Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN
Gangguan pendengaran merupakan suatu permasalahan yang dapat terjadi pada setiap
umur dan menyebabkan seseorang sulit berkomunikasi verbal. Gangguan ini dapat
dikategorikan sebagai gangguan pendengaran konduktif, sensorineural maupun
keduanya. Salah satu penyebab utama gangguan pendengaran konduktif adalah
serumen obsturan.1,2
Secara alamiah serumen merupakan substansi yang bersifat membersihkan dan
melindungi kanalis akustikus eksternal. Serumen terbentuk ketika hasil sekresi
kelenjar sebasea pada sepertiga luar kanalis akustikus bercampur dengan sel epitel
skuamos yang mengalami eksfoliasi. Pada kondisi normal, serumen dibuang melalui
mekanisme pembersihan diri, dimana terjadi migrasi ke arah luar dari kanalis
akustikus akibat pergerakan alamiah sel epitel, dengan dibantu oleh pergerakan
rahang. Serumen yang menyebabkan gangguan klinis disebut serumen obsturan. Di
Amerika Serikat, sebanyak 6-18 juta orang mengalami masalah serumen obsturan dan
sekitar 150.000 tindakan ekstraksi serumen dilakukan. Namun, data mengenai insiden
serumen obsturan di Indonesia belum tersedia dengan akurat.3
Serumen obsturan memberikan dampak yang buruk bagi pasien sehingga dapat
mengganggu aktivitasnya. Oleh karena itu, diperlukan anamesis yang baik,
pengobatan yang tepat dan efisien, pemberian KIE (komunikasi, informasi dan
edukasi) serta pencegahan sehingga dapat mengurangi dampak terjadinya serumen
obsturan.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

ANATOMI TELINGA

2.1.1 Anatomi Telinga Luar


Telinga luar terdiri dari aurikula dan kanalis auditorius eksternus dan dipisahkan dari
telinga tengah oleh membrana timpani. Aurikula berfungsi untuk membantu
pengumpulan gelombang suara. Gelombang suara tersebut dihantarkan ke telinga
bagian tengah melalui kanalis auditorius eksternus. Sendi temporal mandibular
terdapat di depan meatus auditorius eksternus.2,4
Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2,5 sentimeter. Sepertiga lateral
mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat tempat kulit melekat. Dua pertiga
medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. Kanalis auditorius eksternus
berakhir pada membran timpani. Kulit dalam kanal mengandung glandula
seruminosa, yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen. Serumen
mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit.2,4
2.1.2 Anatomi Telinga Tengah
Bagian atas membran timpani disebut pars flaksida, sedangkan bagian bawah pars
tensa. Pars flaksida mempunyai dua lapisan, yaitu bagian luar merupakan lanjutan
epitel kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti
epitel mukosa saluran napas. Pars tensa mempunyai satu lapisan lagi di tengah, yaitu
lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara
radial di bagian luar dan sirkular di bagian dalam.2,4
Di dalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun dari luar
ke dalam, yaitu maleus, inkus, dan stapes. Tulang pendengaran di dalam telinga
tengah saling berhubungan. Prosesus longus maleus melekat pada membran timpani,
maleus melekat pada inkus, dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada
2

tingkap oval yang berhubungan dengan koklea. Hubungan antara tulang-tulang


pendengaran merupakan persendian. Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah
menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah.2,4
2.1.3 Anatomi Telinga Dalam
Koklea bagian tulang dibagi menjadi dua lapisan oleh suatu sekat. Bagian dalam
sekat ini adalah lamina spiralis ossea dan bagian luarnya adalah lamina spiralis
membranasea. Ruang yang mengandung perilimfe terbagi dua, yaitu skala vestibuli
dan skala timpani. Kedua skala ini bertemu pada ujung koklea yang disebut
helikotrema.4
Skala vestibuli berawal pada foramen ovale dan skala timpani berakhir pada foramen
rotundum. Pertemuan antara lamina spiralis ossea dan membranasea kearah perifer
membentuk suatu membrana yang tipis yang disebut membrana Reissner yang
memisahkan skala vestibuli dengan skala media (duktus koklearis). Duktus koklearis
berbentuk segitiga, dihubungkan dengan labirin tulang oleh jaringan ikat
penyambung periosteal dan mengandung end organ dari nervus koklearis dan organ
korti. Duktus koklearis berhubungan dengan sakkulus dengan perantaraan duktus
Reuniens. 4
Organ korti terletak di atas membrana basilaris yang mengandung organel-organel
yang penting untuk mekenisma saraf perifer pendengaran. Organ korti terdiri dari
satu baris sel rambut dalam yang berisi kira-kira 3000 sel dan tiga baris sel rambut
luar yang berisi kira-kira 12.000 sel. Pada permukaan sel rambut terdapat strereosilia
yang melekat pada suatu selubung yang cenderung datar yang dikenal sebagai
membran tektoria. Membran tektoria disekresi dan disokong oleh limbus.4,5

Gambar 1. Anatomi Telinga4


2.2

FISIOLOGI PENDENGARAN

Getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang diteruskan ke liang telinga dan
mengenai membran timpani sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini
diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain.
Selanjutnya, stapes menggerakkan foramen ovale yang juga menggerakkan perilimfe
dalam skala vestibuli. Getaran diteruskan melalui membran Reissner yang
mendorong endolimfe dan membrana basalis ke arah bawah. Perilimfe dalam skala
timpani akan bergerak sehingga foramen rotundum terdorong ke arah luar. Pada
waktu istirahat, ujung sel rambut korti berkelok dan dengan terdorongnya membrana
basal, ujung sel rambut itu menjadi lurus. Rangsangan fisik ini berubah menjadi
rangsangan listrik akibat adanya perbedaan ion Natrium dan Kalium yang diteruskan
ke cabang-cabang nervus vestibulokoklearis. Kemudian meneruskan rangsangan itu
ke pusat sensorik pendengaran di otak melalui saraf pusat yang ada di lobus
temporalis.2,5
2.3

SERUMEN OBSTURAN

2.3.1 Definisi
Secara alamiah serumen merupakan substansi yang bersifat membersihkan dan
melindungi kanalis akustikus eksternal. Serumen terbentuk ketika hasil sekresi

kelenjar sebasea pada sepertiga luar kanalis akustikus bercampur dengan sel epitel
skuamos yang mengalami eksfoliasi. Pada kondisi normal, serumen dibuang melalui
mekanisme pembersihan diri, dimana terjadi migrasi ke arah luar dari kanalis
akustikus akibat pergerakan alamiah sel epitel, dengan dibantu oleh pergerakan
rahang. Konsistensi serumen biasanya lunak, tetapi dapat pula kering. Kondisi ini
dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya faktor keturunan, iklim, usia, dan
keadaan lingkungan.6,8
Walaupun tidak mempunyai efek antimikrobial atau antijamur, serumen mempunyai
efek proteksi. Serumen mengikat kotoran, menyebarkan aroma yang tidak disenangi
serangga sehingga serangga enggan masuk ke liang telinga. Serumen harus dibedakan
dengan pelepasan kulit yang biasanya terdapat pada orang tua, maupun dengan
kolesteatosis atau keratosis obsturan.7 Serumen dapat menumpuk di liang telinga dan
menimbulkan gangguan pendengaran. Bila telinga kemasukan air (misalnya saat
mandi atau berenang) serumen dapat mengembang sehingga menimbulkan rasa
tertekan. Kondisi ini dikenal dengan serumen obsturan, dimana akumulasi serumen
dapat berukuran cukup besar atau konsistensi cukup keras untuk menutup lumen
kanalis akustikus dan menghambat pendengaran.6,7
2.3.2 Epidemiologi
Sejumlah studi yang mempelajari tentang epidemiologi serumen obsturan
menunjukkan bahwa kondisi ini umum ditemui. Sekitar 2-6% dari seluruh populasi
pada suatu daerah dapat mengalami serumen obsturan. Namun, tidak semua penderita
serumen obsturan mencari pertolongan medis, hanya sekitar 39 dari 1000 pasien
dalam satu populasi mencari pertolongan medis ke dokter terkait serumen obsturan.3,6
Di Inggris, sebanyak 1,2- 3,5 juta orang bermasalah dengan serumen obsturan.
Sementara di Amerika Serikat, terjadi pada 6-18 juta orang dan 150.000 tindakan
ekstraksi serumen dilakukan. Namun, data mengenai insiden serumen obsturan di
Indonesia belum tersedia dengan akurat, dan studi yang mempelajari tentang hal ini
masih sangat terbatas.3
5

Berdasarkan fenotipnya, serumen dapat bersifat lunak maupun kering. Serumen lunak
berciri-ciri warna kecokelatan dan lengket, sering didapatkan pada ras Kaukasia dan
Afrika-Amerika. Sementara serumen kering berciri-ciri warna coklat atau abu-abu
dan keras, sering didapatkan pada ras Asia dan Indian-Amerika. Serumen tipe kering
juga cukup banyak ditemui di daerah Eropa Utara, Timur Tengah, kepulauan Pasifik,
dan Afrika Selatan. Meski demikian, pada ras Asia yang bertempat di Amerika atau
Eropa, cenderung ditemui serumen tipe lunak daripada tipe kering.7
Sejumlah kelompok masyarakat tertentu juga memiliki kecenderungan mengalami
serumen obsturan. Kelompok ini meliputi masyarakat yang menempati rumah rawat,
serta pemakai alat bantu dengar. Serumen obsturan juga cenderung terjadi pada
pasien dengan retardasi mental, serta pada pasien dengan indeks massa tubuh di atas
batas normal. Sebuah studi mendapati sebanyak 40% pasien yang tinggal di rumah
rawat menderita serumen obsturan. Serumen obsturan didapati pada 10% anak-anak,
5% orang dewasa normal, hingga 57% pasien lansia di rumah rawat, dan 36% pasien
dengan retardasi mental.3,7
2.3.3 Etiologi dan Patofisiologi
Serumen obsturan umumnya muncul akibat sejumlah penyebab. Pertama-tama,
sejumlah perubahan anatomis (seperti stenosis pada meatus akustikus eksterna) dapat
memicu serumen obsturan. Keratosis obsturan (yaitu sebuah penyakit akibat produksi
keratin yang berlebihan) dapat memperlebar meatus akustikus eksterna sehingga
memungkinkan akumulasi serumen dalam jumlah besar.7
Serumen obsturan dapat terjadi akibat kegagalan keratinosit untuk saling memisah
pada proses turnover kulit. Teori ini diperkuat dengan data bahwa serumen keras
yang sering menjadi obsturan terdiri dari lebih banyak lembaran-lembaran keratin
dibanding serumen tipe lunak.7

Terdapat hipotesis lain yang diusulkan menjadi salah satu patogenesis pembentukan
serumen obsturan, yaitu berkaitan dengan zat karotenoid. Pemberian retinoid pada
sebuah eksperimen memperlihatkan terjadinya peningkatan hiperplasia epidermal dan
aktivitas

kelenjar

sebacea

penghasil

serumen.

Perubahan-perubahan

ini

meningkatkan produksi serumen dan juga kecenderungan terjadi obsturan.7


Penggunaan cotton bud untuk membersihkan liang telinga sering dianggap dapat
mengakibatkan serumen obsturan, yaitu ketika pemakaian yang keliru mendorong
serumen semakin ke dalam liang telinga menuju membran timpani dan
mengakibatkan akumulasi serumen sehingga menjadi obsturan. Hal serupa berlaku
pula pada pasien yang sering menggunakan instrumen telinga, seperti alat bantu
dengar. Meski demikian, sejumlah penelitian menyatakan bahwa tidak ada hubungan
yang bermakna antara pemakaian cotton bud dengan kejadian serumen obsturan. 7
2.3.4 Manifestasi Klinis
Serumen obsturan dapat menimbulkan gejala yang bervariasi, diantaranya termasuk
berkurangnya pendengaran, gatal, nyeri, tinnitus, vertigo, dan peningkatan risiko
infeksi terutama otitis eksterna. Pasien dapat pula merasakan sensasi penuh di telinga,
keluarnya aroma tidak sedap dari telinga, dan batuk. Pendengaran dapat sangat
terganggu bila serumen sampai menutup seluruh liang telinga. Penurunan
pendengaran dapat bervariasi, dari 5 dB hingga 40 dB, tergantung dari derajat
tertutupnya liang telinga. Pasien juga dapat mengeluhkan rasa tertekan saat berenang
atau mandi karena serumen mengembang bila telinga masuk air.2,3,7
2.3.5 Pendekatan Diagnostik
Pasien membutuhkan pemeriksaan telinga jika terdapat gejala yang mengganggu
aktivitas keseharian atau mengakibatkan penurunan produktivitas kerja. Menurut
Roland dkk, diagnosis serumen obsturan ditegakkan bila akumulasi serumen pada
liang telinga: (1) berkaitan dengan gejala-gejala tertentu atau (2) memerlukan
intervensi medis.3

Anamnesis dimulai dengan melengkapi data mengenai riwayat gejala yang dirasakan
oleh pasien. Pasien dapat mengeluhkan sejumlah keluhan ataupun hanya satu keluhan
saja. Keluhan penurunan pendengaran terkadang tidak disadari hingga terjadi
penurunan yang signifikan. Keluhan pusing atau telinga berdengung dapat terjadi
ketika liang telinga telah mengalami obstruksi parsial.8
Pemeriksaan organ telinga difokuskan pada pemeriksaan visual dan menggunakan
otoskop. Pemeriksaan visual dimaksudkan untuk melihat kondisi-kondisi tertentu
yang dapat mempengaruhi atau menghambat teknik ekstraksi serumennya nanti.
Sementara pemeriksaan dengan otoskop bertujuan untuk mengetahui apakah perlu
dilakukan ekstraksi serumen. Faktor-faktor yang harus dievaluasi antara lain: adanya
serumen, tipe serumen, bentuk, ukuran, dan status dari kanalis akustikus itu sendiri.
Bila memungkinkan, membran timpani juga dievaluasi untuk memastikan
keutuhannya. Bila membran timpani tidak bisa dievaluasi maka harus melanjutkan
prosedur ekstraksi serumen dengan lebih berhati-hati.9
Pemeriksaan audiologi dengan tes penala dapat melengkapi diagnosis serumen
obsturan untuk mengetahui derajat tuli konduksi yang diderita pasien. Untuk
diagnostik serumen obsturan sendiri sebenarnya tidak terdapat standardisasi khusus.
Crandell dan Boeser memaparkan derajat penyumbatan liang telinga oleh serumen
sebagai berikut: non-occluding (<50% penyumbatan liang telinga), excessive (5080% penyumbatan liang telinga), atau total (>80% penyumbatan liang telinga).9
2.3.6 Tatalaksana
Mekanisme menghilangkan tumpukan serumen pada liang telinga dapat dilakukan
menggunakan metode mekanis, kimiawi, ataupun kombinasi dari kedua metode
tersebut.11 Target yang ingin dicapai dari tatalaksana serumen obsturan adalah
memberikan visualisasi liang telinga yang lapang dan membrane telinga yang jelas.
Metode-metode pengeluaran serumen perlu mempertimbangkan sejumlah kondisi, di

antaranya: (1) sumber daya yang tersedia, (2) pengalaman dan keahlian klinisi, (3)
kemudahan dalam membersihkan liang telinga itu sendiri. Roland dkk menyebutkan,
tata laksana serumen obsturan dapat bervariasi, tergantung tingkat keparahan serumen
obsturan dan kenyamanan pasien, yaitu:3
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

observasi (watchful waiting)


KIE
Administrasi agen serumenolitik
Irigasi liang telinga
Ekstraksi manual (kuret, forsep, suction)
Apusan lidi-kapas
Ear candling

Observasi dijadikan pilihan apabila serumen ditemukan pada pemeriksaan fisik rutin,
dimana pasien tidak mengeluhkan gejala yang bermakna. Tidak jarang klinisi perlu
memberikan KIE yang tepat pada pasien agar tidak selalu meminta serumen
diekstraksi atau dikeluarkan karena serumen merupakan produk fisiologis telinga.3
Tiga metode yang paling umum dilakukan adalah: (1) administrasi agen
serumenolitik, (2) irigasi, (3) ekstraksi manual. Kombinasi dari metode-metode ini
pada satu hari yang sama atau dengan interval waktu tertentu umum ditemui pada
praktek sehari-hari. Serumen yang lembek, dibersihkan dengan kapas yang dililitkan
pada pelilit kapas. Serumen yang keras dikeluarkan dengan pengait atau kuret.
Apabila dengan cara tersebut serumen tidak dapat dikeluarkan, maka serumen harus
dilunakkan lebih dahulu dengan tetes karbogliserin 10% selama 3 hari. Namun, jika
serumen sudah terlalu jauh terdorong ke dalam liang telinga sehingga dikhawatirkan
menimbulkan trauma pada membran timpani sewaktu mengeluarkannya, maka
dikeluarkan dengan mengalirkan (irigasi) air hangat yang suhuya sesuai suhu tubuh.
Sebelum melakukan irigasi telinga, harus dipastikan tidak ada riwayat perforasi pada
membran timpani. Teknik irigasi dilakukan dengan mengalirkan air hangat
menggunakan syringe ke dalam liang telinga secara postero-superior untuk
memastikan semburan air tidak langsung mengenai gendang telinga. Diharapkan
dengan teknik ini serumen dapat keluar mengikuti aliran semburan air. Obat-obatan
serumenolitik digunakan untuk melunakkan serumen terlebih dahulu sehingga
9

memudahkan ekstraksi serumen. Dengan menggunakan serumenolitik, tindakan


irigasi dan ekstraksi menjadi lebih mudah.2,6,7,8,9,10
Tindakan-tindakan di atas dapat memperbaiki gejala penurunan pendengaran yang
dirasakan oleh pasien secara signifikan. Penelitian oleh Subha dkk memperlihatkan
perbaikan pendengaran yang cukup bermaka dari pasien-pasien yang telah menjalani
ekstraksi serumen, bervariasi dari 10 dB hingga 30 dB.10
2.3.7 Prognosis dan Komplikasi
Serumen obsturan jarang menimbulkan kecacatan permanen bila ditatalaksana
dengan tepat. Kemampuan mendengar pasien serumen obsturan hampir selalu dapat
kembali dengan normal setelah serumen dihilangkan dari liang telinga melalui
metode-metode yang tersedia.3,6
Pada pasien lanjut usia dengan serumen obsturan yang tidak ditangani, gangguan
pendengaran yang diderita dapat mengakibatkan kesulitan dalam berkomunikasi,
isolasi sosial, depresi, bahkan imobilitas. Apalagi berkurangnya pendengaran
dianggap sudah menjadi proses yang lazim seiring dengan bertambahnya usia
sehingga baik pasien maupun perawat pasien tidak memilih memeriksakan kondisi
tersebut ke dokter. Dengan kata lain, pasien lanjut usia dengan ketulian nonpermanen, seperti akibat serumen obsturan, bisa saja tidak mendapat intervensi untuk
waktu yang lama.11
Meskipun secara umum prosedur ekstraksi serumen aman, terdapat sejumlah
komplikasi yang bermakna. Komplikasi seperti perforasi membrane timpani, laserasi
liang telinga, infeksi telinga, serta ketulian terjadi pada 1 dari 1000 irigasi telinga.
Bila angka ini diaplikasikan pada sejumlah tindakan irigasi telinga yang dilakukan di
Amerika Serikat, maka diperkirakan 8.000 komplikasi terjadi tiap tahun sehingga
membutuhkan bantuan medis lanjutan. Komplikasi lain yang pernah dilaporkan yaitu

10

otitis eksterna (terkadang sekunder terhadap trauma kanalis akustikus eksterna),


nyeri, vertigo, dan sinkop.3,11
Bentuk terbaik dari pengendalian serumen obsturan adalah pencegahan. Bentukbentuk pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi kejadian serumen
obsturan atau kambuhnya serumen obsturan antara lain dengan KIE mengenai
kebersihan diri dan lingkungan, serta pemberian agen serumenolitik.3,11

11

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1. Identitas Pasien


Nama

: IBAP

Umur

: 4 Tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Bangsa

: Indonesia

Suku

: Bali

Agama

: Hindu

Pendidikan

:-

Status Perkawinan

: Belum Menikah

Pekerjaan

:-

Alamat

: Lik Taman I, Karangasem

Tanggal Pemeriksaan : 24 Maret 2014


3.2. Anamnesis
Keluhan Utama
Nyeri pada telinga kanan.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang bersama kedua orang tuanya ke poli THT-KL RSUD Karangasem.
Pasien dikeluhkan oleh ibunya bahwa pasien sering mengeluh nyeri pada telinga
kanan. Ibu pasien menyatakan rasa nyeri seperti penekanan dan gangguan
pendengaran seperti bunyi krebek-krebek. Orang tua pasien hanya berusaha

12

mengorek-ngorek telinga anaknya dengan menggunakan cotton bud, namun


keluhannya tidak juga menghilang.
Keluhan lainnya berupa pilek. Ibu pasien menyangkal pernah keluar cairan dari
telinga kanannya. Riwayat panas dalam disangkal.
Riwayat Penyakit Terdahulu
Ibu pasien mengatakan bahwa pasien memiliki riwayat batuk dan nyeri saat menelan.
Pasien tidak pernah menderita gangguan/infeksi di telinga sebelumnya. Riwayat
menderita alergi dan menderita penyakit sistemik seperti kencing manis, tekanan
darah tinggi, kelainan metabolik disangkal ibu pasien.
Riwayat Pengobatan
Pasien sebelumnya tidak pernah pergi ke dokter. Ibu pasien menyangkal bahwa
anaknya mengkonsumsi obat-obat tertentu sebelum mengalami keluhan gangguan
pendengaranan di telinga kanannya.
Riwayat Penyakit Keluarga
Di keluarga pasien tidak ada yang pernah mengalami keluhan yang sama. Riwayat
pada keluarga menderita penyakit sistemik seperti kencing manis, tekanan darah
tinggi, kelainan metabolik disangkal.
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien saat ini masih balita dan tinggal bersama kedua orang tuanya.
3.3. Pemeriksaan Fisik
Status Vital Sign
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan Darah

: 88/60 mmHg

Denyut Nadi

: 80 kali/menit

13

Respirasi

: 18 kali/menit

Temperatur Axila

: 36,8 oC

Status General
Kepala

: Normocephali

Mata

: Konjunctiva Anemi - / - , Sclera Ikterus - / -

Wajah

: Simetris, Paresis N. VII - / -

THT

: Sesuai status THT

Leher

: Kaku Kuduk (-)


Pembesaran Kelenjar Getah Bening - / Pembesaran Kelenjar Tiroid - / -

Thorak

: Cor

: S1S2 Tunggal, Reguler, Murmur -

Pulmo

: Vesikuler + / +, Rhonchi - / -, Wheezing - / -

Abdomen

: Distensi (-), Bising Usus (+) N, Hepar/Lien tidak teraba

Ekstremitas

: Hangat

+
+

Status Lokalis THT


Telinga
Daun telinga
Liang telinga
Discharge
Membran Timpani
Tumor
Mastoid
Tes pendengaran
Berbisik
Weber
Rinne
Schwabach
BOA
Tympanometri
Audiometri
Nada Murni
BERA
OAE

Kanan
Normal
Terdapat serumen
Tidak ada
Sulit dievaluasi
Tidak ada
Normal
Tidak dievaluasi
Tidak dievaluasi
Tidak dievaluasi
Tidak dievaluasi
Tidak dievaluasi
Tidak dievaluasi
Tidak dievaluasi
Tidak dievaluasi
Tidak dievaluasi
Tidak dievaluasi
Tidak dievaluasi

Kiri
Normal
Lapang
Tidak ada
Intak
Tidak ada
Normal

14

Tes Alat Keseimbangan

Tidak dievaluasi

Hidung
Hidung Luar
Kavum Nasi
Septum
Discharge
Mukosa
Tumor
Konka
Sinus
Koana

Kanan
Normal
Lapang
Tidak ada deviasi
Ada
Hiperemia
Tidak ada
Tidak ada dekongesti
Normal
Normal

Tenggorok
Dispneu
Sianosis
Mucosa
Dinding belakang faring
Stridor
Suara
Tonsil

Tidak ada
Tidak ada
Merah muda
Normal, Tidak ada post nasal drip
Tidak ada
Normal
T1 / T1 Tenang

Laring

Tidak dievaluasi

3.4

Kiri
Normal
Lapang
Tidak ada deviasi
Tidak ada
Merah muda
Tidak ada
Tidak ada dekongesti
Normal
Normal

Resume

Pasien laki-laki, usia 4 tahun, dikeluhkan ibunya sering mengeluh nyeri pada telinga
kanannya. Disertai adanya rasa penekanan dan gangguan pendengaran pada telinga
kanannya seperti krebek-krebek. Selain itu pasien juga mengeluh pilek. Pasien
memiliki riwayat batuk dan nyeri saat menelan. Riwayat mengalami penyakit di
telinga sebelumnya disangkal. Riwayat pernah menderita penyakit sistemik seperti
kencing manis, tekanan darah tinggi, kelainan metabolik disangkal.
Pemeriksaan Fisik :

Status Present

: Dalam batas normal

Status General

: Dalam batas normal

Status Lokalis THT

AD : serumen (+)

15

AS : serumen (-)

Telinga

: Liang telinga (serumen +/-)

Membran timpani (sulit dievaluasi/intak)

Tes Rinne (tidak dievaluasi)


Tes Weber ( tidak dievaluasi)
Tes Schwabach (tidak dievaluasi)

Hidung

: Kesan tenang

Tenggorok

: Kesan tenang

3.5. Assesment
Serumen Obsturan Dextra.
3.6. Penatalaksaan

Ekstraksi serumen AD Irigasi air hangat berhasil

Vestein syr 3 x cth 1/2

KIE

16

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada kasus, berdasarkan heteroanamnesis, pasien mengeluh adanya nyeri pada telinga
kanan. Disertai gangguan pendengaran seperti bunyi krebek-krebek dan ada rasa
penuh di telinga kanannya. Dari awal muncul keluhan, pasien belum pernah
memeriksakan dirinya ke dokter. Orang tua pasien berusaha mengorek-ngorek telinga
anaknya dengan menggunakan cotton bud, namun keluhannya tidak juga menghilang.
Keluhan lainnya berupa pilek. Pasien tidak memiliki riwayat pernah keluar cairan
dari telinga kanannya. Orang tua pasien menyangkal pernah keluar cairan dari telinga
kanannya. Riwayat panas dalam disangkal. Orang tua pasien mengatakan bahwa
pasien tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan tertentu sebelum keluhan utama
muncul, serta pada keluarga tidak pernah terjadi keluhan seperti ini sebelumnya.
Riwayat pernah menderita penyakit sistemik seperti kencing manis, tekanan darah
tinggi, kelainan metabolik juga disangkal. Berdasarkan teori, jenis gangguan
pendengaran yang dialami pasien adalah serumen obsturan. Pada gangguan
pendengaran jenis ini, transmisi gelombang suara tidak dapat mencapai telinga dalam
secara efektif. Hal ini disebabkan oleh banyak serumen yang mengisi liang telinga.
Adanya keluhan telinga yang terasa sakit dan terasa penuh serta riwayat penggunaan
cotton bud yang terlalu sering mengarahkan ke diagnosis serumen obsturan dextra.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien ini meliputi pemeriksaan status tanda
vital, general dan THT. Pada pemeriksaan fisik tidak terdapat keabnormalan pada
status tanda vital dan general pasien. Pada status THT, pemeriksaan telinga
didapatkan membran timpani kanan tidak dapat dievaluasi dan pada liang telinga
kanan tampak penumpukan serumen. Pada pemeriksaan hidung dan tenggorok
didapatkan kesan tenang. Hasil pemeriksaan fisik yang memperkuat diagnosis
serumen obsturan dextra.

17

Heteroanamnesis dan pemeriksaan fisik saja sudah bisa menentukan serumen


obsturan dextra sehingga tidak diperlukan pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan
serumen obsturan disesuaikan dengan tingkat keparahan serumen obsturan dan
kenyamanan pasien. Tiga metode yang paling umum dilakukan adalah: (1)
administrasi agen serumenolitik, (2) irigasi, (3) ekstraksi manual. Kombinasi dari
metode-metode ini pada satu hari yang sama atau dengan interval waktu tertentu
umum ditemui pada praktek sehari-hari. Serumen yang lembek, dibersihkan dengan
kapas yang dililitkan pada pelilit kapas. Serumen yang keras dikeluarkan dengan
pengait atau kuret. Apabila dengan cara tersebut serumen tidak dapat dikeluarkan,
maka serumen harus dilunakkan lebih dahulu dengan tetes karbogliserin 10% selama
3 hari.10 Serumen yang sudah terlalu jauh terdorong ke dalam liang telinga sehingga
dikuatirkan menimbulkan trauma pada membran timpani sewaktu mengeluarkannya,
dikeluarkan dengan mengalirkan (irigasi) air hangat yang suhuya sesuai suhu tubuh.
Sebelum melakukan irigasi telinga, harus dipastikan tidak ada riwayat perforasi pada
membran timpani.10 Teknik irigasi dilakukan dengan mengalirkan air hangat
menggunakan syringe ke dalam liang telinga secara postero-superior untuk
memastikan semburan air tidak langsung mengenai gendang telinga. Diharapkan
dengan teknik ini serumen dapat keluar mengikuti aliran semburan air. Obat-obatan
serumenolitik digunakan untuk melunakkan serumen terlebih dahulu sehingga
memudahkan ekstraksi serumen. Dengan menggunakan serumenolitik, tindakan
irigasi dan ekstraksi menjadi lebih mudah.
Pada kasus ini, dilakukan pengaliran/irigasi air hangat (spooling) ke dalam liang
telinga karena posisi serumen yang sudah terdorong jauh ke dalam liang telinga.
Kemudian dilakukan evaluasi pada membran timpani apakah intak atau tidak. Selain
itu pasien diberikan obat Vestein syr 3 x cth untuk mengatasi batuk yang diderita.
Pemberian KIE untuk mengendalikan serumen obsturan adalah pencegahan. Bentukbentuk pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi kejadian serumen

18

obsturan atau kambuhnya serumen obsturan antara lain dengan KIE mengenai
kebersihan diri dan lingkungan, serta pemberian agen serumenolitik.

19

BAB V
SIMPULAN

Serumen adalah produk fisiologis telinga yang memiliki sejumlah fungsi dan
merupakan gabungan dari sekret kelenjar sebacea dengan sel epitel yang terlepas.
Serumen ikut mengumpulkan debu dan partikel asing dan dapat keluar sendiri
mengikuti proses turnover kulit. Serumen dapat tertahan di dalam liang telinga akibat
proses mekanis dari luar, mengakibatkan akumulasi serumen yang berlebihan di liang
telinga dan mempersempit liang telinga. Serumen yang menumpuk hingga
memberikan gejala klinis yang mengganggu disebut serumen obsturan.
Serumen obsturan dapat menutup liang telinga hingga 80%, dimana keluhan yang
sering dirasakan pasien adalah penurunan fungsi pendengaran, tinnitus, nyeri, rasa
penuh pada telinga, dan gatal. Serumen obsturan dapat pula menimbulkan rasa
tertekan di telinga saat berenang, dan meningkatkan risiko infeksi. Diagnosis serumen
obsturan dilakukan melalui dari anamnesis yang tepat agar mendapat gejala-gejala
yang mengarah ke serumen obsturan. Kemudian dilakukan pemeriksaan pada telinga,
secara visual dan menggunakan otoskop. Evaluasi membran timpani adalah hal yang
sangat penting. Kondisi umum dari liang telinga harus dievaluasi sebelum
menetapkan bentuk tatalaksana yang sesuai.
Serumen dapat dikeluarkan dari liang telinga dengan cara manual (ekstraksi) atau
irigasi. Serumen yang keras dapat dilunakkan terlebih dahulu dengan obat
serumenolitik untuk mempermudah proses pengeluaran serumen. Apabila serumen
tidak terlalu menutupi liang telinga, cukup dilakukan observasi. Komunikasi,
informasi, dan edukasi adalah kunci dalam pencegahan terjadinya serumen obsturan.
Bentuk KIE yang paling sederhana adalah tidak memasukkan benda asing
sembarangan ke dalam liang telinga, termasuk membersihkan liang telinga
menggunakan cotton bud sembarangan.

20

DAFTAR PUSTAKA

1. Alriyanto, CY. Prasetyo, A. Pengaruh Serumen Obsturan Terhadap Gangguan


Pendengaran (Studi Kasus pada Siswa Kelas V SD di Kota Semarang). Program
Pendidikan Sarjana Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
2010.
2. Soetirto, I., Hendarmin, H., Bashiruddin, J. Gangguan Pendengaran dan Kelainan
Telinga. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala
dan Leher. Edisi ke-6. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. Hal: 1017.
3. Moore, K.L., Dalley, A.F., Agur, A.M.R. Ear. Dalam: Clinically Essential
Anatomy. Edisi ke-6. Lippincot Williams and Wilkins. Philadelphia. Hal: 966973.
4. Guyton, A.C., Hall, J.E. Indera Pendengaran. Dalam: Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. Edisi ke-11. EGC Medical Publisher. Jakarta. Hal: 681-687
5. Mahfuzah, dkk. Audiometri Nada Murni dan Tes Romberg. Tersedia di:
www.scribd.com/doc/34819569/Audiometri-nada-murni (Akses: 18 Maret 2012)
6. Buchari. Kebisingan. Dalam: kebisingan Industri dan Hearing Conservation
Program.

Universitas

Sumatera

Utara.

2007.

Tersedia

di:

http://library.usu.ac.id/download/ft/07002749.pdf (Akses: 18 Maret 2012)


7. Hussain, S.S.M. Conductive Hearing Loss. Ninewalls Hospital and Medical
School,

Dundee.

Nottingham.

2008.

Tersedia

di:

http://www.veterans-

uk.info/publications/conductive_hearing_loss.pdf (Akses: 16 Maret 2012)


8. Guest, J.F., Greener, M.J., Robinson, A.C., Smith, A.F. Impacted Cerumen:
Composition, Production, Epidemiology, and Management. G J Med. 2004;
97:477-488
9. Roland, P.S.,

dkk.

Clinical

Practice

Guideline:

Cerumen

Impaction.

Otolaryngology-Head and Neck Surgery (2008); 139:S1-S21


10. Hafil, A.F., Helmi, S. Kelainan Telinga Luar. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi ke-6. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2007. Hal: 57-60

21

11. College of Audiologists and Speech-Language Pathologists of Ontario. Preferred


Practice

Guideline

for

Cerumen

Management.

2005.

Tersedia

di:

http://www.caslpo.com/Portals/0/ppg/ppg_cerumenmanagement.pdf (Akses: 16
Maret 2012)
12. Subha, S.T., Raman, R. Role of Impacted Cerumen in Hearing Loss. ENT-Ear,
Nose & Throat Journal. 2006. Vol 85(10): 650-53.
13. Oron, Y., dkk. Cerumen Removal: Comparison of Cerumenolytic Agents and
Effect on Cognition Among the Elderly. Arch. Gerontol. Geriatr. (2010), doi:
10.1016/j.archger.2010.03.025

22