Anda di halaman 1dari 28

BAB VI

PERMEABILITAS RELATIF
Permeabilitas relatif mempunyai hubungan dengan kuantitas fasa fluida
yang bersangkutan di pori-pori batuan yang diwakili oleh saturasi. Saturasi tersebut
mempunyai definisi sebagai berikut:

Saturasi Minyak:

So

(6.1)

Saturasi Gas:
Sg

Vo
, fraksi
Vp

Vg
Vp

, Fraksi

(6.2)

Saturasi Air:

Vw
, Fraksi
Vp
Hubungan antara masing-masing saturasi tersebut adalah:
Sw

So + Sg + Sw = 1

(6.3)

(6.4)

Persamaan (6.4) sangat fundamental yang di dalamnya tersirat asumsi


bahwa ketiga fasa (minyak, gas, dan air) mengisi pori-pori batuan secara penuh.
Apabila ada padatan yang ikut mengisi pori-pori batuan seperti halnya pasir maka
persamaan di atas tidak berlaku.
Definisi
Permeabilitas relatif merupakan rasio antara permeabilitas efektif terhadap
permeabilitas base yang dapat diperoleh dari percobaan laboratorium atau dari
korelasi yang cukup terkenal di industri. Permeabilitas efektif merupakan fungsi
dari:
1. Distribusi ukuran pori,
2. Kebasahan,
3. Saturasi,
4. Saturation history,
Saturasi history terdiri dari:
1. Drainage yaitu suatu keadaan dimana fase yang membasahi berkurang,
contoh solution gas drive dan gravity drainage.
BAB V

VI-1

VI-2

2. Imbibisi yaitu suatu keadaan dimana fase yang membasahi bertambah,


contoh water flooding dan water influx.
Permeabilitas base terdiri dari:
1. Permeabilitas absolut,
2. Permeabilitas udara kering pada tekanan 1 atm,
3. Permeabilitas effektif pada saturasi air irreducible (Siw),
Permeabilitas absolut merupakan fungsi dari distribusi ukuran pori.
Konsep

Dasar Tentang

Distribusi Fluida dalam Batuan Berpori dan

Pengaruhnya terhadap Kurva Permeabilitas Relatif


Ada tiga konsep:
1. Struktur berpori terbentuk dari susunan berbagai ukuran dan bentuk dari
pori-pori batuan yang berhubungan. Setiap pori mempunyai ukuran, bentuk,
dan karakteristik tertentu.
2. Distribusi fluida di dalam struktur berpori untuk proses drainage adalah
sebagai berikut:
Minyak akan menempati ukuran pori terbesar. Jadi, saturasi dan kebasahan
menentukan ukuran pori dimana fasa membasahi dan tidak membasahi
berada. Hal ini ditunjukkan pada Gambar 6.1.
3. Permeabilitas absolut sebanding dengan luas penampang pori-pori dan
berbanding terbalik dengan panjang alir aliran rata-rata. Apabila non wetting
phase yang telah masuk ke dalam struktur pori yang mempunyai ukuran
terbesar, maka luas penampang pori akan bertambah kecil dan panjang alur
alir rata-rata menjadi lebih panjang sehingga permeabilitas relatif air
berkurang dan menjadi nol pada pori yang terisi minyak. Bentuk kurva
permeabilitas

relatif

dikarenakan

dengan

parameter

tersebut,

yaitu

turuntajam pada saat awal lalu secara asimbolik turun menjadi nol. Untuk
kurva tiga fasa dapat dilihat pada Gambar 6.2.
Jadi dari beberapa hal di atas dapat ditarik kesimpulan antara lain:
1. Krw hanya tergantung pada (Sw-Siw),
2. Krg hanya tergantung pada Sg,
3. Kro tergantung pada So dan kisaran ukuran pori.
Hubungan antara saturasi dengan permeabilitas relatif dijelaskan oleh
Gambar 6.3. Pada gambar tersebut terlihat bahwa masing-masing fasa mempunyai

BAB VI

VI-3

karakteristik tersendiri yang ditunjukkan dengan kelengkungan kurva yang berbeda.


Juga, hal tersebut dipengaruhi oleh kebasahan (wettability) batuan basah minyak
atau digolongkan basah air.
Distribusi ukuran pori oleh Standing dikelompokkan dengan harga indeks ()
seperti di bawah ini.
1. Selang yang sangat besar dengan harga indeks = 0.5
2. Selang yang besar dengan harga indeks = 2
3. Selang yang cukup besar dengan harga indeks = 4
4. Seragam dengan harga indeks = tak hingga.
Contoh: Harga 0.8 1.5 mewakili harga rata-rata dari sandstone.
Harga dapat ditentukan dari kurva tekanan kapiler drainage atau dari kurva
Fungsi J. Brooks dan Corey berdasarkan data eksperimen mengusulkan persamaan
berikut:
1
log S *w

log PC log Pe

(6.5)

dimana:
Pe

= tekanan kapiler entry

Sw* = saturasi fasa membasahi efektif = (Sw Siw)/(1 Siw)


Siw = saturasi fasa membasahi irreducible
Persamaan (6.5) dapat pula dituliskan sebagai :
1
log S *w

log J log J e

(6.6)

Jadi kemiringan daripada plot skala log-log Sw* terhadap Fungsi J adalah
harga 1/. Mengenai Kebasahan, Saturasi, dan Sejarah Saturasi telah dibahas
dimuka. Berikut ini dibahas korelasi permeabilitas relatif yang dikembangkan oleh
Standing.
1. Permeabilitas Relatif Drainage Dua Fasa
Burdine mengenalkan konsep permeabilitas yang dinormalisasikan untuk
sejarah saturasi drainage sebagai berikut:

Untuk fasa membasahi,

k w:dr

kw

1 S *w
(k w ) S * 0
w

BAB VI

S *w

1
P
0
C

dS *w

1
P
0
C

dS *w

VI-4

(6.7)

Untuk fasa tidak membasahi,


1
* P
C
Sw

k m:dr

kn
1 S *w
(k n ) S * 0

dS *w

1
0 PC

(6.8)

dS *w

Gambar 6.4 menggambarkan secara skematis daerah yang merupakan hasil


integral dalam persamaan di atas.
Apabila indeks distribusi pori diketahui maka persamaan yang dapat digunakan
adalah:

Untuk fasa membasahi:

k w:dr S *w

(6.9)

23

Untuk fasa tidak membasahi:


k m:dr

k r0

Sm S w

S m S iw

*
1 Sw

(6.10)

di mana:
Sm tidak mempunyai pengertian fisik, hanya untuk mengontrol bentuk dan posisi
kurva.
Nilai Kro dapat ditentukan dengan persamaan yang diperoleh dari 35 sampel
yang diplot antara data kro terhadap Siw yang berlaku untuk nilai 0.12< Siw <0.5.
k r0 1.31 2.62 S iw 1.1 S iw

(6.11)

Harga kro dihubungkan dengan Siw dikarenakan oleh beberapa hal antara
lain:
1. Siw mengurangi luas penampang aliran,
2. Siw menambah panjang alir aliran,

BAB VI

VI-5

3. Hubungan Siw vs kro harus mencerminkan distribusi ukuran pori.

Contoh Perhitungan 5.1 Perhitungan Kurva Permeabilitas Relatif dari Data


Tekanan Kapiler.
Data : Plot Sw vs Fungsi J seperti contoh perhitungan 4.3
Siw = 0.21, Swc = 0.296, kabs =816 mD
Perhitungan, diketahui:

Sw *

S w S iw
1 S iw

Dari persamaan (6.11) :


1
log S *w

log J log J e

Jadi,

Sw
1.0
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3

Sw*
1.00
0.87
0.75
0.62
0.49
0.37
0.24
0.11

J
0.53
0.64
0.79
1.00
1.50
1.96
3.35
8.50

Plot Sw* vs Fungsi J dalam skala log-log seperti ditunjukkan oleh Gambar 6.5
mempunyai kemiringan 1.3, jadi = 1/1.3 = 0.77.
Anggap Sm = 1
Kemudian, kro dan krw dihitung dengan persamaan (6.9), (6.10), dan (6.11):
, dimana:

k w:dr S *w

23

2 3 2 3 x 0,77

5,6

0,77

k m:dr
BAB VI

k r0

Sm S w

S m S iw

*
1 Sw

VI-6

k r0 1.31 2.62 S iw 1.1 S iw

k r0 1.31 2.62 0.12 1.1 0.21

= 0.808

Sw*

Sw

S m21 S w 1

S *w
S0.87

0.9
m
iw

0.75
0.62
0.49
0.37
0.24
0.11

0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3

0.000
0.127
0.253
0.380
0.506
0.633
0.759
0.886

1.000
0.659
0.422
0.238
0.118
0.051
0.014
0.001

Krw
1.000
0.498
0.237
0.092
0.028
0.007
0.001
0.000

Kro
0.000
0.004
0.030
0.089
0.183
0.307
0.460
0.634

Gambar 6.6 menunjukkan plot hasil perhitungan di atas

2. Permeabilitas Relatif Drainage Tiga Fasa


Pada kondisi ini non wetting phase mengisi pori-pori terbesar, sehingga
apabila kondisi tiga komponen di dalam lapisan maka air merupakan fasa yang
paling membasahi batuan, minyak intermediete, sedangkan gas merupakan fasa
yang tidak membasahi batuan. Sehingga dalam paper yang dibuat oleh Corey,
Rathgans, Henderson & Wyllie yang mennggunakan percobaan dalam dua skenario
ada beberapa hal antara lain:
Set 1: Core tersaturasi dengan CaCl2 brine kemudian didesak minyak dan didesak
oleh gas yang membuktikan bahwa non wetting phase adalah fasa yang
mempunyai kecenderungan mengisi pori-pori terbesar dalam zona tiga fasa.
Set 2: Hal di atas dilakukan dengan metode yang sama tetapi core tidak
disaturasikan dengan CaCl2 brine terlebih dahulu. Hasil yang diperlihatkan
menunjukkan gejala yang sama.

BAB VI

VI-7

Persamaan (6.12) sampai dengan (6.13) di bawah ini dapat digunakan untuk
memperkirakan permeabilitas fasa air, fasa minyak, dan fasa gas dengan data
tekanan kapiler.

Untuk fasa air:


S*w
oo

k w ] dr

kw
S *w
k w ) S*w 1

1
Pc
0

dSL*

(6.12)

dSL*

Untuk fasa minyak:


S*O
oo

k O ] dr

Pc

kO
S *O
k O )S*O 1

1
Pc
S
W

dSL*

1
Pc
0

(6.13)

dSL*

Untuk fasa gas:

k ro ] dr

ko
k

k ro

S o S w S iw

1 S iw

2
2
SL* S *w

So
1 S iw

k ro S o*

dimana,
*

Sw

S S iw
w
1 S iw

(6.14)

Sg
So
S w S iw
*
*
;So
;Sg
1 S iw
1 S iw
1 S iw
*

SL S W S O

S W S O SIW
*
1 Sg
1 S IW

(6.15)

(6.16)

Sedangkan persamaan (6.17) sampai dengan (6.19) digunakan apabila indeks


distribusi pori diketahui:

BAB VI

VI-8

Untuk fasa air:

k rw ] dr

S S iw
k
w w
k
1 S iw

Sw

(6.17)

23

Untuk fasa minyak:

k ro ] dr

ko
k
o

So
k r
1 S iw

2
S o S w S iw

1 S iw

k ro S o*

23

2
SL*

S *w

S S iw
w
1 S iw

(6.18)

Untuk fasa gas:

k rg ] dr

kg
k

2
S g S m 1
S S w S iw
o
1 o
k r

1 S iw

S m S iw

S g S m 1
1 1 S *g

S m S iw

k ro

(6.19)

Prosedur perhitungan krw, kro, dan krg apabila diketahui tekanan kapiler
adalah sebagai berikut:
1. Persiapkan dalam tabel Sw terhadap Fungsi J.
2. Hitung SL* = Sw* = (Sw Siw)/(1 Siw) untuk masing-masing Sw.
3. Hitung 1/J2 untuk masing-masing Sw.
4. Plot SL* terhadap 1/J2.
5. Hitung luas untuk interval tertentu dari SL*= 0 sampai dengan 1.
6. Hitung krw dengan persamaan (5-13).
7. Ulangi langkah 2 6 untuk fasa minyak.
8. Hitung kro dengan persamaan (5-14).
9. Ulangi langkah 2 6 untuk fasa gas.

BAB VI

VI-9

10. Hitung krg dengan persamaan (5-15).


Contoh Perhitungan 5.2 Perhitungan k rw, kro, dan krg apabila diketahui tekanan
kapiler.
Dari Reservoir Weber, Lapangan Rangely, Colorado, diketahui Fungsi J vs
Sw seperti ditunjukkan oleh Gambar 4.13. Data lain : Siw = 0.3, Sw = 0.44, serta Sm =
1.0. Tentukan krw, kro, dan krg.
Mengikuti prosedur perhitungan di atas diperoleh :
Langkah 1 3 menghasilkan:

Sw
0.35
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1.0

J
0.78
0.64
0.48
0.35
0.28
0.23
0.18
0.15

SL*=Sw*
0.07
0.14
0.29
0.43
0.57
0.71
0.86
1.00

1/J2
1.64
2.44
4.34
8.16
12.76
18.90
30.86
44.44

Gambar 6.7 menunjukkan plot hasil perhitungan di atas.


Langkah 4 dan 5 menghasilkan:
SL*

Area

Kumulatif Area

0.0 - 0.1
0.1 - 0.2
0.2 - 0.3
0.3 - 0.4
0.4 - 0.5
0.5 - 0.6
0.6 - 0.7
0.7 - 0.8
0.8 - 0.9
0.9 - 1.0

0.088
0.257
0.412
0.613
0.882
1.202
1.600
2.098
2.820
3.820

0.088
0.345
0.757
1.370
2.252
3.454
5.054
7.152
9.972
13.792

Langkah 6:
Pada saat Sw = 0.44

S *w
BAB VI

S w S iw 0,44 0,3

0,2
1 S iw
1 0,3

VI-10

S *w

2
dSL / J 0,345

0*
SL

2
dSL / J 2,252 0,345 1,907

S *w

dimana:
SL* = 0,5
So* = SL* - Sw* = 0,5 0,2 = 0,3
'

dSL * / J* 13,792

Jadi,

S *w

K rw

S *w dSL * / J *
0

S'

dSL * / J *

K ro

SL*
*0
S 0 dSL * / J *
S*w
S'

dSL * / J *

K rg

0,345
0,2
0,005
13,792
1,907
0,3
0,0415
13
,
792

'

'

S g dSL * / J *

dSL * / J *

1 SL SL'
'
S
dSL * / J *
dSL * / J *
*

SL

13,792 2,252
0,5

13
,
792
k , k , dan k apabila diketahui indeks
Sedangkan prosedur perhitungan
distribusi pori adalah langsung dimasukkan
0,418 data yang ada ke dalam persamaan
rw

ro

rg

(6.17) sampai dengan (6.19).

Contoh Perhitungan 5.3 Perhitungan kro dan krg drainage apabila diketahui
indeks distribusi pori.
Diketahui indeks distribusi pori = 1.15, Sm = 1.0, Siw = 0.3, Sw = 0.44.

BAB VI

VI-11

Dengan persamaan (6.30) sampai dengan (6.32) diperoleh:


Sg

Sg*

So*

SL*

kro

krg

0
0.07
0.14
0.21
0.28
0.35
0.42
0.49
0.56

0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8

0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0

1
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2

0.393913
0.225063
0.119010
0.056754
0.023398
0.007722
0.001725
0.000155
0

0
0.001562
0.011396
0.034963
0.075080
0.132423
0.206050
0.293986
0.393866

Gambar 6.8 menunjukkan hasil perhitungan di atas.


3. Permeabilitas Relatif Imbibisi Dua Fasa
Permeabilitas relatif imbibisi diterapkan apabila fasa membasahi adalah
bertambah besarnya. Nilai permeabilitas relatif imbibisi lebih kecil daripada
permeabilitas relatif drainage. Penggunaan paling penting adalah pada injeksi air di
mana air mendesak minyak (fasa yang tidak membasahi). Hal yang sama juga
dapat terjadi pada perhitungan mengenai water influx dari aquifer ke reservoir gas.
Perbedaan permeabilitas relatif drainage dengan imbibisi secara skematis
ditunjukkan oleh Gambar 6.9. Untuk fasa tidak membasahi, permeabilitas relatif
dihitung dengan persamaan (6.20):

k rn ] imb

Sm 1
* 1 S iw

S nF
S m S iw
S m S iw


*
1 1 S nF

k ro

(6.20)

di mana :

*
*
S nF
0.5 S n* S nr

*
S nr

S ni*

*
n

*
S nr

S ni*

4 *
*
S n S nr

(6.21)
(6.22)

(CS ni* 1)

S ni
(1 S iw )

(6.23)

di mana C adalah konstanta trapping.


Sedangkan untuk fasa penjebakan membasahi, menggunakan persamaan
(6.24) sebagai berikut :

BAB VI

VI-12

*
k rw ] imb k rw ] dr 1 S nF

(6.24)

23

Contoh Perhitungan 5.4 Perhitungan k ro dan krg imbibisi dari Formasi Viking,
Reservoir Kinsella dengan data sebagai berikut:
Siw = 0.36, Sw = 0.5, Sm = 1.0, C = 1.5.
Jawaban:

Sw
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
01

Sw*
0.06
0.22
0.38
0.53
0.69
0.84
1

J
1
0.65
0.52
0.44
0.37
0.35
0.32

(S w 0.36) Gambar 6.10 menunjukkan plot Sw* terhadap Fungsi J


1 0.36
dengan kemiringan, sehinggan indeks distribusi pori adalah 2.1.
dimana,

S *w

Kemudian, hitung:
Kro = 0.51
Soi = 1 Siw = 0.5
Soi* = 0.5/(1 0.36) = 0.781
Sor* = Soi*/(C Soi*+1) = 0.781/(1.5 x 0.781 + 1) =0.36
Jadi dengan persamaan (6.33) sampai dengan (6.37) diperoleh:

So
0.50
0.45
0.40
0.35
0.30
0.25
0.23

BAB VI

So*
0.781
0.703
0.625
0.547
0.469
0.391
0.360

kro
0.2950
0.2100
0.1360
0.0750
0.0300
0.0040
0.0000

krw
0.0025
0.0082
0.0207
0.0437
0.0819
0.1408
0.1714

VI-13

Gambar 6.11 menunjukkan plot hasil perhitungan di atas.


HUBUNGAN PERMEABILITAS MINYAK DAN GAS
Persamaan permeabilitas relatif dapat diekspresikan sebagai berikut:
So

S S or
K ro o
1 S or

dS

/ Pc

/ Pc

0
1

dS
0

So

S S or
K rg 1 o
S m S or

dS

/ Pc

/ Pc

0
1

dS
0

dimana,

1/ Pc

C S o S or untuk S o S or
0 untuk S o S or

Plot 1/Pc2 terhadap So menunjukkan trend linear seperti Gambar 6.12


sehingga,
2

1/ Pc C S oe
S oe

S o S or
1 S or

K ro Soe

K rg 1 S oe 1 S oe
2

Dari percobaan yang dilakukan oleh A.T. Corey, diperoleh persamaan


permeabilitas relatif sebagai berikut:
S S or
K ro o
1 S or

K rg 1 S oe

BAB VI

1 S
2

oe

VI-14

Dari beberapa hal di atas kita dapat menyimpulkan hubungan permeabilitas


relatif minyak dan gas sebagai berikut:

S S or
2
1/ Pc o
1 S or
K ro

K rg

S S or
o
1 S or

S S or
1 o

S m S or

2

S S or
1 o

S m S or

Hasil perhitungan permeabilitas relatif minyak gas untuk batuan pasir


terkonsolidasi maupun kurang terkonsolidasi memperlihatkan kecocokan dengan
data di lapangan (Gambar 6.13 dan 6.14). Namun hubungan ini kurang baik apabila
digunakan untuk batuan pasir yang mengandung dolomite (Gambar 6.15), batuan
pasir dengan stratifikasi (Gambar 6.16), ataupun batuan pasir pada region dengan
saturasi gas yang kecil (Gambar 6.17).
PERMEABILITAS RELATIF TIGA FASA
Permeabilitas Relatif Tiga Fasa
1. Adalah yang sering terjadi,
2. Digunakan ternary (triangular) diagram (Gambar 6.18),
Permeabilitas Relatif Minyak dalam Sistem Tiga Fasa
Gambar 6.19 menunjukkan contoh permeabilitas relatif minyak dalam sistem
tiga fasa.
Ketergantungan permeabilitas relatif minyak pada saturasi fasa yang lain
adalah sebagai berikut:
1.

Fasa minyak mempunyai kecenderungan yang lebih besar daripada gas


untuk membasahi batuan,

2.

Interfacial tension antara air dan minyak adalah lebih kecil daripada antara
air dan gas,

3.

Minyak menepati bagian pori-pori didekat air,

4.

Pada saturasi air yang rendah, minyak menempati pori-pori yang lebih
kecil,

5.

BAB VI

Fasa gas akan melewati fasa minyak pada kondisi saturasi gas yang tinggi,

VI-15

Permeabilitas Relatif Air dalam Sistem Tiga Fasa


Gambar 6.20 menunjukkan contoh permeabilitas relatif air dalam sistem tiga fasa.
Garis lurus mengindikasikan permeabilitas relatif air adalah hanya merupakan
fungsi saturasi air saja, krw = f(Sw). Dengan demikian, krw dapat di plot

pada

koordinat kartesian terhadap Sw (Gambar 6.21).


Permeabilitas Relatif Gas dalam Sistem Tiga Fasa.
Gambar 6.22 memperlihatkan sistem tersebut. Kurva pada gambar tersebut
menunjukkan bahwa krg adalah fungsi saturasi daripada fasa-fasa lain yang ada,
a. Fasa-fasa yang lain yaitu minyak dan air menempati ruang-ruang pori yang
lebih kecil dan membasahi permukaan batuan,
b. krg seharusnya hanya terghantung pada total saturasi daripada kedua fasa
yang lain (i.e. 1-Sg) dan tidak tergantung pada komposisi masing-masing
fasa,
c. krg dapat diplot pada koordinat kartesian terhadap So + Sw seperti ditunjukkan
Gambar 6.23 memperlihatkan sistem tiga fasa,
Resume pada sistem tiga fasa dalam batuan yang terbasahi air:
a. Air
1. Terletak pada ruang-ruang pori yang lebih kecil dan butiran pasir yang
panjang,
2. krw adalah hanya merupakan fungsi Sw
3. Plot krw terhadap Sw pada koordinat rektangular,
b.

Gas
1.

Terletak pada pusat pori-pori yang lebih besar,

2.

krg adalah hanya fungsi Sg,

3.

Plot terhadap Sg (atau So + Sw) pada koordinat rektangular,

c.

Minyak
1.

Terletak pada di antara air dan gas di dalam pori-pori,

2.

kro adalah hanya fungsi So, Sw, dan Sg,

3.

kro terhadap So, Sw, Sg, didalam koordinat diagram ternary,

BAB VI

VI-16

4.

Jika Sw dapat dianggap konstan (minimum interstitial), maka kro dapat diplot
terhadap So dalam koordinat rektangular (Gambar 6.24),

5.

Terletak di antara air dan gas di dalam pori-pori,

6.

kro adalah hanya fungsi So, Sw, dan Sg,

7.

kro terhadap So, Sw, dan Sg, di dalam koordinat diagram ternary,

8.

Jika Sw dapat dianggap (minimum intersisial), maka kro dapat diplot


terhadap So dalam koordinat rektangular (Gambar 6.24),

Aliran di dalam Sistem Tiga Fasa


Daerah aliran tiga fasa di dalam reservoir tiga fasa berkisar antara 20% gas,
30% minyak, dan 50% air (Gambar 6.25).
Permeability Ratio
Definisi
1.

Ketika permeabilitas efektif air berharga nol (pada kondisi saturasi air
minimum), pada umumnya perbandingan permeabilitas dinyatakan sebagai
kemampuan batuan untuk mengalirkan gas dan minyak.
permeability ratio

k rg
kr

k o k ro

Contoh kurva untuk batuan basah air untuk keadaaan ini dapat dilihat pada
Gambar 6.26
2.

Ketika permeabilitas efektif gas berharga nol (pada kondisi saturasi gas
kritis atau tidak terdapat gas), pada umumnya perbandingan permeabilitas
dinyatakan sebagai kemampuan batuan untuk mengalirkan air dan minyak.
permeability ratio

ko
k
ro
k w k rw

Contoh kurva untuk batuan basah air untuk keadaaan ini dapat dilihat pada
Gambar 6.27

%
Water

BAB VI

Oil

Ukuran pori-pori

VI-17

Gambar 6.1 Pengaruh Ukuran Pori pada Dua Fasa

Oil

Gas

Ukuran pori-pori

Gambar 6.2 Pengaruh Ukuran Pori pada Tiga Fasa

k
r

NonWetting
Phase
Wetting
Phase
(1/Pc)

Sw *

S*w

(1/ Pc ) dS w

Pc

0
Sw
0

Siw
0

Sw

100
1

Minimum
Intersisial
(1/Pc)2

Sw *

1 100

Swp,%

(10/ Pc ) dS w

Snwp,
%

0 terhadap
1
Sw *
Gambar 6.3 Hubungan Saturasi
Permeabilitas
Relatif

Sw *
(1/Pc)

(1/ Pc ) dS w

S *w

Pc

(1/Pc)
0

Sw

Siw

BAB VI

Sw *

Sw

(1/ Pc ) dS w

0
a

Sw *

VI-18

Gambar 6.4 Diagram Harga Integral untuk Persamaan 5.20 (atas) dan 5.21

Grafik Fungsi J vs Sw *
Proses Drainage

Fungsi J

10

0.1
0.1

1
Sw *

Gambar 6.5 Contoh Perhitungan 5-1

BAB VI

VI-19

Grafik Sw * vs Krw dan Kro


1.2
Krw dan Kro

1
0.8

Krw

0.6

Kro

0.4
0.2
0
0

0.2

0.4

0.6

0.8

1.2

Sw *

Gambar 6.6 Contoh Perhitungan 5-1

Grafik Sw* vs 1/J2


50

1/J 2

40
30
20
10
0
0.07

0.14

0.29

0.43

0.57

0.71

0.86

1.00

Sw*

Gambar 6.7 Contoh Perhitungan 6-7

0.40

0.40

0.35

0.35

0.30
0.25

0.30
0.25

0.20

0.20

0.15

0.15

0.10
0.05

0.10
0.05

0.00

0.00
0

0.1

0.2

0.3
Sg

0.4

Gambar 6.8 Contoh Perhitungan 6-3

BAB VI

0.5

0.6

krg

kro

Grafik Sg vs krg dan kro

VI-20

Kr vs So
35

Drainage Ko

30

Imbibisi Ko
Drainage Kg

So, %

25

Imbibisi Kg

20
15
10
5
0
0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

Kr, %

Gambar 6.9 Perbedaan Permeabilitas Relatif Drainage dan Imbibisi

Grafik Fungsi J vs S w *
P roses Imbibisi
10

0.1
0.01

0.1

Sw*

Gambar 6.10 Contoh Perhitungan 6-4

0.35

0.35

0.30

0.30

0.25

0.25

0.20

0.20

0.15

0.15

0.10

0.10

0.05

0.05

0.00
0.00

0.00
0.10

0.20

0.30

0.40

So

Gambar 6.11 Contoh Perhitungan 6-4

BAB VI

0.50

0.60

kro

krw

Grafik So vs kro dan krw

VI-21

Gambar 6.12 Plot tipikal dari (1/Pc2 vs So)

Gambar 6.13 Permeabilitas relatif pada batuan pasir terkonsolidasi


menunjukkan kecocokan dengan hasil perhitungan

BAB VI

VI-22

Gambar 6.14 Permeabilitas relatif pada batuan pasir kurang terkonsolidasi


menunjukkan kecocokan dengan hasil perhitungan

Gambar 6.15 Permeabilitas relatif pada batuan pasir yang mengandung dolomite
menunjukkan penyimpangan dengan hasil perhitungan

BAB VI

VI-23

Gambar 6.16 Permeabilitas relatif pada batuan pasir kurang terkonsolidasi dengan
stratifikasi menunjukkan penyimpangan dengan hasil perhitungan

Gambar 6.17 Permeabilitas relatif pada batuan pasir terkonsolidasi menunjukkan


penyimpangan dengan hasil perhitungan pada region dengan saturasi gas yang
kecil

BAB VI

VI-24
100 % Gas

100 % Water

100 % Oil

Gambar 6.18 Ternary Diagram 3 Fasa


100 % Gas

kro

10
% 20 %
80 %
100 % Water

100 % Oil

Gambar 6.19
6.13 Permeabilitas Relatif Minyak dalam Sistem 3 Fasa
100 % Gas

krw

10 %

100 % Gas

20 %
40 %
60 %

5%

20 %
80 %
Kr
100 %wwater 40 %

100 % Oil

Gambar 6.20 Permeabilitas Relatif Air dalam Sistem 3 Fasa


BAB VI
100 % water

100 % Oil

Gambar 6.21 Krw sebagai Fungsi dari Saturasi

VI-25

100 % Gas
80 %

60 %
40 %
20 %

100 % Water

100 % Oil

Gambar 6.22 Permeabilitas Relatif Gas dalam Sistem 3 Fasa


1.0

0.8

0.6

Krg
0.4

0.2

BAB VI

20

40

60

80

100

So + S w

Gambar 6.23 Plot Krg dalam Koordinat Kartesian terhadap So + Sw

VI-26

1.0

Krg

100 % gas

0
0

10

So , %

Minimum Interstitial Water Saturation


30% oil

Gambar 6.24 Permeabilitas


Relatif Minyak terhadap So pada Koordinat Kartesian
20%
gas
50% water

BAB VI

100 % water

5%
water

100 % oil

Gambar 6.25 Kisaran daerah Tiga Fasa

VI-27

10.0000
0.1

0.2

Swi

0.3
0.4

1.000

0.5

100

Krg/Kro

10.000
10

0.05
0.15

0.25

1.000
1

0.35

Swi
0.45

Kro/Krw

100
0.1

10
0.01
1
0.001
0
0.1

2
0

6
0

4
0

8
0

10
0

SL

Gambar 6.26 Kurva Wyllie dimana Permeabilitas Objektif Air sama dengan Nol untuk
0.01Air (Water-wet): Sandstone, Oolitic Limestone, atau Vugular
Batuan Basah
0.001

BAB VI

2
0

4
0

Sw

6
0

8
0

10
0

Gambar 6.27 Kurva Wyllie dimana Permeabilitas Relatif Efektif Gas adalah Nol untuk
Batuan Basah Air: Cemented Sandstone, Oolite Limestones, Vugular

VI-28

BAB VI