Anda di halaman 1dari 25

BAB I

STATUS PASIEN
1.

Identitas
Pasien
Nama

: By. S

Umur

: 28 hari

Jenis Kelamin

: Laki - laki

BB

: 1750 gr

Tanggal Masuk

: 15 November 2015

No. RM

: 088***

Orang Tua
Ayah

Ibu

Nama

: Tn. Y

Ny. I (Almh)

Umur

: 31 Tahun

28 Tahun

Umur saat nikah

: 26 tahun

22 Tahun

Pekerjaan

: Buruh tani

Ibu Rumah Tangga

Pendidikan

: SD

SD

Agama

: Islam

Islam

Alamat

: Desa candi

Hubungan dengan pasien: Anak Kandung


II.

Anamnesis
Diperoleh secara alloanamnesis dari Ayah pasien
Keluhan utama

: Bayi lahir dengan berat badan 1700 gr

RPS

:
Seorang bayi laki-laki datang tanggal 15 November 2015 pukul 15.20

WIB, dengan keluhan tidak mau minum 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit,
riwayat demam disangkal, batuk dan pilek juga disangkal. Biasanya bayi S dapat
menghabiskan ASI melalui botol susu sebanyak 20 cc setiap 2 jam. Bayi S baru 3
hari berada dirumah, setelah menjalani perawatan selama 25 hari. Dengan riwayat
Berat Bayi Lahir Rendah, kurang bulan secara Sectio Cesarea usia kehamilan 36
minggu, ibu bayi S telah meninggal dunia saat proses SC berlangsung
dikarenakan perdarahan hebat
Riwayat Ibu

Usia Kehamilan : 36 minggu

Status ibu

Hipertensi (-), DM (-), perdarahan selama kehamilan (-), penyakit jantung (-)

: G2 P2A0

merokok (-), asma (-), muntah-muntah saat hamil (-),riwayat minum obatobatan tidak tahu, riwayat minum kopi (-), minum teh (+).
Riwayat Ayah
Merokok (-)
i.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum

: Lemah, tampak sakit sedang, menangis lemah

Tanda vital :
Tekanan darah : tidak diperiksa
Nadi

: 132 x /menit

Suhu

: 35,2oC

Pernafasan

: 52 x /menit

Kepala

: Mesocephal, deformitas (-), UUB cekung (-), rambut lurus


dan halus.

Mata

: Mata cekung (-) anemis (-), refleks cahaya (+)

Telinga

: Daun telinga lentur, tidak bertulang belakang

Hidung

: Pernafasan cuping hidung (-)

Mulut

: Sianosis (-)

Leher

: Pembesaran KGB (-)

Dada

: Simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-)

Paru

: Vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-

Jantung

: Ictus cordis teraba di ICS IV midclavicula kiri, murmur


(-), gallop (-).

Abdomen

: Datar , kulit tipis, warna tali pusat tidak diperiksa, bau (-),
BU (+) normal.

Hepar

: Tidak diperiksa

Lien

: Tidak diperiksa

Ginjal

: Tidak diperiksa

Genitalia

: Skrotum kecil dengan ruga sudah terlihat jelas.

Ekstremitas

: Akral dingin, sianosis (-), CTR < 2s

Kulit

: Turgor kulit baik, ptekie (-), purpura (-)

Anus

: (+)

Kelainan bawaan : (-)


III.

IV.

Pemeriksaan Laboratorium (17 November 2015)


Hb

: 13,7 mg/dl (n)

Lekosit

: 15,7 mg/dl (n)

Trombosit

: 419.000 (H)

Diagnosis
Infeksi Neonatal, BBLR, KB, Lahir SC, Ibu +

V.

Penatalaksanaan
1. Jaga kehangatan
2. Infus D5% 8 tpm
3. Inj Ampicilin 2x90 mg
4. Inj Alinamin f 1x1 mgGaramycin 2 x 5 mg
5. Inj Gentamicin 1x8 mgKalmethason 3 x 0,5 mg

VI.

Usulan Pemeriksaan Lanjutan


1. Pemeriksaan darah rutin
2. Pemeriksaan darah tepi
3. Pemeriksaan GDS

i.

Pengamatan
16-11-2015

S/ Keadaan umum lemah, menangis pelan , nafas spontan

O/ HR 156x/m RR 40x/m suhu : 37,5oC

A/ Infeksi neonatal, ibu +, BBLR,KB, SC

P/ inf KAEN 3A 8tpm mikro, inj Ampisilin 2x75 mg

Pemberian ASI melalui sonde/ oral 10 x 30 cc/hari

BBS : 1750 gr

17-11-2015

S/ Keadaan umum lemah, menangis ,gerak cukup aktif, nafas spontan

O/ HR 146x/m RR 42x/m suhu : 36,5oC

A/ Infeksi neonatal, ibu +, BBLR,KB, SC

P/ inf KAEN 3A 8tpm mikro, inj Ampisilin 2x75 mg

Pemberian ASI melalui sonde/ oral 10 x 30 cc/hari

BBS : 1750 gr

18-11-2015

S/ Keadaan umum lemah, menangis lemah , nafas spontan

O/ HR 148x/m RR 44x/m suhu : 36.9oC

A/ Infeksi neonatal, ibu +, BBLR,KB, SC

P/ inf KAEN 3A 8tpm mikro, inj Ampisilin 2x75 mg

Pemberian ASI melalui sonde/ oral 10-12 x 30 cc/hari

BBS : 1750 gr

20-11-2015

S/ Menangis kuat , gerak aktifnafas spontan

O/ HR 150x/m RR 48x/m suhu : 36.5oC

A/ Infeksi neonatal, ibu +, BBLR,KB, SC

P/ inf KAEN 3A 8tpm mikro, inj Ampisilin 2x75 mg

Pemberian ASI melalui sonde/ oral 10-12 x 30 cc/hari

BBS : 1800 gr

22-11- 2015

VII.

S/ Menangis kuat, gerak aktif, menangis spontan

O/ HR 144x/m RR 44x/m T 36.6

A/ infeksi neonatal, ibu +, BBLR, KB, SC

P/ pulang

BB bayi : 1800 gr
Resume

Seorang bayi laki-laki datang tanggal 15 November 2015 pukul 15.20


WIB, dengan keluhan tidak mau minum 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit,
riwayat demam disangkal, batuk dan pilek juga disangkal. Biasanya bayi S
dapat menghabiskan ASI melalui botol susu sebanyak 20 cc setiap 2 jam. Bayi
S baru 3 hari berada dirumah, setelah menjalani perawatan selama 25 hari.
Dengan riwayat Berat Bayi Lahir Sangat Rendah, kurang bulan secara Sectio
Cesarea usia kehamilan 37 minggu, ibu bayi S telah meninggal dunia saat
proses SC berlangsung dikarenakan perdarahan hebat.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah, tampak sakit
berat, dan menangis lemah. Tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan Darah
Rutin Hb 13.7 mg/dl Lekosit 15.7 mg/dl Trombosit 419.000

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Bayi Berat Lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badannya
saat lahir kurang dari 2.500 gram (sampai dengan 2499 gram). Berkaitan dengan
penanganan dan harapan hidupnya, bayi berat lahir rendah dibedakan dalam :
Bayi berat lahir rendah (BBLR), berat lahir 1.5002.500 gram.
Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), berat lahir < 1.500 gram.
Bayi berat lahir ekstrem rendah (BBLER), berat lahir < 1.000 gram.
Bayi berat lahir rendah mungkin prematur (kurang bulan), mungkin juga cukup bulan
(dismatur).
Grenwald menyatakan bahwa bila digunakan definisi yang lama, 3040% dari
bayi perempuan sebenarnya telah mempunyai masa gestasi 3738 minggu. Selain itu
di negeri yang masih berkembang batas 2.500 gram sebagai bayi prematur mungkin
terlalu tinggi, karena berat badan lahir rata-rata yang lebih rendah
Untuk mendapat keseragaman, pada kongres European Perinatal Medicine
ke 2 di London (1970) telah diusulkan definisi sebagai berikut :
Bayi kurang bulan (pre-term) ialah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37
minggu (kurang dari 259 hari).
Bayi cukup bulan (term) ialah bayi dengan masa kehamilan mulai 37 minggu
sampai 42 minggu (259293 hari).

Bayi lebih bulan (posterm) ialah bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu
atau lebih (294 hari atau lebih).
Dengan pengertian seperti yang telah diuraikan diatas, bayi BBLR dapat
dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :
1. Prematuritas murni
Masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat
badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai
untuk masa kehamilan (NKB-SMK).
2. Dismaturitas
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa
gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan
merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK).
Angka kejadian
Angka kejadian BBLR di RSCM pada tahun 1986 adalah 24%. Angka
kematian perinatal di rumah sakit dan tahun yang sama adalah 70% dan 73% dari
seluruh kematian yang disebabkan oleh BBLR

Prematuritas murni
Masa gestasi bayi prematur adalah kurang dari 37 minggu atau 259 hari. Di
negara maju angka kejadian kelahiran bayi prematur adalah sekitar 67 %. Di negara
sedang berkembang, angka kematian lebih kurang 3 kali lipat. Di Indonesia angka
kejadian bayi prematur beleum dapat dikemukakan di sini, tetapi angka di RSCM
Jakarta berkisar antara 2224 % dari semua bayi yang dilahirkan dalam 1 tahun.
Makin rendah masa gestasi dan makin kecil bayi yang dilahirkan makin tinggi
morbiditas dan mortalitasnya. Berdasarkan atas timbulnya bermacam-macam

problematika pada derajat prematuritas, maka Usher (1975) menggolongkan bayi


tersebut dalam tiga kelompok :
1. Bayi yang sangat prematur (extremely premature) : Masa gestasi 2430 minggu.
Bayi dengan masa gestasi 2427 minggu masih sangat sulkar hidup terutama di
negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 2830
minggu masih mungkin hidup dengan perawatan yang sangat intensif agar dicapai
hasil yang optimum.
2. Bayi prematur derajat sedang (moderately premature) : Masa gestasi 3136
minggu. Kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik jauh lebih baik dari golongan
pertama dan gejala sisa yang akan dihadapi dikemudian hari juga lebih ringan jika
diberi pengelolaan yang intensif.
3. borderline premature : Masa gestasi 3738 minggu. Bayi ini mempunyai sifatsifat prematur dan matur. Biasanya beratnya seperti bayi matur dan dikelola
seperti bayi matur, akan tetapi sering timbul problematika seperti yang dialami
bayi prematur, seperti sindrom gangguan pernapasan, hiperbilirubinemia, daya
isap yang lemah dan sebagainya, sehingga bayi ini harus diawasi dengan seksama.

Penyebab
1. Faktor ibu

Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan, misalnya


toksemia

gravidarum,

perdarahan

antepartum,

kelainan

uterus,

hidarmnion, penyakit jantung atau penyakit infeksi atau kronik lainnya,


hipertensi, nefritis akut, diabetes melitus, tindakan operatif, trauma psikis
dan psikologis.

Usia. Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun. Jarak dua
kehamilan terlalu dekat.

Riwayat kelahiran prematur sebelumnya.

2. Faktor janin, seperti cacat bawaan, hidramnion, ketuban pecah dini dan
kehamilan ganda pada umumnya akan mengakibatkan lahir bayi BBLR.

3. Keadaan sosial ekonomi yang rendah


4. Kebiasaan, seperti pekerjaan yang melelahkan, merokok.
5. Tidak diketahui.

Gambaran klinis
Tampak luar dan tingkah laku bayi prematur tergantung dari tuanya umur
kehamilan. Karakteristik untuk bayi prematur adalah berat lahir kurang dari atau
sama dengan 2.500 gr, panjang badan kurang dari atau sama dengan 45 cm,
lingkar dada kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm, umur
kehamilan kurang dari 37 minggu.
Kepala relatif lebih besar dari badannya, kulit tipis, transparan, lanugonya
banyak, lemak subkutan kurang, sering tampak peristaltik usus. Osifikasi
tengkorak sedikit, ubun-ubun dan sutura lebar, genitalia imatur. Desensus
testikulorum biasanya belum sempurna dan labia minora belum tertutup oleh labia
major. Pembuluh darah kulit banyak terlihat. Rambut biasanya tipis, halus dan
teranyam sehingga sulit terlihat satu-persatu. Tulang rawan dan daun telinganya
belum cukup, sehingga elastisitas daun telinganya masih kurang. Jaringan
mammae belum sempurna, demikian pula puting susu belum terbentuk dengan
baik. Bayi kecil, posisinya masih posisi fetal, yaitu posisi dekubitus lateral,
pergerakannya masih kurang dan lemah. Bayi lebih banyak tidur daripada
bangun.
Tangisnya lemah dan jarang, pernapasan belum teratur dan sering terdapat
serangan apnea. Bila hal ini sering terjadi dan tiap serangan lebih dari 20 detik
maka kemungkinan timbulnya kerusakan otak yang permanen lebih besar. Otototot masih hipotonik, sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua tungkai dalam
abduksi, sendi lutut dan sendi kaki dalam fleksi atau lurus dan kepala mengarah
ke satu sisi.

Refleks tonik-leher biasanya lemah dan refleks moro dapat positif. Refleks
mengisap dan menelan belum sempurna, demikian pula refleks batuk. Bayi yang
lapar akan menangis, gelisah dan mengerak-gerakkan tangannya. Bila dalam
waktu 3 hari tanda-tanda lapar ini tidak terlihat, maka harus dicurigai adanya
perdarahan intraventrikuler atau infeksi.
Edema biasanya sudah terlihat segera setelah lahir dan makin bertambah
jelas dalam 2448 jam berikutnya. Kulit tampak mengkilat, licin, serta terdapat
pitting edema. Edema ini dapat berubah sesuai dengan perubahan posisi. Edema
yang hebat merupakan tanda bahaya bagi bayi tersebut. Edema ini seringkali
berhubungan dengan perdarahan antepartum, diabetes mellitus dan toksemia
gravidarum.
Frekuensi nadi berkisar antara 100140 kali/menit. Frekuensi pernapasan
bervariasi, terutama pada hari-hari pertama. Pada hari pertama frekuensi
pernapasan 4050 kali/menit. Pada hari berikutnya 3545 kali/menit. Bila
frekuensi pernapasan terus meningkat atau selalu di atas 60 kali/menit, harus
waspada akan kemungkinan terjadinya sindrom gangguan pernapasan, seperti
membran hialin, pneumonia, gangguan metabolik atau gangguan susunan saraf
pusat. Dalam hal ini penting sekali melakukan pemeriksaan foto toraks, USG dan
lain-lain.

Permasalahan
1. Suhu tubuh tidak stabil. Karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang
disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibatnya kurangnya jaringan
lemak bawah kulit, permukaan tubuh yang relatif lebih luas dibandingkan
dengan berat badan, otot yang tidak aktif, produksi panas yang berkurang oleh
karena lemak coklat yang sedikit, serta pusat pengaturan suhu yang belum
sempurna fungsinya.
2. Gangguan pernapasan. Disebabkan oleh kurangnya jumlah surfaktan (rasio
lesitin/sfingomielin kurang dari 2), pertumbuhan dan pengembangan paru

yang belum sempurna, otot pernapasan yang masih lemah dan tulang iga yang
mudah melengkung. Penyakit gangguan pernapasan yang sering diderita bayi
prematur adalah penyakit membrane hialin dan pneumonia aspirasi.
Disamping itu sering timbul pernapasan periodik dan apnea yang disebabkan
oleh pusat pernapasan di medulla oblongata belum matur.
3. Gangguan pencernaan dan nutrisi. Terjadi distensi abdomen akibat dari
motilitas usus kurang, volume lambung berkurang sehingga waktu
pengosongan lambung bertambah, daya untuk mencerna dan mengabsorbsi
lemak, laktosa, vitamin yang larut lemak dan beberapa mineral tertentu
berkurang. Kerja dari sfingter kardio-esofagus yang belum sempurna
memudahkan terjadinya regurgitasi isi lambung ke esofagus dan mudah
terjadi aspirasi.
4. Hati imatur. Memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi
vitamin K. Hiperbilirubinemia disebabkan faktor kematangan hepar kurang,
sehingga konjugasi bilirubin indirek menjadi bilirubin direk belum sempurna.
5. Ginjal imatur. Baik secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urin yang
sedikit, urea clearance yang rendah, tidak sanggup mengurangi kelebihan air
tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudah terkadi edema dan
asidosis metabolik.
6. Perdarahan. Mudah terjadi perdarahan karena pembuluh darah yang rapuh,
kekurangan faktor pembekuan seperti protrombin, faktor VII dan faktor
Chrismast.
7. Gangguan imunologik. Daya tahan tubuh terhadap infeksi kurang, karena
rendahnya kadar IgG gamma globulin. Bayi prematur relatif belum mampu
membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan
masih belum baik
8. Perdarahan intraventrikuler. Lebih dari 50% bayi prematur menderita
perdarahan intraventrikuler. Hal ini disebabkan oleh karena bayi prematur
sering menderita apnea, asfiksia berat dan sindroma gangguan pernapasan.

Akibatnya bayi menjadi hipoksia, hipertensi, dan hiperkapnia. Keadaan ini


menyebabkan aliran darah ke otak bertambah. Penambahan aliran darah ke
otak akan lebih banyak lagi karena tidak adanya autoregulasi serebral pada
bayi premature, sehingga mudah terjadi perdarahan dari pembuluh darah
kapiler yang rapuh dan iskemia di lapisan germinal yang terletak di dasar
ventrikel lateralis antara nukleus kaudatus dan ependim. Luasnya perdarahan
intraventrikuler dapat didiagnosis dengan USG atau CT-Scan.
9. Fibroplasia retrolental. Penyakit ini ditemukan pada bayi prematur dan
disebabkan oleh penggunaan oksigen dengan konsentrasi tinggi (PaO2 lebih
dari 115 mmHg = 15 kPa), maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah
retina yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru ke daerah yang
iskemia sehingga terjadi perdarahan fibrosis, distorsi dan parut retina sehingga
bayi menjadi buta. Stadium akut penyakit ini dapat terlihat pada umur 3 6
minggu dalam bentuk dilatasi arteri dan vena retina. Kemudian dikuti oleh
pertumbuhan kapiler baru secara tidak teratur pada ujung vena. Kumpulan
pembuluh darah baru ini tampak sebagai perdarahan. Akhirnya sebagian
kapiler baru ini tumbuh kea rah korpus vitreum dan lensa. Selanjutnya akan
terjadi edema pada retina dan retina dapat terlepas dari dasarnya dan keadaan
ini merupakan keadaan yang irreversible. Pada stadium akhir akan terdapat
massa retrolental yang terdiri dari jaringan ikat. Keadaan ini dapat terjadi
bilateral dengan mikroftalmus, kamar depan menyempit, pupil mengecil dan
tidak teratur, serta visus menghilang. Selain itu dapat pula disertai retardasi
mental dan cerebral palsy.
Pengobatan pada stadium dini dapat dicoba dengan memberikan ACTH atau
kortikosteroid. Hal yang paling penting ialah pencegahannya, yaitu : (1) Pada
BBLR penggunaan oksigen tidak melebihi 40% dan hal ini dapat dicapai
dengan memberikan oksigen 2 liter/menit, (2) , (3) Pemberian oksigen pada
bayi yang berat badannya kurang dari 2 kg, harus hati-hati dan sebaiknya
PaO2 selalu dimonitor.

Penatalaksanaan
Mengingat belum sempurnanya kerja organ-organ tubuh yang diperlukan untuk
pertumbuhan, perkembangan dan penyesuaian diri dengan lingkungan di luar
uterus, maka perlu diperhatikan pengaturan suhu lingkungan, pemberian
makanan, dan pencegahan infeksi.
1. Pengaturan suhu
Untuk mencegah hipotermi, perlu diusahakan lingkungan yang cukup hangat
untuk bayi dan dalam keadaan istirahat konsumsi oksigen sedikit, sehingga
suhu tubuh bayi tetap normal. Bila bayi dirawat dalam inkubator, maka suhu
untuk bayi berat badan kurang dari 2 kg adalah 35 C, dan untuk bayi dengan
berat badan 22,5 kg adalah 34 C. Kelembaban inkubator berkisar antara 50
60%. Kelembaban yang lebih tinggi diperlukan pada bayi dengan sindrom
gangguan pernapasan. Suhu inkubator dapat diturunkan 1 C perminggu untuk
bayi dengan berat badan 2 kg, dan secara berangsur-angsur ia dapat diletakkan
di tempat tidur bayi dengan suhu lingkungan 2729 C. Bila tidak ada
inkubator, pemanasan dapat dilakukan dengan membungkus bayi dan
meletakkan botol air hangat atau lampu petromak didekat tempat tidur bayi.
Bayi dalam inkubator hanya dipakaikan popok untuk memudahkan
pengawasan sehingga kelainan yang timbul dapat dikenal sedini-dininya dan
tindakan serta pengobatan dapat dilaksanakan secepat-cepatnya.
2. Makanan
Pada bayi premature refleks mengisap, menelan dan batuk belum sempurna,
kapasitas lambung sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase masih
kurang, di samping itu kebutuhan protein 35 gr/hari dan kalori tinggi (110
kal/kg/hari), agar berat badan bertambah. Pemberian minum dimulai pada
waktu bayi berumur 3 jam, agar bayi tidak mengalami hipoglikemia dan
hiperbilirubunemia.

Sebelum pemberian minum pertama harus dilakukan pengisapan cairan


lambung untuk mengetahui ada atau tidaknya atresia esofagus dan mencegah
muntah. Pengisapan cairan lambung dilakukan setiap sebelum pemberian
minum. Pada umumnya bayi dengan berat lahir 2.000 gr atau lebih dapat
menyusu pada ibunya. Bayi dengan berat kurang dari 1.500 gr kurang mampu
mengisap ASI atau susu botol, terutama pada hari-hari pertama. Dalam hal ini
bayi diberi minum melalui sonde lambung.
Sesudah 5 hari bayi dicoba menyusu pada ibunya. Bila daya isap cukup baik
maka pemberian ASI diteruskan. Pemberian melalui susu botol adalah dengan
frekuensi pemberian yang lebih sering dalam jumlah susu yang sedikit.
Frekuensi pemberian minum makin berkurang dengan bertambahnya berat
bayi. Jumlah cairan yang diberikan pertama kali adalah 15 ml/jam dan
jumlahnya dapat ditambah sedikit demi sedikit setiap 12 jam. Banyaknya
cairan yang diberikan adalah 60 mL/kgBB/hari dan setiap hari dinaikkan
sampai 200 mL/kgBB/hari pada akhir minggu kedua. Bila tidak ada ASI dapat
diberikan susu buatan yang mengandung lemak yang mudah dicerna bayi
(middle chain triglyserides) dan mengandung 20 kal/30 mL air atau sekurangkurangnya 110 kal/kgBB/hari.
Kadang-kadang diperlukan pemberian makanan melalui kateter. Sebaliknya
dipakai kateter dari polietilen yang dapat tinggal dilambung selama 45 hari
tanpa iritasi. Bila daya isap dan menelan mulai baik, kateter secara berangsurangsur dapat diganti dengan pipet, sendok atau botol dengan dot. Bayi yang
sangat kecil tanpa gangguan pernapasan dapat diberi makanan melalui tetesan
lambung.
3. Pencegahan infeksi.
Bayi prematur mudah sekali diserang infeksi, hal ini disebabkan karena daya
tahan tubuh terhadap infeksi berkurang, relatif belum sanggup membentuk
antibodi dan daya tahan fagositosis serta reaksi terhadap peradangan belum
baik. Perlu dilakukan tindakan pencegahan yang dimulai pada masa perinatal,

seperti memperbaiki keadaan sosial ekonomi, program pendidikan kesehatan,


mencegah buta huruf, keluarga berencana, perawatan antenatal, natal dan
post-natal yang baik, skrining (TORCH, hepatitis, AIDS), vaksinasi, menjaga
kebersihan lingkungan.

Dismaturitas
Dismaturitas adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya kurang
dibandingkan dengan berat badan seharusnya untuk masa gestasi bayi itu (kecil masa
kehamilan = KMK). Batasan yang diajukan oleh Lubchenco (1963) adalah setiap bayi
yang berat lahirnya sama dengan atau lebih rendah dari 10th percentile untuk masa
kehamilan pada Denver intrauterine growth curves atau di bawah 2SD menurut kurva
pertumbuhan intrauterine Usher dan Mc lean. Ada 2 bentuk menurut renfield (1975),
yaitu :
1.

Proportionate IUGR. Janin menderita distress lama, gangguan pertumbuhan


terjadi berminggu-minggu sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir, sehingga
berat, panjang dan lingkar kepala dalam proporsi seimbang, tetapi secara
keseluruhan masih di bawah masa gestasi yang sebenarnya. Bayi ini tidak
menunjukkan adanya wasted, karena retardasi pada janin terjadi sebelum
pembentukan jaringan adiposa

2.

Disproportionate IUGR. Terjadi akibat distress subakut. Gangguan terjadi


beberapa hari sampai minggu sebelum lahir. Panjang dan lingkaran kepala
normal, tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi. Bayi tampak wasted dengan
tanda-tanda bayi kurus dan lebih panjang, jaringan lemak di bawah kulit sedikit,
kulit kering keriput dan mudah diangkat.
Pada bayi IUGR terjadi juga perubahan organ-organ tubuh, dimana

perkembangan dari otak, ginjal dan paru sesuai dengan masa gestasinya.

Penyebab
1. Faktor ibu, seperti hipertensi dan penyakit ginjal kronik, diabetes melitus
berat,

toksemia,

hipoksia

ibu

(tinggal

di

daerah

pegunungan,

hemoglobinopati, penyakit paru kronik), gizi buruk, drug abuse, alkoholisme.


2. Faktor uterus dan plasenta, seperti kelainan pembuluh darah (hemangioma),
insersi tali pusat yang tidak normal, uterus bikornis, infark plasenta, transfusi
dari kembar yang satu ke kembar yang lain,sebagian plasenta lepas.
3. Faktor janin, seperti ganda, kelainan kromosom, cacat bawaan, infeksi dalam
kandungan (TORCH, sifilis).
4. Penyebab lain, seperti keadaan sosial ekonomi yang rendah, idiopatik.

Gambaran klinis
Bayi dengan berat badan kurang dari 2.500 gr, karakteristik fisis sama
dengan bayi prematur dan mungkin ditambah dengan retardasi pertumbuhan dan
wasting. Pada bayi cukup bulan dengan dismaturitas, gejala yang menonjol ialah
wasting demikian pula pada post-term dengan dismaturitas.
Gruenwald (1967) menyatakan bahwa tidak semua kekurangan makanan
pada janin diakibatkan oleh insufisiensi plasenta. Timbulnya gejala insufisiensi
plasenta tergantung pada berat dan lamanya bayi menderita defisit. Menurutnya
defisit yang menyebabkan retardasi pertumbuhan biasanya berlangsung kronis
sehingga terjadi fetal distress. Fetal distress dibagi menjadi 3 golongan, yaitu :
1. Acute fetal distress. Defisit atau fetal deprivation hanya mengakibatkan
perinatal distress tetapi tidak mengakibatkan retardasi pertumbuhan dan
wasting.
2. subacute fetal distress. Fetal deprivation menujukkan wasting tetapi tidak
ada retardasi pertumbuhan.
3. Chronic fetal distress. Bayi menunjukkan retasdasi pertumbahan.

Bayi dismatur dengan tanda wasting atau insufisiensi plasenta dapat


dibagi dalam 3 stadium menurut berat ringannya wasting tersebut (Clifford), yaitu
:
1. Stadium pertama. Bayi tampak kurus dan lebih panjang, kulitnya longgar,
kering seperti perkamen tetapi belum terdapat noda mekonium.
2. Stadium kedua. Tanda stadium pertama ditambah dengan warna kehijauan
pada kulit, plasenta dan umbilikus. Hal ini disebabkan oleh mekonium yang
tercampur dengan amnion yang kemudian mengendap ke dalam kulit,
umbilikus dan plasenta akibat anoksia intrauterin.
3. Stadium ketiga. Tanda stadium kedua ditambah dengan kulit, kuku, dan tali
pusat yang berwarna kuning serta anoksia intrauterin yang lama.

Permasalahan
Maturitas fisiologis bayi ini sesuai dengan masa gestasinya dan sedikit
dipengaruhi oleh gangguan pertumbuhan di dalam uterus. Bayi KMK yang tidak
prematur lebih mudah hidup di luar kandungan, tetapi harus waspada akan
terjadinya beberapa komplikasi, seperti :
1. Sindrom aspirasi mekonium. Keadaan hipoksia intrauterin mengakibatkan
janin mengadakan gasping dalam uterus. Selain itu mekonium akan
dilepaskan ke dalam likuor amnion seperti yang sering terjadi pada subacute
fetal distress, akibatnya cairan itu masuk ke dalam janin paru karena inhalasi.
Sering diikuti oleh pneumotoraks, disebabkan distress yang sering dialami
bayi pada ini persalinan.Insidens idiopathic respiratory distress syndrome
berkurang oleh karena IUGR mempercepat maturnya jaringan paru.
2. Hipoglikemia. Terutama bila pemberian minum terlambat dan terutama
terdapat pada bayi laki-laki. Disebabkan oleh berkurangnya cadangan
glikogen hati dan meningginya metabolisme. Gejala klinis tidak khas,
umumnya mula-mula bayi tidak menunjukkan gejala, kemudian bayi tampak

kaget, twitching, serangan apnea, sianosis, pucat, tidak mau minum, lemas,
apatis dan kejang. Diagnosis dibuat dengan pemeriksaan kadar gula darah.
3. Hiperbilirubinemia. Mungkin disebabkan oleh gangguan pertumbuhan hati.
Menurut Gruenwald hati pada bayi dismatur beratnya kurang dibandingkan
dengan bayi biasa.
4. Usher (1970) melaporkan bahwa 50% bayi KMK mempunyai hemoglobin
yang tinggi, mungkin disebabkan oleh hipoksia kronik di dalam uterus.
5. Asfiksia neonatorum.
6. Penyakit membran hialin. Terutama mengenai bayi dismatur yang pre-term,
karena surfaktan paru belum cukup, sehingga alveoli selalu kolaps. Akibat hal
ini akan tampak dispnea yang berat, retraksi epigastrium, sianosis dan pada
paru terjadi atelektasis dan akhirnya terjadi eksudasi fibrin dan lain-lain serta
terbentuk membrane hialin. Penyakit ini dapat mengenai bayi yang pre-term,
terutama bila masa gestasinya kurang daripada 35 minggu.
7. Keadaan lain yang mungkin terjadi, seperti perdarahan paru massif,
hipotermia, cacat bawaan akibat kelainan kromosom (sindrom Down, Turner
dan lain-lain), cacat bawaan oleh karena infeksi intrauterin dan sebagainya.

Penatalaksanaan
Umumnya sama dengan perawatan neonatus lainnya, seperti pengaturan
suhu lingkungan, makanan, pencegahan infeksi dan lain-lain, tetapi perbedaan
problematika harus diperhatikan :
1. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterin serta
menemukan gangguan pertumbuhan. Waspada terhadap kelainan kongenital.
2. Frekuensi pernapasan terutama dalam 24 jam pertama harus selalu diawasi
untuk mengetahui adanya sindrom aspirasi mekonium atau sindrom gangguan
pernapasan idiopatik.
3. Memeriksa kadar gula darah (true glucose) dengan dextrostix atau di
laboratorium. Kadar gula darah harus diperiksa setiap 812 jam.

4. Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya.


5. Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibandingkan dengan bayi SMK.
6. Melakukan tracheal-washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi
mekonium.
7. Pencegahan infeksi, karena bayi sangat rentan terhadap infeksi, yaitu karena
pemindahan IgG dari ibu ke janin terganggu.
8. Temperatur harus dikelola karena bayi dismatur lebih mudah menjadi
hipotermik, disebabkan luas permukaan tubuh bayi relatif lebih besar dan
jaringan lemak subkutan kurang.
Taksiran maturitas neonatus
Menilai dengan tepat lamanya masa gestasi untuk tiap neonatus sangat
penting karena : (1) penting untuk penatalaksanaan tiap neonatus terutama BBLR
secara individu, (2) faktor maturasi bayi sangat berpengaruh pada morbiditas dan
mortalitas bayi, (3) menilai tingkat perkembangan bayi prematur, (4) penelitian
fisiologis neonatus dilakukan dengan mempertimbangkan lamanya masa gestasi. Cara
menilai maturitas neonatus yang dipakai sampai sekarang adalah :
1.

Menghitung lamanya masa gestasi dengan menggunakan


perhitungan hari pertama haid terakhir (HPHT). Pengalaman menunjukkan
bahwa dapat terjadi kekeliruan dalam penentuan HPHT. Menurut Finnstrom
(1970), walaupun HPHT dapat diingat oleh ibu, biasanya masih ada kesalahan 1
minggu daripada lama masa gestasi yang sebenarnya.

2.

Penilaian ukuran antropometrik

Berat badan lahir (BBL), merupakan indeks terburuk untuk menentukan masa
gestasi, disebabkan pengaruh berbagai faktor. BBLR dapat merupakan bayi
prematur murni atau dismatur. Lama masa gestasi untuk BBLR sangat
bervariasi.

Crown heel length, lingkaran kepala, diameter oksipito-frontal, diameter


baparietal dan panjang badan. Menurut Finnstrom (1971) hanya ukuran
lingkar kepala yang mempunyai korelasi baik dengan lamanya masa gestasi,
dengan confidence limit kira-kira 26,1 hari. Rumus :
Y = 11,03 + 7,75 x
Y = masa gestasi
X = lingkaran kepala

3.

Pemeriksaan radiologis. Mengetahui lamanya masa gestasi


dengan meneliti pusat epifisis.

4.

Motor

conduction

velocity.

Dengan

mengukur

motor

conduction velocity dari nervus ulnaris.


5.

Pemeriksaan elektroensefalogram (EEG)

6.

Penilaian karakteristik fisis. Kriteria eksternal yang dapat


dinilai untuk menentukan masa gestasi neonatus adalah bentuk puting susu,
ukuran mammae, plantar creases, rambut kepala, transparansi kulit, membran
pupil, alat kelamin, kuku dan tulang rawan telinga. Usher (1966) mengemukakan
hubungan antara masa gestasi dan beberapa kriteria pada tabel 1. hasil penilaian
kriteria eksternal ini bervariasi. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik,
beberapa sarjana mengadakan skor terhadap kriteria eksternal ini korelasi antara
skor dengan masa gestasinya. Sistem skor Farr (1966), Finnstrom (1972) dan
Dubowitz (1970).

7.

Penilaian kriteria neurologis. Beberapa kriteria neurologis atau


refleks tertentu baru timbul pada suatu masa gestasi. Penilaian masa gestasi
dengan kriteria eksternal dan neurologis merupakan cara penaksiran maturitas
yang paling mendekati kebenaran. Dengan membuat kombinasi beberapa cara
penilaian, ketelitian dalam penaksiran bertambah baik. Menurut Finnstrom (1972)
cara yang paling mendekati kebenaran adalah kombinasi dua daripada tiga cara di

bawah ini, yaitu karakteristik eksternal, kriteria neurologis dan lingkaran kepala.
(lihat tabel)
8.

Penilaian menurut Dubowitz. Menggabungkan hasil penilaian


fisik eksternal dan neurologis. Kriteria neurologis dan eksternal diberikan nilai
dan dijumlah, kemudian dengan menggunakan grafik regresi linier dicari masa
gestasinya. (Penilaian fisik eksternal tabel)

9.

penilaian masa gestasi berdasarkan 10 kriteria fisik dan


neurologis bayi baru lahir RSCM (Monintja dkk, 1980). Kriteria yang dipakai
adalah kriteria morfologik dan neurologik dari penelitian terdahulu (Usher dkk,
1966 ; Robinson, 1966 ; Atmiel-Tison, 1968). Penilaian masa gestasi adalah
dengan memeriksa ciri morfologik dan neurologik bayi baru lahir dan selanjutnya
disesuaikan dengan masa gestasi memakai cara yang dianjurkan Dubowitz dkk
(1970). (Lihat tabel)

Untuk penelitian dianjurkan memakai cara dubowitz, tetapi untuk dilapangan


sebaiknya cara Monintja dkk.
Prognosis
Prognosis tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa
gestasi, iskemia otak, sindrom gangguan pernapasan, perdarahan intraventrikular,
displasia bronkopulmonal, fibroplasia retrolental, infeksi, gangguan metabolik.
Prognosis juga tergantung dari keadaan sosial ekonomi, pendidikan orang tua dan
perawatan pada saat kehamilan, persalinan dan post-natal.
Pengamatan lanjut
Perlu pengamatan lebih lanjut oleh karena kemungkinan bayi ini akan
mengalami gangguan pendengaran, penglihatan, kognitif, fungsi motorik susunan

saraf pusat dan penyakit-penyakit lain seperti hidrosefalus, cerebral palsy dan lain
sebagainya.

BAB III
KESIMPULAN
Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah premature baby dengan low
birth weight baby (bayi dengan berat badan lahir rendah = BBLR). Hal ini dilakukan
karena tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2.500 gram pada waktu lahir bayi
prematur. Bayi Berat Lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat
badannya saat lahir kurang dari 2.500 gram (sampai dengan 2499 gram). Bayi BBLR
dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu

prematuritas murni, dan dismaturitas.

Prognosis tergantung dari berat ringannya masalah perinatal.

DAFTAR PUSTAKA
1. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Volume 3. Cetakan ke 7.
Penerbit : Percetakan Infomedika K : Jakarta, 1997.
2. Wiknjosastro H. Ilmu Kebidanan. Edisi Ke 3. Cetakan Ke 6. Penerbit :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta, 2002.
3. Saifuddin AB, dkk Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan
Neonatal. Edisi Ke 1. Cetakan Ke 3.

Penerbit : Yayasan Bina Pustaka

Sarwono Prawirohardjo : Jakarta, 2002.


4. Markum, A.H. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jilid I Cetak Ulang 2002.
Balai Penerbit FKUI : Jakarta , 2002.
5. http://www.tempointerkatif.com/medika/arsip/022001/hor-1.com.

Horison.

Hipotermia Pada Neonatus. Bangun Lubis. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUSU/RSUP H. Adam Malik, Medan.
6. Titut S Puponegoro Http://Www.Idai.Or.Id/Sari Pediatri/Isi Jurnal/Vol.Asp
ID=28
7. WWW:.Pediatrik.Com Indonesia-Jawa Timur, Surabaya
8. Linda L Bellig. Track Coordinator, Instructor, Neonatal Practitioner Program,
Medical University Of South Carolina, College Of Nursing.

9. Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM. Jakarta.


Februari. 2005
10. Arif Mansjoer. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Cetakan 1. Jakarta. Medika
Aesculapius. 2000