Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI REPRODUKSI

Disusun oleh:
Kelompok III
M. Taufik
Rosy Hajar Amira
Vinsky Maulana
Anggraini Kusumawardani
Fajar Aji Mukti
Nindya Utami Dewi

PT/06054
PT/06072
PT/06091
PT/06134
PT/06133
PT/06166

Asisten: Riona Caroline


LABORATORIUM FISIOLOGI DAN REPRODUKSI TERNAK
BAGIAN PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

ACARA I
PENGENALAN ALAT
TINJAUAN PUSTAKA
Inseminasi Buatan (IB) adalah salah satu bentuk bioteknologi dalam
bidang reproduksi ternak yang memungkinkan manusia mengawinkan
ternak betina tanpa seekor pejantan. IB sebagai teknologi merupakan
suatu rangkaian proses yang terencana dan terprogram karena akan
menyangkut kualitas genetik ternak di masa yang akan datang
(Kartasudjana, 2001). IB adalah proses memasukkan sperma ke dalam
saluran reproduksi betina dengan tujuan untuk membuat betina jadi
bunting tanpa perlu proses perkawinan alami. Konsep dasar dari teknologi
ini adalah bahwa seekor pejantan secara alamiah memproduksi puluhan
milyar sel kelamin jantan (spermatozoa) per hari, sedangkan untuk
membuahi satu sel telur (oosit) pada hewan betina diperlukan hanya satu
spermatozoa (Hafez, 1993).
Secara umum teknik IB terdiri dari dua metode yakni metode
inseminasi vagina atau spekulum dan metode rectovaginal. Keberhasilan
kebuntingan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu faktor yang
penting adalah deposisi semen dalam saluran reproduksi ternak betina
(Selk, 2007).
Menurut Hafez (1993), keuntungan Inseminasi Buatan (IB) antara
lain menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan. Dapat mengatur jarak
kelahiran ternak dengan baik. Mencegah terjadinya kawin sedarah pada
sapi betina (inbreeding). Dengan peralatan dan teknologi yang baik
sperma dapat simpan dalam jangka waktu yang lama. Semen beku masih
dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah
mati. Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan
karena fisik pejantan terlalu besar. Menghindari ternak dari penularan
penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.

MATERI DAN METODE


Materi
Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum acara pengenalan alat
adalah berbagai macam alat yang digunakan untuk inseminasi buatan
antara lain vagina buatan, elektroejakulator, kontainer, chin ball mating
device, heat mount detector, spekulum, insemination gun,straw.
Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum pengenalan alat
adalah timbal oksida.
Metode
Alat yang telah disiapkan kemudian dijelaskan oleh asisten, jenis
masing-masing alat, fungsi alat inseminsi buatan, dan cara menggunakan
alat dengan baik dan benar.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Vagina buatan
Vagina buatan merupakan vagina yang terbuat dari bahan karet
berbentuk selongsong yang dapat diatur suhu, tekanan pada karet lapis
dalam dan kelicinannya. Fungsi dari vagina buatan adalah untuk
menampung sperma pada ternak. Bagian dari vagina buatan meliputi
tabung ebonit, karet lapis, corong penampung, tabung berskala. Tabung
ebonit berupa karet yang lembam atau dapat digunakan dari tabung
radiator dengan diameter 5 cm dan panjang 40 cm pada sapi, pada
bagian tengah berlubang yang diengkapi tutup yang berfungsi untuk
mengisi air panas. Karet lapis, berukuran 5 cm dan panjang 70 cm.
Corong penampung dari bahan karet. Tabung berskala untuk menampung
semen dengan skala (Ismaya, 2014).
Cara penggunaan vagina buatan dilakukan dengan beberapa
proses, yaitu persiapan penampungan dan persiapan penggunaan vagina
buatan. Persiapan penampungan dilakukan dengan membawa pemancing
ke kandang pemancing-pemaksa dan menambatkannya. Usahakan ternak
jangan sampai terlepas bila meronta.
Siapkan unit vagina buatan mengisikan air panas dan mengatur
suhu saat persiapan (45C) dan pada waktu penampungan (40C) dengan
menggunakan

termometer.

Prosedur

penampungan

meliputi

cara

memegang vagina buatan, yaitu vagina buatan dipegang oleh inseminator


dengan tangan kanan. Operator berada di sebelah kanan belakang
pemancing. Pejantan didekatkan pada pemancing yang bertujuan untuk
merangsang pejantan yang akan ditampung, dimana penis pejantan
tersebut mulai keluar sedikit dari preputium dan adanya keinginan untuk
menaiki pemancing. Pejantan segera ditarik kembali menjauhi pemancing
secara perlahan-lahan, beberapa saat kemudian dilepaskan kembali agar
pejantan kembali mendekati pemancing dengan kondisi seperti pertama
kali (False Mount). False mount dilakukan 2 sampai 3 kali, pejantan
diizinkan menaiki pemancing. Operator penampung segera membelokkan
arah penis kearah mulut vagina buatan yang telah disiapkan apabila kaki

depan pejantan telah terangkat untuk menaiki pemancing. Sentakan keras


akan terjadi setelah penis masuk ke dalam vagina buatan pada saat itu
terjadi ejakulasi sehingga pejantan akan mengeluarkan semen dengan
spontan (Hafez, 1993).
Menurut Hafez (1993), semen kemudian akan tertampung ke dalam
tabung gelas penampung semen dengan cepat. Pejantan dapat
diturunkan perlahan-lahan dan bersamaan dengan itu vagina buatan
diikutkan hingga kaki depan pejantan telah menyentuh tanah atau lantai
kandang dan penis masih berada dalam vagina buatan. Letakkan vagina
buatan agak miring sedikit ke bawah sampai penis secara perlahan ditarik
masuk ke dalam preputium dankeluar dari vagina buatan. Letak vagina
buatan ditegakkan sehingga semen yang menempel pada corong
karetdapat segera turun masuk ke dalam tabung gelas penampung.
Tabung gelas kemudian dilepaskan dari corong karet dan segera bagian
yangterbuka ditutup dengan aluminium foil atau plastik. Bagian tabung
penampung

dibungkus

dengan

kain

agar

terhindar

dari

cahaya

mataharilangsung, kemudian masukkan ke dalam termos. Semen segera


dibawa ke laboratorium untuk segera di evaluasi.

Gambar 1. Vagina buatan


Heat Mount Detector
Bantuan deteksi lainnya adalah tekanan sensitif panas mount
detektor, seperti detektor panas. Perangkat ini berisi pewarna merah, dan
terpaku pada ekor sampai kepala antara pin dan kait sapi. Deteksi panas
tersebut menyebabkan pewarna untuk bercampur, menciptakan warna

terlihat perubahan. Perubahan tersebut menunjukan bahwa betina/ induk


telah mengalami birahi.
Menurut Schutz (1997), ini dapat salah dipicu atau hilang, sehingga
pembacaan palsu. Elektronik perangkat tekanan sensitif, seperti di
Heatwatch, juga dipasang di tailhead tersebut, dan dapat digunakan untuk
merekam nomor kejadian yang betina dipasang, dan waktu yang telah
berlalu sejak pertama pemasangan. Informasi dapat dikirim ke database
komputer, di mana manajer dapat memantau sapi individu dan membuat
laporan dari data. Heat mount detector terdiri dari dua bagian utama.
Bagian pertama adalah prop yang merupakan sensor utama deteksi.
Bagian kedua adalah mesin deteksi. Mesin deteksi menunjukkan skala
voltase yang dapat diubah atau dinaik turunkan.
Heat mount detector memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan
dari heat mount detector adalah dapat dapat digunakan secara langsung,
dapat mengirimkan transmisi ke komputer yang telah diset di ruangan dan
lebih murah. Namun heat mount detector juga memiliki kekurangan, yaitu
alat ini hanya dapat membantu deteksi ketika tidak ada petugas yang dapat
mengamati (Stevenson, 2001).

Gambar 2. Heat Mount Detector


Chin Ball Mating Device
Chin ball mating device adalah alat yang digunakan untuk
membantu mengetahui birahi pada ternak. Alat ini bekerja dengan
mendekteksi ternak yang telah mengalami birahi. Alat ini bekerja dengan
bantuan tinta timbal di dalamnya. Chin ball mating device dipasang pada
dagu pejantang, kemudian ketika pejantan tersebut menaiki betina yang
telah mengalami estrus maka tinta dalam alat tersebut akan menempel

pada badan betina tersebut. Tinta tersebut akan menunjukan ternk mana
saja yang sedang mengalami birahi.
Chin ball mating device merupakan alat penanda birahi pada
ternak. Penanda birahi atau deteksi birahi ini dipasang dibawah dagu
ternak jantan. Untuk mengidentifikasi ketika sapi birahi dan siap untuk
pembibitan. Sebuah halter adjustable kuat dipasang di bagian bawah
dengan unit penanda coneshaped dengan bebas berputar terkena bolabearing. Unit penanda memiliki reservoir diformulasikan khusus tinta nontoksik yang mematuhi bola dan menolak pengeringan.
Menurut Keown (1999),
satu perangkat menandai melibatkan penggunaan cat berwarna, pewarna,
minyak, atau gemuk dioleskan pada sandung lamur atau melekat pada
leher. Sebuah dagu-bola penanda ditempatkan di bawah dagu pejantan
itu. Pewarna tersebut menyebabkan corak warna yang menempel pada
bagian belakang sapi betina.
Kelebihan dari chin ball mating device adalah penggunaan warna
dari timbal tidak akan menyebabkan racun. Selain itu penanda warna
yang digunakan lebih terlihat. Chin ball mating device juga memungkinkan
berhasilnya deteksi estrus dengan benar. Kekurangan dari alat ini adalah
tidak maksimal ketika diterapkan pada ternak dalam jumlah banyak.
Selain itu perlu dilakukan pengamatan lebih lanjut mana ternak yang
estrus karena tidak dapat mengirim sinyal secara langsung pada komputer
(Keown, 1990).
Menurut SNI (2009), ada tiga macam oksida timbal yang penting,
yaitu PbO (kuning), PbO2 (cokelat), dan Pb3O4 (merah meni). Warna
merah dari timbal oksida Pb3O4 yang dapat digunakan sebagai penanda
warna. Timbal dipakai sebagai agen pewarna dalam bidang pembuatan
keramik terutama untuk warna kuning dan merah. Timbal juga digunakan
dalam bentuk oksida timbale sebagai pigmen atau zat pewarna dalam
industri kosmetik dan glace serta industri keramik.
Timbal oksida merupakan pewarna yang tahan lama dan tidak
mudah ilang akibat gesekan. Namun penggunan timbal oksida yang

berlebihan akan menyebabkan gangguan fungsi reproduksi, memicu cacat


pada janin da bersifat karsinogenik. Timbal(IV) oksida merupakan oksida
timbal dengan biloks 4. PbO 2 ada dialam sebagai mineral plattnerite. PbO 2
bersifat amfoter dimana dapat larut dalam asam maupun basa. Jika
dilarutkan dalam basa kuat akan terbentuk ion plumbat dengan rumus
Pb(OH)62-. Dalam kondisi asam maka biasanya tereduksi menjadi ion Pb 2+.
Ion Pb4+ tidak pernah ditemukan dalam larutan (SNI, 2009).
Berdasarkan kelebihan dan kekurangan antara chin ball mating
device dan heat mount detector, apabila dibandingkan keduanya, maka
akan lebih efisien ketika menggunakan heat mount detector. Heat mount
detector akan memungkinkan pengiriman sinyal langsung data birahi ke
komputer. Hal tersebut akan sesuai dengan penerapan pada skala
industri, selain karena mudah diterapkan pada jumlah ternak yang cukup
banyak juga karena lebih mudah penggunaannya.

Gambar 3. Chin Ball Mating Device


Elektroejakulator
Elektrejakulator terdiri dari transformator, batang karet, dan gelanggelang elektroda pada batang karetnya. Batang karet di elektroda pada
sapi dan kerbau mempunyai ukuran panjang 60 cm dan garis penampang
5 cm, serta cincin 4,5 cm. Pada domba dan kambing mempunyai ukuran
panjang 30 cm dengan garis penampng 2 cm serta jarak cincin 2,5 cm
(Ismaya, 2014)
Prinsip metode Elektroejakulator adalah stimulasi sumsum tulang
belakang antara vertebrae lumbal ke empat dan tulang sakral pertama
dengan menempatkan satu elektrode di dalam rektum dan elektrode lain.

Rangsangan elektrik yang diberikan secara ritmik selama 5 sampai 10


detik sebesar 30 Volt, 50 cycle dengan arus bolak balik melalui elektroda.
Rangsangan tersebut akan menunjukan terjadinya ejakulasi dan semen
dapat ditampung ke dalam tabung gelas.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dengan metode ini adalah
metode ini dapat diterapkan pada pejantan yang cedera, tetapi sebaiknya
pejantan ditempatkan pada kandang penjepit dan diperlukan tali
penggantung untuk menunjang tubuhnya saat penampungan. Sebaiknya
ditempatkan di kandang dengan lantai keras agar tidak tergelincir. Bagian
depan kandang agar dibuat sedemikian rupa agar dapat menahan bahu
pejantan dan mencegahnya agar tidak jatuh. Rambut-rambut praeputium
sebaiknya

digunting

dan

daerah

sekitarnya

dicuci,

disepul

dan

dikeringkan. Voltage dinaikkan dan diturunkan secara ritmik ke nol setiap


3 sampai 5 detik. Peningkatan voltage dilakukan dengan tenggang 2 Volt
dan setiap voltage dipertahankan selama 3 sampai 5 detik. Penggunaan
voltase pada elektroejakulator dapat diubah-ubah dengan dinaikan atau
diturunkan. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan rangsangan pada
ternak agar dapat ejakulasi.
Penggunaan elektroejakulator memiliki kekurangan dan kelebihan.
Kelebihan elektroejakulator adalah dapat diterapkan pada pejantan yang
cedera ataupun cacat fisik. Kekurangan dari alat ini adalah apabila
digunakan tidak dapat mengetahui tingkat libido ternak dan konsentrasi
sperma yang dihasilkan keci. Selain itu elektroejakulator juga mahal
(Toelihere, 1993).

Gambar 4. Elektroejakulator
Spekulum

Spekulum berbentuk merupakan alat bantu yang digunakan untuk


membuka vagina. Alat ini berbentuk sepert paruh bebek dan terbuat dari
stainless

teil.

Mekanisme

penggunaan

spekulum

adalah

dengan

memasukkan ujung (cocor) ke dalam vagina kemudian dibuka perlahan


sambil diputar.
Menurut Nurya (2000), spekulum vagina atau Cocor Bebek
merupakan alat bantu pembuka vagina, kaerna bentuknya yang mirip
seperti cocor bebek maka spekulum vagina juga disebut Cocor Bebek.
Fungsi spekulum antara lain untuk membuka Vagina atau Serviks Uteri
(Leher Rahim), sebagai alat bantu untuk mengetahui perobekan pada
serviks Uteri, dan memudahkan pengambilan lendir pada pemeriksaan
kanker Serviks. Cara penggunaan spekulum adalah dengan memegang
Spekulum Vagina pada bagian gagangnya. Baut pada kemudian spekulum
dibuka. Spekulum lalu dimasukkan ke dalan vagina dalam keadaan
miring. Spekulum masih dalam keadaan tertutup dan dalam keadaan
miring. Spekulum diputar dan dibuka setelah masuk ke dalam vagina.
Baut kemudian dikunci dengan paten, jangan sampai longar.
Spekulum untuk ternak sapi berbeda dengan spekulum untuk
ternak kambing dan domba. Ukuran spekulum kecil untuk ternak kambing
dan domba memiliki panjang 15 cm. Spekulum untuk sapi panjang 25
sampai 30 cm (Nurya, 2000). Menurut Guyton (1994), terdapat dua
macam spekulum, yaitu graves (speculum cocor bebek) dan pedersen.
Spekulum graves adalah speculum yang lebih umum digunakan. Daun
daunnya lebih lebar dan melengkung pada sisinya. Spekulum pedersen
adalah spekulum yang mempunyai daun yang lebih sempit dan rata.

Gambar 5. Spekulum
Container
Container digunakan untuk penyimpanan semen beku straw, straw
ditempatkan di dalam tabung-tabungplastik (goblet) dan kemudian
beberapa goblet ditempatkan di dalam canister dandisimpan di dalam
container berisi larutan N 2 Cair. Goblet adalah suatu silinder atau tabung
plastik yang mempunyai dasar yang tidaktembus cairan dengan ukuran
kurang lebih setengah panjang canister. Setiap goblet dimasukkan 15
buah mini goblet yang masing-masing memuat 14 buah straw.Kadangkadang

tidak

digunakan

mini

goblet,

maka

satu

goblet

dapat

menampungsekitar 100 straw.


Canister merupakan suatu silinder logam dengan bagian bawah
atau alasnya tertutupberfungsi untuk menempatkan goblet yang berisi
semen beku straw. Satu sisi canister diberi gagang pengait yang berfungsi
sebagai

pegangan

dan

memungkinkan

identifikasi

semen

serta

pengeluaran dan penyimpanan melalui mulutcontainer.


Container merupakan bejana vakum yang umumnya terdiri dari
bahan baja atau aluminium dengan dinding berisi ruang vakum dan isolasi
yang ketat dengan ukuran yang berbagai ukuran sesuai dengan
kebutuhan. Satu container di Pusat IB deganukuran besar dapat memuat
45.000 sampai 100.000 semen beku ampul atau straw. Container tersebut
diisi dengan larutan Nitrogen cair (N2) dengan temperatur -196C.Bila
semen beku telah disimpan dalam container tersebut, maka dapat
disimpandalam waktu lama bahkan hingga bertahun-tahun sebelum
didistribusikan ke peternakatau ke daerah-daerah.

Gambar 5. Kontainer
Insemination Gun
Pelaksanaan teknik inseminasi dilakukan dengan menggunakan
alat yaitu insemination gun. Semen beku yang telah dithawing, masukkan
ke dalam insemination gun dengan bagian pangkal terlebih dahulu dan
bagian yang tersumbat digunting. Insemination gun tersebut siap
digunakan untuk mendesposisikan semen ke dalam organ reproduksi
betina.Teknik yang umum dilakukan pada Sapi adalah teknik rektovaginal
(rectovaginaltechnique). Teknik ini efek negatif pada bagian vulva dapat
dikurangi dengan cara membersihkan atau mencuci bagian vulva dan
mengeringkannya dengan handukyang lunak dan bersih untuk mencegah
kontamisasi bakteri (Rasad, 1993).
Palpasi rectal dilakukan untuk membantu mencari lubang servix,
biasanya akan muncul kontraksi pada rectal, usahakan operator untuk
menekan ke arah bawahdengan telapak tangan dan mengurut kembali
serta mengarahkan ke bagian permukaan gerbang pelvic. Cara ini juga
bertujuan untuk membantu mencari lokasimulut servix. Selanjutnya
insemination gun dapat dimasukkan melalui mulut servix untuk memasuki
bagian organ reproduksi, dalam hal ini perlu diperhatikan sejak
insemination gun memasuki bagian suburethral diverticulum atau urethrae
yang terletak pada bagian dinding vagina merupakan bagian pendek dari
vulva (Rasad, 1993),
Insemination gun selanjutnya akan masuk ke dalam vagina dan
pada saat bersamaan cervix akan mendorong masuk bagian ujung

insemination gun untuk melewati setiap lipatan vagina. Operator


membantu dengan tangan, yakni dengan memegang insemination gun
dengan dua jari pertama dan ibu jari akan membantu memasuki gerbang
cervix. Deposisi semen sebaiknya dilakukan dengan perlahan-lahan dan
tidak lebih dari 5 detik untuk menekan alat pendorong semen di dalam
insemination gun. Deposisi semen secara perlahan-lahan akan membantu
distribusi semen di dalam organ reproduksi betina secara maksimal.
Prosedur inseminasi semen secara benar dan teratur akan membantu
mengoptimalkan efisiensi perkawinan (breeding efficiencies). Mucus
cervix yang tebal dan kental saat diinseminasi, maka mnunjukan adanya
kebuntingan tinggi.
Insemination gun yang digunakan pada ternak kambing dan domba
hampir sama dengan insemination gun pada ternak sapi. Namun
insemination gun

digunakan lebih kecil karena menyesuaikan ukuran

saluran reproduksi kambing. Penggunaan insemination gun pada kambing


dan domba harus lebih hati-hati. Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan oleh seorang inseminator kambing/domba dalam melakukan
inseminasi, yaitu bahwa inseminasi harus dilakukan secara halus; tidak
berbuat kasar terhadap ternak, penuh kasih sayang, tidak menyakiti, tidak
melukai, buat ternak merasa senyaman mungkin, cara mengangkat kaki
belkang harus betul-betul tidak membebani hewannya terlalu berat;
lakukan dalam waktu yang cepat (Foragri, 2006).

Gambar 6. Insemination Gun


Straw

Semen yang diawetkan dalam bentuk straw dan disimpan dalam


gas Nitrogen cair (N2 cair) memiliki ketahanan tak terbatas. Kemasan
Straw untuk semen beku yang selama ini banyak digunakan adalah model
IMV Perancis dengan volume tiap straw sebesar 0,25 ml. Pengemasan
semen ke dalam straw dilakukan di dalam lemari es agar temperaturnya
tetappada 5C, atau di atas meja khusus (cool top) yang suhunya diatur
pada 5C.
Susun straw dalam rak straw. Ujung straw sambungkan yang
memiliki sumbat kapas dengan selang plastik penghisap. Ujung selang
plastik yang lain disambungkan dengan pompa penghisap. Tuangkan
semen dari beaker glass ke dalam cawan plastik khusus untuk pengisian
straw. Hidupkan pompa penghisap. Celupkan ujung straw yang bebas ke
dalam cawan plastik yang berisi semen cair dan biarkan cairan semen
memasuki straw sampai penuh. Tutup ujung bebas straw dengan tepung
polyvinyl alcohol atau dijepit dengan menggunakan plastic sealer (alat
khusus untuk merekat plastik). Akhir-akhir ini mulai banyak digunakan
kemasan straw model Landshut dengan volume 0,50 ml/straw dari Mini
Tub, Jerman. Kemasan model ini memerlukan perlengkapan yang lebih
sederhana, praktis dan juga lebih murah. Metode Mini Tub memiliki
perbedaan yang mendasar dibandingkan dengan model Perancis, yakni
ukuran straw lebih pendek tetapi volume lebih besar (0,50 ml). Straw
ditutup dengan bola metal pada kedua ujungnya. Pencampuran semen
dengan pengencer dilakukan satu tahap. Gliserolisasi dan pengemasan
dilakukan pada suhu kamar. Proses equilibrasi dilakukan setelah
pengemasan. Semen beku yang akan dipakai, dikeluarkan dari dalam
container dan haruskan dicairkan kembali sebelum didesposisikan ke
dalam organ reproduksi betina pada saat inseminasi. Proses pencairan
kembali biasa disebut thawing dapat dilakukan dengan berbagai cara
antara lain dengan memasukkan ke dalam bejana berisi air dengan
temperatur 400C selama 35 sampai 40 detik. Kemudian straw dikeluarkan

dari dalam bejana, dikeringkan dan digenggam selama 35 sampai 40


detik.
Kode pejantan terdiri dari 5 digit sampai dengan 6 digit. Satu
sampai dengan dua digit pertama menandakan kode bangsa. Dua digit di
tengah menandakan tahun kelahiran pejantan. Dua digit terakhir
menandakan nomor urut pejantan. Kode jantan dan warna straw mengacu
pada ketentuan tentang syarat dan spesifikasi teknis semen beku sapi dan
kerbau serta alat penyimpanannya (SNI, 2008).
Menurut Nilna (2010) penggunaan straw pada setiap jenis sapi
berbeda. Terdapat berbagai macam warna straw untuk masing-masing
jenis sapi. Sapi Holstein dengan warna straw abu-abu, limosin dengan
straw warna pink, simental dengan straw warna putih transparan,
brahman dengan straw warna biru tua, straw untuk ongole adalah biru
muda, untuk angus adalah orange, untuk bangus adala hijau tua, untuk
bali warna mrah dan madura adala hijau muda.

Gambar 7. Straw

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa peralatan
yang digunakan dalam praktik inseminasi buatan terdiri dari

vagina

buatan, Heat Mount Detector, chin ball matting device, insemination gun,
speculum, elektroejakulator, straw, dan kontainer. Vagina buatan dan
elektroejakulator berperan dalam penampungan sperma. Heat Mount
Detector dan chin ball matting device berfungsi dalam penanda birahi.
Kontainer berfungsi untuk penyimpanan sprema. Insemination gun dan
straw memudahkan dalam penetrasi sperma.

DAFTAR PUSTAKA
Foragri.

2006.
Inseminasi
pada
Kambing
dan
Domba.
http:worldofvet..com. diakses pada 23 November 2014 pukul
18.00.

Guyton, Arthur C.1994. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 7.Jakarta:


Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Hafez, E.S.E. 1993. Artificial insemination. In: HAFEZ, E.S.E. 1993.
Reproduction in Farm Animals. 6th Ed. Lea &Febiger,
Philadelphia. pp. 424-439.
Ismaya. 2014. Bioteknologi Inseminasi Buatan Pada Sapi dan Kerbau.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Kartasudjana, R. 2001. Modul Teknik Inseminasi Buatan pada Ternak.
Diakses dari : (http://psbtik.smkn1cms.net). Pada tanggal 20 Juli
2013.
Keown, Jeffrey, and Duane Rice. 1999. Estrus (Heat) Detection
Guidelines. G89-952A. University of Nebraska Cooperative
Extension Service.
Nilna. 2010. Standar Operasional Pekerjaan Prosesing Semen. Sumatra
Barat: Pengawas Mutu Bibit Ternak pada Dinas peternakan
Nurya, Kadek. 2000. Spekulum vagita/ Cocor Bebek. http://nursecarewithlove..com. Diakses pada 17 Oktober 2014. 18.00.
Rasad, S. D.. tt. 1993. Teknologi Reproduksi Ternak. Lab Teknologi Ternak
Fakultas Peternakan UNPAD. Bandung.
Schutz, M.M., and W.L. Singleton. 1997. Summertime Heat Detection. AS
517. Purdue University Cooperative Extension Service.
Selk, G. 2007. Artificial Insemination Forr Beef Cattle. Division of
Agricultural Sciences and Natural Resources, Oklahoma State
university. Diakses dari : (http://osuextra.okstate.edu.). Pada
tanggal 20 Juli 2013.
Stevenson, J.S. 2001. Reproductive Management of Dairy Cows in High MilkProducing Herds. J. Dairy Sci. 84 (E. Suppl.):E128-E143.
Toelihere, M. R. 1993. Inseminasi Buatan pada Ternak. Angkasa. Bandung