Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah


konjungtiva menuju kornea pada daerah interpalpebra. Diduga bahwa paparan ultraviolet
merupakan salah satu faktor resiko terjadinya pterigium. Pterygium tumbuh berbentuk sayap
pada konjungtiva bulbi. Asal kata pterygium adalah dari bahasa Yunani, yaitu pteron yang
artinya sayap. Insiden pterigium cukup tinggi diindonesia yang terletak didaerah equator
adalah 13,1%. Pterygium tersebar di seluruh dunia, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas
dan kering. Prevalensi juga tinggi di daerah berdebu dan kering. Faktor yang sering
mempengaruhi adalah daerah dekat ekuator, yakni daerah yang terletak kurang 370 Lintang
Utara dan Selatan dari ekuator. Prevalensi tinggi sampai 22% di daerah dekat ekuator dan
kurang dari 2% pada daerah yang terletak di atas 400 Lintang. Temuan patologik pada
konjungtiva, lapisan bowman karena digantikan oleh jaringan hialin atau elastik. Insiden
tertinggi pterigium terjadi pada pasien rentang usia 20 49 tahun. Pasien dibawah umur 15
tahun jarang untuk terjadinya pterigium. Rekuren lebih sering pada pasien yang usia lebih
muda dibandingkan pasien yang lebih tua. Kejadian berulang (rekuren) lebih sering pada
umur muda daripada umur tua. Laki-laki 4 kali lebih resiko dari perempuan dan berhubungan
dengan merokok, pendidikan rendah, riwayat terpapar lingkungan di luar rumah.1,2
Etilogi pterigium tidak diketahui dengan jelas. Karena penyakit ini lebih sering pada
orang yang tinggal didaerah beriklim panas, maka gambarannya yang paling diterima tentang
hal tersebut adalah respon terhadap faktor faktor lingkungan seperti paparan terhadap sinar
ultraviolet dari matahari, daerah kering, inflamasi, daerah angin kencan, debu, atau faktor
iritan lainnya. Keadaan ini diduga merupakan suatu fenomena iritatif. Jika pterigium
membesar dan meluas sampai daerah pupil, lesi harus diangkat secara bedah bersama
sebagian kecil kornea superfisial diluar daerah perluasannya.1,2
Pterygium lebih sering dijumpai pada laki-laki yang bekerja di luar rumah. Bisa
unilateral atau bilateral. Kira-kira 90% terletak di daerah nasal. Pterygium yang terletak di
nasal dan temporal dapat terjadi secara bersamaan walaupun pterygium di daerah temporal
jarang ditemukan. Kedua mata sering terlibat, tetapi jarang simetris. Perluasan pterygium
dapat sampai ke medial dan lateral limbus sehingga menutupi sumbu penglihatan,
menyebabkan penglihatan kabur.1,2

BAB II
LAPORAN KASUS
I Identitas Pasien
Nama
Jenis Kelamin
Umur
Agama
Pekerjaan
Bangsa
Alamat
II

: Ny. R
: Perempuan
: 57 Tahun
: Islam
: Pedagang
: Indonesia
: Jl. Cilendek Timur rt/rw 02/03, Bogor Barat Jawa Barat

Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara Auto-anamnesis pada tanggal 28 Januari 2014 pukul 09.25
WIB di Poliklinik Mata RSMM Bogor.
Keluhan Utama
Terasa ada yang mengalangi penglihatan pada mata kanan.
Keluhan Tambahan
Pasien merasa kedua mata sering berair, gatal, terasa terdapat benda asing dan kedua mata
terkadang merah.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang kepoliklinik mata RSMM Bogor dengan keluhan terasa ada yang
menghalangi penglihatan pada mata kanan. Keluhan tersebut timbul sejak 6 bulan smrs.
Pasien juga mengaku mengeluh kedua mata sering berair dan gatal, terkadang merah dan
timbul adanya lapisan seperti selaput pada kedua matanya sejak 4 tahun smrs. Pasien
mengaku keluhan mata merah dan gatal serta berair timbul terutama saat pasien berada
diluar rumah. Selaput yang rasa pasien sedikit mengganjal timbul semakin lama semakin
membesar dalam waktu 4 tahun, dan menghalangi penglihatan pada mata kanan. Menurut
pasien jika ia membaca kadang terdapat bayangan yang mengahalangi penglihatan dalam
melihat jauh maupun dekat, keluhan itulah yang sangat mengganggu pasien. Pasien sering
berpergian keluar rumah saat terik matahari untuk berjualan dipasar tanpa menggunakan
kaca mata. Pasien menyangkal adanya keluhan nyeri pada kedua mata atau terkadang sakit
kepala.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengaku belum pernah mengalami hal yang sama sebelumnya, keluhan ini
dirasakan pasien pertama kalinya. Pasien belum pernah memakai kaca mata sebelumnya.
Pasien mengaku mempunyai riwayat Hipertensi (+), Diabetes Melitus (-).
2

Riwayat Pengobatan
Pasien mengaku belum pernah melakukan pengobatan untuk keluhannya kedokter, pasien
pertama kalinya datang ke dokter mata. Pasien mengaku 1 bulan ini memakai obat tetes
mata insto yang dibelinya diwarung, 3 tetes/hari, tetapi tidak membaikm dengan
pengobatan.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada dikeluarga pasien yang mengalami hal yang sama seperti pasien. Dan riwayat
kelainan mata lainnya disangkal. Riwayat Hipertensi (+), Diabetes Melitus (-).
III

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Tidak tanpak sakit
Kesadaran
: Composmentis
Tanda Vital
Tekanan Darah
: 160/110 mmHg
Nadi
: 88 x/menit
Pernafasan
: 20 x/menit
Suhu
: 36,8oC
Status Generalis
Kepala
: Normocephali
Mata
: (status oftalmologi)
Telinga
: Normotia, Serumen -/Hidung
: Septum deviasi (-), sekret -/Mulut
: Bibir kering (-), Sianosis (-)
Tenggorokan
: Tonsil T1-T1 tenang, Faring hiperemis (-)
Leher
: Trakea lurus ditengah, KGB tidak teraba membesar, Tiroid tidak
Jantung
Paru
Abdomen
Ekstermitas

IV

teraba membesar.
: BJ1-BJ2 reguler, murmur (-), gallop (-), batas jantung dbn
: Suara nafas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/: Teraba supel, Hepar lien tidak teraba, BU (+) normal
: Akral hangat pada keempat ekstermitas, Oedem (-)

Status Oftalmologi
OD

Visus

1/60

OS

0,8 F

Kedudukan Bola Mata


Posisi
Eksoftalmus
Enoftalmus

Orthoforia
-

Orthoforia
-

Pergerakan Bola Mata

Supersilia
Alopesia

Palpebra Superior
Edema
Spasme
Hiperemis
Benjolan
Ulkus
Fistel
Hordeolum
Khalazion
Ptosis

Palpebra Inferior
Edema
Hiperemis
Benjolan
Ulkus
Fistel
Hordeolum
Khalazion

Margo Palpebra Superior et Silia


Edema
Hiperemis
Ektropion

Entropion
Sekret
Benjolan
Trikiasis
Madarosis
Ulkus
Fistel

Margo Palpebra Inferior et Silia


Edema
Hiperemis
Ektropion
Entropion
Sekret
Benjolan
Trikiasis
Madarosis
Ulkus
Fistel

Area Kelenjar Lakrimalis


Edema
Hiperemis
Fistel
Benjolan

Punctum Lakrimalis
Edema
Hiperemis
Sekret
Epikantus

Konjungtiva Tarsalis Superior


Kemosis
Hiperemis
Anemis
Folikel
Papil
Lithiasis

Simblefaron

Konjungtiva Tarsalis Inferior


Kemosis
Hiperemis
Anemis
Folikel
Papil
Lithiasis
Simblefaron

Konjungtiva Forniks Superior et Inferior


Kemosis
Hiperemis
Folikel
Simblefaron

+
+
+
-

+
+
+
-

+
-

+
-

Konjungtiva Bulbi
Kemosis
Pterigium
Pinguekula
Flikten
Slimbafaron
Injeksi Konjungtiva
Injeksi Siliar
Injeksi Episklera
Perdarahan Subkonjungtiva

Kornea
Kejernihan
Edema
Ulkus
Flikten
Macula
Leukoma
Leukoma Adherens
Sfatiloma
Neovaskularisasi
Pigmen Iris

Bekas Jahitan
Tes Fluoresensi
Tes Sensibilitas
Tes Placido

+
Tidak dilakukan

+
Tidak dilakukan

Jernih

Jernih

Coklat
Normal

Coklat
Normal

Bulat
3 mm
Isokor
+
+

Bulat
3 mm
Isokor
+
+

Tidak dapat dinilai

Jernih

Limbus Kornea
Arkus Senilis
Bekas Jahitan

Sklera
Sklera Biru
Episkleritis
Skleritis

COA
Kejernihan

Iris
Warna
Kripta

Pupil
Bentuk
Ukuran
Isokoria
RCL
RTCL

Lensa
Kejernihan

Vitreus Humour

Kejernihan

Jernih

Jernih

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Normal
Tidak dilakukan

Normal
Tidak dilakukan

Funduskopi
Funduskopi

Tekanan Intraokuler
Palpasi
Tonometer Schiotz

Pemeriksaan Penunjang
Dengan menggunakan Snellen Chart, ditemukan :
VOD : 1/60
VOS : 0,8F

VI

Resume
Pasien Ny.R 53 tahun datang dengan keluhan terdapat selaput bening tipis pada kedua
mata, terutama OD yang menghalangi penglihatan sejak 4 tahun smrs yang bersifat
progressive. Pasien juga mengeluh mata berair, gatal dan hiperemis pada kedua mata yang
terkadang timbul apabila terkena paparan sinar matahari. Riwayat pengobatan dengan obat
tetes mata insto 3tetes/hari dalam 1 bulan, perbaikan (-). Pemeriksaan fisik dalam batas
normal. Pemeriksaan Oftalmologi didapatkan penebalan (pterigium ODS) yang disertai
dengan pelebaran pembuluh darah konjungtiva dan episklera. OD melewati pupil dan OS
melewati limbus tetapi tidak sampai pupil.

VII

Diagnosis Kerja
OD Pterigium Stadium IV
OS Pterigium Stadium II

VIII Penatalaksanaan
Non Medikamentosa
Pasien disarankan hindari kedua mata dari debu dan sinar mata hari dengan bantuan
kaca mata pelindung
Medikamentosa
Operatif
Eksisi Pterigium
Non-Operatif
Polydex eye drop 4x1
Possop eye drop 4x1
8

IX

Prognosis
Ad Vitam
Ad Fungtionam
Ad Sanationam

: Ad Bonam
: Ad Bonam
: Dubia Ad Bonam

OD EKSISI PTERIGIUM

BAB III
ANALISIS KASUS

I.Diagnosis
Pada pasien ini diteggakan diagnosis OD Pterigium grade IV dan OS Pterigium grade II
atas dasar :
a. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Pasien mengeluh terdapat yang mengalangi pandangannya pada mata kanan yang
semakin memburuk 6 bulan smrs. Pasien juga mengaku terdapat selaput pada kedua
matanya yang timbul sejak 4 tahun smrs, pasien juga mengeluh mata terkadang berair
dan gatal serta merah yang timbul terutama saat berada di luar dan terkena sinar
matahari. Pasien bekerja sebagai pedagang dipasar, sehingga sering sekali terpapar
debu dan sinar matahari dalam kesehariannya.
Pterigium merupakan suatu kelainan patologis yang disebabkan pertumbuhan
fibrovaskular konjungtiva yang bersivat degeneratif dan invasif, dan biasanya terletak
didaerah nasal dari pada temporal konjungtiva. Pterigium berbentuk segitika dengan
puncak mencapai kornea. Pada pasien ini sangat jelas sekali adanya pterigium,
berkaitan dengan pekerjaan pasien sebagai pedagang dipasar berkaitan dengan etiologi
dari pterigium. Etiologi pterigium disebutkan radiasi UV B, pada pasien ini aktifitas
sehari harinya adalah diluar rumah yang menyebabkan lebih sering terpapar sinar
matahari yang memungkiinkan pasien terkena pterigium. Selain itu etiologi dari
pterigium juga disebutkan mikrotrauma oleh pasir, debu, angin yang berkaitan dengan
aktifitas pasien memungkinkan terjadinya pterigium.
Untuk keluhan mata berair merah dan gatal, lebih sering terjadi saat pasien berada
diluar rumah yang disebabkan karena terkenanya debu atau pasir pada mata sehingga
terjadi peningkatan ekskresi air mata yang bertujuan menghilangkan debu atau pasir
yang dianggap sebagai corpus alineum mata. Pada saat didalam rumahpun, selaput
pterigium bukanlah pertumbuhan selaput atau jaringan yang normal pada mata.
Sehingga mata berusaha memberikan kompensasi dengan cara meningkatkan ekskresi

10

air mata yang bertujuan menghilangkankan sesuatu yang dianggap bukan bagian
normal dari mata (pterigium). Pada mata kanan pasien pterigium terus tumbuh pada
kornea sampai melewati pupil oleh karena itu diagnosis untuk mata kanan pasien
mencapai grade IV, sedangkan untuk mata kiri pasien melewati limbus tetapi belum
mencapai pupil maka diagnosisnya pterigium grade II. Pada mata kanan, selaput
tersebut menghalangi pupil sehingga penglihatan tidak sempurna. Semakin luas
pterigium tersebut berkembang kearah temporal yang bisa menutupi seluruh kornea
maka penglihatan (-).
b. Penatalaksanaan
Pada pasien dilakukan rencana tindakan operasi yaitu eksisi pterigium. Eksisi pada
pterigium pada penglihatan dan kosmetik adalah baik. Pterigium post eksisi pterigium
bisa dilakukan mengulangi tindakan pembedahan eksisi dan pencangkokan, keduaduanya dengan konjungtival limbal autografts atau selaput amnion dengan teknik
pterigoplasty. Pasien yang memiliki resiko tinggi pengembangan pterigium atau
dikarenakan diperluas ekspose radiasi sinar ultraviolet, perlu untuk dididik penggunaan
kaca mata dan mengurangi ekspose mata dengan UV.

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
11

Konjungtiva
1. Anatomi
Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak mata bagian
belakang. Secara anatomis konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis
yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan
permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva palpebralis melapisi
permukaan posterior kelopak mata dan melekat erat ke tarsus. Di tepi superior dan inferior
tarsus, konjungtiva melipat ke posterior (pada forniks superior dan inferior) dan membungkus
jaringan episklera menjadi konjungtiva bulbaris. Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke
septum orbital di forniks dan melipat berkali-kali. Adanya lipatan-lipatan ini memungkinkan
bola mata bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik.3,4,5

Gambar. Anatomi konjungtiva


2. Histologi
Secara histologis, lapisan sel konjungtiva terdiri atas dua hingga lima lapisan sel epitel
silindris bertingkat, superfisial dan basal. Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet
bulat atau oval yang mensekresi mukus yang diperlukan untuk dispersi air mata. Sel-sel epitel
basal berwarna lebih pekat dibandingkan sel-sel superfisial dan dapat mengandung pigmen.
Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisialis) dan satu lapisan
fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan tidak berkembang
sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan
penyambung yang melekat pada lempeng tarsus dan tersusun longgar pada mata.4

12

3. Perdarahan dan Persarafan


Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteria siliaris anterior dan arteria palpebralis. Kedua
arteri ini beranastomosis dengan bebas dan bersama dengan banyak vena konjungtiva
membentuk jaringan vaskular konjungtiva yang sangat banyak. Konjungtiva juga menerima
persarafan dari percabangan pertama nervus V dengan serabut nyeri yang relatif sedikit.5
Kornea
1. Anatomi
Kornea merupakan jaringan yang avaskular, bersifat transparan, berukuran 11 - 12 mm
horizontal dan 10-11 mm vertikal, serta memiliki indeks refraksi 1,37. Kornea memberikan
kontribusi 74 % atau setara dengan 43,25 dioptri (D) dari total 58,60 kekuatan dioptri mata
manusia. Dalam nutrisinya, kornea bergantung pada difusi glukosa dari aqueus humor dan
oksigen yang berdifusi melalui lapisan air mata. Sebagai tambahan, kornea perifer disuplai
oksigen dari sirkulasi limbus. Kornea adalah salah satu organ tubuh yang memiliki densitas
ujung-ujung saraf terbanyak dan sensitifitasnya adalah 100 kali jika dibandingkan dengan
konjungtiva. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 550 m, diameter horizontalnya
sekitar 11,75 mm dan vertikalnya 10,6 mm.5

Gambar. Anatomi Mata


2. Histologi
Secara histologis, lapisan sel kornea terdiri dari lima lapisan, yaitu lapisan epitel, lapisan
Bowman, stroma, membran Descemet, dan lapisan endotel.

13

Gambar. Histologi Kornea


Permukaan anterior kornea ditutupi epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk dan tanpa
papil. Di bawah epitel kornea terdapat membran limitans anterior (membran Bowman) yang
berasal dari stroma kornea (substansi propia). Stroma kornea terdiri atas berkas serat kolagen
paralel yang membentuk lamella tipis dan lapisan-lapisan fibroblas gepeng dan bercabang.
Permukaan posterior kornea ditutupi epitel kuboid rendah dan epitel posterior yang juga
merupakan endotel kornea. Membran Descemet merupakan membran basal epitel kornea dan
memiliki resistensi yang tinggi, tipis tetapi lentur sekali.4
3. Perdarahan dan Persarafan
Kornea mendapat nutrisi dari pembuluh-pembuluh darah limbus, humor aqueous, dan air
mata. Saraf-saraf sensorik kornea didapat dari cabang pertama (ophthalmichus) dan nervus
kranialis trigeminus. Saraf trigeminus ini memberikan sensitivitas tinggi terhadap nyeri bila
kornea disentuh.3
4. Fisiologi Kornea
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas cahaya
menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan oleh strukturnya yang uniform, avaskuler
dan deturgesensi. Deturgesensi atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan
oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Dalam
mekanisme dehidrasi ini, endotel jauh lebih penting daripada epitel. Kerusakan kimiawi atau
fisis pada endotel berdampak jauh lebih parah daripada kerusakan pada epitel. Kerusakan selsel endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya,

14

kerusakan pada epitel hanya menyebabkan edema stroma kornea lokal sesaat yang kan
meghilang bila sel-sel epitel telah beregenerasi. Penguapan air dari lapisan air mata
prekorneal menghasilkan hipertonisitas ringan pada lapisan air mata tersebut. Hal ini
mungkin merupakan faktor lain dalam menarik air dari stroma kornea superfisial dan
membantu mempertahankan keadaan dehidrasi. Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat
bifasik. Substansi larut-lemak dapat melalui epitel utuh dan substansi larut-air dapat melalui
stroma yang utuh. Agar dapat melalui kornea, obat harus larut-lemak dan larut-air sekaligus.
Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme kedalam kornea.
Namun sekali kornea ini cedera, stroma yang avaskular dan membran Bowman mudah
terkena infeksi oleh berbagai macam organisme, seperti bakteri, virus, amuba, dan jamur.3,4,5

15

PTERIGIUM
1. Definisi
Pterygium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga yang tumbuh
dari arah konjungtiva menuju kornea pada daerah interpalpebra. Pterygium tumbuh berbentuk
sayap pada konjungtiva bulbi. Asal kata pterygium adalah dari bahasa Yunani, yaitu pteron
yang artinya sayap.1,2,6
2. Epidemiology
Pterygium tersebar di seluruh dunia, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas dan
kering. Prevalensi juga tinggi di daerah berdebu dan kering. Faktor yang sering
mempengaruhi adalah daerah dekat ekuator, yakni daerah yang terletak kurang 370 Lintang
Utara dan Selatan dari ekuator. Prevalensi tinggi sampai 22% di daerah dekat ekuator dan
kurang dari 2% pada daerah yang terletak di atas 400 Lintang. Insiden pterygium cukup
tinggi di Indonesia yang terletak di daerah ekuator, yaitu 13,1%. Pasien di bawah umur 15
tahun jarang terjadi pterygium. Prevalensi pterygium meningkat dengan umur, terutama
dekade ke-2 dan ke-3 dari kehidupan. Insiden tinggi pada umur antara 20 dan 49. Kejadian
berulang (rekuren) lebih sering pada umur muda daripada umur tua. Laki-laki 4 kali lebih
resiko dari perempuan dan berhubungan dengan merokok, pendidikan rendah, riwayat
terpapar lingkungan di luar rumah.1,6
3. Etiologi
Etiology pterigium tidak diketahui dengan jelas. Karen penyakit ini lebih sering pada
orang yang tinggal diiklim panas, maka gambaran yang paling diterima tentang hal tersebut
adalah respon terhadap sinar ultraviolet dari matahari, daerah kering, inflamasi, daerah angin
kencang dan debu atau faktor iritan lainnya. Diduga berbagai faktor resiko tersebut
menyebabkan terjadinya degenerasi elastis jaringan kolagen dan proliferasi fibrovaskular.
Dan progresivitasnya diduga merupakan hasil dari kelainan lapisan bowman kornea.
Beberapa studi menunjukan adanya predisposisi genetik untuk kondisi ini.1
4. Faktor Resiko1,6
Faktor resiko yang mempengaruhi pterygium adalah lingkungan yakni radiasi
ultraviolet sinar matahari, iritasi kronik dari bahan tertentu di udara dan faktor herediter.
1. Radiasi Ultraviolet
16

Faktor resiko lingkungan yang utama sebagai penyebab timbulnya pterygium adalah
terpapar sinar matahari. Sinar ultraviolet diabsorbsi kornea dan konjungtiva
menghasilkan kerusakan sel dan proliferasi sel. Letak lintang, waktu di luar rumah,
penggunaan kacamata dan topi juga merupakan faktor penting.
2. Faktor Genetik
Beberapa kasus dilaporkan sekelompok anggota keluarga dengan pterygium dan
berdasarkan penelitian case control menunjukkan riwayat keluarga dengan pterygium,
kemungkinan diturunkan autosom dominan.
3. Faktor Lain
Iritasi kronik atau inflamasi terjadi pada area limbus atau perifer kornea merupakan
pendukung terjadinya teori keratitis kronik dan terjadinya limbal defisiensi, dan saat ini
merupakan teori baru patogenesis dari pterygium. Wong juga menunjukkan adanya
pterygium angiogenesis factor dan penggunaan pharmacotherapy antiangiogenesis
sebagai terapi. Debu, kelembaban yang rendah, dan trauma kecil dari bahan partikel
tertentu, dry eye dan virus papilloma juga penyebab dari pterygium.

5. Patogenesis7
Etiologi pterygium tidak diketahui dengan jelas. Tetapi penyakit ini lebih sering pada
orang yang tinggal di daerah iklim panas. Oleh karena itu gambaran yang paling diterima
tentang hal tersebut adalah respon terhadap faktor-faktor lingkungan seperti paparan terhadap
matahari (ultraviolet), daerah kering, inflamasi, daerah angin kencang dan debu atau faktor
iritan lainnya. Pengeringan lokal dari kornea dan konjungtiva yang disebabkan kelainan tear
film menimbulkan pertumbuhan fibroplastik baru merupakan salah satu teori. Tingginya
insiden pterygium pada daerah dingin, iklim kering mendukung teori ini.

Ultraviolet adalah mutagen untuk p53 tumor supresor gene pada limbal basal stem cell.
Tanpa apoptosis, transforming growth factor-beta diproduksi dalam jumlah berlebihan dan
menimbulkan proses kolagenase meningkat. Sel-sel bermigrasi dan angiogenesis. Akibatnya
terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat jaringan subepitelial fibrovaskular. Jaringan
subkonjungtiva terjadi degenerasi elastoik proliferasi jaringan vaskular bawah epithelium dan
kemudian menembus kornea. Kerusakan pada kornea terdapat pada lapisan membran
17

bowman oleh pertumbuhan jaringan fibrovaskular, sering disertai dengan inflamasi ringan.
Epitel dapat normal, tebal atau tipis dan kadang terjadi displasia.
Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea. Pada keadaan defisiensi
limbal stem cell, terjadi pembentukan jaringan konjungtiva pada permukaan kornea. Gejala
dari defisiensi limbal adalah pertumbuhan konjungtiva ke kornea, vaskularisasi, inflamasi
kronis, kerusakan membran basement dan pertumbuhan jaringan fibrotik. Tanda ini juga
ditemukan pada pterygium dan karena itu banyak penelitian menunjukkan bahwa pterygium
merupakan manifestasi dari defisiensi atau disfungsi limbal stem cell. Kemungkinan akibat
sinar ultraviolet terjadi kerusakan limbal stem cell di daerah interpalpebra.
Pemisahan fibroblast dari jaringan pterygium menunjukkan perubahan phenotype,
pertumbuhan banyak lebih baik pada media mengandung serum dengan konsentrasi rendah
dibanding dengan fibroblast konjungtiva normal. Lapisan fibroblast pada bagian pterygiun
menunjukkan proliferasi sel yang berlebihan. Pada fibroblast pterygium menunjukkan matrix
metalloproteinase, dimana matriks ekstraselluler berfungsi untuk jaringan yang rusak,
penyembuhan luka, mengubah bentuk. Hal ini menjelaskan kenapa pterygium cenderung
terus tumbuh, invasi ke stroma kornea dan terjadi reaksi fibrovaskular dan inflamasi.

6. Gambaran Klinis6
Pterygium lebih sering dijumpai pada laki-laki yang bekerja di luar rumah. Bisa
unilateral atau bilateral. Kira-kira 90% terletak di daerah nasal. Pterygium yang terletak di
nasal dan temporal dapat terjadi secara bersamaan walaupun pterygium di daerah temporal
jarang ditemukan. Kedua mata sering terlibat, tetapi jarang simetris. Perluasan pterygium
dapat sampai ke medial dan lateral limbus sehingga menutupi sumbu penglihatan,
menyebabkan penglihatan kabur.
Secara klinis pterygium muncul sebagai lipatan berbentuk segitiga pada konjungtiva
yang meluas ke kornea pada daerah fissura interpalpebra. Biasanya pada bagian nasal tetapi
dapat juga terjadi pada bagian temporal. Deposit besi dapat dijumpai pada bagian epitel
kornea anterior dari kepala pterygium (stoker's line).

7. Klasifikasi Pterigium1,6

18

Pterygium dibagi menjadi tiga bagian yaitu : body, apex (head) dan cap. Bagian
segitiga yang meninggi pada pterygium dengan dasarnya kearah kantus disebut body,
sedangkan bagian atasnya disebut apex dan ke belakang disebut cap. A subepithelial cap atau
halo timbul pada tengah apex dan membentuk batas pinggir pterygium.
Pembagian pterygium berdasarkan perjalanan penyakit dibagi atas 2 tipe, yaitu :
- Progresif pterygium : tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di depan kepala
pterygium (disebut cap pterygium).
- Regresif pterygium : tipis, atrofi, sedikit vaskular. Akhirnya menjadi membentuk
membran tetapi tidak pernah hilang.
Pada fase awal pterygium tanpa gejala, hanya keluhan kosmetik. Gangguan terjadi ketika
pterygium mencapai daerah pupil atau menyebabkan astigatisme karena pertumbuhan fibrosis
pada tahap regresi. Kadang terjadi diplopia sehingga menyebabkan terbatasnya pergerakan
mata.
Pembagian lain pterygium yaitu :
1. Tipe I : meluas kurang 2 mm dari kornea. Stoker's line atau deposit besi dapat
dijumpai pada epitel kornea dan kepala pterygium. Lesi sering asimptomatis
meskipun sering mengalami inflamasi ringan. Pasien dengan pemakaian lensa
kontak dapat mengalami keluhan lebih cepat.
2. Type II : menutupi kornea sampai 4 mm, bias primer atau rekuren setelah operasi,
berpengaruh dengan tear film dan menimbulkan astigmatisma.
3. Type III : mengenai kornea lebih 4 mm dan mengganggu aksis visual. Lesi yang
luas terutama yang rekuren dapat berhubungan dengan fibrosis subkonjungtiva
yang meluas ke fornik dan biasanya menyebabkan gangguan pergerakan bola
mata.10
Pterygium juga dapat dibagi ke dalam 4 derajat yaitu :
1. Derajat 1 : jika pterygium hanya terbatas pada limbus kornea.
2. Derajat 2 : jika sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2 mm
melewati kornea.
19

3. Derajat 3 : sudah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata
dalam keadaan cahaya normal (pupil dalam keadaan normal sekitar 3 4 mm)
4. Derajat 4 : pertumbuhan pterygium melewati pupil sehingga mengganggu
penglihatan.

Gambar. Pterygium Grade 3

Gambar. Pterygium Grade 2

8. Gambaran Klinis1,6
Pterygium lebih Secara klinis pterygium dapat dibedakan dengan dua keadaan yang
sama yaitu pinguekula dan pseudopterygium. Bentuknya kecil, meninggi, masa kekuningan
berbatasan dengan limbus pada konjungtiva bulbi di fissura interpalpebra dan kadang-kadang
mengalami inflamasi. Tindakan eksisi tidak diindikasikan. Prevalensi dan insiden meningkat
dengan meningkatnya umur. Pinguekula sering pada iklim sedang dan iklim tropis dan angka
kejadian sama pada laki-laki dan perempuan. Paparan sinar ultraviolet bukan faktor resiko
penyebab pinguekula.
Pertumbuhan yang mirip dengan pterygium, pertumbuhannya membentuk sudut miring
seperti pseudopterygium atau Terrien's marginal degeneration. Pseudopterygium mirip
dengan pterygium, dimana adanya jaringan parut fibrovaskular yang timbul pada konjungtiva
bulbi menuju kornea. Berbeda dengan pterygium, pseudopterygium adalah akibat inflamasi
permukaan okular sebelumnya seperti trauma, trauma kimia, konjungtivitis sikatrikal, trauma
bedah atau ulkus perifer kornea. Untuk mengidentifikasi pseudopterygium, cirinya tidak
melekat pada limbus kornea. Probing dengan muscle hook dapat dengan mudah melewati
bagian bawah pseudopterygium pada limbus, dimana hal ini tidak dapat dilakukan pada
pterygium. Pada pseudopterygium tidak dapat dibedakan antara head, cap dan body dan
pseudopterygium cenderung keluar dari ruang fissura interpalpebra yang berbeda dengan true
pterygium.

9. Penatalaksanaan8

20

Pterygium lebih Keluhan fotofobia dan mata merah dari pterygium ringan sering
ditangani dengan menghindari asap dan debu. Beberapa obat topikal seperti lubrikans,
vasokonstriktor dan kortikosteroid digunakan untuk menghilangkan gejala terutama pada
derajat 1 dan derajat 2. Untuk mencegah progresifitas, beberapa peneliti menganjurkan
penggunaan kacamata pelindung ultraviolet Indikasi eksisi pterygium sangat bervariasi.
Eksisi dilakukan pada kondisi adanya ketidaknyamanan yang menetap, gangguan penglihatan
bila ukuran 3-4 mm dan pertumbuhan yang progresif ke tengah kornea atau aksis visual,
adanya gangguan pergerakan bola mata.
Eksisi pterygium bertujuan untuk mencapai gambaran permukaan mata yang licin.
Suatu tehnik yang sering digunakan untuk mengangkat pterygium dengan menggunakan
pisau yang datar untuk mendiseksi pterygium kearah limbus. Memisahkan pterygium kearah
bawah pada limbus lebih disukai, kadang-kadang dapat timbul perdarahan oleh karena trauma
jaringan sekitar otot. Setelah eksisi, kauter sering digunakan untuk mengontrol perdarahan.
Beberapa tehnik operasi yang dapat menjadi pilihan yaitu :
1. Bare sclera : tidak ada jahitan atau jahitan, benang absorbable digunakan untuk
melekatkan konjungtiva ke sklera di depan insersi tendon rektus. Meninggalkan suatu
daerah sklera yang terbuka.
2. Simple closure : tepi konjungtiva yang bebas dijahit bersama (efektif jika hanya defek
konjungtiva sangat kecil).
3. Sliding flaps : suatu insisi bentuk L dibuat sekitar luka kemudian flap konjungtiva digeser
untuk menutupi defek.
4. Rotational flap : insisi bentuk U dibuat sekitar luka untuk membentuk lidah konjungtiva
yang dirotasi pada tempatnya.
5. Conjunctival graft : suatu free graft biasanya dari konjungtiva superior, dieksisi sesuai
dengan besar luka dan kemudian dipindahkan dan dijahit.
6. Amnion membrane transplantation : mengurangi frekuensi rekuren pterygium,
mengurangi fibrosis atau skar pada permukaan bola mata dan penelitian baru
mengungkapkan menekan TGF- pada konjungtiva dan fibroblast pterygium. Pemberian
mytomicin C dan beta irradiation dapat diberikan untuk mengurangi rekuren tetapi jarang
digunakan.
21

7. Lamellar keratoplasty, excimer laser phototherapeutic keratectomy dan terapi baru


dengan menggunakan gabungan angiostatik dan steroid.
10. Komplikasi
Komplikasi pterygium termasuk ; merah, iritasi, skar kronis pada konjungtiva dan
kornea, pada pasien yang belum eksisi, distorsi dan penglihatan sentral berkurang, skar pada
otot rektus medial yang dapat menyebabkan diplopia. Komplikasi yang jarang adalah
malignan degenerasi pada jaringan epitel di atas pterygium yang ada. Komplikasi sewaktu
operasi antara lain perforasi korneosklera, graft oedem, graft hemorrhage, graft retraksi,
jahitan longgar, korneoskleral dellen, granuloma konjungtiva, epithelial inclusion cysts, skar
konjungtiva, skar kornea dan astigmatisma, disinsersi otot rektus. Komplikasi yang terbanyak
adalah rekuren pterygium post operasi.1,6,8
11. Prognosis
Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik, rasa tidak nyaman pada
hari pertama postoperasi dapat ditoleransi, kebanyakan pasien setelah 48 jam post operasi
dapat beraktivitas kembali. Rekurensi pterygium setelah operasi masih merupakan suatu
masalah sehingga untuk mengatasinya berbagai metode dilakukan termasuk pengobatan
dengan antimetabolit atau antineoplasia ataupun transplantasi dengan konjungtiva. Pasien
dengan rekuren pterygium dapat dilakukan eksisi ulang dan graft dengan konjungtiva
autograft atau transplantasi membran amnion. Umumnya rekurensi terjadi pada 3 6 bulan
pertama setelah operasi. Pasien dengan resiko tinggi timbulnya pterygium seperti riwayat
keluarga atau karena terpapar sinar matahari yang lama dianjurkan memakai kacamata
sunblock dan mengurangi terpapar sinar matahari.1
TEKNIK BARE SCLERA

Operasi dengan menggunakan mikroskop dilakukan dibawah anastesi lokal


Setelah pemberian anastesi topikal, desinfeksi, dipasang eye spekulum.
Lidokain 0,5 ml disuntikkan dibawah badan pterygium dengan spuit 1cc.
Dilakukan eksisi badan pterygium mulai dari puncaknya di kornea sampai pinggir

limbus.
Kemudian pterygium diekstirpasi bersama dengan jaringan tenon dibawah badannya
dengan menggunakan gunting.

TEKNIK CONJUNGTIVAL AUTOGRAFT


22

Setelah pterygium diekstirpasi, ukuran dari bare sclera yang tinggal diukur.
Diambil konjungtiva dari bagian superior dari mata yang sama, diperkirakan lebih besar

1mm dari bare sclera yang diukur, kemudian diberi tanda.


Area yang sudah ditandai diinjeksikan dengan lidokain, agar mudah mendiseksi

konjungtiva dari tenon selama pengambilan autograft.


Bagian limbal dari autograft ditempatkan pada area limbal dari area yang akan digraft.
Autograft kemudian dijahit ke konjungtiva disekitarnya dengan menggunakan vicryl
8.0.

BAB V
KESIMPULAN

23

Pterygium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga yang tumbuh


dari arah konjungtiva menuju kornea pada daerah interpalpebra. Pterygium tumbuh berbentuk
sayapatau segitiga pada konjungtiva bulbi. Pterygium lebih sering terjadi pada bagian nasal
dibandingkan temporal. Pada Indonesia insidensi pterigium 13,1% dengan rentan usia yang
paling sering 20 49 tahun. Etiologi Pterygium belum diketahui pastinya, disebutkan sinar
ultraviolet matahari berperan besar dalam menyebabkan pertumbuhan dari jaringan
pterigium. Selain itu adanya kontak debu atau pasir berpengaruh dalam pertumbuhan dari
pterygium. Disebutkan diatas pada pasien ini sangat jel;as menderita pterygium pada kedua
matanya, dengan perbedaan pada derajat terjadinya pterygium pada masing masing mata.
Didapatkan dari gambaran klinis pada pasien yang menjelaskan tentang tanda dari pterygium,
pada OD pterigiumgrade IV karena melewati tengah pupil dan OS pterygium grade II karena
terbatas melewati limbus tetapi belum mencapai tepi pupil. Penatalaksanaan pterygium
bermacam macam, pada pasien ini dilakukan tindakan eksisi pterygium.

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
24

1. Ilyas, S, Prof, Dr. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta: 2003.
2. Ilyas, S, Prof, Dr. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Edisi ke2. Jakarta: 2003.
3. Guyton,N Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC. 2007. hal 786-790.
4. Junqueira, L Carlos. Histologi Dasar. Jakarta: EGC. 1998
5. Hartono. Ringkasan Anatomi dan Fisiologi Mata. Yogyakarta. Fakultas Kedokteran
UGM. 2005
6. Fisher
JP,

Trattler

WB.

Pterygium.

Diunduh

dari

http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview.2011
7. Coronco MT, Di Girolamo N, Wakefield D: The Pathogenesis of Pterygium. Curr Opin
Ophtalmol 1999 Aug; 10 (4); 282-8 [Medline]
8. Aminlari A, Singh R, Liang D. management of Pterygium. Diunduh dari :
http://www.aao.org/aao/publications/eyenet/201011/pearls.cfm?.

25