahui apakah kredit macet itu karena
error omission atau error commission. Jadi kesalahannya bisa saja bukan pada dasar
keputusannya, tetapi karena masalah monitoring dan pembinaan bank terhadap nasabahnya.
Sama-sama salah, tetapi esensinya menjadi lebih jelas dan memudahkan menemukan siapa yang
bertanggung jawab, bukan siapa yang dipersalahkan.
Harusnya kalau kredit macet itu terbukti memang karena oknumnya yang salah, maka segera saja
proses secara hukum terhadap oknumnnya. Itu pun dengan tetap menjaga asa praduga tak
bersalah. Adalah sangat bijak kalau bank dan perusahaannya bisa dibiarkan berjalan terus apakah
oleh manajemen baru atau kalau perlu ditunjuk dari kalangan professional atas dasar penugasan
dari Negara. Sebab sangatlah tidak tepat dan bijaksana kalau perusahaannya harus ditutup di
mana para pekerjanya yang sama sekali tidak bersalah akan ikut menjadi korbannya.
D. Penyeselaian Kredit Macet

Apabila sampai terjadi kredit macet, maka harus melakukan upaya-upaya dalam mengatasi kredit
macet sampai tidak ada alternatif lainnya, serta melakukan penghapusan kredit dan pengelolaan
kredit yaitu telah dihapus bukukan. Penyelamatan kredit bermasalah tersebut dilakukan dengan
cara (Recedulling, Reconditioning, Retructurng).
a. Penjadwalan kembali (Rescheduling), yaitu perubahan syarat kredit yang hanya menyangkut
jadwal pembayaran dan atau jangka waktunya.
b. Persyaratan kembali (Reconditioning), yaitu perubahan sebagian atau seluruh syarat-syarat
kredit yang tidak terbatas pada perubahan jadwal pembayaran, jangka waktu dan atau
persyaratan lainnya, sepanjang tidak menyangkut maksimum saldo kredit.
c. Penataan kembali (Restructuring), yaitu perubahan syarat-syarat kredit yang meliputi
reschedulling, reconditioning.
E. Pencegahan Kredit Macet
Ada 5 kriteria bank dalam menilai permintaan kredit yang dikenal juga dengan 5C (the five C`s
of credit) yaitu :
1. Character
Watak atau kepribadian dari calon pemimjam perlu diteliti secara hati-hati misalnya ketaatannya,
kejujurannya memenuhi kewajiban-kewajiban pada masa lalu, pernah atau tidak terlibat dalam
suatu masalah hukum, keadaan keluarga, kebasaan serta sifat pergaulan. Sedangkan pada badan
usaha yang dinilai adalah pemimpin yang mengendalikan perusahaan.
2. Capacity
Bank harus mengetahui sampai dimana kemampuan menjalankan usaha calon pemimjam .
Kemampuan ini menyangkut dua hal yaitu :
a. Kemampuan mengelola perusahaan dengan baik sehingga bisa berkembang (management
capacity)
b. Kemampuan melunasi kredit (capacity to repay).
3. Capital
Penilaian terhadap modal perusahaan sangatlah penting. Dalam penilaian ini yang dutamakan
adalah berapa banyak dan bagaimana struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan calon
pemimjam.
4. Condition Economy

Dalam memberikan kredit, bank harus mengetahui kondisi ekonomi regional maupun
internasional.. hal ini terutama berhbungan langsung dengan usaha calon peminjam dengan
keamanan kredit itu sendiri.
5. Collateral
Biasanya jaminan itu terdiri atas barang-barang tidak bergerak seperti tanah, rumah dan pabrik
seperti barang bergerak seperti kendaraan bermotor. Adapun yang disimpan oleh bank hanya
berupa surat-suratnya saja misalnya sertifikat tanah atau rumah dan BPKP.

Kerangka 3R :
Returns
Pihak bank harus dapat memperkirakan bahwa kredit yang diberikan kepada nasabah dapat
menghasilkan return (pendapatan) yang memadai.
Repayment capacity
Pihak bank harus dapat memastikan bahwa nasabah mampu untuk melunasi pinjamam dan
bunganya pada saat pembayaran tersebut jatuh tempo.
Risk-bearing ability
Pihak bank perlu mempertimbangkan jaminan yang dimiliki oleh nasabah. Jaminan tersebut
dapat digunakan apabila nasabah menghadapi risiko kegagalan atau ketidakpastian yang
berkaitan dengan penggunaan kredit yang diberikan.

Risiko tinggi
Secara umum tingkat risiko kredit (credit risk rating) debitor-debitor Indonesia masih akan
tinggi, sehingga meningkatkan pula tingkat risiko kredit perbankan nasional maupun country risk
secara umum.
Dari sisi nilai usaha binis bank itu sendiri, tingkat kredit macet akan mempengaruhi nilai bank,
apalagi dalam hal bank-bank BTO (Bank Take Over) yang sedang dalam proses divestasi.
Dari sisi aset perbankan, tingginya risiko kredit menyebabkan kucuran kredit kepada sektor riil
masih tersendat-sendat padahal sektor ini memerlukan dana untuk investasi dan produksi.
Terbukti pada tahun 2002 yang lalu, tercatat pertumbuhan kredit "hanya" sebesar Rp 43,8 trilyun
atau hanya 4 persen dari total aset perbankan sebesar Rp 1.095,8 trilyun.
Namun, dari pertumbuhan tersebut hampir seperempatnya merupakan kredit konsumsi,
sedangkan kredit kepada sektor industri justru menurun 7 persen dibandingkan dengan tahun
2001.
Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit kepada sektor produksi masih rendah karena
bank masih mengkhawatirkan tingginya resiko kredit tersebut.
Apalagi bank harus senantiasa melaksanakan praktik kehati-hatian perbankan (prudential
banking practices), dan menghindari pengucuran kredit secara super-agresif seperti yang terjadi
pada masa sebelum krisis 1997-1998.

Obligasi dominan
Kondisi bank yang masih takut menghadapi risiko kredit yang tinggi ini menyebabkan perbankan
nasional belum optimal menjalankan fungsi intermediasinya di tahun 2002.
Hal ini terbukti dari masih dominannya aset perbankan dengan instrumen-instrumen obligasi
pemerintah dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebesar 51,5 persen, serta penempatan antarbank
(interbank placement) sebesar 12,5 persen.
Sedangkan kredit hanya 37,8 persen dari total aset perbankan dan rasio Loan to Deposit (LDRperbandingan antara kredit dengan total dana pihak ketiga) masih berada pada angka 38,2 persen.
Akibatnya laba usaha perbankan masih lebih banyak dikontribusikan dari pendapatan bunga
obligasi dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang relatif tergolong risk free atau bebas risiko.
Pendapatan dari penyaluran kredit hanya menyumbangkankan tidak lebih dari 35 persen laba
perbankan pada 2002.
Dengan komposisi aset seperti di atas, pada tahun 2003 ini perbankan berpotensi menghadapi
gangguan cash flow (arus kas), sehubungan dengan rencana BI sendiri untuk menurunkan suku
bunga.
Hal ini pula yang akhirnya menyebabkan negative spread yang memakan modal industri
perbankan itu sendiri. Negative spread terjadi karena dana pihak ketiga (DPK) masih didominasi
dana mahal yaitu deposito (54 persen dari total DPK pada 2002).
Akibat negative spread ini, maka secara bisnis, bank masih merugi karena tidak mendapatkan
pendapatan bunga secara riil dari penyaluran kredit dengan bunga komersial.
Dengan demikian, perbankan memang sangat membutuhkan aset kredit yang lancar berbunga
komersial agar dapat mempertahankan laba usahanya serta mengkompensasikan penurunan
pendapatan bunga obligasi mengambang serta SBI.
Sebenarnya alternatif pembelian aset dari BPPN juga merupakan cara cepat dalam meningkatkan
aset kredit perbankan.
Sayangnya hal ini justru tidak lah banyak membantu karena rendahnya kualitas aset-aset BPPN
karena belum direstrukturisasi, sehingga berisiko kredit tinggi yang akhirnya memakan cadangan
modal perbankan.
Hal ini sama saja dengan menambah tingkat kredit macet di perbankan. Oleh karena itu
pembatasan yang diatur BI dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 4 tahun 2002 memang

perlu dilakukan agar aset-aset eks-BPPN ini tidak malah akhirnya membebani perbankan itu
sendiri.

Sulit ditanggulangi
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa masalah kredit macet perlu ditanggulangi secara serius agar
fungsi intermediasi perbankan dapat optimum kembali.
Penanggulangan kredit macet juga akan berdampak positif bagi tingkat kecukupan modal bank,
karena beban pencadangan modal menjadi lebih ringan. Jadi pembenahan kredit macet masih
merupakan kunci restrukturisasi perbankan nasional di tahun 2003.
Masalahnya banyak bank mengalami kesulitan membenahi kredit macetnya karena tidak berdaya
menghadapi debitor yang tidak kooperatif dan tidak dapat mengambil langkah hukum terhadap
mereka.
Tindakan hukum kepada debitor penunggak utang sudah selayaknya merupakan hak bank
sebagai kreditor. Apalagi hampir seluruh perjanjian kredit perbankan mensyaratkan demikian.
Tentu saja, sedapat mungkin tindakan hukum kiranya menjadi upaya terakhir, jika kata sepakat
antara debitor kredit macet dan bank tidak kunjung tercapai.
Namun, perlu diingat bahwa tindakan hukum merupakan perlindungan atas hak kreditor dan hal
ini adalah wajar sebagai cara terakhir sumber pengembalian dana masyarakat.
Sayangnya, tindakan hukum yang dilakukan oleh bank, seperti penyitaan, pelelangan aset,
kepailitan dan sebagainya, selalu dianggap sebagai hal yang negatif dan merugikan debitor.
Padahal, tindakan menunggak utang dan menunda penyelesaiannya secara substansi lebih
merugikan karena selain mengganggu kesehatan bank, juga membahayakan pengembalian dana
masyarakat.
Pengembalian dana masyarakat penabung merupakan hal yang sangat penting karena dana ini
adalah benar-benar milik masyarakat penabung yang disalurkan sebagai kredit kepada debitor
macet.
Jadi, penanganan kredit macet juga berdampak pada pemulihan kepercayaan masyarakat
penabung, sehingga rencana BI mengurangi cakupan Program Penjaminan (Rekening 502)
secara bertahap dapat berjalan.
Pada kenyataannya, sangat sedikit bank yang berhasil melakukan tindakan hukum atas debitor
kredit macetnya.
Pengambilalihan barang jaminan pun, pada kenyataannya tidak mudah untuk dilakukan. Selain
dokumentasi perbankan sendiri yang terkadang tidak lengkap, perangkat hukum yang ada

tampaknya jauh dari memadai.Akibatnya, ada beberapa bank yang menggunakan cara di luar
jalur hukum" seperti melakukan penagihan secara fisik dengan menggunakan pihak ketiga (debt
collector).

Peran BI
Oleh sebab itu, diperlukan peran yang lebih aktif dari BI untuk membantu perbankan secara
lebih sistematik dalam penanganan kredit macet.
BI tampaknya perlu lebih memberikan perhatian kepada kesulitan-kesulitan yang dihadapi
perbankan nasional dalam menegakkan hak-haknya sebagai kreditor dan membantu mencarikan
jalan keluar yang konstruktif hingga ke tingkat teknis.
BI perlu mengkaji kembali peraturan-peraturan yang lebih tinggi seperti berbagai undang-undang
yang berkaitan langsung dengan permasalahan kredit macet dan perlindungan hak kreditor
seperti masalah penjaminan aset, pertanahan, hak tanggungan, dan sebagainya.
Hal-hal ini tampaknya masih kurang mendapat perhatian dalam Undang-undang Perbankan (No
7 Tahun 1992 yang kemudian diubah dengan UU No 10 Tahun 1998) itu sendiri.
Jika diperlukan, BI perlu mengambil peran lebih aktif dengan DPR dan berbagai instansi
pemerintah, dalam melakukan revisi dan perbaikan struktur hukum yang mengatur masalah
perkreditan.
Selanjutnya, BI harus bekerja sama dengan instansi lainnya khususnya aparat hukum, agar
penegakan hak bank sebagai kreditor dapat berjalan.
Jadi, BI sebagai regulator tidak hanya mengeluarkan peraturan saja, tetapi harus secara aktif pula
membantu perbankan agar peraturan Bank Indonesia sendiri dapat dilaksanakan secara realistis.
Kalau Bank Indonesia dapat benar-benar mendukung pembenahan kredit macet di bank-bank,
niscaya permasalahan bank dalam memenuhi target maksimal NPL neto sebesar 5 persen dapat
dipenuhi.
Dengan demikian, tingkat risiko kredit dapat ditekan yang pada gilirannya, pertumbuhan kredit
dengan sendirinya akan meningkat.
Pemulihan industri perbankan nasional pascarekapitalisasi tentunya perlu mendapatkan perhatian
dan perlindungan, karena mahalnya biaya yang sudah dan akan dibayar oleh rakyat demi
keselamatan industri perbankan itu sendiri.
Untuk itu, perlindungan atas hak-hak perbankan sebagai kreditor dalam rangka penanggulangan
kredit macet harus lah menjadi perhatian utama seluruh pihak, baik Bank Indonesia, pemerintah
maupun aparat penegak hukum.

Inilah salah satu kunci terpenting pemulihan perbankan nasional ke depan yang kita harapkan
bersama.

Beberapa akibat
Akibat langsung lemahnya perlindungan atas hak bank sebagai kreditor adalah, pertama, debitor
cenderung menjadi tidak bertanggung jawab, tidak kooperatif atas penyelesaian atas
pinjamannya, karena tidak adanya konsekuensi atas tindakan penunggakan utang.
Kedua, industri perbankan akan semakin sulit melakukan ekspansi kreditnya, karena bank harus
semakin berhati-hati dengan potensi kredit macet. Dengan demikian fungsi intermediasi
perbankan nasional menjadi tidak optimum.
Ketiga, praktik pemberian kredit secara KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) menjadi semakin
marak, karena pemberian kredit tidak didasari atas layak tidaknya risiko kredit.
Keempat, debitor kooperatif tidak mendapatkan insentif atas sikapnya yang bertanggung jawab,
bahkan cenderung dirugikan secara ekonomis.
Kelima, masyarakat luas akan semakin sulit mendapatkan pinjaman perbankan untuk hal-hal
yang bersifat produktif.
Keenam, kepercayaan kepada industri perbankan nasional tidak cepat pulih karena masih
tingginya tingkat kredit macet. Ketujuh, pada gilirannya, restrukturisasi perbankan dan
pemulihan ekonomi menjadi terhambat.
Situasi di atas menyebabkan banyak bank melakukan alternatif lain, yaitu menjual portofolio
kredit macetnya.
Meskipun hal ini umum dilakukan, terutama oleh bank-bank asing, dalam konteks perbankan
nasional, penjualan portofolio kredit macet memberikan sinyal yang salah kepada debitor secara
umum, karena secara efektif memberikan diskon kepada debitor macet secara besar-besaran.
Akibatnya, debitor lancar menjadi tergoda untuk memacetkan utangnya.
Mereka merasa dirugikan karena saingan bisnisnya yang memiliki kredit macet malahan
mendapat keringanan. Akibatnya, debitor lancar manjadi kalah bersaing.
Disinsentif ini mengakibatkan perilaku (attitude) debitor yang cenderung menjadi tidak peduli
atas kelancaran pengembalian pinjamannya.
Jadi, penanganan kredit macet dengan cara menjual portofolio kredit macet malahan berakibat
negatif kepada perbankan nasional itu sendiri.