Anda di halaman 1dari 11

II.

1 Anatomi dan Fisiologi Kulit


II.1.1 Anatomi Kulit

Anatomi kulit manusia (Rizzo, 2001)


Kulit manusia tersusun atas tiga lapisan jaringan: epidermis,
dermis dan lapisan lemak subkutan. Selain lapisan tersebut, juga
terdapat beberapa struktur pelengkap pada kulit, seperti kelenjarkelenjar. Berikut adalah penjelasan anatomis mengenai struktur
umum kulit :
a. Epidermis
Epidermis tersusun atas beberapa lapisan dan ketebalan bervariasi
antara 0,006 mm (pada kelopak mata) hingga 0,8 mm pada telapak
tangan dan kaki. Sel-sel yang terdapat pada lapisan dasar (stratum
germinativum) aktif membelah dan berpindah ke atas untuk
menyusun stratum korneum. Manusia mampu bertahan dalam
lingkungan yang tidak berair karena sifat alami dari stratum korneum
yang juga dapat mengontrol absorbs perkutan bahan obat atau
bahan-bahan kimiawi lainnya. Stratum korneum tebalnya hanya
sekitar 10 m ketika kering namun dapat menebal jika terkena air.
Pada stratum germinativum, terdapat melanosit, yang memproduksi
dan menghantarkan melanin ke sel-sel keratinosit.
b. Dermis
Dermis atau biasa disebut korium, tebalnya 3 5 mm, tersusun atas
matriks jarigan ikat yang terdiri dari serat protein (kolagen, elastin
dan retikulin) yang terikat oleh bahan dasar mukopolisakarida.

Terdapat jaringan saraf, pembuluh darah, pembuluh limfa dan bagian


pelengkap kulit pada lapisan ini. Dermis membutuhkan suplai darah
yang

memadai

untuk

memenuhi

kebutuhan

nutrisi

kulit,

mengeluarkan produk buangan, mengatur tekanan dan suhu kulit,


menjaga sistem pertahanan tubuh dan memberikan warna pada kulit.
c. Subkutan
Jaringan

subkutan

pada

kulit

(biasa

disebut

subkutis

atau

hipodermis) memberikan pertahanan bagi kulit terhadap tekanan


mekanis dan sebagai penghalang termal; jaringan ini mensintesis
dan menyimpan energi yang siap digunakan dalam jumlah besar.
d. Struktur pelengkap kulit
Kelenjar keringat ekrin (2 5 juta) memproduksi keringat dengan pH
4,0 6,8 dan juga mampu mengeluarkan obat, protein, antibodi dan
antigen. Fungsi dasarnya adalah untuk mengontrol suhu tubuh.
Kelenjar keringat apokrin terdapat pada daerah pilosebaseus dan
banyak terdapat pada daerah ketiak, puting dan perianal. Hasil
sekresinya umumnya keruh dan terasa berminyak yang mengandung
protein, lipid, lipoprotein dan sakarida. Bakteri yang terdapat pada
permukaan kulit akan memetabolisme cairan tersebut sehingga
terkadang menimbulkan yang disebut sebagai bau badan.
Folikel rambut terdapat pada sekujur tubuh selain pada bibir, telapak
tangan dan telapak kaki. Kelenjar sebasea (kelenjar minyak)
bersambungan dengan folikel yang terdapat di atas otot penegak
rambut, sehingga kelenjar tersebut dapat berhubungan langsung
dengan daerah dermoepidermal. Kelenjar sebasea paling banyak
ditemukan pada wajah, dahi, telinga, tengah punggung dan daerah
sekitar genitalia; kurang ditemukan pada telapak tangan dan kaki.
Kelenjar

ini

memproduksi

sebum

melalui

disintegrasi

sel;

komposisinya meliputi gliserida, asam lemak bebas, kolesterol, ester


kolesterol, lilin dan skualen.
II.1.2 Fisiologi Kulit

Fisiologi kulit berkaitan dengan beberapa fungsi dasar kulit


sebagai berikut :
a. Sensasi
Reseptor pada kulit mendeteksi perubahan pada lingkungan luar,
termasuk suhu dan tekanan. Reseptor tersebut berikatan dengan
neuron sensorik yang akan menghantarkan impuls ke otak atau
sumsum tulang belakang untuk interpretasi. Reseptor suhu akan
menghasilkan sensasi panas dan dingin. Reseptor tekanan mampu
menimbulkan interpretasi tekanan yang berlebihan yang umumnya
dikaitkan dengan nyeri. Reseptor pada kulit ini memungkinkan
manusia untuk berinteraksi dan bereaksi dengan lingkungan luarnya.
b. Proteksi
Kulit bersifat elastis dan resisten. Kulit mampu mencegah masuknya
agen fisik dan kimiawi yang berbahaya. Melanin yang diproduksi oleh
melanosit pada stratum germinativum melindungi dari kerusakan
yang disebabkan oleh sinar ultraviolet. Kandungan lipid pada kulit
menghambat hilangnya air dan elektrolit dalam jumlah besar dari
kulit. Kulit yang normal tidak dapat ditembus oleh air, karbohidrat dan
protein.
Kulit juga memiliki lapisan yang disebut mantel asam. Keasaman
pada bagian ini mampu membunuh sebagian besar bakrteri dan
mikroorganisme lainnya yang kontak dengan kulit. Beberapa
penyakit pada kulit akan mempengaruhi fisiologi ini dan menjadikan
kulit lebih rentan terhadap infeksi.
c. Termoregulasi
Ketika suhu eksternal meningkat, pembuluh darah pada dermis akan
berdilatasi sehingga memungkinkan aliran darah yang lebih banyak
ke permukaan dari jaringan di bawahnya. Panas dari tubuh pun akan
berkurang melalui keringat. Keringat yang keluar melalui kulit akan
menguap, di mana penguapan ini akan membutuhkan energi
sehingga mampu menurunkan suhu tubuh.

Ketika suhu eksternal menurun, respon pertama dari tubuh adalah


meningkatnya aliran darah untuk menghangatkan dermis. Paparan
terhadap dingin yang berlebihan akan menyebabkan pembuluh
darah dermis berkontriksi untuk menghangatkan organ vital di dalam
tubuh. Hal ini mengakibatkan bagian tepi tubuh seperti ujung jari
akan kekurangan suplai darah dan berubah menjadi kehitaman.
Kondisi ini umumnya disebut sebagai frostbite.
d. Sekresi
Kulit memproduksi dua jenis sekret: sebum dan keringat. Sebum
disekresikan oleh kelenjar sebasea (kelenjar minyak). Selain memiliki
efek untuk mengkilapkan dan melembabkan kulit, sebum juga
memiliki aktivitas antifungi dan antibakteri. Sebum mampu mencegah
terjadinya infeksi dan menjaga tekstur alami kulit. Keringat diproduksi
oleh kelenjar sudorifera (kelenjar keringat) dan penting dalam proses
pendinginan kulit.
Kulit juga berperan aktif dalam proses pembentukan vitamin D.
Paparan sinar matahari akan memicu kulit untuk melepaskan
senyawa prekursor vitamin D yang akan dibawa menuju hati dan
ginjal untuk diubah menjadi vitamin D yang sesungguhnya. Vitamin D
diperlukan oleh tubuh untuk merangsang penyerapan kalsium dan
fosfat di dalam usus.
II.1.3 Melanin
Melanin adalah polimer kompleks yang disintesis oleh
organisme hidup. Polimer adalah senyawa kimia besar dan biasanya
terdiri dari ratusan bagian kimia yang lebih kecil, yaitu monomer.
Berbagai melanin dapat ditemukan dalam makhluk hidup, paling
sering yang terdiri dari turunan dari asetilena, berupa monomer
hitam.
Melanin memiliki sifat fotokimia yang membuatnya bertindak
untuk melindungi jaringan dan organ dari radiasi ultraviolet (UV) yang
berbahaya. Sehingga hampir semua sinar UV diubah menjadi panas

yang tidak berbahaya. Dengan proses ini, melanin dapat mengurangi


pembentukan

radikal

bebas menjadi

sedikit,

dan

mencegah

kerusakan DNA secara tidak langsung yang dapat menghasilkan


melanoma kulit yang bersifat ganas. Ketika orang-orang berkulit
pucat berjemur, pertama kulitnya menjadi kemerahan, dan kemudian
menjadi coklat, hal ini terjadi karena adanya melanin berlebih yang
dihasilkan di kulit. Warna coklat adalah hasil respon alami terhadap
sinar matahari yang berlebihan, yang bertindak untuk melindungi
kulit. Tetapi, sinar matahari, juga dapat menyebabkan mutasi gen
dalam sel-sel kulit, sehingga dapat menyebabkan produksi melanin
menjadi berlebihan dan membentuk tumor kulit berwarna hitam atau
coklat yang disebut melanoma. Melanoma mungkin juga terjadi
akibat penyebab lain, dan hal tersebut sangat lazim pada orang
berkulit pucat dan yang berambut warna terang, dan mungkin akibat
faktor gen. Tidak adanya melanin di kulit menyebabkan terdapatnya
jenis albino, pada manusia dan hewan. Akibat menurunnya tingkat
neuromelanin di otak adalah hasil dari penyakit

Parkinson.

Kebintikan, tahi lalat, dan tanda lahir juga diproduksi oleh pigemn
melanin antara konsentrasi satu atau lainnya.
Melanin adalah turunan dari asam amino tirosin. Enzim
tirosinase berfungsi untuk mengubah tirosin menjadi DOPA (3,4dihydroxyphenylalanine),

dan

kemudian

menjadi

dopaquinone.

Dopaquinone yang dapat dikonversi ke leucodopachrome dan


kemudian mengikuti salah satu dari dua jalur untuk menghasilkan
eumelanins (Gambar B di bawah ini). Atau, dopaquinone dapat
bergabung dengan asam amino sistein dengan dua jalur untuk
menghasilkan benzothiazines dan phaeomelanins Gambar A di
bawah ini).

Eumelanin

bersifat

tidak

larut,

pigmen

nitrogen

yang

dihasilkan oleh polimerisasi oksidatif 5,6-dihydroxyindoles berasal


proses enzimatis dari tirosin melalui DOPA. Phaeomelanins yang
mengandung sulfur, alkali yang terlarut, pigmen yang diproduksi oleh
polimerisasi

oksidatif

cysteinyldopas

melalui

intermediet

1,4

benzothiazine. Sepiomelanin adalah bentuk eumelanin, terdapat


dalam bentuk berupa tinta cumi dalam bentuk suspensi, memilki
butiran gelap dalam plasma. Strukturnya berupa makromolekul atau
mungkin campuran polimer poli di mana unit kimia yang dominan
adalah dari jenis indol. Allomelanins yang dihasilkan berasal dari
prekursor bebas nitrogen.
Melamin pada kulit manusia dan rambut terbagi menjadi 3
jenis melamin, yaitu :
1. Eumelanin adalah jenis paling terkenal dari melanin, terutama
dalam memberikan warna hitam. Eumelanin ditemukan di
rambut dan kulit manusia, dan warna abu-abu rambut, hitam,
kuning, dan cokelat. Eumelanin memiliki dua jenis, eumelanin
hitam dan eumelanin cokelat. Melanin hitam menghasilkan
warna hitam ketika hadir dalam jumlah besar, dan warna abuabu

namun

jarang

terjadi.

Eumelanin

cokelat

dapat

menghasilkan warna rambut menjadi cokelat ketika hadir


dalam jumlah banyak, tetapi dalam jumlah yang lebih kecil
menghasilkan cokelat yang lebih pudar, atau pirang, pada

pewarnaan rambut. Varian hitam dari eumelanin adalah yang


paling umum terapat pada orang keturunan non-Eropa,
sedangkan keturunan Eropa lebih sering memiliki eumelanin
cokelat.
2. Phaeomelanin

(=

pheomelanin)

menghasilkan

warna

kemerahan. Pada manusia, phaeomelanin lebih berlimpah di


kulit wanita dibandingkan pria, sehingga kulit wanita umumnya
sedikit lebih merah. Hal ini terjadi juga pada rambut, dan
merupakan pewarna utama dalam rambut jenis ginger.
3. Neuromelanin adalah pigmen gelap yang menghasilkan warna
hitam di bagian-bagian tertentu dari otak.
Kedua melanin disintesis di lapisan basal, yang terletak di bagian
bawah epidermis (lapisan atas kulit), di atas dermis (lihat Gambar 1).
Sel khusus, melanosit, memproduksi melanin yang mengandung
butiran melanin dalam vesikel khusus selular, atau organel, yang
disebut melanosom. Melanosom ini tersebar di seluruh epidermis
dengan bentuk berupa tentakel yang disebut dendrit. Melanosome
yang dewasa di dalam melanosit, akan keluar ke ujung luar dari
dendrit, di mana nantinya dipindahkan ke dalam sel-sel kulit lainnya
dari epidermis. Sehingga terjadi transfer melanosom berupa
cytophagic ("engulfing sel") yaitu proses di mana sebagian dari
dendrit melanosit yang diambil oleh sel epidermis menyebabkan
melanosom dan melanosit pada sitoplasma akan masuk ke dalam
keratinosit. Keratinosit adalah sel-sel yang memproduksi keratin
protein,

komponen

struktural

utama

dari

rambut

dan

bulu.

Melanosomes akan memasuki proses pertumbuhan rambut pada


tahap awal sebelum meluas dan keluar melalui kulit. Melanin yang
mengandung produk akan tersebar di atas inti sel, yang kemudian
akan tinggal dan melindungi DNA di dalam organel dari radiasi UV
yang berbahaya. Sel-sel kulit akhirnya naik ke atas epidermis di
mana mereka akan mati dan mengalami desquamated (pelepasan).
Semua manusia hampir memiliki jumlah melanosit dan keratinosit
yang sama(pada rasio 1:36). Ukuran dan jumlah melanosom, dapat

bervariasi secara nyata antara individu. Orang dengan kulit yang


lebih kuning cenderung menghasilkan melanosit dalam jumlah kecil,
mengandung sedikit melanin, yang digambarkan sebagai berwarna
coklat yang menarik yang meliputi inti dari keratinosit. Seorang
individu berkulit gelap memproduksi melanin yang lebih besar yang
berisi paket yang terlihat sebagai bercak gelap yang menutupi inti.
Kedua bentuk melanosom melindungi DNA dengan dua cara, yaitu
dengan hamburan radiasi ultraviolet yang masuk dan menyerapnya.
Karena kemampuan pelindung ini yang dimiliki melanin, maka
disebut photoprotectant, yaitu zat yang dapat melindungi organisme
dari kerusakan yang disebabkan oleh penyerapan foton dari sumber
radiasi, terutama matahari. Degradasi ini disebut fotodegradasi.

Gambar 1. melanosom meninggalkan melanosit akibat sengatan matahari di


epidermis atas.

Radiasi UV yang lebih masuk yang tersebar secara acak,


maka semakin kecil kemungkinan pemaparan DNA. Jumlah dan arah
dari hamburan tergantung pada kedua panjang gelombang sinar
datang, dan ukuran partikel yang mencolok. Di sisi lain, penyerapan
cahaya ini menjadi lebih baik jika luas permukaan juga lebih besar,
yang membutuhkan produksi melanosomes yang lebih besar.
Setelah energi yang diserap oleh melanin, maka akan menyebabkan
elektron tereksitasi dan, pada gilirannya, melewati energi pada sel

tersebut. Sel tersebut kemudian diasumsikan menggunakan energi


ini untuk mengatur kondisi dan mendorong terjadinya reaksi kimia,
sebuah peran yang mirip dengan klorofil dalam fotosintesis.
Eumelanosomes biasanya memiliki bentuk memanjang (0,8-1 m
[800-1000 nm], dan lebar 200-400 nm) dengan ujung bulat,
sedangkan phaeomelanosomes memiliki bentuk bulat telur hingga
sub-bola dan bervariasi dalam ukurrannya; kebanyakan antara 500
dan 700 nm panjang (kadang-kadang sampai 900 nm) dan lebar 300
dan 600 nm. [Catatan, 1 nm, atau nanometer, adalah satu juta
milimeter (satu miliar meter); jadi 1 mm = 1.000.000 nm.]. Sebagai
photoprotectant, melanin dapat diproduksi secara artifisial dan
dimasukkan ke dalam produk dan zat-zat yang nantinya berusaha
untuk memberi perlindungan terhadap radiasi UV. Di domain lainnya,
zat sejenis melanin juga telah digunakan dalam produksi yang
berhubungan dengan plastik, plastik film, dan lensa optik.

Diagram dari melanosit yang mengandung phaeomelanosomes dan


eumelanosomes. Saat dewasa, melanosomes bermigrasi ke dasar dendrit, dan
mereka kemudian diangkut ke ujung dendrit.

Chedekel, Zeise, Fitzpatrick (1994) 'Melanin: Its role in human


photoprotection', Publish city: United Kingdom. John Murray.

Dadachova, E, Bryan, R A, Huang, X, Moadel, T, Schweitzer,


A D, Aisen, P, Nosanchuk, D J, Casadevall, A. (2007). 'Ionizing
Radiation Changes the Electronic Properties of Melanin and
Enhances the Growth of Melanized Fungi' PLoS ONE Vol
2(5).

Miyamoto, K, Baba, K, (1987) 'Stereological Method for


Unfolding Size-Shape Distribution of Spheroidal Organelles
from Electron Micrographs', Journal of Electron Microscopy,
Vol 36(3) pp 90-97.

Nosanchuk, J D, Casadevall, A. (2006). Impact of Melanin on


Microbial Virulence and Clinical Resistance to Antimicrobial
Compounds, Antimicrobial Agents and Chemotherapy . Vol
50, pp 3519-3528.

Durrer, H. 1986. The skin of birds: Colouration. In Biology of


the

Integument

2,

Vertebrates (eds

Bereiter-Hahn,

J.,

Matolsky, A.G. & Richards, K.S.), pp. 239-247. Springer, New


York.

Marks, M.S. & Seabra, M.C. 2001. The melanosome:


membrane dynamics in black and white. Nature Reviews
Molecular Cell Biology 2, 738-748.

Prum, R.O. 2006. Anatomy, physics, and evolution of avian


structural colors. In Bird Coloration Vol. 1 (eds Hill, G. E. &
McGraw, K. J.), pp. 295-353. Harvard Univ. Press, Cambridge.

Raposa, G. & Marks, M.S. 2007. Melanosomes - dark


organelles enlighten endosomal membrane transport.Nature
Reviews Molecular Cell Biology 8, 786-797.

Riley, P.A. 1997. Melanin. The International Journal of


Biochemistry & Cell Biology 29, 1235-1239.

Wasmeier, C., Hume, A. N., Bolasco, G., & Seabra, M. C.


2008. Melanosomes at a glance. Journal of Cell Science 121,
3995-3999.