Anda di halaman 1dari 8

Kriteria Pemilihan Bahan Konstruksi Kimia

Perancangan pabrik untuk industri kimia sudah barang tentu harus


memperhatikan berbagai macam pertimbangan. Hal semacam ini dilakukan dalam
rangka untuk mengefektifkan dan mengefesienkan pengunaan bahan konstruksi
kimia tersebut.Sudah dipahami bersama bahwa seorang sarjana teknik kimia harus
mengedepankan aspek ekonomi dalam setiap rancangan yang dibuat. Menjadi satu
keharusan bagi kita untuk mengetahui sifat-sifat dari bahan itu sendiri. Ketika kita
mengenali sifat bahan yang kita gunakan maka sudah barang tentu
penggunaannya akan menjadi efektif karena telah mengetahui kekurangan dan
kelebihan bahan yang kita pergunakan.
Maka dari itu kita harus mengetahui kriteria pemilihan bahan konstruksi
kimia.
A. Biaya
Sebuah indikasi dari biaya beberapa logam yang biasa digunakan diberikan
dalam Tabel 7.5. Itu biaya aktual dari logam dan paduan akan berfluktuasi cukup
luas, tergantung pada pergerakan logam dunia menukar.
Jumlah bahan yang digunakan akan tergantung pada berat jenis material
dan kekuatan (desainstres) dan ini harus diperhitungkan ketika membandingkan
biaya material. Moore (1970)membandingkan biaya dengan menghitung faktor
biaya penilaian ditentukan oleh persamaan:
Biaya Peringkat D
C dan d
Dimana :
CD biaya per satuan massa, / kg,
D density, kg / m3
D desain stres, N / mm
Peringkat dihitung biaya nya, relatif terhadap rating untuk baja ringan
(karbon rendah), ditunjukkan pada Tabel 7.6. Bahan dengan stres desain relatif
tinggi, seperti paduan stainless dan rendah baja, dapat digunakan lebih efisien

daripada baja karbon. Biaya relatif peralatan yang terbuat dari bahan yang berbeda
akan tergantung pada biaya fabrikasi, serta biaya dasar materi. Kecuali bahan
tertentu memerlukan teknik fabrikasi khusus, biaya relatif peralatan jadi akan
lebih rendah dari biaya bahan relatif telanjang. Sebagai contoh, biaya yang dibeli
dari-stainless steel tangki penyimpanan akan menjadi 2 sampai 3 kali biaya dari
tangki yang sama dalam baja karbon, sedangkan biaya relatif dari logam adalah
antara 5 sampai 8. Jika laju korosi seragam, maka materi yang optimal dapat
dipilih dengan menghitung tahunan biaya untuk bahan kandidat yang
mungkin. Biaya tahunan akan tergantung pada diperkirakan hidup, dihitung dari
laju korosi, dan biaya pembelian peralatan.
Dalam situasi tertentu, mungkin terbukti lebih ekonomis untuk menginstal bahan
yang lebih murah dengan tingkat korosi yang tinggi dan menggantinya sering;
ketimbang memilih lebih tahan tetapi lebih mahal material. Strategi ini hanya
akan dipertimbangkan untuk relatif sederhana.
Tabel 7.6. Relatif biaya peringkat untuk logam
Baja karbon
Al-paduan (Mg)
Stainless steel 18/8 (Ti)
Inconel
Kuningan
Perunggu
Alumunium
Monel
Tembaga
Nikel

1
4
5
12
10-15
16
18
19
27
35

Desain stres (N / mm2)


100
70
130
140
76
87
14
120
46
70

Catatan: Angka desain stres ditunjukkan untuk tujuan ilustrasi saja dan tidak
boleh digunakan sebagai desain nilai-nilai.
Peralatan dengan biaya fabrikasi rendah, dan di mana kegagalan prematur
tidak akan menyebabkan serius bahaya. Misalnya, baja karbon dapat ditentukan
untuk limbah cair baris di tempat stainless steel, menerima kebutuhan
kemungkinan untuk penggantian. Pipa Tebal dinding akan dipantau in situ sering
untuk menentukan kapan pengganti dibutuhkan.

Lebih mahal tahan korosi, paduan sering digunakan sebagai cladding pada
baja karbon. Jika piring tebal diperlukan untuk kekuatan struktural, penggunaan
bahan berpakaian secara substansial dapat mengurangi biaya.
B. Ketersediaan
Ketersediaan bahan konstruksi kimia

C. Sifat-sifat Umum Bahan Knstruksi Kimia

a. Sifat Mekanik
Sifat mekanik adalah salah satu sifat yang terpenting, karena sifat mekanik
menyatakan kemampuan suatu bahan (seperti komponen yang terbuat dari
bahan tersebut) untuk menerima beban/gaya atau energi tanpa menimbulkan
kerusakan pada bahan atau komponen tersebut. Seringkali bila suatu bahan
mempunya sifat mekanik yang baik tetapi kurang baik pada sifat yang lain,
maka diambil langkah untuk mengatasi kekurangan tersebut dengan berbagai
cara yang diperlukan. Misalkan saja baja yang sering digunakan sebagai bahan
dasar pemilihan bahan. Baja mempunyai sifat mekanik yang cukup baik,
dimana baja memenuhi syarat untuk suatu pemakaian tetapi mempunyai sifat
tahan terhadap korosi yang kurang baik. Untuk mengatasi hal itu seringkali
dilakukan sifat yang kurang tahan terhadap korosi tersebut diperbaiki dengan
cara pengecatan atau galvanising, dan cara lainnya. Jadi tidak harus mencari
bahan lain seperti selain kuat juga harus tahan korosi, tetapi cukup mencari

bahan yang syarat pada sifat mekaniknya sudah terpenuhi namun sifat
kimianya kurang terpenuhi. Berikut adalah beberapa sifat mekanik yang
penting untuk diketahui :

Kekuatan (strength), menyatakan kemampuan bahan untuk menerima


tegangan
tanpa menyebabkan bahan menjadi patah. Kekuatan ini ada beberapa
macam, tergantung pada jenis beban yang bekerja atau mengenainya.
Contoh kekuatan tarik, kekuatan geser, kekuatan tekan, kekuatan torsi,

dan kekuatan lengkung.


Kekerasan (hardness), dapat didefenisikan sebagai kemampuan suatu
bahan untuk tahan terhadap penggoresan, pengikisan (abrasi), identasi
atau penetrasi. Sifat ini berkaitan dengan sifat tahan aus (wear

resistance). Kekerasan juga mempunya korelasi dengan kekuatan.


(Elasticity), menyatakan kemampuan bahan untuk menerima tegangan
tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk yang permanen
setelah tegangan dihilangkan. Bila suatu benda mengalami tegangan
maka akan terjadi perubahan bentuk. Apabila tegangan yang bekerja
besarnya tidak melewati batas tertentu maka perubahan bentuk yang
terjadi hanya bersifat sementara, perubahan bentuk tersebut akan
hilang bersama dengan hilangnya tegangan yang diberikan. Akan
tetapi

apabila

tegangan

yang

bekerja

telah

melewati

batas

kemampuannya, maka sebagian dari perubahan bentuk tersebut akan


tetap ada walaupun tegangan yang diberikan telah dihilangkan.
Kekenyalan juga menyatakan seberapa banyak perubahan bentuk
elastis yang dapat terjadi sebelum perubahan bentuk yang permanen
mulai terjadi, atau dapat dikatakan dengan kata lain adalah kekenyalan
menyatakan kemampuan bahan untuk kembali ke bentuk dan ukuran

semula setelah menerima bebang yang menimbulkan deformasi.


Kekakuan (stiffness), menyatakan kemampuan bahan untuk menerima
tegangan/beban tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk
(deformasi) atau defleksi. Dalam beberapa hal kekakuan ini lebih
penting daripada kekuatan.

Plastisitas
mengalami

(plasticity)
sejumlah

menyatakan
deformasi

kemampuan
plastik

bahan

untuk

(permanen)

tanpa

mengakibatkan terjadinya kerusakan. Sifat ini sangat diperlukan bagi


bahan yang akan diproses dengan berbagai macam pembentukan
seperti forging, rolling, extruding dan lain sebagainya. Sifat ini juga
sering disebut sebagai keuletan (ductility). Bahan yang mampu
mengalami deformasi plastik cukup besar dikatakan sebagai bahan
yang memiliki keuletan tinggi, bahan yang ulet (ductile). Sebaliknya
bahan yang tidak menunjukkan terjadinya deformasi plastik dikatakan

sebagai bahan yang mempunyai keuletan rendah atau getas (brittle).


Ketangguhan (toughness), menyatakan kemampuan bahan untuk
menyerap sejumlah energi tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan.
Juga dapat dikatakan sebagai ukuran banyaknya energi yang
diperlukan untuk mematahkan suatu benda kerja, pada suatu kondisi
tertentu. Sifat ini dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga sifat ini

sulit diukur.
Kelelahan (fatigue), merupakan kecendrungan dari logam untuk patah
bila menerima tegangan berulang ulang (cyclic stress) yang besarnya
masih jauh dibawah batas kekuatan elastiknya. Sebagian besar dari
kerusakan yang terjadi pada komponen mesin disebabkan oleh
kelelahan ini. Karenanya kelelahan merupakan sifat yang sangat
penting, tetapi sifat ini juga sulit diukur karena sangat banyak faktor

yang mempengaruhinya.
Creep, atau bahasa lainnya merambat atau merangkak, merupakan
kecenderungan suatu logam untuk mengalami deformasi plastik yang
besarnya berubah sesuai dengan fungsi waktu, pada saat bahan atau
komponen tersebut tadi menerima beban yang besarnya relatif tetap

Beberapa sifat mekanik diatas juga dapat dibedakan menurut cara


pembebanannya, yaitu :
Sifat mekanik statis, yaitu sifat mekanik bahan terhadap beban statis yang
besarnya tetap atau bebannya mengalami perubahan yang lambat.

Sifat mekanik dinamis, yaitu sifat mekanik bahan terhadap beban dinamis
yang besar berubah ubah, atau dapat juga dikatakan mengejut.
Ini perlu dibedakan karena tingkah laku bahan mungkin berbeda terhadap
cara pembebanan yang berbeda.
b. Sifat Termal Bahan
Sifat termal bahan adalah perubahan sifat yang berkaitan dengan suhu. Sifat
termal ini dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu :
1. Kandungan uap air
Apabila suatu benda berpori diisi air, maka akan berpengaruh terhadap
konduktifitas termal. Konduktifitas termal yang rendah pada bahan insulasi
adalah selaras dengan kandungan udara dalam bahan tersebut. Hubungan
antara konduktifitas termal dan kandungan uap air dituangkan dalam
persamaan sebagai berikut :
pers (1)
Dimana Kh = konduktifitas termal pada kandungan uap air h
Kd = konduktifitas termal dalam keadaan kering
h = kandungan uap air ( % berat )
2. Suhu
Pengaruh suhu terhadap konduktifitas termal suatu bahan adalah kecil, namun
secara umum dapat dikatakan bahwa konduktifitas termal akan meningkat
apabila suhu meningkat.

3. Kepadatan dan porositas


Konduktifitas termal berbeda pengaruh terhadap kepadatan, apabila pori-pori
bahan semakin banyak maka konduktifitas termal rendah. Perbedaan
konduktifitas termal bahan dengan kepadatan yang sama akan tergantung pada
perbedaan struktur yang meliputi ukuran, distribusi, hubungan pori / lubang.
Sifat termal bahan dikaitkan dengan perpindahan kalor. Perpindahan kalor ada

2 jenis, yaitu
1. Keadaan tetap (steady heat flow)
2. Keadaan berubah (transien heat flow)

c. Sifat Elektrik Bahan


Berdasarkan sifat listriknya, material/bahan dikelompokkan menjadi 3 sebagai
berikut :
Konduktif jika resistansinya < 105 ohm
Disini elektron mudah bergerak atau mengalir, jadi netralisasi dapat dilakukan
dengan mudah dengan cara grounding.
Contoh : logam dan tubuh manusia
Insulatif jika resistansinya > 1011 ohm
Elektron bisa dikatakan tak dapat bergerak, jadi netralisasi hanya mungkin
dilakukan dengan ionisasi.
Contoh : plastik dan karet

Dari pengukuran tribocharging, kita bisa menentukan apakah muatan


listrik mudah ditimbulkan pada bahan tersebut jika tidak mudah
membangkitkanmuatan (atau muatan yang dihasilkan cukup rendah), maka
bahan itu dapat dikatakan sebagai anti-statik Statik disipatif resistansi di
antara 105 sampai 1011 ohm Disini, elektron dapat bergerak tetapi lambat,
jadi perlu diketahui parameter decay time. Untuk mengetahui berapa cepat
grounding dapat menetralisasi muatan. Pengukuran tribocharging juga perlu
dilakukan untuk mengetahui apakah bahan tersebut anti-statik atau tidak.
Umumnya bahan yang masuk kategori statik disipatif adalah bahan buatan,
artinya memang khusus dibuat untuk mempunyai resistansi tertentu, misalnya
bahan dasarnya adalah insulatif tapi diberi tambahan karbon dalam kadar
tertentu untuk membuatnya bersifat statik disipatif. Jika kadarnya berlebih,
bahan juga bisa bersifat konduktif.
Untuk mengukur nilai resistansi bahan, kita gunakan

MegaOhmmeter (atau Surface Resistance Meter) ini semacam multimeter


biasa tetapi dengan jangkauan pengukuran sampai 100 G Ohm atau lebih. Kita
juga dapat menggunakan electrometer (misalnya Electrostatic Voltmeter/
Fieldmeter) untuk mengukur muatan listrik dari proses tribocharging dan
dengan bantuan stopwatch, kita pun dapat mengukur decay time secara
kualitatif. Untuk hasil yang lebih akurat, kita perlu menggunakan Charged
Plate Monitor. Jadi, jika adanya muatan listrik statik menimbulkan masalah,
maka salah satu solusinya adalah dengan menetralkan mutan listrik
bersangkutan. Cara efektif untuk menetralkan muatan listrik dilakukan
berdasarkan sifat listrik material/bahan.Pada dasarnya netralisasi muatan dapat
dilakukan dua cara, yaitu grounding dan ionisasi dengan ionizer. Grounding
dilakukan jika elektron dapat bergerak atau mengalir dalam bahan
bersangkutan, yaitu dengan menghubungkan bahan tersebut ke tanah/bumi
atau bagian ground dari kabel listrik karena tanah/bumi adalah reservoar
muatan (sumber muatan yang tak-terhingga). Sebaliknya, untuk bahan yang
tak dapat mengalirkan muatan, maka tidak ada jalan lain untuk menetralkan
muatan kecuali memberikan muatan yang berlawanan dari udara. Sebetulnya
udara mengandung sejumlah molekual uap air yang dapat menetralkan
permukaan suatu benda, tapi netralisasi secara alami ini akan berlangsung
sangat lama. Untuk mempercepat proses netralisasi, maka digunakan
alat/peralatan yang disebut Ionizer. Ionizer dirancang untuk menghasilkan
sejumlah besar ion positif maupun negatif dan ion-ion tersebut diarahkan ke
permukaan benda yang akan dinetralisasi. Selain itu, netralisasi juga dapat
dilakukan dengan membasahi permukaan bahan bersangkutan dengan air biasa
(bukan DI water) atau larutan yang mengandung air seperti IsoPropyl Alcohol
(IPA).