Anda di halaman 1dari 9

Identifikasi Jamur Pada Sampel Swab Vagina

I.
Tujuan
A. Tujuan Umum
1) Mahasiswa mampu mengidentifikasi jamur pada sampel swab vagina
seperti Candida sp
B. Tujuan Khusus
1) Mahasiswa dapat melakukan kultur jamur dari sampel swab vagina pada
media PDA dan Media Uji Biokimia
2) Mahasiswa dapat mengidentifikasi jamur yang ada pada swab vagina
dengan uji biokimia
3) Mahasiswa dapat mengidentifikasi jamur pada swab vagina secara
makroskopis
4) Mahasiswa dapat mengidentifikasi jamur pada swab vagina secara
II.

III.

mikroskopis
Metode
A. Kultur jamur dengan cara kultur aerob sampel swab vagina pada media PDA
media uji biokimia dengan suhu inkubasi ruang dan inkubator
B. Pengamataan makroskopis dan mikroskopis dengan sediaan basah (langsung)
Prinsip
A. Bahan/sampel swab vagina disteak/digores (satu kuadran) pada media PDA
dengan inkubasi suhu ruang dn inkubator. Jika tumbuh koloni, diambil koloni
tunggal dengan ose, lalu digoreskan dan dicelupkan pada media ujibiokimia
(TSIA, SC, Laktosa, Maltosa, Dekstrosa, Sakarosa, dan Manitol) lalu diinkubasi
suhu ruang dan shu inkubator
diamati
B. Pewarnaan LCB (Lactofenol Cotton Blue) akan berikatan/ berinteraksi dengan
jamur yang terdapat pada sampel dan melalui pemanasan sel jamur diamati

IV.

secara mikroskopis pembesaran 10 X dan 40 X


Dasar Teori
Vagina swab adalah pemeriksaan cairan dari vagina dengan usapan, hasil usapan lalu

ditambahkan cairan fisiologis dan garam lalu ditunggu selama 4-5 menit. Swab V atau swab
vagina atau pemeriksaan apus vagina artinya mengambil sediaan seperti lendir yang terdapat
pada daerah vagina untuk diperiksa kuman-kuman apakah yang ada di dalamnya dengan
menggunakan bantuan bawah mikroskop.
Komposisi sekret vagina normal adalah: Sekresi vulvar kelenjar bartholiini dan kelenjar
skene, Transudat dari dinding vagina, Sel-sel vaginal dan servikal yang tereksfoliasi, Mukus /
lendir serviks, Cairan endometrial dan oviduktal serta Beberapa mikroorganisme beserta
produk metaboliknya

Tipe dan jumlah dari sel-sel tereksfoliasi, lendir serviks, dan cairan cairan dari traktus
genitalis atas yang ada dalam sekret vagina ditentukan oleh proses biokimia yang dipengaruhi
oleh level hormon tubuh. Sekret vagina biasanya meningkat saat di tengah siklus menstruasi
karena adanya peningkatan lendir serviks. Variasi siklik tersebut tidak terjadi pada
penggunaan kontrasepsi oral dimana tidak terjadi ovulasi sehingga seiklus menstruasi tidak
terjadi.Jaringan deskuamaif vagina tersusun dari sel-sel epitelial vagina yang responsif
terhadap perubahan kadar estrogen dan progesteron. Pada wanita usia reproduktif akan terjadi
predominansi sel superfisial pada stimulasi estrogen dan predominansi sel intermediet pada
stimulasi progesteron (ketika fase luteal). Sedangkan tanpa kehadiran dua hormon tersebut,
misalnya pada wanita post menopausal yang tidak memperoleh terapi hormon, terdapat
predominansi sel parabasal.
Vagina normal mengandung beberapa mikroorganisme (rata rata 6 spesies bakteri
yang berbeda) dengan flora normal yang kebanyakan aerobik, dan yang paling umum adalah
Lactobacillus carispatus dan Lactobacillus jensenii. Lactobacilli adalah spesies penghasil
hidrogen peroksida, yang dapat mencegah mikroorganisme vaginal lain untuk berkembang
dan menimbulkan penyakit.
Faktor faktor yang mempengaruhi kemampuan bakteri untuk hidup antara lain pH
dan ketersediaan glukosa untuk metabolisme bakteri. pH vagina normal < 4.5, dimana
konsidi asam ini dipertahankan oleh produksi asam laktat berdasar mekanisme berikut :
1. Sel epitel vagina terstimulasi estrogen dan menjadi kaya glikogen.
2. Glikogen kemudian akan dipecah menjadi monosakarida oleh sel epitel.
3. Monosakarida akan dikonversi menjadi asam laktat baik oleh sel epitel itu sendiri
maupun oleh lactobacilli flora normal vagina.
Sekret vagina normal memiliki konsistensi yang flokular, berwarna putih dan berlokasi
di fornix posterior. Pemeriksaan sekret vagina normal secara mikroskopik dapat memberikan
temuan-temuan berupa banyak sel epitelial, sedikit leukosit, dan sedikit clue cells (clue cells
merupakan sel epitelial superfisial vagina dengan bakteri aderen, biasanya Gardnerella
vaginalis).

Candida sp. merupakan mikroorganisme dari golongan fungi yang menyebabkan


infeksi menular seksual. Candida sp. adalah flora normal yang terdapat pada membran
mukosa, saluran pencernaan, vagina, uretra, kulit, dan kuku.Infeksi Candida sp. pada vulva
dan atau vagina disebut kandidiasis vaginalis. Pada tahun 2005 di United States dilaporkan
bahwa 80-90% kandidiasis vaginalis disebabkan oleh Candida albicans sebagai penyebab
kedua terbanyak setelah Bacterial vaginosis. Gejala klinis kandidiasis vaginalis adalah flour
albus, dispareunia, disuria, vulva dan vagina kemerahan serta edema. Faktor resiko
kandidiasis vaginalis seperti diabetes mellitus yang tidak terkontrol, penggunaan kontrasepsi,
cairan pembersih vagina, hubungan seksual yang beresiko, penggunaan imunosupresan dan
kehamilan.Orang yang suka berganti-ganti pasangan seks dan melakukan hubungan seksual
yang tidak aman beresiko tinggi tertular infeksi menular seksual termasuk infeksi Candida
albicans. Pekerja seks komersial wanita termasuk dalam kelompok beresiko tinggi.
Kelompok resiko tinggi adalah usia 20-24 tahun pada laki-laki dan wanita, pekerja seks
komersial, homoseksual dan pecandu narkotika.Hasil penelitian pada pekerja seks komersial
di Kwazulu-Natal, Afrika Selatan menunjukkan infeksi Candida albicans sebesar 40,6%
kedua terbanyak setelah Trichomonas vaginalis.
Normalnya, bakteri baik dalam usus akan berkompetisi dengan candida dan
menjaganya agar tetap terkendali tanpa menyebabkan masalah kesehatan apapun. Namun
ketika keseimbangan antara bakteri baik dan candida terganggu, maka infeksi/candidiasis
(Penyebaran candida ke seluruh bagian tubuh) tidak dapat dihindari lagi.Candida bisa
menjadi masalah di dalam usus dan membran mukosa lainnya dalam tubuh anda jika pola
makan anda tidak tepat, terdapat inflamasi/peradangan, sistem imun lemah, kadar gula darah
tinggi, atau setelah penggunaan obat-obatan antibiotik, steroid, dan pil kontrasepsi oral. Bayi,
ibu hamil, dan pengidap HIV juga rentan terhadap infeksi candida. Jika candida mulai
menjamur (bertebaran), sistem pencernaan akan menjadi tangki fermentasi yang kelewat
aktif. Hal ini menyebabkan gas berlebih, pembengkakan abdomen, dan kontraksi usus yang
tidak beraturan.
Infeksi candida bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Pada wanita bisa
menyebabkan keputihan, rasa gatal dan terbakar pada vagina yang biasa disebut dengan
vaginitis. Sedangkan infeksi candida di mulut atau yang biasa disebut oral candidiasis/thrush,
pada lidah berkembang lapisan berwarna putih yang tampak seperti endapan keju, menutupi
bercak kemerahan (erythematous) yang bisa menyebabkan sakit tenggorokan, nyeri saat

menelan, mual, dan kehilangan nafsu makan. Infeksi ini bisa menyebar hingga kerongkongan
dan disebut sebagai esophagitis.
Gejala-gejala umum terkait candidiasis antara lain adalah:

Kelelahan
perubahan mood
mudah marah
depresi
sulit belajar dan konsentrasi
hiperaktif
autisme
gangguan pencernaan
gangguan pernafasan
nyeri otot, sakit kepala
nyeri sendi
nyeri dada
masalah kulit
jerawat
alergi makanan dan lingkungan
hipoglikemia
gangguan seksual
impotensi
gangguan berkemih
vaginitis berulang
sindrom pramenstruasi
menstruasi tidak normal
Untuk mengatasi berbagai masalah yang disebabkan oleh candida, perlu adanya

perbaikan dalam pola makan tepat. Hindari makanan-makanan yang mengandung ragi seperti
roti, produk-produk susu, vinegar (cuka), alkohol, acar, selai, buah-buahan dan sayuran dalam
kaleng, serta batasi konsumsi buah-buahan yang dikeringkan, dan semua makanan yang
mengandung gula, tepung, atau malt seperti permen, cake, biskuit, minuman manis, jus buah
tanpa serat dan sebagainya. Boleh mengkonsumsi nasi atau gandum yang tidak mengandung
malt, selain itu juga boleh mengkonsumsi buah-buahan, tetapi harus yang segar dan tidak
berjamur. Untuk membantu membasmi candida, kita juga perlu mengkonsumsi makanan
tinggi serat, yoghurt yang mengandung bakteri lactobacillus (bakteri baik), dan makananmakanan yang memiliki kandungan antibiotik alami seperti bawang putih, bawang merah,
bawang bombay, lobak, brokoli, kembang kol, kubis, dan akar jahe. Selain itu anda juga perlu
mengkonsumsi suplemen vitamin A, vitamin C, selenium, dan zinc. Ingatlah untuk menjaga

kecukupan nutrisi dan oksigen anda, karena candida tidak bisa hidup di lingkungan yang kaya
akan oksigen.
V.

Alat dan Bahan

Alat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Cawan petri
Ose & Pipet tetes
Objek glass
Cover glass
Api bunsen
Pinset
Mikroskop
Inkubator
Korek api

VI.

Bahan
1. Alkohol 70% & Desinfektan
2. Tissue
3. . LCB 10%
4. Media PDA
5. Media TSIA, SC, Laktosa,

Maltosa,

Dekstrosa, Sakarosa, Manitol


6. Sampel swab vagina
7. Media Carry and Blair

Cara Kerja
A. Kultur jamur dari sampel swab vagina pada media PDA
1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Dilakukan kultur jamur dengan aseptis
3. Diambil swab vagina lalu digoreskan ( satu kuadran) pada media PDA
dengan asseptis
4. Media PDA yang sudah dikultur, ditutup kembali dan dibungkus dengan
kertas buram
5. Diinkubasi pada suhu ruang (25-30 C) maupun inkubator (37 C)
selama 2 hari (48 jam)
6. Hasil berupa koloni yang tumbuh diamat secara makroskopis &
mikroskopis
B. Uji biokimia terhadap jamur yang tumbuh
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Uji biokimia dilakukan dengan aseptis
3. Koloni yang tumbuh (koloni tunggal) pada media PDA diambil
secukupnya, lalu digoreskan/dicelupkan pada masing-masing media
sebagai berikut:
Pada media TSIA dilakukan dengan cara ditusuk bagian tengah
media hingga 1/3 bagian dasar media lalu disteak bagian lereng

dengan ose
Pada media SC dilakukan dengan cara digoreskan pada bagian

lereng (dari bawah keatas) dengan ose


Pada media gula gula (Laktosa, Maltosa, Dekstrosa, Sakarosa,
Manitol) dilakukan dengan cara dicelupkan ke dalam media dan
dihomogenkan

4. Masing masing media tersebut ditutup kembali dan diinkubasi segera


pada suhu ruang (25-30 C) maupun inkubator (37 C) selama 3 hari
(72 jam)
5. Diamati hasil secara makroskopis (warna, koloni, gas/ gelembung)
C. Pengamatan makroskopis
1. Hasil hasil inkubasi media PDA dan media uji biokimia disiapkan
2. Masing masing media tersebut diidentifikasi perubahan yang terjadi
mulai dari koloni yang tumbuh , perubahan warna dan adanya
gelembung/gas
3. Perubahan yang ada pada media diamati secara makroskopis dan dicatat
hasilnya, lalu dibandingkan dengan literatur
D. Pengamatan mikroskopis
1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Dilakukan secara aseptis pada pengamatan mikroskopis
3. Objek dan cover glass didesinfeksi dengan alkohol
4. Disiapkan LCB untuk pewarnaan
5. Dipipet 1-2 tetes larutan LCB kedalam objek glass
6. Diambil koloni tunggal jamur pada biakan/kultur jamur dari sampel
swab vagina di media PDA dengan ose dan diaduk perlahan pada objek
glass
7. Dipanaskan dengan melewatkan pada api bunsen sampai menguap, tidak
mendidih, kemudian tutup dengan cover glass
8. Diamat dengan menggunakan mikroskop pembesaran lensa objektif 10X
dan 40X
9. Hasil pengamatan dicatat.
VII.

Hasil Pengamatan
Gambar

Keterangan
Pada media PDA tidak ada koloni
yang tumbuh, ini menandakan tidak
ada

jamur

yang

berkembang

(tumbuh).

Untuk

selanjutnya

pengamatan

tidak

dilanjutkan

ke

Mikroskopis dan ke media gula gula,


karena
negatif.

pengamatan

makroskopis

VIII.

Pembahasan
Vagina swab adalah pemeriksaan cairan dari vagina dengan usapan, artinya
mengambil sediaan seperti lendir yang terdapat pada daerah vagina untuk diperiksa
kuman-kuman apakah yang ada di dalamnya dengan menggunakan bantuan bawah
mikroskop. Vagina normal mengandung beberapa mikroorganisme (rata rata 6
spesies bakteri yang berbeda) dengan flora normal yang kebanyakan aerobik .
Candida albicans sebenaranya merupakan flora normal dalam tubuh
manusia namun ia akan bersifat patogen apabila pertumbuhannya terlalu banyak
(blooming) sehingga apabila konsentrasinya dalam jumlah yang banyak dapat
bersifat patogen dan dapat menimbulkan penyakit.
Pada praktikum kali ini sampel swab vagina yang telah ditempatkan pada
media transport Carry and Blair dikultur pada media PDA (Potato Dextrose Agar)
lalu kemudian dilanjutkan dengan uji biokimia dengan penaman pada media TSIA
(Triple Sugar Iron Agar), SC (Simmons Citrate) dan media gula-gula (laktosa,
maltose, dekstrosa, sakarosa, manitol).
Penanaman sampel swab vagina dilakukan pada media PDA karena media
PDA ini merupakan media untuk pertumbuhan jamur. Jamur pada sampel swab
vagina ini ditumbuhkan terlebih dahulu di media PDA sebelum dilanjutkan ke uji
biokimia. Penanaman pada media PDA dilakukan secara aseptis didekat api spiritus
dengan menggoreskan sampel satu kuadran saja. Media yang telah dikultur ini
kemudian diinkubasi pada incubator dengan suhu 37C selama 48 jam. Setelah
masa inkubasi selesai , media PDA tersebut kemudian diamati secara makroskopis
dan mikroskopis.
Hasil pembacaan makroskopis dari media PDA ini menunjukkan tidak
terdapat pertumbuhan jamur (negatif), sehingga pengamatan tidak dilanjutkan ke
mikroskopis dan uji biokimia. Hasil negatif ini diduga karena pasien yang diambil
sampel swab vaginanya memang tidak menderita kandidiasis atau tidak terdapat
jamur Candida sp dalam jumlah yang banyak sehingga dapat dikatakan pasien
tersebut tidak terinfeksi.

IX.

Kesimpulan

1. Kultur jamur dari sampel swab vagina pada media PDA dilakukan secara aseptis
dengan menggoreskan sampel satu kuadran pada media PDA dan kemudian
diinkubasi pada suhu 37C selama 48 jam. Sedangkan uji biokimia dilakukan
pada media TSIA,SC, dan media gula-gula (laktosa, maltose, dekstrosa, sakarosa,
manitol) dilakukan secara aseptis dan kemudian diikubasi pada suhu 37C selama
72 jam.
2. Pada praktikum kali ini tidak dilakukan pengujian biokimia dikarenakan sampel
tidak menunjukkan hasil pertumbuhan jamur pada media PDA.
3. Pengamatan secara makroskopis menunjukkan hasil tidak

terdapatnya

pertumbuhan jamur pada media PDA. Hasil negatif ini diduga karena pasien yang
diambil sampel swab vaginanya memang tidak menderita kandidiasis atau tidak
terdapat jamur Candida sp dalam jumlah yang banyak sehingga dapat dikatakan
pasien tersebut tidak terinfeksi.
4. Pada praktikum kali ini tidak dilakukan pengamatan secara makroskopis
dikarenakan sampel tidak menunjukkan hasil pertumbuhan jamur pada media
PDA.
X.

Daftar Pustaka

Ananya.

2012.

Cause

of

Candidiasis

Indonesia.

Online

http://www.news-

medical.net/health/Causes-of-Candidiasis-%28Thrush%29-%28Indonesian%29.aspx.
Diakses 7 Desember 2015
Ani.2014. Vagina swab. Online http://anysws.blogspot.co.id/2014/02/vagina-swab.html.
Diakses 7 Desember 2015
Anonim.

2013.

Gejala

gejala

terinfeksi

jamur

candida.

Online

indo.blogspot.co.id/2013/06/gejala-gejala-terinfeksi-jamur-candida.html.

http://marcelDiakses

Desember 2015
Anonim.

Tips

mengobati

infeksi

jamur

candida

dengan

probiotik.

Online

http://www.amazine.co/9763/tips-mengobati-infeksi-jamur-candida-dengan-probiotik/.
Diakses 7 Desember 2015
Diah.

2012.

Candidiasis

Vaginalis.

http://jurnalbidandiah.blogspot.co.id/2012/04/candidiasis-vaginalis.html.
Desember 2015

Online
Diakses

Pradini.

2012.

Bakterial

vaginosis

3.

Online

https://puradini.wordpress.com/2012/01/19/bakterial-vaginosis-3/. Diakses 7 Desember


2015