Anda di halaman 1dari 42

PRESENTASI KASUS

DIARE AKUT DENGAN DEHIDRASI RINGAN


SEDANG

Moderator :
Letnan Kolonel CKM dr. Martaviani B., Mkes, Sp. A
Tutor :
Letnan Kolonel CKM dr. Rachmanto HSA, Sp. A
Disusun oleh :
Kennytha Yoesdyanto
20100710050
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
PERIODE 19 OKTOBER 27 DESEMBER 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkat
dan karunia-Nya sehingga laporan kasus yang berjudul Diare Akut dengan Dehidrasi
Ringan Sedang dapat terselesaikan dengan baik. Laporan kasus ini dibuat sebagai salah
satu tugas dalam kepaniteraan klinik Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Pusat
Angkatan Darat Gatot Soebroto Jakarta.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu,
membimbing dan mengarahkan penulis dalam penulisan laporan kasus, antara lain:
1. dr. Yenny Purnama, Sp. A, selaku Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Anak
2. dr. Adi Kusumadi, Sp. A, selaku Koordinator Pendidikan Ilmu Kesehatan Anak dan
Moderator
3. Letnan Kolonel CKM dr. Rachmanto HSA, Sp. A, selaku tutor
4. Seluruh staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat
Gatot Soebroto Jakarta.
5. Rekan-rekan kepaniteraan klinik Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit
Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto Jakarta.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan kasus ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan ataupun
kekurangan. Penlui juga menerima segala bentuk kritik dan saran yang bertujuan
memperbaiki laporan kasus ini .
Penulis berharap penulisan dan penyajian laporan kasus ini dapat bermanfaat bagi
pembaca pada umumnya.

Jakarta, Maret 2015


Penulis

Daftar Isi
BAB I
STATUS PASIEN

IDENTITAS......................................................................................................................................4
ANAMNESIS...................................................................................................................................5
KELUHAN UTAMA 5
KELUHAN TAMBAHAN
5
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
5
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
7
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
7
RIWAYAT KEHAMILAN IBU 7
RIWAYAT KELAHIRAN
7
RIWAYAT IMUNISASI
8
RIWAYAT PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN ANAK
8
RIWAYAT MAKANAN
8
RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA
9
RIWAYAT KELUARGA
9
PEMERIKSAAN FISIK...............................................................................................................10
STATUS GIZI
10
STATUS GENERALIS
11
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
13
PEMERIKSAAN PENUNJANG..................................................................................................14
RESUME........................................................................................................................................15
DIAGNOSIS BANDING...............................................................................................................15
DIAGNOSIS KERJA....................................................................................................................15
RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG.............................................................................15
PENATALAKSANAAN................................................................................................................16
PROGNOSIS..................................................................................................................................16
FOLLOW UP HARIAN................................................................................................................16

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

18

DIARE AKUT PADA ANAK........................................................................................................18


DEFINISI 18
EPIDEMIOLOGI
18
CARA PENULARAN DAN FAKTOR RESIKO 18
ETIOLOGI 20
PATOGENESIS
20
PATOFISIOLOGI
21
MANIFESTASI KLINIS
23
DIAGNOSIS 24
DERAJAT DEHIDRASI
26
PENATALAKSANAAN
27
KOMPLIKASI
34
PENCEGAHAN
34

BAB III
ANALISIS KASUS 35
DAFTAR PUSTAKA

39
3

BAB I - STATUS PASIEN


A.

IDENTITAS
PASIEN

Nama

: An. D

Tempat/tanggallahir

: Jakarta, 17 Desember 2014

Usia

: 10 bulan 3 hari

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pendidikan

: Belum sekolah

Agama

: Islam

Alamat

:Jl. Duren Tiga, Jakarta Selatan

Suku Bangsa

: Jawa

No. Rekam Medik

:448452

Tanggal Masuk RS

:19 Oktober 2015

ORANG TUA
Data Orang Tua
Umur sekarang
Perkawinan ke
Umur saat menikah
Pendidikan terakhir
Agama
Suka bangsa
Keadaan kesehatan

Ayah Tn. S
31 tahun
1
28 tahun
S1 Ekonomi
Islam
Jawa
Sehat

Ibu Ny. M
26 tahun
1
23 tahun
SMA
Islam
Jawa
Sehat

Penyakit

Hubungan pasien dengan orang tua adalah anak kandung.


B.

ANAMNESIS
Alloanamnesis dengan orangtua pasien pada tanggal 20 Oktober 2015 pukul 07.00
WIB.

KELUHAN UTAMA
BAB cair
KELUHAN TAMBAHAN
Tidak ada
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien seorang anak perempuan berusia 10 bulan 3 hari dengan berat badan 8 kg,
datang ke RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan BAB cair.
Dua hari sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami BAB cair sebanyak lebih
dari 10 kali sehari.BAB cair tanpa ampas, berwarna kuning, tanpa darah, tanpa lendir, tanpa
warna kehitaman dan agak berbau asam atau busuk dengan jumlah kira-kira gelas aqua
gelas setiap kali BAB.Sejak mengalami BAB cair, pasien tampak lemas, lebih rewel dan
aktivitas bermain berkurang.Ibu pasien tidak mengukur suhu tubuh pasien tetapi dirasakan
lebih hangat dari biasanya.Ibu pasien tidak ingat berat badan pasien karena tidak mengukur
berat pasien sehingga tidak diketahui apakah terdapat penurunan berat badan.Ibu pasien
menyangkal adanya riwayat muntah, penurunan kesadaran, sesak, maupun kejang.Selama
diare, ibu pasien tidak terlalu memperhatikan pola BAK pasien namun sempat dilihat agak
kuning dan sedikit lebih pekat dari biasanya.
Satu hari sebelum masuk rumah sakit, orang tua pasien membawa pasien ke RS Ibu
dan Anak karena keluhan BAB cair yang belum berhenti. Di RS tersebut pasien dikatakan
akan dirujuk ke RSPAD untuk dilakukan rawat inap karena fasilitas rawat inap disana
penuh. Frekuensi BAB dan jumlah masih sama dengan konsistensi tetap masih cair tanpa
6

ampas. Demam sempat dialami pasien, namun tidak terlalu panas, orang tua pasien hanya
merasakan badan pasien hangat tetapi suhu tidak pernah diukur. Ibu pasien sempat
memberikan paracetamol yang diberikan dari RS Ibu dan Anak, dan tidak pernah
memberikan antibiotik.
Sejak mengalami BAB cair, pasien mengalami penurunan nafsu makan dan minum
(biasanya minum susu lebih dari 10 kali/hari@ 150 ml, makan nasi tim3x
mangkok).Namun pasien masih mau minum dengan jumlah 600ml sehari ditambah dengan
ASI, dan masih mau makan namun hanya mangkok nasi tim 3x sehari.
Selama perawatan BAB cair sudah berkurang, BAB cair sebanyak 8 kali dan sudah
mulai ada sedikit ampas.BAB cair berwarna kuning kehijauan, tidak ada darah dan
lendir.Demam disangkal tetapi jika dirasakan hangat, ibu pasien memberikan obat
demam.Nafsu makan pasien membaik tetapi masih tidak sebanyak sebelum BAB cair.
Pada hari perawatan ke 2, BAB cair sebanyak 6 kali dengan sudah lebih banyak
ampasnya.BAB cair berwarna kuning, tidak ada lendir dan darah.Tidak ada demam maupun
muntah.Nafsu makan pasien sudah lebih baik tetapi masih belum banyak.
Pasien masih mengkonsumsi ASI sejak lahir sampai sekarang namun ketika usia 6
bulan ditambah dengan susu formula dan makanan pendamping. Biasanya ibu pasien sendiri
yang selalu membersihkan dan menyiapkan makanan dan minuman pasien, botol susu
dicuci dengan air kran, dan ibu mengaku tidak selalu mencuci tangan sebelum memegang
pasien atau ketika menyiapkan makanan. Sewaktu pasien sudah diberikan makanan
pendamping ASI berupa susu, tidak pernah ada keluhan diare. Hasil tinja pasien selalu
langsung dibuang dan ibu pasien selalu rutin membersihkan.
Orang tua pasien mengaku tidak ada yang memiliki keluhan serupa di keluarga
maupun lingkungan sekitar pasien.Selama beberapa hari ini, pasien juga tidak memiliki
riwayat mengkonsumsi obat-obatan lainnya.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien pernah mengalami keluhan BAB cair sebelumnya saat usia pasien 7 bulan 20
hari dan dirawat di RSPAD Gatot Soebroto dengan lama perawatan 1 hari, dan dikatakan
hanya terkena infeksi virus. Tidak ada riwayat alergi dan asma pada pasien.
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Tidak ada

RIWAYAT KEHAMILAN IBU


Pasien merupakan anak pertama dari ibu P1A0 dengan usia kehamilan 40 minggu.

Ibu pasien mengatakan telah melakukan pemeriksaan kehamilan rutin ke dokter


kebidanan dan kandungan di RSPAD Gatot Soebroto dengan jumlah 1 kali sebulan saat
trimester pertama, 2 kali sebulan saat trimester kedua dan 4 kali sebulan saat trimester
ketiga.

Ibu pasien juga mengatakan telah melakukan pemeriksaan USG 2 kali pada trimester
ketiga di RSPAD Gatot Soebroto.

Selama kehamilan ibu mengaku dalam kondisi sehat, tidak mengonsumsi obat-obatan
selain vitamin kehamilan, tidak pernah minum minuman beralkohol, dan tidak merokok.

Riwayat abortus dan lahir mati tidak ada

RIWAYAT KELAHIRAN
Tempat lahir
Penolong
Cara persalinan
Berat lahir/ Panjang lahir
Masa gestasi
Keadaan bayi setelah lahir

:
:
:
:
:
:

RSPAD Gatot Soebroto


Dokter
Normal
2.800 gram/ 50 cm
Cukup bulan
Langsung menangis, bergerak aktif, terdapat respon

melawan, frekuensi nadi dalam batas normal dan warna kulit tubuh tampak kemerahan

Nilai APGAR
: 8/9
Kelainan bawaan
: Tidak ada
Kesan: Riwayat kelahiran baik
8

RIWAYAT IMUNISASI
JenisImunisasi

II

III

IV

BCG
DPT

2 bulan
2 bulan

4 bulan

6 bulan

Polio
Campak
Hepatitis B

Lahir
9 bulan
Lahir

2 bulan
1 bulan

4 bulan
6 bulan

6 bulan
-

Imunisasi rotavirus belum pernah dilakukan.


Kesan : imunisasi dasar lengkap dan imunisasi ulangan lengkap belum dilakukan

RIWAYAT PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN ANAK


Pertumbuhan gigi pertama : 4 bulan
Perkembangan Psikomotor
o Menegakkan kepala
: 3 bulan
o Tengkurap
: 4 bulan
o Duduk
: 7 bulan
o Merangkak
: 8 bulan
o Berdiri
: 10 bulan
o Berjalan
:belum bisa
o Bicara
: belum bisa
Kesan : pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai umur

RIWAYAT MAKANAN
Usia (bulan)
ASI/ PASI
0-2
ASI+ Susu formula
2-4
ASI+ Susu formula
4-6
ASI+ Susu formula
6-8
ASI+ Susu formula
8-10
ASI+ Susu formula

Buah/ Biskuit
-/-/Biskuit
Biskuit
Biskuit

Bubur Susu
Bubur Susu
Bubur Susu

Nasi Tim
Nasi Tim
Nasi Tim

Kesan : asupan makanan cukup.


RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA
Penyakit
Usia
Penyakit
Diare
7 bulan 20 hari
Morbili
Otitis
Parotitis

Usia
9

Radang paru
Tuberkulosis
Kejang
Ginjal
Jantung
Darah
Difteri
Asma
Penyakit kuning
Batuk berulang

Demam berdarah
Demam tifoid
Cacingan
Alergi
Pertusis
Varicella
Biduran
Kecelakaan
Operasi
Lain-lain

RIWAYAT KELUARGA
Corakan reproduksi ibu
Usia ibu saat hamil adalah 25 tahun dengan jumlah kelahiran sekali. P1A0
o
No.

Tanggal Lahir

Jenis

Hidup

Kelamin
(umur)
10bulan 3 hari

1.

Perempuan

Lahir

Abortus Keterangan

Mati

Pasien

Anggota keluarga lain yang serumah :Orang tua dan nenek pasien
Status rumah tinggal
:Rumah milik nenek pasien
Keadaan rumah
:Terdapat 3 kamar tidur, 1 kamar mandi,
ventilasi baik, pencahayaan baik, rumah dibersihkan setiap hari, menggunakan air PAM

untuk keperluan sehari-hari.


Keadaan lingkungan

: Tinggal didaerah kompleks perumahan dengan

lingkungan rumah bersih, tidak padat penduduk, bukan merupakan kawasan industri dan
jauh dari jalan raya utama. Tidak merupakan daerah rawan banjir dan jumlah pepohonan
kurang.

C.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum

Tampak sakit sedang

Kesadaran

Compos mentis (E4M6V5)

10

Tanda vital
Tekanan darah
Frekuensi nadi
Pernapasan

: 110/70 mmHg
: 118 kali per menit, reguler, isi cukup, ekual
: 27 kali per menit, regular, tipe pernapasan Torako-

abdominal
Suhu tubuh

: 37,3 oC

Data antropometri
Berat badan
Tinggi badan

:
:

8.0 kg
70.0 cm

Berat badan ideal menurut usia

Tinggi badan ideal menurut usia :

8,5 kg
71,5 cm

Status Gizi
Status Gizi ( menurut grafik WHOuntuk anak perempuan) :
BB/U = (BB sekarang/ BB ideal menurut kurva) x 100%
= (8.0/8.5) x 100% = 94% (wellnourished), (z-scores antara 0 dan -2)
TB/U = (TB sekarang/ TB ideal menurut kurva) x 100
= (70.0/ 71.5)x 100%= 97.9%(z-scores antara 0 dan -2)
BB/TB = (BB sekarang/ BB ideal menurut TB) x 100
= (8.0/ 8.2)x 100% = 97.5 % (normal) (z-scores antara 0 dan -1)

Kesan status gizi : gizi baik.


Status Generalis
Dilakukan pada tanggal 20 Oktober 2015, pukul 07.00 WIB.
Kepala
Bentuk dan ukuran

Normocephal
11

Rambut

Wajah
Mata

:
:

Berwarna hitam, distribusi merata, tidak mudah


dicabut
Tidak tampak adanya edema
Konjungtiva tidak terlihat anemis, sklera tidak
ikterik, palpebra superior dan inferior kanan dan kiri
tidak

edema,

tidak

terdapat

perdarahan

pada

subkonjungtiva, kornea dan lensa jernih, pupil bulat


dan isokor dengan diameter 3 mm, refleks cahaya
langsung dan tidak langsung positif, bola mata normal
Telinga

dan mata tampak sedikit cekung.


Normotia, simetris kanan dan kiri, liang telinga
lapang, tidak ada serumen, tidak ada sekret, tidak ada

Hidung

darah, dan gendang telinga sulit dinilai.


Bentuk dan posisi normal, tidak ada napas cuping
hidung, tidak ada deviasi septum, mukosa tidak
hiperemis, konka tidak hipertrofi dan tidak hiperemis,

Tenggorokan
Mulut

:
:

tidak ada sekret dan tidak ada epistaxis.


Faring tidak hiperemis dan tonsil T1-T1 tenang.
Tidak sianosis, mukosa bibir kering, lidah tidak kotor
dan tidak tremor, gusi tidak hipertrofi, tidak hiperemis
dan tidak terdapat perdarahan pada gusi.

Leher
Bentuk normal, kulit normal, pergerakan bebas ke segala arah, tidak teraba pembesaran
kelenjar getah bening, kelenjar gondok tidak membesar dan tidak ada deviasi trakea.
Toraks

12

Paru-paru
Kiri
Inspeksi
Kanan

Kiri

Palpasi

Kanan

Perkusi

Auskultasi

Depan

Belakang

Simetris saat statis dan dinamis

Simetris saat statis dan dinamis


Tidak ada retraksi sela iga

Tidak ada retraksi sela iga


Simetris saat statis dan dinamis

Simetris saat statis dan dinamis

Tidak ada retraksi sela iga


- Tidak ada benjolan

Tidak ada retraksi sela iga


- Tidak ada benjolan

- Vokal fremitus simetris


- Nyeri tekan tidak ada

- Vokal fremitus simetris


- Nyeri tekan tidak ada

Sela iga normal


- Tidak ada benjolan

Sela iga normal


- Tidak ada benjolan

- Vokal fremitus simetris


- Nyeri tekan tidak ada

- Vokal fremitus simetris


- Nyeri tekan tidak ada

Sela iga normal


Kiri
Sonor di seluruh lapang paru
Kanan Sonor di seluruh lapang paru
- Suara Vesikuler

Sela iga normal


Sonor di seluruh lapang paru
Sonor di seluruh lapang paru
- Suara vesikuler

Kiri

- Ronki tidak ada

- Ronki tidak ada

- Wheezing tidak ada


- Suara vesikuler

- Wheezing tidak ada


- Suara vesikuler

Kanan - Ronki tidak ada


- Wheezing tidak ada

- Ronki tidak ada


- Wheezing tidak ada

Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

Iktus cordis tidak terlihat


Iktus cordis teraba 1 jari pada sela iga ke-4 garis midclavicula sinistra
Tidak dilakukan
Bunyi jantung I dan II reguler, tidak ada murmur, tidak ada gallop

Abdomen
13

Inspeksi

Datar, supel, tidak ada lesi, tidak terlihat penonjolan masa, dilatasi vena (-),
bekas operasi (-)

Auskultasi Bising usus (+) normal 8x/menit, metallic sound (-), bruit aorta (-)
Palpasi

Perkusi

Dinding perut: supel, defans muskular (-), nyeri tekan epigastrium (-)
Hati:hepar tidak teraba pembesaran

Limpa: tidak teraba pembesaran


Ginjal: tidak teraba, ballotement negatif, nyeri ketok CVA tidak ada.
Timpani pada seluruh regio abdomen, tidak ada nyeri ketok kostovertebrae

Tulang Belakang
Tidak tampak skoliosis, kifosis, dan lordosis.
Ekstremitas
Akral hangat, tidak ada edema, tidak ada sianosis, tonus otot baik, telapak tangan kanan
dan kiri tidak pucat, telapak kaki kanan dan kiri tidak pucat dan capillary refill time
(CRT) < 2 detik.
Kulit
Turgor balik lambat, tidak ada eritema palmaris

Pemeriksaan Neurologis
Refleks Fisiologis
Refleks Biseps
Refleks Triseps
Refleks Patella
Refleks Achilles
Refleks Patologis
Refleks Hoffmann-Trommer
Refleks Babinski
Refleks Oppenheim

:
:
:

+/+
+/+
+/+

+/+

:
:
:

-/-/-/-

14

D.

Refleks Chaddock

-/-

Tanda Rangsang Meningeal


Kaku Kuduk
Brudzinski I
Brudzinski II
Kernig sign
Lasegue sign

:
:
:
:
:

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hasil pemeriksaan laboratorium selama perawatan


Jenis Pemeriksaan
HEMATOLOGI
Hemoglobin
Hematokrit
Eritrosit
Leukosit
Trombosit
MCV
MCH
MCHC
KIMIA KLINIK
Natrium (Na)
Kalium (K)
Klorida (Cl)
FAECES RUTIN
Makroskopik
Darah
Lendir
Eritrosit
Leukosit
Amoeba
Telur Cacing
Serat

19/10/15

Nilai Rujukan

12,8
38
5,2
7870
398000
81
27

13-18 g/dl
40-52 %
4,3 6,0 Juta/L
4.800-10.800/L
150.000-400.000/L
80-96 fL
27-32 pq

33

32-36 g/dl

142
5,1
110

132-145 mmol/L
3,1-5,1 mmol/L
96-111 mmol/L

Lunak
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Positif

Lunak
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Positif

15

E.

RESUME
Pasien seorang anak perempuan berusia 10 bulan dengan berat badan 8 kg datang ke

RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan utama BAB cair sebanyak lebih dari 10 kali sehari
sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. BAB cair tanpa ampas, berwarna kuning, tanpa
darah, tanpa lendir, tanpa warna kehitaman dan agak berbau asam atau busuk dengan jumlah
gelas setiap kali BAB.Sejak mengalami BAB cair, pasien tampak lemas, lebih rewel dan
aktivitas bermain berkurang.Nafsu makan pasien menurun tetapi pasien masih mau
minum.Pasien masih minum ASI eksklusif dengan makanan pendamping.Ketika ditambah
susu formula, pasien tidak mengalami keluhan BAB cair.Ibu pasien tidak selalu mencuci
tangan sebelum maupun sesudah memegang pasien.Riwayat imunisasi wajib lengkap,
namun pasien belum pernah melakukan imunisasi Rotavirus.Pasien hanya mengkonsumsi
paracetamol dan tidak mengkonsumsi obat lain seperti antibiotik.
Dari hasil pemeriksaan fisik,ditemukantanda-tanda vital dalam batas normal, ubunubun besar agak cekung, mata tampak sedikit cekung dan masih terdapat air mata. Mukosa
bibir sedikit kering.Turgor kulit menurun > 2 detik.Bising usus masih dalam batas normal
yaitu 8 kali per menit.Dari penilaian status gizi berdasarkan status antropometri juga dalam
batas normal.
Dari hasil pemeriksaan penunjang yaitu laboratorium,hasildalam batas normal.

F.

DIAGNOSIS BANDING

G.

Diare akut dengan dehidrasi ringansedanget causa virus


Diare akut dengan dehidrasi ringansedang et causa bakteri

DIAGNOSIS KERJA
Diare akut dengan dehidrasi ringansedang et causa virus

16

H.

RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tidak dilakukan

PENATALAKSANAAN

I.

ASI dan susu formula dilanjutkan


Diet makanan lunak 3 kali sehari, kalori 820 kcal
IVFD KaEn 3B800 cc/24 jam
Paracetamol sirup3x80mg (p.r.n)
Tablet Zinc 1x20 mg (p.o)
Preparat probiotik 2x1 sach I (p.o)
Oralit 1 sach setiap kali BAB cair

PROGNOSIS

J.

Qua ad vitam
: bonam
Qua ad functionam : bonam
Qua ad sanationam : dubia ad bonam

FOLLOW UP HARIAN
Tanggal 24Juni 2014
S

Tanggal 25Juni 2014

Hari perawatan ke I
Hari perawatan ke II
Pasien masih mengalami BAB cair Pasien masih mengalami BAB cair
sudah berkurang, BAB cair sebanyak 8 sebanyak 4 kali, sudah lebih banyak
kali dan sudah mulai ada ampas sedikit, ampas, warna kuning kehijauan, tidak
tidak ada lendir dan darah, berwarna ada darah dan lendir. Demam
kuning. Demam (-). Sudah mau (-).Pasien sudah mau makan dan
minum, masih menolak makan.
minum.
KU : Tampak sakit sedang, rewel
KU : Tampak sakit ringan
Kes: Composmentis
Status mental: tampak rewel
BB: 8,1 Kg
Tanda-tanda vital :
Nadi : 114 x/menit

Kes: Composmentis
Status mental: tampak tenang, bergerak
aktif
BB: 8,3 Kg
Tanda-tanda vital :
17

Pernapasan : 26 x/menit.
Suhu : 36.60C
Kepala : nomochepal, UUB agak
cekung
Mata : mataagak cekung +/+, tidak
ada Konjungtiva anemis , tidak ada
sclera ikterik.
Telinga : liang telinga lapang, sekret -/Hidung : sekret -/-, tidak ada napas
cuping hidung.
Mulut: mukosa bibir lembab, tidak ada
sianosis
Leher : tidak ada pembesaran KGB
Thorax :
BJ I-II regular, tidak ada murmur, tidak
ada gallop.
Suara napas Vesikuler, tidak ada
Rhonki dan Wheezing.
Abdomen : datar, bising usus normal
7x/menit,
supel,
turgor
kulit
memanjang, Hepar dan Lien tidak
teraba.

Nadi : 113 x/menit


Pernapasan : 24x/menit.
Suhu : 36.40C
Kepala : nomochepal, UUB datar.
Mata : matacekung -/-, tidak ada
Konjungtiva anemis , tidak ada sclera
ikterik.
Telinga : liang telinga lapang, sekret -/Hidung : sekret -/-, tidak ada napas
cuping hidung.
Mulut: mukosa bibir lembab, tidak ada
sianosis
Leher : tidak ada pembesaran KGB
Thorax :
BJ I-II regular, tidak ada murmur, tidak
ada gallop.
Suara napas Vesikuler, tidak ada
Rhonki dan Wheezing.
Abdomen : datar, bising usus normal
7x/menit, supel, turgor kulit baik,
Hepar dan Lien tidak teraba.
Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2


Diare
akut
dengan
dehidrasi Diare
akut
dengan
dehidrasi
ringansedang et causa Rotavirus.
ringansedang et causa Rotavirus.

IVFD KaEn 3B 800cc/24jam


Tablet Zinc 1x20 mg (p.o)
Preparat probiotik 2x1 sach
(p.o)
Oralit setiap kali BAB cair

IVFD KaEn 3B 800cc/24jam


Tablet Zinc 1x20 mg (p.o)
Preparat probiotik 2x1 sach
(p.o)
Oralit setiap kali BAB cair

18

19

BAB II - TINJAUAN PUSTAKA


DIARE AKUT PADA ANAK
DEFINISI
Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau
lebih cair dari biasanya terjadi lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Diare akut adalah buang air
besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari, disertai perubahan konsistensi tinja
menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari 1 minggu.
Pada bayi yang minum ASI sering frekuensi buang air besarnya lebih dari 3-4 kali per hari,
keadaan ini masih bersifat fisiologis atau normal. Selama berat badan bayi meningkat
normal maka tidak tergolong diare, tetapi merupakan intoleransi laktosa sementara akibat
belum sempurnanya perkembangan saluran cerna.1
EPIDEMIOLOGI
Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang,
termasuk di Indonesia dan merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan tertinggi
pada anak, terutama usia di bawah 5 tahun. Di dunia, sebanyak 6 juta anak meninggal tiap
tahunnya karena diare dan sebagian besar kejadian tersebut terjadi di negara berkembang.
Berdasarkan Riskesdas 2007, sebanyak 42% kematian bayi disebabkan oleh diare, untuk
golongan 1-4 tahun, kematian akibat diare mencapai 25.5%.2
CARA PENULARAN DAN FAKTOR RISIKO
Cara penularan diare pada umumnya melalui cara fekal-oral yaitu melalui makanan
atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung tangan dengan
penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui
lalat.Singkatnya, dapat dikatakan melalui 4F yakni finger (jari), flies (lalat), fluid (cairan),
dan field (lingkungan). Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen
antara lain2,3:

Tidak memberikan ASI secara penuh untuk 46 bulan pertama kehidupan


Tidak memadainya penyediaan air bersih
Pencemaran air oleh tinja
Kurangnya sarana kebersihan (MCK)
Kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk
Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis
Gizi buruk
Imunodefisiensi
Berkurangnya asam lambung menurunnya motilitas usus
menderita campak dalam 4 minggu terakhir
Faktor genetic
Faktor lainnya:
o Faktor umur
Sebagian besar episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insidensi
tertinggi terjadi pada kelompok umur 6-11 bulan pada saat diberikan makanan
pendamping ASI.Pola ini menggambarkan kombinasi efek penurunan kadar
antibodiibu, kurangnya kekebalan aktif bayi, pengenalan makanan yang mungkin
terkontaminasi bakteri tinja dan kontak langsung dengan tinja manusia atau
binatang pada saat bayi mulai merangkak.
o Infeksi asimtomatik
Proporsi asimtomatik ini meningkat
dikarenakan pembentukan imunitas aktif.

setelah
Pada

umur

tahun

infeksi asimtomatik yang

mungkin berlangsung beberapa hari atau minggu, tinja penderita mengandung


virus, bakteri, atau kista protozoa yang infeksius.
o Faktor musim
Di daerah tropik (termasuk Indonesia), diare yang disebabkan oleh rotavirus
dapat terjadi sepanjang tahun dengan peningkatan sepanjang musim kemarau,
sedangkan diare karena bakteri cenderung meningkat pada musim hujan.
o Epidemi dan pandemic
Vivrio cholera 0.1 dan Shigella dysentriae 1dapatmenyebabkan epidemi dan
pandemi yang mengakibatkan tingginya angka kesakitan dan kematian pada
semuagolongan usia.
ETIOLOGI
Penyebab infeksi utama pada diare adalah golongan virus, bakteri dan parasit. Pada
golongan virus, yang dapat menyebabkan diare akut adalah Astrovirus, Enteric Adenovirus,
21

Coronavirus, Rotavirus, Norwalk virus. Pada golongan bakteri, yang dapat menyebabkan
diare akut adalah Aeromonas, Bacillus cereus, Campylobacter jejuni, Clostridium
perfringens, Clostidium defficile, Eschericia coli, Salmonella, Shigella, Staphylococcus
aureus, Vibrio cholera, Yersinia enterocolitica. Pada golongan parasit, yang dapat
menyebabkan diare akut adalah Balantidium coli, Entamoeba histolitica, Giardia lamblia,
Strongyloides Stercoralis, Trichuris trichiura. 2,4
Namun, telah diketahui bahwa penyebab utama diare pada anak adalah rotavirus.
Rotavirus diperkirakan sebagai penyebab diare akut pada 20-8-% anak di dunia. Juga
merupakan penyebab kematian pada 440.000 anak dengan diare per tahunnya di seluruh
dunia. Penelitian yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 55% kasus diare
akut pada balita disebabkan oleh rotavirus.2
PATOGENESIS
Patogenesis diare yang diakibatkan oleh virus diawali oleh hancurnya sel-sel ujungujung villus pada usus halus. Kerusakan pada villus ini akan menyebabkan terjadinya
gangguan absorpsi usus halus. Villus mengalami atrofi dan tidak dapat mengabsorbsi cairan
dan makanan dengan baik. Selanjutnya, cairan dan makanan yang tidak terserap/tercerna
akan meningkatkan tekanan koloid osmotik usus halus dan terjadi hiperperistaltik usus
sehingga cairan beserta makanan yang tidak terserap terdorong keluar usus melalui anus,
menimbulkan diare osmotik dari penyerapan air dan nutrien yang tidak sempurna.Enterosit
villus bagian atas juga berfungsi untuk menghidrolisis disakarida. Dengan rusaknya villus
tersebut akibat virus, maka akan terjadi juga malabsorbsi karbohidrat kompleks, terutama
laktosa.2,5
Rotavirus adalah penyebab terpenting diare terlebih karena sering terjadi pada anak
kurang dari 2 tahun. Rotavirus sendiri memiliki 4 serotipe pada manusia. Infeksi dengan 1
jenis serotipe menyebabkan imunitas yang tinggi terhadap serotipe tersebut dan
memberikanperlindungan sebagian terhadap serotipe yang lain. Hampir semua anak
terinfeksi paling tidak sekali sebelum berumur 2 tahun, dan infeksi ulangan sering terjadi.

22

Patogenesis diare yang diakibatkan oleh bakteri terjadi melalui salah satu mekanisme
yang berhubungan dengan pengaturan transpor ion dalam sel-sel usus, seperti cAMP, cGMP
dan Ca dependen. Patogenesis terjadinya diare yang disebabkan oleh Salmonella, Shigella,
E coli agak berbeda dengan patogenesis diare akibat virus. Pada bakteri, terjadi invasi ke
dalam sel mukosa usus halus sehingga dapat mengakibatkan reaksi sistemik.2
PATOFISIOLOGI
Secara umum, diare disebabkan 2 hal yaitu gangguan pada proses absorbsi atausekresi.
Terdapat beberapa pembagian diare:
1. Pembagian diare menurut etiologi
2. Pembagian diare menurut mekanismenya yaitu gangguan absorbsi dan gangguan
sekresi.
3. Pembagian diare menurut lamanya diare
a. Diare akut yang berlangsung kurang dari 14 hari
b. Diare kronik yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi non-infeksi
c. Diare persisten yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi infeksi
Secara umum, diare disebabkan karena 2 hal, yaitu gangguan pada proses absorbsi
atau pada proses sekresi. Diare akibat gangguan absorpsi yaitu volume cairan yang berada di
kolon lebih besar daripada kapasitas absorbsi. Terdapat gangguan pada usus halus atau
kolon yang mengakibatkan terjadinya penurunan pada proses absorpsi atau peningkatan
proses sekresi. Diare juga dapat terjadi akibat gangguan motilitas, inflamasi dan
imunologi.2,6
Mukosa usus halus adalah epitel berpori, yang dapat dilewati air dan elektrolit
dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara isi usus dengan cairan
ekstraseluler. Diare akan terjadi jika terdapat suatu bahan yang aktif secara osmotik dan sulit
diserap. Diare akibat gangguan absorpsi atau diare osmotik dapat disebabkan karena : a)
Konsumsi magnesium hidroksida, sehingga menurunkan fungsi absorpsi usus; b) Defisiensi
sukrase-isomaltase; c) Adanya bahan yang tidak diserap, menyebabkan bahan intraluminal
pada usus halus bagian proksimal akan bersifat hipertonis dan menyebabkan
hiperosmolaritas. Akibat adanya perbedaan tekanan osmotik antara lumen usus dan darah,
maka pada segmen jejunum yang bersifat permeabel, air akan mengalir ke arah lumen
23

jejunum, dan air akan terkumpul di dalam lumen usus. Na akan mengikuti masuk ke dalam
lumen, dengan demikian akan terkumpul cairan intraluminal yang besar dengan kadar Na
yang normal.2
Diare akibat malabsorpsi umum biasanya disebabkan akibat kerusakan sel (yang
secara normal akan menyerap Na dan air) daoat disebabkan oleh infeksi virus atau kuman,
seperti Salmonella, Shigella atau Campylobacter. Dapat juga disebabkan akibat inflamatory
bowel disease idiopatik, toksin, atau obat-obatan tertentu. Gambaran karakteristik penyakit
yang menyebabkan malabsorpsi usus halus adalah atrofi villi.2
Diare akibat gangguan sekresi atau diare sekretorik dapat terjadi karena sekresi air
dan elektrolit ke dalam usus halus. Hal ini terjadi bila absorpsi natrium oleh villi gagal
sedangkan sekresi klorida di sel epitel berlangsung terus atau meningkat. Hasil akhirnya
adalah sekresi cairan yang menyebabkan dehidrasi. Penyebab lainnya adalah hiperplasia
kripta, luminal secretagogues, dan blood-borne secretagogeus. Hiperplasia kripta umumnya
akan menyebabkan atrofi villi. Pada luminal secretagogues, sekresi lumen dipengaruhi oleh
enterotoksin bakteri dan bahan kimia yang dapat menstimulasi seperti laksansia, garam
empedu bentuk dihidroxyl, serta asam lemak rantai panjang. Pada blood-borne
secretagogeus, diare umumnya disebabkan karena enterotoksin E. Coli atau Cholera.2
Diare akibat gangguan peristaltik disebabkan karena adanya perubahan motilitas
usus yang akan berpengaruh terhadap absorpsi. Baik peningkatan ataupun penurunan
motilitas, keduanya dapat menyebabkan diare. Penurunan motilitas dapat mengakibatkan
bakteri tumbuh berlebihan yang pada akhirnya dapat menuebabkan diare. Diare akibat
hiperperistaltik pada anak jarang terjadi. Watery diare dapat disebabkan karena
hipermotilitas pada kasus kolon iritable pada bayi.2
Diare akibat inflamasi dapat terjadi akibat hilangnya sel-sel epitel dan kerusakan
tight junction, sehingga menyebabkan air, elektrolit, mukus dan protein menumpuk di dalam
lumen. Biasanya diare akibat inflamasi berkaitan dengan tipe diare lain seperti diare osmotik
dan diare sekretorik. Bakteri enteral patogen akan mempengaruhi struktur dan fungsi tight
junction, menginduksi sekresi cairan dan elektrolit, dan akan mengaktifkan kaskade
24

inflamasi. Efek infeksi bakterial pada tight junction akan mempengaruhi susunan anatomis
dan fungsi absorpsi dan perubahan susunan protein. Penelitian oleh Berkes J dkk. 2003
menunjukkan bahwa peranan bakteri enteral patogen pada diare terlerak pada perubahan
barrier tight junction oleh toksin atau produk kuman yaitu perubahan pada cellular
cytoskeleton dan spesifik tight junction. Pengaruh dari salah satu atau kedua hal tersebut
akan menyebabkan terjadinya hipersekresi klorida yang akan diikuti oleh natrium dan air.2,7
Diare yang terkait imunologi dihubungkan dengan reaksi hipersensitivitas tipe I, III
dan IV. Reaksi tipe I yaitu terjadi reaksi antara sel mast dengan IgE dan alergen makanan.
Reaksi tipe III misalnya pada penyakit gastroenteropati, sedangkan reaksi tipe IV terdapat
pada Coeliac disease dan protein loss enteropaties. Mediator-mediator kimia hasil dari
respon imun akan menyebabkan luas permukaan mukosa berkurang akibat kerusakan
jaringan, merangsang sekresi klorida diikuti oleh natrium dan air.2
MANIFESTASI KLINIS
Infeksi usus dapat memberikan gejala berupa gangguan pada sistem gastrointestinal
berupa diare, kram perut dan muntah. Apabila telah terjadi komplikasi ekstra intestinal,
maka dapat pula ditemukan manifestasi neurologik maupun sistemik yang akan berbedabeda sesuai dengan penyebabnya.2
Pasien diare dapat mengalami dehidrasi, asidosis metabolik maupun hipokalemia
yang disebabkan karena kehilangan cairan tubuh secara terus menerus tanpa diimbangi oleh
intake cairan yang cukup. Pada pasien diare, terjadi kehilangan ion-ion seperti natrium,
klorida dan bikarbonat, sehingga terjadi gangguan keseimbangan elektrolit. Apabila terjadi
dehidrasi, jika tidak diobati dengan cepat dan tepat dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps
kardiovaskular dan kematian.2,8
Apabila sudah terjadi infeksi ekstraintestinal, pasien akan menunjukkan manifestasi
neurologis berupa paresthesia, hipotoni, dan kelemahan otot. 2Bila terdapat demam,
kemungkinan hal ini terjadi akibat proses peradangan atau akibat dehidrasi. Gejala ini
umumnya terjadi pada inflammatory diare. Nyeri perut yang lebih hebat dam tenesmus yang
terjadi pada perut bagian bawah serta rektum terjadi bila terjadi infeksi pada usus besar.2
25

Mual dan muntah merupakan tanda non-spesifik yang diakibatkan oleh infeksi
saluran cerna bagian atas seperti enterik virus, bakteri yang memproduksi enterotoksin,
Giardia, dan Cryptosporidium. Muntah juga sering terjadi pada diare non inflammatory.2,9
Gejala
Klinik

Rotavirus

Shigella

Salmonella

ETEC

EIEC

Kolera

17-72 jam

24-48 jam

6-72 jam

6-72 jam

6-72 jam

47-72 jam

++

++

++

Sering

Jarang

Sering

Nyeri perut

Tenesmus
5-7 hari

Tenesmus
kolik
+
3-7 hari

Nyeri kepala
Lamanya
sakit

Tenesmus
kramp
+
>7 hari

2-3 hari

Tenesmus
kramp
variasi

Sering
kramp
3 hari

Sifat Tinja
Volume
Frekuensi

Sedang
5-10x/hari

Sedikit
>10x/hari

Sedikit
Sering

Banyak
Sering

Sedikit
Sering

Konsistensi
Darah
Bau
Warna

Cair
Langu
Kuning hijau

Lembek

Merah hijau

Lembek
Kadang
Busuk
kehijauan

Cair
+
Tak berwarna

Lembek
+
Merah-hijau

Leukosit
Lain-Lain

Anoreksia

+
Kejang

+
Sepsis +

Metorismus

Infeksi
sistemik

Banyak
Terus
Menerus
Cair
Amis khas
Seperti air
cucian beras

Masa tunas
Panas
Mual
muntah

Tabel 1 Gejala khas diare akut oleh berbagai penyebab.


DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Pada anamnesis perlu ditanyakan hal-hal sebagai berikut: lama diare,
frekuensi, volume, konsistensi tinja, warna, bau, ada/tidak lendir, dan darah. Bila
disertai muntah: volume dan frekuensinya. Kencing: biasa, berkurang, jarang, atau
tidak kencing dalam 6-8 jam terakhir. Makanan dan minuman yang diberikan
selama diare. Adakah panas atau penyakit lain yang menyertai seperti batuk, pilek,
otitis media, campak. Tindakan yang telah dilakukan ibu selama anak diare:
member oralit, membawa berobat ke Puskesmas atau ke Rumah Sakit dan obatobatan yang diberikan serta riwayat imunisasinya.
26

2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh, frekuensi
denyut jantung dan pernafasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tandatanda utama dehidrasi: kesadara, rasa haus, dan turgor kulit abdomen dan tandatanda tambahan lainnya, seperti ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata cowong
atau tidak, ada atau tidak adanya air mata, bibir, mukosa mulut, dan lidah kering atau
basah. Pernafasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asidosis metabolic.
Bisingusus

yang

lemah

atau

tidak

ada

bila

terdapat

hipokalemi.

Pemeriksaanekstremitas perlu karena perfusi dan capillary refill dapat menentukan


derajat dehidrasi yang terjadi.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan tinja tidak rutin dilakukan pada diare akut, kecuali apabila ada
tanda intoleransi laktosa dan kecurigaan amubiasis. 2
Hal yang dinilai pada pemeriksaan tinja adalah pada pemeriksaan
makroskopis dinilai konsistensi, warna, apakah terdapat lendir, apakah terdapat
darah, dan baunya. Pada pemeriksaan mikroskopis, dinilai hitung leukosit, eritrosit,
parasit dan bakteri. Pada pemeriksaan kimia, dinilai pH, clinitest, dan elektrolit (Na,
K, HCO3). Sedangkan pemeriksaan biakan dan uji sensitivitas tidak dilakukan pada
diare akut.2,3,4
Dapat pula dilakukan analisis gas darah dan elektrolit bila secara klinis
dicurigai adanya gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit..2
DERAJAT DEHIDRASI
Penilaian berat atau derajat dehidrasi dapat ditentukan dengan cara objektif yaitu
dengan membandingkan berat badan sebelum dan selama diare dan subjektif dengan
menggunakan kriteria WHO, Skor Maurice King, kriteria MMWR dan lainnya 10.
Penentuan derajat dehidrasi menurut MMWR 2003
Simptom

Kesadaran

Minimal atau tanpa


dehidrasi,
Kehilangan BB <3%
Baik

Denyut jantung

Normal

Dehidrasi
RinganSedang, Kehilangan
BB 3%-9%
Normal, lelah, gelisah,
irritable
Normal-meningkat

Dehidrasi
Berat,
Kehilangan BB > 9%
Apatis, letargi, tidak
sadar
Takikardia, bradikardia

27

Kualitas nadi

Normal

Normal-melemah

Pernapasan
Mata
Air mata
Mulut dan lidah
Cubitan kulit
Capillary refill
Ekstremitas

Normal
Normal
Ada
Basah
Segera kembali
Normal
Hangat

Normal-cepat
Sedikit cowong
Berkurang
Kering
Kembali < 2 detik
Memanjang
Dingin

Kencing

Normal

Berkurang

pada kasus berat


Lemah,
kecil,
tak
teraba
Dalam
Sangat cowong
Tidak ada
Sangat kering
Kembali > 2 detik
Memanjang, minimal
Dingin,
mottled,
sianotik
minimal

Penentuan derajat dehidrasi menurut system pengangkaan-Maurice King (1974)


Bagian Tubuh Yang
Diperiksa
Keadaan Umum

Sehat

Kekenyalan Kulit
Mata
Ubun-ubun Besar
Mulut
Denyut Nadi/menit

Normal
Normal
Normal
Normal
Kuat < 120

Nilai Untuk Gejala Yang Ditemukan


1
2
Gelisah,
cengeng, Mengigau, koma atau
apatis, ngantuk
syok
Sedikit kurang
Sangat kurang
Sedikit cekung
Sangat cekung
Sedikit cekung
Sangat cekung
kering
Kering & Sianosis
Sedang (120-140)
Lemah >140

Hasil yang didapat pada penderita diberi angka 0, 1, atau 2 sesuai dengan table, kemudian
dijumlahkan. Bilai nilai 0-2 maka ringan, 3-6 maka sedang dan 7-12 adalah berat.
Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995
Penilaian
Lihat :
Keadaan umum
Mata
Air mata
Mulut dan lidah

Baik, sadar.

*Gelisah, rewel

Normal

Cekung

Ada
Basah

Tidak ada
Kering

Rasa haus
Minum
haus

biasa,

tidak *Haus,
banyak

ingin

*Lesu, lunglai atau tidak


sadar
Sangat
cekung
dan
kering.
Sangat kering
Sangat kering
minum *Malas minum
tidak bisa minum

atau

28

Periksa :
Turgor kulit
Hasil
pemeriksaan:

Kembali cepat
Tanpa dehidrasi

Terapi :

Rencana Terapi A

*Kembali lambat
Dengan
dehidrasi
ringan-sedang bila ada 1
tanda * ditambah 1 atau
lebih tanda lain
Rencana Terapi B

*Kembali sangat lambat


Dehidrasi berat bila ada1
tanda * ditambah 1 atau
lebih tanda lain.
Rencana Terapi C

PENATALAKSANAAN
Departemen

Kesehatan

mulai

melakukan

sosialisasi

Panduan

Tata

Laksana Pengobatan diare pada balita yang baru didukung oleh Ikatan Dokter
Anak Indonesia, dengan merujuk pada panduan WHO. Rehidrasi bukan satu-satunya
strategi

dalam

penatalaksanaan

diare.

Memperbaiki

kondisi

usus

dan

menghentikan diare juga menjadi cara untuk mengobati pasien. Untuk itu,
Departemen Kesehatan menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare bagi semua kasus diare
yang diderita anak balita baik yang dirawat di rumah maupun sedang dirawat di rumah sakit,
yaitu:

Oralit

1. Rehidrasi dengan menggunakan oralit baru


baru dengan low osmolaritas ini juga menurunkan

suplementasi intravena

dan

mampu

kebutuhan

mengurangi pengeluaran tinja hingga 20%

serta mengurangi kejadian muntah hingga 30%. Selain itu, oralit baru ini juga telah
direkomendasikan oleh WHO dan UNICEF untuk diare akut non-kolera pada anak.
Oralit Baru Osmolaritas Rendah
Natrium
Klorida
Glucose, anhydrous
Kalium
Sitrat
Total Osmolalitas

Mmol/Liter
75
65
75
20
10
245

Ketentuan pemberian Oralit Baru :


a. Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru.
29

b. Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 liter air matang, untuk persediaan
24 jam.
c. Berikan larutan oralit pada anak setiap kali buang air besar, dengan ketemtuan
sebagai berikut :
- Untuk anak berumur < 2 tahun : berikan 50-100 ml tiap kali BAB.
- Untuk anak 2 tahun atau lebih : berikan 100-200 ml tiap BAB.
d. Jika dalam waktu 24 jam persediaan larutan oralit masih tersisa, maka sisa larutan
harus dibuang
2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut
Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut terbukti mengurangi lama dan beratnya
diare, mencegah berulangnya diare selama 2-3 bulan. Zinc juga dapat mengembalikan
nafsu makan anak.1,2,4
Dosis Zinc
Umur
< 6 bulan
> 6 bulan

Dosis
10 mg (1/2 tablet)/ hari
20 mg (1 tablet)/ hari.

Efek pemberian zinc terhadap diare adalah dengan menjaga integritas usus
melalui pengaktivan enzim superoxide dismutase (SOD) Zinc juga berperan sebagai
antioksidan yang merupakan stabilisator intramolekular, mencegah pembentukan ikatan
disulfida, dan berkompetisi dengan Cu dan Fe. Selain itu, Zinc juga mampu untuk
menghambat sintesis Nitric Oxide (NO). Zinc juga berperan dalam penguatan sistem
imun, yaitu dalam modulasi sel T dan sel B. Peranan zinc juga terlihat dalam aktivasi
limfosit T dan menjaga keutuhan epitel. Semua kegunaan inilah yang mendukung
dilakukannya pemberian zinc dalam tatalaksana diare akut.1,2,4
3. ASI dan makanan tetap diteruskan
Makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada waktu
anak sehat untuk mengganti nutrisi yang hilang serta mencegah agar tidak terjadi gizi
buruk. Pada diare berdarah, nafsu makan akan berkurang. Adanya perbaikan nafsu
30

makan menandakan fase kesembuhan. ASI tetap diteruskan selama terjadinya diare cair
akut maupun pada diare akut berdarah dan diberikan dengan frekuensi lebih sering dari
biasanya. Anak umur 6 bulan ke atas sebaiknya mendapat makan seperti biasanya. 1 Bila
anak berumur 4 bulan atau lebih dan sudah mendapatkan makanan lunak atau padat,
makanan ini harus diteruskan.2
4. Antibiotik selektif
Antibiotik tidak diberikan pada kasus diare cair akut, karena sebagian besar diare
infeksi disebabkan oleh rotavirus yang bersifat self limited dan tidak dapat dibunuh oleh
antibiotik.1,2 Pemberian antibiotik dilakukan atas indikasi yaitu pada diare berdarah dan
kolera.1,2,4
Pada disentri diberikan antibiotika oral selama 5 hari yang masih sensitif
terhadap Shigella menurut pola kuman setempat. Dahulu semua kasus disentri pada
tahap awal diberi antibiotika kotrimoksazol dengan dosis 5-8mg/KgBB/hari. Namun saat
ini telah banyak strain Shigella yang resisten terhadap amplisilin, amoksisilin,
mentronidazol,tetrasiklin, golongan aminoglikosida, kloramfenikol, sulfonamid, dan
kotromoksazol sehingga WHO tidak merekomendasikan penggunaan obat tersebut. Obat
pilihan untuk pengobatan disentri berdasarkan WHO 2005 adalah golongan Quinolon
seperti siprofloksasin dengan dosis 30-50mg/KgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 5
hari. Pemantauan dilakukan setelah 2 hari pengobatan, dilihat apakah ada perbaikan
tanda-tanda seperti tidak adanya demam, diare berkurang, darah dalam feses berkurang
dan peningkatan nafsu makan. Jika tidak ada perbaikan, maka amati adanya penyulit,
hentikan pemberian antibiotik sebelumnya dan berikan antibiotik yang sensitif terhadap
Shigella berdasarkan area.1,2
5. Nasihat kepada orang tua
Nasihat pada ibu atau pengasuh untuk kembali segera jika ada demam, tinja
berdarah, muntah berulang, makan atau minum sedikit, sangat haus, diare makin sering
atau minum belum membaik selama 3 hari.1,10

31

Indikasi rawat inap pada penderita diare akut berdarah adalah malnutrisi, usia
kurang dari satu tahun, menderita campak pada 6 bulan terakhir, adanya dehidrasi dan
disentri yang datang sudah dengan komplikasi.1

32

Tatalaksana rehidrasi sesuai dengan derajat dehidrasi4,10:


1. Tatalaksana Rehidrasi pada Pasien Diare Tanpa Dehidrasi

2. Rehidrasi pada Pasien Diare dengan Dehidrasi Ringan-Sedang

34

3. Rehidrasi pada Pasien Diare dengan Dehidrasi Berat

35

KOMPLIKASI
Komplikasi dari diare akut yang tidak tertangani dengan cepat dan tepat atau muncul
pada saat dilakukan terapi rehidrasi diantaranya adalah gangguan elektrolit berupa
hipernatremia, hiponatremia, hiperkalsemia, dan hipokalemia. Apabila upaya rehidrasi oral
mengalami kegagalan, dapat terjadi kejang yang disebabkan karena hipoglikemi,
hiperpireksia, hipernatremi atau hiponatremi.2
Komplikasi lainnya yang meskipun jarang tetapi juga penting adalah overhidrasi
yang menyebabkan edema, asidosis, ileus paralitik, malabsorpsi glukosa, muntah, dan gagal
ginjal.
PENCEGAHAN
Upaya pencegahan diare dapat dilakukan dengan cara mencegah penyebaran kuman
patogen penyebab diare, dengan cara : pemberian ASI yang benar, memperbaiki penyiapan
dan penyimpanan makanan pendamping ASI, penggunaan air bersih yang cukup,
membudayakan kebiasaan mecuci tangan dengan sabun sehabis buang air besar dan sebelum
makan, penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga, dan
membuang tinja bayi yang benar.2,10
Selain itu, upaya pencegahan diare juga dapat dilakukan dengan meningkatkan daya
tahan tubuh dengan cara pemberian ASI paling tidak sampai 2 tahun, meningkatkan nilai
gizi makanan pendamping ASI dan memberi makan dalam jumlah yang cukup untuk
memperbaiki status gizi anak, dan dilakukannya imunisasi campak.2,10
Salah satu upaya pencegahan diare dapat dilakukan dengan pemberian probiotik
dalam waktu yang panjang terutama untuk bayi yang tidak minum ASI. Perbiotik adalah
mikroorganisme hidup dalam makanan yang difermentasi yang menunjang kesehatan
melalui terciptanya keseimbangan mikroflora intestinal yang lebih baik. Pada sistematik
review yang dilakukan Komisi Nutrisi ESPGHAN (Eropean Society of Gastroenterology
Hepatology and Nutrition) pada tahun 2004, didapatkan laporan-laporan yang berkaitan
dengan peran probiotik untuk pencegahan diare.2

36

BAB III - ANALISIS KASUS


Pada pasien ini diagnosisdiare akut dengan dehidrasi ringansedang et causa Virus,
ditegakkan berdasarkan dari :
1. Anamnesis
Sejak 2 hari SMRS pasien mengalami BAB cair sebanyak lebih dari 10 kali
sehari.BAB cair tanpa ampas, berwarna kuning, tanpa darah, tanpa lendir, tanpa warna
kehitaman dan tidak berbau asam atau busuk dengan jumlah gelas setiap kali
BAB.Sejak mengalami BAB cair, pasien tampak lemas, lebih rewel dan aktivitas
bermain berkurang.
Dari anamnesis ini, dapat dicurigai bahwa pasien kemungkinan besar mengalami
diare karena sesuai dengan definisi diare, yaitu buang air besar pada bayi atau anak
lebih dari 3 kali perhari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair. Kemungkinan
etiologi yang dapat disimpulkan dari anamnesis yang didapatkan adalah pasien
kemungkinan mengalami infeksi virus.
Dari segi teori, infeksi virus tidak mengakibatkan adanya darah, namun lendir bisa
ada maupun tidak. Juga, dari teorinya infeksi virus lebih bersifat cair dengan warna tinja
kekuningan. Pada infeksi virus juga demam cenderung tidak terlalu tinggi. Ibu pasien
mengaku bahwa pasien sempat dirasakan hangat dan diberikan paracetamol. Manifestasi
dari pasien cocok dengan teori infeksi virus. Kemungkinan etiologi yang paling sering
adalah Rotavirus karena dari segi epidemiologinya, Rotavirus sering menyerang anak
dengan usia dibawah 5 tahun, dan terlebih anak yang sudah di atas 6 bulan rentan terkena
infeksi virus karena antibodi dari ibu pasien sudah menurun.
Pasien juga kemungkinan besar mengalami dehidrasi akibat dari banyaknya cairan
yang keluar. Pasien masih mau minum sendiri, sehingga dapat dikatakan dehidrasi yang
dialami pasien bukan dehidrasi berat. Derajat dehidrasi nantinya akan dapat ditentukan dari
pemeriksaan fisik.

37

Ditanyakan juga faktor resiko lain yang dapat menyebabkan diare yaitu
penggunaan antibiotik jangka panjang karena dapat mengganggu keseimbangan flora usus.
Juga apakah diare terjadi saat pemberian susu karena terdapat kemungkinan adanya
intoleransi laktosa. Namun pada pasien tidak didapatkan anamnesisyang menunjang,
sehingga diagnosis banding yang lain dapat disingkirkan.
2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan keadaan umum pasien tampak sakit sedang dan rewel.Tanda
vital didapatkan tidak ada peningkatkan suhu tubuh.Pada pemeriksaan kepala,
didapatkan ubun-ubun besar agak cekung.Mata tampak palpebral agak cekung, mukosa
bibir kering.Pada pemeriksaan abdomen didapatkan turgor kulit menurun namun bising
usus masih dalam batas normal yaitu 8 kali/menit.Pasien juga dapat dikatakan dehidrasi
karena adanya tanda-tanda dehidrasi yang ditentukan berdasarkan kriteria WHO 1995,
dimana kriteria tersebut memiliki beberapa aspek dari lihat dan periksa.Dari inspeksi,
keadaan umum pasien gelisah dan rewel, matanya cekung dengan mukosa bibir kering,
tetapi masih ada air mata dan pasien masih ingin minum.Dari pemeriksaan, turgor pasien
agak lambat kembalinya.Oleh karena adanya beberapa tanda-tanda, pasien dapat
dikategorikan mengalami dehidrasi ringan-sedang. Skoring dehidrasi juga dapat
ditentukan dari klasifikasi yang lain yaitu MMWR 2003 dan skor Maurice King. Dari
skor Maurice King, skor pasien adalah 5 yang mana, dengan skor tersebut, pasien masuk
dalam klasifikasi dehidrasi sedang. Dari kriteria MMWR 2003, pasien juga dapat
dikategorikan dehidrasi ringan-sedang karena keadaan klinis pasien yang sesuai dengan
kriteria tersebut, yaitu adanya kesadaran yang gelisah dan lemas, mata yang sedikit
cekung, mulut yang kering, turgor kulit yang kembali agak lama, dan kencing yang
berkurang.
3. Pemeriksaan Penunjang
Dari pemeriksaan penunjang, tidak didapatkan kesimpulan spesifik bahwa pasien
mengalami infeksi viral, namun infeksi bakteri dapat disingkirkan karena tidak adanya
leukositosis.Angka leukosit pasien dalam batas normal, yang seiring dengan teori infeksi
viral meskipun biasanya cenderung lebih rendah atau leukopenia.Jika ingin lebih
spesifik sebenarnya dapat diperiksa hitung jenis, dan biasanya pada infeksi virus, angka
neutrofil cenderung tinggi karena serangan virus akut.
38

Jika curiga infeksi bakteri maupun parasit, pemeriksaan tinja rutin juga dapat
dilakukan.Namun, pada pasien dengan diare juga sebenarnya dapat dilakukan untuk
menyingkirkan diagnosis banding lainnya seperti diare karena bakteri maupun
parasit.Pada pasien, tidak didapatkan kelainan pada pemeriksaan tinjanya sehingga
diagnosis diare akut dengan etiologi virus dapat lebih ditegakkan secara lebih pasti.
4. Penatalaksanaan
Pasien dirawat selama 3 hari di rumah sakit. Menurut literatur yang ada, pasien
dengan dehidrasi ringan-sedang masuk ke dalam tatalaksana rencana Terapi B, di mana
pasien dapat dirawat di rumah setelah orang tua pasien mendapatkan edukasi tentang
cara pembuatan dan pemberian oralit atau dapat di rawat di rumah sakit, sesuai dengan
indikasi. Pemilihan perawatan pasien ini disebabkan karena intek makanan dan
minuman pasien sulit denganusia pasien yang dibawah 1 tahun.
Selama perawatan hari pertama, pasien masih tetap mengalami dehidrasi ringansedang. Oleh karena itu, di ruang rawat inap pasien masih tetap diberikan cairan KaEN
3B sebanyak 800 cc per hari sesuai dengan rumus rumatan holiday segar. Pasien
diberikan paracetamol 120mg peroral sesuai dosis terhadap berat badan pasien oleh
ibunya, paracetamol hanya digunakan jika pasien demam.Pada hari kedua perawatan,
pasien mengalami perbaikan pada status hidrasi, dimana dehidrasi pasien sudah
berkurang, ditandai dengan sudah tidak cekungnya ubun-ubun besar, palpebral, dan
mukosa bibir yang sudah mulai lembab.Nafsu makan pasien juga sudah membaik.
Pemberian tablet zinc yang merupakan salah satu dari Lima Lintas Tatalaksana
diare, diberikan selama 10 hari berturut-turut dengan dosis 1x20 mg peroral karena
pasien sudah di atas 6 bulan. Oralit juga diberikan setiap kali BAB cair yang bertujuan
untuk Terapi Rehidrasi Oral.Pemberian preparat probiotik sebanyak 2 x 1 sach,
bertujuan untuk menciptakan keseimbangan mikroflora intestinal.
Terapi non-medikamentosa berupa tetap dilanjutkannya pemberian ASI dan susu
formula yang bertujuan untuk mencegah kehilangan berat badan serta pengganti nutrisi
yang hilang. Dilakukan diet makanan lunak dengan 820 kcal, sebanyak 3 kali sehari.
39

Pada pasien ini diberikan makanan yang lunak dan makanan dengan rendah serat
bertujuan untuk memberikan makanan sesuai kebutuhan gizi yang sedikit mungkin
meninggalkan sisa sehingga dapat membatasi volume feses, dan tidak merangsang
saluran cerna.
Pada hari selanjutnya, tanda dehidrasi tidak ada pada pasien sehingga dapat
dikategorikan pasien berada pada keadaan tanpa dehidrasi sehingga pasien direncanakan
pulang. Dalam tata laksana diare, terdapat prinsip lintas diare yang meliputi rehidrasi,
pemberian tablet zinc, antibiotik yang sesuai, lanjutkan pemberian makanan, dan edukasi
pada pasien. Dalam perencanaan pulang pasien, harus diedukasikan kapan pasien harus
kembali seperti contoh jika terdapat perburukan atau keadaan yang tidak membaik
selama 3 hari. Juga diedukasikan kepada orang tua tentang rehidrasi cairan dan intake
makanan yang cukup.
5. Diagnosis Banding
Diare akut yang disebabkan oleh infeksi bakteridapat dibedakan dari perbedaan
gejala klinis dengan diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Diare yang disebabkan
karena infeksi virus disertai dengan gelaja demam yang tidak terlalu tinggi dan pada
pemeriksaan darah tidak didapatkan peningkatan leukosit.Sedangkan diare yang
disebabkan oleh infeksi bakteri biasanya disertai demam yang tinggi serta pemeriksaan
darah didapatkan peningkatan leukosit dan limfosit.Diare yang disebabkan oleh infeksi
virus mempunyai karakter feses yang berbeda dengan diare yang disebabkan oleh
infeksi bakteri.Konsistensi feses yang cair tanpa ampascenderung disebabkan karena
infeksi virus.Pada pasien ini leukosit dalam batas normal sehingga kemungkinan infeksi
bakteri yang biasanya menyebabkan leukositosis dapat dihilangkan.Dari pemeriksaan
tinja juga dapat membantu menghilangkan diagnosis banding etiologi lain karena tidak
terdapatnya eritrosit dan leukosit yang dapat menandakan adanya infeksi bakteri,
terutama disentri. Berikut adalah tabel perbandingan akan infeksi virus dan bakteri.

Konsistensi
Volume

Infeksi virus
Hanya berair
Sangat banyak

Infeksi bakteri
Lembek, Lendir, kadang berdarah
Banyak
40

Frekuensi
Warna
Darah
Leukosit
Lain
6. Prognosis

5-10 x/hari
Kuning hijau
Anoreksia

10x/hari
Kehijauan, merah hijau, tidak berwarna
Kadang ada, sering
+
Kejang, sepsis, meteorismus, infeksi sitemik

Prognosis pada pasien ini quo ad vitam adalah bonam karena penyakit pada
pasien saat ini tidak mengancam nyawa. Untuk quo ad functionam bonam, karena
organ-organ vital pasien masih berfungsi dengan baik dan tidak terdapat adanya
manisfestasi perdarahan. Untuk quo ad sanactionam dubia ad bonam karena
kekambuhan pada diare akut dapat terjadi terlebih karena pasien dalam usia rentan
terkena infeksi virus karena sudah berkurangnya antibodi dari ibu.

41

DAFTAR PUSTAKA
1. Subagyo B. Nurtjahjo NB. Diare Akut. Dalam: Juffrie M, Soenarto SSY,Oswari H,
Arief S, Rosalina I, Mulyani NS, penyunting. Buku ajarGastroentero-hepatologi.
Jilid

1. Jakarta: UKK GastroenterohepatologiIDAI; 2011. p. 87-120.

2. Soenarto Y. Diare kronis dan diare persisten. Dalam: Juffrie M, SoenartoSSY, Oswari
H, Arief S, Rosalina I, Mulyani NS, penyunting. Buku ajarGastroentero-hepatologi.
Jjilid
1. Jakarta: UKK GastroenterohepatologiIDAI; 201. p. 121-136.
3. Pickering LK, Snyder JD. Gastroenteritis. In Behrman, Kliegman, Jenson. eds. Nelson
textbook of Pediatrics. 17th ed. St. Louis: Saunders Elsevier; 2004. p. 1272-6.
4. Diare. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit: Pedoman Bagi Rumah Sakit
Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/ Kota. Jilid 1. Jakarta: WHO; 2009. p. 131156.
5. King CK, Glass R, Bresee JS, Duggan C. Managing acute gastroenteritis among
children: oral rehydration, maintenance, and nutritional therapy. MMWR Recomm Rep.
2003; 52:1-16.
6. Atia AN, Buchman AL. Oral rehydration solutions in non-cholera diarrhea: a review.
Am J Gastroenterol. 2009; 104(10):2596-604.
7. Barclay L. Zinc supplements reduce diarrhea in children. Medscape Medical News.
2014; 102(2): 132-135.
8. Field M. Intestinal ion transport and the pathophysiology of diarrhea. J.Clin Invest.
2003; 111(7): 931-943.
9. Gorelick MH, Shaw KN, Murphy KO. Validity and reliability of clinical signs in the
diagnosis of dehydration in children. Pediatrics. 1997; 99(5): 66-69.
10. Dennehy PH. Acute diarrheal disease in children: epidemiology, prevention, and
treatment. Infect Dis Clin North Am. 2005; 12(3):585-602.

Anda mungkin juga menyukai