Anda di halaman 1dari 48

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA

BAB I DATA PROYEK


Pasal 1

: Nama proyek ditentukan oleh Owner seperti berikut ini :


Jasa Konsultansi Perencanaan Taman KTR

Pasal 2

: Tempat dan lokasi pekerjaan ditentukan oleh Owner seperti berikut ini :
Banda Aceh

Pasal 3

: Item-Iten Pekerjaan yang harus dikerjakan dan diselesaikan oleh Kontraktor


Pelaksana ditentukan oleh Owner dalam :
Kontrak Kerja Dan Bill of Quantity

BAB II KETENTUAN UMUM PELAKSANAAN


Pasal 1

: Penanggung Jawab Pelaksanaan ( Kontraktor Pelaksana )


1. Berdasarkan Kontrak Kerja yang dibuat oleh Owner dengan Penyedia Jasa
Pelaksana Konstruksi, maka Kontraktor Pelaksana untuk proyek seperti yang
disebutkan dalam BAB I diatas adalah Perusahaan seperti yang disebutkan
dalam Kontrak Kerja Fisik.
2. Kontraktor Pelaksana harus menyelesaikan pekerjaan secara seluruhnya
sesuai dengan ketentuan-ketentuan di dalam Dokumen Kontrak.
3. Tugas dan kegiatan Kontraktor Pelaksana adalah seperti yang disebutkan
dalam Keputusan Menteri Permukiman Dan Prasarana Wilayah Nomor :
332/KPTS/M/2002 Tanggal 21 Agustus 2002 Tentang Penyedia Jasa
Pelaksana Konstruksi atau menurut perubahannya jika ada kecuali ditentukan
lain oleh Owner dalam Kontrak Kerja Fisik.
4. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan struktur organisasi pelaksana
lapangan proyek kepada Owner yang didalamnya tercantum beberapa
tenaga ahli Kontraktor Pelaksana dengan posisi minimal seperti berikut atau
sesuai yang diajukan:

1.

Site Manager;

2.

Drafman; dan

3.

Administrasi Proyek;
5. Jumlah personil atau tenaga ahli yang ditempatkan harus sesuai dengan
bobot pekerjaan yang ditangani dan disetujui oleh Konsultan Supervisi dan
Owner.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


6. Semua tenaga ahli yang namanya tercantum dalam struktur organisasi
lapangan proyek yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus berada
dilokasi pekerjaan minimal selama jam kerja.
7. Pengantian tenaga ahli oleh Kontraktor Pelaksana selama proses
pelaksanaan pekerjaan harus diketahui dan disetujui oleh Konsultan
Supervisi & Owner.
8. Site Manager harus mengajukan ijin tertulis kepada Owner dan diketahui oleh
Konsultan Supervisi jika hendak meninggalkan lokasi pekerjaan dalam jangka
waktu lebih dari 3 hari.
9. Konsultan Supervisi berhak mengajukan kepada Owner untuk pengantian
tenaga ahli Kontraktor Pelaksana yang berada dilokasi pekerjaan jika tenaga
ahli tersebut dinilai menghambat pekerjaan dan tidak mampu menjalankan
tugasnya dengan baik.
10. Tenaga ahli yang ditempatkan dilokasi pekerjaan oleh Kontraktor Pelaksana
harus mampu memberikan keputusan yang bersifat teknis dan administratif di
lokasi pekerjaan.
Pasal 2

: Sub Pelaksana Pekerjaan / Sub Kontraktor

1. Penunjukan Sub Pelaksana pekerjaan / Sub Kontraktor hanyalah dapat dilakukan dengan
sepengatahuan dan rekomendasi tertulis dari Owner.
2. Apabila hasil pekerjaan Sub Pelaksana tidak memenuhi semua persyaratan di dalam kontrak Kerja
ataupun tidak memenuhi target prestasi yang harus dicapai pada suatu tahap pekerjaan, maka
Konsultan Supervisi berhak menginstruksikan kepada Kontraktor Pelaksana untuk menganti Sub
Pelaksana pekerjaan tersebut dengan yang lain, dan Kontraktor Pelaksana harus menjalankan
instruksi tersebut.
3. Kontraktor Pelaksana tidak dibenarkan untuk meninggalkan kewajibannya dengan cara
menyerahkan Kontrak Kerja sebagian atau seluruhnya kepada pihak lain (Sub Pelaksana
Pekerjaan) tanpa seijin atau persetujuan Owner.
4. Apabila tidak disebutkan dalam Kontrak Kerja, maka Kontraktor Pelaksana tidak dibenarkan untuk
men-sub-kan sebagian pekerjaan yang menjadi kewajibanya tanpa persetujuan Owner.
5. Dalam hal sudah mendapat persetujuan Owner dan Konsultan Supervisi, maka Kontraktor
Pelaksana tetap bertanggung jawab penuh atas segala kelalaian dan kesalahan-kesalahan yang
dibuat oleh Sub Kontraktor, sehingga kesalahan dan kelalaian tersebut merupakan kesalahan dan
kelalaian Kontraktor Pelaksana sendiri.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


6. Sub Kontraktor adalah pihak-pihak yang mempunyai Kontrak Kerja langsung dengan Kontraktor
Pelaksana, yaitu dalam menyediakan dan mengerjakan bagian-bagian pekerjaan khusus sesuai
dengan keahliannya.
7. Kontraktor Pelaksana tetap bertanggung jawab sepenuhnya atas hasil pekerjaan Sub Kontraktor.
Pasal 3

: Gambar Pelaksanaan ( Shop Drawing )


1. Kontraktor dengan biaya sendiri harus membuat Gambar Pelaksanaan (Shop
Drawing) untuk pekerjaan-pekerjaan yang memerlukannya, terutama untuk
pekerjaan-pekerjaan yang Gambar Detailnya tidak dijelaskan dalam Gambar
Bestek.
2. Pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan Shop Drawing ditentukan oleh
Konsultan Supervisi dalam masa konstruksi.
3. Kontraktor Pelaksana tidak dibenarkan melakukan pekerjaan sebelum Shop
Drawing yang menjadi kewajibannya di setujui oleh Konsultan Supervisi.
4. Shop Drawing tidak boleh merubah/merevisi Gambar Bestek kecuali atas
persetujuan Konsultan Perencana.
5. Shop Drawing tidak boleh merubah, memperbesar dan memperkecil
kuantitas maupun kualitas pekerjaan.

Pasal 4

: Gambar Lapangan Dan Dokumen Lapangan


1. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan satu set Gambar Bestek /Gambar
Revisi dalam format kertas A2, kertas A3 (sementara), satu set Shop Drawing,
satu set Spesifikasi Teknis dan satu set Bill of Quantity dilokasi pekerjaan
pada setiap kantor lapangan.
2. Gambar Bestek, Gambar Revisi, Shop Drawing, Spesifikasi Teknis, dan Bill of
Quantity ditempatkan pada tempat yang baik dan dalam kedaan yang rapi.

Pasal 5

: Buku Instruksi Dan Buku Tamu


1. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan satu buah Buku Instruksi dan Buku
Tamu dilokasi pekerjaan pada setiap kantor lapangan dan ditempatkan pada
tempat yang baik.
2. Buku Instruksi berisikan instruksi-instruksi dilokasi pekerjaan yang
dikeluarkan oleh Konsultan Supervisi dan Owner untuk dilaksanakan oleh
Kontraktor Pelaksana yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


3. Buku Instruksi harus mencantumkan tanggal instruksi, waktu instruksi, nama
dan jabatan yang memberi instruksi, dan tanda tangan yang memberi
instruksi.
4. Instruksi Konsultan Supervisi dan Owner yang berada dalam Buku Instruksi
harus diketahui dan ditanda tangani oleh Kontraktor Pelaksana minimal
Supervisor Lapangan untuk dilaksanakan.
5. Kontraktor Pelaksana juga harus menyediakan buku tamu di kantor lapangan
yang diletakan pada tempat yang baik. Semua tamu yang berkunjung ke
lokasi pekerjaan harus terdata dan mengisi buku tamu ang telah disediakan
oleh Kontraktor Pelaksana.
Pasal 6

: Gambar Hasil Pelaksanaan ( Asbuilt Drawing )


1. Kontraktor dengan biaya sendiri harus membuat Gambar Hasil Pelaksanaan
(Asbuilt Drawing) yang sesuai dengan hasil pelaksanaan pekerjaan
dilapangan sebelum serah terima tahap pertama dilakukan.
2. Pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan As Built Drawing adalah pekerjaan
Mekanikal, Elektrikal, Site Plan, Landscaping dan pekerjaan pekerjaan lain
yang ditentukan oleh Konsultan Supervisi.
2. As Built Drawing yang dibuat oleh Kontraktor Pelaksana harus disetujui oleh
Konsultan Supervisi, Konsultan Perencana dan Owner.
3. Kontraktor Pelaksana diwajibkan menyerahkan 5 set As Built Drawing yang
telah disetujui kepada Konsultan Supervisi, Owner dan Konsultan Perencana
kepada Owner.
4. Satu set As Built Drawing yang telah disetujui harus disimpan di tempat yang
baik pada bangunan oleh Owner atau pengguna bangunan.

Pasal 7

: Rencana Waktu Pelaksanaan


1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana waktu penyelesaian
pekerjaan (time schedule) keseluruhan kepada Konsultan Supervisi dan
Owner sebelum dimulainya pelaksanaan pekerjaan kecuali ditentukan lain
dalam Kontrak Kerja.
2. Kontraktor Pelaksana harus menyelesaiankan pekerjaan sesuai dengan
rencana waktu penyelesaian pekerjaan keseluruhan yang telah disetujui oleh
Konsultan Supervisi dan Owner kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


3. Kontraktor Pelaksana harus menyerahkan rencana waktu penyelesaian
pekerjaan keseluruhan kepada Konsultan Supervisi untuk disetujui.
4. Kontraktor Pelaksana juga harus mengajukan rencana waktu penyelesaian
pekerjaan mingguan pada tahap pelaksanaan pekerjaan kepada Konsultan
Supervisi.
5. Konsultan Supervisi berhak untuk tidak menyetujui rencana penyelesaian
pekerjaan mingguan yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dengan
memberikan alasan-alasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara
teknis.
6. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan karena
kesalahan dalam menyusun waktu pemnyelesaian pekerjaan sepenuhnya
menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.
7. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan karena
factor cuaca seperti hujan yang lebih dari 1 hari kerja dan dibuktikan dengan
catatan cuaca dalam Laporan Harian yang disetujui oleh Konsultan Supervisi
harus diperhitungkan untuk penambahan waktu pelaksanaan pekerjaan.
8. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan karena
factor-factor non teknis yang lebih dari 3 hari kerja dan diketahui oleh
Konsultan Supervisi seperti permasalahan dengan tanah/lahan pekerjaan
sehingga Kontraktor pelaksanan tidak bisa memasuki dan memulai
pekerjaan,

ganguan

keamanan

dari

masyarakat

setempat

harus

diperhitungkan untuk penambahan waktu pelaksanaan pekerjaan.


9. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan karena
permasalahan yang berhubungan dengan Spesifikasi Teknis, Gambar Disain,
Bill of Quantity dan Kontrak Kerja dimana tidak ada keputusan yang pasti dari
Konsultan Manajemen Konstruksi, Konsultan Supervisi, Konsultan Perencana
dan Owner lebih dari 3 hari kerja harus diperhitungkan untuk penambahan
waktu pelaksanaan pekerjaan.
10. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan yang
disebabkan oleh hal-hal selain seperti yang disebutkan dalam point 6, point 7
dan point 8 tidak boleh diperhitungkan untuk penambahan waktu
pelaksanaan kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja dengan persetujuan
Konsultan Manajemen dan Owner.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


11. Lamanya penambahan waktu atau jumlah hari kerja tambahan yang diberikan
kepada Kontraktor Pelaksana karena alasan-alasan seperti yang disebutkan
pada point 6, point 7 dan point 8 adalah menurut keputusan Konsultan
Manajemen Konstruksi dan Owner.
Pasal 8

: Request Material Dan Request Pekerjaan


1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan permohonan penggunaan semua
material bangunan (request material) sebelum material bangunan tersebut
dipakai dan dimasukan kelokasi pekerjaan.
2. Request Material yang diajukan Kontraktor Pelaksana harus disertai dengan
contoh material dan disetujui oleh Konsultan Supervisi dan Owner.
3. Persetujuan Request Material yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana
dianggap sah dan diakui apabila disetujui minimal oleh Konsultan Supervisi.
4. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan dan menyerahkan satu set contoh
material yang telah disetujui kepada Konsultan Supervisi.
5. Material bangunan yang tidak disetujui oleh Konsultan Supervisi, Konsultan
Perencana, dan Owner tidak boleh dipakai sebagai material bangunan dan
harus dikeluarkan dari lokasi pekerjaan.
6. Kontraktor Pelaksana juga harus mengajukan permohonan (request
pekerjaan) untuk pekerjaan yang akan dikerjakan.
7. Request Pekerjaan yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus disetujui
oleh Konsultan Supervisi.
8. Kontraktor pelaksana tidak dibenarkan melakukan pekerjaan tanpa Request
Material atau jika Request Pekerjaan yang diajukan belum disetujui oleh
Konsultan Supervisi.
9. Item-item pekerjaan yang memerlukan Request Pekerjaan ditentukan oleh
Konsultan Supervisi.

Pasal 9

: Metode Pelaksanaan
1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan Metode Pelaksanaan terhadap
pekerjaan Pondasi, Kolom, Balok, Pembesian dan Pengecoran, serta
pekerjaan-pekerjaan lain yang memerlukanya.
2. Metode Pelaksanaan yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus disetujui
oleh Konsultan Supervisi.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


3. Kontraktor Pelaksana tidak dibenarkan melakukan pekerjaan jika Metode
Pelaksanaan yang diajukan belum disetujui oleh Konsultan Supervisi.
4. Item-item pekerjaan yang memerlukan Metode Pelaksanaan ditentukan oleh
Konsultan Supervisi.
Pasal 10

: Rencana Material Dan Peralatan


1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana material dan peralatan
mingguan yang akan digunakan untuk penyelesaian pekerjaan setiap minggu
kepada Konsultan Supervisi.
2. Semua material dan peralatan sesuai dengan rencana material dan peralatan
mingguan yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus berada dilokasi
pekerjaan.
3. Konsultan Supervisi berhak untuk tidak menyetujui rencana material dan
peralatan mingguan yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dengan
memberikan alasan-alasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara
teknis.

Pasal 11

Rencana Tenaga Kerja

1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana penggunaan tenaga kerja


mingguan yang akan digunakan untuk penyelesaian pekerjaan setiap minggu
kepada Konsultan Supervisi.
2. Semua tenaga kerja sesuai dengan rencana tenaga kerja mingguan yang
diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus berada dilokasi pekerjaan.
3. Konsultan Supervisi berhak untuk tidak menyetujui rencana penggunaan
tenaga kerja mingguan yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dengan
memberikan alasan-alasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara
teknis.
Pasal 12

: Pekerjaan Diluar Jam Kerja


1. Pekerjaan-pekerjaan diluar jam kerja normal yang dilakukan oleh Kontraktor
Pelaksana dengan alasan mempercepat proses penyelesaian pekerjaan
harus diketahui oleh Konsultan Supervisi.
2. Biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh personil Konsultan Supervisi untuk
pengawasan pekerjaan diluar jam kerja normal yang dilakukan oleh

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


Kontraktor Pelaksana sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor
Pelaksana.
3. Kontraktor Pelaksana bertanggung jawab penuh terhadap kualitas pekerjaan
yang dilakukan diluar jam kerja normal atau pada malam hari.
Pasal 13

: Laporan Pelaksanaan ( Progress Report )


1. Kontraktor Pelaksana wajib membuat laporan harian, laporan mingguan, dan
laporan bulanan kepada Konsultan Supervisi tentang kemajuan pelaksanaan
pekerjaan.
2. Format laporan harian, laporan mingguan, dan laporan bulanan yang dibuat
oleh Kontraktor pelaksana harus disetujui oleh Konsultan Supervisi dan
Owner.
3. Konsultan Supervisi Dan Owner berhak untuk melakukan pemeriksaan
langsung kelapangan akan kebenaran data yang ada dalam laporan harian,
laporan minnguan, dan laporan bulanan yang dibuat oleh Kontraktor
Pelaksana.
4. Laporan Harian minimal harus menginformasikan hal hal berikut ini :

a.

Item Pekerjaan Yang Dikerjakan Setiap Hari;

b.

Volume Pekerjaan Setiap Hari;

c.

Jumlah Material Yang Didatangkan Setiap hari;

d.

Jumlah Material Yang Digunakan Setiap Hari;


e. Catatan Kedaan Cuaca Setiap Hari Dari Jam 8 Pagi Sampai Jam 5 Sore;

f.

Jumlah Tenaga Kerja Yang Digunakan Setiap Harinya;

g.

Jumlah Dan Jenis Peralatan Yang Dipakai Setiap Harinya;

h.

Request Material;

i.

Metode Pelaksanaan; dan

j.

Hal Hal Lain Yang Penting Dan Diperlukan Untuk Dilaporkan.


5. Laporan Mingguan minimal harus menginformasikan hal hal berikut ini :

a.

Volume Realisasi Pekerjaan Selama 7 Hari Kerja;

b.

Fhoto Fhoto Hasil Realisasi Pekerjaan;

c.

Time Schedule Realisasi Pekerjaan Mingguan;

d.

Request Pekerjaan Mingguan;

e.

Hal Hal Lain Yang Penting Dan Diperlukan Untuk Dilaporkan.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA

6. Laporan Bulanan minimal harus menginformasikan hal hal berikut ini :


a.

Volume Realisasi Pekerjaan Selama 28 Hari Kerja ( 4 Minggu );


b. Fhoto Fhoto Hasil Realisasi Pekerjaan Dari 0 Sampai 28 hari Kerja Atau
Dari Bulan Pertama Sampai Bulan Berikutnya;

c.

Hal Hal Lain Yang Penting Dan Diperlukan Untuk Dilaporkan.


Pasal 14

: Surat Menyurat Dan Komunikasi


1. Segala surat-menyurat yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana yang
berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya administratif
harus melalui dan ditujukan kepada Owner dengan tembusan kepada
Konsultan Supervisi.
2. Segala surat-menyurat yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana yang
berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya teknis harus
melalui dan ditujukan kepada Konsultan Supervisi dengan tembusan ke
Owner.
3. Surat menyurat atau perizinan yang berhubungan dengan Instansi lain di luar
proyek tidak perlu melalui dan diketahui oleh Konsultan Supervisi. Kontraktor
Pelaksana tetap wajib memberikan informasi tentang hal tersebut kepada
Owner.

Pasal 15

: Rapat Koordinasi Dan Rapat Lapangan (Site Meeting)


1. Rapat koordinasi diselenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali setiap
minggu, dipimpin oleh Owner atau Konsultan supervisi.
2. Kontraktor Pelaksana wajib hadir dalam rapat koordinasi dengan diwakili
minimal oleh Site Manager atau Supervisor Lapangan.
3. Kosumsi rapat koordinasi tersebut disiapkan oleh Kontraktor Pelaksana
kecuali ditentukan lain oleh Owner.
4. Rapat lapangan (site meeting) diselenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu)
kali setiap minggu, dipimpin oleh Owner atau Konsultan supervisi.
5. Kontraktor Pelaksana wajib hadir dalam rapat lapangan dengan diwakili
minimal oleh Supervisor lapangan.
6. Kosumsi rapat lapangan tersebut disiapkan oleh Kontraktor Pelaksana kecuali
ditentukan lain oleh Owner.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA

Pasal 16

: Wewenang Owner (Pemberi Tugas) Memasuki Lokasi Pekerjaan


1. Owner (Pemberi Tugas) dan para wakilnya mempunyai wewenang untuk
memasuki lokasi pekerjaan dan bengkel kerja atau tempat-tempat lain dimana
Kontraktor Pelaksana melaksanakan pekerjaan untuk Kontrak.
2. Jika pekerjaan dilakukan pada tempat-tempat lain yang dilakukan oleh Sub
Kontraktor Pelaksana menurut ketentuan dalam Sub Pelaksanaan, maka
Kontraktor Pelaksana harus memberikan jaminan agar supaya Owner dan
para wakilnya mempunyai wewenang untuk memasuki bengkel kerja dan
tempat-tempat lain kepunyaan Sub Pelaksana pekerjaan.
3. Owner atau Staf Ahli ( Enggineer ) berhak memberikan instruksi langsung
dilapangan kepada Kontraktor Pelaksana dan Konsultan Supervisi untuk
suatu perbaikan atau perubahan jika dalam proses pelaksanaan pekerjaan
ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan Gambar Bestek, Spesifikasi
Teknis, Bill of Quantity dan Kontrak Kerja.
4. Owner atau Staf Ahli ( Enggineer ) berhak memerintahkan Konsultan
Supervisi secara tertulis untuk menghentikan proses pelaksanaan pekerjaan
yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana sementara waktu jika ditemukan
hal-hal yang tidak sesuai dengan Gambar Bestek, Spesifikasi Teknis, Bill of
Quantity dan Kontrak Kerja.
5. Kontraktor Pelaksana harus menjamin dan bertangung jawab penuh akan
keselamatan Owner dan para wakilnya selama berada dilokasi pekerjaan.

Pasal 17

: Progress Payment
1. Jika tidak ditentukan lain dalam Kontrak Kerja maka Hasil Pekerjaan
Kontraktor Pelaksana di bayar berdasarkan metode Progress Payment.
Artinya Tagihan Kontraktor Pelaksana dibayar berdasarkan Progress
Realisasi Pekerjaan yang telah diselesaikan dilapangan.
2. Progress Payment Kontraktor Pelaksana diajukan kepada Owner dan
diperiksa kebenaran realisasi pekerjaan dilapangannya oleh Konsultan
Supervisi.
3. Owner dapat menunda atau membatalkan Progress Payment Kontraktor
Pelaksana jika berdasarkan pengamatan sendiri atau laporan/rekomendasi

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


Konsultan Supervisi tentang adanya pekerjaan-pekerjaan yang tidak sesuai
Gambar Bestek, Spesifikasi Teknis dan Bill of Quantity.
4. Progress Payment Kontraktor Pelaksana baru dapat dibayar oleh Owner jika
telah disetujui secara tertulis oleh Konsultan Supervisi.
Pasal 18

: Kesalahan Pekerjaan Dan Pekerjaan Cacat


1. Kontraktor Pelaksana harus memperbaiki dengan biaya sendiri semua
kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan baik pada tahap pelaksanaan
maupun pada saat sebelum Serah Terima Tahap Pertama (PHO) dan
pekerjaan dinyatakan selesai 100%.
2. Kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan adalah hasil pemeriksaan bersama
antara Kontraktor Pelaksana, Konsultan Supervisi dan Owner sebelum Serah
Terima Tahap Pertama (PHO) dan pekerjaan dinyatakan selesai 100%.
3. Kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan dari hasil pemeriksaan oleh
Pelaksana, Konsultan Supervisi dan Owner dicantumkan dalam sebuah
Daftar Pekerjaan Cacat yang ditandatangani oleh ketiga pihak tersebut.
4. Owner harus membuat Berita Acara Hasil Pemeriksaan Pekerjaan untuk
ditandatangani oleh Kontraktor Pelaksana, Konsultan Supervisi dan Owner.
5. Semua kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan yang ada dalam Daftar
Pekerjaan

Cacat

menjadi

tanggung

jawab

Kontraktor

Pelaksana

memperbaikinya dengan biaya sendiri.


6. Kesalahan-kesalahan dan cacat pekerjaan yang dilakukan oleh Kontraktor
Pelaksana dikarenakan kurang memahami Gambar dan kurangnya kontrol
terhadap pekerja sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana
untuk memperbaiki dengan biaya sendiri.
7. Kesalahan dan cacat pekerjaan yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana
karena lemahnya pengawasan dan kontrol oleh Konsultan Supervisi dan
bukan atas dasar perintah tertulis dari Konsultan Supervisi tetap menjadi
tanggung jawab Kontraktor Pelaksana untuk memperbaikinya.
8. Kerusakan dan cacat pada bangunan akibat pemakaian atau sebab-sebab
lain tanpa ada unsur-unsur kesengajaan yang dapat dibuktikan dalam masa
pemeliharaan bangunan tetap menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


untuk memperbaikinya dengan biaya sendiri kecuali ditentukan lain dalam
Kontrak Kerja.
9. Konsultan Supervisi berhak setiap saat memerintahkan Kontraktor Pelaksana
untuk memperbaiki kesalahan pekerjaan atau pekerjaan cacat pada masa
pelaksanaan.
10. Hasil perbaikan terhadap kesalahan pekerjaan dan pekerjaan cacat harus
disetujui oleh Konsultan Supervisi.
Pasal 19

: Penyelesaian Dan Serah Terima Pekerjaan


1. Setelah pekerjaan dianggap terlaksana 100% berdasarkan Progress 100%
yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dan telah disetujui oleh Konsultan
Supervisi dan Owner , maka Konsultan Supervisi Kontraktor Pelaksana dan
Owner bersama-sama menandatangani Berita Acara Serah Terima Pertama
( PHO ) kecuali ditentukan lain oleh Owner.
2. Sebelum Berita Acara Serah Terima Pertama ditandatangani berdasarkan
klaim progress 100% yang diajukan Kontraktor Pelaksana, maka Konsultan
Supervisi, Kontraktor Pelaksana dan Owner bersama-sama melakukan
Pemeriksaan Lapangan.
3. Pekerjaan-pekerjaan cacat, tidak sempurna dan tidak sesuai kualitas maupun
kuantitas terutama dari segi fungsi bangunan yang ditemukan dalam
Pemeriksaan Lapangan adalah menjadi kewajiban Kontraktor Pelaksana
memperbaikinya sebelum Serah Terima Pertama ditandatangani dan hal ini
harus dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan dalam bentuk Daftar
Pekerjaan Cacat.
4. Kontraktor pelaksana juga harus menyerahkan Asbuilt Drawing dan Buku
Petunjuk Penggunaan Bangunan (Hand Book) yang telah disetujui oleh
Konsultan Perencana, Konsultan Supervisi dan Owner sebelum Berita Acara
Serah Terima Pertama ditandatangani.
5. Konsultan Supervisi akan mengeluarkan rekomendasi tertulis akan realisasi
perbaikan dari semua item dalam Daftar Pekerjaan Cacat dan Asbuilt Drawing
yang telah selesai dilaksanakan oleh Kontraktor Pelaksana untuk keperluan
penandatanganan Berita Acara Serah Terima Pertama (PHO).
6. Setelah masa pemeliharaan dilampaui dan sesudah semua perbaikanperbaikan

dilaksanakan

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

dengan

baik,

Konsultan

Supervisi

akan

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


mengeluarkan rekomendasi tertulis mengenai selesainya pekerjaan dan
perbaikan yang berarti Serah Terima Kedua ( FHO ) kedua dari pihak
Kontraktor Pelaksana kepada Owner.
Pasal 20

: Pemamfaatan Bangunan Oleh Pemilik/Pengguna Bangunan


1. Pemafaatan dan penggunaan bangunan oleh Pemilik Bangunan hanya boleh
dilakukan setelah Berita Acara Serah Terima antara Owner (Pemberi Tugas)
dengan Pemilik/Bangunan ditanda tangani.
2. Pemilik Bangunan tidak boleh menempati, menggunakan bangunan dan
memamfaatkan semua fasilitas yang ada dalam bangunan selama bangunan
masih dalam proses Serah Terima antara Kontraktor Pelaksana dengan
Owner.
3. Pemamfaatan bangunan oleh siapapun sebelum Serah Terima antara Owner
dan Pemilik Bangunan ditandatangani harus dengan persetujuan Owner dan
Kontraktor Pelaksana.
4. Kontraktor Pelaksana bertanggung jawab penuh terhadap perbaikan dengan
biaya sendiri semua cacat dan kerusakan yang timbul akibat penggunaan
bangunan oleh Pemilik Bangunan yang telah disetujuinya bersama dengan
Owner.

Pasal 21

: Penanggung Jawab Pengawasan


1. Berdasarkan Kontrak Kerja yang dibuat oleh Owner dengan Penyedia Jasa
Konsultasi, maka Konsultan Supervisi untuk proyek seperti yang disebutkan
dalam BAB I diatas adalah Perusahaan seperti yang disebutkan dalam
Kontrak Kerja Konsultan Supervisi.
2. Tugas dan kegiatan Konsultan Supervisi adalah seperti yang disebutkan
dalam Keputusan Menteri Permukiman Dan Prasarana Wilayah Nomor :
332/KPTS/M/2002 Tanggal 21 Agustus 2002 Tentang Penyedia Jasa
Pengawas Konstruksi atau menurut perubahannya jika ada kecuali ditentukan
lain oleh Owner dalam Kontrak Kerja konsultan Supervisi.
3. Konsultan Supervisi harus mengajukan struktur organisasi pengawasan
lapangan proyek kepada Konsultan Manajemen Konstruksi dan Owner
dimana didalamnya tercantum beberapa tenaga ahli Konsultan Supervisi
dengan posisi minimal seperti berikut atau seperti yang diajukan :

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


Site Enggineer/Leader;
Inspector;
Quantity Surveyor;
Quality Engineer;
Tenaga Administrasi; dan
Operator Computer.
4.

Semua tenaga ahli yang namanya tercantum


dalam struktur organisasi pengawasan lapangan proyek yang diajukan oleh
Konsultan Supervisi harus berada dilokasi pekerjaan minimal selama jam
kerja.

5. Konsultan Supervisi harus menyerahkan Struktur Organisasi pengawasan


lapangan proyek yang telah disetujui oleh Owner kepada Kontraktor
Pelaksana.
6. Pengantian tenaga ahli oleh Konsultan Supervisi selama proses pelaksanaan
pekerjaan harus diketahui dan disetujui oleh Owner.
7. Leader harus mengajukan ijin tertulis kepada Owner jika hendak
meninggalkan lokasi pekerjaan dalam jangka waktu lebih dari 3 hari.
8. Kontraktor Pelaksana berhak mengajukan kepada Owner untuk pengantian
tenaga ahli Konsultan Supervisi yang berada dilokasi pekerjaan jika tenaga
ahli tersebut dinilai menghambat pekerjaan dan tidak mampu menjalankan
tugasnya dengan baik.
9. Tenaga ahli yang ditempatkan dilokasi pekerjaan oleh Konsultan Supervisi
harus mampu memberikan keputusan yang bersifat teknis di lokasi pekerjaan.
10. Konsultan Supervisi harus membuat laporan mingguan dan laporan bulanan
kepada Owner atas segala hal yang menyangkut pelaksanaan pekerjaan oleh
Kontraktor pelaksana.
11. Bentuk, format, dan isi laporan Konsultan Supervisi adalah berdasarkan hasil
diskusi dengan Owner.
Pasal 22

: Instruksi Konsultan Supervisi


1. Kontraktor Pelaksana harus mematuhi dan melaksanakan semua instruksi
atau perintah yang dikeluarkan oleh Konsultan Supervisi yang berhubungan
dengan pelaksanaan pekerjaan.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


2. Semua instruksi yang dikeluarkan oleh Konsultan Supervisi harus dalam
bentuk tulisan.
3. Instruksi Konsultan Supervisi dalam bentuk lisan dibenarkan dan harus diikuti
oleh Kontraktor Pelaksana selama disertai oleh alasan-alasan yang jelas dan
sesuai dengan Spesifikasi Teknis.
4. Instruksi dari Konsultan Supervisi dapat berupa hal-hal seperti disebutkan
dibawah ini :
5. Teguran

atas

sesuatu

cara

pelaksanaan

yang

salah

sehingga

membahayakan bagi konstruksi, atau pekerjaan finishing yang kurang baik


atau hal-hal lain yang menyimpang dari Spesifikasi Teknis dan Gambar
Bestek.
6. Perintah untuk menyingkirkan material/bahan bangunan yang tidak sesuai
dengan Spesifikasi Teknis.
7. Perintah untuk mengantikan Pelaksana lapangan dari Kontraktor Pelaksana
yang dianggap kurang mampu.
8. Perintah untuk melakukan penambahan tenaga kerja dengan alasan untuk
mempercepat proses pelaksanaan pekerjaan.
9. Perintah untuk melakukan perubahan-perubahan pada metode pelaksanaan
Kontraktor Pelaksana yang dianggap tidak tepat sehingga dapat mengurangi
kualitas dan memperlambat proses penyelesaian pekerjaan.
Pasal 25

: Perubahan-Perubahan Disain Dan Perbedaan-Perbedaan


1. Konsultan Perencana dan Konsultan Supervisi dengan persetujuan Owner
berhak mengadakan perubahan-perubahan pada Gambar Bestek, Spesifikasi
Teknis dan Bill of Quantity yang wajib dilaksanakan oleh Kontraktor
Pelaksana.
2. Kontraktor Pelaksana dengan alasan apapun tidak boleh melakukan
perubahan pada Gambar Bestek, Spesifikasi Teknis dan Bill of Quantity tanpa
persetujuan Konsultan Supervisi atau Konsultan Perencana.
3. Perubahan-perubahan akan Gambar Bestek dan Spesifikasi Teknis harus
disampaikan

secara

tertulis

kepada

Kontraktor

Pelaksana

untuk

dilaksanakan.
4. Perubahan-perubahan pada Gambar Bestek dan Spesifikasi Teknis yang
dilakukan oleh Konsultan Supervisi, Konsultan Perencana, dan Owner secara

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


lisan atau tidak tertulis tidak wajib untuk dilaksanakan oleh Kontraktor
Pelaksana. Resiko karena melaksanakan Instruksi tidak tertulis sepenuhnya
menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.
5. Perubahan-perubahan akan Gambar Bestek dan Spesifikasi Teknis tidak
boleh menambah biaya pelaksanaan pekerjaan secara keseluruhan dari
biaya pelaksanaan yang ada dalam Kontrak Kerja kecuali ditentukan lain
dalam Kontrak Kerja atau oleh Owner.
6. Perhitungan kuantitas/volume pekerjaan dan biaya karena perubahan
Gambar Bestek dan Spesifikasi Teknis dilakukan oleh Konsultan Perencana
diketahui oleh Konsultan Manajemen Konstruksi dan disetujui oleh Owner.
7.

Kontraktor berhak memeriksa hasil perhitungan akan kuantitas/volume


pekerjaan dan biaya yang dilakukan oleh Konsultan Perencana.

7. Jika dalam pelaksanaan pekerjaan ditemukan ketidak sesuaian antara


Gambar Bestek, Spesifikasi Teknis, dan Bill of Quantity Konsultan Supervisi
tidak dibenarkan mengambil keputusan secara sepihak tetapi harus
melaporkannya kepada Konsultan Manajemen Konstruksi untuk tindakan
selanjutnya.
8. Konsultan Supervisi dengan persetujuan Owner berhak menentukan acuan
mana yang harus dipegang bila terjadi perbedaan antara Gambar Bestek,
Spesifikasi Teknis, dan bill of Quantity kecuali ditentukan lain dalam Kontrak
Kerja.
9. Kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja atau oleh Owner, jika terjadi
perbedaan antara Gambar Bestek, Spesifikasi Teknis dan Bill of Quantity
maka urutan acuan yang harus dipegang ditentukan seperti berikut :

1.

Kontrak Kerja;

2.

Bill of Quantity;

3.

Gambar Bestek serta Gambar Revisi; dan

4.

Spesifikasi Teknis.
Pasal 26

: Struktur Organisasi Proyek


1. Struktur Organisasi Proyek dibuat oleh Owner.
2. Struktur Organisasi Proyek harus dapat menjelaskan secara umum hubungan
antara semua pihak yang terlibat dalam proyek.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


3. Struktur Organisasi Proyek adalah pedoman administratif yang harus diikuti
oleh semua pihak yang terlibat dalam proyek.
4. Perubahan-perubahan pada Struktur Organisasi Proyek harus segera
diberitahukan secara tertulis kepada semua pihak yang terlibat dalam proyek.
5. Struktur Organisai Proyek dibuat dalam format kertas A3 dan diletakan pada
posisi yang mudah dilihat dan dibaca pada Direksi Keet ( Kantor Konsultan
Supervisi ) dan Kantor Kontraktor Pelaksana.
Pasal 27

: Ketentuan Lain
1. Spesifikasi Teknis ini adalah ketentuan yang mengikat bagi Kontraktor
Pelaksana dan merupakan bagian dari Kontrak Kerja yang harus dipatuhi dan
dilaksanakan.
2. Semua aturan dan persyaratan yang terdapat dalam Spesifikasi Teknis harus
dipatuhi dan dilaksanakan oleh Kontraktor Pelaksana walaupun hal tersebut
tidak disebutkan dalam Gambar Bestek dan Bill of Quantity kecuali ditentukan
lain dalam Kontrak Kerja atau dengan Persetujuan Owner.
3. Jika terjadi perbedaan antara aturan yang terdapat dalam Spesifikasi Teknis
dan aturan dalam Kontrak Kerja maka aturan yang menjadi acuan adalah
aturan yang terdapat dalam Kontrak Kerja.
4. Hal-hal yang belum ditentukan dalam Spesifikasi Teknis ini akan ditentukan
kemudian oleh Konsultan Perencana dan Owner dalam proses pelaksanaan
pekerjaan dan menjadi satu ketentuan yang mengikat serta wajib diikuti oleh
Kontraktor Pelaksana.
5. Hal-hal yang ditentukan kemudian tersebut harus tetap mengacu pada
Kontrak Kerja yang telah ada.
6. Konsultan Perencana dengan persetujuan Owner dapat mengubah sebagian
besar atau sebagian kecil aturan yang terdapat dalam Spesifikasi Teknis dan
Kontraktor Pelaksana wajib mengikuti aturan perubahan tersebut.

BAB III PEKERJAAN MOBILISASI & DEMOBILISASI


Pasal 1

: Uraian Mobilisasi
Cakupan kegiatan mobilisasi yang diperlukan dalam Kontrak ini akan tergantung
pada jenis dan volume pekerjaan yang harus dilaksanakan, sebagaimana
disyaratkan di bagian-bagian lain dari Dokumen Kontrak, dan secara umum harus
memenuhi ketentuan berikut :

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


1. Penyewaan dan pembelian sebidang tanah yang diperlukan untuk Base
Camp Kontraktor Pelaksana.
2. Mobilisasi semua Staf / Personil Kontraktor Pelaksana dan Pekerja yang
diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan.
3. Mobilisasi dan pemasangan peralatan sesuai dengan Daftar Peralatan yang
tercantum dalam Penawaran.
4. Penyedian dan Pemeliharaan Base Camp Kontraktor Pelaksana, jika
diperlukan Kantor Lapangan , Tempat Tinggal Staf, Barak Pekerja, Bengkel
Kerja, Gudang dan sebagainya.
Pasal 2

: Periode Mobilisasi
1. Jika tidak ditentukan dalam Kontrak Kerja Pekerjaan Mobilisasi harus sudah
selesai dalam jangka waktu 30 hari terhitung sejak tanggal Surat Perintah
Mulai Kerja.
2. Kontraktor Pelaksana harus menyerahkan Jadwal / Program Detail Mobilisasi
kepada Konsultan Supervisi, Konsultan manajemen dan Owner maksimal 7
hari terhitung sejak tanggal Surat Perintah Mulai Kerja.

Pasal 3

: Demobilisasi
1. Yang termasuk dalam pekerjaan ini adalah Pembongkaran Tempat Kerja
termasuk pemindahan semua Instalasi, Peralatan dan Perlengkapan
Kontraktor Pelaksana dari Tanah Milik Pemerintah serta pengembalian
kondisi tempat kerja menjadi kondisi seperti semula sebelum pekerjaan
dimulai.

BAB IV

PEKERJAAN PERSIAPAN

Pasal 1

: Papan Nama Proyek


1. Kontraktor harus membuat dan memasang Papan Nama Proyek yang
memuat tentang identitas proyek.
2. Papan nama proyek mengunakan ukuran minimal 150 cm x 100 cm kecuali
ditentukan lain oleh Owner.
3. Papan nama proyek rangka dan kakinya terbuat dari kayu dengan kualitas
terbaik sehingga sanggup bertahan minimal sampai selesainya pengerjaan
proyek. Latar papan nama dapat berupa papan kayu tebal minimal 2 cm atau

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


multiplek dengan tebal minimal 12 mm. Penggunaan bahan dan material lain
harus dengan persetujuan Konsultan Supervisi.
4.

Papan nama proyek belatar belakang putih dengan tulisan warna hitam,
kecuali untuk logo atau simbul dapat dipakai warna yang bervariasi.

5. Papan nama proyek harus mencantumkan Instansi Penyandang Dana,


Instansi Pemilik Bangunan, Kontraktor Pelaksana, Konsultan Perencana dan
Konsultan Supervisi.
6. Papan juga harus mencantumkan besar anggaran pelaksanaan proyek,
waktu mulai proyek, dan waktu penyelesaian proyek.
Pasal 2

: Instalasi Air Bersih Dan Instalasi Listrik Sementara


1. Kontraktor Pelaksana atas biaya sendiri harus menyediakan Instalasi air
bersih dan Instalasi listrik sementara selama berlangsungnya masa
pelaksanaan pekerjaan untuk keperluan operasional dan keperluan
pekerjaan-pekerjaan konstruksi.
2. Kontraktor tidak dibenarkan menggunakan Instalsi Listrik dan Instalsi Air
Bersih dan Sumber Air Bersih yang telah ada dilokasi pekerjaan tanpa
persetujuan Konsultan Supervisi dan Owner.

Pasal 3

: Perlengkapan Keamanan Kerja Dan P3K


1. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan perlengkapan keamanan kerja
untuk semua pekerja yang berada dalam lokasi pekerjaan dan tamu yang
berkunjung kelokasi pekerjaan.
2. Perlengkapan keamanan kerja dapat berupa alat-alat seperti berikut ini :

1.

Helm Pelindung Kepala;

2.

Sepatu untuk melindungi kaki;

3.

Pemadam Kebakaran; dan

4.

Kotak P3K untuk pertolongan pertama pada kecelakaan kerja.


3. Jika terjadi kecelakaan kerja di lokasi pekerjaan yang berhubungan dengan
pelaksanaan pekerjaan maka Kontraktor Pelaksana diwajibkan mengambil
segala tindakan guna kepentingan si korban.
4. Semua biaya yang diperlukan untuk perawatan dan pengobatan korban
kecelakaan dilokasi pekerjaan menjadi tanggungan Kontraktor Pelaksana.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


5. Yang dimaksud dengan korban dilokasi pekerjaan yang menjadi tanggung
jawab Kontraktor pelaksana adalah :
a. Personil atau semua tenaga kerja Kontraktor Pelaksana;
b. Personil Konsultan Manajemen Konstruksi;
c. Personil Konsultan Perencana;
d. Personil Konsultan Supervisi.;
e. Owner dan para wakilnya;
f.

Tamu yang berkunjung kelokasi pekerjaan; dan

g. Orang yang berada dalam lokasi pekerjaan dengan ijin dan


sepengetahuan Kontraktor Pelaksana.
Pasal 4

: Penjaga Keamanan Lokasi Pekerjaan


1. Kontraktor Pelaksana dengan biaya sendiri harus menyediakan tempat/pos
penjaga keamanan lokasi pekerjaan beserta minimal 2 orang penjaga
keamanan yang bekerja selama 24 jam.
2. Bangunan Pos penjaga keamanan lokasi pekerjaan bentuk dan dimensinya
ditentukan oleh Kontraktor Pelaksana.
3. Bangunan Pos penjaga keamanan lokasi pekerjaan tidak boleh berada di
dalam lokasi pekerjaan.

BAB V PEKERJAAN AWAL & PEMBERSIHAN


Pasal 1

: Pembersihan Lapangan
1. Kontraktor Pelaksana harus membersihkan lokasi pekerjaan dari segala
sesuatu yang dapat menggangu pelaksanaan pekerjaan seperti bangunan
lama, hasil bongkaran bangunan lama, pepohonan, semak belukar, dan tanah
humus.
2. Kontraktor Pelaksana harus melakukan pengupasan terhadap tanah humus
setebal minimal 20 - 30 cm sebelum dilakukan pekerjaan konstruksi.
3. Yang dimaksud dengan Muka Tanah Dasar pada Gambar Bestek adalah
muka tanah yang telah bersih dari pepohonan, semak belukar, dan lapisan
tanah humus atau muka tanah timbun yang telah dipadatkan kecuali
diitentukan lain dalam Gambar Bestek.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


4. Hasil bongkaran bangunan lama dan pengupasan tanah humus tidak boleh
dipakai sebagai material timbunan atau diolah kembali untuk dipakai sebagai
material bangunan.
5. Material yang dihasilkan dari bongkaran bangunan lama dan pengupasan
lapisan humus harus dikeluarkan dari lokasi pekerjaan dan dibuang sejauh
mungkin dari lokasi pekerjaan atau ketempat yang tidak menggangu
lingkungan hidup.
6. Hasil bongkaran bangunan lama dan pengelupasan lapisan humus tidak
boleh berada dilokasi pekerjaan lebih dari 3 (tiga) hari.
Pasal 2

: Rekayasa Lapangan / Review Disain


1. Rekayasa Lapangan / Review Disain adalah sesuai dengan aturan yang ada
dalam Kontrak Kerja.
2. Jika tidak ditentukan dalam Kontrak Kerja maka Rekayasa Lapangan /
Review Disain adalah dengan persetujuan Owner dan sifat Kontrak Kerja
mengizinkan untuk itu.
3. Selama 30 hari pertama sejak periode mobilisasi. Kontraktor Pelaksana harus
mengerahkan Personil Teknik untuk melakukan survey Lapangan dan
membuat Laporan untuk keperluan Rekayasa Lapangan / Review Disain

Pasal 3

: Penentuan Letak Bangunan ( Setting Out )


1. Kontraktor Pelaksana harus melakukan Seetting Out atau pengukuran
kembali akan kebenaran posisi bangunan yang akan dibangun seperti yang
telah ada dalam Lay Out bangunan pada Gambar Bestek.
2. Pekerjaan Setting Out yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana harus
diketahui dan didampinggi oleh Konsultan Supervisi, Konsultan Perencana,
Owner dan Pemilik Bangunan.
3. Pekerjaan Setting Out tidak boleh dilakukan secara manual tetapi harus
menggunakan alat ukur seperti Theodolit dan Waterpas.
4. Hasil pekerjaan Setting Out harus menghasilkan satu ketetapan bersama
yang pasti akan elevasi tanah, elevasi bangunan, posisi penempatan
bangunan dan batas-batas lahan kerja. Ketetapan akan elevasi dan posisi
bangunan harus direalisasikan dilapangan dengan memasang patok-patok
sementara dari kayu ukuran 5/7 cm yang ditanam minimal 30 cm dalam tanah
dan ujungnya ditandai dengan cat minyak.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


5. Hasil pekerjaan Seetting Out tidak boleh berbeda dengan Lay Out bangunan
yang ada dalam Gambar Bestek kecuali dengan alasan-alasan kondisi lahan
existing yang berubah dan alasan-alasan teknis yang disetujui oleh Konsultan
Perencana atau Konsultan Supervisi.
7. Perubahan-perubahan posisi bangunan karena alasan keterbatasan lahan
atau berubahanya kondisi existing lahan harus disetujui oleh Konsultan
Perencana, Konsultan Supervisi dan Owner.
8. Kontraktor Pelaksana harus membuat gambar hasil pekerjaan Seeting Out
dan disetujui oleh Konsultan Perencana, Konsultan Supervisi dan Owner.
Pasal 5

: Pagar Pelindungan Lokasi Pekerjaan


1. Jika diperlukan dan ditentukan dalam Kontrak Kerja Kontraktor Pelaksana
harus melindungi lokasi pekerjaan selama berlangsungnya pekerjaan
konstruksi dari ganguan luar.
2. Bentuk perlindungan tersebut dapat berupa Pagar Seng BJLS 0,20 mm
dengan rangka kayu setinggi 2 meter dari muka tanah dan dicat dengan rapi.
3. Pagar Pelindung lokasi pekerjaan harus segera dibuat setelah hasil pekerjaan
Setting Out disetujui oleh Konsultan Supervisi, Konsultan Perencana dan
Owner.

Pasal 6

: Pemasangan Bouwplank
1. Kontraktor Pelaksana harus melakukan pemasangan Bouwplank sebagai
acuan tetap pada semua bangunan yang akan dikerjakan termasuk
septictank dan Ground Resevoir.
2. Jarak pemasangan bouwplank dari struktur terluar bangunan yang akan
dibangun minimal 1 m dan maksimal 2 m.
3. Bouwplank dibuat dari tiang-tiang kayu ukuran 5/7 cm yang ditanam dalam
tanah minimal 40 cm dan dengan jarak maksimal setiap tiang adalah 2 meter.
Untuk keperluan acuan elevasi dipakai papan kayu 2,5/25 cm atau kayu
ukuran 2,5/7 cm yang dipaku pada tiang-tiang kayu 5/7 cm.
4. Bouwplank harus mempunyai posisi dan elevasi yang tetap terhadap
bangunan yang akan dibangun dan tidak boleh berubah posisi dan elevasinya
sebelum struktur bangunan yang paling rendah seperti pondasi dan sloof
selesai dikerjakan.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


5. Posisi penempatan bouwplank harus sesuai dengan hasil pekerjaan Seeting
Out.
6. Hasil pekerjaan pemasangan bouwplank harus disetujui oleh Konsultan
Supervisi.
Pasal 7

: Pembersihan Akhir
1. Pada saat penyelesaian pekerjaan, tempat kerja harus ditinggal dalam
keadaan bersih dan siap untuk dipakai Pemilik.
2. Kontraktor Pelaksana juga harus mengembalikan bagian-bagian dari tempat
kerja yang tidak diperuntukan dalam Dokumen Kontrak kr kondisi semula

BAB VI PEKERJAAN TANAH DAN PASIR


Pasal 1

: Tanah Timbun
1. Sebelum dilakukan pekerjaan timbunan tanah atau perbaikan tanah
Kontraktor Pelaksana harus memastikan pekerjaan galian tanah pondasi
telah selesai 100% dan disetujui oleh Konsultan Supervisi.
2. Material timbunan adalah tanah gunung yang gembur tidak berbungkahbungkah, bukan tanah liat, bukan tanah sawah, bukan hasil bongkaran
bangunan lama, bukan pasir laut, bukan pasir urug dan bukan pasir beton.
3. Material timbunan adalah tanah yang mudah dipadatkan.
4. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan Request Material timbunan tanah
kepada Konsultan Supervisi sebelum material tersebut didatangkan ke lokasi
pekerjaan.
5. Material timbunan yang akan dipakai harus melalui proses pemeriksaan dan
penelitian di Laboratorium Mekanika Tanah.
6. Tanah timbun harus mempunyai sifat-sifat fisik dan daya dukung yang
minimal sama atau lebih baik dari lapisan tanah dibawahnya setelah
dipadatkan.
7. Material timbunan tanah harus dipadatkan lapisan demi lapisan dengan Alat
Stamper. Tebal minimal tiap lapisan adalah 30 cm.
8. Kepadatan timbunan pada lapisan terbawah harus mencapai 95% dari
standar proctor laboratorium pada kadar air optimum dengan pemeriksaan
kepadatan standar.
9. Hasil pemadatan tanah harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


10. Kontraktor Pelaksana harus membuktikan nilai kepadatan yang disyaratkan
dengan percobaan langsung dilokasi pekerjaan.
11. Metode dan cara pembuktian kepadatan langsung dilokasi pekerjaan harus
disetujui oleh Konsultan Supervisi.
12. Tidak dibenarkan mengerjakan pekerjaan lain diatas permukaan tanah
timbunan sebelum pekerjaan timbunan dan pemadatan tanah selesai 100%
serta disetujui oleh Konsultan Supervisi.
Pasal 2

: Pasir Urug
1. Pasir Urug hanya dipergunakan untuk urugan bawah lantai bangunan
,timbunan , pasir alas pondasi batu gunung serta alas pekerjaan lantai kerja
beton ( Line Concrete ) Pondasi Plat Lantai Beton.
2. Pasir Urug tidak untuk digunakan pada pekerjaan beton struktural dan beton
non struktural.
3. Pasir Urug terdiri dari butiran-butiran yang keras dan bersifat kekal.
4. Pasir urug harus berasal dari pasir sungai dan bukan pasir laut.
5. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 10 % dari berat keringnya.
6. Pasir urug harus dipadatkan dengan alat pemadat Stemper hingga mencapai
kepadatan yang disetujui oleh Konsultan Supervisi atau jenuh air sebelum
dilakukan pekerjaan lain diatasnya.
7.

Pasal 3

Hasil pemadatan tanah harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

: Galian Pondasi Tapak Dan Sumuran


1. Sebelum dilakukan pekerjaan galian pondasi tapak Kontraktor Pelaksana
harus memastikan lokasi disekitar penggalian bersih dari pepohonan, semak
belukar, dan tanah humus.
2. Posisi galian pondasi harus tepat benar dengan posisi perletakan bangunan
menurut hasil Setting Out atau Lay Out daerah galian pondasi yang ada
dalam Gambar Bestek.
3. Pekerjaan galian pondasi tidak boleh merusak struktur tanah disekitar galian
pondasi.
4. Bentuk galian dan kedalaman galian pondasi plat lantai sesuai dengan
Gambar Bestek.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


5. Walaupun tidak ditentukan dalam Gambar Bestek dan diperhitungkan dalam
Bill of Quantity, pengalian pondasi harus mempunyai lebar yang cukup untuk
membangun maupun memindahkan rangka/beskiting yang diperlukan dan
juga untuk mengadakan pembersihan.
6. Jika diperlukan oleh Konsultan Supervisi, Kontraktor Pelaksana harus
membuat Shop Drawing untuk pekerjaan galian pondasi plat lantai ini untuk
kemudahan pekerjaan dilapangan.
7. Pengalian pondasi dapat dilakukan dengan alat berat atau secara manual
oleh para pekerja.
8. Kesalahan pengalian sehingga kedalaman galian melebihi dari kedalaman
yang diperlukan, maka kelebihi kedalaman tersebut harus diurug kembali
dengan biaya sendiri dari Kontraktor Pelaksana.
9. Dasar galian yang telah selesai digali harus dipadatkan kembali dengan alat
pemadat sehingga mencapai kepadatan yang cukup menurut Konsultan
Supervisi.
10. Jika pada saat pengalian ditemukan akar-akar tumbuhan lama atau puingpuing bangunan lama maka akar dan puing tersebut harus diangkat serta
diurug kembali denga pasir urug hingga mencapai elevasi kedalaman yang
diperlukan.
11. Hasil galian pondasi yang akan dipakai kembali untuk urugan pondasi harus
ditempatkan dengan jarak tertentu sehingga tidak masuk kembali kedalam
lubang galian dan tidak menggangu pekerjaan konstruksi pondasi.
12. Dimensi, ukuran, dan kedalaman galian harus tetap dan tidak berubah
sebelum pekerjaan konstruksi pondasi plat lantai selesai dikerjakan.
13. Kontraktor Pelaksana harus membuat dinding penahan tanah sementara jika
tanah disekitar galian adalah tanah agresif, labil, dan mudah runtuh sehingga
membahayakan pekerjaan pengalian.
14. Hasil pekerjaan galian pondasi harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.
Pasal 4

: Galian Pondasi Batu Gunung


1. Sebelum dilakukan pekerjaan galian pondasi Kontraktor Pelaksana harus
memastikan lokasi disekitar pengalian bersih dari pepohonan, semak belukar,
dan tanah humus.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


1.Posisi galian pondasi harus tepat benar dengan posisi perletakan bangunan
menurut hasil Setting Out atau Lay Out daerah galian pondasi yang ada
dalam Gambar Bestek.
2.Bentuk galian dan kedalaman galian pondasi sesuai dengan Gambar Bestek.
3.Pengalian pondasi dapat dilakukan dengan alat berat atau secara manual oleh
para pekerja.
4.Kesalahan pengalian sehingga kedalaman galian melebihi dari kedalaman yang
diperlukan, maka kelebihi kedalaman tersebut harus diurug kembali dengan
biaya sendiri dari Kontraktor Pelaksana.
5.Dasar galian yang telah selesai digali harus dipadatkan kembali dengan alat
pemadat sehingga mencapai kepadatan yang cukup menurut Konsultan
Supervisi.
7. Jika pada saat pengalian ditemukan akar-akar tumbuhan lama atau puingpuing bangunan lama maka akar dan puing tersebut harus diangkat serta
diurug kembali denga pasir urug hingga mencapai elevasi kedalaman yang
diperlukan.
8. Hasil galian pondasi yang akan dipakai kembali untuk urugan pondasi harus
ditempatkan dengan jarak tertentu sehingga tidak masuk kembali kedalam
lubang galian dan tidak menggangu pekerjaan konstruksi pondasi.
9. Dimensi, ukuran, dan kedalaman galian harus tetap dan tidak berubah
sebelum pekerjaan konstruksi pondasi plat lantai selesai dikerjakan.
10. Kontraktor Pelaksana harus membuat dinding penahan tanah sementara jika
tanah disekitar galian adalah tanah agresif, labil, dan mudah runtuh sehingga
membahayakan pekerjaan pengalian.
13. Hasil pekerjaan galian pondasi harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.
Pasal 5

: Urugan Galian Pondasi


1. Urugan galian pondasi dikerjakan setelah pekerjaan konstruksi pondasi
selesai dikerjakan 100%.
2. Untuk urugan pondasi dapat digunakan tanah hasil galian pondasi atau
material lain yang disetujui oleh Konsultan supervisi.
3. Jika untuk urugan pondasi dipakai tanah lain dan bukan tanah hasil galian
pondasi maka tanah tersebut harus melalui proses pemeriksaan di
Laboratorium Tanah sebelum dipakai sebagai material urugan pondasi dan

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


hal ini harus diketahui serta disetujui oleh Konsultan Supervisi. Semua biaya
yang dikeluarkan untuk pengadaan material tanah dan proses pemeriksaan di
Laboratorium Tanah dibebankan kepada Kontraktor Pelaksana.
4. Tanah Humus atau tanah hasil pembersihan lapangan setebal 30 cm dari
muka tanah dasar tidak boleh digunakan sebagai urugan pondasi.
5. Tanah urugan pondasi harus dipadatkan dengan alat pemadat Stemper atau
alat lain yang disetujui oleh Konsultan supervisi.
6. Pemadatan dilakukan lapis berlapis dengan ketebalan minimal setiap
lapisanya adalah 30 cm.
7. Hasil pekerjaan urugan pondasi harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

BAB VII PEKERJAAN PONDASI


Pasal 1

: Pasir Pasang / Pasir Halus


1. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir dengan ukuran butiran halus dan tidak
lagi memerlukan proses penyaringan/ayakan jika hendak digunakan.
2. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah apsir yang dipakai untuk keperluan
Pasangan Batu Gunung, Pasangan Batu Bata, Pasangan Keramik, dan
Plasteran Dinding.
3. Pasir Pasang tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering,
apabila pasir pasang tersebut mengandung Lumpur lebih dari 5% maka pasir
tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.
4. Pasir Pasang/Pasir Halus harus mempunyai butiran yang tajam dan keras.
5. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari
6. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir yang berasal dari Sungai dan bukan
Pasir yang berasal dari laut.

Pasal 2

: Lapisan Pondasi Batu Kosong / Aanstamping


1. Batu Gunung yang dipergunakan harus berkualitas baik dari jenis yang keras,
tidak berlubang dan forius.
2. Batu Gunung harus bersih dan tidak boleh mengadung atau menempel tanah
dan lumut pada permukaannya.
3. Tidak dibenarkan mengunakan batu karang sebagai pasangan batu kosong,
pasangan pondasi dan pasangan dinding saluran air kotor.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


4. Ukuran maksimal batu gunung adalah 10 - 15 cm atau sesuai dengan
ketebalan lapisan pasangan batu pada Gambar Bestek.
5. Penggunaan material lain selain batu gunung untuk keperluan pondasi,
pasangan batu kosong dan saluran air kotor harus dengan persetujuan
Konsultan Supervisi.
7. Lapisan Batu kosong dipasang dengan cara disusun dengan rapi satu demi
satu sesuai ketebalan lapisan rencana.
8. Untuk merekatkan atau memperkuat susunan batu dalam celahcelah
susunan batu diisi pasir halus.
9. Permukaan akhir bagian atas susunan batu harus mempunyai elevasi yang
seragam, hal ini harus dibuktikan dengan pekerjaan Waterpassing.
Pasal 3

: Pondasi Batu Gunung


1. Batu Gunung yang dipergunakan harus berkualitas baik dari jenis yang keras,
tidak berlubang dan forius.
2. Batu Gunung harus bersih dan tidak boleh mengadung atau menempel tanah
dan lumut pada permukaannya.
3. Tidak dibenarkan mengunakan batu karang sebagai pasangan batu kosong,
pasangan pondasi dan pasangan dinding saluran air kotor.
4. Untuk keperluan pondasi ukuran maksimal batu gunung adalah 25 cm.
5. Untuk keperluan pasangan Aanstamping/Batu Kosong ukuran maksimal batu
gunung adalah 7 cm.
6. Untuk keperluan pasangan dinding saluran air kotor ukuran maksimal Batu
Gunung adalah 7 cm.
10. Penggunaan material lain selain batu gunung untuk keperluan pondasi,
pasangan batu kosong dan saluran air kotor harus dengan persetujuan
Konsultan Supervisi.
11. Pondasi batu gunung dipasang dengan cara diprofilkan sesuai Gambar
Bestek dengan perekat spesi campuran 1 pc : 4 Ps.
12. pasir yang dipakai adalah Pasir Pasang/Pasir Halus.
13. Pasangan Pondasi dilakukan lapis demi lapis, Antara batu dengan batu harus
diberi spesi (antara batu dengan batu tidak boleh bersentuhan langsung
tanpa spesi), dan rongga-rongga diisi dengan batu yang sesuai dengan
besarnya serta spesi secukupnya.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


14. Permukaan bagian atas Pondasi Batu Gunung harus rata (Water Pass), diberi
spesi dan dikasarkan (digaris-garis silang). Pada tempat-tempat yang akan
dipasang kolom praktis harus diberi stick besi beton.
Pasal 4

: Lantai Kerja / Line Concrete


1. Semua komponen struktur dari beton dan beton bertulang yang berhubungan
langsung dengan tanah harus dikerjakan diatas lantai kerja/line concrete.
2. Lantai kerja dibuat dari beton dengan campuran 1 SM : 3 PS : 6 KR atau
seperti yang dijelaskan dalam Gambar Bestek serta Bill of Quantity.
3. Tebal lantai kerja minimal 5 cm atau sesuai Gambar Bestek.
4. Pekerjaan pengecoran lantai kerja tidak boleh dilakukan dalam kondisi
tergenang air.
5. Hasil pekerjaan lantai kerja harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

Pasal 5

: Pondasi Tapak
1. Sebelum pekerjaan pondasi tapak dilakukan Kontraktor Pelaksana harus
memastikan dan disetujui oleh Konsultan Supervisi bawah pekerjaan galian
tanah sudah selesai 100%.
2. Mutu Beton Pondasi Tapak adalah seperti yang ditentukan dalam Gambar
Bestek dan Bill of Quantity.
3. Dimensi dan ukuran pondasi tapak adalah sesuai dengan Gambar Bestek.
4. Kedalaman pondasi tapak minimal sesuai Gambar Bestek.
5. Pekerjaan pengecoran plat pondasi dengan alasan apapun tidak boleh
dilakukan dalam kondisi galian pondasi tergenang air.
6. Elevasi lantai kerja harus sama untuk semua penempatan tapak pondasi.
7. Tidak boleh ada perbedaan elevasi lantai kerja untuk dudukan tapak pondasi
yang melebihi 1 cm.
8. Hasil pekerjaan pengecoran tapak pondasi harus disetujui oleh Konsultan
Supervisi.

BAB VIII

PEKERJAAN BETON

Pasal 1

: Pasir Beton

1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering, apabila lebih dari 5% maka
pasir tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.
3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan
penelitian di Laboratorium Beton.
4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.
5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.
6. Ukuran maksimal pasir beton adalah 6 mm dan ukuran minimal pasir beton
adalah butiran yang tertahan pada saringan nomor 100.
7. Pasir beton tidak mengandung zat alkali atau zat-za lain yang dapat merusak
beton.
8. Pasir yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.
9. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Pasir Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.
Pasal 2

: Kerikil Beton
1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam serta bersifat kekal.
2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% dari berat kering, apabila lebih
dari 1% maka kerikil tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.
3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan
penelitian di Laboratorium Beton.
4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.
5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.
6. Ukuran maksimal kerikil beton adalah 30 mm dan ukuran minimal adalah 6
mm.
7. Tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat merusak beton.
8. Kerikil yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.
9. Kerikil Beton hanya dipakai pada pekerjaan-pekerjaan beton Non Struktural
dengan mutu K-125 sampai mutu K-175.
10. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Kerikil Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA

Pasal 3

: Batu Pecah
1. Batu pecah adalah hasil produksi mesin pemecah batu (Stone Cruser) dan
bukan hasil pekerjaan manual (manusia).
2. Batu pecah berasal dari batuan kali.
3. Terdiri dari butiran yang keras dan bersifat kekal.

4.

Tingkat ketahanan terhadap keausan butiran minimal 95%.


5. Jumlah butiran Lonjong dan Pipih minimal 5%.
6. Tidak boleh mengandung lumpur dan zat-zat yang dapat merusak beton
seperti zat alkali.
7. Ukuran butiran terkecil minimal 1 cm dan ukuran butiran terbesar maksimal 3
cm.
8. Butiran batu pecah dalam setiap meter kubiknya tidak boleh seragam tetapi
merupakan campuran antara butiran 1 cm sampai butiran 3 cm.
9. Batu pecah yang akan dipakai untuk material campuran beton harus melalui
proses pemeriksaan di Laboratorium beton.
10. Batu pecah hanya dan harus dipakai pada campuran beton struktural atau
beton dengan mutu K-250 keatas.
Pasal 4

: Semen Portland
1. Terdaftar dalam merk dagang.
2. Merk Semen Portland yang dipakai harus seragam untuk semua pekerjaan
beton structural maupun beton non struktural.
3. Penggunaan Merk Semen Portland yang berbeda-beda harus dengan
persetujuan Konsultan Supervisi.
4. Mempunyai butiran yang halus dan seragam.
5. Tidak berbungkah-bungkah/tidak keras.
6. Semen yang dipakai untuk semua pekerjaan struktur beton adalah Semen
Portland Type I.
7. Semua peraturan tentang pengunaan semen portland di Indonesia untuk
bangunan gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 5

: Air
1. Secara visual air harus bersih dan bening, tidak berwarna dan tidak berasa.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


7. Tidak mengandung minyak, asam alkali, garam, lumpur dan zat organic yang
dapat merusak beton.
8. Penggunaan air setempat dari sumur dangkal atau sumur bor serta yang
didatangkan dari tempat lain kelokasi pekerjaan harus mendapat persetujuan
Konsultan Supervisi.
Pasal 6

: Zat Additive
1. Pemakaian zat additive pada campuran beton untuk segala alasan yang
berhubungan kemudahan dalam pengerjaan beton atau Workability harus
disetujui oleh Konsultan Perencana.
2. Penggunaan zat additive dalam campuran beton harus melalui proses
penelitian dan percobaan dilaboratorium beton dengan biaya sendiri dari
Kontraktor Pelaksana.
3. Kontraktor Pelaksana harus menunjukan standar, aturan, dan syarat yang
berlaku secara umum mengenai zat additive yang akan dipakai.
4. Kerusakan dan kegagalan struktur akibat penggunaan zat additive yang
dapat dibuktikan secara teknis sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Kontraktor Pelaksana.
5. Jika tidak ditentukan dalam Kontrak Kerja Penggunaan Zat Additive pada
campuran beton tidak boleh mengurangi atau menambah biaya pekerjaan
beton, kecuali ditentukan lain oleh Owner bersama dengan Konsultan
Perencana.

Pasal 7

: Tulangan Beton
1. Bebas dari karatan. Toleransi terhadap karatan pada baja tulangan ditentukan
oleh Konsultan Supervisi.
2. Baja tulangan diatas diameter 10 mm adalah Baja Ulir.
3. Baja tulangan sengkang/begel atau dibawah diameter 10 mm adalah baja
polos.
4. Semua baja tulangan mempunyai tegangan tarik/luluh baja minimal 2400
kg/cm2 atau 240 MPa untuk tulangan polos dan 4000 kg/cm2 atau 400 Mpa
untuk tulangan ulir.
5. Kebenaran akan tegangan tarik/luluh baja tulangan harus dibuktikan dengan
percobaan/uji tarik pada Laboratorium Beton minimal untuk 3 benda uji.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


6. Baja tulangan mempunyai bentuk dan penampang yang sesuai dengan yang
dibutuhkan atau sesuai Gambar Bestek.
7. Toleransi-toleransi terhadap diameter tulangan beton harus dengan
persetujuan Konsultan Perencana.
8. Baja ulir yang telah sekali dibengkokkan tidak boleh dibengkokkan lagi dalam
arah yang berlawanan.
9. Baja tulangan harus disimpan sedemikian rupa sehingga terlindung dari
hubungan langsung dengan tanah dan terlindung dari air hujan.
10. Semua peraturan tentang baja tulangan di Indonesia untuk bangunan gedung
berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 8

: Selimut Beton
1. Kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Perencana dalam Bill of Quantiti dan
Gambar Bestek maka aturan ketebalan selimut beton adalah seperti berikut
ini :

Komponen
Struktur

Lantai

Beton yang Tidak Langsung


Berhubungan Dengan Tanah
Atau Cuaca

Dengan Tanah Atau Cuaca

D 36 Dan Lebih Kecil : 20 D 16 Dan Lebih Kecil : 40


mm

Lantai

Beton yang Berhubungan

> D 36

mm

: 40 > D 36

: 50

mm

Dinding

D 36 Dan Lebih Kecil : 20 D 16 Dan Lebih Kecil : 40


mm

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

mm

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA

Dinding

> D 36

: 40 > D 36

: 50

mm

Balok

Seluruh Diameter

: 40 D 16 Dan Lebih Kecil : 40

mm

mm

Balok

> D 16

: 50

mm

Kolom

Seluruh Diameter

: 40 D 16 Dan Lebih Kecil : 40

mm

Kolom

mm

> D 16

: 50

mm

2. Untuk konstruksi beton yang dituangkan langsung pada tanah dan selalu
berhubungan dengan tanah berlaku suatu tebal penutup beton minimal yang
umum sebesar 70 mm.
Pasal 9

: Rancangan Campuran Beton (Job Mix Disain)


1. Sebelum melaksanakan pekerjaan pengecoran beton struktural dengan mutu
K-175 sampai mutu selanjutnya Kontraktor Pelaksana harus membuat
Rancangan Campuran Beton (Job Mix Disain).
2. Yang dimaksud dengan Mutu Beton adalah Kuat Tekan Karakteristik yang
diperoleh dari pengujian benda uji kubus umur 28 hari minimal 20 benda uji.
3. Mutu beton untuk masing-masing komponen struktur adalah seperti yang
dijelaskan dalam Gambar Bestek dan Bill of Quantity.
4. Job Mix Disain adalah hasil pekerjaan ahli beton pada Laboratorium Beton
yang diakui oleh Pemerintah.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


5. Material Pasir dan Batu Pecah yang dipakai untuk Job Mix Disain haruslah
material yang akan dipakai nantinya pada pelaksanaan dilapangan dan
material tersebut tersedia dalam jumlah yang cukup dilokasi pekerjaan
sampai volume pekerjaan beton selesai dikerjakan.
6. Pengantian material dengan material selain material dalam Laporan Job Mix
Disain pada tahap pelaksanaan pekerjaan beton tidak dibenarkan.
7. Pengantian material dengan material selain material dalam Laporan Job Mix
Disain pada tahap pelaksanaan pekerjaan beton mengharuskan Kontraktor
Pelaksana untuk membuat Job Mix Disain baru.
8. Laporan Job Mix Disain untuk masing-masing mutu beton minimal harus
mencantumkan :
1. Laporan hasil penelitian Pasir Beton;
2. Laporan hasil penelitian Batu Pecah;
3. Komposisi Pasir Beton;
4. Komposisi Batu Pecah;.
5. Komposisi Air Beton;
6. Komposisi Zat Additive jika digunakan;
7. Nilai Slump Rencana; dan
8. Nilai Faktor Air semen.
9. Job Mix Disain yang dibuat oleh Kontraktor Pelaksana harus disetujui oleh
Konsultan Supervisi sebelum dilaksanakan.
10. Semua aturan yang disyaratkan dalam Job Mix Disain dan telah disetujui oleh
Konsultan Supervisi harus diikuti dan dilaksanakan oleh Kontraktor
Pelaksana.
Pasal 10

: Rencana Campuran Lapangan (Job Mix Formula)


1. Berdasarkan Job Mix Disain yang telah disetujui oleh Konsultan Supervisi,
Kontraktor Pelaksana harus membuat Rencana Campuran Lapangan (Job
Mix Formula) beton struktural dengan mutu K-250.
2. Job Mix Formula tidak boleh berbeda dengan Job Mix Disain terutama dari
segi komposisi material beton.
3. Hasil perhitungan Job Mix Formula harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


4. Kontraktor Pelaksana harus membuat media standar berupa bak-bak dari
kayu atau timba-timba plastik yang dipakai untuk mentakar komposisi material
berdasarkan perhitungan Job Mix Formula.
5.

Pentakaran komposisi material campuran beton dengan bak-bak


standar dilokasi pekerjaan tidak boleh mengurangi dan berbeda dengan
komposisi material beton yang ada dalam Job Mix Disain.

6.

Khusus untuk beton structural mutu K-250 & K-275 pentakaran


komposisi campuran beton harus dalam satuan berat atau dengan cara
menimbang. Pentakaran dengan bak bak kayu untuk alas an apapun tidak
diperbolehkan.

7.

Kontraktor Pelaksana harus melakukan pengujian hasil perhitungan


Job Mix Formula dengan media benda uji kubus beton ukuran 20x20x20 cm
minimal 5 benda uji.

8.

Hasil pengujian Job Mix Formula di Laboratorium Beton yang


menghasilkan mutu beton yang tidak sesuai dengan mutu beton pada Job
Mix Disain mengharuskan Kontraktor Pelaksana melakukan perhitungan
ulang akan Job Mix formula atau merubah Job Mix Disain.

9.

Dalam pelaksanaan proyek ini beton yang bersifat struktural harus


menggunakan beton Readymix.kecuali ditentukan lain dikemudian hari dan
harus seizin konsultan supervisi.

Pasal 11

: Perakitan Tulangan
1. Perakitan tulangan balok dan kolom dapat dilakukan di bengkel kerja oleh
Kontraktor Pelaksana atau langsung pada lokasi konstruksi.
2. Khusus untuk Pondasi Plat Lantai Beton perakitan tulangan harus dilakukan
langsung lokasi konstruksi atau Bekisting.
3. Dimensi, model, bengkokan, jarak dan panjang penyaluran tulangan harus
sesuai dengan Gambar Bestek dan Shop Drawing, standar Peraturan Beton
Indonesia (PBI) dan SK SNI T-15-1991-03.
4. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan Shop Drawing dan daftar
bengkokan, dimensi, model, dan panjang penyaluran tulangan pada bengkel
kerja untuk menghidari kesalahan dalam pekerjaan perakitan tulangan.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


5. Tulangan balok dan kolom yang telah selesai dirakit jika tidak langsung
dipasang harus diletakan ditempat yang terlindungi dari hujan dan tidak boleh
besentuhan langsung dengan tanah.
6. Untuk tulangan plat lantai dan plat dack dirakit langsung diatas bekisting yang
telebih dahulu telah selesai dikerjakan.
7. Semua tulangan utama balok dan kolom harus terikat dengan baik oleh
sengkang dengan alat ikat kawat beton.
8. Jaring tulangan plat harus terikat dengan baik satu dengan yang lain dengan
alat ikat kawat beton.
9. Tulangan yang telah selesai dirakit tidak boleh dibiarkan lebih dari 3 hari
dalam bekisting.
Pasal 12

: Sambungan Antar Tulangan


1. Sambungan antar tulangan, penjangkaran tulangan dan panjang penyaluran
tulangan pada kondisi pembeban lentur, beban tarik, beban tekan, jika tidak
ditentukan lain dalam Gambar Bestek maka harus sesuai dengan syaratsyarat yang ditentukan dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI T15-1991-03.
2. Titik-titik sambungan tulangan lewatan pada plat lantai tidak boleh dibuat
pada posisi satu garis lurus. Sambungan harus dibuat selang-seling atau zigzag antara batang yang disambung dengan batang yang tidak disambung.
3. Panjang sambungan lewatan jika tidak ditentukan lain dalam Gambar Bestek,
Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI T-15-1991-03 harus diambil
minimal 40 kali diameter batang yang disambung.
3. Sambungan-sambungan harus dibuat antara sesama tulangan utama. Tidak
dibenarkan dengan alasan apapun menggunakan tulangan extra (tulangan
tambahan) untuk menyambung tulangan utama dengan tulangan utama lain
kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI
T-15-1991-03.
5. Penjangkaran tulangan atau kait-kait pada posisi pemutusan tulangan jika
tidak ditentukan lain dalam Gambar Bestek maka harus sesuai dengan
syarat-syarat yang ditentukan dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK
SNI T-15-1991-03.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


6. Sambungan-sambungan pada kondisi pembeban tarik dan lentur pada
komponen balok, plat lantai dan plat dack ujung-ujung sambungan harus
dibuat kait (hook) kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Beton Indonesia
(PBI) dan SK SNI T-15-1991-03.
7. Sambungan tulangan kolom harus dilakukan pada posisi permukaan sloof
dan plat lantai atau pada posisi tengah bentang kolom. Penyambungan pada
posisi selain pada posisi tersebut dengan alasan apapun tidak dibenarkan.
8. Penyambungan pada daerah daerah sendi plastis kolom dan balok atau
pada daerah sejarak 2 x tinggi kolom/balok dari joint maupun tumpuan tidak
dibenarkan.
Pasal 13

: Support Dan Beton Tahu


a. Support
1. Untuk keperluan dan menjaga dan mempertahankan jarak selimut beton
sesuai dengan disyaratkan maka pada setiap 1 m2 luas plat lantai dan plat
dack harus diberikan support/dukungan dari besi tulangan ulir dengan
diameter lebih besar dari diameter tulangan plat lantai atau 13 mm.
2. Jumlah support/dukungan dalam 1 m2 luas plat lantai, plat dack dan plat
pondasi adalah minimal 5 buah.
3. Bentuk support/dukungan harus sesuai dengan Gambar Bestek atau Shop
Drawing yang telah disetujui oleh Konsultan Supervisi.
4. Bentuk

support/dukungan

harus

sedemikian

rupa

sehingga

dapat

mempertahankan jarak vertikal antara lapis tulangan ketika dibebani oleh


beban pekerja perakitan tulangan atau pekerja pengecoran.
b. Beton Tahu ( dacking )
1. Untuk menjaga dan mempertahankan jarak selimut beton agar sesuai dengan
yang disyaratkan maka pada permukaan besi tulangan balok dan kolom
harus diberi penyangga dari beton atau Beton Tahu sehingga mempunyai
jarak yang tetap dengan bekisting.
2. Ketebalan beton tahu harus disesuaikan dengan jarak atau ketebalan selimut
beton pada masing-masing komponen struktur.
3. Mutu beton tahu mnimal sebesar mutu beton konstruksi utama.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


4. Untuk Komponen kolom dan balok ukuran beton tahu adalah 4 x 4 x 4 cm dan
dipasang minimal 2 buah setiap jarak 50 cm panjang balok dan tinggi kolom.
5. Untuk Komponen plat lantai dan plat dack ukuran beton tahu adalah 2 x 4 x 5
cm dan dipasang minimal 5 buah setiap 1 m2 plat lantai, plat dack dan plat
pondasi.

Pasal 14

: Acuan / Bekisting
1. Bahan utama bekisting adalah multiplek minimal 9 mm yang diperkuat oleh
balok-balok kayu 5/7 cm atau 5/10 cm dari kayu kelas kuat III.
2. Penggunaan papan kayu sebagai bekisting dengan alasan apapun tidak
diperbolehkan.
3. Pengantian material bekisting dengan material selain yang disebutkan pada
point 1 harus dengan persetujuan Konsultan Supervisi.
4. Kontraktor pelaksana harus mengajukan Shop Drawing untuk bentuk
konstruksi bekisting balok, kolom, plat lantai, dan plat atap serta konstruksi
lain yang dianggap perlu oleh Konsultan supervisi.
5. Penggunaan bekisting system bongkar pasang dari bahan besi harus disetujui
oleh Konsultan Supervisi.
6. Permukaan bekisting harus dilumuri atau dioleskan dengan cairan Residu atau
cairan Ter supaya hasil campuran beton tidak menempel pada bekisting waktu
akan dibuka sehingga dapat menghasilkan permukaan beton yang rapi.
7. Bentuk bekisting harus menghasilkan konstruksi akhir sesuai rencana.
8. Jika diperlukan Kontraktor Pelaksana harus mengajukan Gambar Shop
Drawaing Rencana Bekisting kepada Konsultan Supervisi untuk disetujui.
9. Bekisting harus kokoh dan rapat sehingga pada waktu diisi dengan campuran
beton tidak bocor atau berubah bentuknya.
10. Hasil pekerjaan bekisting harus diperiksa kembali kebenaran elevasi
,kelurusannya terhadap arah vertikal oleh Kontraktor Pelaksana dengan alat
Theodolit dan Waterpass. Pemeriksaan secara manual tidak dibenarkan.
11. Hasil pekerjaan bekisting harus disetujui oleh Konsultan Supervisi sebelum
dilakukan pekerjaan pengecoran beton.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


12. Bekisting yang telah dicor beton tidak boleh dibuka kurang dari 28 hari
terhitung sejak waktu pengecoran kecuali ditentukan lain oleh Konsultan
Supervisi karena alasan penggunaan zat additive yang dapat mempercepat
proses pengerasan beton atau alasan-alasan teknis yang dapat dipertanggung
jawabkan .
13. Pekerjaan membuka bekisting tidak boleh merusak permukaan beton jika hal
ini terjadi Kontraktor Pelaksana harus memperbaikinya dengan pekerjaan
acian beton.
14. Perbaikan permukaan beton yang rusak akibat kesalahan pembukaan
bekisting atau sebab lain harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.
Pasal 15

: Lantai Kerja Beton ( Line Concrete )


1. Untuk komponen struktur beton yang berhubungan langsung dengan tanah
atau pasir urug, pada lapisan dasarnya harus memakai Lantai Kerja Beton
( Line Concrete ) dengan tebal minimal 5 cm atau sesuai Gambar Bestek.
2. Lantai Kerja Beton dibuat dari beton dengan Campuran 1 SM : 3 PS : 6 KR
atau seperti yang ditentukan dalam Gambar Bestek serta Bill of Quantity.
4. Hasil pekerjaan Lantai Kerja Beton harus benar-benar elevasi , hal ini harus
dibuktikan dengan pekerjaan Waterpassing.

Pasal 16

: Pengecoran Beton ( Casting Concrete )


1. Sebelum memulai pekerjaan pengecoran Kontraktor Pelaksana harus
memastikan Acuan/bekisting telah selesai 100% dan telah disetujui oleh
Konsultan Supervisi.
2. Pengecoran beton structural mutu K-175 sampai K-275 hanya boleh dilakukan
oleh Kontraktor Pelaksana jika Job Mix Disain, Job Mix Formula, Perakitan
Tulangan, Bekisting, Request Pekerjaan dan hal-hal lain yang diperlukan dan
berhubungan dengan pekerjaan pengecoran sudah disetujui oleh Konsultan
Supervisi.
3. Sedapat mungkin untuk melakukan sekali pengecoran untuk setiap bagian
konstruksi sehingga dapat menghindari sambungan-sambungan beton.
5. Pengecoran dalam kondisi cuaca hujan tidak dibenarkan kecuali Kontraktor
Pelaksana menjamin bahwa bekisting dan hasil pengecoran tidak berhubungan
langsung dengan air hujan.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


6. Pengecoran beton harus dilakukan dengan Concrete Mixer (molen) dan tidak
diperbolehkan melakukan pengecoran dengan cara pengadukan manual
kecuali untuk beton-beton dengan mutu dibawah K-125 atau nonstruktural.
Untuk beton struktural harus menggunakan beton Readymix.
7.

Urutan pemasukan material beton dimulai dengan Batu Pecah Beton, Pasir
Beton, Semen, Air, dan Zat Additive (jika ada). Urutan ini bisa dirubah dengan
persetujuan Konsultan Supervisi.

8. Lama pengadukan material beton dalam Concrete Mixer minimal 1,5 menit
kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Supervisi.
9. Hasil pengadukan beton dalam Concrete Mixer apabila diputusan oleh
Konsultan supervise sudah cukup langsung dituang dalam wadah yang
sebelumnya telah disiapkan oleh Kontrator Pelaksana.
10. Beton segar hasil pengadukan molen dapat diangkut dengan kereta dorong
oleh pekerja kelokasi bekisting untuk dituang.
11. Beton segar harus segera dituang kedalam bekisting dan tidak boleh
dibiarkan lebih dari 10 menit berada dalam wadah kereta sorong atau bak
tampungan beton. Penggunaan zat additive seperti Super Plasticizer juga
tidak membolehkan beton segar terlalu lama dalam wadah tampungan kecuali
disetujui oleh Konsultan Supervisi.
12. Beton segar yang telah dituangkan harus dipadatkan dengan Concrete
Vibrator sampai mencapai kepadatan optimum.
13. Tinggi jatuh penuangan beton untuk bekisting kolom minimal 1,5 meter.
14. Penulangan beton dalam balok, plat lantai, plat atap, dan kolom tidak boleh
menciptakam sangkar kerikil atau penumpukan kerikil pada posisi tententu
pada saat bekisting dibuka.
15. Jika terjadi sangkar kerikil Kontraktor Pelaksana harus memperbaiki bagian itu
dengan mempergunakan beton campuran zat kimia khusu untuk sambungan
(joint) seperti Produk SIKA dengan persetujuan Konsultan Supervisi.
16. Pengecoran beton tidak boleh dilakukan langsung diatas tanah Kontraktor
Pelaksana harus membuat lantai kerja dari campuran 1 Sm : 3 Ps : 6 Kr
sehingga air semen tidak meresap dalam tanah dan bentuk penampang beton
sesuai dengan yang direncanakan.
17. Antara pengecoran pertama dengan pengecoran kedua untuk konstruksi yang
sama tidak boleh lebih dari 1 hari.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


18. Hasil pengecoran beton adalah hasil tampa ada lagi pekerjaan finishing lain
atas dipermukaanya.
19. Perbaikan permukaan beton oleh Kontraktor Pelaksana setelah pengecoran
dengan cara acian ( pasta semen ) adalah dengan biaya sendiri kecuali
ditentukan lain dalam Bill of Quantity.
Pasal 17

: Beton Ready Mix


1.

Penggunaan beton Ready Mix oleh


Kontraktor Pelaksana harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

2.

Penggunaan Beton Struktural dianjurkan


Menggunakan Beton Ready Mix.

3. Kontraktor Pelaksana tetap diwajibkan untuk menyerahkan Job Mix Disain


kepada Konsultan Supervisi terhadap semua mutu beton structural yang
menggunakan Beton Ready Mix.
4. Job Mix Disain harus disetujui oleh Konsultan Supervisi sebelum digunakan.
5.

Kualitas beton yang dihasilkan oleh


Batching Plant tetap menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.

Pasal 18

: Pembongkaran Bekisting/Mal Beton


1. Bekisting tidak boleh dibuka/dibongkar dan dibebani jika beton dalam
bekisting belum berumur 28 hari kecuali ditentukan lain oleh Konsultan
Supervisi.
2. Walaupun ditentukan lain oleh Konsultan Supervisi bekisting beton tetap tidak
boleh dibuka dan dibebani sebelum berumur minimal 21 hari.
3. Pembukaan dan pembebanan Bekisting beton kurang dari 14 hari karena
alasan adanya pemakaian Zat Additive yang dapat mempercepat pengerasan
beton harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.
4. Pembongkaran Bekisting harus menghasilkan permukaan beton yang rata,
halus, cacat permukaan serta langsung dapat dilakukan pekerjaan finishing
cat diatasnya.

Pasal 19

: Perawatan Beton ( Curing )

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


1. Kontraktor Pelaksana harus melakukan perawatan dan pemeliharaan
terhadap beton yang telah selesai dituang dalam bekisting.
2. Perawatan dapat berupa menutup permukaan beton dengan karung goni
kemudian menyiram air secara rutin kepermukaan beton sampai beton
berumur 28 hari. Penggunaan metode lain untuk perawatan beton harus
disetujui oleh Konsultan Supervisi.
3. Perawatan harus terus menerus dilakukan minimal sampai beton berumur 28
hari atau sampai beton siap untuk dibebani menurut keputusan Konsultan
Supervisi.
Pasal 20

: Quality Control
a. Slump Test
1. Pemeriksaan kekentalan beton (kosistensi) harus dilakukan setiap beton
dituangkan dari Concrete Mixer atau minimal setiap 5 m3 pekerjaan beton
pada setiap mutu beton.
2. Pemeriksaan kekentalan beton dilakukan dengan metode Slump Test dimana
nilai slump yang diperoleh harus sesuai dengan nilai slump rencana yang ada
pada Job Mix Disain atau 12 cm.

b.

Benda Uji Beton


1. Kontraktor Pelaksana harus mengambil benda uji beton dalam bentuk kubus
dan slinder standar. Ukuran kubus adalah 15x 15x 15 cm dan ukuran silinder
tinggi 30 cm dan diameter 15 cm.
2. Benda uji beton harus diambil minimal 20 benda uji untuk setiap mutu beton
yang berbeda atau minimal satu benda uji setiap 3 m3 beton dalam satu kali
pengecoran.
3. Pengambilan benda uji harus dilakukan secara acak dan selang seling antara
satu campuran dengan campuran yang lain untuk mutu beton yang sama.
5. Benda uji beton harus dirawat dalam bak dan terendam dalam air sampai
berumur 28 hari.
6. Sebelum pengujian benda uji harus dalam keadaan kering air/udara.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


7. Pada benda uji beton harus dicantumkan mutu beton, nama benda uji ,dan
tanggal pengambilan benda uji yang tidak mudah hilang dan luntur.
c. Pemeriksaan Kuat Tekan Beton
1. Kontraktor Pelaksana harus melakukan pemeriksaan terhadap kuat tekan
beton yang telah selesai mereka kerjakan minimal sebelum pekerjaan
pengecoran melebihi 50% dari total pekerjaan pengecoran.
2. Tujuan pemeriksaan kuat tekan beton adalah untuk mendapatkan Mutu Beton
hasil pelaksanaan pekerjaan pengecoran lapangan.
3. Yang dimaksud dengan Mutu Beton adalah Kuat Tekan Karakteristik yang
diperoleh dari hasil pemeriksaan kuat tekan benda uji kubus ukuran 15 x 15 x
15 cm umur 28 hari dengan minimal 20 benda uji.
4. Pemeriksaan kuat tekan beton dilakukan di Laboratorium Beton dengan
minimal 20 benda uji kubus atau silinder untuk setiap mutu beton.
5. Pemeriksaan kuat tekan beton pada Laboratorium Beton oleh Kontraktor
Pelaksana harus didampingi oleh Konsultan Supervisi. Pemeriksaan kuat
tekan beton tanpa didampingi oleh Konsultan Supervisi hasilnya dianggap
tidak sah.
6. Semua biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan pemeriksaan kuat tekan
beton ini dibebankan kepada Kontraktor Pelaksana.
7. Mutu Beton hasil pemeriksaan kuat tekan benda uji kubus yang kurang dari
95% dari Mutu Beton Rencana dianggap gagal dan beton yang telah selesai
dikerjakan dilapangan harus dibongkar kecuali diputuskan lain oleh Konsultan
Perencana dengan disertakan Rekomendasi Ahli beton.
8. Kontraktor Pelaksana tidak diperbolehkan melanjutkan pekerjaan pengecoran
beton jika hasil pemeriksaan kuat tekan beton menghasilkan kuat tekan yang
berbeda dengan kuat tekan beton rencana.
9. Perencanaan ulang untuk Job Mix Disain harus dilakukan oleh Kontraktor
Pelaksana untuk beton yang gagal dalam uji kuat tekan jika dalam
pemeriksaan oleh Konsultan Supervisi bersama dengan Kontraktor
Pelaksana kegagalan kuat tekan disebabkan oleh kesalahan dalam
perencanaan campuran dan bukan karena kesalahan pada tahap
pelaksanaan.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


10. Pemeriksaan kuat tekan beton selain dengan uji tekan pada laboratorium
beton harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.
11. Laporan hasil pemeriksaan Mutu Beton harus disetujui oleh Konsultan
Supervisi.
d. Pemeriksaan Kuat Tekan Beton Dengan Cara Lain
1. Jika pemeriksaan Kuat Tekan Beton dengan cara Uji Tekan Kubus Beton
hasilnya meragukan dan tidak disetujui oleh Konsultan Perencana, Konsultan
Supervisi atau Owner, maka cara pemeriksaan mutu beton dengan uji
langsung pada konstruksi beton harus dilakukan.
2. Pemeriksaan mutu beton dengan uji langsung ke konstruksi beton jika tidak
ditentukan khusus oleh Konsultan Perencana maka harus dilakukan dengan
salah satu metode seperti dibawah ini :
a. Metode Core Drill.
b. Metode Hammer Test.
3. Konsultan Perencana berhak menentukan metode mana yang akan dipakai
untuk pemeriksaan kuat tekan beton langsung ke konstruksi beton.
4. Posisi dan lokasi pengujian untuk masing-masing komponen struktur
ditentukan oleh Konsultan Perencana atau Konsultan Supervisi.
5. Jumlah titik pengujian jika tidak ditentukan oleh Konsultan Perencana, maka
harus diambil minimal 10 titk untuk masing-masing komponen struktur dan
masing-masing mutu beton.
6. Data Kuat Tekan yang diperoleh dari hasil uji langsung kuat tekan pada
konstruksi beton harus dikalkulasi kembali oleh Kontarktor Pelaksana untk
memperoleh Kuat Tekan karakteristik Beton (mutu beton).
7. Kuat Tekan Beton Karakteristik yang diperoleh dari uji langsung ke konstruksi
beto adalah hasil final yang harus diakui oleh Konsultan Perencana,
Konsultan Supervisi, Kontraktor Pelaksana dan Owner.
Pasal 21

: Instalasi Dalam Konstruksi Beton


1. Instalsi air bersih, instalasi air kotor, dan instalsi listrik sebaiknya tidak
ditanam atau diletakan dalam konstruksi beton kecuali ditentukan lain dalam
Gambar Bestek atau oleh Konsultan Supervisi.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


2. Pipa-pipa instalasi dari bahan aluminium tidak boleh ditanam dalam
konstruksi beton untuk alasan apapun.
3. Pipa-pipa PVC atau besi yang ditanam dalam kolom beton diameternya tidak
boleh melebihi 1/3 (sepertiga) dari dimensi terkecil kolom.
4. Pipa-pipa PVC atau besi dengan diameter berapapun tidak boleh ditanam
dalam komponen balok beton.
7. Pembongkaran sebagian kecil atau sebagian besar konstruksi beton untuk
keperluan instalasi air bersih, instalasi air kotor, dan instalasi listrik harus
dengan persetujuan Konsultan Supervisi.
8. Pembongkaran konstruksi beton pada daerah joint balok dan kolom serta
pada posisi tumpuan balok untuk keperluan instalasi air dan instalasi listrik
tidak diperbolehkan untuk alasan apapun kecuali ditentukan lain oleh
Konsultan Perencana dan Konsultan Supervisi dengan disertakan
Rekomendasi Ahli Beton.
Pasal 22

: Sambungan Antar Beton


1. Penyambungan-penyambungan antara beton lama dengan beton baru
sebaiknya dihindari pada konstruksi beton kecuali sambungan antar kolom
tiap lantai.
2. Jika penyambungan terpasak dilakukan permukaan beton lama harus
dibersihkan dan dikasarkan sebelum disambung dengan beton baru.
3.

Penyambungan pada posisi tengah kolom dan tengah bentang balok untuk
alas an apapun tidak diperbolehkan.

4. Untuk sambungan pada balok dan plat lantai harus dilakukan pada posisi 80
cm dari tumpuan sedangkan untuk kolom harus disambung pada posisi
tumpuan kedua (lantai 2).
5. Bentuk akhir dari konstruksi beton lama (plat lantai dan balok) harus dibuat
sedemikian rupa sehingga ketika disambung beton baru akan menumpu pada
beton lama.
6. Penyambungan pada kondisi beton lama yang sudah berumur lebih dari 3
hari harus dilakukan dengan Bonding Agent dan hal ini harus dengan
persetujuan Konsultan supervisi.
7. Penggunaan zat-zat kimia untuk memperkuat sambungan harus dengan
persetujuan Konsultan Supervisi.

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA

Pasal 23

: Lain - Lain
1. Persyaratan pekerjaan beton dari Pasal 1 sampai dengan Pasal 22 berlaku
untuk semua item pekerjaan beton structural K-175 sampai K-250 yang ada
dalam Proyek ini.
2. Hal-hal yang belum ditentukan dan diperlukan penjelasannya dalam proses
pelaksanaan pekerjaan ditentukan kemudian oleh Konsultan Perencana
bersama dengan Konsultan Supervisi dalam proses pelaksanaan pekerjaan
dengan persetujuan Owner.
3. Hal-hal yang ditentukan kemudian tersebut menjadi satu ketentuan yang
mengikat dan wajib untuk dilaksanakan oleh Kontraktor Pelaksana.

BAB IX
Pasal 1

KETENTUAN TAMBAHAN
: Semua hal yang tidak ditentukan dalam spesifikasi ini akan ditentukan kemudian
oleh Konsultan Perencana dalam masa pelaksanaan konstruksi dengan
persetujuan Owner dan menjadi suatu ketentuan yang mengikat serta harus
dilaksanakan oleh Kontraktor Pelaksana. Hal-hal yang ditentukan kemudian
tersebut harus tetap didasarkan pada Kontrak Kerja.

Pasal 2

: Jika ada item-item pekerjaan dimana tidak ada penjelasan dalam Gambar Bestek,
Bill of Quantity dan Spesifikasi Teknis maka penjelasan teknis terhadap item

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46

SPESIFIKASI TEKNIS DAN SYARAT SYARAT KERJA


pekerjaan tersebut adalah berdasarkan keputusan Konsultan Perencana dengan
persetujuan Owner.
Pasal 3

: Maksud dan tujuan setiap aturan dalam Spesifikasi Teknis ini adalah menurut
penjelasan Konsultan Perencana dengan persetujuan Owner.

Perencana
CV. Matrix Design & Planning

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN TAMAN KTR

46