Anda di halaman 1dari 7

I.

BERBAGI INFORMASI
SKIZOAFEKTIF TIPE DEPRESIF
a. Gambaran Klinis
Gangguan skizoafektif mempunyai tanda dan gejala yaitu
termasuk semua tanda dan gejala skizofrenia, episode manik, dan
gangguan depresif. Dimana gangguan episodik gejala gangguan
mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode
penyakit yang sama, baik secara simultan atau secara bergantian
dalam beberapa hari. Disebut gangguan skizoakfektif tipe depresif
bila gejala skizofrenik dan gejala depresif yang menonjol pada
episode penyakit sama (Kaplan, 2010).
Gejala skizofrenik menurut PPDGJ-III :
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan
biasanya dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam
atau kurang jelas) :
a) - thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau
bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan,
walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda ; atau
- thought insertion or withdrawal = isi yang asing dan luar
masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya
diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan
- thought broadcasting= isi pikirannya tersiar keluar sehingga
orang lain atau umum mengetahuinya;
b) - delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan
oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
- delusion of passivitiy = waham tentang dirinya tidak berdaya
dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya
= secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau
ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus)
- delusional perception = pengalaman indrawi yang tidak
wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya
bersifat mistik atau mukjizat;
c) Halusinasi Auditorik:

Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus

terhadap perilaku pasien, atau


Mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri

(diantara berbagai suara yang berbicara), atau


Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian

tubuh.
d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya
setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil,
misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau
kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya
mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan
mahluk asing dan dunia lain)
Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada
secara jelas:
e) Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila
disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang
setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun
disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang
menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu
minggu atau berbulan-bulan terus menerus;
f) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan
yang tidak relevan, atau neologisme;
g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement),
posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea,
negativisme, mutisme, dan stupor;
h) Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang
jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar,
biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan
sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa
semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi
neuroleptika;

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama


kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase
nonpsikotik (prodromal). Harus ada suatu perubahan yang
konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality)
dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak
berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed
attitude) dan penarikan diri secara sosial (Maslim, 2001)
Gejala Depresif menurut PPDGJ-III :
F32 Episode Depresif

Gejala utama (pada derajat ringan, sedang dan berat)


- Afek depresif,
- Kehilangan minat dan kegembiraan dan
- Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan
mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja)

dan menurunnya aktivitas.


Gejala lainnya :
- Konsentrasi dan perhatian berkurang
- Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
- Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
- Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
- Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
- Tidur terganggu
- Nafsu makan berkurang.
Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan diperlukan
masa ekurang-kurangnta 2 minggu untuk penegakkan diagnosis,
akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala
luar biasa beratnnya dan berlangsung cepat (Maslim, 2001).
b. Kriteria Diagnosis
Menurut PPDGJ-III :
F25 Gangguan Skizoafektif
Pedoman Diagnostik
Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejalagejala definitive adanya skizofrenia dan gangguan afektif

sama-sama

menonjol

pada

saat

yang

bersamaan

(simultaneously), atau dalam beberapa hari yang satu sesudah


yang lain, dalam satu episode penyakit yang sama, dan
bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak
memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik
atau depresif.
Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala
skizofrenia dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyakit
yang berbeda.
Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif
setelah mengalami suatu episode psikotik, diberi kode
diagnosis F20.4 (Depresi Pasca-skizofrenia). Beberapa pasien
dapat mengalami episode skizoafektif berulang, baik berjenis
manik (F25.0) maupundepresif (F25.1) atau campuran dari
keduanya (F25.2). Pasien lain mengalami satu atau dua
episode skizoafektif terselip diantara episode manic dan
depresif (F30-F33).
F 25.1 Skizoafektif tipe depresif
Pedoman diagnostik
Kategori ini harus dipakai baik untuk episode skizoafektif tipe
depresif yang tunggal, dan untuk gangguan berulang dimana
sebagian besar di dominasi oleh skizoafektif tipe depresif.
Afek depresif harus menonjol, disertai oleh sedikitnya 2 gejala
khas, baik depresif maupun kelainan prilaku terkait seperti
tercantum dalam uraian untuk episode depresif (F 32)
Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu, atau
lebih baik lagi dua, gejala skizofrenia yang khas (sebagaimana
ditetapkan untuk skizofrenia, F20.-pedoman diagnostic (a)
sampai (d) (Maslim, 2001).

Menurt DSM-IV :
Kriteria Diagnostik Untuk Gangguan Skizoafektif
A Suatu periode penyakit yang tidak terputus selama mana, pada suatu waktu. Terdapat baik
episode depresif berat, episode manik, atau suatu episode campuran dengan gejala yang
memenuhi kriteria A untuk skizofrenia.
Catatan: Episode depresif berat harus termasuk kriteria A1: mood terdepresi.
B Selama periode penyakit yang sama, terdapat waham atau halusinasi selama sekurangnya 2
minggu tanpa adanya gejala mood yang menonjol.
C Gejala yang memenuhi kriteria untuk episode mood ditemukan untuk sebagian bermakna
dari lama total periode aktif dan residual dari penyakit.
D Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang
disalahgunakan, suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum.
Sebutkan tipe:
Tipe bipolar: jika gangguan termasuk suatu episode manik atau campuran (atau suatu manik
suatu episode campuran dan episode depresif berat)
Tipe depresif: jika gangguan hanya termasuk episode depresif berat.
Tabel 6.1. Kriteria diagnostik menurut DSM-IV (Kaplan, 2010)
c. Penatalaksanaan
a. Terapi kognitif (Cognitive Behavioral Therapy) dengan
megembangkan cara berpikir alternatif, fleksibel, dan positif
serta melatih kembali respon kognitif dan pikiran yang baru
(Kaplan, 2003).
b. Psikoedukasi terhadap pasien jika kondisi sudah membaik:
- Pengenalan terhadap penyakit, manfaat pengobatan, cara pengobotan, efek
samping pengobatan.
- Memotivasi pasien agar minum obat secara teratur dan rajin kontrol
setelah pulang dari perawatan.
- Menggali kemampuan pasien yang bisa dikembangkan (Kaplan, 2003).
c. Pengobatan Psikososial
Pasien

dapat

terbantu

dengan

kombinasi

terapi

keluarga, latihan keterampilan sosial, dan rehabilitasi kognitif.


Oleh karena bidang psikiatri sulit memutuskan diagnosis dan
prognosis

gangguan

skizoafektif

yang

sebenarnya,

ketidakpastian tersebut harus dijelaskan kepada pasien.


Kisaran gejala mungkin sangat luas, karena pasien mengalamai
keadaan psikosis dan variasi kondisi mood yang terus
berlangsung. Anggota keluarga dapat mengalami kesulitan

untuk menghadapi perubahan sifat dan kebutuhan pasien


tersebut (Kaplan, 2010).
d.

Pengobatan Farmakoterapi
Pasien dengan gangguan skizoafektif tipe depresif
dapat diberikan antidepresan. Pemilihan obat antidepresan
memperhatikan kegagalan atau keberhasilan antidepresan
sebelumnya. Inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) sering
digunakan sebagai agen lini pertama, namun pasien teragitasi
atau insomnia dapat disembuhkan dengan antidepresan
trisiklik. Apabila pengobatan dengan antidepresan tidak efektif
dapat dicoba dengan terapi elektrokonvulsif (Kaplan, 2010).
Pemantauan laboratorium terhadap konsentrasi obat
dalam plasma dan tes fungsi ginjal, tiroid, dan fungsi
hematologik harus dilakukan secara berkala (Kaplan, 2010).

e. Prognosis

Mengingat ketidakpastian dan berkembangnya diagnosis


gangguan skizoafektif, serta sulit ditentukannya prognosis dan
perjalanan jangka panjang. Setelah satu tahun akan mempunyai
hasil yang berbeda bergantung apakah gejala dominannya
afektif maka prognosis baik atau sebaliknya jika lebih dominan
skizofrenik maka prognosisnya buruk (Kapllan, 2010)
DAFTAR PUSTAKA

Maslim, Rusdi. 2001. Daignosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkasan PPDGJ-III.


Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.
Kaplan H.I, Sadock B.J, Grebb J.A. 2010. Sinopsis Psikiatri Jilid 2. Terjemahan
Widjaja Kusuma. Jakarta: Binarupa Aksara
Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. 2003. Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatri.
9th ed. Philadelpia: Lippincott William & Wilkins.