Anda di halaman 1dari 37

STUDI KASUS PASIEN

HIPERTENSI GRADE II PADA PASIEN USIA LANJUT DILIHAT DARI


ASPEK KEBUTUHAN GIZI DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN
KELUARGA DI PUSKESMAS KECAMATAN CILINCING
PERIODE 3 AGUSTUS 4 SEPTEMBER 2015

Oleh
Fara Fariha
1102010093
Pembimbing
Dr. Citra Dewi, M.Kes

KEPANITERAAN KEDOKTERAN KELUARGA


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
JAKARTA

LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan studi kasus yang HIPERTENSI GRADE II PADA PASIEN USIA


LANJUT

DILIHAT

DARI

ASPEK

KEBUTUHAN

GIZI

DENGAN

PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA DI PUSKESMAS KECAMATAN


CILINCING PERIODE 3 AGUSTUS 4 SEPTEMBER 2015 ini telah disetujui
oleh pembimbing untuk dipresentasikan dalam rangka memenuhi salah satu tugas
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
bagian Kedokteran Keluarga.

Jakarta, Agustus 2015


Pembimbing

Dr. Citra Dewi, M.Kes

BERKAS PASIEN
IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. R

Jenis kelamin

: Perempuan

Usia

: 66 tahun

Suku

: Jawa

Agama

: Islam

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Jl. Taruna II Rt 008 Rw 002, Sukapura Cilincing Jakarta Utara

Tanggal berobat : 6 Agustus 2015


A. Anamnesa
Autoanamnesa yang dilakukan pada tanggal 6 Agustus 2015 :
1. Keluhan Utama :
Nyeri kepala
2. Keluhan Tambahan :
Leher terasa pegal atau kaku
3. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Puskesmas Kelurahan Cilincing dengan keluhan nyeri
kepala. Keluhan ini sudah dirasakan pasien sejak 3 minggu ini. Pasien merasakan
keluhan ini secara terus menerus sehingga membuat pasien datang untuk berobat.
Nyeri kepala terasa seperti ditekan-tekan dan seringkali dirasakan di seluruh
kepala. Nyeri kepala dirasakan dalam sehari bisa timbul > 2 kali, lebih berat jika
pasien kelelahan atau stress. Keluhan ini membuat kepala pasien terasa berat dan
menjalar hingga ke leher namun keluhan ini tidak sampai membuat aktivitas
pasien sehari-hari terganggu. Selain nyeri kepala pasien juga mengeluhkan

lehernya sering terasa tegang atau kaku, namun pasien masih bisa menggerakkan
lehernya secara bebas.
Riwayat adanya trauma daerah kepala dan leher disangkal oleh pasien.
Keluhan mual, muntah, lemah anggota tubuh disangkal, bicara pelo dan mulut
mencong disangkal. Keluhan penglihatan tiba tiba buram disangkal. Keluhan
sesak nafas bila beraktivitas nyeri dada sebelah kiri yang menjalar ke leher kiri
hingga lengan kiri di sangkal, keluhan mudah lemas ketika aktivitas ringan dan
tidur harus menggunakan lebih dari 2 bantal disangkal. Keluhan adanya pilek
berulang disetai nyeri pada tulang-tulang wajah khususnya daerah pipi, dahi dan
pangkal hidung disangkal oleh pasien.
Pasien menyangkal adanya sering terbangun pada malam hari karena ingin
buang air kecil, peningkatan nafsu makan ataupun rasa haus berlebih disangkal.
Buang air kecil dan buang air besar pasien normal tidak ada keluhan. Pasien turut
menyangkal adanya perubahan pada penglihatannya dan tidak mempunyai keluhan
penurunan berat badan yang bermakna.
Pasien mengatakan dirinya mempunyai riwayat tekanan darah tinggi yang
telah

diketahuinya sejak 3 tahun yang lalu. Pertama kali mengetahui dirinya

menderita tekanan darah tinggi saat berobat ke Puskesmas dengan keluhan nyeri
kepala dan pundak terasa Tegang. Pada saat itu dilakukan pemeriksaan tekanan
darah, dan hasilnya tinggi yaitu 180/100 mmHg. Semenjak itu pasien didiagnosa
mengidap tekanan darah tinggi namun pasien tidak rutin kontrol ke puskesmas.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengaku didiagnosis hipertensi sejak 3 tahun yang lalu namun
tidak rutin berobat. Pasien hanya berobat bila ada keluhan. Riwayat diabetes
mellitus, asam urat, penyakit paru, penyakit jantung disangkal oleh pasien
5. Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat tekanan darah tinggi pada keluarga disangkal, riwayat penyakit
diabetes mellitus pada keluarga disangkal, riwayat penyakit paru disangkal.

6. Riwayat Sosial Ekonomi :


Pasien tinggal di rumah milik sendiri bersama suami dan kedua anaknya.
Dalam hal ekonomi, keluarga pasien termasuk ke dalam keluarga dengan ekonomi
menengah ke bawah. Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga. Suami pasien tidak
bekerja Perekonomian pasien dibantu oleh anaknya yang bekerja menjadi buruh
pabrik, dan penjual gorengan . Penghasilan dari kedua anaknya tidak tetap, ratarata Rp 1.000.000,00 Rp. 1.500.000,00 per bulan. Menurut pasien jumlah uang
tersebut hanya cukup untuk kebutuhan-kebutuhan pokok.
Menurut pasien, dirinya merupakan seseorang yang cukup aktif dalam
bergaul di lingkungan tempat tinggalnya. Pasien sering duduk-duduk sambil
mengobrol dengan tetangga di sekitar tempat tinggal, juga rajin mengikuti
pengajian ibu-ibu di masjid terdekat.
7. Riwayat Kebiasaan :
Pasien dan suami memiliki kebiasaan makan 3 kali sehari, dan lebih sering
memasak makanan yang mengandung garam dan penyedap rasa, seperti ikan asin,
telor asin,bihun, tempe, tahu, yang diberi garam dan penyedap rasa. Terkadang
pasien mengkonsumsi . Pasien memiliki kebiasaan mengkonsumsi ayam atau
daging. Pasien sangat jarang mengkonsumsi buah-buahan. Pasien menyangkal
riwayat keluarga mengkonsumsi minum-minuman beralkohol. Keluarga Ny.R
tidak ada yang memiliki kebiasaan merokok. Pasien tidak pernah berolah raga.
B. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum :Baik
Kesadaran : compos mentis
2. Tanda Vital
a.

Tekanan darah : 160/100 mmHg

b.

Nadi

c.

RR

d.

Suhu

: 88 x /menit, regular
: 20 x /menit
: 36,6O C

3. Status Generalis :
Kulit

: Sianosis (-), ikterus (-)

Kepala

: Normocephale, berwarna hitam dan beruban

Mata

: Edema palpebra (-/-), konjungtiva anemis (-/-),


sklera ikterik (-/-).

Telinga

: Bentuk normal, sekret (-/-)

Hidung

: Napas cuping hidung (-), sekret (-/-)

Mulut

: Bibir sianosis (-), Lidah kotor (-)

Tenggorokan : Hiperemis (-)


Leher

: Deviasi trakea (-), pembesaran kelenjar limfe (-)

Thoraks

: Bentuk simetris normal, benjolan (-), retraksi (-)

Jantung

:
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

Pulmo

: Ictus cordis tidak terlihat


: Nyeri tekan (-). ictus cordis teraba
: Batas Jantung Normal
: Bunyi jantung I dan II normal reguler, Murmur (-),
Gallop (-)

Inspeksi

simetris
Palpasi
: Pergerakan paru simetris, tidak ada gerakan yang
tertinggal, vokal fremitus kanan = kiri
Perkusi
: Sonor di seluruh lapang paru kanan dan kiri
Auskultasi
: Suara dasar paru vesikular (+/+), wheezing (-/-)

: Bentuk dada simetris normal, pergerakan paru

ronkhi(-/-)
Abdomen

Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
Perkusi

: hernia umbilikalis (-), asites (-), striae (-), lesi (-)


: bisung usus (+) normal
: nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba membesar
: timpani pada seluruh abdomen

Genitalia

: Tidak dilakukan

Anorektal

: Tidak dilakukan

Ekstremitas

Superior
Inferior

4. Status Gizi
Berat badan
Tinggi badan
IMT
Status Gizi
BB Ideal

: Edema (-/-), akral dingin (-/-)


: Edema (-/-), akral dingin (-/-)

: 57 kg
: 153 cm
: BB/(TB)2= 57/(1,53)2 = 24.3 kg/m2
: Beresiko Menjadi Obesitas
: (153-100) ( 15% x 53)= 45 kg

Kriteria Indeks Massa Tubuh (IMT)


IMT dihitung berdasarkan pembagian berat badan (dalam kilogram) dibagi
dengan tinggi badan (dalam meter kuadrat).
Tabel 1. Indeks Masa Tubuh
IMT
STATUS GIZI
<18,5
Berat Badan Kurang
18,5 22,9
Berat Badan Normal
>23,0
Kelebihan Berat Badan
23,0 24,9
Beresiko Menjadi Obesitas
25,0 29,9
Obesitas I
>30,0
Obesitas II
Sumber : Center For Obesity Research and Education, 2007
Kesimpulan : Status Gizi Pasien Beresiko Menjadi Obesitas

Penentuan Status Gizi Berdasarkan Rumus Broca


Berat Badan Idaman (BBI) : (TB 100) 10%
: (153 -100) 10% = 53 kg 5.3 kg = 47.7 kg.
Status gizi : (BB aktual : BB ideal) x 100%
: (57 : 45) x 100% = 126% (Termasuk BB lebih)
Jumlah kebutuhan kalori perhari :
- Kebutuhan kalori basal = BB ideal x 25 kalori
= 45 kg x 25 kalori = 1.125 kalori

- Kebutuhan untuk aktivitas ditambah 20 % karena aktivitas yang


dilakukan pasien termasuk aktivitas sedang
20% x 1.125 kalori = 225 kalori
- Koreksi karena kelebihan berat badan dikurangi 10% karena pasien

termasuk beresiko menjadi obes


20% x 1.125 kalori = 225 kalori
Koreksi faktor usia dikurangi 10%
10% x 1.125 kalori = 112,5 kalori

Jadi, total kebutuhan kalori perhari untuk pasien adalah :


1.125 kalori + 225 kalori 225 kalori 112,5 kalori = 1.013 kalori.

Untuk Kebutuhan Harian :


Karbohidrat (60-70%) = 70% x 1.013 kkal = 709 kkal
Protein (10-15%) = 10% x 1.013 kkal = 101,3 kkal
Lemak (20-25%) = 20% x 1.013 kkal = 202,6 kkal

C. Pemeriksaan Penunjang:
Sampai saat ini penderita belum pernah melakukan pemeriksaan penunjang
apapun, oleh karena itu dianjurkan untuk melakukan beberapa pemeriksaan
laboratorium untuk mengidentifikasi penyakit lain selain hipertensi:

Pemeriksaan gula darah

Pemeriksaan kolesterol darah

Pemeriksaan EKG

BERKAS KELUARGA
A. Profil Keluarga
1. Karakteristik Keluarga
a.

Identitas Kepala Keluarga:


Nama : Tn. J
Usia

b.

: 68 Tahun

Identitas Pasangan
Nama : Ny.R
Usia

c.

: 66 tahun

Identitas Anak
Nama : Ny. I, berusia 45 tahun
Nama : Ny. A, berusia 38 tahun
Nama : Tn. D, berusia 34 tahun
Nama : Nn. S, berusia 28 tahun

d.

Struktur Komposisi Keluarga : The extended family


Keluarga terdiri atas Tn. J sebagai kepala keluarga dan Ny.R sebagai istri dan
ibu rumah tangga. Pasangan ini dikaruniai 5 orang anak namun anak kedua
mereka meninggal pada saat usia 18 bulan karena sakit. Pasangan ini memiliki 1
anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Tiga orang sudah menikah dan hanya dua
orang yang telah memiliki anak. Anak pertama yaitu Ny. I berusia 45 tahun,
menikah dengan Tn.F yang berusia 47 tahun. Ny. I dan Tn.F saat ini memiliki 1
anak laki-laki serta 1 anak perempuan. Keluarga Ny.I tinggal di luar kota.
Anak ketiga yaitu Ny.A berusia 38 tahun, menikah dengan Tn. B yang berusia
40 tahun. Ny S dan Tn D memiliki 1 orang anak laki-laki dan tinggal di daerah
yang tidak begitu jauh dari rumah Tn. J dan Ny.R Anak kempat yaitu Tn.D

berusia 34 tahun, menikah dengan Ny. F yang berusia 30 tahun. Tn.D dan Ny.F
belum memiliki anak. Keluarga Tn.D saat ini tinggal bersama di rumah Tn.J dan
Ny.R. Tn.D saat ini bekerja sebagai buruh pabrik.Anak kelima yaitu Nn.S, saat ini
berusia 28 tahun dan belum menikah. Nn.S tinggal bersama Tn.J dan Ny.R. Nn. S
membantu perekonomian keluarga dengan berjualan gorengan di rumahnya.
Tabel 1. Anggota keluarga yang tinggal serumah

No

Nama

Kedudukan

Gender

Umur

Pendidikan

Pekerjaan

dalam
1.
2.

3.

Tn. J

Keluarga
Kepala

Ny. R

keluarga
Istri

Tn. D

Anak

Ny. F

Menantu

68

tahun
66

SD

Tidak

SD

Bekerja
Ibu

Pasien

tahun

Rumah

34

Tangga
Buruh

Turut bantu Rp.

Pabrik

membiayai

1.500.000

keluarga
-

/bulan
-

Tangga
Penjual

Turut bantu

Rp.

Gorengan

membiayai

500.000/bul

SMP

30

SD

tahun
5.

Nn. S

Anak

Penghasilan

Tambahan

tahun
4

Keterangan

28
tahun

Ibu
Rumah

SD

keluarga

an

B. Genogram
1. Bentuk keluarga :
Keluarga terdiri atas 3 generasi dengan kepala keluarga (KK)
bernama Tn. J berusia 68 tahun. Bentuk keluarga adalah keluarga besar (extended
family).
Bentuk Bentuk Keluarga :

Keluarga inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu

dan anak-anak.
Keluarga besar (Extended Family) adalah keluarga inti ditambahkan

dengan sanak saudara. Misalnya : kakak, nenek, keponakan, dan lain-lain.


Keluarga Berantai (Serial Family) adalah keluarga yang terdiiri dari
wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu

keluarga inti.
Keluarga Duda/janda (Single Family) dalah keluarga yang terjadi karena

perceraian atau kematian.


Keluarga berkomposisi (Composite) adalah keluarga yang perkawinannya

berpoligami dan hidup secara bersama.


Keluarga Kabitas (Cahabitation) adalah dua orang yang terjadi tanpa
pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga

2. Tahapan siklus keluarga :


Menurut Duvall (1977) dikutip dalam Friedman (1998), Keluarga Ny.R
berada pada tahapan siklus keluarga yang ke delapan, yaitu keluarga dalam masa
pensiun dan lansia (mulai dari pensiun hingga pasangan yang meninggal).
Adapun tahapan siklus keluarga Tn. J dan Ny.R termasuk ke dalam tahap ke 8
yaitu Keluarga dalam masa pensiun dan lansia (juga menunjuk kepada anggota
keluarga yang berusia lanjut atau pensiun) hingga pasangan yang sudah
meninggal.
Tahap Perkembangan Keluarga :
Tahap

Perkembangan

Keluarga

Mc

Goldrick

dan

Carter

(1985)

mengembangkan model tahap kehidupan keluarga yang didasari oleh ekspansi,


kontraksi, dan penyusunan kembali (realigment) dari hubungan keluarga yang
memberikan support terhadap masuk, keluar dan perkembangan anggota
keluarga. Model ini diberikan dengan menggunakan aspek emosional, transisi,
perubahan dan tugas yang diperlukan untuk perkembangan keluarga.
Tahapan siklus keluarga menurut Duvall (Nicholas 1984) terdiri dari 8
siklus :

1. Tahapan I
Tahap pemula, pasangan dalam tahap pernikahan
2. Tahap II
Keluarga sedang mengasuh anak ( anak tertua bayi berusia 30 bulan)
3. Tahap III
Keluarga dengan usia anak pra sekolah (anak tertua berusia 2-6 tahun)
4. Tahap IV
Keluarga dengan usia anak sekolah ( anak tertua berusia 6-13 tahun)
5. Tahap V
Keluarga dengan anak remaja (anak usia 13-20 tahun)
6. Tahap VI
Keluarga melepas anak usia dewasa muda (anak meninggalkan rumah)
7. Tahap VII
Orangtua usia pertengahan
8. Tahap VIII
Keluarga dalam masa pensiunan

3. Family map (gambar)


Gambar 2. Family Map

Sudah
meninggal
saat berusia
75 th karena

Sudah
meninggal saat
berusia 70 th
Karena usia

Tn. J 68 Th

Tn.
F
47

Ny. I
45 th

Meninggal
saat usia 18
bulan karena
sakit

Sudah
meninggal saat
berusia 69 th
karena usia tua

Sudah
meninggal
saat berusia
70th karena

Ny.R 66 Th

Tn. B
40 th

Ny. A
38 th

Tn. D
34 th :
Keterangan

Ny. S
29 th

: Pasien / penderita
: Laki-laki
: Perempuan
: Tinggal satu rumah
: Meninggal

Nn. S
28 th

4. Fungsi Keluarga
a

Biologis

Fungsi biologis dalam keluarga Ny. R termasuk baik karena Ny. R


mempunyai 4 orang anak, 1 orang laki-laki dan 3 orang perempuan yang sehat
dan tidak ada cacat sedikitpun. Ny. R juga telah memiliki 3 orang cucu yang
sehat dan tidak cacat. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan reproduksi
dalam keluarga Ny. R termasuk baik. Saat ini Ny. R menderita hipertensi grade
II yang sudah dideritanya selama 3 tahun terakhir.
b

Psikologis :
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga yang sehari-harinya masih aktif
melakukan tugas-tugas rumah tangga, diantaranya mencuci, menyapu,
memasak dan sebagainya. Pasien termasuk kurang dekat dengan anakanaknya, karena anak-anaknya sebagian besar sudah menikah dan memiliki
keluarga sendiri. Anak pasien juga menantu cukup sibuk dengan pekerjaannya
dan urusannya masing masing sehingga untuk memperhatikan kesehatan
pasien karena anggota keluarga sibuk oleh pekerjaannya masing-masing maka
dukungan keluarga untuk kesembuhan pasien kurang.

Sosial
:
Keluarga Ny. R selalu menjalin hubungan silahturahmi yang baik dengan
keluarga besar dan masyarakat di lingkungan rumahnya sekitar. Keluarga
Ny.R tidak memiliki masalah dengan keluarga lain. Apabila ada
permasalahan

dalam

keluarga

pengambilan

keputusan

selalu

dimusyawarahkan dengan anggota keluarga agar terdapat keputusan yang


sesuai dengan harapan.
d

Ekonomi :
Pasien setiap hari mengeluarkan uang sebesar Rp.25.000 Rp.50.000
yang digunakan untuk membeli kebutuhan untuk makan sehari-hari.
Pendapatan bersumber dari penghasilan anak pasien yang bekerja sebagai
buruh pabrik dan penjual gorengan . Dimana total pendapatan keluarga
perbulan yaitu Rp. 1.000.000 - Rp. 1.500.000. Pendapatan ini digunakan

untuk keperluan sehari-hari seperti makan, membayar listrik, dan kebutuhan


lain.
5. Dinamika Keluarga
Masalah dalam keluarga ini adalah kurangnya waktu berkumpul bersama
karena anak anak dan menantu Ny. R sibuk dengan pekerjaannya, terkadang
hari libur dipakai untuk lembur sehingga komunikasi antar anggota keluarga
juga kurang berjalan dengan baik. Namun meski begitu keluarga terkadang
masih mau menemani pasien untuk berobat ke puskesmas.
Waktu keseharian Ny. R dihabiskan untuk mengurus rumah seperti
menyapu, megepel, mencuci pakaian, dan memasak Hubungan pasien dengan
tetangga atau masyarakat sekitar cukup baik. Pasien senang bergaul dengan
masyarakat di sekitarnya.
2. Penilaian Status Sosial dan Kesejahteraan Hidup
a. Lingkungan tempat tinggal
Tabel 2. Lingkungan tempat tinggal
Status kepemilikan rumah : menumpang/kontrak/hibah/milik sendiri
Daerah perumahan : : kumuh/padat bersih/berjauhan/mewah
Karakteristik Rumah dan Lingkungan
Kesimpulan
Luas rumah : 6 x 6 m2
Keluarga Ny. R tinggal di rumah
Jumlah penghuni dalam satu rumah : 5 orang
milik sendiri. Ny. R tinggal
Luas halaman rumah : tidak ada
bersama suami, kedua anak nya,
Tidak Bertingkat
Lantai rumah dari : keramik
dan satu menantu nya. Rumah Ny.
Dinding rumah dari : tembok
R tinggal ditempat yang padat.
Jamban keluarga : ada
Tempat bermain : tidak ada
Namun ketersediaan air bersih,
Penerangan listrik : 1.100 watt
jamban keluarga serta tempat
Ketersediaan air bersih :ada
Tempat pembuangan sampah :ada
pembuangan sampah cukup baik.

Gambar 1. Denah Rumah


Kepemilikan barang-barang berharga :
-

Satu buah sepeda motor


Dua buah kipas angin
Dua buah telpon seluler
Satu buah kompor
Dua tempat tidur
Dua buah lemari pakaian

3. Penilaian Perilaku Kesehatan Keluarga


a. Sebutkan jenis tempat berobat : Puskesmas
b. Balita
: KMS (-)
c. Asuransi/Jaminan kesehatan : BPJS
Perilaku terhadap sakit dan penyakit:
Jika ada salah satu anggota keluarga Ny. R yang sakit, maka akan membeli
obat warung terlebih dahulu. Jika keluhan tidak kunjung menghilang pasien
akan berobat ke klinik atau puskesmas.
Perilaku terhadap pelayanan kesehatan:
Keluarga Ny. R memiliki jaminan kesehatan (BPJS)
Perilaku terhadap makanan

Keluarga Ny. R mempunyai kebiasaan makan sebanyak dua sampai tiga kali
sehari. Makanan yang dimakan oleh keluarga Ny. R didapatkan dengan
memasak sendiri bahan makanan oleh pasien atau anaknya.

4. Sarana Pelayanan Kesehatan (Puskesmas)


Tabel 3. Pelayanan kesehatan
Faktor
Cara mencapai

Keterangan
pusat Jalan kaki

pelayanan kesehatan

Tarif

Angkot

berobat

Kendaraan Pribadi

karena

Kualitas
kesehatan

di

senang

puskesmas

letaknya

tidak

jauh dari rumah


Pasien
tidak

perlu

Mahal

mengeluarkan

biaya

Terjangkau

untuk

Murah

karena telah di tanggung

Pelayanan Sangat mahal

kesehatan

Kesimpulan
Pasien merasa

Gratis
pelayanan Sangat Memuaskan

kesehatannya

oleh BPJS
Pasien merasa
di

senang

Memuaskan

berobat

Puskesmas

Cukup Memuaskan

karena merasa dilayani

Tidak memuaskan

dengan baik

5. Pola Konsumsi Makanan Keluarga


a. Kebiasaan makan :
Keluarga Ny. R biasa makan dua kali sehari terkadang tiga kali dengan
porsi sedang. Menu makan pasien dan keluarga sering dengan nasi, Ikan
asin, tahu tempe, bihun yang diberi tambahan garam dan penyedap rasa.
Terkadang pasien mengkonsumsi ayam atau telur asin. Keluarga ini sangat
jarang mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran. Ny. R mengatakan
dialah yang memasak untuk keluarga dan jarang membeli jajanan di luar
rumah. Makanan selingan biasanya dikonsumsi di luar waktu makan.
Makanan selingan yang memiliki rasa asin dan gurih. Makanan selingan ini

biasanya dimakan pada sore atau malam hari sebagai teman minum teh atau
kopi seperti bakwan,tahu goreng, tempe goring, pisang goring.
b. Menerapkan pola gizi seimbang :
Untuk penerapan pola gizi seimbang Ny.R sebaiknya mengikuti Pedoman Gizi
Seimbang yang dijabarkan, sebagai berikut :
1

Membiasakan makan pagi (sarapan) untuk memelihara ketahanan fisik dan

meningkatkan produktivitas kerja


Makanlah makanan sumber karbohidrat, namun hanya setengah dari
kebutuhan energi. Membatasi energi atau sekitar 3-4 sendok per hari.
Idealnya sekitar 50-60% kebutuhan energi diperoleh dari karbohidrat

kompleks atau setara dengan 3-4 piring nasi


Makanlah beragam makanan sumber zat tenaga (karbohidrat), zat

pembangun (protein), serta zat pengatur (vitamin dan mineral)


Membaca label pada makanan yang dikemas, untuk mengetahui komposisi

bahan penyusun, gizi, serta tanggal kadaluarsa


Membatasi konsumsi lemak dan minyak hingga seperempat dari kecukupan
energi. Mengkonsumsi lemak hewani secara berlebihan dapat menyebabkan

penyempitan pembuluh darah arteri dan penyakit jantung koroner


Menggunakan garam yang mengandung yodium untuk mencegah timbulnya
gangguan

akibat

kekurangan

yodium

yang

dapat

menghambat

perkembangan tingkat kecerdasan, penyakit gondok, dan kretin (kerdil).


7

Konsumsi garam dianjurkan tidak lebih dari 6 gram (1 sendok teh) per hari
Mengkonsumsi makanan sumber zat besi untuk mencegah anemia. Sumber
zat besi yang baik diantaranya adalah sayuran berwarna hijau, kacang-

kacangan, hati, telur dan daging


Makan untuk memenuhi kebutuhan energi, yang dapat terpenuhi dari tiga

sumber utama, yaitu karbohidrat, protein dan lemak


Meminum air bersih, aman dan jumlah yang cukup, yaitu minimal 2 liter

atau setara dengan 8 gelas setiap harinya


10 Menghindari konsumsi minuman berakohol
11 Mengkonsumsi makanan yang aman bagi kesehatan, yaitu bebas dari bahan
kimia dan mikroba berbahaya yang dapat menyebabkan sakit
12 Melakukan kegiatan fisik dan olah raga secara teratur untuk mendapatkan
berat badan normal dan mengimbangi konsumsi energi yang berlebihan

Ny.R sudah menerapkan pola makan yang teratur dan gizi seimbang dalam
setiap hidangan yang dihidangkan terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak, namun
karena pengetahuan keluarga mengenai makanan yang bergizi dan diet untuk penderita
hipertensi masih kurang sehingga menyebabkan tidak terkontrolnya pola makan Ny.R.
Ny.R mengaku sering makan makanan yang asin dan gurih. Ny.R sering menambah
garam dan penyedap rasa pada makananya. Pola makan pasien selama tiga hari terakhir
sebagai berikut :

Food recall (Pola makan dalam tiga hari terakhir).

Tabel 4. Food Recall


Hari

Waktu

Makanan

Porsi

Senin 3 Agustus

Pagi

Lontong

Lontong sayur

sayur, air

1 porsi

2015

mineral

Air mineral 1
gelas

Siang

nasi
bihun,
tempe

putih, Nasi putih 1


orek gelas
dan

gorengan, teh
manis hangat

Bihun 1 porsi
Gorengan

buah
Orek tempe 1
porsi
Teh manis 1
gelas

Malam

nasi,

ikan Nasi 1 gelas

asin,

sayur

sop,

air

mineral

Ikan

asin

ekor
Sayur sop 1
porsi
Air mineral 1
gelas

Hari

Waktu

Makanan

Porsi

Selasa 4 Agustus

Pagi

Gorengan

Gorengan 3 buah

2015

(bakwan, pisang
goreng)
Teh manis manis
Siang

Teh manis 1 gelas

nasi , bihun, ayam Nasi 1 gelas


goreng
tempe

orek
dan

mineral

air

Bihun 1 porsi
Ayam goreng 1
potong
Orek

tempe

mineral

porsi
Air
gelas
Malam

nasi, soto ayam, Nasi 1 gelas


air mineral,

Soto ayam 1 porsi


Air

mineral

gelas

Hari

Waktu

Makanan

Rabu 5 Agustus

Pagi

Mie goreng

2015

Air mineral

Porsi
Mie goreng 1
porsi
Air mineral 1
gelas

Siang

Nasi, Bihun, Orek Nasi 1 gelas


tempe,

gorengan,

Air Mineral

Bihun 1 porsi
Gorengan

buah
Orek tempe 1
porsi
Air Mineral 1
gelas
Malam

nasi,
sayur

ikan
sop,

asin, Nasi 1 gelas


air

mineral

Ikan asin 1 ekor


Gorengan

buah
Sayur

sop

porsi
Air mineral 1
gelas

Analisa Makanan
Senin (Nilai Kalori yang di konsumsi perhari=1554 kkal)
-

1 porsi lontong sayur = 220 kkal


2 porsi nasi = 135 kkal x 2 = 270 kkal
1 porsi bihun = 192 kkal
4porsi aneka gorengan ( bakwan, tahu) = 140 x 2 = 280 kkal
1 orek tempe = 165 kkal
1 Gelas Teh Manis = 80kkal
1 porsi ikan asin = 224 kkal
1 Porsi Sayur Sop = 123 kkal

Selasa (Nilai Kalori Makanan =1539 kkal)


-

2 porsi nasi = 135 kkal x 2 = 270 kkal


1 porsi bihun = 192 kkal
1 potong ayam goreng = 100 kkal
2 porsi aneka gorengan ( bakwan, tahu,) = 140 x 3 = 420 kkal

- 1 orek tempe = 165 kkal


- 1 Gelas Teh Manis = 80 kkal
- 1 porsi soto ayam = 312 kal
Rabu (Nilai Kalori yang di konsumsi = 1815 kkal)
-

1 porsi mie goreng = 420 kkal


2 porsi nasi = 135 kkal x 2 = 270 kkal
1 porsi bihun = 192 kkal
3 porsi aneka gorengan ( bakwan, tahu, tempe, dll) = 140 x 3 = 420 kkal
1 orek tempe = 165 kkal
1 porsi ikan asin = 224 kkal
1 Porsi Sayur Sop =124 kkal

Asupan yang diterima oleh Ny.R tidaklah sesuai dengan perhitungan yang ada,
karena Ny.R, sering melanggar pemberian asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan
gizi beliau. Sehingga penatalaksanaan nutrisi pada Ny.R tidak maksimal.
Kesimpulan
Ny.R tidak teratur dalam melakukan terapi gizi medis. Mengakibatkan
penatalaksanaan nutrsi pada Ny.R tidak maksimal.

6. Pola Dukungan Keluarga


a. Faktor pendukung terselesaikannya masalah dalam keluarga :
Pasien mengerti bahaya penyakit Hipertensi. Pasien mengatakan akan
rajin kontrol tekanan darahnya setiap dua minggu sekali dan akan rutin
minum obat. Anak-anaknya tidak keberatan untuk membantu biaya
pengobatan dan bergantian mengantar pasien ke puskesmas.
b. Faktor penghambat terselesaikannya masalah dalam keluarga :
Pasien memiliki kebiasaan dan senang makan yang asin dan gurih.
Pasien mengaku kebiasaan ini sangat sulit untuk dikuranginya. Keempat
anak pasien kurang sadar dengan penyakit yang diderita ibunya. Keempat

anak pasien jarang mengingati ibu untuk minum obat. Hal inilah yang
menghambat terselesaikannya masalah penyakit tekanan darah tinggi pasien.

C. Identifikasi permasalahan yang didapat dalam keluarga


Ada beberapa permasalahan yang dapat ditemukan pada keluarga ini. Kurangnya
waktu berkumpul bersama di dalam keluarga karena keempat anak pasien sibuk
dengan urusannya masing-masing karena sebagian besar sudah berkeluarga dan
bekerja. Namun hubungan keluarga yang terjalin diantara satu sama lain cukup baik.
Keluarga

kurang

mengerti

akan

pentingnya

kesehatan dan

pemeliharaan

kesehatan, sehingga usaha dalam merubah pola makan dan gaya hidup kurang
diperhatikan. Pasien memiliki kebiasaan dan senang makan yang asin dan gurih.
Pasien mengaku kebiasaan ini sangat sulit untuk dikuranginya. Suami dan keempat
anak pasien kurang sadar dengan penyakit yang diderita Ny.R. Suami dan Kempat
anak pasien jarang mengingati Ny.R untuk minum obat dan kontrol ke dokter. Hal
inilah yang menghambat terselesaikannya masalah penyakit tekanan darah tinggi
pasien.

D. Diagnosis Holistik
1. Aspek Personal :
a. Pasien mengeluh nyeri kepala, leher terasa pegal dan sulit tidur.
b. Harapan berobat adalah untuk sembuh
c. Perhatian dari keluarga sangat dibutuhkan guna kesembuhan penyakit
pasien, untuk itu diperlukan kerjasama dan komunikasi yang baik antar
anggota keluarga demi kesembuhan pasien
d. Yang diharapkan sebagai pasien adalah kesembuhan. Hal ini dapat
terwujud bila pola makan diatur sejak sekarang dan kepatuhan dalam
mengkonsumsi obat dimana obat harus dikonsumsi seumur hidup.

e. Pasien merasa khawatir terhadap penyakitnya karena tidak sembuhsembuh juga dan pasien merasa khawatir akan ketergantungan obat
karena perlu mengkonsumsi obat seumur hidupnya.
2. Aspek Klinik :
a. Diagnosis kerja : dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik, pasien
didiagnosis menderita hipertensi grade II.
b. Diagnosis banding : 3. Aspek Risiko Internal :
a. Pasien berumur 66 tahun yang merupakan kelompok usia risiko tinggi
munculnya penyakit hipertensi.
b. Pasien sering lupa untuk meminum obat dengan teratur dan apabila
sudah merasa sembuh pasien berhenti untuk kontrol.
c. Pola makan yang sering mengonsumsi makanan asin dan gurih
mempengaruhi tekanan darah pasien.
d. Pasien juga jarang berolahraga.
e. Pasien memiliki beban pikiran yaitu masalah keuangan

4. Aspek Psikososial Keluarga :


Peran keluarga dalam mendukung pasien seperti mengingatkan minum obat,
mengingatkan agar rutin berobat ke Puskesmas, mengingatkan untuk
mengurangi makan makanan yang asin-asin diakui pasien sangat jarang
dilakukan.
5. Aspek Fungsional :
Pasien merasa masih mampu melakukan pekerjaan seperti sebelum sakit.
Pasien mampu melakukan aktivitas secara mandiri di dalam maupun di luar
rumah.
E. Rencana Pelaksanaan
Aspek

Kegiatan

Sasaran

Waktu

Hasil
diharapkan

Biaya

Keterangan

Aspek
personal

-Menjelaskan
kepada
untuk

Pasien
pasien

tetap

rajin

kontrol

berobat

apabila

obatnya

sudah

habis

mengikuti

Pada saat

-Pasien

kunjungan

mengetahui

ke

tentang

Puskesmas
Dan saat

penyakitnya.

kunjungan

dan

ke rumah

saran

-Pasien
menjaga

dokter agar tekanan

penyakitnya

darahnya

agar

terkontrol.

tidak

bertambah
-Menjelaskan
bahwa

parah.

penyakit

hipertensi

adalah

penyakit

seumur

mengerti
bahwa

hidup, yang tidak


bisa

penyakitnya

sembuh

sempurna

Pasien

membutuhkan

yang

pengobatan

disebabkan
gangguan

seumur hidup,

fungsi

jantung

sehingga

dan

pasien

lifestyle.
-Menjelaskan

rajin

untuk berobat

bahwa pengobatan

dan

penyakit hipertensi

mengontrol

bersifat

tekanan

seumur

hidup, namun dapat

darahnya.

terkontrol.
Aspek

-Memberikan obat

klinik

penurun
darah

tekanan
Amlodipin

dengan dosis 1 x 10

Pasien

Pada saat

-Pasien dapat

kunjungan

memiliki

ke

tekanan darah

Puskesmas

sesuai dengan

mg sehari

target

ingin dicapai

-Menjelaskan
fungsi obat yang
bekerja

yang

dalam

dan terkontrol
-Pasien

penurunan tekanan

mengerti akan

darah tinggi, cara

pentingnya

kerja

obat,

serta

efek

khasiat

samping yang dapat

obat dan cara

ditimbulkan

penggunaan

oleh

obat.
-Menganjurkan
pasien

untuk

mendeteksi
penyakit hipertensi
melakukan

pemeriksaan EKG
dan

secara

tepat

untuk

proses
penyembuhan

komplikasi
yaitu

obat

serta
mencegah
komplikasi

Laboratorium

seperti urin rutin

-Pasien dapat
mengetahui

-Menganjurkan
pasien
mengikuti
makan

perkembanga

untuk
pola
seimbang

yaitu salah satunya


dengan membatasi
konsumsi

n penyakitnya
dan

dapat

mencegah
timbulnya
komplikasi

garam

tidak lebih dari 2


gram/ hari

Membantu

dalam
mengontrol
tekanan

darah,
mencegah
terjadinya
komplikasi
Aspek

-Memberi

risiko
internal

edukasi Pasien

Pada saat

-Pasien

pada pasien untuk dan

kunjungan

menghindari

merubah

pola keluarg

ke rumah

makanan yang

makan,

menghindari
makanan

dapat
mempengaruh

dengan

kandungan garam,
yaitu

tekanan

darah
-Mengurangi

menghindarkan
makanan

yang

dimasak

dengan

cara

resiko tekanan
darah tinggi

digoreng,

mengganti dengan
masakan

yang

direbus,

tidak

-Menjaga

minum

kopi,

kebugaran

menghindarkan
stress

seperti

banyak pikiran
-Menyarankan
pasien

untuk

olahraga

ringan

seperti jalan santai


di

sekitar

lingkungan

rumah

sebanyak

kurang

lebih

30

menit

tubuh

sehari.
Aspek
psikososial
keluarga

-Edukasi

keluarga Pasien

Pada saat

-Keluarga

tetap dan

kunjungan

memahami

ke rumah

keadaan fisik

untuk

memberi dukungan keluarg


kepada

pasien a

pasien

untuk

seperti

pemulihan

mengingatkan

kesehatan

untuk

pasien.
-Keluarga

meminum

obat secara teratur,

memberi

mengantarkan
berobat agar dapat

perhatian
lebih

menjaga
kesehatannya

dan

dengan pola makan


keluarga yang baik
dengan membatasi
pemakaian

garam

sebanyak

gram/hari

atau

pasien
-Pasien

kepada
dan

keluarganya
sadar

akan

pentingnya
hidup sehat
Pasien
merasa

sebanyak 1 sendok

diperhatikan

teh

oleh

-Menganjurkan
kepada

keluarga

pasien

untuk

keluarganya

meningkatkan
komunikasi

yang

baik dengan pasien,


seperti

mengajak

pasien buat kontrol,


mengingatkan
pasien

- Menambah
pengetahuan
bagi

pasien

dan
keluarganya

untuk

membatasi

dalah

mengkonsumsi
makanan

yang

mengandung garam
tinggi
-Memberi
penyuluhan akan
pentingnya
kesehatan, seperti:
memberikan
penyuluhan bahwa
pasien harus rutin
minum obat setiap
hari, menjelaskan
kepada pasien
bahwa penyakit
yang dideritanya
membutuhkan
pengobatan seumur
hidup
Aspek

-Menyarankan

fungsional

Pada saat

-Kondisi

pasien untuk tidak dan

kunjungan

tubuh

pasien

melakukan aktivitas keluarg

kerumah

lebih

sehat

dan

kuat,

berlebihan
menasehati

Pasien

dan a
pasien

meringankan

untuk tetap tenang

gejala

dan

penyakit

tidak

terlalu

membebani pikiran.

F. Analisa Kasus

a. Aspek Personal
Keluhan keluhan yang dirasakan pasien saat ini merupakan tanda
bahwa pasien memiliki respon kelelahan, sehingga bila pasien merasakan
keluhan pasien datang berobat ke puskesmas. Hal ini bersesuaian dengan
teori perilaku kesehatan dalam bagian perilaku sehubungan dengan
pencarian pengobatan (health seeking behaviour), dimana hal tersebut
merupakan respon dari sebuah stimulus (sakit). (Notoatmodjo, 2007).
Pasien

memiliki

harapan

untuk

melanjutkan

hidupnya.

Pasien

mengatakan ini semua takdir yang diberikan, serta pasien ikhlas, dan ingin
berobat teratur agar penyakitnya dapat disembuhkan. Pada analisis aspek
personal dapat dilihat bahwa pasien adalah seseorang yang memiliki harapan
untuk dapat melanjutkan hidupnya. Maka rencana penatalaksanaan
menjelaskan kepada pasien mengenai penyakitnya, komplikasi penyakitnya,
memberikan penjelasan kepada pasien agar pasien termotivasi untuk kontrol
rutin ke dokter setiap bulannya secara teratur.
Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit yang dideritanya tidak dapat
disembuhkan namun dapat terkontrol bila pasien rutin berobat tiap bulan.
Dengan harapan pasien memahami mengenai penyakitnya dan rajin kontrol
secara teratur dan pasien mengalami perbaikan dalam status kesehatannya
dan kualitas hidup pasien akan meningkat.
b. Aspek Klinis
Berdasarkan hasil anamnesis didapatkan bahwa pasien mengalami nyeri
kepala tanpa didahului oleh sebab khusus disertai leher kaku sejak 3 minggu
yang lalu. Maka rencana penatalaksanaan ialah menjelaskan kepada pasien
bahwa penyakitnya ialah cobaan hidup dari tuhan dan meyakinkannya
bahwa dapat dikontrol serta menjelaskan kepada pasien untuk selalu
menjaga kesehatan dengan rajin kontrol dan minum obat secara teratur.
c. Aspek Risiko Internal
Aspek risiko internal yang perlu diperhatikan adalah pola makan dan
faktor kebiasaan, maka rencana penatalaksanaan menjelaskan pola makan
sehat dan memberi motivasi untuk berusaha menjaga kesehatan dengan rajin

kontrol dan minum obat secara teratur. Dengan hasil yang diharapkan pasien
ingin kontrol dan minum obat secara teratur.
d. Aspek Psikososial Keluarga
Kurangnya komunikasi antara pasien dengan anak dan suaminya
menyebabkan kurangnya perhatian dari anak dan suami pasien terhadap
penyakit yang diderita oleh pasien. Maka rencana pelaksanaan ialah
menjelaskan kepada pasien agar dapat mengajak suami dan anaknya untuk
berpartisipasi ikut serta dalam pengobatan penyakit yang diderita oleh
pasien. Serta menjelaskan kepada suami dan anak pasien mengenai penyakit
pasien dan rencana pengobatannya dan pentingnya untuk tetap berobat dan
mendukung serta mengingati pasien agar tetap minum obatnya secara rutin
dan teratur. Dengan hasil yang diharapkan istri dan anak pasien lebih
memperhatikan dan memberikan dukungan kepada pasien.

e. Aspek Fungsional
Menurut skala ECOG pasien termasuk derajat 1 dimana pasien mampu
melakukan pekerjaan ringan sehari-hari seperti pekerjaan rumah. Dengan
rencana pelaksanaan menyarankan pasien untuk tidak membenani dirinya
sendiri dalam beraktivitas, beraktivitas sesuai dengan kemampuannya, serta
tetap melakukan olahraga. Dengan hasil yang diharapkan pasien dapat
meningkatkan kualitas hidupnya.

RENCANA MAKANAN SEHAT DALAM SEHARI


Contoh pola diet untuk pasien dengan diet 1.013 kalori:
Ny. R menderita hipertensi grade II oleh karena itu perlu dibatasi
penggunaan garama ( diet rendah garam ). Standar diet rendah garam diberikan
kepada pasien dengan edema, asites, dan/ atau hipertensi seperti yang terjadi
pada penyakit dekompensasio kordis, sirosis hepatis, penyakit ginjal, toksemia
kehamilan dan hipertensi esensial. Standar diet rendah garam dalam
pelaksanaannya dibagi dalam 3 standar yaitu : Standar diet rendah garam I, diet

rendah garam II, diet rendah garam III. Diet rendah garam I mengandung 200400 mg Natrium ( tidak ditambahkan garam meja) , diet rendah garam II
mengandung 600-800 mg Natrium (1/2 sendok teh), diet rendah garam III
mengandung 1000-1200 mg Natrium ( 1 sendok teh).
Perlu dilihat makanan-makanan yang memiliki kandungan Natrium
( garam dapur, soda, vetsin, baking powder, bahan pengawet) di dalamnya
seperti biscuit, dendeng, abon, corned beef, ikan sarden, ebi, udang kering, ikan
asin, telur asin, keju, selai kacang tanah, asinan saturan/ buah, sayuran/ buah
dalam kaleng, kecap, terasi, petis, tauco, saos tomat, margarin, mentega, otak,
ginjal, lidah, paru,-paru, dan jantung.

Total kebutuhan kalori per hari : 1068,75 kkal


- Karbohidrat
- Protein
- Lemak

: 709 kkal : 4 = 177,3 gram


: 101, 3 kkal : 4 = 25,3 gram
: 202,6 kkal : 9 = 22,5 gram

Makan Pagi

: 25 %

Snack 2

: 10 %

Snack 1

: 15 %

Makan malam

: 20%

Makan siang : 30 %

Makan Pagi

Snack 1

: Karbohidrat

: 25% x 709 kkal = 177,25 kkal = 44,3 gram

Protein

: 25% x 101,3 kkal = 25,3 kkal = 6,3 gram

Lemak

: 25% x 202,6 kkal = 50,65 kkal = 5,6 gram

: Karbohidrat

: 15% x 709 kkal = 106,4 kkal = 26,6 gram

Protein

: 15% x 101,3 kkal = 15,2 kkal = 3,8 gram

Lemak

: 15% x 202,6 kkal = 30,4 kkal = 3,4 gram

Makan Siang: Karbohidrat

Snack 2

: 30% x 709 kkal = 212,7 kkal = 53,2 gram

Protein

: 30% x 101,3 kkal = 30,4 kkal = 7,6 gram

Lemak

: 30% x 202,6 kkal = 60,78 kkal = 6,7 gram

: Karbohidrat

: 10% x 709 kkal = 70,9 kkal = 17,7gram

Protein

: 10% x 101,3 kkal = 10,1 kkal = 2,5 gram

Lemak

: 10% x 202,6 kkal = 20,26 kkal = 2,2 gram

Makan malam : Karbohidrat

: 20% x 709 kkal = 141,8 kkal = 35,4 gram

Protein

: 20% x 101,3 kkal = 20,26 kkal = 5 gram

Lemak

: 20% x 202,6 kkal = 40,52 kkal = 4,5 gram

Menu makan pagi

: Nasi putih porsi


1 butir telur rebus
1 gelas air mineral

Snack 1

: buah ( 2 buah pisang/ 2 buah apel)

Menu makan siang

: Nasi putih porsi


Sayuran 1 porsi ( sayur sop )
1 potong ikan ( pepes)
1 gelas air mineral

Snack 2

: Buah/biscuit (buah : 1 mangkok papaya 200 gr


biscuit 2 buah

Menu makan malam : Nasi Putih porsi


1 potong ayam

Sayuran 1 porsi ( sayur bayam )


1 gelas air mineral

G.
1.
2.
3.

Prognosis
Ad vitam
: dubia ad bonam
Ad sanasionam : dubia ad malam
Ad fungsionam :dubia ad malam