Anda di halaman 1dari 23

Tugas Online HI

Nama

: Sukartini

Nim

: 201431151
HIGIENE INDUSTRI

HISTORY OF INDUSTRIAL HYGIENE


400 B.C. Hypocrates menemukan keracunan Pb di antara pekerja Tambang
100 A.D. Pliny mendesign Dust Masker untuk para pekerja Tambang
200 A.D. Galen menemukan bahaya Acid Mists meracuni pekerja Tambang
Tembaga
1473 Ellenborg mempublikasikan buku tentang Industrial Poisons. 1556
Agricola mempublikasikan buku tentang industrial poison.
1556 Agricola mempublikasikan buku tentang keracunan metals : De Re
Metalica.
1567 Paracelsus mempublikasikan buku tentang Diseases of miners.
1700 Bernadino Ramazzini mengeluarkan buku The Diseases of Workmen
1802, 1833 UK Health and Morals membahas dan mengeluarkan Child Labour
Laws.
1881 Switzerland pertama kali membuat Workers Compensation Act.
1916 Pembentukan American Association of Industrial Physicians & Surgeons
1920 Pertama kali pembentukan Australian Indust. Hygiene Division
1930 Dibentuk : NSW Industrial Hygiene Divison Victorian Industrial
Hygiene Dividion
1938 Dibentuk American Conference of Governmental Industrial Hygienists.
1939 Dibentuk AIHA (American Industrial Hygiene Association)
1970 Dibentuk : OSHA dan NIOSH Occupational Health and Safety Act of
America.
1973 Health and Safety Commission and Executive Health and Safety at Work
Act in England

1985 Victorian Occupational Health & Safety Act and Occupational Health and
Safety Commission

Di indonesia
1930 Mijn Politie Reglement
1951 Undang-Undang Kompensasi
1968 Dibentuk HYPERKES (Hygiene Perusahaan, Keselamatan dan
Kesehatan Kerja.
1970 Dikeluarkan UU No. 1 / 1970 Tentang Keselamatan Kerja
Sesudah itu muncul beberapa asosiasi, peraturan, perundang-undangan Yang
berkaitan dengan HSE.
HIGIENE INDUSTRI di perlukan karena :

Lingkungan kerja tidak akan pernah bebas dari bahaya terhadap


kesehatan kerja.

Bahwa pekerja meru

pakan modal utama dalam suatu perusahaan.

Banyaknya kejadian penyakit maupun injuri akibat kerja.

Perusahaan akan mengalami kerugian yang tidak ternilai jumlahnya jika


terjadi peningkatan kejadian penyakit akibat kerja dan meningkatnya
ketidakhadiran pekerja karena sakit yang diakibatkan oleh bahaya yang
timbul ditempat kerja.

Mulai

dikeluarkannya

peraturan-peraturan

yang

mengharuskan

perusahaan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan pekerjanya


Undang-undang - Peraturan (nasional dan internasional)
Standar-standar
Regulasi
ISO - dll

Mengabaikan hak pekerja untuk tetap sehat berarti melanggar HAM

Higene industri merupakan suatu metode yang efektif dalam mengelola


lingkungan kerja dan pekerja dalam menekan tingkat kejadian injury dan
penyakit akibat kerja INDUSTRIAL SAFE
INDUSTRIAL SAFETY AND HEALTH ada 3 ketrampilan yang terlibat
1. SAFETY ENGINEERING(tekhnik safety)

KONSTRUKSI AMAN

PROSES KERJA AMAN dan PRAKTEK AMAN.

TEKNIK PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP

2. INDUSTRIAL HYGIENE

RECOGNITION OF HAZARDS

EVALUATION OF HAZARDS.

CONTROL OF HAZARDS :

IN

THE

WORK

ENVIRONMENT.(DI

LINGKUNGAN KERJA

POLLUTENTS FROM WORK PROCESSES.


(POLUTEN DARI PROSES KERJA)

HAZARDS

COMMUNICATION

(BAHAYA

KOMUNIKASI).
3. INDUSTRIAL MEDICINE

MENGEVALUASI ORANG'S FITNESS FOR JOB.


PEMANTAUAN

DAN

PEMELIHARAAN

KESEHATAN BAIK DARI KARYAWAN

MEMINIMALKAN KECELAKAAN DAN PENYAKIT


AKIBAT KERJA.

BANTUAN MEMINIMALKAN KERJA TERKAIT


ATAU PSIKOLOGIS STRES.

MENYARANKAN

MANAJEMEN

PADA SEMUA

KESEHATAN TERKAIT MASALAH

KERJA DAN

DARI PROSES KERJA.


HAZARDS

Mechanical, Kinetic, Electric

Physical

Biological

Chemical

Ergonomics

Psycho-social

INDUSTRIAL HYGIENE : ILMU dan SENI yang berperan dalam


melaksanakan upaya pengenalan, pengukuran, pemantauan,
evaluasi dan pengontrolan BAHAYA di Lingkungan Kerja,
yang dapat muncul dari kegiatan operasi industri, yang mana
bahaya tersebut dapat mengganggu :
KESEHATAN
KESELAMATAN
KENYAMANAN
EFESIENSI
dikalangan pekerja dan atau masyarakat disekitar daerah kegiatan
operasi tersebut.
PENGENDALIAN TEKNOLOGI
1. Pada sumber bahaya
2. Dalam lingkungan kerja
3. Pada titik pemaparan dari individual
Praktek
Pemantauan proses
Pengendalian tingkat eksposur
Pelatihan dan pendidikan
Manajemen yang efektif

Kompetensi profesional
Kontrol terdiri dari :

Teknik desain

Pemantauan &Evaluasi praktek Kerja

PPE

Faktor lain :

Toksisitas - singkat / lama istilah

Route paparan

Waktu paparan

Keadaan fisik murni

komponen dan campuran indeks Biologi

Daerah utama yang berkaitan dengan perlindungan:


1. Orang
2. Properti
3. Lingkungan
1. Mengantisipasi, Pengakuan, Evaluasi Kondisi Berbahaya dan Praktek
2. Mengembangkan Hazard Control :
- Desain
- Metode
- Prosedur
- Program
3. Melaksanakan, Mengelola, Advise lain pada program pengendalian
bahaya
4. Ukur, Audit, Evaluasi Efektivitas bahaya program pengendalian
5. Melindungi:
- Tenaga kerja
- Masyarakat umum
- Lingkungan Hidup
6. Studi
- Bahan

- Sumber Struktur Kontrol


- Kode
- Operasi
Sumber ke Control
- Bahaya:
- Alat
- Peralatan
- Mesin
- Lainnya
7. Tentukan interaksi antara orang dan:
Faktor fisik
faktor Kimia
Faktor biologis
faktor Ergonomi
Faktor psikologis
ALAT PELINDUNG DIRI
THE APD PROSES:
KENALI BAHAYA DENGAN PEMERIKSAAN Lengkap
MATCH THE PPE ATAS BAHAYA / HAZARD KHUSUS.
GAIN PENERIMAAN KARYAWAN UNTUK APD.
COMFORT.
APPEARANCE.
SELECTION.
HARUS MEMENUHI STANDAR KINERJA
ALASAN UNTUK PENINGKATAN APD:
BAHAYA TAMBAHAN ATAU LEBIH PARAH.
PERUBAHAN KERJA-MENINGKAT SAMBUNGAN.
KARYAWAN REQUEST.
ALASAN UNTUK BAWAH GRADING APD:
BAHAYA KURANG BERAT.
PERUBAHAN KERJA-KURANG SAMBUNGAN.

OHS TERPADU
OHS TERPADU SISTEM MANAJEMEN

TERPADU KE ASPEK BISNIS OPERASI

TERPADU UNTUK TUJUAN ORGANISASI

TERPADU MANAJEMEN KUALITAS SISTEM

TERPADU

UNTUK

DESAIN,

DAN

PERALATAN

PROSES

PRODUKTIF

TERPADU UNTUK PERILAKU KARYAWAN ATAU

BUDAYA PERUSAHAAN

INDUSTRIAL HYGIENIST
Seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan formal seperti :
ENGINEERING
CHEMISTRY
PHYSIC
MEDICINE
BIOLOGICAL SCIENCE
RELATED DISCIPLINES
Ditambah

dengan

pengalaman

dan

special

training

yang

erat

hubungannya dengan HSE. RUANG LINGKUP


RECOGNITION: Mengenal bahaya lingkungan yang berhubungan
dengan pekerjaan ( Work Operation) dan pemahaman dari
efek atau akibatnya terhadap para pekerja maupun
masyarakat disekitarnya.
EVALUATION: Mengevaluasi faktor bahaya dilingkungan kerja
dengan melakukan pengukuran dan pemantauan kuantitatif
untuk mengetahui seberapa besar pengaruh bahaya tersebut,
sehingga menimbulkan gangguan kesehatan dan kehidupan
para pekerja.

CONTROL TECHNOLOGY: Pemilihan cara /metode pengontrolan


yang efektif efesien untuk mengurangi atau menghilangkan
dampak bahayanya.
PERANAN DAN FUNGSI
Membantu pimpinan secara professional dalam upaya memlihara
tenaga kerja yang sehat,serta upaya memelihara/meningkatkan
lingkungan kerja yang bersih, nyaman dan aman.
Melakukan inspeksi daerah operasi perusahaan dan lingkungan
secara berkala untuk mengenal dan mengukur serta memonitor
bahaya yang mungkin akan mengancam kesehatan dan
keselamatan.
Turut aktif mereview aspek HSE terhadap setiap rencana
konstruksi, renovasi fasilitas produksi/ operasi agar tetap
mematuhi / memenuhi aturan panduan Industrial Hygiene
Engineering.

Membuat, merencanakan, menerapkan dan melakukan evaluasi


program

kegiatan

menghilangkan

mengenai

bahaya

upaya

dilingkungan

mengurangi
kerja,

serta

atau
resiko

dampaknya.

Mengkomunikasikan faktor bahaya lingkungan kerja beserta


resikonya kepada employees, contractors, atau kelompok
beresiko tinggi, melalui : HAZARD COMMUNICATION
PROGRAM (HAZCOM)

Membantu pelaksanaan program pelatihan Health, Safety and


Environment

PRIMARY TANGGUNG JAWAB


A. DI UMUM:
1. Untuk melindungi kesehatan karyawan
2. Untuk menjaga sikap obyektif terhadap:

PENGAKUAN BAHAYA KESEHATAN

EVALUASI BAHAYA KESEHATAN

KONTROL & HASIL TINDAKAN

KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN PEKERJA

3. Untuk karyawan nasihat mengenai bahaya kesehatan dan diperlukan


tindakan pencegahan untuk menghindari merugikan kesehatan efek.
B. UNTUK PENGUSAHA:

kepercayaan hormat

menyarankan jujur

temuan laporan

merekomendasikan akurat

2. Untuk bertindak secara bertanggung jawab dalam penerapan sehat


lingkungan kerja prinsip IH menuju pencapaian.
3. Untuk terus tanggung jawab untuk majikan atau klien dengan
tanggung jawab utama untuk melindungi kesehatan karyawan

Higiene industri adalah Ilmu dan seni yang mencurahkan perhatian pada pengenalan, evaluasi dan kontrol faktor
lingkungan dan stress yang muncul di tempat kerja yang mungkin menyebabkan kesakitan, gangguan kesehatan dan
kesejahteraan atau menimbulkan ketidaknyamanan pada tenaga kerja maupun lingkungan. Faktor lingkungan kerja yang dapat
menimbulkan bahaya di tempat kerja(occupational health hazards) adalah bahaya faktor fisika, bahaya faktor kimia, bahaya
faktor biologi,faktor ergonomi dan psikologi.
Bahaya faktor fisika meliputi : kebisingan, pencahayaan, iklim kerja/tekanan panas, getaran, radiasi dsb. Bahaya faktor bilogi
meliputi virus, bakteri, jamur dsb. Bahaya faktor kimia meliputi debu, Pb, NOx, NH3, CO, dsb.
Agar pekerja bisa nyaman dan
produktif perlu upaya untuk
meminimalkan bahaya di tempat
kerja. Upaya untuk melakukan
pengendalian bahaya tersebut
meliputi: eliminasi, substitusi,isolasi
dan rekayasa enginering, upaya
administrasi dan menggunakan Alat
Pelindung Diri (APD

Selama proses menganalisa


seorang Industrial Hygienist
melakukan:

M
en
gi
de
nti
fik
asi

bahaya-bahaya yang mungkin dapat terjadi, permasalahan-permasalahan


kerja serta resikonya. Menganalisa kondisi-kondisi yang dapat diukur untuk
mencari permasalan yang timbul.

Mengembangkan strategi sampling dan menggunakan peralatan-peralatan


sampling yang dimiliki untuk mengukur seberapa besar sumber bahaya di
tempat kerja.

Melakukan pengamatan terhadap bagaimana dampak sumber-sumber


bahaya kimia dan fisika dapat mempengaruhi kesehatan pekerja dengan
melakukan pengukuran.

Membandingkan hasil sampling dengan standart atau petunjuk yang relevan


untuk menentukkan apakah pengontrolan khusus diperlukan.

HIGIENEINDUSTRI
DEFINISI:

Higieneindustriadalah:
Suatuupayapreventifedalamusahamengurangi
resikoterjadinyamasalahK3disektorindustri,dengan
focuspendekatanAntisipasi,Rekognisi,Evaluasi,dan
pengendalian(AREP)bahayapotensiyang
diakibatkanolehfaktorlingkungankerjayangtimbul
di/daritempatkerja.
FaktorLingkunganKerjaialah:
Segalasesuatuyangbersifatfisik,Kimia&Biologi
yangtimbuldi/darilingkungankerjayangbersumber
daribahanbaku,hasilproduksi,limbahproduksi
eksesdarikegiatanproses&peralatan/mesinindustri.
LingkunganKerjaialah:
Area/ruangyangdipergunakanuntukkegiatankerja,
antaralainberuparuang/tempatkerja,tempat
poenyimpananbahanbaku,ruang/tempatproses,hasil
produksidanbendabendadisekitarnya
(Mesin/Peralatan).
FaktorfaktorLingkunganKerjaterdiridari:
1.
Fisik:Kebisingan,Getaran,Temperatur
exstrim,Radiasi,Pencahayaan.
2.
Kimia:Debu,Uap,Gas,Aerosol,dll.
3.
Biologi:Virus,Bakteri,Jamur,Srangga,dll.
4.
Physikologi:Hubungankerja,monoton,stress.

Fisiologi:Hubungansikapfaaltubuhyang
kurangbaikdengankonstruksiperalatankerja
(Ergonomi).
TujuanUtamadarihigieneIndustriialah:
Pencegahan,pemberantasanpenyakitdankecelakaan
akibatkerja,pemeliharaan,peningkatankesehatan,
mempertinggiefisiensidandayaproduktivitastenaga
kerja.Pemberantasankelelahaan,penglipatgandaan
kegairahandankenikmatankerja,perlindunganbagi
masyarakatsekitarindustri,sertaperlindungan
masyarakatluasdaribahayayangmungkin
ditimbulkanolehprodukindustri.
5.

RuangLingkup:
Antisipasiialah:suatuaktivitasuntukmemprediksi
adanyahazardyangmungkintimbuldi/daritempat
kerjadenagnmenggunakanmethodestrategis.
StrategiAntisipasidapatdilakukandenganpendekatan
:
A.StudiLapangan.
DataSekunder:
MesinIndustri(RancangandanUkuran),Alur
Process,Bahanbaku&bahantambahan(MSDS),
Penyimpanandanpenangananbahan,unitoperasi,job
description,mesin/alatkerja&peralatandalamproses,
izinprosedurkerja,produkdanlimbahIndustri,
penyimpanandanpenangananproduk,pembuangan&
pengolahanlimbah.

DaftarFasilitas:

Monitorperalatan,perlengkapanperlindungan/
peralatankerja,penyediaanventilasi.
DataPekerja:
Jumlah,Umur,Jeniskelamin,Gambaran
Kerja,Keterampilan,Shiftkerjadanjamkerja
B.Studi

Literatur

:
DataPrimer:Wawancara
Rekognisi ialah : upaya untuk mengenal atau
mengidentifikasifaktorfaktorkerja,baikyangbersifat
fisik,kimia,biologi,fisiologi&mentalpsikologiyang
timbuldi/darilingkungankerja.Tahapinimerupakan
langkahawaldalamprosesevaluasidanpengendalian
bahaya(hazard).
Rekognisidapatdilakukandenganpendekatan:
1.
identifikasi material dan proses produksi yang
mempunyaipotensimengancamkesehatanpekerja.
2.
Dataakuratsepertidatakliniktentangkesehatan
pekerja, jurnal kesehatan, buletin dari departement
terkait,laporandaripemerintah,laporanlangsungdari
pekerja,supervisedll.
3.
Surveyjalanlintas/Inspeksidanmeriviewdata
untukmendapatkankonfirmasidatasekunderdengan
datalapangan.
TahapSurveijalanlintas/Inspeksi:
A.Perencanaan:
1.
Menentukan standard yang dapat diukur (untuk
membandingkanhasiltemuan).
2.
Mempertimbangkanyangakandiperiksa.

Tim inspeksi terdiri dari wakil pekerja,


Manajemensupervisor,Ahli(HI).
B.Penyelidikan:
1.Proses(Masukan,Keluaran&Produksampling).
2.Sifat&KeadaanZat/Bahanyangdigunakandalam
proses).
3.Suhudantekananudaraproses.
4.Jumlah pekerja yang terlibat dalam proses dan
merekayangdapatterkenapaparan.
5.Kondisifisikyanglangsungdapatdiamati(seperti
kebisingan,debudanasap).
6.PenggunaanAPD.
7.Dampakkesehatanakibatpaparanzatdariproses.
3.

C.Evaluasi:
1.Membandingkanancamanbahayahasilidentifikasi
denganstandardyangdapatdiukur.
2.Menganbilkeputusanuntukkebutuhaninformasi
lebihlanjut
D.Pelaporandantindakan:
1.Hasiltemuaninspeksidibuatdokumentasidalam
sebuahlaporanlembarhasiltemuan,sertamembuat
rekomendasi.
Evaluasi:
Adalah upaya untuk mendapatkan gambaran tingkat
pemaparan dan dampak pemaparan dengan cara
melakukan pengukuran ekspour yang berpotensi,

membandingkan eksposur tersebut dengan standard


yang ada dan merekomendasikan tindakan yang
diperlukanuntukmengendalikannya.
Langkahlangkahevaluasidapatdilakukandengan
pendekatan:
1.Pengambilansample.
2.Analisasample.
3.Eksperimandenganhewanpercobaan(untuk
mendapatkangambarantingkattoksisitas).
4.Studiepidemiologi(unyukmendapatkangambaran
ada/tidaknyahubunganlingkungankerjadengan
penyakitakibatkerja
Pengendalian:
Adalahpemberianrekomendasitentangtindakanyang
diperlukandalampengendalianhazarduntukjangka
pendekdanjangkapanjangsecaraberkesinambungan.
Langkahlangkahpengendaliandengancara
pendekatan:
1.PengendalianTekhnik(Substitusi,Isolasi).
2.Pengendalianadministrasi(peraturan/mekanisme
kerja,prosedur).
3.Pengendalianpersonal(PenggunaanAPD).
Higiene industri adalah Ilmu dan seni yang mencurahkan perhatian
pada pengenalan, evaluasi dan kontrol faktor lingkungan dan stress yang
muncul di tempat kerja yang mungkin menyebabkan kesakitan, gangguan
kesehatan dan kesejahteraan atau menimbulkan ketidaknyamanan pada
tenaga kerja maupun lingkungan
2.

Higiene Industri Dalam K3

Kesehatan kerja adalah ilmu dan profesi yang mempelajari


keterkaitan antara kesehatan dan pekerjan. Kesehatan yang kurang baik
akan dapat mengganggu produktivitas pekerjaan, dan pekerjaan dapat pula
menimbulkan terganggunya kesehatan. Karena peliknya permasalahan
bidang ini tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja, misalnya oleh dokter
saja atau oleh insinyur saja. Bidang ini harus ditangani oleh berbagai disiplin
ilmu, seperti: higene industri, kedokteran kerja, ergonomi, sosial, hukum,
psikologi dan lain-lain. Paling sedikit ada tiga bidang ilmu besar yang
mencakup kesehatan kerja secara keseluruhan, yaitu: keselamatan (safety),
higene industri dan kedokteran kerja. Higene industri dapat dikatakan
sebagai juru bicara antara disiplin keselamatan dan disiplin kedokteran.
Higene industri dapat dikatakan sebagai juru bicara antara profesi
keselamatan dan kedokteran. Bahasa higene industri mencakup kedua
disiplin itu. Masalah rekayasa yang sukar dikuasai oleh para dokter dapat
dikomunikasikan dengan higenis industri yang banyak barasal dari insinyur.
Intervensi teknis akan mudah dikomunikasikan dan dilakukan oleh higenis
industri. Risk assessment umumnya dikerjakan oleh para higenis industri.
3.

Ruang Lingkup Higiene Industri

Ruang lingkup hygiene industry merupakan sekuen atau urutan


langkah atau metode dalam implementasi HI,dimana urutan tidak bisa
dibolak balik dan merupakan suatu siklus yang tidak berakhir (selama
aktivitas industry berjalan).Ruang lingkup hygiene industry terdiri dari :
1)

Antisipasi
Antisipasi merupakan kegiatan untuk memprediksi potensi bahaya
dan risiko di tempat kerja. Tahap awal dalam melakukan atau penerapan
higiene industri di tempat kerja. Adapun tujuan dari anntisipasi adalah :
Mengetahui potensi bahaya dan risiko lebih dini sebelum muncul
menjadi bahaya dan risiko yang nyata
Mempersiapkan tindakan yang perlu sebelum suatu proses
dijalankan atau suatu area dimasuki
Meminimalisasi kemungkinan risiko yang terjadi pada saat suatu
proses dijalankan atau suatu area dimasuki
Langkah-langkah dalam antisipasi yaitu :
Pengumpulan Informasi
Melalui studi literature

Mempelajari hasil penelitian


Dokumen-dokumen perusahaan
Survey lapangan
Analisis dan diskusi
Diskusi dengan pihak terkait yang kompeten
Pembuatan Hasil
Yang dihasilkan dari melakukan antisipasi adalah daftar potensi bahaya dan
risiko yang
dapat dikelompokkan:
Berdasarkan lokasi atau unit
Berdasarkan kelompok pekerja
Berdasarkan jenis potensi bahaya
Berdasarkan tahapan proses produksi dll

2)

Rekognisi
Rekognisis merupakan serangkaian kegiatan untuk mengenali suatu
bahaya lebih detil dan lebih komprehensif dengan menggunakan suatu
metode yang sistematis sehingga dihasilkan suatu hasil yang objektif dan bias
dipertanggung jawabkan. Di mana dalam rekognisi ini kita melakukan
pengenalan dan pengukuran untuk mendapatkan informasi tentang
konsentrasi, dosis, ukuran (partikel), jenis, kandungan atau struktur, sifat,
dll .

3)

Adapun tujuan dari rekognisi adalah :


Mengetahui karakteristik suatu bahaya secara detil (sifat, kandungan,
efek, severity, pola pajanan, besaran)
Mengetahui sumber bahaya dan area yang berisiko
Mengetahui pekerja yang berisiko

Evaluasi
Pada tahap penilaian/evaluasi lingkungan, dilakukan pengukuran,
pengambilan sampel dan analisis di laboratorium. Melalui penilaian
lingkungan dapat ditentukan kondisi lingkungan kerja secara kuantitatif
dan terinci, serta membandingkan hasil pengukuran dan standar yang
berlaku, sehingga dapat ditentukan perlu atau tidaknya teknologi
pengendalian, ada atau tidaknya korelasi kasus kecelakaan dan penyakit
akibat kerja dengan lingkungannya , serta sekaligus merupakan dokumen
data di tempat kerja.
Tujuan pengukuran dalam evaluasi yaitu :

Untuk mengetahui tingkat risiko

Untuk mengetahui pajanan pada pekerja

Untuk memenuhi peraturan (legal aspek)

Untuk mengevaluasi program pengendalian yang sudah dilaksanakan

Untuk memastikan apakah suatu area aman untuk dimasuki pekerja

Mengetahui jenis dan besaran hazard secara lebih spesifik

4)

Pengontrolan
Ada 6 tingkatan Pengontrolan di Tempat Kerja yang dapat
dilakukan:
Eliminasi : merupakan upaya menghilangkan bahaya dari sumbernya
serta menghentikan semua kegiatan pekerja di daerah yang berpotensi
bahaya.
Substitusi : Modifikasi proses untuk mengurangi penyebaran debu atau
asap, dan
mengurangi bahaya, Pengendalian bahaya kesehatan kerja dengan
mengubah beberapa
peralatan proses untuk mengurangi bahaya, mengubah kondisi fisik bahan
baku yang diterima untuk diproses lebih lanjut agar dapat menghilangkan
potensi bahayanya.
Isolasi : Menghapus sumber paparan bahaya dari lingkungan pekerja
dengan menempatkannya di tempat lain atau menjauhkan lokasi kerja yang
berbahaya dari pekerja lainnya, dan sentralisasi kontrol kamar,
Engineering control : Pengendalian bahaya dengan melakukan modifikasi
pada faktor lingkungan kerja selain pekerja
Menghilangkan semua bahaya-bahaya yang ditimbulkan.,
Mengurangi sumber bahaya dengan mengganti dengan bahan yang
kurang berbahaya,
Proses kerja ditempatkan terpisah,
Menempatan ventilasi local/umum.
Administrasi control: Pengendalian bahaya dengan melakukan modifikasi
pada interaksi pekerja dengan lingkungan kerja
Pengaturan schedule kerja atau meminimalkan kontak pekerja
dengan sumber bahaya
Alat Pelindung Diri (APD), Ini merupakan langkah terakhir dari hirarki
pengendalian.
Jenis-jenis alat pelindung diri
Alat pelindung diri diklasifikasikan berdasarkan target organ tubuh yang
berpotensi terkena resiko dari bahaya.
v Mata

Sumber bahaya: cipratan bahan kimia atau logam cair, debu, katalis powder,
proyektil, gas, uap dan radiasi. APD: safety spectacles, goggle, faceshield,
welding shield.
v Telinga
Sumber bahaya: suara dengan tingkat kebisingan lebih dari 85 dB.
APD: ear plug, ear muff, canal caps.
v Kepala
Sumber bahaya: tertimpa benda jatuh, terbentur benda keras, rambut
terlilit benda berputar. APD: helmet, bump caps.
v Pernapasan
Sumber bahaya: debu, uap, gas, kekurangan oksigen (oxygen defiency).
APD: respirator, breathing apparatus
v Tubuh
Sumber bahaya: temperatur ekstrim, cuaca buruk, cipratan bahan kimia
atau logam cair, semburan dari tekanan yang bocor, penetrasi benda tajam,
dust terkontaminasi.
APD: boiler suits, chemical suits, vest, apron, full body suit, jacket.
v Tangan dan Lengan
Sumber bahaya: temperatur ekstrim, benda tajam, tertimpa benda berat,
sengatan listrik, bahan kimia, infeksi kulit. APD: sarung tangan (gloves),
armlets, mitts.
v Kaki
Sumber bahaya: lantai licin, lantai basah, benda tajam, benda jatuh,
cipratan bahan kimia dan logam cair, aberasi. APD: safety shoes, safety
boots, legging, spat.
4.

Potensi bahaya di lingkungan perusahaan/Industri


Faktor lingkungan kerja yang dapat menimbulkan bahaya di tempat
kerja(occupational health hazards) adalah bahaya faktor fisika, bahaya
faktor kimia, bahaya faktor biologi,faktor ergonomi dan psikologi.
1. Bahaya Fisik :

Kebisingan
Kebisingan mempengaruhi kesehatan antara lain dapat menyebabkan
kerusakan pada indera pendengaran sampai kepada ketulian. Dari hasil
penelitian diperoleh bukti bahwa in tensitas bunyi yang dikategorikan bising
dan yang mempengaruhi kesehatan (pendengaran) adalah diatas 60 dB. Oleh
sebab itu para karyawan yang bekerja di pabrik dengan intensitas bunyi

mesin diatas 60 dB maka harus dilengkapi dengan alat pelindung


(penyumbat) telinga guna mencegah gangguan pendengaran. Disamping itu
kebisingan juga dapat mengganggu komunikasi.Sumber Suara Skala
intensitas(dB) :
Halilintar 120 Kantor gaduh 70,
Meriam 110 Radio 60
Mesin uap 100 Kantor pd umumnya 40
Jalan yg ramai 90 Rumah tenang 30
Pluit 80 Tetesan air 10
Penerangan atau pencahayaan
Penerangan yang kurang di lingkungan kerja bukan saja akan
menambah beban kerja karena mengganggu pelaksanaan pekerjaan tetapi
juga menimbulkan kesan kotor. Oleh karena itu penerangan dalam
lingkungan kerja harus cukup untuk menimbulkan kesan yang higienis.
Disamping itu cahaya yang cukup akan memungkinkan pekerja dapat
melihat objek yang dikerjakan dengan jelas dan menghindarkan dari
kesalahan kerja. Akibat dari kurangnya penerangan di lingkungan kerja
akan menyebabkan kelelahan fisik dan mental bagi para karyawan atau
pekerjanya. Gejala kelelahan fisik dan mental ini antara lain sakit kepala
(pusing-pusing), menurunnya kemampuan intelektual, menurunnya
konsentrasi dan kecepatan berpikir. Disamping itu kurangnya penerangan
memaksa pekerja untuk mendekatkan matanya ke objek guna memperbesar
ukuran benda.
Untuk mengurangi kelelahan akibat dari penerangan yang tidak cukup
dikaitkan dengan objek dan umur pekerja ini dapat dilakukan hal-hal
sebagai berikut :
a.
Perbaikan kontras dimana warna objek yang dikerjakan kontras dengan
latar
belakang objek tersebut. Misalnya cat tembok di sekeliling tempat kerja
harus
berwarna kontras dengan warna objek yang dikerjakan.
b.
Meningkatkan penerangan, sebaiknya 2 kali dari penerangan diluar
tempat kerja.
Disamping itu di bagian-bagian tempat kerja perlu ditambah dengan dengan
lampu-lampu tersendiri.
c.
Pengaturan tenaga kerja dalam shift sesuai dengan umur masing-masing
tenaga
kerja. Misalnya tenaga kerja yang sudah berumur diatas 50 tahun tidak
diberikan tugas di malam hari.
Getaran
Getaran mempunyai parameter yang hampir sama dengan bising
seperti: frekuensi, amplitudo, lama pajanan dan apakah sifat getaran terus

menerus atau intermitten.Metode kerja dan ketrampilan memegang peranan


penting dalam memberikan efek yang berbahaya. Pekerjaan manual
menggunakan powered tool berasosiasi dengan gejala gangguan peredaran
darah yang dikenal sebagai Raynauds phenomenon atau vibrationinduced white fingers(VWF).
Peralatan yang menimbulkan getaran juga dapat memberi efek negatif
pada sistem saraf dan sistem musculo-skeletal dengan mengurangi kekuatan
cengkram dan sakit tulang belakang.
2.

Bahaya Kimia

Korosi
Bahan kimia yang bersifat korosif menyebabkan kerusakan pada
permukaan tempat dimana terjadi kontak. Kulit, mata dan sistem
pencernaan adalah bagain tubuh yang paling umum terkena. Contoh :
konsentrat asam dan basa , fosfor.
Iritasi
Iritasi menyebabkan peradangan pada permukaan di tempat kontak.
Iritasi kulit bisa menyebabkan reaksi seperti eksim atau dermatitis. Iritasi
pada alat-alat pernapasan yang hebat dapat menyebabkan sesak napas,
peradangan dan oedema ( bengkak )Contoh :
Kulit ( asam, basa,pelarut, minyak), Pernapasan : aldehydes, alkaline dusts,
amonia, nitrogen dioxide, phosgene, chlorine ,bromine, ozone.
Racun Sistemik
Racun sistemik adalah agen-agen yang menyebabkan luka pada organ
atau sistem tubuh. Contoh :
-

Otak : pelarut, lead,mercury, manganese

Sistem syaraf peripheral : n-hexane,lead,arsenic,carbon disulphide

Sistem pembentukan darah : benzene,ethylene glycol ethers

Ginjal : cadmium,lead,mercury,chlorinated hydrocarbons

Paru-paru : silica,asbestos, debu batubara ( pneumoconiosis )

3.

Faktor Biologi

Bakteri.
Bakteri mempunyai tiga bentuk dasar yaitu bulat (kokus), lengkung dan
batang (basil). Banyak bakteri penyebab penyakit timbul akibat kesehatan
dan sanitasi yang buruk, makanan yang tidak dimasak dan dipersiapkan
dengan baik dan kontak dengan hewan atau orang yang terinfeksi. Contoh
penyakit yang diakibatkan oleh bakteri : anthrax, tbc, lepra, tetanus,
thypoid, cholera, dan sebagainya.

Virus.
Virus mempunyai ukuran yang sangat kecil antara 16 300 nano meter.
Virus tidak mampu bereplikasi, untuk itu virus harus menginfeksi sel
inangnya yang khas. Contoh penyakit yang diakibatkan oleh virus :
influenza, varicella, hepatitis, HIV, dan sebagainya.
Jamur.
Jamur dapat berupa sel tunggal atau koloni, tetapi berbentuk lebih
komplek karena berupa multi sel. Mengambil makanan dan nutrisi dari
jaringan yang mati dan hidup dari organisme atau hewan lain.
4.

Ergonomi
Ergonomi berfungsi untuk menyerasikan alat, cara, proses dan
lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan dan batasan manusia
untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman
dan tercapai efisiensi yang setinggi-tingginya. Pendekatan ergonomi bersifat
konseptual dan kuratif, secara populer kedua pendekatan tersebut dikenal
sebagai to fit the Job to the Man and to fit the Man to the Job. Adapun
beberapa posisi yang penting untuk penerapan ergonomi di tempat kerja
adalah sebagai berikut :

a.

Posisi berdiri : Ukuran tubuh yang penting adalah tinggi badan berdiri,
tinggi bahu, tinggi siku, tinggi pinggul, panjang lengan.

b.

Posisi duduk : Ukuran tubuh yang penting adalah tinggi duduk, panjang
lengan atas, panjang lengan bawah dan tangan, jarak lekuk lutut dan garis
punggung, serta jarak lekuk lutut dan telapak kaki.

5.

Faktor Psikologi
Perasaan aman, nyaman dan sejahtera dalam bekerja yang didapatkan
oleh pekerja. Hal ini dapat terjadi karena lingkungan kerja (cahaya,
ventilasi, posisi kerja) yang tidak menimbulkan stres pada pekerja.
5.
Perbedaan Batasan Antara Higiene Perusahaan dan Ilmu Kesehatan
Kerja Dengan ilmu Kesmas
Higiene perusahaan dan kesehatan kerja sebagai satu kesatuan
spesialisasi dalam ilmu kesehatan masyarakat. Ilmu kesehatan kerja
merupakan ilmu yang sangat luas sehingga berbagai keahlian dari berbagai
aspek pengetahuan terlibat di dalamnya.
Kerjasama yang erat dalam berbagai disiplin tersebut merupakan hal
yang penting. Namun demikian perlu diketahui bahwa kesehatan kerja
merupakan cabang dalam ilmu kesehatan masyarakat yang diterapkan
untuk masyarakat pekerja. Antara kesehatan masyarakat dan kesehatan
kerja terdapat kesamaan yaitu, keduanya mempelajari masalah-masalah

kesehatan yang berhubungan dengan manusia serta lingkungan fisik, biologi,


kimia dan sosial secara umum. Namun perbedaannya terletak pada
kesehatan kerja mempelajari manusia dalam hubungannya dengan
pekerjaan dan lingkungan kerjanya, baik fisik maupun mental, sedangkan
kesehatan masyarakat mempelajari manusia dalam hubungannya dengan
lingkungannya di luar tempat kerja, serta mempelajari semua faktor-faktor
yang berhubungan dengan pekerjaan, metode kerja, kondisi kerja dan
lingkungan kerja, yang mungkin dapat menyebabkan penyakit kecelakaan
atau gangguan kesehatan lainnyan, misalnay bahaya-bahaya kimia dan fisik
seperti infeksi dari debu, uap asam, gas-gas yang terhirup, penyakit-penyakit
yang disebabkan oleh bahan-bahan perangsang, kesakitan akibat bising,
silikasi akibat terhirup dan tersiram bahaya debu silika bebas (SiO2) dalam
paru-paru, kecelakaan akibat kerja yang terlalu lama dan lain-lain.
Secara garis besar perbedaan antara ilmu higiene perusahaan dan
kesehatan kerja dengan ilmu kesehatan masyarakat adalah

Kesehatan Masyarakat tenaga kerja merupakan tujuan utama

Yang diurusi biasanya tenaga kerja yang mudah didekati

Ditandai dengan sangat efektifnya pemeriksaan kesehatan


(Pemeriksaan kesehatan awal, berkala, & khusus)
Yang dihadapi adalah lingkungan kerja sebagi sumber bahaya

Terutama berujuan peningkatan produktivitas

Dibiayai oleh perusahaan atau masyarakat tenaga kerja

Perkembangan sangat pesat sesudah revolusi industry

Perundang-undangan berada dalam ruang lingkup ketenagakerjaan


Kesehatan Masyarakat sebagai sasaran utama
Mengurusi masyarakat yang kurang mudah didekati

Sulit melaksanakan pemeriksaan kesehatan

Lingkungan umum merupaka suatu problema pokok

Tujuan utamanya adalah kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,


sedangkan aspek produktivitas hanya menonjol apabila terjadi wabah
Perkembangan sangat cepat setelah kemajuan di bidang ilmu jasadjasad renik