Anda di halaman 1dari 41

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan petunjuk dan kekuatan untuk menyelesaikan Bahan Ajar
Ketrampilan Praktek Klinik. Buku ini merupakan bahan ajar bagi mahasiswa
DIII Kebidanan, serta praktisi kesehatan pada umumnya yang mana buku ini telah
disesuaikan dengan GBPP. Buku ini ditulis untuk memenuhi kebutuhan dan
tututan perkembangan ilmu kebidanan, yang disesuaikan dengan kurikulum
terbaru pada program pendidikan kebidanan yang berbasis kompetensi.
Buku ini merupakan salah satu sumber pustaka yang dapat dijadikan
pegangan oleh mahasiwa, dosen, dan praktisi kesehatan (seperti bidan, perawat,
kesehatan masyarakat, dokter, dll). Selain mahasiswa D III Kebidanan, sasaran
pembaca dari buku ini adalah mahasiswa Akademi Perawat, Fakultas Kedokteran
dan para akademisi yang membutuhkan.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang tak
terhingga kepada semua pihak yang telah banyak membantu serta dukungan luar
biasa yang diberikan kepada penulis sehingga buku ajar ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan salam pembuatan
buku ajar ini, penulis juga sangat menginginkan kepada semua pembaca untuk
dapat memberikan masukan dan kritikan demi kesempurnaan isi dari buku ini.
Akhir kata penulis ucapakan selama membaca, semoga kita dapat
memanfaatkan buku ini dengan dasar niat yang baik untuk mengaplikasikannya
dalam memberikan pelayanan dasar kebidanan kepada masyarakat secara optimal.
Semarang ,

September 2013

Penulis

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi,
Tinjauan Mata Kuliah
BAB I. .
BAB II.
BAB III. ..
BAB IV. ..................................................
(dan seterusnya sesuai kebutuhan)
Daftar Pustaka
Jawaban Pertanyaan Kunci
Senarai

Halaman
I
Ii
Iii
1
.
.
.
.
.
.
.

TINJAUAN MATAKULIAH
A. Deskripsi Singkat Mata Kuliah

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Mata kuliah ini memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk


menerapkan Ketrampilan Dasar Praktek Klinik dalam praktek kebidanan terhadap
ibu bayi dan anak balita didasari dengan konsep-konsep sikap dan ketrampilan
serta hasil evidence based dengan pokok bahasan : Pemeriksaan fisik pada ibu
dan bayi.
B. Kegunaan/Manfaat Matakuliah
Dengan adanya mata kuliah Ketrampilan Dasar Kebidanan 1 (KDK1)
dengan materi Pemeriksaan fisik pada ibu dan bayi, diharapkan mahasiswa
menjadi lebih kompeten dalam melakukan praktek Ketrampilan Dasar Kebidanan
1 dan lebih profesional dalam memberikan pelayanan dasar kebidanan pada
pasien.
C. Standar Kompetensi Mata Kuliah
Standar kompetensi mata kuliah Ketrampilan Dasar Praktek Klinik ini
adalah Mahasiswa dapat mengimplementasikan teori pemeriksaan fisik pada ibu
dan bayi.
D. Susunan Urutan Bahan Ajar
1. Konsep dasar pemeriksaan fisik:
a. Prinsip dasar pemeriksaan fisik
b. Teknik pemeriksaan fisik
c. Pemeriksaan fisik persisten
d. Pemeriksaan fisik head to toe
2. Pemeriksaan fisik
a. Pemeriksaan fisik pada bayi dan balita
b. Teknik pemeriksaan fisik
E. Petunjuk bagi Mahasiswa
4

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Jawablah soal-soal dibawah ini, untuk mengukur bagaimana tingkat pemahaman


Anda terhadap materi yang telah dipelajari, maka Anda dapat mencoba untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan kunci. Apabila mampu menjawab pertanyaan
kunci tersebut tersebut dengan benar, maka anda baru diperbolehkan melanjutkan
menjawab soal, Anda dapat melanjutkan belajar
Pem pada bab-bab berikutnya. Namun
apabila pemahaman Anda belum sempurna,
hendaknya membaca kembali materi
eriks
yang disajikan pada bab ini, sampai merasa
aan paham dan dapat menjawab

Fisik
pada
Ibu
dan
Bayi

pertanyaan berikut ini dengan benar.

A. Kompetensi dasar dan Indikator


No.
1.

Kompetensi Dasar
Melakukan pemeriksaan

fisik

pada ibu dan bayi

Indikator
1. Melakukan pemeriksaan fisik pada ibu
2. Melakukan pemeriksaan fisik pada bayi
dan balita

B. Deskripsi Singkat
Pada BAB ini mejelaskan kepada mahasiswa menjelaskan mengenai :
1. Konsep dasar pemeriksaan fisik:
a. Prinsip dasar pemeriksaan fisik
b. Teknik pemeriksaan fisik
c. Pemeriksaan fisik persisten
d. Pemeriksaan fisik head to toe
2. Pemeriksaan fisik
5

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

a. Pemeriksaan fisik pada bayi dan balita


b. Teknik pemeriksaan fisik

PENDAHULUAN

Pemeriksaan fisik adalah salah satu teknik pengumpul data untuk


mengetahui keadaan fisik dan keadaan kesehatan. Dalam pemeriksaaan fisik
dapat menggunakan berbagai teknik antara lain inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi. Dimana cara-cara pemeriksaan fisik ini mahasiswa harus mampu
menerapkannya kepada pasien langsung pada saat praktek kinik dan
melakukan pada phantom sewaktu praktikum.

TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan fisik pada ibu.


2. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan fisik pada bayi dan balita.

U R A I A N M ATE R I
A. Konsep dasar pemeriksaan fisik
6

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

1. Prinsip dasar pemeriksaan fisik


Pemeriksaan fisik adalah salah satu teknik pengumpul data untuk
mengetahui keadaan fisik dan keadaan kesehatan. (Ambarwati, 2009).
2. Teknik pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
Inspeksi adalah memeriksa dengan melihat dan mengingat .
Langkah kerja :

Atur pencahayaan yang cukup

Atur suhu dan suasana ruangan nyaman

Posisi pemeriksa sebelah kanan pasien

Buka bagian yang diperiksa

Perhatikan kesan pertama pasien : perilaku, ekspresi, penanmpilan


umum, pakainan, postur tubuh, dan gerakan dengan waktu cukup.

Lakukan inspeksi secara sistematis, bila perlu bandingkan bagian


sisi tubuh pasien.

b. Palpasi
Palpasi adalah pemeriksaan dengan perabaan, menggunakan
rasa propioseptif ujung jari dan tangan.
Cara kerja :

Daerah yang diperiksa bebas dari gangguan yang menutupi

Cuci tangan

Beritahu pasien tentang prosedur dan tujuannnya

Yakinkan tangan hangat tidak dingin

Lakukan perabaan secara sistematis , untuk menentukan ukuran,


bentuk, konsistensi dan permukaan :
Jari telunjuk dan ibu jari --> menentukan besar/ukuran
Jari 2,3,4 bersama --> menentukan konsistensi dan kualitas
benda
Jari dan telapak tangan --> merasakan getaran
Sedikit tekanan --> menentukan rasa sakit

c. Perkusi
7

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Adalah pemeriksaan dengan cara mengetuk permukaan badan


dengan cara perantara jari tangan, untuk mengetahui keadaan organorgan didalam tubuh.
Cara Kerja :

Lepas Pakaian sesuai dengan keperluan

Luruskan jari tengah kiri , dengan ujung jari tekan pada permukaan
yang akan diperkusi.

Lakukan ketukan dengan ujung jari tengah kanan diatas jari kiri,
dengan lentur dan cepat, dengan menggunakan pergerakan
pergelangan tangan.

Lakukan perkusi secara sistematis sesuai dengan keperluan.

d. Auskultasi
Adalah pemeriksaan mendengarkan suara dalam tubuh dengan
menggunakan alat STETOSKOP.

B. Pemeriksaan fisik persisten


1. Tekanan Darah
Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding ateri.
Tekanan ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti curah jantung,
ketegangan arteri, laju serta kekentalan (viskositas) darah. Tekanan darah
terjadi akibat fenomena siklis. Tekanan puncak terjadi saat ventrikel
berkontraksi dan disebut tekanan sistolik. Tekanan diastolik adalah tekanan
terendah, yang terjadi saat jantung beristirahat. Tekanan darah biasanya
digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan diastolik,
dengan nilai dewasa normalnya

berkisar dari 100/60 mmHg sampai

140/90 mmHg. Rata-rata tekanan darah normal biasanya 120/80 mmHg.


Tekanan darah sistolik dihasilkan oleh otot jantung yang
mendorong isi ventrikel masuk kedalam arteri yang telah teregang. Selama
diastole arteri masih tetap menggembung karena tahanan periferi dari
arteriole-arteriole menghalangi semua darah mengalir dalam jaringan.
8

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Maka tekanan darah sebagian tergantung pada kekuatan dan volume darah
yang dipompa oleh jantung dan sebagian pada kontraksi otot dalam
dinding arteriole. Kontraksi ini dipertahankan oleh saraf vasokonstriktor,
ini dikendalikan oleh pusat vasomotorik dalam medula oblongata.
Perbedaan Tekanan Darah Normal (dalam mmHg)
Diastolik

Sistolik

Pada masa bayi

50

70-90

Pada masa anak-anak

60

80-100

Selama masa remaja

60

90-110

Dewasa muda

60-70

110-125

Umur lebih tua

80-90

130-150

Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah, terdiri dari :


1. Kekuatan jantung memompakan darah, membuat tekanan yang
dilakukan jantung sehingga darah bisa beredar keseluruh tubuh dan
darah dapat kembali lagi kejantung.
2. Viskositas (kekentalan) darah, disebabkan oleh protein plasma dan
jumlah sel darah yang beredar dalam aliran darah.
3. Elastisitas dinding aliran darah, didalam arteri tekanan lebih besar dari
pada dalam vena sebab otot yang membungkus arteri lebih elastis dari
pada vena.
4. Tahanan tepi, tahanan yang dikeluarkan oleh darah mengalir dalam
pembuluh darah dalam sirkulasi darah yang berada dalam arterial.
Turunnya tekanan mengakibatkan denyut pada kapiler dan vena tidak
teraba.
2. Denyut Nadi
Darah yang meninggalkan ventrikel kiri jantung, kaya akan
oksigen dan berwarna merah cerah. Darah dipompa kedalam aorta oleh
kontraksi ventrikel kiri yang menimbulkan suatu area dengan tekanan yang
meningkat dan akan berjalan sepanjang arteri seperti sebuah gelombang.
9

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Ketika darah dipompa keluar dari ventrikel kiri, aorta terisi penuh,
sehingga ia harus menggelembung (distensi) untuk dapat mengakomodasi
darah tambahan. Ketika ventrikel kiri relaksasi, katup aorta menutup dan
aorta yang elastis ini akan kembali kediameter semula. Kembalinya aorta
kediameter semula (rekoil) sangatlah penting karena ini merupakan
mekanisme, darah secara terus menerus dipompa keseluruh bahkan saat
ventrikel relaksasi. Distensi dan rekoil aorta menciptakan gelombang
distensi dan rekoil yang disebut nadi, yang akan berjalan disepanjang
semua arteri besar dan yang dapat diraba dengan jari ditempat arteri bisa
ditekan pada tulang. Karena denyutan jantung menghasilkan pulsasi nadi,
maka frekuensi dan sifat denyutan tersebut dapat dinilai dengan
megevaluasi nadi yang dihasilkan.
Saat memeriksa nadi, faktor-faktor yang perlu dievaluasi adalah
kecepatan, irama, kualitas, konfigurasi gelombang nadi, dan kualitas
pembuluh darah itu sendiri.
Frekuensi nadi. Frekuensi nadi normal bervariasi dari serendah 50
pada orang muda sehat atletis sampai setinggi lebih dari 100 setelah
latihan. Bila kecepatannya lebih dari yang diharapkan, maka perlu dikaji
ulang pada akhir pemeriksaan fisik.
Irama nadi. Irama nadi sama pentingnya dengan frekuensi nadi
untuk dikaji. Ketidakteraturan minimal pada nadi masih dianggap normal.
Kecepatan nadi terutama pada orang muda, meningkat selama inspirasi
dan melambat selama ekspirasi, dinamakan disritmia sinus. Bila irama
nadi tidak teratur, maka frekuensi jantung harus dihitung dengan
mengauskultasi denyut apikal selama 1 menit penuh sambil

meraba

denyut nadi. Gangguan irama (disritmia) sering mengakibatkan defisit


nadi, suatu perbedaan antara frekuensi apeks (frekuensi jantung yang
terdengar di apeks jantung) dan frekuensi nadi.
Konfigurasi nadi. Konfigurasi atau kontur nadi sering dapat
memberikan informasi penting. Pada stenosis katup aorta, dimana muara
10

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

katup menyempit disertai penurunan jumlah darah yang disemburkan ke


aorta, maka tekanan nadi akan mengecil dan nadi terasa lemah. Pada
insufisiensi aorta, dimana katup aorta tidak dapat menutup sempurna
sehingga darah mengalir balik atau bocor dari aorta ke ventrikel kiri, akan
terjadi peningkatan gelombang nadi yang mendadak dan menurun pula
secara mendadak nadi

kolaps. Konfigurasi nadi paling baik diperiksa

dengan palpasi pada arteri karotis, karena karakteristik dramatik


gelombang nadi bisa kacau ketika nadi dihantarkan ke pembuluh darah
yang lebih kecil.
Kualitas pembuluh darah. Kondisi dinding pembuluh darah juga
mempengaruhi nadi dan harus diperhatikan terutama pada lansia. Begitu
kecepatan dan irama sudah ditentukan, maka kualitas pembuluh darah
harus dikaji dengan meraba sepanjang arteri radialis dan membandingkan
dengan pembuluh normal.
Untuk mengkaji peredaran darah perifer, raba dan evaluasi semua
denyut arteri. Denyut arteri dapat diraba pada titik-titik dimana arteri
mendekati permukaan kulit dan mudah ditekan ke tulang atau otot yang padat.
Denyutan dapat diperiksa di artei temporalis, karotis, brakhialis, radialis,
femoralis, poplitea, dorsalis pedis, dan tibia posterior. Denyutan arteri
ekstremitas bawah sangat tergantung pada

pada penentuan lokasi

arteri.Tekanan jari yang kuat dapat menghilangkan

denyut arteri dorsalis

pedis dan tibialis posterior.

11

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

12

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Tempat
Temporai

Letak
Pengkajian
Diatas tulang tengkorak, diatas dan Bagian yang mudah dicapai digunakan
lateral terhadap mata

Karotid

Sepanjang

tepi

untuk mengkaji nadi pada anak-anak


medial

otot Bagian yang mudah digunakan pada

sternokleidomastoid dileher

saat syok psikologis atau henti jantung


saat bagian lain tidak dapat diraba

Apikal

Rongga interkostal keempat sampai Bagian


kelima pada garis midklavikural kiri

Brakial

untuk

mengauskultasi nadi apikal


status sirkulasi ke lengan bawah

Radial atau disisi ibu dari jari Bagian


telunjuk pada pergelangan tangan

Ulnar

digunakan

Alur diantara otot bisep dan trisep Bagian ini digunakan untuk mengkaji
pada fosa antekubital

Radial

ini

Bagian

ulnar

dari

ini

digunakan

untuk

mengauskultasi tekanan darah

pergelangan Bagian yang biasa digunakan untuk

tangan

mengkaji karakter nadi perifer dan


mengkaji status sirkulasi ke tangan.

Femoral

Dibawah ligamen inguinal ditengah Bagian ini digunakan untuk mengkaji


antara simfisis fubis dan spina iliaka status sirkulasi ke tangan. Bagian ini
anterior superior

Poplitea

Diberlakang

juga digunakan tes allen.

tumit

pada

popliteal

fosa Bagian ini digunakan untuk mengkaji


status nadi lain tidak dapat diraba dan
digunakan

untuk

mengkaji

status

sirkulasi ke tungkai
Tibia posterior

Bagian dalam pergelangan kaki Bagian ini digunakan untuk mengkaji


dibawah malelous madeal

status sirkulasi ke tungkai bagian


bawah

Pedis dorsal

Sepanjang bagian atas kaki diantara Bagian ini digunakan untuk mengkaji
tendon

ekstensi

dari

jari

kaki status sirkulasi ke kaki

pertama dan besar.


C. Pemeriksaan fisik head to toe
1. Persiapan
13

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

a. Alat
Meteran, Timbangan BB, Penlight, Steteskop, Tensimeter/
spighnomanometer, Thermometer, Arloji/ stopwatch, Refleks Hammer,
Otoskop, Handschoon bersih ( jika perlu), tissue, buku catatan perawat.
Alat diletakkan di dekat tempat tidur klien yang akan di periksa.
b. Lingkungan
Pastikan ruangan dalam keadaan nyaman, hangat, dan cukup
penerangan. Misalnya menutup pintu/jendala atau skerem untuk
menjaga privacy klien
c. Klien (fisik dan fisiologis)
Bantu klien mengenakan baju periksa jika ada dan anjurkan klien untuk
rileks.
2. Prosedur Pemeriksaan
a. Cuci tangan
b. Jelaskan prosedur
c. Lakukan pemeriksaan dengan berdiri di sebelah kanan klien dan pasang
handschoen bila di perlukan
d. Pemeriksaan umum meliputi : penampilan umum, status mental dan
nutrisi.
Posisi klien : duduk/berbaring
Cara : inspeksi
1) Kesadaran, tingkah laku, ekspresi wajah, mood. (Normal : Kesadaran
penuh, Ekspresi sesuai, tidak ada menahan nyeri/ sulit bernafas)
2) Tanda-tanda stress/ kecemasan (Normal :)Relaks, tidak ada tanda-tanda
cemas/takut)
3) Jenis kelamin
4) Usia dan Gender
5) Tahapan perkembangan
6) TB, BB ( Normal : BMI dalam batas normal)
7) Kebersihan Personal (Normal : Bersih dan tidak bau)
14

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

8) Cara berpakaian (Normal : Benar/ tidak terbalik)


9) Postur dan cara berjalan
10) Bentuk dan ukuran tubuh
11) Cara bicara. (Relaks, lancer, tidak gugup)
12) Evaluasi dengan membandingkan dengan keadaan normal.
13) Dokumentasikan hasil pemeriksaan
3. Pemeriksaan kulit dan kuku
Tujuan
1) Mengetahui kondisi kulit dan kuku
2) Mengetahui perubahan oksigenasi, sirkulasi, kerusakan jaringan
setempat, dan hidrasi.
Persiapan
1) Posisi klien: duduk/ berbaring
2) Pencahayaan yang cukup/lampu
3) Sarung tangan (utuk lesi basah dan berair)
Prosedur Pelaksanaan
1) Pemeriksaan kulit
Inspeksi : kebersihan, warna, pigmentasi,lesi/perlukaan, pucat,
sianosis, dan ikterik.
Normal: kulit tidak ada ikterik/pucat/sianosis.
Palpasi : kelembapan, suhu permukaan kulit, tekstur, ketebalan, turgor
kulit, dan edema.
Normal: lembab, turgor baik/elastic, tidak ada edema.
2) Pemeriksaan kuku
Inspeksi : kebersihan, bentuk, dan warna kuku.
Normal: bersih, bentuk normaltidak ada tanda-tanda jari tabuh
(clubbing finger), tidak ikterik/sianosis.
Palpasi : ketebalan kuku dan capillary refile ( pengisian kapiler ).
Normal: aliran darah kuku akan kembali < 3 detik.
3) Pemeriksaan kepala, wajah, mata, telinga, hidung, mulut dan
leher
Posisi klien : duduk , untuk pemeriksaan wajah sampai dengan leher
perawat berhadapan dengan klien
a) Pemeriksaan kepala
Tujuan
(1) Mengetahui bentuk dan fungsi kepala
15

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

(2) Mengetahui kelainan yang terdapat di kepala


Persiapan alat
(1) Lampu
(2) Sarung tangan (jika di duga terdapat lesi atau luka)
Prosedur Pelaksanaan
Inspeksi : ukuran lingkar kepala, bentuk, kesimetrisan, adanya lesi
atau tidak, kebersihan rambut dan kulit kepala, warna, rambut,
jumlah dan distribusi rambut.
Normal: simetris, bersih, tidak ada lesi, tidak menunjukkan tandatanda kekurangan gizi(rambut jagung dan kering)
Palpasi : adanya pembengkakan/penonjolan, dan tekstur rambut.
Normal: tidak ada penonjolan /pembengkakan, rambut lebat dan
kuat/tidak rapuh.
b) Pemeriksaan wajah
Inspeksi : warna kulit, pigmentasi, bentuk, dan kesimetrisan.
Normal: warna sama dengan bagian tubuh lain, tidak
pucat/ikterik, simetris.
Palpasi : nyeri tekan dahi, dan edema, pipi, dan rahang
Normal: tidak ada nyeri tekan dan edema.
c) Pemeriksaan mata
Tujuan
(1) Mengetahui bentuk dan fungsi mata
(2) Mengetahui adanya kelainan pada mata.
Persiapan alat
(1) Senter Kecil
(2) Surat kabar atau majalah
(3) Kartu Snellen
(4) Penutup Mata
(5) Sarung tangan
Prosedur Pelaksanaan
Inspeksi: bentuk, kesimestrisan, alis mata, bulu mata, kelopak
mata, kesimestrisan, bola mata, warna konjunctiva dan sclera
(anemis/ikterik), penggunaan kacamata / lensa kontak, dan respon
terhadap cahaya.
Normal: simetris mata kika, simetris bola mata kika, warna
konjungtiva pink, dan sclera berwarna putih.

16

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Tes Ketajaman Penglihatan


Ketajaman penglihatan seseorang mungkin berbeda dengan orang
lain. Tajam penglihatan tersebut merupakan derajad persepsi deteil
dan kontour beda. Visus tersebut dibagi dua yaitu:
4.

Pemeriksaan telinga
Tujuan
Mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga, dan
fungsi pendengaran.
Persiapan Alat
a)

Arloji berjarum detik

b)

Garpu tala

c)

Speculum telinga

d)

Lampu kepala

Prosedur Pelaksanaan

Inspeksi : bentuk dan ukuran telinga, kesimetrisan, integritas, posisi

telinga, warna, liang telinga (cerumen/tanda-tanda infeksi), alat bantu


dengar..
Normal: bentuk dan posisi simetris kika, integritas kulit bagus, warna
sama dengan kulit lain, tidak ada tanda-tanda infeksi, dan alat bantu
dengar.

Palpasi : nyeri tekan aurikuler, mastoid, dan tragus


Normal: tidak ada nyeri tekan.

5.

Pemeriksan hidung dan sinus


Tujuan
a. Mengetahui bentuk dan fungsi hidung
b. Menentukan kesimetrisan struktur dan adanya inflamasi atau infeksi
Persiapan Alat
a)
b)
c)
d)

Spekulum hidung
Senter kecil
Lampu penerang
Sarung tangan (jika perlu)

17

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Prosedur Pelaksanaan

Inspeksi : hidung eksternal (bentuk, ukuran, warna, kesimetrisan),


rongga, hidung ( lesi, sekret, sumbatan, pendarahan), hidung
internal (kemerahan, lesi, tanda2 infeksi)
Normal: simetris kika, warna sama dengan warna kulit lain, tidak
ada lesi, tidak ada sumbatan, perdarahan dan tanda-tanda infeksi.

Palpasi dan Perkusi frontalis dan, maksilaris (bengkak, nyeri,


dan septum deviasi)
Normal: tidak ada bengkak dan nyeri tekan.

6.

Pemeriksaan mulut dan bibir


Tujuan
Mengetahui bentuk kelainan mulut
Persiapan Alat
a)

Senter kecil

b)

Sudip lidah

c)

Sarung tangan bersih

d)

Kasa

Prosedur Pelaksanaan

Inspeksi dan palpasi struktur luar : warna mukosa mulut dan


bibir, tekstur , lesi, dan stomatitis.
Normal: warna mukosa mulut dan bibir pink, lembab, tidak ada lesi
dan stomatitis

Inspeksi dan palpasi strukur dalam : gigi lengkap/penggunaan


gigi palsu, perdarahan/ radang gusi, kesimetrisan, warna, posisi
lidah, dan keadaan langit2.

Normal: gigi lengkap, tidak ada tanda-tanda gigi berlobang atau


kerusakan gigi, tidak ada perdarahan atau radang gusi, lidah
simetris, warna pink, langit2 utuh dan tidak ada tanda infeksi.

18

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Gigi lengkap pada orang dewasa berjumlah 36 buah, yang terdiri


dari 16 buah di rahang atas dan 16 buah di rahang bawah. Pada anakanak gigi sudah mulai tumbuh pada usia enam bulan. Gigi pertama
tumbuh dinamakan gigi susu di ikuti tumbuhnya gigi lain yang disebut
gigi sulung. Akhirnya pada usia enam tahun hingga empat belas tahun,
gigi tersebut mulai tanggal dan dig anti gigi tetap.
Pada usia 6 bulan gigi berjumlah 2 buah (dirahang bawah), usia 7-8
bulan berjumlah 7 buah(2 dirahang atas dan 4 dirahang bawah) , usia 911 bulan berjumlah 8 buah(4 dirahang atas dan 4 dirahang bawah), usia
12-15 bulan gigi berjumlah 12 buah (6 dirahang atas dan 6 dirahang
bawah), usia 16-19 bulan berjumlah 16 buah (8 dirahang atas dan 8
dirahang bawah), dan pada usia 20-30 bulan berjumlah 20 buah (10
dirahang atas dan 10 dirahang bawah). setelah diadakan pemeriksaan
mulut dan bibir evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan
dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang
didapat tersebut.
7. Pemeriksaan leher
Tujuan
a)

Menentukan struktur integritas leher

b)

Mengetahui bentuk leher serta organ yang berkaitan

c)

Memeriksa system limfatik

Persiapan Alat
Stetoskop
Prosedur Pelaksanaan

Inspeksi leher: warna integritas, bentuk simetris.


Normal: warna sama dengan kulit lain, integritas kulit baik, bentuk
simetris, tidak ada pembesaran kelenjer gondok.

Inspeksi dan auskultasi arteri karotis: lokasi pulsasi


Normal: arteri karotis terdengar.
19

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

nspeksi

dan

palpasi

kelenjer

tiroid

(nodus/difus,

pembesaran,batas, konsistensi, nyeri, gerakan/perlengketan pada


kulit), kelenjer limfe (letak, konsistensi, nyeri, pembesaran), kelenjer
parotis (letak, terlihat/ teraba)
Normal: tidak teraba pembesaran kel.gondok, tidak ada nyeri, tidak
ada pembesaran kel.limfe, tidak ada nyeri.

8.

Auskultasi : bising pembuluh darah.

Pemeriksaan dada( dada dan punggung)


Posisi klien: berdiri, duduk dan berbaring
Cara/prosedur:
A)

System pernafasan
Tujuan :
a) Mengetahui bentuk, kesimetrisas, ekspansi, keadaan kulit, dan
dinding dada
b) Mengetahui frekuensi, sifat, irama pernafasan,
c) Mengetahui adanya nyeri tekan, masa, peradangan, traktil
premitus
Persiapan alat
a)

Stetoskop

b)

Penggaris centimeter

c)

Pensil penada

Prosedur pelaksanaan

Inspeksi : kesimetrisan, bentuk/postur dada, gerakan nafas


(frekuensi,

irama,

kedalaman,

dan

upaya

pernafasan/penggunaan otot-otot bantu pernafasan), warna


kulit, lesi, edema, pembengkakan/ penonjolan.
Normal: simetris, bentuk dan postur normal, tidak ada tandatanda distress pernapasan, warna kulit sama dengan warna
kulit

lain,

tidak

ikterik/sianosis,

tidak

ada

pembengkakan/penonjolan/edema
20

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Palpasi: Simetris, pergerakan dada, massa dan lesi, nyeri,


tractile fremitus.
(perawat berdiri dibelakang pasien, instruksikan pasien untuk
mengucapkan angka tujuh-tujuh atau enam-enam sambil
melakukan perabaan dengan kedua telapak tangan pada
punggung pasien.)
Normal:

integritas

kulit

baik,

tidak

ada

nyeri

tekan/massa/tanda-tanda peradangan, ekspansi simetris, taktil


vremitus cendrung sebelah kanan lebih teraba jelas.

Perkusi: paru, eksrusi diafragma (konsistensi dan bandingkan


satu sisi dengan satu sisi lain pada tinggi yang sama dengan
pola berjenjang sisi ke sisi)
Normal: resonan (dug dug dug), jika bagian padat lebih
daripada bagian udara=pekak (bleg bleg bleg), jika bagian
udara lebih besar dari bagian padat=hiperesonan (deng
deng

deng),

batas

jantung=bunyi

rensonan----

hilang>>redup.

Auskultasi: suara nafas, trachea, bronchus, paru. (dengarkan


dengan menggunakan stetoskop di lapang paru kika, di RIC 1
dan 2, di atas manubrium dan di atas trachea)
Normal: bunyi napas vesikuler, bronchovesikuler, brochial,
tracheal.

B)

System kardiovaskuler
Tujuan
a)

Mengetahui ketifdak normalan denyut jantung

b)

Mengetahui ukuran dan bentuk jantug secara kasar

c)

Mengetahui bunyi jantung normal dan abnormal

d)

Mendeteksi gangguan kardiovaskuler

Persiapan alat
21

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

a)

Stetoskop

b)

Senter kecil

Prosedur pelaksanaan

Inspeksi : Muka bibir, konjungtiva, vena jugularis, arteri


karotis

Palpasi: denyutan
Normal untuk inspeksi dan palpasi: denyutan aorta teraba.

Perkusi: ukuran, bentuk, dan batas jantung (lakukan dari


arah samping ke tengah dada, dan dari atas ke bawah sampai
bunyi redup)
Normal: batas jantung: tidak lebih dari 4,7,10 cm ke arah
kiri dari garis mid sterna, pada RIC 4,5,dan 8.

Auskultasi: bunyi jantung, arteri karotis. (gunakan bagian


diafragma dan bell dari stetoskop untuk mendengarkan bunyi
jantung.

Normal: terdengar bunyi jantung I/S1 (lub) dan bunyi


jantung II/S2 (dub), tidak ada bunyi jantung tambahan (S3
atau S4).

9.

Dada dan aksila


Tujuan
a) Mengetahui adanya masa atau ketidak teraturan dalam jaringan
payudara
b) Mendeteksi awal adanya kanker payudara
Persiapan alat
a)

Sarung tangan sekali pakai (jika diperlukan)

Prosedur pelaksanaan

Inspeksi payudara: Integritas kulit

Palpasi payudara: Bentuk, simetris, ukuran, aerola, putting, dan


penyebaran vena

22

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Inspeksi dan palpasi aksila: nyeri, perbesaran nodus limfe,

konsistensi.
Setelah diadakan pemeriksaan dadadan aksila evaluasi hasil yang di
dapat

dengan

membandikan

dengan

keadaan

normal,

dan

dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.


10.

Pemeriksaan Abdomen (Perut)


Posisi klien: Berbaring
Tujuan
a) Mengetahui betuk dan gerakan-gerakan perut
b) Mendengarkan suara peristaltic usus
c) Meneliti tempat nyeri tekan, organ-organ dalam rongga perut
benjolan dalam perut.
Persiapan
a)

Posisi klien: Berbaring

b)

Stetoskop

c)

Penggaris kecil

d)

Pensil gambar

e)

Bntal kecil

f)

Pita pengukur

Prosedur pelaksanaan

Inspeksi : kuadran dan simetris, contour, warna kulit, lesi, scar,


ostomy, distensi, tonjolan, pelebaran vena, kelainan umbilicus, dan
gerakan dinding perut.
Normal: simetris kika, warna dengan warna kulit lain, tidak ikterik
tidak terdapat ostomy, distensi, tonjolan, pelebaran vena, kelainan
umbilicus.

Auskultasi : suara peristaltik (bising usus) di semua kuadran


(bagian diafragma dari stetoskop) dan suara pembuluh darah dan
friction rub :aorta, a.renalis, a. illiaka (bagian bell).

23

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Normal: suara peristaltic terdengar setiap 5-20x/dtk, terdengar


denyutan arteri renalis, arteri iliaka dan aorta.

Perkusi semua kuadran : mulai dari kuadran kanan atas bergerak


searah jarum jam, perhatikan jika klien merasa nyeri dan bagaiman
kualitas bunyinya.

Perkusi hepar: Batas

Perkusi Limfa: ukuran dan batas

Perkusi ginjal: nyeri


Normal: timpani, bila hepar dan limfa membesar=redup dan
apabila banyak cairan = hipertimpani

Palpasi semua kuadran (hepar, limfa, ginjal kiri dan kanan):


massa, karakteristik organ, adanya asistes, nyeri irregular, lokasi,
dan nyeri.dengan cara perawat menghangatkan tangan terlebih
dahulu
Normal: tidak teraba penonjolan tidak ada nyeri tekan, tidak ada
massa dan penumpukan cairan

Setelah diadakan pemeriksaan abdomen evaluasi hasil yang di


dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan
dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.

11. Pemeriksaan ekstermitas atas (bahu, siku, tangan)


Tujuan :
1. Memperoleh data dasar tetang otot, tulang dan persendian
2. Mengetahui adanya mobilitas, kekuatan atau adanya gangguan pada
bagian-bagian tertentu.
Alat :
1. Meteran
Posisi klien: Berdiri. duduk

Inspeksi struktur muskuloskletal : simetris dan pergerakan,


Integritas ROM, kekuatan dan tonus otot.
24

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Normal: simetris kika, integritas kulit baik, ROM aktif, kekuatan


otot penuh.

Palpasi: denyutan a.brachialis dan a. radialis .


Normal: teraba jelas

Tes reflex :tendon trisep, bisep, dan brachioradialis.


Normal: reflek bisep dan trisep positif

12. Pemeriksaan ekstermitas bawah (panggul, lutut, pergelangan kaki


dan telapak kaki)

Inspeksi struktur muskuloskletal : simetris dan pergerakan,


integritas kulit, posisi dan letak, ROM, kekuatan dan tonus otot
Normal: simetris kika, integritas kulit baik, ROM aktif, kekuatan otot
penuh

Palpasi : a. femoralis, a. poplitea, a. dorsalis pedis: denyutan


Normal: teraba jelas

Tes reflex :tendon patella dan archilles.


Normal: reflex patella dan archiles positif

13. Pemeriksaan genitalia (alat genital, anus, rectum)


Posisi Klien : Pria berdiri dan wanita litotomy
Tujuan:
1. Melihat dan mengetahui organ-organ yang termasuk dalam genetalia.
2. Mengetahui adanya abnormalitas pada genetalia, misalnya varises,
edema, tumor/ benjolan, infeksi, luka atau iritasi, pengeluaran cairan
atau darah.
3. Melakukan perawatan genetalia
4. Mengetahui kemajuan proses persalinan pada ibu hamil atau
persalinan.
Alat :
1. Lampu yang dapat diatur pencahayaannya
25

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

2. Sarung tangan
a. Pemeriksaan rectum
Tujuan :
1. Mengetahui kondisi anus dan rectum
2. Menentukan adanya masa atau bentuk tidak teratur dari dinding
rektal
3. Mengetahui intregritas spingter anal eksternal
4. Memeriksa kangker rectal dll
Alat :
1. Sarung tangan sekali pakai
2. Zat pelumas
3. Penetangan untuk pemeriksaan
Prosedur Pelaksanaan
1. Wanita:

Inspeksi genitalia eksternal: mukosa kulit, integritas kulit,


contour simetris, edema, pengeluaran.
Normal: bersih, mukosa lembab, integritas kulit baik,
semetris

tidak

ada

edema

dan

tanda-tanda

infeksi

(pengeluaran pus /bau)

Inspeksi vagina dan servik : integritas kulit, massa,


pengeluaran

Palpasi vagina, uterus dan ovarium: letak ukuran,


konsistensi dan, massa

Pemeriksaan anus dan rectum: feses, nyeri, massa edema,


haemoroid, fistula ani pengeluaran dan perdarahan.
Normal: tidak ada nyeri, tidak terdapat edema / hemoroid/
polip/ tanda-tanda infeksi dan pendarahan.

2.

Pemeriksaan fisik pada bayi dan balita


A. Pengertian
26

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Pengkajian fisik adalah proses berkelanjutan yang dimulai


secara wawancara, terutama dengan menggunakan inspeksi atau
observasi. Selama pemeriksaan yang lebih formal,alat-alat untuk
perkusi,palpasi dan auskultasi ditambahkan untuk memantapkan dan
menyaring pengkajian sistem tubuh.Seperti pada riwayat kesehatan,
obyekyif dari pengkajian fisik adalah untuk merumuskan diagnsa
keperawatan

dan

mengevaluasi

keefektivan

intervensiterapeutik.

( Wong,2003). Pengkajian merupakan tahap pertama dalam proses


keperawatan,dimana tiap tahap perawatan melakukan pengkajian data
yang diperoleh dari hasil wawancara, laporan teman sejawat, catatan
keperawatan, atau catatan kesehatan lain dan pengkajian fisik.( Robert
Priharjo, 1993 ). Physical examination merupakan tehnik maneuver yang
terdiri dari beberapa rangkaian, yang masing-masing anak memlik
sensifitas dan verbal baik fisik maupun spikologik.( Wong, 1993 ).
Pemeriksaan fisik lebih dari suatu rangkaian latihan tehnikal. Hal itu
merupakan tuntutan yang sama sensivitasnya dengan kebutuhan fisik dan
psikologik anak yang sulit di kenal dan tidak sama dengan yang lainnya.(
Wong, 1993).
B. Tujuan Pemeriksaan Fisik
Tujuan pemeriksaan fisik adalah memperoleh informasi yang akurat
tentang keadaan fisik pasien. Karena sifat alamiah bayi dan anak, ururan
pemeriksaan tidak harus menuruti sistematika yang lazim pada orang
dewasa. Dalam pemeriksan anak harus memperhatikan kebutuhan
perkembangan mental anak. Penggunaan perkembanagn mental dan
kronologi umur sebagai kriteria utama dalam pengkajian tiap sistem
tubuh memudahkan/menyelesaikan dari beberapa tujuan, diantaranya :
1. Meminimalkan steres dan ansietas yang berhubungan dengan
pengkajian pada baguan- bagian tubuh yang berbeda.
2. Memelihara dan membina hubungan saling percaya antara perawat,
anak dan orang tua.
3. Memberikan persiapan yang maksimum pada anak.
27

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

4. Memberikan perlindungan yang esensial pada hubungan antara


orang

tua-anak,

terutama dengan anak kecil.


5. Memaksimalkan keakuratan dan reabilitas hasil pengkajian.
C . Pemeriksaan Anak
Walaupun pemeriksaan fisik dilakukun dengan prosedur yang
tidak menyebabkan rasa saki, tetapi kepada seorang anak dengan
menggunakan jari, telapak tangan, lengan, pemeriksaan dalam telinga
dan mulut,menekn abdomen dan mendengarkan dasa dengan permukaan
metal yang dingin dapat menimbulkan stresful. Pemeriksaan fisik ini
harus menjadi hal yang menyenangkan dan sama baik hasilnya. Misalnya
dengan anak pre school dan yang lebih tua perawat dapat menggunakan
gambar atau boneka untuk membantu anak belajar tentang tubuh mereka.
Tehnik Paper Doll merupakan pendekatan yang digunakan untuk
mengajarkan anak tentang bagian tubuh mereka yang diperiksa.
Kesimpulannya adalah saat kunjungan anak dapat membawa paper doll
sebagai pengingat pengalaman. Banyak permintaan anak yang sangat
kooperatif ketika orang tua bersama mereka. Hal ini ada yang
menyebabkan, bagaimanapun saat anak yang lebih tua terutama adolence
lebih memilih di periksa sendiri pada pemeriksaan genetalia, sering anak
yang sedang diperiksa juga disertai saudara kandungnya yang dapat
menyebabkan ke tidak teraturan kerena ada boredom.
Sebuah taktik untuk membantu mereka

adalah

untuk

memberikan mereka kesempatan untuk mencoba alat pemeriksaan seperti


stetoskop atau spatel lidah dan memuji anak atas Bantuannyaselama
pemeriksaan.

D. Komunikasi Sebelum Pemeriksaan Fisik


Sebagai tenaga medis sebelum

melakukan

pemeriksaan

hendaknya jangan mengabaikan komunikasi walaupun pada anak

28

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

sekalipun. Hal ini bertujuan agar nantinya ia mendapatkan informasi


yang akurat dengan pasien. Adapun komunikasi yang dilakukan perawat
sebelum melakukan pemeriksaan fisik antara lain:
1. Bicara terlebih dahulu pada orang tua, tunjukkan bahwa kita akan
membina hubungan yang baik dengannya. Dengan demikian, anak
akan melihat bahwa kita berbuat baik terhaap orang tuanya.
Kemudian perhatian kita alihkan pada anak dengan tujuan semula,
yaitu melakukan pengkajian.
2. Mulai kontak dengan anak dengan menceritakan sesuatu yang lucu.
Dengan demikian harapkan anak akan tertarik dengan pembicaraan
perawat dan mau bekerja sama.
3. Gunakan mainan sebagai pihak ketiga dalam bentuk yang lain
sebagai titik masuk berbicara pada anak. Hal ini akan sangat efektif
terutama pada anak usia toddler dan anak pra sekolah
4. Apabila memungkinkan, ajukan pilihan pada anak tersebut tentang
pemeriksaan yang diinginkan, sambil duduk atau di tempat tidur,
atau di pangku oleh orangtuanya.
5. Pemeriksaan yang menimbulkan trauma dilakukan paling terakhir.
Dengan demikian, pilih pemeriksaan yang paling sederhana atau
yang dapat dilakukan sambil bermain terlebih dahlu.
6. Hindarkan pemeriksaan dengan menggunakan

alat

yang

menimbulkan rasa takut, misalnya termometer atau stetoskop yang


terasa dingin
E. Penatalaksanaan
1. Persiapan Alat
Pengukur/meteran/penggaris/Stadiometer
Penimbang BB
Termometer dan spekulum
Optalmoskop
Arloji berdetik
Manset:
Bayi baru lahir ukurannya : lebar kantong 2,5-4,0 cm dan panjang
Kantongnya

5,0-9,0 cm

Bayi ukurannya:lebar kantong 4,0-6,0 cm dan panjang kantongnya


29

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

5,0-9,0
Anak-anak lebar kantong 7,5-9,0 Cm dan panjang kantongnya 17,019,0 cm.
Stesoskop
Oksilometri
Peniti,kapas, objek dingin/kapas
Spatel lidah
Garpu tala
Snellen
Senter
Gambar warna
F. Pelaksanaan Pemeriksaan Fisik Anak
Persiapan Bayi
1. Sebelum dapat duduk sendiri:
Terlentang atau telungkup atau lebih baik di pangkuan orang tua.
Usia 4 sampai 6 bulan dapat di tempatkan di atas meja periksaan.
- Setelah dapat duduk sendiri:
Gunakan posisi duduk di pangkuan orang tua jika mungkin
Jika diatas meja, tempatkan dan pandangan penuh pada orang tua.
- Bila tenang auskultai jantung, paru, abdomen
- Catat frekuensi jantung dan pernafasan.
- Palpasi dan perkusi area yang sama
- Lanjutkan dengan arah biasa,kepala ke kaki
- Lakukan prosedur traumatic di bagian akhir, mata, telinga, mulut
-

(sambil menangis)
Munculkan reflek-reflek saat bagian tubuh tersebut diperiksa
Lakukan pemeriksaan reflek Moro di bagian akhir
Lepaskan semua pakaian bila suhu ruangan memungkinkan.
Biarkan popok terpasang pada bayi
Tingkatkan kerja sama dengan distraksi,obyek erang,bunyi-bunyi

dengan mulut,bicara.
Berikan kotak kecil dikedua tangan bayi yang lebih besar,sampai

pelepasan volunter
berkembang di akhir tahun pertama,bayi tidak mampu menggenggam

obyek(misalnya stetoskop,otoskop)( Farber,1991 )


Tersenyum pada bayi gunakan suara yang lembutdan perlahan
Tenangkan dengan sebotol air gula atau makanan
Minta bantuan orang tua untuk memegang bayi pada pemeriksaan

telinga dan mukut.


Hindari gerakan yang kasar dan mengejutkan.
30

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

2. Usia Bermain
-

Duduk atau berdiri diatas atau disamping orang tua.


Telungkup atau terlentang dipangkuan orang tua.
Inspeksi area tubuh,melalui permainan Hitung Jari gelitik jari kaki.
Gunakan kontak fisik minimal diawal pemeriksaan.
Kenalkan alay dengan perlahan. Auskultasi,perkusi,palpasi bila tenang
Lakukan prosedur traumatic terakhir (sama dengan bayi)
Minta orang tua untuk melepaskan pakaian bagian luar
Lepaskan pakaian dalam pada saat tubuh tersubut di periksa
Izinkan untuk melihat-lihat alay,menunjukkan penggunaan alat

biasanya tidak efektif


Jika tidak kooperatif lakukan prosedur dengan cepat
Gunakan restrain bila tepat,minta bantuan orang tua.
Bicarakan pemeriksaan bila dapat bekerja sama :gunakan kalimat

pendek.
Berikan pujian untuk perilaku kooperatif.

3. Anak Pra Sekolah


-

Lebih suka berdiri atau duduk.


Biasanya kooperatif dengan

menyukai kedekatan dengan orang tua.


Jika kooperatif ,lakukan dari kepala ke jari kaki.
Bila tidak kooperatif,lakukan seperti pada anak usia bermain.
Minta anak melepaskan pakaiannya.
Izinkan untuk menggunakan celana dalam bila malu.
Berikan kesempata untuk melihat alat:tunjukkan dengan singkat

penggunaannya.
Buat cerita tentang prosedur :saya mau melihat seberapa kuat otot-

ototmu
Gunakan tehnik boneka kertas
Beri pilihan jika mungkin
Hargai kerja sama : gunakan pernyataan positif Buka Mulutmu

Anak Usia Sekolah


Menyukai duduk
Kooperatif hampir semua posisi anak kecil menyukai kehadiran

orangtua.
Anak yang lebih besar menyukai privasi.
Lakukan dari kepala dan kaki
Bila tidak kooperatif ,lakukan seperti pada anak usia bermain.
Minta untuk melepaskan pakain sendiri.
Biarkan untuk memakai celana dalam

posisi

telungkup/atau

terlentang

31

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Beri skor untuk dipakai


Jelaskan tujuan peralatan dan kepentingan prosedur seperti otoskop
untuk

4.

melihat

gendang telinga,yang diperlukan untuk mendengar.


Ajarkan tentang fungsi tubuh dan perawatannya.
Remaja

Sama dengan anak usia sekolah


Berikan pilihan tentang keberadaan orang tua.
Sama dengan anak usia sekolah yang lebih besar.
Izinkan melepaskan pakaian sendiri.
Beri Skor
Buka hanya area yang akan diperiksa
Hargai kebutuhan privacy Jelaskan temuan-temuan

pemeriksaan. ototmu kuat dan padat.


Beri keterangan tentang perkembangan seksual : Payudaramu sedang

selama

berkembang
-

seperti seharusnya
Tekan kenormalan perkembangan.
Periksa genetalia seperti bagian tubuh yang lain:dapat di lakukan di
akhir.

G. Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir


Kegiatan ini merupakan pengkajian fisik yang dilakukan oleh bidan
atau perawat yang bertujuan untuk memastikan normalitas & mendeteksi
adanya penyimpangan dari normal. Pengkajian ini dapat ditemukan
indikasi tentang seberapa baik bayi melakukan penyesuaian terhadap
kehidupan di luar uterus dan bantuan apa yang diperlukan. Dalam
pelaksanaannya harus diperhatikan agar bayi tidak kedinginan, dan dapat
ditunda apabila suhu tubuh bayi rendah atau bayi tampak tidak sehat.
Prinsip pemeriksaan bayi baru lahir :
1. Jelaskan prosedur pada orang tua dan minta persetujuan tindakan
2. Cuci dan keringkan tangan , pakai sarung tangan
3. Pastikan pencahayaan baik
4. Periksa apakah bayi dalam keadaan hangat, buka bagian yangg akan
diperiksa (jika bayi telanjang pemeriksaan harus dibawah lampu
pemancar) dan segera selimuti kembali dengan cepat
32

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

5. Periksa bayi secara sistematis dan menyeluruh


Peralatan dan Perlengkapan
1. Kapas
2. Senter
3. Thermometer
4. Stetoskop
5. selimut bayi
6. bengkok
7. timbangan bayi
8. pita ukur/metlin
9. pengukur panjang badan
Prosedur
1. Jelaskan pada ibu dan keluarga maksud dan tujuan dilakukan
pemeriksaan
2. Lakukan anamnesa riwayat dari ibu meliputi faktor genetik, faktor
lingkungan,
sosial,faktor ibu (maternal),faktor perinatal, intranatal, dan neonatal
3. Susunalat secara ergonomis
4. Cuci tangan menggunakan sabun dibawah air mengalir, keringkan
dengan handuk bersih
5. Memakai sarung tangan
6. Letakkan bayi pada tempat yang rata
Pengukuran Antropometri
1. Penimbangan berat badan. Letakkan kain atau kertas pelindung dan
atur skala penimbangan ke titik nol sebelum penimbangan. Hasil
timbangan dikurangi berat alas dan pembungkus bayi
2. Pengukuran panjang badan. Letakkan bayi di tempat yang datar. Ukur
panjang badan dari kepala sampai tumit dengan kaki/badan bayi
diluruskan. Alat ukur harus terbuat dari bahan yang tidak lentur.
3. Ukur lingkar kepala. Pengukuran dilakukan dari dahi kemudian
melingkari kepala kembali lagi ke dahi
4. Ukur lingkar dada ukur lingkar dada dari daerah dada ke punggung
kembali ke dada (pengukuran dilakukan melalui kedua puting susu)
Pemeriksaan Fisik
33

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

1. Kepala
Raba sepanjang garis sutura dan fontanel ,apakah ukuran dan
tampilannya normal. Sutura yang berjarak lebar mengindikasikan bayi
preterm,moulding yang buruk atau hidrosefalus. Pada kelahiran
spontan letak kepala, sering terlihat tulang kepala tumpang tindih yang
disebut moulding/moulase.Keadaan ini normal kembali setelah
beberapa hari sehingga ubun-ubun mudah diraba. Perhatikan ukuran
dan ketegangannya. Fontanel anterior harus diraba, fontanel yang besar
dapat terjadi akibat prematuritas atau hidrosefalus, sedangkan yang
terlalu kecil terjadi pada mikrosefali. Jika fontanel menonjol, hal ini
diakibatkan peningkatan tekanan intakranial, sedangkan yang cekung
dapat tejadi akibat deidrasi. Terkadang teraba fontanel ketiga antara
fontanel anterior dan posterior, hal ini terjadi karena adanya trisomi 21.
Periksa adanya tauma kelahiran misalnya; caput suksedaneum, sefal
hematoma, perdarahan subaponeurotik/fraktur tulang tengkorak.
Perhatikan adanya kelainan kongenital seperti ; anensefali, mikrosefali,
kraniotabes dan sebagainya
2. wajah
wajah harus tampak simetris. Terkadang wajah bayi tampak asimetris
hal ini dikarenakan posisi bayi di intrauteri.Perhatikan kelainan wajah
yang khas seperti sindrom down atau sindrom piere robin. Perhatikan
juga kelainan wajah akibat trauma lahir seperti laserasi, paresi
N.fasialis.
3. Mata
Goyangkan kepala bayi secara perlahan-lahan supaya mata bayi
terbuka.

Periksa

jumlah,

posisi

atau

letak

mata

Perksa adanya strabismus yaitu koordinasi mata yang belum


sempurna
Periksa adanya glaukoma kongenital, mulanya akan tampak sebagai
pembesaran

kemudian

sebagai

kekeruhan

pada

kornea
34

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Katarak kongenital akan mudah terlihat yaitu pupil berwarna putih.


Pupil harus tampak bulat. Terkadang ditemukan bentuk seperti lubang
kunci (kolobama) yang dapat mengindikasikan adanya defek retina
Periksa adanya trauma seperti palpebra, perdarahan konjungtiva atau
retina
Periksa adanya sekret pada mata, konjungtivitis oleh kuman
gonokokus dapat menjadi panoftalmia dan menyebabkan kebutaan
Apabila ditemukan epichantus melebar kemungkinan bayi mengalami
sindrom down
4.

Hidung
Kaji bentuk dan lebar hidung, pada bayi cukup bulan lebarnya harus
lebih

dari

2,5

cm.

Bayi harus bernapas dengan hidung, jika melalui mulut harus


diperhatikan kemungkinan ada obstruksi jalan napas akarena atresia
koana bilateral, fraktur tulang hidung atau ensefalokel yang menonjol
ke

nasofaring

Periksa adanya sekret yang mukopurulen yang terkadang berdarah ,


hal

ini

kemungkinan

adanya

sifilis

kongenital

Periksa adanya pernapasa cuping hidung, jika cuping hidung


mengembang menunjukkan adanya gangguan pernapasan.( Depkes
Ri,2003 )
5. Mulut
Perhatikan mulut bayi, bibir harus berbentuk dan simetris.
Ketidaksimetrisan bibir menunjukkan adanya palsi wajah. Mulut yang
kecil

menunjukkan

mikrognatia

Periksa adanya bibir sumbing, adanya gigi atau ranula (kista lunak
yang

berasal

dari

dasar

mulut)

Periksa keutuhan langit-langit, terutama pada persambungan antara


palatum

keras

dan

lunak

Perhatika adanya bercak putih pada gusi atau palatum yang biasanya
terjadi

akibatvEpisteins

pearl

atau

gigi
35

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Periksa lidah apakah membesar atau sering bergerak. Bayi dengan


edema otak atau tekanan intrakranial meninggi seringkali lidahnya
keluar

masuk

(tanda

foote)

Bibir sumbing (Bennet & Brown, 1999)


6.

Telinga

Periksa

Pada

dan

bayi

pastikan
cukup

jumlah,

bulan,

bentuk

tulang

dan

rawan

sudah

posisinya
matang

Dauntelinga harus berbentuk sempurna dengan lengkungan yang


jelas

dibagia

atas

Perhatikan letak daun telinga. Daun telinga yang letaknya rendah


(low set ears) terdapat pada bayi yangmengalami sindrom tertentu
(Pierre-robin)
Perhatikan adanya kulit tambahan atau aurikel hal ini dapat
berhubungan dengan abnormalitas ginjal
7. Leher
Leher bayibiasanya pendek dan harus diperiksa kesimetrisannya.
Pergerakannya harus baik. Jika terdapat keterbatasan pergerakan
kemungkinan

ada

kelainan

tulang

leher

Periksa adanya trauma leher yang dapat menyebabkan kerusakan pad


fleksus

Lakukan

brakhialis
perabaan

untuk

mengidentifikasi

adanya

pembengkakan.periksa adanya pembesaran kelenjar tyroid dan vena


jugularis
Adanya lipata kulit yang berlebihan di bagian belakang leher
menunjukkan adanya kemungkinan trisomi 21.
8. Klavikula
Raba seluruh klavikula untuk memastikan keutuhannya terutama pada
bayi yang lahir dengan presentasi bokong atau distosia bahu. Periksa
kemungkinan adanya fraktur
9. Tangan
Kedua lengan harus sama panjang, periksa dengan cara meluruskan

36

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

kedua

lengan

ke

bawah

Kedua lengan harus bebas bergerak, jika gerakan kurang


kemungkinan

adanya

kerusakan

neurologis

atau

fraktur

Periksa jumlah jari. Perhatikan adanya polidaktili atau sidaktili


Telapak tangan harus dapat terbuka, garis tangan yang hanya satu
buah berkaitan dengan abnormaltas kromosom, seperti trisomi 21
Periksa adanya paronisia pada kuku yang dapat terinfeksi atau
tercabut sehingga menimbulkan luka dan perdarahan
10.

Dada
Periksa kesimetrisan gerakan dada saat bernapas. Apabila tidak
simetris

kemungkinan

bayi

mengalami

pneumotoraks,

paresis

diafragma atau hernia diafragmatika. Pernapasan yang normal dinding


dada dan abdomen bergerak secara bersamaan.Tarikan sternum atau
interkostal

pada

saat

bernapas

perlu

diperhatikan

Pada bayi cukup bulan, puting susu sudah terbentuk dengan baik dan
tampak

simetris

Payudara dapat tampak membesar tetapi ini normal


11. Abdomen
Abdomen harus tampak bulat dan bergerak secara bersamaan dengan
gerakan

dada

saat

bernapas.

Kaji

adanya

pembengkakan

Jika perut sangat cekung kemungkinan terdapat hernia diafragmatika

Abdomen

splenomegali

yang

membuncit
atau

kemungkinan

karena

tumor

hepatolainnya

Jika perut kembung kemungkinan adanya enterokolitis vesikalis,


omfalokel atau ductus omfaloentriskus persisten.(Lodermik, Jensen
2005)
12. Genetalia
Pada bayi laki-laki panjang penis 3-4 cm dan lebar 1-1,3 cm.Periksa
posisi lubang uretra. Prepusium tidak boleh ditarik karena akan
menyebabkan

Periksa

fimosis
adanya

hipospadia

dan

epispadia
37

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Skrortum harus dipalpasi untuk memastikan jumlah testis ada dua


Pada bayi perempuan cukup bulan labia mayora menutupi labia
minora

Lubang

uretra

terpisah

dengan

lubang

vagina

Terkadang tampak adanya sekret yang berdarah dari vagina, hal ini
disebabkan oleh pengaruh hormon ibu (withdrawl bedding).(Lodermik,
13.

Jensen 2005) (Lodermik, Jensen 2005)


Anus

Periksa

adanya

kelainan

dan

atresia

rectum

ani

kaji

posisinya

Mekonium secara umum keluar pada 24 jam pertama, jika sampai 48


jam belumkeluar kemungkinan adanya mekonium plug syndrom,
megakolon atau obstruksi saluran pencernaan
14. Tungkai
Periksa kesimetrisan tungkai dan kaki. Periksa panjang kedua kaki
dengan

meluruskan

keduanya

dan

bandingkan

Kedua tungkai harus dapat bergerak bebas. Kuraknya gerakan


berkaitan dengan adanya trauma, misalnya fraktur, kerusakan
neurologis.
Periksa adanya polidaktili atau sidaktili padajari kaki
15. Spinal
Periksa psina dengan cara menelungkupkan bayi, cari adanya tandatanda abnormalitas seperti spina bifida, pembengkakan, lesung atau
bercak kecil berambut yang dapat menunjukkan adanya abdormalitas
medula spinalis atau kolumna vertebra.(Lodermik, Jensen 2005)
16. Kulit

Perhatikan
Periksa

adanya
Periksa

Perhatinan

kondisi
ruam

dan

bercak

kuli
atau

adanya
adanya

bayi.
tanda

lahir

pembekakan
vernik

kaseosa

Perhatikan adanya lanugo, jumlah yang banyak terdapat pada bayi


kurang bulan

38

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

G. Bahan Diskusi
KASUS 1
Seorang ibu datang ke BPM (Bidan Praktek Mandiri) dan mengatakan ingin
periksa karena sudah dua bulan ibu tersebut tidak haid, dan ibu mengatakan
merasakan mual dan kadang-kadang muntah.
Diskusikan jawaban pertanyaan dibawah ini!
1. Pemeriksaan apa yang anda lakukan pada kasus di atas?
2. Apa yang dialami oleh ibu tersebut?
KASUS 2
Enam jam yang lalu telah lahir bayi perempuan kondisi sehat dan aktif. Bayi
tersebut belum dilakukan pemeriksaan fisik dan belum di mandikan.
Diskusikan jawaban pertanyaan dibawah ini!
Tindakan apa yang anda lakukan sebagai seorang bidan?

D. Daftar Bacaan Tambahan


Belland, KH & Wells, M. A 1986. Clinical nursing procedures. California. Joners
and Barletletlett aplublisher.

39

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

Bobak, K. J. 2005. Perawatan maternitas. Jakarta. EGC


Hidayat. AAA & Uliyah, M, 2005. Buku saku praktikum kebidanan dasar
manusia. Jakarta. EGC
Hidayat. AAA & Uliyah, M, 2006. Pengantar kebutuhan dasar manusia;aplikasi
konsep dan asuhan keperawatan. Jakarta. Salemba Medika
Kozier Erb. 2000. Fundamental of nursing ; concept prosess and practice. Sixth
edition. California. Menlo Park

E. Pertanyaan Kunci
Pertanyaan Kunci
Ketika Anda Membaca bahan bacaan berikut, gunakanlah pertanyaanpertanyaan berikut ini untuk membantu Anda:
1. Bagimana teknik pemeriksaan fisik pada ibu dan bayi..
2. Persiapan apa saja yang harus di siapkan dalam pemeriksaan fisik

F. Soal Uraian
1. Sebutkan teknik pemeriksaan fisik?
2. Bagaimana cara pemeriksaan fisik pada bayi yang belum bisa duduk?
3. Pada pemeriksaan head to toe, apa saja yang harus diperiksa?sebutkan!

G. Tugas
1. Tugas kelompok (Small group discussion, makalah)
2. Tugas tersetruktur (laporan pratikum diskill dan laporan praktek di lapangan)
3. Tugas baca (buku utama, buku acuan, buku penunjang, jurnal)

40

Bahan Ajar Ketrampilan Dasar Kebidanan 1

H. Catatan
Bila anda belum merasa puas, atau paling tidak menguasai materi 75 %,
maka anda harus mengulangi kembali materi diatas sampai anda merasa puas.

RANGKUMAN
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk pengumpul data untuk mengetahui
keadaan fisik dan keadaan kesehatan seseorang. Dalam pemeriksaan fisik ada
teknik yang dilakukan dan sebelum pemeriksaan fisik persiapan alat sangat
dibutuhkan. Ada cara-cara pemeriksaan fisik dapat juga di sesuaikan dengan
kondisi pasien.

DAFTAR PUSTAKA

41