Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Teori tingkah laku konsumen memberikan latar belakang yang penting
didalam memahami sifat permintaan para pembeli dipasar. Dari analisis itu
sekarang telah dapat dipahami alasan yang mendorong para pembeli
menaikkan permintaannya terhadap suatu barang apabila harganya turun dan
mengurangkan pembeliannya sekiranya harganya naik.
Sekarang sudah tiba waktuntya untuk mengalihkan perhatian kepada soal
penawaran, yaitu melihat dan mempelajari sikap produsen dalam
menawarkan barang yang diproduksinya. Salah satu factor yang
mempengaruhi penawaran adalah biaya produksi. Factor ini adalah factor
yang sangat penting dalam menentukan penawaran.
Untuk melihat seluk beluk kegiatan perusahaan dalam memproduksi dan
menawarkan barangnya diperlukan analisis keatas berbagai aspek kegiatan
memproduksinya. Pertama-tama harus dianalisis sampai dimana factorfaktor produksi akan digunakan untuk mengahsilkan barang yang akan
diproduksikan. Sesudah itu perlu pula dilihat biaya produksi untuk
menghasilkan barang-barang tersebut. Dan pada akhirnya perlu dianalisis
bagaimana seorang pengusaha akan membandingkan hasil penjualan
produksinya

dengan

biaya

produksi

yang

dikeluarkannya,

untuk

menentukan tingkat produksi yang akan memberikan keuntungan yang


maksimum kepadanya.
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas maka penulis tertarik untuk
membahas Analisis

Penerapan

Teori

Produksi Pada PT.

ARGO

PANTES Tbk.
1.2. Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas rumusan masalah dalam
Penelitian ini adalah:
1. Apakah yang dimaksud dengan Teori Produksi ?
1

2.
3.
4.
5.
6.

Apakah yang dimaksud dengan Fungsi Produksi?


Apakah yang dimaksud dengan Jangka Waktu Produksi?
Apakah yang dimkasud dengan Tahap-Tahap Produksi?
Apakah yang dimkasud dengan Produksi dengan SatuVariabel?
Apakah yang dimkasud dengan Produksi dengan lebih dari Satu

Variabel?
7. Apakah yang dimkasud dengan Pengaruh Faktor Variabel dan Tetap?
8. Apakah yang dimkasud dengan Garis Perluasan Produksi?
9. Apakah yang dimkasud dengan Perubahan Harga Faktor Produksi?
10. Apakah terjadi GAP antara Teori dan Praktek pada Teori Produksi ?
1.3. Batasan Masalah
Berdasarkan penjelasan diatas, maka penulis hendak membatasi masalah
dalam penulisan makalah ini tentang Kasus yang ditemui pada PT. Argo
Pantes Tbk yang berkaitan dengan Teori Produksi.
1.4. Tujuan Penelitian.
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk :
1. Dapat mengetahui tentang Teori Produksi
2. Dapat mengetahui tentang Fungsi Produksi,
3. Dapat mengetahui tentang JangkaWaktu Produksi,
4. Dapat mengetahui tentang Tahap-Tahap Produksi,
5. Dapat mengetahui tentang Produksi dengan SatuVariabel,
6. Dapat mengetahui tentang Produksi dengan lebih dari Satu Variabel,
7. Dapat mengetahui tentang Pengaruh Faktor Variabel dan Tetap,
8. Dapat mengetahui tentang Garis Perluasan Produksi,
9. Dapat mengetahui tentang Perubahan Harga Faktor Produksi.
10. Dapat mengetahui tentang GAP antara Teori dan Praktek pada Teori
Produksi
1.5. Manfaat Penelitian.
Manfaat yang hendak penulis ingin sampaikan adalah :
1. Bagi penulis
untuk menambah pengetahuan dan wawasan agar lebih memahami
tentang materi yang disajikan dan sampai sejauh mana penulis dapat
menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam perkuliahan serta
kemampuan penulis dalam memecahkn suatu masalah.
2. Bagi perusahaan
dapat dijadikan suatu perencanaan dalam melakukan

kegiatan

operasionalnya serta dapat dijadikan perbaikan-perbaikan agar tujuan


perusahaan dapat dicapai.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1.Teori Produksi
Produksi adalah berkaitan dengan cara bagaimana sumber daya
(masukan) dipergunakan untuk menghasilkan produk (keluaran). Menurut
Joesron dan Fathorrozi (2003), produksi merupakan hasil akhir dari proses
atau aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan atau
input. Lebih lanjut Putong (2002) mengatakan produksi atau memproduksi
menambah kegunaan (nilai guna) suatu barang. Kegunaan suatau barang
akan bertambah bila memberikan manfaat baru atau lebih dari bentuk
semula. Lebih spesifik lagi produksi adalah kegiatan perusahaan dengan
mengkombinasikan berbagai input untuk menghasilkan output dengan
biaya yang minimum.
Produksi juga merupakan suatu kegiatan yang dapat menimbulkan
tambahan manfaatnya atau penciptaan faedah baru. Faedah atau manfaat
ini dapat terdiri dari beberapa macam, misalnya faedah bentuk, faedah
waktu, faedah tempat, serta kombinasi dari beberapa faedah tersebut di
atas. Dengan demikian produksi tidak terbatas pada pembuatan, tetapi
sampai pada distribusi. Namun komoditi bukan hanya dalam bentuk output
barang, tetapi juga jasa. Menurut Salvatore (2001) produksi adalah
merujuk pada transformasi dari berbagai input atau sumber daya menjadi
output beberapa barang atau jasa.
Dalam melakukan kegiatan produksi maka harus mempunyai landasan
teknis yang didalam teori ekonomi disebut fungsi produksi.
a. Teori Produksi Dengan Satu Faktor Berubah
Teori produksi yang sederhana menggambarkan tentang hubungan
diantara tingkat produksi suatu barang dengan jumlah tenaga kerja
yang digunakan untuk menghasilkan berbagai tingkat produksi
barang

tersebut.Dalam

analisis

tersebut

bahwa

faktor-faktor

produksi lainnya adalah tetap jumlahnya, yaitu modal dan tanah


jumlahnya di anggap tidak mengalami perubahan. Satu-satunya
faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya adalah tenaga kerja.
b. Teori produksi dengan dua faktor berubah
Analisis yang baru saja dibuat menggambarkan bagaimana tingkat
produksi akan mengalami perubahan apabila dimisalkan satu factor
produksi, yaitu tenaga kerja, terus-menerus ditambah tetapi factorfaktor produksi lainnya dianggap tetap jumlahnya, yaitu tidak dapat
diubah lagi. Dalam analisis yang berikut dimisalkan terdapat dua
jenis factor produksi yang dapat diubah jumlahnya. Kita misalkan
yang dapat diubah adalah tenaga kerja dan modal. Misalkan pula
bahwa kedua faktor produksi yang dapat berubah ini dapat
dipertukar-tukarkan penggunaannya; yaitu tenaga kerja dapat
menggantikan modal atau sebaliknya. Apabila dimisalkan pula
harga tenaga kerja dan pembayaran per unit kepada factor modal
diketahui,

analisis

tentang

bagaimana

perusahaan

akan

meminimumkan biaya dalam usahanya untuk mencapai suatu


2.2.

tingkat produksi.
Fungsi Produksi
Fungsi produksi dapat diartikan juga sebagai suatu fungsi atau persamaan
yang menunjukkan hubungan antara tingkat output dengan tingkat
(kombinasi) penggunaan input-input. Secara matematis fungsi produksi
dapat dirumuskan sebagai berikut
Q = f (K L R T)

Q: Quantity (jumlah barang yang dihasilkan)


f :Fungsi(simbol persamaan fungsional)
K : Capital (modal atau sarana yang digunakan)
L : Labour (tenaga kerja)
R: Resources (sumber daya alam)
T : Technology (teknologi dan kewirausahaan)

Q adalah output, sedangkan K, L, R, dan T merupakan input. Besarnya


jumlah output yang dihasilkan tergantung dari penggunaan input-input
tersebut. Jumlah output dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan
penggunaan jumlah input C(modal), L (tenaga kerja) dan R(sumber
daya alam) ataupun meningkatkan T(teknologi). Untuk memperoleh
hasil yang efisien, produsen dapat melakukan penggunaan input yang
lebih efisien.
2.3.

Jangka Waktu Produksi


Jangka waktu dibedakan menjadi 2 yaitu sebagai berikut:
1. Jangka Pendek (short run). yaitu jangka waktu ketika input variabel
dapat disesuaikan, namun input tetap tidak dapat disesuaikan.
2. Jangka Panjang (long run) merupakan satu waktu dimana
seluruhinput variabel maupun tetap yang digunakan perusahaan dapat

2.4.

diubah.
Tahap-Tahap Produksi
Pada hakekatnya the law of demishing return menyatakan bahwa
hubungan antara tingkat produksi dan jumlah input tenaga kerja yang
digunakan dapat dibedakan menjadi tiga tahap yaitu :
1. Tahap Pertama
Pada tahap pertama ini terjadi produksi total yang mengalami
pertambahan yang semakin cepat. Tahap ini dimulai dari titik origin
semakin kesatu titik pada kurva total product dimana AP(produksi
rata-rata) maksimum, dan pada titik ini AP=MP (marginal product).
2. Tahap Kedua
Pada tahap pertama ini terjadi produksi total yang mengalami
pertambahan semakin lama semakin kecil. Tahap II ini dimulai dari
titik AP maksimum sampai titik dimana MP=0, atau TP maksimum.
3. Tahap Ketiga
Pada tahap pertama ini terjadi produksi total yang mengalami
pertambahan semakin lama semakin menurun. Tahap III ini meliputi
daerah dimana MP negatif.

2.5.

Produksi dengan Satu Variabel


Dalam teori produksi yang menggunakan satu variabel ini terdapat sebuah
hukum yang disebut The Law Diminshing of Return yang dipopulerkan
oleh David Ricardo, yang bunyinya sebagai berikut.
Jika faktor produksi yakni tenaga kerja ditambah kuantitasnya, maka
hasil produksi total akan mengalami kenaikan. Jika penambahan terus
dilakukan, maka penambahan total produksinya akan mencapai titik
maksimum dan Produksi dengan satu variabel kemudian menurun hingga
mencapai angka negatif
Sebenarnya sangat jarang bahkan tidak ada proses produksi yang hanya
menggunakan satu faktor produksi variabel. Pengertian produksi dengan
satu faktor produksi variabel adalah pengertian analisis jangka pendek,
dimana ada faktor produksi yang tidak dapat diubah. Hubungan produksi
dimana terdapat satu variabel, dan lainnya tetap biasanya berlaku hukum
pertambahan hasil yang semakin berkurang, yaitu apabila faktor variabel
itu ditambah terus, maka output semakin lama akan semakin menurun
secara rata-rata, dikarenakan semakin besarnya faktor pembagi sementara
faktor yang dibagi tetap. Dan bila hal ini dilakukan terus, maka produksi
totalpun akan semakin menurun, dikarenakan faktor produksi tetap

semakin jenuh atau kehabisan nilainya, misalnya tanah yang kehabisan


unsur haranya sehingga mengurangi kesuburannya bila ditanami dan
2.6.

digarap secara terus menerus.


Produksi dengan lebih dari Satu Variabel
Dalam teori ini, terdapat kombinasi antara dua faktor produksi untuk
menghasilkan output (yang sama). Kombinasi itu bisa antara tanah dan
tenaga kerja, tenaga kerja dan modal, atau dengan teknologi (perkecualian,
dengan teknologi, yang tidak mudah harus diubah, karena memerlukan
waktu yang relative lama). Yang paling mudah dikombinasikan adalah
antara faktor produksi tenaga kerja dan modal. Dalam berproduksi,
seorang produsen tentu saja dihadapkan pada bagaimana menggunakan
faktor produksinya secara efisien untuk hasil yang maksimum. Oleh
karena itu, produsen akan berusaha mencari kombinasi terbaik antara dua
faktor input tersebut. Hasil produksi sama dalam teori ini akan ditunjukan
oleh suatu kurva yang diberi nama isoquant curve biasanya disebut
isoquant

sisi.

Sedangkan

biaya

yang

digunakan

dalam

rangka

menghasilkan produk tersebut disebut isocost (biaya sama).


Isoquant (Kurva Produksi Sama)
Isoquant Curve disebut juga Isoproduct Curve atau Equal Product
Curve adalah kurva yang menggambarkan kombinasi dua macam input
(faktor produksi) untuk menghasilkan output/produksi yang sama
jumlahnya. Atau dapat juga dikatakan suatu kurva yang menunjukkan
semua kombinasi fungsi produksi yang mungkin secara fisik dapat
menghasilkan

sejumlah

output

tertentu. Bentuk

kurva

isoquant

bermacam-macam, bisa linier apabila kombinasi antara input tersebut


akan memberikan perubahan yang proporsional bila salah satunya
berubah, dan dapat juga cembung dari titik orgin (seperti kurva
indifference).

Sifat-sifat Isoquant adalah :


1. Mempunyai kemiringan negatif
2. Cembung kearah titik nol (0), sebab inputnya tidak merupakan
barang subtitusi sempurna.
3. Menurun dari kiri atas kekanan bawah, karena satu sumberdaya
dapat di subsitusi kan dengan sumberdaya lain.
4. Semakin ke kanan kedudukan isoquant menunjukkan semakin
tinggi jumlah output.
5. Kemungkinan bisa saling berpotongan, sehingga ada kemungkinan
perusahaan dapat memproduksi dua jenis barang dengan input yang

sama.
Isocost (Garis Biaya Sama)
Isocost adalah suatu kurva yang menggambarkan biaya yang
dikeluarkan oleh

produsen

dalam rangka berproduksi

dengan

menggunakan beberapa faktor input tertentu. Isocost membatasi dan


membedakan kemampuan produksi dan produsen. Semakin besar
isoqost nya, maka makin besar pula hasil yang dapat diperoleh.
Sebaliknya, semakin kecil isocost semakin kecil hasilnya.

Kurva isocost dapat berslope negatif dan positif. Negatif apabila ada
penambahan satu unit input akan menyebabkan penurunan pemakaian
input lain. Sebaliknya bila input lain dikurangi maka akan
menyebabkan input yang ssatunya akan bertambah. Kemudian kuva
isocost dapat berslope positif, yaitu hanya sebagai pemuasan kebutuhan
yang dipetakan oleh kurva indifference sifatnya tidak efisien, karena
bila produsen menambah input yang satu, maka input yang lainnya juga
bertambah, dan begitu juga sebaliknya.

Kurva Isocost
2.7.

Pengaruh Faktor Variabel dan Tetap


Dalam teori produksi dikenal faktor produksi tetap dan faktor produksi
variabel. Faktor produksi tetap yaitu faktor produksi dimana jumlah yang
digunakan dalam proses produksi tidak dapat di ubah secara cepat, bila
keadaan

pasar

menghendaki

perubahan

jumlah

output.

Dalam

kenyataannya tidak ada faktor produksipun yang sifatnya tetap secara


mutlak.Tetapi untuk penyederhanaan analisa, pada umumnya dianggap ada
beberapa faktor produksi yang bersifat tetap. Contohnya termasuk
potongan utama peralatan, ruang pabrik yang sesuai, dan tenaga manajerial
kunci. Sedangkan faktor produksi variabel yaitu faktor produksi dimana
10

jumlahnya dapat di ubah-ubah dalam waktu yang relative singkat sesuai


dengan jumlah output yang dihasilkan.Contohnya termasuk konsumsi daya
listrik, layanan transportasi, dan input material yang paling baku. Dalam
proses produksi jangka panjang, semua faktor produksi dapat
disesuaikan oleh manajemen. Pada produksi jangka pendek
didefinisikan sebagai periode dimana setidaknya salah satu faktor produksi
2.8.

adalah tetap.
Garis Perluasan Produksi
Tujuan akhir dari setiap produsen adalah memaksimalkan keuntungan.
Untuk itu, ia harus mengorganisir produksinya seefisien mungkin.Tingkat
efisiensi tertinggi terjadi pada tingkat kombinasi faktor produksi di mana
tingkat batas penggantian secara teknis. Perluasan Garis adalah isocline
yang menunjukkan tingkat output yang akan dihasilkan bila harga
produksi tetap tidak berubah. Jadi, garis perluasan produksi menunjukkan
bagaimana proporsi faktor produksi seharusnya berubah bila output atau
besarnya biaya produksi berubah, sedang harga dari faktor produksi itu
sendiri tetap.
Hal ini terjadi bila suatu perusahaan memperkenalkan barang baru dalam
suatu kategori produk tertentu dengan merek yang sama. Barang baru itu
bisa dalam rasanya, dalam bentuknya, warnanya, bahan-bahannya
(ingredients), atau ukuran pembungkusnya. Contoh Danone, misalnya
akhir - akhir ini memperkenalkan beberapa perluasan garis, termasuk tujuh
rasa yoghurt baru, yoghurt bebas lemak dan yoghurt besar ukuran

2.9.

ekonomi.
Perubahan Harga Faktor Produksi
Kegiatan produksi dapat berlangsung jika tersedia faktor produksi. Faktor
produksi adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memproduksi
barang dan jasa. Faktor produksi terdiri atas alam (natural resources),
tenaga kerja (labor), modal (capital), dan keahlian (skill) atau sumber daya
pengusaha (enterpreneurship). Faktor produksi alam dan tenaga kerja
disebut faktor produksi asli (utama), sedangkan modal dan tenaga kerja
disebut faktor produksi turunan.

11

Faktor Produksi Alam: Faktor produksi alam ialah semua kekayaan


yang terdapat di alam semesta yang dapat digunakan dalam proses
produksi. Faktor produksi alam sering pula disebut faktor produksi
asli. Faktor produksi alam terdiri atas tanah, air, sinar matahari, udara,

dan barang tambang.


Faktor Produksi Tenaga Kerja: Faktor produksi tenaga kerja (labor)
ialah faktor produksi insani secara langsung maupun tidak langsung
menjalankan kegiatan produksi. Faktor produksi tenaga kerja
dikategorikan sebagai faktor produksi asli. Meskipun mesin-mesin
telah banyak menggantikan manusia sebagai pelaksana proses

produksi, namun keberadaan manusia mutlak diperlukan.


Faktor Produksi Modal: Faktor produksi modal adalah faktor
penunjang dalam mempercepat atau menambah kemampuan dalam
memproduksi. Faktor produksi modal dapat berupa mesin-mesin, alat

pengangkutan, sarana pengangkutan, atau bangunan.


Faktor Produksi Keahlian: Faktor produksi keahlian adalah keahlian
atau

keterampilan

mengkoordinasikan

yang
dan

digunakan

mengelola

faktor

seseorang
produksi

dalam
untuk

menghasilkan barang dan jasa.


Harga yang dibayarkan untuk setiap faktor produksi tenaga kerja, tanah,
atau modal sama dengan nilai produk marginal dari faktor produksi
tersebut. Produk marginal dari setiap faktor produksi akan bergantung
pada jumlah tersebut. Produk marginal dari setiap faktor produksi akan
bergantung pada jumlah faktor tersebut yang tersedia. Karena perilaku
penurunan produk marginal, suatu faktor produksi yang ditawarkan
dengan berlimpah memiliki produk dan harga yang rendah, dan sebuah
faktor produksi yang jarang ditawarkan memiliki produksi marginal dan
harga yang tinggi. Akibatnya, ketika penawaran faktor-faktor produksi
turun, keseimbangan harga faktor produksi meningkat. Akan tetapi, ketika
penawaran setiap faktor produksi berubah, dampaknya tidak hanya
dibatasi pada pasar faktor produksi tersebut.

12

Pada berbagai situasi umum, faktor-faktor produksi digunakan bersamasama dalam cara tertentu sehingga membuat produktivitas masing-masing
faktor bergantung pada jumlah faktor produksi lainnya yang tersedia untuk
digunakan dalam proses produksi. Sebagai hasilnya, perubahan dalam
penawaran setiap faktor produksi akan mempengaruhi pendapatan dari
semua faktor produksi lainnya. Akan tetapi, ketika penawaran setiap faktor
produksi berubah, dampaknya tidak hanya dibatasi pada pasar faktor
produksi tersebut. Pada berbagai situasi umum, faktor-faktor produksi
digunakan bersama-sama dalam cara tertentu sehingga membuat
produktivitas masing-masing faktor bergantung pada jumlah faktor
produksi lainnya yang tersedia untuk digunakan dalam proses produksi.
Sebagai hasilnya, perubahan dalam penawaran setiap faktor produksi akan
mempengaruhi pendapatan dari semua faktor produksi lainnya.
Sebagai contoh, angin ribut menghancurkan tangga-tangga yang
digunakan para pekerja untuk memetik buah-buah apel dari pohonnya.
Apa yang terjadi pada pendapatan dari berbagai faktor produksi lainnya?
Yang paling jelas, penawaran tangga turun dan, oleh karena itu,
keseimbangan harga sewa tangga meningkat. Para pemilik tangga yang
cukup beruntung karena berhasil menghindari kerusakan tangga-tangga
mereka sekarang memperoleh pendapatan yang lebih tinggi ketika mereka
menyewakan tangga-tangga pada perusahaan yang memproduksi buah
apel.Namun, akibat-akibat dari peristiwa ini tidak berhenti pada pasar
tangga saja. Karena hanya ada sedikit tangga yang dapat digunakan untuk
bekerja, para pekerja yang memetik buah apel memiliki produk yang lebih
rendah. Jadi, berkurangnya penawaran tangga menurunkan permintaan
tanaga kerja pemetik buah apel, dan ini menyebabkan keseimbangan upah
turun.

13

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Gambaran Perusahaan
3.1.1. Sejarah Singkat PT. Argo Pates, Tbk
PT. Argo Pantes merupakan salah satu perusahaan manufaktur di Indonesia yang
bergerak dalam bidang industri tekstil. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1961
oleh bapak The Ning King Dan Bapak Musa yang berlokasi di Salatiga, Jawa
Tengah dengan nama awal PT. Daya Manunggal.
Pada tanggal 29 Mei 1972 perusahaan meresmikan PT. Daya Manunggal
Tangerang, yaitu pabrik tenun baru dengan luas tanah 44,5 ha yang berkantor
pusat di Jl. Pintu Kecil no. 42 Jakarta. Dengan beberapa pertimbangan mengapa
mereka memilih kota Tangerang, antara lain :
1. Tangerang adalah salah satu kota industri di Jawa Barat yang saat ini
masukdalam Povinsi Banten dan pada saat itu tersedia lahan yang cukup
untuk dibangun tempat industri.
2. Berada di jalan utama Kota Tangerang.
3. Lokasi dekat dengan sungai Cisadane, sehingga memudahkan dalam
pengambilan air dan pembuangan air limbah yang sudah diolah kembali.
4. Lokasi dekat dengan ibukota negara yang menjadi pusat pemerintahan dan
perdagangan.
PT. Daya Manunggal Tangerang berfokus pada pertenunan (weaving) yang
menghasilkan kain mentah, atau umumnya disebut dengan kain grey, dimana
bahan baku benang diperoleh dari supplier dari daerah lain. Agar lebih mandiri,
maka pada tanggal 11 Januari 1975 didirikan PT. Dharma Manunggal yang
ditujukn untuk memproduksi benang untuk pertenunan, dengan demikian hasilnya
dapat langsung dikirim pada PT. Daya Manunggal. Cara ini ditujukan untuk
mempercepat proses penyaluran bahan baku.

14

Karena pada saat itu prospek pabrik pemintalan sangat baik, maka pada tanggal 12
Juli 1977 perusahaan mendirikan pabrik spinning sebanyak 2 unit dan mulai
mengganti nama mnjadi PT. Argo Pantes, yang menjadi notaris adalah Winanti
Wiryomartini, SH. Kedua unit tersebut diberi nama Argo Pantes 1 dan Argo
Pantes 2 dan pada tahun 1980 PT. Argo Pantes membangun kembali pabrik
weaving (pertenunan) dan Dyeing Finishing (pencelupan kain) dengan nama Argo
Pantes 3 dan Argo Pantes 4.
Pada tahun 1985, unit weaving Daya Manunggal melakukan rekondisi mesin dari
mesin tenun shuttle manjadi mesin tenun yang menggunakan tenaga udara (Air Jet
Loom), dan juga dilakukan perubahan dimana PT. Daya Manunggal (tenun)
diambil alih oleh PT. Dharma Manunggal, sehingga PT. Dharma Manunggal
memproduksi benang tenun, dimana unitnya disebut dengan Dharma Manunggal
1 dan Dharma manunggal 2 untuk mem produksi kain grey. Pada tahun yang sama
pun didirikan 1 unit pencelupan benang untuk bahan baku benang berwarna yang
manajemennya dikelola langsung oleh PT. Dharma Manunggal, kemudian unit
tersebut disebut dengan Dharma Manunggal 3. pada tahun 1987 didirikan 1 unit
baru, yaitu unit printing yang akan memproduksi kain kain bermotif, dengan
manajemen yang dikelola oleh PT. Argo Pantes, kemudian unit tersebut diseut
dengan Argo Pantes 5.
Selesainya pembangunan unit-unit produksi yang dilakukan oleh PT. Argo Pantes
dan PT. Dharma Manungal, maka di atas area tanah seluas 52 ha tersebut
telahberdiri perusahaan tekstil terpadu, dimana kegiatan produksinya dimulai dari
produksi benang sampai pada produksi kain jadi. Karena lokasi pabrik ini terdiri
dari dua perusahaan yang berbadan hukum berbeda, maka atas kesepakatan dewan
komisaris pada tanggal 1 Juni 1990 dilakukan marger, dimana seluruh aset PT.
Dharma manunggal dilebur pada PT. Argo Pantes, dengan berkantor pusat di
Wisma Argo manunggal Jl. Gatot Subroto no. 59 Kav 22 Jakarta Selatan.Dimana
dalam kepengurusan perusahaannya dipegang oleh :

Dewan Komisaris : Bapak The Ning King


Presiden Direktur : Bapak Nicholas
15

Sekretaris : Ibu Tini

Dan unit-unit yang tersedia diadakan perubahan sebagai berikut :


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Unit argo Pantes 1 menjadi unit Spinning 2.


Unit Argo Pantes 2 menjadi unit unit Spinning 1.
Unit Argo Pantes 3 manjadi unit Weaving 2.
Unit Argo Pantes 4 menjadi unit Dyeing finishing.
Unit Argo Pantes 5 menjadi unit Printing.
Unit Dharma Manunggal 1 menjadi unit Spinning 3.
Unit Dharma Manunggal 2 menjadi unit Weaving 1.
Unit Dharma Manunggal 3 menjadi unit Yarn Dyeing.

Tetapi saat ini unit printing ditiadakan, karena hasil produksinya tidak laku
dipasaran.
Mengingat sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan perluasan area pabrik
di Tangerang, maka pada tanggal 31 Mei 1990 PT. Argo Pantes mendirikan pabrik
baru di Bekasi Jawa Barat, di daerah Industrial Town MM 2100, kavling B ii Desa
Ganda Mekar, Cibitung, Bekasi dengan mengkhusukan produksi dibidang
spinning (pemintalan) sebanyak 2 unit produksi, atau yang saat ini disebut dengan
spinning 4 dan spinning 5.
Guna memudahkan pengelolaan manajemen dan memperluas usaha, pimpinan Pt.
Argo Pantes merasa trpanggil untuk mengikutsertakan sumber dana dari
masyarakat baik nasional maupun internasional, dimana itu semua meruapakan
adminsitrasi menuju Go Publik atau Tbk.
STRATEGI
Untuk berkompetisi di industri sejenis, Perseroan telah menetapkan beberapa
strategi antara lain:

Fokus kepada pertumbuhan penjualan.


Fokus kepada pemilihan jenis produk yang tepat.
Fokus kepada perbaikan kualitas dari produk.
Mengoptimalkan kinerja & secara bertahap meremajakan mesin produksi.
Fokus kepada efisiensi biaya.

16

Terus menciptakan modal insani yang kompetensi dan melakukan


regenerasi.
Sistem remunerasi berdasarkan hasil kinerja (sistem reward).

17

3.1.3. Kegiatan Usaha PT. Argo Pantes Tbk.


PT. Argo Pantes Tbk. telah memperoleh ISO-9002 tentang kualitas yang diberikan
untuk proses pemintalan benang, pertenunan, dan pencelupan kain. Dan yang
dihasilkan perusahaan, antara lain bahan baju (shirting) dan bahan celana
(suiting). Sebagian dari hasil produksinya yang berupa benang diproduksi kembali
menjadi kain grey dan kain jadi yang mempunyai mutu tinggi. PT. Argo Pantes
Tbk. juga telah memperoleh ISO-14001 tentang lingkungan hidup yang salah
satunya berkaitan dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
PT. Argo Pantes Tbk. merupakan salah satu produsen tekstil berkualitas
terkemuka di Indonesia. Saat ini perusahaan memproduksi tekstil bermutu dengan
menggunakan bahan baku katun dan katun campuran antara kapas dan polyester.
Sebagai produsen tekstil yang berorientasi pada ekspor, perusahaan telah
memenuhi persyaratan standar internasional sebagi bagian pemenuhan atas
kepuasan pelanggan dengan mendapatkan sertifikat ISO-9002 dan ISO-14001 dari
SGS Indonesia. Selain itu juga telah memperoleh sertifikat Best Delivery
Performance dan Best Vendor Award dari pelanggan yang berada di luar
negeri.
Pada bagian marketing proses untuk memperkenalkan barang dan upaya untuk
memberikan pelayanan dilakukan melalui internet, pembagian brosur dan outlet.
Karena perusahaan ini merupakan penghasil bahan baku, sehingga tidak menjual
brand. Maka untuk memperoleh pelanggan baru selain melalui proses marketing
biasanya diperoleh dari rekomendasi dari pelanggan lama atau berdasarkan mouth
to mouth. Hasil produksi tersebut juga diekspor dengan tujuan negara antara lain
Belanda, Polandia, Dubai, Srilangka, Banglades, swedia, Turki, Vietnam,
Spanyol,Inggris, Amerika Serikat, Peru, Italia, Yunani, Kolombia, Cyprus dan
Afrika. Belanda menjadi pelanggan terbesar dengan pertimbangan bhwa barang
dari Indonesia akan dijual lebih murah dibandingkan dengan barang teksttil dari
negara Eropa lainnya. Sedangkan Afrika menjadi pelanggan terkecil karena daya
beli negara tersebut rendah.

18

3.1.4. Aspek Kegiatan Produksi


A. Spinning
Tahapan paling awal baik dalam pembuatan kain atau pun benang adalah spinning
dimana terdapat beberapa langkah yang haru dijalani, antara lain :
1. Blowing yaitu proses penguraian gumpalan kapas yang baru diambil dari
pohon dan pencampuran kapas/polyester yang telah terurai serta
pmbersihan kotoran bahan baku dari benda-benda asing sepeti pasir, daun
dan lain-lain. Dalam proses ini, bahan baku yang awalnya berbentuk
gumpalan diolah menjadi lembaranlembaran kapas yang panjang dan
lebar.
2. Carding yaitu penggarukan, pembersihan dan penguraan serat dari
gumpalan menjadi individu. Proses ini adalah perubahan bentuk bahan
baku dri lembaran menjadi uraian sebesar tali yang cara penggulungannya
seperti tali tambang.
3. Pre Drawing yaitu

perangkapan

dan

pregangan

bahan

baku,

mensejajarkanserta (apakah 100% cotton atau ada campuran polyester)


dan memperbaiki kerataan bahan baku.
4. Lap Former yaitu proses dimana bahan baku yang berbentuk tali tambang
berubah dalam bentuk lembaran-lembaran yang lebih tipis dibandingkan
pada tahapan carding.
5. Combing yaitu pemisahan serta panjang dan pendek agar tidak mudah
putus yang kemudian serta tersebut disejajarkan, lalu dilakukan proses
perubahan bentuk dari bentuk lembaran tipis menjadi tali-tali yang disi,pan
dengan cara digulung.
6. Drawing yaitu perangkapan, perbaiki dan mensejajarkan serta agar tali
idak mudah putus serta mengatur persentase blending.
7. Roving yaitu proses yang akan dilalui oleh benang baik yang sudah
dilakukan pe warnaan atau pun benang yang masih berwarna asli.
8. Ring Spinning yait proes membentuk benang dalam kapasitas yang lebih
kecil dari proses roving dan kmudian bnang tersebut diberi nomor dan
keterangan mengenai persentase bahan baku yang digunakan, agar lebih

19

mudah menentukan jenis kain yang akan diolah dalam proses weaving.
Hasilnya benang roving akan berubah bentuk menjadi benang ring.
9. Winding yaituproses menggulung benang ring menjadi bentuk benang
cones yang lalu akan diperiksa kerataandan berat gulungan benang
tersebut. Setelah semua proses itu selesai, maka dilakukan pengepakan.
Pada tahapan ini PT. Argo Pantes Tbk. mempunyai lima buah pabrik spinning,
dimana tiga diantaranya ada di kota Tangerang dan dua pabrik lai di Kota Bekasi.
B. Yarn Dyeing
Tahapan berikutnya setelah proses spinning adalah proses yarn dyeing (pewarnaan
benang), dalam tahapan ini terdapat proses-proses yang harus dilakukan yaitu:
1. Benang grey, yang merupakan bahan baku utama.
2. Singeing, proses menghilangkan bulu-bulu yang terdapat pada serat
benang untuk proses diwarnai.
3. Reeling, proses mengubah bentuk cones menjadi bentuk benang grey.
4. Mercerize, proses penrikan benang dalam larutan caustic soda agar
menambah daya serap, kilat dan kekuatan tarik benang. Proses ini
dilakukan pada suhu rendah.
5. Hank ke cones, proses menggulung benang dari bentuk hank ke bentuk
cones.
6. Soft Winder, proses menggulung benang dari bentuk cones ke bentuk
stainless tube untuk bentuk dyeing.
7. Dyeing, proses pencelup benang dalam bentuk cheese atau beam mulai
dari proses scourcing lalu bleaching sampai oiling.
8. Dryer, proses mengeringkan benang dari proses pencelupan dengan
menggunakan uap panas yang dialirkan dengan bantuan blower.
9. RTW, proses menggulung benang dari bentuk stainless tube ke dalam
bentuk cone kembali.
10. Packing, proses pngepakan barang untuk dikirim ke gudang sesuai dengn
lot, warna dan lain-lain.
C. Weaving

20

PT. Argo Pantes Tbk. memiliki 452 mesin tenun dengan kapasitas di setiap bulan
sebanyak 3,8 juta yards. Dalam tahap penenunan, benang yang menjadi bahan
baku ada dua jenis, yaitu benang lusi dan benang pakan. Benang lusi dalah benang
yang dipasang sejajar pad mesin tenun sehingga membentuk anyaman untuk kain
dengan bentuk memanjang. Sedangkan benang pakan adalah benang anyaman
untuk kain dengan bentuk melebar atau arahnya tegak lurus dengan benang lusi.
Ada beberapa tahapan pada proses weaving, yaitu :
1. Bahan baku, proses penerimaan bahan baku berupa benang dari spinning.
2. Warping, proses pemindahan gulungan dari gulungan cones menjadi
gulungan boom sesuai dengan panjang yang ditentukan agar proses
selanjutnya tidak mengalami kesulitan.
3. Sizing, proses penganjian benang lusi untuk menidurkan bulu-bulu benang
dan menambah kekuatan benang agar tidak putus saat proses penenunan.
4. Reaching, proses memasukkan benang lusi setelah proses sizing ke dalam
gun, dropper, sisir dan menentukan anyaman tenunan untuk membuat
desain struktur pada kain.
5. Tying, proses penyambungan benang lusi di atas mesin tenun dengan
benang lusi pada bibit sehingga proses pemasangan pada tenun dapat
dipercepat.
6. Mesin tenun, proses pembuatan kain dengan cara menganyam benang lusi
dan benang pakan dengan motif anyaman yang telah ditentukan.
7. Inspecting, proses pemeriksaan kain setelah selesai ditenun untuk
memisahkan dan membedakan grade sesuai dengan kelompoknya.
8. Folding, proses mlipat dan mendata kain yang sudah selesai di inspecting
sesuai dengan panjang kain dan grade.
9. Packing, proses menyusun kain di atas palet dan mendata sesuai dengn
jenis maupun grade dari kain tersebut. Lalu sebagian di ball pada mesin
ball press yang kemudian akan dikirim umtuk ekspor dan sebagian lagi
dikirim ke gudang.
D. Dyeing Finishing

21

Dalam tahap Dyeing Finishing (pencelupan kain) terdapat proses-proses yang


harus dilakukan, diantaranya adalah persiapan, bleaching, dyeing, finishing, dan
verpacking. Uraiannya adalah sebagai berikut :
1. Persiapan adalah proses menyambung kain grey per lembar pada palet dan
per jenis warn yang diinginkan.
2. Bleaching, terdiri dari proses membakar bulu permukaan kain grey
(singeing),

proses

penghilngan

kanji,

proses

pemasakan

untuk

menghilangkan kotoran dan kuman pada suhu 120C selama 40 menit,


proses pemutihan, proses penstabilan serat cotton, proses kekuatan kain,
proses menambah daya serap dan menstabilkan serat polyester.
3. Dyeing, terdiri dari proses pencelupan/pewarnaan kain dengan zat warna,
proses pengikatan zat warna dengan serat polyester pada suhu 200C 210C selama 90 detik, proses pengikatan zat warna reaktif dengan serta
cotton pada mesin pada steam dengan suhu 102C.
4. Finishing, terdiri dari proses penyempurnaan dengan obat resin dan
softener, proses setting arah lebar kain dan proses pemantapan kain untuk
mendapatkan shrinkage yang diinginkan pelanggan agar kain tidak
menciut lagi saat proses selanjutnya.
5. Verpacking, proses pemeriksaan kain untuk menentukan grade kain
dengan klasifikasi: grade A oke kirim ke pelanggan sedangkan grade B
dan C ex stock (tunggu kelnjutan). Lalu proses rolling, yaitu untuk
menggulung dan membungkus kain jadi. Dan proses pengeepakan kain ke
dalam box untuk dikirim ke gudang sesuai kebutuhan permintaan
pelanggan.
3.1.5. Aspek Sumber Daya Manusia
Bagi perusaahan tentunya sumber daya manusia merupakan bagian terpenting
dalam usaha pengembangan perusahaan di masa depan. Untuk itu, guna
meningkatkan kualitas serta kecakapan bagi setip karyawan, perusahaan
melakukan berbagai usaha melalui pelatihan baik yang dilaksanakan di dalam
maupun di luar perusahaan.

22

Pelatihan yang ada di dalam PT. Argo Pantes Tbk. berlangsung selama satu
minggu, baik kepada karyawan baru maupun bagi karyawan yang sedang magang.
Diantaranya setelah dilakukan penyeleksian dengan cara testing yang dilakukan
sebanyak tiga kali dan dilakukan tes kesehatan (untuk karyawan baru), lalu
karyawan akan memperoleh pendalaman Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3),
penjelasan mengenai tata tertib, penjelasan mengenai ISO-9002 dan ISO-14001
dengan tujuan agar karyawan terdsebut mengetahui kualitas barang yang
diinginkan perusahaan dan tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan
hidup serta keselamatan dan kesehatan kerja sehingga akan termotivasi untuk
bekerja dengan baik dan yang terakhir adalah penjelassan mengenai upah yang
akan diterima (termasuk besarnya insentif, hak buruh dan jamsostek yang akan
diterima oleh karyawan tersebut).
Mutasi karyawan PT. Argo Pantes Tbk. tidak dilakukan secara kontinu atau
ditetapkan dalam kurun waktu tertentu. Mutasi bisa terjadi karena adanya
kebutuhan, seperti menggantikan jabatan yang kosong sebelumnya (naik jabatan)
atau pun bila ada perluasan unit atau pabrik sesuai dengan kebutuhan bagian shift.
Rata-rata karyawan yang bekerja di PT. Argo Pantes Tbk. memiliki sifat loyalitas,
sehingga turn over perusahaan baik. Hal ini disebabkan oleh faktor usia yang
sudah tidak memungkinkan lagi untuk mencari dan memperoleh pekerjaan baru,
lagi pula saat ini persaingan para pengangguran pun semakin tinggi. Faktor
lainnya yaitu karena mereka membutuhkan pekerjaan untuk membiayai
kehidupannya, sehingga sudah pasti akan berusaha dengan sebaik mungkin untuk
mempertahankan pekerjaan agar dapat tetap bekerja.
Hingga 31 Desember 2013, jumlah karyawan Perseroan adalah sebanyak 5.344
orang
Perseroan juga menanamkan nilai-nilai budaya kerja kepada para karyawan,
antara lain:
Integritas
Satu hati
Profesional
23

Selalu menjadi yang terbaik


Tekad untuk berhasil
Senantiasa bersyukur

24

3.2. Analisis masalah pada PT Argo Pantes yang berkaitan dengan Teori
Produksi
A. MASALAH 1 (SELISIH BIAYA TENAGA KERJA LANGSUNG
PADA PT. ARGO PANTES Tbk)
1. Data Biaya Tenaga Kerja Karyawan Bagian Produksi,PT. Argo
Pantes
a. Jumlah Karyawan.
Jumlah karyawan bagian produksi PT. Argo Pantes sebanyak 120
orang,terdiri dari 66 orang pria dan 54 orang wanita.
b. Jam Kerja Standar
Jumlah

Jam Kerja

karyawan

Perorang

(1)

6 Bulan
(Dalam Jam)
(2)

Jumlah Tarif
Upah

Jumlah Kerja

Perorang

Jumlah Upah

Standar

6 Bulan

Standar

perorang

Karyawan

(Dalam Jam)

6 Bulan

(3)

(Dalam Jam)

(6)

(4)

(1x5)

(5)
(2x3)

Karyawan
6 Bulan

(1x2)
120

960

3.500

115.200

3.360.000

Keterangan:

Dalam satu hari : 8 Jam


Dalam satu minggu : 8 Jam x 5 Hari = 40 Jam.
Dalam satu bulan : 40 Jam x 4 minggu = 160 Jam.
Jadi dalam periode 6 bulan : 160 Jam x 6 Bulan = 960 jam.
Jam kerja selebihnya disebut lembur. Jam kerja lembur ini diatur
menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan seperti
dibawah ini :

Untuk memenuhi rencana kerja perusahaan.

25

403.200.000

Jika

ada

pekerjaan

yang

menumpuk

atau

mendadak

untuk

menyelesaikan menurut jadwal yang telah ditetapkan.


Upah lembur diperhitungkan dari total upah yang diatur sebagai berikut
: 2 X Rp 3500 ( Upah Perjam) = Rp 7000
c. Fasilitas Karyawan.
Untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan perusahaan memberikan
fasilitas sebagai berikut :
a) Menyediakan tempat ibadah.
b) Penyediaan pakaian kerja.
c) Jaminan pengobatan dan perawatan kesehatan.
2. Perhitungan Biaya Tenaga Kerja Langsung Standar Pada PT. Argo
Pantes
Biaya tenaga

kerja

yang dianggarkan

langsung

perusahaan

standar
untuk

perusahaan
membiayai

adalah

biaya

tenaga

kerja

langsung berdasarkan biaya yang telah dianggarkan tahun lalu, datadatanya dapat dilihat di tabel berikut :
Tabel 2.1.
Biaya Tenaga Kerja Standar Perusahaan.
Periode Produksi 2009
Bulan

Jumlah Tkl

JST

Jumlah Jk

Tarif ST

Total Biaya

(Orang)

(Jam)

(Jam)

(Rp)

(Rp)

Juli

120

160

19200

3500

67200000

Agustus

120

160

19200

3500

67200000

September

120

160

19200

3500

67200000

Oktober

120

160

19200

3500

67200000

November

120

160

19200

3500

67200000

Desember

120

160

19200

3500

67200000

26

Jumlah

960

21000

403200000

SUMBER : PT. Argo Pantes


Keterangan Tabel 2.1 :

40 Jam x 4 Minggu. = 160 Jam Kerja.


120 x 160 = 19.200
19.200 x 3.500 = 67.200.000

Jam kerja pertenaga kerja didapat berdasarkan perhitungan dan penelitian


jam kerja yang di standarkan perusahaan
3. Perhitungan Biaya Tenaga Kerja Langsung Aktual Pada PT. Argo
Pantes
Jam Kerja Aktual.
Jml

Jam Krj

Jml Trf

Jml Krj

Jml Upah

Jml Upah

Kry

Perorang

Upah

Aktual Kry

Perorang

Aktual Kry

6 Bln

Perorang

6 Bln

6 Bln

6 Bln

(Dlm Jam)

(Dlm Jam)

(Dlm Jam)

960

3800

115200

3648000

437760000

120

Keterangan :

960 x 120 = 115.200 Jam.


960 x 3800 = 3.648.000
3.648.000 x 120 = 437.760.000
30.400 / 8 = 3.800
3.648.000 / 120 = 30.400 / hari.

Perhitungan biaya tenaga kerja aktual diperoleh setelah produksi unit


tersebut selesai dikerjakan oleh perusahaan. Perhitungan kembali biaya
tenaga kerja sesungguhnya yang telah dipergunakan dapat menunjukkan
besarnya biaya tenaga kerja yang telah digunakan, apakah biaya tenaga

27

kerja langsung tersebut sudah sesuai dengan standar ataukah melebihi dari
standar yang telah ditentukan dari perhitungan biaya tenaga kerja langsung
tersebut diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 3.2
Biaya Tenaga Kerja Aktual Perusahaan.
Periode Produksi 2009
Bln

Jml

JSs

TK

(Jam)

Jml JK

TSs

Tot By

(Rp)

(Rp)

Jml Lmbr Trf Lmbr

Jml By

(Jam)

(Rp)

Lmbr

(org)
Juli

120

160

19200

3800

72960000

Agustus

120

160

19200

3800

72960000

September

120

160

19200

3800

72960000

720

7000

5040000

Oktober

120

160

19200

3800

72960000

960

7000

6720000

November

120

160

19200

3800

72960000

Desember

120

160

19200

3800

72960000

1440

7000

10080000

Jumlah

720

960

115200

22800

437760000

3120

21000

20840000

SUMBER : PT.Argo Pantes


Keterangan Tabel 3.2 :
6 x 120 = 720.
8 x 120 = 960.
12 x 120 = 1440
Jml By Lembur = Jml Lembur (Jam) X Trf Lembur.

28

4. Perhitungan

Selisih

Biaya

Tenaga

Kerja

Langsung

Dengan

Menggunakan Tiga metode yaitu Tarif Upah,Efisiensi Upah dan Tarif


Efisiensi Upah.
Dari data diatas,antara tarif standar/aktual dan jam kerja standar/ aktual
perusahaan,maka penulis akan mencoba menghitung selisih biaya tenaga
kerja langsung dengan menggunakan tiga metode selisih yaitu selisih tarif
upah,selisih efisiensi upah dan selisih tarif efisiensi upah dengan data
sebagai berikut :
Tust = Rp 3500.
Tuss = Rp 3800.
JKst = 160 Jam.
1. Selisih Tarif Upah.
Bulan
St = (Tust Tuss) X JKst.
Juli.
(3500 3800) x 160 = 48000 (R).
Agustus
(3500 3800) x 160 = 48000 (R).
September
(3500 3800) x 160 = 48000 (R).
Oktober
(3500 3800) x 160 = 48000 (R).
November
(3500 3800) x 160 = 48000 (R).
Desember
(3500 3800) x 160 = 48000 (R).
2. Selisih Efisiensi Upah.
Bulan
Se = (JKst JKss) x Tust.
Juli
(160 160) x 3500 = 0
Agustus
(160 160) x 3500 = 0
September
(160 160) x 3500 = 0
Oktober
(160 160) x 3500 = 0
November
(160 160) x 3500 = 0
Desember
(160 160) x 3500 = 0
3. Selisih Tarif / Efisiensi Upah.
Bulan
St e = (JKst JKss) x Tust.
Juli
(160 160) x (3500 3800) = 0
Agustus
(160 160) x (3500 3800) = 0
September
(160 160) x (3500 3800) = 0
Oktober
(160 160) x (3500 3800) = 0
November
(160 160) x (3500 3800) = 0
Desember
(160 160) x (3500 3800) = 0
Keterangan :

Tust = Tarif Upah Standar.


JKst = Jam Kerja Standar.
Tuss = Tarif Upah Sesungguhnya.
JKss = Jam Kerja Sesungguhnya.

29

Dari perhitungan diatas diketahui bahwa selisih efisiensi upah dan selisih
tarif

efisiensi

upah

tidak

berpengaruh

terhadap

pengeluaran

perusahaan,sedangkan untuk selisih tarif upah yang berkaitan dengan


biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu produk dari bulan Juli
sampai November mempengaruhi pengeluaran perusahaan dengan
terjadinya selisih rugi sebesar Rp 288.000.
Tabel 4.1
Selisih Biaya Tenaga Kerja Langsung Dengan Metode 3 selisih
Bln

Model 3

Trf

Trf

Jenis

Jml

Ket.

Selisih

Standar

Aktual.

Selisih.

Juli

Trf

3500

3800

Sel trf

48000

Agustus

Jam kerja

160

160

Sel trf

Tdk ada
selisih

efsnsi
September

Trf

3500

3800

Sel trf

48000

Tdk ada

efsnsi
Oktober

Jam kerja

160

160

Sel trf

selisih

efsnsi
November

Trf

3500

3800

Sel trf

48000

Tdk ada

efsnsi
Desember

Jam kerja

160

160

Sel trf
efsnsi

SUMBER : PT. Argo Pantes


5. Analisis Selisih Biaya Tenaga Kerja Keseluruhan.

30

selisih

Di bawah ini adalah perbandingan biaya tenaga kerja langsung perusahaan


dengan menggunakan biaya tenaga kerja standar dan biaya tenaga kerja
langsung sesungguhnya yang akan di sajikan dengan table berikut :
Tabel 5.1
Selisih Biaya Tenaga Kerja Standar dan Aktual.
Bulan

Total biaya standar

Total biaya aktual

selisih

Juli

67200000

72960000

(5760000)

Agustus

67200000

72960000

(5760000)

September

67200000

72960000

(5760000)

Oktober

67200000

72960000

(5760000)

November

67200000

72960000

(5760000)

desember

67200000

72960000

(5760000)

Jumlah

403200000

437760000

(45360000)

Berarti perbandingan biaya tenaga kerja langsung perusahaan sebesar


45.360.000

didapat

selisih

rugi/

penyimpangan

standar,

selisih

rugi/penyimpangan ini disebabkan karena biaya tenaga kerja langsung


yang dianggarkan perusahaan lebih kecil dari biaya tenaga kerja langsung
sesungguhnya.
Faktor yang menyebabkan terjadinya selisih rugi pada perusahaan adalah
biaya tenaga kerja langsung standar perusahaan lebih kecil dari biaya
tenaga kerja langsung aktual perusahaan sehingga HPP bertambah dan
jumlah jam kerja yang digunakan selama produksi lebih besar dari
yang ditetapkan, hal ini dikarenakan perusahaan harus memproduksi
diatas kapasitas normal yang ditetapkan perusahaan sebelumnya karena
adanya pesanan dari pelanggan dan faktor lainnya yaitu di karenakan
adanya hari libur nasional maka terjadi perbedaan antara jam kerja yang
distandarkan dengan jam kerja sesungguhnya.

31

B. MASALAH 2 (Buruh Yang Dirumahkan Hanya Upah 50%)


Buruh Yang Dirumahkan Hanya Upah 50% PT.Argo Pantes Tbk adalah
sebuah perusahaan yang merupakan sebuah perusahaan groups dimana
perusahaan ini berkantor pusatnya adalah di Wisma Argo Manunggal
Lantai 14 Jl. Gatot Subroto Kav. 22 Jakarta Konsentrasi perusahaan yang
melakukan produksi barang dilakukan oleh PT. Argo Pantes Tbk ada didua
tempat yaitu: PT. Argo Pantes Tbk Wilayah Bekasi yang beralamat di
Kawasan MM 2100 Desa Gandamekar Kec. Cibitung Kabupaten Bekasi
Jawa Barat; PT. Argo Pantes Tbk Wilayah Tangerang yang beralamat di Jl.
MH. Thamrin Desa Cikokol Kota Tangerang Banten. Dimana konsentrasi
perusahaan PT. Argo Pantes Tbk adalah untuk jenis produksi Tekstil
(benang, dan kain) yang memiliki orentasi pasar Lokal dan Ekspor.
Direktur utama perusahaan PT Argo Pantes Tbk adalah seorang warga
Negara Indonesia keturunan yang bernama The Nicholas. Pertengahan
September 2008, 44 (empat perwakilan buruh PT. Argo Pantes Tbk, Jln
Raya MH.Thamrin Kelurahan Cikokol Kota Tanggerang telah bersepakat
untuk mendeklarasikan sebuah serikat buruh independent yang bernama
PTP. SBGTS-GSBI PT. Argo Pantes Tbk.
Paska para buruh mendeklarasikan serikat buruh independent tepatnya
terhitung sejak tanggal 23 September 2008 managemen PT Argo Pantes
Tbk Tangerang merumahkan sebagian buruh khususnya seluruh buruh
yang membidangi berdirinya serikat buruh independent (baca SBGTSGSBI PT Argo Pantes Tbk) dengan alasan bahwa perusahaan merugi
hingga triliunan rupiah, dalam merumahkan sebagian buruh tersebut
management PT. Argo Pantes Tbk hanya membayar upah 50% setiap
bulannya.
Para buruh menilai bahwa kebijakan merumahkan buruh dengan alasan
merugi adalah alasan yang dibuat-buat tetapi yang menjadi penyebab
sesungguhnya adalah karena para buruh telah bergabung dan mendirikan
serikat buruh independent.

32

Para buruh menilai bahwa kebijakan merumahkan para buruh ini sudah
menjadi kebiasaan yang dialami oleh para buruh PT. Argo Pantes Tbk
sejak beberapa tahun lalu, dimana para buruh yang dirumahkan akan
ditekan untuk selanjutnya di PHK dan diganti dengan buruh yang berstatus
kontrak.
C. Masalah 3 (PT ARGO PANTES TBK TANGGUHKAN UPAH TAHUN
2009)
SERANG, TRIBUN-Pemerintah Provinsi Banten baru menyetujui enam
perusahaan besar di Tangerang dan Serang yang mempekerjakan 10.000
pekerja untuk tidak melaksanakan upah minimum kabupaten dan kota
(UMK) tahun 2009.
Keputusan dibolehkannya penangguhan UMK akan diperketat menyusul
banyaknya permintaan perusahaan untuk tidak melaksanakan pembayaran
upah berdasarkan upah minimum tahun ini. Dalam keputusan Gubernur
Banten Ratu Atut Chosiyah No. 561/kep. 56-huk/09, menyetujui
penangguhan pelaksanaan upah minimum PT Sugih Brothers (Serang), PT
Panca Citra Wira (Serang), PT Masa Baru (Tangerang), PT Homeware
Internasional (Tangerang), PT Argo Beni Manunggal (Tangerang) dan PT
Argo Pantes (Tangerang). Dikeluarkannya keputusan tersebut setelah
dilakukan kajian dari berbagai aspek terhadap kondisi keuangan dan
produksi yang ditanggung perusahaan tersebut.
"Kami lakukan kajian terlebih dahulu kepada perusahaan-perusahaan itu,"
terang Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Banten Eutik
Suharta, kemarin. Menurut Eutik, penangguhan pelaksanaan upah
minimum perusahaan harus disertai dengan enam hal,
1. Harus ada naskah asli kesepakatan tertulis antara pengusaha dengan
serikat pekerja atau serikat buruh perusahaan yang bersangkutan.
2. Laporan keuangan peru-sahaan yang terdiri dari neraca perhitungan
rugi atau laba berserta penjelasan-penjelasan selama dua tahun
terakhir.
3. Harus ada salinan akte pendirian perusahaan
4. Harus ada data upah me-nurut jabatan pekerja buruh
5. Jumlah pekerja atau buruh seluruhnya dan jumlah pekerja yang
dimohonkan penangguhan pelaksanaan upah minimum.

33

6. Harus ada catatan perkembangan produksi dan pemasaran selama 2


tahun terakhir, serta rencana produksi dan pemasaran untuk dua tahun
yang akan datang.
la menjelaskan, dari enam perusahaan yang pengajuan penangguhannya
dikabulkan itu katanya, ada satu perusahaan yang disepakati harus
membayar UMK dengan nilai antara UMK 2008 dan UMK 2O09.
Perusahaan tersebut adalah PT Argo Pantes. Sedangkan lima perusahaan
lainnya diperbolehkan untuk membayar senilai UMK 2008.
"Masih ada dua perusahaan lagi yang masih kami pertimbangkan
pengajuannya," kata Eutik. Seperti diketahui, UMK Kabupaten Tangerang
yaitu sebesar Rp 1.055.640 sedangkan untuk UMK Serang yaitu sebesar
Rp 1.030.000. Untuk Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang
mengalami dua kali pengesahan UMK, Kabupaten Tangerang dari Rp
1.045.500 menjadi Rp 1.055.640 dan Kota Tangerang tahun 2009 dari Rp
1.054.669 menjadi Rp 1.064.500.
Wakil Ketua Advokasi Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kabupaten Serang,
Maya Agung Dewandaru mengatakan, memang secara aturan penangguhan UMK itu diperbolehkan, asalkan hal itu sesuai dengan tahapan.
"Jadi kalau sesuai prosedur kami tidak masalah," kata Agung.
Kesulitan Keuangan Di Kabupaten Tangerang, sedikitnya empat
perusahaan sudah menyatakan ketidak-mampuannya membayar gaji sesuai
UMK 2009. Keempat perusahaan tersebut, PT Fiberindo diantaranya
sudah mengajukan penanguhan UMK 2009 ke Gubernur Banten, dan oleh
Gubernur Banten pengajuan penangguhan tersebut ditolak, karena tidak
dilengkapi dengan pembicaraan dengan Bipartit. Sementara tiga
perusahaan lainnya yang juga tidak dilengkapi sejumlah persyaratan ajuan
penangguhan hingga kini belum diterima oleh Gubernur Banten. "Saya
tidak tahu ketiganya sudah mengajukan ke Gubernur apa belum, namun
PT Fiberindo ditolak dan disarankan melengkapi kekurangan syarat itu.
oleh karena itu mereka harus tetap menjalan UMK 2009 sebesar Rp 1.055.
640," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten
Tangerang,

Hasdanil

kepada

34

Tangerang

Tribun,

Selasa

(3/3).

Hasdanil menjelaskan, jika ada perusahaan yang tidak menerapkan UMK


tahun ini, maka terancam sangsi penjara dan denda ratusan juta sebagaimana aturan UU Nomor 13 tahun 2000.
Diberitakan sebelumnya, karyawan PT Fiberindo Inti Prima yang
beralamat di Jalan Raya Serang-Cikupa akan segera diancam pidana.
Pasalnya perusahaan tersebut telah melakukan memberikan gaji dibawah
ketentuan UMK Kabupaten Tangerang atau hanya sebesar Rp 1.010.850
dari ketetapan UMK 2009 Rp 1.055.640. "Kami akan segera
menindaklanjuti masalah ini. Perusahaan yang bergerak dibidang textil ini
bisa dipidanakan sesuai UU Nomor 13 Tahun 2000," tegas Hasdanil.
(dd/Bud)
UMK PERUSAHAAN

YANG

DITANGGUHKAN

DIWILAYAH

PROPINSI BANTEN
1. PT Sugih Brothers;Serang
2. PT Panca Citra Wira;Serang
3. PT Masa Baru;Tangerang
4. PT Homeware Internasional;Tangerang
5. PTArgo Beni Manunggal Tangerang
6. PT Argo Pantes Tangerang
D. MASALAH 4 (harga bahan baku kapas dan ongkos produksi lebih tinggi
dari harga jual produk)
Emiten tekstil PT Argo Pantes Tbk memutuskan menutup sementara salah
satu pabriknya lantaran terus merugi selama lima tahun terakhir. Perseroan
menuturkan pabrik mereka yang berlokasi di kawasan industri MM2010,
Desa Gandamekar, Cibitung, Bekasi telah ditutup sejak 1 Desember.
Kami berencana menutup pabrik sementara, mengingat harga bahan baku
kapas dan ongkos produksi lebih tinggi dari harga jual produk, terang
Direktur Argo Pantes (ARGO) Surjanto Purnadi dalam keterbukaan
informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (4/12). Dia melanjutkan
perseroan mesti mengurangi produksi dengan menutup pabrik tersebut,
demi menghindari kerugian yang lebih besar.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2014, beban pokok penjualan
ARGO tercatat sebesar Rp1,06 triliun, meningkat 9,24% dari setahun

35

sebelumnya. Sekitar 54,2% total beban pokok penjualan berasal dari bahan
baku, setara dengan Rp578,5 miliar. Jumlah ini lebih besar dibanding
pendapatan yang diraih perseroan. Penjualan bersih tercatat senilai Rp990
miliar, naik 3,38% dari setahun sebelumnya yang sekitar Rp957,61 miliar.
Namun, pendapatan terkikis oleh besarnya beban sehingga ARGO
mencetak rugi bersih Rp147,48 miliar, melonjak 72,38% dari periode yang
sama tahun sebelumnya. Perseroan juga masih memiliki utang Rp366,36
miliar kepada PT Bank Mutiara Tbk (BCIC), yang berupa fasilitas kredit
modal kerja. Pabrik-pabrik ARGO berlokasi di Bekasi dan Tangerang.
Sebanyak 67,1% hasil penjualannya berasal dari produk-produk yang
diekspor, sedangkan sisanya dari penjualan ke domestik. Perusahaan ini
merupakan bagian dari Argo Manunggal Group, yang
dikuasai The Ning King. Selain tekstil, kelompok usaha itu bergerak di
properti, finansial, manufaktur, pakan ternak, dan konstruksi.
Sekelas PT Argo Pantes saja tutup tidak bisa membayar gaji
karyawannya, apalagi PT itu sudah enam kali melakukan penangguhan
UMK tapi tetap saja tutup, kata Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia
(Apindo) Kabupaten Bekasi, Agus Setiyawan. Apindo, sambung Agus,
menilai kalau kenaikan upah minimum yang terukur bisa mengantisipasi
gelombang PHK. Karena selama ini munculnya PHK antara lain
disebabkan ketidakmampuan perusahaan membayar gaji karyawannya.
Memang kalau bisa terukur dan memprediksi upah ke depan setidaknya
perusahan jauh-jauh hari sudah bisa menghitung upah pekerjanya,
sehingga bisa mengantisipasi operasional yang dikeluarkan, salah satu lagi
karyawannya juga, tuturnya.
Masih Agus, kenaikan UMK Bekasi 2016 sebesar 11,5 persen yang sudah
ditetapkan juga sebenarnya dirasakan berat oleh industri kecil dan
menengah. Karena di saat keadaan ekonomi nasional sedang terpuruk,
bahan baku impor justru semakin melambung tinggi.
Meskipun belum tahu kondisinya seperti apa tapi saya rasa pasti kenaikan
(UMK) 11,5 persen masih berat bagi IKM dan UKM, katanya.
36

Sedangkan untuk perusahaan besar, lanjut Agus, kemungkinan besar akan


menerapkan fleksibilitas dalam menerapkan kenaikan UMK. Untuk
perusahaan jenis padat karya, kata dia, akan menerapkan semi otomatis
dalam penggunaan mesin. Sementara kalau menggunakan mesin otomatis
seluruhnya maka akan terjadi pengurangan karyawan secara besar-besaran.
Kita Apindo mendukung program pemerintah untuk menyerap dan
membuka lapangan kerja banyak namun di sisi lain UMK juga tidak harus
memberatkan pengusaha, tuturnya.
E. MASALAH 5 (Mengalami Kerugian)
Bisnis.com, JAKARTA Perusahaan tekstil PT Argo Pantes Tbk. (ARGO)
menjaminkan asetnya untuk meraih pinjaman melalui kerja sama dengan
perusahaan terafiliasi PT Argo Manunggal Triasta senilai US$34 juta.
Dalam keterbukaan informasi, Rabu (26/3/2014), Argo Manunggal Triasta
akan memperoleh fasilitas pinjaman dari bank, dengan mensyaratkan
adanya jaminan.
Argo Pantes memiliki cukup aset untuk dijadikan jaminan dan bermaksud
untuk dapat menggunakan sebagian fasilitas pinjaman yang akan diterima
oleh Argo Manunggal dari bank dengan jaminan aset tersebut.
Perseroan mengalami kerugian sejak beberapa tahun belakangan, sehingga
tidak dapat memperoleh fasilitas tersebut secara langsung dari bank dan
kesulitan untuk mendapatkan modal kerja membeli bahan baku dan
kebutuhan produksi lainnya. Aset yang dijaminkan adalah aset tetap
berupa tanah seluas 199.560 m2 dan bangunan serta mesin-mesin yang
berada di atas tanah tersebut yang terletak di desa Ganda Mekar,
Kabupaten Bekasi, Propinsi Jawa Barat.
Alokasi pemakaian plafond pinjaman tersebut senilai US$34 juta dengan
nilai imbalan jasa bagi Argo Manunggal sebesar 1% per tahun dari jumlah
plafon yang dialokasikan.

37

Adapun, nilai pasar aset yang dijaminkan tersebut mencapai Rp914 miliar
dan akan dilepaskan selambat-lambatnya setahun setelah perseroan
memenuhi kewajiban pelunasan seluruh pinjaman.
F. MASALAH 6 (BANGKRUT)
SECARA perlahan, dampak dari anjloknya nilai tukar rupiah terhadap
dolar Amerika mulai terjadi di Kabupaten Bekasi. Berdasarkan data dari
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans), sedikitnya sudah
ada lima perusahaan bangkrut. Lima perusahaan tersebut yakni, PT Kirin
Dinamika, PT Delta Inova, PT Argo Pantes, PT Gunaparamita dan PT
Panasonic. Dari lima perusahaan itu, PT Panasonic tidak melaporkan soal
pailitnya perusahaan namun tetap diketahui oleh Disnakertrans. Satu
perusahan yang tidak melaporkan yaitu PT Panasonic, tapi kami masukan
datanya karena jelas keberadaannya juga prosesnya, kata Kepala Bidang
Hubungan Industrial dan Persyaratan Kerja pada Disnakertrans Kabupaten
Bekasi, Nurhidayah.
Dari lima perusahaan yang gulung tikar, sebanyak 1.961 karyawannya
mengalami PHK. Perusahaan tak sanggup lagi memproduksi dan menggaji
karyawannya lantaran lesunya perekonomian akibat nilai tukar rupiah
terhadap dolar yang terus terpuruk.
Selain lima perusahaan yang kini sudah bangkrut, ada beberapa
perusahaan lainnya yang terancam pailit. Beberapa perusahaan seperti PT
Graha Adi Karya Logam, PT Tempo Scan Pasific, PT Kawasaki dan PT
Madurasa sudah melakukan tindakan efisiensi seperti pengurangan tenaga
kerja.
Kalau yang mengefisiensi karyawannya totalnya ada 368 karyawan,
perusahan-perusahan itu juga akan mempekerjakan kembali bila produksi
sudah stabil dan rupiah juga menguat, karena selama ini bahan dasar
memang banyak membeli dengan dolar Amerika, ucapnya. Menurut
Nurhidayah, perusahaan seharusnya mengambil langkah komprehensif
jika efisiensi dan PHK karyawan dilakukan karena alasan ekonomi yang

38

lesu. Disnakertrans, kata dia, sudah mengeluarkan imbauan ke perusahaan


agar tidak cepat mengambil langkah PHK sebelum dilakukan upaya
efisiensi.
Jadi tidak langsung PHK, tapi bisa dirumahkan terlebih dahulu, bila
sudah stabil bisa dipanggil lagi karyawannya, ucapnya.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten
Bekasi, Sutomo mengatakan jika sektor industri sangat terpukul akibat dari
anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Untuk sekarang ini
para pengusaha masih menunggu kestabilan ekonomi karenakan
dampaknya tidak hanya di Indonesia saja, dampaknya juga ke seluruh
dunia, ucap Sutomo, beberapa waktu lalu kepada Radar Bekasi.
Menurut Sutomo, tindakan PHK yang dikeluarkan perusahaan biasanya
upaya terakhir yang dilakukan perusahaan setelah efisiensi. Pihak
perusahaan sudah tak mampu lagi membayar biaya operasional dan gaji
karyawan sehingga PHK pun dikeluarkan. Jadi PHK adalah cara
terakhir, katanya. (dho)
3.3.

39

3.3.

Solusi terhadap Masalah yang di Temui pada PT Argo Pantes Tbk


1. Dari sudut pandang kami sebagai mahasiswa
Seharusnya PT Argo Pantes menggunakan bahan baku yang berasal
dari

dalam

Negeri

karena

walaupun

pada

tujuannya

ingin

menghasilkan produk yang berkualitas bukan berarti bahan baku luar


negeri lebih baik dari bahan baku dalam negeri. Karena itu bisa
memangkas biaya produksi dengan biaya membeli bahan baku yang
murah dari dalam negeri disaat nilai rupiah anjlok karena biasanya
mengimpor bahan baku dari luar negeri menggunakan dolar amerika.
Dan PT Argo Pantes harusnya bisa membayar Gaji Karyawan yang
sesuai UMK karena Karyawan memiliki Hak dasar untuk mendapatkan
upah sesuai UMK.
2. Dilihat dari sudut pandang kami sebagai pemerintah
Kami sebagai pemerintah melihat kondisi yang terjadi pada PT Argo
Pantes

berusaha

untuk

memberikan

suatu

kebijakan

dengan

menyetujui penangguhan UMK pada PT Argo Pantes itu dilakukan


supaya tidak terjadi PHK kepada para karyawan. Dan kami sebagai
pemerintah daerah mengarahkan supaya pabrik dimasukan ke kawasan
Industri di Cibodas. Dengan begitu lahan akan beralih fungsi menjadi
pusat perdagangan dan jasa, ini dapat menyerap banyak tenaga kerja
lokal sehingga mengurangi angka pengangguran yang menurut data
BPS mencapai 78.000 jiwa.
3. Dilihat dari sudut pandang kami sebagai karyawan
Kami sebagai karyawan tidak setuju dengan adanya prumahan para
karyawan. Seharusnya PT Argo Pantes Menggunakan bahan baku lokal
karena saat terjadi penurunan nilai rupiah perusahaan tidak mengalami
kerugian. Karena saat membeli bahan baku dari luar negeri para
pengusaha haru menggukan dolar Amerika sebagai alat transaksi.
Sehingga tidak terjadi perumahan para karyawan.
4. Dilihat dari sudut pandang kami sebagai ketua perusahaan
Menanggapi kasus yang sedang Perusahaan hadapi, kami sebagai
perusahaan berusaha bangkit dari krisis dengan mencoba peruntungan
baru dengan mulai merambah ke bidang properti dan kami

40

merencanakan untuk merelokasi pabrik dari Tangerang ke Semarang,


Jawa Tengah yang merupakan kawasan industri pertimbangan

3.4.

tingginya kenaikan upah buruh pada 2015.


.
Analisis GAP Teori dan Praktek pada PT Argo Pantes Tbk.
GAP antara Teori Produksi dan Praktek yang terjadi pada PT Argo Pantes
karena :
Menurut Teori Ekonomi berbagai jenis perusahaan mempunyai tujuan yang
sama yaitu mencapai keuntungan yang maksimum pada prakteknya
pemaksimuman keuntungan bukan satu-satunya tujuan pada PT Argo Pantes.
PT Argo Pantes memiliki visi Menjadi Perseroan Tekstil Terkemuka

di Dunia dengan SDM dan Teknologi Terbaik Menghasilkan Produk

dan Pelayanan Berkualitas


PT Argo Pantes lebih menekankan kepada volume penjualan dan
produksi ini terbukti dengan PT Argo Pantes menangguhkan Gaji
Karyawan dengan membayar Gaji dibawah UMK pada Tahun 2009

yang seharusnya Rp1.055.640


PT Argo Pantes memasukan pertimbangan politik dalam menentukan
tingkat produksi itu terbukti dengan adanya kebijakan merumahkan
para karyawan saat karyawan membentuk Serikat Buruh, PT Argo
Pantes juga memutuskan menutup sementara salah satu pabriknya
lantaran terus merugi selama lima tahun terakhir yang dikarenakan
harga bahan baku kapas dan ongkos produksi lebih tinggi dari harga
jual produk karena PT Argo Pantes mengimpor bahan baku kapas dari

Amerika, Australia, beberapa negara di Asia dan Afrika.


Memang dari beberapa tujuan yang ditemui tersebut memberikan suatu
alasan untuk meragukan kesesuaian antara teori dan praktek. Tetapi,
tetap yang dilakukan PT Argo Pantes tujuan memaksimumkan
keuntungan merupakan tujuan yang paling penting ini bisa dilihat dari
kebijakan PT Argo Pantes menangguhkan Gaji Karyawan dan menjual
Aset Perusahaan supaya mendapatkan pinjaman modal merupakan cara
supaya bisa meminimumkan biaya produksi yang pada prinsipnya

41

berbunyi mengambil unit tambahan faktor produksi yang biaya per


rupiahnya akan menghasilkan tambahan nilai yang maksimum
Dalam kasus yang terjadi pada PT Argo Pantes terjadi GAP antara Teori
dan Praktek , pada tahun 2009 lalu perusahaan harus memproduksi
diatas kapasitas normal yang ditetapkan perusahaan sebelumnya karena
adanya pesanan dari pelanggan dan faktor lainnya yaitu di karenakan
adanya hari libur nasional maka terjadi perbedaan antara jam kerja yang
distandarkan dengan jam kerja sesungguhnya, selain itu karyawan yang
harusnya mendapatkan upah sesuai UMK bukan hanya mendapatkan 50 %
karena seharusnya PT Argo Pantes mencari bahan baku yang berkualitas
tapi dengan harga optimal dan terjaga pemasokannya. Sehingga ketika
terjadi permasalahan krisis ekonomi secara global ataupun terjadi
penurunan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika perusahaan akan
tetap bertahan dan tidak melakukan penangguhan gaji para karyawan
karena dalam teori produksi tenaga kerja merupakan aset perusahaan yang
penting.

42

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Kinerja perusahaan tekstil, dalam laporan, sangat dipengaruhi oleh ketersediaan
bahan baku dan tenaga kerja serta kebijakan pemerintah.
Dalam kasus yang terjadi pada PT Argo Pantes terjadi GAP antara Teori dan
Praktek , pada tahun 2009 lalu perusahaan harus memproduksi diatas kapasitas
normal yang ditetapkan perusahaan sebelumnya karena adanya pesanan dari
pelanggan dan faktor lainnya yaitu di karenakan adanya hari libur nasional maka
terjadi perbedaan antara jam kerja yang distandarkan dengan jam kerja
sesungguhnya, selain itu karyawan yang harusnya mendapatkan upah sesuai UMK
bukan hanya mendapatkan 50 % karena seharusnya PT Argo Pantes mencari
bahan baku yang berkualitas tapi dengan harga optimal dan terjaga
pemasokannya. Sehingga ketika terjadi permasalahan krisis ekonomi secara global
ataupun terjadi penurunan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika
perusahaan akan tetap bertahan dan tidak melakukan penangguhan gaji para
karyawan karena dalam teori produksi tenaga kerja merupakan aset perusahaan
yang penting.
4.2. Saran

Adanya kenaikan biaya tenaga kerja dan beban listrik bagi perusahaan
publik harus diantisipasi oleh Perseroan dengan melakukan efisiensi dalam

segala bidang termasuk biaya operasional.


Agar mampu tumbuh dan mencapai target yang telah ditetapkan,
Perseroan harus mampu memenuhi permintaan pasar dan meningkatkan

efisiensi serta efektivitas dalam aktivitas bisnis.


Persaingan yang ketat, baik dari perusahaan domestik maupun
internasional harus menjadi dorongan bagi Perseroan untuk terus
melakukan inovasi.

43

Perusahaan harus menbudayakan cintai produk dalam negeri untuk

meminimalkan biaya produksi.


Sebaiknya perusahaan dalam menetapkan biaya standar harus lebih teliti
dan memperhitungkan kemungkinan adanya penambahan jumlah produksi
akibat adanya penambahan pesanan.

44

DAFTAR PUSTAKA
Putong, Iskandar. 2010. Economics Pengantar Mikro dan Makro. Jakarta: Mitra
wacana media.
Sukirno, Sadono. 2011. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Salvatore, Dominick.2006. Mikro Ekonomi. Jakarta:Erlangga.

45