Anda di halaman 1dari 46

BAB 2

PELAKSANAAN PKL

2.1 TINJAUAN UMUM


2.1.1 Tinjauan Umum Perusahaan
CV Prima Abadi Jaya merupakan kontraktor utama pada proyek Gedung
Kuliah Universitas Prima Indonesia. CV Prima Abadi Jaya yang lebih dikenal dengan
PAJ, merupakan salah satu perusahaan kontraktor-leveransir yang didirikan pada
tahun 1995 oleh Bapak Anthoni.
Pada awal berdirinya, perusahaan kontraktor ini bernama CV Prima Utama.
Pada tahun 2005, CV Prima Utama berganti nama menjadi CV Prima Abadi Jaya.
Perusahaan ini beralamat di Jl. Gn. Krakatau Kompleks Krakatau Asri No. B1,
Medan.
Perusahaan ini bersifat perusahaan perseorangan (perusahaan swasta).
Perusahaan Jasa Konstruksi ini telah banyak dipercayai menjalankan proyek-proyek
besar di Medan: seperti Rumah Sakit Royal Prima, Hotel dan Restaurant Grand
Liberty, dan masih banyak lainnya.
2.1.2 Latar Belakang Proyek
Proyek dapat di definisikan sebagai suatu rangkaian aktifitas pekerjaan yang
terdiri dari rangkaian bagian pekerjaan yang saling berkaitan satu dengan yang lain
dan melibatkan banyak orang serta sumber daya manusia untuk mengerjakan segala
sesuatu didalamnya, dengan biaya serta waktu tertentu, menyangkut persiapan,
survey, penyusunan konsep, hingga pada tahap implementasi konsep tersebut, yang
pada akhirnya secara bersama-sama mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.
Meningkatnya kesadaran masyarakat akan perlunya pendidikan tinggi atau
jenjang perkuliahan, dan adanya faktor dari bonus demografi di wilayah Sumatera
Utara dan sekitarnya, membuat jumlah calon mahasiswa meningkat hingga hampir 2
kali lipat. Hal ini tidak sebanding dengan jumlah daya tampung mahasiswa di

perguruan tinggi negeri (PTN) ataupun pergutuan tinggi swasta (PTS). Hal inilah
yang coba dimanfaatkan oleh Yayasan Pendidikan Prima Indonesia, untuk menambah
ruang kuliah yang mumpuni dan memiliki daya tampung yang semakin besar,
disamping keberadaan 3 (tiga) cabang kampus lainnya (Sekip, Ayahanda, dan
Brigjend Katamso).
2.1.3 Proses Pengadaan Proyek
2.1.3.1 Jenis Lelang Proyek
Proyek pembangunan Gedung Kuliah Universitas Prima Indonesia,
owner melakukan sistem lelang yaitu Sistem Penunjukan Langsung. Owner
menunjuk langsung CV Prima Abadi Jaya sebagai Kontraktor Utama proyek
Gedung Kuliah UNPRI Medan.
Sistem penunjukan langsung proyek ini, termasuk juga pada
penunjukan penuh dimana apabila pemilik proyek menyerahkan sepenuhnya
pelaksanaan pekerjaan, baik dalam hal penyediaan material yang akan
digunakan maupun tenaga kerja yang dibutuhkan pada kontraktor telah
ditunjuk sebelumnya.
2.1.3.2 Jenis Tender Proyek
Dalam proyek ini tidak diadakan proses tender. Pekerjaan Struktur,
Mekanikal, Elektrikal, dan Arsitektural ditunjuk langsung oleh Pemilik Proyek
(owner).

2.1.4 Nilai Kontrak dan Sumber Dana


Dalam pengadaan proyek pembangunan gedung kuliah Universitas Prima

Indonesia ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp. 48.000.000.000,- (empat puluh delapan
miliar rupiah) untuk pekerjaan struktur. Dana pembangunan berasal dari Yayasan
Perguruan Tinggi Prima Indonesia.

2.1.5 Data Umum Proyek


2.1.5.1 Data Teknis Proyek
Nama Proyek

: Gedung Kuliah UNPRI

Jenis Pekerjaan

: Struktur, Arsitektur.

Jumlah Lantai

: 14 Lantai + Lantai Atap

Tinggi Bangunan

: + 49,60 m

Beton Struktur

: Ready Mix

Mutu Beton Struktur

: K 300 (300 kg/cm2)

Mutu Beton Mini Pile

: K 500 (500 kg/cm2)

Slump Beton

: 12 2 cm (Balok, Kolom, Plat Lantai)


10 2 cm (Pekerjaan Pondasi/Pile Cap)

Mutu Baja Tulangan

: U39 (fy: 3900 kg/cm2)

Struktur Bangunan

: Beton Bertulang

Kontraktor

: CV Prima Abadi Jaya

Subkontraktor

: - PT. Rekayasa Geoteknik Utama


(Pekerjaan Pemancangan)
- PT. Growth Sumatera
(Pengadaan Besi Tulangan Ulir)
- PT. Sinar Abadi Beton
(Pengadaan Beton Ready Mix)
- PT. Sinar Abadi Beton
(Pengadaan Mini Pile 25x25)

2.1.5.2 Data Manajemen Proyek


Nama Proyek

: Proyek Pembangunan Gedung


Kuliah

Universitas Prima Indonesia.

Lokasi Proyek

: Jl. Belanga d/h Jalan Ayahanda

Owner/Pemilik Proyek

: Yayasan Perguruan Tinggi Prima

Konsultan Perencana

: Ir. Mahadianto Ong (Struktur)

CV Prima Abadi Jaya (Arsitektur)


Pelaksana Konstruksi

: CV Prima Abadi Jaya

Sistem Pelelangan

: Penunjukan Langsung (Swakelola)

Nilai Proyek

: Rp. 48.000.000.000,-

Cara Pembayaran

: Termin bulanan

Waktu Pelaksanaan

: 395 hari kalender


(sejak 28 Agustus 2015)

2.1.6 Lokasi Proyek


Lokasi Proyek Gedung Kuliah UNPRI secara umum terletak di Kelurahan Sei
Putih Tengah, kecamatan Medan Petisah, dimana proyek diapit oleh 3 jalan, yaitu
jalan Gelas, jalan Ayahanda dan jalan kecil yaitu jalan Belanga. Lokasi Proyek
dibelakangi oleh Rumah Sakit Royal Prima dan bersebrangan dengan SMA Negeri 4
Medan. Lokasi proyek lebih rinci dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2.2 Peta Lokasi Proyek

2.1.7 Organisasi Kontraktor Pelaksana


Adapun deskripsi tugas dari organisasi proyek dan struktur organisasinya
adalah sebagai berikut :

Adapun tugas dan wewenang tiap-tiap bagian adalah sebagai betikut:


1) Owner
Pemilik Proyek (owner) adalah Yayasan Perguruan Tinggi UNPRI yang
memberikan dana untuk pelaksanaan proyek, dan yang menentukan kepada pihak
mana proyek akan diserahkan untuk direncanakan dan dibangun sesuai dengan

keinginannya. Meskipun kedudukan owner sebagai penentu namun tetap harus


berkonsultasi dengan konsultan perencana tentang kemungkinan pelaksanaannya.
Adapun tugas dan wewenang owner adalah:
- Menyediakan dana atau biaya proyek.
- Menetapkan denda jika terjadi keterlambatan proyek.
- Membentuk tim pengawas lapangan sebagai wakil dari owner.
- Menyetujui prosedur pembayaran kepada kontraktor.
- Mengambil keputusan akhir yang mengikat mengenai pelaksanaan proyek dan
pembayaran sesuai dengan kesepakatan bersama.
2) Konsultan Perencana
Konsultan perencana adalah pihak yang berupa perorangan atau badan usaha,
yang berdasarkan suatu pemberian tugas mempergunakan keahliannya dalam
merencanakan suatu proyek yang meliputi perencanaan struktur, arsitektur,
mekanikal, elektrikal, dan sebagainya. Pada proyek ini yang bertugas sebagai
konsultan perencana adalah Ir. Mahadianto Ong. Konsultan perencana ini akan
menerima tugas dari pemilik proyek dan bertanggung jawab penuh kepada pemilik
proyek. Adapun tugas dan wewenang dari konsultan perencana adalah :
- Menyusun perencanaan struktur sesuai dengan permintaan atau keinginan
pemilik proyek dan membantu pemilik proyek dalam mencapai hal yang
diinginkannya dengan memberikan saran dan anjuran.
- Memeriksa

hasil

pelaksanaan

pekerjaan

dengan

mengacu

pada

rancangannya.
3) Site Manager
Site Manager atau kepala lapangan adalah adalah orang bertugas mengatur,
mengawasi pelaksanaan proyek sesuai kontruksi dan spesifikasi yang telah
ditetapkan. Tugas dan tanggung jawab Kepala Lapangan adalah:
-

Bertanggung jawab secara umum terhadap proses pekerjaan sesuai dengan


metode pelaksanaan dan spesifikasi mutu produk yang ditetapkan.

Memastikan kesiapan lapangan, ketersediaan material serta alat kerja untuk


pelaksanaan pekerjaan.

Melakukan pemeriksaan lapangan untuk memastikan setiap proses konstruksi


di lapangan sesuai dengan metode pelaksanaan yang tercantum dalam
gambar kerja revisi baru.

Membuat laporan harian dan mingguan proyek.

Mengatasi masalah-masalah mengenai pelaksanaan teknis dan kelancaran


proyek di lapangan.

4) Kepala Lapangan
Tugas dan tanggung jawab Kepala Lapangan adalah:
- Bertanggung jawab secara umum terhadap gambar kerja untuk pencapaian mutu
produk sesuai spesifikasi yang ditetapkan.
- Konsultasi dengan Site Manager.
- Memastikan tersedianya persetujuan material dari pemberi tugas (termasuk
material dari subkontraktor).
- Pemeriksaan berkala lapangan untuk memastikan gambar kerja yang berlaku
adalah revisi/keluaran terbaru.
- Pemeriksaan berkala lapangan untuk memastikan proses pekerjaan sesuai
metode pelaksanaan.
5) Quantity Surveyor (S) / Drafter
Bagian Quantity Surveyor merangkap Drafter bekerja untuk memenuhi
spesifikasi di dalam gambar kerja. Dalam proyek ini, tugas dan tanggung jawab
Quantity Surveyor / Drafter adalah:
-

Bertanggung jawab secara umum terhadap kesesuaian besaran volume


pelaksanaan di lapangan dengan besaran tercantum dalam Bill of Quantities.

Bertanggung jawab terhadap perubahan-perubahan pelaksanaan konstruksi


di lapangan dan menyesuaikannya terhadap gambar kerja terkini.

Menghitung rencana besaran volume pekerjaan sebelum melaksanakan serta


melakukan verifikasi terhadap volume terpasang.

Memeriksa setiap instruksi dari pemberi tugas dalam kaitannya dengan


biaya pelaksanaan/ konstruksi.

6) Logistik
Logistik berkaitan dengan penyediaan suatu bahan dan peralatan serta
kebutuhan material di proyek. Tugas bagian logistik adalah:
- Bertanggung jawab terhadap sirkulasi barang dan peralatan.
- Mencatat inventarisasi barang dan alat.
- Mengecek dan mencatat material yang masuk sesuai pesanan.
- Membuat laporan logistik untuk dilaporkan kepada pelaksana lapangan.
7) Surveyor
Melaksanakan

dan

bertanggung

jawab

terhadap

proses

pengukuran

(Penentuan ketegakan bekisting kolom, membuat sipatan dan siku pinjaman 1


meter as kolom, levelling kedalaman galian pile cap, seluruh pekerjaan levelling
dan pekerjaan marking).
8) Mekanik dan Elektrik
Mekanik dan elektrik bertanggung jawab terhadap penggunaan dan
perbaikan peralatan termasuk alat listrik yang digunakan.
9) Kepala Keuangan
Kepala Keuangan bertanggung jawab kepada pimpinan proyek dan bertugas
menjalankan seluruh pekerjaan administrasi, klaim asuransi, dan segala sesuatu
yang berhubungan dengan keuangan. Tugas dan wewenang dari kepala keuangan
adalah:
- Melaksanakan tugas - tugas berkenaan dengan administrasi dan keuangan.
- Membuat laporan pertanggungjawaban atas biaya proyek.

2.1.8 Gambar Kerja Proyek


Gambar Kerja atau Shop Drawing adalah gambar kerja teknis lapangan yang
dijadikan sebagai pedoman pembangunan dan pelaksanaan di lapangan pada sebuah
proyek tertentu. Gambar kerja ini adalah sebuah media komunikasi yang digunakan
oleh pihak yang melaksanakan pembangunan. Yang membuat Gambar Kerja ini
adalah Drafter yang mengacu dari kesepakatan Site Manager dan mendapat
persetujuan dari Project Manager.
Kejelasan dalam Gambar Kerja akan sangat berpengaruh pada pelaksanaan
pekerjaan. Karena semakin jelas dan lengkap sebuah informasi yang tertuang dalam
Gambar Kerja maka akan dapat meminimalisir kesalahan-kesalahan yang mungkin
terjadi dalam pelaksanaan proyek pembangunan.
Adapun isi dari Gambar kerja tersebut adalah :
1. Gambar Layout Pondasi
2. Gambar Detail Pondasi dan Pile Cap
3. Gambar Detail Balok Sloof
4. Gambar Layout Kolom
5. Gambar Pembalokan Lantai 2
6. Gambar Pembalokan Lantai 3
Jika dalam pelaksanaan terjadi perubahan pekerjaan yang mengharuskan
adanya perubahan gambar. Dalam hal ini konsultan perencana tidak memiliki tugas
dan tanggung jawab lagi terhadap perubahan yang terjadi di lapangan. Sepenuhnya
perubahan yang terjadi di lapangan menjadi tanggung jawab pelaksana proyek
(kontraktor), dimana dalam hal ini yaitu CV Prima Abadi Jaya.

2.2 SUMBER DAYA PROYEK


Sumber daya proyek merupakan bagian dari salah satu penyelenggaraan proyek
konstruksi. Sumber daya proyek merupakan kemampuan dan kapasitas potensi yang dapat
dimanfaatkan untuk kegiatan konstruksi. Sumber daya proyek konstruksi terdiri dari
beberapa jenis diantaranya biaya, waktu, sumber daya manusia, material, dan juga

peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan proyek, dimana dalam mengoperasionalkan


sumber daya tersebut perlu dilakukan dalam suatu sistem manajemen yang baik, sehingga
dapat dioptimalkan secara maksimal. Sumber daya proyek yang akan dijabarkan adalah
material, bahan, dan sumber daya manusia.
2.2.1 Material
Material merupakan komponen penting dalam suatu proyek konstruksi
karena total biaya proyek sebagian besar merupakan biaya untuk pengadaan material.
Oleh karena itu, di setiap proyek konstruksi diperlukan manajemen material yang
baik.
Material yang digunakan dalam proyek ini harus memenuhi standar dan
ketentuan yang tertulis dalam Spesifikasi Teknis yang merupakan bagian dari
dokumen kontrak. Namun, dalam pemilihan merk dagang tidak ada ketentuan yang
mengikat dari Konsultan Perencana karena pemilihan material seluruhnya merupakan
wewenang Kontraktor. Manajemen material juga pada umumnya mendahulukan
material yang lebih dahulu datang untuk lebih dahulu digunakan untuk menghindari
terlalu lamanya masa penyimpanan material.
Dalam proyek pembangunan gedung kuliah Universitas Prima Indonesia
Medan, pihak pelaksana yaitu CV Prima Abadi Jaya melakukan pengadaan material
(bahan) bangunan secara pesanan bertahap. Bahan-bahan yang digunakan dalam
pelaksanaan konstuksi bangunan, antara lain:
2.2.1.1 Semen
Semen yang digunakan dalam proyek ini adalah semen Portland pada
umumnya yaitu Semen Portland Type II. Semen ini digunakan sebagai bahan
campuran mortar untuk pekerjaan bekisting batako balok sloof dan bekisting
batako pile cap pondasi tiang pancang. Semen ini juga digunakan sebagai
adukan siraman untuk pengecoran kolom. Semen disimpan di gudang proyek,
dengan diberi alas kayu sembarang ukuran 2x5 inci.
2.2.1.2 Agregat
Agregat yang digunakan pada umumnya adalah agregat halus. Dimana
agregat halus digunakan sebagai bahan campuran mortar untuk pekerjaan

bekisting batako balok sloof dan bekisting batako pile cap pondasi tiang
pancang.
2.2.1.3 Air
Air yang dipergunakan sebagai bahan bangunan pada teorinya adalah
air yang tidak boleh mengandung minyak, asam, alkali, garam-garam, atau
bahan-bahan lainnya yang dapat merusak beton ataupun baja tulangan. Air
yang dipergunakan dalam proyek adalah air tanah yang disedot menggunakan
pompa air, yang menurut kami mengandung alkali tanah. Hal itu terlihat dari
adanya bercak karat pada daerah sekitaran kran air pompa.
2.2.1.4 Beton Ready Mix
Beton ready mix digunakan dalam pekerjaan struktur dan lantai kerja.
Dimana beton ready mix digunakan untuk pekerjaan lantai kerja, pile cap, balok
sloof, balok struktural, kolom struktural, dan lantai structural.
Beton ready mix yang digunakan memiliki kelas mutu beton K-300
(mampu menahan gaya sebesar 300 kg/cm2), dengan slump sebesar 102 (Pile
Cap) dan 122 (Kolom, Balok, dan Lantai). Mutu beton tersebut untuk
pekerjaan struktur, baik pile cap, kolom, balok, dan plat lantai. Pemilihan slump
sebesar 102 dan 122 direncanakan agar tidak adanya beton yang keropos
(adanya segregasi) pada saat beton mengikat (beton keras).
Beton ready mix menggunakan bahan tambah, yaitu bahan tambah
Superplastisizer. Dimana superplasticizer adalah bahan kimia

tambahan

pengurang air. Dengan pemakaian bahan tambahan ini diperoleh adukan


dengan faktor air semen lebih rendah pada nilai kekentalan adukan yang
sama atau diperoleh adukan dengan kekentalan lebih encer dengan faktor
air semen yang sama, sehingga kuat tekan beton lebih tinggi.
Superplasticizer juga mempunyai pengaruh yang besar dalam
meningkatkan workabilitas, bahan ini mencegah terjadinya segregasi ataupun
bleeding yang umumnya terjadi pada beton dengan nilai slump yang tinggi
seperti pada proyek ini, sehingga superplastisizer ini sangat dibutuhkan,

terutama untuk pengecoran kolom. Dimana penulangan kolom sangat rapat,


dengan sengkang pengikat yang terdiri dari 6 sengkang tiap baris sengkang.

Gambar 2.1 Batching Plant Beton Ready Mix

2.2.1.5 Besi Tulangan


Jenis besi tulangan yang dipergunakan adalah tulangan ulir, dengan
mutu baja U39 (fy: 3900 kg/cm2).
Dalam proyek ini, besi tulangan yang digunakan D8, D10, D13, D16,
D19, dan D25. Besi tulangan disimpan diruangan terbuka dengan diberi alas
kayu 2x3 inchi.

Gambar 2.2 Besi Tulangan


2.2.1.6 Papan Multiplex
Papan multiplek digunakan sebagai konstruksi acuan perancah atau
bekisting balok, plat lantai, dan kolom. Dalam penggunaannya, papan multiplek
yang digunakan memiliki ketebalan 12mm, 15mm, dan 18mm. Dimana untuk

setiap pekerjaan konstruksi, ketebalan papan multiplek yang digunakan berbeda


pula, seperti untuk pekerjaan bekisting balok digunakan ketebalan 12mm,
bekisting plat lantai digunakan ketebalan 15mm, dan untuk pekerjaan bekisting
kolom digunakan papan multiplek ketebalan 18mm.
Dalam penggunaannya, papan multiplek digunakan sebanyak tiga kali
pengecoran.

Gambar 2.3 Papan Multiplek

2.2.1.8 Besi Profil (Besi Hollow)


Besi profil (besi hollow) digunakan dalam konstruksi acuan atau
bekisting. Besi profil yang digunakan adalah besi hollow, dimana besi hollow
ini digunakan sebagai bekisting dinding balok, bekisting bodeman balok, surisuri, gelagar, dan juga siku penahan (sekor) balok. Dimana hollow yang
digunakan yaitu hollow square 2x 2 dan hollow 2x 4.

Gambar 2.4 Besi Profil Hollow


2.2.1.9 Mini Pile (Tiang Pancang Mini)
Tiang pancang (mini pile) yang digunakan adalah mini pile ukuran
25x25 cm dengan mutu beton K-500. Tiap tiang pancang yang digunakan
berukuran 6 meter. Tiang pancang disuplay oleh PT. Sinar Abadi Beton.

Gambar 2.5 Storing Mini Pile

Gambar 2.6 Pabrikasi Mini Pile

2.2.1.7 Kayu
Kayu yang digunakan dalam proyek ini adalah kayu sembarang keras,
yaitu spesifiknya tipe kayu kelapa. Kayu SK tersebut digunakan untuk suri-suri,
gelagar, dan tulangan bekisting. Kayu yang digunakan berukuran 2x3 inchi dan
2x5 inchi.

2.2.2 Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan konstuksi bangunan proyek
gedung Universitas Prima Indonesia, antara lain:
2.2.2.1 Concete Mixer Truck

Truk mixer digunakan untuk mengangkut beton ready mix dari


tempat pembuatan beton ke lokasi proyek, dimana selama perjalanan
tangki berisi adukan terus berputar agar adukan beton tetap homogen.
Pengadaan truk mixer berasal dari Produsen Beton yaitu PT. Sinar Abadi
Beton. Truk mixer milik Sinar Abadi Beton memiliki kapasitas 5 m3 dan 7 m3.

Gambar 2.7 Truck Mixer

2.2.2.2

Concete Pump Truck


Concrete pump truck adalah truk yang dilengkapi dengan pompa dan

lengan (boom) untuk memompa campuran beton ready mix ke tempat-tempat


yang sulit dijangkau. Untuk pengecoran lantai yang lebih tinggi dari panjang
lengan concrete pump truck dapat dilakukan dengan cara disambung dengan
pipa secara vertikal sehingga mencapai ketinggian yang diinginkan, pipa dan
lengan ini dapat dipasang kombinasi vertikal dan horisontal atau miring.
Sehingga pemompaan merupakan cara yang fleksibel pada lokasi yang sulit
untuk memindahkan campuran beton ke sembarang tempat pada bidang
pengecoran.
Concrete pump truck merupakan tanggung jawab pihak penyedia
beton ready mix. Alat ini memiliki kapasitas 10-15 m3/jam.

Gambar 2.8 Concrete Pump

2.2.2.3 Concrete Vibrator


Concrete vibrator adalah alat yang berfungsi untuk menggetarkan
beton pada saat pengecoran agar beton dapat mengisi seluruh ruangan dan tidak
terdapat rongga-rongga udara diantara beton yang dapat membuat beton
keropos. Concrete vibrator digerakkan oleh mesin listrik dan mempunyai
lengan sepanjang beberapa meter untuk dapat menggetarkan beton di tempat
yang agak jauh.
Alat ini digunakan sebagai pemadat pada saat pengecoran yang sedang
berlangsung, baik pada kolom, pelat lantai, balok maupun pile cap dengan cara
menggetarkannya. Hal ini untuk menghindari adanya gelembung-gelembung
udara yang terjadi pada saat pengecoran yang dapat menyebabkan
pengeroposan pada beton sehingga mengurangi kekuatan struktur beton itu
sendiri. Terutama untuk volume pengecoran yang besar, alat ini sangat penting.
Penggunaannya tidak boleh terlalu lama pada satu tempat saja serta tidak boleh
mengenai tulangan yang akan menyebabkan bergesernya letak tulangan.

Gambar 2.9 Concrete Vibrator

2.2.2.4 Concrete Bucket


Concrete bucket adalah tempat pengangkutan beton dari truck mixer
concrete sampai ke tempat pengecoran. Beton dari truck mixer concrete
dituangkan kedalam concrete bucket, kemudian pengangkutan dilakukan
dengan bantuan tower crane. Dalam pengerjaannya dibutuhkan satu orang
sebagai operator concrete bucket yang bertugas untuk membuka atau mengunci
agar cor-an beton tidak tumpah pada saat dibawa ke area pengecoran dengan
tower crane.
Concrete bucket yang digunakan pada proyek ini mempunyai
kapasitas sebesar 0,8 m3. Pada proyek ini, pengecoran dengan concrete bucket
hanya untuk pengecoran kolom, pile cap, dan pengecoran balok dan plat lantai
selanjutnya karena tidak adanya ruang bagi concrete pump truck.

Gambar 2.10 Concrete Bucket


2.2.2.5 Tower Crane (TC)
Tower Crane merupakan alat yang digunakan untuk mengangkat
material secara vertical dan horizontal kesuatu tempat yang tinggi pada ruang
gerak yang terbatas. Selain untuk mengangkat material, Tower Crane juga
digunakan untuk mengangkat bucket dalam pengerjaan pengecoran kolom. TC
yang digunakan memiliki beban maksimal sebesar 1,8 ton pada Jib (lengan
tower crane) sepanjang 60 meter. Untuk pengadaan Tower Crane di lapangan,
tower

crane

yang

digunakan

merupakan

milik

pelaksana.

Dalam

operasionalnya, tower crane dioperasionalkan oleh seorang tenaga ahli yang


telah memiliki sertifikat dari perusahaan penyedia tower crane (TC).

Gambar 2.11 Tower Crane


2.2.2.6 Bar Bender
Bar Bender adalah alat yang digunakan untuk membengkokkan baja
tulangan dalam berbagai macam sudut sesuai dengan perencanaan. Cara kerja
alat ini adalah baja yang akan dibengkokkan dimasukkan di antara poros tekan
dan

poros pembengkok kemudian diatur sudutnya sesuai dengan sudut

bengkok yang diinginkan dan panjang pembengkokkannya. Ujung tulangan


pada poros pembengkok dipegang dengan kunci pembengkok. Kemudian pedal
ditekan sehingga roda pembengkok akan berputar sesuai dengan sudut dan
pembengkokkan yang diinginkan. Bar bender dapat mengatur sudut
pembengkokan tulangan dengan mudah dan rapi.

Gambar 2.12 Bar Bender


2.2.2.7 Bar Cutter
Bar cutter yaitu alat pemotong baja tulangan sesuai ukuran yang
diinginkan. Pada proyek ini digunakan bar cutter listrik. Keuntungan dari bar
cutter listrik dibandingkan bar cutter manual adalah bar cutter listrik dapat

memotong besi tulangan dengan diameter besar dan dengan mutu baja cukup
tinggi, disamping itu juga dapat mempersingkat waktu pengerjaan.
Cara kerja dari alat ini yaitu baja yang akan dipotong dimasukkan ke
dalam gigi bar cutter, dan dalam hitungan detik baja tulangan akan terpotong.
Pemotongan untuk baja tulangan yang mempunyai diameter besar dilakukan
satu persatu. Sedangkan untuk baja yang diameternya lebih kecil, pemotongan
dapat dilakukan beberapa buah sekaligus sesuai dengan kapasitas dari alat.

Gambar 2.13 Bar Cutter


2.2.2.8. Scafolding
Scaffolding adalah suatu struktur penyangga sementara yang
digunakan untuk menopang pekerja dan material dalam suatu pengerjaan
konstruksi bangunan atau perbaikan gedung.
Scaffolding digunakan sebagai alat bantu dalam pengerjaan proyek.
Scaffolding sendiri terbuat dari pipa-pipa yang disusun sedemikian rupa
sehingga memiliki kekuatan untuk menopang beban yang berada diatasnya.
Dalam penggunaannya, scaffolding digunakan dalam pekerjaan acuan
perancah dalam hal pengecoran lantai dan balok.

Gambar 2.14 Scaffolding


2.2.2.9 Hydraulic Static Pile Driven (HSPD)
HSPD adalah suatu sistem pemancangan pondasi tiang yang
pelaksanaannya ditekan masuk ke dalam tanah dengan menggunakan dongkrak
hidraulis yang diberi beban counterweight sehingga tidak menimbulkan getaran
dan gaya tekan dongkrak lansung dan dapat dibaca melalui manometer
sehingga gaya tekan tiang dapat diketahui tiap menacapai kedalaman tertentu.
Sebelum dilakukan pemancangan dengan jack-in terlebih dahulu dilakukan tes
sondir dan boring. Dari hasil tes sondir tersebut, rata-rata kedalaman tanah
kerasnya akan diketahui yang kemudian dibandingkan dengan perencanaan
panjang dan kedalaman tiang. Selain memiliki keunggulan yang disebutkan
diatas, alat ini juga mampu memancang pondasi dengan berbagai ukuran mulai
dari 200200 mm sampai dengan 500500 mm. Mobilisasi alat ini cukup
mudah dan pada jack in pile tidak mungkin terjadi keretakan pada kepala tiang
seperti pada sistem pemancangan.
Hydraulic Static Pile Driver merk T-Works ZYJ320. Dengan beban
ultimate yang mencapai 90 ton. Alat penekan tiang pancang yang terletak pada
bagian tengah mesin dikelilingi beban counterweight bergerak menggunakan
rel yang dapat berpindah-pindah dengan bantuan mesin hidrolis pada bagian
bawah mesin. Mesin penekan pancang ini memiliki 4 buah kaki, yang mana
terdiri dari 2 kaki pada bagian luar (rel besi berisi air) dan 2 kaki pada bagian
dalam yang semuanya digerakkan secara hidrolis. Kaki-kaki ini disebut sebagai
support sleeper yang digunakan untuk bergerak menuju titik-titik yang sudah
ditentukan sebelumnya dan diberi tanda. Hidaulic Static Pile Driver memiliki
kemampuan mobilisasi dan mampu untuk memancang tiang pancang
berdiameter besar.

Pada saat penekanan tiang, tekanan hidraulic yang tertera pada


manometer hidraulik mewakili besaran daya dukung tiang pancang (end
bearing). Dimana nilai dalam satuan MPa yang tertera pada manometer
dikonversi kedalan kN.

Gambar 2.15 Alat Hydraulic Static Pile

Gambar 2.16 Manometer Hidrolik

2.2.3 Tenaga Kerja


Tenaga kerja merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan suatu
proyek karena pengaruhnya yang cukup besar terhadap biaya dan waktu penyelesaian
suatu pekerjaan proyek. Namun perlu diperhatikan juga bahwa manusia merupakan
sumber daya yang kompleks dan sulit diprediksi sehingga diperlukan adanya usaha

dan pemikiran lebih mendalam dalam pengelolaan tenaga kerja. Dalam manajemen
tenaga kerja terdapat proses pengambilan keputusan yang berhubungan dengan:
Penentuan ukuran dan jumlah tenaga kerja
Recruitment dan pembagian tenaga kerja ke dalam kelompok kerja
Komposisi tenaga kerja untuk setiap jenis pekerjaan
Pengendalian jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan selama proyek
berlangsung
Perencanaan, penjadwalan, pengarahan dan pengawasan kegiatan tenaga
kerja
Pada pelaksanaannya, untuk pengadaan tenaga kerja di proyek ini tergantung
pada bagaimana setiap mandor membutuhkan jumlah tenaga kerja berdasarkan
penjelasan dari pelaksana tentang volume pekerjaan yang harus dikerjakan.
Pada proyek ini, sebagian besar tenaga kerja direkrut dan menjadi tanggung
jawab pihak kontraktor. Namun, jika suatu bagian pekerjaan proyek diserahkan
kepada subkontraktor, maka tenaga kerja yang terlibat menjadi tanggung jawab
subkontraktor tersebut sehingga mengenai upah dan
permasalahan subkontraktor tersebut.

perekrutan

menjadi

2.3

PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN


Pelaksanaan proyek merupakan bagian terpenting, oleh karena dengan kegiatan inilah

nantinya diciptakan suatu bangunan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan
mencapai tujuan akhir. Jelas bahwa jauh sebelum dilaksanakan proyek sudah dilakukan
kegiatan-kegiatan pra-konstruksi yang mungkin meliputi kegiatan survai lapangan untuk
mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan lokasi proyek..
Pada pelaksanaan praktek kerja lapangan ini, struktur bangunan yang ditinjau terdiri
dari struktur bawah dan struktur atas. Dimana struktur bawah yang ditinjau meliputi
pondasi, pile cap dan balok sloof, sedangkan struktur atas yang ditinjau adalah kolom,
balok, dan plat lantai.
2.3.1 Pekerjaan Struktur Bawah
Struktur bawah bangunan umumnya merupakan pemikul beban suatu bangunan
yang langsung berhubungan dengan tanah. Pada pekerjaan struktur bawah terdiri dari
pekerjaan Pondasi, Pile Cap dan Balok Sloof.
Pondasi yang digunakan pada proyek Gedung Kuliah UNPRI adalah metode
pondasi tiang pancang dengan Jack In Pile. Dimana metode ini dipilih karena
merupakan metode yang paling realistis mengingat masih adanya banguna ber-lantai
4 disekitar proyek dan juga mempertimbangkan kebersihan lokasi proyek jika
memakai metode bore pile.
Metode pemancangan dengan HSPD merupakan metode pemancangan dengan
tenaga hidrolik. Sehingga tidak ditimbulkan adanya suara bising dan getaran yang
dapat mengganggu lingkungan sekitar. Tenaga hidrolik yang dihasilkan pada saat
memancang juga tidak merusak tiang pancang, jika dibandingkan dengan Drop
Hammer ataupun Diesel Hammer yang dapat merusak kepala tiang pancang sehingga
mempengaruhi penyambungan antar tiang.
Tiap pondasi terdiri dari grup tiang pancang yang diikat dengan pile cap dan
tiap pile cap disambungkan dengan balok sloof.

Pekerjaan struktur bawah dapat dilihat alurnya pada diagram berikut.


Setting Out Posisi
Pemancangan Tiang / Pondasi
Pekerjaan Tanah
Pekerjaan Bekisting Pile Cap

Pekerjaan Bekisting Balok Sloof

Pekerjaan Pile
Cap 2.18 Diagram Alur Pekerjaan Struktur
Pekerjaan
Balok Sloof
Gambar
Bawah
2.3.1.1 Pemancangan Tiang Pancang / Pondasi
a. Setting out (tentukan) titik lokasi pemancangan tiang dengan alat
HSDPA, dimana alat disetting berada dalam jangkauan lokasi titiktitik pemancangan, sebelumnya titik-titik tersebut telah diberi tanda
dengan patok bertali yang telah dibenamkan dibawah muka tanah,
sehingga lokasi patok titik-titik pemancangan nantinya tidak
terganggu
b. Setelah alat HSDPA disetting berada di daerah lokasi titik, maka
tiang pancang mini pile diangkat dengan menggunakan crane untuk
selanjutnya di arahkan dan di set out ke clamping box.

Gambar 2.18 Pengangkatan Tiang Pancang dengan Crane


c. Ketika tiang pancang berada di clamping box, maka tuas hidrolik di
gerakkan dengan tujuan menjepit tiang pancang, lalu tiang pancang

diturunkan sampai 10 cm diatas permukaan tanah dengan tujuan


set out titik pemancangan. Setelah tiang pancang berada pada titik
pemancangan. Lalu di cek verticallity pada nivo, dimana
gelembung harus berada di dalam bulatan nivo.

Gambar 2.19 Nivo Silinder HSPDA


d. Setelah semuanya terpenuhi selanjutnya dilakukan penjepitan tiang
dengan tekanan maksimum 20 Mpa dibaca pada manometer
silinder.
e. Pada pelaksanaannya, pemancangan tiang menggunakan lebih dari
satu tiang, dimana penyambungan tiang menggunakan metode
pengelasan antar tiang. Dimana tiang telah tertanam dan akan
disambungkan dengan tiang yang terjepit di dalam clamping box
menggunakan las RB 26.

Gambar 2.19 Penyambungan Tiang dengan Pengelasan


f. Setelah penjepitan dilakukan , kemudian lakukan penekanan tiang
pancang dengan menggunakan 2 cylinder jack, selanjutnya
dilakukan penekanan dengan menggunakan 4 cylinder jack , sampai
mencapai daya dukung yang diijinkan . dalam proses pemancangan
tiang harus dicatat (pilling record) tekanan yang timbul vs
kedalaman tiang tertanam.

g. Proses pemancangan pada satu titik dihentikan apabila tiang


pancang telah mendapatkan gaya perlawanan sebesar daya dukung
yang diisyaratkan yaitu sebesar 75 Ton untuk setiap titik. Dimana
gaya perlawanan (End Bearing) diketahui melalui manometer
hidrolis yang terpasang pada alat HSPD yang pada umumnya
berakhir antara 15-20m kedalaman tiang. Tetapi adakalanya dimana
dalam proses pemancangan kedalaman 11-13m alat sudah tidak
dapat memancang tiang lebih dalam lagi, karena sudah didapati
besaran End Bearing melebihi 75 Ton, dan pada satu titik tiang
belum memenuhi tekanan 22 MPA, tetapi tidak dapat dipancangkan
lagi. Hal ini disebabkan oleh adanaya batu yang menghalangi
proses pemancangan. Yang merupakan kelemahan alat HSPA ini.
h. Setelah tiang pancang memenuhi daya dukung yang diisyaratkan,
maka tiang pancang yang dapat ditekan kedalam tanah akan
ditekan. Tetapi tiang pancang yang tidak dapat ditekan akan
dipotong. tiang yang berada diatas muka tanah akan di hammer
terlebih dahulu untuk memperlihatkan tulangan tiang pancang.
Setelah tulangan utama tiang pancang terlihat, maka dilakukan
peluruhan tulangan utama.

Gambar 2.20 Peluruhan Tulangan Utama dengan Pengelasan


Ketika tulangan utama telah meluruh yang disebabkan oleh
peluruhan oleh pengelasan tersebut, maka alat HSDP akan
menggeser tiang pancang hingga putus. Sehingga alat HSDP dapat
melakukan pemancangan terhadap titik lain.

Gambar 2.21 Pemutusan Tiang Pancang diatas MTA


2.3.1.2 Pekerjaan Tanah
Pada dasarnya pekerjaan tanah adalah pekerjaan penggalian tanah
pada pekerjaan pile cap dan balok sloof. Dimana bersamaan dengan
pekerjaan galian tanah dilaksanakan juga pekerjaan pembobokan tiang
pancang yang berada diatas muka tanah galian pile cap.

Gambar 2.22a Galian Tanah


Gambar 2.22a Pekerjaan Pembobokan
Pada pekerjaan galian pile cap, ada dua kedalaman galian pile cap,
yaitu pada pile cap kolom 1 m dari elevasi BM, dan pada pile cap
Lift sedalam 3 m dari elevasi BM.

Gambar 2.23 Levelling Kedalaman Galian Pile Cap


Pada Pekerjaan Tanah, rata-rata kubikasi galian tanah pondasi
adalah sebesar 0,245 m3 LCM per 1 m2 luas galian.

2.3.1.3 Pekerjaan Bekisting Pile Cap


Pekerjaan bekisting pile cap adalah pekerjaan bekisting pasangan
batu batako. Menggunakan campuran adukan antara PC dan Pasir
adalah 1:4. Pada Pekerjaan Bekisting Pile Cap dibutuhkan batako
11 buah per meter persegi.

Gambar 2.24 Bekisting Pile Cap

2.3.1.4 Pekerjaan Pile Cap


Pada pekerjaan Pile Cap meliputi pekerjaan penulangan pile cap
dan pembetonan pile cap.
Pada pekerjaan penulangan pile cap, tulangan yang digunakan
adalah berdasarkan spesifikasi tiap pile cap. Dimana pada pile cap
yang ditinjau yaitu, pile cap P20-25 menggunakan tulangan ulir D25,
D19, dan D13. Dimana tulangan D25 menjadi tumpuan bagi pile cap
P20-25

Gambar 2.25a Penulangan Pile Cap


Pada pekerjaan pembetonan pile cap, digunakan beton ready mix
dengan kuat tekan beton K-300. Beton yang digunakan 6 m3. Beton
dituang menggunakan concrete bucket secara kontinu.

Gambar 2.25a Pengecoran Pile Cap


2.3.1.5 Pekerjaan Balok Sloof
Balok Sloof merupakan bagian dari struktur bangunan yang
diletakan secara horizontal diatas pondasi bangunan. Balok sloof
berfungsi sebagai perata beban yang akan diterima oleh pondasi.
Selain itu balok sloof juga berfungsi memikul beban dan sebagai
pengunci dinding agar tidak roboh.
Pada pekerjaan penulangan balok sloof, tulangan yang digunakan
adalah tulangan ulir. Dimana tulangannya umumnya adalah tulangan
8D16 pada lapangan dan tumpuan Ukuran balok sloof adalah 350mm
x 500mm. Untuk lebih jelasnya dimana tulangan yang dipakai, yaitu:
Tulangan Tumpuan.
- Tulangan atas 5D 16
- Tulangan bawah 3D 16
- Tulangan sengkang D8-100
Tulangan lapangan
- Tulangan atas 3D 16
- Tumpuan bawah 5D 16
- Tumpuan sengkang D8 200
Pada pelaksanaannya balok sloof menggunakan lantai kerja.Hal ini
agar tulangan balok sloof tidak mengalami perkaratan selama masa
layan bangunan. Beton yang digunakan adalah beton ready mix dengan
mutu K-300.

Gambar 2.26 Penulangan Balok Sloof

2.3.2 Pekerjaan Struktur Atas


Pada pekerjaan struktur atas terdiri dari tiga pekerjaan, yaitu pekerjaan kolom,
pekerjaan balok, dan pekerjaan pelat lantai. Pada aplikasinya, pekerjaan balok dan
pelat lantai dimulai pekerjaannya setelah pekerjaan kolom diselesaikan.
Pekerjaan struktur atas dapat dilihat alur pekerjaannya pada diagrah berikut ini:

Pekerjaan Struktur Atas


Pekerjaan Kolom

Pekerjaan Balok

Pekerjaan Pelat Lantai

Gambar 2.27 Diagram Alur Pekerjaan Struktur Bawah


2.3.2.1 Kolom
Kolom adalah komponen struktur bangunan yang tugas utamanya
menyangga beban aksial tekan vertical dengan bagian tinggi yang ditopang
paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil.
Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang
peranan penting dari suatu bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu kolom
merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya lantai yang
bersangkutan dan juga runtuh total seluruh struktur. Kolom bangunan yang
digunakan pada proyek Pembangunan Gedung Kuliah UNPRI adalah beton
bertulang dengan mutu K-300.
Adapun Metode Pelaksanaan Pekerjaan Kolom adalah sebagai berikut:

1. Surveying Titik Kolom


Pekerjaan surveying pada pekerjaan kolom adalah dengan
dengan menggunakan alat theodolit. Dimana proses marking
dilakukan untuk mendapatkan as pinjaman 1 meter as kolom.
Setelah didapati as pinjaman 1 meter kolom, maka as tersebut
ditandai dengan tinta cina. Dari as pinjaman 1 meter as kolom
tersebut, maka di marking dengan menggunakan meteran sejauh
60cm ke arah dalam kolom, sehingga dari keempat sisi kolom
didapat ukuran kolom dengan marking tinta cina.

Gambar 2.28 Marking kolom dengan tinta cina


2. Penulangan Kolom
Penulangan kolom pada kolom dimensi 80cm x 80 cm
menggunakan tulangan ulir diameter D28. Adapun untuk lebih
jelasnya, tulangan yang dipakai pada kolom dimensi 80cmx80cm
pada lantai dua proyek Gedung Kuliah UNPRI, yaitu:
Tulangan:
- Tulangan utama 28 D25
- Tumpuan sengkang tumpuan D8-100
- Tumpuan sengkang lapangan D8-200
Penulangan kolom langsung dirakit pada kolom yang akan
dikerjakan, dimana kolom sebelumnya telah diberi overlapping
setinggi 1 meter diatas lantai 2 . Perakitan tulangan kolom pada
satu kolom membutuhkan 2 tenaga kerja. Perakitan kolom dan
sengkang dilakukan dengan kawat baja.

Tulangan geser (sengkang) pada kolom dimensi 80cmx80cm


menggunakan 4 jenis variasi sengkang.

Gambar 2.29 Perakitan Tulangan Kolom


3. Sepatu Kolom
Pada pekerjaan kolom, sebelum pembekistingan kolom. Pada
kolom diberi sepatu kolom, dimana bertujuan agar tepatnya
perletakan bekisting pada kolom. Dan tidak larinya acuan
bekisting pada saat pengocoran kolom yang diakibatkan oleh
adanya gaya desak beton.
Sepatu kolom dibuat dengan pengelasan plat siku setinggi 5cm
pada siku marking tinta cina pada kolom. Pengelasan siku
ditautkan pada tulangan kolom.

Gambar 2.30 Pengelasan Sepatu Kolom


4. Bekisting Kolom

Pada Proyek Gedung Kuliah UNPRI, ada dua metode bekisting


kolom

yang

dipakai

yaitu

bekisting

konvensional

yang

menggunakan triplek plywood dan bekisting baja dengan


menggunakan plat baja. Dimana bekisting baja merupakan
bekisting yang difabrikasi khusus oleh kontraktor (CV Prima
Abadi Jaya) untuk proyek Gedung Kuliah UNPRI dengan ukuran
80cm x 80cm.
Bekisting kolom konvensional pada umumnya terdiri multiplex
plywood, besi hollow dan tierod sebagai pengunci, dan besi gollow
dan jack base sebagai sokongan menjaga ketegakan kolom.

Gambar 2.31 Perangkaian Bekisting Kolom

Gambar 2.32 Sistem Pengunci Suri-Suri Kolom


Untuk menjaga mengukur ketegakan kolom, pada kolom diberi 2
buah loop yang menggantung pada sisi kanan dan kiri kolom
tersebut. Dimana loop diganting pada ujung atas kolom dan diberi

tali hingga 50 cm diatas lantai dengan jarak 30 cm dari sisi


multiplex plywood kolom. Pengecekan ketegakan dengan mengatur
sokongan jack base, dimana sokongan kolom diatur semakin ketat
ataupun semakin longgar. Setelah tiap benang loop telah berjarak
sama dari sisi multiplex plywood, maka dapat dipastikan telah
datar.
5. Pengecoran Kolom
Pengecoran kolom menggunakan beton ready mix mutu K-300.
Dimana pada pelaksanaannya, pengecoran kolom menggunakan
bantuan concrete bucket. Concrete bucket diisi dengan beton segar,
setelah penuh kemudian diangkat dengan menggunakan tower
crane menuju lokasi pengecoran kolom, dan dituang dengan
perlahan sembari dikendalikan dengan adanya tuas pengendali
pada operator concrete bucket. Sebelum beton segar dituang,
kolom disiram dengan adukan semen PC, dimana seharusnya yang
disiram adalah cairan SIKABOND yang bertujuan sebagai lem
beton sedang tidak ada stok, sehingga adukan semen menjadi
solusinya.

Gambar 2.33 Pengangkatan Concrete Bucket dengan TC


6. Pembongkaran Bekisting Kolom

Pembongkaran kolom dilakukan setelah 24 jam atau keesokan


harinya. Pembongkaran bekisting dilakukan dengan melonggarkan
kunci tie rod pada pengunci besi hollow, sehingga papan multiplex
dapat dilepas satu persatu. Pada saat pembongkaran dilakukan
perawatan kolom dengan menyisip permukaan kolom yang tidak
halus dengan campuran semen putih dan semen PC.

Gambar 2.33 Pembongkaran Bekisting Kolom


2.3.2.2 Balok
Pekerjaan balok dilaksanakan setelah pekerjaan kolom telah selesai
dikerjakan. Pada proyek Gedung Kuliah UNPRI, sistem balok yang dipakai
adalah konvensional. Balok yang digunakan memiliki tipe yang berbeda-beda.
Balok terdiri dari 2 macam, yaitu balok utama (balok induk) dan balok anak.
Perkerjaan balok dan pelat dilakukan langsung di lokasi yang
direncanakan, mulai dari pemasangan bekisting, pembesian,

pengecoran

sampai perawatan.
Balok merupakan elemen struktur yang menghubungkan tiap kolom.
Dimana balok juga berfungsi sebagai pembagi beban dari pelat lantai kepada
kolom. Hal ini menjadikan distribusi beban menjadi merata tidak konsentris.
1. Surveying Elevasi Balok
Pekerjaan surveying pada pekerjaan balok adalah pekerjaan
surveying elevasi berapa bekisting balok akan dipasang. Pada
pelaksanaannya surveying berpatokan pada elevasi ketinggian 1
meter yang telah dimarking pada kolom dengan tinta cina. Dimana

surveyor membuat marking dengan setinggi 2.05 meter keatas dari


marking 1 meter elevasi kolom.
2. Perancah dan Bekisting
Sistem perancah pada proyek Gedung Kuliah UNPRI adalah
dengan menggunakan sistem perancah scafolding. Scafolding
dirangkai berjejer dengan jarak 0.5 meter tiap scafolding.
Scafolding dirangkai dengan jack base dipasang pada kaki-kaki
scafolding, hal ini agar scafolding dapat diatur kedatarannya
dengan menaikkan dan menurunkan kait/ulir pada jack base. Lalu
tepat diatas scafolding dipasang u-head, dimana u-head memiliki
bentuk seperti hutuf U. Setelah u-head maka ditaruh balok kayu
berukuran 2x4 inch yang bertindak sebagai gelagar. Gelagar
dipasang arah melintang (cross brace) terhadap U-Head. Tepat
diatas U-Head dipasang suri-suri, dimana suri-suri pada belok
merupakan suri-suri yang telah difabrikasi sebelumnya yang dibuat
dari besi hollow. Suri-suri dipasang tiap jarak 50cm. Lalu diatas
sui-suri dipasang bodeman balok yang telah difabrikasi sebelumnya
yang dirangkai antara multiplex dan besi hollow, dimana multiplex
plywood dibaut pada besi hollow. Begitu juga dengan damping
kanan dan kiri bodeman balok, dipasang bekisting yang telah
dipabrikasi dengan tinggi h balok h pelat lantai + ketebalan besi
hollow (5 cm). Dan bekisting kiri-kanan diikat dengan sokongan
siku yang dikaitkan dengan kait tie rod yang telah dimodifikasi
sehingga menyerupai kait.

Gambar 2.34 Pemasangan Scafolding


Adapun bagian-bagian perancah dan bekisting balok dapat
dilihat pada gambar berikut ini:

Keterangan Gambar:
1.
2.
3.
4.

Jack Base
Scafolding Set
U Head
Gelagar Besi Hollow

5.
6.
7.
8.

Gelagar Besi Hollow


Bodeman Balok
Siku Sokongan
Tembereng Balok

3. Penulangan Balok Beton Bertulang


Penulangan kolom pada balok yang ditinjau yaitu balok B1
dimensi 70 cm x 35 cm menggunakan tulangan ulir diameter D19.
Adapun untuk lebih jelasnya, tulangan yang dipakai pada balok B1
dimensi 70 cm x 35 cm pada proyek Gedung Kuliah UNPRI, yaitu:

Tulangan Balok type B1:


-

Tulangan utama bawah 4D19 dengan L: 1010cm


Tulangan utama atas 2D19 dengan L: 1125cm
Tulangan ekstra tumpuan 6D19 dengan L: 450cm
Tulangan ekstra lapangan 2D19 dengan L: 620cm
Tulangan sengkang tumpuan D8-100

- Tulangan sengkang lapangan D8-200


Penulangan balok langsung dirakit pada bentang yang akan
dikerjakan, dimana panjang penyaluran tulangan balok pada
tumpuan ditetapkan 80cm. Tulangan sebelumnya telah dipotong
dan dibengkokkan dengan bar cutter dan bar bender sesuai dengan
ukurannya.

Gambar 2.35 Penulangan Balo


4. Pembersihan Balok
Proses pembersihan balok dilakukan dengan menyiram bekisting
balok dengan air bertekanan. Air bertekanan bertujuan agar
kotoran-kotoran yang berada pada bekisting balok dapat mengikuti
aliran air keluar. Pada tahap pembersihan balok dilakukan juga
pengecekan terhadap beton decking, apakah ada beton decking
yang hancur, sehingga dapat dilakukan penggantian beton decking.
Kotoran yang dibersihkan umumnya adalah kotoran-kotoran kawat
tulangan yang tidak dapat terambil saat penyisiran dengan magnet.

Gambar 2.36 Proses Pembersihan Bekisting Balok


5. Pengecoran Balok
Pada pengecoran balok yang ditinjau yaitu pengecoran balok
bentang 8 bentang 10, pengecoran balok beton ready mix dengan
mutu K-300 menggunakan bantuan alat concrete pump. Pada
pengecoran balok ini dilakukan pemadatan dengan alat concrete
vibrator. Dimana pada pemadatan dengan vibrator, vibrator
tidakboleh menyentuh bekisting dan tulangan. Dimana hal ini dapat
berakibat pada longgarnya ikatan tulangan yang telah dibuat dan
menyebabkan beton bertulang yang dihasilkan tidak maksimal.
Sehingga jarak optimal antara vibrator dengan bekisting dan
tulangan adalah 10cm. Penggetaran dengan vibrator pada satu
tempat tidak boleh lebih dari 5 detik, dimana hal ini dapat
mengakibatkan naiknya air cari campuran beton (bleeding).

Gambar 2.37 Pengecoran Balok

Pembongkaran bekisting balok akan dilaksanakan saat umur


beton mencapai umur 21 hari. Pada teorinya, pembongkaran
bekisting balok dapat dilakukan saat kekuatan beton telah mencapai
umur maksimal yaitu 28 hari. Tetapi, mengingat beton ready mix
yang digunakan memakai bahan tambah superplastisizer yang
dapat waktu pengikatan beton, sehingga waktu 21 hari dapat
dianggap umur maksimal beton.
2.3.2.3 Pelat Lantai
Pelat beton bertulangan merupakan sebuah bidang datar yang lebar,
dengan arah horizontal dengan permukaan bawah dan atasnya sejajar.
Pelat beton bertulang direncanakan untuk memikul beban yang merata
yang bekerja pada seluruh luas permukaannya dan diteruskan kepada
balok.
Pelat ditumpu oleh balok bertulang dan dicor bersamaan dengan
kepala kolom karena dengan tujuan memperoleh suatu sifat belok
kolom dan pelat yaitu satu kesatuan (monolit). Dalam proyek ini
menerapkan plat dua arah dengan daerah momen pada tengah bentang
pelat lantai.

1. Perancah dan Bekisting Pelat Lantai


Sistem perancah pada proyek Gedung Kuliah UNPRI adalah
dengan menggunakan sistem perancah scafolding. Scafolding
dirangkai berjejer dengan jarak 0.5 meter tiap scafolding.
Scafolding dirangkai dengan jack base dipasang pada kaki-kaki
scafolding, hal ini agar scafolding dapat diatur kedatarannya
dengan menaikkan dan menurunkan kait/ulir pada jack base. Lalu
tepat diatas scafolding dipasang u-head, dimana u-head memiliki
bentuk seperti hutuf U. Setelah u-head maka ditaruh balok kayu
berukuran 2x4 inch yang bertindak sebagai gelagar. Gelagar

dipasang arah melintang (cross brace) terhadap U-Head. Tepat


diatas dirangkai besi hollow dengan arah membujur. Besi hollow
dipasang tiap jarak 50cmlalu diatas besi hollow dipasang multiplex
plywood yang telah dirangkai dengan besi hollow, dimana
multiplex plywood dibaut pada besi hollow. Elevasi multiplex
plywood

merupakan elevasi kepala balok. Dimana multiplex

plywood dipaku kepada kepala balok.

Gambar 2.38 Pemasangan Perancah dan Bekisting Pelat Lantai


2. Penulangan Pelat Lantai
Penulangan Pelat Lantai menggunakan sistem penulangan dua
arah, dimana daerah momen di setiap tengah bentang. Tulangan
yang dipakai adalah tulangan ulir berdiameter D8. Penulangan arah
sumbu x dengan jarak tiap 40cm, dan penulangan dengan arah
sumbu y dengan jarak tiap 25cm. Pada pelat lantai digunakan
selimut beton (beton decking) dengan tebal 2,5cm.

Gambar 2.39 Penulangan Pelat Lantai


3. Pembersihan Pelat Lantai
Proses pembersihan balok dilakukan dengan menyiram bekisting
balok dengan air bertekanan. Air bertekanan bertujuan agar
kotoran-kotoran yang berada pada bekisting balok dapat mengikuti
aliran air keluar. Pada tahap pembersihan balok dilakukan juga
pengecekan terhadap beton decking, apakah ada beton decking
yang hancur, sehingga dapat dilakukan penggantian beton decking.
Kotoran yang dibersihkan umumnya adalah kotoran-kotoran kawat
tulangan yang tidak dapat terambil saat penyisiran dengan magnet.

Gambar 2.40 Pembersihan Pelat Lantai dan Pemasangan Beton Decking

4. Pengecoran Pelat Lantai


Pada pengecoran pelat lantai yang ditinjau yaitu pengecoran
balok bentang 8 bentang 10, pengecoran beton ready mix dengan
mutu K-300 menggunakan bantuan alat concrete pump. Pada
pengecoran balok ini dilakukan pemadatan dengan alat concrete
vibrator. Penggetaran dengan vibrator pada satu tempat tidak boleh
lebih dari 5 detik, dimana hal ini dapat mengakibatkan naiknya air
cari campuran beton (bleeding).

Gambar 2.41 Pengecoran Pelat Lantai dengan Concrete Pump


Saat beton dihamparkan dengan alat concrete pump, bersamaan
denga itu beton dipadatkan dengan concrete vibrator. Pemadatan
dengan concrete vibrator tidak boleh lebih dari 5 menit untuk
menghindari bleeding.
Setelah beton padat maka diratakan dengan raskam agar
permukaan beton halus.

Gambar 2.42 Perataan Beton dengan Raskam


Setelah proses perataan dilakukan, elevasi pelat lantai dicek
kembali untuk memastikan dicapai ketebalan plat lantai yaitu 12
cm.

Gambar 2.43 Proses Levelling Elevasi Pelat Lantai

Beton segar dibiarkan mengeras tanpa diberi beban selama 21


hari. Pembongkaran bekisting balok akan dilaksanakan saat umur
beton mencapai umur 21 hari. Pada teorinya, pembongkaran
bekisting balok dapat dilakukan saat kekuatan beton telah mencapai
umur maksimal yaitu 28 hari. Tetapi, mengingat beton ready mix
yang digunakan memakai bahan tambah superplastisizer yang
dapat waktu pengikatan beton, sehingga waktu 21 hari dapat
dianggap umur maksimal beton.

2.3.3 Tugas Khusus selama pelaksanaan PKL


Dalam pelaksanaan PKL, mahasiswa diberi tugas-tugas khusus oleh
pembimbing. Dimana tugas tersebut berupa penghitungan volume beton, perhitungan
berat tulangan balok, pengeditan as built drawing struktur, dan quality qontrol mutu
beton.
2.3.1.1 Penghitungan Volume Beton as 8-10
NO

STRUKTUR

TYPE

1
2
3
4
5
6

Balok
Balok
Balok
Balok
Balok
Balok

B1
B2
B3
B5
B6
B7

UKURAN
b
h
L/t
0,35 0,58
10
0,35 0,58
3
0,35 0,58
10
0,35 0,58
7
0,35 0,58 3,83
0,35 0,58 3,67

JUMLA
H

TOTAL

6
4
2
4
4
3

12,18
2,44
4,06
5,68
3,11
2,24

7
8
9
10
11
12
13
14

Balok
Balok
Balok
Balok
Balok
Balok
Kolom
Pelat
Lantai

B8
B9
B10
B11
B12
BL
80 X 80

0,3
0,3
0,2
0,2
0,25
0,2
0,8

0,48
0,48
0,28
0,28
0,38
0,28
0,8

3,83
3,67
3,3
2,93
3,67
23
0,8

4
2
1
1
2
1
12

2,21
1,06
0,18
0,16
0,70
1,29
6,14

23

14,5

0,12

40,02

Volume Pengecoran Total

2.3.1.1

81,5

Penghitungan berat tulangan, kubikasi beton dan volume bekisting


balok lantai 1 dan lantai 2 parsial.
N0

NAMA
BALO
K

B1

B6A

B1B

B1A

B12

JUMLAH
D
(mm)
19
8
19
8
19
8
19
8
16

BERAT
(kg)
254,67
63,107
101
23,01
88,33
21,67
254,67
3
63,147
34,752

BEKISTIN
G

BETON

(m2)

(m^3)

15,1

2,45

4,56

0,74

3,885

0,61

15,1

2,45

3,71

0,459

B13

BR5

B6B

BS7 &
BS6

10

BS8

8
16
8
16
8
19
8
16
8
16
8

20,273
40,208
23,029
67,227
39,5
70,199
23,099
74,424
9,29
90,107
29,514

5,783

0,938

10,57

1,715

5,783

1,55

7,215

1,138

7,215

1,138