Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

BRONKIOLITIS

Oleh :
Baiq Siti Malikha Abila Meisya
09060049

PEMBIMBING :
dr. Tatang Hidayat, Sp.A

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


DI BAGIAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM AL-AZHAR
RSUD KOTA MATARAM
MATARAM
2015

BAB I

PENDAHULUAN
Bronkiolitis merupakan infeksi saluran respiratori tersering pada
bayi,paling sering terjadi pada usia 2-24 bulan puncaknya pada usia 2-8 bulan
95% kasus terjadi pada anak berusia dibawah 2 tahun dan 75 % diantaranya
terjadi pada anak dibawah 1 tahun.Oreinstein menyatakan bahwa bronkiolitis
paling sering terjadi pada anak laki-laki berusia 3-4 bulan yang tidak
mendfapatkan ASI,dan hidup dilingkungan padat penduduk.

Sebanyak 11,4% anak berusia dibawah 1 tahun dan 6 % anak berusia 1-2
tahun di AS pernah mengalami bronkiolitis.penyakit ini menyebabkan 90.000
kasus

perawatan

di

RS

dan

menyebabkan

4500

kematian

setiap

tahunnya.Frekuensi bronkiolitis di negara berkembang sama dengan

di

AS.insiden terbanyak terjadi pada musim dingin atau musim hujan dinegaranegara tropis.

Rerata insiden setahun pada anak berusia dibawah 1 tahun adalah 21,7 per
1000 dan semakin menurun seiring pertambahan usia yaitu 6,8 per 1000 pada
usia 1-2 tahun. Iwane yang meneliti secara psospektif di AS selama 1 tahun
2000-2001,menemukan bahwa pada anak pemeriksaan virus positif angka
perawatan di RS adalah 3,5 per 1000 akibat RSV,1,2 per 1000 akibat virus
parainfluenza dan 0,6 per 1000 akibat virus influenza,lima puluh persen dari
jumlah perawatan tersebut adalah bayi berusia dibawah 6 bulan.

Median lama perawatan adalah 2-4 hari,kecuali pada bayi prematur dan
kelainan bawaan seperti penyakit jantung bawaan.Bradley menyebutkan
bahwa penyakit akan lebih berat pada bayi muda.hal itu ditunjukkkan dengan
rendahnya saturasi O2,juga pada bayi yang terpapar asap rokok pasca natal.
2

Angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi dinegara berkembang.hal ini


mungkin disebabkan oleh rendahnya status gizi,dan ekonomi,kurangnya
tunjangan medis,serta kepadatan penduduk.Angka mortalitas dinegara
berkembang pada anak-anak yang dirawat adalah 1-3 %.

BAB II
LAPORAN KASUS

1.1.

Identitas Pasien
Nama lengkap
Umur
Identitas keluarga
Jenis kelamin
Alamat
Tanggal MRS

: By.RA
: 5 bulan
: Anak kandung
: Laki-laki
: ampenan utara
: 21 Oktober 2015
4

Nomor MR
1.2.

: 163300

Anamnesis (Heteroanamnesis Ibu Pasien-) tgl 21/10/15


Keluhan Utama : Sesak
Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang ke Rumah Sakit Kota Mataram dengan dikeluhkan
mengalami sesak nafas sejak sekitar 3 hari sebelum masuk rumah sakit.
sesak mulai muncul saat bayi terpapar obat nyamuk sebelumnya saat
hendak tidur malam hari.. Sesak tidak dipengaruhi perubahan cuaca
ataupun makanan. Sesak yang dikeluhkan semakin memberat. Pasien juga
dikeluhkan mengalami batuk kering ,pilek, demam. demam dirasakan
turun naik, tidak begitu tinggi, nafas dikatakan berbunyi, menggigil (-),
keringat banyak (-),kejang saat demam (-).Nafsu makan pasien juga
menurun sejak beberapa hari ini. Mual muntah disangkal.
Riwayat penyakit dahulu:
pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya,
riwayat batuk lama (-), riwayat asma (-), riwayat alergi tidak diketahui.
Riwayat penyakit keluarga:
keluarga pasien tidak ada yag mengalami keluhan yang serupa,
asma (-), batuk lama (-),riwayat alergi (+) yaitu ayah pasien.
Riwayat pengobatan:
pasien sempat dibawa ke UGD waktu sesak sebanyak 2 kali tapi
ibu pasien lupa tepat waktunya kapan..

Riwayat kehamilan dan persalinan:


Pasien adalah anak pertama. Pasien lahir normal di Polindes
ditolong oleh bidan, langsung menangis, BBL 3000 gram, lubang anus
5

(+) cacat bawaan (-). Kehamilan cukup bulan (38 minggu), selama hamil
ibu pasien melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur di puskesmas
(ANC > 4 kali). Ibu pasien tidak pernah sakit saat hamil, tidak pernah
mengkonsumsi obat-obatan atau jamu saat hamil, riwayat menderita
kencing manis (-), bengkak (-), kejang (-), darah tinggi (-).

Riwayat Nutrisi: Bayi minum ASI langsung dari ibu sejak lahir hingga
sekarang.

Riwayat imunisasi
Vaksinasi :
A. Dasar
BCG : (+) pada umur: ibu lupa
Hepatitis : 2x pada umur: ibu lupa
Polio : (+) , pada umur: lupa
DPT : (+) pada umur: lupa
Campak : (-)

1.3.

B. Ulangan
Pada umur : Pada umur : -

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : sakit sedang
Kesadaran : composmentis
Vital sign:

HR : 140 x/menit

RR : 55 x/menit

Suhu : 38o C

SpO2 : 83%

BB: 7,5 kg

Status generalis

Kepala dan leher:


bentuk bulat, normocephali, UUB datar, nafas cuping hidung (-)
discharge (+/-), anemis -/-, ikterus -/-, sianosis sentral(-),

pembesaran KGB leher(-)


Thoraks: simetris (+), Retraksi (+) interkosta
Pulmo : Suara Dasar vesikuler, Rhonki -/-, Wheezig +/+
Cor : S1 S2 tunggal regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen: distensi (-), Bising usus positif normal,
Ekstremitas:
Hangat
Edema
Sianosis

1.4.

Ekstremitas atas
+/+
-/-/-

Ekstremitas bawah
+/+
-/-/-

Pemeriksaan Penunjang
Darah Lengkap (30/12/2014)

HGB

: 11,2%

HCT

: 32,9 %

MCV

: 77,8

MCH

:26,5

WBC

: 8.1/mm3

PLT

:427 /mm3

1.5.

Diagnosis Kerja:
Bronkiolitis

1.6.

Diagnosis Banding:
Pneumoni

1.7.

Rencana Terapi: susp.Bronkiolitis


- D5 Ns 24 tpm(mikro)
7

-Ampicilin 4x200mg
-Dexa-M 3x1,5mg
-Nebu farbivent 3x1 A
Oral: -Ambroxol syr 3x3/4 cth
-Paracetamol syr 3x3/3 cth
1.8.

Rencana Pemeriksaan Penunjang


- analisi gas darah
-Foto thorak
- pemeriksaan virology / bacteriology (jika memungkinkan)

BAB III
RESUME KASUS
Pasien bayi laki-laki 5 bulan datang ke Rumah Sakit Kota Mataram
tanggal 21 oktober 2015, berdasarkan heteroanamnesis yang dilakukan kepada ibu
pasien dengan dikeluhkan mengalami sesak nafas sejak sekitar 3 hari sebelum
masuk rumah sakit. sesak mulai muncul saat bayi terpapar obat nyamuk
sebelumnya saat hendak tidur malam hari. Sesak tidak dipengaruhi perubahan
cuaca ataupun makanan. Sesak yang dikeluhkan semakin memberat. Pasien juga
dikeluhkan mengalami batuk kering, pilek, demam. demam dirasakan turun naik,
tidak begitu tinggi, nafas dikatakan berbunyi, menggigil (-), keringat banyak
(-),kejang saat demam (-).Nafsu makan pasien juga menurun sejak beberapa hari
ini. Mual dan muntah disangkal, pasien tidak memiliki riwayat alergi ataupun
asma, dikeluarga pasien ayah pasien memiliki riwayat alergi. Pasien selama ini
tidak memiliki riwayat pengobatan yang spesifik, pasien merupakan anak pertama
dengan proses kelahiran secara normal, hambatan saat lahir tidak ada dan
antropometri kelahiran pasien dalam batas normal, ibu pasien mengatakan selam
kehamilan dirinya rajin melakukan ANC kehamilan yaitu > 4x selama kehamilan.
Imunisasi pasien dilakukan sesuai jadwal imunisasi, pada pemeriksaan fisik
pemeriksa mendapatkan keadaan pasien saat diperiksa tampak sakit sedang, pada
vital sign didapatkan HR : 140 x/menit, RR : 55 x/menit, Suhu : 38o C, SpO2 :
83%, pada pemeriksaan fisik lainya didapatkan kelainan discharge (+/-)pada
hidung, pada pemeriksaan paru yakni terdapat suara tambahan paru yaitu
wheezing pada kedua paru, dan terdapat retraksi pada interkosta pasien.
pemeriksaan pada organ lain dalam batas normal. Pemeriksaan yang ingin
pemeriksa lakukan pada pasien ini adalah pemeriksaan saturasi oksigen berkala,
foto thorax, pemeriksaan virology/bacteriology (jika memungkinkan).

follow-up
Tanggal
21/10/2
015

Catatan visite

Terapi dan instruksi

dokter
S]Sesak(+),batuk(+),panas(-),BAB/B
D5 Ns 24 tpm(mikro)
Ampicilin 4x200 mg
AK(+),ASI/PASI(+),Reflek hisap (+)
DExa-M 3x1,5 mg
Nebu Farbivent 3x1 A
O] KU: sedang; Kesadaran : Ambroxol syr 3x3/4 cth
Paracetamol syr 3x1/3
composmentis
Vital sign: HR=124 x/menit; RR : 55 cth
x/menit; Suhu :37,9 o C; BB:7,5 kg;
Kepala dan leher: normocephali, nafas
cuping hidung (+) anemis -/-, ikterus
-/-, sianosis

(-), pembesaran KGB

leher (-)
Thoraks:
Pulmo:bentuk dada normal,simetris
retraksi (+),rhonki-/-, wheezing +/+
Cor:S1/ S2 tunggal regular
Abdomen:
BU(+),Distensi : (-) massa : (-)
Organomegali (-),
Ekstremitas:
Akral hangat (+)
A] Susp.Bronkiolitis
22/10/2

S]Demam(-),Sesak(+),batuk(+),Pilek(

015

+),BAB(-),BAK(+),ASI(+)
O]

KU:

sedang;

Kesadaran

D5 Ns 24 tpm(mikro)
Ampicilin 4x200 mg
DExa-M 3x1,5 mg
Nebu Farbivent 3x1 A
Ambroxol syr 3x3/4 cth
10

composmentis;

Paracetamol syr 3x1/3

Vital sign: HR: 168 x/menit; RR : 40

cth

x/menit; Suhu : 37,2o C;


Kepala dan leher:

normocephali,

nafas cuping hidung (+) anemis -/-,


ikterus -/-, pembesaran KGB leher (-)
Thoraks:
Pulmo:bentuk dada normal,simetris
retraksi (+),rhonki-/-, wheezing +/+
Cor:S1/ S2 tunggal regular
Abdomen:
BU(+),Distensi : (-) massa : (-)
Organomegali (-),
Ekstremitas:
Akral hangat (+)
23/10/2

A] Susp.Bronkiolitis
S]Demam(-),Sesak(-),batuk(+),Pilek(-

015

),BAB(+),BAK(+),ASI(+),muntah(-)
O]

KU:

sedang;

Kesadaran

composmentis;

D5 Ns 24 tpm(mikro)
Ampicilin 4x200 mg
DExa-M 3x1,5 mg
Nebu Farbivent 3x1 A
Ambroxol syr 3x3/4 cth
Paracetamol syr 3x1/3 cth

Vital sign: HR: 108 x/menit; RR : 28


x/menit; Suhu : 36,7o C;
Kepala dan leher:

normocephali,

nafas cuping hidung (-) anemis -/-,


ikterus -/-, pembesaran KGB leher (-)
Thoraks:
Pulmo:bentuk dada normal,simetris
retraksi (-),rhonki+/+, wheezing +/+
Cor:S1/ S2 tunggal regular
Abdomen:
BU(+),Distensi : (-) massa : (-)
Organomegali (-),
11

Ekstremitas:
Akral hangat (+)
24/10/2

A] Susp.Bronkiolitis
S]Demam(-),Sesak(-),batuk(+),Pilek(-

015

),BAB(+),BAK(+),ASI(+),muntah(-)
O]

KU:

sedang;

Kesadaran

composmentis;

D5 Ns 24 tpm(mikro)
Ampicilin 4x200 mg
DExa-M 3x1,5 mg
Nebu Farbivent 3x1 A
Ambroxol syr 3x3/4 cth
Paracetamol syr 3x1/3 cth

Vital sign: HR: 100 x/menit; RR : 40


x/menit; Suhu : 36,7o C;
Kepala dan leher:

normocephali,

nafas cuping hidung (-) anemis -/-,


ikterus -/-, pembesaran KGB leher (-)
Thoraks:
Pulmo:bentuk dada normal,simetris
retraksi (-),rhonki+/+, wheezing -/Cor:S1/ S2 tunggal regular
Abdomen:
BU(+),Distensi : (-) massa : (-)
Organomegali (-),
Ekstremitas:
Akral hangat (+)
A] Susp.Bronkiolitis

12

BAB IV
PEMBAHASAN

2.1.

Definisi
Penyakit IRA-bawah yang ditandai dengan adanya inflamasi pada
bronkiolus,umumnya disebabkan oleh infeksi virus secara klinis ditandai
dengan episode pertama wheezing pada bayi yang didahului dengan gejala
IRA
Menurut Wohl bronkiolitis adalah inflamasi bronkioli pada bayi < 2
tahun.berdasarkan Guldeline dari UK bronkiolitis adalah penyakit seasonal
viral yang ditandai dengan adanya panas,pilek,batuk dan mengi.

2.2.

Etiologi
Sekitar 95% kasus-kasus tersebut secara serologis terbukti disebabkan
oleh invasi RSV,Rhinovirus,Adenovirus,Parainfluenza virus,enterovirus,dan
13

influenza virus.Tidak ada bukti yang kuat bahwa bakteri menyebabkan


bronkiolitis.

2.3.

Tanda dan Gejala


-

Bayi mula- mula menderita infeksi ringan pada saluran pernapasan atas
disertai ingus yang serous dan bersin.gejala ini biasanya berakhir beberapa
hari

Batuk

Demam 38,5-39C,jarang terjadi demam tinggi

Takipne

sesak napas

Retraksi dinding dada

suara Wheezing

Poor

feeding,kesulitan

makan

yang

berhubungan

dengan

sesak

napas,namun bukan merupakan hal mendasar untuk diagnosis


-

Merintih

Sianosis

Muntah setelah batuk

2.4.

Faktor Resiko
-

Usia
14

Prematuritas

Kelainan jantung bawaan

Orang tua perokok

Sosio ekonomi rendah

Bayi yang tidak mendapatkan ASI

Lingkungan padat penduduk

Chronic lung desease of prematurity

Jumlah saudara atau berada ditempat penitipan

2.5.

Patofisiologi
Bronkiolitis

akut

ditandai

dengan

obstruksi

bronkiolus

yang

disebabkan oleh edema dan kumpulan mucus serta puing-puing seluler dan
oleh invasi bagian bagian mucus yang lebih kecil oleh virus.Karena
tahanan/resistensi terhadap aliran udara didalam saluran besarnya berbanding
terbalik dengan diameter penampang saluran respiratorius,maka penebalan
yang sedikit sekalipun pada bronkiolus,akan memberikan hambatan aliran
udara yang sangat besar,terutama pada bayi yang mempunyai penampang
saluran respiratori kecil.
Resistensi atau tahanan udara pada bronkiolus meningkat saat fase
inspirasi dan ekspirasi,namun karena

selama ekspirasi rasidu saluran

respiratori menjadi kecil maka hasilnya adalah obstruksi pernapasan yang


menyebabkan air trapping dan hiperinflasi.Atelektasis dapat terjadi ketika
obstruksi menjadi total dan udara yang terperangkap diabsorbsi.

15

Proses patologis ini akan mengganggu pertukaran gas normal didalam


paru.Perfusi

ventilasi

yang

tidak

seimbang

akan

menyebabkan

hipoksemia,dan kemudian terjadi hipoksia jaringan.Retensi karbondioksida


tidak selalu terjadi kecuali pada beberapa pasien.makin tinggi frekuensi
pernapasan

makin

tinggi,makin

rendah

tekanan

oksigen

arteri.hiperkapne,biasanya tidak terjadi sampai pernapasan melebihi 60


x/menit,selanjutnya hiperkapne ini bertambah menjadi takipne.

2.6.

Diagnosis
Diagnosis

ditegakkan

melalui

anamnesa,pemeriksaan

fisik,pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya.


-

Anamnesa

Sering terjadi pada anak berusia < 2 tahun.insiden tertinggi terjadi


pada usia 3-6 bulan.

Anak yang menderita bronkiolus sering terjadi demam atau riwayat


demam,namun jarang terjadi demam tinggi.

Rhinorea,pilek sering timbul sebelum gejala lain seperti takipneu


sesak napas,dan kesulitan makan

Batuk kering dan mengi

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang mengarah kediagnosa bronkiolitis adalah
adanya takipne,takikardi,dan peningkatan suhu diatas 38,5C.Obstruksi
saluran respiratori bawah akibat respon inflamasi akut akan menimbulkan
16

gejala ekspirasi memanjang hingga Wheezing.usaha-usaha pernapasan


yang dilakukan oleh anak untuk mengatasi obstruksi adalah pernapasan
cuping hidung dan retraksi interkosta.selain itu dapat juga ditemukan ronki
dari pemeriksaan auskultasi paru.Sianosi dapat terjadi,dan bila gejala
menghebat dapat terjadi apnea terutama pada bayi < 6 minggu.

Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan darah rutin kurang bermakna,karena jumlah leukosit
biasanya normal.demikian pula denga elektrolit.Analisa Gas Darah
diperlukan untuk anak dengan sakit berat,dan kemungkinan mengalami
gagal napas.Pada foto rontgen toraks didapatkan gambaran hiperinflasi
dan infiltrate tapi gambaran ini tidak spesifik,dan dapat ditemukan pada
asma.Untuk menemukan RSV dilakukan pemeriksaan virology dengan
kultur virus,Rapid antigen detection test,ELISA atau polymerase chain
reaction(PCR).

Pemeriksaan bakteriologi secara rutin tidak diindikasikan dalam


menilai dan menata laksana bayi dengan bronkiolitis tipikal.Pemeriksaan
darah lengkap tidak diindikasikan dalam menilai dan menata laksana bayi
dengan bronkiolitis tipikal

Beratnya penyakit ditentukan dengan skala klinis,misalnya


Respiratory distress Assesment instrument(RDAI),atau modifikasinya
yang mengukur laju pernapasan,usaha napas,beratnya Wheezing dan
oksigenasi.Dalam penegakan diagnosis bronkiolitis,perlu memperhatikan
manifestasi klinis yang dapat menyerupai penyakit lain,dan penting untuk
memperhatikan epidemiologi,rentang usia terjadinya kasus,dan musimmusim tertentu dalam satu tahun.
17

2.6.1. Pemeriksaan Penunjang


-

Saturasi oksigen
Bayi dengan saturasi oksigen < 92% membutuhkan perawatan
diruang intensif

Analisa Gas darah


Umumnya tidak diindikasikan pada bronkiolitis.

Foto toraks
Dipertimbangkan pada bayi dengan diagnosa meragukan atau
penyakit atipikal.Foto toraks pada bronkiolitis yang ringan tidak
memberikan informasi yang dapat mempengaruhi pengobatan

Pemeriksaan virologi

Pemeriksaan Bakteriologi secara rutin tidak diindikasikan pada


penderita bronkiolitis bakteriologi tipikal

2.7.

Pemeriksaan darah lengkap

Diagnosis Banding
Keadaan yang paling lazim terancu dengan bronkiolitis akut adalah
asma.satu atau lebih dari hal dibawah ini yang membedakan asma dengan
bronkiolitis adalah adanya riwayat keluarga yang menderita asma,episode
berulang pada bayi yang sama,mulainya mendadak tanpa didahului infeksi
terlebih dahulu,ekspirasi sangat memanjang,eosinofilia,dan respon perbaikan
segera pada pemberian satu dosis albuterol aerosol.Serangan berulang
menggambarkan titik pembeda yang penting.

18

Diagnosis banding Anak dengan Wheezing


Diagnosis
Asma

Bronkiolitis

Wheezing

Gejala
- Riwayat wheezing berulang,kadang tidak berhubungan
dengan batuk dan pilek
- Hiperinflasi dinding dada
- Ekspirasi memanjang
- Berespon baik terhadap bronkodilator
-

Episode pertama wheezing pada anak umur < 2 tahun

Hiperinflasi dinding dada

Ekspirasi memanjang

Gejala pada pneumonia juga dapat dijumpai

Respon kurang/tidak ada respon dengan bronkodilator

Wheezing selalu berkaitan dengan batuk dan pilek

Tidak ada riwayat keluarga dengan asma/eksem/hay

berkaitan dengan
batuk atau pilek

fever
-

Ekspirasi memanjang

Cenderung

lebih

ringan

dibandingkan

dengan

wheezing akibat asma

Benda Asing

Berespon baik terbaik bronkodilator

Riwayat tersedak atau wheezing tiba-tiba

Wheezing umumnya unilateral

Air trapping dengan hipersonor dan pergeseran


mediastinum

19

Pneumonia

2.8.

Tanda kolaps paru

Batuk

Tarikan dinding dada bagian bawah kedalam

Demam

Crackles/ronki

Pernapasan cuping hidung

Merintih/grunting

Penatalaksanaan
Bronkiolitis pada umumnya tidak memerlukan pengobatan.Pasien
bronkiolitis dengan klinis ringan dapat rawat jalan jika,jika klinis berat harus
rawat inap.

1. Pemberian Bronkodilator
masih controversial,review Cochrane penggunaan bronkodilator
untuk bronkiolitis menunjukkan perbaikan skor klinik untuk jangka
pendek,tetapi tidak terdapat perbaikan oksigenasi atau angka perawatan di
RS. untuk perbaikan klinik
2. Pemberian oksigen.
Penderita biasanya ditempatkan dilingkungan udara

yang sejuk

dengan oksigen untuk menyembuhkan hipoksemia dan mengurangi


kehilangan air insensible akibat takipneu

20

3. Cairan Elektrolit
Untuk

mengimbangi

pengaruh

dehidrasi

akibat

takipne.Keseimbangan elektrolit harus disesuaikan dengan larutan


intravena yang sesuai
4. Pemberian obat
Obat

penurun

panas

dan

obat

batuk

sebagai

terapi

suportif,menunjukkan penurunan RR dan HR yang bermakna.

5. Ribavirin
Agen antivirus pemakaiannya masih kontroversial,bahkan pada
bayi yang sakit parah sekalipun.
6. Antibiotik
Tidak mempunyai nilai terapeutik,kecuali jika ada penyakit infeksi
sekunder
7. Kortikosteroid
Penggunaan kortikosteroid menyebabkan skor gejala klinis
menurun,dan perawatan di RS yang bermakna,tetapi seharusnya tidak rutin
digunakan.

2.9.

Prognosis
Beberapa studi kohort menghubungkan infeksi bronkiolitis akut berat
pada bayi akan berkembang menjadi asma,23% berkembang menjadi asma
21

pada usia 3 tahun.Sedangkan penelitian di Norwegia menunjukkan


menunjukkan bahwa bayi yang dirawat dengan bronkiolitis mempunyai
kecendrungan menderita asma dan penurunan fungsi paru pada bronkial yang
menetap selama beberapa tahun setelah menderita bronkiolitis pada bayi
muda.

2.10. Pencegahan
- Imunoglobulin
Pemberian immunoglobulin untuk meningkatkan antibody yang
menetralisir protein F dan G dengan cara pemberian dari luar dan
imunisasi ibu.Efek immunoglobulin yang mengandung RSV neutralizing
antibody titer tinggi akanmengurangi beratnya penyakit.akan tetapi perlu
diperhatikan efek sampingnya pada bayi dengan penyakit jantung sianotik
- Vaksinasi

DAFTAR PUSTAKA

1.Supriyatno,Bambang.Buku Ajar Respirologi.edisi pertama. Jakarta.Ikatan


Dokter Anak Indonesia.2010
2.Hegar,Badriul.Pedoman

Pelayanan

Medis.

Jakarta.Ikatan

Dokter

Anak

Indonesia. 2010
3.Wahab,Samik.Ilmu Kesehatan Anak Nelson edisi lima belas. Jakarta.EGC. 2000
4.World Health Organitation.Pelayanan kesehatan anak di Rumah Sakit.Edisi
keempat. Jakarta.WHO. 2009

22

23