Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

LARINGOMALASIA

Disusun oleh:
Fadhila Sekar Priharsani (030.10.097)
Etika Tunjung Kencana (030.10.094)
Melisa Aslamia (030.10.177)
Komang Ida Widiayu Radiari N (030.10.152)

Pembimbing:
Dr. Satria Nugraha, Sp. THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK THT RSUD BEKASI


PERIODE 18 AGUSTUS 20 SEPTEMBER 2014
BEKASI
2014

LEMBAR PENGESAHAN

Referat Laringomalasia
Referat ini diajukan untuk memenuhi persyaratan dalam mengikuti dan
menyelesaikan
Kepaniteraan Klinik Telinga, Hidung, dan Tenggorok
Rumah Sakit Umum Daerah Bekasi
Periode 18 Agustus 20 September 2014

Oleh:
Fadhila Sekarpriharsani (030.10.097)
Etika Tunjung Kencana (030.10.094)
Melisa Aslamia (030.10.177)
Komang Ida Widiayu Radiari N (030.10.152)

Telah diterima dan disetujui oleh penguji,


Bekasi, September 2014

dr. Satria Nugraha, Sp. THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK THT


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BEKASI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

BAB I
PENDAHULUAN

Laringomalasia adalah kelainan kongenital pada laring berupa flaksiditas dan


inkoordinasi kartilago supraglotik dan mukosa aritenoid, plika ariepiglotik dan
epiglotis, sehingga terjadi kolaps dan obstruksi saluran napas yang menimbulkan
gejala utama berupa stridor inspiratoris kronik pada bayi dan anak. Laringomalasia
pertama kali diperkenalkan oleh Jackson pada tahun 1942 sebagai kelainan kongenital
laring yang paling sering ditemukan. Kelainan ini dapat hadir bersama dengan
trakeomalasia. 1,2
Biasanya, pasien dengan keadaan ini menunjukkan gejala pada saat baru
dilahirkan, dan setelah beberapa minggu pertama kehidupan secara bertahap
berkembang stridor inspiratoris dengan nada tinggi dan kadang kesulitan dalam
pemberian makanan. Laringomalasia merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri,
yang mula-mula terjadi segera setelah kelahiran dan memberat pada bulan keenam,
serta membaik pada umur 12-18 bulan dan dapat bertahan sampai usia 4 tahun atau
masa anak-anak.2,3
Berdasarkan fakta bahwa laringomalasia menempati urutan kelainan
kongenital tersering pada neonatus, bayi dan anak-anak, maka diperlukan pemahaman
lebih lanjut, sehingga memudahkan kita untuk mengetahui diagnosis dini dan
penatalaksanaan mutakhir laringomalasia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Laring


Laring adalah bagian terbawah dari saluran nafas bagian atas. Bentuknya
menyerupai limas segitiga terpancung, dengan bagian atas lebih besar daripada
bagian bawah. Batas atas laring adalah aditus laring dan batas bawahnya adalah
batas kaudal kartilago krikoid. Di bagian atas, laring membuka ke dalam
laringofaring dan di bawah bersambung dengan trakea. Laring, faring, trakea dan
paru-paru merupakan derivat foregut embrional yang terbentuk sekitar 18 hari
setelah konsepsi.4,5
Laring dibentuk oleh kartilago, ligamentum, otot dan membrana mukosa.
Terletak di sebelah ventral faring, berhadapan dengan vertebra cervicalis 3-6.
Berada di sebelah kaudal dari os hyoideum dan lingua, berhubungan langsung
dengan trakea. Di bagian ventral ditutupi oleh kulit dan fasia, di kiri kanan linea
mediana terdapat otot-otot infra hyoideus. Posisi laring dipengaruhi oleh gerakan
kepala, deglutisi, dan fonasi.4
Kerangka laring tersusun dari satu tulang, yaitu tulang hyoid yang
berbentuk seperti huruf U dan beberapa kartilago. Laring dibentuk oleh 3 buah
kartilago yang tunggal, yaitu kartilago tireoidea, krikoidea, dan epiglotika, serta 3
buah kartilago yang berpasangan, yaitu kartilago aritenoidea, kartilago
kornikulata, dan kuneiform. Kartilago-kartilago ini secara embriologis dibentuk
dari unsur rawan pada lengkung faring ke-4 dan ke-6 yang bersatu. Lengkung
faring ini mulai tampak pada pertumbuhan embrio di minggu ke-4 dan ke-5 intra
uterin. 4
Gerakan laring dilakukan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan
instrinsik. Otot-otot ekstrinsik bekerja pada laring secara keseluruhan, terletak di
suprahioid (m.digastrikus, m. geniohioid, m. stilohioid, m.milohioid) dan
infrahioid

(m.sternohioid,

m.omohioid,

m.tirohioid).

Otot-otot

instrinsik

menyebabkan gerakan bagian laring tertentu yang berhubungan dengan gerakan


pita

suara,

yakni

m.krikoaritenoid

lateral,

m.tiroepiglotika,

m.vokalis,

m.tiroaritenoid,

m.ariepiglotika,

m.krikotiroid,

m.aritenoid

transversum,

m.aritenoid oblik, m.krikoaritenoid posterior4


Rongga laring terdiri atas tiga bagian, yaitu supraglotis, glottis, dan
subglotis. Daerah supraglotis terdiri dari epilaring dan vestibulum. Epilaring
merupakan gabungan dari permukaan epiglottis, plika ariepiglotika dan aritenoid,
sedangkan vestibulum terdiri dari pangkal epiglottis, plika vestibular dan
ventrikel. Daerah glottis terdiri dari pita suara dan 1 cm di bawahnya. Daerah
subglotis adalah dari batas bawah glottis sampai dengan batas bawah kartilago
krikoid.4,5
Laring pada bayi normal terletak lebih tinggi pada leher dibandingkan
orang dewasa. Laring bayi juga lebih lunak, kurang kaku dan lebih dapat ditekan
oleh tekanan jalan nafas. Pada bayi laring terletak setinggi C2 hingga C4,
sedangkan pada orang dewasa hingga C6. Ukuran laring neonatus kira-kira 7 mm
anteroposterior, dan membuka sekitar 4 mm ke arah lateral.4,5
Fungsi laring terdiri dari : 4,5
1. Proteksi, yakni untuk mencegah makanan dan benda asing masuk ke
dalam trakea dengan menutup aditus laring dan rima glottis secara
bersamaan
2. Refleks batuk, dapat mengeluarkan benda asing yang telah masuk ke
dalam trakea serta mengeluarkan sekret
3. Respirasi, yakni dengan mengatur besar kecilnya rima glottis
4. Sirkulasi, dengan terjadinya perubahan tekanan udara dalam traktus
trakeobronkial maka sirkulasi darah dari alveolus akan terpengaruh,
demikian juga sirkulasi darah tubuh
5. Proses menelan, dengan menggerakkan laring bagian bawah ke atas,
menutup aditus laringis dan mendorong bolus makanan turun ke
hipofaring dan tidak mungkin masuk ke dalam laring
6. Emosi, yakni dapat mengekspresikan emosi seperti berteriak, mengeluh,
menangis dan lain-lain
7. Fonasi, yakni membuat suara dengan menentukan tinggi rendahnya nada

Gambar 1. Penampang anterior laring

Gambar 2. Penampang posterior laring


2.2 Embriologi Laring
Seluruh sistem pernafasan merupakan hasil pertumbuhan faring primitif.
Pada saat embrio berusia 3,5 minggu, suatu alur yang disebut laringotrakeal
groove tumbuh dalam embrio pada bagian ventral foregut. Alur ini terletak
disebelah posterior dari eminensia hipobronkial dan terletak lebih dekat dengan
lengkung ke IV daripada lengkung ke III. 6

Lapisan dalam laring berasal dari endoderm, tetapi tulang rawan dan otot
berasal dari mesenkim lengkung faring ke-4 dan ke-6. Sebagai akibat dari
proliferasi mesenkim yang berlangsung cepat, auditus laringis berubah bentuknya
dari sebuah celah sagital menjadi lobang berbentuk T. Selanjutnya ketika
mesenkim kedua lengkung faring tersebut berubah menjadi kartilago tiroidea,
krikoidea, serta aritenoidea, bentuk dewasa auditus laringis yang khas sudah
dapat dikenali.7
Selama masa pertumbuhan embrional ketika tuba yang single ini menjadi
dua struktur, tuba yang asli mula-mula mengalami obliterasi dengan proliferasi
lapisan epitel, kemudian epitel diresopsi, tuba kedua dibentuk dan tuba pertama
mengalami rekanulisasi. Berbagai malformasi dapat terjadi pada kedua tuba ini,
misalnya fistula trakeoesofageal. Pada maturasi lanjut, kedua tuba ini terpisah
menjadi esofagus dan bagian laringotrakeal. 6
Pembukaan laringotrakeal ini adalah aditus laringeus primitif dan terletak
diantara lengkung IV dan V. Aditus laring pada perkembangan pertama berbentuk
celah vertikal yang kemudian menjadi berbentuk T dengan tumbuhnya
hipobrachial eminence yang tampak pada minggu ke 3 dan kemudian akan
tumbuh menjadi epiglottis. Sepasang aritenoid yang tampak pada minggu ke 5
dan pada perkembangan selanjutnya sepasang massa aritenoid ini akan
membentuk tonjolan yang kemudian akan menjadi kartilago kuneiforme dan
kartilago kornikulata. Kedua aritenoid ini dipisahkan oleh incisura interaritenoid
yang kemudian berobliterasi. Ketika ketiga organ ini tumbuh selama minggu ke 5
10, lumen laring mengalami obliterasi, baru pada minggu ke 9 kembali
terbentuk lumen yang berbentuk oval. Kegagalan pembentukan lumen ini akan
menyebabkan atresia atau stenosis laring. Plika vokalis sejati dan plika vokalis
palsu terbentuk antara minggu ke 8 9.6
Kira-kira pada saat terbentuk tulang rawan, epitel laring juga
berproliferasi dengan cepat, sehingga untuk sementara menutup lumen.
Selanjutnya ketika terjadi vakuolisasi dan rekanalisasi, terbentuklah sepasang

resesus lateral yaitu ventrikel laringealis. Resesus tersebut dibatasi oleh lipatanlipatan jaringan yang tidak menghilang melainkan berdiferensiasi menjadi pita
suara palsu dan sejati.7

Gambar 3. Perkembangan Laring


Otot-otot laring pada mulanya muncul sebagai suatu sfingter intrinsik
yang terletak dalam tunas kartilago tiroid dan krikoid. Selama perkembangan
selanjutnya, sfingter ini terpisah menjadi massa otot-otot tersendiri (mudigah 13
16 mm). Otot-otot laring pertama yang dikenal adalah interaritenoid,
ariepiglotika, krikoaritenoid posterior dan krikotiroid. Otot-otot laring intrinsik
berasal dari mesoderm lengkung brakial ke 6 dan dipersarafi oleh N. Rekuren
Laringeus. M. Krikotiroid berasal dari mesoderm lengkung brakial ke 4 dan
dipersarafi oleh N. Laringeus Superior. Kumpulan otot ekstrinsik berasal dari
eminensia epikardial dan dipersarafi oleh N. Hipoglosus.8
Tulang hyoid akan mengalami penulangan pada enam tempat, dimulai
pada saat lahir dan lengkap setelah 2 tahun. Katilago tiroid akan mulai
mengalami penulangan pada usia 20 sampai 23 tahun, mulai pada tepi inferior.
Kartilago krikoid mulai usia 25 sampai 30 tahun inkomplit, begitu pula dengan
aritenoid.9
2.3 Definisi

Laringomalasia adalah kelainan kongenital pada laring berupa flaksiditas


dan inkoordinasi kartilago supraglotik dan mukosa aritenoid, plika ariepiglotik
dan epiglotis, sehingga terjadi kolaps dan obstruksi saluran napas yang
menimbulkan gejala utama berupa stridor inspiratoris kronik pada bayi dan
anak.2
2.4 Epidemiologi
Laringomalasia diperkenalkan pertama kali oleh Jackson pada tahun 1942.1
Laringomalasia adalah anomali kongenital pada laring yang paling sering terjadi.
Anak laki-laki dilaporkan mengalami laringomalasia 2 kali lebih sering daripada
anak perempuan. Laringomalasia secara umum merupakan kondisi self-limiting,
akan tetapi dapat mengancam jiwa karena obstruksi jalan nafas yang
ditimbulkannya. Selain itu, laringomalasia juga dapat menyebabkan terjadinya
kor pulmonal dan kegagalan pertumbuhan pada anak. Laringomalasia dan
trakeomalasia merupakan dua kelainan kongenital tersering pada laring (59,8%)
dan trakea (45,7%) neonatus,bayi,dan anak yang sering menyebabkan stridor.2
2.5 Etiologi
Penyebab laringomalasia masih belum diketahui, namun banyak teori yang
menjelaskan patofisiologi laringomalasia. Terdapat hipotesis yang dibuat
berdasarkan model embriologi. Epiglotis dibentuk oleh lengkung brakial ketiga
dan keempat. Pada laringomalasia terjadi pertumbuhan lengkung ketiga yang lebih
cepat dibandingkan yang keempat sehingga epiglotis melengkung ke dalam.
Secara umum terdapat dua teori patofisiologi laringomalasia, yaitu teori
anatomi dan teori neurogenik. Menurut teori anatomi, terdapat hipotesis bahwa
terjadi abnormalitas kelenturan tulang rawan dan sekitarnya yang menyebabkan
kolapsnya struktur supraglotis. Pada kepustakaan disebutkan bahwa kelainan
congenital ini bersifat otosomal dominan.
Pada teori neuromuskular, dipercaya penyebab primer kelainan ini adalah
terlambatnya perkembangan kontrol neuromuscular dibanding dengan teori
anatomi.

Penyebab

neurogenik

selanjutnya

dihubungkan

pula

dengan

abnormalitas neurogenik lainnya. Belmont dan Grundfast menemukan 80% dari


30 anak dengan laringomalasia mempunyai penyakit refluks gastroesofagus
(PRGE), 13% terjadi hipotonia dan 10% mengalami apnea tidur sentral. Mereka

menganggap bahwa disfungsi atau imaturitas dari control neuromuscular yang


menjadi akar penyebab semua kelainan tersebut. 3,10,11
2.6 Patofisiologi
Laringomalasia dapat terjadi di epiglotis, kartilago aritenoid, maupun pada
keduanya. Jika mengenai epiglotis, biasanya terjadi elongasi dan bagian
dindingnya terlipat. Epiglotis yang bersilangan membentuk omega, dan lesi ini
dikenal sebagai epiglotis omega (omega-shaped epiglottis). Jika mengenai
kartilago aritenoid, tampak terjadi pembesaran. Pada kedua kasus, kartilago
tampak terkulai dan pada pemeriksaan endoskopi tampak terjadi prolaps di atas
laring selama inspirasi. Obstruksi inspiratoris ini menyebabkan stridor inspiratoris,
yang terdengar sebagai suara dengan nada yang tinggi.12
Matriks tulang rawan terdiri atas dua fase, yaitu fase cair dan fase padat
dari

jaringan

fibrosa

dan

proteoglikan

yang

dibentuk

dari

rangkaian

mukopolisakarida. Penelitian terhadap perkembangan tulang rawan laring


menunjukkan

perubahan yang

konsisten

pada isi

proteoglikan

dengan

pematangan. Tulang rawan neonatus terdiri dari kondroitin-4-sulfat dengan sedikit


kondroitin-6-sulfat dan hampir tanpa keratin sulfat. Tulang rawan orang dewasa
sebagian besar terdiri dari keratin sulfat dan kondroitin-6-sulfat. Dengan
bertambahnya pematangan, matriks tulang rawan bertambah, akan menjadi kurang
air, lebih fibrosis dan kaku. Bentuk omega dari epiglotis yang berlebihan, plika
ariepiglotik yang besar, dan perlunakan jaringan yang hebat mungkin ada dalam
berbagai tahap pada masing-masing kasus.3
Supraglotis yang terdiri dari epiglotis, plika ariepiglotis dan kartilago
aritenoid ditemukan mengalami prolaps ke dalam jalan napas selama inspirasi.
Laringomalasia umumnya dikategorikan ke dalam tiga tipe besar berdasarkan
bagian anatomis supraglotis yang mengalami prolaps walaupun kombinasi apapun
dapat terjadi. Tipe pertama melibatkan prolapsnya epiglotis di atas glotis. Yang
kedua melipatnya tepi lateral epiglotis di atas dirinya sendiri, dan yang ketiga
prolapsnya mukosa aritenoid yang berlebihan ke dalam jalan napas selama periode
inspirasi.13
Laringomalasia merupakan penyebab tersering dari stridor inspiratoris
kronik pada bayi. Bayi dengan laringomalasia memiliki insidens untuk terkena
refluks gastroesophageal, diperkirakan sebagai akibat dari tekanan intratorakal
yang lebih negatif yang dibutuhkan untuk mengatasi obstruksi inspiratoris.

Dengan demikian, anak-anak dengan masalah refluks seperti ini dapat memiliki
perubahan patologis yang sama dengan laringomalasia, terutama pada pembesaran
dan pembengkakan dari kartilago aritenoid.12

Gambar 4. Gambaran Pemeriksaan Fisik Laringomalasia


2.7 Klasifikasi Laringomalasia
Berdasarkan letak prolaps dari struktur supraglotis, Olney dkk membuat
klasifikasi untuk laringomalasia. Laringomalasia umumnya dikategorikan ke
dalam tiga tipe besar berdasarkan bagian anatomis supraglotis yang mengalami
prolaps walaupun kombinasi apapun dapat terjadi.
Tipe pertama melibatkan prolapsnya epiglotis di atas glotis. Yang kedua
melipatnya tepi lateral epiglotis di atas dirinya sendiri, dan yang ketiga prolapsnya
mukosa aritenoid yang berlebihan ke dalam jalan napas selama periode inspirasi.

Gambar 5. Tipe 1 laringomalasia, yaitu prolaps dari mukosa kartilago aritenoid yang
tumpang tindih;

Gambar 6.Tipe 2 laringomalasia, yaitu memendeknya plika ariepiglotika;

Gambar 7. Tipe 3 Laringomalasia, yaitu melekuknya epiglotis ke arah posterior.


2.8 Gambaran Klinis
Tiga gejala yang terjadi pada berbagai tingkat dan kombinasi pada anak
dengan kelainan laring kongenital adalah obstruksi jalan napas, tangis abnormal
yang dapat berupa tangis tanpa suara (muffle) atau disertai stridor inspiratoris
serta kesulitan menelan yang merupakan akibat dari anomali laring yang dapat
menekan esofagus.10
Laringomalasia merupakan suatu proses jinak yang dapat sembuh spontan
pada 70% bayi saat usia 1-2 tahun. Gejala stridor inspirasi kebanyakan timbul
segera setelah lahir atau dalam usia beberapa minggu atau bulan kemudian. Pada
beberapa bayi tidak menimbulkan gejala sampai anak mulai aktif (sekitar 3 bulan)
atau dipresipitasi oleh infeksi saluran nafas. Stridor yang terjadi bersifat bervibrasi
dan bernada tinggi. Stridor akan bertambah berat sampai usia 8 bulan, menetap
sampai usia 9 bulan dan kemudian bersifat intermiten dan hanya timbul bila usaha
bernafas bertambah seperti saat anak aktif, menangis, makan, kepala fleksi, atau
posisi supinasi. Setelah itu keadaan makin membaik. Rata-rata stridor terjadi

adalah selama 4 tahun 2 bulan. Tidak ada korelasi antara lama berlangsungnya
stridor dengan derajat atau waktu serangan.10,12
Stridor dapat disertai dengan retraksi sternum, interkosta, dan epigastrium
akibat usaha pernafasan, dan anak dapat ditemukan dalam keadaan pektus
ekskavatum.12
Masalah makan sering terjadi akibat obstruksi napas yang berat. Penderita
laringomalasia biasanya lambat bila makan yang kadang-kadang disertai muntah
sesudah makan. Keadaan ini dapat menimbulkan masalah gizi kurang dan gagal
tumbuh. Berdasarkan pemeriksaan radiologi, refluks lambung terjadi pada 80%
dan regurgitasi pada 40% setelah usia 3 bulan. Masalah makan dipercaya sebagai
akibat sekunder dari tekanan negative yang tinggi di esophagus intratorak pada
saat inspirasi.
Pneumonitis
laringomalasia.

aspirasi

Mekanisme

dilaporkan
kelainan

terjadi

pada

7%

anak

ini belum jelas, namun

dengan
mungkin

berhubungan dengan tekanan negative dan masalah makan.


Apne obstruksi tidur (23%) dan apnea sentral (10%) juga ditemukan.
Keadaan hipoksia dan hiperkapnia akibat hipoksia dan hiperkapnia akibat
obstruksi nafas atas yang lama akan berisiko tinggi untuk terjadinya serangan
apnea yang mengancam jiwa dan timbul hipertensi pulmonal, yang dapat
menyebabkan kor pulmonal, aritmia jantung, penyakit paru obstruksi kronis,
masalah kognitif dan personal sebagai akibat sekunder dari laringomalasia.10
Berdasarkan letak prolaps dari struktur supraglotis, Olney dkk membuat
klasifikasi untuk laringomalasia. Klasifikasi ini bertujuan untuk mempermudah
pemilihan teknik operasi supraglotoplasti. Klasifikasinya adalah sebagai berikut:
tipe 1, yaitu prolaps dari mukosa kartilago aritenoid yang tumpang tindih; tipe 2,
yaitu memendeknya plika ariepiglotika; tipe 3, yaitu melekuknya epiglotis ke arah
posterior. Bentuk omega epiglotis tidak selalu menjadi ciri khas karena ini hanya
ditemukan pada 30-50% pasien, dan kebanyakan tidak ditemukan adanya
stridor.10,12
2.9 Penegakan Diagnosis 3,10,12,14
Laringomalasia ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang berupa laringoskopi fleksibel dan radiologi.
a) Anamnesis

Dari anamnesis dapat kita temukan :


- Riwayat stridor inspiratoris diketahui mulai 2 bulan awal kehidupan. Suara
biasa muncul pada minggu 4-6 awal.
- Stridor berupa tipe inspiratoris dan terdengar seperti kongesti nasal, yang
biasanya membingungkan. Namun demikian stridornya persisten dan tidak
terdapat sekret nasal.
- Stridor bertambah jika bayi dalam posisi terlentang, ketika menangis, ketika
terjadi infeksi saluran nafas bagian atas, dan pada beberapa kasus, selama dan
setelah makan.
- Tangisan bayi biasanya normal
- Biasanya tidak terdapat intoleransi ketika diberi makanan, namun bayi kadang
tersedak atau batuk ketika diberi makan jika ada refluks pada bayi.
- Bayi gembira dan tidak menderita.
b) Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisis ditemukan
- Pada pemeriksaan bayi terlihat gembira dan berinteraksi secara wajar.
- Dapat terlihat takipneu ringan
- Tanda-tanda vital normal, saturasi oksigen juga normal
- Biasanya terdengar aliran udara nasal, suara ini meningkat jika posisi bayi
terlentang
- Tangisan bayi biasanya normal, penting untuk mendengar tangisan bayi
selama pemeriksaan
- Stridor murni berupa inspiratoris. Suara terdengar lebih jelas di sekitar angulus
sternalis
c) Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laring dengan menggunakan
laringoskop serat fiber fleksibel selama periode pernapasan spontan.
Penemuan endoskopik yang paling sering adalah kolapsnya plika ariepiglotik
dan kartilago kuneiform ke sebelah dalam. Laringoskopi langsung merupakan
cara yang terbaik untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan dilakukan pada
anak dalam keadaan sadar dengan posisi tegak melalui kedua hidung tanpa
adanya premedikasi. Bilah laringoskop dimasukkan ke valekula dengan

tekanan yang minimal pada epiglotis untuk menegakkan diagnosis. Pada


inspirasi, struktur sekitar vestibulum, terutama plika ariepiglotik, epiglotis, dan
kartilago aritenoid akan tampak turun ke saluran nafas, disertai stridor yang
sinkron. Visualisasi langsung memperlihatkan epiglotis berbentuk omega
selama inspirasi.
Melalui pemeriksaan ini, juga dapat dinilai pasase hidung, nasofaring,
dan supraglotis. Pada laringomalasia, pita suara dapat bergerak dengan baik,
namun pada keadaan berat, sulit memvisualisasikan pita suara akibat kolapnya
supraglotis
Pemeriksaan laringoskopi fleksibel memiliki beberapa kerugian, yaitu
risiko terlewatkannya diagnosis laringomalasia ringan bila pasien menangis
dan penilaian keadaan subglotis kurang akurat
Olney, dkk membuat kategori kandidat yang sebaiknya dilakukan
laringoskopi dan bronkoskopi. Kriterianya adalah:
1. Bayi dengan gangguan pernapasan berat, gagal tumbuh, mengalami fase
apnea, atau pneumonia berulang.
2. Bayi dengan gejala yang tidak sesuai dengan gambaran laringomalasia
pada laringoskopi fleksibel.
3. Bayi dengan lesi lain di laring.
4. Bayi yang akan dilakukan supraglotoplasti.
Nusbaum dan Maggi melaporkan 68% dari 297 anak dengan laringomalasia
mempunyaikelainan pernafasan lainnya yang ditemukan dengan bronkoskopi.

Gambar 8. Laringoskop Langsung


2.10

Diagnosis Banding

Setiap kelainan yang menyebabkan obstruksi pada laring diagnosis


banding dari laringomalasia baik akibat kelainan kongenital, infeksi, trauma,
benda asing, tumor, paralisis pita suara, stenosis laring dan trakea.
Laringomalasia didiagnosis banding dengan penyebab stridor inspiratoris
lain pada anak-anak. Antara lain yaitu, hemangioma supraglotik, massa atau
adanya jaringan intraluminal seperti laryngeal web dan kista laring, kelainan
akibat trauma seperti edema dan stenosis supraglotik, maupun kelainan pada pita
suara. 15,16
2.11

Penatalaksanaan 1,2,5,14,15
Pada lebih dari 99% kasus, satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan

adalah waktu. Lesi sembuh secara berkala, dan stridor rata-rata hilang setelah dua
tahun. Stridor mulanya meningkat pada 6 bulan pertama, seiring bertambahnya
aliran udara pernafasan bersama dengan bertambahnya umur. Pada beberapa
kasus, stridor dapat menetap hingga dewasa. Dalam hal ini, stridor baru muncul
setelah beraktifitas berat atau terkena infeksi. Jika bayi mengeluarkan stridor yang
lebih keras dan mengganggu tidur, hal ini dapat diatasi dengan menghindari
tempat tidur, bantal atau selimut yang terlalu lembut, sehingga akan memperbaiki
posisi bayi sehingga dapat mengurangi bunyi. Jika terjadi hipoksemia berat pada
bayi (ditandai dengan saturasi oksigen <90%) maka sebaiknya diberikan
tambahan oksigen. Tidak ada obat-obatan yang dibutuhkan untuk kelainan ini.5
Sebagian besar anak dengan kelainan ini dapat ditangani secara
konservatif. Pada keadaan ini, hal yang dapat dilakukan adalah memberi
keterangan dan keyakinan utnuk menenangkan orang tua pasien tentang prognosis
dan tindak lanjut yang teratur hingga akhirnya stridor menghilang dan
pertumbuhan yang normal dapat dicapai. Jarang terjadi dimana seorang anak
memiliki kelainan yang signifikan sehingga memerlukan operasi. Trakeostomi
merupakan prosedur pilihan untuk laringomalasia berat. 10
Supraglotoplasti dapat dilakukan pada kasus-kasus yang lebih ringan.
Berdasarkan klasifikasi Olney terdapat tiga teknik supraglotoplasti yang dapat
dilakukan. Teknik yang dipilih tergantung pada kelainan laringomalasianya. Pada
tipe 1, dimana terjadi prolaps mukosa aritenoid pada kartilago aritenoid yang
tumpang tindih, dilakukan eksisi jaringan mukosa yang berlebihan pada bagian
posterolateral dengan menggunakan pisau bedah atau dengan laser CO2.

Laringomalasia tipe 2 dikoreksi dengan cara memotong plika ariepiglotika yang


pendek yang menyebabkan mendekatnya struktur anterior dan posterior
supraglotis. Laringomalasia tipe 3 ditangani dengan cara eksisi melewati ligament
glosoepiglotika untuk menarik epiglottis ke depan dan menjahitkan sebagian dari
epiglottis ke dasar lidah.

Gambar 9. Supraglotoplasti
2.12 Prognosis
Prognosis laringomalasia umumnya baik. Biasanya dapat sembuh sendiri,
dan tidak berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Pada sebagian besar pasien,
gejala menghilang pada usia dua tahun, sebagian lain pada usia satu tahun. Pada
beberapa kasus, walaupun tanda dan gejala menghilang, kelainan tetap ada. Pada
keadaan seperti ini, biasanya stridor akan muncul saat beraktifitas ketika dewasa.12

BAB III
KESIMPULAN

1. Laringomalasia adalah kelainan kongenital pada laring (59,8%) berupa flaksiditas


dan inkoordinasi kartilago supraglotik dan mukosa aritenoid, plika ariepiglotik
dan epiglotis, sehingga terjadi kolaps dan obstruksi saluran napas yang
menimbulkan gejala utama berupa stridor inspiratoris kronik pada bayi dan anak.
2. Secara umum terdapat dua teori patofisiologi laringomalasia, yaitu teori anatomi
dan teori neurogenik. Menurut teori anatomi, terdapat hipotesis bahwa terjadi
abnormalitas kelenturan tulang rawan dan sekitarnya yang menyebabkan
kolapsnya struktur supraglotis. Pada teori neuromuskular, dipercayai terjadinya
disfungsi atau imaturitas dari control neuromuscular.
3. Laringomalasia umumnya dikategorikan ke dalam tiga tipe besar berdasarkan
bagian anatomis supraglotis yang mengalami prolaps walaupun kombinasi apapun
dapat terjadi. Tipe pertama melibatkan prolapsnya epiglotis di atas glotis. Yang
kedua melipatnya tepi lateral epiglotis di atas dirinya sendiri, dan yang ketiga
prolapsnya mukosa aritenoid yang berlebihan ke dalam jalan napas selama periode
inspirasi.
4. Laringomalasia ditegakkan berdasarkan anamnesis (obstruksi jalan napas, tangis
abnormal yang dapat berupa tangis tanpa suara atau disertai stridor inspiratoris
serta kesulitan menelan), pemeriksaan fisik (tampak takipnea ringan), endoskopi
(kolapsnya plika ariepiglotik dan kartilago kuneiform ke sebelah dalam) dan
radiologi.
5. Diagnosis banding laringomalasia adalah hemangioma supraglotik, massa atau
adanya jaringan intraluminal seperti laryngeal web dan kista laring, kelainan
akibat trauma seperti edema dan stenosis supraglotik, maupun kelainan pada pita
suara.
6. Pada lebih dari 99% kasus, satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan adalah
waktu. Lesi sembuh secara berkala, dan stridor rata-rata hilang setelah dua tahun.
Stridor mulanya meningkat pada 6 bulan pertama, seiring bertambahnya aliran
udara pernafasan bersama dengan bertambahnya umur. Pada beberapa kasus,

stridor dapat menetap hingga dewasa. Supraglotoplasti dapat dilakukan pada


kasus-kasus yang lebih ringan
7. Prognosis laringomalasia umumnya baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Adams GL, Boies LR, Higler PA. Boies Buku Ajar THT. Penerbit buku
kedokteran EGC.Jakarta. 1997.
2. Bailey BJ, Calhoun KH. Head and Neck Surgery Otolaringology, Volume
one, 2nd Edition. Lippincott Raven Publishers. Philadelphia, USA.
3.

Ballenger JJ. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher, Jilid
Satu, Edisi 13. Binarupa Aksara. Jakarta. 1994

4. Snell RS. Anatomi Klinik Edisi Ketiga Bagian Ketiga. Jakarta : EGC ;1997. h
156-7.
5. Hermani B, Kartosoediro S, Syahrial MH. Disfonia dan Kelainan Laring.
Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan
Leher. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ;2007. h 231-7.
6. Lee, K.J. Cancer of the Larynx. In; Essential Otolaryngology Head and Neck
Surgery . Eight edition. Connecticut. McGraw-Hill, 2003: 598-606
7. Sadler. Embriologi Kedokteran Langman. Edisi ke-7.2000.Jakarta:EGC
8. Brown Scott : Orolaryngology. 6th ed. Vol. 1. Butterworth, Butterworth & Co
Ltd. 1997. page 1/12/1-1/12/18
9. Moore, E.J and Senders, C.W. Cleft lip and palate. In : Lee, K.J. Essential
Otolaryngology Head and Neck Surgery . Eight edition. Connecticut.
McGraw-Hill, 2003: 241-242.
10. Lusk RP. Congenital Anomalies of The Larynx. Dalam Ballenger JJ, Snow JB.
Otolaryngology Head and Neck Surgery 15th Edition. Baltimore : William &
Wilkins ;1996 p 498-501.
11. Tucker HM. The Larynx, 2nd Edition. Thieme Medical Publishing Division.
Ohio, USA. 1993.
12. Bye

MR.

Laringomalacia.

Available

at

http://www.emedicine.com/

ped/topic1280.htm . Accessed on february 1th 2013.


13. Lalwani AK. Current Diagnosis and Treatment in Otolaringology Head and
Neck Surgery. Lange Medical Book, Mc Graw-Hill Company. New York,
USA. 2004.

14. Cotton RT, Myer CM. Practical Pediatric Otolaryngology. Philadelphia :


Lippincott-Raven Publisher; 1999. p 497-501.
15. Paston

F.

Laringomalacia

and

Tracheomalacia.

Available

at

http://pedclerk.bsd.uchicago.edu/tracheomalacia.html . Accessed on February


1th 2013.
16. Lalwani AK. Current Diagnosis and Treatment in Otolaringology Head and
Neck Surgery. Lange Medical Book, Mc Graw-Hill Company. New York,
USA. 2004.
17. Lee KJ. Essential Otolaringology Head and Neck Surgery, 8th Edition. Mc
Graw-Hill Medical Publishing Division. New York, USA. 2003.
18. Dhingra PL. Disease of Ear, Nose, and Throat, 2nd Edition. BI Churchill
Livingstone. New Delhi. 2002