Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Akne vulgaris umumnya terjadi pada remaja yaitu usia 12-24 tahun dan
bersifat hilang timbul. Akne vulgaris mulai timbul gejala awal pada pubertas,
dengan komedo sebagai lesi predominan. Jumlah kasus terbanyak terjadi pada
periode pertengahan sampai akhir remaja, setelah itu insidennya akan menurun,
namun pada perempuan dapat terus berlanjut.(2)
Akne vulgaris biasanya memburuk untuk sementara waktu sebelum pelanpelan mereda dalam jangka waktu 2 sampai 3 tahun setelah itu akan menghilang
sama sekali. Puncak keparahan akne vulgaris terjadi lebih dini pada perempuan
daripada laki-laki, namun apabila terjadi pada laki-laki cenderung lebih parah.
Hingga saat ini belum dapat diketahui penyebab dari akne vulgaris, tetapi diduga
banyak faktor lain yang turut mempengaruhi timbulnya akne vulgaris, antara lain
jenis kulit, kondisi psikologis, kebersihan wajah, hormonal, input makanan, dan
lingkungan.(3)
Kebersihan wajah bertujuan mengurangi bakteri atau mikroorganisme dari
permukaan kulit wajah dengan cara mengurangi sebum dan kotoran tanpa
menghilangkan lipid barrier kulit. Lipid barrier kulit berfungsi menjaga
homeostasis air, mencegah transepidermal water loss dan evaporasi air pada
lapisan epidermis sehingga dapat terjadi dehidrasi. Selain itu berfungsi mencegah
mikroorganisme atau bahan kimia masuk ke dalam kulit. (4) Kebersihan wajah
meliputi pengetahuan seseorang tentang kebersihan wajah dan perilaku
membersihkan wajah.(5)
Kebanyakan masyarakat, khususnya remaja seringkali mengabaikan
tentang kebersihan wajah mereka dan lebih mementingkan kegiatan pribadi. Saat
beraktivitas di luar ruangan, ekskresi keringat dan sebum meningkat ditambah
terkena paparan debu, kotoran dan polusi menyebabkan kulit wajah menjadi

kotor dan berminyak. Jika tidak diimbangi dengan pengetahuan dan perilaku
yang baik dalam hal kebersihan wajah, maka wajah dapat menjadi tempat
berkembangnya bakteri penyebab akne vulgaris.(5),(6)
Studi kasus yang dilakukan peneliti di SMAN 2 Kuningan, ditemukan
bahwa sebagian besar siswa SMAN 2 Kuningan menderita kne vulgaris dan
beberapa diantaranya mengemukakan bahwa mereka seringkali mengabaikan
kebersihan wajah. Berdasarkan uraian masalah tersebut, maka peneliti
memandang perlu dilakukan studi lebih lanjut tentang pengetahuan dan perilaku
membersihkan wajah terhadap kejadian Akne vulgaris di SMAN 2 Kuningan.
1.2 Permasalahan Penelitian
Berdasarkan

latar belakang diatas, maka rumusan permasalahan

penelitian adalah:
a.

Apakah pengetahuan tentang kebersihan wajah berpengaruh terhadap


kejadian akne vulgaris di SMAN 2 Kuningan?

b.

Apakah perilaku membersihkan wajah berpengaruh terhadap kejadian akne


vulgaris di SMAN 2 Kuningan?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh
pengetahuan dan perilaku tentang kebersihan wajah terhadap kejadian akne
vulgaris di SMAN 2 Kuningan.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengaruh pengetahuan tentang kebersihan wajah
terhadap kejadian akne vulgaris di SMAN 2 Kuningan
b. Untuk mengetahui pengaruh perilaku membersihkan wajah terhadap
kejadian akne vulgaris di SMAN 2 Kuningan

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat untuk Ilmu Pengetahuan
Hasil penelitian ini dapat menambah informasi dan pengetahuan
tentang akne vulgaris dan hubungannya dengan pengetahuan dan perilaku
tentang kebersihan wajah.
1.4.2 Manfaat untuk Pelayanan Kesehatan
Sebagai sumber informasi untuk memberikan penyuluhan, sehingga
dapat mencegah terjadinya kejadian akne vulgaris yang lebih parah.
1.4.3 Manfaat untuk Peneliti
Melalui penelitian ini, peneliti dapat menerapkan dan memanfaatkan
ilmu yang didapat selama pendidikan dan menambah pengetahuan dan
pengalaman dalam membuat penelitian ilmiah.

1.5 Orisinalitas Penelitian yang Terkait


Tabel 1. Orisinalitas Penelitian
No. Peneliti

Judul

Desain

Hasil

1.

Andy

Pengetahuan dan Penelitian

(2009)

Sikap

Remaja menggunakan metode

SMA

2.

ini Penelitian dilakukan di SMA Santo


Thomas 1 Medan dengan sampel 93

Santo observasional analitik orang

yang

menderita

Thomas 1 Medan dengan desain cross

Hasilnya

Terhadap Jerawat

bermakna antara pengetahuan dan

sectional

didapatkan

jerawat.
hubungan

sikap dengan kejadian jerawat.


ini Penelitian dilakukan di SMA

Ahmad

Hubungan

Penelitian

Ridwan

Tingkat

menggunakan metode

(2010)

Pengetahuan

observasional analitik hasil tidak ada hubungan yang

Muhammadiyah 1 Pare dengan

dengan

Konsep dengan desain cross

signifikan antar tingkat pengetahuan

Diri

Remaja sectional

dan konsep diri remaja putri yang

Putri

yang

mengalami jerawat.

Mengalami
Jerawat
3.

(Akne

Ari

Vulgaris)
Hubungan

Penelitian

Sandi

Tingkat

menggunakan metode

(2013)

Kecemasan

observasional analitik SMPN 8 kota Batam, penulis

Remaja

ini Data yang telah penulis lakukan

dengan dengan desain case

Penyakit
Jerawat

Kulit control

pada tanggal 29 April 2013 di


mewawancarai
diantaranya,

15
dan

siswa

dari

hasil

Di

wawancara yang didapatkannya itu

SMPN 8 Batam

siswa yang sering merasa cemas

Tahun 2013

dalam melakukan aktivitas lebih


cenderung berjerawat.

1.6 Perbedaan penelitian


Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah:
1. Variabel yang diteliti yaitu pengetahuan tentang kebersihan wajah dan
perilaku membersihkan wajah

2. Tempat penelitian berada di SMAN 2 Kuningan pada tahun 2016


3. Sampel penelitian adalah siswa SMAN 2 Kuningan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Akne Vulgaris

2.1.1.1 Definisi
Akne vulgaris atau biasa disebut dengan jerawat merupakan peradangan
kronik folikel pilosebasea. Gambaran klinis akne vulgaris sering polimorfik,
terdiri atas berbagai ujud kelainan kulit berupa komedo, papul, pustul, nodul,
dan jaringan parut yang terjadi akibat kelainan aktif tersebut, baik jaringan
parut yang hipotrofik maupun yang hipertrofik.(7)
Akne vulgaris umumnya terjadi pada usia remaja dan dapat sembuh
sendiri. Predileksi akne vulgaris timbul pada daerah-daerah wajah, bahu bagian
atas, dada, dan punggung.(7)
2.1.1.2 Epidemiologi
Akne vulgaris pertama kali dipublikasikan pada tahun 1931. Pada saat
itu dinyatakan bahwa insiden terjadinya akne vulgaris lebih banyak pada anak
perempuan dibanding anak laki-laki dengan usia sekitar 13% pada anak usia 6
tahun dan 32% pada anak usia 7 tahun. Sejak saat itu tidak ada evolusi yang
signifikan mengenai usia timbulnya jerawat. Menurut studi yang berbeda dari
literatur berbagai negara, usia awal rata-rata 11 tahun pada anak perempuan dan
12 tahun pada anak laki-laki.(8)
Akne vulgaris pada dasarnya merupakan penyakit remaja, dengan 85%
terjadi pada remaja dengan beberapa derajat akne vulgaris. Hal tersebut terjadi
dengan frekuensi yang lebih besar pada usia antara 15-18 tahun pada kedua
jenis kelamin. Pada umumnya, involusi penyakit terjadi sebelum usia 25 tahun.
Terdapat variabilitas yang besar pada usia saat onset dan resolusi 12%
perempuan dan 3% laki-laki akan berlanjut secara klinis sampai usia 44 tahun.
Sebagian kecil akan menjadi papul dan nodul inflamasi sampai usia dewasa
akhir.(8)
Akne vulgaris mulai timbul gejala awal pada pubertas, dengan komedo
sebagai lesi predominan pada pasien yang sangat muda. Jumlah kasus terbanyak
terjadi pada periode pertengahan sampai akhir remaja, setelah itu insidennya
akan menurun, namun pada wanita dapat terus berlanjut.(2)

2.1.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Akne Vulgaris


Akne vulgaris dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebab yang
pasti belum diketahui secara jelas, namun terdapat beberapa faktor yang dapat
menyebabkan akne vulgaris, antara lain: faktor kebersihan wajah (pengetahuan
tentang kebersihan wajah dan perilaku membersihkan wajah), faktor herediter,
faktor hormon (androgen, pituitary sebotropic factor, dsb), faktor psikis, faktor
makanan, dan yang lainnya.(7)
1.

Kebersihan wajah
Kebersihan

wajah

bertujuan

mengurangi

bakteri

atau

mikroorganisme dari permukaan kulit dengan cara menghilangkan


sebum dan kotoran tanpa menghilangkan lipid barrier yang terdapat
pada kulit wajah. Kebersihan wajah meliputi pengetahuan seseorang
tentang kebersihan wajah dan perilaku seseorang dalam membersihkan
wajah. (9),(10)
Pengetahuan

tentang

kebersihan

wajah

dan

perilaku

membersihkan wajah yang dapat mengurangi kejadian akne vulgaris


yaitu mencuci wajah. Mencuci wajah yang baik yaitu dua kali sehari,
tidak

diperkenankan

mencuci

wajah,

menggosok

wajah

dan

mengeringkan wajah yang berlebihan, atau bahkan sangat kurang


karena dapat menyebabkan iritasi, inflamasi, merangsang peningkatan
produksi sebum dan memperpanjang siklus jerawat. Kebanyakan
dermatologis menyarankan bahwa kebersihan wajah itu diperlukan
untuk menjaga kesehatan kulit wajah.(9),(11),(1)
Sebum merupakan faktor utama penyebab timbulnya akne
vulgaris. Pada akne vulgaris terjadi peningkatan sebum. Sebum yang
meningkat tidak hanya terjadi pada akne vulgaris, tetapi dapat juga
pada penyakit parkinson dan akromegali.(7)
Mikroba yang terlibat pada terbentuknya akne vulgaris
adalah Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, dan

Pityrosporum ovale. Dari ketiga mikroba ini yang terpenting


yakni Propionibacterium acnes. Bakteri ini merupakan bakteri
komensal pada kulit. Pada keadaan patologik, bakteri ini membentuk
koloni pada duktus pilosebasea yang menstimulasi trigliserida untuk
melepas asam lemak bebas, memproduksi substansi kemotaktik pada
sel-sel inflamasi, dan menginduksi duktus epitel untuk mensekresi
sitokin pro-inflamasi.(7)
2.

Herediter
Faktor herediter yang sangat berpengaruh pada besar dan
aktivitas kelenjar palit (sebasea). Apabila kedua orang tua mempunyai
parut bekas akne vulgaris, kemungkinan besar anaknya akan
menderita akne vulgaris juga.(7)

3.

Hormon
Hormon androgen berasal dari testis, ovarium, dan kelenjar
adrenal. Hormon ini menyebabkan kelenjar sebasea bertambah besar
dan produksi sebum meningkat pada remaja laki-laki dan perempuan.
Hormon androgen merupakan stimulus utama pada sekresi
sebum oleh kelenjar sebasea. Pada penderita akne vulgaris, kelenjar
sebasea berespon sangat cepat pada peningkatan kadar hormon ini di
atas normal. Hal ini mungkin disebabkan oleh peningkatan aktivitas
5-reductase yang lebih tinggi pada kelenjar sebasea dibanding
kelenjar lain dalam tubuh.(7)

4. Psikis
Akne vulgaris merupakan salah satu penyakit kulit yang
dihubungkan dengan faktor psikologis penderitanya. Akne vulgaris
sendiri adalah penyakit kulit yang paling sering ditemukan dan
ditatalaksana oleh spesialis dermatologis. Keadaan ini terdapat hampir
80% pada remaja dan dewasa muda usia 11 sampai 30 tahun. Selama
ini penelitian di bidang kulit terfokus pada intervensi terapi untuk

mengurangi insiden dan keparahan akne vulgaris. Faktor psikologis


yang berperan termasuk kepribadian, citra diri, harga diri, konsep diri,
penerimaan sosial dan ketidakpuasan akan tubuh. Akne vulgaris juga
mempengaruhi

kesehatan

individu

secara

keseluruhan

dan

berhubungan langsung dengan kualitas hidup terutama yang


berhubungan dengan perasaan, emosi, hubungan sosial dan pekerjaan.
(12)

5. Makanan
Jenis makanan yang sering dihubungkan dengan timbulnya
akne vulgaris adalah makanan yang tinggi lemak (kacang, daging
berlemak, susu, es krim), makanan tinggi karbohidrat (sirup manis),
makanan yang mengandung iodida tinggi (makanan asal laut) dan
pedas. Pola makanan yang tinggi lemak jenuh dan tinggi glukosa susu
dapat meningkatkan konsentrasi insulin growth factor (IGF) yang
dapat merangsang produksi hormon androgen yang meningkatkan
produksi jerawat.(12)
2.1.1.4 Gejala Klinis
Akne vulgaris merupakan penyakit inflamasi kronik dari folikel
pilosebasea yang memiliki karakteristik komedo, papul, pustul, dan nodul.
Komedo merupakan lesi primer dari akne vulgaris. Hal tersebut dapat dilihat
sebagai papul yang datar atau sedikit meninggi dengan pembukaan sentral yang
melebar berisi keratin hitam (komedo terbuka). Komedo tertutup biasanya
berupa papul kekuningan berukuran 1 mm yang membutuhkan peregangan pada
kulit untuk dapat terlihat. Makrokomedo, yang jarang terjadi, dapat mencapai
ukuran 3-4 mm. Papul dan pustul biasanya berukuran 1-5 mm dan disebabkan
oleh inflamasi, oleh sebab itu pasti terdapat eritema dan edema. Bentuk tersebut
dapat membesar dan membentuk nodul, lalu bergabung membentuk plak yang
terindurasi mengandung traktus sinus dan pus kekuningan.(13)

10

Pasien secara umum akan memiliki lesi yang bervariasi. Pada pasien
dengan kulit yang lebih terang, lesi biasanya pecah dengan makula kemerahan
sampai keunguan yang memiliki umur yang lebih pendek. Pada pasien dengan
warna kulit yang lebih gelap, makula hiperpigmentasi akan terlihat dan bertahan
sampai beberapa bulan. Skar dari akne vulgaris memiliki penampakan yang
heterogen. Morfologi yang dibentuk termasuk skar yang dalam, narrow ice-pick
yang terlihat kebanyakan pada dahi dan pipi, lesi canyon-type atrophic pada
wajah, skar papular putih kekuningan pada badan dan dagu, skar tipe
anetoderma pada badan, serta skar hipertrofik dan keloidal yang meninggi pada
badan dan leher.(13)
Predileksi akne vulgaris umumnya pada wajah, leher, badan bagian atas,
dan lengan atas. Pada wajah hal tersebut paling sering terjadi pada pipi, dan
sebagian kecil pada hidung, dahi, dan dagu. Telinga dapat terlibat, dengan
komedo yang besar pada concha, kista pada lobus, dan kadang-kadang komedo
dan kista pre dan retro-aurikuler. Pada leher khususnya pada daerah nuchae, lesi
kistik yang besar dapat mendominasi.(13)
Akne vulgaris umumnya muncul pada saat pubertas dan seringkali
merupakan tanda awal dari produksi hormon seks yang meningkat. Ketika akne
vulgaris muncul pada usia 8-12 tahun, yang tampak biasanya berupa komedo
yang utamanya muncul pada dahi dan pipi. Hal tersebut dapat tetap menjadi
ringan dalam ekspresinya dengan papul inflamasi yang kadang-kadang terjadi.
Bagaimanapun, sebagaimana kadar hormon meningkat pada usia-usia
pertengahan remaja, pustul dan nodul inflamasi yang lebih berat dapat terjadi
yang dapat menyebar pada tempat lainnya. Laki-laki usia muda cenderung
memiliki kompleks yang lebih berminyak dan penyebaran penyakit yang lebih
berat dibanding perempuan usia muda. Perempuan dapat mengalami perjalanan
penyakit yang berat dari lesi papulopustular seminggu sebelum menstruasi.
Akne vulgaris juga dapat muncul pada perempuan usia 20-35 tahun yang belum
mendapatkan akne vulgaris pada saat remaja. Akne vulgaris ini kebanyakan

11

memiliki ciri-ciri sebagai papul, pustul, dan nodul dalam persisten yang nyeri
pada daerah dagu dan leher bagian atas.(8)
2.1.1.5 Klasifikasi
Tidak terdapat sistem grading yang seragam dan terstandarisasi untuk
beratnya akne vulgaris yang diderita. akne vulgaris pada umumnya
diklasifikasikan berdasarkan tipe (komedoal/papular, pustular/nodulokisitk)
dan/atau beratnya penyakit (ringan/sedang/sedang-berat/berat). Lesi kulit dapat
digambarkan sebagai inflamasi dan non-inflamasi.(14)
Klasifikasi sederhana untuk akne vulgaris adalah:
- Akne ringan (Mild acne)
Komedo merupakan lesi utama. Papul dan pustul mungkin ada tetapi memiliki
ukuran yang kecil serta jumlah yang sedikit (umumnya kurang dari 10).(8)
- Akne sedang (Moderate acne)
Jumlah papul dan pustul yang cukup banyak (sekitar 10-40). Jumlah komedo
yang cukup banyak juga ada. Kadang-kadang disertai penyakit yang ringan
pada badan.(8)

- Akne sedang berat (Moderately severe acne)


Jumlah papul dan pustul yang sangat banyak (40-100), biasanya dengan
banyak komedo dan kadang-kadang terdapat lesi nodular dalam yang besar
dan terinflamasi (mencapai 5). Area yang luas biasanya melibatkan wajah,
dada, dan punggung.(8)
- Akne sangat berat (Very severe acne)
Akne dengan lesi yang parah; banyak lesi nodular/pustular yan besar dan

nyeri bersama dengan banyak komedo, papul, pustul, dan komedo yang lebih
Faktor kebersihan wajah:
kecil.(8)

Pengetahuan

2.2 Kerangka Teori


Perilaku

Faktor herediter

Faktor hormon

Faktor psikis

12

Kejadian akne
vulgaris

Skema 1. Kerangka Teori

2.3 Kerangka Konsep


Independent

Pengetahuan tentang kebersihan


wajah

Perilaku membersihkan wajah


Skema 2. Kerangka Konsep

Depedent

Akne vulgaris

2.4 Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini adalah:
1. Terdapat pengaruh pengetahuan tentang kebersihan wajah dengan kejadian
akne vulgaris.
2. Terdapat pengaruh perilaku membersihkan wajah dengan kejadian akne
vulgaris.

13

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1

Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian mencakup tentang Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian dilakukan pada bulan Januari-Februari 2016 dan bertempat di
SMAN 2 Kuningan.
3.3

Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik
dengan pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui adanya
pengaruh pengetahuan dan perilaku tentang kebersihan wajah terhadap kejadian
Akne vulgaris.

3.4

Populasi dan Sampel

3.4.1 Populasi
3.4.1.1 Populasi target

14

Populasi target dalam penelitian ini adalah siswa SMA yang


mengalami akne vulgaris.
3.4.1.2 Populasi terjangkau
Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah siswa SMA yang
mengalami akne vulgaris di SMAN 2 Kuningan tahun 2016.
3.4.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi terjangkau yang memenuhi kriteria
penelitian. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling yaitu
pemilihan sampel berdasarkan alasan atau tujuan tertentu. Alasan pemilihan
teknik purposive sampling adalah untuk menghemat biaya dan waktu penelitian.
Cara menentukan ukuran sampelnya dengan rumus Slovin sebagai berikut:

Keterangan :
n = besar sampel
N = besar populasi
d = tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan (0,05)
Jumlah siswa terpilih sebanyak 318 maka didapatkan:

n=

318
1+318(0,052)

n = 177
Jadi, n = 177 siswa
Berdasarkan rumus tersebut, maka sampel yang didapat dari populasi
untuk penelitian ini adalah 177 siswa.
Ada dua syarat yang harus dipenuhi dalam menentukan sampel, yaitu:
representatif, adalah sampel yang dapat mewakili populasi yang ada. Syarat
kedua adalah sampel harus cukup banyak. Dalam pemilihan sampel, peneliti
harus menetapkan kriteria sampel sebagai berikut:

15

3.4.2.1 Kriteria inklusi


1. Siswa laki-laki dan perempuan SMAN 2 Kuningan
2. Siswa laki-laki dan perempuan SMAN 2 Kuningan yang mengalami
akne vulgaris
3.4.2.2 Kriteria eksklusi
1. Siswa yang menolak berpartisipasi dalam penelitian
3.5 Variabel Penelitian
Adapun variabel yang terdapat pada penelitian ini adalah:
3.5.1 Variabel Bebas (Independent)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau dianggap
menentukan variabel terikat. Variabel ini dapat merupakan faktor risiko,
prediktor, dan kausa/penyebab. Pada penelitian ini variabel bebasnya adalah
pengetahuan tentang kebersihan wajah dan perilaku membersihkan wajah.
3.5.2 Variabel Terikat (Dependent)
Variabel terikat disebut juga kejadian, manfaat, efek, atau dampak.
Variabel terikatnya dalam penelitian ini adalah akne vulgaris.

16

3.6 Definisi Operasional


Tabel 2. Definisi Operasional
No.
Variabel
1.
Pengetahuan

Definisi Operasional
Tingkat pengetahuan

Alat Ukur
Kuesioner

Skala
Ordinal

Kriteria
-1=Kurang, jika

tentang

responden tentang

total

kebersihan

kebersihan wajah

jawaban

wajah

jika

total

skor

80%
1=Baik,
total

laku Kuesioner

jika
skor
>

80%
-1=Buruk,

jika
skor

Tingkah

membersihkan

responden

dalam

total

wajah

membersihkan

wajah

jawaban

muka

50-

jawaban
Perilaku

dengan cara mencuci

Ordinal

<

50%
0=Cukup,
jawaban

2.

skor

<

50%
0=Cukup,

jika

total

skor

jawaban

50-

80%
1=Baik,

jika

total

skor

jawaban
80%

>

17

3.

Kejadian akne Penyakit akne vulgaris Kuesioner


vulgaris

yang

dialami

responden

oleh

Ordinal

-2=Sangat berat,
jika

jumlah

pustul

dan

papul > 100


-1=Sedang berat,
jika

jumlah

pustul

dan

papul 40-100
0=Sedang,

jika

jumlah pustul
dan papul 1040
1=Ringan,

jika

jumlah pustul
dan papul <
10

3.7 Cara Pengumpulan Data


3.7.1 Instrumen Penelitian
Alat penelitian adalah alat yang digunakan untuk pengambilan data
dalam penelitian. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner
yang berisi pertanyaan tertutup yang akan diberikan pada responden. Kuesioner
yang digunakan diadopsi dari Arikunto tahun 2007 yang ada dalam penelitian
sebelumnya oleh Andy dari Universitas Sumatera Utara pada tahun 2009 dan
telah dimodifikasi.

3.7.2 Alur Pengumpulan Data

18

Mengurus surat izin kepada pihak sekolah


Mengumpulkan data
Pendekatan kepada responden
Memberikan kuesioner kepada responden
Skema 3. Alur Pengumpulan Data
3.8 Uji Validitas Instrumen
Sebelum instrument atau alat ukur digunakan untuk mengumpulkan data
penelitian, maka perlu dilakukan uji coba kuesioner untuk mencari validitas dan
reliabilitas alat ukur tersebut. Uji validitas bertujuan untuk mengetahui apakah
alat ukur tersebut valid, valid artinya ketepatan mengukur, atau alat ukur
tersebut tepat untuk mengukur variabel yang akan di ukur. Sedangkan
reliabilitas adalah keajekan atau konsistensi alat ukur. Uji validitas instrumen
dilakukan dengan uji validitas isi yaitu dengan meminta beberapa ahli untuk
menilai instrumen (expert judgement).(15)
3.9 Alur Penelitian
Penelitian dilakukan di SMAN 2 Kuningan pada bulan Januari-Februari
tahun 2016. Adapun alur penelitian dilaksanakan dalam 3 tahap, sebagai
berikut:
1. Tahap persiapan
a.

Menyiapkan proposal

b.

Mengurus surat izin

c.

Ethical clearance

2. Tahap pelaksanaan
a.
Menghitung populasi dan besar sampel
b. Menentukan sampel
c.
Informed consent
d. Pengisian kuesioner

19

e.
Hasil data
3. Tahap penyelesaian
a. Analisis data
b. Simpulan dan saran
c. Penyusunan laporan
3.10

Analisis Data
3.10.1 Pengolahan Data
Data yang telah terkumpul diolah dengan cara manual dengan
langkah-langkah sebagai berikut:(16)
1. Editing
Melihat kembali apakah lembar kuesioner atau formulir sudah terisi
dengan benar dan dapat segera diproses lebih lanjut. Editing langsung
dilakukan di tempat pengumpulan data di lapangan, sehingga jika terjadi
kesalahan maka upaya pembetulan dapat segera dilakukan.
2. Coding
Setiap lembar kuesioner yang memenuhi kriteria sampel dan telah
terisi semua dilakukan pengkodean data.
3. Entry data (pemasukan data)
Memasukkan data kedalam kartu tabulasi.
4. Cleaning data (pembersihan data)
Data yang sudah dimasukkan dilakukan pengecekan. Pembersihan
dilakukan jika ditemukan kesalahan pada entry data sehingga dapat
diperbaiki dan dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan
dengan masing-masing variabel.
3.10.2 Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini melalui 2 tahap:
1. Analisis Univariat
Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat yang
bertujuan untuk menggambarkan sampel penelitian dari semua variabel
penelitian dengan cara menyusun secara tersendiri untuk masing-masing

20

variabel. Adapun variabel independent yang akan dianalisis, yaitu


pengetahuan kebersihan wajah dan perilaku membersihkan wajah,
sedangkan variabel dependent yaitu akne vulgaris.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan untuk menguji
hubungan atau pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat.
Analisis bivariat dalam penelitian ini dilakukan dengan terlebih dahulu
menghitung normalitas data hasil penelitian. Jika data berdistribusi
normal, maka analisis data bivariat dilakukan dengan uji korelasi pearson.
Jika data tidak berdistribusi normal, maka analisis bivariat dilakukan
dengan uji korelasi spearman.
3.11 Etika Penelitian
Penelitian yang dilakukan merupakan tugas proposal yang menggunakan
subyek manusia, oleh karena itu sebelum melakukan penelitian ini diminta
persetujuan etik terlebih dahulu dari Komite Etika Penelitian Fakultas
Kedokteran Universitas Gunung Jati. Kemudian surat permohonan dan
persetujuan juga dimintakan kepada Kepala Sekolah SMAN 2 Kuningan untuk
melakukan penelitian yang intinya berisi:
1. Izin dan persetujuan untuk melakukan penelitian SMAN 2 Kuningan
2. Pemberitahuan dan rekomendasi kepada peneliti untuk melakukan
penelitian terhadap siswa di SMA tersebut.
Seluruh responden diberi penjelasan mengenai penelitian yang akan
dilakukan yaitu tujuan, manfaat, prosedur penelitian dan jaminan terhadap
kerahasiaan semua informasi dan data diri responden. Kemudian responden
yang bersedia secara sukarela ikut dalam penelitian ini diminta persetujuan
secara tertulis dengan mengisi surat persetujuan (informed consent).

21

DAFTAR PUSTAKA
1.

Williams HC, Dellavalle PR, Garner S. Acne Vulgaris. Lancet. 2012.

2.

Jappe U. Pathological Mechanisms of Acne with Special Emphasis on


Propionibacterium acnes and Related Therapy. 2003.

3.

Tjekyan RMS. Kejadian dan Faktor Resiko Akne Vulgaris Media Medika
Indonesia. Semarang: Balai Penerbit FK UNDIP dan IDI Wilayah Jawa
Tengah. 2008.

22

4.

Perry

AL.

Propionibacterium

acnes.

Available

from:

http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1472-765X.2006.01866.x/pdf.
2006.
5.

Zaenglein AL, Graber EM, Thiboutot DM, Strauss JS. Acne vulgaris and
Acneiform Eruptions. New York: Mc Graw Hill. 2008.

6.

Djuanda Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi ke-5. Jakarta: Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2010.

7.

Draelos ZD. Skin Care for the Sensitive Skin and Rosacea Patient: The
Biofilm and New Skin Cleansing Technology. Elsvier Inc. 2006.

8.

Mukhopadhyay P. Cleansers And Their Role In Various Dermatological


Disorders. Indian Dermatol. 2011.

9.

Anwar AI. Pendekatan Terbaru Dalam Terapi Akne. Dalam: Simposium


Nasional dan Pameran Dermatologi Kosmetik. Jakarta: Penerbit Jakarta. 2013.

10.

Kubba R. Pathogenesis of Acne. Indian J Dermatol Venereol Leprol. 2009.

11.

Sugiyono. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta. 2003.

12.

Notoatmodjo S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.


2010.

13.

Arikunto Suharsini. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:


Rineka Cipta. 2002.

14.

Draelos

ZD.

Cosmeticals Procedures in Cosmetic Dermatology Edisi ke-1.

Elsvier Inc. 2005.

15.

Draelos ZD. Optimal Skin Care for Aesthetic Patients: Tropical Products to
Restore and Maintain Healthy Skin. Elsvier Inc. 2009.

16.

Draelos ZD. Dermatologists, Patients, Consumers, and Suncreens. Elsvier Inc.


2012.

17.

Draelos ZD. Modern Moisturizer Myths, Misconception, and Truths. Elsvier


Inc. 2013.

18.

Notoatmodjo S. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.


2003.

23

19.

Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ.
Dermatology in General Medicine 7th ed. New York: Mc Graw Hill. 2007.