Anda di halaman 1dari 6

HALAMAN JUDUL

LTM MPKT-A
BAB II
DASAR-DASAR FILSAFAT

Andrea Rizky Sabrina Harahap/1306446345


Jurusan Teknik Kimia Universitas Indonesia

UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2014

I.

Pendahuluan

Filsafat digunakan sebagai dasar-dasar bagi seorang ilmuwan untuk mencari pengetahuan.
Filsafat mengatur tentang hal-hal yang diperlukan untuk menjawab suatu masalah dan
pertanyaan secara logis dan tidak menyalahi perikemanusiaan dan kebenaran di muka bumi.
Filsafat berkaitan dengan asumsi, fondasi, metode, dan implikasi dari ilmu pengetahuan.
Terdapat tiga bidang kajian filsafat yang dibutuhkan untuk ilmu pengetahuan untuk menjadi
dasar bagi aktivitas-aktivitasnya mencari pengetahuan, yaitu etika, epistemologi, dan logika.
Didalam etika, ilmuwan dituntut bertindak secara etis, baik dalam aktivitas mencari
pengetahuan maupun dalam penerapan pengetahuan. Yang kedua adalah epistemologi. Sebagai
bidang filsafat yang mengkaji pengetahuan, epistemologi diperlukan oleh ilmu pengetahuan
untuk memberi dasar bagi perolehan pengetahuan. Ilmu pengetahuan membutuhkan jawaban
setidaknya pendekatan kerja yang akan digunakan dalam penelitian, yang biasanya tampil dala
bentuk paradigma ilmiah.
Bidang yang ketiga adalah logika. Untuk mengetahui bahwa suatu pengetahuan pengetahuan
itu rasional dan usaha perolehan pengetahuan itu benar dan tepat, maka dibutuhkan logika.
Karena tanpa logika, filsafat dan ilmu pengetahuan tidak dapat memastikan langkah langkah
perolehan pengetahuan yang benar.
Karakter dan filsafat memiliki hubungan yang saling menguatkan. Berfilsafat berarti
mengandalkan pikiran karena untuk mencapai kebenaran diperlukan pikiran dan juga melibatkan
keseluruhan diri untuk terlibat dalam pencarian kebenaran.
Dengan ini dapat dipahami bahwa berfilsafat membutuhkan kekuatan dan keutamaan
karakter. Filsafat yang berarti cinta kebenaran menuntut orang yang menekuninya memiliki
keutamaan pengetahuan dan kebijaksanaan beserta kekuatan-kekuatan yang tercakup di
dalamnya. Dengan dasar itu, maka filsafat dipelajari beriringan dengan pengembangan karakter.
II.

Pengertian Filsafat

Kata filsafat pertama kali dicetuskan oleh Herodotus didalam percakapannya dengan
Croesus. Selain itu, ada teori yang menyatakan bahwa filsafat sebenarnya sudah dicetuskan jauh
sebelum masa Herodotus, yaitu saat masa Phytagoras. Teori ini didasarkan pada tulisan Cicero,
Diogenes Laertes dan Iamblichius. Teori ini menjabarkan bahwa filsuf (orang yang mendalami
filsafat/ pencinta kebijaksanaan) mencari kebenaran (alethia, kalliston theorian) dan berbeda dari
orang kebanyakan yang mencari ketenaran atau kemahsyuran (dexo). Setelah teori ini
dicetuskan, masih ada beberapa lagi tokoh Yunani yang mengartikan filsafat. Secara bahasa
Yunani Kuno, kata tersebut berasal dari philos (cinta) dan sophia (kebijaksanaan).
Teori tentang filsafat terus berkembang dari masa Yunani Kuno hingga abad ke-21. Hingga
sekarang, filsafat dapat didefinisikan sebagai usaha manusia untuk memahami segala

perwujudan kenyataan secara kritis, radikal, dan sistematis. Dari pengertiannya, dapat dilihat
bahwa filsafat adalah sebuah bentuk proses dan produk, yang keduanya saling melengkapi. Kita
tidak bisa menitikberatkan pada prosesnya saja atau pada produknya saja. Proses pembuatan
kata-kata filsafat tidaklah instan, melainkan melewati usaha-usaha dalam mencari dan
memahami pengetahuan secara universal. Pembelajaran filsafat tidak mengenal waktu; maka ia
akan berlangsung terus-menerus sepanjang zaman.
Diatas sudah disebutkan bahwa didalam definisi filsafat terdapat sifat kritis, radikal, dan
sistematis. Sifat kritis filsafat berasal dari istilah latin kritein yang berarti memilah-milah dan
kritikos yang berarti kemampuan menilai. Berdasarkan pengertian tersebut, kritis disini berarti
terbuka dengan segala kemungkinan dan tidak berpaku pada suatu pandangan terus-menerus.
Terbuka yang berarti berusaha secara aktif untuk mengevaluasi keadaan yang ada dan
memutuskan apakah keadaan tersebut harus dipertahankan, dirubah, atau bahkan belum bisa
diputuskan karena belum adanya kejelasan.
Sifat yang kedua adalah radikal. Radikal disini berarti berpikir secara mendalam dan
menjangkau segala aspek keadaan yang ada sehingga keputusan dan pemikiran yang didapat
tidak dangkal. Dengan berpikir kritis, kita dapat mendapatkan pengetahuan baru yang
sebelumnya mungkin belum bisa dijangkau.
Sifat yang terakhir adalah sistematis. Dalam merunutkan kejadian-kejadian yang akan dikaji,
urutan yang ada harus berdasar pada logika sehingga filsafat yang didapat bisa memenuhi nalar
yang membacanya.
Berdasarkan sifat-sifat filsafat yang dijabarkan, jelas terlihat bahwa filsafat bukanlah sekedar
hasil lamunan seperti yang dianggap awam, tetapi hasil pemikiran yang universal, mandalam,
runtut, logis, dan tidak saling bertentangan. Seperti yang seorang filsuf bernama Jacques
Maritain berkata, Filsafat ialah suatu kebijaksanaan dan sifatnya pada hakikatnya berupa usaha
mengetahui. Mengetahui dalam arti paling penuh serta paling tegas, yaitu mengetahui dengan
kepastian berdasarkan sebab-sebabnya mengapa barang sesuatu itu seperti keadaaannya, tidak
bisa lain dari itu (Kattsoff, 2004: 65).
Filsafat tidak hanya membicarakan dunia di sekeliling si filsuf, melainkan juga diri filsuf
tersebut dan kegiatan berpikir itu sendiri. Objek filsafat haruslah jelas dan nyata, bukan yang
misterius ataupun yang tidak terpecahkan.
III.

Cabang dan Aliran Filsafat

Ada beberapa pembagian cabang dan aliran filsafat. Ada yang dibagi secara sistematika
permasalahan, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ada juga yang dibagi berdasarkan
obyek kajian, yaitu filsafat alam, filsafat matematika, filsafat ilmu, filsafat sejarah, filsafat
ketuhanan, filsafat bahasa, filsafat agama, dan filsafat politik. Secara sistematika permasalahan,
filsafat dibagi tiga:

1. Ontologi
Ontologi berasal dari dua kata bahasa latin, yaitu onta yang berarti ada dan logia yang
berarti ilmu, yang didefinisikan sebagai studi filosofis tentang hakikat ada, eksistensi, atau
realitas, serta kategori dasar keberadaan mereka. Bidang kajian filsafat dibagi menjadi dua
subbidang, yaitu ontologi (dalam arti khusus) dan metafisika. Ontologi dalam arti khusus
mengkaji ada yang keberadaannya tidak disangsikan lagi, sementara metafisika mengkaji ada
yang masih disangsikan kehadirannya
2. Epistemologi
Epistemologi adalah cabang filsafat yang mengkaji teori teori tentang sumber sumber,
hakikat, dan batas batas pengetahuan. Epistemologi memiliki empat cabang yang lebih kecil,
yakni epistemologi dalam arti sempit, filsafat ilmu, metodologi, dan logika.
Cabang yang pertama adalah epistemologi dalam arti sempit. Dalam arti sempit,
epistemologi merupakan cabang ilmu filsafat yang mengkaji pengetahuan berdasarkan sumber
pengetahuan, struktur pengetahuan, keabsahan pengetahuan, dan batas batas pengetahuan.
Cabang yang kedua adalah filsafat ilmu. Filsafat ilmu merupakan cabang filsafat yang
mengkaji ciri-ciri dan cara-cara memperoleh ilmu pengetahuan. Lalu, metodologi adalah cabang
filsafat yang mengkaji cara-cara dan metode-metode ilmu pengetahuan secara sistematis, logis,
valid, dan teruji. Yang terakhir adalah logika. logika adalah kajian filsafat yang mempelajari
teknik-teknik dan kaidah-kaidah penalaran yang tepat, berupa argumen yang merupakan
ungkapan dari putusan (judgement).
3. Aksiologi
Aksiologi dapat diartikan sebagai nilai-nilai yang menjadi sumbu perilaku penghayatan dan
pengamalan manusia. Aksiologi mengkaji pengalaman dan penghayatan dari perilaku-perilaku
manusia. Dan juga membahas nilai apa yang berkaitan dengan kebaikan dan apa itu berlaku baik,
dan selain itu juga membicarakan tentang nilai rasa manusia yang dikaitkan dengan keindahan.
Cabang filsafat yang termasuk aksiologi adalah etika dan estetika. Etika adalah cabang
filsafat yang mengkaji nilai apa yang berkaitan dengan kebaikan adan apakah itu perilaku baik.
Cabang ini meliputi apa dan bagaimana hidup yang baik, menjadi orang yang baik, berbuat baik,
dan menginginkan hal hal baik dalam hidup. Dalam etika kita juga mempelajari moralitas dan
alasan-alasan yang lebih abstrak mengapa manusia berbuat sesuatu.
Sementara yang kedua adalah estetika. Estetika mengkaji pengalaman dan penghayatan
manusia dalam menghayati apakah sesuatu itu indah atau tidak. Jadi estetika membahas soal-soal
keindahan yang di persepsi manusia.

Ada beberapa aliran yang cukup berpengaruh dalam sejarah perkembangan filsafat:
a. Rasionalsime : berpandangan bahwa semua pengetahuan berasal dari akal
b. Empirisme : menekankan pengalaman sebagai sumber pengetahuan
c. Kritisisme : kritik terhadap rasionalisme dan empirisme yang dianggap terlalu ekstrem
dalam mengkaji perbuatan manusia (dibangun oleh Emanuel Kant)
d. Idealisme : pengetahuan adalah proses-proses mental ataupun psikologis yang sifatnya
subyektif
e. Vitalisme : memandang hidup tidak dapat sepenuhnya dijelaskan secara mekanis karena
pada hakikatnya manusia berbeda dengan benda mati.
f. Fenomenologi: mengkaji penampakan (gejala) dan memandang gejala dan kesadaran
selalu saling terkait

IV.

Alternatif Langkah Belajar Filsafat

Ada satu alternatif langkah belajar filsafat yang sering dipakai oleh berbagai filsuf. Alternatif
ini terdiri dari beberapa langkah. Langkah pertama adalah menganalisis istilah dari obyek yang
akan dipelajari. Walaupun filsuf biasanya tidak memulai filsafat dari istilah atau kata-kata
melainkan langsung kepada bendanya, pemakaian istilah yang tepat harus digunakan.
Setelah menganalisis istilah, filsuf melakukan aktivitas sintesis yang tujuannya adalah
memperoleh satu makna istilah yang akan digunakan yang mencakup semua bagian dan
menjelaskan hubungan antar-bagian.
Secara ringkas, Kattsoff (2004:34-38) menggambarkan langkah yang harus diambil dalam
menganalisis dan mensintesis.
a. Memastikan adanya masalah yang diragukan kesempurnannya
b. Masalah dipecahkan dengan menguji prinsip kesahihannya dan menentukan sesuatu yang
kebenarannya absolut sebagai alat untuk menyimpulkan kebenaran lainnya
c. Menguji segala hal yang berkaitan dengan kebenaran
d. Mengenali apa yang dikatakan orang lain terntang masalah tersebut dan penyelesaiannya
e. Memberi satu hipotesis yang berkaitan dengan jawaban permasalahan
f. Melakukan verifikasi terhadap hasil penelitian
g. Menarik simpulan
Metode pembelajaran filsafat dapat juga digunakan dalam pembelajaran bidang ilmu
pengetahuan lainnya. Secara umum, filsafat digunakan manusia untuk menyelesaikan masalah
yang dihadapinya. Dengan berpikir filosofis, seseorang dapat membuat orang berpikir secara
sistematis. Berpikir filosofis juga dapat membantu seseorang untuk bisa menyadari seberapa
besar pengetahuan yang ia miliki dan bagaimana ia bisa menambah pengetahuan yang ia miliki
menjadi jauh lebih banyak. Dengan demikian, berpikir filosofis adalah salah satu cara bagi

manusia untuk bisa lebih memperkuat pengetahuannya sekaligus kebijaksanaannya dalam


menyikapi pengetahuan yang ia punya.

DAFTAR PUSTAKA
-

Takwin, Bagus. 2013. Buku Ajar I: Kekuatan dan Keutamaan Karakter, Filsafat, Logika,
dan Etika. Depok: Universitas Indonesia